Tag Archives: Kyuhyun

REVENGE BEFORE LOVE (5/?)

Standard

RERE_副本

REVENGE BEFORE LOVE (5/?)
Action, Romance. PG + 17
Cast :
Cho Kyu Hyun
Lee Dong Hae
Park Seo Na

Yoo Ra menuang susu dingin kedalam dua gelas yang berada dihadapannya, lalu berjalan menuju ruang televisi mendapati Seo Na yang masih menatap kosong kearah layar televisi, gadis itu tersadar ketika Yoo Ra menyodorkan segelas susu kearahnya, gadis itu meraih gelas berisi cairan putih itu sejenak lalu meneguknya.
Yoo Ra mengerutkan dahinya, selama ia mengenal Seo Na gadis itu tidak pernah seperti ini, tatapan kosong yang terlihat konyol untuk seorang Seo Na, tapi wajar saja jika gadis itu sudah banyak berubah, toh pangeran berkuda putihnya juga sudah ia temukan, ya meskipun alih-alih Kyu Hyun adalah pangeran berkuda putih setidaknya pria itu sudah merubah sedikit banyak sifat Seo Na yang awalnya sangat dingin menjadi sedikit lebih peduli dengan orang-orang dan lingkungan sekitarnya.
“apa yang terjadi dengan hari-harimu akhir-akhir ini? kau belum bercerita tentang liburan singkatmu ke mokpo bersama Dong Hae dan kasus kaburmu dari kantor tadi siang dengan Kyu Hyun, sepertinya kedua pria itu membuatmu prustasi ya?”. Tebak Yoo Ra asal, dan ia yakin tebakannya memang tidak salah, siapa lagi pria yang ada didalam hidup gadis itu kalau bukan Kyu Hyun dan Dong Hae, ya kedua pria yang sangat jauh berbeda dan kadar ketampanan yang juga berbeda.
Seo Na menekan pelipisnya merasakan nyeri disekujur tubuhnya seketika, terlalu banyak problema yang ia hadapi akhir-akhir ini tapi entah kenapa semua itu membuat hidupnya lebih bewarna. “setelah ini aku harus mendapatkan cuti dan berlibur panjang, atau menyempatkan diri ketempat pijat refleksi untuk mengendorkan semua saraf-saraf ditubuhku yang menegang dan aku yakin bisa putus kapan saja”.
Yoo Ra terkekeh geli mendengar keluhan Seo Na yang lebih terdengar seperti protes keras pendemo dijalanan. Gadis itu memijit tangan Seo Na membiarkan sahabatnya itu merasakan pijatannya yang memang tidak seberapa enak tapi sukses membuat Seo Na tersenyum. “akhirnya kau mengerti juga jika aku membutuhkan yang semacam ini”. ujar gadis itu, Yoo Ra hanya mencibir.
“karena kau adalah sahabatku, dan kau disukai oleh dua orang pria yang tampan, ehmm maksudku tiga pria tampan-“.
“tiga?”.
“Eun Hyuk sepertinya masuk dalam peritungan”. Seo Na melongos, ia baru sadar setelah Yoo Ra mengucapkan nama pria itu, sudah beberapa hari ini Eun Hyuk menghubunginya, tapi gadis itu malah enggan mengangkat panggilan pria itu dan juga tidak membalas pesan singkat dari Eun Hyuk, sudah cukup dua pria yang membuatnya pusing jangan ditambah lagi dengan pria lain, ia benar-benar akan ke pisikiater setelah ini, pikir gadis itu.
“jadi ceritakan padaku, apa yang terjadi dan membuatmu seperti ini”. paksa Yoo Ra, Seo Na akhirnya menyerah dan menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dengan Dong Hae, dan juga antara dirinya dengan Kyu Hyun. Sejujurnya Seo Na ingin memakai sifat -tidak mau pedulinya- seperti biasa, tapi kedua pria itu membuatnya benar-benar perduli. Bagaimana bisa dua orang pria mengungkapkan perasaanya dalam jarak waktu 3 hari.
Yoo Ra membulatkan matanya, merasa begitu bangga dengan sahabatnya itu, jadi selama ini ia salah menganggap Seo Na seorang gadis jadi-jadian karena sekarang terbukti jika banyak pria yang tergila-gila dengan gadis itu apa lagi pria yang memiliki kadar ketampanan diambang batas, siapa yang tidak suka.
“jadi kau akan memilih siapa?”. tanya Yoo Ra tak sabaran, jika ia menjadi Seo Na, Yoo Ra akan menerima kedua-duanya tapi karena ia bukan Seo Na ia tidak bisa memilih siapapun.
Seo Na menggelang pasrah, otaknya sudah cukup buntu saat ini jadi ia tidak ingin otaknya semakin buntu lalu otak itu meloncat keluar dari kepalanya karena tidak tahan memikirkan hal yang rumit seperti yang gadis itu rasakan saat ini, tidak lucu jika otak gadis itu meloncat keluarkan?
“aku sedang tidak ingin memikirkan apapun, kenapa aku harus dihadapkan dengan hal yang seperti ini?”. gadis itu hanya melongos, membuat Yoo Ra juga ikut pusing.
“aku tidak menyangka Kyu Hyun-ssi akan mengajakmu menikah secepat itu, dan ancamannya juga cukup mengerikan. Tapi jika aku jadi kau aku juga akan bingung harus berbuat apa. kalau begitu bagaimana menerima keduanya saja?”. oceh Yoo Ra yang direspon tatapan sinis sahabatnya itu, Yoo Ra malah terkikik tidak ambil pusing dengan kemarahan Seo Na yang tidak mengerikan seperti dulu lagi.
“aku rasa aku benar-benar harus kepisikiater setelah ini, lalu berlibur ke Verona agar mendapat pencerahan dari Juliette disana”. ucap Seo Na sambil membayangkan kota Verona ketika ia pertama kali datang kesana dan menemukan begitu banyaknya wanita-wanita yang mengunjungi rumah Juliette untuk mengadu, jadi ia tau sekarang kenapa gadis –gadis itu tampak prustasi, ternyata cinta itu tidak hanya menyakitkan tetapi juga rumit.
~~~000~~~
“Eomma ingin membicarakan sesuatu denganmu Kyu Hyun-ah, mungkin ini waktu yang tepat untuk membicarakannya”. Kyu Hyun mengadah setelah mendengar rentetan kalimat Ibunya yang terdengar serius, malam ini pria itu menginap dirumah Ibunya.
“apa?”. tanya pria itu, sambil tetap melanjutkan makan malamnya bersama wanita itu. Ibu Kyu Hyun tampak tersenyum melihat Kyu Hyun yang begitu lahap mengunyah makanannya.
“aku dan kakakmu Ahra sudah membicarakan hal ini, karena kau adalah satu-satunya pewaris tunggal dikeluarga kita aku sangat berharap banyak padamu”. Wanita itu terdiam sejenak, mendapati Kyu Hyun yang kini sudah menghentikan acara kunyah mengunyahnya dan serius mendengarkan Ibunya itu. “karena usiamu sudah tidak muda lagi, aku rasa sudah sepantasnya kau menikah. Maksudku, kau harus punya keturunan untuk tetap memimpin perusahaan sebesar itu, karena jika tidak harta warisan tidak akan diserahkan kepadamu”.
Kyu Hyun tertohok mendengar rentetan kalimat dari Ibunya itu, menikah? Bagaimana ia bisa menikah, sedangkan pria itu saja belum sempat memikirkan hal yang demikian, ia baru saja menemukan gadis yang ia cintai seumur hidupnya dan tidak ada waktu untuk menyuruh gadis itu menyukainya, dan ia tidak akan menikah dengan siapapun selain dengan gadis itu.
“setidaknya kau harus mempunyai keturunan”. Lanjut wanita itu, Kyu Hyun berdelik menyambar gelas yang berisi air mineral lalu meneguknya banyak-banyak, ia benar-benar merasa sangat haus kali ini. “kau sudah menemukannya bukan?”. Tebak wanita itu, Kyu Hyun menatap ibunya tak percaya, bagaimana wanita itu tau tentang apa yang sedang terjadi?
“aku baru saja menemukannya, aku belum sempat membuatnya mencintaiku”.
“tidak perlu, kau hanya perlu menikahinya setelah menikah ia bisa jatuh cinta kepadamu. Kalau kau tak bersedia aku bisa mencarikan wanita lain”.
“tidak-tidak, bukan begitu”. Sergah pria itu cepat, bagaimana ia bisa menikah dengan wanita lain setelah ia menemukan gadis yang ia tunggu-tunggu selama bertahun-tahun lebih baik ia memaksa gadis itu mau menikah dengannya, bagaimanapun caranya.
“baiklah kalau itu yang kau mau, kapanpun kau membawa gadis itu kehadapanku aku akan berbicara dan menjelaskan semuanya, pantas saja kau tidak menerima kakaknya selama ini ternyata yang kau mau itu adiknya”. Goda wanita itu, Kyu Hyun salah tingkah ia berpikir pasti kakaknya Ahra yang memberi tahu ibunya, ya tentu saja Ahra tau karyawan dikantor yang tidak asing lagi dengan gosip tentang pemimpin perusahaanya itu.
“aku kira ini tidak akan menjadi berita heboh dikantor”. Ucap Kyu Hyun, Ibu Kyu Hyun terkekeh melihat perubahan sikap anaknya yang menggelikan dari biasanya itu, Kyu Hyun biasanya selalu kaku dan pendiam hanya berbicara seperlunya dan jarang sekali melihatkan ekspresinya.
“cinta memang bisa merubahmu menjadi lebih baik Kyu Hyun-ah”. Gumam wanita itu akhirnya.
~~~000~~~
Kyu Hyun mengingat lagi pembicaraanya dengan Ibunya beberapa hari yang lalu, Ibunya benar pria itu harus menikah dan mempunyai keturunan jika ingin tetap memimpin perusahaan dan mendapatkan warisan dari mendiang Ayahnya. Kyu Hyun adalah anak laki-laki satu-satunya jadi ia harus bertanggung jawab atas keluarganya dan menikah adalah salah satunya yang harus ia laksanakan dalam waktu dekat ini, lagi pula setelah menjalin kerja sama dengan PTI Corp perusahaan Kyu Hyun semakin mendapatkan kesuksesan yang begitu besar dari kesuksesan yang sebelumnya dan perusaan sebesar itu harus terus berada dibawah tanggung jawabnya seperti apa yang sudah dipesankan mendiang Ayahnya saat beliu meninggal dunia.
Tapi bukan itu masalah utama yang kini dipikirkan pria itu, tapi lebih pada masalah dirinya dan gadis yang bernama Park Seo Na. Bukan ia tidak bisa mencari wanita lain dan melahirkan keturunannya tapi yang ia mau dan satu-satunya yang ia inginkan menikah dan melahirkan anak untuknya hanyalah Seo Na jadi tidak akan ada kamus wanita lain didalam hidupnya, dan sekarang ia hanya harus lebih keras mendapatkan Seo Na bila perlu menculik gadis itu dan menikahinya. Ya meskipun Kyu Hyun tau ini sama saja dengan pekerjaan menangkap harimau liar.
Kyu Hyun tersentak ketika mendapati suara dentingan bel dari luar apartemennya, jika bukan Ye Sung pasti itu Dong Hae yang setidaknya hanya dua pria itu yang terus merecokinya tapi bukan masalah bagi pria itu. Kyu Hyun melangkah menuju pintu utama ia menekan ganggang pintu namun sedetik kemuan tak menemukan orang diluar apartemennya namun ketika Kyu Hyun mengalihkan pandangannya kebawah tatapan pria itu terhenti pada selembar kertas yang terlipat rapi dilantai, alis pria itu terangkat lalu menyambar kertas itu dan menuju dalam apartemennya.
Pria itu teringat dengan kejadian yang ia alami beberapa waktu lalu, kertas yang menjadi peringatan dan penunjuk baginya tentang siapa Park Seo Na dan sekarang ia juga menemukan kertas yang sama namun ia tidak tau persis apa isinya yang kali ini, dengan hati-hati pria itu membuka lipatan surat dan menemukan rentetan kalimat-kalimat didalam sana, seketika jantung pria itu berdesir hebat, dengan cepat ia meraih jaketnya lalu menyambar remote mobilnya menuju suatu tempat.
~~~000~~~
Seo Na melilitkan handuknya dikepala, gadis itu baru saja selesai mandi setelah Yoo Ra meninggalkannya diapartemen sendirian, sahabatnya itu kembali ke lantai bawah dimana apartemennya berada. Seo Na menghela napasnya panjang, jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam setelah ini ia bisa beristirahat dengan tenang dan berharap esok hari ia bisa mendapati didinya yang hanya bermimpi selama ini mengenal dua orang pria yang bernama Kyu Hyun dan Dong Hae yang membuatnya cukup pusing.
Belum sempat gadis itu melangkahkan kakinya menuju dapur dentingan bel apartemennya mengalihkan langkah gadis itu menuju pintu utama, meski dalam hati gadis itu mengutuk-ngutuk orang yang sudah memutuskan bertamu larut malam seperti ini. menit kemudian Seo Na membuka ganggang pintu dan sama sekali tidak mendapati seorangpun diluar apartemennya, kali ini ia hanya mendapati kertas putih yang tergeletak dilantai.
Seo Na mengerinyit, memutuskan membaca isi kertas itu, setelah tuntas membaca deretan kalimat dalam kertas itu Seo Na memutuskan berganti pakaian melesat menuju tempat yang disebutkan oleh orang itu didalam kertas yang ia tunjukkan pasa Seo Na.
“Jika kau ingin tau siapa yang sudah menembakmu, kau bisa datang ketempatku malam ini, Nona Park Seo Na”.
Setidaknya seperti itulah tulisan yang tertera disana, Seo Na bukan tipe orang yang takut dengan masalah yang dihadapinya terlebih lagi tentang orang-orang yang dendam dengannya, mungkin ini hanya sebuah kesalah pahaman, setelah ia menyelesaikannya ia tidak akan menerima teror apapun. Ia juga tidak butuh bantuan Lee Teuk dengan memperpanjang masalah kepengadilan, lebih baik dengan cara yang lebih privasi saja, pikir gadis itu.
~~~000~~~
“Hyung, kau dimana? Bisa ketempatku sekarang? Aku akan mengirimkan alamatnya melalui pesan”. Tanpa banyak berbasa-basi Kyu Hyun mematikan sambungan teleponnya dengan Dong Hae diujung sana, dengan cepat pria itu mengirimkan alamat yang ia dapatkan dari kertas misterius yang penuh ancaman itu, setidaknya Dong Hae harus tau, ia jika tidak ingin mati konyol menghadapi orang-orang jahat yang akan ia temui, Kyu Hyun akan lebih cerdik tentang hal itu.
“Park Seo Na bersamaku, apa yang harus aku lakukan padanya? Apa aku harus menembaknya lagi, kali ini aku akan menembaknya tepat pada sasaran. Jika kau mencintai gadis ini kau bisa datang menyaksikan gadis ini terbunuh dihadapanmu”
Setiap kalimat yang berada didalam kertas itu terus menari-nari didalam otaknya, bagaimana gadis itu dengan mudah bisa masuk kedalam jebakan orang-orang yang ingin mencelakainya itu, setelah ini ia bersumpah ia akan menikahi gadis itu tidak peduli jika Seo Na mau atau tidak, setelah itu ia akan membuat kurungan besi untuk Seo Na agar tidak ada orang yang menyakitinya, demi Tuhan Kyu Hyun benar-benar ingin membunuh orang-orang yang menyakiti gadisnya.
Kyu Hyun memarkirkan mobilnya disembarang tempat, sebuah gudang tua yang cukup jauh dari hiruk pikuk kota, dan penculik itu cukup cerdas membawa Seo Na dan membekap gadis itu didalam sana. Kyu Hyun membawa pistol pribadinya, pistol yang ia pergunakan jika sewaktu-waktu bahaya mengancam dirinya, lagi pula pria itu sudah memiliki surat izin menggunakan senjata api.
Kyu Hyun berjalan perlahan sebelum akhirnya Dong Hae datang dan juga memarkirkan mobilnya tergesa, keluar dengan tampang bingung setengah mati.
“apa yang terjadi? Ada apa dengan tempat ini?”. tanya Dong Hae panik, Kyu Hyun menjelaskan dengan singkat dan detail sebelum mereka memutuskan mencari Seo Na didalam bangunan tua itu, Dong hae terhenyak kaget bahkan pria itu kini lebih ambisius dari Kyu Hyun untuk segera mendapatkan Seo Na, sebelum akhirnya keduanya memencar mencari Seo Na, Kyu Hyun memelih gudang yang berada dibelakang sedangkan Dong Hae memutuskan menggeledah bangunan tua yang tepat pada depan gudang.
~~~000~~~
Seo Na mengerang kesakitan, setelah kedua pria bertubuh besar itu mengikat pergelangan tangannya dan membekab mulut Seo Na hingga gadis itu hanya bisa bergumam kesakitan. Setelah memutuskan mengikuti skenario seseorang yang memberikan kertas itu didepan pintu apartemennya, Seo Na memutuskan ketempat itu sebelum akhirnya ia melihat dua orang pria bertubuh tegap menarik tubuhnya dan menyeretnya kedalam gudang tua itu dengan paksa tepat saat ia baru saja melangkahkan kakinya dari dalam mobil miliknya.
Seo Na kembali mengeluarkan suaranya yang tertahan ketika salah seorang dari kedua pria itu menendang pergelangan kakinya lalu mereka sama-sama tergelak, sebenarnya tidak hanya dua orang pria disana, tapi juga ada satu orang wanita yang menggunakan topi , kaca mata hitam, dan masker bewarna coklat tua yang menutupi bagian hidung dan mulutnya, wajahnya sama sekali tidak bisa dikenali Seo Na.
“aku suka ketika mendengarmu merasakan rasa sakit itu, aku begitu bahagia”. Ucap wanita itu akhirnya, suaranya tidak terlalu jelas namun kalimat yang ia ucapkan masih bisa dimengerti Seo Na. Seo Na menatap gadis itu bengis, ia tidak merasa kalah diraut wajahnya ia masih berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja dan kuat.
“tatapanmu itu membuatku jijik Park Seo Na, kau gadis sombong yang memuakkan! Gadis serakah! Setelah pria itu datang kemari, aku akan menghabisimu tepat dihadapannya, aku ingin ia menangis melihat orang yang ia sukai menderita!!! Dan pastinya kau sangat menyesal bukan saat itu tidak jadi membunuhnya, aku ikut perihatin dengan dendammu yang berlebihan itu”. lanjut gadis itu, Seo Na tetap menatapnya tajam, memicingkan matanya kearah gadis itu.
“buka penutup mulut gadis itu, aku ingin dengar ia berbicara apa, lagi pula sepertinya ia harus mengucapkan kata-kata selamat tinggal sebelum kematian menjemputnya”. Ujar gadis itu, sebelum akhirnya salah satu pesuruhnya membuka sapu tangan yang menutupi mulut Seo Na.
Seo Na mengambil udara banyak-banyak, tersenyum masam kearah gadis yang berada dihadapannya saat ini, gadis itu tidak akan terpancing emosi, ia tidak ingin wanita itu tertawa penuh rasa kemenangan melihatnya saat ini.
“kau kira aku takut? Cih! Sejengkalpun kematian menjemputku, aku tidak akan takut! Wanita pengecut!”. Geram Seo Na, tetap menatap tajam pada gadis yang kini sudah siap melayangkan pukulannya kepipi Seo Na.
Sebuah tamparan keras tepat mengenai pipi mulus gadis itu, tamparan yang belum ada apa-apanya dengan semua penderitaan yang selama ini ia rasakan, ia tidak akan merintih kesakitan selama ini ia lebih banyak menemui rasa sakit dari pada semua ini.
“kau kira aku merasa sakit? Terlalu banyak rasa sakit yang lebih sakit yang aku rasakan dari tamparan itu, jadi jangan beranggapan aku akan memohon padamu”. Ucap gadis itu, meski kini disudut bibirnya darah mulai mencuat dan terasa nyeri ia tetap pada penderiannya ia tak akan merintih kesakitan, terlalu bodoh baginya.
Gadis dihadapannya itu kini tertawa renyah, ia bahkan tak segan-segan menyuruh kedua pesuruhnya untuk memukuli tubuh Seo Na tapi tetap saja Seo Na hanya diam dan menerima semua perlakuan yang orang itu berikan padanya, Seo Na merasa ini mungkin hukuman baginya karena selama ini menaruh dendam pada orang yang salah, selama ini ia tidak terlalu peduli dengan orang-orang disekitarnya, dan mungkin banyak kesalahan yang tak ia sadari jadi mungkin ini adalah balasannya, pikir gadis itu.
“PARK SEO NA!!!”. Teriakan seorang pria menghentikan pukulan-pukulan keras pada tubuh gadis itu, Seo Na tersenyum, disaat seperti ini bagaimana ia bisa mendengar suara pria itu, apa karena ia terlalu banyak membenci Kyu Hyun sehingga sekarang gadis itu bisa-bisanya mendengar suara Kyu Hyun diujung napasnya.
“PARK SEO NA!!!”. Kali ini suara makin jelas terdengar, Seo Na mendongak dan benar saja gadis itu kini menemukan sosok Kyu Hyun tengah berdiri tegap tepat didepan pintu gudang tempat Seo Na disekap, pria itu datang dan menemukan Seo Na disini, bagaimana bisa? pikir gadis itu.
“Wah! Akhirnya kau datang Tuan Cho? Hanya sendiri? kau cukup berani”. Terdengar suara tawa kemenangan dari wanita yang kini sudah bertepuk tangan menyambut kedatangan Kyu Hyun diantara mereka, dengan begitu ia akan lebih mudah membuat Seo Na menderita.
“lepaskan gadis itu atau kau yang akan ku bunuh disini”. Ancam pria itu, terlihat jika ia kini tengah memusatkan pandangannya pada tubuh Seo Na yang tengah terikat disebuah kursi kayu dengan kondisi yang sangat jauh dari kata baik. pria itu dengan jelas melihat banyak darah dan luka ditubuh Seo Na, ia bersumpah akan membunuh orang-orang yang membuat gadis-nya menderita sebanyak ini.
Kedua pesuruh wanita itu sudah menghadapkan satu pistolnya tepat kekepala Seo Na, dan satunya lagi mengarah kearah Kyu Hyun, sedangkan wanita itu hanya berdiri sambil melipat kedua tangannya didada, merasa menang ia hanya tersenyum hambar menyaksikan kedua manusia yang ia benci itu terbunuh sekaligus.
“bagaimana permainan ku Tuan Cho? Apa kau suka dengan permainan ku ini? aku sangat menikmati wajahmu yang begitu mengkhawatirkan gadis ini, bagaimana kau sangat begitu mencintainya sedangkan gadis ini sempat ingin membunuhmu”. Ejek gadis itu, menatap wajah Kyu Hyun bengis sedangkan pria itu sudah tidak tahan untuk mengeluarkan pistol didalam saku celananya. Melihat Seo Na begitu, sama saja dengan membuat beberapa urat saraf diotaknya menegang, itu Seo Na-nya gadis yang ia cintai setengah mati.
“Cho Kyu Hyun, kau boleh pergi cukup bermain dengan iblis ini, aku bisa menyelesaikan urusanku”. Akhirnya Seo Na angkat bicara setelah sebelumnya diam, menikmati semua nyeri ditubuhnya yang bahkan membuatnya tak mampu mengurai satu kalimatpun, kedatangan Kyu Hyun sama saja dengan membawa pria itu kedalam penderitaannya.
Kyu Hyun menarik pandangannya kearah Seo Na, pria itu ingin sekali memeluk Seo Na saat ini membersihkan semua luka ditubuh gadis itu sampai tak tersisa sepertinya rencananya mengurung Seo Na disangkar besi benar-benar akan dilakukannya.
“Tuan Cho kau tidak dengar gadis itu ingin kau meninggalkannya? Sepertinya gadis itu benar-benar tak menyukaimu ya? sayang sekali jika ia harus mati disini-“.
‘DORRR!!!’
Suara tembakan itu menjatuhkan seorang pria yang tadinya mengacungkan monconng pistolnya kearah Seo Na, pria itu kini tersungkur ketanah dan beberapa detik kemudian dengan cepat Kyu Hyun mengarahkan pistolnya kearah pria yang tadinya mengacungkan moncong pistolnya kearah Kyu Hyun, Kyu Hyun mengeluarkan beberapa tembakan sehingga pria itu kini sudah terjatuh bersimbah darah ditanah. Semua terjadi dengan cepat, Kyu Hyun menarik pandangannya kesisi lain ternyata yang baru saja membunuh salah seorang pria itu adalah Lee Dong Hae yang datang dari pintu lain digudang tua itu.
Kyu Hyun tersenyum kearah Dong Hae, sedetik kemudian ketika pria itu hendak mengarahkan moncong pistolnya kearah wanita itu, ia sudah melesat meninggalkan mereka didalam gudang ternyata gadis itu sudah merencanakan kemungkinan terburuknya dan memilih kabur dari mereka bertiga, Kyu Hyun mengerang kesal sedangkan Dong Hae memilih mengejar wanita itu hingga ia menemukannya, pria itu tak kalah muak dengan semua ini melihat kondisi Seo Na saat ini membuatnya sama sakitnya seperti Kyu Hyun.
“kau bisa menjaganya kan? Aku akan mengejar wanita itu untuk Seo Na”. Ujar Dong Hae sebelum akhirnya meninggalkan Kyu Hyun dan Seo Na didalam gudang tua itu.
Kyu Hyun setengah berlari kearah Seo Na, hal pertama yang akan dilakukannya adalah melepaskan ikatan pada pergelangan tangan dan kaki gadis itu. “Na-ya, kau baik-baik saja? apa kau masih sadar?”. Ucap pria itu ketika melepas tali pengikat tangan Seo Na.
Seo Na bergumam namun lebih tepatnya mengerang kesakitan, sudah cukup baginya bersandiwara sok kuat sejak tadi sekarang tidak ada lagi wanita yang mencelakainya itu. “sakit”. Ucap gadis itu bergetar.
“aku akan membawamu kerumah sakit, tenanglah”. Kyu Hyun segera menarik tubuh Seo Na kedalam pelukannya lalu menggendong tubuh gadis itu menuju mobil, dan tujuan pertama untuk menyelamatkan gadis itu adalah rumah sakit, ia tidak akan membiarkan Seo Na merasakan pediahnya goresan luka dan lebam akibat pukulan ditubuhnya, bagiamanapun Seo Na-nya gadis itu harus bebas dari rasa sakit apapun, Kyu Hyun bersumpah.
~~~000~~~
Yoo Ra mengangguk paham setelah menerima telepon dari Lee Teuk dan mendengarkan semua instruksi dari pria itu, kini Lee Teuk dan Dong Hae sedang mengejar wanita yang mencelakai Seo Na sampai keperbatasan kota Seoul. LeeTeuk tak kalah panik, setelah Dong Hae menghubunginya pria itu langsung ikut mengejar pelaku penculikan Seo Na. Dan Yoo Ra mendapat telepon dari Kyu Hyun dan menyuruh gadis itu segara menyusul mereka kerumah sakit.
Awalnya Yoo Ra tak habis pikir bagaimana gadis itu bisa-bisanya menerima permainan yang seharusnya ia tau akan mencelakai dirinya itu dan kini gadis itu sudah berbaring diranjang rumah sakit dengan luka dan lebam disekujur tubuhnya, belum lama luka tembakan dibahu gadis itu mengering kini sudah banyak luka-luka baru ditubuh gadis itu, Yoo Ra mengerang kesal.
“Yoo Ra-ssi, kau bisa menjaga Seo Na? Aku harus keruangan Dokter untuk menanyakan kabar gadis itu”. Kyu Hyun baru saja keluar dari kamar Seo Na, gadis itu masih istrahat setelah beberapa perawat membersihkan luka-lukanya dan gadis itu segera tertidur.
Yoo Ra mengangguk. “baiklah, aku akan menjaga Seo Na”. Ucap gadis itu, sebelum akhirnya Kyu Hyun meninggalkannya.
~~~000~~~
Yoo Ra menyibakkan tirai yang menghadap langsung kepemandangan kota Seoul, jam sudah menunjukkan pukul dini hari suasana kota tampak mulai tenang meskipun dari atas gedung rumah sakit ini masih terlihat beberapa kendaraan yang berlalu lalang, kota Seoul tempat mereka tinggal dan dilahirkan memang tak pernah sepi. Ditambah dengan lampu-lampu jalanan dan lampu-lampu gedung pencakar langit yang menambah ramainya kota dimalam hari. Tapi bukan itu yang ada dipikitan Yoo Ra saat ini, namun gadis yang kini tertidur pulas diranjang inapnya dengan beberapa plaster yang menutupi luka-lukanya, yang tak tertupi hanya beberapa lebam diwajah dan tangannya yang jelas terlihat saat ini.
Yoo Ra tau betul bagaimana Seo Na, bagaimana gadis itu menjalani hari-harinya selama ini dan sekarang ada-ada saja orang-orang yang begitu membenci Seo Na hingga membuat gadis ini dua kali masuk rumah sakit dalam waktu singkat. Gadis itu menarik napasnya gusar, harusnya malam itu ia tidak kembali ke apartemennya dan menjaga Seo Na bisa saja gadis itu berpikir dua kali untuk datang ke tempat ia disiksa beberapa jam yang lalu, akhirnya Yoo Ra hanya bisa berpikir untuk segera menyerahkan Seo Na pada pria yang mencintai dan bisa melindunginya, entah itu Dong Hae atau Kyu Hyun siapapun diantara mereka Seo Na tidak harus mendapatkan penderitaan seperti ini lagi, sudah cukup.
“Yoo, kau sedang menangis ya?”. suara serak gadis itu menghalau lamunan Yoo Ra, gadis itu mendongak mendapati wajah Seo Na yang kini tengah menatap kearahnya.
“kau sudah bangun? Kenapa tidak tidur saja? ini masih malam, kau pasti lelah kan?”. Ujar gadis itu, ia tidak ingin Seo Na tau jika kini ia sedang menangis meratapi nasib sahabatnya itu, ia tidak ingin setelah kegilaan gadis itu kembali kepada titik normalnya ia akan menertawai Yoo Ra karena sudah mau menangis karenanya.
“aku sudah tidur tadi, kau kenapa tidak tidur? Ini sudah sangat larut malam kan? Sepertinya beberapa jam lagi matahari akan muncul”. Ucap Seo Na masih dengan ekspresi datar dan terlihat berusaha baik-baik saja.
Yoo Ra menggelang, mengusap punggung tangan sahabatnya itu. “aku akan menjagamu, kau tidur saja Na-ya”. Yoo Ra berusaha tersenyum, meskipun gadis itu ingin sekali menangis mendapati wajah Seo Na yang sudah penuh dengan luka dan memar, meskipun kadar kecantikan gadis itu tak akan berkurang sedikitpun.
“aku baik-baik saja Yoo. Hmm Kyu Hyun dimana?”. Akhirnya gadis itu menanyakan Kyu Hyun, setidaknya ia tau jika pria itu dengan susah payah menggendong tubuhnya kerumah sakit meskipun ia yakin bobot tubuhnya tergolong tidak ringan.
“dia sedang menemui Dokter, setelah ini ia akan menemuimu. Kau merindukannya ya?”. goda Yoo Ra, Seo Na menyipitkan matanya yang terlihat lebam dipelipis disebah kirinya, gadis itu menggeleng.
“tidak, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya”. Ucap gadis itu lalu mengalihkan pandagannya kearah luar jendela yang langsung menyuguhkan pemandangam lampu-lampu gedung pencakar langit. “Yoo, apa gadis itu sangat membenciku? Apa selama ini aku pernah berbuat jahat? Kenapa ia sangat membenciku?”. Ujar gadis itu getir, ekspresinya tetap datar namun Yoo Ra bisa membaca dari mata gadis itu jika Seo Na sangat terluka.
“tidak, kau baik sangat baik. bahkan kau adalah sahabat terbaik didunia. Setelah ini aku akan melaporkanmu ke Guiness Book of Record, sebagai pemecah rekor sahabat terbaik sepanjang masa”. Racau Yoo Ra mengeluarkan candaan-candaan yang sering Seo Na lakukan padanya.
Seo Na terkekeh geli, lalu menatap Yoo Ra dengan tawa tertahan gadis itu tidak bisa terlalu lebar membuka mulutnya, sudut bibir gadis itu masih terluka. “haha oke, kau juga akan ku laporkan ke Guiness Book Of Record sebagai pemecah rekor sahabat yang membuatku jengkel sekaligus sahabat yang mau menerima ku apa adanya”. Celetuk Seo Na, keduanya kini sama-sama tertawa tanpa menyadari jika Kyu Hyun kini sudah berdiri diambang pintu menatap gadisnya yang sudah tertawa diatas ranjang rawatnya, sudut bibir Kyu Hyun tertarik keatas mendengar tawa Seo Na yang begitu terdengar bahagia.
Kyu Hyun berdeham, Seo Na dan Yoo Ra serentak menatap pria itu. kini Kyu Hyun menatap kedua gadis itu bergantian. “sudah baikkan?”. Ucap pria itu, lalu melangkahkan kakinya kesamping ranjang Seo Na dan menatap wajah gadis itu yang kini juga tengah menatapnya.
“sangat baik, jauh lebih baik dari sebelumnya”.
“sok kuat”. Ejek Kyu Hyun, pria itu kini beralih menatap Yoo Ra tanpa memperdulikan wajah Seo Na yang jengkel.
“Dokter bilang kalau besok pagi gadis ini sudah bisa pulang”. Ujar Kyu Hyun, Yoo Ra mengangguk paham lalu terkekeh kecil menatap Seo Na yang sudah memajukan bibirnya beberapa senti. “dan kau Nona Park, mulai besok kau akan tinggal dirumah ibu-ku sebelum kondisimu benar-benar baik. Ahra Noona akan mengurus semuanya, lagi pula pelayan dirumah ibuku banyak yang kurang bekerja jadi mereka bisa mengawasimu, mengerti?”.
“APA?! Bagaimana kau bisa memutuskan hal yang semacam itu secara sepihak, kau bahkan tidak menanyakan persetujuanku, memangnya aku mau?”. Protes Seo Na menaikkan nada suaranya tidak terlalu peduli lagi dengan sakit disudut bibirnya.
“sampai kiamatpun kau juga tidak akan mau menerima perintahku”. Tandas Kyu Hyun lalu memilih duduk dikursi yang tidak jauh dari ranjang Seo Na. “aku akan memberi tau Lee Teuk Hyung, dan Yoo Ra sudah menyetujuinya”.
“Dong Hae-ssi?”.
“memangnya kenapa dengan dia? kau pikir dia akan rela-rela menjagamu? Sedangkan mengurus dirinya saja dia tidak becus, apa lagi mengurus gadis merepotkan dan keras kepala sepertimu, jikapun ia mengirimmu ke ibunya kau mau tinggal dimokpo lalu perusahaanmu jatuh ketanganku dan aku akan mengambil semua hartamu, kau mau?”. Ancam pria itu yang sebenarnya tidak benar sungguh-sungguh, Seo Na menatap Kyu Hyun tajam membuang pandangannya pada pria itu lalu memilih memejamkan matanya, sedangkan Yoo Ra memilih kabur dari dalam kamar inap Seo Na sebelum lebih banyak mendengar percecokan diantara kedua manusia yang kadar gilanya tidak jauh beda ini.
“terserah kau saja”. ucap Seo Na akhirnya, gadis itu menyerah lagi pula tidak ada pilihan lain.
“bagus! Kalau begitu setelah luka-lukamu pulih kita akan menikah”.
“APA???!!!”.
~~~000~~~
Dong Hae memutar kenop pintu ruang inap itu, mendapati Seo Na yang kini tengah duduk diatas ranjangnya dengan beberapa sarapan dihadapannya dan juga Kyu Hyun yang kini tengah berusaha memasukkan beberapa suap bubur kedalam mulut gadis itu.
“apa aku mengganggu?”. Suara Dong Hae menyita perhatian keduanya, Seo Na tampak tersenyum lalu menggelangkan kepalanya pelan.
“sama sekali tidak, masuklah Dong Hae-ssi. akhirnya aku bisa bebas dari bubur menjijikan ini”. ucap gadis itu sambil melototkan matanya kearah Kyu Hyun yang sejak tadi memaksanya memakan makanan rumah sakit yang sama sekali tidak mengurangi rasa laparnya. “apa ada sesuatu?”.
“aku hanya ingin melihat kondisimu”. Ujar pria itu, menatap sejenak kearah Kyu Hyun yang kini memeilih menyingkirkan makanan dihadapan Seo Na . “apa sudah baikkan?”. Lanjut Dong Hae yang kini sudah berada disamping Seo Na menatap gadis itu penuh kekhawatiran.
Seo Na tersenyum lalu gadis itu menggelang lemah. “aku sudah sangat baik, setelah ini aku akan kembali ke Apartemen, hmm maksudku rumah Nyonya Cho”. Jelas gadis itu ragu untuk mengatakannya pada Dong Hae saat ini, meski ia tau Dong Hae tak ada hubungan dengannya tapi beberapa waktu lalu pria itu sudah mengatakan rasa sukanya terhadap Seo Na, jadi gadis itu merasa tak enak hati mengatakan hal yang demikian pada Dong Hae.
Dahi pria itu mengerinyit, ia menatap Seo Na penuh tanda tanya. “Nyonya Cho? Maksudmu?”.
“Seo Na akan dirawat ibu dan kakak-ku, Hyung. Ia akan tinggal disana sampai gadis itu sembuh total, jika ia tetap dibiarkan tinggal sendirian pasti wanita gila itu benar-benar akan membunuh Seo Na, lagi pula kalian tidak berhasil menangkapnya kan?”. Ucapan Kyu Hyun terdengar begitu menyakitkan ditelinga Dong Hae, bagian dimana gadis itu harus dirawat oleh ibu Kyu Hyun, dan mungkin saja kesempatan Kyu Hyun untuk mendapatkan Seo Na dan memiliki gadis itu begitu besar. Tapi bagaimanapun Seo Na memang harus mendapat perlindungan dan dirinya bukan orang yang tepat, Dong Hae tidak mungkin menjaga gadis itu sedangkan ia masih harus bekerja.
Dong Hae mengangguk paham, setelah pria itu memutar otaknya untuk berpikir demi keselamatan Seo Na mungkin hanya ini yang bisa ia lakukan, lagi pula keselamatan gadis itu menjadi tujuan utamanya saat ini, setelah kehilangan jejak saat mengejar wanita yang menculik Seo Na tadi malam pria itu memutuskan untuk kembali dan datang pagi-pagi sekali kerumah sakit.
“baiklah, aku hanya tidak ingin Seo Na dicelakai lagi”. Papar pria itu, lalu menatap lurus kearah Seo Na. “kau harus istirahat yang banyak gadis bodoh, bagaimana bisa kau datang ketempat itu menyerahkan dirimu? Apa yang terjadi jika aku dan Kyu Hyun tidak datang”.
Seo Na mengerucutkan bibirnya lalu menatap bergantian kearah Kyu Hyun dan Dong Hae. “apa kau mau aku bisikkan sesuatu?”. Ucap Seo Na dengan suara yang dikecilkan. Dong Hae mengangguk bingung sambil memajukan kepalanya kearah gadis itu. “kau tau, Kyu Hyun itu pria yang menyebalkan”. Ucap Seo Na dengan berbisik kearah telinga kiri Dong Hae, pria itu terkekeh lalu menjauhkan lagi telinganya dari mulut Seo Na menatap Kyu Hyun yang kini sudah memasang tampang terbuasnya kearah kedua makhluk dihadapannya itu.
“aku akan mengantar beberapa barangmu ke mobil, setelah ini aku harus mengurus administrasi rumah sakit”. Ucap Kyu Hyun datar, lalu meninggalkan kedua manusia itu yang sejak tadi menahan tawanya. Kyu Hyun saat ini benar-benar dibakar api cemburu.
“sepertinya Kyu Hyun cemburu denganku”. Ujar Dong Hae sebelum akhirnya menghentikan tawanya dengan Seo Na, gadis itu juga segera mengulum senyumnya dan menatap Dong Hae.
“aku rasa begitu”. Ucap gadis itu datar, memperbaiki duduknya dan kini kaki gadis itu terjuntai ke lantai.
“jadi kau akan tinggal dirumah Ibu Kyu Hyun?”. Tanya Dong Hae, Seo Na menatapnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Gadis itu mengangguk tanpa bersuara. “aku percaya pada bibi Cho, dia pasti akan merawatmu dengan baik. Ahra juga pasti akan bersedia merawatmu Na-ya, aku mengerti bagaimana perasaan Kyu Hyun, pria itu dan aku sama-sama tidak ingin kau terluka”. Lanjut Dong Hae lalu mengusap puncak kepala Seo Na.
Gadis itu menatap Dong Hae lurus, tersenyum kearah pria itu. “aku juga tidak ingin merepotkan orang lain Dong Hae-ssi. setelah aku sembuh aku benar-benar akan kembali ke apartemenku”. Tambah Seo Na.
Dong Hae menatap mata gadis itu, ada kegelisahan yang tiba-tiba ia rasakan sekarang. Ia sepertinya memang bukan pria yang tepat yang bisa menjaga Seo Na, Kyu Hyun mempunyai semua apa yang dibutuhkan gadis itu meskipun Seo Na tidak menginginkan apa-apa dari Kyu Hyun, tapi dari cara Kyu Hyun yang memperlakukan Seo Na sekarang pria itu menaruh banyak kekhawatiran pada diri Seo Na, seperti itu juga yang Dong Hae rasakan sekarang tapi Seo Na tidak memerlukan apa-apa darinya, disaat seperti ini haruskah pria itu masih berharap banyak pada Seo Na? Bagaimana jika ia merelakan gadis itu menikah dan hidup aman ditangan Kyu Hyun? Tapi bagaimana dengan cintanya terhadap Seo Na? Seribu pertanyaan menjalar diotak pria berwajah tampan itu, yang ia harapakan hanya kebahagiaan Seo Na, tak lebih.
~~~000~~~
Seo Na berjalan pelan sambil di gopoh oleh Kyu Hyun dan juga Yoo Ra, gadis itu akhirnya tiba dirumah mewah milik keluarga Cho, meskipun ia yakin rumah ini bisa ia beli dengan kekayaan yang ia miliki mungkin jauh lebih banyak dari aset keluarga Cho Company. Rumah bergaya eropa dengan dinding cat yang terkesan lembut, di sisi kiri tempat gadis itu berpijak saat ini disuguhkan dengan pemandangan luar ruangan yang langsung menghadap pada taman dengan bunga-bunga yang tengah bermekaran. Seo Na yakin, saat ia menatap dirumah ini nantinya ia akan menghabiskan waktunya ditaman itu.
Seo Na menatap wajah Kyu Hyun yang sejak tadi asik menuntunnya dari jarak sedekat ini , kali ini fokus Seo Na berpindah pada wajah Kyu Hyun, gadis itu tidak bisa berbohong tentang bagaimana tampannya pria itu dan bagaimana nyamannya tubuh gadis itu ketika didalam perlindungan Kyu Hyun, tubuh gadis itu seperti ingin terus merasakan setiap perlakuan yang diberikan Kyu Hyun. Dan itu membuat Seo Na ingin memekik seketika, ia tidak yakin jika ia bisa menolak semua pesona pria itu, ia tertarik tapi sebisa mungkin ia membohongi semua fakta yang ada.
“Kyu Hyun-ah”. Terdengar suara wanita cantik yang kini sedang menggandeng anak kecil berumur 4 tahun , lalu wanita itu mendekat kearah mereka yang baru saja masuk kedalam rumah mewah bergaya eropa itu. Seo Na yakin itu adalah kakak Cho Kyu Hyun.
Kyu Hyun mendongak mendapati wajah Ahra yang tiba-tiba berseri tanpa aba-aba ia yakin wanita itu senang dengan keputusan Kyu Hyun untuk membawa Seo Na kerumah mereka, lebih tepatnya menjadikan Seo Na umpan agar Kyu Hyun segera menikah seperti yang direncanakan Ibunya.
“jadi ini gadis-mu itu? eh maksudku Park Seo Na?”. Yoo Ra yang sedang menyaksikan pertemuan kakak Kyu Hyun dengan sahabatnya hanya terkekeh geli, ia persis seperti menonton drama-drama di televisi.
Seo Na mengangguk, lalu menjauhkan tubuhnya dari Kyu Hyun memilih bergantung pada sahabatnya Yoo Ra, gadis itu tersenyum sedikit menunduk kearah Ahra. “Ne Eonni, aku Park Seo Na”. Ucap gadis itu gugup, ia yakin wajahnya tampak bodoh saat ini.
“aku Han Yoo Ra, sahabat Seo Na”. Kali ini Yoo Ra yang bergantian memperkenalkan dirinya pada kakak Kyu Hyun, Ahra tersenyum lebar melepaskan pegangannya pada anak laki-lakinya itu lalu beringsut ke tempat Seo Na, lalu segera menuntun gadis itu ke ruangan lain, Seo Na yakin itu adalah ruang keluarga. Seo Na duduk persis disamping Ahra gadis itu tersenyum kaku, sedangkan Yoo Ra dan Kyu Hyun sibuk memindahkan barang-barang Seo Na dari dalam mobil.
“apa aku boleh bertanya?”. Suara lembut Ahra terdengar begitu hangat, Seo Na mengangguk. “hmm, maaf kan aku sebelumnya Na-ya, kau adik Seo Yeo bukan?”. Tanya Ahra akhirnya.
Gadis itu tersenyum, mendengar nada bicara Ahra yang terdengar ragu. “Gweancana Eonni, ya kau benar aku adik kandung Park Seo Yeo”. Ucap gadis itu mantap, diselingi senyum dibibirnya. Ia tidak ingin Ahra merasa bersalah dengan pertanyaannya yang memang sangat wajar.
“aku minta maaf atas semua yang terjadi dimasa lalu, aku sudah mendengar semua ceritanya dari Dong Hae, tentang kakakmu dan juga Kyu Hyun”. Terdengar jika Ahra begitu menyesal atas semua kejadian yang menimpa Seo Na dimasa lalu, kematian Seo Yeo memang tidak ada hubungannya dengan Kyu Hyun.
“aku tidak menyalahkan siapapun lagi Eonni, aku yang merasa sangat bersalah pada Kyu Hyun-ssi. selama bertahun-tahun aku menyalahkannya, tapi ternyata apa yang aku duga selama ini ternyata salah”. papar gadis itu, Ahra mengusap punggung tangan Seo Na mengantarkan kehangatan pada gadis itu, tiba-tiba saja Seo Na teringat kakanya yang sering menguatkannya dengan cara seperti itu.
“Kyu Hyun sangat mencintaimu, setelah kematian Seo Yeo ia sangat merasa bersalah. Bahkan ia sempat mencarimu kemana-mana, tapi ia tidak menemukanmu”. Ujar Ahra, Seo Na menatap wajah kakak Kyu Hyun itu, entah kenapa setiap pengakuan yang keluar dari mulut Ahra membuat kepala Seo Na tiba-tiba dihantam benda keras. Kenyataan yang harus ia terima sekarang ialah, Cho Kyu Hyun memang sangat mencintainya.
“aku sudah memindahkan semua barang-barangmu kedalam kamar yang akan kau tempati, jika kau ingin melihat kamarmu akan aku antarkan Nona Park”. Tiba-tiba Suara Kyu Hyun menghentikan pembicaraan antara Ahra dan Seo Na, gadis itu menatap Kyu Hyun yang kini berdiri tak jauh dari hadapannya, baju pria itu basah dibagian dadanya. Seo Na memang hampir membawa semua barang-barang didalam kamarnya, untung saja gadis itu tidak memutuskan membawa tempat tidurnya kemari setelah Yoo Ra mencoba melarang gadis itu.
“baiklah, aku akan melihat kamar untukku”. Jawab Seo Na, lalu menatap Yoo Ra sejenak. “tapi aku ingin Yoo Ra ikut denganku”.
“tidak-tidak, aku lelah setelah membantu Kyu Hyun-ssi mengangkat barang-barangmu, kau bisa pergi dengan Kyu Hyun-ssi dan aku akan berbincang dengan Ahra Eonni disini”. Tolak sahabatnya itu mentah-mentah, memang bukan itu yang menjadi alasan kenapa Yoo Ra menolak ikut dengan dua manusia keras kepala itu, tapi ia ingin memberi waktu bagi Seo Na dan Kyu Hyun untuk bersama.
Seo Na mendengus, menatap kearah Kyu Hyun yang sudah melipat kedua tangannya didada. “baiklah”. Ucap gadis itu pasrah, Kyu Hyun mengangkat sudut bibirnya lalu menuntun Seo Na ke lantai dua tempat kamar gadis itu berada.
~~~000~~~
Kyu Hyun membuka pintu kamar yang akan segera ditempati Seo Na, kamar dengan super luas dan super megah itu di rancang khusus untuk Kyu Hyun dimasa lalu, sebelum pria itu memutuskan untuk tinggal sendiri dan membeli sebuah apartemen mewah dikawasan distrik Gangnam.
Seo Na melepas tangan Kyu Hyun yang sejak tadi menjaga jarak begitu dekat dengan Seo Na sambil menuntun gadis itu, jika ia berlama-lama dalam keadaan seperti ini ia yakin ia bisa mabuk dengan aroma parfum yang tercium dari tubuh Kyu Hyun, Seo Na menatap Kyu Hyun sejenak sebelum akhirnya melihat seluruh isi kamar yang akan ia tempati beberapa hari kedepan. Di depan kamar hanya berdinding kaca langsung menghadap pada beranda luar kamar menyuguhkan pemandangan pepohonan hijau didepannya dan kolam cukup luas dibawah sana. Jika ini bukan kepunyaan keluarga Cho ia yakin sudah membeli semua fasilitas dan rumah ini untuknya.
“kau suka?”. Suara pria itu tepat terdengar disamping wajah Seo Na, gadis itu berdelik menatap wajah Kyu Hyun yang tak jauh dari wajahnya. “bagaimana?”. Lanjut pria itu lagi.
“aku suka”. Ujar Seo Na, lalu berusaha menjauh dari pria itu menyeret kakinya yang masih diperban dan dipenuhi memar-memar. Belum sempat gadis itu menjauh Kyu Hyun sudah menyambar pergelangan tangan gadis itu, Seo Na mengalihkan pandangannya kearah Kyu Hyun.
“apa?”. ucap gadis itu kaget, jika ia tidak sedang sakit dan tubuhnya tidak dipenuhi memar dan luka ia yakin ia sudah menghantam pria itu sejak tadi, bagaimana pria itu tidak tau jika jantungnya kini ingin melompat keluar karena tatapan intensnya yang mematikan itu.
“terima kenyataannya jika aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku Nona Park”. Ujar Kyu Hyun datar, tetap dengan gaya sok Cool nya yang membuat Seo Na ingin menjambak rambut coklat pria itu seketika.
“apa?! aku tidak salah dengarkan?”. Seo Na setengah berteriak, setelah ini ia akan kerumah sakit jiwa bersama Kyu Hyun, memeriksa kadar kegilaan pria itu. “kau Cho Kyu Hyun, berhenti berbuat seenaknya. Setelah kau menyeretku kerumah mu sekarang kau mau aku mengakui aku mencintaimu? Begitu? Baiklah asal kau tau Tuan Cho, aku hanya berhutang budi padamu karena kau yang menyelamatkan tadi malam”.
“Dong Hae juga berhutang budi padamu, tapi kenapa kau memilihku dari pada pria itu? hum?”. Seo Na tersedut, kali ini pria itu benar, Dong Hae juga menolongnya tadi malam kan? Lagi pula pria itu yang menembak orang-orang yang menculiknya, tapi bagaimana ia begitu merasa berterimakasih pada Kyu Hyun. Seo Na mengerjapkan matanya, ia yakin ia tidak sedang jatuh cinta pada Kyu Hyun kan? Pikir gadis itu panik.
“jadi aku benarkan? Kau mencintaiku?”.
“terserah kau saja”. Seo Na melotot kearah Kyu Hyun menarik pergelangan tangannya dari pria itu tapi saat Seo Na berbalik kaki kirinya terasa sakit gadis itu terhuyung kebelakang dan kali ini tubuhnya mendarat persis didalam dekapan Kyu Hyun, Seo Na meringis kesakitan tapi saat gadis itu membuka matanya kini wajah Kyu Hyun sudah berada beberapa senti dari wajahnya.
“sudah ku bilang, jangan banyak bergerak kakimu itu masih sakit”. Ucap Kyu Hyun dengan suara rendah bahkan terdengar berbisik. Seo Na masih menatap wajah pria itu, ia begitu menikmati wajah Kyu Hyun yang begitu dekat dengan dengannya, entah sejak kapan gadis itu berpikir jika bibir Kyu Hyun terlihat begitu menarik.
‘APA YANG AKU PIKIRKAN!!!’. Teriak Seo Na dalam hatinya, sebelum gadis itu bangkit dari dalam dekapan Kyu Hyun namun sedetik kemudian tubuhnya tiba-tiba ambruk kembali karena kakinya memang tidak terlalu kuat untuk berjalan.
Kyu Hyun menggendong tubuh Seo Na kedalam kamarnya kembali setelah keduanya melakukan adu argument diberanda luar, pria itu merebahkan tubuh Seo Na diranjangnya, lalu membetulkan selimut gadis itu sehingga menutupi bagian kaki hingga pinggang Seo Na.
“berhentilah jadi gadis keras kepala dan turuti semua kata-kataku, mengerti?”. Ujar pria itu, yang hanya direspon cibiran dari Seo Na. “aku akan kembali ke kantor, aku harap kau hanya istirahat dan jangan lakukan apapun yang membuat tubuhmu terluka, aku tidak ingin ketika malam pertama denganmu tubuhmu masih dipenuhi memar yang sama sekali tidak seksi itu”. lanjut pria itu lalu terkekeh, membuat Seo Na hanya melonga tak percaya dengan ocehan Kyu Hyun yang terdengar seperti –minta ditendang- dari hadapan Seo Na.
‘astaga, sepertinya aku memang butuh rumah sakit jiwa untuk pria itu’. gumam Seo Na setelah melihat punggung Kyu Hyun menghilang dari balik pintu kamarnya.
~~~000~~~
Jae Eun memalingkan pandangannya dari Eun Hyuk yang sejak tadi menatapnya curiga, sejak tadi malam gadis itu tiba-tiba menghilang dari apartemennya ketika Eun Hyuk meminta beberapa berkas laporan untuk perusahaan mereka. Akhir-akhir ini Eun Hyuk begitu sibuk dengan perusahaannya yang kembali mulai beroperasi ditambah beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan diluar kota bersama beberapa rekan bisnisnya dan setelah tidak bertemu Jae Eun di apartemennya tadi malam akhirnya pria itu harus menemui gadis itu dikantor pagi ini.
“aku sudah menyelesaikan semua berkas laporan yang kau minta”. Ujar gadis itu sambil memberikan setumpuk kertas yang sejak tadi berada ditangannya.
“Eun-ah, tidak ada yang salah denganmu kan? Tadi malam kau kemana saja? aku mencarimu ke apartemen dan kau tidak ada disana, aku juga menghubungi ponselmu tapi tidak aktif”. Eun Hyuk menatap gadis itu, tidak terlalu memperdulikan soal laporan pekerjaan yang diberikan Jae Eun padanya.
“hmm, aku.. aku hanya pergi dengan teman-temanku, dan soal ponsel aku sengaja mematikannya”. Ucap gadis itu gugup, ia menekan ujung jempolnya sendiri, ia tau Eun Hyuk bukan pria yang gampang ia bohongi pria itu tau luar dalam gadis itu, ia dan Eun Hyuk sudah lama bersama sebagai teman jadi tidak mungkin pria itu tidak mencium gelagat aneh dari Jae Eun.
“baiklah, aku tidak akan menuduhmu yang tidak-tidak lagi pula itu adalah urusan pribadimu, aku hanya ingin kau bisa menjaga kepercayaanku Eun-ah, walaupun aku tidak akan mencurigaimu lagi tapi aku tau rencana apa yang kau simpan untuk gadis itu”. Jae Eun tertegun ditempatnya menunduk menyembunyikan kegelisahan raut wajahnya, gadis itu segera beranjak dari hadapan Eun Hyuk diruang kerjanya sebelum ia permisi pada berambut pirang itu.
Eun Hyuk mengadahkan kepalanya kelangit-langit ruang kerjanya, menyandarkan tubuhnya dikursi empuk yang tengah ia duduki anak rambutnya menuti sebagian dahi pria itu, sudah beberapa minggu sejak makan malam itu, Eun Hyuk tidak pernah lagi bertemu dengan Seo Na pria itu sudah sangat sibuk belakangan ini ditambah lagi beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan diluar kota jadi tidak akan ada waktu hanya untuk sekedar bertemu atau berkunjung keperusahaan gadis itu.
Pria itu menekan beberapa menu di ponselnya memilih salah satu nama disana hingga akhirnya panggilan pria itu terhubung pada gadis di ujung sana, Eun Hyuk tersenyum mendengar suara gadis itu yang tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu gadis itu mengangkat panggilan telefonnya.
“apa kabarmu?”. Ucap pria itu, sambil tersenyum menunggu jawaban gadis itu. Tapi sedetik kemudian raut wajah Eun Hyuk berubah mendengar bahwa gadis itu baru saja keluar dari rumah sakit.
“rumah sakit? Apa yang terjadi? Kyu Hyun? Kau berada dirumah ibunya? Baiklah, setelah aku pulang dari kantor aku akan menjengukmu, kirimkan alamatnya melalui pesan. Hmmm, Seo Na-ssi beristirahatlah”. Ucap Eun Hyuk penuh kekhawatiran, ada apa sebenarnya dengan gadis yang tengah ia rindukan itu? apa ada hubungannya dengan menghilangnya Jae Eun tadi malam?
~~~000~~~
Kyu Hyun mengetuk pintu kamar Seo Na pelan, namun tidak ada jawaban dari sana akhirnya pria itu memutusakn masuk kedalam kamar Seo Na dan menemukan gadis itu tengah tertidur diatas ranjangnya dengan balutan baju tidur yang kelihatan terlalu besar di tubuh ramping gadis itu.
Hari ini pria itu memutuskan untuk pulang lebih awal dari kantornya, tidak seperti biasanya Kyu Hyun pasti akan kembali ke apartemennya setelah ia pulang bekerja namun hari ini pria itu memutuskan kerumah ibunya untuk melihat keadaan Seo Na, gadis yang selama seharian ini menyita perhatiannya dikantor, kosentrasi pria itu buyar ketika memikirkan gadis itu, Seo Na menjelma dalam versi apapun dalam otaknya dan itu tidak akan pernah bisa dihentikan oleh seorang Cho Kyu Hyun yang dingin.
Kyu Hyun beringsut mendekat kearah Seo Na, tersenyum ketika mendapati wajah cantik gadis itu tengah tertidur dengan mimpi didalamnya, persetan dengan apa yang dimimpikan gadis itu yang Kyu Hyun inginkan saat ini adalah mimpinya yang terwujud untuk segera menikahi gadis keras kepala yang tengah terbaring ini, ia menggilai gadis ini.
“Na-ya”. panggil Kyu Hyun, mendekatkan wajahnya ketelinga Seo Na. Kyu Hyun mengelus wajah gadis itu, menyentuh anak rambut Seo Na yang tergerai didahi mulusnya, rambut yang kini sudah mulai memanjang tidak seperti saat pertama kali Kyu Hyun bertemu dengan gadis ini beberapa waktu yang lalu, dengan potongan rambut sebahunya yang kini sudah jauh melewati bahunya.
“Eomma~”. Tiba-tiba Seo Na bersuara, mengalihkan perhatian Kyu Hyun yang sejak tadi menjamah rambut gadis itu, Kyu Hyun terkesip memandangi bibir Seo Na yang terus memanggil ibunya, namun tetap dengan mata yang tertutup rapat, bisa dilihat dengan jelas jika air mata kini turun dari mata gadis itu keningnya pun berkerut.
“Na-ya? kau baik-baik saja?!”. Ujar pria itu khawatir, sambil mengenggam tangan kanan Seo Na erat.
“Eomma!”. Seo Na menghentak keras, napasnya tersengal dan kini gadis itu terbangun sambil mengatur napasnya yang tak beraturan, ia menatap wajah Kyu Hyun yang kini menatapnya.
“Na-ya? kau baik-baik saja? apa yang terjadi, kau bermimpi buruk?”. ujar pria itu lagi, Kyu Hyun tampak panik ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi dengan gadis ini lagi.
“Hyun-ah, aku bermimpi bertemu ibuku, Kyu Hyun-ah ia meninggalkanku lagi!”. Teriak gadis itu, ada kepedihan dari kata-katanya, kini air mata mengalir deras dari mata gadis itu. Kyu Hyun merengkuh tubuh gadis itu menariknya kedalam pelukannya membiarkan Seo Na tenang didalam dekapan pria itu.
“tidak apa-apa, aku disini. Aku tidak akan meninggalkanmu, kau hanya bermimpi. Tenanglah”. Kyu Hyun mengelus punggung Seo Na yang turun naik, gadis itu terisak bahkan kali ini ia tidak peduli dengan siapa yang dipeluknya saat ini, Seo Na takut akan semua mimpi buruk yang sering menghantuinya selama ini.
Kyu Hyun tetap memeluk tubuh gadis itu membiarkan Seo Na tenang didalam pelukannya cukup lama sampai tanpa pria itu sadar jika gadis itu kini sudah kembali tertidur didalam pelukannya. Kyu Hyun kembali merebahkan tubuh Seo Na di atas ranjangnya, membiarkan tubuh gadis itu beristirahat lebih banyak. Bekas luka ditubuh Seo Na masih terlihat jelas, mungkin akan memakan waktu yang cukup lama untuk menghilangkan bekas lebam dan luka ditubuh gadis itu, termasuk wajahnya.
Pria itu mengecup dahi Seo Na, sebelum akhirnya mengambil tempat untuk berbaring persis disamping gadis itu, ia takut jika Seo Na bermimpi buruk dan terbangun lagi dengan air mata di pipinya, lagi pula ia hanya berniat baik ia bukan maniak seks yang akan meniduri gadis yang tubuhnya sedang dipenuhi luka ini, meski sejujurnya Kyu Hyun memuja Seo Na dan tidak bisa memungkuri jika tubuh gadis itu menarik tapi kali ini ia akan menyingkirkan semua itu demi keselamatan gadis yang tengah tertidur didekatnya ini, apapun yang terjadi Seo Na adalah miliknya.

