Tag Archives: Seo Na

LEAVE BEHIND TO MEMORY (2/?)

Standard

cats

kita seharusnya tersenyum cerah bersama, tapi sekarang kita hanyalah dua orang asing. selamat tinggal untuk hari bahagiaku – At Gwanghwamun, Kyu Hyun Super Junior.

Seo Na menggeliat diatas ranjangnya, matahari memang sudah terbit sejak berjam-jam yang lalu tapi entah kenapa mata gadis itu masih saja terkatup dan enggan terbuka sesentipun, hanya cahaya matahari yang menembus korden bermotif bunga-bunga yang tergantung dijendela kamarnya, dan suara aneh dari lantai bawah seperti biasa saat para pelayan dirumahnya memasak atau sekedar membersihkan taman.

Gadis itu baru saja menyelesaikan gelar sarjana bahasa asing diusianya yang ke dua puluh tahun, ia memang pintar, otak gadis ini memang tidak bisa diragukan, selain periang, ceria, dan tidak bisa berhenti bicara Seo Na juga dikenal sebagai pemikir yang baik. kadang Dong Hae sering meminta pendapat kepada gadis itu tentang pemecahan masalah dikantor dan benar saja banyak masukan dari Seo Na yang bisa diambil oleh Dong Hae, sayang ia hanya bisa memikirkan masalah yang terjadi pada diri orang lain, tapi untuk dirinya sendiri sampai sekarang ia masih belum bisa bahkan ia tampak lebih hancur dari sebelumnya.

Detik kemudian Seo Na mengerjapkan matanya, mengumpulkan kesadarannya sejak tadi malam setelah ia memutuskan mengusir kakak angkatnya itu dari kamarnya, entah bagaimana ia bisa segera terpejam yang ia ingat ia sangat lelah karena begitu banyak menangis. Seo Na menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya gadis itu beranjak menuju kamar mandi tapi belum sampai kakinya mencapai tempat tujuan kini langkahnya terhenti pada figura yang terletak diatas meja riasnya, ia memperhatikan gambar dua orang didalam sana, dirinya dan Dong Hae, foto yang diambil ketika ia baru saja menyelesaikan gelar sarjanannya beberapa bulan yang lalu.

“Oppa!!! Aku sudah mendapatkan gelar sarjanaku, apa kau tidak senang?!”. Gadis itu berteriak kehadapan Dong Hae menghambur kedalam pelukan pria itu, Dong Hae tersenyum ia sangat bahagia melihat adik kesayangannya menyelesaikan pendidikannya.

 

“Ya! apa kau tidak malu memelukku didepan teman-temanmu? Kau kan sudah besar! Dasar anak kecil!”. Ujar pria itu, Seo Na mendesah gadis itu malah memajukan mulutnya beberapa senti lalu memukul lengan Dong Hae yang tampak kekar.

“aku bukan anak kecil lagi!”. Dong Hae tampak terkekeh mendengar ocehan Seo Na , pria itu kembali memeluk adiknya.

“selamat menjadi dewasa Park Seo Na, selamat atas kesuksesanmu, aku ingin kau hidup berbahagia. Dan jangan pernah menangis dihadapanku”. Ujar Dong Hae sebelum akhirnya mengecup puncak kepala Seo Na yang direspon cengiran gadis itu.

“aku akan hidup bahagia denganmu, Oppa”.

Entah sejak kapan gadis itu kembali terpuruk dalam kenangan masa lalunya bersama Dong Hae dan lagi-lagi ia mendapati dirinya sudah kembali terisak dalam tangisan. Tidak ada lagi baginya Seo Na yang begitu ceria didepan orang-orang dan didirinya sendiri yang ia kenal hanya dirinya yang terus hancur menerima semua kenyataan yang ada, Lee Dong Hae bukan kepunyaannya.

~~~000~~~

“Na-ya, apa kau masih merasa pusing. Eomma sengaja tidak membangunkanmu”. Seo Na melirik kearah Ibunya sejenak, mengangguk lalu mengambil posisi dikursi meja makan. Seo Na memandangi semua makanan yang sudah tersaji dihadapannya saat ini, dan lagi-lagi napsu makannya yang dulu begitu besar kini sedikitpun tak tersisa, ia benar-benar tidak memiliki semangat untuk melakukan apa-apa lagi.

“Na-ya? apa kau sakit”. Tanya Nyonya Park pada anak perempuan-nya itu, ia tidak pernah melihat Seo Na dengan keadaan seperti ini, ia sengaja tidak memarahi gadis itu karena sudah berani mabuk ditempat umum dan itu sangat tidak baik, kali ini wanita paruh baya itu mendapati anaknya terlihat tidak baik. muka Seo Na yang tampak memerah dan kantong mata gadis itu tampak membengkak.

“aku tidak apa-apa, mungkin hanya efek pusing kepalaku”. Ujar gadis itu seadannya, lalu menyendok beberapa suap nasi kedalam mangkuk makannya dengan tangan kirinya.

“hei, jangan gunakan tangan kirimu! Ayo gunakan tangan kanan!”. Dong Hae memukul pelan pergelangan tangan Seo Na, gadis itu meringis.

 

“baiklah, aku akan menggunakan tangan kananku! Menyebalkan!”. Gadis itu mengoceh sambil mengubah posisi sendok makannya ketangan kanan. Ia melirik Dong Hae, benar saja pria itu tengah memperhatikannya.

“apa?”.

“tidak ada”.

“jangan memandangiku seperti itu, Oppa menyeramkan”. Dong Hae mencibir, sedangkan Gadis itu malah tertawa, sebelum akhirnya kedua manusia itu melanjutkan makan malamnya seperti biasa.

Gadis itu lagi-lagi mengingat sosok yang dulu selalu menemaninya makan dimeja makan yang sama yang kini tengah ia duduki, Seo Na kembali meneteskan air matanya sebelum akhirnya berlalu meninggalkan meja makan.

Eomma, aku harus pergi. Mungkin aku akan pulang larut malam”. ujar gadis itu sambil menyambar remote mobil mewahnya, tanpa memperdulikan pertanyaan yang terlontar dari mulut Ibu gadis itu. entah apa yang bisa ia lakukan sekarang, semakin yang ingin menjauhi Lee Dong Hae akhirnya ia hanya akan mendapati dirinya terjebak dalam kenangan masa lalu selema lima belas tahun dengan pria itu. Apa ia tetap bersikeras mempertahankan perasannya pada pria itu? Atau ia mundur dan mendapati dirinya akan terus menderita sepanjang sisa hidupnya.

“kemanapun aku akan pergi, jika tempat itu tidak mengingatkanku padamu. Lee Dong Hae”.

~~~000~~~

Kyu Hyun mengoreksi beberapa berkas yang kini teronggok rapi diatas meja kerjanya. Sejak tadi pria itu berusaha untuk tetap fokus pada tumpukan kertas yang kini berada didepannya tapi tetap saja pikirannya masih melayang pada seorang wanita yang mungkin saat ini masih tertidur dirumahnya, atau ia sudah kembali melanglang buana mencari sesuatu yang mungkin bisa menghancurkan dirinya lagi seperti tadi malam.

Sejujurnya, Kyu Hyun bukan pria yang mau mengetahui urusan orang lain apa lagi jika itu tidak menyangkut dirinya sama sekali, tapi entah kenapa kali ini pria itu merasa harus ambil andil dalam masalah yang dihadapi wanita yang sama sekali tidak mengenalnya itu. Park Seo Na, gadis bodoh yang mencintai kakak angkatnya sendiri, tapi cinta tidak memandang status apapun bukan? Jadi jika tumbuh cinta pada diri gadis itu tidak ada yang bisa menghentikannya, kecuali waktu yang mampu merubahnya.

Kyu Hyun juga tidak bisa mengelak, jika suatu saat nanti ia bisa mencintai Seo Na, jika hari ini ia hanya merasa penasaran terhadap gadis itu dimasa depan mungkin saja ia mencintai Seo Na, kalaupun Kyu Hyun mencintai Seo Na ia tidak akan membuat gadis itu terluka seperti yang Dong Hae lakukan terhadapnya. Kyu Hyun menarik napasnya dalam, menghembuskannya pelan sembari menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi putar miliknya, Kyu Hyun memejamkan mata menetral semua pemikiran yang terus berputar diotaknya, tidak lama sampai akhirnya suara dering ponsel menghalau lamunannya.

Lee Dong Hae : Kyu, bisa kau mencari Seo Na? Ia pergi dari rumah, beberapa menit lagi aku akan melakukan pertemuan dengan rekan bisnisku. Aku percayakan ia padamu.

Kyu Hyun memutar bola matanya, berpikir sejenak tentang apa yang baru saja disampaikan Dong Hae melalui pesan singkat padanya. ‘Seo Na pergi dari rumah? Apa gadis itu minum-minum lagi?’. Pikir Kyu Hyun sebelum akhirnya pria itu memutuskan meninggalkan onggokan pekerjaannya diruang kerjanya, menuju tempat yang bisa dituju Kyu Hyun saat ini.

“Park Seo Na, kau gila ya?”.

~~~000~~

Dong Hae menautkan kedua telapak tangannya diatas meja kerjanya, ia tidak mungkin membatalkan pertemuan yang akan ia lakukan beberapa menit lagi. Baru saja ia mendapat panggilan telefon dari Ibu angkatnya, wanita itu mengatakan jika Seo Na pergi dari rumah dengan terburu-buru dan mengatakan jika ia akan pulang larut malam. wanita itu hanya memiliki seorang putri, ia tidak akan membiarkan Seo Na kembali pulang dalam keadaan mabuk, karena itu ia menghubi Dong Hae untuk segera menyuruh Seo Na kembali pulang kerumahnya. Lagi pula keadaan gadis itu tidak kelihatan baik-baik saja, itu yang membuat Ibu Seo Na tampak begitu cemas.

Dong hae memutuskan mengirim pesan singkat pada Kyu Hyun, pria itu mungkin bisa mencari Seo Na-nya. Bukankah pria itu sudah menawari untuk membantunya menhadapi masalah ini, lagi pula ia tidak bisa melakukan apa-apa saat ini untuk Seo Na, bantuan Kyu Hyun memang sangat diperlukan. Setelah menekan beberapa huruf diponselnya Dong Hae kembali menyandarkan tubuhnya, menghirup banyak-banyak udara disekitarnya.

Annyeong”. Terdengar suara dari depan pintu ruang kerja Dong Hae, wanita dengan paras cantik, dengan melihatnya saja, dunia pria itu tampak seketika tenang.

Pria itu tersenyum, berdiri mendekat kearah Yoo Ra yang kini sudah berdiri dihadapannya. “apa ada masalah?”. Tanya pria itu, Yoo Ra tampak menggeleng lalu wanita itu menyodorkan bekal makan siang pada suaminya itu. Dong Hae tampak sedikit terkekeh sebelum akhirnya memeluk Yoo Ra.

“aku tau kau tidak akan makan siang lagi, karena terlalu sibuk mengurus pekerjaanmu. Karena itu aku membuatkanmu makan siang dan aku pikir untuk mengantarkannya kemari”. Jelas Yoo Ra, gadis itu mengalungkan tangannya dileher Dong Hae.

“baiklah Nyonya Lee, sepertinya kau begitu menyayangkan makan siangku. Padahal aku hanya menundanya, jangan khawatir”.

“bagaimana aku tidak khawatir, kau terlalu serius dengan pekerjaanmu”.

“jadi aku harus bagaimana?”. Tanya pria itu, Yoo Ra tampak menyipitkan matanya, memukul dada Dong Hae pelan, lalu ia beranjak dari hadapan pria itu mengambil posisi duduk disofa yang tak jauh dari mereka berada.

“kau selalu pura-pura tidak tau, apa aku yang harus memintanya terlebih dahulu, eum?”. Dong Hae kembali terkekeh mendengar protes dari istrinya, melihat Yoo Ra yang terlihat menggemaskan Dong Hae mengambil posisi duduk tepat disamping istrinya itu.

“baiklah, apa kau mau kita bulan madu ke Verona? Aku akan mengajakmu kesana”. Tawar Dong Hae, Yoo Ra tampak tersenyum senang, tanpa aba-aba menghambur kedalam pelukan pria itu sebelum akhirnya Dong Hae mendaratkan ciuman hangat dibibir istrinya, tanpa keduanya sadar sepasang mata kini menangkap pemandangan keduanya, dengan mata memanas gadis itu berlari keluar dari gedung megah itu, ia tau sekarang, jika Dong Hae tidak akan pernah menjadi kepunyaannya.

~~~000~~~

Kyu Hyun menyandarkan tubuhnya disisi dinding lain, dari tempat ia berdiri saat ini ia bisa dengan jelas melihat tubuh Seo Na yang bergetar hebat didepan pintu ruang kerja Dong Hae. Setelah menerima pesan singkat dari kakak angkat gadis itu Kyu Hyun langsung meluncur menuju kantor Dong Hae, pria itu tau kemana Seo Na akan pergi, satu-satunya tempat untuk mengutarakan semua sesak perasaannya saat ini hanya seorang Lee Dong Hae, dan benar saja Seo Na kini hanya bisa mematung didepan ruang kerja kakak angkatnya itu. jika bukan melihat adegan mesra didalam sana, apa lagi yang membuat tubuh gadis itu kini bergetar hebat.

Sedetik kemudian, Seo Na kini sudah berlari menuju luar gedung, tidak ingin kehilangan jejek gadis itu lagi Kyu Hyun segera menyusul Seo Na, kemanapun gadis itu pergi saat ini ia akan mengikutinya. Tidak mungkin ia membiarkan gadis itu melakukan hal-hal sinting diluar sana, seperti buhuh diri misalnya?

Mobil Ford merah itu melaju kencang dijalan tol, ini sudah melewati perbatasan kota Seoul, dan Kyu Hyun masih tidak tau kemana tujuan Seo Na saat ini. Pria itu hanya mengekori kuda besi milik gadis itu sambil terus menyetarakan kecepatan mobilnya. Kemanapun gadis itu, Kyu Hyun hanya perlu mengikuti dan mengawasinya.

~~~000~~~

Seo Na berjalan menuju tepi pantai, merasakan terpaan angin pantai yang kini cukup menenangkan hatinya. Sudah sejak lama ia ingin datang kemari, menyaksikan deru ombak yang menenangkan, bau air laut yang khas, dan angin yang berhembus disekitarnya, kali ini semua itu ia rasakan. Seo Na menyeret kedua kakinya kebibir pantai, membiarkan air laut membasahi sepasang sepatunya, gadis itu tampak tersenyum meski ia masih tidak bisa mengerti untuk apa ia masih tersenyum saat ini. semua sudah berakhir bukan? Tidak ada masa depan seperti yang ia pikirkan selama ini.

Seo Na duduk diantara pasir basah, membiarkan bagian tubuh bawahnya terkena air laut, ia tidak akan pulang malam ini, atau tidak akan pulang selamanya. Apa yang baru saja ia lihat beberapa jam yang lalu, seperti pedang yang terus menikam hatinya semakin dalam. Seharusnya gadis yang berada disisi Dong Hae saat ini adalah dirinya, seharusnya ia bisa merasakan hangat kecupan pria itu, bukan Yoo Ra. Bukan gadis itu.

“Bisakah kau pergi dari pikiranku?!”. Gadis itu berteriak kencang, tidak peduli jika orang-orang melihatnya, yang ia pikirkan saat ini hanyalah bagaimana melupakan pria itu, melupakan kenangan selama lima belas tahun didalam hidupnya.

“Aku tidak ingin mengingatmu lagi Lee Dong Hae!!! Kau penipu!!! Aku tidak akan lagi mengingatmu!!!”. Suara gadis itu tercekat, air matanya terus mengalir begitu saja, isakan tangisnya bahkan terdengar semakin keras.

“Apa ada seseorang yang bisa membuatku melupakannya?!”.

“aku akan membuatmu melupakannya”. Suara berat seorang pria kini membuat Seo Na memutar badannya kearah sumber suara. Seorang pria jakung berambut coklat kini berdiri tidak jauh dibelakang gadis itu. berdiri sambil memasukkan kedua tangannya dikedua sisi saku celanya. Seo Na menatap pria itu, bukankah pria itu pria yang sama saat ia berada ditaman setelah pernikahan Dong Hae, pikirnya.

“aku akan membuatmu melupakannya, dan juga membuatmu tidak lagi mencintainya”. Lanjut pria itu lalu mendekat kearah Seo Na yang masih mematung ditempatnya. Beberapa detik berikutnya keduanya sudah saling berhadapan, pria itu mengangkat tangannya, menyapu air mata yang kini masih mengalir dimata Seo Na, lalu sedikit tersenyum kearah gadis itu dan bodohnya lagi Seo Na hanya bisa menerima semua perlakuan pria yang pernah membuat luka serius dilututnya itu.

“aku Cho Kyu Hyun”.

~~~000~~~

Kyu Hyun : ia baik-baik saja, ia bersamaku saat ini. maaf aku tidak bisa memaksanya untuk segera pulang kerumah tapi percayakan ia padaku ia akan baik-baik saja, Hyung.

Kyu Hyun memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jas hitamnya setelah mengirim pesan singkat pada Dong Hae. Detik kemudian pria itu berjalan mendekat kearah Seo Na yang kini sudah duduk diatas pasir pantai. Pria itu mengambil posisi persis disamping Seo Na sebelum akhirnya gadis itu melirik kearahnya.

“kenapa kau masih disini? Kau bisa pulang. Aku tidak membutuhkanmu”. Ujar Seo Na datar, gadis itu kembali mengalihkan pandangannya ke sisi pantai.

“bukankah kau meminta seseorang untuk melupakannya? Sepertinya aku diutus Tuhan untuk membuatmu melupakan orang itu”. ucap Kyu Hyun, pria itu ikut menatap matahari yang mulai tenggelam sore itu.

Keduanya terdiam, Seo Na juga tidak merespon ucapan pria itu ia lebih ingin menikmati sorenya kali ini, meski ia tau perasaannya masih tetap sama. Tidak banyak yang bisa gadis itu lakukan saat ini selain tidak menemui pria itu, tidak ketempat dimana ada kenangan dengan pria itu dan ia akan melupakan semua tentang Lee Dong Hae, meski ia tidak yakin apa ia bisa melakukan hal itu.

“kau, apa Oppa menyuruhmu kemari?”. Akhirnya Seo Na bersuara, ia masih menatap lurus kedepan tanpa memperhatikan mata Kyu Hyun yang kini tertarik kearahnya.

“tidak juga”. Ujar pria itu enteng, Seo Na menatap sinis kearahnya. “aku kemari karena Dong Hae Hyung dan juga karena kemauanku”. Lanjut Kyu Hyun.

Seo Na mengerjapkan matanya, mencerna kalimat yang baru saja diucapkan pria dihadapannya itu. “terserah dengan apa yang kau ucapkan, tapi lebih baik kau pergi dari sini. Aku sedang tidak ingin melihat siapapun yang berhubungan dengan pria itu”. ujar Seo Na sinis, gadis itu segera beranjak dari sana meninggalkan Kyu Hyun yang masih berada ditempatnya.

“Park Seo Na, apa aku boleh menicintaimu?!”. Teriakan Kyu Hyun berhasil membuat gadis itu menghentikan langkahnya sedangkan Kyu Hyun beranjak dari tempatnya mendekat kearah gadis itu dan kini ia persis berdiri dihadapan Seo Na.

Seo Na membulatkan matanya, menatap pria itu kaget. Kyu Hyun tersenyum sejenak kearah gadis itu dan entah dari mana pria itu mendapatkan keberanian, beberapa detik berikutnya pria itu akhirnya mengecup singkat bibir Seo Na.

~~~000~~~

Seo Na memperhatikan dirinya didalam kaca meja rias sebuah penginapan sederhana ditepi pantai, pantai Naksan yang terletak didaerah Yangyang Provinsi Gongwon-do dan pantai ini cukup jauh dari kota Seoul. gadis itu tetap bersikukuh untuk tetap memilih menginap dibanding harus kembali kerumahnya dan itu sama saja dengan membawa dirinya kembali kedalam kesedihan. Ia juga sudah menghubungi Ibu nya meskipun wanita paruh baya itu bertanya kenapa Seo Na pergi liburan tiba-tiba tanpa membawa baju ganti atau semacamnya.

Gadis itu sudah mengganti pakainnya dengan pakaian yang selalu tersedia didalam mobil pribadinya, memesan satu kamar untuknya dan pria tadi siang yang mengikutinya itu juga ikut memesan satu kamar yang persis berada disamping kamar gadis itu. Ya, mengenai pria itu Seo Na sempat memukul perut pria itu ketika tadi sore ia sudah berani mencium bibir Seo Na dan alhasil gadis itu mendaratkan pukulannya diperut Kyu Hyun.

Seo Na mengusap bibirnya, lalu berdecak kesal kearah pantulan dirinya dicermin. bagaimana pria itu bisa semudah itu menciumnya? Belum lama gadis itu mengoceh pada kaca didepannya, terdengar ketukan pintu kamarnya memecah keheningan didalam kamar gadis itu. Seo Na menuju pintu membukanya perlahan.

“kau lagi? Ada apa?”. ujar gadis itu sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

“aku tidak akan menciummu lagi, kau pikir perutku ini tahan dengan pukulanmu itu”. oceh pria itu sambil mengelus perutnya yang rata. Gadis didepannya itu menatapnya dingin. ”aku membawakanmu ini, aku tidak tau kau menyukainya atau tidak, setidaknya kau memakan salah satu diantara mereka. Aku tidak ingin melihat kau mati saat bersamaku”. Lanjut pria itu menyodorkan plastik putih polos berisi beberapa makanan cepat saji yang baru saja ia beli, Kyu Hyun sengaja membelikan gadis itu beberapa makanan, ia tau Seo Na pasti belum makan seharian.

“aku tidak butuh pemberianmu, aku juga tidak butuh makanan yang kau bawakkan untukku. Kau pikir setelah kita melakukan hal tadi siang kau bisa seenaknya mengatur hidupku? Dengar Cho Kyu Hyun, aku sudah memberimu kesempatan untuk menemaniku disini, jadi tugasmu hanya menemaniku bukan mengatur hidupku apa lagi mengkhawatirkanku”. Ketus gadis itu, tatapannya masih sama seperti tadi, Seo Na masih menatap pria itu dingin.

ck! Lucu sekali gadis ini. kau tau kenapa Dong Hae sangat mencintai istrinya dan menikahinya?”. Tanya pria itu tiba-tiba, membuat kedua bola mata Seo Na membesar, gadis itu seperti menahan sesuatu untuk diucapkannya. “karena gadis itu lembut, ia membiarkan Dong Hae mengkhawatirkannya, dan kau Park Seo Na jangan pernah lagi terus merasa kuat dihadapanku”. Lanjut Kyu Hyun, lalu meletakkan bungkusan plastik itu dihadapan Seo Na sebelum akhirnya pria itu beranjak pergi dari hadapan Seo Na, meninggalkan gadis itu yang masih mematung ditempatnya.

~~~000~~~

“Oppa, jangan mengkhawatirkanku, meskipun aku tersesat digurun pasir aku tidak akan mati, kau tau kenapa? Karena aku ini kuat”.

“baiklah, tapi berjanjilah untuk tetap kuat dan jangan pernah membuat orang-orang mengkhawatirkanmu, mengerti?”.

Seo Na memasukkan beberapa potongan ayam kedalam mulutnya, mengunyahnya pelan sambil menatap lurus kedepan. Pikiran gadis itu kosong saat ini, ia masih ingat dengan apa yang baru di ucapkan Kyu Hyun beberapa menit yang lalu kepadanya. Pria itu benar, Seo Na memang tidak pernah memperlihatkan kelemahannya selama ini, bahkan ia sadar jika selama ini ia merasa hidupnya hanya untuk membuat orang disekitarnya bahagia, termasuk Lee Dong Hae. Tapi Seo Na lupa satu hal, ia lupa untuk membuat hidupnya bahagia, selama ini ia juga tidak pernah memperlihatkan kesakitannya pada siapapun bahkan gadis itu mampu memendam bertahun-tahun persaannya kepada Dong Hae dan akhirnya semua itu kini menjadi bumerang untuknya, Lee Dong Hae tidak akan pernah memilihnya.

Seo Na tertunduk, kini setetes air mata jatuh dari matanya, gadis itu terisak untuk yang kesekian kalinya, selama ini ia selalu dianggap kuat, orang-orang tidak pernah tau bagaimana perasaannya, ia tidak punya tempat untuk bersandar, atau seseorang yang mendengar apa yang ia rasakan, seharusnya ia menyadari hal itu dari dulu.

Beberapa menit kemudian gadis itu meninggalkan makanannya, beringsut ke atas ranjang kamar penginapan yang tidak terlalu mewah itu. esok hari ia harus memulai kehidupannya yang baru bukan, tanpa tangis lagi. Mungkin.

~~~000~~~

Kyu Hyun sudah satu jam lebih berdiri didepan pintu kamar gadis itu, memakai baju santai dengan setelan baju kaos putih dan celana jeans hitam dan kacamata yang menggantung dihidung mancungnya, pria itu mendesah berat ia tidak habis pikir bagaimana gadis itu belum juga bangun padahal pagi akan segara berganti siang beberapa jam lagi.

Ya! Park Seo Na?! Kau pingsan? Atau kau bunuh diri? Kau tidur atau ma-“.

“aku sudah bangun dari pukul 7 tadi pagi”. Ujar gadis itu tiba-tiba setelah membuka pintu kamarnya dan melewati Kyu Hyun begitu saja. pria itu mengerjap, bagaimana gadis itu bereaksi spontan seperti itu.

Kyu Hyun mengekori Seo Na dari belakang, ia melihat punggung gadis itu yang terlihat sangat kurus, tulang bahunya terlihat dari balik baju kemeja putih yang tengah ia kenakan, kakinya yang terlihat kurus juga begitu jelas karena gadis itu hanya menggunakan jeans selutut.

“apa kau akan terus mengekoriku?”. Ucap gadis itu tiba-tiba, bahkan keduanya hampir bertabrakan karena Kyu Hyun tidak menyadari jika gadis itu berhenti mendadak didepannya. Seo Na memutar tubuhnya kearah Kyu Hyun, pria itu melepas kaca matanya lalu balik menatap Seo Na.

“apa kau akan terus seperti ini?”. balas pria itu, Seo Na memicingkan matanya menatap sinis kearah Kyu Hyun.

“baiklah, jadi apa maumu?”. Tanya Seo Na akhirnya, gadis itu melipat kedua tangannya didada.

“kembali ke Seoul, aku dan kau”. Jawab Kyu Hyun enteng.

“Apa? Ck! Ya, Cho Kyu Hyun berhenti memerintahku dan meminta hal yang tidak aku suka”. Ujar Seo Na ketus, bahkan tatapan Seo Na kini penuh dengan kebencian. Kyu Hyun menarik tangan Seo Na memajukkan beberapa senti tubuhnya kehadapan gadis itu. “kau bisa lepaskan sekarang atau aku-“.

“atau kau akan meneriakkiku sebagai pria cabul? Begitu?”. Kyu Hyun tersenyum, mata pria itu berkilat emosi, ia bahkan tidak menyangka jika gadis dihadapannya ini benar-benar orang yang keras kepala. “berhenti meneriakku dan mengucapkan namaku, atau aku akan menyeretmu kekamarku dan menidurimu”. Oceh pria itu dingin, menekan setiap kalimat yang ia ucapkan, terlebih jarak diantara mereka begitu intim, sehingga beberapa tamu penginapan melihat mereka heran.

“lepaskan!”. Geram gadis itu, tapi pria dihadapannya ini malah semakin mengenggam erat tangan Seo Na. “ku bilang lepaskan!”. Teriak gadis itu akhirnya.

Kyu Hyun melepaskan tangan Seo Na, membiarkan gadis itu kini memunggunginya dan meninggalkannya. “aku yang berlutut mencintaimu, atau kau yang akan berlutut mencintaiku?”. Ucap pria itu, lalu tersenyum kearah Seo Na yang kini sudah berada jauh didepannya.

~~~000~~~

Keduanya terdiam didalam mobil mewah milik Kyu Hyun, pria itu fokus pada jalanan tol menuju Seoul, entah apa yang membuat gadis disampingnya ini memintanya menyupirinya pulang dan menyuruh orang suruhan ayahnya membawa mobil miliknya kembali ke Seoul. Kyu Hyun benar-benar tidak bisa membaca jalan pikiran Seo Na yang selalu tiba-tiba. Kadang gadis itu terlihat begitu dingin dan angkuh, tapi terkadang ia juga bisa melihat Seo Na yang begitu rapuh dengan air mata yang terus mengalir dari matanya. Dan kali ini yang ia lihat adalah wajah polos gadis itu yang tertidur nyenyak disamping kursi kemudinya, tidak bisa ia pungkuri jika Seo Na memiliki wajah yang cantik, bahkan ia tidak bisa mengelak jika wajah itu akhir-akhir ini menjadi candu untuknya. Pria itu kini mengalihkan pandangannya kearah ponselnya yang berdering, pria itu segera menempelkan komunikator itu ketelinganya.

Hyung? Aku bersamanya, tentu saja dia baik-baik saja. Hm, hanya sedikit pucat mungkin karena ia belum makan seharian. Baiklah, aku akan langsung mengantarnya kerumah”. Kyu Hyun segera mematikan sambungan teleponnya, lalu kembali fokus pada jalanan.

“Dong Hae?”. Tiba-tiba gadis disampingnya itu bersuara, tatapan pria itu kini tertarik kearahnya. “aku tidak ingin pulang kerumah”. Lanjut gadis itu lagi.

“jadi? Kau mau tinggal bersamaku?”. Tambah Kyu Hyun, pria itu menyeringit namun kini pandangannya kembali fokus mengemudi.

“Apa kau gila? Aku akan mencari Apartemen, aku akan tinggal disana, kau bisa mencarikanku Apartemen setelah sampai di Seoul”. Ujar Seo Na, tidak ada nada dingin yang menekan dari ucapan gadis itu, kini ia lebih terdengar meminta dan memohon pada Kyu Hyun.

“hanya kau sendiri?”.

“aku tidak mungkin terus tinggal ditempat yang terus menceritakan kenanganku dengannya, dan satu lagi jika kau ingin membantuku lepas dari semua ini jangan beri tahu Dong Hae dimana keberadaanku, dan jangan beri tahu dia lagi tentang kabar ku dan apa yang aku lakukan”. Ucapan Seo Na kali ini terdengar begitu menyakitkan, memang benar jika ia tidak mungkin terus tinggal ditempat yang terus menceritakan kenangannya bersama Dong Hae selama ini, bagaimana gadis itu bisa melupakan Dong Hae jika ia terus bergelimang dengan kenangannya dimasa lalu bersama pria itu.

“baiklah, tapi aku minta satu hal padamu, jangan pernah melakukan hal yang bodoh yang merugikan dirimu, dan satu hal lagi jangan pernah sok kuat dihadapanku, jika kau ingin menangis, menangislah sesukamu dihadapanku, aku tidak akan menertawakanmu. satu hal yang harus kau tau, Setiap orang berhak mendapatkan kekhawatiran dihidupnya dari orang-orang disekelilingnya dan kau, kau tidak akan selamanya bisa bertahan jika kau terdampar digurun pasir tanpa air dan makanan”.

Seo Na menarik tatapannya kearah Kyu Hyun, menatap garis wajah pria itu. Kyu Hyun benar tentang dirinya, dia tidak akan bisa terus bertahan jika ia tidak memiliki seseorang yang bisa mendengarkannya, ia tidak akan bisa bertahan ditengah gurun pasir tanpa air dan makanan. Entah kenapa setiap ucapan yang mengalir dari bibir pria yang kini tengah mengemudikan kuda besinya itu begitu terdengar menenangkan ditelinga, bahkan saat ini ia benar-benar ingin menangis dan bersandar di bahu pria itu.

~~~000~~~

Dong Hae berkali-kali melirik jam ditangannya, sejak beberapa jam tadi pria itu tidak tenang dikursi empuk diruang meetingnya siang ini. ia tidak bisa mengelak jika saat ini ia ingin bertemu dengan adik kesayangannya, adik yang beberapa hari ini tidak ia temui dan ia ingin mengetahui kabar gadis itu, apa gadis itu baik-baik saja? setelah terakhir mereka bertemu malam itu, setelah Seo Na mengucapkan perasaanya pada Dong Hae.

Dong Hae menarik tatapanya pada pintu masuk, pria dengan setelan jas rapi dengan rambut coklat yang menutupi keningnya kini berjalan menuju kursi tempat biasa ia duduk seperti meeting sebelumnya, dengan tenang Kyu Hyun sedikit membungkuk kearah Dong Hae dan melewati pria itu.

Dong Hae menatap lekat pada pria itu, banyak sekali yang ingin ia tanyakan terutama bagaimana kabar Seo Na saat ini. tapi ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal pribadi kepada Kyu Hyun terlebih lagi saat ini mereka adalah rekan bisnis, dan juga beberapa menit lagi mereka juga harus mengadakan meeting dengan kolega bisnis lainnya yang berada didalam ruangan yang sama dengan keduanya.

“apa semuanya baik-baik saja?”. Dong Hae menghampiri pria jakung itu yang sejak tadi asik menyusun kertas-kertas diatas mejanya setelah mereka melakukan meeting selama dua jam hari ini.

Kyu Hyun mengalihkan pandangannya kearah Dong Hae, menatap pria itu sambil tersenyum lalu kembali memfokuskan tatapannya ke kegiatannya semula. “dia baik-baik saja”. jawab pria itu singkat.

Tampak jelas jika nafas Dong Hae terdengar menghembuskan nafasnya lega, Kyu Hyun tau jika pria itu sangat mengkhawatirkan adik tirinya itu, tapi sudah terlambat untuk mengkhawatirkan Seo Na, nyatanya sekarang gadis itu tidak ingin jika Dong Hae mengetahui keberadaannya. “apa kau mengantarnya pulang kerumah?”. Lanjut pria itu lagi.

“tentu, aku mengantarnya hingga pintu rumahnya. Tapi ia juga mengatakan padaku, ia juga tidak akan berlama-lama dirumahnya”. Jelas Kyu Hyun, kini pria itu sepenuhnya menatap Dong Hae.

Kening Dong Hae berkerut ia masih tidak paham dengan apa yang dikatakan pria didepannya itu.”maksudmu?”. tanya pria itu pensaran.

“aku tidak bisa menjawab, karena itu diluar kekuasaanku untuk menjawabnya”.

“Seo Na pergi? Kemana? Apa dia akan meninggalkan Korea?”. Pertanyaan Dong Hae bertubi-tubi menyerang Kyu Hyun, jika Seo Na pergi karenanya ia pasti sangat merasa bersalah. Selama ini gadis itu sangat kental dengan kehidupannya bersama keluarga, ia juga tidak pernah menginap dirumah temannya atau tinggal ditempat lain selain dengan keluarganya.

“ia hanya mengatakan satu hal padaku Hyung, ia tidak ingin berada ditempat dimana ia diharuskan mengingat kenangan tentang kalian. Aku harap kau mengerti dengan keputusannya”. Jelas pria itu, sebelum akhirnya menepuk pundak kiri Dong Hae dan meninggalkan pria itu sendirian ditempatnya.

Kyu Hyun hanya ingin Dong Hae mengerti bagaimana menderitanya Seo Na saat ini, ada kepuasan tersendiri bagi Kyu Hyun saat ini setelah mengatakan hal yang mungkin dapat membuat Dong Hae merasakan luka yang mungkin tak sebanding dengan apa yang dirasakan Seo Na saat ini.

