Tag Archives: romance

LEAVE BEHIND TO MEMORY (2/?)

Standard

cats

kita seharusnya tersenyum cerah bersama, tapi sekarang kita hanyalah dua orang asing. selamat tinggal untuk hari bahagiaku – At Gwanghwamun, Kyu Hyun Super Junior.

Seo Na menggeliat diatas ranjangnya, matahari memang sudah terbit sejak berjam-jam yang lalu tapi entah kenapa mata gadis itu masih saja terkatup dan enggan terbuka sesentipun, hanya cahaya matahari yang menembus korden bermotif bunga-bunga yang tergantung dijendela kamarnya, dan suara aneh dari lantai bawah seperti biasa saat para pelayan dirumahnya memasak atau sekedar membersihkan taman.

Gadis itu baru saja menyelesaikan gelar sarjana bahasa asing diusianya yang ke dua puluh tahun, ia memang pintar, otak gadis ini memang tidak bisa diragukan, selain periang, ceria, dan tidak bisa berhenti bicara Seo Na juga dikenal sebagai pemikir yang baik. kadang Dong Hae sering meminta pendapat kepada gadis itu tentang pemecahan masalah dikantor dan benar saja banyak masukan dari Seo Na yang bisa diambil oleh Dong Hae, sayang ia hanya bisa memikirkan masalah yang terjadi pada diri orang lain, tapi untuk dirinya sendiri sampai sekarang ia masih belum bisa bahkan ia tampak lebih hancur dari sebelumnya.

Detik kemudian Seo Na mengerjapkan matanya, mengumpulkan kesadarannya sejak tadi malam setelah ia memutuskan mengusir kakak angkatnya itu dari kamarnya, entah bagaimana ia bisa segera terpejam yang ia ingat ia sangat lelah karena begitu banyak menangis. Seo Na menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya gadis itu beranjak menuju kamar mandi tapi belum sampai kakinya mencapai tempat tujuan kini langkahnya terhenti pada figura yang terletak diatas meja riasnya, ia memperhatikan gambar dua orang didalam sana, dirinya dan Dong Hae, foto yang diambil ketika ia baru saja menyelesaikan gelar sarjanannya beberapa bulan yang lalu.

“Oppa!!! Aku sudah mendapatkan gelar sarjanaku, apa kau tidak senang?!”. Gadis itu berteriak kehadapan Dong Hae menghambur kedalam pelukan pria itu, Dong Hae tersenyum ia sangat bahagia melihat adik kesayangannya menyelesaikan pendidikannya.

 

“Ya! apa kau tidak malu memelukku didepan teman-temanmu? Kau kan sudah besar! Dasar anak kecil!”. Ujar pria itu, Seo Na mendesah gadis itu malah memajukan mulutnya beberapa senti lalu memukul lengan Dong Hae yang tampak kekar.

“aku bukan anak kecil lagi!”. Dong Hae tampak terkekeh mendengar ocehan Seo Na , pria itu kembali memeluk adiknya.

“selamat menjadi dewasa Park Seo Na, selamat atas kesuksesanmu, aku ingin kau hidup berbahagia. Dan jangan pernah menangis dihadapanku”. Ujar Dong Hae sebelum akhirnya mengecup puncak kepala Seo Na yang direspon cengiran gadis itu.

“aku akan hidup bahagia denganmu, Oppa”.

Entah sejak kapan gadis itu kembali terpuruk dalam kenangan masa lalunya bersama Dong Hae dan lagi-lagi ia mendapati dirinya sudah kembali terisak dalam tangisan. Tidak ada lagi baginya Seo Na yang begitu ceria didepan orang-orang dan didirinya sendiri yang ia kenal hanya dirinya yang terus hancur menerima semua kenyataan yang ada, Lee Dong Hae bukan kepunyaannya.

~~~000~~~

“Na-ya, apa kau masih merasa pusing. Eomma sengaja tidak membangunkanmu”. Seo Na melirik kearah Ibunya sejenak, mengangguk lalu mengambil posisi dikursi meja makan. Seo Na memandangi semua makanan yang sudah tersaji dihadapannya saat ini, dan lagi-lagi napsu makannya yang dulu begitu besar kini sedikitpun tak tersisa, ia benar-benar tidak memiliki semangat untuk melakukan apa-apa lagi.

“Na-ya? apa kau sakit”. Tanya Nyonya Park pada anak perempuan-nya itu, ia tidak pernah melihat Seo Na dengan keadaan seperti ini, ia sengaja tidak memarahi gadis itu karena sudah berani mabuk ditempat umum dan itu sangat tidak baik, kali ini wanita paruh baya itu mendapati anaknya terlihat tidak baik. muka Seo Na yang tampak memerah dan kantong mata gadis itu tampak membengkak.

“aku tidak apa-apa, mungkin hanya efek pusing kepalaku”. Ujar gadis itu seadannya, lalu menyendok beberapa suap nasi kedalam mangkuk makannya dengan tangan kirinya.

“hei, jangan gunakan tangan kirimu! Ayo gunakan tangan kanan!”. Dong Hae memukul pelan pergelangan tangan Seo Na, gadis itu meringis.

 

“baiklah, aku akan menggunakan tangan kananku! Menyebalkan!”. Gadis itu mengoceh sambil mengubah posisi sendok makannya ketangan kanan. Ia melirik Dong Hae, benar saja pria itu tengah memperhatikannya.

“apa?”.

“tidak ada”.

“jangan memandangiku seperti itu, Oppa menyeramkan”. Dong Hae mencibir, sedangkan Gadis itu malah tertawa, sebelum akhirnya kedua manusia itu melanjutkan makan malamnya seperti biasa.

Gadis itu lagi-lagi mengingat sosok yang dulu selalu menemaninya makan dimeja makan yang sama yang kini tengah ia duduki, Seo Na kembali meneteskan air matanya sebelum akhirnya berlalu meninggalkan meja makan.

Eomma, aku harus pergi. Mungkin aku akan pulang larut malam”. ujar gadis itu sambil menyambar remote mobil mewahnya, tanpa memperdulikan pertanyaan yang terlontar dari mulut Ibu gadis itu. entah apa yang bisa ia lakukan sekarang, semakin yang ingin menjauhi Lee Dong Hae akhirnya ia hanya akan mendapati dirinya terjebak dalam kenangan masa lalu selema lima belas tahun dengan pria itu. Apa ia tetap bersikeras mempertahankan perasannya pada pria itu? Atau ia mundur dan mendapati dirinya akan terus menderita sepanjang sisa hidupnya.

“kemanapun aku akan pergi, jika tempat itu tidak mengingatkanku padamu. Lee Dong Hae”.

~~~000~~~

Kyu Hyun mengoreksi beberapa berkas yang kini teronggok rapi diatas meja kerjanya. Sejak tadi pria itu berusaha untuk tetap fokus pada tumpukan kertas yang kini berada didepannya tapi tetap saja pikirannya masih melayang pada seorang wanita yang mungkin saat ini masih tertidur dirumahnya, atau ia sudah kembali melanglang buana mencari sesuatu yang mungkin bisa menghancurkan dirinya lagi seperti tadi malam.

Sejujurnya, Kyu Hyun bukan pria yang mau mengetahui urusan orang lain apa lagi jika itu tidak menyangkut dirinya sama sekali, tapi entah kenapa kali ini pria itu merasa harus ambil andil dalam masalah yang dihadapi wanita yang sama sekali tidak mengenalnya itu. Park Seo Na, gadis bodoh yang mencintai kakak angkatnya sendiri, tapi cinta tidak memandang status apapun bukan? Jadi jika tumbuh cinta pada diri gadis itu tidak ada yang bisa menghentikannya, kecuali waktu yang mampu merubahnya.

Kyu Hyun juga tidak bisa mengelak, jika suatu saat nanti ia bisa mencintai Seo Na, jika hari ini ia hanya merasa penasaran terhadap gadis itu dimasa depan mungkin saja ia mencintai Seo Na, kalaupun Kyu Hyun mencintai Seo Na ia tidak akan membuat gadis itu terluka seperti yang Dong Hae lakukan terhadapnya. Kyu Hyun menarik napasnya dalam, menghembuskannya pelan sembari menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi putar miliknya, Kyu Hyun memejamkan mata menetral semua pemikiran yang terus berputar diotaknya, tidak lama sampai akhirnya suara dering ponsel menghalau lamunannya.

Lee Dong Hae : Kyu, bisa kau mencari Seo Na? Ia pergi dari rumah, beberapa menit lagi aku akan melakukan pertemuan dengan rekan bisnisku. Aku percayakan ia padamu.

Kyu Hyun memutar bola matanya, berpikir sejenak tentang apa yang baru saja disampaikan Dong Hae melalui pesan singkat padanya. ‘Seo Na pergi dari rumah? Apa gadis itu minum-minum lagi?’. Pikir Kyu Hyun sebelum akhirnya pria itu memutuskan meninggalkan onggokan pekerjaannya diruang kerjanya, menuju tempat yang bisa dituju Kyu Hyun saat ini.

“Park Seo Na, kau gila ya?”.

~~~000~~

Dong Hae menautkan kedua telapak tangannya diatas meja kerjanya, ia tidak mungkin membatalkan pertemuan yang akan ia lakukan beberapa menit lagi. Baru saja ia mendapat panggilan telefon dari Ibu angkatnya, wanita itu mengatakan jika Seo Na pergi dari rumah dengan terburu-buru dan mengatakan jika ia akan pulang larut malam. wanita itu hanya memiliki seorang putri, ia tidak akan membiarkan Seo Na kembali pulang dalam keadaan mabuk, karena itu ia menghubi Dong Hae untuk segera menyuruh Seo Na kembali pulang kerumahnya. Lagi pula keadaan gadis itu tidak kelihatan baik-baik saja, itu yang membuat Ibu Seo Na tampak begitu cemas.

Dong hae memutuskan mengirim pesan singkat pada Kyu Hyun, pria itu mungkin bisa mencari Seo Na-nya. Bukankah pria itu sudah menawari untuk membantunya menhadapi masalah ini, lagi pula ia tidak bisa melakukan apa-apa saat ini untuk Seo Na, bantuan Kyu Hyun memang sangat diperlukan. Setelah menekan beberapa huruf diponselnya Dong Hae kembali menyandarkan tubuhnya, menghirup banyak-banyak udara disekitarnya.

Annyeong”. Terdengar suara dari depan pintu ruang kerja Dong Hae, wanita dengan paras cantik, dengan melihatnya saja, dunia pria itu tampak seketika tenang.

Pria itu tersenyum, berdiri mendekat kearah Yoo Ra yang kini sudah berdiri dihadapannya. “apa ada masalah?”. Tanya pria itu, Yoo Ra tampak menggeleng lalu wanita itu menyodorkan bekal makan siang pada suaminya itu. Dong Hae tampak sedikit terkekeh sebelum akhirnya memeluk Yoo Ra.

“aku tau kau tidak akan makan siang lagi, karena terlalu sibuk mengurus pekerjaanmu. Karena itu aku membuatkanmu makan siang dan aku pikir untuk mengantarkannya kemari”. Jelas Yoo Ra, gadis itu mengalungkan tangannya dileher Dong Hae.

“baiklah Nyonya Lee, sepertinya kau begitu menyayangkan makan siangku. Padahal aku hanya menundanya, jangan khawatir”.

“bagaimana aku tidak khawatir, kau terlalu serius dengan pekerjaanmu”.

“jadi aku harus bagaimana?”. Tanya pria itu, Yoo Ra tampak menyipitkan matanya, memukul dada Dong Hae pelan, lalu ia beranjak dari hadapan pria itu mengambil posisi duduk disofa yang tak jauh dari mereka berada.

“kau selalu pura-pura tidak tau, apa aku yang harus memintanya terlebih dahulu, eum?”. Dong Hae kembali terkekeh mendengar protes dari istrinya, melihat Yoo Ra yang terlihat menggemaskan Dong Hae mengambil posisi duduk tepat disamping istrinya itu.

“baiklah, apa kau mau kita bulan madu ke Verona? Aku akan mengajakmu kesana”. Tawar Dong Hae, Yoo Ra tampak tersenyum senang, tanpa aba-aba menghambur kedalam pelukan pria itu sebelum akhirnya Dong Hae mendaratkan ciuman hangat dibibir istrinya, tanpa keduanya sadar sepasang mata kini menangkap pemandangan keduanya, dengan mata memanas gadis itu berlari keluar dari gedung megah itu, ia tau sekarang, jika Dong Hae tidak akan pernah menjadi kepunyaannya.

~~~000~~~

Kyu Hyun menyandarkan tubuhnya disisi dinding lain, dari tempat ia berdiri saat ini ia bisa dengan jelas melihat tubuh Seo Na yang bergetar hebat didepan pintu ruang kerja Dong Hae. Setelah menerima pesan singkat dari kakak angkat gadis itu Kyu Hyun langsung meluncur menuju kantor Dong Hae, pria itu tau kemana Seo Na akan pergi, satu-satunya tempat untuk mengutarakan semua sesak perasaannya saat ini hanya seorang Lee Dong Hae, dan benar saja Seo Na kini hanya bisa mematung didepan ruang kerja kakak angkatnya itu. jika bukan melihat adegan mesra didalam sana, apa lagi yang membuat tubuh gadis itu kini bergetar hebat.

Sedetik kemudian, Seo Na kini sudah berlari menuju luar gedung, tidak ingin kehilangan jejek gadis itu lagi Kyu Hyun segera menyusul Seo Na, kemanapun gadis itu pergi saat ini ia akan mengikutinya. Tidak mungkin ia membiarkan gadis itu melakukan hal-hal sinting diluar sana, seperti buhuh diri misalnya?

Mobil Ford merah itu melaju kencang dijalan tol, ini sudah melewati perbatasan kota Seoul, dan Kyu Hyun masih tidak tau kemana tujuan Seo Na saat ini. Pria itu hanya mengekori kuda besi milik gadis itu sambil terus menyetarakan kecepatan mobilnya. Kemanapun gadis itu, Kyu Hyun hanya perlu mengikuti dan mengawasinya.

~~~000~~~

Seo Na berjalan menuju tepi pantai, merasakan terpaan angin pantai yang kini cukup menenangkan hatinya. Sudah sejak lama ia ingin datang kemari, menyaksikan deru ombak yang menenangkan, bau air laut yang khas, dan angin yang berhembus disekitarnya, kali ini semua itu ia rasakan. Seo Na menyeret kedua kakinya kebibir pantai, membiarkan air laut membasahi sepasang sepatunya, gadis itu tampak tersenyum meski ia masih tidak bisa mengerti untuk apa ia masih tersenyum saat ini. semua sudah berakhir bukan? Tidak ada masa depan seperti yang ia pikirkan selama ini.

Seo Na duduk diantara pasir basah, membiarkan bagian tubuh bawahnya terkena air laut, ia tidak akan pulang malam ini, atau tidak akan pulang selamanya. Apa yang baru saja ia lihat beberapa jam yang lalu, seperti pedang yang terus menikam hatinya semakin dalam. Seharusnya gadis yang berada disisi Dong Hae saat ini adalah dirinya, seharusnya ia bisa merasakan hangat kecupan pria itu, bukan Yoo Ra. Bukan gadis itu.

“Bisakah kau pergi dari pikiranku?!”. Gadis itu berteriak kencang, tidak peduli jika orang-orang melihatnya, yang ia pikirkan saat ini hanyalah bagaimana melupakan pria itu, melupakan kenangan selama lima belas tahun didalam hidupnya.

“Aku tidak ingin mengingatmu lagi Lee Dong Hae!!! Kau penipu!!! Aku tidak akan lagi mengingatmu!!!”. Suara gadis itu tercekat, air matanya terus mengalir begitu saja, isakan tangisnya bahkan terdengar semakin keras.

“Apa ada seseorang yang bisa membuatku melupakannya?!”.

“aku akan membuatmu melupakannya”. Suara berat seorang pria kini membuat Seo Na memutar badannya kearah sumber suara. Seorang pria jakung berambut coklat kini berdiri tidak jauh dibelakang gadis itu. berdiri sambil memasukkan kedua tangannya dikedua sisi saku celanya. Seo Na menatap pria itu, bukankah pria itu pria yang sama saat ia berada ditaman setelah pernikahan Dong Hae, pikirnya.

“aku akan membuatmu melupakannya, dan juga membuatmu tidak lagi mencintainya”. Lanjut pria itu lalu mendekat kearah Seo Na yang masih mematung ditempatnya. Beberapa detik berikutnya keduanya sudah saling berhadapan, pria itu mengangkat tangannya, menyapu air mata yang kini masih mengalir dimata Seo Na, lalu sedikit tersenyum kearah gadis itu dan bodohnya lagi Seo Na hanya bisa menerima semua perlakuan pria yang pernah membuat luka serius dilututnya itu.

“aku Cho Kyu Hyun”.

~~~000~~~

Kyu Hyun : ia baik-baik saja, ia bersamaku saat ini. maaf aku tidak bisa memaksanya untuk segera pulang kerumah tapi percayakan ia padaku ia akan baik-baik saja, Hyung.

Kyu Hyun memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jas hitamnya setelah mengirim pesan singkat pada Dong Hae. Detik kemudian pria itu berjalan mendekat kearah Seo Na yang kini sudah duduk diatas pasir pantai. Pria itu mengambil posisi persis disamping Seo Na sebelum akhirnya gadis itu melirik kearahnya.