To Be Continue
~~~000~~~

REVENGE BEFORE LOVE (4/?)

Standard

RERE_副本

 

REVENGE BEFORE LOVE (4/?)
Action, Romance. PG + 17
Cast :
Cho Kyu Hyun
Lee Dong Hae
Park Seo Na

“bagaimana dengan rancangan perusahaan yang akan kita jalani, apa semua sudah selesai?”. ucap pria itu sambil mengechek beberapa data perusahaannya yang terbengkalai selama sebulan ini. Eun Hyuk menghentikan perusahaannya sudah 3 hari lebih untuk merancang kembali kinerja yang akan ia jalani selanjutnya sebagai pemimpin perusahaan dibidang tekstil itu.
“aku sudah menyusun beberapa rancangan yang sepertinya sangat akurat, ditambah dengan keluhan konsumen selama ini dengan produksi dari perusahaan kita, dan lagi beberapa mode-mode yang sedang banyak diminati oleh para konsumen, mungkin ini sangat membantu”. Jelas Jae Eun sambil memperlihatkan data-data yang ia dapat dilayar besar dihadapan beberapa pemimpin perusahaan.
“baiklah Eun Hyuk-ssi, aku setuju dengan proyek baru yang akan kita jalani, tidak ada salahnya juga jika kita meminta penanaman saham dari perusahaan lain, aku dengan-dengar Cho Company mendapat saham 10% dari PTI Corp dan yang aku dengar lagi kedua perusahaan itu saling menguntungkan dan membuat keduanya berada sejajar, setelah kemarin Cho Company ikut merosot jauh kebawah”. Tambah pria yang marganya sama dengan Eun Hyuk itu, Lee Sung Min.
“tentang hal itu akan aku pikirkan lagi, tapi kita masih punya beberapa modal yang akan kita gunakan sebaik mungkin, pengeluaran perusahaan bisa kita perkecil sehingga keuntungan yang kita dapat selama ini bisa kita gunakan dengan baik, bagaimana?”. Papar Eun Hyuk, yang akhirnya mendapat anggukan dari Sung Min, Jae Eun, dan beberapa rekan bisnis mereka lainnya yang hadir pada meeting siang itu.
“baiklah, kita bisa cukupkan sampai disini, lusa kita akan membuat perubahan besar dan aku yakin kita bisa mendulang kesuksesan seperti sebelumnya”. Tambah pria itu lagi, sebelum akhirnya meeting selesai dan semua kembali bekerja seperti biasanya.
Jae Eun membereskan beberapa berkas yang baru saja ia presentasikan didepan, gadis itu sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Eun Hyuk. ia sibuk mempersiapkan rencana baru perusahaan ditambah gadis itu memilih menenagkan dirinya ketimbang bertemu dengan pria itu, yang ia rasakan hanya rasa sakit dan cemburu yang terus membabi buta dihatinya, apa lagi ia baru mendengar jika Eun Hyuk melakukan makan malam berdua dengan wanita yang digilai Eun Hyuk saat ini, Park Seo Na.
“Jae Eun-ssi”. Jae Eun menoleh pada sumber suara, ia dapati kini Eun Hyuk sudah berdiri tepat di depan pintu keluar ruang meeting mereka.
“Ne?”. jawab gadis itu singkat, lebih fokus pada berkas-berkas yang tengah ia rapikan.
“soal hari itu aku ingin-“.
“gweancana, aku sudah melupakkannya”. Potong Jae Eun, tanpa membiarkan Eun Hyuk menjelaskan perkara detail yang tengah mereka alami.
Eun Hyuk mendekat kearah gadis itu, berdiri tepat disamping Jae Eun. “aku tidak ingin kau salah paham, sudah kukatakan kita akan sukses tanpa melukainya kan? Dan aku sudah bertemu dengannya, ia tidak terluka terlalu parah”. Jelas Eun Hyuk, gadis itu hanya menatap Eun Hyuk sejenak lalu mengangguk mengerti.
“apa kau khawatir aku melukainya?”.
“tentu saja, dan aku juga tidak ingin kau terluka”. Papar pria itu akhirnya, Jae Eun menatap pria itu membiarkan bola matanya kini basah, air matanya mengalir begitu saja menciptakan sungai kecil di pipi mulus gadis itu.
“sayangnya aku jauh lebih terluka darinya”. Tandas Jae Eun, lalu mengambil berkas yang sudah tersusun diatas meja sebelum akhirnya memutuskan beranjak dari hadapan Eun Hyuk.
“Han Jae Eun!!!”. Langkah gadis itu terhenti, ia bisa mendengar dengan jelas teriakkan Eun Hyuk memanggil namanya, terdengar seisi ruangan bergema oleh suara pria itu.
Jae Eun tetap ditempatnya, tidak berbalik menatap Eun Hyuk yang kini berjalan mendekat kearah gadis itu. “apa kau akan terus membiarkan aku begini? Memikirkan apa sebenarnya yang kau inginkan, kau tau kau semakin berubah Eun-ah. Apa yang terjadi denganmu? Ha?!”.
“kau bertanya apa yang terjadi denganku Eun Hyuk-ssi? kau mau tau? Dengarkan aku baik-baik, aku tidak akan pernah menyukai Park Seo Na, gadis itu aku tidak akan pernah menyukainya!”. Geram gadis itu, melepaskan cengkraman tangan Eun Hyuk meninggalkan pria itu ditempatnya membiarkan semua air matanya meluap begitu saja.
“aku membencinya, karena dia mengambil semua yang kumiliki”.
~~~000~~~
“besok pagi aku akan membawanya ke Mokpo”. Dong Hae menyusup teh yang sejak tadi berada digenggamannya. Kyu Hyun menatap sahabatnya itu sejenak lalu melemparkan pandangannya keluar jendela cafe.
“aku harap kau tidak melakukan apa-apa padanya”. Ucap Kyu Hyun dingin, Dong Hae sedikit terkekeh mendengar nada bicara Kyu Hyun yang terdengar sangat cemburu.
“aku tidak jamin jika aku tidak melakukan apa-apa padanya, tapi tenanglah aku akan menidurinya seteleh aku menikah dengannya nanti”.
Kyu Hyun mencibir mendengar ucapan Dong Hae. “dia masih tidak menginginkan siapa-siapa jadi suaminya, Hyung”. Timpal Kyu Hyun menyambar teh hangat dihadapannya lalu meneguk cairan itu brutal.
“tenanglah Kyu Hyun-ah, aku tidak akan berbuat curang sebelum kau berbuat curang. Aku ingin tau seberapa besar cinta yang kau miliki pada gadis itu, sehingga ia bisa merubahmu menjadi seperti ini, jika ia memilihmu, aku siap merelakannya, dan aku hanya ingin kau menjaganya dengan baik”.
“aku tidak akan membiarkannya terluka lagi, tidak akan”.
~~~000~~~
“kau mau kemana?”. Kening Yoo Ra mengerinyit, memperhatikan Seo Na yang sejak tadi memasukkan beberapa barang pribadinya kedalam tas tangan yang tidak terlalu besar. Seo Na melirik Yoo Ra sejenak lalu kembali pada kesibukkannya semula.
“ke Mokpo”. Jawab gadis itu singkat.
“Mokpo? Apa ada pertemuan dengan rekan bisnismu? Dengan siapa? kau sendirian? Sejak kapan kau mau berkunjung ke kota kecil? Bukankah selama ini kau lebih suka Eropa dan segala tetek bengeknya”.
“dengan Lee Dong Hae, ia mengajakku berkunjung ke rumah Ibunya”. Tidak perlu menjawab semua pertanyaan rumit Yoo Ra yang lebih terdengar seperti wartawan berita, toh dengan hanya menjawab seperti itu Yoo Ra sudah berdelik kaget mendengar jawaban sahabatnya itu.
“Apa?! Lee Dong Hae? Kerumah Ibunya? Pria itu akan menikahimu disana ya? sepertinya serius sekali? Bagaimana dengan Kyu Hyun?”. Dumel gadis itu tak henti-hentinya. Seo Na melempar pandangan mematikan kearah Yoo Ra, gadis itu akhirnya melongos pasrah.
“aku hanya menemaninya, lagi pula ia berjanji mengajakku kepantai”. Ujar gadis itu, Yoo Ra akhirnya mengerti kenapa Seo Na mau menerima ajakan Dong Hae, sesungguhnya itu karena pria itu mengajaknya ke pantai, bukankah Seo Na sangat menyukai pantai? Ya tentu saja gadis itu akan setuju dengan ajakan Dong Hae, pria itu sukses menyogok Seo Na dengan embel-embel pantainya.
“pantas saja kau menerima ajakan pria itu, ternyata dia menyogokmu dengan berjanji mengajak ke pantai ya? tapi bagaimana dia tau kau suka pantai?”.
Seo Na berlalu meninggalkan sahabatnya itu, keluar kamar menuju dapur mengambil segelas susu dingin dan beberapa potonngan roti. Yoo Ra mengekori gadis itu dari belakang, memilih duduk di sofa depan televisi.
“aku akan pulang nanti malam”.
“itupun kalau pria itu tidak betah berlama-lama dirumah Ibunya”. Timpal Yoo Ra, Seo Na mendekat kearah sahabatnya itu, menyodorkan sepotong roti berselai kacang .
“jika ia tidak memulangkan ku nanti malam aku akan menelepon pengacaraku dan melaporkan ke kantor polisi dengan tuduhan membawa kabur seorang gadis cantik yang langkah”. Ujar gadis itu sambil mengunyah roti ditangannya, sedikit terkekeh dengan pernyataannya sendiri.
“dan aku rasa polisi tidak akan menangani kasusmu karena mereka tidak perlu melindungi anjing pelacak sepertimu”. Ejek Yoo Ra, yang direspon teriakkan brutal dari sahabatnya itu, gadis itu terkekeh menyumpal mulut Seo Na dengan potongan kecil roti ditangannya.
Suara dentingan bel apartemen Seo Na meredam suara tawa keduanya, Seo Na beranjak dari tempatnya sebelum meneguk habis susu vanila didalam gelas yang ia genggam, sebelum akhirnya membukakan pintu apartemennya untuk seseorang diluar sana.
“Dong Hae-ssi?”. ucap gadis itu ketika mendapati seorang pria tengah berdiri dengan balutan kemeja biru cerah serta jeans hitam, yang membuat pria itu terlihat lebih menarik adalah 2 kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka mengekspos bagian dadanya yang lebih terlihat –err-.
“bagaimana kau bisa sampai kesini tanpa menguhubungiku dulu?”. Ujar gadis itu menekan ujung kemeja putih sedikit transparan yang kini ia kenakkan.
“bukankah aku sudah bilang jika hari ini aku akan menjemputmu”. Ucap pria itu membuka kaca mata hitam yang sejak tadi menggantung di hidung mancungnya.
“baiklah, aku akan mengambil tasku lalu kita bisa berangkat, kau bisa tunggu disini”. Papar Seo Na akhirnya sebelum gadis itu beranjak kedalam apartemennya mengambil tas yang sejak tadi sudah ia persiapkan berpamitan pada sahabtnya Yoo Ra. “aku akan berangkat, Dong Hae sudah datang. Aku menitipkan apartemen ini padamu. Aku pergi”. Gadis itu menyambar tasnya lalu berlalu dari hadapan Yoo Ra , gadis itu mengekorinya hingga depan pintu.
“jaga sahabatku ini Dong Hae-ssi, maaf jika ia nantinya banyak merepotkanmu”. Yoo Ra melambaikan tangannya pada Dong Hae, pria itu sedikit tersenyum lalu mengangguk paham.
“hei, apa yang kau katakan!”. Protes Seo Na melototkan matanya kearah sahabtnya itu.
“apa? sudah sana pergi, kalian seperti pasangan yang akan pergi bulan madu”. Yoo Ra terkekeh, sebelum gadis itu menutup rapat pintu apartemen Seo Na.
“YAK!”.
“kita bisa berangkat kan?”.
“apa? ah, tentu saja”. pria itu tersenyum sebelum akhirnya megenggam tangan Seo Na, lalu keduanya berjalan menuju lift, disamping tubuh Dong Hae, gadis itu memperhatikan genggaman tangan Dong Hae ditangannya, yang ia lihat Dong Hae seperti sangat melindunginya. Bagaimana dengan pria lain yang kini tengah memperhatikan mereka?
~~~000~~~
Keduanya larut dalam suasana perjalanan mereka menuju Mokpo, alunan instrument seksofon dari Kenny G , menambah kesan damai dalam perjalanan keduanya. Seo Na sibuk dengan pikirannya, melempar pandangannya pada luar jendela mobil, sedangkan Dong Hae fokus pada jalanan di depannya, tidak ada pembicaraan yang menarik diantara mereka, karena itu Seo Na maupun Dong Hae lebih banyak diam.
“apa kau begitu menyukai pantai?”. Dong Hae akhirnya angkat bicara, setidaknya menanyakan beberapa hal pada gadis itu bisa mencairkan suasana diantara mereka.
Seo Na mengangguk, ia tidak terlalu peduli jika Dong Hae tidak melihat anggukannya, ia lebih excited melihat pemandangan diluar sana.
Pria itu masih bisa melihat anggukan Seo Na yang terlihat sangat bersemangat, dari jalanan mereka kini bisa melihat hamparan kebun teh yang luas, daerah Mokpo sangat terkenal dengan penghasil teh-nya dan juga penghasil ikan terbaik di Korea Selatan, dataran tinggi dan pantai yang asri membuat daya tarik tempat ini begitu mempesona, jadi beruntung seorang Lee Dong Hae bisa lahir dan pernah dibesarkan ditempat ini, tempat yang nyaman dan damai, jauh dari kata hiruk pikuk, ya meskipun Mokpo sekarang termasuk sebagai salah satu kota besar di Korea Selatan.
“dulu, ayah dan ibuku selalu mengajakku pergi kepantai, sudah lama sekali saat aku masih sekolah dasar, mereka selalu menyogokku liburan kepantai ketika musim semi. Ya ternyata pantai tidak terlalu berdampak baik bagi keluargaku, setelah pulang dari pantai keluargaku mengalami kecelakaan, hanya aku dan Seo Yeo yang tersisa, kedua orang tuaku meninggal saat kejadian, tidak banyak yang ku ingat karena saat itu aku masih sangat kecil, setelah itu aku hanya punya Seo Yeo, karena itu aku takut jika Seo Yeo jika meninggalkanku, tapi bagaimanapun ia memang benar-benar sudah meninggalkanku”. Papar gadis itu, menceritakan detail kejadian saat kedua orang tuanya meninggal, Dong Hae sangat tau bagaimana kehilangan orang yang dikasihi karena ayah pria itu juga sudah meninggal tepat saat Dong Hae mendapatkan kesuksesan diperusahaannya.
Dong Hae menatap gadis itu, kini pandangannya Seo Na lurus menerawang kedepan, ekspresi muka gadis itu datar, tapi Dong Hae tau jika jauh didalam hatinya ia kini menangis, Seo Na bahkan lebih rapuh dari yang ia kira. “aku minta maaf”. Ujar Dong Hae menyesal, seharusnya ia tidak menanyakan hal yang membuat Seo Na mengingat masa lalunya.
“ah, Gweancana. Aku baik-baik saja, lagi pula itu sudah sangat lama sekali, dan aku sudah bisa membiasakan diri dengan kenangan itu. kau tau, kau harus banyak terluka dahulu jika ingin banyak bahagia”. Ucap Seo Na gamblang, tidak ada beban dari setiap kata-kata yang diucapkannya, gadis itu lebih terdengar seperti sedang menguatkan orang disekiarnya.
“berapa lama lagi kita akan sampai? Apa rumah orang tuamu jauh kepelosok?”. Pertanyaan Seo Na yang lebih terdengar sedikit mengejek membuat air muka Dong Hae yang tadinya simpati malah melongos.
“sekitar setengah jam lagi Nona Park”. Jawab Dong Hae seadanya, Seo Na terkekeh gadis itu mengibaskan tangannya.
“aku bercanda, lagi pula kau terlalu serius”. Ujar Seo Na akhirnya lalu keduanya kembali sibuk dengan pikiran masing-masing.
~~~000~~~
Kyu Hyun menyandarkan tubuhnya pada sofa beludru di dalam apartemen gadis itu, pria itu sejak tadi susah payah menghirup udara yang tidak terkontrol baik disaluran pernapasannya. Dihadapannya saat ini sudah duduk dua orang yang tentu saja sangat ia kenal, gadis itu adalah sahabat Seo Na yang kini tengah menatapnya ngeri, dan satu lagi pria yang sudah dianggap seperti –kakanya sendiri- oleh Seo Na.
Lee Teuk meneguk minuman soda yang sudah tersedia dimeja, awalnya pria itu datang ke apartemen Seo Na ingin bertemu gadis itu, karena sudah beberapa minggu setelah keluar dari rumah sakit ia tidak bertemu gadis itu, ditambah lagi ia ingin memberi kuliah gratis untuk Seo Na karena saat itu sudah seenaknya keluar rumah sakit tanpa persetujuan dirinya dan Yoo Ra, dan lagi maksud pria berlesung pipih itu adalah ingin membahas tentang kasus penembakkan yang terjadi malam itu, ya sebenarnya Seo Na sudah mengatakan padanya untuk tidak mengusut kasus itu, ia tidak terlalu peduli dengan hal itu, lagi pula ia sekarang baik-baik saja, pikir Seo Na.
“jadi bagaimana dengan kasus penembakkan itu?”. suara berat Kyu Hyun menyita perhatian Lee Teuk, Yoo Ra juga ikut menatap pria itu.
“dia seorang wanita, motifnya dendam dan sampai sekarang aku dan tim ku masih melacak keberadaan wanita itu. Dan lagi sepertinya ia masih muda, aku rasa dia belum menikah”. Papar Lee Teuk, Kyu Hyun mengangguk memahami.
“Oppa? Tadi kau bilang dendam?”. Yoo Ra angkat bicara, gadis itu cukup tertarik dengan kata ‘dendam’.
Lee Teuk mengangguk. “ya, karena dia seorang wanita, dan ia tidak terlalu menfokuskan pada titik penembakannya, ia menembak asal karena motifnya dendam jadi ia hanya ingin sikorban menderita atau kemungkinan terburuknya adalah mati”. Lanjut pria itu, Yoo Ra berkedik, kata-kata mati terlalu mengerikan baginya.
“selama ini Seo Na banyak menjalin kerja sama dengan beberapa pengusaha wanita, namun kebanyakan mereka adalah ibu-ibu yang sudah menikah, selama aku mendampingi Seo Na ia tidak punya rekan bisnis yang muda sama sepertinya, kebanyakan ya hanya pria salah satunya Kyu Hyun-ssi”. gadis itu mengangkat dagunya, mengarahkan kearah Kyu Hyun yang sejak tadi fokus mendengarkan Yoo Ra dan Lee Teuk.
“lalu?”. tanya Lee Teuk penasaran.
“ya, seingatku dia tidak punya musuh seorang gadis. Ah atau?!”.
“apa?”. Kyu Hyun kali ini bersuara, Yoo Ra menatap pria itu.
“apa kau punya teman wanita? Mungkin saja, gadis itu cemburu pada Seo Na karena ia dekat dengan Kyu Hyun-ssi”.
“Seo Na tidak hanya denganku, tapi juga dengan Dong Hae Hyung dan juga pria yang makan malam bersamanya saat itu, lagi pula aku tidak mempunyai teman wanita yang seperti kau katakan”. Tandas Kyu Hyun, Yoo Ra mengangguk, pria itu benar Seo Na tidak hanya dekat dengan Kyu Hyun tapi tiga pria sekaligus, ya gadis itu memang cantik wajar saja jika banyak yang menginginkannya, pikir Yoo Ra.
“pria yang makan malam dengannya? siapa?”. Lee Teuk meluncurkan pertanyaan seletah mendengar embel-embel ‘pria yang makan malam dengannya’. Ia cukup heran, sejak kapan adiknya yang dingin itu bisa-bisanya makan malam dengan pria yang tidak ia kenal.
“Lee Eun Hyuk, seorang pemimpin salah satu perusahaan yang mengalami kebangkrutan sejak perusahaan Seo Na masuk dalam lima perusahaan terbesar”. Kali ini Yoo Ra yang menjawab, ia tidak ingin Kyu Hyun berapi-api lagi jika membahas tentang laki-laki itu, sudah cukup pria itu melihat punggung Seo Na yang menghilang bersama Dong Hae tadi pagi.
“lalu Kyu Hyun? Bukankah kalian berpacaran? Bukankah kau dan Seo Na sudah berci-“.
“yak!”. Yoo Ra menyukut tangan Lee Teuk, membuat pria itu mengentikan kata-katanya, salahnya juga jika mengatakan jika ia memergoki Kyu Hyun dan Seo Na berciuman didalam lift pada Lee Teuk, pria itu jadi salah bicarakan.
“Seo Na tidak mengatakan apa-apa tentang perasannya padaku”. Ujar Kyu Hyun seadanya, ya memang seperti itu yang terjadi diantara keduanya, Seo Na malah mengatakan jika ia sangat menghindari Kyu Hyun.
“maaf, aku mengira kalian sudah berpacaran, jadi tidak heran jika gadis itu menerima tawaran Lee Dong Hae”. Kali ini Yoo Ra menginjak kaki Lee Teuk, pria itu menahan jeritannya, melotot kearah Yoo Ra, tapi tatapan Yoo Ra membuat pria itu tidak jadi berteriak protes.
Ruangan apartemen Seo Na kembali hening, ketiganya terdiam. Hanya suara ocehan televisi yang membuat ruangan itu sedikit berisik. Yoo Ra beranjak dari tempatnya, setelah Lee Teuk memberinya kode untuk meninggalkan dirinya dan Kyu Hyun berdua, Yoo Ra memilih dapur dan tetap saja gadis itu menguping dari sana.
“Kyu Hyun-ssi”. suara berat pria itu menyita perhatian Kyu Hyun yang sejak tadi sibuk dengan ponsel layar sentuhnya.
Kyu Hyun mengalihkan pandangannya pada pria itu. “apa kau akan terus membiarkan Seo Na pergi dengan pria lain?”. Tambah Lee Teuk, Kyu Hyun menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan, mengontrol emosi yang entah sejak kapan akhir-akhir ini bisa ia tahan dengan baik.
“aku hanya tidak ingin membuat Seo Na menderita”. Tandas Kyu Hyun, pria yang berjarak umur lima tahun darinya itu mengangguk paham. Ia mengerti sekali apa yang dirasakan Kyu Hyun, ia tau Kyu Hyun sangat menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya terhadap Seo Na selama ini, jadi tidak mungkin pria itu menambah kesan buruk lagi terhadap Seo Na.
“waktu memang akan mengubah semuanya Kyu Hyun-ah, tapi jika kau tidak berusaha waktu juga akan sulit untuk mengubah segalanya, aku rasa kau harus jauh bertindak, Seo Na bukan tipe wanita yang peka, gadis itu lebih sering memikirkan kemungkinan terburuk dari pada kemungkinan terbaik”. Ujar pria itu.
Kyu Hyun terdiam, kali ini ia lebih ingin mencerna kata-kata pria itu. “aku tau kau dan Dong Hae sangat dekat, tapi jika kau terus membiarkan mereka bersama Dong Hae akan bisa lebih dulu menempati hati Seo Na, terlebih lagi jika pria itu tidak pernah menoreh luka dimasa lalunya, jadi akan dengan sangat mudah oleh Seo Na menerima sosok Dong Hae dihidupnya, beda denganmu yang harus mengubah persepsi gadis itu dahulu tentang masa lalunya, barulah kau bisa mendekatinya. Kyu Hyun-ah, aku akan sangat mendukungmu jika kau bisa menikahi gadis itu, aku yakin kau akan lebih bertanggung jawab atas hidup Seo Na”. Tambah Lee Teuk akhirnya, ya tentu saja Kyu Hyun akan sangat bertanggung jawab atas hidup Seo Na, bukankah ia yang membuat hidup gadis itu menjadi seperti ini, karenanya juga Seo Na tumbuh sebagai gadis yang semakin dingin dan ketus.
~~~000~~~
“Seo Na-ssi, kita sudah sampai-“. Ucapan pria itu terhenti seketika, kali ini ada yang lebih menarik ketimbang mengatakan jika mereka sudah berada didepan halaman kediaman ibu Dong Hae, wajah Seo Na yang tertidur pulas bahkan lebih menarik ketimbang apapun saat ini. bibir kecil namun berisi, bewarna merah muda, pipi gembulnya yang suka sekali memerah ketika gadis itu salah tingkah, bulu matanya yang terlihat lentik dan hidungnya yang kecil ya meskipun tidak terlalu mancung, dan keindahan itu kini tersaji dihadapan Dong Hae.
Seo Na menggeliat, menarik wajahnya ke arah berlawanan sadar jika mobil yang tengah ia naiki berhenti gadis itu mengerjapkan matanya berusaha menormalkan pandangannya, dan tentu saja hal pertama yang dilihat gadis itu adalah wajah Dong Hae yang kini tengah memperhatikannya dengan senyum yang mengembang.
“sudah bangun? Kita sudah sampai Na-ya”. ujar Dong Hae, gadis itu merubah ekspresinya dalam sejenak, ia tidak ingin Dong Hae melihat wajahnya yang salah tingkah, lagi pula bagaimana ia bisa tertidur begitu pulas alhasil pria itu bisa melihat wajahnya sedang tertidurkan? Pikir gadis itu.
“ah, baiklah”. Ucap gadis itu gugup. Keduanya turun dari mobil merah bermerk Ferarri itu, berjalan menuju depan pintu masuk rumah Ibu Dong Hae. Dong Hae memencet bel rumah orang tuanya itu, tidak perlu waktu lama karena saat ini pintu masuk sudah terbuka dan terlihat seorang gadis cantik kira-kira berumur 17 tahun tengah menyambut mereka.
“AH! DONG HAE OPPA!”. Teriak gadis itu, langsung menghambur dalam pelukan Dong Hae, pria itu juga terlihat sangat senang sekali dengan sambutan agak berlebihan dari gadis itu, Seo Na yang menyaksikan keduanya hanya bisa berdeham singkat sambil menekan-nekan tali tas tangannya yang kini tengah digenggamannya.
Dong Hae melepas pelukannya dengan gadis itu, melirik kearah Seo Na sejenak lalu tersenyum. “Seo Na-ya, kenalkan ini sepupuku Min Ah, Lee Min Ah”. Tambah pria itu lagi. Gadis itu menatap Seo Na sejenak lalu tersenyum mengulurkan tangannya kearah Seo Na dan langsung disambut baik oleh gadis itu.
“Park Seo Na”. Ucap gadis itu, sambil tersenyum kaku, sembari melepas jabat tangannya dengan sepupu Dong Hae itu.
“Oppa, apa dia pacarmu?”. Tanya gadis itu, Seo Na mendongak kearah Dong Hae, gadis itu membulatkan matanya, dan itu membuat Dong Hae terkekeh geli.
“tidak, dia temanku”. Jawab pria itu seadanya, jika ia mengatakan Seo Na sebagai kekasihnya mungkin bisa saja, tapi ia masih ingat tentang Kyu Hyun, ia tidak mungkin berlaku curang pada pria itu.
Min Ah mengangguk, ia menarik tangan Oppa-nya menuju dalam rumah, Seo Na hanya mengekor dibelakang kedua kakak beradik itu meski kini ia kikuk tapi Seo Na berusaha untuk tetap rileks dan seramah mungkin, ia tidak ingin membuat keluarga Dong Hae menganggapnya dingin dan sombong. Setidaknya ada kesan baik yang ia tinggalkan dikeluarga itu.
Kali ini Seo Na duduk di sofa bewarna hijau tua, ruang keluarganya sangat tertata rapi, ada beberapa hiasan dari kerang memenuhi salah satu lemari kaca disudut ruangan, ditambah warna dinding ruangan yang sangat lembut dipadu dengan berbagai hiasan dinding, tapi kali ini mata Seo Na terhenti pada figura yang memperlihatkan empat orang tengah tersenyum didalamnya, dua orang putra, dan ia yakin salah satu diantara mereka adalah Dong Hae, dan satu lagi mungkin kakak atau adiknya, ya apapun itu tapi kini Seo Na cukup tertarik dengan photo itu.
“Dong Hae-ya, Omo! Bagaimana kau tidak memberi kabar untuk datang? Seharusnya kau bisa meneleponku dulu”. Terdengar suara wanita paruh baya kini turun dari jenjang ditengah ruangan, disambut oleh Dong Hae yang langsung memeluk wanita itu, ia yakin itu Ibu Dong Hae.
Dong Hae memeluk ibunya, sudah lima bulan pria itu tidak kembali ke Mokpo ya tentu saja karena pekerjaan yang begitu membuatnya sibuk. “aku hanya ingin memberi kejutan Eomma”. Ucap pria itu penuh cinta, ia menuntun wanita itu ke sofa, kini gadis yang duduk disana berdiri membungkuk sopan kearah Ibu Dong Hae.
Kedua Ibu-anak itu kini saling berpandangan, Dong Hae tau pasti ibunya bertanya-tanya tentang-siapa gadis itu-. “Eomma, dia Park Seo Na, temanku. Aku sengaja mengajaknya kemari”. Papar Dong Hae, Ibu Dong Hae sedikit mendesah kecewa, ia mengira jika Seo Na adalah kekasih anaknya.
“aku kira dia kekasihmu”. Ujar wanita itu, lalu menyambut baik Seo Na menyuruh gadis itu untuk duduk. “jadi namamu Park Seo Na?”.
Seo Na mengangguk. “Ne Ajhumonim”. Ucap gadis itu sopan, masih sedikit kikuk, seharusnya ia juga memikirkan tentang hal ini sebelum mengiyakan ajakan Dong Hae, tapi ia malah lebih memikirkan tentang jalan-jalan kepantai yang menggiurkan bagi Seo Na.
Terlihat jika Seo Na sedang kikuk, hanya suara ocehan Min Ah yang mengisi ruangan, Min Ah terus menanyakan pada Dong Hae tentang gadis yang ia bawa itu, tentang pekerjaannya, dan tentunya tentang Seoul. Min Ah adalah sepupu Dong Hae, anak dari adik Ayahnya, gadis itu memang tinggal dirumah ibu Dong Hae, untuk menemani wanita itu, lagi pula kakaknya Lee Dong Hwa kini menatap dibusan untuk mengelolah Hotel bintang enam miliknya yang cukup mewah.
“jadi kau hanya sehari disini? Kenapa tidak menginap saja? akan lebih baik jika kalian menginap terlebih dahulu”. Kali ini Nyonya Lee yang bersuara.
“tidak-tidak,hmm maksudku. Aku harus masuk kerja esok hari, jadi aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku”. Tandas Seo Na, sebisa mungkin tidak menerima tawaran dari Ibu Dong Hae, tidak mungkin ia menginap dan meninggalkan kantornya, pekerjaannya lebih penting dari apapun. Lagi pula ia bisa kemari kapanpun, dan menginap sepuasnya jika ia sedang cuti berlibur.
“Eomma, Seo Na punya pekerjaan yang tidak bisa ia tinggal. Aku juga akan kembali bekerja esok hari”. Tambah Dong Hae, Seo Na menarik napasnya lega, setidaknya pernyataan pria itu bisa membantunya sedikit banyak.
Wanita itu mendesah kecewa, tapi kali ini ia tersenyum dan mengangguk paham. “baiklah, aku mengerti, sebelum berangkat kemakam ayahmu, kalian bisa makan siang dulu dirumah”. Tawar Ibu Dong Hae, yang akhirnya direspon setuju oleh keduanya.
~~~000~~~
Dong Hae berjalan mendahului Seo Na, gadis itu mengekori Dong Hae dari belakang sambil mengenggam karangan bunga mawar putih ditangannya. Kali ini untuk yang pertama kalinya bagi Dong Hae membawa seorang wanita ke makam Ayah-nya, sebelumnya pria itu selalu berkunjung sendiri, terlebih ia ingin menceritakan semua kesedihan yang ia rasakan setelah sosok Ayah meninggalkannya, bagi pria itu sosok Ayahnya sangat berjasa. Hingga saat ini Dong Hae masih bisa menangis ketika mengingat Ayahnya.
Langkah Dong Hae terhenti tepat didepan gundukkan tanah tepat dimana Ayah pria itu dimakamkan. Sementara dibelakang pria itu, Seo Na hampir menabrak punggung Dong Hae yang berhenti tiba-tiba.
“kita sudah sampai”. Ucap Dong Hae, Seo Na mendongakkan kepalanya kearah Dong Hae setelah sebelumnya mengambil posisi tepat disamping kanan pria itu. Seo Na menatap Dong Hae sejenak sebelum akhirnya menatap batu berbentuk salib dihadapannya saat ini.
“aku akan berdoa sejenak, setelah itu aku akan meninggalkanmu sendiri, kau pasti butuh privasi untuk ini”. Seo Na meletakkan karangan bunga itu tepat dibawah batu nisan makan Ayah Dong Hae.
“kita akan berdoa bersama”. Ujar Dong Hae akhirnya, Seo Na menatap pria itu sejenak, ia bisa melihat jika mata pria itu kini tengah berkaca-kaca ia tau persis apa yang dirasakan pria itu, setidaknya ia juga pernah merasakan kehilangan orang yang ia cintai meskipun kedua orang tuanya meninggal saat ia belum paham betul arti sebuah kematian, namun ketika kakaknya meninggal Seo Na sangat tau dan paham bagaimana rasanya ditinggal orang-orang yang mereka cintai.
Keduanya sama-sama berdoa, khusuk dalam harapan masing-masing, ditambah lagi keheningan disekitar area pemakaman yang begitu sejuk dan asri, angin laut yang terasa hingga ketempat mereka karena pemakaman ini terletak diatas bukit yang tidak jauh dari sekitar laut.
“aku sering merindukannya”. Seo Na mengalihkan pandangannya kearah Dong Hae, suara pria itu bergetar, meskipun selama ini Seo Na tumbuh sebagai gadis dingin dan tak perduli disekitarnya tapi untuk saat ini ia sangat mengerti apa yang dirasakan Dong Hae, pria itu butuh tempat sandaran.
“kau boleh menangis”. Papar gadis itu. “ketika kau menangis, semua akan lebih ringan. Ketika kau menangis bukan berarti kau adalah orang yang lemah, hanya saja kau butuh untuk menangis. aku hanya terlalu jarang menangis, jika aku bisa aku akan menangis jika aku ingin, tapi aku tak bisa”. Lanjut gadis itu akhirnya, menatap Dong Hae yang kini menatap lekat kearahnya.
Pria itu mengalihkan tatapannya kearah batu nisan dihadapannya. Banyak kenangan yang ia lalui dengan orang yang kini sudah beristirahat tenang dialamnya itu, terlalu banyak yang ia rencanakan untuk Ayahnya kelak tapi pria itu lebih dulu meninggalkannya sebelum semua terwujud. Dong Hae menangis, tanpa sadar ia terisak sesekali ia bergumam memanggil Ayahnya, hanya untuk melepas semua kerinduan yang pria itu rasakan. Sampai pada akhirnya, sebuah pelukan menenggelamkannya pada ketenangan yang ia impikan selama ini, Seo Na memeluk pria itu membiarkan pria tampan itu menangis didalam peluakannya, setidaknya hanya ini yang bisa ia berikan untuk Dong Hae saat ini, pikirnya.
~~~000~~~
“selera mu bagus dalam mencari pantai, ternyata pantai dimokpo tidak kalah bagus dari pantai yang ku kunjungi di thailand”. Oceh Seo Na, sambil mengejar ombak yang menyurut lalu gadis itu berlari ketika ombak mulai kedaratan.
“terlalu sering menikmati negara lain lalu kau lupa dengan negara mu sendiri Na-ya”. ejek Dong Hae, gadis itu menatapnya mengerucutkan bibirnya yang tipis kedepan membuat pria itu terkekeh geli.
“yayaya terserah kau saja”. ujar gadis itu akhirnya, tidak terlalu berminat berdebat kali ini dengan pria itu lebih asik bermain dengan air laut yang biru dan jernih. Dong Hae sukses menyogok Seo Na dengan embel-embel pantainya, toh sekarang gadis itu asik dengan –pantai-nya tanpa memperdulikan Dong Hae yang kini berjalan mengikuti gadis itu sambil sesekali terkekeh melihat tingkah Seo Na yang sangat jauh dari kata dingin dan ketus yang ia sandang selama ini, gadis itu tampak lebih manusiawi.
“kenapa? Aku cantik ya?”. akhirnya gadis itu bicara, setelah menyadari tatapan Dong Hae tak beralih darinya. Gadis itu mengentinkan langkahnya. “banyak orang yang mengatakan aku jauh berbeda ketika bermain dipantai, mereka mengatakan aku lebih manusiawi. Terlebih Lee Teuk Oppa dan Yoo Ra, mereka selalu mengajakku kepantai ketika aku mengambil cuti pekerjaan, seperti terakhir kali mereka menyarankan thailand untuk ku kunjungi”. Dong Hae tersenyum, apa yang dikatakan gadis itu benar. Pantai sangat berpengaruh besar bagi perubahan sifat gadis itu, bagaimana bisa Seo Na yang ia kenal tadi siang dengan sifat dingin dan ketusnya kini berubah seperti gadis normal biasanya, gadis ini berbeda mungkin itu yang membuat Kyu Hyun mati-matian mencintai Seo Na.
“apa aku boleh bertanya satu hal?”. Ujar pria itu, Dong Hae menatap Seo Na membiarkan gadis itu balas menatapnya. Pria itu mendekatkan tubuhnya kearah gadis itu, meskipun sejujurnya pelukan yang Seo Na berikan tadi siang padanya dimakam Ayah Dong Hae memberikan efek tidak jerah bagi tubuh Dong Hae, yaitu menginginkan pelukan lagi dan lagi dari Seo Na.
Seo Na mengerinyit, menatap Dong Hae sesaat lalu mengangguk. “apa?”.
“apa yang membuatmu lari dari Kyu Hyun? Apa yang kau takutkan darinya?”. Seo Na terhenyak mendengar pertanyaan Dong Hae yang mengejutkan, seperti mendapat zonk , ekspresi wajah gadis itu berubah dalam sekejap.
“bukan sesuatu yang patut kita bahas”. Papar Seo Na, gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah pantai yang beberapa menit lagi mungkin akan menyuguhkan Sunset yang indah. Seo Na mengambil posisi duduk diantara pasir pantai yang kering, diikuti Dong Hae kemudian.
“aku tidak akan bertanya lebih tentang hal itu”. ujar Dong Hae, pria itu tersenyum manis. Dan setiap Seo Na mendapati senyuman pria itu, itu malah membuatnya refleks membalas senyuman Dong Hae. “aku terkejut ketika mengetahui semuanya dari Kyu Hyun”. Lanjut pria itu akhirnya.
“jadi dia menceritakan semuanya?”.
“karena aku juga menceritakan semuanya pada Kyu Hyun, aku dan Kyu Hyun tidak pernah saling tertutup sekalipun tentang perasaan kami masing-masing”. Tandas pria itu, Seo Na mengerjap jadi selama ini ia tidak salah Kyu Hyun dan Dong Hae memang saling mengetahui satu sama lain.
“dari awal aku juga sudah mengira tentang hal itu”. timpal Seo Na, sambil gadis itu membuat gundukan pasir dihadapannya tanpa berminat menatap mata Dong Hae yang tak pernah lepas sejak tadi memandanginya. “Kyu Hyun, entahlah aku tidak tau apa yang aku rasakan pada pria itu. aku tidak tau apa arti kebencian, aku juga tidak tau bagaimana menyukai seseorang itu. selama ini aku hanya merasakan sesuatau yang datar dan ambisi yang terus meledak-ledak dalam diriku sejak kematian Seo Yeo”. Jelas gadis itu.
“Na-ya”. panggil Dong Hae dengan suara rendah, gadis itu mengalihkan tatapannya, sambil memeluk lututnya sendiri. keduanya saling terdiam dan berpandangan, ada sesuatu yang lain yang ia rasakan ketika menatap mata Dong Hae, pria itu memiliki samudra yang luas dimatanya, setiap kali menatap mata Dong Hae ada sesuatu yang nyaman yang ia dapati. Meskipun, mata tajam milik Kyu Hyun tidak kalah menarik, tapi mata pria itu lebih seperti menuntut dan mematikan. Tatapan kedua pria itu berbeda tapi selalu berhasil menghanyutkan Seo Na.
“aku mencintaimu”. Dua kata yang sukses keluar dari mulut pria itu, dua kata yang kini membuat gadis dihadapannya tertohok kaget, dua kalimat yang sejujurnya datang dari hati pria bermarga Lee itu.
Seo Na tetap menatap Dong Hae, kini matanya membulat lebar, sebisa mungkin gadis itu menyembunyikan keterkejutannya dengan pernyataan pria itu. tidak, ini bukan pertama kalinya Dong Hae mengatakan perasaannya secara terang-terangan, ketika mereka pertama kali bertemu pria itu juga mengatakan hal yang sama, tidak ia tidak boleh hanyut dalam emosinya sendiri suasana pantai yang ia rasakan saat ini hanya suasana yang mendukung ungkapan perasaan pria itu, jadi ia yakin itu bukan sesuatu yang spesial.
Seo Na menyemburkan tawanya, gadis itu tertawa lebar. Sesekali ia menepuk pundak Dong Hae sebelum akhirnya kembali melanjutkan membuat gundukan pasir yang abstrak tak berbentuk dihadapannya.
“setelah melihat sunset kita akan pulang kan? Esok aku harus melanjutkan pekerjaanku, ada meeting dan beberapa presentase tentang pekerjaan yang masih terbengkalai dengan perusahaan lain beberapa hari lagi. Ahh astaga pria itu pasti datang”. Keluh gadis itu, mengganti topik pembicaraan –cinta-cinta-nya dengan beralih membahas tentang pekerjaannya.
“aku serius Na-ya”. lagi-lagi pria itu berusaha meyakinkan Seo Na, ia balas tidak merespon pembahasan Seo Na dengan perusahaan super suksesnya itu dan pekerjaan super sibuk yang akan ia jalani esok hari, yang diinginkan Dong Hae saat ini ialah gadis itu mengetahui semua apa yang ia rasakan. “kau tidak perlu menjawab apa-apa tentang perasaanku, kau hanya perlu tau”. Tandas Dong Hae akhirnya. Seo Na menatap mata pria itu tajam, gadis itu belum terlalu yakin dengan embel-embel cinta, bisa saja ia bernasib sama dengan kakaknya dimasa lalu, Seo Na tidak ingin itu terjadi.
“aku bukan Kyu Hyun yang pernah membuat kebencian dihatimu Park Seo Na, aku Lee Dong Hae aku harap kau mengerti maksudku”. Lanjut pria itu Seperti bisa membaca apa yangSeo Na pikirkan, ia tersenyum sejenak kearah Seo Na mengelus pipi gadis itu dan jika ia tidak bisa mengontrol dirinya ia bisa saja mendaratkan ciuman singkat dipipi penuh milik Seo Na, tapi tidak pria itu tidak akan berlaku lebih selama ia bisa menahan dirinya.
Seo Na spontan menutup matanya, menerima sentuhan lembut pria itu. ia paham betul dengan apa yang dikatakan Dong Hae sebelumnya, tentang siapa dia dan dia bukan seseorang yang harus ia takuti. Dong Hae benar, pria ini bukan Kyu Hyun yang pernah membuatnya merasakan rasa benci setengah mati, tapi pria yang dihadapannya ini adalah Lee Dong Hae, pria yang mengalah dimasa lalu untuk seorang Kyu Hyun.
‘aku seseorang yang dingin Lee Dong Hae, kau harus tau itu’. ujar gadis itu dalam hatinya, kembali menatap lautan dan sunset yang kini tersuguh indah dihadapan mereka, jauh pikiran gadis itu melayang, akankah ia bisa merasakan cinta nantinya?
~~~000~~~
Kyu Hyun mengehentikan mobil Ford hitamnya diparkiran gedung megah itu, mengenakkan jas hitam dan kemeja biru tua, lalu kaca mata yang menggantung dihidung mancungnya. Pria itu berjalan dengan tergesa-gesa kedalam gedung hari ini ia harus melakukan meeting dengan salah satu pemegang saham diperusahaannya, siapa lagi kalau bukan gadis yang memimpin perusahan PTI Corp, Park Seo Na.
Sesekali karyawan didalam gedung perusahaan itu membungkuk hormat kearahnya tidak terkecuali Yoo Ra yang sejak tadi gelisah menunggu Kyu Hyun dilobi gedung itu, gadis itu adalah penanggung jawab kerja sama dengan perusahaan Cho Company jadi jika tidak ada Kyu Hyun maka ia yang harus bertanggung jawab untuk menjelaskan keuntungan dengan perusahaan itu nantinya.
“kita sudah terlambat 10 menit Sajangnim, Seo Na-ssi tidak suka keterlambatan”. Ujar Yoo Ra dibelakang punggung Kyu Hyun, menyeimbangi langkah pria itu dengan sedikit berlari.
“gadis itu tidak akan berani memarahiku”. Jawab Kyu Hyun mantap. Pria itu melepas kacamatnya ketika mereka sudah berada didepan pintu ruangan meeting yang memang sudah berlangsung 10 menit sebelumnya. Kyu Hyun menghela napas mempersiapkan emosinya untuk menatap wajah gadis yang ia rindukan setengah mati selama 3 hari belakangan ini.
Didalam ruangan kini sudah berlangsung presentase, beberapa orang menatap sinis kearah Kyu Hyun yang diikuti Yoo Ra dibelakangnya, mengambil kursi tepat disamping Seo Na untung saja gadis itu kini tengah berdiri didekat layar besar menjelaskan poin-poin tentang kinerja perusahaan mereka.
Cukup lama gadis itu berkutat dengan layar besar, dan beberapa file yang harus dijelaskannya, kali ini ia kembali duduk perisis disamping Kyu Hyun, menatap pria itu tajam tanpa berbicara sedikitpun, dan Kyu Hyun tau jika Seo Na kini tengah meremehkannya.
“aku harus menemukan fileku yang tiba-tiba menghilang, karena itu aku terlambat”. Ujar pria itu, Seo Na menatapnya sejenak lalu tersenyum masam.
“bagus jika kau merasa”. Ejek gadis itu, kini Seo Na menarik berkas yang tadi berada di sisi meja Kyu Hyun melihat semua berkas-berkas laporan keuntungan dan perkembangan saham yang gadis itu minta pada Kyu Hyun, semua laporan itu sangat penting bagi Seo Na untuk meninjau semua perkembangan perusahaannya.
Kyu Hyun menatap gadis itu, memperhatikan wajah Seo Na yang kini sibuk membolak-balik kertas-kertas yang kini sudah berada digenggamannya. Wajah itu begitu serius, bahkan jauh terlihat lebih dingin, Kyu Hyun berdeham menyita perhatian Seo Na kearahnya, jujur saja gadis itu ingin sekali cepat-cepat angkat kaki dari dalam ruangan ini, dan yang membuatnya merutuk adalah kenapa pria itu bisa duduk persis disampingnya, semuanya seperti sudah tersusun dengan rapi gadis itu hanya bisa pasrah.
“apa? aku belum selesai mengoreksi semua laporannya Kyu Hyun-ssi”. jawab gadis itu datar, memicingkan matanya kearah Kyu Hyun lalu memilih memeriksa kembali laporan perusahaan ditanganya itu, ia tidak ingin berlama-lama menatap Kyu Hyun pria itu benar-benar seperti ingin memakannya hidup-hidup.
“setelah ini aku ingin bicara”. Kyu Hyun akhirnya bersuara, tidak tahan untuk tidak mengatakan keinginan yang sebenarnya untuk datang ke acara meeting yang sebenarnya bisa ia wakilkan pada Ye Sung asistennya.
“aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku, kita bisa bicara kapan saja”. jawab Seo Na tanpa melirik kearah Kyu Hyun, ia yakin jika sekarang ia sedang menonton acara kartun di televisi pasti latar belakang Kyu Hyun penuh dengan api-api yang menyala mendengar penolakkannya yang terdengar tidak beralasan.
“aku tidak akan menciummu lagi, jangan takut”.
“ne?”. Seo Na menarik kepalanya kearah Kyu Hyun, ia tidak salah dengarkan? Ciuman? Jadi pria itu masih mengingatnya ya? ya jelas saja, Seo Na tidak heran jika pria itu mengingatnya, toh bukankah waktu itu Kyu Hyun yang melakukannya, astaga membayangkan kejadian itu saja membuat perut Seo Na mual. “tidak usah berpikir yang seperti itu, lagi pula aku sudah melupakan yang baru saja kau ucapkan”.
“ciuman?”. Nada bicara pria itu sedikit meninggi, membuat beberapa orang didalam ruangan meeting melihat kearah mereka curiga, Yoo Ra yang tak jauh dari mereka hanya bisa menggeleng-geleng pasrah melihat sahabat dan – calon suami sahabatnya- itu tengah beradu argument yang tidak-tidak.
Seo Na yang mendengar hal itu langsung melotot tak percaya, ingin sekali ia menyumpal mulut pria itu dengan kertas-kertas dihadapannya agar tidak mengulangi kata-kata yang sakral baginya itu ditambah lagi tatapan-tatapan mematikan orang-orang didalam ruangan meeting ini.
Kyu Hyun menaikkan bahunya, tidak terlalu peduli dengan tatapan orang-orang disekitarnya, lebih peduli pada wajah Seo Na yang merah padam, dan sangat tertarik bermain dengan gadis ini. melihat Seo Na yang begitu Kyu Hyun merasa menang, gadis itu harus bertekuk lutut padanya, pikir Kyu Hyun bengis.
“baiklah, setelah ini kita akan bicara. Berapa lama terserah kau saja asal jangan katakan hal-hal yang membuat kepalaku meledak lagi”. Ujar gadis itu pasrah, akhirnya menyetujui ajakan Kyu Hyun atau lebih tepatnya ancaman Kyu Hyun dan lagi-lagi Kyu Hyun tersenyum penuh kemenangan ditempatnya.
~~~000~~~
Seo Na melirik kearah pria yang kini tengah berdiri didepannya saat ini, punggung pria itu tampak lebih kurus dari biasanya dan entah sejak kapan Seo Na memperhatikan tubuh Kyu Hyun yang memang sangat berbeda dari tubuh Dong Hae yang atletis dan memiliki beberapa otot ditubuhnya. kali ini Seo Na menepis jauh-jauh dahulu dengan kekagumannya terhadap tubuh Dong Hae, kali ini ia bersama Kyu Hyun ia harus fokus pada pria itu ia tidak ingin Kyu Hyun mengatakan hal yang tidak-tidak tentang ‘ciuman’ atau semacamnya yang membuat perut gadis itu mulas. Seo Na menghembuskan napasnya panjang menatap tubuh jakung pria itu dari belakang, pria yang sempat dibencinya atau masih dibencinya?
Kyu Hyun membalikkan badannya, menangkap tatapan Seo Na yang sejak tadi mengarah pada pria itu, Seo Na salah tingkah gadis itu melempar pandangannya kesembarang arah agar pria itu tidak mengetahuinya jika ia sedang menguntit diam-diam tubuh Kyu Hyun, apa menguntit? Terdengar menjijikkan, pikir gadis itu.
Kyu Hyun berjalan mendekat kearah Seo Na lalu duduk persis disamping gadis itu. “bagaimana liburan akhir pekanmu bersama Dong Hae Hyung?”. Akhirnya pria itu menyinggung tentang jalan-jalan singkatnya bersama Dong Hae, ia sudah menebak bagaimana pikiran Kyu Hyun saat ini.
“apa aku harus menceritakan semuanya padamu?”. Tanya gadis itu datar, sejujurnya ia ingin sekali kabur dari sini dan tidak menjawab satupun pertanyaan Kyu Hyun, lama-lama pria itu bisa membuatnya anemia.
Kyu Hyun menatap Seo Na, lagi-lagi tatapan –ya entah apa namanya- yang membuat Seo Na kalang kabut, tidak tau persisinya kapan tatapan pria itu seperti moncong pistol yang siap menembak, sama seperti pistol yang pernah ia pinjamkan dari Lee Teuk untuk membunuh Kyu Hyun waktu itu.
“aku bertemu dengan ibunya, lalu kemakam ayahnya, lalu kepantai dan Dong Hae-ssi mengantarku pulang”. Jelas Seo Na akhirnya, sebelum ia benar-benar mati terbunuh oleh tatapan Kyu Hyun.
Kyu Hyun mengangguk, sebenarnya pria itu masih ingin tau lebih banyak tapi ia tidak ingin Seo Na merasa jauh lebih risih dengan pertanyaannya yang terdengar sedang mengintograsi lebih baik pria itu membahas tentang yang lain, tentang dia dan Seo Na tentang rencana Ibu nya tadi malam pria itu harus mengatakannya.
“Na-ya”. panggil pria itu akhirnya, seketika darah Seo Na berdesir, bagaimana bisa pria itu membuatnya merasakan tegangan listrik hanya dengan menyebut ujung namanya, suara berat Kyu Hyun memang sangat memabukkan. “tentang Ibuku”.
Dahi Seo Na mengerinyit, ia tidak kenal sama sekali Ibu Kyu Hyun ya kecuali kakanya Seo Yeo yang memang sangat terkenal dikeluarga Kyu Hyun, terkenal? Ya apalah namanya. “Ibumu? Maksudmu?”. Tanya gadis itu pensaran.
“ia menyuruhku segera menikah untuk melanjutkan perusahaan”. Jelas Kyu Hyun singkat, belum sampai pada pembahasan yang sesungguhnya.
“bagus jika kau menikah, aku akan sangat senang melihat mu akhirnya bisa bebas dari masa lalumu”. respon gadis itu ketus, meskipun sebenarnya ia ingin sekali bertanya dengan siapa Kyu Hyun akan menikah lebih baik tidak, ia tidak ingin tau menahu lagi tentang hidup pria itu, jika Kyu Hyun menikah maka semakin kecil kemungkinan gadis itu jatuh cinta padanya, Seo Na lega tapi sejujurnya gadis itu merasakan ada yang aneh saat ini, tapi apa?
Kyu Hyun menatap Seo Na lebih dalam, meminimalisir jarak mereka. Kini pria itu dengan leluasa bisa menatap mata Seo Na yang terbelakak menatapnya, ia tau setelah ini Seo Na akan protes atau meneriakinnya seorang maniak seks. “a..apa?”. ucap gadis itu terbata.
“aku akan menikah denganmu”. Ucap Kyu Hyun enteng, tanpa memperdulikan wajah Seo Na yang kini berubah 180 derajat dihadapannya, meskipun Seoul sedang berada pada musim gugur tapi gadis itu kini malah kepanasan dengan pipi memerah dan mulut ternganga lebar, ia yakin ini adalah pose terjeleknya.
Semenit kemudian gadis itu tertawa lebar, menepuk pundak Kyu Hyun lalu menekan-nekan perutnya yang terasa perih karena terlalu banyak tertawa, ucapan Kyu Hyun terdengar seperti lelucon yang sukses mengocok perut Seo Na, gadis itu malah tertawa .
Kyu Hyun meraih tangan kanan Seo Na membuat gadis itu menghentikan tawanya seketika, mengerjapkan matanya kearah Kyu Hyun dan sedikit mendorong tubuhnya kebelakang memberi lebih banyak jarak dengan Kyu Hyun yang kini memang sedang memasang tampang seriusnya.
“aku serius Nona Park, aku rasa kau mengerti maksudku”. Tandas pria itu, Seo Na berusaha menarik tangannya dari genggaman Kyu Hyun tapi gagal karena pria itu menahan tangan Seo Na digenggamannya.
“aku juga serius”. Balas gadis itu, meskipun sekarang ia tidak tau apa yang sedang ia rasakan, karena sejak tadi wajahnya memenas, dan perutnya seperti diputar-putar, setelah ini ia akan membuat rekor pada Kyu Hyun dengan rekor -pembuat –sakit- perut -tersukses- mengalahkan cabai.
“tapi kau tau bagaimana aku Kyu Hyun-ssi, apa waktu itu belum cukup?”. Lanjut gadis itu, berusaha mengontrol emosinya sendiri, ia tidak ingin Kyu Hyun mendapati wajahnya yang menganga terkejut seperti yang berada di film-film lagi.
“waktu bisa mengubah semuanya Na-ya”. Kyu Hyun terdiam, menarik napasnya dalam-dalam, efek mengenggam tangan Seo Na cukup buruk karena kini keringat pria itu tiba-tiba mengucur deras. “seperti waktu yang mengubah kebencianmu kepadaku”.
“aku masih membencimu”.
“tapi aku tidak menemukan kebencian dimatamu lagi padaku, matamu tak pernah berbohong”.
“jangan sok tau”. Timpal Seo Na, merasa gerah dengan perdebatannya dengan Kyu Hyun, bagaimanapun pria itu selalu benar dan selalu menang, Seo Na sendiripun juga tidak merasakan kebencian lagi didirinya untuk Kyu Hyun, sekarang ia malah merasa bingung dengan apa yang sebenarnya yang ia rasakan terhadap pria itu.
“aku benar bukan?”. Kyu Hyun menebak, merasa tidak puas pria itu tak ingin mengalihkan pembicaraan mereka, ia hanya ingin Seo Na sadar dengan apa yang dirasakannya, ia tidak ingin gadis itu salah mengartikan perasaanya terhadap Kyu Hyun pria itu ingin Seo Na tau jika ia serius, ia bahkan berjanji untuk tidak menyakiti dan memberi penderitaan pada gadis itu lagi.
Seo Na menatap Kyu Hyun nanar, jika bukan karena harga diri gadis itu akan berteriak dan mengakuinya tapi karena ia tidak ingin Kyu Hyun merasa menang ia hanya menghembuskan napasnya kasar lalu menarik tangannya dari genggaman pria itu. gadis itu beranjak dari tempatnya berniat meninggalkan Kyu Hyun dan mengakhiri pembahasan yang membuat kepala gadis itu ingin meledak, ia butuh waktu untuk memahami semua ini.
Belum sempat gadis itu memasukki mobil sport-nya kini sepasang tangan sudah membuat tubuh gadis itu berbalik kebelakang memaksanya menatap dengan jarak yang begitu sangat dekat. Kyu Hyun menyandarkan tubuh gadis itu kemobilnya, Seo Na terperanjat dan kembali tersadar dengan perlakuan Kyu Hyun yang tiba-tiba.
“jika kau tidak bisa memahami perasaanmu sendiri, jangan panggil aku Cho Kyu Hyun jika aku tidak bisa menculikmu diam-diam dan membawamu kealtar dalam waktu dekat ini”. ancam pria itu dengan rahang yang mengeras dan tatapan yang begitu tajam, dengan jarak sedakat ini Seo Na bisa menghirup wangi tubuh Kyu Hyun yang cukup memabukkannya.
Pria itu melepaskan cengkaramannya pada pergelangan tangan Seo Na sebelum akhirnya beranjak dari hadapan gadis itu dan melesat dengan mobilnya meninggalkan Seo Na yang masih berjibaku dengan –apa yang baru saja-di alaminya.
“ASTAGA!!! KENAPA AKU HARUS BERTEMU PRIA GILA ITU!! AAARRRRRGH!”. Teriak Seo Na prustasi, tanpa memperdulikan beberapa orang-orang yang berlalu lalang yang kini tengah menatapnya ngeri.
Lagi-lagi seorang Park Seo Na harus mendapat ancaman yang tidak main-main dari seorang Cho Kyu Hyun, menyenangkan.