~~~000~~~

“Eomma, aku harus belajar hidup sendiri. tenanglah, aku akan baik-baik saja. seorang pria menawarkan bantuannya kapanpun untukku, jadi jangan khawatir dan jangan coba-coba memberi tahu Dong Hae Oppa kemana aku akan pindah, aku akan mengatakan langsung padanya”. Jelas Seo Na sambil memasukkan semua pakaiannya kedalam koper bewarna merah maron itu.

“kau yakin? Apa pria itu baik? bagaimana jika ia berniat jahat padamu?”. Sanggah Nyonya Park, sambil memperhatikan Seo Na yang kini tengah mondar-mandir dihadapannya.

Mom, please… jika pria itu berniat jahat padaku saat di Gongwon-do dia pasti sudah menculikku dan tidak mengantarku kembali kerumah. Dan lagi, Kyu Hyun adalah sahabat Dong Hae Oppa, ia sudah sangat mengenal keluarga kita dengan baik”. jelas gadis itu menghentikan kekhawatiran ibunya, Nyonya Park yang masih begitu cantik di usianya yang tidak lagi muda.

“baiklah Na-ya, Eomma akan berkunjung ke Apartementmu jika Eomma ada waktu, dan ingat kau harus bisa menjaga dirimu, Arro?”.

Arraseo Eomma, tenanglah aku akan menjaga diriku dengan sangat baik lebih baik dari sebelumnya”. Ucap gadis itu berjanji, sebelum akhirnya memeluk tubuh Ibu kandungnya itu. ia akan hidup lebih baik setelah ini. melupakan pria yang selama bertahun-tahun mengisi hari-harinya.

~~~000~~~

Kyu Hyun memperhatikan gadis yang kini tengah menyeret dua buah koper besar dihadapannya, memperhatikan gadis itu dari atas hingga bawah dan satu hal yang ada dipikiran pria itu saat ini. Seo Na, apa gadis itu sakit jiwa?

Ya! kau akan terus berdiri disana tanpa menolongku mengangkat dua buah bencana ini!”. ujarnya sambil membanting dua buah koper itu kelantai.

Kyu Hyun terkekeh.”kau pikir kau akan melakukan liburan enam bulan di hawai?”. Ujar Kyu Hyun ketus sambil berlalu masuk kedalam apartemen yang akan dihuni oleh gadis itu.

“apa pria itu gila? Apa ada yang salah dengan gayaku? Apa dia tidak pernah melihat member Girlband? Bahkan aku jauh lebih cantik dari SNSD”. Oceh gadis itu, sebelum akhirnya dengan sekuat tenaga menyeret dua buah koper itu masuk keruang apartementnya, menyusul pria yang baru saja ia teriaki gila itu.

Kyu Hyun membuka tirai besar tepat di sebelah utara, memperlihatkan indahnya Kota Seoul yang menjadi kebanggakan negara Korea selatan. Sewa Apartemen ini juga setara dengan keindahan yang ia suguhkan kepada penghuni setiap lantainya, dan Kyu Hyun juga ingin membuat gadis itu betah berada ditempat ini, setidaknya tempat ini jauh dari kenangan Seo Na yang menyedihkan.

“kau berharap akan melakukan adegan erostis seperti yang di Drama-drama denganku ya?”. oceh Seo Na berlalu menuju balkon yang berada disisi kanan gadis itu.

“lebih baik aku terjun dari gedung ini dari pada harus melakukan adegan erotis dengan gadis kurus sepertimu”. Tandas pria itu.”jika kau memerlukan bantuan kau hanya perlu naik satu lantai lagi, apartement ku berada dilantai atas”. sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Seo Na.

“apa? Ya! memangnya aku mau melakukannya? Bahkan aku harus berpikir seribu kali jika harus melakukan adegan erotis dengan Hyun Bin! Tapi jika aku harus dipaksa melakukannya juga tidak apa-apa”. gadis itu terkekeh lalu kembali berlari kebalkon Apartementnya, dari sini ia bisa merasakan hembusan angin yang menerpa dirinya, ia berjanji untuk tetap berada ditempat ini, melupakan semua yang pernah membuat dirinya terpuruk begitu dalam, sekali lagi untuk yang terakhir kalinya gadis itu meneteskan air matanya, melepaskan semua rasa sakit yang selama ini merejam hatinya.

“Lee Dong Hae, kau bisa pergi sekarang!!!”. Teriak gadis itu, tanpa ia sadar seseorang tengah mendengarnya dari balkon persis diatasnya, pria itu tersenyum mendengar teriakkan gila gadis itu.

“Na-ya, kau memang harus membiarkannya pergi”.

~~~000~~~

“bagaimana dengan Seo Na?”. Suara lembut itu membuyarkan lamunan Dong Hae, wanita cantik dihadapannya itu ternyata sejak tadi menatapnya sendu. Wajah gadis itu keibuan, matanya yang coklat dan pipinya yang sedikit berisi menambah keindahan kecantikan yang ia miliki.

Dong Hae tersenyum, mengelus puncak kepala Yoo Ra lalu mencium kening gadis itu sekilas. ”tidak ada kabar, aku belum sempat menghubungi Eomma”. Jawab pria itu seadanya. ”kau belum ingin tidur?”. Lanjut pria itu.

Yoo Ra menggeleng, ia menarik tubuhnya kearah Dong Hae menyandarkan kepalanya di bahu tegap pria itu. “aku merindukanmu Oppa”. Ulas gadis itu singkat. Dong Hae mengerinyit, pria itu tersenyum lalu menghadap menatap Yoo Ra yang kini tengah memandangnya. “tidak percaya?”. Tanya gadis itu lagi

.
“aku percaya, maaf aku mengabaikanmu karena pekerjaanku dan melewatkan bulan madu kita”. Ucap pria itu tulus. “aku juga merindukanmu”. Balas Dong Hae. Akhir-akhir ini keduanya memang jarang menghabiskan waktu bersama, karena kesibukan Dong Hae dikantor yang semakin padat ditambah lagi masalah-masalah perusahaan yang harus ia tangani langsung. Alhasil, ia mengabaikan Yoo Ra-nya, mengabaikan bulan madu mereka.

Yoo Ra tersenyum, gadis itu menggeleng. “jangan menyalahkan dirimu sayang”. Yoo Ra mengecup singkat pipi pria itu. “aku hanya tidak ingin kau kelelahan”. Tambah gadis itu lagi. Sebelum akhirnya keduanya menautkan bibir mereka, sejujurnya ada rasa kegelisahan yang kini tengah menggelantung dihati pria itu, entah apa yang membuat Dong Hae tak fokus dengan pekerjaan dan istri kesayangannya. Dan semua ini terasa ketika Dong Hae mengetahui Jika Seo Na mencintainya lebih dari seorang kakak.

“Kau baik-baik saja?”. Yoo Ra tersadar sejak tadi Dong Hae hanya menempelkan bibirnya di bibir istrinya, dan sepertinya pria itu sedang tak fokus dengan istrinya saat ini.

Dong Hae tersenyum. “tidak, aku baik-baik saja. bagaimana jika kita melakukan sesuatu yang menyenangkan?”.

Yoo Ra mengerinyit. ”menyenangkan? seperti?”. Tanya Yoo Ra polos. Dong Hae terkekeh dihadapannya, sebelum akhirnya menggendong tubuh gadis itu dipangkuannya tanpa seizin Yoo Ra, menghabiskan malam indah mereka yang selalu tertunda.

Dong Hae hanya berpikir, dengan ini mungkin saja ia melupakan masalahnya dengan Seo Na. Terlalu kejam memang jika tubuh Yoo Ra menjadi pelarian masalahnya saat ini.

~~~000~~~

Sejak tadi tubuh gadis itu meliuk-liuk di atas ranjang Big size-nya, membalikkan tubuh kekiri dan kekanan sebelum akhirnya ia menyerah dan terbangun dari tidur nyenyaknya, mungkin. Seo Na menarik kedua kakinya menuju kamar mandi menopang kedua tepalak tangannya di westafle bewarna merah maron itu, lalu mengangkat wajahnya dengan mata yang masih setengah terbuka dan mulai membersihkan wajahnya.

Seo Na beranjak ke ruang makan, mengambil segelas susu segar dan meminumnya hingga tandas, gadis itu cukup lelah seharian kemarin ia hanya membersihkan Apartemen barunya menyusun beberap barang dikamarnya dan memindahkan beberapa barang yang menurutnya tidak begitu enak dilihat.

Suara ponsel diatas meja menghentikan kegiatan Seo Na yang tengah asik mengobrak-abrik isi lemari es-nya. Gadis itu mendekat kearah sumber bunyi, seketika jantungnya kembali berdegup kencang saat membaca nama yang tertera dilayar ponsel miliknya, seakan siap merasakan sakit lagi gadis itu dengan segera mengangkat sambungan telefonnya.

“Y.. a, Oppa?”. Jawab gadis itu gugup, dan masih sama hati gadis itu seperti kembali ditusuk setiap kali ia mendengar suara pria itu, sejujurnya ia merindukan suara Dong Hae, suara yang dulunya selalu mengisi hari-harinya, suara yang membangunkan tidurnya dan suara yang membuatnya terlelap kedalam alam bawah sadarnya dan sekaligus suara yang ingin ia lupakan seumur hidupnya.

“baiklah, aku akan ke sana saat jam makan siang”. Akhiri gadis itu sebelum akhirnya cepat-cepat menutup sambungan telefonnya. Ia tidak ingin mengucapkan banyak kalimat, dan ia tidak ingin lebih banyak mendengar suara Dong Hae. Lagi-lagi hatinya mencolos sakit, gadis itu menekan dadanya sendiri, merasakan sakit yang luar biasa didalam sana. Tapi kehadiran seseorang dihadapannya saat ini membuatnya terkejut, bagaimana pria itu bisa masuk ke apartemennya! pekik Seo Na dalam hati.

To be continue

Advertisements

LEAVE BEHIND TO MEMORY (1/?)

Standard

cats

Aku tak bisa mengatakan ‘aku mencintaimu’, apa kau pernah mengetahuinya? malam-malam indahku yang berlalu ketika kita masih kecil My Old Story, IU

Kenangan limabelas tahun yang lalu kini mulai mengitari otak gadis itu. ia masih ingat saat pria yang kini tengah berdiri didepan altar itu berjanji kepadanya. Ia masih ingat saat pertemuan pertama mereka, dan ia masih bisa merasakan bagaimana sentuhan lembut tangan pria itu ketika mengusap kepalanya, dan semua perlakuan dari pria itu akan sirna dalam beberapa detik lagi.

Park Seo Na, tubuh gadis itu kini tengah bergetar hebat. menahan tubuhnya yang terasa semakin berat dan kaku, tapi bagaimanapun ia tidak akan mungkin pergi dari tempat ini. sederhana saja, andai saja ia bisa menganggap pria yang didepan itu adalah kakak laki-lakinya yang akan segera menikah dan mempunyai kehidupan baru, tapi bagi Seo Na semuanya tidak sesederhana itu karena apa yang ia rasakan terhadap pria yang kini sedang menunggu pengantin wanitanya itu sangat jauh dari hubungan sebagai adik kakak. Seo Na hanya tau ia mencintai pria itu, ia menginginkannya, namun kenyataan memang tidak pernah sejalan dengan apa yang ia harapkan. Apa ia harus mengatakan perasaannya ini?

~~~000~~~

15 years ago…

Seorang anak laki-laki turun dari dalam mobil sedan bewarna hitam itu, sejak tadi genggamannya tidak pernah lepas dari Tuan Park. Matanya terlihat ketakutan ketika ia baru menginjakkan kaki di kediaman keluarga kaya itu, matanya menangkap beberapa orang yang kini tengah menyambutnya. Lee Dong Hae, pria itu adalah anak dari rekan kerja keluarga Park. Kedua orang tua Dong Hae baru saja meninggal dunia akibat kecelakaan yang merenggut nyawa keduanya, semua terjadi begitu cepat hingga yang tersisa dari keluarga Lee hanya seorang Lee Dong Hae saja. karena itu keluarga Park mengangkat Dong Hae menjadi anak mereka, itu semua juga karena balas budi yang Tuan Park lakukan kepada rekan kerjanya itu. Tuan Lee dan keluarganya bukan hanya sekedar rekan kerja, tapi mereka sudah berteman sejak mereka baru memulai membangun perusahaan besar itu bersama-sama.

Dong Hae tetap menyembunyikan tubuhnya dibekalang tubuh Park Jung In, tinggi Dong Hae hanya sebahu -kepala keluarga Park- tersebut, orang-orang yang melihat kelakuan anak laki-laki itu hanya tersenyum dan mencoba menarik perhatian anak itu. Dong Hae merasa asing ditempat ini, ia tidak akan menemukan Ibu dan Ayah nya disini, ia akan memulai kehidupan baru bersama keluarga Park, dan mungkin ia juga akan mengganti marganya menjadi Park Dong Hae. Ini adalah kehidupannya hingga ia mengakhiri hidupnya nanti.

“Dong Hae Oppa, maukah kau bermain denganku?”. Seorang anak perempuan mendekat kearah Dong Hae, memakai baju gaun berwarna biru dengan bando berbentuk telinga kucing diatas kepalanya, ia juga menyeret boneka beruang yang terlihat jauh lebih besar dari tubuh mungilnya. Gadis kecil itu tersenyum kearah Dong Hae, menarik tangan anak laki-laki itu ke ruangan bermainnya.

“Seo Na-ya, jangan ajak Dong Hae Oppa-mu bermain boneka, ia seorang pria”. Suara lembut Nyonya Park menghentikan langkah Seo Na dan juga Dong Hae yang mengekori gadis kecil itu. Seo Na memajukan bibirnya yang mungil, lalu sedikit mengadahkan kepalanya.

“aku akan memperlakukan Dong Hae Oppa dengan baik, aku tidak akan membuatnya menangis dan aku akan memeluknya seperti aku memeluk beruang ini”.

~~~000~~~

Kenangan masa kecil gadis itu seketika buyar ketika riuh tepuk tangan para undangan didalam gereja begitu ramai tidak terkecuali Ibu Seo Na dan Ayahnya yang terlihat begitu bahagia dengan pernikahan anak angkatnya ini, Seo Na segera berdiri melihat kearah pintu utama gereja, dan benar saja kini seorang wanita cantik bertubuh langsing itu sudah memasuki gereja dengan gaun anggunnya. Seo Na akui, Yoo Ra begitu cantik dan penuh kelembutan jauh dari kesan dirinya yang begitu ribut dan tidak bisa berhenti bicara, dari segi manapun ia dan Yoo Ra begitu jauh berbeda, tidak salah jika kakak laki-laki gadis itu sangat mencintai Yoo Ra hanya saja keputusan ini terlalu cepat terjadi bahkan Seo Na belum mempersiapkan hatinya untuk menerima semua kenyataan ini, seharusnya waktu itu ia tidak menerima pria itu sebagai kakak angkatnya, seharusnya ia tidak jadi adik pria itu, dan semua penyesalan itu kini menari-nari dipikiran Seo Na.

Kedua pasangan itu kini sudah berdiri mantap didepan altar persis dihadapan Seo Na, dan sialnya tubuh Seo Na kini hampir ambruk ketika Dong Hae menyambut uluran tangan Yoo Ra padanya. Dong Hae, pria itu kenapa ia tidak pernah menyadari akan perasaan Seo Na selama ini, gadis itu hanya bisa memendamnya dan merasakan semua rasa sakit ini sendiri.

Pendeta didepan sana sudah mulai berbicara, sama sekali gadis itu tidak tertarik dengan apa yang diucapkan pria berbaju khas itu, matanya kini hanya sibuk memandangi tubuh Dong Hae, memperhatiakan wajah pria itu yang kini tampak tersenyum pada calon pengantinnya. Seketika tubuh Seo Na semakin berat, tumpukan air mata kini menumpuk dimatanya, ia tidak boleh menangis, bukankah ia ingin melihat Dong Hae Oppa-nya bahagia, bukankah ia tidak ingin melihat pria itu menangis lagi.

Seo Na kini kembali terperanjat ketika semua orang bertepuk tangan, ternyata cukup lama gadis itu berkutat dengan pikirannya yang semakin membuatnya gila, dan kali ini ia harus menyaksikan kedua orang dialtar itu tengah mencium satu sama lain, Seo Na hanya bisa menundukkan kepalanya, hari ini-Dong Hae pria yang ia cintai-sejak limabelas tahun yang lalu akan pergi meninggalkannya dan akan memulai hidup baru tanpa dirinya. Lee Dong Hae resmi menikah dengan Jung Yoo Ra.

kau sudah membohongiku, Lee Dong Hae!. Gumam gadis itu, dengan air mata yang seketika tumpah dipipinya, ia hanya bisa terus menunduk dalam menikmati setiap rasa sakit yang ada dihatinya saat ini, tanpa ia sadar kini sepasang mata tengah memperhatikan dirinya.

~~~000~~~

Seo Na meletakkan beruang besar itu dihadapan Dong Hae, sejak tadi anak laki-laki itu tidak memperdulikan sikecil Seo Na yang sudah heboh dengan dunia bermainnya. Seo Na berdecak pinggang lalu memandang sinis kearah Dong Hae. Anak laki-laki itu hanya memandanginya heran sambil berusaha memindahkan boneka beruang besar itu dari hadapannya.

 

“Yak! Kau tidak mau bermain bersamaku ya? kenapa dari tadi kau diam saja? Oppa tuli ya? atau Oppa bisu? Anak laki-laki memang tidak asik. Karena itu aku tidak mau bermain dengan anak laki-laki”. Oceh gadis kecil itu sambil melipat tangannya didada, Dong Hae yang umurnya berjarak 8 tahun dari Seo Na hanya mengusap rambut gadis itu pelan.

 

“aku tidak bisu, aku hanya merindukan kedua orang tuaku”. Ujar Dong Hae, pria itu kembali duduk lalu menundukkan kepalanya, tidak lama kemudian Seo Na hanya mendengar isakan tangis dari mulut Dong Hae, karena merasa bersalah gadis kecil itu duduk dihadapan Dong Hae.

 

“kau tidak boleh menangis, aku akan terus memelukmu, jadi berhentilah menangis”. Ucap Seo Na lalu memeluk tubuh anak laki-laki itu. Dong Hae menghentikan tangisnya lalu memandangi wajah Seo Na yang kini juga sudah penuh dengan air mata.

“Seo Na-ya, Oppa juga akan terus berada disampingmu”.

~~~000~~~

Seo Na melepas high heels yang ia kenakkan sejak acara pernikahan Dong Hae, ia kini sudah keluar dari dalam gereja beberapa menit setelah ia menyaksikan pria itu mencium Yoo Ra yang kini sudah resmi menjadi istrinya. Gadis itu berjalan ditepian sungai Han, mencoba memperbaiki suasanya hatinya yang begitu kacau, udara musim gugur begitu sesuai dengan apa yang ia rasakan saat ini. tidak seperti musim gugur sebelumnya, musim gugur kali ini adalah yang paling menyiksa batinnya. Sejak tadi air mata tidak pernah kering dari pipinya, gadis itu menangis ia hanya bisa terisak dan tidak bisa mengatakan apa-apa untuk menjelaskan isi hatinya saat ini. Seo Na merasa begitu hancur, harus ia kemanakan cinta yang ia miliki selama limabelas tahun didalam hidupnya, Dong Hae adalah pria pertama yang ia kenal sekaligus pria pertama yang mengisi hari-harinya.

Gadis itu terus berjalan, tanpa ia sadar kini ia sudah cukup jauh meninggalkan mobil mewahnya yang terparkir jauh dibelakangnya. Seo Na berhenti sejenak menghirup banyak-banyak udara disekitarnya, sebelum beberapa detik kemudian seseorang menubruk tubuhnya dari belakang membuat tubuh gadis itu terhuyung kedepan, kekuatan Seo Na yang sudah terkuras sejak seharian ini tidak bisa menyeimbangi tubuhnya, alhasil lutut gadis itu mendarat mulus di bebatuan dan benar saja darah mulai mengalir dari lutut mulus gadis itu.

“maaf Nona, aku benar-benar tidak melihatmu. Apa aku bisa melihat lukanya?”. Suara berat seorang pria kini terdengar dihadapan Seo Na, gadis itu masih menunduk memperhatikan lukanya yang tampak begitu menyedihkan.

“aku akan memberimu ganti rugi”. Ujar pria itu lagi.

Seo Na menahan amarahnya, hari ini kenapa ia begitu terlihat sangat menyedihkan. Luka didalam hatinya yang terluka begitu parah dan sekarang ia harus mendapatkan luka dilututnya.

“apa kau tidak tau caranya bersikap sopan? Aku tidak butuh uangmu”. Tandas gadis itu, menatap sinis kearah pria dihadapannya itu. Pria itu terkekeh lalu ia mengulurkan tangannya kehadapan Seo Na.
“maafkan aku Nona, sepertinya kau yang berlebihan menanggapi kata-kataku, aku hanya-“.

“bisakah kau pergi dari sini? Atau aku yang pergi saja? makhluk yang bernama pria itu memang menyebalkan! Terimakasih atas lukanya ajhussi!”. Teriak gadis itu lalu berusaha berdiri, menahan sakit dilututnya berjalan meninggalkan pria itu dibelakangnya. Setelah ini ia akan benar-benar gila oleh makhluk yang bernama pria. Seo Na meninggalkan tempat itu, dan tujuan selanjutnya ia tidak akan memilih kembali pulang kerumah.

“namaku Cho Kyu Hyun, dan aku masih sangat muda untuk kau panggil ajhussi”. Pria itu menatap punggung Seo Na, ia tersenyum mendengar gadis itu memanggilnya paman.

~~~000~~~

Pria bertubuh jakung itu berjalan sedikit tergesa, menyusul gadis yang baru saja meninggalkan gereja tempat acara pernikahan itu dilangsungkan , sejak tadi ia tidak berhenti menatap kearah gadis itu memperhatikan bahunya yang turun naik dan kepalanya yang terus tertunduk. Kyu Hyun bukan pria yang suka mencampuri urusan orang lain , tapi untuk kali ini ia merasa hatinya tergerak untuk mengikuti gadis itu, sejak awal ia berada didalam gereja inipun matanya tidak pernah lepas menangkap wajah gadis itu yang lebih terlihat menyedihkan.

Kyu Hyun tidak bisa mengontrol kakinya yang berjalan begitu cepat. Ia merasa khawatir. Ada rasa ingin tau yang kuat yang kini tengah ia rasakan, dan jangan tanya kenapa pria dingin itu mengkhawatirkan keadaan gadis yang kini mengendarai mobil jenis ford-nya secara urak-urakan, karena ia sendiri tidak tau alasannya apa. Jejak gadis itu menghilang, diantara banyaknya kendaraan yang berlalu lalang di Kota Seoul. Matanya terus mencari kemana mobil gadis itu melesat dan tepat saja mobil bewarna merah bata itu terparkir sembarangan di taman dekat tepian sungai Han. Kyu Hyun turun dari mobil mewahnya berjalan menelusuri taman yang tidak terlalu ramai, dedaunan pepohonan disekitar taman tampak gugur. Pria itu berjalan setengah berlari, menoleh kesekelilingnya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.

Bruk!

Suara hantaman keras tubuhnya membuat gadis yang dihadapannya ini kini sudah berlutut ditanah, Kyu Hyun cukup terkejut sebelum akhirnya ia melihat luka cukup serius di lutut gadis itu.

“maaf Nona, aku benar-benar tidak melihatmu. Apa aku bisa melihat lukanya?”. Ucap Kyu Hyun, sebelum gadis itu mengadah kearahnya, dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan. Mata pria itu membulat ketika ia sadar siapa gadis yang ada dihadapannya ini, gadis yang menjadi tujuannya berada ditaman siang ini.

~~~000~~~

Seo Na mengendarai kuda besinya dengan kecepatan diatas rata-rata, ia tidak memeliki tujuan saat ini, ia hanya ingin pergi sejauh yang ia bisa dan tidak pernah lagi melihat wajah pria itu. luka dilututnya masih terasa hingga sekarang, tapi semua itu tidak terlalu dirasakan gadis itu, sakit dihatinya lebih mendominan ditambah air mata yang terus mengalir dari matanya. Seo Na hanya ingin menyembuhkan hatinya, membuat semuanya menjadi lebih baik apapun caranya sekalipun jika ia harus angkat kaki dari rumah tempat tinggalnya selama ini, rumah yang menjadi saksi bisu antara ia dan Lee Dong Hae.

Gadis itu menginjak pedal rem mobilnya, menepikan mobil itu pada jalanan yang cukup sepi menghirup banyak-banyak oksigen disekelilingnya. Ditempat ia saat ini sangat sepi, jika ia berteriak orang-orang tidak akan mendengarnya, tidak akan ada yang mengatakan jika gadis ini tengah mengalami gangguan jiwa atau semamacamnya.

“kenapa kau menyukai boneka gemuk ini? kau tidak keberatan menyeretnya”. Dong Hae menunjuk perut besar boneka beruang disamping gadis kecil itu. Seo Na meraih boneka itu lalu memeluknya.

 

“karena ia mau ku peluk, ia tidak pernah menolak jika aku memeluknya”. jawab Seo Na, anak laki-laki dihadapannya itu hanya tertawa geli. Sudah hampir satu minggu Dong Hae tinggal bersama keluarga Park, disini ia memang tidak memiliki Ibu dan Ayah-nya lagi, tapi ia punya Seo Na, gadis kecil yang menjadi adiknya hingga kapanpun, gadis kecil yang selalu menemaninya ketika ia sudah kembali dari sekolah, gadis kecil yang akan memeluknya ketika ia merindukan kedua orang tuanya, gadis kecil yang sangat Dong Hae sayangi.

“Oppa, apa kau menyukaiku? Apa kau tidak risih bermain bersamaku?”. Tanya Seo Na, bibir mungilnya tampak sedikit menganga, menanti jawab dari Oppa-nya itu.

Dong Hae tersenyum, kembali mengusap puncak kepala Seo Na.”Oppa, sangat menyukai Seo Na. Karena itu Seo Na juga harus menyukai Oppa”. Ujar Dong Hae, dan Seo Na tampak girang dengan jawaban kakak laki-lakinya itu, Seo Na melompat dan menari bersama boneka beruangnya yang ukurannya lebih besar dari tubuh Seo Na.

 

“Oppa, berjanjilah besok kau harus menikah denganku”.

~~~000~~~

Lamunan masa kecil gadis itu seketika buyar, ketika ponsel yang berada disamping jok kemudi gadis itu bergetar. Ie melirik kearah benda bewarna silver itu lalu menyambar benda itu kedepan wajahnya, tertera disana nama ‘Lee Dong Hae’. tiba-tiba saja, mata gadis itu kembali memanas, bibirnya kembali bergetar, ia tidak mungkin mengangkat panggilan dari pria itu dalam keadaan seperti ini tapi ia juga tidak mungkin jika mengabaikan panggilan telepon dari kakak laki-lakinya itu, ia tidak ingin membuat Dong Hae khawatir tentang dirinya.

Yeoboseyeo?”. Jawab gadis itu dengan nada ceria yang lebih terkesan dipaksakan. Demi apapun, Seo Na masih belum siap mendengar suara Dong Hae yang selalu menenangkan hatinya.

“Na-ya, kau dimana? Kau menghilang ditengah acara, aku mencarimu kemana-mana”. Tanya pria itu dari seberang sana, Seo Na ingin sekali berteriak kencang mengatakan jika ia saat ini sedang tidak ingin bertemu pria itu, karena itu hanya akan membuat hatinya semakin hancur.

“aku sedang dengan teman-temanku Oppa, jangan khawatir, tadi aku langsung bertemu dengan teman-temanku setelah acara pernikahanmu. Kau tau, aku melihatmu berciuman dengan Yoo Ra Eonni dan-”. Suara gadis itu tercekat, ia ingin sekali tetap ceria saat berbicara dengan Dong Hae tapi hatinya berkata lain, ia sangat sakit ketika melihat pria yang dicintainya itu berciuman dihadapan orang banyak.

“Na-ya?”.

“kau sangat keren! Oppa ku benar-benar keren! Baiklah aku harus pergi kesuatu tempat dengan teman-temanku, katakan pada Eomma dan Appa aku akan pulang larut malam”. ucap gadis itu sebelum akhirnya ia memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak, ia tidak kuat lagi jika harus bersandiwara dengan suara yang dibuat-buat ceria dihadapan Dong Hae, ini adalah keadaanya sekarang, Seo Na yang masih tidak bisa menerima semua kenyataan yang terjadi dalam hidupnya. Gadis itu kembali melanjutkan perjalannya, ia tau tempat apa yang harus ia kunjungi saat ini, tempat dimana ia akan melupakan semua sakit yang ia rasakan saat ini.

~~~000~~~

Kyu Hyun menduduki salah satu kursi dikedai tepi jalanan yang biasa menyediakan Soju dan makanan hangat khas Korea, pria itu memesan sebotol Soju seporsi ttoppoki dan jajjangmyeon. Kyu Hyun memang lebih suka tempat seperti ini dibanding restoran yang harga makanannya selangit, bukan pria itu tidak memiliki cukup uang tapi pemimpin perusahan Cho Company itu lebih suka menghabiskan malamnya yang melelahkan ditempat seperti ini dimana baginya tidak ada yang membedakan status sosial seseorang ditempat ini.

Mata pria itu kini beralih pada jalanan kota Seoul yang tidak lagi seramai saat siang, musim gugur juga menambah udara malam semakin dingin dan itu menandakan jika sebentar lagi musim salju akan segera datang. Pria itu mempererat mantel tebalnya, mulut Kyu Hyun juga tampak berasap akibat udara dingin malam ini. ekor mata Kyu Hyun terhenti ketika menangkap mobil bewarna merah terparkir tidak jauh dari tempat ia berada saat ini, tak lama setelah itu seorang wanita keluar dari mobil mewah itu. gadis itu masih menggunakan gaun putih dan kali ini keadannya tampak lebih hancur dari siang tadi saat Kyu Hyun bertemu dengannya ditaman. Kyu Hyun mengalihkan pandangnnya pada lutut gadis itu, benar saja bekas darah masih berceceran dilutut gadis itu keadaannya saat ini benar-benar tampak menyedihkan.

Gadis itu berjalan melalui Kyu Hyun, memesan beberapa botol alkohol yang kini sudah teronggok didepannya. Pikiran Kyu Hyun benar, gadis ini pasti bermaksud untuk mabuk ditempat seperti ini, ia begitu yakin apalagi saat melihat keadan gadis itu yang terlihat sangat jauh dari kata baik-baik saja. Kyu Hyun menahan diri untuk tidak mendekat kearah gadis itu, ia sama saja menyerahkan dirinya pada maut jika berhadapan lagi dengan gadis itu lagi, bukankah tadi siang dia sudah membuat gadis itu kesal ditambah lagi ia sudah membuat luka yang cukup serius dilutut gadis itu.

Beberapa lama Kyu Hyun terus memperhatikan gadis itu dari tempat ia berada saat ini, jarak mereka tidak terlalu jauh, gadis itu juga tidak akan menyadari jika ia juga berada ditempat ini. cukup lama sampai akhirnya kepala gadis itu ambruk pada meja ditempatnya, dan saat ini waktu yang tepat bagi Kyu Hyun untuk mendekat kearah gadis itu.

Kyu Hyun duduk tepat dihadapan gadis itu, ia memperhatikan mata gadis itu yang kini sudah tertutup rapat tapi tunggu dulu Kyu Hyun kali ini malah menangkap keganjalan yang aneh dan benar saja gadis yang berada dihadapannya saat ini sedang menangis, bibirnya juga terlihat bergetar ia juga mengucapkan sesuatu yang tidak terlalu terdengar oleh Kyu Hyun.

“permisi Nona, apa kau sudah mabuk?”. Pertanyaan Kyu Hyun memang terdengar konyol, tapi pria itu hanya memastikan jika gadis yang dihadapannya saat ini sudah seratus persen dalam keadaan mabuk.

“Nona? Kau benar-benar sudah mabuk ya? aku hanya ingin mengatakan jika aku minta maaf soal tadi siang, aku benar-benar tidak sengaja menabrakmu dan membuat luka dilututmu”. Jelas pria itu tanpa peduli jika gadis yang dihadapannya saat ini mendengarnya atau tidak.

“baiklah, aku sudah minta maafkan? Aku pergi dulu”.

Oppa, bisakah kau tinggal sebentar disini bersamaku?”. Akhirnya gadis itu bersuara, dan kali ini Kyu Hyun bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan gadis itu saat ini.

Kyu Hyun berbalik, menahan langkahnya. “apa kau menggilku?”. Tanya pria itu penasaran.

Oppa? Bisakah kau tinggal bersamaku? Hanya sebantar saja”. suara gadis itu terdengar bergetar, kali ini hanya isakan yang keluar dari mulutnya, ya gadis itu menangis. Kyu Hyun beringsut kearah gadis itu, ia duduk tepat disampingnya. Ia tidak tau, apa yang harus ia lakukan kali ini dengan keadaan gadis yang sedang mabuk dan tengah menangis dihadapannya.

Kyu Hyun mengulur tangannya, mengusap lembut kepala gadis itu. “Dong Hae Oppa, Lee Dong Hae. Bisakah kau menganggapku sebagai wanita bukan adikmu?”. Kyu Hyun terhenyak seketika, ia menarik tangannya perlahan. Kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu cukup membuatnya terkejut. Bukankah gadis itu baru saja menyebutkan nama seorang pria yang ia kenal? Ya, Lee Dong Hae, pria yang baru saja melangsungkan pernikahannya tadi siang.