“kenapa kau masih disini? Kau bisa pulang. Aku tidak membutuhkanmu”. Ujar Seo Na datar, gadis itu kembali mengalihkan pandangannya ke sisi pantai.

“bukankah kau meminta seseorang untuk melupakannya? Sepertinya aku diutus Tuhan untuk membuatmu melupakan orang itu”. ucap Kyu Hyun, pria itu ikut menatap matahari yang mulai tenggelam sore itu.

Keduanya terdiam, Seo Na juga tidak merespon ucapan pria itu ia lebih ingin menikmati sorenya kali ini, meski ia tau perasaannya masih tetap sama. Tidak banyak yang bisa gadis itu lakukan saat ini selain tidak menemui pria itu, tidak ketempat dimana ada kenangan dengan pria itu dan ia akan melupakan semua tentang Lee Dong Hae, meski ia tidak yakin apa ia bisa melakukan hal itu.

“kau, apa Oppa menyuruhmu kemari?”. Akhirnya Seo Na bersuara, ia masih menatap lurus kedepan tanpa memperhatikan mata Kyu Hyun yang kini tertarik kearahnya.

“tidak juga”. Ujar pria itu enteng, Seo Na menatap sinis kearahnya. “aku kemari karena Dong Hae Hyung dan juga karena kemauanku”. Lanjut Kyu Hyun.

Seo Na mengerjapkan matanya, mencerna kalimat yang baru saja diucapkan pria dihadapannya itu. “terserah dengan apa yang kau ucapkan, tapi lebih baik kau pergi dari sini. Aku sedang tidak ingin melihat siapapun yang berhubungan dengan pria itu”. ujar Seo Na sinis, gadis itu segera beranjak dari sana meninggalkan Kyu Hyun yang masih berada ditempatnya.

“Park Seo Na, apa aku boleh menicintaimu?!”. Teriakan Kyu Hyun berhasil membuat gadis itu menghentikan langkahnya sedangkan Kyu Hyun beranjak dari tempatnya mendekat kearah gadis itu dan kini ia persis berdiri dihadapan Seo Na.

Seo Na membulatkan matanya, menatap pria itu kaget. Kyu Hyun tersenyum sejenak kearah gadis itu dan entah dari mana pria itu mendapatkan keberanian, beberapa detik berikutnya pria itu akhirnya mengecup singkat bibir Seo Na.

~~~000~~~

Seo Na memperhatikan dirinya didalam kaca meja rias sebuah penginapan sederhana ditepi pantai, pantai Naksan yang terletak didaerah Yangyang Provinsi Gongwon-do dan pantai ini cukup jauh dari kota Seoul. gadis itu tetap bersikukuh untuk tetap memilih menginap dibanding harus kembali kerumahnya dan itu sama saja dengan membawa dirinya kembali kedalam kesedihan. Ia juga sudah menghubungi Ibu nya meskipun wanita paruh baya itu bertanya kenapa Seo Na pergi liburan tiba-tiba tanpa membawa baju ganti atau semacamnya.

Gadis itu sudah mengganti pakainnya dengan pakaian yang selalu tersedia didalam mobil pribadinya, memesan satu kamar untuknya dan pria tadi siang yang mengikutinya itu juga ikut memesan satu kamar yang persis berada disamping kamar gadis itu. Ya, mengenai pria itu Seo Na sempat memukul perut pria itu ketika tadi sore ia sudah berani mencium bibir Seo Na dan alhasil gadis itu mendaratkan pukulannya diperut Kyu Hyun.

Seo Na mengusap bibirnya, lalu berdecak kesal kearah pantulan dirinya dicermin. bagaimana pria itu bisa semudah itu menciumnya? Belum lama gadis itu mengoceh pada kaca didepannya, terdengar ketukan pintu kamarnya memecah keheningan didalam kamar gadis itu. Seo Na menuju pintu membukanya perlahan.

“kau lagi? Ada apa?”. ujar gadis itu sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

“aku tidak akan menciummu lagi, kau pikir perutku ini tahan dengan pukulanmu itu”. oceh pria itu sambil mengelus perutnya yang rata. Gadis didepannya itu menatapnya dingin. ”aku membawakanmu ini, aku tidak tau kau menyukainya atau tidak, setidaknya kau memakan salah satu diantara mereka. Aku tidak ingin melihat kau mati saat bersamaku”. Lanjut pria itu menyodorkan plastik putih polos berisi beberapa makanan cepat saji yang baru saja ia beli, Kyu Hyun sengaja membelikan gadis itu beberapa makanan, ia tau Seo Na pasti belum makan seharian.

“aku tidak butuh pemberianmu, aku juga tidak butuh makanan yang kau bawakkan untukku. Kau pikir setelah kita melakukan hal tadi siang kau bisa seenaknya mengatur hidupku? Dengar Cho Kyu Hyun, aku sudah memberimu kesempatan untuk menemaniku disini, jadi tugasmu hanya menemaniku bukan mengatur hidupku apa lagi mengkhawatirkanku”. Ketus gadis itu, tatapannya masih sama seperti tadi, Seo Na masih menatap pria itu dingin.

ck! Lucu sekali gadis ini. kau tau kenapa Dong Hae sangat mencintai istrinya dan menikahinya?”. Tanya pria itu tiba-tiba, membuat kedua bola mata Seo Na membesar, gadis itu seperti menahan sesuatu untuk diucapkannya. “karena gadis itu lembut, ia membiarkan Dong Hae mengkhawatirkannya, dan kau Park Seo Na jangan pernah lagi terus merasa kuat dihadapanku”. Lanjut Kyu Hyun, lalu meletakkan bungkusan plastik itu dihadapan Seo Na sebelum akhirnya pria itu beranjak pergi dari hadapan Seo Na, meninggalkan gadis itu yang masih mematung ditempatnya.

~~~000~~~

“Oppa, jangan mengkhawatirkanku, meskipun aku tersesat digurun pasir aku tidak akan mati, kau tau kenapa? Karena aku ini kuat”.

“baiklah, tapi berjanjilah untuk tetap kuat dan jangan pernah membuat orang-orang mengkhawatirkanmu, mengerti?”.

Seo Na memasukkan beberapa potongan ayam kedalam mulutnya, mengunyahnya pelan sambil menatap lurus kedepan. Pikiran gadis itu kosong saat ini, ia masih ingat dengan apa yang baru di ucapkan Kyu Hyun beberapa menit yang lalu kepadanya. Pria itu benar, Seo Na memang tidak pernah memperlihatkan kelemahannya selama ini, bahkan ia sadar jika selama ini ia merasa hidupnya hanya untuk membuat orang disekitarnya bahagia, termasuk Lee Dong Hae. Tapi Seo Na lupa satu hal, ia lupa untuk membuat hidupnya bahagia, selama ini ia juga tidak pernah memperlihatkan kesakitannya pada siapapun bahkan gadis itu mampu memendam bertahun-tahun persaannya kepada Dong Hae dan akhirnya semua itu kini menjadi bumerang untuknya, Lee Dong Hae tidak akan pernah memilihnya.

Seo Na tertunduk, kini setetes air mata jatuh dari matanya, gadis itu terisak untuk yang kesekian kalinya, selama ini ia selalu dianggap kuat, orang-orang tidak pernah tau bagaimana perasaannya, ia tidak punya tempat untuk bersandar, atau seseorang yang mendengar apa yang ia rasakan, seharusnya ia menyadari hal itu dari dulu.

Beberapa menit kemudian gadis itu meninggalkan makanannya, beringsut ke atas ranjang kamar penginapan yang tidak terlalu mewah itu. esok hari ia harus memulai kehidupannya yang baru bukan, tanpa tangis lagi. Mungkin.

~~~000~~~

Kyu Hyun sudah satu jam lebih berdiri didepan pintu kamar gadis itu, memakai baju santai dengan setelan baju kaos putih dan celana jeans hitam dan kacamata yang menggantung dihidung mancungnya, pria itu mendesah berat ia tidak habis pikir bagaimana gadis itu belum juga bangun padahal pagi akan segara berganti siang beberapa jam lagi.

Ya! Park Seo Na?! Kau pingsan? Atau kau bunuh diri? Kau tidur atau ma-“.

“aku sudah bangun dari pukul 7 tadi pagi”. Ujar gadis itu tiba-tiba setelah membuka pintu kamarnya dan melewati Kyu Hyun begitu saja. pria itu mengerjap, bagaimana gadis itu bereaksi spontan seperti itu.

Kyu Hyun mengekori Seo Na dari belakang, ia melihat punggung gadis itu yang terlihat sangat kurus, tulang bahunya terlihat dari balik baju kemeja putih yang tengah ia kenakan, kakinya yang terlihat kurus juga begitu jelas karena gadis itu hanya menggunakan jeans selutut.

“apa kau akan terus mengekoriku?”. Ucap gadis itu tiba-tiba, bahkan keduanya hampir bertabrakan karena Kyu Hyun tidak menyadari jika gadis itu berhenti mendadak didepannya. Seo Na memutar tubuhnya kearah Kyu Hyun, pria itu melepas kaca matanya lalu balik menatap Seo Na.

“apa kau akan terus seperti ini?”. balas pria itu, Seo Na memicingkan matanya menatap sinis kearah Kyu Hyun.

“baiklah, jadi apa maumu?”. Tanya Seo Na akhirnya, gadis itu melipat kedua tangannya didada.

“kembali ke Seoul, aku dan kau”. Jawab Kyu Hyun enteng.

“Apa? Ck! Ya, Cho Kyu Hyun berhenti memerintahku dan meminta hal yang tidak aku suka”. Ujar Seo Na ketus, bahkan tatapan Seo Na kini penuh dengan kebencian. Kyu Hyun menarik tangan Seo Na memajukkan beberapa senti tubuhnya kehadapan gadis itu. “kau bisa lepaskan sekarang atau aku-“.

“atau kau akan meneriakkiku sebagai pria cabul? Begitu?”. Kyu Hyun tersenyum, mata pria itu berkilat emosi, ia bahkan tidak menyangka jika gadis dihadapannya ini benar-benar orang yang keras kepala. “berhenti meneriakku dan mengucapkan namaku, atau aku akan menyeretmu kekamarku dan menidurimu”. Oceh pria itu dingin, menekan setiap kalimat yang ia ucapkan, terlebih jarak diantara mereka begitu intim, sehingga beberapa tamu penginapan melihat mereka heran.

“lepaskan!”. Geram gadis itu, tapi pria dihadapannya ini malah semakin mengenggam erat tangan Seo Na. “ku bilang lepaskan!”. Teriak gadis itu akhirnya.

Kyu Hyun melepaskan tangan Seo Na, membiarkan gadis itu kini memunggunginya dan meninggalkannya. “aku yang berlutut mencintaimu, atau kau yang akan berlutut mencintaiku?”. Ucap pria itu, lalu tersenyum kearah Seo Na yang kini sudah berada jauh didepannya.

~~~000~~~

Keduanya terdiam didalam mobil mewah milik Kyu Hyun, pria itu fokus pada jalanan tol menuju Seoul, entah apa yang membuat gadis disampingnya ini memintanya menyupirinya pulang dan menyuruh orang suruhan ayahnya membawa mobil miliknya kembali ke Seoul. Kyu Hyun benar-benar tidak bisa membaca jalan pikiran Seo Na yang selalu tiba-tiba. Kadang gadis itu terlihat begitu dingin dan angkuh, tapi terkadang ia juga bisa melihat Seo Na yang begitu rapuh dengan air mata yang terus mengalir dari matanya. Dan kali ini yang ia lihat adalah wajah polos gadis itu yang tertidur nyenyak disamping kursi kemudinya, tidak bisa ia pungkuri jika Seo Na memiliki wajah yang cantik, bahkan ia tidak bisa mengelak jika wajah itu akhir-akhir ini menjadi candu untuknya. Pria itu kini mengalihkan pandangannya kearah ponselnya yang berdering, pria itu segera menempelkan komunikator itu ketelinganya.

Hyung? Aku bersamanya, tentu saja dia baik-baik saja. Hm, hanya sedikit pucat mungkin karena ia belum makan seharian. Baiklah, aku akan langsung mengantarnya kerumah”. Kyu Hyun segera mematikan sambungan teleponnya, lalu kembali fokus pada jalanan.

“Dong Hae?”. Tiba-tiba gadis disampingnya itu bersuara, tatapan pria itu kini tertarik kearahnya. “aku tidak ingin pulang kerumah”. Lanjut gadis itu lagi.

“jadi? Kau mau tinggal bersamaku?”. Tambah Kyu Hyun, pria itu menyeringit namun kini pandangannya kembali fokus mengemudi.

“Apa kau gila? Aku akan mencari Apartemen, aku akan tinggal disana, kau bisa mencarikanku Apartemen setelah sampai di Seoul”. Ujar Seo Na, tidak ada nada dingin yang menekan dari ucapan gadis itu, kini ia lebih terdengar meminta dan memohon pada Kyu Hyun.

“hanya kau sendiri?”.

“aku tidak mungkin terus tinggal ditempat yang terus menceritakan kenanganku dengannya, dan satu lagi jika kau ingin membantuku lepas dari semua ini jangan beri tahu Dong Hae dimana keberadaanku, dan jangan beri tahu dia lagi tentang kabar ku dan apa yang aku lakukan”. Ucapan Seo Na kali ini terdengar begitu menyakitkan, memang benar jika ia tidak mungkin terus tinggal ditempat yang terus menceritakan kenangannya bersama Dong Hae selama ini, bagaimana gadis itu bisa melupakan Dong Hae jika ia terus bergelimang dengan kenangannya dimasa lalu bersama pria itu.

“baiklah, tapi aku minta satu hal padamu, jangan pernah melakukan hal yang bodoh yang merugikan dirimu, dan satu hal lagi jangan pernah sok kuat dihadapanku, jika kau ingin menangis, menangislah sesukamu dihadapanku, aku tidak akan menertawakanmu. satu hal yang harus kau tau, Setiap orang berhak mendapatkan kekhawatiran dihidupnya dari orang-orang disekelilingnya dan kau, kau tidak akan selamanya bisa bertahan jika kau terdampar digurun pasir tanpa air dan makanan”.

Seo Na menarik tatapannya kearah Kyu Hyun, menatap garis wajah pria itu. Kyu Hyun benar tentang dirinya, dia tidak akan bisa terus bertahan jika ia tidak memiliki seseorang yang bisa mendengarkannya, ia tidak akan bisa bertahan ditengah gurun pasir tanpa air dan makanan. Entah kenapa setiap ucapan yang mengalir dari bibir pria yang kini tengah mengemudikan kuda besinya itu begitu terdengar menenangkan ditelinga, bahkan saat ini ia benar-benar ingin menangis dan bersandar di bahu pria itu.

~~~000~~~

Dong Hae berkali-kali melirik jam ditangannya, sejak beberapa jam tadi pria itu tidak tenang dikursi empuk diruang meetingnya siang ini. ia tidak bisa mengelak jika saat ini ia ingin bertemu dengan adik kesayangannya, adik yang beberapa hari ini tidak ia temui dan ia ingin mengetahui kabar gadis itu, apa gadis itu baik-baik saja? setelah terakhir mereka bertemu malam itu, setelah Seo Na mengucapkan perasaanya pada Dong Hae.

Dong Hae menarik tatapanya pada pintu masuk, pria dengan setelan jas rapi dengan rambut coklat yang menutupi keningnya kini berjalan menuju kursi tempat biasa ia duduk seperti meeting sebelumnya, dengan tenang Kyu Hyun sedikit membungkuk kearah Dong Hae dan melewati pria itu.

Dong Hae menatap lekat pada pria itu, banyak sekali yang ingin ia tanyakan terutama bagaimana kabar Seo Na saat ini. tapi ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal pribadi kepada Kyu Hyun terlebih lagi saat ini mereka adalah rekan bisnis, dan juga beberapa menit lagi mereka juga harus mengadakan meeting dengan kolega bisnis lainnya yang berada didalam ruangan yang sama dengan keduanya.

“apa semuanya baik-baik saja?”. Dong Hae menghampiri pria jakung itu yang sejak tadi asik menyusun kertas-kertas diatas mejanya setelah mereka melakukan meeting selama dua jam hari ini.

Kyu Hyun mengalihkan pandangannya kearah Dong Hae, menatap pria itu sambil tersenyum lalu kembali memfokuskan tatapannya ke kegiatannya semula. “dia baik-baik saja”. jawab pria itu singkat.

Tampak jelas jika nafas Dong Hae terdengar menghembuskan nafasnya lega, Kyu Hyun tau jika pria itu sangat mengkhawatirkan adik tirinya itu, tapi sudah terlambat untuk mengkhawatirkan Seo Na, nyatanya sekarang gadis itu tidak ingin jika Dong Hae mengetahui keberadaannya. “apa kau mengantarnya pulang kerumah?”. Lanjut pria itu lagi.

“tentu, aku mengantarnya hingga pintu rumahnya. Tapi ia juga mengatakan padaku, ia juga tidak akan berlama-lama dirumahnya”. Jelas Kyu Hyun, kini pria itu sepenuhnya menatap Dong Hae.

Kening Dong Hae berkerut ia masih tidak paham dengan apa yang dikatakan pria didepannya itu.”maksudmu?”. tanya pria itu pensaran.

“aku tidak bisa menjawab, karena itu diluar kekuasaanku untuk menjawabnya”.

“Seo Na pergi? Kemana? Apa dia akan meninggalkan Korea?”. Pertanyaan Dong Hae bertubi-tubi menyerang Kyu Hyun, jika Seo Na pergi karenanya ia pasti sangat merasa bersalah. Selama ini gadis itu sangat kental dengan kehidupannya bersama keluarga, ia juga tidak pernah menginap dirumah temannya atau tinggal ditempat lain selain dengan keluarganya.

“ia hanya mengatakan satu hal padaku Hyung, ia tidak ingin berada ditempat dimana ia diharuskan mengingat kenangan tentang kalian. Aku harap kau mengerti dengan keputusannya”. Jelas pria itu, sebelum akhirnya menepuk pundak kiri Dong Hae dan meninggalkan pria itu sendirian ditempatnya.

Kyu Hyun hanya ingin Dong Hae mengerti bagaimana menderitanya Seo Na saat ini, ada kepuasan tersendiri bagi Kyu Hyun saat ini setelah mengatakan hal yang mungkin dapat membuat Dong Hae merasakan luka yang mungkin tak sebanding dengan apa yang dirasakan Seo Na saat ini.