To Be Continue
~~~000~~~

REVENGE BEFORE LOVE (3/?)

Standard

Gambar

 

 

 

REVENGE BEFORE LOVE (3/?)

Action, Romance. PG + 17

Cast :

Cho Kyu Hyun

Lee Dong Hae

Park Seo Na

 

 

“apa yang terjadi?!”. Lee Teuk menahan teriakkannya.

“Na-ya tertembak, aku tidak tau bagaimana persisnya. Tadi Kyu Hyun yang mengantarnya kemari lalu pria itu mengejar orang yang sudah mencelakai Seo Na, aku tidak tau bagaimana ini bisa terjadi Oppa”. Yoo Ra terisak ia benar-benar terkejut setelah Kyu Hyun menghubungi gadis itu lalu memintanya untuk datang kerumah sakit.

Lee Teuk menarik tubuh Yoo Ra, membiarkan gadis itu menangis didalam dekapannya. “Seo Na akan baik-baik saja, aku tau gadis itu kuat”. Ujar Lee Teuk, menahan semua amarah yang bahkan sebenarnya tak bisa ia tahan lagi, bagaimana Seo Na –yang sudah dianggap adik oleh Lee Teuk – ditembak oleh orang yang tak dikenal, kenapa masih ada orang yang membenci gadis yang bahkan hidupnya saja sudah sedemikian sengsara.

“setelah ini aku akan menemui Dokter dan menanyakan keadaan gadis itu, setelah itu aku akan mencari pelakunya”.

~~~000~~~

Eun Hyuk menatap gadis itu, sejak tadi keduanya tidak bicara tentang apapun, dan gadis yang didepannya saat inipun hanya mematung tanpa mengeluarkan suara.

“kau gila?”. Ucap pria itu akhirnya, mengontrol semua emosi yang ia rasakan.

“aku hanya ingin membuatnya menderita-”.

“HAN JAE EUN!”. Gadis itu terlonjak kaget mendengar teriakkan Eun Hyuk yang memenuhi ruangan kerja pria itu. “kau bahkan tidak mengikuti apa yang aku katakan Eun-ah! Kau tau bukan, jika aku mulai menyukainya?”. Eun Hyuk bangkit dari tempatnya mendekat kearah Jae Eun yang kini sudah terpojok di sisi dinding ruang kerja Eun Hyuk.

“Wae? Kau membenciku?”. Ucap gadis itu bergetar.

“jika kau terus seperti ini aku akan membencimu Eun-ah, kau bukan Jae Eun yang ku kenal”. Geram pria itu, menatap wajah Jae Eun yang kini sudah tertunduk. Gadis itu bahkan melakukan apa yang tidak diperintahkan Eun Hyuk padanya.

Gadis itu terisak, ia tidak tau apa yang harus dilakukannya saat itu, mengikuti kedua orang itu dan menembak gadis itu hingga tersungkur kepasir pantai, hanya satu tembakan setelah itu ia pergi dari sana. Jae Eun sangat membenci gadis itu apa lagi setelah gadis kaya raya itu memikat Eun Hyuk dan dengan mudahnya pria itu masuk kedalam pesonanya, dan sekarang itu yang menjadi poin utama bagi Jae Eun untuk membenci gadis itu.

~~~000~~~

“bagaimana keadaan Seo Na-ssi, apa dia baik-baik saja?”. Dong Hae baru saja mendapat pesan dari Kyu Hyun jika gadis itu masuk rumah sakit, meskipun pria itu tidak menceritakan penyebab Seo Na dilarikan kerumah sakit.

Yoo Ra berkedik, menatap Dong Hae cukup lama sebelum pria itu memperkenalkan dirinya. “Dong Hae imnida”.

“Ah, Dong Hae-ssi. Hmm, Seo Na masih belum sadar, sejak tadi malam ia belum sadarkan diri, Dokter bilang tidak ada yang parah, Seo Na hanya butuh istirahat”. Jelas Yoo Ra, Dong Hae mengerang prustasi.

“apa aku boleh tau, apa yang sebenarnya terjadi?”. Ucap Dong Hae pada akhirnya, pria itu penasaran dengan apa yang sudah terjadi dengan Seo Na sebenarnya.

“Seo Na ditembak tadi malam”. Dong Hae mengerjap, matanya kini melebar tak percaya. Ditembak? Bagaimana bisa gadis itu dicelakai demikian? Seharusnya tadi malam ia yang berada disamping gadis itu, jika ia berada disamping Seo Na mungkin kejadian itu tidak akan terjadi. Pikir Dong Hae.

“apa luka tembakannya parah? Kyu Hyun tau hal ini?”. Dong Hae berubah semakin panik. Napas pria itu menderu hebat, ada sesak yang ia rasakan saat ini.

“sudah, karena gadis itu bersama Kyu Hyun tadi malam. Mereka kepantai, dan entah bagaimana Seo Na tertembak disana. tidak usah khawatir Dong Hae-ssi, Seo Na baik-baik saja”. Yoo Ra mencoba menenangkan pria itu, yang gadis itu lihat saat ini adalah Dong Hae yang begitu mengkhawatirkan Seo Na. Apa pria itu menyukai sahabatnya, pikir Yoo Ra.

‘seharusnya aku datang saat itu’. gumam pria itu lirih, ia menyesali ketidak hadirannya dimakan malam itu, jika ia datang Kyu Hyun tak akan membawa gadis itu kepantai lalu penembakan itu tidak akan terjadi. Seharusnya ia melindungi Seo Na, seharusnya ia yang menjaga gadis itu, bukannya malah membiarkan Kyu Hyun bersamanya.

Dong Hae baranjak meninggalkan Yoo Ra ditempatnya. “Dong Hae-ssi, kau mau kemana?”.

“melihat keadaan Seo Na”.

“Tapi-“. Pria itu berlalu begitu saja sebelum membiarkan Yoo Ra mencegahnya masuk kedalam ruang inap Seo Na.

~~~000~~~

“Apa Seo Na menyukai pantai?”. Tanya pria itu, sesekali memperhatikan gadis itu yang kini asik bermain dengan ombak dihadapannya. Senyum gadis itu begitu cerah ketika bertemu dengan lautan.

“hum”. Gumam Seo Yeo.”jika ingin melihat sifat asli gadis itu, maka ajak ia ke pantai, sikap dingin, keras kepala, dan wajah ketusnya semua berubah ketika ia berada dipantai, gadis itu akan terlihat lebih manusiawi, tertawa, bermain sama seperti gadis berumur 15 tahun lainnya”. Jelas Seo Yeo yang sejak tadi juga ikut memperhatikan adiknya itu bersama Kyu Hyun.

Kyu Hyun tak henti-hentinya menatap gadis yang umurnya lebih muda 5 tahun darinya itu, entah apa yang membuatnya begitu mengangumi sosok Seo Na, yang ia tau Seo Na berbeda dari gadis manapun yang pernah ia lihat, termasuk kakak dari gadis itu.

“pantas jika kau menyukai adikku Kyu, karena dia berbeda dariku”. Tandas Seo Yeo akhirnya, sedetik kemudian pria itu mengalihkan pandangannya pada Seo Yeo. “seharusnya aku merelakan perasaanmu yang lebih dulu menyukai Seo Na”.

“aku hanya bisa mengangguminya dari kejauhan seperti ini Seo-ya”. ujar Kyu Hyun, menatap sahabatnya itu intens. Ia tau Seo Yeo terluka, sama sepertinya yang hanya bisa menatap gadis yang ia sukai tanpa berani berbicara atau mengatakan rasa sukanya.

“kau hanya perlu menyimpan rahasia kita darinya, alasan kenapa aku tidak bisa menerimamu”. Seo Yeo mengangguk setuju.

~~~000~~~

Kyu Hyun tak henti-hentinya menatap wajah Seo Na yang sejak tadi malam terbaring diranjang rumah sakit, wajah gadis itu polos dengan mata tertutup Seo Na masih terlihat begitu cantik, tapi jika boleh jujur Kyu Hyun lebih suka menatap mata gadis itu jika ia sedang terjaga, karena pria itu bisa sepuasnya menatap manik mata Seo Na, hal yang disukainya bukan?

Sudah 8 tahun bukan Kyu Hyun kehilangan gadis itu, dan kini gadis itu sudah hadir dikehidupannya, gadis cantik berumur 15 tahun itu kini sudah menjelma menjadi gadis dewasa berumur 23 tahun dengan kadar kecantikannya yang terus bertambah, dan ini benar-benar anugrah bisa bertemu dengan gadis ini lagi.

Kyu Hyun mengelus pipi gadis itu, menahan tangannya agar tidak terlalu bernapsu menyentuh pipi Seo Na, ia tidak ingin gadis ini terluka lebih banyak karenanya ataupun karena siapapun diatas bumi ini, Seo Na adalah prioritas utamanya saat ini, sudah cukup kehilangan gadis ini selama bertahun-tahun dan membiarkan kebencian bersarang dihati gadis ini untuknya. Detik kemudian, mata Seo Na bergerak, Kyu Hyun berkedik.

“Na-ya”. panggil Kyu Hyun pelan, Seo Na berusaha menatapnya, mengatur pandangannya mengontrol cahaya yang menembus penglihatannya. “pelan-pelan saja, ada aku disini”. Ucap pria itu, sambil menggenggam tangan Seo Na pelan.

“Kyu?”. Ucap gadis itu lemah, Kyu Hyun tersenyum ingin sekali ia menghambur saat ini ketubuh gadis itu tapi tak mungkin gadis itu masih lemah, luka tembakan dibahu kanannya juga belum pulih.

“aku akan panggilkan Dokter untukmu”. Kyu Hyun segera memencet tombol diatas ranjang Seo Na, sebelum gadis itu menghentikan tangan Kyu Hyun.

“tidak usah Kyu, aku baik-baik saja”.

“Park Seo Na, ku mohon-“.

“tidak apa Kyu Hyun-ssi”. timpal gadis itu, ia memaksakan senyum nya pada Kyu Hyun dan lagi-lagi itu membuat Kyu Hyun menuruti kata-kata gadis itu.

“kau tau aku mengkhawatirkanmu? Hum? Aku tidak mendapatkannya, tapi setelah ini aku akan mengejar dan membunuhnya untukmu”. Ujar pria itu lirih, menatap tanpa bosan gadis cantik yang sedang berbaring dihadapannya ini. Seo Na mengingat kejadian yang ia alami tadi malam, bukan penembakan itu tapi kejadian sebelum itu, kejadian dimana Kyu Hyun mengatakan kenyataan yang terjadi sebenarnya tentang 8 tahun yang lalu, dan entah kenapa ia masih belum bisa mencerna dengan baik tentang -kenapa Kyu Hyun tidak bisa menerima Seo Yeo.

“Kyu Hyun-ssi, soal tadi malam, maksudku tentang sebelum penembakkan itu-“.

“kita akan bicarakan hal itu setelah kau keluar dari rumah sakit”. Kyu Hyun mencondongkan tubuhnya, mengecup kening Seo Na sekilas. Dan tanpa mereka sadar seseorang baru saja hendak masuk keruangan rawat Seo Na, namun pria itu mengurungkan niatnya setelah melihat keadaan yang terjadi didalam ruangan tersebut dan memutuskan menunda melihat kondisi gadis itu saat ini.

~~~000~~~

Seharusnya ia menerima semua kenyataan ini, kenyataan jika pria itu menyukainya. Tapi semua terlalu sulit, semua sudah terlanjur berjalan dijalan yang salah, gunung kebencian itu bahkan kini sudah meledak, ia membenci pria itu sangat membencinya, tapi saat ini ia harus menerima konsekuensinya jika ia harus membenci dirinya sendiri, bukankah alasan pria itu menolak kakaknya 8 tahun yang lalu adalah dirinya. Jadi haruskah ia tetap memelihara kebencian itu?

Seo Na mengerjapkan matanya, mendengar langkah dua orang memasuki ruang inapnya, Seo Na menatap bergantian ke arah mereka, tersenyum seperti biasanya, bukankah ia gadis yang kuat?

“sedang sakit masih bisa tersenyum?”. Ejek Lee Teuk yang mengambil posisi persisi disamping gadis itu.

Seo Na mencibir, mengalihkan pandangannya kearah Yoo Ra yang mengekori Lee Teuk dari belakang. “mana makanan untukku?”.

“makanan apa? Kau harus makan makanan rumah sakit! Dasar gadis keras kepala!”. Dumel sahabatnya itu, sejak sadar tadi pagi Seo Na tak henti-hentinya merengek meminta makanan diluar Rumah sakit, Gadis itu sangat menyukai makanan cepat saji.

“Na-ya, aku ingin bicara denganmu?”. Ucap pria itu, nadanya beruba serius. Seo Na memperhatikan Lee Teuk, ia tau pria itu banyak menyimpan rahasia tentang masa lalu kakaknya.

“aku sudah tau, Oppa. Dan seharusnya waktu itu kau memberi tahuku lebih dulu”. Timpal Seo Na.

Kening pria itu menyeringit, tidak mungkin Kyu Hyun mengatakan semuanya secepat ini pada Seo Na, pikirnya. “maksudmu tentang apa?”.

“tentang aku, Seo Yeo dan pria itu”.

“jadi pria itu sudah memberi tahumu?”

Seo Na mengangguk. “begitulah, tapi aku masih tidak bisa terima”.

“karena kau tak pernah mau mendengarkan aku selama ini”. sergah Lee Teuk, Seo Na mengalihkan pandangannya kelangit-langit. Lee Teuk benar, ia memang tak pernah ingin mendengarkan nasehat-nasehat pria itu dan lebih memilih menyimpan dendam dan kebencian dihatinya.

“waktu itu, aku jga terkejut jika Kyu Hyun menyukaimu. Memang, jika dibandingkan dengan Seo Yeo kau lebih menarik, kau lebih cantik, tapi aku yakin bukan itu alasan Kyu Hyun lebih mencintaimu dibanding Seo Yeo. Tiga hari sebelum Seo Yeo meninggal, ia memberi tahuku tentang hal itu, menitipkanmu padaku, dan juga membantumu meneruskan perusahaan. Karena itu aku tidak pernah mengizinkanmu mengikuti sekolah militer. Seo Yeo juga mengatakan padaku, jika kami harus merahasiakan semua ini darimu, dan memberi tahumu ketika kau cukup umur untuk menjalin hubungan dengan Kyu Hyun, dan lagi pula saat kau berumur lebih dewasa dari saat itu maka kau akan lebih jernih menerima semua kenyataannya, karena Seo Yeo tau kau akan terguncang dengan keadaan yang terjadi”. Jelas pria itu, Lee Teuk menghela napasnya berat, setidaknya ia sudah melakukan dengan bener semua permintaan Seo Yeo terhadapnya.

“aku lega, jika Kyu Hyun sudah memberi tahumu tentang hal itu. aku mengerti perasaanmu Na-ya, aku tau kau tidak bisa terima saat ini, tapi suatu hari kau akan mengerti kenapa semua ini terjadi, semata-mata karena Kyu Hyun dan Seo Yeo ingin kau bahagia”. Seo Na masih terdiam, ia lebih memilih tanpa melihat kearah Lee Teuk sedikitpun.

“baiklah, aku ingin kau istirahat, lusa kau diperbolehkan pulang. Tapi ingat, tidak untuk bekerja, kau hanya boleh istirahat sampai luka dibahumu mengering. Dan maaf, aku harus mengambil pistol itu darimu, Kyu Hyun sudah menyerahkan benda itu tadi malam padaku, jadi jangan keras kepala lagi!”. Ucap pria itu, Seo Na hanya mengangguk, lalu membiarkan pria itu berlalu dari kamar inapnya.

“Yoo Ra-ssi, jaga adikku ini, arraseo?”.

“Arraseo Oppa”. Jawab Yoo Ra sambil mengantar pria itu hingga pintu.

Seo Na menerawang dengan pikirannya sejenak, setiap kata yang keluar dari mulut pria itu membuatnya begitu sesak, tapi dibagian dirinya yang lain ia merasa lega, lega sudah mengetahui alasan kenapa Kyu Hyun menolak kakak-nya dimasa lalu, tapi yang belum bisa ia terima adalah dirinya yang menjadi alasan kenapa Kyu Hyun tak bisa menerima Seo Yeo saat itu.

“Yoo, batalkan semua kontrak perusahaan dengan Cho Company, aku rasa kerja sama kita sudah selesai”. Tukas Seo Na, Yoo Ra berdelik mencerna lebih jelas perkataan sahabatnya itu.

“maksudmu? Menarik saham sebesar 10% itu?”.

“tentu saja, aku ingin menghindar dari pria itu, aku tidak ingin menemuinya lagi, tidak akan”. Tandas gadis itu, Yoo Ra hanya mengangguk kecil menyetujui ide sahabatnya itu yang lebih terdengar gila.

~~~000~~~

“maksudmu? Aku masih tidak mengerti”.

“bagian yang mana?”.

“alasan kau menolak Seo Yeo saat itu adalah gadis itu? jadi maksudmu Seo Na yang kita kenal adalah adik Seo Yeo? Begitu?”.

“benar, apa yang ada dipikiranmu itu benar”. Ujar Kyu Hyun, sedangkan pria dihadapannya saat ini masih ternganga tidak percaya dengan kenyataan yang tengah ia alami, semuanya benar-benar sangat kebetulan.

“lalu? kau mencintainya?”. Tanya Dong Hae, Kyu Hyun mengangguk tanpa memperdulikan ekspresi kekecewaan Dong Hae saat ini.

“aku juga”. Tandas pria itu, Kyu Hyun menarik pandangannya kearah pria itu. “aku mencintainya juga, dan aku harap kau mengerti dengan keadaanku saat ini, aku tidak akan mengulang kejadian 8 tahun yang lalu, aku akan merebutnya darimu”.

“aku belum memiliki gadis itu”.

“maka aku akan memilikinya lebih dulu”.

“tidak semudah itu Hyung, karena aku sudah menunggunya selama 8 tahun, ini tidak mudah, kau tau? Aku larut dalam kesedihan selama 8 tahun, aku kehilangan kakaknya, dan aku juga kehilangan gadis yang ku cintai saat itu”. ujar Kyu Hyun dingin, tidak ada emosi dari nada bicaranya. Ia cukup tenang menanggapi semua perkataan Dong Hae.

“aku tidak peduli. Aku harap kita bisa bersaing, dia memilihmu atau aku nantinya”. Tawar Dong Hae, pria dihadapannya itu mengangguk setuju. Jika dimasa lalu Dong Hae membiarkan Seo Yeo larut dalam kepedihannya karena Kyu Hyun, maka kali ini ia tidak akan membiarkan Seo Na jatuh ketangan pria itu, tidak akan.

~~~000~~~

Seo Na melangkahkan kakinya terburu-buru keluar dari rumah sakit, masuk kedalam mobil Lamborghini Aventador-nya dengan tergesa-gesa, gadis itu sudah menyuruh salah satu karyawannya dikantor untuk mengantarkan mobil itu kerumah sakit, membayar semua administrasi Rumah sakit lewat rekeningnya, meskipun sebenarnya gadis itu masih punya waktu 2 hari lagi untuk tetap tinggal dirumah sakit.

Ia tidak mungkin meninggalakn perusahaan besar-nya lebih lama bukan? Meskipun ia masih punya sahabatnya Yoo Ra untuk menangani semua masalah perusahaan tapi ia bukan tipe yang akan tenang-tenang saja dengan perusahaan sebesar itu, lagi pula ia sudah bersusah payah membangun kesuksesaannya selama 8 tahun terakhir ini jadi tidak ada waktu untuk bermain-main lagi.

Gadis itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan 120km/jam, sebenarnya ini belum apa-apa jika bahunya sedang tidak sakit ia bisa mengendarai mobil sportnya itu seperti pesawat jet. Gadis itu sampai di gedung perusahaanya sekitar 15 menit mengingat jauh jarak antara rumah sakit internasional Seoul dengan gedung PTI Corp. Gadis itu sudah siap dengan setelan pakaian kerjanya yang memang selalu tersedia didalam yang biasa ia pakai dan menukar pakaian itu dirumah sakit sebelum ia berangkat dari sana. Seo Na masih memakai perban dibahu kirinya, jadi ia sengaja tidak memakai sempurna jas hitam yang kini hanya terselempang di bahu gadis itu.

“YAK!!! GADIS GILA?!”. Teriakkan Yoo Ra sukses membuat gadis itu menghentikan langkahnya didepan pintu ruang kerjanya. Seo Na mengalihkan pandangannya kearah sahabatnya itu, yang mungkin sebentar lagi akan menghadiahkannya dengan deretan-deretan ceramah agama.

“kau gila!!! Bagaimana kau bisa keluar dari rumah sakit?!”. Teriak gadis itu lagi.

“tentu saja dengan membayar administrasi rumah sakit”. Jawab Seo Na enteng.

“bukan itu maksudku! Astaga Na-ya! bahkan kau masih memakai perban, dan sekarang kau berniat bekerja?”.

“tentu saja? memangnya aku mau berlama-lama dirumah sakit? Tanpa ada orang yang menjagaku? Bagaimana kalau aku mati? Kau mau?”. Balas Seo Na.

“kau tidak akan mati, Tuhan belum ingin membunuh gadis keras kepala sepertimu”. Ejek Yoo Ra, keduanya memasuki ruangan kerja Seo Na. Gadis itu duduk dibangku kerjanya, dibantu Yoo Ra karena Seo Na masih susah bergerak karena tangan kirinya yang masih terluka.

“ngomong-ngomong, kau sudah memutuskan semua kontrak kerja sama dengan pria itu? bagaimana? Apa ia bisa terima?”. Tanya gadis itu tak sabaran, Yoo Ra memberikan tumpukan kertas yang sudah ia pegang sejak tadi ditangannya.

“ini apa?”.

“baca saja, mungkin setelah itu kau akan berubah pikiran”. Ujar Yoo Ra, Seo Na mengamati grafik keuntungan perusahaanya dari tumpukan kertas itu, keuntungan yang ia dapat selama bekerja sama setelah menaruh saham di perusahaan Cho Company. Kedengarannya memang terlalu cepat, tapi memang itu yang terjadi ternyata otak Kyu Hyun memang bekerja sangat baik.

“intinya, kita maraih banyak keuntungan dari perusahaan Kyu Hyun, dan jika kau menarik saham dari sana maka kita akan kehilangan keuntungan sebesar 30%, angka yang cukup tinggi mengingat persaingan perusahaan-perusahaan disekeliling kita, kau mengertikan maksudku Na-ya?”.

Seo Na menghela napasnya gusar, lagi-lagi kenapa ia harus terikat lagi dengan pria itu, seharusnya saat itu ia tidak menjalin kerja sama dengan perusahaan pria itu. “tidak usah berpikir mencari cara untuk memutuskan kerja sama dengan prusahannya Na-ya, pada kenyataanya hidupmu tidak akan pernah lepas darinya”.

“kerjasama dengan perusaan itu akan aku berikan tanggung jawab kepadamu seutuhnya, aku akan menangani kerja sama dengan perusahaan lain, lagi pula kau berperan penting disini”. Entah dari mana gadis itu mendapat ide, dan lagi-lagi Yoo Ra hanya bisa mengangguk lemah menyetujui sahabatnya itu.

“baiklah, gadis licik. Aku akau bekerja untuk calon suamimu”. Timpal Yoo Ra sebelum gadis itu dikunyah hidup-hidup oleh Seo Na.

“Yak!!!”.

~~~000~~~

“kau sudah keluar dari rumah sakit? Sebelum aku sempat melihat keadaanmu?”.

“tidak, bukan begitu maksudku. Aku hanya bosan berlama-lama diruma sakit, aku tidak suka sendiri”.

“bukankah Kyu Hyun menemanimu?”. Tanya Dong Hae akhirnya, dan sekarang ia bias mendengar jika gadis yang sedang berbicara ditelepon dengannya saat ini sedang terkekeh.

“tidak, ia orang yang sibuk, ia juga mempunyai perusaan besar yang harus ia tangani”. Jawab Seo Na seadanya, Dong Hae mengangguk mengerti.

“jika kau bosan, kau bisa menghubungiku Na-ya”. Tawar Dong Hae, lagi pula Seo Na bukan kepunyaan Kyu Hyun kan? Jadi gadis itu berhak dekat dengan siapapun.

“baiklah, aku akan menghubungimu jika aku butuh teman”. Ujar gadis itu akhirnya. “tapi soal makan malam-“.

“astaga, aku belum menyampaikan permohonan maafku sampai saat ini padamu, soal malam itu aku benar-benar minta maaf Na-ya, seharusnya malam itu aku datang, tapi sesuatu mendadak terjadi, Client ku diluar negeri memintaku untuk berangkat malam itu”. Ucap Dong Hae penuh penyesalan, Seo Na yang mendengar penjelasan pria itu hanya tersenyum diujung sambungan telepon mereka, sebenarnya ia tidak mempermasalahkan itu sama sekali.

“tidak apa-apa, aku mengerti pekerjaanmu. Jika aku punya pekerjaan mendadak malam itu aku juga harus menyelesaikannya”. Ujar Seo Na, Dong Hae menghembuskan napasnya lega, setidaknya gadis itu tidak marah dengannya soal makan malam saat itu.

“tapi?”. Dong Hae terdiam sejenak, ada sesuatu yang harus pria itu katakan.

“tapi apa?”.

“jika aku datang malam itu, aku pasti melindungimu”. Ujar pria itu akhirnya, Seo Na mengerjapkan matanya.’melindungi?’, bahkan Kyu Hyun tidak melindunginy saat itu, pikirnya.

“aku harus bayar berapa untuk perlindungan darimu?”. Ejek Seo Na.

“hanya dengan kau baik-baik saja Na-ya, itu sudah membuatku sangat bahagia, tidak terluka lagi, oleh siapapun. Jika perlu aku akan mencari orang yang sudah membuatmu terluka selama ini”. Ucap Dong Hae serius, tidak ada nada bercanda dari kalimat pria itu.

Seo Na berkedik, mencari orang yang membuatnya terluka selama ini? Bukankah Kyu Hyun orangnya?, gadis itu kembali memfokuskan pikirannya, menormalkan emosi yang kini tengah ia rasakan, lagi-lagi karena mengingat pria itu.

“tidak usah, Lee Teuk Oppa sudah menangani semua ini, aku sudah terbiasa dengan teror yang sering datang padaku, sejak aku memimpin perusahaan sebesar ini terlalu banyak orang yang tidak menyukai kesuksesan ku, aku maklum manusia memang tidak bisa melihat orang lain sukses darinya”. Ujar gadis itu, dan sekarang ia bisa mendengar dengan jelas jika Dong Hae tengah terkekeh.

“aku tau Nona Park, sepertinya kau harus mencari seorang pendamping hidup untuk menghadapi hujanan teror dari pesaing bisnismu”. Seo Na mengangkat bahunya, sepertinya begitu tapi untuk gadis itu sepertinya tidak.

“akan kupikirkan soal itu lain kali”. Ujar gadis itu sebelum keduanya memutuskan sambungan telepon mereka.

Seo Na meletakkan ponselnya diatas meja, kembali fokus pada tumpukan-tumpukan kertas yang kini sudah berserakan diatas meja kerjanya. Tadi pagi sekali gadis itu datang ke kantornya, mengingat kemarin ia hanya datang untuk memeriksa keadaan kantor dan laporan-laporang perusahaan yang selama 2 hari terakhir ditangani oleh sahabatnya Yoo Ra, tidak ada yang buruk bahkan keuangan perusahaan PTI Corp meningkat sejak gadis itu memutuskan menaruh saham pada perusahaan Cho Company. tapi bukan itu yang menjadi pokok masalah bagi gadis itu, yang menjadi masalah baginya adalah indeks pertemuannya dengan Cho Kyu Hyun akan lebih sering terjadi, dan bukankah ia harus lari dari pria itu.

Sejak kemarin Seo Na tidak menerima pertemuan dengan siapapun, termasuk Kyu Hyun yang mencoba menghubungi gadis itu tapi dengan enteng Seo Na menonaktifkan ponselnya. Tapi tetap saja pria pintar itu tidak habis akal, ia malah mencoba menghubungi Yoo Ra, dan Seo Na hampir gerah melihat usaha Kyu Hyun yang cukup serius akhirnya gadis itu hanya bisa mengancam Yoo Ra untuk mengatakan jika dirinya sedang berada diluar negeri pada pria itu. Tentu saja, ia tidak ingin membunuh jantungnya jika bertemu dengan Kyu Hyun terus-terusan, Tidak akan!

“ini sudah jam makan siang. Mau makan dimana Nona Park? Paris? Jerman? Atau Jepang?”. Goda Yoo Ra, Seo Na yang menyadari kehadiran sahabatnya itu hanya menghembuskan napasnya gusar.

“idemu cukup bagus. Atur saja jadwal penerbanganku untuk besok, sepertinya aku harus melarikan diri ke Paris”. Ujar gadis itu enteng, sambil menutup semua berkas-berkas yang baru saja ia kerjakan.

“melarikan diri dari pria itu? dia sudah menunggumu didepan pintu”.

“APA!!! KAU GILA?”. Teriak Seo Na, Yoo Ra terkekeh melihat ekspresi Seo Na yang terlihat seperti akan menemui malaikat maut.

“dia akan ke Paris bersamaku, Yoo Ra-ssi”. Seo Na mengalihkan pandangannya pada pria yang kini sudah berdiri dihadapannya, memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana hitam yang ia kenakkan.

“baiklah, aku akan mengatur keberangkatan kalian. Hmm, sepertinya aku harus pergi dari ruangan ini”. Yoo Ra beranjak dari ruangan kerja Seo Na tanpa memperdulikan Seo Na yang sejak tadi melotot kearahnya. Dan ia yakin ia bisa mati jika memandangi mata gadis itu yang bahkan bisa membunuhnya.

Kyu Hyun mendekat kearah Seo Na setelah Yoo Ra meninggalkan keduanya didalam ruang kerja gadis itu. Seo Na menatap Kyu Hyun dingin, meski ia tau jika saat ini kakinya sudah bergetar hebat, menatap pria itu saja sudah membuatnya ngeri, astaga pria itu setan ya? pikir Seo Na.

“keluar dari rumah sakit tanpa pertimbangan apa-apa, mematiakan ponsel, mengatakan jika sedang berada diluar negeri, menghindariku. Kau pikir akan berhasil?”. Ujar Kyu Hyun, rahang pria itu terlihat mengeras. Seo Na mengalihkan pandangannya, tidak fokus pada Kyu Hyun yang kini hanya berjarak beberapa Centi darinya saat ini, dan lagi-lagi itu membuat Seo Na hilang kendali.

“tidak ada urusannya denganmu”. Tandas gadis itu ketus.

“tentu saja ada. Cukup bermain-main seperti anak kecil Park Seo Na. Kau bukan gadis berumur 15 tahun lagi”. Timpal Kyu Hyun, Seo Na mengalihkan pandangannya pada pria itu, menatap mata Kyu Hyun, menyebalkan! Pria yang dihadapannya ini membuat ia kesal setengah mati.

“apa yang sedang kau bicarakan Tuan Cho? Kau mencoba mengintimidasiku? Astaga, kau tidak bercandakan? Ayolah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Jika kau hanya mengatakan hal-hal yang tidak bermutu, kau boleh keluar dari sini”. Kyu Hyun diam, ia tidak membalas sama sekali perkataan Seo Na, tapi malah semakin mendekatkan wajahnya pada gadis itu, menatap mata Seo Na intens, dan Seo Na yakin jika ia tidak kuat ia bisa tumbang karena tatapan tajam pria itu.

Kyu Hyun memiringkan kepalanya kekanan, mendekatkan wajahnya kearah gadis itu dan kini dengan jelas Kyu Hyun bisa merasakan hembusan napas Seo Na menerpa wajahnya. entah kenapa Seo Na hanya terdiam, lagi-lagi gadis itu hanya bisa menerima semua perlakuan Kyu Hyun yang lebih seperti memerintah dan membuatnya tak berdaya, Seo Na hanya bisa menutup matanya.

“jika kau lari dariku lagi, aku benar-benar akan melakukan adegan ranjang denganmu. Untuk kali ini kau bisa bebas”. Ancam pria itu dengan setengah berbisik, menggantung wajahnya tanpa menyentuh bibir gadis itu yang kini tengah mengatup ketakutan.

Seo Na membuka matanya, menatap Kyu Hyun yang kini sudah menjauhkan tubuhnya dari gadis itu, dan yang membuatnya malu saat ini adalah pria itu tengah terkekeh geli melihat ekspresi Seo Na yang terlihat lebih seperti pasrah, astaga ia tidak bisa membayangkan betapa bodohnya wajahnya saat ini didepan pria itu.

“kali ini kau bebas, aku akan menemuimu esok. Sepertinya paris bukan kota yang terlalu buruk untuk kita datangi berdua”. Ucap pria itu akhirnya, sebelum ia beranjak dan berlalu dari hadapan Seo Na.

Seo Na yang baru mencerna ucapan pria itu hanya bisa berteriak gusar. “ASTAGA!!! PRIA ITU GILA YA!!!”.

~~~000~~~

Eun Hyuk memarkirkan mobilnya ditepi jalan, turun dari Mobil Jeep hitam mengkilat miliknya, memasuki mini market kecil yang pernah membuat sejarah manis didalam kehidupannya. Sedetik kemudian, langkah pria itu terhenti ketika mendapati seorang gadis yang baru saja keluar dari mini market, menggunakan mantel bulu selutut yang menutupi tubuh seksinya, dengan gesit ia setengah berlari kearah gadis itu sebelum akhirnya dapat meraih pergelangan tangan gadis itu.

“Maaf-“. Ucap pria itu salah tingkah, gadis itu cukup kaget dan menoleh kearah Eun Hyuk.

“ada apa?”. tanya gadis itu seadanya, menarik pergelangan tangannya yang sebelumnya berada didalam genggaman tangan Eun Hyuk.

“kita pernah bertemu sebelumnyakan?”. Pria itu mencoba mengingatkan gadis yang berada dihadapannya saat ini tentang pertemuan dadakan mereka beberapa minggu yang lalu. “kau menabrakku lalu kita-“.

“ah, aku ingat. Aku sudah meminta maaf bukan? Apa masih kurang? Kau boleh meminta rugi padaku”. Seo Na sedikit mengerang. Bagaimana ia bisa bertemu dengan pria yang sejujurnya adalah pria yang merebut ciuman pertamanya, sebenarnya bukan ciuman hanya kecelakaan ringan yang membuat mereka harus menempelkan bibir satu sama lain.

“tidak, maksudku bukan begitu. Tapi-“.

“apa?”.

~~~000~~~

“aku benar-benar tidak tau jika keberhasilan perusahaanku bisa merugikan perusahaanmu”. Lirih Seo Na, ia sedikit menyesal karena memang sepertinya pesaing perusahaanya harus banyak yang gulung tikar setelah PTI Corp merajai bisnis industri di Korea Selatan.

“tidak apa-apa, aku masih punya beberapa modal untuk mulai merancang bisnis baru”. Eun Hyuk tersenyum, menyusup kopi hangat yang baru saja ia pesan. Setelah menawarkan Seo Na untuk minum kopi bersamanya akhirnya gadis itu setuju hanya untuk membayar kesalahan yang pernah ia lakukan pada pria itu.

“apa itu terluka?”. Tanya Eun Hyuk, Seo Na menatap bahunya sejenak lalu menggelang.

“tidak, ini hanya luka biasa. Aku sudah membayar mahal untuk menghentikan rasa nyerinya”. Jawab gadis itu seadanya. Eun Hyuk tersenyum, ia menemukan banyak keistimewaan dari diri Seo Na meskipun seujurnya gadis ini lebih terlihat cuek dan dingin. Dan soal luka itu, ia sudah jelas tau siapa orang dibalik penembakkan yang terjadi malam itu.

“ada apa? ada yang aneh denganku?”. Tanya Seo Na ketika menyadari tatap Eun Hyuk tidak lepas dari wajahnya, dan itu cukup membuat gadis itu sedikit risih.

“kau cantik”. Seo Na berdekedik. Apa-apan pria ini? pikirnya. ia membalas senyuman Eun Hyuk seadanya, kembali menyusup kopi hangat diatas meja, lalu tanpa sengaja ide cemerlang melintas diotak gadis itu. pria ini? bisa ia manfaatkan untuk kabur dari Kyu Hyun esok kan?

~~~000~~~

Kyu Hyun menatap kedua orang yang kini tengah makan makan siang disebuah restoran bergaya clasic, siwanita sejak tadi tak henti-hentinya tersenyum kearah pria yang berada dihadapannya. Yang membuat Kyu Hyun semakin panas adalah gadis yang kini tengah makan siang dengan seorang pria yang tidak dikenalinya itu berani membatalkan acara liburan dadakan mereka keparis siang ini, hanya karena alasan ingin makan siang dengan sahabatnya. Entahlah, sahabat atau siapapun pria itu ingin sekali Kyu Hyun menarik paksa gadis itu lalu melahapnya.

“jadi pria itu siapa?”. tanya Kyu Hyun akhirnya, pada Yoo Ra yang kini bersama dengan pria itu. Kyu Hyun memaksa Yoo Ra ikut dengannya agar ia bisa mendapatkan informasi lebih lengkap.

“Seo Na selama ini tidak memiliki teman laki-laki, kecuali Lee Teuk Oppa, Dong Hae-ssi dan juga anda. Tapi yang satu ini aku tidak mengenalnya, bahkan Seo Na tidak pernah menceritakan apapun”. Jelas Yoo Ra seadanya. Memang selama ini hanya Lee Teuk, Dong Hae dan Kyu Hyun-lah yang pernah masuk kedalam kehidupan gadis itu, selebihnya tidak ada setau Yoo Ra.

Yoo Ra menatap Kyu Hyun diam-diam, terlihat jelas jika pria itu tengah cemburu melihat kejadian yang ada dihadapan mereka, meja yang sedikit privasi tidak jauh dari tempat Yoo Ra dan Kyu Hyun berada. Gadis itu sekali lagi mencoba mengingat-ngingat pria yang bersama Seo Na tapi tetap saja ia tidak tau pria itu, tapi hari itu Seo Na pernah bertemu dengannya dengan parfum laki-laki yang melekat pada tubuhnya kan? Gadis itu juga tidak mengelak ketika Yoo Ra menunduhnya baru saja mendapatkan pelukan selamat pagi dari seorang lelaki, bisa saja pria itu.

“Kyu Hyun-ssi”. panggil Yoo Ra, Kyu Hyun menoleh kearah gadis itu yang sebelumnya tidak henti-hentinya menatap Seo Na.

“hari itu Seo Na sempat datang kekantor dengan wangi parfum pria yang melekat ditubuhnya. saat itu aku menggodanya dengan bertanya –apa ia waktu itu baru saja mendapat pelukan selamat pagi dari seorang lelaki?- tapi gadis itu tidak menjawab apa-apa, aku berpikir jika pria itu orangnya, ya mungkin saja”. tebak Yoo Ra. Kening Kyu Hyun mengerut, -pelukan selamat pagi?- pikir Kyu Hyun.

“tapi setau ku, Seo Na bukan orang yang gampang diperlakukan seperti itu”. timpal Yoo Ra akhirnya, ia menghembuskan napasnya gusar. Jika ia terus menebak-nebak seperti ini bisa saja ia memberikan info tidak benar kepada Kyu Hyun.

“aku rasa juga begitu”. Ucap Kyu Hyun menyetujui pendapat Yoo Ra, sebelum keduanya meninggalkan restoran itu sebelum Kyu Hyun benar-benar akan menyeret Seo Na keluar lalu menidurinya disalah satu hotel. Astaga!

~~~000~~~

“dia sudah pergi”. Ucap Eun Hyuk, Seo Na menghembuskan napasnya lega.

Keduanya terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing. “apa yang membuatmu tidak menyukai pria itu?”. akhirnya Eun Hyuk angkat bicara, menyita perhatian Seo Na yang sejak tadi mengunyah makanannya.

“sesuatu terjadi dimasa lalu sehingga aku harus menjauhinya”. Jawab Seo Na seadanya, tidak terlalu berkenan menjelaskan banyak hal tentang masa lalunya dengan pria yang ia minta untuk menemaninya makan malam setelah tadi malam membuat kesepakatan dengan Eun Hyuk.

“apa dia kekasihmu?”.

“UHUK!!!”. Seo Na tercekik ketika ia mendengar pertanyaan Eun Hyuk, pria itu segera menyodorkan air mineral yang tidak jauh dari jangkauannya. “terimakasih”. Ucap Seo Na, setelah menerima air mineral itu dari tangan Eun Hyuk.

Eun Hyuk melanjutkan makan malamnya, tanpa meminta Seo Na menjawab pertanyaannya yang membuat gadis itu tersedak, mungkin saja gadis itu benar-benar akan muntah jika ia terus bertanya.

~~~000~~~

“aku dengar kau makan dengan seorang pria malam kemarin?”. Tanya Dong Hae disela makan siangnya dengan gadis itu. Seo Na hanya mengangguk. “apa aku boleh tau dia siapa?”. tanya Dong Hae lagi.

“hanya teman bisnis yang mengajakku makan malam”. jawab Seo Na seadanya, Dong Hae tetap menatap gadis itu lekat-lekat. “baiklah, aku mengangku jika dia pria yang menjadi alasanku untuk menolak ajakan liburan Kyu Hyun yang mengerikan”.

Dong Hae berdelik. “maksudmu?”.

“aku membatalkan ajakan liburan Kyu Hyun ke Paris siang itu, dengan alasan makan malam dengan rekan bisnisku. Ya semata-mata itu hanya karena aku tidak ingin berurusan lagi dengan Kyu Hyun”. Ujar gadis itu, ia mengatakan yang sejujurnya pada Dong Hae. Ya gadis itu juga tidak ingin jika pria yang berada dihadapannya saat ini mengira yang tidak-tidak tentang Eun Hyuk.

Dong Hae terkekeh, jadi karena gadis itu tidak ingin diajak liburan oleh Kyu Hyun ia malah meminta seseorang untuk menemaninya makan malam. tapi ia memang berhasil, karena Kyu Hyun memang terlihat seperti pria prustasi.