~~~000~~~

“apa dia baik-baik saja? bagaimana ia bisa berada ditempat itu”. suara Yoo Ra tampak terdengar khawatir, Dong Hae tersenyum lalu mengusap lembut lengan istrinya itu.

“dia baik-baik saja, Kyu Hyun yang memberi tahuku jika Seo Na berada disana ia juga yang mengantar Seo Na kembali kerumah. sekarang Eomma sedang menggantikan pakaiannya setelah itu kita akan melihatnya dikamar”. Ujar Dong Hae menenangkan wanitanya itu, Yoo Ra tampak bernapas lega.

“Dong Hae-ya, Seo Na sudah istirahat dikamarnya. Bagaimana kau bisa kemari? Bukankah kalian harus menghabiskan waktu berdua?”. Suara Nyonya Park mengalihkan pandangan keduanya, Ibu Seo Na tampak cantik seperti biasanya meskipun umur wanita itu sudah tidak lagi muda.

“Ah, Eomma. Aku hanya ingin memastikan keadaan Seo Na, Seo Na tidak pernah seperti ini sebelumnya, aku begitu khawatir”. Ujar pria itu, Ibu angkat pria itu tampak tersenyum.

“Seo Na mungkin terlalu banyak bergaul dengan teman-teman barunya, adikmu itu sudah mulai tumbuh dewasa mungkin ia hanya ingin tau bagaimana rasanya alkohol. Tidak usah khawatir, lebih baik kau kembali ke Apartemen bersama Yoo Ra”. Ucap wanita itu, Yoo Ra tampak tersenyum disamping suaminya itu.

“baiklah, tapi aku akan melihat keadaan Seo Na dulu setelah itu aku akan kembali”. Dong Hae berlalu menuju kamar adik kecilnya itu, sedangkan istrinya asik berbincang dengan Nyonya park diruangan lain.

Dong Hae membuka perlahan pintu kamar Seo Na, mendapati gadis itu kini tengah terbaring dengan mata yang tertutup rapat. Pria itu mendekat kearah Seo Na duduk dipinggiran ranjang gadis itu sambil memperhatikan wajah Seo Na yang tertidur. Sebelum ia menikah, pemandangan seperti ini sangat sering ia alami, menemani adik perempuannya ini hingga tertidur lelap dan mengusap lembut rambut Seo Na yang kecoklatan.

“Oppa, kau harus menemaniku hingga aku tertidur. Aku tidak suka kegelapan”. Ucap gadis kecil itu pada Dong Hae, Dong Hae mengangguk sambil menarik selimut adik perempuannya itu hingga perutnya.
“aku akan menemanimu hingga kau tertidur”. Jawab anak laki-laki itu.

 

“berjanjilah untuk terus menemaniku dan jangan pernah meninggalkanku sendiri”.

Dong Hae masih ingat percakapannya bersama Seo Na beberapa tahun silam, ia masih ingat dengan janjinya untuk menemani gadis kecil itu hingga ia tertidur, dan Dong Hae tau persis jika Seo Na tidak menyukai kegelapan. Yang berada dihadapannya saat ini memang bukan Seo Na adik kecilnya seperti 15 tahun lalu, Seo Na yang sekarang adalah Seo Na yang begitu cantik, Seo Na yang selalu ceria dihadapannya gadis yang tidak pernah memperlihatkan wajah sedihnya. Untuk kedepannya ia akan jarang melihat wajah gadis ini, wajah Yoo Ra akan menemani hari-harinya dimasa depan dan Seo Na akan tetap menjadi adik kecil yang pernah ia miliki selama ini.

“Na-ya, wajahmu terlihat pucat. Kyu Hyun juga mengatakan jika lututmu terluka, kau juga terlalu banyak minum. Na-ya, kau tidak boleh menjadi gadis nakal, kau adalah Park Seo Na adik kecilku”. Ujar pria itu dengan setengah berbisik, tetap mengelus puncak kepala Seo Na.

“Na-ya, Oppa harus kembali. Jaga dirimu, aku akan sering berkunjung untuk melihatmu”. Dong Hae mengecup kening Seo Na sebelum akhirnya berbalik untuk meninggalkan gadis itu, namun kini langkah Dong Hae terhenti ketika genggaman tangan seseorang terasa dipergelangan tangannya.

Oppa, bisakah kau tidak pergi dariku?”.

~~~000~~~

Dong Hae menyandarkan tubuhnya dikursi putar ruang kerjanya, pria itu memang sengaja tidak mengambil cuti untuk bulan madunya bersama Yoo Ra, lagi pula perusahaan keluarga Park memang saat ini berada ditangannya. Sejak Tuan Park menyerahkan perusahaan pada Dong Hae pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya dikantor mengurusi semua urusan perusahaan itu.

Pria itu menarik napasnya gusar, memandang kearah langit-langit ruang kerjanya. Pikirannya kini tertuju pada ucapan adik perempuannya tadi malam kepadanya, ucapan yang membuatnya lupa bagaimana cara mengambil napas dalam sekejap dan lagi bagaimana semua ini terjadi begitu saja tanpa ia rasakan, haruskah ia menyalahkan keadaan? Semua sudah terlanjur bukan?

“Oppa bisakah kau tidak pergi dariku?”. Dong Hae membalikkan badannya mendapati wajah Seo Na yang kini dipenuhi air mata, tatapannya begitu menyedihkan bahkan Dong Hae tidak pernah melihat adiknya semenyedihkan ini sebelumnya.

 

“Na-ya, Oppa harus kembali. Besok aku akan kemari untuk melihatmu”. Ujar pria itu lalu mengambil posisi duduk persis ditepi ranjang gadis itu. “apa ada yang salah? kenapa kau menangis? Seharusnya kau bahagia melihatku bahagia”. Lanjut Dong Hae tanpa menyadari air mata Seo Na yang kini semakin deras mengalir, kata-kata pria itu hanya semakin membuat Seo Na hancur.

“Dong Hae-ssi, bisakah kau menganggapku sebagai wanita? Bukan adikmu?”. Ucapan yang keluar dari mulut Seo Na memang terdengar tercekat tapi Dong Hae masih bisa dengan jelas mencerna apa yang baru saja gadis itu ucapkan padanya. Bagaimana Seo Na, adik kecilnya mengatakan hal itu padanya?

“Na-ya, apa maksudmu?”.

“aku mencintaimu Lee Dong Hae, bisakah kau menganggapku sebagai wanita? Selama 15 tahun aku memendam semua ini sendirian, apa kau tidak menyadarinya? Aku mencintaimu, aku-“.

“Cukup Park Seo Na! Kau sudah keterlaluan, bagaimana kau bisa berkata demikian? Apa yang kau pikirkan?!”. Teriakkan Dong Hae lolos begitu saja dari mulutnya, kali ini ia benar-benar tidak bisa mengontrol apa yang ia rasakan. Pengakuan Seo Na cukup membuatnya gila.

“jika kau tidak bisa menganggapku sebagai wanita, aku akan membuatmu menyadari semua ini Lee Dong Hae”.

Dong Hae kembali tersadar dari lamunannya, ketika pintu ruang kerjanya terbuka dan disana kini sudah berdiri seorang pria yang mengantar adiknya tadi malam. Cho Kyu Hyun, adalah rekan kerjanya, pria itu adalah pemimpin Cho Company perusahaan besar yang kini sudah setara dengan perusahaan Park Corp yang dipimpin Dong Hae.

Kyu Hyun sedikit tersenyum kearah pria itu, ia mengambil posisi disofa yang terletak rapi diruangan kerja Dong Hae, pria itu juga ikut duduk dihadapan Kyu Hyun ia juga tidak tau apa maksud kedatangan pria bertubuh jakung itu keperusahaannya terlebih tanpa menghubunginya.

“apa yang membawamu kemari Kyu?”. Tanya pria itu, Kyu Hyun hanya menggeleng pelan sambil mengusap tengkuknya.

“tidak ada, ya hanya sedikit”.
“soal Seo Na?”.

Kyu Hyun tersenyum lalu pria itu mengangguk. “ada yang ingin kusampaikan padamu Hyung”. Kali ini wajah Kyu Hyun tampak serius dari sebelumnya, maksud kedatangannya bukan karena Seo Na yang ia bawa pulang dalam keadaan mabuk, tapi ucapan yang gadis itu katakan pada Kyu Hyun sebelumnya.

“mungkin kau akan kaget mendengar ini, atau sebaliknya tapi-”. Kyu Hyun menghentikan kata-katanya, membuat pria dihadapannya ini tampak semakin penasaran, Dong Hae memajukan tubuhnya beberapa senti kedepan.

“ia memintamu untuk menganggapnya sebagai wanita, bukan adik perempuanmu”. Ujar pria itu, Dong Hae tertohok ditempatnya, kali ini pria itu memundurkan tubuhnya kesandaran Sofa, jadi Seo Na juga mengatakan hal itu ketika ia mabuk, jadi Dong Hae tidak salah dengan percakapan Seo Na tadi malam.

“aku sudah tau”.

“apa? sejak kapan?”. Kyu Hyun terkejut, ekspresinya tampak sangat berbeda dari sebelumnya.

“ia juga sudah mengatakan hal itu tadi malam padaku, aku juga baru tau”. Keduanya sama-sama terdiam, masih shok dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Kyu Hyun masih tidak percaya dengan perasaan Seo Na yang mencintai kakak angkatnya sendiri dan Dong Hae masih tidak bisa mencerna semua ini dengan baik, terlalu rumit, Mungkin.

“karena itu dia pergi dari acara pernikahanku diam-diam, karena itu ia mabuk untuk yang pertama kalinya, karena itu juga ia tampak menyedihkan, selama ini ia tidak pernah seperti ini”. lanjut Dong Hae, pria itu tampak tertunduk dalam, ia menyayangkan semua ini, menyayangkan kenyataan tentang adik yang ia sayangi itu tapi Dong Hae mengerti jika semua ini bisa terjadi, bukankah satu-satunya pria yang mengisi hari-hari Seo Na hanya dirinya, dan lagi ia hanya kakak angkat gadis itu jadi jikapun Seo Na menyukainya tidak ada yang salah akan hal itu.

“jadi setelah ini apa yang akan kau lakukan untuknya?”. Kyu Hyun tampak menyandarkan tubuhnya di sofa menunggu jawaban yang tepat keluar dari mulut pria didepannya ini yang kini tengah menompang kepalanya dengan kedua tangannya.

Dong Hae cukup lama terdiam, ia tidak bisa menjawab bagaimana sikap yang harus ia ambil setelah mengetahui perasaan Seo Na terhadapanya, ia sudah memiliki seorang istri disisi lain ia tidak akan membiarkan kedua orang tua angkatnya mengetahui hal ini sama saja ia menjebak Seo Na dalam lubang neraka bisa-bisa gadis itu diusir dari rumahnya. Tapi jika ia membiarkan ini terjadi apa ia sanggup melihat Seo Na menderita lebih lama lagi, melihat gadis itu mabuk-mabukkan, melihat adik kesayangannya hancur karena dirinya, ia tidak akan membiarkan itu terjadi.

“aku tau ini adalah situasi yang sulit Hyung, aku akan membantumu jika kau butuh bantuanku. Baiklah, aku akan kembali kekantor, aku harap kau baik-baik saja”. ujar Kyu Hyun akhirnya sebelum meninggalkan Dong Hae yang kini duduk terdiam disofa beludru bewarna hijau tua itu. kedua mata Dong Hae tampak menerawang memikirkan segela cara untuk masalah ini, jika ia memikirkannya sesederhana mungkin, mungkin saja ini tidak terlalu berat untuknya, tapi entah kenapa ada yang lain yang kini pria itu rasakan, menolak Seo Na dan perasaannya? Apa pria itu sanggup?

To be Continue

CRAZY IN LOVE (2/?)

Standard

j

I look and stare so deep in your eyes
I touch on you more and more everytime
call your name two, three times in a row

– Crazy In love , Beyonce

Seo Na tampak bingung, orang-orang tampak mondar mandir dihadapannya. Matanya juga sejak tadi mencari sosok Cho Kyu Hyun tapi ia tak menemukan pria itu. tiga hari lagi pesta pernikahan mereka, pesta yang terjadi mendadak baru direncanakan sejak pria itu mengajak Seo Na menikah. Seo Na masih tak mengerti dengan apa yang terjadi, bahkan saat itu ia sempat tertawa lalu memukul pipinya sendiri agar ia terbangun dari mimpinya tapi tidak, Kyu Hyun baru saja melamarnya, bukan melamar lebih tepatnya memintanya untuk menikah dengan pria itu. dengan tatapan bodohnya Seo Na hanya mengangguk lalu pria itu memeluknya.

Semua terjadi begitu cepat dan sekarang yang ia lihat adalah orang-orang yang tengah sibuk mempersiapkan pesta mereka. “Na-ya”. suara lembut itu menghalau pikiran Seo Na yang melayang-layang.

Gadis itu tertegun sebentar mengamati wajah wanita dihadapannya saat itu. “aku Ahra, Cho Ahra. Kakak Cho Kyu Hyun”. Jelas wanita itu pada Seo Na, menyadari siapa yang berada dihadapannya saat ini Seo Na segera membungkuk memberi hormat pada Ahra gadis itu jadi salah tingkah.

“kau sangat cantik jika dilihat secara langsung Seo Na, tidak heran jika Kyu Hyun menginginkamu”. Ahra terkekeh geli, ditambah ekspresi wajah Seo Na yang seketika berubah merona dan salah tingkah. “masuklah, Kyu Hyun ada didalam”. Tawar Ahra mengulurkan tangannya pada Seo Na, gadis itu meraihnya lalu tersenyum kearah calon kakak iparnya itu.

Ini pertama kalinya Seo Na menginjakan kaki di rumah keluarga Kyu Hyun, rumah yang sangat luas dengan cat dinding putih gading menambah kesan kokoh rumah megah itu. tapi kini tatapan Seo Na teralihkan pada pemandangan didepannya, seorang pria yang duduk begitu tampan dengan buku bacaan ditangannya. Cho Kyu Hyun, dengan pakaian rumahan yang begitu sederhana, rambutnya acak-acakan terlihat begitu sangat seksi dimata Seo Na.

“Kyu Hyun, Seo Na sudah lama menunggu diluar dan ia berdiri disana menunggumu. Kenapa kau mengabaikannya?”. Ahra berceloteh pada adik laki-lakinya itu memukul pelan lengan Kyu Hyun.
“Seo Na?”. Kyu Hyun kaget, ia segera melempar buku ditangannya ke meja, lalu terkekeh pada kakaknya. “aku benar-benar tak menyadarinya”.

“baiklah, aku akan mengurus tatanan dekorasi pesta kalian. Na-ya berhati-hatilah”. Ujar Ahra mengedipkan satu matanya kearah Seo Na, membuat Seo Na terkekeh lalu pandangannya mengarah pada wajah Kyu Hyun yang tampak bingung melihat keduanya.

Kyu Hyun kembali fokus pada gadis dihadapannya itu. “apa kau sudah lama menunggu Na-ya? maaf kan aku”. Pria itu berdiri tepat dihadapan Seo Na, membuat gadis yang berada dihadapannya saat itu harus mendongakkan kepalanya keatas.

Seo Na tersenyum lalu gadis itu menggelang. Jika harus menunggu selama berjam-jam diluar pun Seo Na tak akan marah pada Kyu Hyun. “aku harus mengatakkan sesuatu padamu Kyu Hyun-ssi”. ujar gadis itu ragu-ragu, mata Seo Na tampak beralih menatap taman hijau cantik dibelakang punggung Kyu Hyun, gadis itu sedikit menaikkan alisnya. Lalu kembali fokus pada Kyu Hyun.
“ada apa? sesuatu terjadi?”. Pria itu mengernyit, matanya masih menatap paras Seo Na yang tampak kebingungan.

“soal pernikahan ini, apa semua ini tidak terasa terlalu cepat. Bahkan kau belum mengenalku”. Gadis itu meremas jemarinya, kali ini ia menunduk membuat pria dihadapannya itu menghela napas panjang lalu menarik dagu Seo Na keatas untuk menatap matanya.

“seharusnya aku mengatakan hal yang sebenarnya Na-ya, mari ikut aku”. Kyu Hyun menarik tangan gadis itu lembut, menuntun Seo Na pergi ke suatu ruangan dirumahnya. Ruang pribadi pria itu.

~~~000~~~

Seo Na menatap sekeliling ruangan itu, ruangan yang dipenihu oleh buku-buku yang tersusun rapi didalam lemari dan beberapa buku yang tertumpuk dimeja baca besar dekat mereka. Seo Na takjub akan kepribadian Kyu Hyun, ia juga punya buku yang cukup banyak tapi tak sebanyak buku-buku yang berada diruangan ini. Seo Na hanya bisa terperangah.

“kau boleh meminjamnya juga kau ingin”. Suara itu membuat Seo Na bangun dari lamuannnya, gadis itu tersenyum salah tingkah. Lagi-lagi ia hanya membuat dirinya terlihat seperti gadis yang benar-benar norak, bisik batin gadis itu.

“jika aku mempunyai buku sebanyak ini aku akan menghabiskan waktu berada didalam ruangan ini, membaca setiap buku yang mungkin cocok dengan selera ku”. ujar gadis itu lalu kakinya beranjak dari tempat ia berdiri sebelumnya lalu ikut duduk dihadapan Kyu Hyun yang kini asik menatap gerak-gerik Seo Na.

“setelah kita menikah kau boleh menghabiskan waktu ditempat ini, bahkan jika kau ingin kita bisa bercinta disini”. Kalimat Kyu Hyun barusan berhasil membuat Seo Na menatap pria itu dengan mata melotot sebelum akhirnya pipi Seo Na kembali merona. Bisa-bisanya pria itu membicarakan tentang bercinta setelah mereka menikah.

“Hahaha aku bercanda, kita bisa melakukannya di ranjang”. Tambah pria itu akhirnya hanya membuat keadaan pikiran Seo Na semakin memburuk, ia malah membayangkan bagaimana jika ia bercinta dengan pria itu nantinya. “jangan pikirkan hal yang tidak-tidak Seo Na. Otakmu yang cantik itu tidak boleh berpikiran kotor”. Kyu Hyun terkekeh menatap Seo Na yang menundukkan kepalanya karena ucapan pria itu.

Sial!

“jadi kau akan menjelaskannya padaku kan?”. Seo Na mengalihkan pembicaraan mereka dari pembahasan tentang –bercinta- mungkin ia akan lebih fokus jika membicarakan tentang hal yang lainnya.

Kyu Hyun tersenyum lalu mengulurkan tangannya kedepan, meminta Seo Na menyambut tangan itu. Seo Na tampak bingung sebelum akhirnya menyambut tangan Kyu Hyun dan gadis itu duduk persis disamping Kyu Hyun dengan tangan pria itu yang melingkar dipinggangnya. “aku sudah memperhatikan mu sejak lama Na-ya”. ujar pria itu tulus, ia mengungkap kebenaran di atas sebuah kebenaran yang tersimpan.

Seo Na tetap berada didalam pelukan Kyu Hyun menyandarkan kepalanya didada pria itu. dan terasa sangat hangat.

“saat kau tersenyum padaku di dalam lift saat itu, pertemuan pertama kita”. Tambah Kyu Hyun, Seo Na mencerna kata-kata Kyu Hyun lalu gadis itu melepas pelukan Kyu Hyun dan menatap mata pria itu terkejut.

“jadi? Saat itu kau juga…”.

“ya, aku menyukaimu mulai detik itu dan perasaanku semakin bertambah saat aku memimpin perusahaan dan menikmati wajahmu yang selalu serius didepan layar komputer. Dari dalam ruangan ku, aku bisa melihat dengan jelas kegiatanmu saat kau bekerja. Bahkan waktu itu aku juga melihatmu melepaskan kancing kemejamu saat jam istirahat”. Penjelasan pria itu membuat Seo Na terperangah, jadi pria itu bisa melihat apa yang dilakukannya, sekaligus waktu itu? saat ia membuka kancing kemejanya karena merasa sangat panas.

Ya, saat itu semua orang beristirahat. Tidak ada yang berada didalam ruangan hanya dirinya sendiri, gadis itu juga berpikir atasannya yang ia gilai itu juga tak berada didalam ruangannya, dengan bebas Seo Na melepas semua kancing kemeja putihnya dan berkipas semau yang dia ingin saat itu, dan sialnya Kyu Hyun memorgokinya? Batin Seo Na mengerang.

“itu bonus, selain melihat wajah cantikmu yang serius menatap layar komputer”. Tambah Kyu Hyun, Seo Na menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Ia yakin Kyu Hyun juga tau berapa ukuran cup bra-nya. Atau jangan-jangan pria itu masih ingat warna Bra yang ia pakai?

“warna merah menyala”. Tambah Kyu Hyun, lalu pria itu tertawa keras tanpa peduli jika gadis dihadapannya ini wajahnya benar-benar berubah seperti kepiting rebus. Seharusnya Seo Na berpikir saat itu, dan kini gadis itu hanya bisa mendengar tawa Kyu Hyun. Sial!

~~~000~~~

Kyu Hyun asik memperhatikan gadis di hadapannya saat ini, sejak sejam yang lalu posisi mereka tetap sama, gadis itu membaca dengan serius didepannya dan Kyu Hyun yang tengah menyelesaikan laporan kantor dan arsip-arsip yang harus ia selesaikan menjelang hari pernikahannya. Sebenarnya Kyu Hyun tak fokus pada apa yang ia kerjakan, ia ingin lenih menikmati wajah gadis dihadapannya itu, wajah polos yang begitu serius dengan bacaannya. Buku tebal yang membahas tentang ideologi manusia dan perkembangan bisnis. Dan sekali lagi Kyu Hyun begitu tertarik dengan kepribadian Seo Na, didalam wajahnya yang polos dan tak banyak bicara gadis itu memiliki otak yang cerdas dan pintar terlihat seperti sekarang saat ia begitu tekun dengan bacaannya seperti gadis itu tak akan menemui hari esok, ia begitu serius.

“Park Seo Na..”. akhirnya Kyu Hyun mengeluarkan suara, menyapa gadis dihadapannya itu yang asik akan dunianya.

Seo Na menatap Kyu Hyun sekilas. “ Ya, apa?”. dan gadis itu kembali fokus pada buku ditangannya.
“jadi buku yang ada ditanganmu lebih menarik dari pada aku?”. Ujar pria itu, Kyu Hyun mendesah raut wajahnya tampak tak senang.

Seo Na mengernyit kini semua perhatian gadis itu tersita pada wajah Kyu Hyun yang menatapnya. Seo Na memiringkan kepalanya kekanan lalu bangkit dari tempatnya dan berdiri dihadapan Kyu Hyun dengan senyumnya yang terlihat kanak-kanak. “aku suka buku ini, ini edisi ke tiga dan aku tidak memilikinya, aku punya edisi kedua dan itu adalah pemberian Ayahku ketika ia masih bersama kami”.

Jelas Seo Na dengan raut wajah yang berseri-seri. Tapi untuk ukuran Kyu Hyun, pria itu kembali terenyuh. Ya, Ayah pria itu tak tau sedang berada dimana. Apa yang ia pikirkan hingga meninggalkan Seo Na didalam kesulitan sendiri. sejujurnya Kyu Hyun begitu kesal dengan semua penderitaan yang gadis itu tanggung di usianya yang masih sangat muda.

“Ayahmu… apa kau merindukannya?”. Entah kekuatan dari mana yang didapati oleh Kyu Hyun, akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh tentang Ayah gadis itu.

Terlihat jelas ekspresi Seo Na berubah datar, gadis itu membuat garis sedih di sudut bibirnya. “sejujurnya iya, aku merindukannya. Tapi…”. Seo Na menghentikan ucapannya, mengambil udara disekitarnya. “ia meninggalkan aku dan Ibu ku, rasanya begitu sakit jika mengingatnya”. Tambah Seo Na akhirnya, gadis itu berlalu kembali duduk ketempatnya meninggalkan Kyu Hyun yang masih menatap Seo Na di kursi kerjanya.

“Na-ya, aku minta maaf jika itu membuatmu bersedih”.

“tidak Kyu Hyun-ssi, aku tidak semenyedihkan itu”. Seo Na tampak tersenyum, walau didalam matanya masih terlihat jika gadis itu memang bersedih sebelumnya. “jika aku masih bersedih, aku tidak akan hidup dengan baik sampai saat ini, bekerja di perusahaanmu yang besar dan menjadi calon istrimu. Itu sangat baik”.

“kau bilang baik Park Seo Na, dengan ukuran tubuhmu yang begitu kurus dan dengan kantong mata yang terlihat jelas”. Pekik Kyu Hyun dalam hatinya. “kau harus makan lebih banyak dan teratur, jika kau menjadi istriku aku akan mengurus semua kebutuhanmu, membelikan apapun yang kau mau dan aku mau untuk kau memakainya, memakan makanan yang bisa membuatmu lebih terlihat sehat dan bugar, juga olahraga dan tidur yang cukup”. Jelas Kyu Hyun, Seo Na menyipitkan matanya, kini ia benar-benar fokus pada bibir Kyu Hyun. Astaga! Pekik Seo Na dalam hati.

“aku tidak suka olahraga, aku makan ketika aku mau, dan tentang apa yang akan kau belikan untukku, aku keberatan. Aku tidak suka jika kau membuang uang hanya untuk sesuatu yang tak berguna. Mungkin pegawai lebih membutuhkannya”. Seo Na membalas, gadis itu tampak enteng sekarang bola matanya tampak cerah menatap Kyu Hyun. Dan Kyu Hyun terkekeh mendengar jawaban gadis itu.

Ini menarik. Pikir Kyu Hyun. Pria itu beralih duduk persis dihadapan Seo Na, di sofa beludru warna hijau tua. “kau harus makan, jika kau bersamaku. Aku tidak ingin kau mati kelelahaan jika bercinta denganku.

Jika kau tak suka olahraga, kau akan menyukai olahraga denganku dan soal barang-barang yang aku belikan untukmu tak ada hubungannya dengan gaji karyawan dikantorku. Aku tau kau sering mendengar mereka mengeluh, itu karena saat mereka menerima gaji di awal bulan mereka menghabiskan untuk minum-minum dan bersenang-senang, akan lebih baik jika mereka tak melakuan hal yang seperti demikian, kau mengertikan kan gadis nakal?”. Kyu Hyun membentuk senyum menyeringai di sudut bibirnya, menatap wajah Seo Na yang tampak berubah tegang, pipi gadis itu tampak memerah dan lagi-lagi ia melihat wajah Seo Na yang salah tingkah.

“ya, aku mengerti”. Seo Na akhirnya mengalah, gadis itu tak seharusnya membuat statment yang demikian pada pria dihadapannya ini, lebih baik ia menuruti kata-kata Kyu Hyun. Dan bercinta? Olahraga? Maksudnya bercinta adalah olahraga? Gila! Seo Na memekik didalam hatinya, bisa-bisanya Kyu Hyun mengatakan demikian tentang olahraga. Tapi jika itu adalah olahraga yang dijanjikan Kyu Hyun untuknya, mungkin ia bisa terima. Dewi batin gadis itu menyeringai ditempatnya.

~~~000~~~

Keduanya sampai didepan gedung Apartemen milik Seo Na, Kyu Hyun terlebih dulu keluar membukakkan pintu untuk wanita yang akan menemani sisa umurnya. “selamat datang di istanamu Na-ya, sayang sekali kau harus meninggalkannya dalam waktu dua hari ini”. Kyu Hyun terkekeh, gadis dihadapannya itu juga ikut tersenyum.

“ya, aku akan menempati istanamu yang super megah itu dan aku harap aku terbiasa Kyu Hyun-ssi”. mereka saling berhadapan, mata mereka bertemu.”diruang bacamu, didapurmu dan dikamarmu tentunya”. Lanjut Seo Na, Dewi batinnya tertawa riang, Seo Na mengucapkan kata-kata yang terdengar sensual.

“ya, dikamarku kau akan banyak menghabiskan waktu Na-ya”. Kyu Hyun mengulurkan tangannya, membawanya kesisi pipi kiri Seo Na, mengelus pipi gadis itu. sangat halus seperti bayi. ”kau perlu berkemas, dan tinggalkan sesuatu yang tidak perlu. Ok? Kau akan punya banyak barang baru nantinya”. Tambah Kyu Hyun, Seo Na menyipitkan matanya lagi, gadis itu tak setuju.

“aku menyukai semua barangku dan mereka perlu Cho Kyu Hyun, jika kau tidak ingin menampungnya bagaimana jika kita tinggal di Apartemen ku saja setelah kita menikah?”. Seo Na tersenyum sinis.

“jangan bercanda sayang, aku mungkin akan suka berada di tempatmu tapi kau mungkin akan lebih suka berada ditempatku, ok? Dan soal barang-barangmu, aku akan membebaskannya gadis cerdik”. Kyu Hyun menyentil hidung Seo Na, gadis itu terkekeh lalu memberanikan diri memeluk Kyu Hyun, pria itu menegang sejenak ditempatnya lalu tubuhnya merespon dengan cepat, ia balas memeluk Seo Na.

“ya, tentu. Aku cerdik hanya pada dirimu Kyu Hyun-ssi. aku juga begitu heran, denganmu aku menjadi lebih ingin berbagi”. Ujar Seo Na tulus, tak ada kebohongan dari nada bicara gadis itu.

Kyu Hyun tersenyum, ia mengelus puncak kepala Seo Na menarik gadis itu kehadapannya lalu mengecup kening gadis-nya.”ya, Na-ya. hanya denganku, dan akan tetap denganku selamanya”. Ucapan Kyu Hyun terdengar seperti janji, Seo Na merinding namun kebahagiaan yang ia rasakan membuatnya melambung tinggi. Ia harap ini adalah awal kebahagiaan mereka.

“aku mencintaimu Park Seo Na”.

“ya, aku juga. Sangat mencintaimu Cho Kyu Hyun”.

~~~000~~~

Seo Na kembali ke Apartemen reot miliknya, tak layak disebut gedung megah seperti Apartemen karena mungkin usia gedung ini sudah mencapai batas tak wajar. Sudah banyak retak-retak dibagian dinding yang Seo Na beri cat warna-warni agar terlihat seperti sebuah gambar pada dinding. Gadis itu melihat sekeliling kamarnya, dan dua hari kedepan adalah waktunya bersenang-senang dan menjadi gadis penyendiri seperti biasanya.

Ia akan tinggal bersama dengan Kyu Hyun, pria yang selalu mengisi otaknya, pria yang selalu hadir dalam mimpi erotisnya dan pria yang ia sukai saat pertama kali mereka bertemu saat itu. tapi ada yang masih mengganjal dengan pernikahan ini, Seo Na sejujurnya tak puas dengan jawaban Kyu Hyun, entah apa namun gadis itu sesegera mungkin menghalau semua pikiran buruknya, ia ingin hidup bahagia dengan Cho Kyu Hyun.

Tapi dering telepon rumah gadis itu berbunyi, Seo Na beranjak dari tumpukkan barang yang ia kemas dan akan ia bawa kerumahnya yang baru dengan Kyu Hyun. Gadis itu mengangkat telefonnya, dan seseorang segera menyaut dari ujung sana. Suara yang khas yang begitu Seo Na ridukan, tapi kenapa pria itu baru muncul sekarang. Gadis itu bergetar ia tak tau harus berkata apa.

“Seo Na, ini ayah putriku”. Seketika semua terhenti dalam sekejap. Ayah, kau kembali?

~~~000~~~

Gadis itu sampai dengan segera di sebuah cafe kecil disekitar rumahnya, didalam tidak begitu ramai, hanya ada beberapa pelanggan dan juga pelayan yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Mata Seo Na melirik kekiri dan kekanan tampak bingung dan gusar, akhirnya mata gadis itu terhenti pada seorang pria berjeket tebal bewarna cream, Ayah-nya memakai topi bewarna senada dan kini mereka saling bertatapan. Bertahun-tahun lamanya dan ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.

Seo Na mendekat, ia kaku, entah apa yang ia rasakan saat ini, ia merindukkan Ayah nya namun disisi lain ia masih begitu marah kepada Ayah nya yang meninggalkannya begitu saja, dan ia baru sadar, Ayah nya begitu kurus saat ini.

“Ayah”. Suara Seo Na tercekat, pria itu tersenyum kearah Seo Na lalu mempersilahkan anak satu-satunya itu untuk segera duduk.

“aku tau kau sangat terkejut Na-ya, tapi Ayah datang untuk menjemputmu”. Suara Ayah nya terdengar begitu berat namun lembut, suara yang dulu sering membawanya kealam tidur saat mereka masih memiliki keluarga yang utuh dan bahagia.

Rahang Seo Na mengeras, gadis itu tampak memperlihatkan wajah kemarahannya. “menjemputku? Ayah bercanda?”. Seo Na tersenyum getir. Satu tetes air mata mengalir dipipinya.

“ya, menjemputmu Na-ya. kita bisa hidup bersama dan memulainya dari awal, dan kau bisa bebas dari mereka”. Ucapan Ayahnya berubah dingin, Seo Na menatap heran pada Ayahnya. Mereka? Apa maksudnya? “Seo Na mungkin kau tak tau kebenarannya, tapi Ayah tak ingin kau terluka karena mereka. Mereka menginginkanmu sebagai wanita yang melahirkan pewaris perusahaan mereka, setelah itu mereka akan mencampakkan mu seperti mereka mencampakkan Ayah, kau mengerti maksud Ayah kan?”.