~~~000~~~

“Eomma, aku harus belajar hidup sendiri. tenanglah, aku akan baik-baik saja. seorang pria menawarkan bantuannya kapanpun untukku, jadi jangan khawatir dan jangan coba-coba memberi tahu Dong Hae Oppa kemana aku akan pindah, aku akan mengatakan langsung padanya”. Jelas Seo Na sambil memasukkan semua pakaiannya kedalam koper bewarna merah maron itu.

“kau yakin? Apa pria itu baik? bagaimana jika ia berniat jahat padamu?”. Sanggah Nyonya Park, sambil memperhatikan Seo Na yang kini tengah mondar-mandir dihadapannya.

Mom, please… jika pria itu berniat jahat padaku saat di Gongwon-do dia pasti sudah menculikku dan tidak mengantarku kembali kerumah. Dan lagi, Kyu Hyun adalah sahabat Dong Hae Oppa, ia sudah sangat mengenal keluarga kita dengan baik”. jelas gadis itu menghentikan kekhawatiran ibunya, Nyonya Park yang masih begitu cantik di usianya yang tidak lagi muda.

“baiklah Na-ya, Eomma akan berkunjung ke Apartementmu jika Eomma ada waktu, dan ingat kau harus bisa menjaga dirimu, Arro?”.

Arraseo Eomma, tenanglah aku akan menjaga diriku dengan sangat baik lebih baik dari sebelumnya”. Ucap gadis itu berjanji, sebelum akhirnya memeluk tubuh Ibu kandungnya itu. ia akan hidup lebih baik setelah ini. melupakan pria yang selama bertahun-tahun mengisi hari-harinya.

~~~000~~~

Kyu Hyun memperhatikan gadis yang kini tengah menyeret dua buah koper besar dihadapannya, memperhatikan gadis itu dari atas hingga bawah dan satu hal yang ada dipikiran pria itu saat ini. Seo Na, apa gadis itu sakit jiwa?

Ya! kau akan terus berdiri disana tanpa menolongku mengangkat dua buah bencana ini!”. ujarnya sambil membanting dua buah koper itu kelantai.

Kyu Hyun terkekeh.”kau pikir kau akan melakukan liburan enam bulan di hawai?”. Ujar Kyu Hyun ketus sambil berlalu masuk kedalam apartemen yang akan dihuni oleh gadis itu.

“apa pria itu gila? Apa ada yang salah dengan gayaku? Apa dia tidak pernah melihat member Girlband? Bahkan aku jauh lebih cantik dari SNSD”. Oceh gadis itu, sebelum akhirnya dengan sekuat tenaga menyeret dua buah koper itu masuk keruang apartementnya, menyusul pria yang baru saja ia teriaki gila itu.

Kyu Hyun membuka tirai besar tepat di sebelah utara, memperlihatkan indahnya Kota Seoul yang menjadi kebanggakan negara Korea selatan. Sewa Apartemen ini juga setara dengan keindahan yang ia suguhkan kepada penghuni setiap lantainya, dan Kyu Hyun juga ingin membuat gadis itu betah berada ditempat ini, setidaknya tempat ini jauh dari kenangan Seo Na yang menyedihkan.

“kau berharap akan melakukan adegan erostis seperti yang di Drama-drama denganku ya?”. oceh Seo Na berlalu menuju balkon yang berada disisi kanan gadis itu.

“lebih baik aku terjun dari gedung ini dari pada harus melakukan adegan erotis dengan gadis kurus sepertimu”. Tandas pria itu.”jika kau memerlukan bantuan kau hanya perlu naik satu lantai lagi, apartement ku berada dilantai atas”. sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Seo Na.

“apa? Ya! memangnya aku mau melakukannya? Bahkan aku harus berpikir seribu kali jika harus melakukan adegan erotis dengan Hyun Bin! Tapi jika aku harus dipaksa melakukannya juga tidak apa-apa”. gadis itu terkekeh lalu kembali berlari kebalkon Apartementnya, dari sini ia bisa merasakan hembusan angin yang menerpa dirinya, ia berjanji untuk tetap berada ditempat ini, melupakan semua yang pernah membuat dirinya terpuruk begitu dalam, sekali lagi untuk yang terakhir kalinya gadis itu meneteskan air matanya, melepaskan semua rasa sakit yang selama ini merejam hatinya.

“Lee Dong Hae, kau bisa pergi sekarang!!!”. Teriak gadis itu, tanpa ia sadar seseorang tengah mendengarnya dari balkon persis diatasnya, pria itu tersenyum mendengar teriakkan gila gadis itu.

“Na-ya, kau memang harus membiarkannya pergi”.

~~~000~~~

“bagaimana dengan Seo Na?”. Suara lembut itu membuyarkan lamunan Dong Hae, wanita cantik dihadapannya itu ternyata sejak tadi menatapnya sendu. Wajah gadis itu keibuan, matanya yang coklat dan pipinya yang sedikit berisi menambah keindahan kecantikan yang ia miliki.

Dong Hae tersenyum, mengelus puncak kepala Yoo Ra lalu mencium kening gadis itu sekilas. ”tidak ada kabar, aku belum sempat menghubungi Eomma”. Jawab pria itu seadanya. ”kau belum ingin tidur?”. Lanjut pria itu.

Yoo Ra menggeleng, ia menarik tubuhnya kearah Dong Hae menyandarkan kepalanya di bahu tegap pria itu. “aku merindukanmu Oppa”. Ulas gadis itu singkat. Dong Hae mengerinyit, pria itu tersenyum lalu menghadap menatap Yoo Ra yang kini tengah memandangnya. “tidak percaya?”. Tanya gadis itu lagi

.
“aku percaya, maaf aku mengabaikanmu karena pekerjaanku dan melewatkan bulan madu kita”. Ucap pria itu tulus. “aku juga merindukanmu”. Balas Dong Hae. Akhir-akhir ini keduanya memang jarang menghabiskan waktu bersama, karena kesibukan Dong Hae dikantor yang semakin padat ditambah lagi masalah-masalah perusahaan yang harus ia tangani langsung. Alhasil, ia mengabaikan Yoo Ra-nya, mengabaikan bulan madu mereka.

Yoo Ra tersenyum, gadis itu menggeleng. “jangan menyalahkan dirimu sayang”. Yoo Ra mengecup singkat pipi pria itu. “aku hanya tidak ingin kau kelelahan”. Tambah gadis itu lagi. Sebelum akhirnya keduanya menautkan bibir mereka, sejujurnya ada rasa kegelisahan yang kini tengah menggelantung dihati pria itu, entah apa yang membuat Dong Hae tak fokus dengan pekerjaan dan istri kesayangannya. Dan semua ini terasa ketika Dong Hae mengetahui Jika Seo Na mencintainya lebih dari seorang kakak.

“Kau baik-baik saja?”. Yoo Ra tersadar sejak tadi Dong Hae hanya menempelkan bibirnya di bibir istrinya, dan sepertinya pria itu sedang tak fokus dengan istrinya saat ini.

Dong Hae tersenyum. “tidak, aku baik-baik saja. bagaimana jika kita melakukan sesuatu yang menyenangkan?”.

Yoo Ra mengerinyit. ”menyenangkan? seperti?”. Tanya Yoo Ra polos. Dong Hae terkekeh dihadapannya, sebelum akhirnya menggendong tubuh gadis itu dipangkuannya tanpa seizin Yoo Ra, menghabiskan malam indah mereka yang selalu tertunda.

Dong Hae hanya berpikir, dengan ini mungkin saja ia melupakan masalahnya dengan Seo Na. Terlalu kejam memang jika tubuh Yoo Ra menjadi pelarian masalahnya saat ini.

~~~000~~~

Sejak tadi tubuh gadis itu meliuk-liuk di atas ranjang Big size-nya, membalikkan tubuh kekiri dan kekanan sebelum akhirnya ia menyerah dan terbangun dari tidur nyenyaknya, mungkin. Seo Na menarik kedua kakinya menuju kamar mandi menopang kedua tepalak tangannya di westafle bewarna merah maron itu, lalu mengangkat wajahnya dengan mata yang masih setengah terbuka dan mulai membersihkan wajahnya.

Seo Na beranjak ke ruang makan, mengambil segelas susu segar dan meminumnya hingga tandas, gadis itu cukup lelah seharian kemarin ia hanya membersihkan Apartemen barunya menyusun beberap barang dikamarnya dan memindahkan beberapa barang yang menurutnya tidak begitu enak dilihat.

Suara ponsel diatas meja menghentikan kegiatan Seo Na yang tengah asik mengobrak-abrik isi lemari es-nya. Gadis itu mendekat kearah sumber bunyi, seketika jantungnya kembali berdegup kencang saat membaca nama yang tertera dilayar ponsel miliknya, seakan siap merasakan sakit lagi gadis itu dengan segera mengangkat sambungan telefonnya.

“Y.. a, Oppa?”. Jawab gadis itu gugup, dan masih sama hati gadis itu seperti kembali ditusuk setiap kali ia mendengar suara pria itu, sejujurnya ia merindukan suara Dong Hae, suara yang dulunya selalu mengisi hari-harinya, suara yang membangunkan tidurnya dan suara yang membuatnya terlelap kedalam alam bawah sadarnya dan sekaligus suara yang ingin ia lupakan seumur hidupnya.

“baiklah, aku akan ke sana saat jam makan siang”. Akhiri gadis itu sebelum akhirnya cepat-cepat menutup sambungan telefonnya. Ia tidak ingin mengucapkan banyak kalimat, dan ia tidak ingin lebih banyak mendengar suara Dong Hae. Lagi-lagi hatinya mencolos sakit, gadis itu menekan dadanya sendiri, merasakan sakit yang luar biasa didalam sana. Tapi kehadiran seseorang dihadapannya saat ini membuatnya terkejut, bagaimana pria itu bisa masuk ke apartemennya! pekik Seo Na dalam hati.

To be continue

Advertisements

LEAVE BEHIND TO MEMORY (1/?)

Standard

cats

Aku tak bisa mengatakan ‘aku mencintaimu’, apa kau pernah mengetahuinya? malam-malam indahku yang berlalu ketika kita masih kecil My Old Story, IU

Kenangan limabelas tahun yang lalu kini mulai mengitari otak gadis itu. ia masih ingat saat pria yang kini tengah berdiri didepan altar itu berjanji kepadanya. Ia masih ingat saat pertemuan pertama mereka, dan ia masih bisa merasakan bagaimana sentuhan lembut tangan pria itu ketika mengusap kepalanya, dan semua perlakuan dari pria itu akan sirna dalam beberapa detik lagi.

Park Seo Na, tubuh gadis itu kini tengah bergetar hebat. menahan tubuhnya yang terasa semakin berat dan kaku, tapi bagaimanapun ia tidak akan mungkin pergi dari tempat ini. sederhana saja, andai saja ia bisa menganggap pria yang didepan itu adalah kakak laki-lakinya yang akan segera menikah dan mempunyai kehidupan baru, tapi bagi Seo Na semuanya tidak sesederhana itu karena apa yang ia rasakan terhadap pria yang kini sedang menunggu pengantin wanitanya itu sangat jauh dari hubungan sebagai adik kakak. Seo Na hanya tau ia mencintai pria itu, ia menginginkannya, namun kenyataan memang tidak pernah sejalan dengan apa yang ia harapkan. Apa ia harus mengatakan perasaannya ini?

~~~000~~~

15 years ago…

Seorang anak laki-laki turun dari dalam mobil sedan bewarna hitam itu, sejak tadi genggamannya tidak pernah lepas dari Tuan Park. Matanya terlihat ketakutan ketika ia baru menginjakkan kaki di kediaman keluarga kaya itu, matanya menangkap beberapa orang yang kini tengah menyambutnya. Lee Dong Hae, pria itu adalah anak dari rekan kerja keluarga Park. Kedua orang tua Dong Hae baru saja meninggal dunia akibat kecelakaan yang merenggut nyawa keduanya, semua terjadi begitu cepat hingga yang tersisa dari keluarga Lee hanya seorang Lee Dong Hae saja. karena itu keluarga Park mengangkat Dong Hae menjadi anak mereka, itu semua juga karena balas budi yang Tuan Park lakukan kepada rekan kerjanya itu. Tuan Lee dan keluarganya bukan hanya sekedar rekan kerja, tapi mereka sudah berteman sejak mereka baru memulai membangun perusahaan besar itu bersama-sama.

Dong Hae tetap menyembunyikan tubuhnya dibekalang tubuh Park Jung In, tinggi Dong Hae hanya sebahu -kepala keluarga Park- tersebut, orang-orang yang melihat kelakuan anak laki-laki itu hanya tersenyum dan mencoba menarik perhatian anak itu. Dong Hae merasa asing ditempat ini, ia tidak akan menemukan Ibu dan Ayah nya disini, ia akan memulai kehidupan baru bersama keluarga Park, dan mungkin ia juga akan mengganti marganya menjadi Park Dong Hae. Ini adalah kehidupannya hingga ia mengakhiri hidupnya nanti.

“Dong Hae Oppa, maukah kau bermain denganku?”. Seorang anak perempuan mendekat kearah Dong Hae, memakai baju gaun berwarna biru dengan bando berbentuk telinga kucing diatas kepalanya, ia juga menyeret boneka beruang yang terlihat jauh lebih besar dari tubuh mungilnya. Gadis kecil itu tersenyum kearah Dong Hae, menarik tangan anak laki-laki itu ke ruangan bermainnya.

“Seo Na-ya, jangan ajak Dong Hae Oppa-mu bermain boneka, ia seorang pria”. Suara lembut Nyonya Park menghentikan langkah Seo Na dan juga Dong Hae yang mengekori gadis kecil itu. Seo Na memajukan bibirnya yang mungil, lalu sedikit mengadahkan kepalanya.

“aku akan memperlakukan Dong Hae Oppa dengan baik, aku tidak akan membuatnya menangis dan aku akan memeluknya seperti aku memeluk beruang ini”.

~~~000~~~

Kenangan masa kecil gadis itu seketika buyar ketika riuh tepuk tangan para undangan didalam gereja begitu ramai tidak terkecuali Ibu Seo Na dan Ayahnya yang terlihat begitu bahagia dengan pernikahan anak angkatnya ini, Seo Na segera berdiri melihat kearah pintu utama gereja, dan benar saja kini seorang wanita cantik bertubuh langsing itu sudah memasuki gereja dengan gaun anggunnya. Seo Na akui, Yoo Ra begitu cantik dan penuh kelembutan jauh dari kesan dirinya yang begitu ribut dan tidak bisa berhenti bicara, dari segi manapun ia dan Yoo Ra begitu jauh berbeda, tidak salah jika kakak laki-laki gadis itu sangat mencintai Yoo Ra hanya saja keputusan ini terlalu cepat terjadi bahkan Seo Na belum mempersiapkan hatinya untuk menerima semua kenyataan ini, seharusnya waktu itu ia tidak menerima pria itu sebagai kakak angkatnya, seharusnya ia tidak jadi adik pria itu, dan semua penyesalan itu kini menari-nari dipikiran Seo Na.

Kedua pasangan itu kini sudah berdiri mantap didepan altar persis dihadapan Seo Na, dan sialnya tubuh Seo Na kini hampir ambruk ketika Dong Hae menyambut uluran tangan Yoo Ra padanya. Dong Hae, pria itu kenapa ia tidak pernah menyadari akan perasaan Seo Na selama ini, gadis itu hanya bisa memendamnya dan merasakan semua rasa sakit ini sendiri.

Pendeta didepan sana sudah mulai berbicara, sama sekali gadis itu tidak tertarik dengan apa yang diucapkan pria berbaju khas itu, matanya kini hanya sibuk memandangi tubuh Dong Hae, memperhatiakan wajah pria itu yang kini tampak tersenyum pada calon pengantinnya. Seketika tubuh Seo Na semakin berat, tumpukan air mata kini menumpuk dimatanya, ia tidak boleh menangis, bukankah ia ingin melihat Dong Hae Oppa-nya bahagia, bukankah ia tidak ingin melihat pria itu menangis lagi.

Seo Na kini kembali terperanjat ketika semua orang bertepuk tangan, ternyata cukup lama gadis itu berkutat dengan pikirannya yang semakin membuatnya gila, dan kali ini ia harus menyaksikan kedua orang dialtar itu tengah mencium satu sama lain, Seo Na hanya bisa menundukkan kepalanya, hari ini-Dong Hae pria yang ia cintai-sejak limabelas tahun yang lalu akan pergi meninggalkannya dan akan memulai hidup baru tanpa dirinya. Lee Dong Hae resmi menikah dengan Jung Yoo Ra.

kau sudah membohongiku, Lee Dong Hae!. Gumam gadis itu, dengan air mata yang seketika tumpah dipipinya, ia hanya bisa terus menunduk dalam menikmati setiap rasa sakit yang ada dihatinya saat ini, tanpa ia sadar kini sepasang mata tengah memperhatikan dirinya.