“kau membuat kesalahpahaman pada dua pria sekaligus. Aku juga berpikir jika pria itu kekasihmu”.

“tapi sayangnya tidak”.

“itu berita bagus”. Tandas Dong Hae. “aku tidak perlu bersaing dengan banyak pria”. Lanjut pria itu lagi, Seo Na berkedik. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan pria itu padanya.

Keduanya kembali terdiam cukup lama, berkutat dengan pikiran masing-masing sambil menikmati makan siang mereka di restoran yang tidak terlalu jauh dari kantor Seo Na, awalnya gadis itu menolak ajakan Dong Hae tapi karena pria itu bersikukuh gadis itu menerima ajakan Dong Hae dan meninggalkan pekerjaanya yang tak pernah bisa ia tunda.

“akhir pekan apa kau punya waktu?”. tanya pria itu akhirnya setelah makan siang mereka selesai sebelum beranjak dari restoran menuju kantor masing-masing.

“hanya pekerjaan yang seperti biasanya harus ku selesaikan, tidak ada kegiatan lain selain bekerja dalam hidupku, memangnya ada apa?”.

“aku ingin mengajakmu ke tanah kelahiranku Mokpo, bagaimana?”. Tawar Dong Hae, gadis itu menatap Dong Hae sejenak, berpikir tentang tawaran tiba-tiba dari pria itu. “kita hanya sehari disana, aku merindukan ibuku. Setelah itu kita akan berjalan-jalan kepantai lalu pulang”.

Seo Na mengangguk, tidak ada salahnya jika ia menerima tawaran Dong Hae lagi pula tidak buruk bukan? Kepantai, bukankah itu sangat menyenangkan?

~~~000~~~

Yoo Ra sudah beberapa kali memencet bel apartemen sahabatnya itu, hari ini ia tidak bertemu dengan Seo Na, ditambah lagi ia harus ditugaskan untuk mengurus beberapa kerja sama dengan perusahaan lain salah satunya perusahaan yang dipimpin oleh Kyu Hyun, Seo Na tidak ingin sama sekali mengambil alih kerja sama dengan perusahaan itu, bertemu dengan Kyu Hyun sama saja dengan masuk dalam lubang buaya, mengerikan pikir gadis itu.

Terdengar suara langkah kaki dari dalam yang tergesa-gesa sebelum sosok gadis itu membukakan pintu dengan handuk diatas kepalanya, Yoo Ra yakin Seo Na baru saja selesai mandi, pantas saja gadis itu harus menunggu lama diluar apartemen Seo Na.

“ehh kau datang, aku kira kau masih sibuk dikantor”. Ejek Seo Na mengambil posisi di sofa depan televisi. Yoo Ra mengekori gadis itu dari belakang dan mengambil tempat disamping Seo Na.

“Yak! Seharusnya kau yang menangani kerja sama dengan Kyu Hyun, kau tau pria itu seperti mayat hidup. Ditambah lagi ketika ia melihatmu makan malam dengan pria yang tak jelas itu”.

“dia Eun Hyuk, jangan sembarangan mengatakan orang tak jelas”. Protes Seo Na.

“Woho! Sejak kapan sahabatku begitu peduli dengan pria sehingga ia membelanya. Jadi pria itu benar pacarmu? Siapa namanya? tapi aku lihat-lihat wajahnya tidak lebih tampan dari Kyu Hyun ataupun Dong Hae, seleramu rendah sekali”. Seo Na melirik sahabatnya itu sejenak lalu kembali menatap tayangan ditelevisi.

“haruskah aku menjawab pertanyaanmu yang menjijikan itu Yoo?”. Yoo Ra terkekeh mendengar Seo Na yang terdengar kesal.

“baiklah, baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi tentang pria itu, ya aku percaya dia bukan kekasihmu lagi pula bagaimana bisa gadis dingin sepertimu menyukai laki-laki”.

“apa katamu saja”. ucap Seo Na lalu beranjak dari tempatnya menuju dapur mengambil beberapa minuman Soda didalam lemari es, mengambil dua kaleng minuman soda lalu kembali kesofa depan televisi, menyodorkan minuman itu ke arah sahabatnya.

“apa Kyu Hyun menanyakan hal yang aneh-aneh tentangku?”. Tanya Seo Na, Yoo Ra menggelang, sambil meneguk minuman soda ditangannya.

“tidak, dia hanya cemburu. Ya sangat cemburu lebih tepatnya. Aku tidak menyangka jika dia sangat menyukaimu, tapi wajar saja dia seperti itu, lagi pula pria itu sudah mencintaimu selama bertahun-tahun wajarkan dia sangat ingin memilikimu”. Jelas Yoo Ra, Seo Na hanya terkekeh lalu meneguk minuman ditangannya hingga tandas.

“hahaha aku tidak tau bagaimana ekspresi pria itu ketika melihatku dengan Eun Hyuk-ssi. seharusnya ia tidak percaya diri duluan denganku. Dia pikir dia siapa? dan dia kira aku Seo Yeo yang tergila-gila padanya, sampai kapanpun aku akan membuat tembok setinggi mungkin agar tidak bertemu pria itu, astaga membayangkannya saja membuatku ngeri”. Ujar gadis itu polos, sejujurnya ia lebih takut terperangkap dalam pesona Kyu Hyun. Tidak lucu, jika suatu saat nanti ia mencintai pria yang selama ini ia benci.

“apa kau yakin bisa membuat tembok itu? aku rasa sebentar lagi pria itu akan menikahimu”. Ejek Yoo Ra, lalu menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Seo Na, bisa saja gadis itu menjambak rambutnya lagi.

“astaga, jika aku menyetujui ajakannya untuk menikah kau harus membawaku kepisikiater setelah itu, mungkin saja ada sel sarap kepalaku yang putus”. Tandas gadis itu, membuat sahabatnya terkekeh geli.

“bagaimana dengan perusahaan, apa ada kendala? Sepertinya akhir-akhir ini kau tidak terlalu sibuk seperti biasanya, dan juga jarang membeli barang-barang dengan harga yang terserah aku tidak bisa membayangkan nolnya”.

Seo Na mengangguk. “ya seperti itulah, sejujurnya perusahaan kita sangat diuntungkan oleh perusahaan pria itu, ditambah lagi penjualan dan permintaan konsumen meningkat pada perusahaan kita”. Jelas gadis itu, Yoo Ra sedikit tersenyum, kini gadis itu kembali duduk disamping Seo Na menepuk lunak pundak sahabatnya itu.

“kau tau Na-ya, kau banyak berubah setelah bertemu dia. aku melihat, kau tidak pernah benar-benar membencinya”. Ucap Yoo Ra tulus, tidak peduli jika Seo Na tak setuju denga pendapatnya itu.

~~~000~~~

Seo Na menggeliat kekiri dan kekanan, ini adalah hari jumat dan lusa ia bisa beristirahat dengan tenang tanpa pekerjaan yang terus membuat kepalanya pusing. Ahh, ia baru ingat jika lusa ia harus menemani Dong Hae ketanah kelahirannya, ya setidaknya pria itu juga menawarinya ke pantai, itu bukan ide buruk.

Sudah berkali-kali gadis itu memaksakan matanya untuk terbuka tetapi tetap saja ia masih ingin bermalas-malasan diatas ranjangnya. Pekerjaan dikantor sudah menunggu, pikir gadis itu sebelum akhirnya ia memaksa tubuh rampingnya bangkit menuju kamar mandi. tidak berselang lama sebelum akhirnya Seo Na sudah rapi dengan setelan jas hitam yang biasa ia kenakkan untuk kekantor, tapi hari ini gadis itu memilih memakai rok diatas lutut, tidak seperti biasanya menggunakan jeans hitam dengan atas kemeja putih.

Seo Na beranjak menuju dapur, mengambil beberapa potongan roti dan segelas susu, sebelum memutuskan untuk segera berangkat ke kantor. Gadis itu melangkah meninggalkan apartemennya, sebelum akhirnya ia membuka pintu dan menemukan seorang pria dengan kemeja biru lembut dipadukan dengan dasi dongker ditambah tatanan rambutnya yang dibuat sedikit berantakkan dengan warna yang berbeda dari biasanya, pria itu mengecat coklat rambutnya dan itu yang membuat ia terkesan –err- dimata Seo Na pagi ini.

Seo Na berkedik, sebelum akhirnya gadis itu mengontrol mimik wajahnya, ia tidak ingin pria yang sedang berada dihadapannya saat ini melihat ekspresi penuh kekagumannya pada pria itu, ya kagum sepertinya begitu.

“ada apa? bagaimana kau bisa tau apartemenku?”. Ujar gadis itu ketus, melayangkan pertanyaan yang lebih terdengar mengintrogasi.

Kyu Hyun tetap menatap gadis itu, dan kini pandangannya teralih pada rok diatas lutut Seo Na yang lebih terlihat seperti rok mini tepatnya. “ini tidak bagus untukmu”. Ucap Kyu Hyun santai, sambil menunjuk rok Seo Na dengan belahan di bagian belakangnya. Sejujurnya, Seo Na ingin sekali menendang pria itu yang jelas-jelas tidak menjawab pertanyaannya malah mengomentari perubahan busanannya.

“jadi kau jauh-jauh kemari hanya untuk mengomentari rok yang ku kenakkan? Astaga, kau benar-benar seorang penguntit tuan Choi”. Ejek Seo Na, Kyu Hyun mengerutkan keningnya. “baiklah, jika ingin membahas tentang kerja sama kita kau bisa menemuiku dikantor, tidak usah sampai-sampai menguntitku hingga ke apartemen, kau tau kau berlebihan”. Timpal gadis itu, tanpa memperdulikan tatapan Kyu Hyun yang lebih terlihat seperti ingin memakannya. Seo Na salah tingkah, sebenarnya tatapan pria itu cukup membuatnya ngeri, bagaimana pria itu bisa menakutkan seperti itu, memang apa yang terjadi dengannya, apa tentang makan malamnya bersama Eun Hyuk? ASTAGA! Pekik gadis itu dalam hatinya.

Kyu Hyun menarik tangan gadis itu masuk kembali kedalam apartemennya, apartemen yang sangat luas untuk gadis dengan ukuran tubuh seramping Seo Na, pikir pria itu. Kyu Hyun menutup pintu apartemen gadis itu dengan kasar memojokkan Seo Na pada sofa yang tidak jauh dari pintu masuk apartemen gadis itu. Seo Na sedikit meronta mendorong tubuh jakung Kyu Hyun hingga pria itu sedikit tertolak kebelakang, sebelum akhirnya Kyu Hyun kembali menyudutkan Seo Na diatas sofa.

“YAK! CHO KYUHYUN KAU INGIN MEMPERKOSAKU YA!”. teriak gadis itu tidak terima dengan perlakuan Kyu Hyun yang memang sedikit kasar, jika ia tidak bisa mengontrol dirinya lebih baik lagi bisa-bisa pria itu mendapat tendangan gratis dari Seo Na.

Kyu Hyun duduk disamping gadis itu, memejukan tubuhnya kearah Seo Na hingga jarak mereka begitu dekat, Seo Na bisa melihat dengan jelas sirat kemarahan yang terlihat dari mata Kyu Hyun, ya pria itu memang sedang marah. “bukan aku sudah bilang, jangan bermain-main denganku Nona Park”. Kyu Hyun terdiam sejenak, Seo Na mengalihkan pandangannya pada dinding dibelakang tubuh pria itu. “Lee Eun Hyuk”. Lanjut Kyu Hyun akhirnya, menyebutkan nama seorang pria yang menjadi teman makan malam Seo Na malam itu.

“dia rekan bisnisku”. Ucap Seo Na mantap.

“apa dia pacarmu? Aku dengar kau pernah mendapatkan pelukan selamat pagi darinya”. Ucap Kyu Hyun datar, Seo Na membulatkan matanya tidak terima dengan apa yang dituduhkan pria itu padanya.

“Han Yoo Ra, gadis itu benar-benar!”. Gumam Seo Na, dan tentu masih bisa terdengar jelas oleh Kyu Hyun karena jarak mereka sangat dekat saat ini.

“jadi benar?”.

“tidak ada urusannya denganmu tuan Cho! Kita tidak punya hubungan apa-apa”. tandas gadis itu, Kyu Hyun menarik napasnya menjauhkan tubuhnya dari Seo Na lalu berdiri membelakangi gadis itu.

“apa pernyataanku hari itu tidak cukup?”. Kyu Hyun menghembuskan napasnya gusar, melonggarkan dasinya mengambil lebih banyak pasukkan udara disekelilingnya.

“tidak ada pernyataan apa-apa diantara kita Cho Kyu Hyun, kau dan aku hanya relasi bisnis tidak lebih. Kau hanya pernah menjadi masa lalu kakakku dan aku Seo Na bukan Seo Yeo”. Kyu Hyun membalikkan badannya, menatap gadis itu gusar. Bagaimana dengan enteng Seo Na mengatakan hal itu, bahkan gadis itulah yang mengisi masa lalunya, Seo Na-lah yang ia cintai bukan Seo Yeo. “tidak perlu menemuiku lagi, kau tau aku tidak ingin masuk kedalam jeratanmu seperti Seo Yeo, aku tidak ingin merasakan sakit sepertinya!”. Tandas gadis itu akhirnya, dan semua itu murni dari dalam hatinya. Ia tidak pernah lagi memiliki dendam pada Kyu Hyun gadis itu hanya takut, jika ia jatuh cinta pada Kyu Hyun dan mendapat luka yang sama seperti yang dialami Seo Yeo dimasa lalu.

Seo Na beranjak dari sofa yang ia duduki, meninggalkan Kyu Hyun yang kini tengah mematung mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut gadis itu. Seo Na melangkah meninggalkan pria itu masuk kedalam lift menuju lantai dasar, terus bermain-main dengan Kyu Hyun benar-benar akan membuatnya sinting, tidak bisa ia pungkuri jatuh cinta pada pria itu adala hal yang paling ditakutkannya.

Kyu Hyun menahan pintu lift, sebelum pintu lift tertutup sempurna menyusul gadis itu yang sudah lebih dulu berada didalam lift, sekarang hanya ada mereka berdua. Seo Na ingin sekali menyumpah serapahi dirinya yang membiarkan pria itu masuk kedalam lift, didalam lift sekecil ini dengan Cho Kyu Hyun, jujur udaranya terasa semakin panas.

“perasaanku pada mu berbeda dengan apa yang kurasakan pada Seo Yeo”. Ucap Kyu Hyun memecah keheningan diantara mereka, Seo Na berdelik menatap pria itu. Kyu Hyun membalas menatapnya.

“kau tidak akan pernah bisa merubah keadaan Cho Kyu Hyun”.

“tapi waktu bisa merubah keadaan Park Seo Na”. Tandas pria itu akhirnya, sebelum ia menarik tengkuk Seo Na mendaratkan ciumannya diatas bibir gadis itu, dan ini ciuman pertama dengan gadis itu, tidak tau dari mana ia bisa mendapatkan keberanian dan sekarang ia merasakan bibir yang terus mengintimidasinya itu menempel lembut diatas bibirnya.

“ASTAGA?!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN?”.

~~~000~~~

“hei Nona Park, kau belum menjawab pertanyaanku”.

“apa?”. saut Seo Na malas-malasan, sejak ia bertemu-dengan cara bodoh- bersama Yoo Ra saat keluar dari lift apartemennya ia tidak memperdulikan hujan pertanyaan dari sahabatnya itu, Seo Na lebih memilih sibuk fokus pada jalanan dan kegiatan dikantor yang akan ia kerjakan hari ini, ya meskipun sejujurnya kepala gadis itu ingin pecah rasanya karena memikirkan hal yang baru saja dilakukan Kyu Hyun kepadanya, astaga mengingat nama pria itu saja sudah membuatnya ingin kejang-kejang.

“aku yakin yang tadi bukan kebetulan, kalian melakukannya dengan baik. kau tau aku sangat bangga padamu”. Oceh Yoo Ra tak henti-hentinya, tanpa memperdulikan tatapan mematikan sahabatnya itu yang sudah duduk dimeja kerjanya. “ayolah, jangan sok tidak tau apa-apa. aku ini sahabatmu Na-ya, jadi coba ceritakan bagaimana pria itu bisa mencium gadis yang lebih terlihat seperti pria ini”. ejek Yoo Ra, Seo Na hanya bisa melengos sambil mengambil beberapa berkas yang sudah tertata dimeja kerjanya untuk segera ia tanda tangani.

“apa kau akan terus mewawancaraiku dengan pertanyaanmu yang terdengar seperti paparazi itu? bagaimana jika kau bekerja lalu meninggalkanku disini, atau kau bisa menonton acara gosip melihat skandal para artis”. Papar Seo Na masih sibuk dengan berkas dimejanya.

“sayangnya, scandalmu dengan pemilik Cho Company sangat menarik dibanding skandal para artis”. Goda Yoo Ra sambil menjulurkan lidahnya, membuat Seo Na benar-benar akan membuat Uvo terbang diruang kerjanya. “baiklah, aku akan bekerja. Tapi setelah ini aku akan menemuimu lagi. Aku ingin tau bagaimana sensasi berciuman dengan pria tampan itu, astaga aku rasa setelah ini Cho Kyu Hyun akan menikahimu, hahahahaha”. Terdengar tawa kemenangan dari Yoo Ra sebelum akhirnya gadis itu memilih meninggalkan Seo Na yang sepertinya akan menginjaknya hidup-hidup.

~~~000~~~

“kau tidak akan pernah bisa merubah keadaan Cho Kyu Hyun”.

“tapi waktu bisa merubah keadaan Park Seo Na”.

Seo Na menghembuskan napasnya gusar, menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi putarnya, memijat pelan pelipisnya yang sejak tadi berdenyut-denyut. Ia masih mengingat dengan jelas apa yang dikatakan Kyu Hyun tadi pagi didalam Lift padanya, sebelum pria itu menciumnya lalu Yoo Ra yang tidak sengaja memergoki mereka. Tapi bukan itu yang membuat Seo Na hampir stress, ucapan Kyu Hyun yang mengandung banyak isyarat yang pria itu lontarkan tadi pagi padanya, ya Kyu Hyun memang tidak akan pernah bisa merubah keadaan, tapi dengan berjalannya waktu semua akan berubah. Dan memang benar, kebencian yang dimiliki gadis itu, hasratnya ingin membunuh Kyu Hyun sebelumnya , kini semua hilang begitu saja dan ia tidak tau kapan persisinya. Yang Seo Na rasakan sekarang adalah ketakutannya bertemu dengan Kyu Hyun, bukan karena tatapan mata pria itu yang terus menatap tajam kearahnya, terlebih pada ketakutan jika ia benar-benar mencintai pria itu, ia tidak akan bersedia mendapatkan luka seperti apa yang dirasakan mendiang kakaknya dimasa lalu, Seo Na terlalu takut untuk jatuh cinta, lebih tepatnya ia tidak ingin cinta menyakitinya.

 

To Be Continue

 

~~~000~~~

REVENGE BEFORE LOVE (2/?)

Standard

Gambar

 

 

REVENGE BEFORE LOVE (2/?)

Action, Romance. PG + 17

Cast :

Cho Kyu Hyun

Lee Dong Hae

Park Seo Na

 

 

 

Dong Hae meletakkan tangannya diatas meja, masih menatap gadis dihadapannya saat ini yang terlihat sedang tidak berminat balik menatapnya. Yang ditangkap Dong Hae saat ini adalah gadis itu memang sangat dingin, cuek, tidak peduli dengan orang disekitarnya dan sangat tidak berminat dengan dirinya. Pria itu hanya mengulum senyumnya, jarang sekali wanita seperti gadis ini, bisa dikatakan sangat langkah, oh jangan-jangan dia memang tidak berminat pada kaum lelaki? Pikir pria itu.

“aku kira urusan kita sudah selesai”. Akhirnya gadis itu bersuara, menyambar minuman bewarna merah pekat memiliki kadar alkohol yang tidak terlalu tinggi.

“sudah selesai”. Jawab Dong Hae singkat, mengikuti permainan dingin gadis itu yang sepertinya sangat menyenangkan.

Seo Na mengalihkan pandangannya pada Dong Hae menatap pria itu lekat-lekat. “lalu?”.

“hanya saja aku mulai tertarik mengenalmu lebih jauh”. Tandas pria itu akhirnya, Seo Na yang mendengar pengakuan menggelikan pria itu malah tertawa sekencang-kencangnya.

Dong Hae menaikkan alisnya, menatap gadis itu yang malah salah tingkah karena Dong Hae yang semakin memperhatikannya tanpa henti. “aku serius Nona Park”. Lanjut pria itu lagi. Seo Na menarik tangan pria itu yang sejak tadi berada disisi meja. Entah kekuatan apa yang membuat gadis itu melakukannya.

“aku juga serius”. Ucap gadis itu akhirnya, lalu menjatuhkan dengan lembut tangan pria itu, tanpa ia tau jika Dong Hae baru saja merasakan sengatan listrik di sekujur tubuhnya karena sentuhan lembut gadis itu. “lalu?”. lanjut gadis itu.

“hm?”.

“lalu kau mau apa setelah mengenalku lebih jauh?”. Tanya Seo Na dengan penuh keberanian, jujur saja gadis itu baru pertama kalinya seintim ini membicarakan soal status hubungan pada seorang pria dan ia yakin pria yang dihadapannya inilah yang untuk pertama kalinya berminat mengenal dirinya lebih jauh, biasanya gadis itu akan menolak mentah-mentah jika seorang pria ingin berkenalan dengannya apa lagi sampai menggodanya tapi kali ini ia cukup tertarik pada Dong Hae.

“menikah mungkin, karena aku tidak suka hubungan yang bertele-tele”. Seo Na berkedik, menikah? Yang benar saja, pikir gadis itu akhirnya. Ia baru saja sukses, baru saja bertemu dengan mangsanya, lalu untuk waktu yang singkat ini ia menikah, tentu saja gadis itu harus berpikir bermilyaran kali atau menyewa paranormal agar menemukan titik terang –tentang menikah itu.

Seo Na memegangi kepalanya yang terasa terhuyung-huyung, jika ia terus memancing pria yang dihadapannya ini bisa saja ia mati kehabisan napas mendengar ucapan Dong Hae yang terlalu – to the point-.

“tidak secepat itu, lagi pula kita baru saja saling kenal. Aku bukan tipe pria yang terburu-buru”. Dong Hae tersenyum, Seo Na memebalas seadanya senyuman pria itu, senyuman mematikan lebih tepatnya.

“Hmm, aku rasa begitu. Lagi pula aku baru berumur 23 tahun untuk memikirkan soal menikah yang terdengar, hmmm agak sedikit , tabuh”. Ucap gadis itu akhirnya, Dong Hae terkekeh mendengar kalimat Seo Na yang lebih terdengar sedang takut.

“kau sama saja dengan Kyu Hyun, hmm maksudku teman sekaligus adik bagiku”. Baru saja pria itu mengucapkan satu nama yang membuat Seo Na kini menatapnya lekat-lekat. Nama pria yang memenuhi isi kepalanya selama 8 tahun ini, nama pria yang bahkan membuatnya terjatuh sangat dalam, nama pria yang ingin sekali ia lenyapkan dari peradaban manusia.

“kenapa? Apa kau mengenal Cho Kyu Hyun?”. Timpal Dong Hae, kini gadis itu memperbaiki eskspresi wajahnya menormalkan kembali agar pria dihadapannya ini tidak bisa membaca pikiran gadis itu.

“hanya sedikit, aku baru saja akan menaruh saham pada perusahaannya”. Jelas Seo Na seadanya.

“ah, jadi Kyu Hyun sudah bertemu denganmu? Jadi kalian sedang menjalin hubungan bisnis”. Dong Hae mengangguk mengerti, menarik tubuhnya kesandaran kursi.

“apa kalian mempunyai hubungan?”. Tanya gadis itu tetap dengan nada bicara yang biasa saja, meski sebenarnya ia ingin sekali tau lebih jauh tentang Kyu Hyun dari Dong Hae, setidaknya pria dihadapannya saat ini akan banyak membantunya mendapatkan keterangan tentang Kyu Hyun, sepertinya ini keberuntungan.

“teman sejak kecil, aku sudah menganggap Kyu Hyun sebagai temanku ya meskipun ia 4 tahun jauh lebih muda dariku tapi aku lebih suka memperlakukannya seabagi teman”. Seo Na mengangguk mendengar penjelasan pria itu yang memang masih sangat kurang, ia ingin mengetahui bagaimana hidup pria itu setelah kakaknya meninggal, bagaimana pria itu sebenarnya.

“sepertinya kau berminat dengan ceritaku tentang pria dingin itu? apa kau menyukainya? Ah, aku cemburu”. Goda Dong Hae, Seo Na hanya tersenyum kecil lalu menggeleng.

“tidak, aku tidak menyukainya. Hanya ingin tau bagaimana kehidupan rekan bisnis ku itu, lagi pula ia cukup berani meminta saham pada perusahaanku, padahal ia baru saja mengenalku. Ya harus ku akui, dia pintar”. Puji Seo Na pada akhirnya, dan ia yakin setelah ini ia akan mencuci tujuh kali lidahnya yang sudah memuji pria itu.

“dia tidak terlalu pintar soal wanita”. Dong Hae mendengus, mengambil gelas kaca berisi Wine, lalu meneguknya dengan sekali teguk. “sesuatu terjadi dimasa lalunya dan membuat pria itu menutup dirinya dari wanita, jadi jangan heran jika ia tidak berminat sedikitpun dihadapanmu”.

“aku tidak mengerti, bisa kau jelaskan lebih detail?”. Pinta Seo Na santai, mencoba meredamkan detak jantungnya yang begitu memacu saat Dong Hae mulai membahas rahasia hidup pria itu.

“gadis itu sahabatnya, lebih tepatnya gadis yang sangat mencintainya, tapi tidak dengan Kyu Hyun, pria bodoh itu tidak sedikitpun mencintai sahabatnya itu, hanya rasa sayang lebih terhadap teman. Entah apa yang terjadi, kecelakaan merenggut nyawa gadis itu, aku juga terkejut mengingat gadis itu juga temanku, aku juga mengenalnya dengan baik. sejak saat itu, Kyu Hyun merasa menyesal seumur hidupnya karena sudah menyakiti sahabat terbaiknya itu, dan semenjak itu ia menjauhi semua gadis yang ingin dekat dengannya, siapapun dan secantik apapun karena ia takut jika nantinya ada gadis lagi yang bernasib sama dengan sahabatnya itu, dan kau tau itu cukup membuatnya menderita. Bukan hanya dia, Ibu dan kakak kandungnya juga merasa kasihan terhadap Kyu Hyun, ditambah lagi kematian ayahnya yang hanya berselang 1 tahun setelah kematian sahabatnya itu”. Jelas Dong Hae panjang lebar, pria itu menatap Seo Na yang sejak tadi hikmat mendengarkan ceritanya tentang Kyu Hyun.

“kisah yang rumit”. Ucap Seo Na sekenannya.

“sangat rumit. Karena itu aku cukup kaget ketika ia bertemu langsung denganmu tentang perusahaanya, padahal selama ini ia selalu menyuruh Ye Sung Hyung untuk memnemui rekan bisnis wanitanya”.

Seo Na mengangguk mengerti, akhirnya ia mendapatkan semua penjelasan tentang pria itu dari Dong Hae, ternyata pria itu juga ikut terguncang, pria itu juga ikut merasakan kepedihan, atau mungkin itu hanya rasa bersalah yang terus mengahantuinya? Pikir Seo Na.

“aku berharap ia bisa bangkit dari keterpurukannya”. Ucap gadis itu akhirnya dengan nada yang dibuat-buat peduli, meskipun kenyataannya ia sangat senang dengan penderitaan yang di alami pria itu selama ini.

“aku berharap juga begitu, bagaimana jika lusa nanti kita makan malam bertiga bersama Kyu Hyun, akan seru rasanya jika kita berbincang-cincang, mengingat kaulah wanita ketiga yang mendengar suara pria itu setelah ibu dan kakanya, bagaimana?”.

“Ne?”. Seo Na agak kaget dengan penawaran Dong Hae dan juga ucapannya tentang –wanita ketiga yang bicara dengannya setelah ibu dan kakaknya- itu yang cukup membuat Seo Na berkedik. “hm, baiklah aku rasa tidak buruk”. Dong Hae tersenyum mendengar persetujuan Seo Na.

~~~000~~~

“yak! Kenapa tidak memberi tahuku jika senjata itu kau buat untuk membunuh oran lain! EO!!”. Seo Na hampir menjatuhkan ponselnya ketika ia mendengar teriakkan Lee Teuk yang hampir membuat isi telinga tuli di pagi buta seperti ini.

“astaga Oppa! Kau mau membuat ku tuli ya?! Memangnya ada pengaduan jika aku sudah membunuh orang!”. Balas teriak gadis itu prustasi, bahkan di pagi buta seperti ini pria itu masih sempat meneriakkinya.

“aku tidak peduli sebelum kau mengembalikan senjata berbahaya itu. aku tau masalah hidupmu Na-ya, tapi ku mohon kau bisa menyelesaikannya tanpa melakukan hal yang keji!”.

“jika kau membunuhnya kau tidak kalah buruknya dari pria itu, seharusnya aku sudah mengatakan hal ini sejak lama padamu tapi aku akan terus menundanya sampai kau benar-benar berbuat yang tidak-tidak pada pria itu. kau tau? Jika Seo Yeo hidup ia tidak akan melakukan apa yang sudah terencana dalam otakmu, jadi berpikirlah sebelum kau melakukannya”.

Lee Teuk memutusakn sambungan telepon,gadis itu kini menatap layar ponselnya menyadari semua kata-kata Lee Teuk benar, pria itu juga sangat dekat dengan Seo Yeo kan? Kakaknya juga sering mengadu dan bercerita pada Lee Teuk, lagi pula keluarga Lee Teuk adalah teman baik mendiang orang taunya, jadi tidak salah jika pria itu menasehatinya.

“tapi tidak, aku tidak bisa meredakan rasa kebencian ini Oppa, aku terlalu membencinya”. Gadis itu membiarkan genangan air mata itu mengalir deras di pipinya menciptakan sebuah sungai kecil yang penuh kepedihan disana, sudah lama sejak saat itu ia tidak pernah menangis, ia terpaksa harus kuat, ia terpaksa harus bangkit dan mati-matian sukses seperti ini, harta maupun kekayaan yang ia punya saat ini bukan suatu kebahagiaan yang sempurnya yang ia miliki, karena sungguh dilubuk hatinya yang terdalam ia masih sangat membutuhkan seseorang yang mengerti bagaimana dirinya sekarang, memberikan perhatian yang sulit ia dapatkan selama hidupnya, dan ia tidak tau harus kemana mencari perhatian dan kasih sayang itu.

~~~000~~~

Pria itu memarkirkan mobil Jeep hitamnya, berjalan santai memasuki mini market di persimpangan jalan, pria yang baru saja mengganti warna rambutnya yang coklat menjadi kemerahan, memakai jas hitam dan baju kaos putih longgar dengan celana jeans hitam yang menambah kesan formal tapi masih tetap terlihat keren dimata orang yang melihatnya.

Eun Hyuk mencari deretan beberapa minuman kaleng yang bisa meredakan hausnya pagi ini, ia cukup sering mendatangi minimarket ini, ya meskipun tidak setiap hari tapi pria itu masih sempat untuk singgah hanya sekedar membeli minuman soda. Akhirnya pria itu mendapat beberapa kaleng minuman soda ditangannya membawa benda itu dengan susah payah, tapi tidak berselang lama karena saat ini tubuh pria itu sudah terjatuh kelantai dengan minuman kaleng ditangannya yang kini sudah berserakan dan yang membuatnya syok adalah tubuh seorang gadis kini sudah tepat menindih tubuh atasnya menyebabkan kedua wajah mereka beradu pandang dan terasa sekali jika bibir gadis yang menabraknya itu terasa menempel di bibirnya, tidak lama hanya beberapa detik sebelum keduanya kembali tersadar dan bangkit.

Gadis itu merapikan kembali pakaiannya yang kusut, begitu juga Eun Hyuk yang juga merapikan letak jasnya, menatap canggung pada gadis itu yang masih tidak berani menatapnya itu.

“Maaf atas kesalahnku aku benar-benar-“.

“tidak apa Nona, sebaiknya setelah ini kau berhati-hati”. Ucap pria itu sebelum gadis itu mengangkat wajahnya dan tanpa ia duga jika gadis yang berada dihadapannya ini adalah gadis yang ia benci, gadis yang bahkan sudah merusak kehidupan normalnya, gadis cantik, sangat cantik, dan bahkan terlalu cantik, pikir Eun Hyuk.

~~~000~~~

Keduanya saling berhadapan di luar minimarket itu, masih terasa kecanggungan diantara mereka, mengingat apa yang baru saja terjadi diantara keduanya, Eun Hyuk mengusap tengkuknya gugup gadis itu sejak tadi juga tidak berhenti menduk dan meminta maaf.

“aku akan melanjutkan perjalananku Tuan, sekali lagi aku minta maaf”. Ucap gadis itu akhirnya tetap menunduk tanpa melihat pria dihadapannya ini.

“aku juga, hmm berhati-hatilah”. Akhirnya gadis itu berlalu memacu mobil mewah sportnya yang lain, yang tidak sama saat Eun Hyuk membuntuti gadis itu hingga didepan gedung perusahaanya belum lama ini.

Pria itu menatap mobil itu berlalu, dan kini ia merasakan ada yang meledak-ledak didalam dadanya, masih terasa saat bibir merah itu menempel tanpa sengaja dibibirnya dan sejujurnya itu membuat Eun Hyuk merasakan tegangan listrik berkekuatan besar didalam tubuhnya. Hei bukankah seharusnya ia membenci gadis itu? Pekiknya dalam hati.

~~~000~~~

Yoo Ra terengah-engah mengejar langkah besar sahabatnya itu, sejak tadi ia memanggil nama Seo Na dengan berbagai macam teriakkan tetap saja gadis itu tidak menoleh dan berjalan sambil menunduk, ia tidak tau apa yang sudah terjadi dengan gadis itu, apakah tadi malam pria yang menghubunginya itu sudah memperkosa gadis itu? atau ia baru saja diajak menikah oleh Kyu Hyun, gadis itu menggeleng mengahalau pikiran –Absurd- nya, tidak mungkin itu terjadi, pikir Yoo Ra.

Yoo Ra menahan pintu lift ketika ia baru saja mendapatkan Seo Na sudah terlebih dahulu masuk, menyusul gadis itu masuk dengan napas yang turun naik. “Ya! aku sudah memanggilmu dengan terus berteriak, kau tidak mendengarku?”. Tanya gadis itu kesal.

Seo Na menggeleng santai, tidak terlalu peduli dengan sahabatnya itu yang mungkin sebentar lagi akan murka.

“astaga Seo Na, dipagi buta seperti ini kau masih sempat membuat ku naik darah!”. Seo Na menahan tawanya mendengar sumpah serapah yang keluar dari mulut Yoo Ra yang lebih terdengar seperti nyanyian burung dikebun binatang.

“baiklah, aku sedang tidak ingin mengomentarimu. Eh kenapa parfummu seperti wangi pria? Sejak kapan kau mengganti parfum dengan parfum pria? Atau kau sedang berencana membeli pabrik parfum pria?”. Yoo Ra tidak henti-hentinya berceloteh ketika ia baru sadar wangi Seo Na pagi ini benar-benar berbeda, jauh dari wangi cherry blassom khas tubuh gadis itu. Seo Na tetap bungkam tidak ingin berkomentar banyak atau menanggapi pertanyaan konyol sahabatnya itu.

“ASTAGA SEO NA! KAU SUDAH NORMAL!”. Pekik gadis itu lalu menghambur memeluk sahabatnya itu dengan bahagia.

“Ya! apa maksudmu?”. Ucap Seo Na berkedik menjauhkan tubuhnya dari Yoo Ra sebelum tulang-tulang gadis itu rontak satu persatu.

“kau masih mau menghindariku ya? mengaku saja jika pagi ini kau mendapat pelukan atau kecupan dari seorang pria dan wangi parfumnya tertinggal ditubuhmu, ya kan?”. Demi yang kudus, ingin sekali gadis itu saat ini menyumpal mulut Yoo Ra dengan sepatunya sebelum gadis itu terus berceloteh dan mengatakan hal yang tidak-tidak, sekaligus membuatnya mengingat kejadian murahan dan lebih tepatnya sangat-sangat murahan tadi pagi, menabrak tubuh seorang pria berambut merah dan mencium bibir pria itu tanpa sengaja, ingat! Hanya tidak sengaja.

“jadi kau benar-benar baru saja berciuman?”.

“YAK!!!”.

~~~000~~~

“bagaimana dengan perusahaan? Apa sudah kembali normal?”. Ucap wanita paruh baya itu, sudah terlihat jelas dari garis wajahnya saat ini yang semakin hari semakin menua.

“semua akan baik-baik saja Eomma”. Jawab Kyu Hyun singkat, lalu kembali menyantap sarapannya. Hari ini pria itu sengaja menuruti ajakan Ibunya untuk sarapan dirumah mereka, dirumah yang sebesar ini hanya ada Ibu, Ahra- kakak kandung Kyu Hyun-, dan juga suami dan sepupu Kyu Hyun yang baru berumur 4 tahun. Mereka memang jarang dirumah, mengingat suami Ahra yang juga punya bisnis yang mengharuskannya keluar negeri beberapa hari.

“Apa nuna akan berlama-lama di Paris?”. Tanya pria itu sekenannya.

“hanya 5 hari setelah itu mereka akan kembali, tenanglah aku tidak akan memintamu untuk menginap dirumah kau sudah dewasa Kyu, apa lagi sekarang kau juga sudah punya rumah pribadi jadi tidak mungkin aku terus menuntutmu yang macam-macam, ya kecuali kehadiran cucu lagi”. Kyu Hyun hampir tersedak mendengar kata-kata –cucu lagi- dari mulut wanita itu, Ibu Kyu Hyun sedikit terkekeh lalu menyodorkan air meneral kearah anaknya itu.

“aku hanya mengkhawatirkanmu, tidak mungkin kau terus hidup didalam bayang-bayang masa lalumu, gadis itu pasti sudah tenang Kyu. Kau tidak bersalah, bahkan kau bukan penyebab kematiannya, aku hanya menasehatimu sebagai seorang Ibu, kau pasti membutuhkan pendamping hidup yang akan mengurusmu nantinya. Kau mengertikan maksudku?”. Tambah Ibu pria itu lagi, Kyu Hyun hanya mengangguk, secara tidak langsung pria itu sangat setuju dengan Ibunya, ia tidak seharusnya terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu, ia juga punya masa depan dan tentunya ia memang seharusnya mendapatkan wanita yang bisa ia cintai dan juga mencintainya. Sederhana bukan?

~~~000~~~

“kau mengatakan apa pada Lee Teuk Oppa?”. Suara Seo Na kini terdengar mengintimidasi sahabatnya itu, menekan setaip kata-kata yang tidak akan mampu disanggah Yoo Ra.

“hanya menjawab apa yang seharusnya ku jawab Na-ya”. sekuat tenaga gadis itu tidak menatap mata tajam milik Seo Na sebelum ia bisa mati mengigil melihat mata-fox- milik gadis itu.

“kau tau ajhussi itu meminta senjatanya padaku, lalu bagaimana aku bisa menghabisi nyawa pria itu, heung?”. Kali ini nada bicara gadis itu melunak lebih terkesan mengiba pada Yoo Ra akhirnya gadis itu berjalan mendekat kearahnya membantu Seo Na menyusun berkas-berkas diruang kerjanya.

“kau tidak perlu membunuhnya Na-ya, sama sekali tidak perlu”. Yoo Ra memeluk tubuh Seo Na sejenak lalu kembali melepasnya. “kau hanya perlu memperbaiki apa yang sudah terjadi, aku tau kau membencinya tapi apa kau mau hidup dalam kebencian selamanya, aku yakin Seo Yeo Eonni juga tidak suka jika adik kesayangannya terus membenci Kyu Hyun”.

Kedua sahabat itu saling berhadapan, dan dengan jelas Yoo Ra bisa membaca semua pikiran gadis itu dari matanya, mata yang tajam itu sebenarnya penuh dengan tumpukan air mata, mata yang kini tengah menahan berliter-liter kesedihan yang siap meledak kapan saja, mata yang seharusnya butuh menangis, bukan mata yang terus menatap tajam yang penuh intimidasi. Dan raut wajah dingin itu, sebenarnya raut wajah yang lesu dan lemah, raut wajah yang butuh kasih sayang, raut wajah yang butuh perlindungan, bukan raut wajah yang dingin dan terus tetap terlihat tegar didepan semua orang, jauh didalam sana Park Seo Na adalah gadis umur 23 tahun yang normal yang tidak mendapatkan cinta selama ini, hanya itu saja.

“kau hanya butuh seseorang yang mencintaimu Seo Na setelah itu kau akan tenang”.

~~~000~~~

Kyu Hyun berkali-kali mengetuk-ngetuk ujung jarinya ke meja, entah kenapa jiwa pria itu tiba-tiba gelisah menunggu siapa yang akan datang kekantornya. Hari ini ia punya janji bukan dengan gadis itu, gadis yang bahkan membuat darahnya berdesir tidak karuan hanya dengan menatapnya, wajah yang membuatnya berpikir aneh dan entah kenapa ia merindukan gadis itu.

“maaf sudah membuatmu lama menunggu”. Suara itu membuayarkan lamunannya, refleks pria itu berdiri dan berjalan kearah sofa di sisi lain ruang kerjanya mempersilahkan gadis itu dan seorang gadis lagi untuk duduk disana.

“tidak masalah Seo Na-ssi”. ucap Kyu Hyun santai, tatapannya masih tidak terlepas dari paras gadis itu, rambutnya yang diikat keatas memamerkan leher jenjang gadis itu, kali ini gadis itu terlihat lebih feminim, pikirnya.

“ini berkas yang harus kau tanda tangani Seo Na-ssi, semua sudah tertera disana, kau boleh membacanya terlebih dahulu sebelum menandatangani berkas itu”. Seo Na mengambil berkas itu dari tangan Kyu Hyun, membacanya sejenak lalu menyambar pulpen yang sejak tadi sudah tergeletak diatas meja.

“baiklah, aku berharap kita bisa bekerja sama Kyu Hyun-ssi”. ucap Seo Na menyodorkan berkas itu lagi kepada pemiliknya. Yoo Ra yang hadir diantara keduanya melihat dengan jelas jika sejak tadi pria tampan yang berada dihadapannya ini tidak henti-hentinya menatap sahabatnya. Gadis itu menyikut tangan Seo Na bermaksud memberi kode pada gadis itu.

Seo Na tersadar melirik kearah Yoo Ra sejenak. “Ohh perkenalkan ini Han Yoo Ra, ia menager sekaligus sahabatku lebih tepatnya asistenku”. Ucap gadis itu yang mendapat sikutan keras dari Yoo Ra, Seo Na terkekeh menyembunyikan tawanya dari Kyu Hyun, meskipun begitu pria itu masih bisa melihat tawa yang terlukis dari wajah Seo Na, bahkan dengan wajah dingin yang penuh ketidakpedulian itu ia sangat terlihat cantik, apa lagi saat ini saat gadis itu sedang tertawa kecil, bahkan dunia Kyu Hyun seperti diputar-putar.

“Oh ya, perkenalkan aku Cho Kyu Hyun, aku harap kita bisa saling bekerja sama”. Pria itu mengulurkan tangannya menjabat tangan sahabat gadis itu.

“tentu saja Sajangnim aku akan senang sekali bisa bekerja sama dengan anda, apa lagi atasanku yang cuek ini”. ucap gadis itu, bermaksud menggoda Seo Na yang langsung memasang tampang pembunuhnya dan ia yakin setelah keluar dari ruang kerja Kyu Hyun ini ia akan ditikam oleh Seo Na.

“kalau begitu kami permisi dulu Kyu Hyun-ssi, aku harus segara kembali kekantor”. Ucap Seo Na dingin, menatap Yoo Ra mengisyaratkan gadis itu agar segera beranjak dari tempat ini sebelum ia benar-benar salah tingkah didepan Kyu Hyun. Yoo Ra yang menyadari tatapan Seo Na terlebih dahulu bangkit dari sofa yang ia duduki, tapi ketika Seo Na hendak berdiri tangan gadis itu tertahan ditempatnya karena kini tangan Kyu Hyun sudah terlebih dahulu mengenggam pergelangan tangan gadis itu.

Seo Na berkedik sebelum menyadari jika tangan pria itu sudah mengenggam tangannya, lembut namun mampu menahannya ditempat. “Yoo Ra-ssi aku masih ingin berbicara dengan gadis ini, kau boleh pergi dahulu biar aku yang mengantar gadis ini nanti”. Ucap Kyu Hyun penuh permintaan disetiap nadanya, dan tanpa aba-aba apa-apa lagi gadis itu mengangguk semangat.

“baiklah, aku tidak keberatan-“.

“hei, apa-apaan kalian berdua? Kyu Hyun-ssi, apa kau kira aku setuju dengan permintaanmu??”. Ucap Seo Na dengan nada menakan, ia tidak suka hal ini terjadi, berduaan dengan pria itu lagi? Astaga haruskah ia membeli bom atom untuk membunuh pria itu?

“karena kau tidak setuju aku meminta izin pada rekanmu Nona Park”. Yoo Ra lebih dulu lenyap sebelum Seo Na membunuhnya dengan tatapan gadis itu, setidaknya dengan cara seperti ini ia bisa mendekatkan gadis itu dengan seseorang yang paling dibencinya diatas dunia ini.

~~~000~~~

“apa kau hanya terus diam? Dan tetap menahanku disini Kyu Hyun-ssi?”. Kyu Hyun tetap menatap gadis itu, ia tau sekarang kebiasaan terbaru yang menyenangkan untuknya adalah menatap mata gadis itu. Fox Eyes, begitulah kesimpulan yang ia dapat ketika melihat tatapan mata Seo Na, ia yakin gadis itu tidak sedingin diluarnya.

“ok, baiklah Cho Kyu Hyun, sepertinya aku bisa mati bosan didalam sini jika hanya menikmati tatapanmu yang bisa menerkamku kapan saja”. Seo Na beranjak dari hadapan Kyu Hyun berjalan beberapa langkah kearah pintu, tidak sampai meraih ganggang pintu karena sekarang tubuh Seo Na sudah ditarik oleh Kyu Hyun menghadap kearahnya dan tubuh gadis itu dipaksa bersandar ke sisi dinding.

Entah apa kekuatan yang membuat pria itu memajukan wajahnya lebih dekat kearah Seo Na membuat gadis itu melotot, refleks menutup matanya tanpa ada perlawanan sedikitpun. Kyu Hyun memiringkan wajahnya mendekatkan hidungnya kearah leher gadis itu terhenti ketika ia bisa dengan jelas mencium aroma cherry blassom disana, aroma tubuh seorang gadis dimasa lalunya.

Cherry blassom? Apa kau pernah menjadi seseorang dimasa laluku?”.

Cklek!

“Kyu Hyun-ah! Aku membawakan-“. Mata Dong Hae melotot kearah dua orang yang kini bahkan posisi tubuh masing-masing keduanya tidak dapat dijabarkan dengan jelas, karena keduanya hampir bertaut dan wajah Kyu Hyun bahkan menyusup kearah leher gadis itu, dan Seo Na dengan bodohnya menutup kedua matanya terlihat pasrah. Astaga! Pekik Dong Hae dalam hatinya.

~~~000~~~

“aku akan mengantarmu-“

“tidak usah, Hmm Dong Hae-ssi bisa mengantarku kembali kekantor?”. Ucap Seo Na memotong tawaran Kyu Hyun yang jika ia setujui hanya akan membuatnya terjerumus dalam lubang buaya, lagi.

“tentu saja, tapi apa kau bisa menunggu di lobi? Aku ingin berbicara sebentar dengan Kyu Hyun”. Seo Na mengangguk menuruti kata-kata Dong Hae lalu secepat mungkin lenyap dari dalam ruangan kerja Kyu Hyun sebelum ia benar-benar mati karena ulah pria itu.

Dong Hae menghempaskan tubuhnya di sofa, disusul Kyu Hyun yang juga duduk disana. “ternyata kau normal? Yang tadi sejak kapan? Kenapa bisa dengan gadis itu?”.

“kau mengenalnya?”.

“Ya! jawab dulu pertanyaanku!”. Umpat Dong Hae, dan Kyu Hyun masih tetap memasang tampang –tak bersalah dan tak terjadi apa-apanya- didepan Dong Hae membuat pria itu ingin sekali menghajarnya.

“aku hanya menuruti instingku saja”. jawab pria itu enteng.

“jadi instingmu sudah mulai bekerja? Ternyata dugaanku tidak salah”.

“apa?”.

“bukan apa-apa. Jika memang kau menginginkannya aku tidak akan melanjutkan persaanku, ya sepertinya ini akan menjadi kisah tragis bagiku untuk yang kedua kalinya”. Kyu Hyun mengerutkan keningnya, merasa tidak mengerti sama sekali dengan ucapan Dong Hae.

“baiklah, aku akan mengantarnya. Aku harap ini bukan main-main Kyu”. Dong Hae berlalu meninggalkan Kyu Hyun yang masih terpaku ditempatnya, menopang keningnya dengan tangan yang sejak tadi tertumpu di pahanya. Ia masih merasakan aroma tubuh gadis itu, Cherry Blassom. Bukankah itu juga aroma tubuh yang sama dengan Seo Yeo bukan? Kenapa mereka memiliki aroma tubuh yang sama? Apa Park Seo Na itu ada hubungannya dengan Seo Yeo? Atau insting pria itu –sebagai penyandang IQ diatas rata-rata- itu salah?

~~~000~~~

“aku harap kau tidak berpikiran macam-macam tentang yang tadi”. Akhirnya gadis itu bersuara juga, sejak masuk kedalam mobil Dong Hae ia sama sekali tidak berminat bersuara atau hanya berdeham.

“jika terjadi sesuatupun tidak masalah, ini untuk pertama kalinya aku melihat Kyu Hyun sejauh itu dengan seorang wanita, sejujurnya aku cemburu, kau tau”. Tidak ada nada candaan dari sana, Seo Na tau pria itu sedang serius bahkan disana terselip getaran yang mungkin terdengar benar-benar mengeluh.

“aku tidak suka bersaing, tapi aku juga tidak suka menghentikan perasaanku begitu saja, aku sudah mulai menyukaimu, dan kejadian ini persis sama saat aku dan Kyu Hyun berada diantara satu wanita, hanya saja Kyu Hyun tidak menyukai gadis itu, tapi sekarang sepertinya aku harus menerima kenyataan jika pria itu sangat berminat terhadapmu, apa aku harus menerima kenyataan lagi jika aku harus di tolak oleh gadis yang ku cintai?”. Mata Seo Na meletot ketika ia baru mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Dong Hae, astaga pria ini sempat menyukai kakaknya? Pekik gadis itu dalam hati. Tangan Seo Na bergetar, bahkan ia sekarang dihadapkan dengan dua orang pria yang pernah jadi bagian hidup Seo Yeo, dan bahkan pria ini sekarang mengatakan ia sudah mulai menyukai dirinya. Kenapa ini semakin rumit? Pikir gadis itu dan sepertinya ia akan ketempat pijat refleksi setelah ini.

~~~000~~~

Jae Eun menatap pria dihadapannya ini tidak percaya, kalimat demi kalimat yang diucapkan pria itu tentang pertemuan dan kejadian yang ia alami beberapa hari lalu membuat sebuah godam yang mengantam batinnya keras. Pria dihadapannya ini apa masih tidak tau bagaimana perasaannya? Apa pria ini tidak tau bagaimana hatinya kini tersayat-sayat mendengarkan ceritanya. Astaga! Demi apapun ia ingin sekali membunuh gadis yang membuat pria dihadapannya ini seperti orang bodoh! Teriak Batin Jae Eun.

“lalu?”. pertanyaan konyol yang hanya akan membuat pria itu akan menceritakan lebih banyak dan membuatnya terluka lagi.

“dia meminta maaf dan berlalu dari hadapanku, mungkin itu memang tidak sengaja. Tapi jantungku seperti ingin melompat keluar ketika tiba-tiba bibir itu menyentuh bibirku. Kau benar Eun-ah tidak ada pria yang bisa lari dari pesonanya”.

“jadi kau membatalkan membunuh gadis itu?”.

“aku punya cara yang lain”.

“maksudmu?”.

~~~000~~~

“bagaimana jika aku menikah dengannya, sehingga aku tidak perlu repot-repot mencuri kekayaannya, lagi pula bukan itu yang menjadi tujuanku saat ini , tapi pesona gadis itu yang hampir membuat hatiku obrak-abrik”.

Berkali-kali Jae Eun menggeleng-gelengkan kepalanya menghilangkan kata-kata yang membuat tubuhnya tak mampu berdiri tegap dihadapan Eun Hyuk tadi siang. Pria itu bahkan merubah rencananya yang semula ingin membunuh gadis itu menjadi ingin menikahi gadis itu. ingin sekali saat ini Jae Eun berteriak sekencang-kencangnya tapi itu semua tidak akan mengubah keadaan.

Jae Eun masih mengingat dengan jelas saat gadis itu memecatnya dengan sangat tidak hormat, memang saat itu ia membuat kesalahan dengan menghilangkan dokument penting milik PTI Corp dan itu memang tidak disengaja tapi semua alasan yang diajukan Jae Eun tidak diterima sama sekali oleh gadis itu. dan satu-satunya orang yang membantunya saat itu adalah Eun Hyuk dengan mempekerjakan gadis itu diperusahaanya. Karena itu Jae Eun begitu membenci sosok Seo Na, baginya gadis itu hanya bisa menghancurkan orang lain dan membuat penderitaan dengan semua keegoisannya.

“kau tidak akan pernah bahagia Park Seo Na, tidak akan”.

~~~000~~~

“Oppa, ku mohon aku tidak akan menggunakan benda ini. aku hanya ingin berjaga-jaga, pinjamkan aku lebih lama lagi, eung?”. Lee Teuk menghembuskan napasnya gusar, lagi-lagi gadis itu meminta dengan nada mengida dan itu bahkan tidak bisa membuat pria itu mengatakan –tidak- pada Seo Na.

“kau tetap menakutkan meskipun berlagak Aegyo”. Ejek Yoo Ra yang baru saja hadir diantara keduanya, sambil meletakkan 3 gelas teh hangat diatas meja.

“Ya!”. teriak Seo Na mengundang tawa puas sahabatnya itu.