Mereka? Kyu Hyun? Apa Kyu Hyun sejahat itu? tidak mungkin! Seo Na menarik napasnya dalam-dalam, mata gadis itu membulat penuh. “Ayah, apa yang Ayah bicarakan? Mereka? Keluarga Tuan Cho maksud Ayah? Apa Ayah sedang menjebakku? Cukup! Aku tidak ingin mendengar omong kosong ini! Ayah meninggalkan Aku dan Ibu selama bertahun-tahun, dan saat pemakaman Ibu Ayah tak datang, saat aku terlunta-lunta Ayah tak juga datang! Apa yang Ayah lakukan? Dan sekarang Ayah mengatakan keluarga Tuan Cho jahat? Jika mereka jahat, mereka tak akan menerimaku diperusahaan sebesar itu, ku mohon hentikan semua ini Ayah”. Seo Na melemah, namun mata gadis itu masih penuh emosi. Ia tak mengerti dengan niat Ayah kandungnya itu. ia masih tak mengerti kenapa Ayah-nya membawanya menjauh dari keluarag Kyu Hyun, padahal Kyu Hyun menginginkannya sebagai istrinya tapi apa maksud dari pewaris harta? Mata Seo Na terasa berkunang-kunang.

Wajah Ayah Seo Na tampak sedih, ia seharusnya membawa Seo Na lebih dulu tapi semua terasa begitu sulit sejak Seo Na bekerja diperusahaan keluarga Cho. “aku tak bisa hadir saat itu dan aku tak bisa menjemputmu dan Ibumu saat itu. aku benar-benar minta maaf. Jika kau tak ingin pergi bersama Ayah saat ini, ku mohon Seo Na dengarkan penjelasanku sekali saja. setelah itu aku harap kau bisa menimbang-nimbang langkah kehidupanmu kedepannya”. Tuan Park tampak meyakinkan anak gadisnya itu, ia akan menjelaskan semua yang sudah terjadi. Ia tak ingin Seo Na terluka oleh siapapun, termasuk menjadikan anaknya sebagai wanita untuk melahirkan pewaris keluarga Cho dan membuang anaknya seperti keluarga itu yang mencampakkannya dulu kedalam jurang kebangkrutan.

~~~000~~~

“dulu kami adalah sahabat baik, aku dan Cho Yeung Hwan memiliki hubungan pekerjaan yang sangat menguntungkan satu sama lain. Sampai akhirnya ia memiliki anak laki-laki dan Ibu mu juga melahirkan mu beberapa tahun berikutnya. Saat itu, kami berpikir untuk menjodohkan kalian berdua, kau dan Cho Kyu Hyun dan saat pertengahan kejayaan perusahaanku dan perusahaan Yeung Hwan, ia sembunyi-sembunyi mengamil separuh untung perusahaanku dan menanamkan saham di perusahaan lain sampai akhirnya aku marah besar pada pria itu, pahitnya lagi-lagi aku mendapat kabar dari orang kepercayaanku bahwa kau hanya digunakan untuk melahirkan pewaris hartanya. Kau tau Na-ya, aku sangat-sangat marah saat itu karena aku tidak terima dengan semua kecurangannya dan juga menjadikanmu sebagai barang yang sewaktu-waktu bisa mereka buang dan sejak saat itu aku memutuskan semua kontrak pekerjaan dalam bentuk apapun dengan perusahaannya, namun semua peruntungan tak pernah berpihak kepadaku karena sejak saat itu perusahaan kita mengalami kebangkrutan yang luar biasa karena disebabkan hutang kepada infestor yang sudah mempercayaiku. Aku yakin, Yeung Hwan –lah yang menyebabkan semua infestor berpindah ke pada perusahaannya, dan mereka semua menuntutku untuk dipenjara padahal bukan aku yang melakukan kecurangan tapi Cho Yeung Hwan. Itu kenapa alasan aku meninggalkan kalian berdua dan pergi sejauh mungkin, bukan karena aku tak mecintai kau dan Ibu-mu tapi saat itu semua benar-benar terjadi secara tiba-tiba. Dan aku juga sangat terpukul ketika mendengar Ibu-mu meninggal hingga aku berpikir untuk mati juga Na-ya, tapi karena kau, karena mengingatmu yang tinggal sendiri aku menunggu hingga waktunya tiba untuk menjemputmu kembali padaku”.

Semua kata-kata itu lolos dari mulut Ayah Seo Na, gadis itu seperti terasa tersedak ditenggorokannya, semua hal yang ia pikirkan akan ia jalani bersama Kyu Hyun lenyap begitu saja. Ayah-nya tak mungkin berbohong, ia kenal betul siapa Ayah-nya. Meskipun mereka sudah cukup lama berpisah tapi Seo Na sama sekali tak melihat raut kebohongan dari wajah pria dihadapannya saat ini. Seo Na meringis, ia merasakan sakit yang luar biasa menghantam otaknya. Kyu Hyun yang ia pikir adalah malaikat penolongnya ternyata keluarga pria itulah yang menginginkannya lenyap dari muka bumi ini, dan dia diinginkan hanya karena tujuan tertentu.

“Seo Na, Ayah sebenarnya tak ingin membuatmu menjadi seperti ini. Ayah sangat menyanyangi dan peduli padamu karena itu Ayah mengambil resiko dan datang ke Seoul tadi pagi. Ayah mendengar kabar kau akan menikah dengan anak pria brengsek itu, aku tidak akan terima dengan apa yang mereka lakukan padamu nantinya, karena itu Ayah ingin kau pergi bersama Ayah”. Tatapan Seo Na begitu kosong, mata gadis itu terus mengeluarkan cairan bening. Ada satu hal yang terlintas dibenak gadis itu.

“Ayah, apa kau ingin mereka menderita seperti kita?”. Mata Seo Na memerah, tangisnya terhenti dan suara gadis itu terdengar bergetar.

“Na-ya, apa yang sedang kau pikirkan Nak?”.

“aku memikirkan untuk membalas dendam Ayah, membalas semua yang sudah dilakukkan pria itu padamu, Ibu dan juga aku”. Gadis itu mengepal tangannya. Ia bertekat dalam hatinya, rasa sakit yang terkubur dalam hatinya akan bangkit dan membalas semuanya, Dewi batin gadis itu mati seketika dan lenyap.

To Be Continue

CRAZY IN LOVE (1/?)

Standard

j

Got me looking so crazy right now, your touch…

Got me hoping you’ll page me right now, your kiss…

Beyonce – Crazy in Love

Pria itu, pria yang selalu berada dalam fantasi liar ku. pria dengan gigi putih yang bertengger rapi. Pria dengan jari-jari yang panjang dan penuh. Mata bulat hitam miliknya yang selalu ku inginkan menatapku saat kami bercinta suatu saat nanti dan tubuhnya yang tinggi, putih, bersih itu yang selalu ku inginkan untuk ku peluk, aku menggilainya bahkan sampai ketitik syaraf terliar ku.

Setiap kali aku melihatnya, aku benar-benar dirasuki napsu yang luar biasa. Aku menginginkannya. Disetiap anganku, aku selalu memikirkan bagaimana nikmatnya berada dibawah tindihan pria itu. pasti sangat nikmat. Ya, sangat nikmat sampai-sampai aku bisa merasakannya lewat mimpi-mimpiku.

Pria itu dosaku, dosa yang akan aku tanggung karena terus memikirkan fantasi bercinta dengannya. Ia akan menjadi dosaku jika aku tetap mendesah hanya karena aku melihat ia bediri tak jauh dari hadapanku. Dan akan tetap menjadi dosa, jika saat aku mencium aroma tubuhnya aku ingin segera dimasuki oleh pria itu. aku tergila-gila padanya. Sangat. Hingga aku tidak peduli dengan dosa jika aku memikirkannya. Ya aku sangat menggilai Pria itu… Cho Kyu Hyun.

~~~000~~~

Seo Na menekan ujung rok ketat di atas lututnya, saat ini gadis itu tengah duduk didepan seorang pria. Pria jakung yang saat ini menjadi CEO tempat ia bekerja. Pria yang ia inginkan untuk berada dalam dirinya, hanya dengan menatap pria itu ia bisa memikirkan hal yang belum ia pernah lakukan sebelumnya. Hanya dengan pria itu ia bisa memikirkannya.
Tapi, Cho Kyu Hyun bahkan tidak pernah menatapnya sama sekali, tatapan pria itu tak pernah berhasrat padanya mereka hanya bertemu pandang sekali dua kali, itupun karena pekerjaan yang mengharuskan mereka bertemu atau saling berbicara.

“kau bisa melanjutkannya dirumah, besok pagi kau bisa memberikannya kembali padaku”. Ujar pria berusia 26 tahun itu.

Seo Na mengangguk, tersenyum singkat tanpa berani menatap pria itu. ia terlalu takut, bahkan saat ini ia sedang menenangkan syarafnya karena sejak tadi ia benar-benar terbuai oleh aroma maskulin yang muncul dari tubuh atasannya itu. ia tidak ingin memperlihatkan betapa inginnya ia bersama dengan Kyu Hyun, betapa ia ingin berada dibawah tindihan pria itu. ya, mungkin sebentar lagi ia akan gila. Pikir Seo Na.

“baiklah, akan aku selesaikan secepatnya. Aku permisi”. Ucap gadis itu kaku, otaknya tak bisa bekerja dengan baik. suasana didalam ruangan ini terlalu panas untuknya. Ia segera beranjak dari sana dengan tergesa, melangkah tanpa peduli jika pria itu tengah menatapnya aneh.

“tunggu…”. Seo Na berkedik. “Ada yang aneh dari dirimu Park Seo Na”. Gadis itu menghentikan langkahnya. Ia tidak ingin berbalik menatap pria yang menyadari keanehan dari dirinya. Tidak, ia tidak ingin pria itu tau jika ia sangat teramat menginginkan atasannya itu.

“kau sakit? Bibir mu pucat”. Suara Kyu Hyun berada teopat dibelakag gadis itu, Seo Na berbalik dengan hati-hati mengadahkan wajahnya, menatap wajah khawatir Cho Kyu Hyun dihadapannya. Dan lagi-lagi jantung gadis itu berdetak tidak normal, ia pasti akan benar-benar gila setelah ini.

“a.. akk..ku baik-baik saja”. ujar gadis itu terbata. Ia masih tidak percaya jika wajah Kyu Hyun berada tidak jauh dari hadapannya, pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan.

“kau yakin?”. Kyu Hyun mengulurkan tangannya kearah kening Seo Na, dan itu hanya membuat gadis itu kalang kabut. Ya dia harus menghentikan pria itu, sebelum ia benar-benar melecuti semua pakaian pria itu dan memaksanya menidurinya. Pikiran yang kotor.

“Ya, maaf aku benar-benar harus pergi”. Suara gadis itu meninggi dan bergetar, Seo Na menyingkirkan jemari-jemari Kyu Hyun dari keningnya. Sebelum akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan pria itu didalam ruang kerjanya.

~~~000~~~

Udara disekitarnya tiba-tiba panas, Kyu Hyun melonggarkan dasinya lalu membuka satu kancing teratas kemeja kerjanya. Gadis itu, gadis yang selalu ia perhatikan dari kejauhan, gadis yang selalu pucat jika berhadapan dengannya. Dan ia selalu penasaran dengan gadis itu. Kyu Hyun menginginkannya, entah sejak kapan ia menyukai Park Seo Na. Tapi ia yakin, gadis itu juga memikirkan apa yang ia pikirkan, tidak terkecuali tentang fantasi seks dengan Seo Na.

Sebenarnya mereka pernah bertemu sebelum Kyu Hyun menggantikan posisi Ayah-nya untuk memimpin perusahaan. Dulu ketika pria itu berkunjung ke perusahaan milik Ayah-nya, gadis itu dengan ramah menyapanya, mata gadis itu coklat jernih, rambutnya hitam diikat keatas dengan anak rambut yang menggantung menghiasi tengkuknya, memang penampilan Seo Na tampak biasa, ia selalu mengenakkan pakaian formal kantor dengan rok span tanpa belahan dan ditambah kaca mata tebal yang bertengger di hidung mancung milik gadis itu.

Seo Na adalah tipe gadis yang tidak terlihat ber-make-up tebal, sederhana sekali hingga Seo Na mampu membuat Kyu Hyun mengalihkan pandangannya kearah gadis itu. sejak saat itu Kyu Hyun mencari tau tentang gadis itu dan satu yang ia pikirkan sejak saat itu, menikahi Park Seo Na dan bercinta dengan gadis itu.

“apa kau rasa ia menyukaiku?”. Pria disampingnya itu tampak tersenyum, pria yang sudah berusia lanjut dengan banyak rambut putih dikepalanya. Pria yang sudah bekerja untuk keluarga Kyu Hyun sejak Kyu Hyun belum ada diantara keluarga Cho.

Soo Hwan tersenyum, tampak kerutan disekitar mata pria tua itu. “tentu saja, ia sangat menginginkan anda tuan muda”. Ujarnya pada Kyu Hyun sambil meletakkan segelas Teh hangat kehadapan Tuan muda-nya itu.

Kyu Hyun tersenyum. “benarkah? bagaimana jika ia tau siapa aku sebenarnya?”. Sinar mata Kyu Hyun tampak melemah, gadis yang ia sukai itu pasti tak akan memaafkannya.

“anda tidak bersalah atas kasus itu, lagi pula Ayah anda pantas melakukan hal itu”. suara Soo Hwan terdengar tegas, ia tau persis apa yang sudah terjadi. Ia bersyukur gadis yang di sukai Kyu Hyun tumbuh menjadi gadis yang cantik dan luar biasa baik, tidak meniru sifat Ayah-nya yang seperti iblis. “Tuan Park pantas mendapatkan balasan”. Tambah pria itu lagi.

Kyu Hyun menggeram, mata pria itu menggelap.”jaga ucapanmu! Ia tidak sepenuhnya bersalah jika…”. Kyu Hyun menghentikan perkataannya. “sudahlah, aku lelah. Kau boleh keluar dari ruanganku”. Ucap Kyu Hyun akhirnya. Ia tidak ingin berdebat tentang hal ini. ia sudah sangat lelah.

Soo Hwan membungkuk lalu menuruti perintah Kyu Hyun untuk meninggalkannya, batin pria itu berbisik. “Tuan muda, seharusnya saat ini anda sudah menikah dengan gadis itu jika saja Ayah-nya tak berbuat curang pada Tuan Cho”. Batinnya.

~~~000~~~

Seo Na melangkah memasuki Apartemen mungil miliknya, Apartemen yang luasnya tidak lebih dari dua bagian ruangan kamar tidur dan dapur digabung menjadi tempat televisi reotnya dan beberapa tumpukkan buku kuliahnya beberapa tahun yang lalu. Ia harus beranjak meninggalkan rumah mewah milik keluarganya, hutang yang ditinggalkan mendiang Ayahnya sejak perusahaan Ayahnya bangkrut begitu besar ditambah biaya rumah sakit saat ibunya menjalani pengobatan membuat tabungan keluarga mereka terkuras habis.

Dulu Seo Na memiliki keluarga yang bahagia, ia kaya, Ayahnya memiliki sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri dan pada akhirnya bangkrut karena kerja sama yang buruk dengan perusahaan lain, sejak saat itu Ibu nya sakit-sakitan dan Ayahnya kabur begitu saja meninggalkan ia dan Ibu nya dengan banyaknya hutang dan akhirnya Ibu nya meninggal karena penyakit jantung yang ia derita. Sejak saat itu Seo Na hidup sendiri tanpa keluarga sebagai gantinya ia menjual rumah milik keluarganya dan memulai hidup di Apartemen yang kini ia tinggali selama lima tahun belakangan ini.

Sebenarnya gadis itu sangat penasaran pada kolega Ayahnya yang membuat perusahaannya bangkrut, ingin ia bertanya apa yang terjadi namun akses untuk bertanya pada kerabat Ayahnya terputus begitu saja, ia juga tak mengenal rekan bisnis Ayahnya saat itu Seo Na sedang menjalani kuliahnya dan tidak terlalu memperdulikan dengan siapa Ayah nya menjalin pekerjaan.

Dan setelah ia lulus gadis itu mulai mencari pekerjaan dan akhirnya ia bekerja di perusahaan yang sangat besar hingga saat ini. Awalnya ia ingin bertanya pada pemilik perusahaan itu, apakah atasannya mengenal Ayahnya tapi saat Seo Na berniat bertanya atasannya meninggal dunia dan posisi kepimimpinan perusahaan digantikan oleh anak laki-lakinya. Ya, pria itu adalah Cho Kyu Hyun, pria yang membuat Seo Na sesak napasnya hanya dengan menatap wajahnya.

Seo Na kembali teringat pada kejadian tadi siang, itu adalah pertama kalinya mereka bersentuhan secara langsung, kulit dengan kulit. Sebelumnya Seo Na hanya bisa menatap Kyu Hyun dari jarak yang tidak terlalu dekat. Dan lagi, Seo Na teringat pada kenangan tiga tahun yang lalu, saat pertama kali ia bertemu Cho Kyu Hyun di perusahaan milik pria itu, saat ia melempar senyuman pada Kyu Hyun didalam lift, saat itu hanya mereka berdua membuat atmosfer berbeda diantara mereka, sejak saat itu Seo Na selalu mengingat wajahnya dan tanpa disangka beberapa bulan berikutnya ia mendapati jika atasan barunya adalah Cho Kyu Hyun, anak dari Tuan Park pemilik perusahaan tempat ia bekerja.

Ponsel gadis itu tiba-tiba bergetar, Seo Na terjaga dari lamunannya lalu mengalihkan pandangannya pada layar ponselnya, kini bibir gadis itu membentuk ulasan senyum. Esok adalah peringatan kematian Ibu nya, ia akan berkunjung kepusara Ibunya esok hari. Gadis itu meneteskan air matanya, jika Ayahnya tidak kabur mungkin saat ini ia tidak akan merasa sendiri seperti ini.

~~~000~~~

“ada yang ingin Ibu bicarakan Kyu Hyun”. Suara khas milik Ibu nya mengusir keheningan sarapan pagi keluara Cho pagi ini. Kyu Hyun menatap Ibu nya, tidak terkecuali kakak dari pria itu, Ahra. “saat ini usiamu tidak lagi remaja, aku memikirkan banyak hal tentang masa depanmu”. Tambah Ibu-nya.

Kyu Hyun mengangguk, ia tau maksud dari wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu, ia tau jika Ibu-nya ingin ia segera menikah. Ahra juga tampak mengangguk paham.

“kau pasti tau maksud Ibu”. Wanita itu menghentikan kalimatnya, menghela napasnya panjang. “sebenarnya dulu Ayah mu sudah menyiapkan seorang gadis, tapi ada sesuatu hal yang menyebabkan perjanjian pernikahan diantara kalian di batalkan”. Kyu Hyun tertohok, matanya sedikit membelalak, namun kakak Kyu Hyun tampak paham, ia tau yang dimaksud Ibu mereka.

“seorang gadis?”. Tanya pria itu penasaran, ia meletakkan garpu dan pisau makannya dimeja. “bahkan Ayah tak pernah mengatakan apapun padaku”. Tambah Kyu Hyun, pria itu tampak kesal.

Ibu Kyu Hyun tampak tersenyum lemah. “karena waktu itu kau dan gadis itu masih sangat muda, gadis itu juga tak mengetahuinya.”. jelas wanita itu, tak berani menambahkan atau menjelaskan siapa gadis itu sebenarnya.
“siapa dia? apa aku mengenalnya? Kenapa kalian merahasiakan ini padaku?”. Paksa Kyu Hyun, otot leher pria itu tampak menegang.

“jika kau tau sekalipun aku yakin ia tak akan bersedia menikah denganmu, mungkin sekarang ia bertanya-tanya tentang kepahitan yang terjadi dalam keluarganya, dan jika ia tau yang sebenarnya ia akan pergi meninggalkan perusahaan kita, hanya dengan merahasiakan semua ini darinya kita bisa membantunya untuk tetap hidup tapi untuk lebih Ibu rasa tidak bisa lagi Kyu”. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Ibu-nya itu hanya membuat kepala Kyu Hyun terasa pusing, ia tau siapa yang dimaksud Ibu-nya, dan ia tau sekarang kenapa gadis itu dipekerjakan di perusahaan milik keluarganya. Park Seo Na, ya seharusnya jika Ayah gadis itu tidak berlaku curang pada perusahaanya mungkin saat ini ia sudah menikah dan hidup bahagia dengan gadis itu dan yang terjadi saat ini hanyalah Ia dan Park Seo Na hanyalah sebatas hubungan antara Atasan dan Bawahan.

Kyu Hyun menarik udara banyak-banyak disekitarnya, dan mengucapkan sesuatu yang membuat Ibu dan Ahra terkejut. “aku akan menikah dengannya, meskipun ia membenciku sekalipun”. Ujar pria itu tenang, lalu beranjak meninggalkan Ibu dan kakaknya yang kini saling menatap pilu. Ya, keduanya sudah tau jika Kyu Hyun sangat menginginkan Seo Na, Soo Hwan sudah menceritakan semuanya.

~~~000~~~

Ini sudah hampir jam makan siang tapi gadis yang di tunggunya belum juga muncul dihadapannya, gadis itu berjanji untuk mengantarkan dokumen yang sudah ia pesankan kemarin dan sampai detik ini Kyu Hyun masih menunggu seperti orang bodoh di dalam ruang kerjanya. Pria itu benar-benar gelisah, bahkan sekarang ia takut jika Seo Na mengetahui siapa dirinya, siapa keluarganya dan apa yang membuat gadis itu hidup dalam kesendirian seperti saat ini.

Suara kenop pintu memecah lamunan pria itu, dengan hati-hati seorang gadis masuk kedalam ruangannya, wajahnya tampak lesu dan matanya sedikit sembab, Seo Na terlihat dalam keadaan yang tidak baik.

“Maaf Tuan, aku terlambat”. Suara Seo Na terdengar lebih lemah, gadis itu juga mendunduk tak menatap Kyu Hyun sedikitpun membuat Kyu Hyun geram sekaligus penasaran apa yang terjadi pada gadis itu.

Kyu Hyun beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan kearah Seo Na berdiri persis disamping gadis itu dan tubuhnya menghadap ke arah Seo Na. “Apa yang terjadi? Apa kau tidak ingin bekerja lebih lama disini?”. Suara Kyu Hyun terdengar lebih rendah dari biasanya, membuat Seo Na berkedik, gadis itu semakin membenamkan kepalanya.

“sebelum ke kantor aku berkunjung ke makam Ibu-ku, maaf kan aku Kyu Hyun-ssi”. Akui gadis itu akhirnya, dan pengakuan gadis itu hanya membuat Kyu Hyun tertohok ditempatnya. Seharusnya ia tidak mengucapkan kalimat barusan, dan seharusnya ia simpati pada gadis itu tadi, mendengar pengakuan Seo Na membuat Kyu Hyun merasakan sakit didadanya. Ia bisa membanyangkan betapa beratnya hidup Seo Na saat ini dan itu hanya membuat Kyu Hyun ingin segera memiliki Seo Na membuat gadis itu bahagia.

~~~000~~~

Seo Na berusaha menatap mata Kyu Hyun dan itu hanya membuat nyeri pada pusat tubuhnya, dengan jarak seperti ini hanya membuat sesuatu dalam dirinya terjaga, ia merasa dewi hasratnya tengah menari-nari disekitarnya saat ini. seketika tubuh gadis itu kaku.

“maaf kan aku tentang itu”. suara Kyu Hyun terdengar melembut ditelinga Seo Na, ekspresi pria itu juga tak terbaca, Seo Na tau Kyu Hyun pasti kasihan padanya dan itu hanya membuat hatinya sakit, ia ingin Kyu Hyun menyukainya seperti ia menyukai pria itu bukan mengkasihaninya seperti saat ini.

“tidak, aku baik-baik saja. jangan kasihani aku karena hal itu Tuan”. Suara Seo Na sedikit meninggi dan bergetar. “aku permisi”. Tambah gadis itu lagi lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Kyu Hyun sebelum otak kotornya mulai bekerja lagi memikirkan bagaimana pria itu mencumbunya.

“aku ingin mengajakmu makan malam Park Seo Na”. Apa?! makan malam? . langkah Seo Na terhenti. “anggap saja aku berhutang padamu karena kau menyelesaikan laporan ini dalam satu malam, bagaimana?”. Tawaran yang dilontarkan Kyu Hyun padanya membuat gadis itu tergiur, makan malam dengan pria yang mengisi fantasi bercintanya. Benar-benar langkah, pikir Seo Na.

“jika kau bersedia, aku akan menjemputmu sekitar jam tujuh malam”. tambah Kyu Hyun akhirnya.

Seo Na tersenyum senang.”baiklah Tuan, aku permisi”. Ujar gadis itu akhirnya sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Kyu Hyun yang juga tersenyum ditempatnya. Malam ini adalah malam yang akan menjadi penentuan masa depan keduanya.

“Na-ya, kau akan jadi milikku. Apapun yang terjadi”. Ucapan Kyu Hyun menggema kesetiap penjuru ruangan kerjanya, seperti janji seorang kasatria.

~~~000~~~

Seo Na sudah siap, beberapa menit lagi mungkin Kyu Hyun akan sampai ditempatnya tapi apa pria itu tau Apartemennya yang usang ini? bagaimana pria itu tau? Pertanyaan yang mengitari otak gadis itu seketika lenyap ketika mobil mewah bewarna hitam mendekat kearahnya yang berdiri di depan gedung Apartemennya dan seseorang turun dari sana dengan tuxedo lengkap dengan dasi kupu-kupu, tatanan rambut yang begitu menawan, Kyu Hyun sangat tampan, lebih tepatnya benar-benar sangat tampan.

Kyu Hyun keluar dari mobilnya menatap pada gadis yang kini berdiri kaku di samping mobilnya. Seo Na mengenakkan Dress merah menyala diatas lutut, lekukan tubuhnya tercetak jelas dengan rambut yang ia sanggul keatas dan hiasan yang menempel pada rambut gadis itu. Seo Na tampak risih dengan pakaian yang ia kenakkan ditambah tatapan Kyu Hyun yang sejak tadi tak lepas memperhatikannya dari atas sampai bawah.

“kau siap?”. Suara Kyu Hyun mengalihkan tatapan gadis itu yang sejak tadi membungkuk dan pipinya memerah karena gugup. Kyu Hyun terkekeh geli didalam hatinya.

Seo Na mengangguk lalu berjalan menyusul Kyu Hyun dan masuk kedalam mobil ketika pria itu membukkan pintu mobil untuknya, dan lagi-lagi keinginannya untuk memiliki pria itu begitu besar.

“baiklah Nona Park, mari kita berangkat”. Suara Kyu Hyun yang begitu tenang sukses membuat wajah Seo Na merona, panggilan Nona Park untuknya terdengar begitu menggelikan ditelinga Seo Na saat ini.

~~~000~~~

Keduanya sampai didepan restoran mewah bergaya Eropa, Seo Na yakin harga satu piring makanan didalam sini sama dengan besar gajinya di perusahaan Kyu Hyun. Gadis itu menatap pilar-pilar kokoh yang bertengger rapi pada setiap tepi langit-langit restoran itu menambah kesan mewah dan megah, tempat ini memang sangat –Kyu Hyun- sekali, menggambarkan betapa mewahnya hidup pria dihadapannya ini.

Dulu saat ia masih menjadi anak pengusaha kaya Seo Na tak pernah menyempatkan diri untuk berjalan-jalan atau makan diluar dengan keluarga dan temannya, ia sibuk dengan sekolah dan kegiatan tambahannya. Seo Na termasuk gadis yang berprestasi di sekolah jadi ia akan lebih memilih menghabiskan waktu dikamar atau di sekolah untuk belajar.

“Park Seo Na, ini menu-nya”. Suara pria itu menghalau lamunan gadis itu dari pikirannya. Ternyata sejak tadi ia asik memperhatian hal-hal disekelilingnya tanpa sadar seorang pelayan kini tengah berdiri diantara mereka. Seo Na tersenyum kaku, dia menertawakan dirinya sendiri. benar-benar norak.

Seo Na mengambil daftar menu makanan dari tangan Kyu Hyun lalu menatap jajaran makanan yang tertera disana, gadis itu bingung disana hanya ada makanan Eropa dengan hurus alphabet tidak ada tulisan hangul sedikitpun bahkan ia tidak mengerti dengan gambarnya.

“aku mau ini”. tunjuk Seo Na asal, mukanya merah padam pasti Kyu Hyun berpikir jika dirinya benar-benar kampungan. Gadis itu mencoba menyembunyikan wajahnya dibalik poninya yang tergerai.

“tidak apa Seo Na, aku akan memilihkan yang enak untukmu”. Kyu Hyun tersenyum lalu bercakap-cakap pada pelayan yang menatap keduanya bingung, lalu pelayan itu berlalu meninggalkan keduanya.

Kyu Hyun menatap gadis yang berada dihadapannya itu, gadis lugu terlalu lugu hingga ia ingin sekali tersenyum melihat tingkah gadis dihadapannya ini. “apa kau tidak suka tempatnya?”. Kyu Hyun angkat bicara masih menatap kearah Seo Na yang membatu ditempat duduknya.

Seo Na menggeleng cepat. “tidak, aku sangat suka. Ini sangat mewah dan aku sangat suka”. Jawab gadis itu, senyumnya yang begitu cantik tergambar diwajahnya. Seo Na yang manis, ya sangat manis hingga Kyu Hyun ingin segera menyeret gadis itu ketempat gelap lalu menciumnya.

Seo Na memaksa matanya menatap Kyu Hyun walaupun ia tau efeknya sangat tidak bagus, ia tetap menatap mata pria itu. Kyu Hyun benar-benar tampan, pikir Seo Na.

“bernafas Seo Na, ekspresi wajahmu seperti senar biola yang akan putus”. Suara Kyu Hyun berhasil membuat muka gadis itu lagi-lagi memerah. Sial. Seharusnya ia tak balas menatap Kyu Hyun seharusnya ia menahan dirinya dan sekarang yang ia dapati adalah Kyu Hyun yang menertawakan kekonyolannya.

Makanan pesanan mereka tiba, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Kyu Hyun mengunyah makanannya sambil menikmati wajah Seo Na yang makan dengan lahapnya didepan matanya saat ini dan Seo Na kini sibuk dengan makanannya tanpa tau jika Kyu Hyun tengah memperhatikannya. Gadis itu sangat cantik, cara ia mengunyah pipinya yang gembul karena mengunyah makanan dan ekspresinya berubah-ubah ketika mencicipi makanan dihadapannya.

Malam ini Kyu Hyun berniat mengatakan apa sebenarnya yang menjadi tujuannya mengajaka gadis itu kemari. Ya sebelum terlambat ia akan mengatakan semuanya, tidak semua hanya beberapa. Tentang rahasia keluarga gadis itu akan tetap ia simpan dan akan ia katakan jika suatu saat nanti ia memiliki waktu yang tepat untuk mengatakan semua kebenaran tentang siapa dirinya.

Seo Na menyudahi makanannya, begitu juga dengan Kyu Hyun. Gadis itu menatap Kyu Hyun yang kini juga menatapnya. Seo Na mengalihkan pandangannya tidak ingin berkonsentrasi pada atasannya itu.

“kau suka?”. Suara Kyu Hyun menarik perhatian Seo Na. Gadis itu mengangguk. “bahkan umurmu sudah menginjak angka dua puluh tiga tahun dan cara makanmu masih seperti anak kecil”. Seo Na mengernyit, gadis itu menaikkan alisnya. Apa maksud pria ini?

Kyu Hyun mengulurkan tangannya kedepan, menghapus sisa makanan dari sudut bibir gadis itu dengan ibu jarinya membuat Seo Na terkesiap, gadis itu kaget bukan main dan hal itu sama dengan apa yang dirasakan pria dihadapannya itu mata mereka bertemu dengan jarak sedekat ini. Kyu Hyun menggeram mata pria itu menggelap ia tidak bisa lagi menahannya.

Setelah Kyu Hyun meletakkan beberapa lembar uang, ia menarik Seo Na dari dalam restoran itu tiba-tiba. Membuatgadis yang berada dalam genggamananya itu hanya terkejut dan mengikuti kemana langkah Kyu Hyun membawanya. Apa yang ia lakukan? Gadis itu mengerang dalam hatinya.

~~~000~~~

Keduanya sudah berada dalam mobil mewah milik Kyu Hyun, nafas Seo Na terengah-engah karena Kyu Hyun menariknya secara tiba-tiba. Ada ketakutan dari mata gadis itu ketika Kyu Hyun menyeretnya didepan orang-orang, apa pria itu marah? Pikir Seo Na. Tapi yang kini ia dapati hanyalah tatapan Kyu Hyun padanya, tatapan yang tak bisa gadis itu artikan dan Seo Na menuruti suara hatinya untuk membalas tatapan pria itu.

“Maaf, aku tak bermaksud menghancurkan suasana makan malam kita”. Ujar pria itu, memperdalam pegangannya pada stir mobilnya. Mobil mereka masih dihalaman parkir belum bergerak.

Maksud Kyu Hyun menarik gadis itu keluar agar ia tak memperburuk keadaan dengan mencium gadis itu didepan umum, tapi kenyataannya keadaannya semakin buruk ketika mereka hanya berdua didalam mobil yang sama, atmosfernya kian meledak-ledak.

“Kyu Hyun-ssi, apa terjadi sesuatu? aku pikir kau marah padaku”. Suara Seo Na terdengar serak, gadis itu menarik ujung Dress nya menahan rasa gugup. Apa yang dirasakan Seo Na saat ini hanyalah sesak didadanya yang terasa menghimpit, bukan karena sakit tapi karena ia sedang terperangkap dengan pria yang selalu mengisi fantasi bercintanya.

Mereka saling bertatapan.”Kyu Hyun-ssi, mungkin kau butuh istirahat tidak apa jika kita-“. Suara gadis itu tak terdengar lagi, matanya melotot, ada benda lembut yang menyentuh bibirnya mengatup bibir gadis itu hingga Seo Na tak bisa lagi berkata-kata.