~~~000~~~

Seo Na meletakkan beruang besar itu dihadapan Dong Hae, sejak tadi anak laki-laki itu tidak memperdulikan sikecil Seo Na yang sudah heboh dengan dunia bermainnya. Seo Na berdecak pinggang lalu memandang sinis kearah Dong Hae. Anak laki-laki itu hanya memandanginya heran sambil berusaha memindahkan boneka beruang besar itu dari hadapannya.

 

“Yak! Kau tidak mau bermain bersamaku ya? kenapa dari tadi kau diam saja? Oppa tuli ya? atau Oppa bisu? Anak laki-laki memang tidak asik. Karena itu aku tidak mau bermain dengan anak laki-laki”. Oceh gadis kecil itu sambil melipat tangannya didada, Dong Hae yang umurnya berjarak 8 tahun dari Seo Na hanya mengusap rambut gadis itu pelan.

 

“aku tidak bisu, aku hanya merindukan kedua orang tuaku”. Ujar Dong Hae, pria itu kembali duduk lalu menundukkan kepalanya, tidak lama kemudian Seo Na hanya mendengar isakan tangis dari mulut Dong Hae, karena merasa bersalah gadis kecil itu duduk dihadapan Dong Hae.

 

“kau tidak boleh menangis, aku akan terus memelukmu, jadi berhentilah menangis”. Ucap Seo Na lalu memeluk tubuh anak laki-laki itu. Dong Hae menghentikan tangisnya lalu memandangi wajah Seo Na yang kini juga sudah penuh dengan air mata.

“Seo Na-ya, Oppa juga akan terus berada disampingmu”.

~~~000~~~

Seo Na melepas high heels yang ia kenakkan sejak acara pernikahan Dong Hae, ia kini sudah keluar dari dalam gereja beberapa menit setelah ia menyaksikan pria itu mencium Yoo Ra yang kini sudah resmi menjadi istrinya. Gadis itu berjalan ditepian sungai Han, mencoba memperbaiki suasanya hatinya yang begitu kacau, udara musim gugur begitu sesuai dengan apa yang ia rasakan saat ini. tidak seperti musim gugur sebelumnya, musim gugur kali ini adalah yang paling menyiksa batinnya. Sejak tadi air mata tidak pernah kering dari pipinya, gadis itu menangis ia hanya bisa terisak dan tidak bisa mengatakan apa-apa untuk menjelaskan isi hatinya saat ini. Seo Na merasa begitu hancur, harus ia kemanakan cinta yang ia miliki selama limabelas tahun didalam hidupnya, Dong Hae adalah pria pertama yang ia kenal sekaligus pria pertama yang mengisi hari-harinya.

Gadis itu terus berjalan, tanpa ia sadar kini ia sudah cukup jauh meninggalkan mobil mewahnya yang terparkir jauh dibelakangnya. Seo Na berhenti sejenak menghirup banyak-banyak udara disekitarnya, sebelum beberapa detik kemudian seseorang menubruk tubuhnya dari belakang membuat tubuh gadis itu terhuyung kedepan, kekuatan Seo Na yang sudah terkuras sejak seharian ini tidak bisa menyeimbangi tubuhnya, alhasil lutut gadis itu mendarat mulus di bebatuan dan benar saja darah mulai mengalir dari lutut mulus gadis itu.

“maaf Nona, aku benar-benar tidak melihatmu. Apa aku bisa melihat lukanya?”. Suara berat seorang pria kini terdengar dihadapan Seo Na, gadis itu masih menunduk memperhatikan lukanya yang tampak begitu menyedihkan.

“aku akan memberimu ganti rugi”. Ujar pria itu lagi.

Seo Na menahan amarahnya, hari ini kenapa ia begitu terlihat sangat menyedihkan. Luka didalam hatinya yang terluka begitu parah dan sekarang ia harus mendapatkan luka dilututnya.

“apa kau tidak tau caranya bersikap sopan? Aku tidak butuh uangmu”. Tandas gadis itu, menatap sinis kearah pria dihadapannya itu. Pria itu terkekeh lalu ia mengulurkan tangannya kehadapan Seo Na.
“maafkan aku Nona, sepertinya kau yang berlebihan menanggapi kata-kataku, aku hanya-“.

“bisakah kau pergi dari sini? Atau aku yang pergi saja? makhluk yang bernama pria itu memang menyebalkan! Terimakasih atas lukanya ajhussi!”. Teriak gadis itu lalu berusaha berdiri, menahan sakit dilututnya berjalan meninggalkan pria itu dibelakangnya. Setelah ini ia akan benar-benar gila oleh makhluk yang bernama pria. Seo Na meninggalkan tempat itu, dan tujuan selanjutnya ia tidak akan memilih kembali pulang kerumah.

“namaku Cho Kyu Hyun, dan aku masih sangat muda untuk kau panggil ajhussi”. Pria itu menatap punggung Seo Na, ia tersenyum mendengar gadis itu memanggilnya paman.

~~~000~~~

Pria bertubuh jakung itu berjalan sedikit tergesa, menyusul gadis yang baru saja meninggalkan gereja tempat acara pernikahan itu dilangsungkan , sejak tadi ia tidak berhenti menatap kearah gadis itu memperhatikan bahunya yang turun naik dan kepalanya yang terus tertunduk. Kyu Hyun bukan pria yang suka mencampuri urusan orang lain , tapi untuk kali ini ia merasa hatinya tergerak untuk mengikuti gadis itu, sejak awal ia berada didalam gereja inipun matanya tidak pernah lepas menangkap wajah gadis itu yang lebih terlihat menyedihkan.

Kyu Hyun tidak bisa mengontrol kakinya yang berjalan begitu cepat. Ia merasa khawatir. Ada rasa ingin tau yang kuat yang kini tengah ia rasakan, dan jangan tanya kenapa pria dingin itu mengkhawatirkan keadaan gadis yang kini mengendarai mobil jenis ford-nya secara urak-urakan, karena ia sendiri tidak tau alasannya apa. Jejak gadis itu menghilang, diantara banyaknya kendaraan yang berlalu lalang di Kota Seoul. Matanya terus mencari kemana mobil gadis itu melesat dan tepat saja mobil bewarna merah bata itu terparkir sembarangan di taman dekat tepian sungai Han. Kyu Hyun turun dari mobil mewahnya berjalan menelusuri taman yang tidak terlalu ramai, dedaunan pepohonan disekitar taman tampak gugur. Pria itu berjalan setengah berlari, menoleh kesekelilingnya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.

Bruk!

Suara hantaman keras tubuhnya membuat gadis yang dihadapannya ini kini sudah berlutut ditanah, Kyu Hyun cukup terkejut sebelum akhirnya ia melihat luka cukup serius di lutut gadis itu.

“maaf Nona, aku benar-benar tidak melihatmu. Apa aku bisa melihat lukanya?”. Ucap Kyu Hyun, sebelum gadis itu mengadah kearahnya, dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan. Mata pria itu membulat ketika ia sadar siapa gadis yang ada dihadapannya ini, gadis yang menjadi tujuannya berada ditaman siang ini.

~~~000~~~

Seo Na mengendarai kuda besinya dengan kecepatan diatas rata-rata, ia tidak memeliki tujuan saat ini, ia hanya ingin pergi sejauh yang ia bisa dan tidak pernah lagi melihat wajah pria itu. luka dilututnya masih terasa hingga sekarang, tapi semua itu tidak terlalu dirasakan gadis itu, sakit dihatinya lebih mendominan ditambah air mata yang terus mengalir dari matanya. Seo Na hanya ingin menyembuhkan hatinya, membuat semuanya menjadi lebih baik apapun caranya sekalipun jika ia harus angkat kaki dari rumah tempat tinggalnya selama ini, rumah yang menjadi saksi bisu antara ia dan Lee Dong Hae.

Gadis itu menginjak pedal rem mobilnya, menepikan mobil itu pada jalanan yang cukup sepi menghirup banyak-banyak oksigen disekelilingnya. Ditempat ia saat ini sangat sepi, jika ia berteriak orang-orang tidak akan mendengarnya, tidak akan ada yang mengatakan jika gadis ini tengah mengalami gangguan jiwa atau semamacamnya.

“kenapa kau menyukai boneka gemuk ini? kau tidak keberatan menyeretnya”. Dong Hae menunjuk perut besar boneka beruang disamping gadis kecil itu. Seo Na meraih boneka itu lalu memeluknya.

 

“karena ia mau ku peluk, ia tidak pernah menolak jika aku memeluknya”. jawab Seo Na, anak laki-laki dihadapannya itu hanya tertawa geli. Sudah hampir satu minggu Dong Hae tinggal bersama keluarga Park, disini ia memang tidak memiliki Ibu dan Ayah-nya lagi, tapi ia punya Seo Na, gadis kecil yang menjadi adiknya hingga kapanpun, gadis kecil yang selalu menemaninya ketika ia sudah kembali dari sekolah, gadis kecil yang akan memeluknya ketika ia merindukan kedua orang tuanya, gadis kecil yang sangat Dong Hae sayangi.

“Oppa, apa kau menyukaiku? Apa kau tidak risih bermain bersamaku?”. Tanya Seo Na, bibir mungilnya tampak sedikit menganga, menanti jawab dari Oppa-nya itu.

Dong Hae tersenyum, kembali mengusap puncak kepala Seo Na.”Oppa, sangat menyukai Seo Na. Karena itu Seo Na juga harus menyukai Oppa”. Ujar Dong Hae, dan Seo Na tampak girang dengan jawaban kakak laki-lakinya itu, Seo Na melompat dan menari bersama boneka beruangnya yang ukurannya lebih besar dari tubuh Seo Na.

 

“Oppa, berjanjilah besok kau harus menikah denganku”.

~~~000~~~

Lamunan masa kecil gadis itu seketika buyar, ketika ponsel yang berada disamping jok kemudi gadis itu bergetar. Ie melirik kearah benda bewarna silver itu lalu menyambar benda itu kedepan wajahnya, tertera disana nama ‘Lee Dong Hae’. tiba-tiba saja, mata gadis itu kembali memanas, bibirnya kembali bergetar, ia tidak mungkin mengangkat panggilan dari pria itu dalam keadaan seperti ini tapi ia juga tidak mungkin jika mengabaikan panggilan telepon dari kakak laki-lakinya itu, ia tidak ingin membuat Dong Hae khawatir tentang dirinya.

Yeoboseyeo?”. Jawab gadis itu dengan nada ceria yang lebih terkesan dipaksakan. Demi apapun, Seo Na masih belum siap mendengar suara Dong Hae yang selalu menenangkan hatinya.

“Na-ya, kau dimana? Kau menghilang ditengah acara, aku mencarimu kemana-mana”. Tanya pria itu dari seberang sana, Seo Na ingin sekali berteriak kencang mengatakan jika ia saat ini sedang tidak ingin bertemu pria itu, karena itu hanya akan membuat hatinya semakin hancur.

“aku sedang dengan teman-temanku Oppa, jangan khawatir, tadi aku langsung bertemu dengan teman-temanku setelah acara pernikahanmu. Kau tau, aku melihatmu berciuman dengan Yoo Ra Eonni dan-”. Suara gadis itu tercekat, ia ingin sekali tetap ceria saat berbicara dengan Dong Hae tapi hatinya berkata lain, ia sangat sakit ketika melihat pria yang dicintainya itu berciuman dihadapan orang banyak.

“Na-ya?”.

“kau sangat keren! Oppa ku benar-benar keren! Baiklah aku harus pergi kesuatu tempat dengan teman-temanku, katakan pada Eomma dan Appa aku akan pulang larut malam”. ucap gadis itu sebelum akhirnya ia memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak, ia tidak kuat lagi jika harus bersandiwara dengan suara yang dibuat-buat ceria dihadapan Dong Hae, ini adalah keadaanya sekarang, Seo Na yang masih tidak bisa menerima semua kenyataan yang terjadi dalam hidupnya. Gadis itu kembali melanjutkan perjalannya, ia tau tempat apa yang harus ia kunjungi saat ini, tempat dimana ia akan melupakan semua sakit yang ia rasakan saat ini.

~~~000~~~

Kyu Hyun menduduki salah satu kursi dikedai tepi jalanan yang biasa menyediakan Soju dan makanan hangat khas Korea, pria itu memesan sebotol Soju seporsi ttoppoki dan jajjangmyeon. Kyu Hyun memang lebih suka tempat seperti ini dibanding restoran yang harga makanannya selangit, bukan pria itu tidak memiliki cukup uang tapi pemimpin perusahan Cho Company itu lebih suka menghabiskan malamnya yang melelahkan ditempat seperti ini dimana baginya tidak ada yang membedakan status sosial seseorang ditempat ini.

Mata pria itu kini beralih pada jalanan kota Seoul yang tidak lagi seramai saat siang, musim gugur juga menambah udara malam semakin dingin dan itu menandakan jika sebentar lagi musim salju akan segera datang. Pria itu mempererat mantel tebalnya, mulut Kyu Hyun juga tampak berasap akibat udara dingin malam ini. ekor mata Kyu Hyun terhenti ketika menangkap mobil bewarna merah terparkir tidak jauh dari tempat ia berada saat ini, tak lama setelah itu seorang wanita keluar dari mobil mewah itu. gadis itu masih menggunakan gaun putih dan kali ini keadannya tampak lebih hancur dari siang tadi saat Kyu Hyun bertemu dengannya ditaman. Kyu Hyun mengalihkan pandangnnya pada lutut gadis itu, benar saja bekas darah masih berceceran dilutut gadis itu keadaannya saat ini benar-benar tampak menyedihkan.

Gadis itu berjalan melalui Kyu Hyun, memesan beberapa botol alkohol yang kini sudah teronggok didepannya. Pikiran Kyu Hyun benar, gadis ini pasti bermaksud untuk mabuk ditempat seperti ini, ia begitu yakin apalagi saat melihat keadan gadis itu yang terlihat sangat jauh dari kata baik-baik saja. Kyu Hyun menahan diri untuk tidak mendekat kearah gadis itu, ia sama saja menyerahkan dirinya pada maut jika berhadapan lagi dengan gadis itu lagi, bukankah tadi siang dia sudah membuat gadis itu kesal ditambah lagi ia sudah membuat luka yang cukup serius dilutut gadis itu.

Beberapa lama Kyu Hyun terus memperhatikan gadis itu dari tempat ia berada saat ini, jarak mereka tidak terlalu jauh, gadis itu juga tidak akan menyadari jika ia juga berada ditempat ini. cukup lama sampai akhirnya kepala gadis itu ambruk pada meja ditempatnya, dan saat ini waktu yang tepat bagi Kyu Hyun untuk mendekat kearah gadis itu.

Kyu Hyun duduk tepat dihadapan gadis itu, ia memperhatikan mata gadis itu yang kini sudah tertutup rapat tapi tunggu dulu Kyu Hyun kali ini malah menangkap keganjalan yang aneh dan benar saja gadis yang berada dihadapannya saat ini sedang menangis, bibirnya juga terlihat bergetar ia juga mengucapkan sesuatu yang tidak terlalu terdengar oleh Kyu Hyun.

“permisi Nona, apa kau sudah mabuk?”. Pertanyaan Kyu Hyun memang terdengar konyol, tapi pria itu hanya memastikan jika gadis yang dihadapannya saat ini sudah seratus persen dalam keadaan mabuk.

“Nona? Kau benar-benar sudah mabuk ya? aku hanya ingin mengatakan jika aku minta maaf soal tadi siang, aku benar-benar tidak sengaja menabrakmu dan membuat luka dilututmu”. Jelas pria itu tanpa peduli jika gadis yang dihadapannya saat ini mendengarnya atau tidak.

“baiklah, aku sudah minta maafkan? Aku pergi dulu”.

Oppa, bisakah kau tinggal sebentar disini bersamaku?”. Akhirnya gadis itu bersuara, dan kali ini Kyu Hyun bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan gadis itu saat ini.

Kyu Hyun berbalik, menahan langkahnya. “apa kau menggilku?”. Tanya pria itu penasaran.

Oppa? Bisakah kau tinggal bersamaku? Hanya sebantar saja”. suara gadis itu terdengar bergetar, kali ini hanya isakan yang keluar dari mulutnya, ya gadis itu menangis. Kyu Hyun beringsut kearah gadis itu, ia duduk tepat disampingnya. Ia tidak tau, apa yang harus ia lakukan kali ini dengan keadaan gadis yang sedang mabuk dan tengah menangis dihadapannya.

Kyu Hyun mengulur tangannya, mengusap lembut kepala gadis itu. “Dong Hae Oppa, Lee Dong Hae. Bisakah kau menganggapku sebagai wanita bukan adikmu?”. Kyu Hyun terhenyak seketika, ia menarik tangannya perlahan. Kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu cukup membuatnya terkejut. Bukankah gadis itu baru saja menyebutkan nama seorang pria yang ia kenal? Ya, Lee Dong Hae, pria yang baru saja melangsungkan pernikahannya tadi siang.