“Oppa, kau tau tadi saat kami berkunjung keperusahaan Kyu Hyun pria itu tidak henti-hentinya menatap Seo Na, bahkan ia berbicara berdua dengan gadis ini. aku rasa Kyu Hyun menyukainya”. Lanjut Yoo Ra tidak terlalu peduli tatapan Seo Na kini mengarah padanya, setelah Lee Teuk pergi ia yakin Seo Na akan membuat piring terbang.

“aku juga sudah menduga, Kyu Hyun akan menyukainya”. Tandas Lee Teuk, Seo Na menatap pria itu mengerinyitkan keningnya.”entahlah, sebagai seorang pria aku memiliki insting yang demikian”. Lanjut pria itu lagi.

“jadi di tempatmu bekerja kau juga diajarkan membaca keadaan dan memakai instingmu ya?”. timpal Seo Na lalu menyusup teh hangat yang sudah tersedia dihadapannya.

“dan isntingku mengatakan kau juga akan menyukai pria itu”.

“UHUK!! Mwo?!”. Seo Na memuntahkan kembali teh yang baru saja ia teguk dari mulutnya, bagaimana bisa seorang Agent seperti Lee Teuk malah berasumsi mengerikan seperti itu, astaga apa kata dunia jika gadis yang berambisi membunuh Kyu Hyun malah terjerat dalam pesona pria itu.

“ya aku setuju dengan instingmu Oppa, tidak ada alasan bagi gadis manapun untuk tidak tertarik pada pria setampan Kyu Hyun”. Tambah Yoo Ra membetulkan ucapan Lee Teuk yang terdengar lebih seperti hukuman mematikan.

“ASTAGA! KALIAN BERDUA MEMBUATKU GILA!!!”.

~~~000~~~

“bagaimana dengan tawaran makan malam ku beberapa hari kemarin? Aku harap kau tidak mengubah keputusannya kan Seo Na-ssi?”. Seo Na terdiam sejenak, sebenarnya ia ingin teriak dan mengatakan ia tidak ingin makan malam apa lagi jika harus bertemu dengan makhluk yang bernama Cho Kyu Hyun itu.

“Seo Na-ssi? bagaimana?”. Lanjut pria itu. Seo Na menarik napasnya panjang membuangnya hati-hati takut jika pria yang sedang menelponnya ini mendengar hembusan napas prustasinya.

“Hmm, baiklah”. Ucap gadis itu akhirnya, sebelum pria diujung sana memutuskan sambungan telepon mereka.

“kenapa aku harus bertemu dengan pria itu dalam keadaan yang seperti ini! astaga! Seharusnya aku cepat-cepat membunuhnya sebelum aku mati terbunuh oleh perlakuan menyebalkan pria itu!”. teriak Seo Na gusar, menghempaskan tubuhnya keranjang, bahkan hari ini ia tidak berminat untuk pergi kekantor.

~~~000~~~

“nanti aku ingin mengajak mu makan diluar, dengan gadis itu”. Kyu Hyun baru saja membaca pesan singkat yang dikirim Dong Hae padanya, makan malam dengan gadis itu? tidak masalah, meskipun dengan kehadiran Dong Hae disana.

Kyu Hyun segera duduk di kursi putarnya, Dong Hae memang sepertinya cukup berniat mengajaknya bertemu dengan gadis itu mengingat sepagi ini pria itu mengirimnya pesan, dan sepertinya ini akan menjadi hal yang menarik bukan, bertemu dengan gadis itu lagi, menatap Fox Eyes kepunyaan gadis itu dan mencium aroma tubuhnya yang membuat candu tersendiri bagi Kyu Hyun.

Mata pria itu kini tertuju pada kertas putih yang dilipat diatas mejanya, kening Kyu Hyun mengerinyit, memperhatikan benda itu sejenak mengambilnya lalu membuka kertas itu, membaca deratan-deretan kalimat didalam sana dan refleks pria itu membulatkan matanya menyadari setiap kalimat disana menunjukkan suatu kenyataan baru dalam hidupnya.

~~~000~~~

“kau mau kemana?”. Tanya Yoo Ra menatap sahabatnya itu yang terlihat bersiap-siap setelah mereka baru saja sampai ke apartemen milik Seo Na.

“makan malam”. Jawab Seo Na singkat berjalan kedapur mengambil susu cair didalam lemari es.

“makan malam? Dengan siapa? Kyu Hyun? Atau pria yang menelfonmu malam itu? atau pria yang memelukmu pagi-pagi buta itu?”. Seo Na menghembuskan napasnya gusar tidak terlalu peduli dengan deretan pertanyaan Yoo Ra yang terdengar seperti paparazi.

“dan kau akan pergi makan malam dengan dandanan tahun 70-an itu? kau waraskan?”. Seo Na langsung menatap pakaian yang dipakainya yang memang terlihat seperti ingin pergi ke minimarket disamping gedung apartemen mereka.

“memangnya aku harus memakai gaun pengantin?”. Timpal gadis itu cuek tidak memperdulikan Yoo Ra yang sudah memegang kepalanya frustasi.

“apa kau punya gaun atau dress yang lebih sedikit wanita?”. Tanya Yoo Ra, gadis itu mengangguk masih tidak mengerti dengan pertanyaan sahabatnya itu.

~~~000~~~

For Cho Kyu Hyun

Ini mungkin tidak terlalu mengejutkan untukmu Sajangnim yang terhormat, dengan IQ mu yang diatas rata-rata itu kau pasti sudah mencium gelagat gadis itu bukan? Pemilik Park Telecomunication and Industry Corporation, Park Seo Na. Ini sepertinya sangat menarik karena kenyataanya kau harus mengetahui semua rencana gadis itu. Park Seo Yeo dan Park Seo Na, nama yang hampir sama bukan? Seharusnya kau sadar dengan semua itu, karena aku rasa kau bukan orang bodoh Cho Kyu Hyun. Gadis itu datang kepadamu hanya untuk menghancurkanmu, membawamu pada kematian seperti apa yang sudah kau lakukan pada kakak kandungnya, Park Seo Yeo. Ini menarik bukan?.

Kyu Hyun menarik napasnya menghembuskannya perlahan mengatur emosinya yang sejak tadi tidak stabil setelah menerima surat dari orang yang tidak dikenalnya, ia sudah yakin sejak awal jika Seo Na memiliki hubungan dengan Seo Yeo tapi pria itu tidak memilki alasan yang kuat untuk mengatakan jika mereka memang adik-kakak, tapi itu semakin kuat ketika Kyu Hyun dengan beraninya mencium aroma tubuh gadis itu.

Sejujurnya, pria itu merasa lega karena akhirnya mengetahui siapa Seo Na sebenarnya, dan tidak sedikitpun ia merasa kecewa dengan kenyataan yang ia dapati dari gadis itu, bahwa nyatanya Seo Na menaruh dendam yang luar biasa kepadanya. Kyu Hyun merasa semua bebannya sedikit demi sedikit berkurang, karena akhirnya ia menemukan gadis yang ia cari, adik Seo Yeo satu-satunya tempat ia bisa meminta maaf atas semua yang sudah pria itu lakukan. Yang hanya akan ia selesaikan sekarang hanya masalah antara dirinya dan Seo Na-lah, bagaimana nantinya ia menjelaskan semua apa yang keliru selama 8 tahun terakhir ini.

“Dong Hae-ssi belum datang?”. Suara itu tiba-tiba terdengar dihadapan pria itu, Kyu Hyun menoleh, mendapati gadis itu yang sudah berdiri dihadapnnya dengan Dress diatas lutut bewarna pink lembut ditambah tali kecil yang menggantung di bahunya yang putih, rambut yang ia ikat keatas membiarkan beberapa anak rambutnya menggantung indah di tengkuk gadis itu. dan untuk pertama kalinya Kyu Hyun mendapati gadis itu dengan tampilan yang ia yakini mengalahkan gadis manapun. Seo Na persis boneka mahakarya Tuhan yang sengaja didatangkan untuk Kyu Hyun malam ini, meski ia bisa mendapati jika gadis itu terlalu canggung dengan pakaiannya yang memang terlihat –errr- cukup seksi.

“dimana Dong Hae-ssi, apa kau tidak mendengarku?”. Tanya gadis itu sekali lagi, membuyarkan lamunannya, Kyu Hyun tersadar kembali fokus pada sekitarnya setelah cukup mabuk melihat penampilan Seo Na yang membuat dunianya seketika jungkir balik.

“dia tidak jadi datang, sesuatu terjadi dikantornya, ia juga mengatakan tidak bisa menghubungimu karena terburu-buru”. Jelas Pria itu, terlihat dari wajahnya Seo Na kecewa, gadis itu malah berasumsi jika dirinya dijebak untuk berudaan dengan makhluk menyebalkan dihadapannya saat ini.

“kalau begitu sepertinya kita bisa menunda makan malamnya, lagi pula Dong Hae tidak ada disini. Aku permisi Kyu Hyun-ssi”. tandas gadis itu tidak terima jika keadaan membuat mereka harus terjebak berdua disini, bahkan hal yang paling dihindari Seo Na saat ini adalah pria itu, mengerikan baginya.

Kyu Hyun setengah berlari mengejar punggung gadis itu sampai akhirnya ia bisa menggenggam pergelangan tangan Seo Na menarik tubuh gadis itu lebih cepat, menuntunya masuk kedalam mobil Ford mewah milik pria itu, awalnya gadis itu terkejut dan bersikeras tidak ingin ikut dan mencoba melepaskan diri, tapi percuma karena sekarang ia sudah berada disamping kendali Kyu Hyun.

“kau mau menculikku? Aku bisa menanam saham diperusahaanmu lebih banyak lagi, tapi kumohon pulangkan aku!”. Kyu Hyun tetap tidak peduli dengan ocehan bringas gadis itu, ia lebih fokus pada jalanan Seoul dan akhirnya Seo Na hanya diam menuruti semua keinginan pria itu dan ia yakin setelah ini ia akan benar-benar membunuh pria itu.

~~~000~~~

Kyu Hyun menepikan mobilnya, menatap wajah polos Seo Na yang saat ini sedang tertidur pulas disampingnya, ia bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu, raut wajah kelelahan, wajah yang seharusnya tersenyum, dan ia yakin selama 8 tahun ini gadis itu tidak mendapatkan kasih sayang yang layak lagi, semua karena dirinya, karena ia sudah menciptakan gunung kebencian didalam hati gadis itu, seujurnya Kyu Hyun sangat teramat menyesal.

Pria itu turun perlahan dari dalam mobilnya, dua jam perjalanan dan hanya diam didalam mobil membuat gadis itu tertidur dan ia tidak ingin mengganggu tidur nyenyak Seo Na, Kyu Hyun melangkahkan kakinya mendekat ketepi pantai, ya pria itu memilih pantai karena dulu Seo Yeo sempat mengatakan kepadanya jika Seo Na sangat menyukai pantai, gadis itu tergila-gila dengan suara deburan ombak baginya laut dan pantai adalah lambang kehidupan yang damai.

“kenapa membawaku kemari? Aku ingin pulang”. Suara itu sukses memalingkah wajah Kyu Hyun yang sejak tadi memperhatikan ombak, pria itu tersenyum mendapati gadis itu sudah berjalan terseok-seok diatas pasir. “ini sudah malam dan kau membawaku ketampat ini? kau gila?”. Tandas gadis itu lagi, masih tidak puas terus memojokkan Kyu Hyun.

Pria itu membuka jas hitamnya, meletakkan di sisi bahu Seo Na dan gadis itu lagi-lagi dengan pasrahnya menerima sikap tiba-tiba Kyu Hyun yang membuatnya linglung.

“kau menyukai pantai?”. Tanya pria itu akhirnya. Seo Na mengangguk kecil, meski ia tidak tau apakah pria itu melihat anggukannya. “aku juga menyukai pantai sejak mengenal seseorang”. Gadis itu mengalihkan pandangannya kearah Kyu Hyun menatap pria itu lekat-lekat. ‘seseorang? Siapa?’. tanya gadis itu dalam hatinya.

“aku menunggunya selama bertahun-tahun”. Lanjut pria itu lagi, Seo Na masih menatapnya, tidak mengalihkan padangannya dari wajah Kyu Hyun yang asik menatap deburan ombak di hadapan mereka.

Seo Na mencoba mengontrol emosinya, menyembunyikan semua keingin tahuannya terhadap seseorang yang dimaksud pria itu. “aku rasa dia sangat berharga bagi mu”. Ujar gadis itu, tidak terdengar sedikitpun emosi dari ucapannya.

“tentu saja, aku melakukan banyak kesalahan demi dia”. ucap pria itu lirih, Seo Na bisa mendengar dari nada bicara Kyu Hyun jika pria itu memang sangat teramat mencintai seseorang yang disebutnya itu, pantas Seo Yeo tak pernah bisa mendapat tempat di hati Kyu Hyun.

Kyu Hyun menatap gadis itu, lagi-lagi pandangannya terfokus pada mata Seo Na, mata itu bahkan ia merindukannya, gila bukan?. “kau cantik malam ini”. ucap pria itu datar. Seo Na mengerjapkan matanya, benarkah apa yang baru saja diucapkan pria itu padanya? Kenapa tubuhnya seperti baru saja disengat listrik.

Secepat mungkin gadis itu mengalihkan padangannya dari Kyu Hyun, mengatur napasnya yang tiba-tiba tersengal-sengal, menyembunyikan mimik mukanya yang ia tau saat ini pasti sangat terlihat bodoh, astaga didepan pria yang ia benci kenapa ia harus terlihat sebodoh ini, pikirnya.

Kyu Hyun meraih tangan Seo Na yang sejak tadi mengudara disamping tubuhnya, tiba-tiba saja pria itu mempunyai kekuatan untuk memberanikan diri mengenggam tangan gadis itu. “ada apa?”. Ucap Seo Na tak nyaman.

“jika kau berpakaian seperti ini, jangan salahkan jika seseorang menyukai dan mengejarmu”. Tandas pria itu, Seo Na berkedik namun gadis itu masih membiarkan Kyu Hyun mengenggam tangannya. Entalah, ada rasa nyaman saat pria itu menyentuh tangannya, ada perlindungan dari setiap sentuhan pria itu.

“tidak masalah, jikapun aku tidak memakai pakaian seperti ini, pria-pria selama ini juga menyukaiku, memberikanku hadiah, mengatakan aku cantik-“.

“benarkah? Kau menerima mereka?”.

“tidak, memangnya kenapa? Tidak ada salahnya juga mereka menyukaiku, lagi pula sejak aku lahir aku tidak mengenal cinta, semua itu menjijikan dan membuatku pusing”. Ujar gadis itu seenaknya, ia tidak peduli jika saat ini Kyu Hyun sudah tersenyum mendengar ucapannya yang ketus, dingin dan terdengar tidak berperasaan.

“Na-ya?”. panggil pria itu lembut, berhasil membuat mata Seo Na tertarik ke arah pria itu. Seo Na mematung ditempatnya, entah kenapa setiap pria itu mengucapkan namanya rasanya ia ingin mati kerena kehabisan napas.

Kyu Hyun mendorong tubuhnya kedepan, mendekap tubuh gadis itu, untuk yang pertama kalinya setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengan gadis itu kini ia bisa memeluknya, membiarkan semua sakit gadis itu tersalurkan padanya, meski ia tau sekarang tubuh gadis itu menegang karena terkejut atas perlakuannya yang tiba-tiba.

“Hei Tuan Cho?! Kau gila?!”. Bentak Seo Na, berusaha melepas pelukan Kyu Hyun tapi percuma saja, toh pria itu sedang nyaman memeluk tubuh Seo Na sekarang.

“baiklah-baiklah, apa yang kau inginkan? Kau mau paparazi memergoki ku lalu kita akan jadi trending topic utama? Hei kau tidak sadarkan sedang memeluk siapa?”. Kyu Hyun tidak peduli dengan ocehan gadis itu tetap saja memeluknya dengan sesukanya.

“maaf sudah membuatmu menderita selama bertahun-tahun, aku menyesal”. Ujar Kyu Hyun lirih sambil melepas pelukannya daru tubuh gadis itu, Seo Na menatap pria itu, ia tidak salah dengar kan? Apa yang sebenarnya pria itu bicarakan? Apa Kyu Hyun sudah mengetahui siapa dirinya? “terlalu banyak luka yang ku ciptakan, aku mencarimu kemana-mana, dan sekarang aku sudah menemukanmu Na-ya”. Kyu Hyun menatap gadis itu lekat-lekat, Seo Na masih diam ditempat membalas tatapan pria itu padanya.

“kau terluka? Aku juga, kau kehilangan? Aku juga, kau kehilangan satu orang waktu itu? dan aku kehilangan tiga orang sekaligus, dan sekarang aku sudah menemukan yang satunya”. Seo Na mundur selangkah setelah pria itu mengatakan kalimat terakhirnya.

“maaf atas semua kesalahan dimasa lalu-“.

“MUNDUR KAU CHO KYU HYUN!!!”. Teriak gadis itu setelah ia berhasil mengeluarkan pistol dari tas tangannya yang sejak tadi sengaja gadis itu bawa, mengarahkan moncong pistol itu kearah Kyu Hyun membuat pria itu kaget.

“kenapa? Kau takut? Bagaimana dengan ketakutan yang ku alami selama ini? KARENA KAU CHO KYU HYUN! Karena kau sudah mengancurkan hidupku! HIDUP SEO YEO! Dan kau bilang kau meminta maaf? Tidak semudah itu”. teriakan Seo Na tidak sama sekali membuat Kyu Hyun gentar, pria itu masih ditempatnya menyaksikan semua isak pilu yang pasti sudah tertanam selama 8 tahun ini didiri gadis itu.

Kali ini Seo Na terisak, banyak air mata yang turun dari mata gadis itu, mata yang biasanya menatap orang dingin, mata yang biasanya mengintimidasi orang lain, mata yang biasanya tetap terlihat tegar meski Kyu Hyun yakin Seo Na sangat rapuh, gadis itu sangat rapuh.

“aku kehilangan semuanya, aku kehilangan kakak-ku, aku kehilangan kasih sayang darinya, dan karena kau aku bahkan tidak pernah bisa menerima makhluk laki-laki yang berusaha masuk kedalam hidupku, kau tau! Aku menderita bahkan lebih dari apa yang kau lihat sekarang!”. Dengan susah payah gadis itu menahan isak tangisnya, dengan susah payah ia mengucapkan satu persatu kepedihan dihatinya yang selama ini tertanam jauh dilubuk hatinya.

“Na-ya”. panggil pria itu mencoba mendekat kearah Seo Na tapi gadis itu mundur menjauh dari jangkauan Kyu Hyun.

“jangan mendekat! Aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu Cho Kyu Hyun!”.

“bunuh aku jika itu yang kau inginkan, sekarang! Jika membunuhku bisa mengubah keadaan dan mengembalikan nyawa Seo Yeo aku rela! Kau pikir hanya kau yang mendapati kesengsaraan setelah gadis itu mati? Kau pikir hanya kau yang kehilangan kasih sayang setelah ia meninggalkan kita?! Jawab aku Park Seo Na!!!”. Seo Na berkedik, ia tetap menahan tangannya diudara mengacungkan benda mematikan itu kearah Kyu Hyun.

“dengarkan aku gadis bodoh! Kau tau alasan kenapa aku tidak mencintai gadis itu? kau tau alasan kenapa aku tidak menerimanya? KARENA YANG KU INGINKAN SAAT ITU ADALAH KAU PARK SEO NA! Gadis berumur 15 tahun yang terang-terangan ingin membunuhku saat itu! kau tau!”. Ucapan yang keluar dari bibir pria itu bahkan membuat Seo Na kini sudah terjatuh diantara pasir pantai, sungguh gadis itu tidak bisa lagi menopang tubuhnya yang sudah bergetar hebat, gadis itu masih menggenggam pistol ditangannya meski saat ini ia tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengangkat benda itu dan mengacungkannya kearah Kyu Hyun.

Pengakuan pria itu bahkan membuat kepalanya nyeri, air mata itu tumpah bahkan kini Seo Na mengerang kesakitan, jadi bukan dirinya sendiri yang membuat kakaknya terluka, bukan pria itu dan kenapa ia baru sadar setelah Seo Yeo meninggalkannya, kenapa dari dulu ia tidak menanyakan pada kakaknya alasan Kyu Hyun menolaknya, dan semua penyesalan itu menari-nari diotaknya.

Kyu Hyun mencoba mendekat kearah Seo Na, yang ia inginkan saat ini hanyalah memeluk tubuh rapuh gadis itu, membiarkan tubuh nringkih itu masuk dalam dekapannya, namun tiba-tiba saja suara letusan berbunyi sangat hebat, entah dari mana asalnya yang jelas suara letusan itu mampu membuat Kyu Hyun terlonjak kaget, tanpa ia sadar jika jiwa yang didepannya saat ini sudah tersungkur ke pasir dengan darah yang sudah mengalir deras menggantikan warna pasir sikitarnya menjadi merah padam.

“PARK SEO NA!!!”.

~~~000~~~

 

REVENGE BEFORE LOVE (1/?)

Standard

REVENGE BEFORE LOVE (1/?)

 

RERE_副本

 

Action, Romance. PG + 17

Cast :

Cho Kyu Hyun

Lee Dong Hae

Park Seo Na

 

 

 

Prolog

 

“ini sudah terlalu membuat ku lelah Seo-ya! aku bahkan sudah mengatakan berkali-kali bahwa kita hanya sebatas sahabat, aku tau kau mencintaiku, tapi keadaannya tidak sama dengan apa yang aku rasakan. Seo-ya, maafkan aku dan ku mohon jangan melakukan hal gila lagi, mengerti? Hm?”. Pria itu menarik tubuh ringkih gadis itu, ia tau gadis keras kepala itu bersedia tidak makan selama berhari-hari hanya karena pria itu mengabaikannya, Park Seo Yeo jika tidak ada laki-laki yang sedang memeluknya saat ini, mungkin ia juga akan segera mati.

“tatap mataku gadis bodoh, aku hanya seorang pria biasa. Aku tidak bisa membahagiakanmu dengan keterpaksaan, kau mengertikan?”. Bukan untuk yang pertama kalinya pria itu mengatakan hal itu, sudah berkali-kali pria jakung itu mengatakan hal yang mampu membuat luka sobekan paling dalam dihati gadis itu, sakit bahkan saat ini ia tidak bisa lagi merasakan hangatnya pelukan satu-satunya pewaris Cho Company itu ditubuhnya. Terlalu sakit, Mungkin.

Seo Yeo menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria itu yang kini tengah memeluknya, ia rasa ini akan menjadi pelukan terakhir untuk pria itu, sudah cukup ia mempermalukan dirinya terus-terusan dan berusaha tetap kuat dan terus mengejar cinta dari pria yang sama sekali tidak mencintainya, mungkin hanya sayang, sayang terhadap sahabat yang sudah dikenalnya sejak mereka sekolah.

“aku akan pergi, aku ingin ke makam Ibu dan Ayahku”. Ucap gadis itu setelah ia melepas dengan berat pelukan pria itu, ia tersenyum hambar memaksakan bahwa ia bisa lebih kuat didepan pria itu, tapi nyatanya ia hanya cangkang kosong yang akan terus kosong tanpa adanya balasan cinta dari pria tampan itu.

“mau ku antar?”. Tawar pria itu, Seo Yeo menggeleng lemah melepaskan pengangan tangan pria itu yang sejak tadi tak terlepas dari tangannya. “tapi kau lemah Seo-ya, kau belum makan sejak 2 hari yang lalu dan sekarang keadaanmu sedang tidak baik dan kau malah ingin pergi sendiri?”. tandas pria itu yang hanya direspon senyum oleh Seo Yeo. Tidak ada yang cacat dari gadis itu, ia hampir terbilang sempurna, yang tidak membuatnya sempurna adalah kenapa ia terlalu begitu mencintai pria yang kini tengah berada dihadapannya itu.

“aku bisa sendiri Kyu, kau harus bekerja bukan. Cho Ajhussi pasti memarahimu jika kau tidak bekerja dengan baik, ini baru bulan ke 2 sejak kau menangani perusahaan sebesar ini”.

“aku hanya tidak ingin kau kenapa-kenapa Seo, kau tau kau sahabat terbaikku”. Lagi-lagi ucapan pria itu membuat kepala Seo Yeo berputar-putar tak terkendali, perih kembali terasa menusuk dihatinya.

“kau tau, kau pria terbaik yang ku inginkan Kyu”. Pria itu terdiam mendengar ucapan yang penuh getaran keluar dari mulut Seo Yeo.

“aku sudah menghancurkan hidupmu, kau tau? Aku juga merasa bersalah dan ingin sekali memaki perasaanku sendiri yang tidak bisa memberikan kesempatan untukku, untuk tertarik padamu, aku pria jahat”. Gadis itu tersenyum, mengecup singkat bibir pria itu lalu berlalu dengan langkah yang terseok-seok.

‘ini pertemuan kita yang terakhirkan Cho Kyu Hyun, kau harus hidup bahagia tanpa aku, sahabat sekaligus wanita yang terus saja mengejar cintamu, cih memalukan’. Gumam gadis itu ditengah isak tangisnya setelah ia meninggalkan ruangan kerja Cho Kyu Hyun.

~~~000~~~

Eonni, aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian. Hentikan mobilnya sekarang aku akan menyusulmu”. Terdengar suara agak sedikit melengking dari seberang sambungan telepon gadis itu, Park Seo Na adik kandung gadis itu yang tidak terlalu suka dengan sikap kakaknya yang terlihat lemah dan rapuh.

“tidak apa, aku baik-baik saja gadis kecil. Lagi pula taksi mana yang akan mengantar anak kecil umur 15 tahun sepertimu, mereka mengira kau anak yang mau kabur dari rumah”. Ucap gadis itu setengah tertawa, ia masih bisa mendengar celotehan adiknya yang semakin menjadi-jadi diseberang sana.

Ya! kau pikir aku sebocah itu sehingga taksi tidak mau mengantarku. Dengar ya, aku tau kau baru saja menangis gara-gara ajhussi tua dan menyebalkan itu, pria dingin yang sentimental yang terus kau puja-puja, cukup kemarin aku bertemu dengan pria menjengkelkan dan sok romantis itu, siapa namanya?”.

“Cho Kyu Hyun”. Ucap Seo Yeo singkat sambil tersenyum getir.

“ya, siapapun namanya yang jelas aku tidak suka kau dengannya, melihatnya saja aku ingin muntah”. Seo Yeo terkekeh mendengar celotehan tanpa henti adiknya itu, tidak sekali dua kali Seo Na mengatakan jika ia membenci Kyu Hyun, sering bahkan setiap kali Seo Yeo bercerita tentang kekagumannya pada sahabat laki-lakinya itu, Seo Na hanya akan merespon dengan hujatan-hujatan pedas untuk pria itu.

“sudah selesai memaki sahabatku itu?”. tanya gadis itu, ia bisa mendengar dengan jelas jika adik kecilnya itu mendengus kesal.

“ya, ya sudah. Aku sudah tidak berminat untuk membahasnya. Eonni kau sedang menyetirkan?”. Tanya Seo Na polos.

“iya, aku sedang menyetir. Aku baru saja dari kantor Kyu Hyun-“.

“dia menolakmu? Begitu? Untuk yang keberapa kali?”. Tandas gadis itu penuh amarah, lagi-lagi pria terlalu jenius itu membuat kakak kesayangannya terluka, lagi?!

“aku sudah terbiasa, kau tau bukan aku ini gadis kuat?”. Seo Yeo mencoba menguatkan dirinya sendiri, meskipun ia tau suaranya kini tengah bergetar hebat menahan tangis, dan ia tidak ingin menangis lagi, ia tau Seo Na akan menginjak hidup-hidup pria itu jika ia tau Seo Yeo menangis saat ini.

“kau menangis kan? KATAKAN JIKA KAU MENANGIS EONNI?! Aku tidak mengerti kenapa ku terlalu berambisi dengan pria gila itu! kau masih punya aku, kau masih punya teman-teman dikantormu!”. Gadis itu tidak tahan lagi saat ini, tanpa paksaan apapun isakkannya lolos begitu saja dari bibirnya, ia kalah ia sudah kalah dan ia tidak akan pernah menang, Kyu Hyun memang tidak akan pernah bisa mencintainya.

“aku mencintainya Seo Na, aku mencintainya lebih dari apapun. Ku mohon jangan salahkan dia karena aku yang sudah salah mencintainya selama ini, aku salah adikku, aku……”

BAM!!!!!!!!!!

tiiitt….-”.

Eonni?! Eonni kau tidak apa-apa?!! PARK SEO YEO!!!! KAU TIDAK APA-APAKAN?! YAK!!!!”. Tidak terdengar lagi suara disana, tidak terdengar lagi isakan tangis memilukan milik gadis cantik itu, kecelakaan baru saja terjadi merenggut nyawanya, semua rasa sakit yang ia rasakan tak akan pernah ia rasakan lagi dengan hilangnya nyawa dari raga gadis itu.

Seo Yeo tidak sempat lagi dilarikan kerumah sakit, sebagian tubuh gadis itu hancur seketika, tabrakan yang terjadi tiba-tiba itu seperti kilat yang menyambar cepat tanpa ada tanda-tanda yang diberikannya terlebih dahulu. Pemakaman gadis itu berjalan dengan hikmat, pria itu pria yang menjadi alasan Seo Yeo untuk bertahan sempat syok dan hadir ke pemakaman gadis itu, hanya sebentar karena ia harus kembali bekerja dengan melakukan banyak pertemuan penting dengan perusahaan lain yang menjalin kerja sama degannya.

Kyu Hyun ia bukan tidak bersedih, pria itu hampir hilang kendali ketika ia ngebut dijalanan kota Seoul yang padat dengan kendaraan, baru pagi tadi gadis itu bertemu dengannya, baru tadi pagi ia memeluk tubuh ringkih Seo Yeo, dan baru tadi pagi ia lagi – lagi menyakiti gadis itu, ia yang salah kan? Ia yang sudah menyebabkan semuanya? Masih sanggupkah ia mengatakan dirinya adalah seorang sahabat? Kyu Hyun berteriak sekencang-kencangnya, sahabat terbaiknya Park Seo Yeo sudah tiada.

“Seo-ya? ini salahku bukan? Aku sudah membunuh gadis baik sepertimu, aku tidak membalas cintamu, dan aku sudah mengancurkan kebahagiaanmu! Seo, aku ingin kau bahagia disana, tanpa ada aku pria yang menyakitimu”. Gumam pria itu ditengah proses pemakaman sahabatnya itu, sebelum berbalik dan meninggalkan area pemakaman yang sederhana itu, tanpa ia sadari seorang gadis kini tengah menatap punggungnya yang menghilang diantara keramaian yang ikut mengantar kepergian Seo Yeo, menatap pria itu penuh kebencian, kebencian yang bahkan harus dibayar dengan setimpal oleh pria itu, suatu saat nanti.

EONNI KAJJIMA!!!!”. Hanya teriakkan penuh keputus asaan yang lolos dari mulut Seo Na, kakak terbaiknya kakak satu-satunya yang ia punya, kakak yang menjadi satu-satunya keluarga yang ia punya, karena kedua orang tua mereka sudah lebih dulu meninggal akibat kecelakaan yang mengerikan yang terjadi 8 tahun silam, dan kali ini kecelakaan juga merenggut nyawa kakaknya, semua terasa tidak adil bukan? Semua terasa menyakitkan, dan semua harus dibayar sesuai dengan apa yang ia rasakan.

“Cho Kyu Hyun, matikau!”. Geram gadis itu disela tangisnya, membiarkan semua emosinya terluapkan, membiarkan sakitnya menerkamnya saat ini, meski pada kenyatannya ia tau Seo Yeo lah yang paling terluka.
~~~000~~~

“hai gadis cantik, jadi namamu Park Seo Na? Nama yang bagus, berapa umurmu?”. Ucap pria itu sambil tersenyum kearah Seo Na, Seo Na membalas senyuman pria itu dengan rela-takrela.

“15 tahun”. Jawab gadis itu singkat lalu kembali sibuk dengan kegiatannya.

“kau dingin sekali, tidak seperti Seo Yeo yang ramah dan tersenyum pada orang-orang, aku kira hanya aku manusia yang paling dingin sedunia”. Ucap Kyu Hyun tanpa memperdulikan tatapan mematikan milik gadis yang kini tengah duduk disampingnya itu.

“karena itu Seo Yeo mudah tersakiti, karena dia mudah tersenyum. Kau tau ajhussi, aku tidak suka dengan orang-orang yang menyakiti kakakku, aku akan menginjak lehernya sampai dia mati, dan kau tau aku bercita-cita menjadi penembak jitu dikemeliteran Korea”. Ucap gadis itu santai tanpa berminat melihat ekspresi Kyu Hyun yang kini tengah ternganga menatapnya.

“cita-citamu mengerikan sekali, kalau begitu aku akan menjadi orang pertama yang akan kau injak lehernya dan kau bunuh-”.

“Kyu, aku sudah siap. Ayo berangkat. Seo Na-ya jaga dirimu, aku ada urusan dengan Kyu Hyun, aku akan pulang sebelum makan malam”. Seo Na mengangguk, tidak terlalu berminat menatap kakaknya yang kini tengah mengamit lengan pria itu, ia memiliki ketidak sukaan besar terhadap pria itu, sangat!.

 

~~~000~~~

 

8 years laters

 

Tanpa sengaja gadis itu mengingatnya lagi, mengingat pertemuan pertama dan terakhir kalinya dengan pria itu, pria yang sudah membuatnya berubah drastis seperti sekarang. Gadis itu segera melangkah meninggalkan kediamannya, memacu mobil sport mewah Lamborghini Aventador keluaran terbaru yang membuatnya harus mengeluarkan beberapa milyar dolar uangnya yang terkubur didalam Bank, tidak sulit hanya mengeluarkan uang sebanyak itu karena perusahaan terbesar dikorea adalah kepunyaannya, terdengar menggelikan bukan seorang yatim piatu yang hanya hidup sendiri itu kini sudah menjelma sebagai pengusaha besar yang memiliki perusahaan terbesar di Korea itu, tidak mudah karena bertahun-tahun gadis itu harus terkatung-katung demi mendapatkan aset keluarganya yang masih tersisa yang jatuh ketangannya setelah kakak kandungnya meninggal 8 tahun yang lalu, perusahaan kecil yang kini berubah menjadi perusahaan besar yang menaruh saham disetiap Perusahaan yang bergerak dibawah kaki tangan perusahaan ini.

Park Telecomunication and Industry Corporation yang disikangkat PTI Corp itu adalah perusahaan yang kini tengah digadang-gadang sudah mengalahkan perusahaan sebesar dan sesukses Samsung Electronic dan Samsung Life Insurance yang kini tengah berada dibawah kepemilikan salah satu perusahaan bernama Cho Company. Tidak heran jika gadis itu dengan entengnya menghamburkan uang dan berjalan-jalan dari negara satu kenegara lainnya hanya untuk menghabiskan uangnya yang tidak akan pernah habis untuk berpuluh tahun kedepan.

Park Seo Na, gadis itu kini sudah menjadi wanita jelmaan yang yang sukses dan kaya raya, wanita yang tidak terlalu berminat dengan sekelilingnya, termasuk pasangan hidup yang hampir tidak pernah ia pikirkan sejak ia terlahir kedunia, terlalu rendah baginya jika kesuksesaannya hanya tidak terkendali oleh seorang laki-laki yang masuk dalam hidupnya, tidak ada kamus laki-laki dihidupnya kecuali sahabat dan teman-temannya yang ikut membantu gadis itu sukses hingga sekarang ini, itu saja tidak lebih.

Ia memasuki gedung megah berlantai 25 itu dengan santai, mengenakkan jas hitam dengan kemeja putih sebagai dalamannya, celana jeans hitam ketat dipadukan dengan bots kulit yang sengaja ia rancang di Italia beberapa hari lalu, sejujurnya gadis itu sudah berubah menjadi gadis yang terlihat Manly ketimbang Girly, ia sudah biasa dengan model guntingan rambut setengkuknya, poni yang ia biarkan tergerai menutupi keningnya, sejujurnya ia masih terkesan terlihat cantik dan imut namun tidak sedikit juga yang merasa jika gadis itu terlihat lebih tegas dan dingin.

“Seo Na!”. Gadis itu menoleh ketika suara yang bersumber dari arah kirinya itu menarik perhatiannya. Gadis itu tersenyum saat melihat siapa yang sudah berani memanggilnya tanpa embel-embel ‘ssi’, siapa lagi kalau bukan sahabat terbaik yang ia miliki, Han Yoo Ra.

“kau seperti kuda pacuan saat berajalan, aku hampir kehilangan napas saat mengejarmu gadis dingin”. Seo Na tekekeh mendengar celotehan Yoo Ra yang terdengar mengejeknya.

‘gadis dingin? Seseorang pernah mengatakan itu dimasa lalu, cih!’. Gumam gadis itu mengingat seseorang yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Bagaimana kabar laki-laki itu? Pikirnya.

“lusa kau akan bertemu dengan pemimpin Cho Company, aku merasa tidak enak mengatakan hal ini”. desis Yoo Ra yang hanya direspon tawa terbahak-bahak dari sahabat sekaligus Direktur utama diperusahaan besar ini.

“kenapa? Aku tidak akan melakukan hal itu dengan cepat, kau tau aku suka bermain-mainkan”. Tampak senyum puas kini terukir dibibir gadis itu, senyum kemenangan, karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan pria itu, pria yang membuatnya mati-matian selema bertahun-tahun, pria yang membuatnya memiliki dendam yang hampir ia pikirkan sepanjang malam.

“kau membuatku ngeri Seo Na-ya”. Yoo Ra berkedik menatap sahabatnya itu. “tapi bagaimana jika ia mengenalmu? Bukankah kalian pernah bertemu, kau pernah menceritakannya padaku bukan?”.

“hanya sekali, dan itu sudah terjadi 8 tahun silam, ia tidak akan mengenalku, lagi pula yang ia tau cita-citaku bukan menjadi Direktur diperusahaan sebesar ini karena dulu aku mengatakan padanya jika akau bercita-cita menjadi penembak jitu dan membunuhnya”.

“Ya! gadis setengah pria, kau menakutkanku!”. Yoo Ra melangkahkan kakinya keluar dari lift terlebih dahulu disusul Seo Na yang berjalan dibelakangnya.

“aku masih normal, kau kira aku ini jelmaan pria?”. Tandas gadis itu tak setuju jika ia dipanggil –gadis- setengah-pria, tentu saja Yoo Ra mengatakan hal demikian karena Seo Na memang terlihat dari sangat terlihat laki-laki sekali dengan penampilannya saat ini.

“setidaknya gadis normal masih memiliki ketertarikan terhadap pria, tidak sepertimu yang menganggap semua pria sama dengan pemilik Cho Company itu”. Seo Na tertawa renyah, melemparkan pandangan mematikannya kearah Yoo Ra.

“kalau begitu, bagaimana jika aku memacarimu saja?”.

“AAAA!!! DASAR GADIS GILA!!!”. Teriak Yoo Ra sebelum gadis itu lari terbirit-birit meninggalkan Seo Na yang kini tertawa puas melihat ekspresi menggelikan sahabatnya itu.

~~~000~~~

“bagaimana? Apa perusahaan kita sudah terlalu merosot? Kau yakin?”. Ucap Ahra pada adik laki-lakinya itu, pria itu setengah mendongak menatap Ahra yang kini sudah duduk dihadapannya.

“Ah Nuna, ada apa datang kemari?”. Ucap pria itu sekenannya karena terlalu sibuk dengan data-data penjualan perusahaannya yang bergerak di dua bidang, Elektronik dan Asuransi itu.

“seharusnya aku memang tidak kemari”. Keluh wanita yang sudah memilki satu orang putra itu. “aku mengantarkan beberapa makanan untukmu, aku tidak tau kenapa Eomma mengkhawatirkan mu akhir-akhir ini setelah ia tau jika perusahaan kita sedang mengalami kendala, ia khawatir anak perjaka-nya ini merasa lelah dengan pekerjaannya”. Sambung gadis itu tanpa mendapatkan respon apa-apa dari adiknya itu.

“baiklah Cho Kyu Hyun, aku tidak akan mengoceh lagi, berbicara denganmu sama saja berbicara dengan tembok”. Kyu Hyun menatap tubuh kakaknya itu yang sudah berbalik menuju pintu, sebelum ia mengucapkan sesuatu yang membuat pria itu kembali mengingat hal yang sudah hampir terlupakan.

“jika Seo Yeo masih hidup, gadis itu pasti akan membuatmu berbicara lebih banyak dibanding sekarang, kau tidak mencintainya, tapi kematiannya membuat hidupmu berubah menjadi kaku Kyu”. Ada satu titik yang terasa sakit dijantung pria itu mendengar ucapan Ahra sebelum ia menghilang dari balik pintu ruang kerjanya. Ya tepat sekali, jika Seo Yeo masih disini bersamanya, ia tidak akan sesulit ini, dan benar sekali tentang ucapan Ahra, ia sudah jauh berubah sejak gadis itu meninggalkannya, dan itu yang membuat ia hingga saat ini memilih tidak mencintai gadis manapun, mungkin tidak akan pernah.

“Seo-ya, aku merindukanmu”. Ucap pria itu getir, menghentikan semua aktifitasnya sejenak, setidaknya hari ini biarkan ia mengingat gadis itu lagi sejak hampir bertahun-tahun tidak lagi memikirkannya.

~~~000~~~

what’s up Kyu!?”. Pria itu langsung menepuk bahu Kyu Hyun yang sejak tadi berjalan tergesa-gesa dengan wajah kusut persis seperti pakaian yang tidak disetrika sama sekali.

“ah Hyung, ada apa?”. Ucap pria itu tanpa berminat membalas senyuman termanis yang sudah diberikan Dong Hae terhadapnya.

Dong Hae berkedik ngeri saat melihat wajah pria itu yang hampir menakutkan dari wajah setan. “kau membuat ku takut Kyu Hyun-ah, apa begitu burukkah penjualan perusahaan mu bulan ini sampai-sampai kau memasang wajahmu yang paling mengerikan itu?”. ejek Dong Hae.

“Hyung, aku sedang tidak ingin bercanda”. Ucap pria itu tanpa minat sedikitpun.

“baiklah-baiklah, aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi, kalau begitu bagaimana jika aku menraktirmu? Aku tidak ingin melihatmu seperti laki-laki prustasi yang ditinggal istrinya”. Kyu Hyun terdiam sejenak sebelum ia menuruti ajakan pria yang berasal dari Mokpo itu.

~~~000~~~

“jadi karena itu? kau masih mengingatnya dengan baik setelah bertahun-tahun. Aku juga masih mengingat gadis itu, yang menolakku secara terang-terangan hanya karena cinta nya yang besar kepadamu”. Dong Hae menyantap Stick panggang yang harganya bisa membayar gaji satpamnya dikantor.

“aku tidak sengaja mengingatnya”. Ucap Kyu Hyun dingin, sambil menusuk-nusuk makanan didalam piringnya tanpa berniat memakannya sedikitpun.

“kau mencintainya Kyu, aku tau. Tapi rasa cintamu baru kau sadari setelah ia meninggalkanmu, kau tau aku juga begitu kesal setiap gadis itu menangis dihadapanku tanpa bisa membantunya sedikitpun, aku menyesal hanya bisa membiarkannya menangis”.

“dan aku menyesal karena sudah membuatnya menangis”. Tandas Kyu Hyun, yang hanya direspon senyuman simpul oleh Dong Hae, mereka sama-sama pria bukan, Dong Hae tau persis bagaimana perasaan Kyu Hyun saat ini. “aku pikir hanya perlu waktu beberapa tahun untuk melupakan gadis itu, ternyata aku salah”. lanjutnya lagi, tersirat jika sekarang Kyu Hyun benar-benar menyesal, lebih tepatnya sangat menyesal.

“kau belum terlambat, kau masih bisa memperbaiki kesalahanmu, dan dulu kau sempat mengatakan jika gadis itu masih memiliki adik bukan? Kenapa tidak menemuinya saja dan mengatakan permohonan maaf mu, lagi pula ini murni kasus tabrakan Kyu, dan bukan kau yang menabraknya, jadi aku rasa adiknya bisa mengerti keadaanmu setelah itu kau bisa mencoba mencintai gadis lain yang bisa membuatmu tenang, hanya itu caranya”. Jelas Dong Hae panjang lebar, pria itu memang benar ia memang seharusnya meminta maaf pada adik mendiang sahabatnya itu, tapi sayang adik gadis itu juga ikut menghilang dari kediamannya setelah proses pemakaman kakaknya usai.

“aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, sejak pertama kali aku bertemu dengannya saat itu, dipemakamanpun aku hanya bisa melihat punggungnya yang naik turun karena terus menangis, setelah itu tidak pernah lagi”.

“kau tidak mencoba mendatangi kediamannya?”.

“sudah, tapi gadis itu menghilang tidak ada kabar lagi hingga saat ini”. dengan susah payah Kyu Hyun menjelaskannya, tanpa ia sadari kini tangannya bergetar. Dong Hae menghela napasnya panjang, ia tau ini terlalu rumit untuk seorang Cho Kyu Hyun yang sibuk dengan perusahaannya.

“aku rasa dia sudah mengikhlaskan kematian kakaknya, dan sekarang sudah hidup bahagia”. Ucap Dong Hae mencoba menguatkan Kyu Hyun yang tampak semakin buruk karena pembicaraan mereka kali ini.

“aku hanya takut, jika ia balas dendam dan membunuhku. Seperti yang pernah ia ucapkan dimasa lalu, aku rasa ia sudah menjadi penembak jitu sekarang”.

“penembak jitu? Memangnya dia seorang pria?”. Kyu Hyun menggeleng. “lalu?”. lanjut Dong Hae tak sabaran.

“dia gadis cantik. Sangat berbeda dengan kepribadian kakaknya. Pandangannya tajam, gadis cuek dan dingin”. Jelas Kyu Hyun, lalu memasukkan potongan daging kedalam mulutnya dengan malas-malasan.

“bukan tentang itu, tapi tentang penembak jitu dan ucapannya”. Tanya Dong Hae lagi.

“ia pernah mengatakan jika seseorang menyakiti kakaknya, dia akan menginjak leher orang itu sampai mati dan seingatku dia bercita-cita menjadi penembak jitu dikemiliteran Korea”. Dong Hae yang mendengarkan hal itu segera meneguk air mineral yang sejak tadi belum disentuhnya melongo mendengarkan penjelasan Kyu Hyun yang terdengar lebih horor dari film vampire.

“kau harus berhati-hati, aku rasa gadis itu tidak main-main dengan ucapannya, ini benar-benar membuatku ngeri, aku rasa aku tidak akan dibunuh olehnya karena aku tidak pernah menyakiti kakaknya selama ini”. Dong Hae berkedik melanjutkan makan malamnya bersama Kyu Hyun tanpa membahas apa-apa lagi tentang gadis itu.

~~~000~~~

“apa kita harus membunuh gadis kaya raya itu?”. suara itu membuat perhatiannya tersita, mendongakkan kepalanya melihat kearah gadis yang kini berdiri disampingnya.

“Aku hanya menyuruhmu terus mengawasinya, masih banyak hal yang harus kita lakukan sebelum gadis itu mati ditanganku”. Pria itu mengacak rambutnya sendiri, terlihat dari keadaannya saat ini bahwa ia benar-benar dalam keadaan tidak baik-baik saja.

“berapa lama lagi? Sampai kau menemuinya dan jatuh cinta padanya? Kau belum bertemu dengannya. Kau hanya melihatnya sesekali di tayangan televisi”.

“aku tidak akan jatuh cinta pada gadis itu”. tandas pria itu. “dia sudah mengambil semua aset perusahaanku dan menenggelamkan aku dalm kebrangkutan, apa kau pikir aku akan mencintainya? Apa aku terlihat tidak waras? Aku mau kau membantuku Eun-ah?”. Jae Eun menoleh menatap mata kebencian yang terlihat jelas menyiratkan di wajah Eun Hyuk, ia kenal betul pria ini dan tidak ada yang bisa ia lakukan selain bersekutu dengan pria yang bahkan tidak pernah tau bagaimana perasaanya selama ini, terlalu sulit bagi Jae Eun berbasa-basi tentang perasaanya pada pria yang notabene suka bermain dengan gadis-gadis cantik diluar sana, bukan karena dia benar-benar bejat, hanya saja orang-orang sudah lebih dulu mengatakan pria itu sebagai PlayBoy yang patut di acungi jempol, dan akhirnya dengan terpaksa dan sedikit senang hati Eun Hyuk menikmati gelar itu untuknya.

“aku akan melakukan sesuai dengan apa yang sudah kau perintahkan, aku merasa aku adalah wanita bodoh yang terus saja mau kau suruh-suruh”. Ucap Jae Eun enteng lalu berniat meninggalkan pria itu diruang kerjanya, tidak sampai beberapa langkah karena tangan kekar milik Eun Hyuk kini sudah menahan pergelangan tangan gadis cantik bertubuh ramping itu.

“kau keberatan?”. Ucap Eun Hyuk, menatap manik mata gadis itu yang terlihat syok atas perlakuannya.

Jae Eun menggeleng tersenyum kearah Eun Hyuk. “kau tau? Aku juga bukan apa-apa dulunya jika kau tidak menyelamatkan gadis miskin sepertiku, jadi tidak apa jika aku membalas budi dengan cara seperti ini, istirahatlah, ini sudah sangat larut malam”. Tandas gadis itu sebelum ia benar-benar meninggalkan pria itu termangu mendengar deretan ucapan Jae Eun yang terdengar pasrah.

~~~000~~~

“kau membeli mobil sport? Lagi? Astaga Seo Na kau mau membuat kediamanmu penuh dengan barang yang berharaga Nol nya sampai tidak bisa aku hitung?”. Yoo Ra mengelilingi mobil Ferari bewarna putih keluaran terbaru tahun ini, ini ketiga kalinya gadis itu membeli mobil sport di tahun yang sama yang selalu direspon teriakkan histeris dari sahabatnya Yoo Ra, bukan bermaksud pamer gadis itu hanya terlalu bernapsu melihat deretan-deretan mobil keluaran terbaru yang sudah terpampang di internet, ia bisa mengakses perusahaan mobil itu dan mengirim uang ke pabriknya langsung lalu dengan segera mendapatkan mobil yang ia inginkan, semudah itu sampai-sampai ia lupa untuk apa barang-barang mahalnya ini.

“setidaknya jika aku memiliki mobil mewah seperti ini kau juga bisa menaikinya dengan Cuma-Cuma bukan?”. Goda Seo Na yang hanya direspon cibiran dari sahabatnya itu.

“lalu kau mau apa dengan mobil ini? kau akan membuatnya menjadi sarapanmu pagi ini? atau kau mau memesan coklat dari swiss lagi lalu mengirimkannya ke Seoul?”. Celoteh Yoo Ra tidak henti-hentinya melihat ekspresi Seo Na yang kini sedang tertawa terbahak-bahak dihadapannya itu. “aku harus cepat-cepat mencarikan suami untukmu sebelum kau membeli setengah eropa lalu membawanya kemari”. Yoo Ra berdelik lalu menyeret Seo Na masuk kedalam apartemen mewahnya dikawasan elite Gangnam.

Keduanya asik menyantap sarapan yang sudah terhidang diatas meja makan, Seo Na memang tidak menempati rumah mewahnya yang terlalu besar untuk dirinya sendiri, ia lebih memilih membeli sebuah apartemen luas dan mewah yang harganya lagi-lagi bisa membuat orang yang mendengarnya tercengang. Simpel saja, Seo Na tidak ingin terlalu diekspos oleh orang-orang dengan kekayaan yang dia miliki, cukup infestor dan beberapa pengusaha saja yang mengenalnya, ia tidak ingin dikenal sebagai Park Seo Na yang banyak dikenal orang, ia hanya ingin menjadi Park Seo Na yang dingin tertutup dan tidak memiliki minat untuk mengurus hal yang tidak bersangkutan dengannya, terlalu membosankan bagi gadis itu.

“apa kau sudah siap?”. Yoo Ra membuka percakapan diantara mereka lagi yang sejak tadi sibuk dengan makanan dan pikiran mereka masing-masing. “esok kau akan menemuinya Seo Na”. Lanjut Yoo Ra.

“menurutmu bagaimana?”. Jawab gadis itu enteng, mengunyah makan yang ada didalam mulutnya.

“tidak mudah, dia bukan pria yang kau kenal saat 8 tahun lalu lagi, dia sudah banyak berubah. Kau tau, aku mendengar dia bahkan tidak berniat memiliki hubungan dengan gadis manapun sejak ia kehilangan kakakmu”. Seo Na tertawa geli, kenapa pria itu yang malah prustasi dan sok lemah didepan semua orang? Bukankah pria itu tidak mencintai kakaknya? Seharusnya ia sudah menikah dengan wanita yang menjadi tipenya.

“aku pikir ia sudah menikah dan memiliki banyak anak, tapi ternyata ia masih berusaha sok lemah dan kehilangan Seo Yeo? Dia pikir Seo Yeo akan bahagia di surga sana melihat acting konyolnya yang membuatku ingin muntah. Cih! Kenapa kakak-ku terlalu menggagungkan pria bermuka tua itu”. umpat Seo Na tiap kali ia membicarakan pria yang ia maksud. Mungkin semua kebenciannya terhadap pria itu akan musnah ketika ia berhasil membunuh pria itu dengan kedua tangannya.

“saat aku melihat ia diperusahaanya waktu itu, ia terlihat tampan bahkan jauh dari kata –muka tua- yang selalu kau ceritakan padaku, mustahil jika tidak ada wanita yang menginginkannya, atau jangan-jangan pria itu sama saja denganmu? Menyukai sesama jenis”. Ucap Yoo Ra hati-hati sebelum Seo Na membuat piring terbang lagi pagi ini.

“Yak!!!-“.

Tangan gadis itu terhenti diudara ketika ponsel layar sentuhnya sudah begetar tidak jauh dari jangkauannya dan kali ini Yoo Ra terselamatkan dari amukan mengerikan Seo Na yang bisa membuat Uvo terbang pagi ini. gadis itu mengangkat telponnya setelah melihat nama seorang dilayar ponsel canggihnya itu.

“Yeoboseyeo”. Ucap gadis itu dengan nada dingin tanpa ada keramahan sedikitpun, tapi pria yang diseberang sana malah mengutuk-ngutuknya mendengar suara Seo Na yang selalu terdengar tidak bersahabat.

“Ya! tidak bisakah menjawab telponku dengan tidak menggunakan suara mematikanmu itu Park Seo Na!”. Seo Na mencibir lalu tertawa renyah mendengar dumelan pria jakung diseberang sana.