Kyu Hyun menyambar bibir gadis itu, merasakan setiap sisi bibir Seo Na yang lembut. Ia benar-benar tak bisa menahan apa yang sudah terkubur dalam dirinya sejak ia mengenal gadis itu dan menginginkan Seo Na. Bibir mereka berpagut mesra, terdengar ecapan lidah dan bibir Kyu Hyun yang menghisap liar bibir Seo Na. Gadis itu memang sangat polos, Seo Na begitu pasif dan hanya menerima setiap perlakuan Kyu Hyun pada bibirnya, akhirnya pria itu melepas kontak diantara mereka tidak memberi jarak menempelkan keningnya pada kening gadis itu, merasakan napas Seo Na yang terengah-engah berhembus di wajahnya.

Kyu Hyun mengecap singkat bibir gadis itu sebelum ia mengatakan satu hal yang membuat gadis dihadapannya saat ini melotot.

“mari kita menikah, Park Seo Na”. Dan Seo Na hanya bisa menatap tak percaya pada ucapan yang dilontarkan Kyu Hyun padanya. Apa? ia tak salah dengarkan? Menikah?.

To Be Continue

REVENGE BEFORE LOVE (END)

Standard

hh

Loving you make me wait for years. and when I find you, I’ll never let you go again. if you say you hate me, I do not care because I still love you. – Cho Kyu Hyun

I just want to protect you, I don’t want you to get hurt. – Park Seo Na

Seo Na mengemasi barang-barangnya, membawa beberapa pakaian kedalam koper merah hati yang kini tergeletak dilantai kamarnya. Hari ini adalah hari terkahir yang penjahat itu berikan pada Seo Na, terhitung esok hari ia akan memimpin cabang perusahaannya di Jepang ia akan mengontrol semua aktifitas perusahaannya disana dan untuk waktu yang sangat lama ia tidak akan kembali ke Seoul.

Gadis itu menghentikan gerakannya, tersandar di pintu lemari pakainnya menutup mata dan merasakan tetesan air mata kini mengalir di pipinya. Ini adalah awal perpisahaannya lagi dengan pria yang ia cintai itu, pria yang dulu ia benci. Esok ia tidak akan pertemu sosok Cho Kyu Hyun lagi dan ia masih ingat pertengkaran hebatnya dengan Kyu Hyun dua hari lalu. setelah malamnya mereka bercinta dengan begitu panas, namun siangnya gadis itu membuat Kyu Hyun benar-benar tidak habis pikir. Ia berubah bahkan Seo Na berciuman dengan Lee Dong Hae di depan matanya.
Seo Na lagi-lagi menangis, ia masih ingat ketika Kyu Hyun melayangkan pukulannya kearah wajah Dong Hae, ia masih ingat saat pria itu menariknya keruang kerja Seo Na dan disana akhirnya mereka bertengkar hebat. Dan satu hal yang tidak akan bisa Seo Na lupakan. Ketika gadis itu mengatakan Ia sangat membenci Kyu Hyun.

~~~000~~~

2 Days Ago…

Seo Na terbangun lebih dulu, gadis itu menatap wajah Kyu Hyun yang masih terpulas di sampingnya. Wajah tenang pria itu, rambutnya yang acak-acakan dan bibirnya yang sedikit terbuka. Dada pria itu terekspos jelas dan tanda-tanda yang ia buat terlihat disekitar leher Kyu Hyun, Seo Na tak menyangka ia begitu liar pada Kyu Hyun tapi gadis itu teringat akan rencananya, dan beberapa hari lagi wajah itu tak akan lagi muncul dihadapan Seo Na.

Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya, merasakan sangat nyeri pada pangkal pahanya ditambah bercak darah yang masih menempel di paha bahkai Sprei dibawah tubuh gadis itu. ia menyerahkan semuanya pada Kyu Hyun, kenangan terkahir mereka hingga mereka bertemu suatu saat nanti.

Seo Na segera beranjak mengenakkan pakaiannya yang sudah berserakan dilantai lalu pergi dari Apartement milik Kyu Hyun tanpa membangunkan pria itu, tujuannya saat ini adalah Perusahaannya lalu ia akan bertemu Lee Dong Hae merencanakan kepergiannya bersama pria itu ke negeri sakura, Jepang.

Seo Na tiba di kantor seperti biasanya, sebelumnya gadis itu sudah kembali ke Apartemennya membersihkan diri dan berpakaian dari menuju kantor. Gadis itu langsung memeriksa dokumen-dokumen perusahaannya dan beberapa anak cabang perusahaannya yang berada di Jepang, gadis itu akan memulai pekerjaannya di Jepang nantinya, mengontrol semua kinerja perusahannya dari Jepang. Lagi pula sudah sejak lama gadis itu sudah tidak turun tangan ke anak perusahaannya itu selama ini hanya Yoo Ra-lah yang mondar-mandir mengurusi semua aktifitas perusahaan dan Seo Na selalu memimpin Induk perusahaannya yang berada di Seoul.

“apa kau yakin akan tinggal disana?”. suara Yoo Ra mengagetkan gadis itu, Seo Na mengalihkan pandangannya lalu menatap tajam pada sahabatnya itu. “aku merasa ini terlalu mendadak”. Tambah Yoo Ra kemudian.

Seo Na menghela napasnya, ia berusaha terlihat sedang dalam keadaan baik-baik saja.”aku juga sudah pernah bilang kalau aku ingin memimpin langsung anak perusahaan yang berada di Jepang, kau tidak ingat ya?”.

“memang, tapi saat itu kau mengatakan kau akan ke Jepang setelah membalaskan dendammu pada Kyu Hyun dan ternyata kalian sekarang akan menikah”. Jawab Yoo Ra enteng, gadis itu tidak habis pikir dengan jalan pikiran Seo Na. Ia akan menikah dengan Kyu Hyun dan sekarang Seo Na mengatakan ia ingin ke Jepang tanpa Kyu Hyun.”oh ya benar, apa Kyu Hyun sudah tau?”.

Seo Na menggeleng. “tidak, jangan beri tahu dia. jangan katakan apapun tentang ini ku mohon Yoo Ra”. Gadis itu memohon membuat Yoo Ra bingung. Jadi sebenarnya ada apa dengan Seo Na. Apa yang sudah terjadi di antara mereka. Bahkan Yoo Ra tau tadi malam Seo Na menginap di Apartemen Kyu Hyun dan mereka hanya berdua, Yoo Ra berpikir apa lagi yang dilakukan oleh pria dewasa dan wanita dewasa dalam satu kamar. Hatinya tersenyum geli.

“apa ada masalah?”. Tanya Yoo Ra penasaran, kali ini gadis itu duduk di sofa persis dihadapan Seo Na. Ia menunggu jawaban dari gadis itu. ini aneh, pikirnya.

“aku akan memberi tahumu saat aku tiba di Jepang nanti, dan katakan pada Lee Teuk Oppa untuk membantumu menjaga perusahaan”. Jawab Seo Na, nada gadis itu datar. Ya seperti tidak ada masalah tapi Yoo Ra sudah tau banyak gelagat gadis dihadapannya ini. ia sudah mengenal Seo Na sejak lama.

Yoo Ra mengangguk. “baiklah, tapi aku harap kau segera kembali. Kyu Hyun pasti akan mencemaskanmu saat kau tidak ada kabar”. Timpal Yoo Ra, Seo Na hanya diam tidak berkata – ia atau tidak- untuk menjawab kekhawatiran Yoo Ra.

Seo Na berjalan melewati meja kerjanya lalu duduk disamping Yoo Ra. “ini dokumen yang sudah ku persiapkan, aku harap kau menjaga dengan baik dan memimpin dengan baik perusahaan ini aku tau kau lebih pintar dari ku Yoo”. Yoo Ra tersenyum mendengar permintaan sahabatnya itu, ya sekarang ia tau Seo Na memang sedang menyembunyikan sesuatu, dan Yoo Ra akan mencari tahu sebelum gadis itu berangkat ke Jepang dua hari lagi.

~~~000~~~

Dong Hae masuk kedalam ruang kerja gadis itu, berbalut pakaian formal membuat pria itu terlihat sangat tampan, dua kancing atas kemejanya ia biarkan terbuka ditambah rambutnya yang hitam legam terlihat berantakan menambah kesan seksi seorang CEO, Lee Dong Hae. Pria itu tersenyum kearah Seo Na yang kini menyambutnya dengan senyum yang tidak bisa pria itu artikan.

“sudah lama menunggu, Na-ya?”. ujar pria itu. sambil mengambil posisi duduk persis dihadapan gadis itu. kantor Seo Na yang begitu luas dan dinding kaca yang besar menambah kesan seorang Park Seo Na yang mewah dan elegan di dalam ruangan itu.

Seo Na menggelang. “Tidak, aku juga baru saja selesai menyiapkan dokumen perusahaan. Apa kau ingin minum?”. Tawar Seo Na. Dong Hae menggeleng dan kali ini pria itu mengeluarkan kertas dari dalam sakunya.

“sebuah rumah yang tidak begitu mewah, dan lingkungan yang tenang. Jaraknya tidak jauh dari anak perusahaanmu yang berada di Osaka”. Jelas Dong Hae singkat, memperhatikan tangan Seo Na yang mengambil kertas ditangannya.

“terimakasih Dong Hae-ssi, kau mempersiapkan semua ini untukku. harus dengan apa aku mebalasnya?”. Mata Seo Na berkaca-kaca. Dong Hae tak tau alasan mengapa gadis itu kini bersedih, ya mungkin saja karena Seo Na akan meninggalkan pria yang ia cintai dan hidup di Jepang untuk waktu yang sangat lama.

Dong Hae mendekat kearah Seo Na duduk disamping gadis itu lalu menarik Seo Na kedalam pelukannya. “aku melakukannya untukmu Na-ya, bukan untuk pria itu. karena aku mencintaimu”. Tukas pria itu, tubuh Seo Na bergetar karena menahan tangis. Hanya Dong Hae yang bisa membantunya saat ini, hanya Dong Hae yang bisa membawanya menjauh dari Kyu Hyun. Semua ini demi keselamatan Kyu Hyun, Seo Na tidak ingin Kyu Hyun terluka sedikitpun.

“apa kau lapar? Kau semakin kurus Na-ya. kita perlu makan siang bersama”. Saran Dong Hae akhirnya membuat Seo Na melepas pelukan pria itu dan menatap Dong Hae penuh senyum meskipun air mata gadis itu masih mengalir dipipinya. “jangan menangis Nona Park, itu membuat usiamu bertambah sepuluh tahun”. Canda Dong Hae sukses membuat gadis itu merona, tangannya kini memukul lengan Dong Hae membuat pria itu ikut tertawa.

Seo Na mengangguk. “baiklah, aku juga sangat lapar”. Jawab Seo Na akhirnya.

Seo Na dan Dong Hae keluar dari ruangannya bersama. Seo Na berjalan cukup canggung disamping pria itu. Tubuh pria itu memang tak setinggi Kyu Hyun, Seo Na tidak perlu mengadah untuk menatap Dong Hae karena bantuan hightheels nya. Namun langkah kaki Seo Na terhenti ketika dari kejauhan matanya menangkap sosok Cho Kyu Hyun yang berjalan kearah mereka berdua, Seo Na terkejut begitu juga dengan Dong Hae mereka saling bertatapan sebelum akhirnya pikiran gadis itu memintanya untuk mencium bibir Dong Hae saat ini, tanpa aba-aba Seo Na menarik tengkuk Dong Hae dan mencium pria itu dihadapan Kyu Hyun yang jaraknya kini tidak terlalu jauh dari mereka berdua. Yang Seo Na dengar setelah itu hanya pukulan cukup keras membuat Dong Hae yang baru saja berciuman dengannya terhuyung ke lantai.

~~~000~~~

Kini diruangan itu hanya mereka berdua, setelah melayangkan pukulan pada Dong Hae, Kyu Hyun menarik gadis itu kedalam ruangannya membuat semua pegawai Seo Na menatap kejadian itu takjub, terheran-heran dan juga ngeri. Tatapan Kyu Hyun kini tidak lepas dari wajah Seo Na yang berdiri kaku dihadapannya, gadis itu menunduk tidak menatap Kyu Hyun sedikitpun.

“kenapa kau melakukan itu Park Seo Na-ssi?”. Tanya pria itu, suara Kyu Hyun begitu rendah dan sangat menuntut membuat Seo Na menatap mata pria itu. Rahang Kyu Hyun yang tegas terlihat mengeras ditambah tatapan Kyu Hyun yang membuat Seo Na takut tapi gadis itu tetap menantang dan menatapnya.

“karena aku ingin”. Jawab Seo Na sombong, membuat Kyu Hyun mengerang pria itu menarik rambutnya sendiri dan menjauhkan dirinya dari Seo Na.

Apa yang Seo Na lakukan adalah untuk membuat Kyu Hyun membencinya, ia ingin Kyu Hyun membenci dirinya sehingga saat ia pergi nanti Kyu Hyun tak merasa kehilangan dan ia bisa pergi dengan tenang meninggalkan pria itu.

“apa yang ada didalam kepala kecilmu itu? apa yang sedang kau pikirkankan?! Apa yang sedang kau rencanakan Park Seo Na?!”. Kyu Hyun berteriak, membuat sisi Seo Na yang angkuh itu berubah lemah didalam batinnya. Seo Na diam. Ia tidak menjawab kali ini masih menatap mata Kyu Hyun namun tatapannya lebih kepada kesedihan.

Seo Na ingin menjawab bahwa ia seperti ini untuk melindungi Kyu Hyun, bahwa ia seperti ini agar Kyu Hyun bahagia dan ia harus rela jika Kyu Hyun membencinya. “yang ada dipikiranku hanya kebencian, aku membencimu. Aku sangat membencimu. Aku ingin kau terluka, aku ingin kau menderita dan aku tidak ingin hidup denganmu!”. Suara gadis itu terdengar meninggi, ia menahan tangisnya. Saat ini ingin sekali ia menjelaskan semuanya pada Kyu Hyun. Dan…

PRANG!

Kyu Hyun melempar vas bunga dari kaca kelantai, membuat Seo Na terkejut gadis itu bergetar menahan ketakutannya. Ia melihat kaca berserakkan dimana-mana dan dengan hati-hati ia menatap Kyu Hyun, pria itu menangis namun tak bersuara sedikitpun ia menatap Seo Na dengan napas yang memburu dan mata yang memerah. Seo Na ingin sekali memeluk pria itu saat ini. bahkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh percintaannya dengan Kyu Hyun tadi malam belum hilang, disekujur tubuhnya masih ada bekas akibat percintaan mereka dan kini ia menatap Kyu Hyun seperti orang asing.

Seo Na memungut beling-beling kaca disekitarnya, mengambil satu persatu tanpa mendengarkan permintaan Kyu Hyun agar gadis itu tidak memungut kaca-kaca yang bserserakkan dilantai dan pada akhirnya gadis itu mengerang kesakitan ketika seperihan kaca menancap pada jarinya.

“Bodoh!”. Kyu Hyun menarik Seo Na menjauh dari serpihan kaca itu, melempar gadis itu kesofa dan duduk disana sambil memperhatikan luka Seo Na.

Seo Na hanya terdiam, memperhatikan Kyu Hyun yang kini sedang membersihkan lukanya. Ingin sekali ia menangis, ingin sekali ia mengatakan jika ia lebih sakit melihat keadaan Kyu Hyun yang seperti ini tapi gadis itu menahannya. Kyu Hyun berhasil menyingkirkan kaca ditangan Seo Na mengisap jari gadis itu dengan mulutnya lalu melepas dasinya dan ia ikatkan pada jari gadis itu.

“kau mengatakan kau tidak ingin hidup denganku, sedetik setelah kau mengatakkannya kau bahkan tidak bisa berhati-hati dan hidup dengan baik. bagaimana aku bisa memastikan kau baik-baik saja saat aku tidak ada?”. Nada suara Kyu Hyun begitu lembut, tidak lagi penuh emosi tatapannya juga tidak bisa diartikan oleh Seo Na gadis itu hanya menatapnya tanpa berkata apapun.

“Hiduplah dengan baik Park Seo Na, jangan lakukan apapun yang membuat dirimu terluka. Aku akan melepasmu. Maafkan aku atas semua kebencian yang sudah kutanamkan pada hatimu. Setelah ini kau bebas Na-ya”. rasanya hati Seo Na begitu hancur, ia ingin sekali menahan Kyu Hyun disisinya tapi yang bisa ia lakukan sekarang hanya melihat punggung pria itu berlalu setelah Kyu Hyun mengecup keningnya dalam. Ya, Seo Na akan pastikan Kyu Hyun bahagia. Mungkin.

~~~000~~~

Seo Na berjalan melewati Yoo Ra yang kini tengah memperhatikannya. Yoo Ra melihat kejadian itu dikantor dua hari yang lalu dan ia juga sempat menguping pertengkaran Kyu Hyun dan Seo Na saat itu. bahwa Seo Na sangat membenci Kyu Hyun dan ia tidak ingin hidup dengan pria itu. tapi yang Yoo Ra lihat saat ini hanyalah Seo Na yang begitu berbeda, Seo Na dengan raut wajah kesedihannya membuat Yoo ra bertanya apa yang sebenarnya terjadi? Jika memang Seo Na membenci Kyu Hyun kenapa gadis itu tidak terlihat bahagia ketika Kyu Hyun meninggalkannya dan kenapa Seo Na mendadak ingin tinggal di Jepang dan Sore ini adalah waktu keberangkatan gadis itu ke Jepang.

“Na-ya, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau tidak akan menceritakkannya padaku?”. Tanya Yoo Ra, gadis itu menatap Seo Na yang sejak tadi sibuk dengan kopernya.

Seo Na hanya menatap Yoo Ra sebentar. “aku menitipkan Apartemenku padamu, mungkin aku akan kembali tahun depan atau dua tahun lagi. Aku tau kau sangat peduli dengan Apartmenku ini”. Ujar Seo Na tidak sesuai dengan pertanyaan yang di ajukan Yoo Ra padanya.

Yoo Ra gemas. Gadis itu memukul kepala Seo Na. “jangan bohong dan pura-pura didepanku, memangnya aku ini orang lain? Aku sudah hidup denganmu sejak kita masih kecil dan sekarang kau menyembunyikan sesuatu padaku!”. Yoo Ra berteriak kesal tidak peduli tatapan heran Seo Na padanya. Gadis itu kini berdiri dihadapannya.

“kenapa kau selalu curiga padaku? Memangnya aku tidak boleh punya rahasia?”. Jawab Seo Na seadanya dan kembali melanjutkan kesibukknya, membuat Yoo Ra menghembuskan napasnya kasar lalu Seo Na berlalu menuju kamarnya namun gadis itu menjatuhkan kertas yang terselip di saku celanya dengan sigap Yoo Ra mengambil itu dilantai dan membacanya tanpa sepengetahuan Seo Na, betapa terkejutnya gadis itu membaca isi dari kertas yang berada ditangannya itu. jadi ini yang menjadi alasan kenapa Seo Na mencium Dong Hae, pertengkarannya dengan Kyu Hyun dan mendadak ingin meninggalkan Seoul. Dengan segera Yoo Ra beranjak dari tempat itu, ia tau siapa yang ia akan hubungi sekarang.

~~~000~~~

Keduanya saling bertatatapan, namun tatapan Kyu Hyun lebih kepada rasa kebencian sedangkan pria dihadapannya ini hanya tersenyum kaku penuh arti membuat Kyu Hyun semakin geram kepadanya. Bertahun-tahun mereka bersahabat dan sekarang persahabatan mereka hancur karena seorang wanita dan Dong Hae akan menyelesaikan semua ini hari ini.
“jadi untuk apa kau kemari?”. Tanya Kyu Hyun dingin, pria itu menatap tajam kearah Dong Hae.

Dong Hae melempar tiket pesawat kearah Kyu Hyun, pria itu mengambilnya. “itu tiket keberangkatan Seo Na ke Jepang sore ini”. jawab Dong Hae, membuat mata Kyu Hyun membesar menatap Dong Hae masih tak mengerti. Seo Na ke Jepang?. “ia memintaku untuk membantunya menghilang darimu. Karena ia tak ingin membuatmu terluka”. Tambah Dong Hae, dan itu hanya membuat Kyu Hyun semakin tidak mengerti.

“jelaskan dengan rinci Hyung, aku sedang tidak ingin bercanda”. Ujar pria itu dingin, matanya menyipit kearah Dong Hae.

Dong Hae tersenyum kaku. “orang yang menembaknya, orang yang menculiknya adalah orang yang menyuruh Seo Na untuk meninggalkanmu, dan meninggalkan Seoul sejauh mungkin. Jika tidak, orang itu akan membunuhmu dan kau tau Seo Na tidak ingin itu terjadi dan melakukan semuanya demi keselamatanmu. Dibanding kan kau Cho Kyu Hyun, Seo Na lebih takut kehilanganmu”. Jelas Dong Hae panjang lebar, membuat Kyu Hyun mendesah berat. Pria itu memutar otaknya, jadi karena itu Seo Na mencium Dong Hae dihadapan Kyuhyun? Dan karena itu juga Seo Na mengatakan jika ia membenci Kyu Hyun?

“jangan katakan apapun jika aku yang memberi tahumu, aku ingin kau segera menyusulnya sebelum terlambat”. Ujar Dong Hae sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Kyu Hyun tapi kini langkahnya terhenti ketika pertanyaan Kyu Hyun mengarah padanya.

“kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa tidak kau rebut saja dia dariku?”. Dan itu membuat Dong Hae tersenyum.
Ia membalikkan badannya dan menatap kearah Kyu Hyun. “karena aku mencintainya, karena aku tidak ingin melihat orang yang ku cintai terluka. Sedikitpun”. Ujar Dong Hae sebelum akhirnya benar-benar berlalu. Rasanya benar-benar tenang pada jiwa pria itu, ia merelakan orang yang ia cintai demi kebahagiaan orang itu. mencintai Seo Na adalah murni bukan obsesi ingin memiliki.

~~~000~~~

“ya, aku sudah tau Yoo Ra-ssi, aku akan ke Apartemen Seo Na sekarang”. Ujar Kyu Hyun pada Yoo Ra disambungan teleponnya. Tujuan Kyu Hyun saat ini hanya satu memeluk Seo Na didalam dekapannya dan tidak akan pernah lagi melepaskan Seo Na meskipun gadis itu mengatakan jika ia sangat membenci Kyu Hyun. Tidak akan lagi.
Kyu Hyun sampai didepan pintu Apartemen Seo Na, membukanya perlahan dan tentu saja gadis itu masih tidak mengganti password keamanan rumahnya. Kyu Hyun masuk dan mendapati Seo Na kini berdiri dengan koper ditangannya. Gadis itu sudah siap pergi ternyata, pikir Kyu Hyun. Kehadirannya membuat gadis dihadapannya itu terkejut, Seo Na dengan refleks melepas pegangannya pada koper lalu menatap kearah Kyu Hyun, tatapan gadis itu penuh kebingungan.

“pergi ke Jepang untuk melarikan diri dariku? Sehebat apa kau hingga berpikir kau bisa menyelamatkan nyawaku? Kau tau Park Seo Na, saat aku kecil aku hampir mati karena sebuah mobil menabrakku tapi aku selamat karena Tuhan sedang tidak menginginkanku dan sekarang betapa hebatnya gadis dihadapanku ini hingga ia rela mengorbankan perasaanya demi nyawaku”. Ujar Kyu Hyun dingin, masih menatap Seo Na dengan jarak yang tidak terlalu dekat namun ia masih bisa dengan jelas menatap mata hitam Seo Na yang menahan ketakutan.

“siapa yang memberi tahumu?”. Tanya gadis itu tergagap, Seo Na menatap dengan ketakutan diwajahnya, membuat Kyu Hyun ingin segera menarik gadis itu kedalam pelukannya, mencium bibir gadis itu yang kini tengah bergetar lalu menyeretnya ke ranjang dan menghabiskan waktu untuk bercinta dengan gadisnya.

“apa kau perlu tahu? Sayang sekali, ternyata Seo Na yang begitu keras kepala harus menerima jika rahasianya terbongkor. Jika kau memiliki rahasia jangan katakan pada siapapun karena itu hanya membuatmu harus menerima kenyataan yang seperti ini”. tambah Kyu Hyun, pria itu mendekat kearah Seo Na, namun Seo Na melangkah mundur gadis itu menggeleng.

“Kyu Hyun jangan mendekat! Aku membencimu!”. Seo Na berteriak histeris, ia ingin sekali memaki dirinya sendiri, ia gagal menyelamatkan orang yang ia sayangi bagaimana jika orang yang berniat mencelakai Kyu Hyun benar-benar membunuh pria yang dicintainya itu?

Kyu Hyun semakin mendekat kearah Seo Na tidak peduli jika gadis itu berteriak dan kini air mata memenuhi pipi Seo Na, lagi-lagi Seo Na menangis untuk kebodohannya, pikir Kyu Hyun. Seo Na tersudut di dinding kali ini ia tidak bisa kemana-mana lagi. “Kyu Hyun kau tak tau betapa kejamnya orang itu dan kau akan mati Kyu Hyun, aku tak ingin kehilanganmu kumohon”. Seo Na memohon dengan isakan tangisnya yang begitu memilukan.

Kyu Hyun menangkupkan tangannya diwajah Seo Na lalu menghapus air mata gadis itu dengan Ibu jarinya. “aku akan baik-baik saja Park Seo Na, jika kau berada disampingku. Aku tidak akan mati, justru ketidak adaanmu disampingku yang membuatku serasa seperti mayat hidup, kau tau betapa tersiksanya aku ketika aku melepaskanmu dua hari yang lalu itu sama seperti aku menyerahkan nyawaku padamu”. Ujar Kyu Hyun membuat Seo Na menghentikan tangisnya dan menatap dalam mata Kyu Hyun.

“aku mencintaimu, sangat. jika kau mengatakan kau membenciku aku tidak peduli karena aku tetap mencintaimu, dan jangan pernah berpikir untuk kabur dariku karena itu sama dengan kau membunuhku”. Tambah Kyu Hyun, membuat Seo Na kambali menangis.

“aku hanya ingin melindungimu, aku tidak ingin kau terluka karena orang-orang yang membenciku”. Suara gadis itu putus-putus, ia hanya ingin menjadi pelindung Kyu Hyun, ia hanya tidak ingin Kyu Hyun terluka sesederhana itu hingga ia berpikir untuk meninggalkan Kyu Hyun.

Kyu Hyun tersenyum, dengan lembut pria itu mencium bibir gadisnya merasakan air mata Seo Na disela ciuman mereka, asin dan manis. lembut dan sangat memabukkan. “kau tau Na-ya, dengan hanya merasakan bibirmu aku ingin segera bercinta dan menghabiskan hari hanya berdua denganmu sayang”. Ucapan itu sukses membuat gadis dihadapannya ini menegang, pipi Seo Na memerah ia merasakan tubunya meremang ketika Kyu Hyun mengangkatnya dan menjatuhkannya diranjang, dan ia tau kegiatan apa yang akan mereka lakukan setelah itu.

~~~000~~~

Eun Hyuk menatap nanar gadis dihadapannya ini, ia tidak habis pikir kenapa Jae Eun berubah menjadi gadis liar dan dingin seperti sekarang. Gadis dihadapannya itu tidak pernah lagi mendengar kata-katanya bahkan dengan lantangnya Jae Eun mengatakan rencana piciknya untuk Seo Na gadis itu menatap Eun Hyuk, menantang tatapan pria itu membuat pria dihadapannya itu mengerang prustasi.

“kau bukan Jae Eun-ku yang dulu!”. Teriak Eun Hyuk, gadis itu masih menatapnya tapi tatapannya kini berubah menjadi tatapan kesedihan. “kau mencelakai orang yang bahkan tidak tau apa-apa!”. tambah pria itu.

Gadis itu hanya tersenyum sinis, matanya menyipit. “tidak tau apa-apa katamu? Ia sudah melemparku dari perusahaannya dan ia sudahmembuat hidupku menderita dan ia juga sudah merebutmu dariku!”.

“ia tidak pernah merebutku dari siapapun!”. Nada bicara Eun Hyuk semakin meninggi mengalahkan teriakkan gadis dihadapannya ini. ya , Jae Eun memang sangat cemburu dengan kehidupan Seo Na sehingga akhirnya ia bertemu dengan Eun Hyuk yang juga berniat menghancurkan gadis itu tapi pada kenyataannya Eun Hyuk malah menyukai Seo Na dan meninggalkan Jae Eun dalam kebenciannya sendiri, itu yang membuat Jae Eun berubah saat ini. “kau, karena cemburumu yang tidak menentu itu kau malah membuat hidup orang lain terluka? Kau tau, jika kau seperti ini kau tidak lebih baik dari Seo Na”.

Jae Eun menangis, gadis itu rubuh ditempatnya kini ia terduduk dilantai dan menangis sejadi-jadinya, sejujurnya ia juga lelah tapi kebenciannya mengalahkan akal sehat gadis itu. “aku membencinya karena ia selalu bahagia diatas penderitaanku”. Ujar gadis itu akhirnya dengan isakkan yang tersedat-sedat.

Eun Hyuk berjongkok menarik tubuh Jae Eun kedalam pelukannya, ia juga mengakui jika dirinya juga bersalah seharusnya ia melihat kearah gadis didalam pelukannya saat ini, seharusnya ia menganggap lebih dan mencoba mencintai gadis ini maka Jae Eun tak akan berubah seperti sekarang. “kita akan menikah, aku dan kau akan menikah secepatnya Jae-ya, aku akan membuatmu bahagia”. Ucap Eun Hyuk akhirnya membuat gadis dihadapannya saat ini menatapnya terkejut, Jae Eun menatap bingung sebelum akhirnya sebuah kecupan ringan singgah di kening gadis itu.

“berjanjilah untuk tidak melakukan kejahatan apapun lagi Jae-ya, dan minta maaflah pada gadis itu”. tambah Eun Hyuk, dan kini ia meninggalkan ruang dihatinya untuk seseorang yang sempat ingin ia miliki, Park Seo Na gadis yang pernah ia cintai, hingga sekarang.

~~~000~~~

next five months…

Ini adalah bulan kelima kandungan Seo Na, gadis itu harus selalu berada dirumah dan tidak kemana-mana tanpa suaminya Cho Kyu Hyun. Sejak kejadian saat itu Kyu Hyun segera menikahi Seo Na dengan pesta luar biasa mengalahkan pernikahan pangeran inggris pada masanya. Keduanya bahagia menjalani hari-hari dengan normal tanpa gangguan apapun ditambah lagi masalah Seo Na yang terselesaikan karena gadis yang menganggu kehidupan Seo Na meminta maaf padanya dan juga berencana akan menikah dengan seorang pria yang tak sempat mengutarakan cintanya pada Seo Na, ya pria itu Eun Hyuk.

Seo Na bahagia, ditambah pria yang selalu menemani hari-harinya, wajah yang selalu ia tatap setiap pagi. Wajah tampan pria itu dengan bertelanjang dada, rambutnya yang berantakkan dan mulutnya yang sedikit terbuka, ia menemukan sisi lain dari CEO Cho Kyu Hyun, pria yang selalu melarangnya bekerja karena takut kandungan Seo Na yang lemah dan itu juga yang menjadi alasan kenapa Seo Na tak bekerja lagi diperusahaannya karena Kyu Hyun sudah memimpin dengan baik perusahaan itu.

Dan Seo Na tidak akan melupakan satu orang, pria yang sempat ia cintai juga, pria yang memutuskan untuk meninggalkan Seoul beberapa bulan yang lalu, Lee Dong Hae.

“Seo Na, jangan berlama-lama diluar jika itu hanya akan membuat anakku mati kedinginan”. Suara Kyu Hyun sukses membuat gadis itu tersadar dari lamunannya, lalu menatap Kyu Hyun dengan menyipitkan kedua matanya. “jangan menatapku garang Nyonya Cho, aku juga mengkhawatirkan kesehatanmu”. Kyu Hyun terkekeh, ia mengalungkan tangannya di leher Seo Na sebelum beralih mengelus perut buncit istrinya.

“kau sangat menyukai anakmu ya?”. ujar Seo Na cemburu, wanita itu menatap tajam kearah Kyu Hyun.
Kyu Hyun tersenyum. “tentu saja, aku sudah susah payah membuatnya”.

“aku juga ikut membuatnya!”. Bentak Seo Na, Kyu Hyun tertawa lebar membuat wajah istrinya memerah, seharusnya Seo Na tidak berkata seperti itu hanya membuat dirinya menjadi bahan tawaan Kyu Hyun.

“ya kau juga ikut membuatnya, sangat panas dan ketat”. Bisik Kyu Hyun tiba-tiba ditelinga wanita itu.membuat wajah Seo Na lagi-lagi memerah ditambah jilatan lidah pria itu ditelinganya, ya sejak menginjak usia kandungannya ke lima bulan, Seo Na sangat menyukai bercinta dengan Kyu Hyun beda ketika ia mengalami usia kandungan satu bulan ia sama sekali tidak ingin disentuh pria itu.

“Kyu Hyun kau…”

“aku suka menggoda wanita buncit yang liar diatas ranjang”. Dan selanjutnya Kyu Hyun merasakan bibirnya yang dilumat kasar oleh istrinya, ia tersenyum penuh kemenangan, jika efek wanita hamil sangat menyenangkan seperti ini ia akan membuat Seo Na hamil lagi setelah istrinya melahirkan.

THE END

TEARS ARE FALLING (6/6)

Standard

TEARS ARE FALLING (6/6)

Action, romance. PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast

 

Keduanya hanya bungkam, tanpa mengatakan apapun. Gadis itu lebih banyak menikmati rasa sakit yang kini tiba-tiba ia rasakan, sudah berkali-kali ia menahan air matanya tetap saja cairan bening itu terus mengalir beserta dengan isakkan tangis yang bahkan tak bisa diredam, entah kenapa semuanya terasa begitu sakit, padahal sudah jelas bukan pria yang dihadapannya ini tidak memiliki hubungan apapun dengannya, tapi kejadian yang baru ia lihat dengan mata kepalanya beberapa waktu lalu cukup membuatnya sakit, bahkan hatinya benar-benar linu saat ini.

“aku bisa menjelaskannya”. Pria itu meraih kedua bahu Seo Na, namun gadis itu menepisnya, ia memalingkan tubuhnya dari hadapan pria itu. tidak, ia tidak ingin mendengar apapun dari mulut pria itu, hatinya sedang benar-benar sakit.