~~~000~~~

“apa dia baik-baik saja? bagaimana ia bisa berada ditempat itu”. suara Yoo Ra tampak terdengar khawatir, Dong Hae tersenyum lalu mengusap lembut lengan istrinya itu.

“dia baik-baik saja, Kyu Hyun yang memberi tahuku jika Seo Na berada disana ia juga yang mengantar Seo Na kembali kerumah. sekarang Eomma sedang menggantikan pakaiannya setelah itu kita akan melihatnya dikamar”. Ujar Dong Hae menenangkan wanitanya itu, Yoo Ra tampak bernapas lega.

“Dong Hae-ya, Seo Na sudah istirahat dikamarnya. Bagaimana kau bisa kemari? Bukankah kalian harus menghabiskan waktu berdua?”. Suara Nyonya Park mengalihkan pandangan keduanya, Ibu Seo Na tampak cantik seperti biasanya meskipun umur wanita itu sudah tidak lagi muda.

“Ah, Eomma. Aku hanya ingin memastikan keadaan Seo Na, Seo Na tidak pernah seperti ini sebelumnya, aku begitu khawatir”. Ujar pria itu, Ibu angkat pria itu tampak tersenyum.

“Seo Na mungkin terlalu banyak bergaul dengan teman-teman barunya, adikmu itu sudah mulai tumbuh dewasa mungkin ia hanya ingin tau bagaimana rasanya alkohol. Tidak usah khawatir, lebih baik kau kembali ke Apartemen bersama Yoo Ra”. Ucap wanita itu, Yoo Ra tampak tersenyum disamping suaminya itu.

“baiklah, tapi aku akan melihat keadaan Seo Na dulu setelah itu aku akan kembali”. Dong Hae berlalu menuju kamar adik kecilnya itu, sedangkan istrinya asik berbincang dengan Nyonya park diruangan lain.

Dong Hae membuka perlahan pintu kamar Seo Na, mendapati gadis itu kini tengah terbaring dengan mata yang tertutup rapat. Pria itu mendekat kearah Seo Na duduk dipinggiran ranjang gadis itu sambil memperhatikan wajah Seo Na yang tertidur. Sebelum ia menikah, pemandangan seperti ini sangat sering ia alami, menemani adik perempuannya ini hingga tertidur lelap dan mengusap lembut rambut Seo Na yang kecoklatan.

“Oppa, kau harus menemaniku hingga aku tertidur. Aku tidak suka kegelapan”. Ucap gadis kecil itu pada Dong Hae, Dong Hae mengangguk sambil menarik selimut adik perempuannya itu hingga perutnya.
“aku akan menemanimu hingga kau tertidur”. Jawab anak laki-laki itu.

 

“berjanjilah untuk terus menemaniku dan jangan pernah meninggalkanku sendiri”.

Dong Hae masih ingat percakapannya bersama Seo Na beberapa tahun silam, ia masih ingat dengan janjinya untuk menemani gadis kecil itu hingga ia tertidur, dan Dong Hae tau persis jika Seo Na tidak menyukai kegelapan. Yang berada dihadapannya saat ini memang bukan Seo Na adik kecilnya seperti 15 tahun lalu, Seo Na yang sekarang adalah Seo Na yang begitu cantik, Seo Na yang selalu ceria dihadapannya gadis yang tidak pernah memperlihatkan wajah sedihnya. Untuk kedepannya ia akan jarang melihat wajah gadis ini, wajah Yoo Ra akan menemani hari-harinya dimasa depan dan Seo Na akan tetap menjadi adik kecil yang pernah ia miliki selama ini.

“Na-ya, wajahmu terlihat pucat. Kyu Hyun juga mengatakan jika lututmu terluka, kau juga terlalu banyak minum. Na-ya, kau tidak boleh menjadi gadis nakal, kau adalah Park Seo Na adik kecilku”. Ujar pria itu dengan setengah berbisik, tetap mengelus puncak kepala Seo Na.

“Na-ya, Oppa harus kembali. Jaga dirimu, aku akan sering berkunjung untuk melihatmu”. Dong Hae mengecup kening Seo Na sebelum akhirnya berbalik untuk meninggalkan gadis itu, namun kini langkah Dong Hae terhenti ketika genggaman tangan seseorang terasa dipergelangan tangannya.

Oppa, bisakah kau tidak pergi dariku?”.

~~~000~~~

Dong Hae menyandarkan tubuhnya dikursi putar ruang kerjanya, pria itu memang sengaja tidak mengambil cuti untuk bulan madunya bersama Yoo Ra, lagi pula perusahaan keluarga Park memang saat ini berada ditangannya. Sejak Tuan Park menyerahkan perusahaan pada Dong Hae pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya dikantor mengurusi semua urusan perusahaan itu.

Pria itu menarik napasnya gusar, memandang kearah langit-langit ruang kerjanya. Pikirannya kini tertuju pada ucapan adik perempuannya tadi malam kepadanya, ucapan yang membuatnya lupa bagaimana cara mengambil napas dalam sekejap dan lagi bagaimana semua ini terjadi begitu saja tanpa ia rasakan, haruskah ia menyalahkan keadaan? Semua sudah terlanjur bukan?

“Oppa bisakah kau tidak pergi dariku?”. Dong Hae membalikkan badannya mendapati wajah Seo Na yang kini dipenuhi air mata, tatapannya begitu menyedihkan bahkan Dong Hae tidak pernah melihat adiknya semenyedihkan ini sebelumnya.

 

“Na-ya, Oppa harus kembali. Besok aku akan kemari untuk melihatmu”. Ujar pria itu lalu mengambil posisi duduk persis ditepi ranjang gadis itu. “apa ada yang salah? kenapa kau menangis? Seharusnya kau bahagia melihatku bahagia”. Lanjut Dong Hae tanpa menyadari air mata Seo Na yang kini semakin deras mengalir, kata-kata pria itu hanya semakin membuat Seo Na hancur.

“Dong Hae-ssi, bisakah kau menganggapku sebagai wanita? Bukan adikmu?”. Ucapan yang keluar dari mulut Seo Na memang terdengar tercekat tapi Dong Hae masih bisa dengan jelas mencerna apa yang baru saja gadis itu ucapkan padanya. Bagaimana Seo Na, adik kecilnya mengatakan hal itu padanya?

“Na-ya, apa maksudmu?”.

“aku mencintaimu Lee Dong Hae, bisakah kau menganggapku sebagai wanita? Selama 15 tahun aku memendam semua ini sendirian, apa kau tidak menyadarinya? Aku mencintaimu, aku-“.

“Cukup Park Seo Na! Kau sudah keterlaluan, bagaimana kau bisa berkata demikian? Apa yang kau pikirkan?!”. Teriakkan Dong Hae lolos begitu saja dari mulutnya, kali ini ia benar-benar tidak bisa mengontrol apa yang ia rasakan. Pengakuan Seo Na cukup membuatnya gila.

“jika kau tidak bisa menganggapku sebagai wanita, aku akan membuatmu menyadari semua ini Lee Dong Hae”.

Dong Hae kembali tersadar dari lamunannya, ketika pintu ruang kerjanya terbuka dan disana kini sudah berdiri seorang pria yang mengantar adiknya tadi malam. Cho Kyu Hyun, adalah rekan kerjanya, pria itu adalah pemimpin Cho Company perusahaan besar yang kini sudah setara dengan perusahaan Park Corp yang dipimpin Dong Hae.

Kyu Hyun sedikit tersenyum kearah pria itu, ia mengambil posisi disofa yang terletak rapi diruangan kerja Dong Hae, pria itu juga ikut duduk dihadapan Kyu Hyun ia juga tidak tau apa maksud kedatangan pria bertubuh jakung itu keperusahaannya terlebih tanpa menghubunginya.

“apa yang membawamu kemari Kyu?”. Tanya pria itu, Kyu Hyun hanya menggeleng pelan sambil mengusap tengkuknya.

“tidak ada, ya hanya sedikit”.
“soal Seo Na?”.

Kyu Hyun tersenyum lalu pria itu mengangguk. “ada yang ingin kusampaikan padamu Hyung”. Kali ini wajah Kyu Hyun tampak serius dari sebelumnya, maksud kedatangannya bukan karena Seo Na yang ia bawa pulang dalam keadaan mabuk, tapi ucapan yang gadis itu katakan pada Kyu Hyun sebelumnya.

“mungkin kau akan kaget mendengar ini, atau sebaliknya tapi-”. Kyu Hyun menghentikan kata-katanya, membuat pria dihadapannya ini tampak semakin penasaran, Dong Hae memajukan tubuhnya beberapa senti kedepan.

“ia memintamu untuk menganggapnya sebagai wanita, bukan adik perempuanmu”. Ujar pria itu, Dong Hae tertohok ditempatnya, kali ini pria itu memundurkan tubuhnya kesandaran Sofa, jadi Seo Na juga mengatakan hal itu ketika ia mabuk, jadi Dong Hae tidak salah dengan percakapan Seo Na tadi malam.

“aku sudah tau”.

“apa? sejak kapan?”. Kyu Hyun terkejut, ekspresinya tampak sangat berbeda dari sebelumnya.

“ia juga sudah mengatakan hal itu tadi malam padaku, aku juga baru tau”. Keduanya sama-sama terdiam, masih shok dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Kyu Hyun masih tidak percaya dengan perasaan Seo Na yang mencintai kakak angkatnya sendiri dan Dong Hae masih tidak bisa mencerna semua ini dengan baik, terlalu rumit, Mungkin.

“karena itu dia pergi dari acara pernikahanku diam-diam, karena itu ia mabuk untuk yang pertama kalinya, karena itu juga ia tampak menyedihkan, selama ini ia tidak pernah seperti ini”. lanjut Dong Hae, pria itu tampak tertunduk dalam, ia menyayangkan semua ini, menyayangkan kenyataan tentang adik yang ia sayangi itu tapi Dong Hae mengerti jika semua ini bisa terjadi, bukankah satu-satunya pria yang mengisi hari-hari Seo Na hanya dirinya, dan lagi ia hanya kakak angkat gadis itu jadi jikapun Seo Na menyukainya tidak ada yang salah akan hal itu.

“jadi setelah ini apa yang akan kau lakukan untuknya?”. Kyu Hyun tampak menyandarkan tubuhnya di sofa menunggu jawaban yang tepat keluar dari mulut pria didepannya ini yang kini tengah menompang kepalanya dengan kedua tangannya.

Dong Hae cukup lama terdiam, ia tidak bisa menjawab bagaimana sikap yang harus ia ambil setelah mengetahui perasaan Seo Na terhadapanya, ia sudah memiliki seorang istri disisi lain ia tidak akan membiarkan kedua orang tua angkatnya mengetahui hal ini sama saja ia menjebak Seo Na dalam lubang neraka bisa-bisa gadis itu diusir dari rumahnya. Tapi jika ia membiarkan ini terjadi apa ia sanggup melihat Seo Na menderita lebih lama lagi, melihat gadis itu mabuk-mabukkan, melihat adik kesayangannya hancur karena dirinya, ia tidak akan membiarkan itu terjadi.

“aku tau ini adalah situasi yang sulit Hyung, aku akan membantumu jika kau butuh bantuanku. Baiklah, aku akan kembali kekantor, aku harap kau baik-baik saja”. ujar Kyu Hyun akhirnya sebelum meninggalkan Dong Hae yang kini duduk terdiam disofa beludru bewarna hijau tua itu. kedua mata Dong Hae tampak menerawang memikirkan segela cara untuk masalah ini, jika ia memikirkannya sesederhana mungkin, mungkin saja ini tidak terlalu berat untuknya, tapi entah kenapa ada yang lain yang kini pria itu rasakan, menolak Seo Na dan perasaannya? Apa pria itu sanggup?

To be Continue

CRAZY IN LOVE (2/?)

Standard

j

I look and stare so deep in your eyes
I touch on you more and more everytime
call your name two, three times in a row

– Crazy In love , Beyonce

Seo Na tampak bingung, orang-orang tampak mondar mandir dihadapannya. Matanya juga sejak tadi mencari sosok Cho Kyu Hyun tapi ia tak menemukan pria itu. tiga hari lagi pesta pernikahan mereka, pesta yang terjadi mendadak baru direncanakan sejak pria itu mengajak Seo Na menikah. Seo Na masih tak mengerti dengan apa yang terjadi, bahkan saat itu ia sempat tertawa lalu memukul pipinya sendiri agar ia terbangun dari mimpinya tapi tidak, Kyu Hyun baru saja melamarnya, bukan melamar lebih tepatnya memintanya untuk menikah dengan pria itu. dengan tatapan bodohnya Seo Na hanya mengangguk lalu pria itu memeluknya.

Semua terjadi begitu cepat dan sekarang yang ia lihat adalah orang-orang yang tengah sibuk mempersiapkan pesta mereka. “Na-ya”. suara lembut itu menghalau pikiran Seo Na yang melayang-layang.

Gadis itu tertegun sebentar mengamati wajah wanita dihadapannya saat itu. “aku Ahra, Cho Ahra. Kakak Cho Kyu Hyun”. Jelas wanita itu pada Seo Na, menyadari siapa yang berada dihadapannya saat ini Seo Na segera membungkuk memberi hormat pada Ahra gadis itu jadi salah tingkah.

“kau sangat cantik jika dilihat secara langsung Seo Na, tidak heran jika Kyu Hyun menginginkamu”. Ahra terkekeh geli, ditambah ekspresi wajah Seo Na yang seketika berubah merona dan salah tingkah. “masuklah, Kyu Hyun ada didalam”. Tawar Ahra mengulurkan tangannya pada Seo Na, gadis itu meraihnya lalu tersenyum kearah calon kakak iparnya itu.

Ini pertama kalinya Seo Na menginjakan kaki di rumah keluarga Kyu Hyun, rumah yang sangat luas dengan cat dinding putih gading menambah kesan kokoh rumah megah itu. tapi kini tatapan Seo Na teralihkan pada pemandangan didepannya, seorang pria yang duduk begitu tampan dengan buku bacaan ditangannya. Cho Kyu Hyun, dengan pakaian rumahan yang begitu sederhana, rambutnya acak-acakan terlihat begitu sangat seksi dimata Seo Na.

“Kyu Hyun, Seo Na sudah lama menunggu diluar dan ia berdiri disana menunggumu. Kenapa kau mengabaikannya?”. Ahra berceloteh pada adik laki-lakinya itu memukul pelan lengan Kyu Hyun.
“Seo Na?”. Kyu Hyun kaget, ia segera melempar buku ditangannya ke meja, lalu terkekeh pada kakaknya. “aku benar-benar tak menyadarinya”.

“baiklah, aku akan mengurus tatanan dekorasi pesta kalian. Na-ya berhati-hatilah”. Ujar Ahra mengedipkan satu matanya kearah Seo Na, membuat Seo Na terkekeh lalu pandangannya mengarah pada wajah Kyu Hyun yang tampak bingung melihat keduanya.

Kyu Hyun kembali fokus pada gadis dihadapannya itu. “apa kau sudah lama menunggu Na-ya? maaf kan aku”. Pria itu berdiri tepat dihadapan Seo Na, membuat gadis yang berada dihadapannya saat itu harus mendongakkan kepalanya keatas.

Seo Na tersenyum lalu gadis itu menggelang. Jika harus menunggu selama berjam-jam diluar pun Seo Na tak akan marah pada Kyu Hyun. “aku harus mengatakkan sesuatu padamu Kyu Hyun-ssi”. ujar gadis itu ragu-ragu, mata Seo Na tampak beralih menatap taman hijau cantik dibelakang punggung Kyu Hyun, gadis itu sedikit menaikkan alisnya. Lalu kembali fokus pada Kyu Hyun.
“ada apa? sesuatu terjadi?”. Pria itu mengernyit, matanya masih menatap paras Seo Na yang tampak kebingungan.

“soal pernikahan ini, apa semua ini tidak terasa terlalu cepat. Bahkan kau belum mengenalku”. Gadis itu meremas jemarinya, kali ini ia menunduk membuat pria dihadapannya itu menghela napas panjang lalu menarik dagu Seo Na keatas untuk menatap matanya.

“seharusnya aku mengatakan hal yang sebenarnya Na-ya, mari ikut aku”. Kyu Hyun menarik tangan gadis itu lembut, menuntun Seo Na pergi ke suatu ruangan dirumahnya. Ruang pribadi pria itu.

~~~000~~~

Seo Na menatap sekeliling ruangan itu, ruangan yang dipenihu oleh buku-buku yang tersusun rapi didalam lemari dan beberapa buku yang tertumpuk dimeja baca besar dekat mereka. Seo Na takjub akan kepribadian Kyu Hyun, ia juga punya buku yang cukup banyak tapi tak sebanyak buku-buku yang berada diruangan ini. Seo Na hanya bisa terperangah.

“kau boleh meminjamnya juga kau ingin”. Suara itu membuat Seo Na bangun dari lamuannnya, gadis itu tersenyum salah tingkah. Lagi-lagi ia hanya membuat dirinya terlihat seperti gadis yang benar-benar norak, bisik batin gadis itu.