“ya ya, ada apa Oppa”. Jawab Seo Na kali ini dengan nada sedikit melunak dan menaruh embel-embel Oppa di ujung kalimatnya.

“kalau kau terus memanggilku Oppa dan berubah menjadi gadis manis aku akan memberikanmu amunisi yang bisa membunuh seseorang dengan sekali tembakan”. Terdengar tawa memecah dari ujung sana yang hanya direspon cengiran tak minat dari gadis itu.

“jadi bagaimana? Kau hanya menyuruhku untuk mendengar tawamu yang jelek itu pagi ini?”.

“jika kau bukan wanita cantik sudah ku habisi kau Seo Na”. Ancam pria itu yang sebenarnya tanpa maksud yang serius.

“apakah aku harus takut dan berlari kepengacaraku dan mengadukanmu bahwa kau mau membunuhku, Ohh Lee Teuk Oppa aku takut dengan ancamanmu”. Suara Seo Na yang dibuat-buat Aegyo membuat si penelepon dan Yoo Ra yang berada disampingnya hampir muntah melihat ekspresi gadis itu seperti orang yang sedang menahan kencingnya.

“astaga Seo Na, kau membuat Oppa-mu yang tampan ini bisa gila”. Pekik Lee Teuk lalu melanjutkan penjelasannya tentang permintaan gadis itu sejak seminggu yang lalu. “soal pistol yang kau katakan padaku kemarin, aku sudah mendapatkan salah satu pistol yang dijuluki senjata paling mematikan didunia, Pistol berjenis FN 57 aku sengaja memesan pistol ini langsung dari negara asalnya Beligia, jenis senjata tunggal blowback dengan peluru 5,7 x 2.8mm dan memiliki jangkauan efektif 50ms , pistol ini dapat kau stel dengan jarak pandang tertentu, aku rasa kau bisa membunuh siapa saja dengan sekali tembakan”. Jelas pria bermarga Park itu yang kini sedang bekerja disalah satu Agent resmi milik Korea Selatan yang menangani kasus perampokan, pencurian dan teror pembunuhan.

“baiklah, sampai kapanpun kau menjelaskan tentang senjata yang aku saja tidak ingat lagi namanya itu tetap saja aku tidak akan mengerti Oppa. Kau hanya perlu mengirim benda itu ke apartemenku sebelum besok pagi”. Ucap gadis itu yang lebih terdengar memerintah dan penuh intimidasi.

“aku hanya meminjamkannya padamu Bodoh! Aku tau kau sekarang sudah mendapat izin memiliki senjata api tetapi tetap saja kau tidak boleh memiliki benda ini seutuhnya, aku hanya meminjamkan barang mematikan ini selama kau membutuhkan setelah itu kembalikan padaku. Lagi pula aku bersyukur jika waktu itu kau tidak masuk dalam organisasi penembak jitu, aku takut kau bisa saja membunuh banyak orang karena ambisi liarmu”.

Seo Na tertawa mendengar celotehan pria itu yang sudah ia kenal sejak masih kecil, Lee Teuk adalah tetangganya yang dulu juga berteman dengan mendiang kakaknya, dari pria itu ia mengetahui berbagai jenis senjata juga organisasi yang bekerja untuk melindungi negara, awalnya gadis itu memang merengek untuk memaksa masuk dalam Organisasi penembak jitu, tapi pria itu melarangnya dengan alasan gaji seorang penembak jitu tidak lebih banyak dari seorang pengusaha kaya raya yang bisa memimpin perusahaan, dan itu terbukti gadis itu memilih melanjutkan perusahaan keluarganya yang kini memang sudah memiliki berbagai cabang dan saham-saham disetiap negara.

“Ya ya ya, aku mengerti Oppa”. Sanggahnya sebelum pria itu berceramah lagi dan Seo Na segera menutup sambungan telponnya.

Yoo Ra mengerutkan keningnya, menatap Seo Na yang kini tengah tersenyum-senyum sambil melenjutkan sarapannya. “kau mendapatkan benda itu?”. tebak Yoo Ra, Seo Na mengangguk semangat. “astaga! Apa Lee Teuk ajhussi itu sudah gila memberikan benda mematikan itu pada gadis yang berambisi mematikan orang ini”. ucap Yoo Ra stress, gadis itu memegang kepalanya yang hampir pecah.

“memangnya kenapa?”. Tanya Seo Na enteng lalu meninggalkan Yoo Ra dimeja makan dan tetap melayangkan ocehan-ocehan dan ceramahnya yang persis pernah Seo Na dengar digereja-gereja.

~~~000~~~

“mereka sudah menyetujui kita untuk bertemu besok, jadi kita bisa meminta bantuan pada perusahaan itu untuk menaruh saham di perusahaan kita”. Kyu Hyun mengangguk mendengar penjelasan dari Ye Sung sebagai Menager di bagian industri. “Kyu, aku dengar pemimpin perusahaan itu adalah seorang wanita, aku tidak menyangka perusahaan sebesar itu bergerak dibawah kepemiminan seorang wanita sebagai direktur utamanya”. Ucap Ye Sung penuh dengan kekaguman.

“tidak ada yang mustahil Hyung, mengingat wanita juga bisa memimpin suatu negara”. Ucap Kyu Hyun tidak terlalu berminat, karena kali ini ia akan berurusan dengan wanita yang bahkan ia hindari selama ini.

“aku rasa itu tidak buruk, mengingat direktur utama perusahan PTI Corp itu adalah gadis berumur 23 tahun yang belum menikah dan mempunyai wajah yang tidak kalah cantik dari artis-artis papan atas”. Ucap Ye Sung yang hanya tetap tidak mendapatkan respon ketidak-minat-an Kyu Hyun dengan ceritanya.

“baiklah Hyung, ini data-data yang akan kita ajukan pada PTI Corp esok hari, aku harap kita bisa menyelesaikan masalah ini”. Ye Sung mengambil berkas-berkas itu lalu meninggalkan ruang kerja Kyu Hyun sebelum permisi pada pria itu.

~~~000~~~

Dong Hae berjalan menelusuri trotoar yang tidak terlalu jauh dari apartemennya, pria itu memilih sedikit berolahraga di pagi hari sebelum ia berangkat ke ke kantornya. Ini sudah sangat lama sekali sejak pria itu terakhir lari-lari kecil disekitar kompleks apartemen ini, tanpa sengaja ia mengingat ucapan Ibu nya beberapa hari yang lalu ditelepon, untuk menyuruh pria itu segera menikah dan membawa seorang istri ke tanah kelahirannya Mokpo dan mengenalkan pada Ibunya, sebenarnya kata-kata menikah terdengar begitu asing ditelinga pria bertubuh seksi itu, mengingat ia lupa bagaimana jatuh cinta karena selama ini ia terlalu sibuk menangani perusahaan yang diwariskan Ayahnya setelah beliau meninggal, perusahaan yang bergerak dibidang perikanan itu, tidak terlalu besar hanya perusahaan yang cukup sukses dibidangnya.

Tidak lama pria itu berkutat dengan lamunannya karena kali ini tubuhnya sudah terhuyung dan terjatuh kesisi trotar menyebabkan sedikit luka disiku pria itu. Dong Hae bangkit dan mencoba menoleh pada gadis yang kini sudah tergesa-gesa menghampirinya, gadis yang bisa dengan jelas ia lihat parasnya mengendarai mobil sport merk Ferrari bewarna putih.

Gweanacana?”. Terdengar suara tidak begitu lembut namun sarat akan kekhawatiran di nada ucapannya, gadis itu membantu Dong Hae bangkit.

“tidak apa-apa Nona, aku baik-baik saja”. ucap Dong Hae masih menatap paras gadis itu yang kini tidak henti-hentinya menatap sekujur tubuh Dong Hae dan mendapatkan pemandangan luka yang memang tidak terlalu besar disiku pria itu namun cukup membuatnya merasa sangat bersalah.

“tapi sikumu, apa aku harus mengobatimu? Aku rasa aku mengetahui rumah sakit disekitar sini”. Ucapnya tetap dengan nada cemas.

“tidak perlu, aku bisa mengobatinya ini hanya luka ringan”.

“lalu kau membiarkanku tidak bertanggung jawab, Tuan? Sejujurnya aku merasa bersalah karena hampir menabrakmu”. Kali ini nada bicara gadis itu terdengar lebih dingin dan kaku, seluet wajahnya sudah tidak sekhawatir awal tadi, gadis ini memang pandai mengubah ekspresinya dalam sekejap mata, menarik sekali, pikir Dong Hae. Pria itu menimang-nimang sejenak sebelum mengucapkan sesuatu yang membuat gadis yang berada didepannya ini cukup syok.

“aku hanya ingin kartu namamu”.

~~~000~~~

“apa katanya?”. Yoo Ra menunggu didalam mobil membiarkan Seo Na meminta maaf pada pria yang baru saja hampir mereka tabrak. “sudah kukatakan untuk berhati-hati!”. Tekan Yoo Ra kali ini.

“hanya sikunya saja yang terkena luka ringan. Pria menggelikan, bukan uang tapi kartu namaku”. Jelas Seo Na yang masih tidak dimengerti sama sekali oleh sahabatnya itu.

“maksudmu?”. Tanya Yoo Ra intens, Seo Na tetap memusatkan perhatiannya pada jalanan kota Seoul yang cukup ramai.

“dia tidak meminta uang untuk mengobati lukanya, tapi kartu namaku. Sejak kapan rumah sakit bisa menerima pembayaran lewat kartu nama seseorang”. Yoo Ra tertawa mendengar ocehan Seo Na yang terdengar jengkel oleh pria itu, gadis itu entah apa yang membuatnya tidak pernah bisa berminat atau bersikap lembut pada seorang pria terkecuali rekan bisnisnya.

“hahaha kau terlalu kaku Na-ya, kau tau mungkin saja pria itu menyukaimu dan meminta kartu namamu jika sewaktu-waktu ia merindukanmu lalu menghubungimu meminta untuk bertemu denganmu, tapi aku kasihan pada pria itu apa dia tidak tau jika gadis yang ia sukai itu tidak menyukai jenis manusia manapun”. Ejek Yoo Ra yang hanya direspon jambakan dirambutnya, gadis itu mengeluh mengusap kepalanya sendiri.

“Ya! aku baru saja melakukan perawatan dengan rambutku!”. Dumel Yoo Ra. Seo Na mencibir menghentikan mobilnya persisi didepan gedung PTI Corp.

“hubungi Lee Teuk Oppa setelah ini, suruh dia menemuiku dikantor saja, aku tidak bisa menunggu hingga matahari terbenam, pria itu suka mengundur-undur waktuku”. Perintah gadis itu pada sahabatnya sebelum mereka memasuki halaman gedung besar itu dan kembali menjalani aktifitas perusahaan seperti biasa.

~~~000~~~

“bagaimana? Kau lihatkan? Setelah itu aku yakin ia akan membeli pabrik mobil sport itu”. ucap Jae Eun pada pria yang kini tengah mencengkam stir mobilnya. “santai saja, kau masih belum melihat paras gadis itu, sudah banyak pria yang menginginkannya, karena ia terlalu cantik, mungkin”. Lanjut Jae Eun.

“aku tidak peduli seberapa cantik gadis itu, yang aku inginkan ia terbunuh. Lakukan pertemuan pribadi dengan gadis itu, aku ingin ia meminjamkan sahamnya pada perusahaan kita-“.

“pertemuan? Oh my God Hyuk, kau pikir gadis itu punya banyak waktu hanya untuk bertemu dengan pengusaha yang hampir bangkrut sepertimu?”.

“aku belum bangkrut Eun-ah, apapun kendalanya aku ingin kau mengatur semuanya!”. Ucap pria itu dengan penuh penekanan.

“baiklah-baiklah, aku tidak ingin berdebat lagi dengan mu tuan Lee. Dan aku pastikan jika nantinya kau menyukai gadis itu”. Eun Hyuk menatap gadis itu tajam, lagi-lagi kata-kata itu yang hampir membuatnya pusing. “aku tidak akan mengatakan hal itu lagi. Bagaimana, bisa kita pergi sekarang? Sebelum beberapa pengamanan gedung ini mencurigai kita”. Tandas Jae Eun sebelum pria itu menekan pedal gas mobil Jeep nya meninggalkan area depan gedung PTI Corp itu.

~~~000~~~

“bagunlah gadis jadi-jadian! Kau tidak tau ini sudah jam berapa?! Haruskah aku setiap hari berlari dari apartemenku yang berada dilantai bawah lalu kemari hanya untuk membangunkanmu!”. Pekik Yoo Ra memenuhi semua ruangan kamar Seo Na, yang kini masih meringkuk didalam selimutnya tanpa sedikitpun berminat untuk bangkit dari sana.

“Hmmm”. Gumam gadis itu setengah sadar masih berkutat dengan mimpinya.

“Astaga Park Seo Na, kau lupa hari ini hari yang kau tunggu-tunggu selama 8 tahun ini, apa kau tidak ingin menyambutnya?”. Akhirnya pertahanan gadis itu runtuh setelah Yoo Ra mengucapkan kalimat -8 tahun- yang membuat Seo Na bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi masih dengan mata tertutup.

“jika sudah menyangkut Kyu Hyun semangat hidup gadis itu selalu pulih kembali, mau jadi apa gadis itu?”. oceh Yoo Ra sambil tersenyum lalu membersihkan tempat tidur sahabatnya itu.

~~~000~~~

Keduanya terdiam, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut satu sama lain. Kaku, itulah yang keduanya rasakan, dan apa yang dirasakan gadis itu saat ini adalah ia ingin sekali membunuh pria yang berada didepannya saat ini, tapi tidak mungkin ia tidak sebodoh itu, meskipun saat ini gadis itu tengah membawa senjata api didalam tasnya yang baru saja diberikan Lee Teuk siang kemarin setelah ia memaksa pria itu ke kantornya.

Seo Na masih punya rasa manusiawi saat ini, dia tidak akan sebodoh itu ini masih permulaan untuk permainannya yang panjang, setidaknya menyakiti pria itu terlebih dahulu adalah ide yang bagus setelah apa yang dilakukan pria itu selama ini terhadap kakaknya, dan ini sudah tahun ke 8 sejak Seo Yeo meninggal tapi rasa dendam itu tidak pernah hilang dari diri Seo Na.

“terimakasih sudah sempat kemari”. Ucap Kyu Hyun akhirnya, tersenyum kearah gadis itu yang dibalas anggukan oleh Seo Na, demi Tuhan ia ingin sekali meremas mulut pria itu jika ia tetap tersenyum kearah Seo Na. Seperti yang dikatakan Yoo Ra, Kyu Hyun memang sudah sangat jauh berubah, bahkan entah sejak kapan gadis itu sedikit merasa canggung ketika Kyu Hyun melemparkan senyuman kepadanya, setidaknya ia tau sekarang kenapa Seo Yeo kakak-nya begitu menggilai pria ini, karena Kyu Hyun tampan. Tapi apapun yang siguhkan oleh paras pria itu ia yakin ia tidak akan jauh merasakan apapun, tetap pada tujuannya membunuh pria ini.

“Cho Kyu Hyun”. Lanjut pria itu lagi mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri pada Seo Na dan entah kenapa ketika pria itu menyebut namanya ingin sekali ini mendorong pria itu sesegera mungkin kejurang.

Seo Na menyambut tangan pria itu setelah beberapa detik tergantung diudara.”Park Seo Na”. Ucap gadis itu dengan mantap menyebutkan namanya, Kyu Hyun mengerutkan namanya, nama yang hampir sama dengan seseorang tapi tidak mungkin gadis cantik yang berada dihadapannya saat ini mempunyai hubungan dengan gadis dimasa lalunya itu.

“lalu apa rencana yang akan kita lakukan untuk perusahaan mu Tuan Cho?”. Tanya gadis itu, tetap dengan nada bicara yang penuh ambisi dan dingin, tidak ada sedikitpun terdengar suara lembut dan mengayun-ayun merdu seperti gadis biasa lainnya.

“aku hanya ingin menawarkanmu untuk menaruh beberapa saham di perusahaanku, kau pasti tau jika produksi dan penjualan industri di Cho Comp jauh merosot, aku hanya ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan mu Nona Park dan perusahaan kita bergerak di bidang yang sama bukan, bidang industri”. Jelas Kyu Hyun dengan nada bicaranya yang tidak kalah tegas dan menuntut, pria jenius dengan IQ diatar rata-rata dan kadar ketampanan wajah yang mampu membuat semua wanita terpesona, mungkin kecuali gadis yang kini tengah duduk manis dihadapannya.

“berapa saham yang harus ku tanam pada perusahaanmu? 30 %? Atau 50%? Atau –“.

“hanya 10% Nona Park, dan itu mungkin sangat membantu. Aku sudah mengetahui banyaknya perusahaan yang bergerak dibawah naungan PTI Corp, dan aku cukup kagum dengan usaha dan kerja keras mu selama ini, perusahaan itu menjadi besar dan bahkan memiliki anak perusahaan disetiap negara, aku rasa kau bisa bekerja sama denganku, lagi pula aku juga bekerja sama dengan merk terkenal perusahaan Samsung, dan itu juga akan sangat membantu bukan?”. Jelas pria itu lagi yang direspon anggukan dari Seo Na, dan kali ini satu lagi kelebihan yang ia dapat dari pria itu, Cho Kyu Hyun yang dibencinya adalah pria pintar yang penuh akan ide-ide manarik.

“sepertinya penawaranmu menarik Kyu Hyun-ssi, kalau begitu kapan kita bisa mulai bekerjasama?”.

~~~000~~~

Kyu Hyun menekan-nekan tengkuknya dengan tangan kanannya, hari ini cukup melelahkan bagi pria itu, bernegosiasi dengan seorang pengusaha cantik seperti Park Seo Na adalah pertama kali baginya, tidak pernah lagi berhubungan dengan wanita membuatnya cukup merasakan adrenalin yang menantang, ditambah lagi jika dilihat-lihat gadis itu sempuran, cantik, berwibawa, tegas, dan juga kaya raya. Tapi bukan itu yang membuat pria itu sedikit merasakan keanehan setiap menatap mata gadis itu, tapi ada sesuatu hal yang begitu istimewa didiri Seo Na yang sampai saat ini belum diketahui pria itu, sesuatu yang berbeda, mungkin.

Pria itu meraih ponselnya, menyentuh beberapa nomor, meletakkan benda silver itu mendekat ketelinga kirinya. “Hyung, besok pagi kita akan menandatangai kontrak dengan perusahaan itu, pemilik perusahaan itu menyetujuinya”. Ucap Kyu Hyun yang direspon teriakkan kegirangan oleh Ye Sung dari seberang sana.

“aku rasa gadis itu terpikat karena pesonamu Kyu, dan bagaimana gadis itu? aku tidak salahkan? Dia cantikkan?”. Kyu Hyun mengangguk tanpa diketahui oleh teman bicaranya itu.

“sepertinya begitu, baiklah kita akan bicarakan hal ini dikantor, gadis itu akan datang sebelum makan siang”. Lanjut Kyu Hyun sebelum mematikan sambungan teleponnya.

~~~000~~~

Keduanya lama kembali larut dalam keheningan diantara makan siang mereka setelah membicarakan bisnis perusahaan keduanya. Seo Na merasakan ada sesuatu yang beda yang kini ia rasakan. ‘Gila!’, pekik gadis itu dalam hatinya ketika menyadari sejak tadi mata Kyu Hyun tidak terlepas memandanginya. Pria itu tidak akan menyadari bukan jika ia adalah adik Park Seo Yeo, lagi pula Seo Na dan Seo Yeo sama sekali tidak memiliki kemiripan yang siknifikan ditambah lagi watak keduanya sangat berbanding terbalik, jadi mustahil jika pria itu mengenalnya sebagai adik Seo Yeo.

“ada yang salah denganku Kyu Hyun-ssi?”. ucap Seo Na akhirnya sebelum ia benar-benar menyeret pria itu dan menendang bokongnya. Kyu Hyun tersenyum lalu menggeleng.

“tidak, aku hanya merasa ada yang aneh”. Ucap pria itu akhirnya.

“tentang?”.

“entahlah, aku rasa- hm, lupakan mungkin aku hanya sedang tidak fokus”. Ucap pria itu dengan nada tenang, Seo Na menahan napsunya kali ini, napsu untuk menggerogoti nyawa pria itu, tapi entah kenapa melihat Kyu Hyun yang tampak bingung seperti itu ia merasa ada sesuatu yang sepertinya memenuhi pikiran pria itu.

“ada sesutatu yang mengganjal Kyu Hyun-ssi? mungkin aku bisa menjadi temanmu mulai saat ini dan aku bisa bercerita banyak padaku, ya maksudku aku rasa kau hanya perlu melampiaskan semua apa yang kau rasakan dengan bercerita kepadaku misalnya”. Ucap Seo Na hati-hati, jujur ia sama sekali tidak berminat menjadi teman curahan hati pria itu atau apalah namanya, ia hanya ingin mencari titik lemah Kyu Hyun, menghancurkan hidup pria itu seperti apa yang sudah dilakukan Kyu Hyun pada Seo Yeo.

Kyu Hyun menatap gadis itu lekat-lekat ia tidak salah kan dengan ucapan gadis itu, yang dengan gamblangnya memberikan penawaran menjadi teman untuknya.“baiklah, aku tidak akan memaksamu bercerita lagi pula ini diluar kekuasaanku-“.

“kau seperti seseorang yang pernah terlupakan dimasa lalu Park Seo Na”.

Deg!

~~~000~~~

Seo Na melempar jasnya kesembarangan arah menghempaskan tubuh rampingnya itu keranjang ukuran big size yang –jangan ditanya harganya berapa. Gadis itu masih terngiang-ngiang dengan pertemuannya dengan pria itu tadi siang, dan itu hampir membuat kepalanya meledak, bukan seperti itu yang seharusnya terjadi, tapi kenapa pria itu terlalu pintar untuk cepat menyadari bahwa dirinya pernah hadir dimasa lalu pria itu, ya memang hanya pertemuan yang tidak berharga tapi bagaimana pria itu merasakan hal yang demikian.

“Ya! aku sudah menghubungimu berkali-kali, kenapa tidak mengangkat teleponnya?”. Teriak Yoo Ra yang baru saja masuk kedalam kamar gadis itu sambil mengoceh tak jelas.

“astaga Yoo, kau mengagetkanku! Lagi pula kau tau hari ini hari yang aku nanti-nantikan seumur hidupku!”. Balas teriak Seo Na membuat Yoo Ra menutup kedua telinganya dengan tangan.

“baiklah, aku mengerti”. Yoo Ra mengalah kali ini sebelum sahabatnya itu berteriak-teriak lagi. “lalu bagaimana? Apa pria itu mencurigaimu? Dan yang aku katakan benar bukan? Jika Kyu Hyun tidak bermuka tua seperti yang kau katakan itu, ya kan?”.

“kau banyak bicara Yoo, aku tidak tau harus menjawab pertanyaanmu yang mana”. Yoo Ra terkekeh mendengar gadis itu malah mengeluh menanggapi pertanyaannya yang memang terkesan brutal. “aku bertemu dengannya, dan menyetujui menaruh saham sebesar 10% sesuai permintaan pria itu dan masalah yang kau tanyakan itu kau benar dia sudah berubah dan memang sangat tampan, tapi masalahnya ketampanan pria itu tidak membuatku tertarik sedikitpun, bagaimana?”.

“astaga! Hatimu terbuat dari apa gadis jadi-jadian! Aku rasa kau memang penyuka sesama jenis!”. Teriakkan Yoo Ra membuat Seo Na tertawa puas, ia selalu suka menakut-nakuti sahabatnya itu yang selalu beranggapan jika dirinya itu penyuka sesama jenis, tanpa ada yang tau sesungguhnya gadis itu masih sangat normal yang seharusnya mendapat kasih sayang, mungkin.

Keduanya tiba-tiba terkejut dengan getaran ponsel Seo Na yang tergeletak di atas ranjang gadis itu, dengan malas-malasan ia meraih benda hitam itu, memandangi layarnya sejenak lalu memutuskan untuk menggeser warna hijau pada layar ponselnya.

Yeoboseyeo”.

“benar ini Park Seo Na-ssi? aku Lee Dong Hae, pria yang hampir kau tabrak kemarin”.

Ne?”.

 

To Be Continue

 

~~~000~~~

TEARS ARE FALLING (6/6)

Standard

TEARS ARE FALLING (6/6)

Action, romance. PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast

 

Keduanya hanya bungkam, tanpa mengatakan apapun. Gadis itu lebih banyak menikmati rasa sakit yang kini tiba-tiba ia rasakan, sudah berkali-kali ia menahan air matanya tetap saja cairan bening itu terus mengalir beserta dengan isakkan tangis yang bahkan tak bisa diredam, entah kenapa semuanya terasa begitu sakit, padahal sudah jelas bukan pria yang dihadapannya ini tidak memiliki hubungan apapun dengannya, tapi kejadian yang baru ia lihat dengan mata kepalanya beberapa waktu lalu cukup membuatnya sakit, bahkan hatinya benar-benar linu saat ini.

“aku bisa menjelaskannya”. Pria itu meraih kedua bahu Seo Na, namun gadis itu menepisnya, ia memalingkan tubuhnya dari hadapan pria itu. tidak, ia tidak ingin mendengar apapun dari mulut pria itu, hatinya sedang benar-benar sakit.

“untuk apa? Untuk mengatakan jika dia itu kekasihmu? Banyak yang kau sembunyikan dariku Aiden-ssi, masa laluku, semuanya. Kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku? Katakan saja semua yang kau sembunyikan dariku, katakan dan aku bisa secepat mungkin lepas darimu. Kau tau, aku benar-benar tersiksa, bahkan ini tidak seperti yang ku inginkan. Aku ingin hidup dengan baik, aku ingin melakukan semuanya dengan baik. ku mohon, katakan padaku!”. Seo Na menarik napasnya, gadis itu berbicara dengan susah payah, bahkan Dong Hae tidak bisa membedakan gadis itu sedang berbicara atau terisak.

Pria itu menarik tangan Seo Na, meskipun gadis itu meronta tak ingin ikut dengan pria itu tapi tetap saja kekuatan pria itu lebih besar, Dong Hae mengiring gadis itu kedalam mobilnya, mungkin dengan menunjukkan suatu tempat gadis itu bisa mengingat semuanya, mungkin.

~~~000~~~

“aku tidak menyangka kau seperti ini Yu Ra-ya, persetan dengan ambisi mu memiliki pria itu, tapi tidak seharusnya kau menyakiti gadis itu!”. nada bicara Hee Chul meninggi, ia tetap fokus pada jalanan namun otaknya kini benar-benar berkecamuk.

Wae? Aku tidak melakukan apa-apa pada gadis itu, aku hanya-“.

“kau pikir aku tidak mendengar pembicaraan kalian tadi? Jadi gadis itu hilang ingatan karena ulahmu? Ya! kau itu gadis yang baik selama bersamaku, tapi kenapa kau malah berubah menjadi monster sejak aku meninggalkanmu, Eo?! Kau masih menganggapku Oppa-mu bukan, jadi berhentilah menyakiti orang lain Yu Ra-ya!”. Hee Chul menginjak pedal rem mobilnya mendadak, kepala gadis yang berada disampingnya itu hampir terbentur kedepan.

Aish! Ya! seharusnya kau mikirkan ku juga Oppa, aku juga sama terlukanya dengan dia”. Tandas gadis itu, Yu Ra tidak ingin kalah, ia tidak ingin mengakui semua yang telah ia lakukan, yang ia tau Dong Hae harus jadi miliknya.

“kau egois, karena itu Dong Hae tidak pernah bisa mencintaimu. Seharusnya kau bahagia melihat orang lain bahagia karenamu, bukan membuat orang lain menderita, jika kau tidak ingin mendengarkan kata-kataku lagi, kau boleh turun”.

Oppa”.

“aku tidak pernah merasa memiliki adik sepupu yang kejam sepertimu”. Lanjut Hee Chul lagi, ia tidak sedikitpun menatap kearah Yu Ra yang sejak tadi menatapnya tak percaya. Hee Chul yang selalu memanjakkannya selama ini , kali ini berani mengusirnya dari dalam mobil milik pria itu, hebat bukan?

~~~000~~~

Dong Hae menghentikan mobilnya, menepi pada trotoar di tepi sebuah pemakaman di atas bukit ditepi laut. Ia menatap Seo Na yang sejak tadi menunduk tanpa mengatakan apapun, gadis itu hanya diam meskipun ia tidak tau Dong Hae akan membawanya kemana.

“ikut denganku, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu”. Dong Hae keluar dari dalam mobilnya, berjalan memasuki area pemakaman yang banyak ditubuhi pohon bunga Cherry Blossom. Seo Na mengikuti pria itu dari belakang, tanpa mengatakan apapun.

Keduanya sampai pada salah satu makam seorang pria, masih begitu banyak bunga berjejer disana, ini sudah 3 bulan sejak ia meninggal aroma karangan bunga yang dibawa peziarah masih khas tercium disana. Dong Hae berdiri persis dihadapan makam itu, disana masih terpampampang jelas foto seorang pria memakai jas hitam dengan senyum yang menjadi ciri khasnya, ia sangat tampan di foto itu.

“lihatlah, pria ini masih tetap tersenyum setelah apa yang ia lakukan, Kyu Hyun-ssi, apa kau baik-baik saja disana?”. gumam Dong Hae, ia menatap gadis yang kini sudah berdiri disampingnya. Menatap sebuah foto berfigura cukup besar yang kini terpajang disana.

Seo Na mendekat kearah figura itu, memandanginya sambil berjongkok. Ia mengelus wajah yang berada disana, ia yakin pria ini pernah hidup dimasa lalunya. Tapi siapa? Seo Na tidak mengetahui siapa pria itu.

“siapa?”. Akhirnya gadis itu bersuara, meskipun suaranya terdengar begitu berat.

“kau tidak mengingatnya?”. Seo Na menggeleng lemah, ia benar-benar tidak mengingat pria itu, pria yang sudah mengorbankan nyawanya demi gadis itu.

“dia Cho Kyu Hyun. Pria yang mengganti nyawamu-“. Dong Hae menghentikan ucapannya, ia benar-benar belum siap melihat Seo Na harus menerima kenyataan hidupnya selama ini.

Wae?”.

“Kyu Hyun-ssi, yang mengganti nyawamu dengan nyawanya, dia meninggal 3 bulan yang lalu setelah menyelamatkanmu”. Dengan susah payah pria itu mengatakannya, Dong Hae benar, Seo Na kini menatapnya nanar, terlihat jelas bahwa gadis itu sama sekali tidak percaya, bahkan kini cairan bening itu sudah berkali-kali tumpah dipipinya.

“aku tau, ini menyakitkan. Kyu Hyun sangat mencintaimu dimasa lalu, sama seperti aku. Kami mencintaimu, kami melindungimu, tapi entah kenapa pria itu curang, ia malah berkorban banyak untukmu, pada akhirnya ia meninggal dan aku merasa aku harus menjagamu, aku harus berkorban untukmu juga Seo Na-ssi”. Seo Na tertunduk. Lebih banyak isakkan tangis yang kini didengar Dong Hae dari mulut gadis itu.

Jinjja Appo”. Rintih gadis itu, bahkan ia tidak bisa merasakan rintikkan hujan yang kini sudah membasahi tubuhnya, dihatinya ia hanya bisa merasakan sakit. Jadi seperti itu masa lalunya, seorang pria berkorban dan menggantikan nyawa Seo Na dan membiarkan nyawanya tidak terselamatkan. Meskipun Seo Na tidak mengingat apa-apa saat ini, tapi kenapa hatinya begitu nyeri. Gadis itu bangkit, berlari sekuat ia bisa tanpa menghiraukan panggilan Dong Hae.

~~~000~~~

CHAPTER 4

Apakah cinta itu? Apakah perpisahan itu?

Mengapa itu membuatku merasa sakit?

( Tears Are Falling – Wax )

Sejauh apa ia bisa berlari, sejauh apa ia harus bisa menerima kenyataan tentang hidupnya. Bagaimanapun ia harus menerima konsekuensinya bukan? Masa lalu yang ia harap adalah sebuah masa lalu yang bahagia tapi pada kenyataannya semua itu berbanding terbalik dengan yang ia harapkan, tidak ada kebahagiaan disana, yang ada hanya kepedihan dan penderitaan. Dan kini, haruskan ia mengetahui semuanya? Yang segelintir saja sudah membuatnya merasa hancur.

“Seo Na-ya! Park Seo Na!!!”. Seseorang baru saja meneriakki namanya ditengah hujan, langkah kaki gadis itu terhenti. Pria itu mendekat kearahnya, memperhatikan seluruh tubuh gadis itu yang kini sudah basah kuyup, air matanya yang terus mengalir bersama hujan, juga kondisinya yang bahkan tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

Odiga?! Waeguere?”. Pria itu menarik tangan Seo Na, menuntun gadis itu kedalam mobilnya.

Hee Chul masih bungkam, ia lebih memilih membiarkan gadis itu menangis terisak disampingnya. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah membawa gadis itu ke Apartemennya, mengganti pakaian gadis itu dengan pakaian yang kering. ‘ini sudah malam kenapa gadis ini malah berlarian ditengah hujan?’. Gumam pria itu.

~~~000~~~

“kita sudah sampai, ini gedung Apartemen tempat ku tinggal. Aku tinggal di lantai 21”. Seo Na menatap pria itu sebelum ia ikut turun dan berjalan disamping Hee Chul, meskipun kini banyak pasang mata yang tengah memperhatikan Hee Chul yang kini tengah menggandeng seorang gadis yang sudah basah kuyup dengan setelah dress putih selutut.

Oppa, Odiga?”. Ucap gadis itu pada akhirnya, Hee Chul menatap gadis itu yang seujujurnya memang benar-benar dalam kondisi yang sangat buruk.

“kita akan mengganti pakaianmu, tenang saja aku tidak akan melakukan apa-apa. Kau kedingingan, kau bisa sakit”. Hee Chul melanjutkan langkahnya, masuki lift menuju lantai 21.

Pintu lift terbuka, Seo Na menatap Hee Chul. pria itu juga balas menatapnya. “kita sampai”. Hee Chul menuntun gadis itu keluar dari lift namun beberap orang pria kini berjalan kearah mereka hampir menubruk tubuh lemah Seo Na tanpa sengaja Hee Chul memeluk gadis itu persis didepan lift, dan….

DEG!!!

Sesuatu dirasakan gadis itu, darahnya seperti mengalir dari ujung kaki hingga sampai kekepalanya, ia merasa pernah dalam keadaan seperti ini. bukankah ini persis sama dengan kejadian waktu itu bukan?

Satu tembakan….

Dua….

Tiga….

‘tembakan pertama tepat pada perutku, tembakan kedua dan ketiga… aku tidak tau mengarah pada siapa, yang jelas pria yang sedang memelukku saat ini tersungkur tepat dihadapanku’.

Seo Na menatap sekelilingnya, semua masih sama dalam keadaan yang sama, ia mengingat semua yang terlupakan selama ini. ia mengingat semua masa lalunya dengan jelas. Seo Na sipembunuh, Kyu Hyun kekasihnya dimasa lalu yang mengganti nyawa Seo Na dengan nyawanya, Aiden Lee pria yang akan ia bunuh, semuanya, teringat dengan jelas. Tiba-tiba tubuh gadis itu tidak dapat digerakkan sama sekali, isi kepalanya seperti benar-benar terputar, ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi, semua terasa gelap kembali.

“Park Seo Na!!! Seo Na-ya?!”

~~~000~~~

3 week later…

“aku akan kembali ke Amerika bersama Yu Ra-ssi, aku harus membina gadis itu disana”. Seo Na terkekeh, ia cukup sedih dengan keputusan Hee Chul untuk segera kembali ke Amerika, tapi bagaimanapun pria itu punya kehidupan yang layak disana bukan.

“terimakasih untuk semuanya Oppa, aku tidak tau harus membalasnya dengan apa. Ketika kau sampai di Amerika, aku juga harus segera ke Paris menemui kedua adikku”. Seo Na tersenyum, pria itu memeluk Seo Na. Ia beruntung bisa mengenal Seo Na, bukankah gadis ini sudah seperti adiknya.

“tidak perlu membalasnya dengan apapun, cukup membalasnya dengan menikah denganku”. Hee Chul terkekeh, menyadari ucapannya yang nyaris membuat Seo Na terbahak.

“Hahaha baiklah, aku akan menunggumu di Paris”. Goda gadis itu, dan itu hanya semakin membuat Hee Chuk terkekeh geli.

“tidak, aku tidak akan kesana untuk melamarmu. Aku bisa-bisa dihabisi oleh Aiden Lee, kau tau bukan dia begitu gila mencintaimu”. Keduanya sama-sama tertawa, sebelum kehadiran seorang pria membuat keduanya menyembunyikan tawanya.

Ya! apa kalian berdua menertawakanku? Eo? Seo Na-ya, kau berani berkencan dengan pria lain dibelakangku ya?”. Seo Na terkekeh mendengar tuduhan kacangan Dong Hae, ia mengibaskan tangannya, menarik tangan Dong Hae untuk duduk diantara ia dan Hee Chul.

Anio, kami hanya berjanji untuk menikah dikemudian hari. Ya kan oppa?”. Hee Chul mengangguk.

“tentu saja”.

Ya! Hyung, dia itu milikku”. Keduanya tertawa melihat celotehan Dong Hae yang semakin kesal dengan keduanya. Akhirnya mereka bertiga menghabiskan makan siang mereka dengan candaan dan tawa, untuk yang terakhir kalinya sebelum Hee Chul kembali ke Amerika untuk melanjutkan hidupnya.

~~~000~~~

“kita mau kemana?”. Ucap Dong Hae, Seo Na memutuskan mengajak Dong Hae kesuatu tempat setelah mereka selesai makan siang bersama Hee Chul, dan pria itu memutuskan untuk segera kembali ke Apartemennya.

“menemui kekasihku”. Seo Na sedikit terkekeh, tanpa memperdulikan wajah Dong Hae yang sudah berubah kesal.

“kekasih?”.

Ne, kekasihku”. Ucap gadis itu enteng.

Dong Hae menyipitkan matanya. “setelah Hee Chul Hyung, kau berhubungan dengan siapa lagi?”.

Seo Na menatap geli pria yang kini duduk disampingnya itu, lalu kembali fokus pada jalanan.“ aku hanya ingin berkunjung kemakam Kyu Hyun, aku merindukannya. Hei, kan aku yang jadi supirnya, Aiden-ssi tetaplah diam dan jadi penumpang yang baik.”

Keduanya sampai disana, Seo Na turun lebih awal melangkahkan kaki kecilnya menuju satu makam yang menjadi tujannya datang kemari. Dan kini Ia sudah berlutut dihadapan makam pria yang sungguh kini tengah ia rindukan, setelah ingatannya kembali pulih gadis itu benar-benar merasa bersalah kepada Kyu Hyun, bagaimana ia bisa membiarkan otaknya selama ini melupakan bagian tentang pria itu. Dong Hae berdiri dibelakang Seo Na membiarkan gadis itu meneluarkan semua perasaannya untuk yang terakhir kali sebelum ia memutuskan untuk tingal di Paris.

“Cho Kyu Hyun, Kyu-ya. aku merindukamu. Apa kau baik-baik saja disana? kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau meninggalkan aku? Kenapa kau tidak membiarkan aku yang pergi? Kyu-ya, saat aku tertidur, dan saat mataku terbuka, aku ingin kau tetap berada disampingku, aku ingin kau tetap menemaniku, tapi kenapa kau pergi? Terimakasih atas cinta yang sudah kau berikan padaku, aku juga mencintaimu. Aku merindukamu. Dimasa lalu, kita pernah bersama bukan, dimasa lalu kita pernah saling memiliki, dan akan terus seperti itu. Kyu-ya, aku ingin menangis, aku ingin membiarkan seluruh sakitku hilang, tapi aku tidak bisa, terlalu banyak rasa sakit yang aku rasakan hingga aku tidak bisa merasakan apapun. Kyu Hyun, aku mencintaimu, aku akan menjadi gadis selai kacangmu yang baik, aku berjanji”. Seo Na bangkit, ia menghapus air mata yang sejak tadi sudah membanjiri pipinya. Ia menatap figura seorang pria yang kini tengah tersenyum kearahnya. Biarkan hari ini ia tetap mengingat pria itu, biarkan hari ini hatinya tetap memilki pria itu, dimasa lalu ia akan melanjutkan kehidupannya tanpa Kyu Hyun lagi. Setelah Ayah-ibu-dan Kyu Hyun-nya ia tidak ingin kehilangn apapun lagi, cukup mereka yang sudah menghiasi masa lalu Seo Na.

“Aiden-ssi”. panggil gadis itu, Dong Hae menatap Seo Na, menarik gadis itu kedalam dekapannya. Membiarkan semua rasa sakit gadis itu tersalurkan kepadanya, ia juga merasakan sakit meskipun tidak sebanyak gadis itu, tapi ia akan melindungi Seo Na bukan? Berkorban demi gadis itu, seperti yang pernah dilakukan Kyu Hyun pada Seo Na.

“aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi Seo Na-ya, tidak akan”.

~~~000~~~

3 years laters…

Eonni, seharusnya kau menyuruhku lebih dulu untuk kembali ke Seoul”. Seo Jin melempar handuk kearah kakaknya itu, tidak memperdulikan Seo Na yang kesal dihadapannya.

Ya!”.

Seo Jin terkekeh, kini gadis itu duduk disamping kakaknya yang sejak tadi asik memilih gaun pengantin. “ini, bagus untukmu”. Seo Jin menunjuk satu gaun bermotif bunga Cherry Blossom kesukaan kakanya, Seo Na menatap adiknya itu mencoba meyakinkan dirinya.

Jinjja?”.

“tentu saja, aku jamin kau cantik memakai gaun itu”. Seo Jin menyenggol lengan kiri Seo Na menggoda gadis itu yang akan menikah seminggu lagi dengan seorang pria tampan.

“Aiden Oppa? Apa kau yakin akan menikahinya?”. Seorang gadis kini sudah hadir diantara mereka berdua. Seo Min yang sudah menuntaskan kuliahnya di Paris, dan memutuskan untuk kembali ke Seoul bersama Seo Jin. Seo Na memang tidak jadi menetap di Paris, ia mengurungkan niatnya untuk menyusul kedua adiknya, gadis itu sekarang bekerja sebagai seorang penulis, setelah tulisan tentang kehidupan pribadinya sukses terjual beberapa tahun lalu, akhirnya ia memutuskan untuk tetap menetap di Seoul dan menjadi seorang penulis.

Ya! kenapa kau bertanya hal itu pada Eonni?”. Protes Seo Jin, Seo Min hanya menggeleng.

“seharusnya Aiden Oppa menikah denganku”. Ucap gadis itu, yang direspon pukulan kecil dikepalnya.

ya! dasar gadis genit!”. Seo Min melesat dari hadapan kakaknya itu sebelum Seo Jin memberi pukulan lebih keras pada kepalanya.

“apa aku menganggu tiga orang gadis ini?”. kehadiran seorang pria tampan kini sukses menyita perhatian ketiganya, Seo Na menatap pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya.

“tidak, kemarilah”. Ucap gadis itu yang direspon cibiran oleh kedua adiknya.

“Ya, ya, ya. pasangan romantis ini sepertinya sedang dimabuk asmara, Seo Min ikut denganku! Biarkan pasangan serasi itu menghabiskan waktunya berdua”.

Eonni, tapi aku ingin melihat Aiden Oppa lebih lama”.

Ya!”.

Dong Hae dan Seo Na hanya terkekeh geli mendengar celotehan kedua perempuannya itu, mereka memilih mengasingkan diri kebalkon Apartemen Seo Na yang sengaja ia beli beberapa tahun lalu sejak ingatannya kembali pulih, Apartemen mewah yang tidak terlalu jauh dari Rumah Dong Hae.

“ketika melihat kota Seoul malam hari seperti ini, aku seperti melihat lautan permata yang berkilauan”. Racau Seo Na, Dong Hae memperhatikan gadis itu. menatap sekujur tubuh Seo Na yang terlihat cantik dan sederhana dengan balutan Dress merah jambu dan switter putih yang menambah kesan manis pada gadis itu.

“tapi aku punya lautan, yang cukup menangkan hatiku. Sejak pertama aku melihat kedua matanya”. Lanjut gadis itu lagi. Dong Hae tersenyum, ia tau apa yang dimaksud Seo Na adalah dirinya.

“aku juga punya seorang gadis yang terus menerangi lautanku”. Ucap pria itu, Seo Na tersenyum lalu menatap kearah Dong Hae yang sejak tadi sudah memperhatikannya.

“kau menggodaku lagi Aiden-ssi. Dong Hae terkekeh.

“memangnya tidak boleh menggoda calon istriku?”.

“calon istriku? Siapa bilang aku akan menikah denganmu, aku akan menikah dengan Kyu Hyun-ssi?”.

“kau akan menikah dengan orang yang sudah mati?”.

Seo Na tertawa menyaksikan ekspresi Dong Hae yang berlebihan, gadis itu mengangkat tangannya, menempelkan telapak tangan kanannya pada pipi Dong Hae, mengelus pipi pria itu pelan.

“karena Kyu Hyun-ssi sudah tidak ada, aku akan menikah denganmu”. Dong Hae mengenggam tangan Seo Na yang sejak tadi leluasa mengusap pipinya. “bukan karena Kyu Hyun tidak ada, jikapun ia ada aku akan tetap menikah denganmu”. Lanjut gadis itu lagi. Dong Hae tersenyum, ia menarik tengkuk Seo Na menuntun kepala gadis itu mendekat kewajahnya, semakin mendekat hingga daun bibir mereka bertemu.

~~~000~~~

Seo Na said, For Kyu Hyun

Aku menunggu datangnya hari itu, bertemu denganmu lagi setelah sekian lama kita tidak pernah bertemu, aku membencimu, aku sangat membencimu tapi pada kenyataannya kebencian itu hanya kata lain dari rasa rindu yang ku rasakan. Jika aku boleh menangis aku akan menangis, jika aku boleh bersedih aku akan bersedih, jika aku boleh tertawa aku akan tertawa, tapi setelah kau pergi pada kenyataannya aku hanya cangkang kosong yang harus tetap baik-baik saja meskipun kenyataanya hatiku ingin berteriak ngilu.

“Kyu Hyun-ah, Cho Kyu Hyun”. Aku memanggil namamu, tapi tidak kau tidak pernah berbalik dan kembali padaku. Kau tau aku merindukanmu, aku menunggumu selama bertahun-tahun, dan kini aku tidak akan menunggumu lagi.

Terimakasih atas cinta dan pengorbananmu selama ini, aku juga mencintaimu. Jika suatu saat aku dipertemukan dengan mu didunia lain aku ingin kita tetap bersama, tanpa ada satupun yang memisahkan kita.

Hari ini aku melanggar perjanjian kita dimasa lalu, aku akan menikah dengannya. Aiden Lee, aku akan menikah dengan pria itu. Dia, karena dia juga mencintaiku, sangat mencintaiku. Kyu Hyun-ah, Gumapseumnida, Jeongmal Gumapseumnida…. Saranghae….

 

THE END

 

 

 

TEARS ARE FALLING (5/?)

Standard

TEARS ARE FALLING (5/?)

 

Action, romance. PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast

 

 

 

Sudah satu jam gadis itu berada diranjang rumah sakit dengan mata yang masih tertutup tanpa ada tanda-tanda sekitpun gadis itu akan bangun, dengan leluasa Hee Chul bisa menikmati setiap lekukan wajah gadis itu, ia sama sekali tidak mengenal gadis itu, ia sudah menemukan gadis itu tiba-tiba tegeletak ditaman saat ia sedang berjalan-jalan. Gadis ini, cantik. Rambutnya yang ikal sebahu dengan poni yang tergerai menutupi keningnya. Hee Chul tersadar, bukankah gadis ini pernah ia lihat sebelumnya? Dimana? Bahkan dia belum bertemu dengan siapapun di Seoul kecuali Yu Ra dan teman-teman prianya, lalu bagaimana ia bisa beranggapan jika ia pernah bertemu dengan gadis ini.

Hee Chul memutar otaknya, ia yakin ia tidak salah dan pada akhirnya pria itu ingat, jika gadis yang sedang berbaring lemah ini adalah gadis yang sama yang ada didalam poto yang diberikan Yu Ra padanya.

“jadi, dia? Park Seo Na?”. Hee Chul membulatkan matanya, ia tidak menyangka sama sekali jika ia bisa bertemu dengan gadis ini dengan cara yang seperti ini, bahkan ia tidak terlalu memikirkan sama sekali tentang gadis ini bukan, tetapi kenapa Tuhan mempertemukan mereka dengan cara seperti ini, dan tadipun Hee Chul tidak terlalu peduli dengan wajah gadis ini, karena begitu khawatir dengan keadaannya.

“bagaimana aku bisa bertemu dia dengan cara seperti ini?”. Hee Chul terheran-heran, masih menatap wajah lemah itu yang sepertinya sedang pulas dialam bawah sadarnya. “lihatlah, betapa rapuhnya gadis ini, dan aku tidak meyangka Yu Ra bersaingan dengan gadis lemah seperti ini, tentu saja ia bisa didepak dengan sekali hentakkan oleh gadis menyeramkan itu. Tapi mungkin saja jika Yu Ra kalah darinya, tidak ada yang bisa lari dari pesona gadis ini, sekalipun Aiden Lee yang notabene adalah orang kaya yang tidak peduli dengan apa-apa, dia cantik”.

Hee Chul mengusap wajah Seo Na yang sesekali mengerutkan keningnya, gadis itu terlihat seperti kesakitan, entalah tapi Hee Chul tak berani membangunkannya, mungkin saja gadis itu sedang bermimpi, persetan dengan semua itu yang jelas ia bisa menatap wajah gadis ini dengan puas sekarang, dan entah kenapa secara tidak langsung sukses membuat pikirannya tenang, gadis dengan poni yang menutupi keningnya, bukankah wanita dengan poni seperti itu adalah wanita idaman Hee Chul?

Sejak tadi ponsel gadis itu bergetar di dalam tas tangannya diatas meja, Hee Chul tidak terlalu memperdulikan benda itu sejak tadi sampai ia mengingat sejak tadi ada panggilan masuk di ponsel gadis itu dan tidak sempat ia angkat karena sibuk mengangkat tubuh Seo Na dan membawanya kerumah sakit. Hee Chul mendekat kearah tas itu melihat isi didalamnya yang hanya berisi beberapa lembar uang dan ponsel bewarna silver yang ternyata masih setia begetar. Hee Chul mengerinyitkan keningnya, terpampang disana nomor tanpa ada nama yang tertera, mungkin seseorang atau gadis itu sengaja tidak menyimpan nama seseorang yang sejak tadi menghubunginya ini. Hee Chul memang tidak ada berhak untuk mengetahui siapa yang menelpon Seo Na tapi setidaknya ia bisa mengangkat panggilan itu dan mengatakan keadaan Seo Na, Hee Chul menekan warna hijau pada layar ponsel itu, mendekatkan benda itu ketelinganya sampai ia mendengar suara pria diujung sana sudah setengah berteriak panik, sebelum Hee Chul menjawab dan memberi tahu keadaan Seo Na yang sebenarnya.

~~~000~~~

Sejak tadi pria itu sudah sibuk dengan ponselnya, menghubungi nomor yang sama dan tetap sama tidak ada jawaban dari ujung sana, bukankah ia sudah berpesan pada Seo Na agar gadis itu mengangkat benda itu ketika benda itu berbunyi, tapi kenapa tidak ada jawaban sama sekali dari gadis itu, atau mungkin Seo Na tidak tau cara mengangkat telepon? Tidak mungkin, gadis itu hanya hilang ingatan, bukan menjadi bodoh. Dong Hae tetap mencoba menghubungi Seo Na sesekali pria itu mengacak rambutnya prustasi, ia tidak bisa mungkin pulang saat ini, sebentar lagi ia akan bertemu dengan client nya kan, tapi gadis itu bagaimana kabarnya? Apa yang terjadi?

Dong Hae mendekatkan benda putih itu ke telinganya, masih dengan perasaan yang gelisah, tapi kali ini sambungan teleponnya terhubung, akhirnya gadis itu mengangkatnya juga. “Seo Na-ya, kau kemana saja? Kenapa tidak mengangkat telfonku? Heum?”. Ucap pria itu dengan nada panik dan setengah teriak, tapi bukan suara Seo Na yang langsung menyaut di seberang sana, melainkan suara seorang pria yang memberitahukannya sesuatu yang benar-benar diluar dugaannya. Seo Na-nya sedang berada dirumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Dengan secepat mungkin Dong Hae menyambar kunci mobilnya, sebelum menghubungi asisten pribadinya untuk segera membatalkan pertemuan kerjanya setengah jam lagi, gadis-nya lebih penting dari itu. apa yang terjadi dengan Seo Na sebenarnya?

~~~000~~~

Sakit dikepalanya masih terasa, ia mulai sadar dengan suara seorang pria disampingnya yang kini tengah berbicara, tapi ia sendiri tidak tau dengan siapa pria itu berbicara. Seo Na mengerjapkan matanya, mengatur penglihatannya yang kabur agar kembali normal, menyentuh kepalanya yang terasa masih sakit, sampai pria itu menyadari jika gadis itu kini sudah terbangun, ia mendekat kearah Seo Na dengan wajah penuh cemas, Seo Na berdelik, memperhatikan wajah pria itu, ia masih hilang ingatan bukan? Tapi pria ini siapa? Ia tidak mengenalnya, dan dia bukan Dong Hae, ia yakin betul dengan pria yang sedang memperhatiakkannya saat ini dengan wajah cemas saat ini bukan Dong Hae Oppa-nya.

“Seo Na-ssi, Gweancana?”. Ucap pria itu, Seo Na masih menatapnya bungkam, ia masih memperhatikan wajah pria itu tanpa menjawab pertanyaan yang terdengar cemas dari Hee Chul. “apa kepalamu masih sakit?”. Seo Na hanya menggeleng lemah merespon pertanyaan pria itu. “Syukurlah”. Ucap pria itu sambil menghembuskan napasnya lega.

“aku dimana? Kau siapa? Apa yang terjadi?”. Seo Na masih penasaran dengan pria itu, mungkinkah orang yang penah hadir dikehidupannya dimasa lalu.

“aku-“.

“Maaf Tuan, apa anda keluarga pasien? Dokter ingin bertemu dengan anda diruangannya”. Ucap seorang wanita dengan baju serba putih yang baru saja masuk dalam ruang inap Seo Na, Hee Chul mengalihkan perhatiannya kearah wanita itu lalu menatap sejenak kearah Seo Na yang sejak tadi tidak melepaskan padangannya dari Hee Chul.