“untuk apa? Untuk mengatakan jika dia itu kekasihmu? Banyak yang kau sembunyikan dariku Aiden-ssi, masa laluku, semuanya. Kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku? Katakan saja semua yang kau sembunyikan dariku, katakan dan aku bisa secepat mungkin lepas darimu. Kau tau, aku benar-benar tersiksa, bahkan ini tidak seperti yang ku inginkan. Aku ingin hidup dengan baik, aku ingin melakukan semuanya dengan baik. ku mohon, katakan padaku!”. Seo Na menarik napasnya, gadis itu berbicara dengan susah payah, bahkan Dong Hae tidak bisa membedakan gadis itu sedang berbicara atau terisak.

Pria itu menarik tangan Seo Na, meskipun gadis itu meronta tak ingin ikut dengan pria itu tapi tetap saja kekuatan pria itu lebih besar, Dong Hae mengiring gadis itu kedalam mobilnya, mungkin dengan menunjukkan suatu tempat gadis itu bisa mengingat semuanya, mungkin.

~~~000~~~

“aku tidak menyangka kau seperti ini Yu Ra-ya, persetan dengan ambisi mu memiliki pria itu, tapi tidak seharusnya kau menyakiti gadis itu!”. nada bicara Hee Chul meninggi, ia tetap fokus pada jalanan namun otaknya kini benar-benar berkecamuk.

Wae? Aku tidak melakukan apa-apa pada gadis itu, aku hanya-“.

“kau pikir aku tidak mendengar pembicaraan kalian tadi? Jadi gadis itu hilang ingatan karena ulahmu? Ya! kau itu gadis yang baik selama bersamaku, tapi kenapa kau malah berubah menjadi monster sejak aku meninggalkanmu, Eo?! Kau masih menganggapku Oppa-mu bukan, jadi berhentilah menyakiti orang lain Yu Ra-ya!”. Hee Chul menginjak pedal rem mobilnya mendadak, kepala gadis yang berada disampingnya itu hampir terbentur kedepan.

Aish! Ya! seharusnya kau mikirkan ku juga Oppa, aku juga sama terlukanya dengan dia”. Tandas gadis itu, Yu Ra tidak ingin kalah, ia tidak ingin mengakui semua yang telah ia lakukan, yang ia tau Dong Hae harus jadi miliknya.

“kau egois, karena itu Dong Hae tidak pernah bisa mencintaimu. Seharusnya kau bahagia melihat orang lain bahagia karenamu, bukan membuat orang lain menderita, jika kau tidak ingin mendengarkan kata-kataku lagi, kau boleh turun”.

Oppa”.

“aku tidak pernah merasa memiliki adik sepupu yang kejam sepertimu”. Lanjut Hee Chul lagi, ia tidak sedikitpun menatap kearah Yu Ra yang sejak tadi menatapnya tak percaya. Hee Chul yang selalu memanjakkannya selama ini , kali ini berani mengusirnya dari dalam mobil milik pria itu, hebat bukan?

~~~000~~~

Dong Hae menghentikan mobilnya, menepi pada trotoar di tepi sebuah pemakaman di atas bukit ditepi laut. Ia menatap Seo Na yang sejak tadi menunduk tanpa mengatakan apapun, gadis itu hanya diam meskipun ia tidak tau Dong Hae akan membawanya kemana.

“ikut denganku, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu”. Dong Hae keluar dari dalam mobilnya, berjalan memasuki area pemakaman yang banyak ditubuhi pohon bunga Cherry Blossom. Seo Na mengikuti pria itu dari belakang, tanpa mengatakan apapun.

Keduanya sampai pada salah satu makam seorang pria, masih begitu banyak bunga berjejer disana, ini sudah 3 bulan sejak ia meninggal aroma karangan bunga yang dibawa peziarah masih khas tercium disana. Dong Hae berdiri persis dihadapan makam itu, disana masih terpampampang jelas foto seorang pria memakai jas hitam dengan senyum yang menjadi ciri khasnya, ia sangat tampan di foto itu.

“lihatlah, pria ini masih tetap tersenyum setelah apa yang ia lakukan, Kyu Hyun-ssi, apa kau baik-baik saja disana?”. gumam Dong Hae, ia menatap gadis yang kini sudah berdiri disampingnya. Menatap sebuah foto berfigura cukup besar yang kini terpajang disana.

Seo Na mendekat kearah figura itu, memandanginya sambil berjongkok. Ia mengelus wajah yang berada disana, ia yakin pria ini pernah hidup dimasa lalunya. Tapi siapa? Seo Na tidak mengetahui siapa pria itu.

“siapa?”. Akhirnya gadis itu bersuara, meskipun suaranya terdengar begitu berat.

“kau tidak mengingatnya?”. Seo Na menggeleng lemah, ia benar-benar tidak mengingat pria itu, pria yang sudah mengorbankan nyawanya demi gadis itu.

“dia Cho Kyu Hyun. Pria yang mengganti nyawamu-“. Dong Hae menghentikan ucapannya, ia benar-benar belum siap melihat Seo Na harus menerima kenyataan hidupnya selama ini.

Wae?”.

“Kyu Hyun-ssi, yang mengganti nyawamu dengan nyawanya, dia meninggal 3 bulan yang lalu setelah menyelamatkanmu”. Dengan susah payah pria itu mengatakannya, Dong Hae benar, Seo Na kini menatapnya nanar, terlihat jelas bahwa gadis itu sama sekali tidak percaya, bahkan kini cairan bening itu sudah berkali-kali tumpah dipipinya.

“aku tau, ini menyakitkan. Kyu Hyun sangat mencintaimu dimasa lalu, sama seperti aku. Kami mencintaimu, kami melindungimu, tapi entah kenapa pria itu curang, ia malah berkorban banyak untukmu, pada akhirnya ia meninggal dan aku merasa aku harus menjagamu, aku harus berkorban untukmu juga Seo Na-ssi”. Seo Na tertunduk. Lebih banyak isakkan tangis yang kini didengar Dong Hae dari mulut gadis itu.

Jinjja Appo”. Rintih gadis itu, bahkan ia tidak bisa merasakan rintikkan hujan yang kini sudah membasahi tubuhnya, dihatinya ia hanya bisa merasakan sakit. Jadi seperti itu masa lalunya, seorang pria berkorban dan menggantikan nyawa Seo Na dan membiarkan nyawanya tidak terselamatkan. Meskipun Seo Na tidak mengingat apa-apa saat ini, tapi kenapa hatinya begitu nyeri. Gadis itu bangkit, berlari sekuat ia bisa tanpa menghiraukan panggilan Dong Hae.

~~~000~~~

CHAPTER 4

Apakah cinta itu? Apakah perpisahan itu?

Mengapa itu membuatku merasa sakit?

( Tears Are Falling – Wax )

Sejauh apa ia bisa berlari, sejauh apa ia harus bisa menerima kenyataan tentang hidupnya. Bagaimanapun ia harus menerima konsekuensinya bukan? Masa lalu yang ia harap adalah sebuah masa lalu yang bahagia tapi pada kenyataannya semua itu berbanding terbalik dengan yang ia harapkan, tidak ada kebahagiaan disana, yang ada hanya kepedihan dan penderitaan. Dan kini, haruskan ia mengetahui semuanya? Yang segelintir saja sudah membuatnya merasa hancur.

“Seo Na-ya! Park Seo Na!!!”. Seseorang baru saja meneriakki namanya ditengah hujan, langkah kaki gadis itu terhenti. Pria itu mendekat kearahnya, memperhatikan seluruh tubuh gadis itu yang kini sudah basah kuyup, air matanya yang terus mengalir bersama hujan, juga kondisinya yang bahkan tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

Odiga?! Waeguere?”. Pria itu menarik tangan Seo Na, menuntun gadis itu kedalam mobilnya.

Hee Chul masih bungkam, ia lebih memilih membiarkan gadis itu menangis terisak disampingnya. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah membawa gadis itu ke Apartemennya, mengganti pakaian gadis itu dengan pakaian yang kering. ‘ini sudah malam kenapa gadis ini malah berlarian ditengah hujan?’. Gumam pria itu.

~~~000~~~

“kita sudah sampai, ini gedung Apartemen tempat ku tinggal. Aku tinggal di lantai 21”. Seo Na menatap pria itu sebelum ia ikut turun dan berjalan disamping Hee Chul, meskipun kini banyak pasang mata yang tengah memperhatikan Hee Chul yang kini tengah menggandeng seorang gadis yang sudah basah kuyup dengan setelah dress putih selutut.

Oppa, Odiga?”. Ucap gadis itu pada akhirnya, Hee Chul menatap gadis itu yang seujujurnya memang benar-benar dalam kondisi yang sangat buruk.

“kita akan mengganti pakaianmu, tenang saja aku tidak akan melakukan apa-apa. Kau kedingingan, kau bisa sakit”. Hee Chul melanjutkan langkahnya, masuki lift menuju lantai 21.

Pintu lift terbuka, Seo Na menatap Hee Chul. pria itu juga balas menatapnya. “kita sampai”. Hee Chul menuntun gadis itu keluar dari lift namun beberap orang pria kini berjalan kearah mereka hampir menubruk tubuh lemah Seo Na tanpa sengaja Hee Chul memeluk gadis itu persis didepan lift, dan….

DEG!!!

Sesuatu dirasakan gadis itu, darahnya seperti mengalir dari ujung kaki hingga sampai kekepalanya, ia merasa pernah dalam keadaan seperti ini. bukankah ini persis sama dengan kejadian waktu itu bukan?

Satu tembakan….

Dua….

Tiga….

‘tembakan pertama tepat pada perutku, tembakan kedua dan ketiga… aku tidak tau mengarah pada siapa, yang jelas pria yang sedang memelukku saat ini tersungkur tepat dihadapanku’.

Seo Na menatap sekelilingnya, semua masih sama dalam keadaan yang sama, ia mengingat semua yang terlupakan selama ini. ia mengingat semua masa lalunya dengan jelas. Seo Na sipembunuh, Kyu Hyun kekasihnya dimasa lalu yang mengganti nyawa Seo Na dengan nyawanya, Aiden Lee pria yang akan ia bunuh, semuanya, teringat dengan jelas. Tiba-tiba tubuh gadis itu tidak dapat digerakkan sama sekali, isi kepalanya seperti benar-benar terputar, ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi, semua terasa gelap kembali.

“Park Seo Na!!! Seo Na-ya?!”

~~~000~~~

3 week later…

“aku akan kembali ke Amerika bersama Yu Ra-ssi, aku harus membina gadis itu disana”. Seo Na terkekeh, ia cukup sedih dengan keputusan Hee Chul untuk segera kembali ke Amerika, tapi bagaimanapun pria itu punya kehidupan yang layak disana bukan.

“terimakasih untuk semuanya Oppa, aku tidak tau harus membalasnya dengan apa. Ketika kau sampai di Amerika, aku juga harus segera ke Paris menemui kedua adikku”. Seo Na tersenyum, pria itu memeluk Seo Na. Ia beruntung bisa mengenal Seo Na, bukankah gadis ini sudah seperti adiknya.

“tidak perlu membalasnya dengan apapun, cukup membalasnya dengan menikah denganku”. Hee Chul terkekeh, menyadari ucapannya yang nyaris membuat Seo Na terbahak.

“Hahaha baiklah, aku akan menunggumu di Paris”. Goda gadis itu, dan itu hanya semakin membuat Hee Chuk terkekeh geli.

“tidak, aku tidak akan kesana untuk melamarmu. Aku bisa-bisa dihabisi oleh Aiden Lee, kau tau bukan dia begitu gila mencintaimu”. Keduanya sama-sama tertawa, sebelum kehadiran seorang pria membuat keduanya menyembunyikan tawanya.

Ya! apa kalian berdua menertawakanku? Eo? Seo Na-ya, kau berani berkencan dengan pria lain dibelakangku ya?”. Seo Na terkekeh mendengar tuduhan kacangan Dong Hae, ia mengibaskan tangannya, menarik tangan Dong Hae untuk duduk diantara ia dan Hee Chul.

Anio, kami hanya berjanji untuk menikah dikemudian hari. Ya kan oppa?”. Hee Chul mengangguk.

“tentu saja”.

Ya! Hyung, dia itu milikku”. Keduanya tertawa melihat celotehan Dong Hae yang semakin kesal dengan keduanya. Akhirnya mereka bertiga menghabiskan makan siang mereka dengan candaan dan tawa, untuk yang terakhir kalinya sebelum Hee Chul kembali ke Amerika untuk melanjutkan hidupnya.

~~~000~~~

“kita mau kemana?”. Ucap Dong Hae, Seo Na memutuskan mengajak Dong Hae kesuatu tempat setelah mereka selesai makan siang bersama Hee Chul, dan pria itu memutuskan untuk segera kembali ke Apartemennya.

“menemui kekasihku”. Seo Na sedikit terkekeh, tanpa memperdulikan wajah Dong Hae yang sudah berubah kesal.

“kekasih?”.

Ne, kekasihku”. Ucap gadis itu enteng.

Dong Hae menyipitkan matanya. “setelah Hee Chul Hyung, kau berhubungan dengan siapa lagi?”.

Seo Na menatap geli pria yang kini duduk disampingnya itu, lalu kembali fokus pada jalanan.“ aku hanya ingin berkunjung kemakam Kyu Hyun, aku merindukannya. Hei, kan aku yang jadi supirnya, Aiden-ssi tetaplah diam dan jadi penumpang yang baik.”

Keduanya sampai disana, Seo Na turun lebih awal melangkahkan kaki kecilnya menuju satu makam yang menjadi tujannya datang kemari. Dan kini Ia sudah berlutut dihadapan makam pria yang sungguh kini tengah ia rindukan, setelah ingatannya kembali pulih gadis itu benar-benar merasa bersalah kepada Kyu Hyun, bagaimana ia bisa membiarkan otaknya selama ini melupakan bagian tentang pria itu. Dong Hae berdiri dibelakang Seo Na membiarkan gadis itu meneluarkan semua perasaannya untuk yang terakhir kali sebelum ia memutuskan untuk tingal di Paris.

“Cho Kyu Hyun, Kyu-ya. aku merindukamu. Apa kau baik-baik saja disana? kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau meninggalkan aku? Kenapa kau tidak membiarkan aku yang pergi? Kyu-ya, saat aku tertidur, dan saat mataku terbuka, aku ingin kau tetap berada disampingku, aku ingin kau tetap menemaniku, tapi kenapa kau pergi? Terimakasih atas cinta yang sudah kau berikan padaku, aku juga mencintaimu. Aku merindukamu. Dimasa lalu, kita pernah bersama bukan, dimasa lalu kita pernah saling memiliki, dan akan terus seperti itu. Kyu-ya, aku ingin menangis, aku ingin membiarkan seluruh sakitku hilang, tapi aku tidak bisa, terlalu banyak rasa sakit yang aku rasakan hingga aku tidak bisa merasakan apapun. Kyu Hyun, aku mencintaimu, aku akan menjadi gadis selai kacangmu yang baik, aku berjanji”. Seo Na bangkit, ia menghapus air mata yang sejak tadi sudah membanjiri pipinya. Ia menatap figura seorang pria yang kini tengah tersenyum kearahnya. Biarkan hari ini ia tetap mengingat pria itu, biarkan hari ini hatinya tetap memilki pria itu, dimasa lalu ia akan melanjutkan kehidupannya tanpa Kyu Hyun lagi. Setelah Ayah-ibu-dan Kyu Hyun-nya ia tidak ingin kehilangn apapun lagi, cukup mereka yang sudah menghiasi masa lalu Seo Na.

“Aiden-ssi”. panggil gadis itu, Dong Hae menatap Seo Na, menarik gadis itu kedalam dekapannya. Membiarkan semua rasa sakit gadis itu tersalurkan kepadanya, ia juga merasakan sakit meskipun tidak sebanyak gadis itu, tapi ia akan melindungi Seo Na bukan? Berkorban demi gadis itu, seperti yang pernah dilakukan Kyu Hyun pada Seo Na.

“aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi Seo Na-ya, tidak akan”.

~~~000~~~

3 years laters…

Eonni, seharusnya kau menyuruhku lebih dulu untuk kembali ke Seoul”. Seo Jin melempar handuk kearah kakaknya itu, tidak memperdulikan Seo Na yang kesal dihadapannya.

Ya!”.

Seo Jin terkekeh, kini gadis itu duduk disamping kakaknya yang sejak tadi asik memilih gaun pengantin. “ini, bagus untukmu”. Seo Jin menunjuk satu gaun bermotif bunga Cherry Blossom kesukaan kakanya, Seo Na menatap adiknya itu mencoba meyakinkan dirinya.

Jinjja?”.

“tentu saja, aku jamin kau cantik memakai gaun itu”. Seo Jin menyenggol lengan kiri Seo Na menggoda gadis itu yang akan menikah seminggu lagi dengan seorang pria tampan.

“Aiden Oppa? Apa kau yakin akan menikahinya?”. Seorang gadis kini sudah hadir diantara mereka berdua. Seo Min yang sudah menuntaskan kuliahnya di Paris, dan memutuskan untuk kembali ke Seoul bersama Seo Jin. Seo Na memang tidak jadi menetap di Paris, ia mengurungkan niatnya untuk menyusul kedua adiknya, gadis itu sekarang bekerja sebagai seorang penulis, setelah tulisan tentang kehidupan pribadinya sukses terjual beberapa tahun lalu, akhirnya ia memutuskan untuk tetap menetap di Seoul dan menjadi seorang penulis.

Ya! kenapa kau bertanya hal itu pada Eonni?”. Protes Seo Jin, Seo Min hanya menggeleng.

“seharusnya Aiden Oppa menikah denganku”. Ucap gadis itu, yang direspon pukulan kecil dikepalnya.

ya! dasar gadis genit!”. Seo Min melesat dari hadapan kakaknya itu sebelum Seo Jin memberi pukulan lebih keras pada kepalanya.

“apa aku menganggu tiga orang gadis ini?”. kehadiran seorang pria tampan kini sukses menyita perhatian ketiganya, Seo Na menatap pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya.

“tidak, kemarilah”. Ucap gadis itu yang direspon cibiran oleh kedua adiknya.

“Ya, ya, ya. pasangan romantis ini sepertinya sedang dimabuk asmara, Seo Min ikut denganku! Biarkan pasangan serasi itu menghabiskan waktunya berdua”.

Eonni, tapi aku ingin melihat Aiden Oppa lebih lama”.

Ya!”.

Dong Hae dan Seo Na hanya terkekeh geli mendengar celotehan kedua perempuannya itu, mereka memilih mengasingkan diri kebalkon Apartemen Seo Na yang sengaja ia beli beberapa tahun lalu sejak ingatannya kembali pulih, Apartemen mewah yang tidak terlalu jauh dari Rumah Dong Hae.

“ketika melihat kota Seoul malam hari seperti ini, aku seperti melihat lautan permata yang berkilauan”. Racau Seo Na, Dong Hae memperhatikan gadis itu. menatap sekujur tubuh Seo Na yang terlihat cantik dan sederhana dengan balutan Dress merah jambu dan switter putih yang menambah kesan manis pada gadis itu.

“tapi aku punya lautan, yang cukup menangkan hatiku. Sejak pertama aku melihat kedua matanya”. Lanjut gadis itu lagi. Dong Hae tersenyum, ia tau apa yang dimaksud Seo Na adalah dirinya.

“aku juga punya seorang gadis yang terus menerangi lautanku”. Ucap pria itu, Seo Na tersenyum lalu menatap kearah Dong Hae yang sejak tadi sudah memperhatikannya.

“kau menggodaku lagi Aiden-ssi. Dong Hae terkekeh.

“memangnya tidak boleh menggoda calon istriku?”.

“calon istriku? Siapa bilang aku akan menikah denganmu, aku akan menikah dengan Kyu Hyun-ssi?”.

“kau akan menikah dengan orang yang sudah mati?”.

Seo Na tertawa menyaksikan ekspresi Dong Hae yang berlebihan, gadis itu mengangkat tangannya, menempelkan telapak tangan kanannya pada pipi Dong Hae, mengelus pipi pria itu pelan.

“karena Kyu Hyun-ssi sudah tidak ada, aku akan menikah denganmu”. Dong Hae mengenggam tangan Seo Na yang sejak tadi leluasa mengusap pipinya. “bukan karena Kyu Hyun tidak ada, jikapun ia ada aku akan tetap menikah denganmu”. Lanjut gadis itu lagi. Dong Hae tersenyum, ia menarik tengkuk Seo Na menuntun kepala gadis itu mendekat kewajahnya, semakin mendekat hingga daun bibir mereka bertemu.

~~~000~~~

Seo Na said, For Kyu Hyun

Aku menunggu datangnya hari itu, bertemu denganmu lagi setelah sekian lama kita tidak pernah bertemu, aku membencimu, aku sangat membencimu tapi pada kenyataannya kebencian itu hanya kata lain dari rasa rindu yang ku rasakan. Jika aku boleh menangis aku akan menangis, jika aku boleh bersedih aku akan bersedih, jika aku boleh tertawa aku akan tertawa, tapi setelah kau pergi pada kenyataannya aku hanya cangkang kosong yang harus tetap baik-baik saja meskipun kenyataanya hatiku ingin berteriak ngilu.

“Kyu Hyun-ah, Cho Kyu Hyun”. Aku memanggil namamu, tapi tidak kau tidak pernah berbalik dan kembali padaku. Kau tau aku merindukanmu, aku menunggumu selama bertahun-tahun, dan kini aku tidak akan menunggumu lagi.

Terimakasih atas cinta dan pengorbananmu selama ini, aku juga mencintaimu. Jika suatu saat aku dipertemukan dengan mu didunia lain aku ingin kita tetap bersama, tanpa ada satupun yang memisahkan kita.

Hari ini aku melanggar perjanjian kita dimasa lalu, aku akan menikah dengannya. Aiden Lee, aku akan menikah dengan pria itu. Dia, karena dia juga mencintaiku, sangat mencintaiku. Kyu Hyun-ah, Gumapseumnida, Jeongmal Gumapseumnida…. Saranghae….

 

THE END

 

 

 

TEARS ARE FALLING (5/?)

Standard

TEARS ARE FALLING (5/?)

 

Action, romance. PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast

 

 

 

Sudah satu jam gadis itu berada diranjang rumah sakit dengan mata yang masih tertutup tanpa ada tanda-tanda sekitpun gadis itu akan bangun, dengan leluasa Hee Chul bisa menikmati setiap lekukan wajah gadis itu, ia sama sekali tidak mengenal gadis itu, ia sudah menemukan gadis itu tiba-tiba tegeletak ditaman saat ia sedang berjalan-jalan. Gadis ini, cantik. Rambutnya yang ikal sebahu dengan poni yang tergerai menutupi keningnya. Hee Chul tersadar, bukankah gadis ini pernah ia lihat sebelumnya? Dimana? Bahkan dia belum bertemu dengan siapapun di Seoul kecuali Yu Ra dan teman-teman prianya, lalu bagaimana ia bisa beranggapan jika ia pernah bertemu dengan gadis ini.

Hee Chul memutar otaknya, ia yakin ia tidak salah dan pada akhirnya pria itu ingat, jika gadis yang sedang berbaring lemah ini adalah gadis yang sama yang ada didalam poto yang diberikan Yu Ra padanya.

“jadi, dia? Park Seo Na?”. Hee Chul membulatkan matanya, ia tidak menyangka sama sekali jika ia bisa bertemu dengan gadis ini dengan cara yang seperti ini, bahkan ia tidak terlalu memikirkan sama sekali tentang gadis ini bukan, tetapi kenapa Tuhan mempertemukan mereka dengan cara seperti ini, dan tadipun Hee Chul tidak terlalu peduli dengan wajah gadis ini, karena begitu khawatir dengan keadaannya.

“bagaimana aku bisa bertemu dia dengan cara seperti ini?”. Hee Chul terheran-heran, masih menatap wajah lemah itu yang sepertinya sedang pulas dialam bawah sadarnya. “lihatlah, betapa rapuhnya gadis ini, dan aku tidak meyangka Yu Ra bersaingan dengan gadis lemah seperti ini, tentu saja ia bisa didepak dengan sekali hentakkan oleh gadis menyeramkan itu. Tapi mungkin saja jika Yu Ra kalah darinya, tidak ada yang bisa lari dari pesona gadis ini, sekalipun Aiden Lee yang notabene adalah orang kaya yang tidak peduli dengan apa-apa, dia cantik”.

Hee Chul mengusap wajah Seo Na yang sesekali mengerutkan keningnya, gadis itu terlihat seperti kesakitan, entalah tapi Hee Chul tak berani membangunkannya, mungkin saja gadis itu sedang bermimpi, persetan dengan semua itu yang jelas ia bisa menatap wajah gadis ini dengan puas sekarang, dan entah kenapa secara tidak langsung sukses membuat pikirannya tenang, gadis dengan poni yang menutupi keningnya, bukankah wanita dengan poni seperti itu adalah wanita idaman Hee Chul?

Sejak tadi ponsel gadis itu bergetar di dalam tas tangannya diatas meja, Hee Chul tidak terlalu memperdulikan benda itu sejak tadi sampai ia mengingat sejak tadi ada panggilan masuk di ponsel gadis itu dan tidak sempat ia angkat karena sibuk mengangkat tubuh Seo Na dan membawanya kerumah sakit. Hee Chul mendekat kearah tas itu melihat isi didalamnya yang hanya berisi beberapa lembar uang dan ponsel bewarna silver yang ternyata masih setia begetar. Hee Chul mengerinyitkan keningnya, terpampang disana nomor tanpa ada nama yang tertera, mungkin seseorang atau gadis itu sengaja tidak menyimpan nama seseorang yang sejak tadi menghubunginya ini. Hee Chul memang tidak ada berhak untuk mengetahui siapa yang menelpon Seo Na tapi setidaknya ia bisa mengangkat panggilan itu dan mengatakan keadaan Seo Na, Hee Chul menekan warna hijau pada layar ponsel itu, mendekatkan benda itu ketelinganya sampai ia mendengar suara pria diujung sana sudah setengah berteriak panik, sebelum Hee Chul menjawab dan memberi tahu keadaan Seo Na yang sebenarnya.

~~~000~~~

Sejak tadi pria itu sudah sibuk dengan ponselnya, menghubungi nomor yang sama dan tetap sama tidak ada jawaban dari ujung sana, bukankah ia sudah berpesan pada Seo Na agar gadis itu mengangkat benda itu ketika benda itu berbunyi, tapi kenapa tidak ada jawaban sama sekali dari gadis itu, atau mungkin Seo Na tidak tau cara mengangkat telepon? Tidak mungkin, gadis itu hanya hilang ingatan, bukan menjadi bodoh. Dong Hae tetap mencoba menghubungi Seo Na sesekali pria itu mengacak rambutnya prustasi, ia tidak bisa mungkin pulang saat ini, sebentar lagi ia akan bertemu dengan client nya kan, tapi gadis itu bagaimana kabarnya? Apa yang terjadi?

Dong Hae mendekatkan benda putih itu ke telinganya, masih dengan perasaan yang gelisah, tapi kali ini sambungan teleponnya terhubung, akhirnya gadis itu mengangkatnya juga. “Seo Na-ya, kau kemana saja? Kenapa tidak mengangkat telfonku? Heum?”. Ucap pria itu dengan nada panik dan setengah teriak, tapi bukan suara Seo Na yang langsung menyaut di seberang sana, melainkan suara seorang pria yang memberitahukannya sesuatu yang benar-benar diluar dugaannya. Seo Na-nya sedang berada dirumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Dengan secepat mungkin Dong Hae menyambar kunci mobilnya, sebelum menghubungi asisten pribadinya untuk segera membatalkan pertemuan kerjanya setengah jam lagi, gadis-nya lebih penting dari itu. apa yang terjadi dengan Seo Na sebenarnya?

~~~000~~~

Sakit dikepalanya masih terasa, ia mulai sadar dengan suara seorang pria disampingnya yang kini tengah berbicara, tapi ia sendiri tidak tau dengan siapa pria itu berbicara. Seo Na mengerjapkan matanya, mengatur penglihatannya yang kabur agar kembali normal, menyentuh kepalanya yang terasa masih sakit, sampai pria itu menyadari jika gadis itu kini sudah terbangun, ia mendekat kearah Seo Na dengan wajah penuh cemas, Seo Na berdelik, memperhatikan wajah pria itu, ia masih hilang ingatan bukan? Tapi pria ini siapa? Ia tidak mengenalnya, dan dia bukan Dong Hae, ia yakin betul dengan pria yang sedang memperhatiakkannya saat ini dengan wajah cemas saat ini bukan Dong Hae Oppa-nya.

“Seo Na-ssi, Gweancana?”. Ucap pria itu, Seo Na masih menatapnya bungkam, ia masih memperhatikan wajah pria itu tanpa menjawab pertanyaan yang terdengar cemas dari Hee Chul. “apa kepalamu masih sakit?”. Seo Na hanya menggeleng lemah merespon pertanyaan pria itu. “Syukurlah”. Ucap pria itu sambil menghembuskan napasnya lega.

“aku dimana? Kau siapa? Apa yang terjadi?”. Seo Na masih penasaran dengan pria itu, mungkinkah orang yang penah hadir dikehidupannya dimasa lalu.

“aku-“.

“Maaf Tuan, apa anda keluarga pasien? Dokter ingin bertemu dengan anda diruangannya”. Ucap seorang wanita dengan baju serba putih yang baru saja masuk dalam ruang inap Seo Na, Hee Chul mengalihkan perhatiannya kearah wanita itu lalu menatap sejenak kearah Seo Na yang sejak tadi tidak melepaskan padangannya dari Hee Chul.

“tentu saja”. Ucap pria lalu keluar dari ruang inap Seo Na sebelum ia menyuruh gadis itu untuk tetap istirahat. Gadis itu kembali berbaring, menatap sekitar ruangan yang persis sama ketika ia siuman dari tidur panjangnya saat itu, persis sama seperti hari ini, tapi pria yang ia temukan ketika ia sadarkan diri adalah pria yang berbeda. Seo Na menarik napasnya, sebelum kejadian ini ia mengingat sesuatu bukan? Suara tembakkan, lift, pelukan, dan juga seorang pria yang tak ia kenali wajahnya, tiba-tiba saja semua itu berputar diotaknya, ia mengingat sesuatu yang terkubur jauh dalam ingatannya, dan mengingatnya saja membuat gadis itu melemah.

“Apa yang terjadi padaku?”. Gumam gadis itu, lalu perhatianya tersita pada ponselnya yang tegeletak dimeja tak jauh dari jangkauannya, gadis itu ingat ia membawa benda itu dan jika benda itu berdering ia harus menjawabnya karena Dong Hae pasti sedang mencarinya, gadis itu meraih benda silver itu memainkan jarinya di atas layar, menekan beberapa perintah disana.

“Park Seo Na-ssi!”. Seo Na berdelik kaget, ia hampir menjatuhkan ponsel yang berada digenggamannya, ia menatap pria yang kini mendekat kearahnya dengan wajah penuh cemas, terlihat sekali jika wajah pria itu berubah pucat, memeluk tubuh Seo Na yang masih berbaring lemah diatas ranjang. “apa yang terjadi? Kenapa kau pergi tanpa memberi tahuku? Kau tau aku khawatir”. Seo Na tersenyum mendengar ucapan pria itu, penuh perlindungan yang bahkan membuat Seo Na merasa nyaman hanya dengan pelukannya yang begitu menenangkan.

Oppa, Aku baik-baik saja. Tadi aku hanya bermain-main ke taman, dan sesuatu terjadi dengan kepalaku, rasanya sakit sekali, tapi untung saja seseorang menolongku dan membawaku kemari”. Dong Hae menatap gadis itu, memperhatikan wajah Seo Na yang tidak terlihat terlalu pucat lagi, gadis itu tersenyum, senyumnya yang membuat kekhawatiran Dong Hae sedikit demi sedikit mulai menghilang.

“berjanjilah untuk tidak membuatku khawatir Seo Na-ssi”. pria itu mengelus puncak kepala Seo Na, merapikan anak rambutnya yang menutupi kening gadis itu, Seo Na hanya menerima semua perlakuan Dong Hae terhadapnya, dan pria itu terlalu khawatir akan Seo Na.

ehem... Maaf sudah menganggu privasi kalian”. Ucap Seorang pria yang baru saja hadir di antara mereka, yang kini masih berdiri didekat pintu masuk ruangan itu, Dong Hae dan Seo Na serentak menatap pria itu, Dong Hae yang menyadari jaraknya dengan Seo Na terlihat intim, kini memberi jarak dengan gadis itu, pria itu sedikit membungkuk kearah Dong Hae dan dibalas bungkukkan sopan oleh Dong Hae, pria itu mendekat kearahnya mengacungkan tangan kanannya kearah Dong Hae.

Dong Hae membalas uluran tangan Hee Chul, menatap mata pria itu, tidak ada yang salah disana, tidak ada tatapan jahat dari pria itu dan semua terlihat baik-baik saja, sepertinya pria itu tulus membantu Seo Na.

“Aku, Kim Hee Chul. maaf sudah lancang membawa Seo Na-ssi kemari, aku menemukannya sudah tergeletak tidak sadarkan diri dibangku taman”. Jelas pria itu, tidak ada nada menekan disana, semuanya terlihat murni.

“tak apa, seharusnya aku yang berterimakasih padamu Hee Chul-ssi, kau sudah menolong Seo Na-ssi, aku tidak tau bagaimana nasibnya jika kau tidak menolongnya”. ucap Dong Hae, Hee Chul hanya tersenyum, menyentuh bagian tengkuknya, entah kenapa pria itu merasa canggung.

Oppa, aku baik-baik saja. Tuan itu baik padaku, aku akan berterimakasih padanya”. Suara Seo Na menyita perhatian dua orang pria tampan yang berdiri tidak jauh darinya, Seo Na mengangkat tangannya kearah Hee Chul. “Tuan, terimakasih, maaf sudah merepotkanmu”. Ucap Seo Na dengan senyum yang hampir membuat kedua lelaki itu linglung tak karuan, Hee Chul yang merasa senyum itu diperuntukkan untuknya malah menjadi semakin salah tingkah, pria itu mengibaskan tangannya tanda tak setuju.