“jika aku mempunyai buku sebanyak ini aku akan menghabiskan waktu berada didalam ruangan ini, membaca setiap buku yang mungkin cocok dengan selera ku”. ujar gadis itu lalu kakinya beranjak dari tempat ia berdiri sebelumnya lalu ikut duduk dihadapan Kyu Hyun yang kini asik menatap gerak-gerik Seo Na.

“setelah kita menikah kau boleh menghabiskan waktu ditempat ini, bahkan jika kau ingin kita bisa bercinta disini”. Kalimat Kyu Hyun barusan berhasil membuat Seo Na menatap pria itu dengan mata melotot sebelum akhirnya pipi Seo Na kembali merona. Bisa-bisanya pria itu membicarakan tentang bercinta setelah mereka menikah.

“Hahaha aku bercanda, kita bisa melakukannya di ranjang”. Tambah pria itu akhirnya hanya membuat keadaan pikiran Seo Na semakin memburuk, ia malah membayangkan bagaimana jika ia bercinta dengan pria itu nantinya. “jangan pikirkan hal yang tidak-tidak Seo Na. Otakmu yang cantik itu tidak boleh berpikiran kotor”. Kyu Hyun terkekeh menatap Seo Na yang menundukkan kepalanya karena ucapan pria itu.

Sial!

“jadi kau akan menjelaskannya padaku kan?”. Seo Na mengalihkan pembicaraan mereka dari pembahasan tentang –bercinta- mungkin ia akan lebih fokus jika membicarakan tentang hal yang lainnya.

Kyu Hyun tersenyum lalu mengulurkan tangannya kedepan, meminta Seo Na menyambut tangan itu. Seo Na tampak bingung sebelum akhirnya menyambut tangan Kyu Hyun dan gadis itu duduk persis disamping Kyu Hyun dengan tangan pria itu yang melingkar dipinggangnya. “aku sudah memperhatikan mu sejak lama Na-ya”. ujar pria itu tulus, ia mengungkap kebenaran di atas sebuah kebenaran yang tersimpan.

Seo Na tetap berada didalam pelukan Kyu Hyun menyandarkan kepalanya didada pria itu. dan terasa sangat hangat.

“saat kau tersenyum padaku di dalam lift saat itu, pertemuan pertama kita”. Tambah Kyu Hyun, Seo Na mencerna kata-kata Kyu Hyun lalu gadis itu melepas pelukan Kyu Hyun dan menatap mata pria itu terkejut.

“jadi? Saat itu kau juga…”.

“ya, aku menyukaimu mulai detik itu dan perasaanku semakin bertambah saat aku memimpin perusahaan dan menikmati wajahmu yang selalu serius didepan layar komputer. Dari dalam ruangan ku, aku bisa melihat dengan jelas kegiatanmu saat kau bekerja. Bahkan waktu itu aku juga melihatmu melepaskan kancing kemejamu saat jam istirahat”. Penjelasan pria itu membuat Seo Na terperangah, jadi pria itu bisa melihat apa yang dilakukannya, sekaligus waktu itu? saat ia membuka kancing kemejanya karena merasa sangat panas.

Ya, saat itu semua orang beristirahat. Tidak ada yang berada didalam ruangan hanya dirinya sendiri, gadis itu juga berpikir atasannya yang ia gilai itu juga tak berada didalam ruangannya, dengan bebas Seo Na melepas semua kancing kemeja putihnya dan berkipas semau yang dia ingin saat itu, dan sialnya Kyu Hyun memorgokinya? Batin Seo Na mengerang.

“itu bonus, selain melihat wajah cantikmu yang serius menatap layar komputer”. Tambah Kyu Hyun, Seo Na menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Ia yakin Kyu Hyun juga tau berapa ukuran cup bra-nya. Atau jangan-jangan pria itu masih ingat warna Bra yang ia pakai?

“warna merah menyala”. Tambah Kyu Hyun, lalu pria itu tertawa keras tanpa peduli jika gadis dihadapannya ini wajahnya benar-benar berubah seperti kepiting rebus. Seharusnya Seo Na berpikir saat itu, dan kini gadis itu hanya bisa mendengar tawa Kyu Hyun. Sial!

~~~000~~~

Kyu Hyun asik memperhatikan gadis di hadapannya saat ini, sejak sejam yang lalu posisi mereka tetap sama, gadis itu membaca dengan serius didepannya dan Kyu Hyun yang tengah menyelesaikan laporan kantor dan arsip-arsip yang harus ia selesaikan menjelang hari pernikahannya. Sebenarnya Kyu Hyun tak fokus pada apa yang ia kerjakan, ia ingin lenih menikmati wajah gadis dihadapannya itu, wajah polos yang begitu serius dengan bacaannya. Buku tebal yang membahas tentang ideologi manusia dan perkembangan bisnis. Dan sekali lagi Kyu Hyun begitu tertarik dengan kepribadian Seo Na, didalam wajahnya yang polos dan tak banyak bicara gadis itu memiliki otak yang cerdas dan pintar terlihat seperti sekarang saat ia begitu tekun dengan bacaannya seperti gadis itu tak akan menemui hari esok, ia begitu serius.

“Park Seo Na..”. akhirnya Kyu Hyun mengeluarkan suara, menyapa gadis dihadapannya itu yang asik akan dunianya.

Seo Na menatap Kyu Hyun sekilas. “ Ya, apa?”. dan gadis itu kembali fokus pada buku ditangannya.
“jadi buku yang ada ditanganmu lebih menarik dari pada aku?”. Ujar pria itu, Kyu Hyun mendesah raut wajahnya tampak tak senang.

Seo Na mengernyit kini semua perhatian gadis itu tersita pada wajah Kyu Hyun yang menatapnya. Seo Na memiringkan kepalanya kekanan lalu bangkit dari tempatnya dan berdiri dihadapan Kyu Hyun dengan senyumnya yang terlihat kanak-kanak. “aku suka buku ini, ini edisi ke tiga dan aku tidak memilikinya, aku punya edisi kedua dan itu adalah pemberian Ayahku ketika ia masih bersama kami”.

Jelas Seo Na dengan raut wajah yang berseri-seri. Tapi untuk ukuran Kyu Hyun, pria itu kembali terenyuh. Ya, Ayah pria itu tak tau sedang berada dimana. Apa yang ia pikirkan hingga meninggalkan Seo Na didalam kesulitan sendiri. sejujurnya Kyu Hyun begitu kesal dengan semua penderitaan yang gadis itu tanggung di usianya yang masih sangat muda.

“Ayahmu… apa kau merindukannya?”. Entah kekuatan dari mana yang didapati oleh Kyu Hyun, akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh tentang Ayah gadis itu.

Terlihat jelas ekspresi Seo Na berubah datar, gadis itu membuat garis sedih di sudut bibirnya. “sejujurnya iya, aku merindukannya. Tapi…”. Seo Na menghentikan ucapannya, mengambil udara disekitarnya. “ia meninggalkan aku dan Ibu ku, rasanya begitu sakit jika mengingatnya”. Tambah Seo Na akhirnya, gadis itu berlalu kembali duduk ketempatnya meninggalkan Kyu Hyun yang masih menatap Seo Na di kursi kerjanya.

“Na-ya, aku minta maaf jika itu membuatmu bersedih”.

“tidak Kyu Hyun-ssi, aku tidak semenyedihkan itu”. Seo Na tampak tersenyum, walau didalam matanya masih terlihat jika gadis itu memang bersedih sebelumnya. “jika aku masih bersedih, aku tidak akan hidup dengan baik sampai saat ini, bekerja di perusahaanmu yang besar dan menjadi calon istrimu. Itu sangat baik”.

“kau bilang baik Park Seo Na, dengan ukuran tubuhmu yang begitu kurus dan dengan kantong mata yang terlihat jelas”. Pekik Kyu Hyun dalam hatinya. “kau harus makan lebih banyak dan teratur, jika kau menjadi istriku aku akan mengurus semua kebutuhanmu, membelikan apapun yang kau mau dan aku mau untuk kau memakainya, memakan makanan yang bisa membuatmu lebih terlihat sehat dan bugar, juga olahraga dan tidur yang cukup”. Jelas Kyu Hyun, Seo Na menyipitkan matanya, kini ia benar-benar fokus pada bibir Kyu Hyun. Astaga! Pekik Seo Na dalam hati.

“aku tidak suka olahraga, aku makan ketika aku mau, dan tentang apa yang akan kau belikan untukku, aku keberatan. Aku tidak suka jika kau membuang uang hanya untuk sesuatu yang tak berguna. Mungkin pegawai lebih membutuhkannya”. Seo Na membalas, gadis itu tampak enteng sekarang bola matanya tampak cerah menatap Kyu Hyun. Dan Kyu Hyun terkekeh mendengar jawaban gadis itu.

Ini menarik. Pikir Kyu Hyun. Pria itu beralih duduk persis dihadapan Seo Na, di sofa beludru warna hijau tua. “kau harus makan, jika kau bersamaku. Aku tidak ingin kau mati kelelahaan jika bercinta denganku.

Jika kau tak suka olahraga, kau akan menyukai olahraga denganku dan soal barang-barang yang aku belikan untukmu tak ada hubungannya dengan gaji karyawan dikantorku. Aku tau kau sering mendengar mereka mengeluh, itu karena saat mereka menerima gaji di awal bulan mereka menghabiskan untuk minum-minum dan bersenang-senang, akan lebih baik jika mereka tak melakuan hal yang seperti demikian, kau mengertikan kan gadis nakal?”. Kyu Hyun membentuk senyum menyeringai di sudut bibirnya, menatap wajah Seo Na yang tampak berubah tegang, pipi gadis itu tampak memerah dan lagi-lagi ia melihat wajah Seo Na yang salah tingkah.

“ya, aku mengerti”. Seo Na akhirnya mengalah, gadis itu tak seharusnya membuat statment yang demikian pada pria dihadapannya ini, lebih baik ia menuruti kata-kata Kyu Hyun. Dan bercinta? Olahraga? Maksudnya bercinta adalah olahraga? Gila! Seo Na memekik didalam hatinya, bisa-bisanya Kyu Hyun mengatakan demikian tentang olahraga. Tapi jika itu adalah olahraga yang dijanjikan Kyu Hyun untuknya, mungkin ia bisa terima. Dewi batin gadis itu menyeringai ditempatnya.

~~~000~~~

Keduanya sampai didepan gedung Apartemen milik Seo Na, Kyu Hyun terlebih dulu keluar membukakkan pintu untuk wanita yang akan menemani sisa umurnya. “selamat datang di istanamu Na-ya, sayang sekali kau harus meninggalkannya dalam waktu dua hari ini”. Kyu Hyun terkekeh, gadis dihadapannya itu juga ikut tersenyum.

“ya, aku akan menempati istanamu yang super megah itu dan aku harap aku terbiasa Kyu Hyun-ssi”. mereka saling berhadapan, mata mereka bertemu.”diruang bacamu, didapurmu dan dikamarmu tentunya”. Lanjut Seo Na, Dewi batinnya tertawa riang, Seo Na mengucapkan kata-kata yang terdengar sensual.

“ya, dikamarku kau akan banyak menghabiskan waktu Na-ya”. Kyu Hyun mengulurkan tangannya, membawanya kesisi pipi kiri Seo Na, mengelus pipi gadis itu. sangat halus seperti bayi. ”kau perlu berkemas, dan tinggalkan sesuatu yang tidak perlu. Ok? Kau akan punya banyak barang baru nantinya”. Tambah Kyu Hyun, Seo Na menyipitkan matanya lagi, gadis itu tak setuju.

“aku menyukai semua barangku dan mereka perlu Cho Kyu Hyun, jika kau tidak ingin menampungnya bagaimana jika kita tinggal di Apartemen ku saja setelah kita menikah?”. Seo Na tersenyum sinis.

“jangan bercanda sayang, aku mungkin akan suka berada di tempatmu tapi kau mungkin akan lebih suka berada ditempatku, ok? Dan soal barang-barangmu, aku akan membebaskannya gadis cerdik”. Kyu Hyun menyentil hidung Seo Na, gadis itu terkekeh lalu memberanikan diri memeluk Kyu Hyun, pria itu menegang sejenak ditempatnya lalu tubuhnya merespon dengan cepat, ia balas memeluk Seo Na.

“ya, tentu. Aku cerdik hanya pada dirimu Kyu Hyun-ssi. aku juga begitu heran, denganmu aku menjadi lebih ingin berbagi”. Ujar Seo Na tulus, tak ada kebohongan dari nada bicara gadis itu.

Kyu Hyun tersenyum, ia mengelus puncak kepala Seo Na menarik gadis itu kehadapannya lalu mengecup kening gadis-nya.”ya, Na-ya. hanya denganku, dan akan tetap denganku selamanya”. Ucapan Kyu Hyun terdengar seperti janji, Seo Na merinding namun kebahagiaan yang ia rasakan membuatnya melambung tinggi. Ia harap ini adalah awal kebahagiaan mereka.

“aku mencintaimu Park Seo Na”.

“ya, aku juga. Sangat mencintaimu Cho Kyu Hyun”.

~~~000~~~

Seo Na kembali ke Apartemen reot miliknya, tak layak disebut gedung megah seperti Apartemen karena mungkin usia gedung ini sudah mencapai batas tak wajar. Sudah banyak retak-retak dibagian dinding yang Seo Na beri cat warna-warni agar terlihat seperti sebuah gambar pada dinding. Gadis itu melihat sekeliling kamarnya, dan dua hari kedepan adalah waktunya bersenang-senang dan menjadi gadis penyendiri seperti biasanya.

Ia akan tinggal bersama dengan Kyu Hyun, pria yang selalu mengisi otaknya, pria yang selalu hadir dalam mimpi erotisnya dan pria yang ia sukai saat pertama kali mereka bertemu saat itu. tapi ada yang masih mengganjal dengan pernikahan ini, Seo Na sejujurnya tak puas dengan jawaban Kyu Hyun, entah apa namun gadis itu sesegera mungkin menghalau semua pikiran buruknya, ia ingin hidup bahagia dengan Cho Kyu Hyun.

Tapi dering telepon rumah gadis itu berbunyi, Seo Na beranjak dari tumpukkan barang yang ia kemas dan akan ia bawa kerumahnya yang baru dengan Kyu Hyun. Gadis itu mengangkat telefonnya, dan seseorang segera menyaut dari ujung sana. Suara yang khas yang begitu Seo Na ridukan, tapi kenapa pria itu baru muncul sekarang. Gadis itu bergetar ia tak tau harus berkata apa.

“Seo Na, ini ayah putriku”. Seketika semua terhenti dalam sekejap. Ayah, kau kembali?

~~~000~~~

Gadis itu sampai dengan segera di sebuah cafe kecil disekitar rumahnya, didalam tidak begitu ramai, hanya ada beberapa pelanggan dan juga pelayan yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Mata Seo Na melirik kekiri dan kekanan tampak bingung dan gusar, akhirnya mata gadis itu terhenti pada seorang pria berjeket tebal bewarna cream, Ayah-nya memakai topi bewarna senada dan kini mereka saling bertatapan. Bertahun-tahun lamanya dan ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.

Seo Na mendekat, ia kaku, entah apa yang ia rasakan saat ini, ia merindukkan Ayah nya namun disisi lain ia masih begitu marah kepada Ayah nya yang meninggalkannya begitu saja, dan ia baru sadar, Ayah nya begitu kurus saat ini.

“Ayah”. Suara Seo Na tercekat, pria itu tersenyum kearah Seo Na lalu mempersilahkan anak satu-satunya itu untuk segera duduk.

“aku tau kau sangat terkejut Na-ya, tapi Ayah datang untuk menjemputmu”. Suara Ayah nya terdengar begitu berat namun lembut, suara yang dulu sering membawanya kealam tidur saat mereka masih memiliki keluarga yang utuh dan bahagia.

Rahang Seo Na mengeras, gadis itu tampak memperlihatkan wajah kemarahannya. “menjemputku? Ayah bercanda?”. Seo Na tersenyum getir. Satu tetes air mata mengalir dipipinya.

“ya, menjemputmu Na-ya. kita bisa hidup bersama dan memulainya dari awal, dan kau bisa bebas dari mereka”. Ucapan Ayahnya berubah dingin, Seo Na menatap heran pada Ayahnya. Mereka? Apa maksudnya? “Seo Na mungkin kau tak tau kebenarannya, tapi Ayah tak ingin kau terluka karena mereka. Mereka menginginkanmu sebagai wanita yang melahirkan pewaris perusahaan mereka, setelah itu mereka akan mencampakkan mu seperti mereka mencampakkan Ayah, kau mengerti maksud Ayah kan?”.

Mereka? Kyu Hyun? Apa Kyu Hyun sejahat itu? tidak mungkin! Seo Na menarik napasnya dalam-dalam, mata gadis itu membulat penuh. “Ayah, apa yang Ayah bicarakan? Mereka? Keluarga Tuan Cho maksud Ayah? Apa Ayah sedang menjebakku? Cukup! Aku tidak ingin mendengar omong kosong ini! Ayah meninggalkan Aku dan Ibu selama bertahun-tahun, dan saat pemakaman Ibu Ayah tak datang, saat aku terlunta-lunta Ayah tak juga datang! Apa yang Ayah lakukan? Dan sekarang Ayah mengatakan keluarga Tuan Cho jahat? Jika mereka jahat, mereka tak akan menerimaku diperusahaan sebesar itu, ku mohon hentikan semua ini Ayah”. Seo Na melemah, namun mata gadis itu masih penuh emosi. Ia tak mengerti dengan niat Ayah kandungnya itu. ia masih tak mengerti kenapa Ayah-nya membawanya menjauh dari keluarag Kyu Hyun, padahal Kyu Hyun menginginkannya sebagai istrinya tapi apa maksud dari pewaris harta? Mata Seo Na terasa berkunang-kunang.