“tentu saja”. Ucap pria lalu keluar dari ruang inap Seo Na sebelum ia menyuruh gadis itu untuk tetap istirahat. Gadis itu kembali berbaring, menatap sekitar ruangan yang persis sama ketika ia siuman dari tidur panjangnya saat itu, persis sama seperti hari ini, tapi pria yang ia temukan ketika ia sadarkan diri adalah pria yang berbeda. Seo Na menarik napasnya, sebelum kejadian ini ia mengingat sesuatu bukan? Suara tembakkan, lift, pelukan, dan juga seorang pria yang tak ia kenali wajahnya, tiba-tiba saja semua itu berputar diotaknya, ia mengingat sesuatu yang terkubur jauh dalam ingatannya, dan mengingatnya saja membuat gadis itu melemah.

“Apa yang terjadi padaku?”. Gumam gadis itu, lalu perhatianya tersita pada ponselnya yang tegeletak dimeja tak jauh dari jangkauannya, gadis itu ingat ia membawa benda itu dan jika benda itu berdering ia harus menjawabnya karena Dong Hae pasti sedang mencarinya, gadis itu meraih benda silver itu memainkan jarinya di atas layar, menekan beberapa perintah disana.

“Park Seo Na-ssi!”. Seo Na berdelik kaget, ia hampir menjatuhkan ponsel yang berada digenggamannya, ia menatap pria yang kini mendekat kearahnya dengan wajah penuh cemas, terlihat sekali jika wajah pria itu berubah pucat, memeluk tubuh Seo Na yang masih berbaring lemah diatas ranjang. “apa yang terjadi? Kenapa kau pergi tanpa memberi tahuku? Kau tau aku khawatir”. Seo Na tersenyum mendengar ucapan pria itu, penuh perlindungan yang bahkan membuat Seo Na merasa nyaman hanya dengan pelukannya yang begitu menenangkan.

Oppa, Aku baik-baik saja. Tadi aku hanya bermain-main ke taman, dan sesuatu terjadi dengan kepalaku, rasanya sakit sekali, tapi untung saja seseorang menolongku dan membawaku kemari”. Dong Hae menatap gadis itu, memperhatikan wajah Seo Na yang tidak terlihat terlalu pucat lagi, gadis itu tersenyum, senyumnya yang membuat kekhawatiran Dong Hae sedikit demi sedikit mulai menghilang.

“berjanjilah untuk tidak membuatku khawatir Seo Na-ssi”. pria itu mengelus puncak kepala Seo Na, merapikan anak rambutnya yang menutupi kening gadis itu, Seo Na hanya menerima semua perlakuan Dong Hae terhadapnya, dan pria itu terlalu khawatir akan Seo Na.

ehem... Maaf sudah menganggu privasi kalian”. Ucap Seorang pria yang baru saja hadir di antara mereka, yang kini masih berdiri didekat pintu masuk ruangan itu, Dong Hae dan Seo Na serentak menatap pria itu, Dong Hae yang menyadari jaraknya dengan Seo Na terlihat intim, kini memberi jarak dengan gadis itu, pria itu sedikit membungkuk kearah Dong Hae dan dibalas bungkukkan sopan oleh Dong Hae, pria itu mendekat kearahnya mengacungkan tangan kanannya kearah Dong Hae.

Dong Hae membalas uluran tangan Hee Chul, menatap mata pria itu, tidak ada yang salah disana, tidak ada tatapan jahat dari pria itu dan semua terlihat baik-baik saja, sepertinya pria itu tulus membantu Seo Na.

“Aku, Kim Hee Chul. maaf sudah lancang membawa Seo Na-ssi kemari, aku menemukannya sudah tergeletak tidak sadarkan diri dibangku taman”. Jelas pria itu, tidak ada nada menekan disana, semuanya terlihat murni.

“tak apa, seharusnya aku yang berterimakasih padamu Hee Chul-ssi, kau sudah menolong Seo Na-ssi, aku tidak tau bagaimana nasibnya jika kau tidak menolongnya”. ucap Dong Hae, Hee Chul hanya tersenyum, menyentuh bagian tengkuknya, entah kenapa pria itu merasa canggung.

Oppa, aku baik-baik saja. Tuan itu baik padaku, aku akan berterimakasih padanya”. Suara Seo Na menyita perhatian dua orang pria tampan yang berdiri tidak jauh darinya, Seo Na mengangkat tangannya kearah Hee Chul. “Tuan, terimakasih, maaf sudah merepotkanmu”. Ucap Seo Na dengan senyum yang hampir membuat kedua lelaki itu linglung tak karuan, Hee Chul yang merasa senyum itu diperuntukkan untuknya malah menjadi semakin salah tingkah, pria itu mengibaskan tangannya tanda tak setuju.

“Seo Na-ssi kau terlalu berlebihan, tidak apa. Aku senang membantumu”. Seo Na mengangguk, suasana ruangan seketika hening, ketiganya tak saling berbicara, entalah ada rasa janggal yang mereka bertiga rasakan, terlebih lagi Hee Chul ia seperti merasa masuk begitu saja dalam kehidupan kedua orang yang berada dihadapannya saat ini, dan untuk Seo Na ia sudah menemukan gadis itu bukan? Seharusnya ia menjalankan permintaan sepupunya Yu Ra, tapi kenapa hanya dengan menatap wajah gadis itu yang sedang tersenyum membuatnya seketika bergetar, ada rasa canggung yang menyeruak kedalam dirinya, dan ini jarang terjadi, bahkan tak pernah. ‘Gila!’. Pekiknya dalam hati.

“Dong Hae-ssi, bisakah kita bicara sebentar, ada yang ingin ku beritahu, mungkin tidak disini”. Hee Chul beranjak dari tempatnya sebelum permisi dengan gadis yang kini masih berbaring lemah diranjangnya, mencari tempat yang tepat untuk berbicara dengan Dong Hae agar gadis itu tak mendengarkan perbincangannya dengan Dong Hae, ini tentang keadaan Seo Na yang baru saja ia bicarakan dengan Dokter yang menangani gadis itu.

“baiklah, aku akan menyusul. Seo Na-ssi istirahatlah, aku akan kembali”. Dong Hae mengecup kening gadis itu sekilas yang hanya direspon anggukan lemah gadis itu, lalu Dong Hae segera beranjak dari ruangan itu.

~~~000~~~

“aku tidak tau apa yang telah terjadi dengan dirinya, tapi aku ikut terkejut ketika tau jika ia sedang mengalami amnesia, maaf sudah lancang menemui Dokter dan mengetahui semua itu, tapi percayalah aku orang baik, aku tidak akan memanfaatkan keadaan ini untuk peruntunganku”. Hee Chul menepuk pundak pria itu, membiarkan pria itu menarik napas sepuas mungkin.

“tidak masalah Hee Chul-ssi, aku juga mengerti keadaanmu. Lalu apa Dokter mengatakan tentang perkembangan kesehatannya?”. Dong Hae menatap pria itu, tampak jelas dari wajah itu kekhawatiran yang luar biasa yang kini tengah ia rasakan, Hee Chul memahaminya, jika Yu Ra mengetahui semua ini ia pasti akan memanfaatkan kesempatan ini untuk merebut Dong Hae dari Seo Na bukan? Dan sama sekali Hee Chul tidak ingin hal itu terjadi, melihat keadaan gadis itu dan mengetahui penderitaan yang sedang dihadapinya, ia terlalu keji jika melukai gadis itu.

“Seo Na tidak apa-apa, ia hanya merasakan sedikit sakit dikepalanya, mungkin akibat ia terlalu banyak berpikir atau tiba-tiba mengingat masa lalunya, dan aku yakin ia belum mengingat apa-apa”. Dong Hae mengangguk mendengar penjelasan panjang lebar dari Hee Chul, tentu saja Seo Na belum mengingat apa-apa dan Dong Hae masih belum bisa membiarkan gadis itu mengingat apa-apa tentang masa lalunya.

“baiklah, aku juga sedang ada urusan. Aku harap kau bisa menjaga Seo Na dengan baik Dong Hae-ssi”. Hee Chul mengambil sesuatu dari Dompetnya, menyodorkan kertas putih itu pada Dong Hae. “ini kartu namaku, jika kau perlu bantuan, Dong Hae-ssi, aku permisi dulu, ghamshamnida”. Dong Hae mengambil kartu nama itu dari tangan Hee Chul sebelum pria itu permisi dan beranjak dari cofe Shop yang bersebelahan dengan Rumah sakit tempat Seo Na di rawat.

~~~000~~~

Kedua tangan itu mengamit di udara, cuaca yang berubah dari musim gugur ke musim salju tak tampak membuat keduanya merasa risih karena angin yang cukup dingin, pria itu menghentikan langkahnya, menatap pada seorang gadis yang kini berada disampingnya, membetulkan syal bewarna coklat tua itu dileher sang gadis, sembari tersenyum dan mengecup kening gadis itu. seperti pasangan yang lainnya, keduanya tampak sedang dimabuk candu asmara yang berlebihan, ditambah cuaca yang mendukung mereka untuk tetap saling bergenggaman.

Oppa, apa dimasa lalu kita sering melakukan hal ini?”. ucap Seo Na, mengehentikan langkah keduanya, Dong Hae menatap gadis itu memeluknya tiba-tiba.

Eo, kita sering berpelukan”. Seo Na tersenyum mendengar ucapan pria itu, ia membalas memeluk Dong Hae merasakan hangat tubuh pria itu menenangkan pikirannya. Memang setelah Seo Na keluar dari rumah sakit, Dong Hae tidak pernah lagi membiarkan gadis itu keluar rumah, itu hanya akan menambah kekhawatirannya, ya memang itu semua terdengar egois dan sedikit mengekang.

“sejak keluar dari Rumah sakit 2 hari yang lalu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu”. Dong Hae merenggangkan pelukan mereka, meletakkan kedua telapak tangannya di bahu Seo Na, Dong Hae mengangguk menunggu gadis itu berbicara. “ketika hari itu, saat aku pingsan, aku mengingat suara tembakkan yang hampir membuat kepalaku nyeri hanya karena mengingatnya, aku merasa sedang berada di dimensi duniaku yang lain, entahlah, yang aku ingat aku sedang berada didepan Lift dengan seorang pria yang memelukku, aku tidak tau semua itu teringat begitu saja setelah seorang anak kecil menodongkan pistol mainnya kearahku, aku benar-benar takut”. Dengan susah payah gadis itu menjelaskan apa yang ia alami pada Dong Hae, dan pria yang mendengarkan semua ceritanya itu, tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih kencang, bukan karena wajah gadis itu yang berubah sendu, tapi cerita gadis itu tentang apa yang ia ingat. Tidak salah lagi, kejadian menyakitkan itu sudah melintas dipikiran gadis itu, dan dugaan Ibu Dong Hae benar, cepat atau lambat Seo Na akan mengetahui semuanya.

“lalu, apa kau mengingat yang lainnya?”. Dong Hae menatap manik mata Seo Na yang dipenuhi tumpukan air mata, gadis itu menggeleng, ia hanya mengingat hal itu dan tidak yang lainnya. Dong Hae menghembuskan napasnya lega, ada sesuatu kelegaan yang ia rasakan saat Seo Na mengatakan jika ia hanya mengingat bagian itu saja tanpa tau alasan yang lainnya.

Oppa, apa yang sudah terjadi? Kenapa kau tidak memberi tahuku? Heum? apa kita sudah menikah? Kemana kedua orang tuaku? Apa aku punya saudara? Aku ingin pulang kerumahku, aku ingin mengetahui masa laluku, jika kau tidak mau membantuku, Ayah dan Ibu-ku pasti mau membantuku, jadi kenapa kau tidak mengantarku pulang saja!”. Nada suara Seo Na meninggi meskipun yang didominan adalah getaran hebat dari tubuhnya. Dong Hae melepas genggamannya dari bahu Seo Na, mengadahkan kepalanya ke atas, ia tidak bisa menjawab semua pertanyaan gadis itu untuk saat ini. Seo Na memukul lengan Dong Hae sebelum memilih beranjak dari hadapan pria itu, tapi langkah gadis itu seketika terhenti, akibat genggaman Dong Hae yang kuat sudah mencengkram pergelangan tangannya.

Wae? Kenapa kau menahanku? Aku akan mencari rumahku, aku akan mencari orang tuaku! Lagi pula kau tidak mengatakan kau itu siapa! Aku tidak percaya padamu lagi! Aku rasa kau itu seorang penculik yang sudah menculik ku!”. Dong Hae benar-benar tak tahan dengan ucapan gadis itu, Dong Hae menarik tengkuk Seo Na mencium bibir gadis itu tiba-tiba, entalah ia seperti dirasuki arwah meyeramkan, ia tidak tau lagi harus berbuat apa, satu-satunya cara membuat gadis itu menghentikan ucapannya adalah dengan cara menutup mulut gadis itu dengan bibirnya, terdengar gila bukan.

Dong Hae melepas tautan bibir mereka, menatap wajah Seo Na yang penuh dengan air mata, dan yang ia lihat sekarang adalah Seo Na yang benar-benar berubah menjadi gadis rapuh, tanpa tau harus berbuat apa.

“Seo Na-ssi, aku takut kau akan merasakan rasa sakit mendengar semua kenyataannya, tapi jika kau memaksaku aku akan mengatakannya”.

Deg!

~~~000~~~

Ini sudah hari ketiga semenjak ia tidak melihat gadis itu lagi, bagaimana keadaanya? Apa dia sudah pulih dan sudah kembali dari rumah sakit? Apa gadis itu akan dijaga dengan baik? pertanyaan itu terus menari-nari dibenak Hee Chul 3 hari belakangan ini, yang menjadi bahan pemikirannya beberapa hari ini hanya seorang Park Seo Na, meskipun ia tidak persis tau kenapa ia terlalu peduli dengan gadis itu. mata gadis itu yang tertlelap, keningnya yang sesekali berkerut karena merasakan sakit, dan suaranya yang hampir memabukkan, juga senyumnya yang mampu membuatnya kikuk.

“Pria tampan, seharusnya kau tidak terlalu serius dengan gadis itu, baiklah! Lupakan!”.

“melupakan siapa? Eo?”. Suara seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari belakang Hee Chul langsung membuat pria itu berkedik ngeri dan setengah berteriak, yang hanya direspon cengiran oleh gadis yang kini tengah berada dihadapnnya itu.

YA! Kau mau membuatku terkena serangan jantung?!”. Yu Ra hanya terkekeh, lalu berjalan kearah meja makan dan duduk manis disana menyaksikan emosi Hee Chul yang sedang meledak-ledak.

“lagi pula apa yang yang Oppa lakukan berbicara pada cermin? Memangnya di Amerika sedang trend berbicara dengan cermin?”. Goda gadis itu lalu terkekeh tak karuan, Hee Chul yang masih kesal mendekat kearah Yu Ra menarik pipi gadis itu hingga merah.

“Hee Chul Oppa!!! Appo!”. Kini Hee Chul yang balas tertawa girang, lalu menggendong kucing kesayangannya yang sengaja ia bawa dari Amerika.

Don’t Angry, Yu Ra-ya”. goda pria itu sambil menyapukan handuk kecil pada bulu-bulu kucingnya. Ia beranjak kedapur mengambil segelas air dingin dan menyodorkannya pada gadis itu. “minumlah, bagaimana kau bisa masuk keapartemenku? Bukankah aku sudah menutupnya?”.

“tidak, pintu mu masih sedikit terbuka, karena itu aku bisa masuk dengan leluasa. Bagaimana jika seorang wanita mesum yang masuk kemari kau bisa-bisa diperkosa bukan?”. Hee Chul hanya berdeham kesal menyikapi celotehan adik sepupunya itu, lagi pula bukan Yu Ra jika tidak membuatnya kesal.

“sudahlah, kau mau apa datang kemari? Menyuruhku yang tidak-tidak lagi? Tentang masalahmu yang kemarin aku membatalkannya, aku tidak bisa membantumu”. Yu Ra mengalihkan pandangannya kearah pria itu yang sejak tadi tersita pada layar ponselnya.

Ya! Oppa! Bagaimana kau bisa membatalkan secara sepihak? Bukankah kemarin kau setuju dan mau membantuku?”. Yu Ra hampir terdengar berteriak. Hee Chul menarik bahunya keatas, lalu beralih duduk persis didepan gadis itu.

Wae? Apa kau akan mengancamku? Ya! aku ini Oppa-mu, seharusnya aku melarangmu untuk berbuat jahat, dasar gadis nakal”. Yu Ra terkekeh mendengar ucapan pria itu, ia sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan bermaksud mendekatkan pandangannya pada Hee Chul.

Yu Ra menyipitkan matanya, menatap penuh curiga pada pria itu. “kau menyukainya bukan?”

“apa? Ya! kau pikir aku bisa dengan mudah menyukai wanita? Aku ini tidak-“.

Mwo? Kau mencoba mencoba menipuku? Kau tau, instingku sebagai wanita lebih kuat dibanding wanita manapun, jadi jangan pernah bohongi aku tentang perasaanmu pada gadis itu. Cih, bagaimana dia bisa membuat pria bertekuk lutut padanya, sampai-sampai pria yang tidak terlalu berminat memiliki kekasih sepertimu bisa menyukainya”. Yu Ra mencibir, ia meraih segelas Air yang sudah tersaji sejak tadi didepannya, lalu mendekatkan bibir gelas itu kemulutnya. Ia masih tidak bisa terima dengan pesona yang dimiliki Seo Na, bukankah dia tidak kalah cantik dari gadis itu?

“terserah kau saja, aku sedang tidak ingin beradu pendapat denganmu”. Hee Chul beranjak dari hadapan gadis itu, lalu pria itu masuk kekemarnya sebelum menyambar kucing kesayangannya yang sejak tadi bermain dilantai.

“Cih, jika Hee Chul Oppa tidak bisa membantuku, aku bisa membuat gadis itu sengsara lagi bukan? Persetan dengan ancaman Lee Dong Hae”. Ia meraih tas tangannya, meninggalkan Apartemen Hee Chul tanpa permisi pada pria itu.

~~~000~~~

Ne, aku bukan suamimu. Kita tidak memiliki hubungan apapun dimasa lalu, dan tentang keluargamu, kau tidak memiliki Ayah dan Ibu lagi, mereka sudah meninggal dunia. Dan satu-satunya yang kau miliki hanya kedua adik perempuan-mu yang sudah berada di Paris, Park Seo Jin dan Park Seo Min. Maaf aku sudah mengatakan hal ini padamu”. Dong Hae tertunduk, ia tidak berani sama sekali menatap gadis yang kini sedang berdiri dihadapannya, gadis yang mengenakkan dress putih polos, dengan rambutnya yang ia biarkan tergerai.

Gadis itu hanya bungkam, tidak merespon satupun penjelasan dari Dong Hae, ia seperti tuli tapi ia masih bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan pria itu. jadi selama ini dia hanya menyusahkan pria itu? tapi bukankah ia masih memiliki dua adik perempuan yang sedang menetap diParis?

“Ayah – Ibu –ku, bagaimana mereka bisa meninggal? Kedua adik-ku? kenapa mereka tidak menemuiku? Dan kau bukan suamiku Aiden-ssi, lalu kenapa aku harus tinggal bersamamu? Kenapa?”. Suara yang hampir tak bisa didengar Dong Hae, terlalu banyak getaran pada kalimat gadis itu, Dong Hae tau gadis itu sedang menahan tangisnya, ingin sekali ia mendekap tubuh lemah itu, tapi ini adalah konsekuasinya bukan? Konsekuensi jika ia mengatakan kenyataan tentang masa lalu gadis itu, tapi sungguh hatinya bahkan lebih sakit dari apapun melihat gadis itu hampir ambruk.

“Aiden-ssi! katakan padaku! Kenapa semua ini terjadi?! Kenapa aku harus hidup seperti ini?!-“.

“Hentikan Seo Na-ya!!!”. Dong Hae benar-benar tak tahan mendengar setiap uacapan demi ucapan yang sukses membuat hati Dong Hae seperti direjam, ia tidak tau harus mengatakan apa lagi dan pada akhirnya pria itu berteriak untuk menghentikan semua uacapan Seo Na. Seo Na menatap pria itu gusar, dunianya saat ini seperti diputar-putar, ia bahkan tidak bisa mengingat apapun tentang masa lalunya, menyakitkan bukan?

Keure, aku tidak akan meyusahkanmu lagi”. Ucap gadis itu sebelum beranjak dari hadapan Dong Hae menyeret kaki kecilnya keluar dari rumah mewah milik pria itu, ia tidak tau kemana tujuannya saat ini yang jelas ia ingin pergi sangat jauh dari hadapan pria itu.

Dong Hae tertegun ditempatnya, entah kenapa tidak ada kekuatan sedikitpun untuk menahan gadis itu, ia tidak menyangka sama sekali semua akan menjadi seperti ini, tidak ada pilihan lain bukan, membiarkan gadis itu mengingat masa lalunya.

~~~000~~~

Hee Chul keluar dari kamarnya, setelah mengganti pakaian rumahnya dengan baju santai. Hee Chul menatap meja makan, menarik alisnya keatas. “dasar gadis nakal, dia pergi tapi tak berpamitan denganku”. Ucap pria itu sebelum menyembar kunci mobilnya menuju suatu tempat.

Pria itu menginjak pedal gasnya, membetulkan letak kacamata hitamnya, segera melaju dijalanan Seoul. Laju mobil mewah milik pria itu terhenti pada lampu merah, pandangannya kini asik pada lalu lalang pejalanan kaki dihadapannya, dan pandangannya terhenti pada seorang gadis yang mengenakkan dress putih dengan wajah yang tidak asing lagi baginya, tapi tunggu dulu? Gadis itu sendirian bukan?

Setelah lampu hijau menyala, Hee Chul memutar arah mobilnya, mencari sosok gadis itu yang mengarah berlawanan darinya. Hee Chul menginjak pedal remnya, tergesa-gesa ingin segera menemui gadis itu yang sejak tadi berjalan sambil menunduk.

“Seo Na-ssi”. langkah gadis itu terhenti setelah ia mendengar seorang pria memanggil namanya dari arah belakang. Ia memutar tubuhnya, mendapati sosok Hee Chul yang kini berjalan mendekat kearahnya.

Ne? Eo, Tuan? Kau Tuan yang menolongku”. Ucap Seo Na mengingatkan memorinya tentang pria itu, pria yang menolongnya.

Hee Chul tersenyum, bagaimana gadis itu bisa memanggilnya Tuan? Mukanya tidak kalah tampan dan muda dengan Dong Hae bukan? “kau masih mengingatku Seo Na-ssi. Aku sedikit canggung jika kau memanggilku Tuan, bagaimana jika kau panggil aku Oppa saja?”. Tawar pria itu, yang direspon senyuman hangat dari gadis yang berada dihadapannya ini.

“baiklah, Oppa?”. Ucap Seo Na sambil tersenyum.

“kau sendiri? mau kemana?”. Hee Chul melirik sekelilingnya, mungkin saja ada seseorang yang menemani gadis itu, atau Dong Hae?

Seo Na mengangguk. “Hu’um, aku sendiri. aku juga tidak tau mau kemana. Aku sedang tidak ingin dirumah”. Aura wajah gadis itu berubah murung, terlihat ketika gadis itu menunduk, saat mengatakan kalimat terakhirnya.

“baiklah, aku tidak akan memintamu untuk bercerita kenapa kau sedang tak ingin dirumah. Heum, bagaimana kalau aku ajak jalan-jalan saja, kau mau?”. Tawar Hee Chul, Seo Na menatap pria itu bola matanya memutar, ia berpikir sejenak, sebelum mengangguk dan tersenyum kearah Hee Chul.

“baiklah, aku mau”. Ucap Seo Na yang direspon senyuman pria itu, Hee Chul menuntun Seo Na masuk kemobilnya, dan pergi kesuatu tempat yang mungkin bisa menenangkan gadis itu.

~~~000~~~

Keduanya kini menatap hamparan pasir pantai dan bentangan lautan biru dihadapannya, sejak tadi mata gadis itu tidak lepas dari pemandangan indah yang kini tengah disajikan dihadapannya, entah kenapa ia merasakan hatinya benar-benar begitu damai melihat bentangan laut yang kini tengah ia pandangi, ditambah suara ombak yang sejak tadi memacu mendekat kearah ujung kaki gadisnya.

“apa kau menyukai pantai?”. Tanya Hee Chul, yang direspon anggukan kecil penuh arti dari gadis itu, matanya sejak tadi tak lepas menatap lautan, ia benar-benar seperti berada dalam dunianya.

“aku yakin, dimasa lalu aku menyukai laut”. Seo Na tersenyum, ia tidak salah. ia memang menyukai laut dimasa lalu, tapi bukan laut yang seperti ini, ia suka menatap laut yang tersaji pada mata indah milik seorang pria, seorang pria yang kini entah sedang apa.

“aku menyukai gadis yang kini tengah menatap laut, aku rasa dia benar-benar tergila-gila pada lautan”. Ucap Hee Chul sambil terkekeh disamping Seo Na, ia merasa bahagia melihat gadis itu sejak tadi tidak henti-hentinya tersenyum menatap lautan dihadapannya.

Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, hanya suara ombak yang sejak tadi memecah keheningan dianatara keduannya. Gadis itu tiba-tiba mengingat ucapan Dong Hae tentang dirinya, pria itu sudah mengatakan tentang masa lalunya bukan? Tentang keluarganya, tapi entah kenapa ada yang kurang selama ini, Seo Na seperti kehilangan memori yang berharga tentang hidupnya, dan itu yang ia sesalkan dari pria itu, kenapa Dong Hae tak memberi tahunya semua tentang masa lalu gadis itu.

“Seo Na-ssi?”. Suara Hee Chul sukses menyita perhatian Seo Na yang sejak tadi menikmati pemandangan yang ada dihadapannya saat ini.

Ne? Waeyeo?”.

“apa kau tidak ingin pulang kerumah?”. Seo Na menarik napasnya dalam, menghebuskannya perlahan, kembali menatap lautan dihadapannya.

Molla, lagi pula itu bukan rumahku. Aku tidak mempunyai rumah, aku tidak punya Ayah-Ibu, aku hanya punya dua adik perempuan yang berada di Paris, dan disana aku tidak tau apa aku punya Rumah, aku ingin ke Paris menemui mereka, Oppa pasti tau bukan tentang masalahku?”. Hee Chul mengangguk. Ia menatap gadis itu khawatir. “karena itu, aku tidak tau apa-apa. Aku ingin sekali hidup normal, aku begitu tersiksa ketika aku tidak bisa mengingat apapun dimasa laluku”.

“lalu bagaimana kau tau tentang Ayah-Ibu- dan kedua adikmu?”.

“Aiden-ssi, dia memberi tahuku tentang hal itu, tapi aku yakin dia tidak mengatakan yang lainnya padaku. Entalah, Aiden-ssi seperti menyembunyikan banyak hal dariku”. Seo Na menunduk, menyembunyikan kesedihan yang tengah ia rasakan dari pria yang berada disampingnya saat ini.

“aku mengerti sekarang kenapa kau tidak ingin berada dirumah. Apa aku boleh mengatakan sesuatu padamu Seo Na-ssi?”. Hee Chul meletakkan kedua telapak tangannya di kedua bahu Seo Na, membiarkan gadis itu menghadap kearahnya. Seo Na mengangguk, menatap pria dihadapannya ini, matanya jelas terlihat berkaca-kaca, raut wajahnya memperlihatkan gadis itu benar-benar pada titik kehancurannya saat ini, ironis bukan?

“aku tidak tau dengan jelas bagaimana masalah yang kini tengah kau hadapi, maupun masa lalu yang pernah kau jalani dihari lalu, dan aku juga tidak tau apa yang sedang disembunyikan Aiden Lee darimu. Tapi aku yakin, hal itu demi kebahagiaanmu, pria itu benar-benar menjagamu dengan baik, sebagai laki-laki aku mengerti perasaannya, dia benar-benar mencintaimu”. Jelas pria itu penjang lebar, tanpa balas menatap Seo Na yang kini tengah memperhatikan pria itu berbicara.

“tapi Aiden-ssi tidak mengatakan jika kami memiliki hubungan apapun”. Bantah Seo Na, Hee Chul menatap gadis itu.

“benarkah?”. Seo Na mengangguk. Semua itu memang benar, mereka memang tidak memiliki hubungan, hanya saja dimasa lalu keduanya sempat saling mencintai bukan? “Eum, aku pikir kalian adalah sepasang kekasih. Kalau begitu bagaimana jika kau menikah denganku saja? Bukankah kita sudah pergi berkencan kepantai?”. Goda pria itu, Seo Na menatapnya, mata gadis itu tiba-tiba membulat lebar, lalu dengan cepat ia memukul lengan kiri Hee Chul.

Ya! oppa, bagaimana bisa begitu. Aku kan sedang bersedih”. Protes Seo Na, Hee Chul hanya terkekeh mendengar celotehan tak terima gadis itu, yang kini sedang membulatkan pipinya, persis seperti buntal, lucu bukan?

“baiklah, bagaimana jika kita pulang saja. Ini sudah hampir sore, Aiden pasti mengkhawatirkanmu”. Seo Na menggeleng, ia tidak ingin pulang kerumah Dong Hae, tentu saja, itu hanya akan membuatnya bertambah sedih bukan? “kau harus pulang Seo Na-ssi, kau tidak bisa tinggal dirumahku, aku hanya punya satu kamar dan satu ranjang, apa kau mau satu ranjang dengan ku, Eo?”.

Oppa! Kau ini!”. Hee Chul sukses membuat wajah gadis itu bersemu merah, Hee Chul berhasil membuat gadis itu terkekeh, setidaknya jika seperti ini ia bisa menghilangkan sedikit kesedihan gadis itu bukan, dengan senyuman Seo Na-pun, disekeliling gadis itu juga ikut merasa bahagia.

“bagaimana apa tetap mau bersamaku?”.

“baiklah, aku akan pulang kerumah Aiden-ssi, tapi kau harus mengantarkanku hingga kehadapan pria itu, Arratjhi?”. Hee Chul tersenyum, lalu pria itu mengangguk mengiyakan ucapan Seo Na yang terkesan seperti anak-anak.

~~~000~~~

“jadi gadis itu hilang ingatan?”. Yu Ra mengulang pertanyaan yang sama, dan kini pertanyaan itu hanya direspon anggukan oleh pria yang kini tengah duduk dihadapannya. “aku benar-benar tidak mengetahuinya”.

“apa kau senang, ini semua ulahmu bukan?”. Terdengar nada sinis keluar dari mulut pria itu, jika bukan karena Yu Ra, gadis-nya tidak akan seperti ini, gadis-nya tidak akan merasa tertekan seperti ini.

Yu Ra menggeleng, ada sedikit rasa bersalah yang kini tengah ia rasakan, namun rasa bersalah itu seketika tak ia rasakan karena rasa lega kini menyeruak dalam hatinya. Hilang ingatakan? Berarti itu kesempatanm bagus baginya bukan?

“jangan berharap kau bisa mendapatkan aku Yu Ra-ssi”. ucapan pria itu sukses menyita seluruh perhatian gadis itu, Yu Ra menarik napasnya dalam, mengeluarkannya hati-hati, takut jika pria yang berada dihadapannya saat ini bisa membaca pikirannya lebih banyak.

“aku tidak seburuk yang kau kira Dong Hae-ssi”. tekan gadis itu, Dong Hae hanya tersenyum renyah, bagaimana gadis itu masih bisa mengatakan jika ia tidak seburuk itu, setelah dulu pernah berani mengancam Seo Na, licik bukan?

“kau kira aku tidak tau, tentang ancaman mu yang konyol itu pada Seo Na? Heuh? Seharusnya kau bisa memilih teman yang baik Yu Ra-ssi”.

“Eun Min Soo?”. Gumam gadis itu pelan, namun ucapan gadis itu masih bisa didengar jelas oleh Dong Hae.

Ne, wanita itu yang mengatakan hal itu pada orang pesuruhku, apa kau tidak punya teman selain orang yang bekerja diperusahaanku? dan kenapa aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu, setelah semua yang kau lakukan”. Dong Hae tak menatap gadis itu sedikitpun, terlalu sakit baginya menatap gadis itu yang sudah menghancurkan Seo Na-nya. “bagaimana? Aku benar bukan?”.

Yu Ra bungkam, ia lebih memilih tidak mengatakan hal apapun. Hari ini ia sengaja datang kerumah pria itu, ia sudah mencoba menemui Dong Hae dikantornya, tapi nihil pria itu tidak ada disana dan pilihan satu-satunya tentu saja mendatangi rumah pria itu tanpa memberi tahu terlebih dahulu pada Dong Hae.

“Memuakkan”. Gumam pria itu kesal, sebelum ia beranjak dari hadapan Seo Na, namun gadis itu menahannya, menarik pergelangan tangan pria itu, entah apa yang membuat Yu Ra begitu berani menarik Dong Hae kedalam dekapannya, dan kini Dong Hae berada dalam pelukan gadis itu.

“Aiden Lee?”.

 

 

To Be Continue

~~~000~~~

 

TEARS ARE FALLING (4/?)

Standard

TEARS ARE FALLING (4/?)

 

Action, romance. PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast

 

 

 

“aku harus melindunginya, harus… aku akan menolongnya. Tetapi aku tidak bisa lari dari musuh, akhirnya untuk dapat melindunginya, hanya ada satu cara… yaitu dengan mengganti nyawanya dengan nyawaku… itulah cara untuk melindungi orang yang ku cintai”. – (Kyu Hyun – VCR Day Dream – SS5)

Aku merasakan hari itu sepertinya semua benar-benar berakhir, suara tembakan itu tidak seperti suara tembakan yang pernah ku dengar sebelumnya. Aku mulai tau, bagaimana rasa sakitnya ketika aku menembakkan peluru itu ketubuh mereka, karena kali ini aku merasakannya, aku mendengar tiga tembakan, tapi hanya satu yang terasa menembus perutku, dan yang duanya lagi aku yakin itu mengarah kearah pria yang baru saja memelukku… bagaimana keadannya, kenapa ia melakukan ini padaku? Kenapa ia menggantikkan nyawanya dengan nyawa wanita pembunuh sepertiku?.

“KYU-YA!!! Ahk… Kyu…!!!”. Seo Na menjerit menahan sesak didadanya yang begitu hebat, bukan karena darah yang kini terus mengalir di sisi perut bagian kirinya, tapi pria yang kini sudah jatuh kelantai dalam dekapannya, pria yang terkena tembakan di dadanya, ia yakin dua tembakan terakhir mengarah ke arah dada Kyu Hyun, bagaimana pria itu dalam seketika merubah keadaan diantara mereka.

“Seo Na! Park Seo Na!”. Seorang pria berlari kearah Seo Na, menatap Seo Na dengan wajah yang berubah pucat, tak kalah pucat dari gadis itu yang kini menahan sakit diperutnya dan juga sakit dihatinya melihat kondisi seorang pria yang kini berada dalam dekapannya, tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi dari wajah pria itu, semuanya seakan ikut pergi dari pria yang ia cintai dimasa lalu itu. “Aiden-ssi… Kyu-ku sudah tidak ada”. Ucapnya lemah, sampai akhirnya gadis itu tidak bisa merasakan apa-apa lagi selain rasa sakit yang terus dirasakannya.

~~~000~~~

2 mont later…

Dong Hae memutar ganggang pintu rumah sakit itu, ini sudah seperti kebiasaanya beberapa minggu ini, berkunjung ke kamar 205 tempat gadis-nya di rawat. ini sudah minggu ke tiga sejak gadis itu tidak sadarkan diri, tidak ada tanda-tanda yang diharapkannya pada gadis itu untuk segera sadar, karena peluru yang tertembak didalam perutnya cukup membuat kesadaran gadis itu terenggut. Operasi pengangkatan benda membunuh yang bersarang dalam tubuhnya itu berjalan baik, tapi ada kemungkinan lain yang kini tengah diderita gadis yang tengah berbaring diranjang rumah sakit itu, trauma dimasa sulitnya saat itu menyebabkan kemungkinan kembalinya kesadaran gadis itu hanya beberapa persen, akibat trauma yang cukup mengguncang jiwanya saat kejadian yang ia alami saat itu.

Pria itu membuka jasnya, melonggarkan dasinya meletakkan jas hitam itu di sofa empuk di bawah jendela ruang inap Seo Na, Dong Hae mendekat kearah gadis itu, duduk persis disamping kanan Seo Na menatap wajah gadis itu polos dengan mata tertutup, pemandangan ini yang selalu terpaksa dinikmati Dong Hae, berharap gadis itu kembali seperti sedia kala, yang ia rindukan saat ini adalah suara Seo Na dan senyum gadis itu yang sudah membuatnya terjerat jauh dalam kehidupan Seo Na.

“Park Seo Na-ssi, bangunlah, Kau tau aku sangat merindukanmu”. Dong Hae memejam matanya, mengenggam telapak tangan gadis itu, tidak ada balasan dari genggaman tangan itu. Dong Hae menarik napasnyanya dalam, ingin sekali ia menghilangkan rasa sakit yang terus menusuk dihatinya ketika melihat Seo Na terkulai lemah di ranjangnya.

Dong Hae melepas genggamannya dari gadis itu, kini tubuhnya beringsut berbaring persis di samping gadis itu, kini dengan leluasa Dong Hae bisa melihat wajahnya, wajah gadis yang menjadi candunya selama ini, suaranya, tingkah lakunya, sentuhannya. Tapi begitu hebatkah sakit yang dirasakan Seo Na sehingga ia lebih memilih tetap dialam bawah sadarnya, begitu parahkah trauna yang dialami Seo Na selama ini?

“kami tidak bisa banyak melakukan apa-apa terhadap Park Seo Na-ssi, karena trauma yang selama ini ia alami, ia memilih untuk tetap bertahan dialam bawah sadarnya, kita hanya butuh waktu untuk menunggu kembali kesadarannya, mungkin ini akan memakan waktu yang lama. Dan mengenai luka karena tembakan itu, saya rasa tidak terlalu membahayakan lagi, Aiden-ssi”.

Dong Hae memutar bola matanya, menghembus napasnya kasar, masih teringat ucapan Dokter itu beberapa minggu lalu tentang gadis-nya. “Seo Na-ya , aku mencintaimu, bangunlah”. Pria itu menutup matanya, merasakan sesak hebat didadanya, mungkinkah Park Seo Na akan kembali?

~~~000~~~

Entah apa yang membuat gadis itu masih ingin terus larut dalam ketidak sadarannya, kekuatannya untuk segera membuka mata pupus begitu saja ketika kejadian menyakitkan itu terus saja menari-nari dialam bawah sadarnya, ia ingin tetap seperti ini, ia tidak ingin menerima kenyataan yang pahit tentang hidupnya, tapi haruskah ia terus seperti ini, terus bersembunyi dialam bawah sadarnya, ia masih punya kedua adik perempuannyakan? ia masih punya kehidupan yang harus diselesaikan, ia harus menyelesaikan semua yang ia tinggal, dan bagaimana dengan pria itu? apa dia masih menunggu kesadarannya? Apa pria itu masih setia menunggunya? Seo Na, ia ingin sekali kembali dari ketidak sadarannya, tapi bagaimanapun trauma yang baru saja ia alami hampir membuatnya tidak ingin kembali lagi, tetap seperti ini, setengah mati? Mungkin.

Entah kenapa hari ini, ketidaksadaran gadis itu terusik, tangis seorang pria begitu saja terdengar, ia ingin bangun, melihat siapa yang tengah menangis didekatnya, ditambah lagi sinar matahari yang kali ini benar-benar memaksanya untuk bangun, menyelesaikan semua permasalahannya, ini sudah lama bukan? Sudah cukup untuk berlari.

Gadis itu membuka matanya pelan, merasakan keadaan didekatnya seketika putih normal, hanya beberapa yang berbeda warna, dan ia yakin itu adalah lukisan bunga mawar yang tergantung tepat didinding dihadapannya, tidak hanya itu kini disampingnya sudah tersaji begitu saja wajah polos seorang pria dengan air mata yang terus mengalir dari matanya, dan ia yakin pria itu tengah terpejam, dan mungkin saja sedang bermimpi buruk. Seo Na menarik ujung bibirnya kebelakang, menikmati wajah pria yang tak ia kenali itu, tapi ia yakin pria itu pria baik-baik, entah bagaimana ia bisa berpikiran sedemikian, tapi sejak tadi, sejak ia menatap wajah pria itu ia merasakan hatinya terguyur ombak lautan yang begitu tenang, wajahnya, benar-benar menyenangkan, meskipun Seo Na kecewa, kenapa ada air mata disana.

“kau menangis? Apa kau bermimpi buruk Wajangnim?”. Gumamnya pelan, takut jika suaranya bisa membangunkan pria itu, dengan pelan kini ujung ibu jarinya menyentuh pipi pria itu, menghapus pelan air mata yang terus mengalir disana, detik kemudian pria itu bergerak pelan, Seo Na menarik tangannya, menatap wajah pria itu yang kini tengah berusaha membuka matanya. ‘astaga, aku membuatnya terbangun’. Gumam gadis itu lalu segera duduk diatas ranjang putih itu, sedikit mundur takut jika laki-laki itu bisa marah padanya, atau mengatakan ‘kenapa menyentuhku, dan membuatku terbangun?’. Bukankah ia tidak mengenal pria tampan itu, tidak mengenal?

~~~000~~~

Pria itu masih bergelut dengan tidurnya, didalam mimpipun ia masih bisa merasakan sakit seperti ini, ia tidak tau persis bagaimana caranya menangis, tapi jika mengingat gadis-nya yang masih terkulai lemah dihadapannya ia merasakan tiba-tiba sesak didadanya dan membuat air matanya keluar begitu saja, dan kali ini ia bermimpi tak enak lagi, bermimpi tentang gadis itu. detik kemudian ia bisa dengan jelas mendengar suara gadis itu, sudah lama sekali rasanya dan kali ini benar-benar seperti nyata, ditambah kini ia merasakan sentuhan penuh kasih sayang di pipinya, dan ia yakin sentuhan itu sama dengan sentuhan Seo Na, sentuhan yang tak pernah lagi ia rasakan, tapi bagaimana bisa ini benar-benar seperti nyata, apa Park Seo Na sudah bangun? Apa gadis itu kini tengah memperhatikan wajahnya?

Detik kemudian, Dong Hae berusaha membuka matanya susah payah karena terlalu berat akibat kurang istirahat beberapa minggu ini, karena pekerjaan di kantor yang mengharuskan pria itu bekerja ekstra, ditambah ia harus menjaga Seo Na dirumah sakit, meskipun itu bukanlah hal yang menjadi masalah buatnya. Dong Hae mengerjapkan matanya, dan kini ia yakin wajah yang kini tengah ada dititik fokus pandangannya adalah wajah Seo Na, gadis itu? ia sudah sadar? Ini bukan mimpi bukan? Benarkah?

Dong Hae menarik badannya untuk segera bangun, menatap gadis itu yang kini tersenyum kepadanya, senyum yang paling dirindukan Dong Hae dan kini gadis itu tengah tersenyum padanya. Ia yakin, ia tidak sedang bermimpi, ia yakin Park Seo Na-nya sudah kembali, Dong Hae memeluk gadis itu erat, tidak peduli ekspresi terkejut dari gadis itu, tidak peduli jika gadis itu marah dan meronta-ronta karena pelukan-terlalu erat-nya, yang ia tau Seo Na sudah kembali, gadis itu sudah berada didalam pelukannya.

“yang aku lakukan adalah, hanya berada disampingnya…. jika terjadi keajaiban… jika kejadian dimasa lalu dapat mengubah… kalau bisa, mengembalikan semuanya…

Terjadi keajaiban…. dia telah terbangun, senyumnya yang indah, dia tersenyum didepanku saat ini…. aku sangat berterimakasih….”

(Dong Hae – VCR Day Dream – SS5)

Gadis itu heran, tapi entah kenapa ia merasa nyaman didalam pelukan pria yang tak ia kenali sama sekali ini, entah kenapa tubuhnya begitu rindu pada pelukan itu, tapi bagaimanapun ia tidak mengenal pria itu bukan? Ia tidak mengenal siapapun, dan siapa dia. Seo Na merenggangkan pelukan itu, menatap manik mata pria yang kini tengah menatapnya dengan mata yang berlinang air mata, terdengar menggelikan, tapi itulah yang kini tengah tersaji dihadapan Seo Na. Pria itu menelungkupkan kedua telapak tangannya diwajah Seo Na, mendaratakan ciuman hangat di dahi gadis itu, Seo Na tak bergeming, ia tak menolak lebih menikmati perlakuan pria yang tak ia kenali itu, entahlah, semua yang pria itu lakukan terhadapnya seperti hal biasa yang pernah ia lakukan dimasa lalu, tapi bukankah ia tak menganal pria itu.

“kau kembali, kau tau aku merindukanmu. Kenapa kau membiarkanku begitu lama menunggumu? Heum?”. Gadis itu tersenyum mendengar ucapan yang terdengar manja dari pria itu, ia hampir terkekeh geli, bagaimana pria tampan itu begitu mengkhawatirkannya, seperti kekasihnya saja.

“aku? Memangnya aku dimana?”. Dong Hae berkedik, pertanyaan gadis itu benar-benar terdengar aneh, bagaimana ia bisa tidak tau dimana ia sekarang. “anda siapa? Apakah anda pangeran?”. Dong Hae menjatuhkan tangannya yang sejak tadi berada dipipi Seo Na, menatap gadis itu tak percaya, bagaimana gadis itu bertanya siapa dirinya? Dia Aiden Lee, dia pria yang mencintai Seo Na, dengan cepat pria itu menekan tombol putih di atas ranjang, yang menghubungkan keluar ruangan.

~~~000~~~

“saya rasa, ini menyangkut traumanya dimasa lalunya Aiden-ssi, Seo Na-ssi tidak bisa lagi mengingat penderitaan dan masalahnya dimasa lalu sehingga ia melupakan sebagian besar ingatannya tentang penderitaan itu termasuk orang-orang yang ada didalam masalah itu, Anterograde Amnesia itu adalah penyakit yang tengah di derita Seo Na-ssi. Satu-satunya cara agar ingatannya kembali yaitu dengan memaksanya mengingat kejadian yang membuatnya trauma, mungkin akan membuat jiwanya kembali terguncang, tapi demi ingatannya saya rasa anda bisa melakukannya Aiden-ssi”. Dong Hae menganggukan kepalanya, menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya tak beraturan, ia tidak bisa mencerna dengan jelas ketika pria berjubah serba putih itu menyebutkan tentang keadaan Seo Na saat ini, lalu apa yang harus Dong Hae lalukan? Mengatakan pada gadis itu, jika Kyu Hyun nya sudah terbunuh karena melindunginya, mengatakan pada gadis itu jika ia seorang pembunuh? Atau mengatakan jika dirinya adalah salah satu calon korban kekejiannya? ‘Gila! Aku tidak mungkin menyakiti gadis itu lebih dalam lagi!’. Pekik Dong Hae dalam hatinya.

 

~~~000~~~

 

Meskipun aku sakit, meskipun aku terluka, aku dapat hidup jika ada dirimu….

Hidup tanpamu seperti sebuah kematian bagiku….

(Day Dream – Super Junior)

Dong Hae menatap gadis itu yang kini tengah berdiri menghadap keluar didepan jendela kamarnya, tatapannya kosong tidak ada raut kecewa, bahagia, sedih maupun semacamnya, yang ditemukan Dong Hae wajah tanpa eskpresi yang kini tengah menikmati pemandangan yang tersaji dari balik jendela kaca yang cukup luas itu, Dong Hae beranjak dari tempatnya berdiri mengamati Seo Na, ia beralih ke samping gadis itu, sebelum Seo Na menyadari kehadirannya

Eo, Wajangnim. Kau lagi”. Ucap gadis itu dengan senyum manis ciri khasnya, tanpa aba-aba Dong Hae membalas senyuman manis itu, meskipun kini hatinya seperti terasa ditikam. Bagaimana gadis itu bisa memanggilnya Pangeran? Seo Na saat ini tak lebih terlihat seperti anak-anak yang sedang menggemari tokoh pangeran difim-film kartun.

“Park Seo Na, kau lapar?”. Tanya Dong Hae, Seo Na memutar tubuhnya kearah Dong Hae menatap wajah itu lekat.

“namaku Park Seo Na?”. Gadis itu balik bertanya, Dong Hae menangguk menatap manik mata Seo Na yang benar-benar terlihat sangat polos, tidak ada Seo Na yang dulu yang terlihat angkuh dan dingin, Seo Na yang didepannya saat ini adalah Seo Na yang mungkin pernah menjadi milik pria dimasa lalu gadis ini, Cho Kyu Hyun. Ah, Cho Kyu Hyun, Dong Hae teringat tentang pria itu. ia sudah meninggal tepat ditempat kejadian saat hari itu, ia memang tak mengatakan apa-apa pada Dong Hae tapi pria itu berharap Seo Na tak mengetahui tentang hal itu, itu hanya akan menambah sakit pada gadis itu bukan? Sudah cukup.

“hei, kau melamun. Apa kau sedang bersedih, sejak tadi kau menangis dan sekarang malah melamun, kau memikirkan seseorang?”. Suara Seo Na membuyarkan lamunan Dong Hae, pria itu tersenyum, menarik tubuh ramping gadis itu kedalam pelukannya, entah kenapa ia yakin satu-satunya yang bisa menenangkan pikirannya saat ini adalah dengan terus mendekap tubuh gadis itu.

“tidak, aku tidak bersedih”. Detik kemudan Dong Hae melepaskan pelukan mereka, mengenggam kedua tangan Seo Na menatap gadis itu lekat. “apa kau tidak mengingatku?”.

Seo Na memutar kedua matanya, lalu tersenyum kearah Dong Hae sambil menggelangkan kepalanya. ”tapi aku rasa kau adalah pangeran yang diutus untukku bukan?”. Ucapan gadis itu malah semakin menikam batinnya, bagaimana bisa semua ini terjadi pada Seo Na, haruskah ia mengembalikan ingatan gadis itu?

~~~000~~~

Yu Ra menyeruput teh hangatnya, mengalihkan pandangannya keluar jendela restoran itu, pikiran gadis itu kini entah melayang kemana, sudah 2 bulan ia tidak bertemu dengan Dong Hae, semenjak ia menemui pria itu dirumah sakit saat Dong Hae menjaga Seo Na disana. akhirnya pikiran gadis itu tertuju kembali pada Park Seo Na, gadis yang benar-benar dibencinya, gadis yang benar-benar hebat merubah nasib tiga orang pria dalam satu hentakkan. Tentu saja, gadis itu bisa membuat mantan kekasihnya Cho Kyu Hyun meninggal karena menyelamatkan dirinya, dan Ayah pria itu Tuan Cho yang dikabarkan sudah menyerahkan diri ke pihak berwajib karena merasa bersalah dan khasus tentang pembunuhan kedua orang tua Seo Na terungkap setelah Dong Hae kembali membuka khasus itu pada Pihak yang lebih berhak menanganinya, dan lagi tidak ada jalan lain bagi Pria tua itu untuk segera masuk dalam jeruji besi, tentu saja, bukankah orang-orang pesuruhnya itu salah sasaran, seharusnya Seo Na yang mati bukan? tapi yang menjadi korban saat itu adalah anak laki-laki satu-satunya itu, ditambah lagi nasib pria tampan Aiden Lee yang sudah memberikan semua waktunya untuk menjaga gadis itu, hingga ia berani memaki Yu Ra dan mengancam gadis itu jika ia berani melukai Seo Na-nya lagi, ‘Cih menjijikan!’. Umpat gadis itu dalam hati, ironis memang.

“sudah lama menunggu?”. Ucap seorang pria jakung kira-kira berumur 30 tahun, tapi jika dilihat dengan mata kepala pria itu benar-benar seperti anak remaja imut yang memang tidak pantas menyandang umurnya yang sekarang. Pria itu duduk dihadapan Yu Ra tanpa aba-aba terlebih dahulu dari gadis itu menaggalkan kaca matanya dan meletakkan di atas meja.

“akhirnya kau datang juga, aku kira aku harus menunggumu lebih lama lagi disini Kim Hee Chul-ssi”. Ucap gadis itu dingin, pria yang didepannya itu hanya terkekeh tak jelas melihat ekspresi gadis yang berada dihadapnnya itu.

“sudahlah Yu Ra-ya, berhenti berbicara formal pada Oppa-mu, kau mau kubuang ke gurun pasir ya, bukannya menyambut Oppa-mu yang tampan ini malah memakinya”. Yu Ra mencibir, kata-kata tampan itu tidak cocok untuk sepupunya tapi ia lebih cocok dikatakan cantik, karena wajahnya yang memang begitu mempesona dibanding lelaki kebanyakan.

“jadi di Amerika kau banyak menghabiskan waktu digurun pasir?”. Ejek gadis itu, yang hanya mengundang tawa lebih besar dari sepupunya itu. “Oppa, tidak bisa jika tidak tertawa seperti itu?”.

“baiklah, aku tau Mood mu sedang tidak bagus. Jadi apa yang membuatmu mengajakku bertemu disini, aku baru saja pulang dari Amerika aku belum istirahat sama sekali”. Yu Ra menyipitkan matanya, menendang pergelangan kaki pria itu dibawah meja, Hee Chul meringis kesakitan meskipun ia yakin tendangan gadis itu belum maksimal, biasanya Yu Ra akan meluncurkan serangan lebih ganas pada dirinya. “Ya! kau benar-benar mau ku kirim ke gurun pasir?”.

Yu Ra terkekeh, melihat eskpresi Hee Chul yang meringis sambil terus memakinya. “baiklah, berhenti bercanda. Maksudku menemuimu karena aku ingin meminta bantuan padamu Oppa”. Hee Chul menyipitkan matanya, sembelum mendengar penjelasan dari sepupunya itu.

~~~000~~~

“aku yakin kau bisa menyingkirkan dirinya dari Dong Hae-ssi, aku tidak mungkin membunuhnya, aku tidak sekeji dia. Dan kemarin aku mendapat berita jika gadis itu sudah sadar dan akan tinggal bersama Dong Hae. Aku hanya ingin Oppa memisahakan dia dari Dong Hae, hanya dengan membuatnya mencintaimu, lalu jika kau bosan kau boleh mendepaknya dari hidupmu, dan Dong Hae bisa jatuh ketanganku. Oppa, kau tidak mau bukan melihatku sengsara hanya karena gadis rendahan itu?”.

Pria itu memfokuskan dirinya kembali pada layar komputernya, baru saja ia mengingat kembali ucapan adik sepupunya tentang gadis yang dimaksud Yu Ra. Jika bukan karena melihat Yu Ra bahagia, dia tidak akan melakukan hal gila seamacam ini. Hee Chul paling enggan untuk bermain-main hal yang semacam ini, apa lagi soal wanita dan menyangkut hati, tapi bagaimanapun ia harus membantu adik sepupunya itu bukan? Lagi pula ini hanya sederhana, membuat gadis itu jatuh cinta padanya, dan suatu saat menyuruh gadis itu untuk melupakannya dan ia bisa kembali ke Amerika lagi.

“Park Seo Na, nama yang bagus dan juga cantik”. Gumam pria itu sambil memandangi selembar poto dengan seorang wanita yang tersenyum manis disana.