“Seo Na-ssi kau terlalu berlebihan, tidak apa. Aku senang membantumu”. Seo Na mengangguk, suasana ruangan seketika hening, ketiganya tak saling berbicara, entalah ada rasa janggal yang mereka bertiga rasakan, terlebih lagi Hee Chul ia seperti merasa masuk begitu saja dalam kehidupan kedua orang yang berada dihadapannya saat ini, dan untuk Seo Na ia sudah menemukan gadis itu bukan? Seharusnya ia menjalankan permintaan sepupunya Yu Ra, tapi kenapa hanya dengan menatap wajah gadis itu yang sedang tersenyum membuatnya seketika bergetar, ada rasa canggung yang menyeruak kedalam dirinya, dan ini jarang terjadi, bahkan tak pernah. ‘Gila!’. Pekiknya dalam hati.

“Dong Hae-ssi, bisakah kita bicara sebentar, ada yang ingin ku beritahu, mungkin tidak disini”. Hee Chul beranjak dari tempatnya sebelum permisi dengan gadis yang kini masih berbaring lemah diranjangnya, mencari tempat yang tepat untuk berbicara dengan Dong Hae agar gadis itu tak mendengarkan perbincangannya dengan Dong Hae, ini tentang keadaan Seo Na yang baru saja ia bicarakan dengan Dokter yang menangani gadis itu.

“baiklah, aku akan menyusul. Seo Na-ssi istirahatlah, aku akan kembali”. Dong Hae mengecup kening gadis itu sekilas yang hanya direspon anggukan lemah gadis itu, lalu Dong Hae segera beranjak dari ruangan itu.

~~~000~~~

“aku tidak tau apa yang telah terjadi dengan dirinya, tapi aku ikut terkejut ketika tau jika ia sedang mengalami amnesia, maaf sudah lancang menemui Dokter dan mengetahui semua itu, tapi percayalah aku orang baik, aku tidak akan memanfaatkan keadaan ini untuk peruntunganku”. Hee Chul menepuk pundak pria itu, membiarkan pria itu menarik napas sepuas mungkin.

“tidak masalah Hee Chul-ssi, aku juga mengerti keadaanmu. Lalu apa Dokter mengatakan tentang perkembangan kesehatannya?”. Dong Hae menatap pria itu, tampak jelas dari wajah itu kekhawatiran yang luar biasa yang kini tengah ia rasakan, Hee Chul memahaminya, jika Yu Ra mengetahui semua ini ia pasti akan memanfaatkan kesempatan ini untuk merebut Dong Hae dari Seo Na bukan? Dan sama sekali Hee Chul tidak ingin hal itu terjadi, melihat keadaan gadis itu dan mengetahui penderitaan yang sedang dihadapinya, ia terlalu keji jika melukai gadis itu.

“Seo Na tidak apa-apa, ia hanya merasakan sedikit sakit dikepalanya, mungkin akibat ia terlalu banyak berpikir atau tiba-tiba mengingat masa lalunya, dan aku yakin ia belum mengingat apa-apa”. Dong Hae mengangguk mendengar penjelasan panjang lebar dari Hee Chul, tentu saja Seo Na belum mengingat apa-apa dan Dong Hae masih belum bisa membiarkan gadis itu mengingat apa-apa tentang masa lalunya.

“baiklah, aku juga sedang ada urusan. Aku harap kau bisa menjaga Seo Na dengan baik Dong Hae-ssi”. Hee Chul mengambil sesuatu dari Dompetnya, menyodorkan kertas putih itu pada Dong Hae. “ini kartu namaku, jika kau perlu bantuan, Dong Hae-ssi, aku permisi dulu, ghamshamnida”. Dong Hae mengambil kartu nama itu dari tangan Hee Chul sebelum pria itu permisi dan beranjak dari cofe Shop yang bersebelahan dengan Rumah sakit tempat Seo Na di rawat.

~~~000~~~

Kedua tangan itu mengamit di udara, cuaca yang berubah dari musim gugur ke musim salju tak tampak membuat keduanya merasa risih karena angin yang cukup dingin, pria itu menghentikan langkahnya, menatap pada seorang gadis yang kini berada disampingnya, membetulkan syal bewarna coklat tua itu dileher sang gadis, sembari tersenyum dan mengecup kening gadis itu. seperti pasangan yang lainnya, keduanya tampak sedang dimabuk candu asmara yang berlebihan, ditambah cuaca yang mendukung mereka untuk tetap saling bergenggaman.

Oppa, apa dimasa lalu kita sering melakukan hal ini?”. ucap Seo Na, mengehentikan langkah keduanya, Dong Hae menatap gadis itu memeluknya tiba-tiba.

Eo, kita sering berpelukan”. Seo Na tersenyum mendengar ucapan pria itu, ia membalas memeluk Dong Hae merasakan hangat tubuh pria itu menenangkan pikirannya. Memang setelah Seo Na keluar dari rumah sakit, Dong Hae tidak pernah lagi membiarkan gadis itu keluar rumah, itu hanya akan menambah kekhawatirannya, ya memang itu semua terdengar egois dan sedikit mengekang.

“sejak keluar dari Rumah sakit 2 hari yang lalu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu”. Dong Hae merenggangkan pelukan mereka, meletakkan kedua telapak tangannya di bahu Seo Na, Dong Hae mengangguk menunggu gadis itu berbicara. “ketika hari itu, saat aku pingsan, aku mengingat suara tembakkan yang hampir membuat kepalaku nyeri hanya karena mengingatnya, aku merasa sedang berada di dimensi duniaku yang lain, entahlah, yang aku ingat aku sedang berada didepan Lift dengan seorang pria yang memelukku, aku tidak tau semua itu teringat begitu saja setelah seorang anak kecil menodongkan pistol mainnya kearahku, aku benar-benar takut”. Dengan susah payah gadis itu menjelaskan apa yang ia alami pada Dong Hae, dan pria yang mendengarkan semua ceritanya itu, tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih kencang, bukan karena wajah gadis itu yang berubah sendu, tapi cerita gadis itu tentang apa yang ia ingat. Tidak salah lagi, kejadian menyakitkan itu sudah melintas dipikiran gadis itu, dan dugaan Ibu Dong Hae benar, cepat atau lambat Seo Na akan mengetahui semuanya.

“lalu, apa kau mengingat yang lainnya?”. Dong Hae menatap manik mata Seo Na yang dipenuhi tumpukan air mata, gadis itu menggeleng, ia hanya mengingat hal itu dan tidak yang lainnya. Dong Hae menghembuskan napasnya lega, ada sesuatu kelegaan yang ia rasakan saat Seo Na mengatakan jika ia hanya mengingat bagian itu saja tanpa tau alasan yang lainnya.

Oppa, apa yang sudah terjadi? Kenapa kau tidak memberi tahuku? Heum? apa kita sudah menikah? Kemana kedua orang tuaku? Apa aku punya saudara? Aku ingin pulang kerumahku, aku ingin mengetahui masa laluku, jika kau tidak mau membantuku, Ayah dan Ibu-ku pasti mau membantuku, jadi kenapa kau tidak mengantarku pulang saja!”. Nada suara Seo Na meninggi meskipun yang didominan adalah getaran hebat dari tubuhnya. Dong Hae melepas genggamannya dari bahu Seo Na, mengadahkan kepalanya ke atas, ia tidak bisa menjawab semua pertanyaan gadis itu untuk saat ini. Seo Na memukul lengan Dong Hae sebelum memilih beranjak dari hadapan pria itu, tapi langkah gadis itu seketika terhenti, akibat genggaman Dong Hae yang kuat sudah mencengkram pergelangan tangannya.

Wae? Kenapa kau menahanku? Aku akan mencari rumahku, aku akan mencari orang tuaku! Lagi pula kau tidak mengatakan kau itu siapa! Aku tidak percaya padamu lagi! Aku rasa kau itu seorang penculik yang sudah menculik ku!”. Dong Hae benar-benar tak tahan dengan ucapan gadis itu, Dong Hae menarik tengkuk Seo Na mencium bibir gadis itu tiba-tiba, entalah ia seperti dirasuki arwah meyeramkan, ia tidak tau lagi harus berbuat apa, satu-satunya cara membuat gadis itu menghentikan ucapannya adalah dengan cara menutup mulut gadis itu dengan bibirnya, terdengar gila bukan.

Dong Hae melepas tautan bibir mereka, menatap wajah Seo Na yang penuh dengan air mata, dan yang ia lihat sekarang adalah Seo Na yang benar-benar berubah menjadi gadis rapuh, tanpa tau harus berbuat apa.

“Seo Na-ssi, aku takut kau akan merasakan rasa sakit mendengar semua kenyataannya, tapi jika kau memaksaku aku akan mengatakannya”.

Deg!

~~~000~~~

Ini sudah hari ketiga semenjak ia tidak melihat gadis itu lagi, bagaimana keadaanya? Apa dia sudah pulih dan sudah kembali dari rumah sakit? Apa gadis itu akan dijaga dengan baik? pertanyaan itu terus menari-nari dibenak Hee Chul 3 hari belakangan ini, yang menjadi bahan pemikirannya beberapa hari ini hanya seorang Park Seo Na, meskipun ia tidak persis tau kenapa ia terlalu peduli dengan gadis itu. mata gadis itu yang tertlelap, keningnya yang sesekali berkerut karena merasakan sakit, dan suaranya yang hampir memabukkan, juga senyumnya yang mampu membuatnya kikuk.

“Pria tampan, seharusnya kau tidak terlalu serius dengan gadis itu, baiklah! Lupakan!”.

“melupakan siapa? Eo?”. Suara seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari belakang Hee Chul langsung membuat pria itu berkedik ngeri dan setengah berteriak, yang hanya direspon cengiran oleh gadis yang kini tengah berada dihadapnnya itu.

YA! Kau mau membuatku terkena serangan jantung?!”. Yu Ra hanya terkekeh, lalu berjalan kearah meja makan dan duduk manis disana menyaksikan emosi Hee Chul yang sedang meledak-ledak.

“lagi pula apa yang yang Oppa lakukan berbicara pada cermin? Memangnya di Amerika sedang trend berbicara dengan cermin?”. Goda gadis itu lalu terkekeh tak karuan, Hee Chul yang masih kesal mendekat kearah Yu Ra menarik pipi gadis itu hingga merah.

“Hee Chul Oppa!!! Appo!”. Kini Hee Chul yang balas tertawa girang, lalu menggendong kucing kesayangannya yang sengaja ia bawa dari Amerika.

Don’t Angry, Yu Ra-ya”. goda pria itu sambil menyapukan handuk kecil pada bulu-bulu kucingnya. Ia beranjak kedapur mengambil segelas air dingin dan menyodorkannya pada gadis itu. “minumlah, bagaimana kau bisa masuk keapartemenku? Bukankah aku sudah menutupnya?”.

“tidak, pintu mu masih sedikit terbuka, karena itu aku bisa masuk dengan leluasa. Bagaimana jika seorang wanita mesum yang masuk kemari kau bisa-bisa diperkosa bukan?”. Hee Chul hanya berdeham kesal menyikapi celotehan adik sepupunya itu, lagi pula bukan Yu Ra jika tidak membuatnya kesal.

“sudahlah, kau mau apa datang kemari? Menyuruhku yang tidak-tidak lagi? Tentang masalahmu yang kemarin aku membatalkannya, aku tidak bisa membantumu”. Yu Ra mengalihkan pandangannya kearah pria itu yang sejak tadi tersita pada layar ponselnya.

Ya! Oppa! Bagaimana kau bisa membatalkan secara sepihak? Bukankah kemarin kau setuju dan mau membantuku?”. Yu Ra hampir terdengar berteriak. Hee Chul menarik bahunya keatas, lalu beralih duduk persis didepan gadis itu.

Wae? Apa kau akan mengancamku? Ya! aku ini Oppa-mu, seharusnya aku melarangmu untuk berbuat jahat, dasar gadis nakal”. Yu Ra terkekeh mendengar ucapan pria itu, ia sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan bermaksud mendekatkan pandangannya pada Hee Chul.

Yu Ra menyipitkan matanya, menatap penuh curiga pada pria itu. “kau menyukainya bukan?”

“apa? Ya! kau pikir aku bisa dengan mudah menyukai wanita? Aku ini tidak-“.

Mwo? Kau mencoba mencoba menipuku? Kau tau, instingku sebagai wanita lebih kuat dibanding wanita manapun, jadi jangan pernah bohongi aku tentang perasaanmu pada gadis itu. Cih, bagaimana dia bisa membuat pria bertekuk lutut padanya, sampai-sampai pria yang tidak terlalu berminat memiliki kekasih sepertimu bisa menyukainya”. Yu Ra mencibir, ia meraih segelas Air yang sudah tersaji sejak tadi didepannya, lalu mendekatkan bibir gelas itu kemulutnya. Ia masih tidak bisa terima dengan pesona yang dimiliki Seo Na, bukankah dia tidak kalah cantik dari gadis itu?

“terserah kau saja, aku sedang tidak ingin beradu pendapat denganmu”. Hee Chul beranjak dari hadapan gadis itu, lalu pria itu masuk kekemarnya sebelum menyambar kucing kesayangannya yang sejak tadi bermain dilantai.

“Cih, jika Hee Chul Oppa tidak bisa membantuku, aku bisa membuat gadis itu sengsara lagi bukan? Persetan dengan ancaman Lee Dong Hae”. Ia meraih tas tangannya, meninggalkan Apartemen Hee Chul tanpa permisi pada pria itu.

~~~000~~~

Ne, aku bukan suamimu. Kita tidak memiliki hubungan apapun dimasa lalu, dan tentang keluargamu, kau tidak memiliki Ayah dan Ibu lagi, mereka sudah meninggal dunia. Dan satu-satunya yang kau miliki hanya kedua adik perempuan-mu yang sudah berada di Paris, Park Seo Jin dan Park Seo Min. Maaf aku sudah mengatakan hal ini padamu”. Dong Hae tertunduk, ia tidak berani sama sekali menatap gadis yang kini sedang berdiri dihadapannya, gadis yang mengenakkan dress putih polos, dengan rambutnya yang ia biarkan tergerai.

Gadis itu hanya bungkam, tidak merespon satupun penjelasan dari Dong Hae, ia seperti tuli tapi ia masih bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan pria itu. jadi selama ini dia hanya menyusahkan pria itu? tapi bukankah ia masih memiliki dua adik perempuan yang sedang menetap diParis?

“Ayah – Ibu –ku, bagaimana mereka bisa meninggal? Kedua adik-ku? kenapa mereka tidak menemuiku? Dan kau bukan suamiku Aiden-ssi, lalu kenapa aku harus tinggal bersamamu? Kenapa?”. Suara yang hampir tak bisa didengar Dong Hae, terlalu banyak getaran pada kalimat gadis itu, Dong Hae tau gadis itu sedang menahan tangisnya, ingin sekali ia mendekap tubuh lemah itu, tapi ini adalah konsekuasinya bukan? Konsekuensi jika ia mengatakan kenyataan tentang masa lalu gadis itu, tapi sungguh hatinya bahkan lebih sakit dari apapun melihat gadis itu hampir ambruk.

“Aiden-ssi! katakan padaku! Kenapa semua ini terjadi?! Kenapa aku harus hidup seperti ini?!-“.

“Hentikan Seo Na-ya!!!”. Dong Hae benar-benar tak tahan mendengar setiap uacapan demi ucapan yang sukses membuat hati Dong Hae seperti direjam, ia tidak tau harus mengatakan apa lagi dan pada akhirnya pria itu berteriak untuk menghentikan semua uacapan Seo Na. Seo Na menatap pria itu gusar, dunianya saat ini seperti diputar-putar, ia bahkan tidak bisa mengingat apapun tentang masa lalunya, menyakitkan bukan?

Keure, aku tidak akan meyusahkanmu lagi”. Ucap gadis itu sebelum beranjak dari hadapan Dong Hae menyeret kaki kecilnya keluar dari rumah mewah milik pria itu, ia tidak tau kemana tujuannya saat ini yang jelas ia ingin pergi sangat jauh dari hadapan pria itu.

Dong Hae tertegun ditempatnya, entah kenapa tidak ada kekuatan sedikitpun untuk menahan gadis itu, ia tidak menyangka sama sekali semua akan menjadi seperti ini, tidak ada pilihan lain bukan, membiarkan gadis itu mengingat masa lalunya.

~~~000~~~

Hee Chul keluar dari kamarnya, setelah mengganti pakaian rumahnya dengan baju santai. Hee Chul menatap meja makan, menarik alisnya keatas. “dasar gadis nakal, dia pergi tapi tak berpamitan denganku”. Ucap pria itu sebelum menyembar kunci mobilnya menuju suatu tempat.

Pria itu menginjak pedal gasnya, membetulkan letak kacamata hitamnya, segera melaju dijalanan Seoul. Laju mobil mewah milik pria itu terhenti pada lampu merah, pandangannya kini asik pada lalu lalang pejalanan kaki dihadapannya, dan pandangannya terhenti pada seorang gadis yang mengenakkan dress putih dengan wajah yang tidak asing lagi baginya, tapi tunggu dulu? Gadis itu sendirian bukan?

Setelah lampu hijau menyala, Hee Chul memutar arah mobilnya, mencari sosok gadis itu yang mengarah berlawanan darinya. Hee Chul menginjak pedal remnya, tergesa-gesa ingin segera menemui gadis itu yang sejak tadi berjalan sambil menunduk.

“Seo Na-ssi”. langkah gadis itu terhenti setelah ia mendengar seorang pria memanggil namanya dari arah belakang. Ia memutar tubuhnya, mendapati sosok Hee Chul yang kini berjalan mendekat kearahnya.

Ne? Eo, Tuan? Kau Tuan yang menolongku”. Ucap Seo Na mengingatkan memorinya tentang pria itu, pria yang menolongnya.

Hee Chul tersenyum, bagaimana gadis itu bisa memanggilnya Tuan? Mukanya tidak kalah tampan dan muda dengan Dong Hae bukan? “kau masih mengingatku Seo Na-ssi. Aku sedikit canggung jika kau memanggilku Tuan, bagaimana jika kau panggil aku Oppa saja?”. Tawar pria itu, yang direspon senyuman hangat dari gadis yang berada dihadapannya ini.

“baiklah, Oppa?”. Ucap Seo Na sambil tersenyum.

“kau sendiri? mau kemana?”. Hee Chul melirik sekelilingnya, mungkin saja ada seseorang yang menemani gadis itu, atau Dong Hae?

Seo Na mengangguk. “Hu’um, aku sendiri. aku juga tidak tau mau kemana. Aku sedang tidak ingin dirumah”. Aura wajah gadis itu berubah murung, terlihat ketika gadis itu menunduk, saat mengatakan kalimat terakhirnya.

“baiklah, aku tidak akan memintamu untuk bercerita kenapa kau sedang tak ingin dirumah. Heum, bagaimana kalau aku ajak jalan-jalan saja, kau mau?”. Tawar Hee Chul, Seo Na menatap pria itu bola matanya memutar, ia berpikir sejenak, sebelum mengangguk dan tersenyum kearah Hee Chul.

“baiklah, aku mau”. Ucap Seo Na yang direspon senyuman pria itu, Hee Chul menuntun Seo Na masuk kemobilnya, dan pergi kesuatu tempat yang mungkin bisa menenangkan gadis itu.

~~~000~~~

Keduanya kini menatap hamparan pasir pantai dan bentangan lautan biru dihadapannya, sejak tadi mata gadis itu tidak lepas dari pemandangan indah yang kini tengah disajikan dihadapannya, entah kenapa ia merasakan hatinya benar-benar begitu damai melihat bentangan laut yang kini tengah ia pandangi, ditambah suara ombak yang sejak tadi memacu mendekat kearah ujung kaki gadisnya.

“apa kau menyukai pantai?”. Tanya Hee Chul, yang direspon anggukan kecil penuh arti dari gadis itu, matanya sejak tadi tak lepas menatap lautan, ia benar-benar seperti berada dalam dunianya.

“aku yakin, dimasa lalu aku menyukai laut”. Seo Na tersenyum, ia tidak salah. ia memang menyukai laut dimasa lalu, tapi bukan laut yang seperti ini, ia suka menatap laut yang tersaji pada mata indah milik seorang pria, seorang pria yang kini entah sedang apa.

“aku menyukai gadis yang kini tengah menatap laut, aku rasa dia benar-benar tergila-gila pada lautan”. Ucap Hee Chul sambil terkekeh disamping Seo Na, ia merasa bahagia melihat gadis itu sejak tadi tidak henti-hentinya tersenyum menatap lautan dihadapannya.

Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, hanya suara ombak yang sejak tadi memecah keheningan dianatara keduannya. Gadis itu tiba-tiba mengingat ucapan Dong Hae tentang dirinya, pria itu sudah mengatakan tentang masa lalunya bukan? Tentang keluarganya, tapi entah kenapa ada yang kurang selama ini, Seo Na seperti kehilangan memori yang berharga tentang hidupnya, dan itu yang ia sesalkan dari pria itu, kenapa Dong Hae tak memberi tahunya semua tentang masa lalu gadis itu.

“Seo Na-ssi?”. Suara Hee Chul sukses menyita perhatian Seo Na yang sejak tadi menikmati pemandangan yang ada dihadapannya saat ini.

Ne? Waeyeo?”.

“apa kau tidak ingin pulang kerumah?”. Seo Na menarik napasnya dalam, menghebuskannya perlahan, kembali menatap lautan dihadapannya.

Molla, lagi pula itu bukan rumahku. Aku tidak mempunyai rumah, aku tidak punya Ayah-Ibu, aku hanya punya dua adik perempuan yang berada di Paris, dan disana aku tidak tau apa aku punya Rumah, aku ingin ke Paris menemui mereka, Oppa pasti tau bukan tentang masalahku?”. Hee Chul mengangguk. Ia menatap gadis itu khawatir. “karena itu, aku tidak tau apa-apa. Aku ingin sekali hidup normal, aku begitu tersiksa ketika aku tidak bisa mengingat apapun dimasa laluku”.

“lalu bagaimana kau tau tentang Ayah-Ibu- dan kedua adikmu?”.

“Aiden-ssi, dia memberi tahuku tentang hal itu, tapi aku yakin dia tidak mengatakan yang lainnya padaku. Entalah, Aiden-ssi seperti menyembunyikan banyak hal dariku”. Seo Na menunduk, menyembunyikan kesedihan yang tengah ia rasakan dari pria yang berada disampingnya saat ini.

“aku mengerti sekarang kenapa kau tidak ingin berada dirumah. Apa aku boleh mengatakan sesuatu padamu Seo Na-ssi?”. Hee Chul meletakkan kedua telapak tangannya di kedua bahu Seo Na, membiarkan gadis itu menghadap kearahnya. Seo Na mengangguk, menatap pria dihadapannya ini, matanya jelas terlihat berkaca-kaca, raut wajahnya memperlihatkan gadis itu benar-benar pada titik kehancurannya saat ini, ironis bukan?

“aku tidak tau dengan jelas bagaimana masalah yang kini tengah kau hadapi, maupun masa lalu yang pernah kau jalani dihari lalu, dan aku juga tidak tau apa yang sedang disembunyikan Aiden Lee darimu. Tapi aku yakin, hal itu demi kebahagiaanmu, pria itu benar-benar menjagamu dengan baik, sebagai laki-laki aku mengerti perasaannya, dia benar-benar mencintaimu”. Jelas pria itu penjang lebar, tanpa balas menatap Seo Na yang kini tengah memperhatikan pria itu berbicara.

“tapi Aiden-ssi tidak mengatakan jika kami memiliki hubungan apapun”. Bantah Seo Na, Hee Chul menatap gadis itu.

“benarkah?”. Seo Na mengangguk. Semua itu memang benar, mereka memang tidak memiliki hubungan, hanya saja dimasa lalu keduanya sempat saling mencintai bukan? “Eum, aku pikir kalian adalah sepasang kekasih. Kalau begitu bagaimana jika kau menikah denganku saja? Bukankah kita sudah pergi berkencan kepantai?”. Goda pria itu, Seo Na menatapnya, mata gadis itu tiba-tiba membulat lebar, lalu dengan cepat ia memukul lengan kiri Hee Chul.

Ya! oppa, bagaimana bisa begitu. Aku kan sedang bersedih”. Protes Seo Na, Hee Chul hanya terkekeh mendengar celotehan tak terima gadis itu, yang kini sedang membulatkan pipinya, persis seperti buntal, lucu bukan?

“baiklah, bagaimana jika kita pulang saja. Ini sudah hampir sore, Aiden pasti mengkhawatirkanmu”. Seo Na menggeleng, ia tidak ingin pulang kerumah Dong Hae, tentu saja, itu hanya akan membuatnya bertambah sedih bukan? “kau harus pulang Seo Na-ssi, kau tidak bisa tinggal dirumahku, aku hanya punya satu kamar dan satu ranjang, apa kau mau satu ranjang dengan ku, Eo?”.

Oppa! Kau ini!”. Hee Chul sukses membuat wajah gadis itu bersemu merah, Hee Chul berhasil membuat gadis itu terkekeh, setidaknya jika seperti ini ia bisa menghilangkan sedikit kesedihan gadis itu bukan, dengan senyuman Seo Na-pun, disekeliling gadis itu juga ikut merasa bahagia.

“bagaimana apa tetap mau bersamaku?”.

“baiklah, aku akan pulang kerumah Aiden-ssi, tapi kau harus mengantarkanku hingga kehadapan pria itu, Arratjhi?”. Hee Chul tersenyum, lalu pria itu mengangguk mengiyakan ucapan Seo Na yang terkesan seperti anak-anak.

~~~000~~~

“jadi gadis itu hilang ingatan?”. Yu Ra mengulang pertanyaan yang sama, dan kini pertanyaan itu hanya direspon anggukan oleh pria yang kini tengah duduk dihadapannya. “aku benar-benar tidak mengetahuinya”.

“apa kau senang, ini semua ulahmu bukan?”. Terdengar nada sinis keluar dari mulut pria itu, jika bukan karena Yu Ra, gadis-nya tidak akan seperti ini, gadis-nya tidak akan merasa tertekan seperti ini.

Yu Ra menggeleng, ada sedikit rasa bersalah yang kini tengah ia rasakan, namun rasa bersalah itu seketika tak ia rasakan karena rasa lega kini menyeruak dalam hatinya. Hilang ingatakan? Berarti itu kesempatanm bagus baginya bukan?

“jangan berharap kau bisa mendapatkan aku Yu Ra-ssi”. ucapan pria itu sukses menyita seluruh perhatian gadis itu, Yu Ra menarik napasnya dalam, mengeluarkannya hati-hati, takut jika pria yang berada dihadapannya saat ini bisa membaca pikirannya lebih banyak.

“aku tidak seburuk yang kau kira Dong Hae-ssi”. tekan gadis itu, Dong Hae hanya tersenyum renyah, bagaimana gadis itu masih bisa mengatakan jika ia tidak seburuk itu, setelah dulu pernah berani mengancam Seo Na, licik bukan?

“kau kira aku tidak tau, tentang ancaman mu yang konyol itu pada Seo Na? Heuh? Seharusnya kau bisa memilih teman yang baik Yu Ra-ssi”.

“Eun Min Soo?”. Gumam gadis itu pelan, namun ucapan gadis itu masih bisa didengar jelas oleh Dong Hae.

Ne, wanita itu yang mengatakan hal itu pada orang pesuruhku, apa kau tidak punya teman selain orang yang bekerja diperusahaanku? dan kenapa aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu, setelah semua yang kau lakukan”. Dong Hae tak menatap gadis itu sedikitpun, terlalu sakit baginya menatap gadis itu yang sudah menghancurkan Seo Na-nya. “bagaimana? Aku benar bukan?”.

Yu Ra bungkam, ia lebih memilih tidak mengatakan hal apapun. Hari ini ia sengaja datang kerumah pria itu, ia sudah mencoba menemui Dong Hae dikantornya, tapi nihil pria itu tidak ada disana dan pilihan satu-satunya tentu saja mendatangi rumah pria itu tanpa memberi tahu terlebih dahulu pada Dong Hae.

“Memuakkan”. Gumam pria itu kesal, sebelum ia beranjak dari hadapan Seo Na, namun gadis itu menahannya, menarik pergelangan tangan pria itu, entah apa yang membuat Yu Ra begitu berani menarik Dong Hae kedalam dekapannya, dan kini Dong Hae berada dalam pelukan gadis itu.

“Aiden Lee?”.

 

 

To Be Continue

~~~000~~~

 

TEARS ARE FALLING (4/?)

Standard

TEARS ARE FALLING (4/?)

 

Action, romance. PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast

 

 

 

“aku harus melindunginya, harus… aku akan menolongnya. Tetapi aku tidak bisa lari dari musuh, akhirnya untuk dapat melindunginya, hanya ada satu cara… yaitu dengan mengganti nyawanya dengan nyawaku… itulah cara untuk melindungi orang yang ku cintai”. – (Kyu Hyun – VCR Day Dream – SS5)

Aku merasakan hari itu sepertinya semua benar-benar berakhir, suara tembakan itu tidak seperti suara tembakan yang pernah ku dengar sebelumnya. Aku mulai tau, bagaimana rasa sakitnya ketika aku menembakkan peluru itu ketubuh mereka, karena kali ini aku merasakannya, aku mendengar tiga tembakan, tapi hanya satu yang terasa menembus perutku, dan yang duanya lagi aku yakin itu mengarah kearah pria yang baru saja memelukku… bagaimana keadannya, kenapa ia melakukan ini padaku? Kenapa ia menggantikkan nyawanya dengan nyawa wanita pembunuh sepertiku?.

“KYU-YA!!! Ahk… Kyu…!!!”. Seo Na menjerit menahan sesak didadanya yang begitu hebat, bukan karena darah yang kini terus mengalir di sisi perut bagian kirinya, tapi pria yang kini sudah jatuh kelantai dalam dekapannya, pria yang terkena tembakan di dadanya, ia yakin dua tembakan terakhir mengarah ke arah dada Kyu Hyun, bagaimana pria itu dalam seketika merubah keadaan diantara mereka.

“Seo Na! Park Seo Na!”. Seorang pria berlari kearah Seo Na, menatap Seo Na dengan wajah yang berubah pucat, tak kalah pucat dari gadis itu yang kini menahan sakit diperutnya dan juga sakit dihatinya melihat kondisi seorang pria yang kini berada dalam dekapannya, tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi dari wajah pria itu, semuanya seakan ikut pergi dari pria yang ia cintai dimasa lalu itu. “Aiden-ssi… Kyu-ku sudah tidak ada”. Ucapnya lemah, sampai akhirnya gadis itu tidak bisa merasakan apa-apa lagi selain rasa sakit yang terus dirasakannya.

~~~000~~~

2 mont later…

Dong Hae memutar ganggang pintu rumah sakit itu, ini sudah seperti kebiasaanya beberapa minggu ini, berkunjung ke kamar 205 tempat gadis-nya di rawat. ini sudah minggu ke tiga sejak gadis itu tidak sadarkan diri, tidak ada tanda-tanda yang diharapkannya pada gadis itu untuk segera sadar, karena peluru yang tertembak didalam perutnya cukup membuat kesadaran gadis itu terenggut. Operasi pengangkatan benda membunuh yang bersarang dalam tubuhnya itu berjalan baik, tapi ada kemungkinan lain yang kini tengah diderita gadis yang tengah berbaring diranjang rumah sakit itu, trauma dimasa sulitnya saat itu menyebabkan kemungkinan kembalinya kesadaran gadis itu hanya beberapa persen, akibat trauma yang cukup mengguncang jiwanya saat kejadian yang ia alami saat itu.

Pria itu membuka jasnya, melonggarkan dasinya meletakkan jas hitam itu di sofa empuk di bawah jendela ruang inap Seo Na, Dong Hae mendekat kearah gadis itu, duduk persis disamping kanan Seo Na menatap wajah gadis itu polos dengan mata tertutup, pemandangan ini yang selalu terpaksa dinikmati Dong Hae, berharap gadis itu kembali seperti sedia kala, yang ia rindukan saat ini adalah suara Seo Na dan senyum gadis itu yang sudah membuatnya terjerat jauh dalam kehidupan Seo Na.

“Park Seo Na-ssi, bangunlah, Kau tau aku sangat merindukanmu”. Dong Hae memejam matanya, mengenggam telapak tangan gadis itu, tidak ada balasan dari genggaman tangan itu. Dong Hae menarik napasnyanya dalam, ingin sekali ia menghilangkan rasa sakit yang terus menusuk dihatinya ketika melihat Seo Na terkulai lemah di ranjangnya.

Dong Hae melepas genggamannya dari gadis itu, kini tubuhnya beringsut berbaring persis di samping gadis itu, kini dengan leluasa Dong Hae bisa melihat wajahnya, wajah gadis yang menjadi candunya selama ini, suaranya, tingkah lakunya, sentuhannya. Tapi begitu hebatkah sakit yang dirasakan Seo Na sehingga ia lebih memilih tetap dialam bawah sadarnya, begitu parahkah trauna yang dialami Seo Na selama ini?

“kami tidak bisa banyak melakukan apa-apa terhadap Park Seo Na-ssi, karena trauma yang selama ini ia alami, ia memilih untuk tetap bertahan dialam bawah sadarnya, kita hanya butuh waktu untuk menunggu kembali kesadarannya, mungkin ini akan memakan waktu yang lama. Dan mengenai luka karena tembakan itu, saya rasa tidak terlalu membahayakan lagi, Aiden-ssi”.

Dong Hae memutar bola matanya, menghembus napasnya kasar, masih teringat ucapan Dokter itu beberapa minggu lalu tentang gadis-nya. “Seo Na-ya , aku mencintaimu, bangunlah”. Pria itu menutup matanya, merasakan sesak hebat didadanya, mungkinkah Park Seo Na akan kembali?

~~~000~~~

Entah apa yang membuat gadis itu masih ingin terus larut dalam ketidak sadarannya, kekuatannya untuk segera membuka mata pupus begitu saja ketika kejadian menyakitkan itu terus saja menari-nari dialam bawah sadarnya, ia ingin tetap seperti ini, ia tidak ingin menerima kenyataan yang pahit tentang hidupnya, tapi haruskah ia terus seperti ini, terus bersembunyi dialam bawah sadarnya, ia masih punya kedua adik perempuannyakan? ia masih punya kehidupan yang harus diselesaikan, ia harus menyelesaikan semua yang ia tinggal, dan bagaimana dengan pria itu? apa dia masih menunggu kesadarannya? Apa pria itu masih setia menunggunya? Seo Na, ia ingin sekali kembali dari ketidak sadarannya, tapi bagaimanapun trauma yang baru saja ia alami hampir membuatnya tidak ingin kembali lagi, tetap seperti ini, setengah mati? Mungkin.