Wajah Ayah Seo Na tampak sedih, ia seharusnya membawa Seo Na lebih dulu tapi semua terasa begitu sulit sejak Seo Na bekerja diperusahaan keluarga Cho. “aku tak bisa hadir saat itu dan aku tak bisa menjemputmu dan Ibumu saat itu. aku benar-benar minta maaf. Jika kau tak ingin pergi bersama Ayah saat ini, ku mohon Seo Na dengarkan penjelasanku sekali saja. setelah itu aku harap kau bisa menimbang-nimbang langkah kehidupanmu kedepannya”. Tuan Park tampak meyakinkan anak gadisnya itu, ia akan menjelaskan semua yang sudah terjadi. Ia tak ingin Seo Na terluka oleh siapapun, termasuk menjadikan anaknya sebagai wanita untuk melahirkan pewaris keluarga Cho dan membuang anaknya seperti keluarga itu yang mencampakkannya dulu kedalam jurang kebangkrutan.

~~~000~~~

“dulu kami adalah sahabat baik, aku dan Cho Yeung Hwan memiliki hubungan pekerjaan yang sangat menguntungkan satu sama lain. Sampai akhirnya ia memiliki anak laki-laki dan Ibu mu juga melahirkan mu beberapa tahun berikutnya. Saat itu, kami berpikir untuk menjodohkan kalian berdua, kau dan Cho Kyu Hyun dan saat pertengahan kejayaan perusahaanku dan perusahaan Yeung Hwan, ia sembunyi-sembunyi mengamil separuh untung perusahaanku dan menanamkan saham di perusahaan lain sampai akhirnya aku marah besar pada pria itu, pahitnya lagi-lagi aku mendapat kabar dari orang kepercayaanku bahwa kau hanya digunakan untuk melahirkan pewaris hartanya. Kau tau Na-ya, aku sangat-sangat marah saat itu karena aku tidak terima dengan semua kecurangannya dan juga menjadikanmu sebagai barang yang sewaktu-waktu bisa mereka buang dan sejak saat itu aku memutuskan semua kontrak pekerjaan dalam bentuk apapun dengan perusahaannya, namun semua peruntungan tak pernah berpihak kepadaku karena sejak saat itu perusahaan kita mengalami kebangkrutan yang luar biasa karena disebabkan hutang kepada infestor yang sudah mempercayaiku. Aku yakin, Yeung Hwan –lah yang menyebabkan semua infestor berpindah ke pada perusahaannya, dan mereka semua menuntutku untuk dipenjara padahal bukan aku yang melakukan kecurangan tapi Cho Yeung Hwan. Itu kenapa alasan aku meninggalkan kalian berdua dan pergi sejauh mungkin, bukan karena aku tak mecintai kau dan Ibu-mu tapi saat itu semua benar-benar terjadi secara tiba-tiba. Dan aku juga sangat terpukul ketika mendengar Ibu-mu meninggal hingga aku berpikir untuk mati juga Na-ya, tapi karena kau, karena mengingatmu yang tinggal sendiri aku menunggu hingga waktunya tiba untuk menjemputmu kembali padaku”.

Semua kata-kata itu lolos dari mulut Ayah Seo Na, gadis itu seperti terasa tersedak ditenggorokannya, semua hal yang ia pikirkan akan ia jalani bersama Kyu Hyun lenyap begitu saja. Ayah-nya tak mungkin berbohong, ia kenal betul siapa Ayah-nya. Meskipun mereka sudah cukup lama berpisah tapi Seo Na sama sekali tak melihat raut kebohongan dari wajah pria dihadapannya saat ini. Seo Na meringis, ia merasakan sakit yang luar biasa menghantam otaknya. Kyu Hyun yang ia pikir adalah malaikat penolongnya ternyata keluarga pria itulah yang menginginkannya lenyap dari muka bumi ini, dan dia diinginkan hanya karena tujuan tertentu.

“Seo Na, Ayah sebenarnya tak ingin membuatmu menjadi seperti ini. Ayah sangat menyanyangi dan peduli padamu karena itu Ayah mengambil resiko dan datang ke Seoul tadi pagi. Ayah mendengar kabar kau akan menikah dengan anak pria brengsek itu, aku tidak akan terima dengan apa yang mereka lakukan padamu nantinya, karena itu Ayah ingin kau pergi bersama Ayah”. Tatapan Seo Na begitu kosong, mata gadis itu terus mengeluarkan cairan bening. Ada satu hal yang terlintas dibenak gadis itu.

“Ayah, apa kau ingin mereka menderita seperti kita?”. Mata Seo Na memerah, tangisnya terhenti dan suara gadis itu terdengar bergetar.

“Na-ya, apa yang sedang kau pikirkan Nak?”.

“aku memikirkan untuk membalas dendam Ayah, membalas semua yang sudah dilakukkan pria itu padamu, Ibu dan juga aku”. Gadis itu mengepal tangannya. Ia bertekat dalam hatinya, rasa sakit yang terkubur dalam hatinya akan bangkit dan membalas semuanya, Dewi batin gadis itu mati seketika dan lenyap.

To Be Continue

CRAZY IN LOVE (1/?)

Standard

j

Got me looking so crazy right now, your touch…

Got me hoping you’ll page me right now, your kiss…

Beyonce – Crazy in Love

Pria itu, pria yang selalu berada dalam fantasi liar ku. pria dengan gigi putih yang bertengger rapi. Pria dengan jari-jari yang panjang dan penuh. Mata bulat hitam miliknya yang selalu ku inginkan menatapku saat kami bercinta suatu saat nanti dan tubuhnya yang tinggi, putih, bersih itu yang selalu ku inginkan untuk ku peluk, aku menggilainya bahkan sampai ketitik syaraf terliar ku.

Setiap kali aku melihatnya, aku benar-benar dirasuki napsu yang luar biasa. Aku menginginkannya. Disetiap anganku, aku selalu memikirkan bagaimana nikmatnya berada dibawah tindihan pria itu. pasti sangat nikmat. Ya, sangat nikmat sampai-sampai aku bisa merasakannya lewat mimpi-mimpiku.

Pria itu dosaku, dosa yang akan aku tanggung karena terus memikirkan fantasi bercinta dengannya. Ia akan menjadi dosaku jika aku tetap mendesah hanya karena aku melihat ia bediri tak jauh dari hadapanku. Dan akan tetap menjadi dosa, jika saat aku mencium aroma tubuhnya aku ingin segera dimasuki oleh pria itu. aku tergila-gila padanya. Sangat. Hingga aku tidak peduli dengan dosa jika aku memikirkannya. Ya aku sangat menggilai Pria itu… Cho Kyu Hyun.

~~~000~~~

Seo Na menekan ujung rok ketat di atas lututnya, saat ini gadis itu tengah duduk didepan seorang pria. Pria jakung yang saat ini menjadi CEO tempat ia bekerja. Pria yang ia inginkan untuk berada dalam dirinya, hanya dengan menatap pria itu ia bisa memikirkan hal yang belum ia pernah lakukan sebelumnya. Hanya dengan pria itu ia bisa memikirkannya.
Tapi, Cho Kyu Hyun bahkan tidak pernah menatapnya sama sekali, tatapan pria itu tak pernah berhasrat padanya mereka hanya bertemu pandang sekali dua kali, itupun karena pekerjaan yang mengharuskan mereka bertemu atau saling berbicara.

“kau bisa melanjutkannya dirumah, besok pagi kau bisa memberikannya kembali padaku”. Ujar pria berusia 26 tahun itu.

Seo Na mengangguk, tersenyum singkat tanpa berani menatap pria itu. ia terlalu takut, bahkan saat ini ia sedang menenangkan syarafnya karena sejak tadi ia benar-benar terbuai oleh aroma maskulin yang muncul dari tubuh atasannya itu. ia tidak ingin memperlihatkan betapa inginnya ia bersama dengan Kyu Hyun, betapa ia ingin berada dibawah tindihan pria itu. ya, mungkin sebentar lagi ia akan gila. Pikir Seo Na.

“baiklah, akan aku selesaikan secepatnya. Aku permisi”. Ucap gadis itu kaku, otaknya tak bisa bekerja dengan baik. suasana didalam ruangan ini terlalu panas untuknya. Ia segera beranjak dari sana dengan tergesa, melangkah tanpa peduli jika pria itu tengah menatapnya aneh.

“tunggu…”. Seo Na berkedik. “Ada yang aneh dari dirimu Park Seo Na”. Gadis itu menghentikan langkahnya. Ia tidak ingin berbalik menatap pria yang menyadari keanehan dari dirinya. Tidak, ia tidak ingin pria itu tau jika ia sangat teramat menginginkan atasannya itu.

“kau sakit? Bibir mu pucat”. Suara Kyu Hyun berada teopat dibelakag gadis itu, Seo Na berbalik dengan hati-hati mengadahkan wajahnya, menatap wajah khawatir Cho Kyu Hyun dihadapannya. Dan lagi-lagi jantung gadis itu berdetak tidak normal, ia pasti akan benar-benar gila setelah ini.

“a.. akk..ku baik-baik saja”. ujar gadis itu terbata. Ia masih tidak percaya jika wajah Kyu Hyun berada tidak jauh dari hadapannya, pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan.

“kau yakin?”. Kyu Hyun mengulurkan tangannya kearah kening Seo Na, dan itu hanya membuat gadis itu kalang kabut. Ya dia harus menghentikan pria itu, sebelum ia benar-benar melecuti semua pakaian pria itu dan memaksanya menidurinya. Pikiran yang kotor.

“Ya, maaf aku benar-benar harus pergi”. Suara gadis itu meninggi dan bergetar, Seo Na menyingkirkan jemari-jemari Kyu Hyun dari keningnya. Sebelum akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan pria itu didalam ruang kerjanya.

~~~000~~~

Udara disekitarnya tiba-tiba panas, Kyu Hyun melonggarkan dasinya lalu membuka satu kancing teratas kemeja kerjanya. Gadis itu, gadis yang selalu ia perhatikan dari kejauhan, gadis yang selalu pucat jika berhadapan dengannya. Dan ia selalu penasaran dengan gadis itu. Kyu Hyun menginginkannya, entah sejak kapan ia menyukai Park Seo Na. Tapi ia yakin, gadis itu juga memikirkan apa yang ia pikirkan, tidak terkecuali tentang fantasi seks dengan Seo Na.

Sebenarnya mereka pernah bertemu sebelum Kyu Hyun menggantikan posisi Ayah-nya untuk memimpin perusahaan. Dulu ketika pria itu berkunjung ke perusahaan milik Ayah-nya, gadis itu dengan ramah menyapanya, mata gadis itu coklat jernih, rambutnya hitam diikat keatas dengan anak rambut yang menggantung menghiasi tengkuknya, memang penampilan Seo Na tampak biasa, ia selalu mengenakkan pakaian formal kantor dengan rok span tanpa belahan dan ditambah kaca mata tebal yang bertengger di hidung mancung milik gadis itu.

Seo Na adalah tipe gadis yang tidak terlihat ber-make-up tebal, sederhana sekali hingga Seo Na mampu membuat Kyu Hyun mengalihkan pandangannya kearah gadis itu. sejak saat itu Kyu Hyun mencari tau tentang gadis itu dan satu yang ia pikirkan sejak saat itu, menikahi Park Seo Na dan bercinta dengan gadis itu.

“apa kau rasa ia menyukaiku?”. Pria disampingnya itu tampak tersenyum, pria yang sudah berusia lanjut dengan banyak rambut putih dikepalanya. Pria yang sudah bekerja untuk keluarga Kyu Hyun sejak Kyu Hyun belum ada diantara keluarga Cho.

Soo Hwan tersenyum, tampak kerutan disekitar mata pria tua itu. “tentu saja, ia sangat menginginkan anda tuan muda”. Ujarnya pada Kyu Hyun sambil meletakkan segelas Teh hangat kehadapan Tuan muda-nya itu.

Kyu Hyun tersenyum. “benarkah? bagaimana jika ia tau siapa aku sebenarnya?”. Sinar mata Kyu Hyun tampak melemah, gadis yang ia sukai itu pasti tak akan memaafkannya.

“anda tidak bersalah atas kasus itu, lagi pula Ayah anda pantas melakukan hal itu”. suara Soo Hwan terdengar tegas, ia tau persis apa yang sudah terjadi. Ia bersyukur gadis yang di sukai Kyu Hyun tumbuh menjadi gadis yang cantik dan luar biasa baik, tidak meniru sifat Ayah-nya yang seperti iblis. “Tuan Park pantas mendapatkan balasan”. Tambah pria itu lagi.

Kyu Hyun menggeram, mata pria itu menggelap.”jaga ucapanmu! Ia tidak sepenuhnya bersalah jika…”. Kyu Hyun menghentikan perkataannya. “sudahlah, aku lelah. Kau boleh keluar dari ruanganku”. Ucap Kyu Hyun akhirnya. Ia tidak ingin berdebat tentang hal ini. ia sudah sangat lelah.

Soo Hwan membungkuk lalu menuruti perintah Kyu Hyun untuk meninggalkannya, batin pria itu berbisik. “Tuan muda, seharusnya saat ini anda sudah menikah dengan gadis itu jika saja Ayah-nya tak berbuat curang pada Tuan Cho”. Batinnya.

~~~000~~~

Seo Na melangkah memasuki Apartemen mungil miliknya, Apartemen yang luasnya tidak lebih dari dua bagian ruangan kamar tidur dan dapur digabung menjadi tempat televisi reotnya dan beberapa tumpukkan buku kuliahnya beberapa tahun yang lalu. Ia harus beranjak meninggalkan rumah mewah milik keluarganya, hutang yang ditinggalkan mendiang Ayahnya sejak perusahaan Ayahnya bangkrut begitu besar ditambah biaya rumah sakit saat ibunya menjalani pengobatan membuat tabungan keluarga mereka terkuras habis.

Dulu Seo Na memiliki keluarga yang bahagia, ia kaya, Ayahnya memiliki sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri dan pada akhirnya bangkrut karena kerja sama yang buruk dengan perusahaan lain, sejak saat itu Ibu nya sakit-sakitan dan Ayahnya kabur begitu saja meninggalkan ia dan Ibu nya dengan banyaknya hutang dan akhirnya Ibu nya meninggal karena penyakit jantung yang ia derita. Sejak saat itu Seo Na hidup sendiri tanpa keluarga sebagai gantinya ia menjual rumah milik keluarganya dan memulai hidup di Apartemen yang kini ia tinggali selama lima tahun belakangan ini.

Sebenarnya gadis itu sangat penasaran pada kolega Ayahnya yang membuat perusahaannya bangkrut, ingin ia bertanya apa yang terjadi namun akses untuk bertanya pada kerabat Ayahnya terputus begitu saja, ia juga tak mengenal rekan bisnis Ayahnya saat itu Seo Na sedang menjalani kuliahnya dan tidak terlalu memperdulikan dengan siapa Ayah nya menjalin pekerjaan.

Dan setelah ia lulus gadis itu mulai mencari pekerjaan dan akhirnya ia bekerja di perusahaan yang sangat besar hingga saat ini. Awalnya ia ingin bertanya pada pemilik perusahaan itu, apakah atasannya mengenal Ayahnya tapi saat Seo Na berniat bertanya atasannya meninggal dunia dan posisi kepimimpinan perusahaan digantikan oleh anak laki-lakinya. Ya, pria itu adalah Cho Kyu Hyun, pria yang membuat Seo Na sesak napasnya hanya dengan menatap wajahnya.

Seo Na kembali teringat pada kejadian tadi siang, itu adalah pertama kalinya mereka bersentuhan secara langsung, kulit dengan kulit. Sebelumnya Seo Na hanya bisa menatap Kyu Hyun dari jarak yang tidak terlalu dekat. Dan lagi, Seo Na teringat pada kenangan tiga tahun yang lalu, saat pertama kali ia bertemu Cho Kyu Hyun di perusahaan milik pria itu, saat ia melempar senyuman pada Kyu Hyun didalam lift, saat itu hanya mereka berdua membuat atmosfer berbeda diantara mereka, sejak saat itu Seo Na selalu mengingat wajahnya dan tanpa disangka beberapa bulan berikutnya ia mendapati jika atasan barunya adalah Cho Kyu Hyun, anak dari Tuan Park pemilik perusahaan tempat ia bekerja.