Entah kenapa hari ini, ketidaksadaran gadis itu terusik, tangis seorang pria begitu saja terdengar, ia ingin bangun, melihat siapa yang tengah menangis didekatnya, ditambah lagi sinar matahari yang kali ini benar-benar memaksanya untuk bangun, menyelesaikan semua permasalahannya, ini sudah lama bukan? Sudah cukup untuk berlari.

Gadis itu membuka matanya pelan, merasakan keadaan didekatnya seketika putih normal, hanya beberapa yang berbeda warna, dan ia yakin itu adalah lukisan bunga mawar yang tergantung tepat didinding dihadapannya, tidak hanya itu kini disampingnya sudah tersaji begitu saja wajah polos seorang pria dengan air mata yang terus mengalir dari matanya, dan ia yakin pria itu tengah terpejam, dan mungkin saja sedang bermimpi buruk. Seo Na menarik ujung bibirnya kebelakang, menikmati wajah pria yang tak ia kenali itu, tapi ia yakin pria itu pria baik-baik, entah bagaimana ia bisa berpikiran sedemikian, tapi sejak tadi, sejak ia menatap wajah pria itu ia merasakan hatinya terguyur ombak lautan yang begitu tenang, wajahnya, benar-benar menyenangkan, meskipun Seo Na kecewa, kenapa ada air mata disana.

“kau menangis? Apa kau bermimpi buruk Wajangnim?”. Gumamnya pelan, takut jika suaranya bisa membangunkan pria itu, dengan pelan kini ujung ibu jarinya menyentuh pipi pria itu, menghapus pelan air mata yang terus mengalir disana, detik kemudian pria itu bergerak pelan, Seo Na menarik tangannya, menatap wajah pria itu yang kini tengah berusaha membuka matanya. ‘astaga, aku membuatnya terbangun’. Gumam gadis itu lalu segera duduk diatas ranjang putih itu, sedikit mundur takut jika laki-laki itu bisa marah padanya, atau mengatakan ‘kenapa menyentuhku, dan membuatku terbangun?’. Bukankah ia tidak mengenal pria tampan itu, tidak mengenal?

~~~000~~~

Pria itu masih bergelut dengan tidurnya, didalam mimpipun ia masih bisa merasakan sakit seperti ini, ia tidak tau persis bagaimana caranya menangis, tapi jika mengingat gadis-nya yang masih terkulai lemah dihadapannya ia merasakan tiba-tiba sesak didadanya dan membuat air matanya keluar begitu saja, dan kali ini ia bermimpi tak enak lagi, bermimpi tentang gadis itu. detik kemudian ia bisa dengan jelas mendengar suara gadis itu, sudah lama sekali rasanya dan kali ini benar-benar seperti nyata, ditambah kini ia merasakan sentuhan penuh kasih sayang di pipinya, dan ia yakin sentuhan itu sama dengan sentuhan Seo Na, sentuhan yang tak pernah lagi ia rasakan, tapi bagaimana bisa ini benar-benar seperti nyata, apa Park Seo Na sudah bangun? Apa gadis itu kini tengah memperhatikan wajahnya?

Detik kemudian, Dong Hae berusaha membuka matanya susah payah karena terlalu berat akibat kurang istirahat beberapa minggu ini, karena pekerjaan di kantor yang mengharuskan pria itu bekerja ekstra, ditambah ia harus menjaga Seo Na dirumah sakit, meskipun itu bukanlah hal yang menjadi masalah buatnya. Dong Hae mengerjapkan matanya, dan kini ia yakin wajah yang kini tengah ada dititik fokus pandangannya adalah wajah Seo Na, gadis itu? ia sudah sadar? Ini bukan mimpi bukan? Benarkah?

Dong Hae menarik badannya untuk segera bangun, menatap gadis itu yang kini tersenyum kepadanya, senyum yang paling dirindukan Dong Hae dan kini gadis itu tengah tersenyum padanya. Ia yakin, ia tidak sedang bermimpi, ia yakin Park Seo Na-nya sudah kembali, Dong Hae memeluk gadis itu erat, tidak peduli ekspresi terkejut dari gadis itu, tidak peduli jika gadis itu marah dan meronta-ronta karena pelukan-terlalu erat-nya, yang ia tau Seo Na sudah kembali, gadis itu sudah berada didalam pelukannya.

“yang aku lakukan adalah, hanya berada disampingnya…. jika terjadi keajaiban… jika kejadian dimasa lalu dapat mengubah… kalau bisa, mengembalikan semuanya…

Terjadi keajaiban…. dia telah terbangun, senyumnya yang indah, dia tersenyum didepanku saat ini…. aku sangat berterimakasih….”

(Dong Hae – VCR Day Dream – SS5)

Gadis itu heran, tapi entah kenapa ia merasa nyaman didalam pelukan pria yang tak ia kenali sama sekali ini, entah kenapa tubuhnya begitu rindu pada pelukan itu, tapi bagaimanapun ia tidak mengenal pria itu bukan? Ia tidak mengenal siapapun, dan siapa dia. Seo Na merenggangkan pelukan itu, menatap manik mata pria yang kini tengah menatapnya dengan mata yang berlinang air mata, terdengar menggelikan, tapi itulah yang kini tengah tersaji dihadapan Seo Na. Pria itu menelungkupkan kedua telapak tangannya diwajah Seo Na, mendaratakan ciuman hangat di dahi gadis itu, Seo Na tak bergeming, ia tak menolak lebih menikmati perlakuan pria yang tak ia kenali itu, entahlah, semua yang pria itu lakukan terhadapnya seperti hal biasa yang pernah ia lakukan dimasa lalu, tapi bukankah ia tak menganal pria itu.

“kau kembali, kau tau aku merindukanmu. Kenapa kau membiarkanku begitu lama menunggumu? Heum?”. Gadis itu tersenyum mendengar ucapan yang terdengar manja dari pria itu, ia hampir terkekeh geli, bagaimana pria tampan itu begitu mengkhawatirkannya, seperti kekasihnya saja.

“aku? Memangnya aku dimana?”. Dong Hae berkedik, pertanyaan gadis itu benar-benar terdengar aneh, bagaimana ia bisa tidak tau dimana ia sekarang. “anda siapa? Apakah anda pangeran?”. Dong Hae menjatuhkan tangannya yang sejak tadi berada dipipi Seo Na, menatap gadis itu tak percaya, bagaimana gadis itu bertanya siapa dirinya? Dia Aiden Lee, dia pria yang mencintai Seo Na, dengan cepat pria itu menekan tombol putih di atas ranjang, yang menghubungkan keluar ruangan.

~~~000~~~

“saya rasa, ini menyangkut traumanya dimasa lalunya Aiden-ssi, Seo Na-ssi tidak bisa lagi mengingat penderitaan dan masalahnya dimasa lalu sehingga ia melupakan sebagian besar ingatannya tentang penderitaan itu termasuk orang-orang yang ada didalam masalah itu, Anterograde Amnesia itu adalah penyakit yang tengah di derita Seo Na-ssi. Satu-satunya cara agar ingatannya kembali yaitu dengan memaksanya mengingat kejadian yang membuatnya trauma, mungkin akan membuat jiwanya kembali terguncang, tapi demi ingatannya saya rasa anda bisa melakukannya Aiden-ssi”. Dong Hae menganggukan kepalanya, menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya tak beraturan, ia tidak bisa mencerna dengan jelas ketika pria berjubah serba putih itu menyebutkan tentang keadaan Seo Na saat ini, lalu apa yang harus Dong Hae lalukan? Mengatakan pada gadis itu, jika Kyu Hyun nya sudah terbunuh karena melindunginya, mengatakan pada gadis itu jika ia seorang pembunuh? Atau mengatakan jika dirinya adalah salah satu calon korban kekejiannya? ‘Gila! Aku tidak mungkin menyakiti gadis itu lebih dalam lagi!’. Pekik Dong Hae dalam hatinya.

 

~~~000~~~

 

Meskipun aku sakit, meskipun aku terluka, aku dapat hidup jika ada dirimu….

Hidup tanpamu seperti sebuah kematian bagiku….

(Day Dream – Super Junior)

Dong Hae menatap gadis itu yang kini tengah berdiri menghadap keluar didepan jendela kamarnya, tatapannya kosong tidak ada raut kecewa, bahagia, sedih maupun semacamnya, yang ditemukan Dong Hae wajah tanpa eskpresi yang kini tengah menikmati pemandangan yang tersaji dari balik jendela kaca yang cukup luas itu, Dong Hae beranjak dari tempatnya berdiri mengamati Seo Na, ia beralih ke samping gadis itu, sebelum Seo Na menyadari kehadirannya

Eo, Wajangnim. Kau lagi”. Ucap gadis itu dengan senyum manis ciri khasnya, tanpa aba-aba Dong Hae membalas senyuman manis itu, meskipun kini hatinya seperti terasa ditikam. Bagaimana gadis itu bisa memanggilnya Pangeran? Seo Na saat ini tak lebih terlihat seperti anak-anak yang sedang menggemari tokoh pangeran difim-film kartun.

“Park Seo Na, kau lapar?”. Tanya Dong Hae, Seo Na memutar tubuhnya kearah Dong Hae menatap wajah itu lekat.

“namaku Park Seo Na?”. Gadis itu balik bertanya, Dong Hae menangguk menatap manik mata Seo Na yang benar-benar terlihat sangat polos, tidak ada Seo Na yang dulu yang terlihat angkuh dan dingin, Seo Na yang didepannya saat ini adalah Seo Na yang mungkin pernah menjadi milik pria dimasa lalu gadis ini, Cho Kyu Hyun. Ah, Cho Kyu Hyun, Dong Hae teringat tentang pria itu. ia sudah meninggal tepat ditempat kejadian saat hari itu, ia memang tak mengatakan apa-apa pada Dong Hae tapi pria itu berharap Seo Na tak mengetahui tentang hal itu, itu hanya akan menambah sakit pada gadis itu bukan? Sudah cukup.

“hei, kau melamun. Apa kau sedang bersedih, sejak tadi kau menangis dan sekarang malah melamun, kau memikirkan seseorang?”. Suara Seo Na membuyarkan lamunan Dong Hae, pria itu tersenyum, menarik tubuh ramping gadis itu kedalam pelukannya, entah kenapa ia yakin satu-satunya yang bisa menenangkan pikirannya saat ini adalah dengan terus mendekap tubuh gadis itu.

“tidak, aku tidak bersedih”. Detik kemudan Dong Hae melepaskan pelukan mereka, mengenggam kedua tangan Seo Na menatap gadis itu lekat. “apa kau tidak mengingatku?”.

Seo Na memutar kedua matanya, lalu tersenyum kearah Dong Hae sambil menggelangkan kepalanya. ”tapi aku rasa kau adalah pangeran yang diutus untukku bukan?”. Ucapan gadis itu malah semakin menikam batinnya, bagaimana bisa semua ini terjadi pada Seo Na, haruskah ia mengembalikan ingatan gadis itu?

~~~000~~~

Yu Ra menyeruput teh hangatnya, mengalihkan pandangannya keluar jendela restoran itu, pikiran gadis itu kini entah melayang kemana, sudah 2 bulan ia tidak bertemu dengan Dong Hae, semenjak ia menemui pria itu dirumah sakit saat Dong Hae menjaga Seo Na disana. akhirnya pikiran gadis itu tertuju kembali pada Park Seo Na, gadis yang benar-benar dibencinya, gadis yang benar-benar hebat merubah nasib tiga orang pria dalam satu hentakkan. Tentu saja, gadis itu bisa membuat mantan kekasihnya Cho Kyu Hyun meninggal karena menyelamatkan dirinya, dan Ayah pria itu Tuan Cho yang dikabarkan sudah menyerahkan diri ke pihak berwajib karena merasa bersalah dan khasus tentang pembunuhan kedua orang tua Seo Na terungkap setelah Dong Hae kembali membuka khasus itu pada Pihak yang lebih berhak menanganinya, dan lagi tidak ada jalan lain bagi Pria tua itu untuk segera masuk dalam jeruji besi, tentu saja, bukankah orang-orang pesuruhnya itu salah sasaran, seharusnya Seo Na yang mati bukan? tapi yang menjadi korban saat itu adalah anak laki-laki satu-satunya itu, ditambah lagi nasib pria tampan Aiden Lee yang sudah memberikan semua waktunya untuk menjaga gadis itu, hingga ia berani memaki Yu Ra dan mengancam gadis itu jika ia berani melukai Seo Na-nya lagi, ‘Cih menjijikan!’. Umpat gadis itu dalam hati, ironis memang.

“sudah lama menunggu?”. Ucap seorang pria jakung kira-kira berumur 30 tahun, tapi jika dilihat dengan mata kepala pria itu benar-benar seperti anak remaja imut yang memang tidak pantas menyandang umurnya yang sekarang. Pria itu duduk dihadapan Yu Ra tanpa aba-aba terlebih dahulu dari gadis itu menaggalkan kaca matanya dan meletakkan di atas meja.

“akhirnya kau datang juga, aku kira aku harus menunggumu lebih lama lagi disini Kim Hee Chul-ssi”. Ucap gadis itu dingin, pria yang didepannya itu hanya terkekeh tak jelas melihat ekspresi gadis yang berada dihadapnnya itu.

“sudahlah Yu Ra-ya, berhenti berbicara formal pada Oppa-mu, kau mau kubuang ke gurun pasir ya, bukannya menyambut Oppa-mu yang tampan ini malah memakinya”. Yu Ra mencibir, kata-kata tampan itu tidak cocok untuk sepupunya tapi ia lebih cocok dikatakan cantik, karena wajahnya yang memang begitu mempesona dibanding lelaki kebanyakan.

“jadi di Amerika kau banyak menghabiskan waktu digurun pasir?”. Ejek gadis itu, yang hanya mengundang tawa lebih besar dari sepupunya itu. “Oppa, tidak bisa jika tidak tertawa seperti itu?”.

“baiklah, aku tau Mood mu sedang tidak bagus. Jadi apa yang membuatmu mengajakku bertemu disini, aku baru saja pulang dari Amerika aku belum istirahat sama sekali”. Yu Ra menyipitkan matanya, menendang pergelangan kaki pria itu dibawah meja, Hee Chul meringis kesakitan meskipun ia yakin tendangan gadis itu belum maksimal, biasanya Yu Ra akan meluncurkan serangan lebih ganas pada dirinya. “Ya! kau benar-benar mau ku kirim ke gurun pasir?”.

Yu Ra terkekeh, melihat eskpresi Hee Chul yang meringis sambil terus memakinya. “baiklah, berhenti bercanda. Maksudku menemuimu karena aku ingin meminta bantuan padamu Oppa”. Hee Chul menyipitkan matanya, sembelum mendengar penjelasan dari sepupunya itu.

~~~000~~~

“aku yakin kau bisa menyingkirkan dirinya dari Dong Hae-ssi, aku tidak mungkin membunuhnya, aku tidak sekeji dia. Dan kemarin aku mendapat berita jika gadis itu sudah sadar dan akan tinggal bersama Dong Hae. Aku hanya ingin Oppa memisahakan dia dari Dong Hae, hanya dengan membuatnya mencintaimu, lalu jika kau bosan kau boleh mendepaknya dari hidupmu, dan Dong Hae bisa jatuh ketanganku. Oppa, kau tidak mau bukan melihatku sengsara hanya karena gadis rendahan itu?”.

Pria itu memfokuskan dirinya kembali pada layar komputernya, baru saja ia mengingat kembali ucapan adik sepupunya tentang gadis yang dimaksud Yu Ra. Jika bukan karena melihat Yu Ra bahagia, dia tidak akan melakukan hal gila seamacam ini. Hee Chul paling enggan untuk bermain-main hal yang semacam ini, apa lagi soal wanita dan menyangkut hati, tapi bagaimanapun ia harus membantu adik sepupunya itu bukan? Lagi pula ini hanya sederhana, membuat gadis itu jatuh cinta padanya, dan suatu saat menyuruh gadis itu untuk melupakannya dan ia bisa kembali ke Amerika lagi.

“Park Seo Na, nama yang bagus dan juga cantik”. Gumam pria itu sambil memandangi selembar poto dengan seorang wanita yang tersenyum manis disana.

~~~000~~~

Dong Hae meletakkan beberapa makanan dimeja makan, ia tidak terlalu hebat dalam memasak tapi untuk yang kedua kalinya ia ingin membuat sarapan yang nikmat untuk penghuni baru dirumah mewahnya ini, sesekali ia melirik kearah gadis yang tengah duduk manis di meja makan sambil memegang sebuah benda berbentuk kotak bewarna putih yang menjadi kesukaannya akhir ini.

“tidak lelah bermain Game diponsel ku itu?”. ucap Dong Hae, tatapan gadis itu beralih ke Dong Hae ia hanya terkekeh sebantar lalu kembali asik dengan benda yang berada digenggamannya. ‘melihatmu seperti itu membuatku enggan untuk mengembalikan ingatanmu Seo Na-ssi’. Gumam Dong Hae, lalu pria itu membawa makanan didalam tampan menuju meja makan.

Eo, kau memasaknya untukku?”. Tanya gadis itu, lalu meletakkan asal ponsel Dong Hae yang sejak tadi ditangannya.

“tentu saja, makanlah yang banyak, bukankah kau lapar?”. Dong Hae tersenyum, Seo Na menarik sendok dari piringnya itu, ia tau cara makan yang baik, pengetahuannya tak terlalu terganggu, hanya beberapa yang terlupakan, namun kebiasaan sehari-hari, seperti makan, mandi, dan yang lainnya masih diingatnya dengan jelas.

“ini enak, aku menyukainya”. Racau gadis itu, yang hanya direspon senyum simpul dari Dong Hae. “hei, kau harus makan juga. Tubuhmu itu kurus, apa karena tidak makan?”. Tambah gadis itu lagi, tentu saja ia menjadi kurus, bukankah untuk sekedar makan saja rasanya Dong Hae tak sanggup mengingat gadis-nya saat itu masih tergolek lemah dirumah sakit.

“hum, aku juga akan makan banyak mulai sekarang”. Seo Na tersenyum mendangar ucapan gadis itu, meskipun ia tidak mengenal banyak tentang Dong Hae tapi ia yakin pria itu orang baik.

“aku akan menemanimu makan setiap hari, agar kau tidak menangis lagi Oppa”. Panggilan terakhir yang keluar dari bibir gadis itu sukses membuat semua perhatian Dong Hae tertuju padanya, Oppa? Selama ini ia bahkan tidak pernah mendengar Park Seo Na mengatakan hal itu padanya.

Keduanya cukup lama bungkam, Dong Hae sibuk dengan sarapannya dan tentu saja pikirannya yang terus menerawang kemana-mana, melihat Seo Na melahap makanannya hingga habis ia hanya tersenyum. Entalah, Seo Na-nya yang cantik dan seksi itu kini berubah menjadi Seo Na yang manis dan polos, dan panggilan yang baru saja diucapkan gadis itu untuknya kenapa terasa begitu menyakitkan, ia rindu dengan sapaan lembut gadis itu sebelum ia seperti ini.

Keduanya kini duduk diberanda belakang Rumah mewah milik Dong Hae, disini memang tidak ada siapapun, kecuali dirinya. Dong Hae memang sengaja membawa Seo Na tinggal bersamanya, agar ia bisa menjaga gadis itu dan lagi jika Seo Na dibiarkan tinggal di Apartemen yang sebelumnya ia yakin gadis itu bisa mengingat dengan jelas kejadian waktu itu, untuk saat ini ia tidak ingin melihat Seo Na menderita lagi.

Oppa, kenapa kau baik padaku? Kenapa kau mengajak ku kerumahmu? Apa aku tidak punya keluarga? Eum, apa kita, eum.. apa kita sudah menikah?”. Deretan pertanyaan itu terus saja keluar dari mulut Seo Na, berhasil mengalihkan perhatian Dong Hae yang sejak tadi memandangi kolam ikan dihadapannya.

Dong Hae bungkam, keduanya kini sama-sama berhadapan. “Oppa, kau belum menjawab pertanyaanku, apa kita sudah menikah?”.

Dong Hae menarik gadis itu kedalam pelukkannya, membiarkan semua rasa sakitnya tersalurkan begitu saja. Entahlah, untuk saat ini ia tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang keluar dari mulut gadis itu, bukan ia tidak tau jawaban atas semua pertanyaan itu tapi yang terlebih rasa sakit yang ditimbulkan oleh pertanyaan Seo Na. ‘kau tidak memiliki orang tua lagi Seo Na-ya, aku mencintaimu, aku menginginkanmu terus bersamaku, karena itu kau berada disini, dan apa kita sudah menikah? Tidak, kita belum menikah, tapi aku akan segera menikahimu setelah ingatanmu kembali pulih, Seo Na kenapa lidahku begitu kelu untuk mengatakan hal itu, aku takut kau mengingat semuanya, aku takut kau membenciku’. Gumam pria itu dalam hatinya, dengan terus memeluk Seo Na seperti ini rasanya dunianya lebih nyaman dari sebelumnya.

“Oppa… kau siapa? Kenapa tubuhku seperti merindukan pelukanmu? Siapa aku sebenarnya?”.

~~~000~~~

Seo Na meringkuk dibawah selimutnya, membiarkan seluruh tubuhnya terbungkus oleh selimut tebal bewarna putih, entah kenapa sinar mentari tidak terlalu mengganggu tidurnya. Sesekali gadis itu berbalik kekiri dan kekanan mencari tempat yang nyaman, tapi tetap saja sinar mentari yang menembus jendela kamarnya sukses membuatnya terjaga, meski pada awalnya itu tidak jadi masalah.

“baiklah, Park Seo Na. Ayo bangun, ini sudah pagi”. Ucap gadis itu pada dirinya sendiri, ia keluar dari dalam persembunyiannya didalam selimut, beringsut keluar dari kamar mengenakkan baju tidur dengan sendal rumah berbentuk panda.

Seo Na memperhatikan sekitarnya, tidak ada seorangpun, tidak ada Dong Hae disana, tidak ada siapapun. Mungkin saja pria itu sudah berangkat bekerja, bukankah sepertinya di pria yang sangat sibuk, pikir gadis itu lalu ia berjalan menuju meja makan, duduk disana sambil menatap sarapan yang sudah disiapkan pria itu diatas meja, Seo Na tersenyum, menopang dagunya dengan kedua tangan, terus menatap sarapan itu tanpa menyentuhnya. Entah apa yang ia rasakan saat ini, Dong Hae seperti malaikat yang terus menjaganya, tapi sampai sekarang ia belum tau kenapa pria itu begitu baik padanya, ia juga tidak pernah memberikan jawaban atas pertanyaan gadis itu, Seo Na yakin, Dong Hae adalah kekasihnya, bahkan gadis itu merasakan Dong Hae memperlakukannya dengan sangat istimewa, tapi bagaimana dengan keluarganya, bukankah Seo Na tidak ingat apa-apa? Apa yang terjadi dimasa lalu? kenapa ia bisa terbangun dirumah sakit waktu itu?

Gadis itu melahap semua sarapan yang berada diatas meja makan, bukankah Dong Hae sudah menyiapkan semua ini untuknya, ia tidak mungkin membiarkan sarapan yang disiapkan lelaki tampan itu terbuang sia-sia, lagi pula Seo Na juga sedang merasakan lapar yang sangat hebat. Gadis itu beringsut kekamar mandi, membersihkan dirinya, mungkin ia bisa melakukan suatu aktifitas diluar, berjalan-jalan misalnya, tidak mungkin ia terus seperti ini, terus hidup dalam keadaan amnesia, tanpa mengingat dengan jelas masa lalunya, menyedihkan bukan?

~~~000~~~

Hee Chul meletakkan beberapa dokumen kerjanya diatas meja, meskipun pria itu sedang berlibur ke Seoul tetap saja ia membawa beberapa berkas kerjanya, setidaknya ia bisa menyelesaikan beberapa masalah dikantornya di Amerika. Pria itu sengaja menyewa apartemen di sekitar Gangnam, ia tau tempat ini adalah tempat yang cukup elitte, terlihat dari apartemen yang ia sewa untuk beberapa bulan kedepan. Hee Chul memang tidak memiliki hunian lagi di Seoul, keluarga besarnya memang sudah lama menetap di Amerika, karena itu ia memilih menyewa Apartemen, apartemen yang ia sewa ini juga tidak jelas lagi statusnya, karena beberapa bulan yang lalu ada seorang wanita yang menyewa apartemen ini, tapi sebelum pemutusan kontrak, gadis itu menghilang tanpa ada kabar sama sekali, sehingga kepemilikannya dicabut secara sepihak oleh pemilik gedung apartemen mewah ini, lagi pula ada kejadian yang cukup menjadi kontrofersi dengan gadis itu digedung apartemen ini, dan itu membuat pemilik apartemen tidak akan menerima apapun lagi jika gadis itu kembali keapartemen yang disewanya.

Hee Chul memang tidak terlalu peduli dengan gadis itu, siapapun dia yang penting ia bisa berlibur dengan damai di Seoul, lagi pula ia juga harus membantu Yu Ra bukan, adik sepupunya yang egois dan cerewet itu bisa saja menghabisinya jika ia tidak mengabulkan permintaannya, lagi pula Hee Chul tidak memiliki adik, jadi memiliki sepupu satu-satunya seperti Yu Ra sangat menyenangkan baginya.

“astaga, gadis itu benar-benar! Bagaimana aku bisa bertemu dengan gadis itu jika ia tidak memberi tahu alamat atau sesuatu yang bisa ku hubungi, percuma saja dia hanya memberiku foto seperti ini, memangnya Seoul ini kecil, seenaknya saja dia menyuruhku mencari gadis seperti ini, Yu Ra gila”. Dengus Hee Chul, sambil melempar selembar poto yang sejak tadi berada ditangannya. Yu Ra tidak memberi tau apapun tentang alamat atau nomor ponsel yang bisa dihubungi, ya sekedar mencari tahu dimana gadis itu sekarang atau sedang dengan siapa.

“Ya Sudalah, aku bisa gila memikirkan hal-hal semacam ini”. Hee Chul meyambar kunci mobilnya di atas meja, setidaknya tempat-tempat yang menyenangkan bisa ia kunjungi disini sekedar menenangkan pikirannya yang sudah berbelit karena pekerjaan selama ini.

~~~000~~~

Pria itu sibuk dengan beberapa berkas dimejanya, tampak beberapa berkas sudah menggunung disana, akibat beberapa minggu ini ia tidak terlalu peduli dengan semua aktifitasnya dikantor, tentu saja pria itu sibuk mengurus Seo Na, merawat gadis itu hingga ia sadar, meskipun pada akhirnya gadis itu tidak mengingatnya, siapapun yang ada didalam hidupnya. Suara ponsel pria itu seketika berdering, menghentikkan sejenak pekerjaannya.

Hum, Eomma”. Ucap pria itu setelah menyentuh warna hijau pada layar ponsel sentuhnya, suara seorang wanita menyambut disana, dan ia sangat merindukan pemilik suara itu.

“bagaimana kabarmu? Apa semua baik-baik saja?”. Tanya wanita itu, Dong Hae tersenyum, disaat seperti ini seharusnya ia yang bertanya pada ibunya, dan mengunjung wanita itu sesegera mungkin ke Mokpo tempat kelahiranya.

Ne Eomma, aku baik-baik saja. Seharusnya aku yang mengkhawatirkan Eomma”. Tandas pria itu, terdengar suara keke-han dari seberang sana.

Ya! anak nakal, aku tau kau sedang banyak masalah, aku dengar kantormu tidak mempunyai bos beberapa minggu ini, Waeyeo? Apakah keadaan gadis-mu itu masih memprihatinkan?”. Dong Hae tersenyum mendengar ocehan wanita yang berjasa bagi hidupnya itu, sejak Ayahnya meninggal satu-satunya yang berharga bagi Dong Hae adalah ibunya.

“dia sudah sehat, tapi keadaanya tidak terlalu baik”. terdengar nada melemah diakhir kalimat pria itu.

Wae? Apa dia masih membencimu?”. Tanya wanita paruh baya itu khawatir, selama ini Dong Hae sudah menceritakan apa yang sudah terjadi dengan dirinya bersama Seo Na, ia juga mengatakan tentang masalah dan semua yang terjadi dengan gadis itu, dan tentang perasaannya terhadap Seo Na.

“Seo Na hilang ingatan, dia tidak mengingatku, tidak mengingat siapapun, keluarganya, masa lalunya, dan juga pria yang telah memberikannya nyawanya demi menlindungi Seo Na, aku tidak tau aku harus bagaimana Eomma, tapi aku takut jika Seo Na mengingat semua itu, aku takut ia pergi dariku, dan membenciku, seperti apa yang ia ucapkan terakhir kali saat aku bertemu dengannya sebelum ia tidak sadarkan diri”. Terdengar suara mengehela napas diseberang sana, Ibu Dong Hae sangat mengerti posisi anaknya itu saat ini.

“jadi, kau tidak ingin mengembalikan ingatannya lagi? Apa itu terdengar sedikit egois Dong Hae-ya?”. Dong Hae menarik napasnya, mengehembuskannya kasar. Tentu saja ia egois, tapi bagaimana jika gadis itu tau semuanya, bagaimana jika ia harus kehilangan Seo Na untuk yang kedua kalinya, lalu gadis itu akan tersiksa lagi bukan jika ia harus mengingat deretan penderitaannya.

“aku mengerti apa yang kau rasakan Hae-ya, tapi jika kau membiarkan gadis itu terus hidup dalam keadaan seperti ini, maka kau akan menjadi satu-satunya orang yang akan disalahkan. Jika ia benar-benar mencintaimu dimasa lalu, ia tidak akan membencimu, kau tidak bisa memaksakan orang lain mencintaimu, akhirnya ia yang akan terluka karenamu”. Deretan-deretan kalimat yang keluar dari mulut Ibunya itu memang benar, ia semestinya tidak harus seperti ini, lambat laun Seo Na pasti mengetahui siapa dirinya, dan ia harus siap kehilangan gadis itu.

“baiklah, aku hanya tidak ingin urusan pribadimu kau bawa-bawa kekantor, Eomma hanya ingin kau bahagia Hae-ya, pikirkan baik-baik ucapan Eomma”. Dong Hae menutup sambungan teleponnya, setelah keduanya saling mengucapkan salam. Dong Hae menghempaskan tubuhnya disandaran kursi kerjanya, seketika otak pria itu dipaksa bekerja untuk memikirka kelanjutan kisah cintanya bersama Seo Na, dan ini benar-benar membuatnya merasakan rasa sakit, kehilang Seo Na? Lagi?

~~~000~~~

Angin sedikit menganggu juntaian dressnya, gadis itu sedikit memperbaiki letak dress-nya itu. Gadis dengan dress putih selitut bewarna cream Soft kini tengah berjalan-jalan ditengah hiruk pikuk kota Seoul, ia tidak tau harus pergi kemana tapi jika ia terus tinggal dirumah mewah milik Dong Hae ia akan lebih merasakan bosan yang luar biasa, lagi pula Dong Hae juga tidak ada dirumah. Gadis itu membetulakan letak tas tangan mungilnya bewarna pink, meletakkan benda kecil itu didepan tubuhnya sambil terus berjalan memandangi sekitaran kota Seoul, ia yakin dulu ia sering berjalan-jalan seperti ini, atau sekedar bersenda gurau bersama Dong Hae, ia yakin ia dulu sering menghabiskan waktunya dengan pria itu, ya meskipun pada kenyataannya perkiraannya tak semanis itu tentang masa lalunya.

Seo Na mengenggam tali tas nya dengan kedua tangan, ia tidak tau harus kemana, tapi yang jelas hari ini ia ingin menghabiskan waktu berjalan-jalan, ia tidak lupa jalan pulang.

”hanya lurus, lalu belok, atau belok lalu lurus?”. Seo Na mengacak poninya, gadis itu lupa, lupa jalan pulang dan ia yakin kali ini ai tersesat. Tapi ia bisa bertanya pada orang-orang bukan? Tapi tidak mungkin orang tau dimana tempat tinggalnya.

“ah, Oppa memberikanku ini, ini akan berdering jika ia mencariku”. Ucap gadis itu sambil mengeluarkan ponsel ditasnya, lalu ia kembali melanjutkan perjalannya lagi.

Ia sampai disebuah taman bermain, disana dipenuhi oleh beberapa keluarga dan anak-anak kecil yang ia yakini sedang menikmati kebersamannya bersama orang tua mereka. “kenapa Appa dan Eomma tak mengunjungiku? Ah, mungkin mereka mempercayaiku untuk tinggal bersama Aiden Oppa”. Ucap gadis itu meyakinkan dirinya. Seo Na duduk dideretan kursi kayu yang langsung mengarah kedanau, gadis itu menikmati pemandangan danau yang airnya tidak terlalu jernih, ditengah danau ditumbuhi beberapa bunga teratai yang terlihat indah dipandang matanya.

“itu warna merah muda bukan? Dan itu warna merah”. Ucapnya sambil menunjuk bunga-bunga teratai yang tubuh ditengah danau dengan berbagai macam warna, ia sesekali terkekeh melihat anak-anak kecil yang bermain disekitarnya, sampai ada seorang anak laki-laki yang datang padanya, menodongnyakan pistol mainan kearah Seo Na.

DEG!

Seo Na mendelik kaget, ketika anak laki-laki itu tiba-tiba mengacungkan pistol air kearahnya, seperti ada darah yang tiba-tiba naik keatas kepalanya, memutar memori otaknya tentang sesuatu, dan semua berputar seakan ia merasakan suara tembakkan begitu keras ditelinganya, gadis itu melemah, sesuatu berhasil ia ingat, sampai tubuhnya oleh kekiri, sampai seorang pria jakung menggoyang tubuhnya, dan semua terasa gelap.

 

To Be Continue

 

~~~000~~~