Ponsel gadis itu tiba-tiba bergetar, Seo Na terjaga dari lamunannya lalu mengalihkan pandangannya pada layar ponselnya, kini bibir gadis itu membentuk ulasan senyum. Esok adalah peringatan kematian Ibu nya, ia akan berkunjung kepusara Ibunya esok hari. Gadis itu meneteskan air matanya, jika Ayahnya tidak kabur mungkin saat ini ia tidak akan merasa sendiri seperti ini.

~~~000~~~

“ada yang ingin Ibu bicarakan Kyu Hyun”. Suara khas milik Ibu nya mengusir keheningan sarapan pagi keluara Cho pagi ini. Kyu Hyun menatap Ibu nya, tidak terkecuali kakak dari pria itu, Ahra. “saat ini usiamu tidak lagi remaja, aku memikirkan banyak hal tentang masa depanmu”. Tambah Ibu-nya.

Kyu Hyun mengangguk, ia tau maksud dari wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu, ia tau jika Ibu-nya ingin ia segera menikah. Ahra juga tampak mengangguk paham.

“kau pasti tau maksud Ibu”. Wanita itu menghentikan kalimatnya, menghela napasnya panjang. “sebenarnya dulu Ayah mu sudah menyiapkan seorang gadis, tapi ada sesuatu hal yang menyebabkan perjanjian pernikahan diantara kalian di batalkan”. Kyu Hyun tertohok, matanya sedikit membelalak, namun kakak Kyu Hyun tampak paham, ia tau yang dimaksud Ibu mereka.

“seorang gadis?”. Tanya pria itu penasaran, ia meletakkan garpu dan pisau makannya dimeja. “bahkan Ayah tak pernah mengatakan apapun padaku”. Tambah Kyu Hyun, pria itu tampak kesal.

Ibu Kyu Hyun tampak tersenyum lemah. “karena waktu itu kau dan gadis itu masih sangat muda, gadis itu juga tak mengetahuinya.”. jelas wanita itu, tak berani menambahkan atau menjelaskan siapa gadis itu sebenarnya.
“siapa dia? apa aku mengenalnya? Kenapa kalian merahasiakan ini padaku?”. Paksa Kyu Hyun, otot leher pria itu tampak menegang.

“jika kau tau sekalipun aku yakin ia tak akan bersedia menikah denganmu, mungkin sekarang ia bertanya-tanya tentang kepahitan yang terjadi dalam keluarganya, dan jika ia tau yang sebenarnya ia akan pergi meninggalkan perusahaan kita, hanya dengan merahasiakan semua ini darinya kita bisa membantunya untuk tetap hidup tapi untuk lebih Ibu rasa tidak bisa lagi Kyu”. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Ibu-nya itu hanya membuat kepala Kyu Hyun terasa pusing, ia tau siapa yang dimaksud Ibu-nya, dan ia tau sekarang kenapa gadis itu dipekerjakan di perusahaan milik keluarganya. Park Seo Na, ya seharusnya jika Ayah gadis itu tidak berlaku curang pada perusahaanya mungkin saat ini ia sudah menikah dan hidup bahagia dengan gadis itu dan yang terjadi saat ini hanyalah Ia dan Park Seo Na hanyalah sebatas hubungan antara Atasan dan Bawahan.

Kyu Hyun menarik udara banyak-banyak disekitarnya, dan mengucapkan sesuatu yang membuat Ibu dan Ahra terkejut. “aku akan menikah dengannya, meskipun ia membenciku sekalipun”. Ujar pria itu tenang, lalu beranjak meninggalkan Ibu dan kakaknya yang kini saling menatap pilu. Ya, keduanya sudah tau jika Kyu Hyun sangat menginginkan Seo Na, Soo Hwan sudah menceritakan semuanya.

~~~000~~~

Ini sudah hampir jam makan siang tapi gadis yang di tunggunya belum juga muncul dihadapannya, gadis itu berjanji untuk mengantarkan dokumen yang sudah ia pesankan kemarin dan sampai detik ini Kyu Hyun masih menunggu seperti orang bodoh di dalam ruang kerjanya. Pria itu benar-benar gelisah, bahkan sekarang ia takut jika Seo Na mengetahui siapa dirinya, siapa keluarganya dan apa yang membuat gadis itu hidup dalam kesendirian seperti saat ini.

Suara kenop pintu memecah lamunan pria itu, dengan hati-hati seorang gadis masuk kedalam ruangannya, wajahnya tampak lesu dan matanya sedikit sembab, Seo Na terlihat dalam keadaan yang tidak baik.

“Maaf Tuan, aku terlambat”. Suara Seo Na terdengar lebih lemah, gadis itu juga mendunduk tak menatap Kyu Hyun sedikitpun membuat Kyu Hyun geram sekaligus penasaran apa yang terjadi pada gadis itu.

Kyu Hyun beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan kearah Seo Na berdiri persis disamping gadis itu dan tubuhnya menghadap ke arah Seo Na. “Apa yang terjadi? Apa kau tidak ingin bekerja lebih lama disini?”. Suara Kyu Hyun terdengar lebih rendah dari biasanya, membuat Seo Na berkedik, gadis itu semakin membenamkan kepalanya.

“sebelum ke kantor aku berkunjung ke makam Ibu-ku, maaf kan aku Kyu Hyun-ssi”. Akui gadis itu akhirnya, dan pengakuan gadis itu hanya membuat Kyu Hyun tertohok ditempatnya. Seharusnya ia tidak mengucapkan kalimat barusan, dan seharusnya ia simpati pada gadis itu tadi, mendengar pengakuan Seo Na membuat Kyu Hyun merasakan sakit didadanya. Ia bisa membanyangkan betapa beratnya hidup Seo Na saat ini dan itu hanya membuat Kyu Hyun ingin segera memiliki Seo Na membuat gadis itu bahagia.

~~~000~~~

Seo Na berusaha menatap mata Kyu Hyun dan itu hanya membuat nyeri pada pusat tubuhnya, dengan jarak seperti ini hanya membuat sesuatu dalam dirinya terjaga, ia merasa dewi hasratnya tengah menari-nari disekitarnya saat ini. seketika tubuh gadis itu kaku.

“maaf kan aku tentang itu”. suara Kyu Hyun terdengar melembut ditelinga Seo Na, ekspresi pria itu juga tak terbaca, Seo Na tau Kyu Hyun pasti kasihan padanya dan itu hanya membuat hatinya sakit, ia ingin Kyu Hyun menyukainya seperti ia menyukai pria itu bukan mengkasihaninya seperti saat ini.

“tidak, aku baik-baik saja. jangan kasihani aku karena hal itu Tuan”. Suara Seo Na sedikit meninggi dan bergetar. “aku permisi”. Tambah gadis itu lagi lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Kyu Hyun sebelum otak kotornya mulai bekerja lagi memikirkan bagaimana pria itu mencumbunya.

“aku ingin mengajakmu makan malam Park Seo Na”. Apa?! makan malam? . langkah Seo Na terhenti. “anggap saja aku berhutang padamu karena kau menyelesaikan laporan ini dalam satu malam, bagaimana?”. Tawaran yang dilontarkan Kyu Hyun padanya membuat gadis itu tergiur, makan malam dengan pria yang mengisi fantasi bercintanya. Benar-benar langkah, pikir Seo Na.

“jika kau bersedia, aku akan menjemputmu sekitar jam tujuh malam”. tambah Kyu Hyun akhirnya.

Seo Na tersenyum senang.”baiklah Tuan, aku permisi”. Ujar gadis itu akhirnya sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Kyu Hyun yang juga tersenyum ditempatnya. Malam ini adalah malam yang akan menjadi penentuan masa depan keduanya.

“Na-ya, kau akan jadi milikku. Apapun yang terjadi”. Ucapan Kyu Hyun menggema kesetiap penjuru ruangan kerjanya, seperti janji seorang kasatria.

~~~000~~~

Seo Na sudah siap, beberapa menit lagi mungkin Kyu Hyun akan sampai ditempatnya tapi apa pria itu tau Apartemennya yang usang ini? bagaimana pria itu tau? Pertanyaan yang mengitari otak gadis itu seketika lenyap ketika mobil mewah bewarna hitam mendekat kearahnya yang berdiri di depan gedung Apartemennya dan seseorang turun dari sana dengan tuxedo lengkap dengan dasi kupu-kupu, tatanan rambut yang begitu menawan, Kyu Hyun sangat tampan, lebih tepatnya benar-benar sangat tampan.

Kyu Hyun keluar dari mobilnya menatap pada gadis yang kini berdiri kaku di samping mobilnya. Seo Na mengenakkan Dress merah menyala diatas lutut, lekukan tubuhnya tercetak jelas dengan rambut yang ia sanggul keatas dan hiasan yang menempel pada rambut gadis itu. Seo Na tampak risih dengan pakaian yang ia kenakkan ditambah tatapan Kyu Hyun yang sejak tadi tak lepas memperhatikannya dari atas sampai bawah.

“kau siap?”. Suara Kyu Hyun mengalihkan tatapan gadis itu yang sejak tadi membungkuk dan pipinya memerah karena gugup. Kyu Hyun terkekeh geli didalam hatinya.

Seo Na mengangguk lalu berjalan menyusul Kyu Hyun dan masuk kedalam mobil ketika pria itu membukkan pintu mobil untuknya, dan lagi-lagi keinginannya untuk memiliki pria itu begitu besar.

“baiklah Nona Park, mari kita berangkat”. Suara Kyu Hyun yang begitu tenang sukses membuat wajah Seo Na merona, panggilan Nona Park untuknya terdengar begitu menggelikan ditelinga Seo Na saat ini.

~~~000~~~

Keduanya sampai didepan restoran mewah bergaya Eropa, Seo Na yakin harga satu piring makanan didalam sini sama dengan besar gajinya di perusahaan Kyu Hyun. Gadis itu menatap pilar-pilar kokoh yang bertengger rapi pada setiap tepi langit-langit restoran itu menambah kesan mewah dan megah, tempat ini memang sangat –Kyu Hyun- sekali, menggambarkan betapa mewahnya hidup pria dihadapannya ini.

Dulu saat ia masih menjadi anak pengusaha kaya Seo Na tak pernah menyempatkan diri untuk berjalan-jalan atau makan diluar dengan keluarga dan temannya, ia sibuk dengan sekolah dan kegiatan tambahannya. Seo Na termasuk gadis yang berprestasi di sekolah jadi ia akan lebih memilih menghabiskan waktu dikamar atau di sekolah untuk belajar.

“Park Seo Na, ini menu-nya”. Suara pria itu menghalau lamunan gadis itu dari pikirannya. Ternyata sejak tadi ia asik memperhatian hal-hal disekelilingnya tanpa sadar seorang pelayan kini tengah berdiri diantara mereka. Seo Na tersenyum kaku, dia menertawakan dirinya sendiri. benar-benar norak.

Seo Na mengambil daftar menu makanan dari tangan Kyu Hyun lalu menatap jajaran makanan yang tertera disana, gadis itu bingung disana hanya ada makanan Eropa dengan hurus alphabet tidak ada tulisan hangul sedikitpun bahkan ia tidak mengerti dengan gambarnya.

“aku mau ini”. tunjuk Seo Na asal, mukanya merah padam pasti Kyu Hyun berpikir jika dirinya benar-benar kampungan. Gadis itu mencoba menyembunyikan wajahnya dibalik poninya yang tergerai.

“tidak apa Seo Na, aku akan memilihkan yang enak untukmu”. Kyu Hyun tersenyum lalu bercakap-cakap pada pelayan yang menatap keduanya bingung, lalu pelayan itu berlalu meninggalkan keduanya.

Kyu Hyun menatap gadis yang berada dihadapannya itu, gadis lugu terlalu lugu hingga ia ingin sekali tersenyum melihat tingkah gadis dihadapannya ini. “apa kau tidak suka tempatnya?”. Kyu Hyun angkat bicara masih menatap kearah Seo Na yang membatu ditempat duduknya.

Seo Na menggeleng cepat. “tidak, aku sangat suka. Ini sangat mewah dan aku sangat suka”. Jawab gadis itu, senyumnya yang begitu cantik tergambar diwajahnya. Seo Na yang manis, ya sangat manis hingga Kyu Hyun ingin segera menyeret gadis itu ketempat gelap lalu menciumnya.

Seo Na memaksa matanya menatap Kyu Hyun walaupun ia tau efeknya sangat tidak bagus, ia tetap menatap mata pria itu. Kyu Hyun benar-benar tampan, pikir Seo Na.

“bernafas Seo Na, ekspresi wajahmu seperti senar biola yang akan putus”. Suara Kyu Hyun berhasil membuat muka gadis itu lagi-lagi memerah. Sial. Seharusnya ia tak balas menatap Kyu Hyun seharusnya ia menahan dirinya dan sekarang yang ia dapati adalah Kyu Hyun yang menertawakan kekonyolannya.

Makanan pesanan mereka tiba, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Kyu Hyun mengunyah makanannya sambil menikmati wajah Seo Na yang makan dengan lahapnya didepan matanya saat ini dan Seo Na kini sibuk dengan makanannya tanpa tau jika Kyu Hyun tengah memperhatikannya. Gadis itu sangat cantik, cara ia mengunyah pipinya yang gembul karena mengunyah makanan dan ekspresinya berubah-ubah ketika mencicipi makanan dihadapannya.

Malam ini Kyu Hyun berniat mengatakan apa sebenarnya yang menjadi tujuannya mengajaka gadis itu kemari. Ya sebelum terlambat ia akan mengatakan semuanya, tidak semua hanya beberapa. Tentang rahasia keluarga gadis itu akan tetap ia simpan dan akan ia katakan jika suatu saat nanti ia memiliki waktu yang tepat untuk mengatakan semua kebenaran tentang siapa dirinya.

Seo Na menyudahi makanannya, begitu juga dengan Kyu Hyun. Gadis itu menatap Kyu Hyun yang kini juga menatapnya. Seo Na mengalihkan pandangannya tidak ingin berkonsentrasi pada atasannya itu.

“kau suka?”. Suara Kyu Hyun menarik perhatian Seo Na. Gadis itu mengangguk. “bahkan umurmu sudah menginjak angka dua puluh tiga tahun dan cara makanmu masih seperti anak kecil”. Seo Na mengernyit, gadis itu menaikkan alisnya. Apa maksud pria ini?

Kyu Hyun mengulurkan tangannya kedepan, menghapus sisa makanan dari sudut bibir gadis itu dengan ibu jarinya membuat Seo Na terkesiap, gadis itu kaget bukan main dan hal itu sama dengan apa yang dirasakan pria dihadapannya itu mata mereka bertemu dengan jarak sedekat ini. Kyu Hyun menggeram mata pria itu menggelap ia tidak bisa lagi menahannya.

Setelah Kyu Hyun meletakkan beberapa lembar uang, ia menarik Seo Na dari dalam restoran itu tiba-tiba. Membuatgadis yang berada dalam genggamananya itu hanya terkejut dan mengikuti kemana langkah Kyu Hyun membawanya. Apa yang ia lakukan? Gadis itu mengerang dalam hatinya.

~~~000~~~

Keduanya sudah berada dalam mobil mewah milik Kyu Hyun, nafas Seo Na terengah-engah karena Kyu Hyun menariknya secara tiba-tiba. Ada ketakutan dari mata gadis itu ketika Kyu Hyun menyeretnya didepan orang-orang, apa pria itu marah? Pikir Seo Na. Tapi yang kini ia dapati hanyalah tatapan Kyu Hyun padanya, tatapan yang tak bisa gadis itu artikan dan Seo Na menuruti suara hatinya untuk membalas tatapan pria itu.

“Maaf, aku tak bermaksud menghancurkan suasana makan malam kita”. Ujar pria itu, memperdalam pegangannya pada stir mobilnya. Mobil mereka masih dihalaman parkir belum bergerak.

Maksud Kyu Hyun menarik gadis itu keluar agar ia tak memperburuk keadaan dengan mencium gadis itu didepan umum, tapi kenyataannya keadaannya semakin buruk ketika mereka hanya berdua didalam mobil yang sama, atmosfernya kian meledak-ledak.

“Kyu Hyun-ssi, apa terjadi sesuatu? aku pikir kau marah padaku”. Suara Seo Na terdengar serak, gadis itu menarik ujung Dress nya menahan rasa gugup. Apa yang dirasakan Seo Na saat ini hanyalah sesak didadanya yang terasa menghimpit, bukan karena sakit tapi karena ia sedang terperangkap dengan pria yang selalu mengisi fantasi bercintanya.

Mereka saling bertatapan.”Kyu Hyun-ssi, mungkin kau butuh istirahat tidak apa jika kita-“. Suara gadis itu tak terdengar lagi, matanya melotot, ada benda lembut yang menyentuh bibirnya mengatup bibir gadis itu hingga Seo Na tak bisa lagi berkata-kata.

Kyu Hyun menyambar bibir gadis itu, merasakan setiap sisi bibir Seo Na yang lembut. Ia benar-benar tak bisa menahan apa yang sudah terkubur dalam dirinya sejak ia mengenal gadis itu dan menginginkan Seo Na. Bibir mereka berpagut mesra, terdengar ecapan lidah dan bibir Kyu Hyun yang menghisap liar bibir Seo Na. Gadis itu memang sangat polos, Seo Na begitu pasif dan hanya menerima setiap perlakuan Kyu Hyun pada bibirnya, akhirnya pria itu melepas kontak diantara mereka tidak memberi jarak menempelkan keningnya pada kening gadis itu, merasakan napas Seo Na yang terengah-engah berhembus di wajahnya.

Kyu Hyun mengecap singkat bibir gadis itu sebelum ia mengatakan satu hal yang membuat gadis dihadapannya saat ini melotot.

“mari kita menikah, Park Seo Na”. Dan Seo Na hanya bisa menatap tak percaya pada ucapan yang dilontarkan Kyu Hyun padanya. Apa? ia tak salah dengarkan? Menikah?.

To Be Continue