~~~000~~~

Dong Hae meletakkan beberapa makanan dimeja makan, ia tidak terlalu hebat dalam memasak tapi untuk yang kedua kalinya ia ingin membuat sarapan yang nikmat untuk penghuni baru dirumah mewahnya ini, sesekali ia melirik kearah gadis yang tengah duduk manis di meja makan sambil memegang sebuah benda berbentuk kotak bewarna putih yang menjadi kesukaannya akhir ini.

“tidak lelah bermain Game diponsel ku itu?”. ucap Dong Hae, tatapan gadis itu beralih ke Dong Hae ia hanya terkekeh sebantar lalu kembali asik dengan benda yang berada digenggamannya. ‘melihatmu seperti itu membuatku enggan untuk mengembalikan ingatanmu Seo Na-ssi’. Gumam Dong Hae, lalu pria itu membawa makanan didalam tampan menuju meja makan.

Eo, kau memasaknya untukku?”. Tanya gadis itu, lalu meletakkan asal ponsel Dong Hae yang sejak tadi ditangannya.

“tentu saja, makanlah yang banyak, bukankah kau lapar?”. Dong Hae tersenyum, Seo Na menarik sendok dari piringnya itu, ia tau cara makan yang baik, pengetahuannya tak terlalu terganggu, hanya beberapa yang terlupakan, namun kebiasaan sehari-hari, seperti makan, mandi, dan yang lainnya masih diingatnya dengan jelas.

“ini enak, aku menyukainya”. Racau gadis itu, yang hanya direspon senyum simpul dari Dong Hae. “hei, kau harus makan juga. Tubuhmu itu kurus, apa karena tidak makan?”. Tambah gadis itu lagi, tentu saja ia menjadi kurus, bukankah untuk sekedar makan saja rasanya Dong Hae tak sanggup mengingat gadis-nya saat itu masih tergolek lemah dirumah sakit.

“hum, aku juga akan makan banyak mulai sekarang”. Seo Na tersenyum mendangar ucapan gadis itu, meskipun ia tidak mengenal banyak tentang Dong Hae tapi ia yakin pria itu orang baik.

“aku akan menemanimu makan setiap hari, agar kau tidak menangis lagi Oppa”. Panggilan terakhir yang keluar dari bibir gadis itu sukses membuat semua perhatian Dong Hae tertuju padanya, Oppa? Selama ini ia bahkan tidak pernah mendengar Park Seo Na mengatakan hal itu padanya.

Keduanya cukup lama bungkam, Dong Hae sibuk dengan sarapannya dan tentu saja pikirannya yang terus menerawang kemana-mana, melihat Seo Na melahap makanannya hingga habis ia hanya tersenyum. Entalah, Seo Na-nya yang cantik dan seksi itu kini berubah menjadi Seo Na yang manis dan polos, dan panggilan yang baru saja diucapkan gadis itu untuknya kenapa terasa begitu menyakitkan, ia rindu dengan sapaan lembut gadis itu sebelum ia seperti ini.

Keduanya kini duduk diberanda belakang Rumah mewah milik Dong Hae, disini memang tidak ada siapapun, kecuali dirinya. Dong Hae memang sengaja membawa Seo Na tinggal bersamanya, agar ia bisa menjaga gadis itu dan lagi jika Seo Na dibiarkan tinggal di Apartemen yang sebelumnya ia yakin gadis itu bisa mengingat dengan jelas kejadian waktu itu, untuk saat ini ia tidak ingin melihat Seo Na menderita lagi.

Oppa, kenapa kau baik padaku? Kenapa kau mengajak ku kerumahmu? Apa aku tidak punya keluarga? Eum, apa kita, eum.. apa kita sudah menikah?”. Deretan pertanyaan itu terus saja keluar dari mulut Seo Na, berhasil mengalihkan perhatian Dong Hae yang sejak tadi memandangi kolam ikan dihadapannya.

Dong Hae bungkam, keduanya kini sama-sama berhadapan. “Oppa, kau belum menjawab pertanyaanku, apa kita sudah menikah?”.

Dong Hae menarik gadis itu kedalam pelukkannya, membiarkan semua rasa sakitnya tersalurkan begitu saja. Entahlah, untuk saat ini ia tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang keluar dari mulut gadis itu, bukan ia tidak tau jawaban atas semua pertanyaan itu tapi yang terlebih rasa sakit yang ditimbulkan oleh pertanyaan Seo Na. ‘kau tidak memiliki orang tua lagi Seo Na-ya, aku mencintaimu, aku menginginkanmu terus bersamaku, karena itu kau berada disini, dan apa kita sudah menikah? Tidak, kita belum menikah, tapi aku akan segera menikahimu setelah ingatanmu kembali pulih, Seo Na kenapa lidahku begitu kelu untuk mengatakan hal itu, aku takut kau mengingat semuanya, aku takut kau membenciku’. Gumam pria itu dalam hatinya, dengan terus memeluk Seo Na seperti ini rasanya dunianya lebih nyaman dari sebelumnya.

“Oppa… kau siapa? Kenapa tubuhku seperti merindukan pelukanmu? Siapa aku sebenarnya?”.

~~~000~~~

Seo Na meringkuk dibawah selimutnya, membiarkan seluruh tubuhnya terbungkus oleh selimut tebal bewarna putih, entah kenapa sinar mentari tidak terlalu mengganggu tidurnya. Sesekali gadis itu berbalik kekiri dan kekanan mencari tempat yang nyaman, tapi tetap saja sinar mentari yang menembus jendela kamarnya sukses membuatnya terjaga, meski pada awalnya itu tidak jadi masalah.

“baiklah, Park Seo Na. Ayo bangun, ini sudah pagi”. Ucap gadis itu pada dirinya sendiri, ia keluar dari dalam persembunyiannya didalam selimut, beringsut keluar dari kamar mengenakkan baju tidur dengan sendal rumah berbentuk panda.

Seo Na memperhatikan sekitarnya, tidak ada seorangpun, tidak ada Dong Hae disana, tidak ada siapapun. Mungkin saja pria itu sudah berangkat bekerja, bukankah sepertinya di pria yang sangat sibuk, pikir gadis itu lalu ia berjalan menuju meja makan, duduk disana sambil menatap sarapan yang sudah disiapkan pria itu diatas meja, Seo Na tersenyum, menopang dagunya dengan kedua tangan, terus menatap sarapan itu tanpa menyentuhnya. Entah apa yang ia rasakan saat ini, Dong Hae seperti malaikat yang terus menjaganya, tapi sampai sekarang ia belum tau kenapa pria itu begitu baik padanya, ia juga tidak pernah memberikan jawaban atas pertanyaan gadis itu, Seo Na yakin, Dong Hae adalah kekasihnya, bahkan gadis itu merasakan Dong Hae memperlakukannya dengan sangat istimewa, tapi bagaimana dengan keluarganya, bukankah Seo Na tidak ingat apa-apa? Apa yang terjadi dimasa lalu? kenapa ia bisa terbangun dirumah sakit waktu itu?

Gadis itu melahap semua sarapan yang berada diatas meja makan, bukankah Dong Hae sudah menyiapkan semua ini untuknya, ia tidak mungkin membiarkan sarapan yang disiapkan lelaki tampan itu terbuang sia-sia, lagi pula Seo Na juga sedang merasakan lapar yang sangat hebat. Gadis itu beringsut kekamar mandi, membersihkan dirinya, mungkin ia bisa melakukan suatu aktifitas diluar, berjalan-jalan misalnya, tidak mungkin ia terus seperti ini, terus hidup dalam keadaan amnesia, tanpa mengingat dengan jelas masa lalunya, menyedihkan bukan?

~~~000~~~

Hee Chul meletakkan beberapa dokumen kerjanya diatas meja, meskipun pria itu sedang berlibur ke Seoul tetap saja ia membawa beberapa berkas kerjanya, setidaknya ia bisa menyelesaikan beberapa masalah dikantornya di Amerika. Pria itu sengaja menyewa apartemen di sekitar Gangnam, ia tau tempat ini adalah tempat yang cukup elitte, terlihat dari apartemen yang ia sewa untuk beberapa bulan kedepan. Hee Chul memang tidak memiliki hunian lagi di Seoul, keluarga besarnya memang sudah lama menetap di Amerika, karena itu ia memilih menyewa Apartemen, apartemen yang ia sewa ini juga tidak jelas lagi statusnya, karena beberapa bulan yang lalu ada seorang wanita yang menyewa apartemen ini, tapi sebelum pemutusan kontrak, gadis itu menghilang tanpa ada kabar sama sekali, sehingga kepemilikannya dicabut secara sepihak oleh pemilik gedung apartemen mewah ini, lagi pula ada kejadian yang cukup menjadi kontrofersi dengan gadis itu digedung apartemen ini, dan itu membuat pemilik apartemen tidak akan menerima apapun lagi jika gadis itu kembali keapartemen yang disewanya.

Hee Chul memang tidak terlalu peduli dengan gadis itu, siapapun dia yang penting ia bisa berlibur dengan damai di Seoul, lagi pula ia juga harus membantu Yu Ra bukan, adik sepupunya yang egois dan cerewet itu bisa saja menghabisinya jika ia tidak mengabulkan permintaannya, lagi pula Hee Chul tidak memiliki adik, jadi memiliki sepupu satu-satunya seperti Yu Ra sangat menyenangkan baginya.

“astaga, gadis itu benar-benar! Bagaimana aku bisa bertemu dengan gadis itu jika ia tidak memberi tahu alamat atau sesuatu yang bisa ku hubungi, percuma saja dia hanya memberiku foto seperti ini, memangnya Seoul ini kecil, seenaknya saja dia menyuruhku mencari gadis seperti ini, Yu Ra gila”. Dengus Hee Chul, sambil melempar selembar poto yang sejak tadi berada ditangannya. Yu Ra tidak memberi tau apapun tentang alamat atau nomor ponsel yang bisa dihubungi, ya sekedar mencari tahu dimana gadis itu sekarang atau sedang dengan siapa.

“Ya Sudalah, aku bisa gila memikirkan hal-hal semacam ini”. Hee Chul meyambar kunci mobilnya di atas meja, setidaknya tempat-tempat yang menyenangkan bisa ia kunjungi disini sekedar menenangkan pikirannya yang sudah berbelit karena pekerjaan selama ini.

~~~000~~~

Pria itu sibuk dengan beberapa berkas dimejanya, tampak beberapa berkas sudah menggunung disana, akibat beberapa minggu ini ia tidak terlalu peduli dengan semua aktifitasnya dikantor, tentu saja pria itu sibuk mengurus Seo Na, merawat gadis itu hingga ia sadar, meskipun pada akhirnya gadis itu tidak mengingatnya, siapapun yang ada didalam hidupnya. Suara ponsel pria itu seketika berdering, menghentikkan sejenak pekerjaannya.

Hum, Eomma”. Ucap pria itu setelah menyentuh warna hijau pada layar ponsel sentuhnya, suara seorang wanita menyambut disana, dan ia sangat merindukan pemilik suara itu.

“bagaimana kabarmu? Apa semua baik-baik saja?”. Tanya wanita itu, Dong Hae tersenyum, disaat seperti ini seharusnya ia yang bertanya pada ibunya, dan mengunjung wanita itu sesegera mungkin ke Mokpo tempat kelahiranya.

Ne Eomma, aku baik-baik saja. Seharusnya aku yang mengkhawatirkan Eomma”. Tandas pria itu, terdengar suara keke-han dari seberang sana.

Ya! anak nakal, aku tau kau sedang banyak masalah, aku dengar kantormu tidak mempunyai bos beberapa minggu ini, Waeyeo? Apakah keadaan gadis-mu itu masih memprihatinkan?”. Dong Hae tersenyum mendengar ocehan wanita yang berjasa bagi hidupnya itu, sejak Ayahnya meninggal satu-satunya yang berharga bagi Dong Hae adalah ibunya.

“dia sudah sehat, tapi keadaanya tidak terlalu baik”. terdengar nada melemah diakhir kalimat pria itu.

Wae? Apa dia masih membencimu?”. Tanya wanita paruh baya itu khawatir, selama ini Dong Hae sudah menceritakan apa yang sudah terjadi dengan dirinya bersama Seo Na, ia juga mengatakan tentang masalah dan semua yang terjadi dengan gadis itu, dan tentang perasaannya terhadap Seo Na.

“Seo Na hilang ingatan, dia tidak mengingatku, tidak mengingat siapapun, keluarganya, masa lalunya, dan juga pria yang telah memberikannya nyawanya demi menlindungi Seo Na, aku tidak tau aku harus bagaimana Eomma, tapi aku takut jika Seo Na mengingat semua itu, aku takut ia pergi dariku, dan membenciku, seperti apa yang ia ucapkan terakhir kali saat aku bertemu dengannya sebelum ia tidak sadarkan diri”. Terdengar suara mengehela napas diseberang sana, Ibu Dong Hae sangat mengerti posisi anaknya itu saat ini.

“jadi, kau tidak ingin mengembalikan ingatannya lagi? Apa itu terdengar sedikit egois Dong Hae-ya?”. Dong Hae menarik napasnya, mengehembuskannya kasar. Tentu saja ia egois, tapi bagaimana jika gadis itu tau semuanya, bagaimana jika ia harus kehilangan Seo Na untuk yang kedua kalinya, lalu gadis itu akan tersiksa lagi bukan jika ia harus mengingat deretan penderitaannya.

“aku mengerti apa yang kau rasakan Hae-ya, tapi jika kau membiarkan gadis itu terus hidup dalam keadaan seperti ini, maka kau akan menjadi satu-satunya orang yang akan disalahkan. Jika ia benar-benar mencintaimu dimasa lalu, ia tidak akan membencimu, kau tidak bisa memaksakan orang lain mencintaimu, akhirnya ia yang akan terluka karenamu”. Deretan-deretan kalimat yang keluar dari mulut Ibunya itu memang benar, ia semestinya tidak harus seperti ini, lambat laun Seo Na pasti mengetahui siapa dirinya, dan ia harus siap kehilangan gadis itu.

“baiklah, aku hanya tidak ingin urusan pribadimu kau bawa-bawa kekantor, Eomma hanya ingin kau bahagia Hae-ya, pikirkan baik-baik ucapan Eomma”. Dong Hae menutup sambungan teleponnya, setelah keduanya saling mengucapkan salam. Dong Hae menghempaskan tubuhnya disandaran kursi kerjanya, seketika otak pria itu dipaksa bekerja untuk memikirka kelanjutan kisah cintanya bersama Seo Na, dan ini benar-benar membuatnya merasakan rasa sakit, kehilang Seo Na? Lagi?

~~~000~~~

Angin sedikit menganggu juntaian dressnya, gadis itu sedikit memperbaiki letak dress-nya itu. Gadis dengan dress putih selitut bewarna cream Soft kini tengah berjalan-jalan ditengah hiruk pikuk kota Seoul, ia tidak tau harus pergi kemana tapi jika ia terus tinggal dirumah mewah milik Dong Hae ia akan lebih merasakan bosan yang luar biasa, lagi pula Dong Hae juga tidak ada dirumah. Gadis itu membetulakan letak tas tangan mungilnya bewarna pink, meletakkan benda kecil itu didepan tubuhnya sambil terus berjalan memandangi sekitaran kota Seoul, ia yakin dulu ia sering berjalan-jalan seperti ini, atau sekedar bersenda gurau bersama Dong Hae, ia yakin ia dulu sering menghabiskan waktunya dengan pria itu, ya meskipun pada kenyataannya perkiraannya tak semanis itu tentang masa lalunya.

Seo Na mengenggam tali tas nya dengan kedua tangan, ia tidak tau harus kemana, tapi yang jelas hari ini ia ingin menghabiskan waktu berjalan-jalan, ia tidak lupa jalan pulang.

”hanya lurus, lalu belok, atau belok lalu lurus?”. Seo Na mengacak poninya, gadis itu lupa, lupa jalan pulang dan ia yakin kali ini ai tersesat. Tapi ia bisa bertanya pada orang-orang bukan? Tapi tidak mungkin orang tau dimana tempat tinggalnya.

“ah, Oppa memberikanku ini, ini akan berdering jika ia mencariku”. Ucap gadis itu sambil mengeluarkan ponsel ditasnya, lalu ia kembali melanjutkan perjalannya lagi.

Ia sampai disebuah taman bermain, disana dipenuhi oleh beberapa keluarga dan anak-anak kecil yang ia yakini sedang menikmati kebersamannya bersama orang tua mereka. “kenapa Appa dan Eomma tak mengunjungiku? Ah, mungkin mereka mempercayaiku untuk tinggal bersama Aiden Oppa”. Ucap gadis itu meyakinkan dirinya. Seo Na duduk dideretan kursi kayu yang langsung mengarah kedanau, gadis itu menikmati pemandangan danau yang airnya tidak terlalu jernih, ditengah danau ditumbuhi beberapa bunga teratai yang terlihat indah dipandang matanya.

“itu warna merah muda bukan? Dan itu warna merah”. Ucapnya sambil menunjuk bunga-bunga teratai yang tubuh ditengah danau dengan berbagai macam warna, ia sesekali terkekeh melihat anak-anak kecil yang bermain disekitarnya, sampai ada seorang anak laki-laki yang datang padanya, menodongnyakan pistol mainan kearah Seo Na.

DEG!

Seo Na mendelik kaget, ketika anak laki-laki itu tiba-tiba mengacungkan pistol air kearahnya, seperti ada darah yang tiba-tiba naik keatas kepalanya, memutar memori otaknya tentang sesuatu, dan semua berputar seakan ia merasakan suara tembakkan begitu keras ditelinganya, gadis itu melemah, sesuatu berhasil ia ingat, sampai tubuhnya oleh kekiri, sampai seorang pria jakung menggoyang tubuhnya, dan semua terasa gelap.

 

To Be Continue

 

~~~000~~~

 

TEARS ARE FALLING (3/?)

Standard

image

TEARS ARE FALLING (3/?)

Action, romance.

PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast

“Haruskah kau menangis ? itu akan melukaiku

Tanpamu aku akan mati

Hatiku menangis, hatiku menangis.. karena ingin mencintai satu orang”

( Love is Craying – K.Will )

Yu Ra mengapit tas tangannya, tas tangan bahan kulit yang mungkin harganya bisa terdengar ‘Wah’. Gadis itu membetulkan anak-anak rambutnya yang tergerai di dahinya yang indah, siapa yang tidak terpesona dengan sosok cantik dan seksi seperti Jung Yu Ra, semua pria pasti meliriknya, atau malah berpikiran kotor dengan gadis itu, mungkin keduanya.

Detik berikutnya gadis itu sudah berada dilantai tempat ruangan kerja pria yang kini tengah menjadi tujuannya untuk datang ke gedung perusahaan mewah JL company ini, sesekali tersenyum sinis pada karyawan yang menatapnya asing, seakaan mata gadis itu mengatakan ‘ini aku Jung Yu Ra, kekasih sebenarnya Aiden Lee, bukan Park Seo Na gadis tak jelas itu’. tapi pada kenyataannya Nol besar.

“apa aku bisa bertemu dengan Aiden-ssi? Katakan Jung Yu Ra temannya ingin bertemu”. Ucap gadis itu pada seorang resepsionis disamping ruang kerja Dong Hae, gadis itu mengangkat ganggang telepon sebentar, berbicara beberapa kata yang tidak terlalu dipedulikan Yu Ra, beberapa detik kemudian wanita itu segera menyuruh Yu Ra langsung saja masuk ke ruang kerja Dong Hae.
Yu Ra membuka pintu ruang kerja Dong Hae, ia menatap pria itu tengah sibuk dimeja kerjanya, banyak tumpukan kertas putih disana dan Yu Ra yakin itu adalah dokumen –dokumen penting yang akan menghasilkan uang. senyum gadis itu menyeringai ketika Dong Hae menangkap sosoknya yang kini sudah berada didalam ruangan kerja Pria itu.

“Jung Yu Ra-ssi, apa kabar? Duduklah”. Tawar pria itu, Yu Ra segera duduk tepat di sofa-sofa yang disusun cantik didepan meja kerja Dong Hae.

“kabarku baik Dong Hae-ssi, bagaimana denganmu?”. Tanya Yu Ra basa-basi, dan entah kenapa gadis itu malah terkesan sok kenal dan sok akrab dengan Dong Hae.

“tidak terlalu baik, banyak pekerjaan yang menumpuk dan itu sedikit membuatku lelah”. Jawab pria itu seadanya, Yu Ra hanya tersenyum-senyum tak karuan. “kalau boleh tau apa keperluan mu datang kemari Jung Yu Ra?”.

Yu Ra sedikit kelabakan dengan pertanyaan pria itu, sejujurnya gadis itu memang tidak punya keperluan apapun dengan Dong Hae selain ingin mengetahui tentang gadis-Dong Hae yang bernama Park Seo Na itu.  “aku hanya ingin mengajakmu makan siang, karena aku tidak mempunyai nomor ponselmu aku sengaja mampir, lagi pula ini sudah waktunya jam makan siang bukan?”. Tawar gadis itu, Dong Hae menimbang-nimbang.
Dong Hae memang pria tampan yang memiliki pesona yang bisa memikiat para wanita, tapi ia juga tidak suka jika wanita yang tak ia sukai malah terlalu menggoda atau semacamnya, dan ini tidak ia rasakan terhadap Park Seo Na, jika dengan gadis itu ia malah merasa sangat nyaman, jikapun Seo Na merayu atau menggodanya itu malah hanya akan membuatnya semakin mabuk karena pesona yang ada didiri gadis itu, ya kenyataannya memang Yu Ra tidak kalah cantik dari Seo Na tapi tetap saja, rasa suka tidak bisa dipaksakan bukan?

“baiklah, aku rasa tidak ada salahnya”. Ucap pria itu pada akhirnya, ia harap ini untuk yang terkhir kalinya ia meladeni Yu Ra, meskipun gadis itu adalah teman baik Ayahnya dan Yu Ra adalah teman masa kecilnya tetap saja ia tak merasakan apa-apa pada gadis itu, biasa saja.

Disisi lain Yu Ra berteriak girang dalam hatinya, akhirnya ia bisa makan siang bersama Presdir perusahaan terkenal, kapan lagi bisa berjalan bersama pria itu.

‘mana tau para wartawan mengumumkan di surat kabar jika aku adalah kekasih Lee Dong Hae’. pekik gadis itu dalam hatinya. Ingin Yu Ra seperti itu, namun sayang kenyataanya tak begitu.

~~~000~~~

“ini sudah hari keberapa?”. Ucap gadis itu, lalu mendekati kalender yang tergantung persis disamping lemari pendingin, meneguk segelas susu dingin yang baru saja ia ambil dari dalam lemari pendingin. “tinggal 5 hari lagi? Sial!”. Racau gadis itu, ia sama sekali belum menyentuh Dong Hae, menyentuh? Ia menyentuh, tapi tak menyakiti pria itu sama sekali bahkan ia malah melakukan hal-hal yang bisa menimbulkan perasaan aneh antara keduanya.

Tangannya menimang-nimang ponsel lipatnya, hari ini ia ingin bertemu sekali dengan Dong Hae. ‘apa aku yang harus menghubunginya duluan?’ fikir gadis itu, setelah beberapa detik berfikir ia menekan bebera nomor diponselnya, mendekatkan benda itu ketelinganya hingga ia mendengar bunyi ‘dip’ dari ujung sana, entah kenapa tiba-tiba jantung gadis itu berdebar tak karuan.

“yeobseyeo, Aiden-ssi?”. Ucap gadis itu sedikit gugup, terdengar suara berat yang entah mengapa menjadi candu baginya akhir-akhir ini. “Eum, apa kau ada waktu, aku ingin bertemu denganmu”. Ucap Seo Na, beberada detik berikutnya ia tersenyum lalu menutup flat ponsel lipatnya.

“tentu saja, aku akan menjemputmu”. Kata-kata itu sederhana, tapi sukses membuatku tersenyum-senyum seperti orang sinting.

~~~000~~~

Dong Hae memasukkan potongan stik daging sapi itu kedalam mulutnya, ia konsen dengan makan siangnya kali ini walaupun sesekali gadis yang didepannya ini berdeham tanda ingin diperhatikan. ‘cih, menjinjikan sekali’. Umpat Dong Hae.

“sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu Dong Hae-ssi”. Ucap Yu Ra membunuh keheningan diantara keduanya, sebenarnya direstoran bergaya minimalis ini tidak terlalu hening karena diujung ruangan ada pemain piano yang memainkan melodi-melodi indah yang cukup menengkan.

Dong Hae mengalihkan pandangannya kearah gadis itu, menunggu gadis itu mengucapkan pertanyaan yang mungkin tidak terlalu penting baginya.
“apa kau punya hubungan serius dengan Park Seo Na?”.

Pertanyaan yang baru saja di ucapkan Yu Ra sukses membuat Dong Hae berdelik kaget, bagaimana gadis itu tau tentang Seo Na-nya? Pikir pria itu.
Dong Hae kembali menormalkan mimik wajahnya, menatap tenang gadis yang berada dihadapannya ini. “tentu saja, dia teman wanita spesialku”. Alih-alih menjawab pertanyaan gadis itu, 2 manfaat sudah didapatkan Dong Hae dari jawaban yang menggelikan baginya itu, yang pertama Yu Ra tidak akan menganggunya lagi, dan yang kedua sebenarnya itu adalah keinginanya karena kenyataannya Seo Na hanya teman, teman spesial? Entalah .

“seberapa jauh? Eum.. maksudku apa kalian sudah lama memiliki hubungan ini?”. pertanyaan Yu Ra memang terkesan ingin tau, tapi Dong Hae maklum akan hal itu, ia tau Yu Ra menaruh hati padanya, bukan Dong Hae terlalu percaya diri tapi dari gerak gerik gadis itu ia yakin Yu Ra menyukainya, jadi wajar saja Yu Ra tak terima jika pria tampan itu menjalin hubungan dengan gadis lain.

“tidak terlalu jauh, aku baru mengenalnya seminggu lebih, tapi hebatnya dia membuatku nyaman, bagaimana hebat bukan gadis itu?”. Dong Hae tertawa terbahak-bahak dalam hatinya setelah mengatakan hal itu pada Yu Ra, karena ekspresi wajah gadis itu kini berubah berkerut dimana-mana.

“Eum , kurasa begitu”. Ucap Yu Ra tak minat, dan itu semakin membuatnya membenci sosok yang belum dikenalnya itu tapi demi Tuhan gadis itu tidak terima, ia akan melakukan hal gila sesuka yang ia mau, bukankah Dong Hae harus jadi miliknya, ya memang terdengar egois dan brengsek.

Keduanya sama-sama fokus lagi pada makan siang mereka, sebenarnya Yu Ra tidak berselera lagi apa lagi sejak pengakuan blak-blakan  Dong Hae tentang hubungannya dengan Seo Na.

Tak lama, ponsel Dong Hae berdering, pria itu meletakkan pisau dan garpunya di atas piring mengambil ponselnya yang disimpan didalam saku jasnya, yang aneh pria itu malah tersenyum ketika melihat layar telepon genggamnya itu, Yu Ra bertanya-tanya namun gadis itu sepertinya harus menahan rasa penasarannya karena Dong Hae tersenyum seperti orang gila pada benda mati yang berdering itu dan ia segera menjawabnya.
 

“Ne, ada yang bisa ku bantu Nona Park?”. Terdengar nada menggoda dari pria itu, Yu Ra menyipitkan matanya. ‘Nona Park? Park Seo Na?’. Gumam gadis itu semakin penasaran.

“tentu saja, aku akan menjemputmu”. Dong Hae menutup sambungan teleponnya, masih tersisa raut wajah bahagia setelah pria itu menerima telepon barusan.

“Yu Ra-ssi, aku harus segera bertemu dengan seseorang, sepertinya aku tidak bisa menemanimu hingga kau selesai makan. Maafkan aku”. Ucap Dong Hae memasang tampang sedikit kecewa, meskipun nyatanya hati pria itu kini tengah meloncat-loncat gembira. Setelah mendapat persetujuan dan anggukan dari Yu Ra Dong Hae melesat secepat mungkin menuju apartemen gadis yang kini tengah ia rindukan? Benar-benar seperti orang yang sedang dimabuk cinta.

~~~000~~~

Seo Na tersenyum ketika ia mendengar suara bel yang ia yakin bersumber dari pintu apartemennya, memang seperti yang ia duga, pria tampan itu tidak akan membiarkannya menunggu lama, hanya butuh beberapa menit untuknya dan kini ia sudah berada didepan pintu apartemen Seo Na, dengan senyum manisnya, astaga senyum itu hampir membuat Seo Na ingin mencium pria itu, lagi?
“apa kau mengendarai mobil mewahmu dengan sekali hentakkan gas?”. Goda Seo Na, setelah ia membuka sedikit lebar pintu apartemennya dan mempersilahkan pria itu duduk disofa beludru bewarna soft pink itu.

“menurutmu bagaimana?”. Seo Na memutar bola matanya, membuat pria yang bertanya padanya itu malah terkekeh geli. “aku sudah disini, bukankah kau ingin bertemu denganku?”.

Seo Na tersenyum simpul, ia segera kebelakang mengambil segelas Orange juice dan membawakannya kehadapan Dong Hae. “hanya untuk Orange Juice ini?”. ucap Dong Hae menggoda, dan itu berhasil membuat gadis yang didepannya ini menyiptkan matanya, sedikit menggembungkan pipinya, persis seperti anak kecil yang tidak mendapat hadiah dihari ulang tahunnya, dan gadis ini imut sekali.

“bukan itu, Aiden-ssi. Aku ingin berbicara banyak padamu, ini tentang.. eum.. aku sudah memikirkannya”. Seo Na terdiam ia tidak melanjutkan kata-katanya.

“hei, memikirkan apa? Memikirkan aku?”. Goda pria itu lagi, Dong Hae berjalan kearah Seo Na menarik gadis itu kedalam pelukkannya, entah apa yang membuat Dong Hae begitu ingin memeluk gadis itu, entahlah untuk kali ini ia mengaku kalah, sungguh ia tidak sanggup membunuh wanita ini, awalnya Seo Na memang begitu angkuh dan dingin tapi kali ini gadis itu tidak ubahnya seperti gadis yang akan rapuh dengan satu kali pukulan saja. Seo Na begini hanya karena pilihan hidup yang menyedihkan, Ironis memang.

“aku merindukanmu, lagi dan lagi. Kadang aku berpikir aku bisa gila jika sehari tidak melihatmu Park Seo Na, aku bersungguh-sungguh”. Dong Hae semakin mempererat pelukannya dengan Seo Na, dengan jarak yang sedekat ini ia bisa merasakan bau aroma khas dari tubuh gadis itu, ia yakin Seo Na memakai wewangian lavender, menenangkan sungguh.

“aku juga”. Dua kata yang keluar dari mulut Seo Na terdengar tulus dan tidak mengada-ngada, kata-kata sederhana yang bisa membalikkan semua ucapan Dong Hae, tergambar dari ucapan itu bahwa Seo Na benar-benar tulus. “Aiden-ssi, maafkan aku”.

“untuk apa?”. Pria itu balik bertanya, posisi mereka belum berubah, kini tangan Seo Na yang melingkar ditubuh Dong Hae.

“untuk semuanya, aku minta maaf sudah merepotkanmu”. Seo Na menghentikan ucapannya sejenak, Dong Hae terdiam, pria itu tidak ingin banyak bicara, pelukan ini terlalu nyaman baginya. “dan terimakasih untuk waktumu selama ini”. ucapan yang terkhir itu membuat Dong Hae merenggangkan pelukan mereka, menatap mata Seo Na yang ternyata sudah dipenuhi tumpukan air mata, jika gadis itu berkata lagi ia yakin pipi gadis itu akan dibanjiri air mata. Dan sialnya, wajah Seo Na yang seperti itu membuat Dong Hae merasa ingin mati saja, tidak sanggup melihat gadis itu sengsara, sungguh.

“hei, kenapa menangis? Apa ada yang sakit?”. Pria itu khawatir, tentu saja. Tiba-tiba gadis itu menangis tanpa alasan, tapi Dong Hae merasakan jika Seo Na memang sedang memikirkan satu hal. ‘tentang gadis itu yang akan membunuhnya?’ tidak mungkin, Seo Na tidak sebejat itu.
Seo Na menggeleng lemah, ia tidak merasakan sakit pada raganya, tapi jiwanya. Semua memori nya dimasa lalu berputar begitu saja, tiba-tiba ia merindukan kedua orang tuanya, kedua adiknya yang berada di Paris, dan juga pria yang pernah begitu berharga baginya, Cho Kyu Hyun. Mereka mencintai Seo Na bukan? Meskipun Kyu Hyun pernah meninggalkannya tapi masalah ia dengan Kyu Hyun bukankah sudah dijelaskan pria itu jika ia tidak sepenuhnya bersalah dan meminta Seo Na untuk menghentikan semua kejahatannya ini. dan itu yang menjadi beban pikirannya.

“Aiden-ssi, kau harus bahagia”. Ucapan yang keluar dari mulut Seo Na memang terdengar begitu aneh, Dong Hae tak tau pasti apakah gadis itu meracau atau tidak yang jelas ucapan gadis itu sukses membuatnya bingung setengah mati, ditambah lagi tangis tanpa isakannya yang membuat hati Dong Hae begitu teriris.

“hei, kau kenapa? Jangan mengatakan yang tidak-tidak. Aku akan bahagia bersamamu”.
‘hanya kau saja Aiden Lee, aku tidak. Seharusnya aku harus membayar semua kejahatan ku selama ini dengan nyawaku, aku hanya meminta untuk menjaga Seo Jin dan Seo Min bila perlu nikahi salah satu adik ku itu, aku yang akan mengorbanku jiwaku, aku sudah memikirkannya, Kyu Hyuh benar. Aku harus menghentikan semua ini’. Seo Na meracau tanpa mengeluarkan suara, ia terus mengutuk dalam hatinya, ia yakin ini yang terbaik, tapi bagaimana perasaannya ke Dong Hae, ia mencintai laki-laki itu bukan?

“apa pria masa lalu mu itu melukaimu lagi?”. Pertanyaan Dong Hae seperti tertahan, ia takut jika gadis itu menangis tak karuan mengingat tentang kekasihnya itu, pikir Dong Hae.
“aku sudah bertemu dengannya, beberapa hari yang lalu. saat aku menangis waktu itu, saat itu aku baru saja bertemu dengannya”.

‘”lalu?”. ucap Dong Hae tak sabar. ‘kau mencintainya lagi?’ pertanyaan itu yang ingin ia tanyakan, tapi tidak mungkin ia menanyakan hal itu, disaat gadis itu sedang rapuh seperti ini.

“ia hanya mengatakan jika semua ini bukan sepenuhnya kesalahannya, Ayahnya yang menyuruhnya untuk segera ke Jepang dihari yang sama saat Ayah dan Ibu meninggal”. Dong Hae melihat tangis tertahan ketika gadis itu mengucapkan kata-kata menyakitkan diakhir kalimatnya. Ia tau, pasti ini sangat berat bagi Seo Na.

“hanya itu?”. tanya Dong Hae lagi, tapi Seo Na bungkam. Gadis itu beranjak dari hadapan Dong Hae yang dari tadi menelungkupkan telapak tangannya diwajah gadis itu.
Dong Hae mengikutinya dari belakang, ternyata gadis itu kebalkon rumahnya. “Aiden-ssi, aku tidak tau sejak kapan aku merasakan perasaan tidak normal ini lagi, terkahir ketika aku begitu menggebu-gebu mencintai sosok Kyu Hyun, dan aku merasakannya lagi beberapa hari belakangan ini, aku pikir aku tidak akan terjerat dalam pesona pria itu, tapi aku salah aku malah mabuk dibuatnya, aku sampai berani menciumnya tanpa izin, aku seperti gadis murahan didepannya”. Seo Na tidak tau kapan tubuhnya kembali masuk kedalam dekapan Dong Hae, sepertinya setelah kata-kata terakhir tadi yang ia ucapkan, entalah Seo Na memang benar-benar hancur sekarang, ia mulai berpikir hidupnya berjalan tidak normal selama ini.

Seo Na tersenyum miris, tetap dengan air matanya yang terus mengalir. “Aiden-ssi, aku suka ketika aku melihat matamu, aku melihat lautan yang luas disana. dan yang paling kusuka adalah pelukan hangatmu, sudah lama sekali sejak Ayah tidak memelukku dan terkahir pelukan Kyu Hyun aku tidak pernah lagi merasakan hangatnya pelukan orang yang kucintai dan setelah mereka aku menyukai pelukanmu, aku benar-benar gila sekarang”. Erang Seo Na, gadis itu mengigit bibir bawahnya, ia ingin tersenyum tapi sungguh untuk berbicarapun ia susah payah melakukannya.

“aku akan memelukmu sampai kapanpun Seo Na-ssi, aku tidak kalah hancur jika melihatmu terus begini, aku tidak tau apa yang membuatmu begini tapi untukmu aku akan melakukan semua hal, termasuk nyawaku. Aku tau kau punya alasan untuk semua kesalahanmu yang tidak ku tau”. Bohong, Dong Hae berbohong. Ia tau jika Seo Na adalah pembunuh bayaran suruhan pesaing bisnisnya Tuan Cho, ia juga tau bagaimana gadis itu selama ini membunuh banyak orang dan kali ini ia menutup semua pikiran-pikiran negatif tentang gadis itu.

‘tidak, aku yang akan mengorbankan nyawaku untukmu Aiden Lee, dan untuk menebus semua dosaku selama ini’

~~~000~~~

Kyu Hyun menghembuskan napasnya kasar, menghempaskan tubuhnya di atas kursi putar di Ruang kerjanya, berkali-kali ia menatap ponselnya gusar pria itu beberapa hari ini menunggu gadis itu memberikannya keputusan yang tepat. Entalah, meskipun Seo Na tak berjanji apa-apa padanya tapi ia percaya gadis itu pasti sudah memikirkan ucapannya saat bertemu terkahir kali dengan gadis itu. ditambah lagi ancaman Ayahnya tentang rencana membunuh gadis itu, tentu saja itu hampir membuatnya gila.

Kyu Hyun menutup matanya, sejenak ingin melupakan masalah yang hampir membuat kepalanya meledak, tapi tetap saja gagal, didalam pikirannya saat ini hanya bagaimana tentang -gadis selai kacang- kesayangannya. Bagaimana jika gadis itu benar-benar terbunuh? Bagaimana dengan kesalahannya kepada Seo Na selama ini? Kyu Hyun sadar, dialah yang membuat Seo Na berubah menjadi gadis pembunuh, seharusnya waktu itu ia bisa menahan keinginan egois Ayahnya untuk mengirim ia ke Jepang, tapi kini bagaimana? Semua sudah terlanjur, tidak ada Seo Na-nya yang dulu, tapi bagaimanapun ia tetap akan membawa gadis itu menjauh dari semua ini, ia tidak ingin kehilangan Seo Na untuk yang kedua kalinya. Tak lama pria itu asik dengan pikirannya, lamunannya tersadar karena dering ponsel yang tidak begitu jauh dari jangkauannya, tertera jelas di layar ponselnya nama seseorang yang memang ia inginkan saat ini. ‘Park Seo Na’.

“Kyu Hyun-ssi, kau dimana? Bisakah kedanau sekarang, ku mohon, aku membutuhkanmu”. Hanya kata-kata itu yang terdengar dari ujung sana, sebelum gadis itu menutup sambungan telepon mereka, memang terkesan terburu-buru, suara gadis itu juga terdengar bergetar dan tertahan.

“Seo Na-ya, apa yang terjadi?”. Ucap pria itu sebelum ia melesat ketempat yang menjadi tujuan utamanya saat ini.

~~~000~~~

“terdengar licik sekali Nona Park”. Yu Ra menangkat dagunya, ia hampir ingin menjambak gadis yang kini tengah berdiri melipat tangannya di dada, dari air mukanya gadis itu benar-benar terlihat angkuh dan dingin.

Yu Ra sengaja bertemu dengan Seo Na di Cafe Shop yang tidak terlalu jauh dari apartemen Seo Na, entah dari mana gadis itu mendapatkan nomor ponsel Seo Na dan berani mengajak gadis itu untuk bertemu hanya untuk membicarakan ketidak sukaannya terhadap gadis itu. tentu saja ia tidak suka, bukankah Dong Hae adalah incarannya dan sekarang terang-terang pria itu mengakui mempunyai kedekatan khusus dengan gadis yang berada didepannya ini.

“licik? Menurutmu begitu?”. Akhirnya gadis itu bersuara, Seo Na tertawa angkuh ketika melihat ekspresi Yu Ra yang seperti ingin menelannya hidup-hidup. “aku benar-benar tidak ada urusan denganmu, masalah hubunganku dengan Aiden Lee tidak ada hubungannya denganmu, lagi pula keinginan berlebihanmu untuk memiliki pria itu terdengar menakutkan, aku rasa Aiden-ssi juga tidak suka dengan caramu yang berlebihan”. Lanjut gadis itu santai, ia tidak peduli sekarang jika Yu Ra sudah mengenggam ganggang gelasnya erat.

“Cih, sombong sekali kau Putri Park Jae Kang”. Wajah Seo Na yang tadinya terlihat dingin dan tidak peduli, kini malah menatap Yu Ra lekat. Bagaimana mungkin gadis itu bisa mengetahui nama Ayahnya. “lucu sekali ekspresi gadis angkuh ini ketika aku menyebutkan nama mendiang Ayahnya”. Tambah Yu Ra yang kini menunjukan ekspresi kemenangan.
Seo Na memalingkan lagi wajahnya, ia tidak boleh kelihatan bodoh didepan gadis itu, mungkin Yu Ra hanya tau tentang keluarganya, tapi tidak tentang jati dirinya selama ini.

“kenapa jika aku adalah putri Park Jae Kang? Kau akan mengumumkan pada dunia?”. Timpal Seo Na tak kalah meremehkan.

“huh, kau masih tetap berlagak sombong sekarang? Kau kira aku tidak tau wujud aslimu? Kau tidak ubahnya seperti ‘Gumiho’ yang suka memakan hati manusia, tapi bedanya kau lebih suka menembakkan pistol kearah orang yang menjadi korbanmu, lucu sekali bukan ada wanita yang berani melakukan hal itu, ya tapi untuk ukuran wanita rendah seperti mu aku percaya”. Kata demi kata yang keluar dari mulut Yu Ra hampir membuat Seo Na hilang keseimbangan, gadis itu kini meremas permukaan kemeja putihnya dibawah meja, ekspresinya yang tadi terlihat angkuh dan biasa-biasa saja kini malah terlihat begitu pucat, bibir Seo Na  bergetar, bagaimana Yu Ra bisa tau tentang dirinya?

“ahh, aku tau kau pasti bertanya-tanya kenapa aku mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya Park Seo Na, jawabannya sederhana sekali. Ayahmu adalah teman bisnis ayahku dimasa lalu, aku juga tidak menyangka Ayah mengenal keluargamu dengan baik, dan dari sumber lain yang ku dengar, Anak Park Jae Kang sekarang menjelma menjadi wanita cantik dan kaya raya dan memiliki hubungan khusus dengan Aiden Lee, menjijikkan. Aku hampir kaget ketika mengetahui orang yang sudah miskin dan bangkrut sepertimu tiba-tiba menjadi kaya Raya, ternyata kau menjadi seorang pembunuh. Kau ingat Jung Yeo In? Dia Ayahku, Ayahku yang pernah membayarmu untuk membunuh saingan  bisnisnya, tidak mudah mencari dokumen tentangmu yang ada di tangan Ayahku karena ia sendiri yang memberikannya, hahaha ini sungguh kebetualan bukan, Ayahku menyuruhmu untuk membunuh orang lain. Daebak! Ini seperti teka teki yang dengan mudah kupecahkan”.

Berkali-kali Seo Na menelan air ludahnya ketika mendengar kata demi kata yang keluar begitu lancar dari mulut Yu Ra, ada yang ia dengan dengan jelas dan ada juga yang ia dengan dengan hentakkan keras dikepalanya, Yu Ra benar, bagaimana semua ini terasa seperti kebetulan.

“lalu kau ingin apa dariku?”. Pertanyaan yang memang harus di ucapkan Seo Na saat ini. raut muka gadis itu sudah terlihat pucat pasi, ia hampir ingin memukul wajah gadis yang ada didepannya ini jika ia tetap saja berceloteh tentang kenyataan siapa dirinya.

“hahahaha akhirnya kau menyerah Seo Na-ssi? Ternyata tidak sulit mengalahkan gadis angkuh sepertimu”. Yu Ra tersenyum remeh, menatap Seo Na yang kini matanya hampir memerah. “aku hanya ingin kau meninggalkan Aiden Lee, pergi sejauh mungkin dan jangan bertemu lagi dengannya, karena dia milikku. Jika kau tidak mau, ya apa boleh buat, sepertinya aku harus mengatakan pada pria itu siapa kau sebenarnya, pasti Aiden Lee akan patah hati mendengar wanita yang sangat ia cintai ini adalah pembunuh bayaran yang ingin membunuhnya. Aku tidak akan memasukkan mu kepenjara, sama saja aku menjerumuskan Ayahku juga ke dalam neraka itu, lagi pula Ayahku pernah bekerja sama denganmu, ya kedengarannya sama-sama licik tapi apa boleh buat, sepertinya aku juga harus memikirkan adikmu yang berada di Paris, jadi kau boleh pergi dan tidak usah menampakkan diri lagi di hadapan Aiden-ssi, mudah bukan?”.

Seo Na menatap gadis itu nanar, ia hampir tidak habis pikir dengan ucapan menusuk yang keluar dari mulut Yu Ra, dadanya benar-benar sesak kali ini, meskipun disekitarnya begitu banyak udara tapi kali ini ia benar-benar sulit untuk bernapas. Meninggalkan Aiden Lee? Gila saja, bukankah baru kemarin ia mengatakan jika ia ingin terus memeluk pria itu, melindunginya dari Tuan Cho? Lalu jika ia meneruskan keegoisannya bagaimana dengan perasaan pria itu, ia tidak ingin Dong Hae mengetahui kebusukkannya selama ini, ia hanya ingin pria itu baik-baik saja, ia ingin pria itu selamat, setelah beberap hari ini ia sadar tidak ada hasrat lagi untuk membunuh siapapun, apa lagi Dong Hae, jika ia membunuh pria itu sama saja ia harus siap kehilangan berkali-kali orang yang ia sayangi, cukup kedua Orang tua-nya dan Kyu Hyun saja yang pernah pergi dari hidupnya dan meninggalkan luka, ia tidak ingin Dong Hae juga meninggalkan dan membencinya, sungguh itu hanya akan menambah deretan luka dihati Seo Na.

“aku akan meninggalkan Aiden-ssi, tapi ku minta satu hal padamu”. Yu Ra mengangguk, mengiyakan apa yang akan diminta Seo Na padanya. “jaga Aiden-ssi dari Tuan Cho, aku tidak ingin ia terluka sedikitpun”.

Yu Ra tersenyum simpul mendengar permintaan gadis itu, akhirnya ia menang dan ia akan menjadi satu-satunya gadis didalam hidup Dong Hae. Seo Na beranjak dari hadapan gadis itu, ia tidak ingin gadis itu melihat tangisnya yang kini hampir pecah, ia benar-benar hancur, semuanya sudah berkahir bukan, ia harus menjauhi Aiden Lee-nya, benar kata Kyu Hyun ia harus membatalkan semua ini dan kembali menjadi dirinya yang dulu, setidaknya di Paris nanti ia bisa hidup tenang berasama Seo Ra dan Seo Min kedua adiknya.

Seo Na menghempaskan pintu mobilnya, menginjak pedal gasnya tak beraturan , yang kini menjadi tujuannya hanya tempat itu, tempat yang bisa menenangkan hatinya, dan kali ini ia membutuhkan Kyu Hyun, ya pria itu. ia benar-benar hancur saat ini. Seo Na menekan beberapa tombol diponselnya  dan meletakkan benda mati itu ditelinga dengan tangan kiri, tangan kanannya kini tengah sibuk memegangngi stir mobilnya.

“Kyu Hyun-ssi, kau dimana? Bisakah kedanau sekarang, ku mohon, aku membutuhkanmu”.

~~~000~~~

Kyu Hyun membuka pintu mobilnya, dari tempatnya berdiri saat ini ia bisa melihat dengan jelas punggung gadis itu, ia bisa melihat bahu gadis itu tengah turun naik, dan ia juga bisa mendengar isakkan yang keluar dari mulut gadis itu. Kyu Hyun berjalan mendekat kearah Seo Na, dan kini berdiri tepat disamping Seo Na, memagang kedua bahu Seo Na meminta gadis itu menatapnya, dan yang kini terlihat diwajah cantik Seo Na hanya raut wajahnya yang tidak lagi tegar dan angkuh, disana sudah banyak air mata yang terus mengalir dari pipinya, dan sungguh pemandangan ini hampir membuat Kyu Hyun ingin membunuh siapa saja yang sudah membuat gadis-nya menangis.

“apa yang terjadi, hm?”. Ucap Kyu Hyun dengan nada lembut, nada meminta pada gadis itu untuk tenang dan jangan menangis, kini jari-jari pria itu mengusap dengan leluasa pipi Seo Na yang basah. Bukannya mereda, tapi tangis gadis itu kini malah semakin menjadi-jadi.

“tidak apa jika kau belum bisa menceritakkannya padaku, tapi berjanjilah untuk tidak menangis seperti ini, ku mohon Seo Na-ya”. Kyu Hyun menarik tubuh gadis itu kedalam pelukannya membiarkan gadis yang tengah rapuh itu menggunakan dadanya untuk bersandar sejenak, Kyu Hyun tak tau apa yang sudah membuat Seo Na terlihat menyedihkan seperti ini.

Beberapa menit kemudian, Seo Na menarik tubuhnya dari dekapan Kyu Hyun, karena pelukan pria itu kini sedihnya sedikit berkurang. Ia menatap wajah Kyu Hyun yang kini tengah menelungkupkan kedua telapak tangganya di wajah Seo Na, Seo Na memaksakan senyum melihat wajah Kyu Hyun yang begitu khawatir melihat keadaanya.

“jangan memaksakan senyum palsu itu Park Seo Na, apa kau tidak lelah terus berpura-pura kuat selama ini”. ucap pria itu, membuat hati Seo Na semakin teriris, Sakit, tentu saja ini benar-benar sakit. Kyu Hyun benar, ia harus berhenti berpura-pura angkuh dan kuat.

Seo Na melepaskan kedua telapak tangan pria itu dari pipinya, memandang kearah danau yang sejak dulu menjadi tujuannya ketika ia sedih atau pun merasa lelah berperan jahat didepan orang-orang selama ini.

“Kyu Hyun-ssi, apa kau ingat dulu kita sering menghabiskan waktu disini, aku merasa saat itu aku akan hidup bahagia hingga aku mati, aku ingat saat itu kau selalu memelukku, dan ketika kau tidak ada entah kenapa aku terus merindukan pelukan itu, aku berharap suatu hari aku bertemu denganmu lagi dan merasakan pelukkan yang sama. Tapi kau terlambat, beberapa hari yang lalu orang itu datang padaku, memberikanku pelukan yang kurasa sama hangatnya dengan pelukkanmu, aku menemukan banyak hal didirinya yang mampu membuatku tertawa dan tersenyum ketika kau tak ada. Tapi aku rasa, aku harus mengganti peluakkannya dengan pelukkan mu lagi, aku memutuskan untuk tidak menemuinya lagi, aku akan meninggalkannya dan tidak akan datang untukknya lagi”. Seo Na menghapus air matanya yang terus mengalir, dengan susah payah gadis itu mengeluarkan kata demi kata dari mulutnya, karena yang mendominan saat ini adalah isakkan tangis gadis itu.

Kyu Hyun menarik napasnya, menggenggam pergelangan tangan Seo Na, dan kini gadis itu beralih menatap Kyu Hyun. “maksudmu Aiden Lee?”. Kyu Hyun tau, Seo Na kini sudah mencintai pria itu, dan kini ia mulai tau kenapa Seo Na menangis seperti ini, karena pria itu.

Gadis itu mengangguk, ia tetap menangis meskipun kini tidak ada isakkan lagi yang terdengar.
“aku akan berhenti berperan sebagai Park Seo Na si Pembunuh bayaran, aku akan kembali menjadi Park Seo Na, gadis selai kacang Cho Kyu Hyun”. Entah sejak kapan Seo Na kembali masuk dalam dekapan Kyu Hyun yang jelas saat ini ia sudah menyampaikan semua keganjalan hatinya, meskipun ia tidak yakin apa ia sudah menyampaikan semua keganjalan hatinya, meskipun ia tidak yakin apa ia bisa menghapus bayangan pria yang baru saja masuk kedalam hidupnya beberapa hari ini.

~~~000~~~

Ini sudah lewat sehari dari jatuh tempo perjanjian Seo Na dengan Tuan Cho, gadis itu membuang kalendernya sembarangan kelantai, ia menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya. Hari ini sudah berkali-kali Tuan Cho menghubunginya tapi tetap saja ia tidak ingin mengangkat telepon dari siapaun , termasuk Aiden Lee. Ia menggeser tubunya ke tepi ranjang, meraih gangang telepon rumahnya menekan beberapa digit nomor disana.

“Seo Jin-ah, bagaimana keadaanmu?”. Tanya gadis itu setelah mendengar sautan dari ujung sana, entah kenapa ia merindukan adiknya itu.

“aku baik-baik saja Eonni, aku belajar dengan baik”. Seo Na tersenyum mendengar ucapan adiknya itu. “Eonni, bagaimana denganmu? Apa kau jadi ke Paris, Seo Min sudah sering menanyakan hal itu padaku”.

“dimana si bungsu itu, apa dia masih sering merengek meminta coklat padamu?”. Ucap Seo Na, terdengar suara tawa dari ujung sana.

“tidak terlalu sering, ia tau aku bukan kau-Eonni, jadi dia tidak bisa bermanja-manja denganku, karena itu ia ingin kau cepat-cepat kemari”. Seo Na terkekeh, ia sangat merindukan kedua adik perempuannya itu, mereka-lah satu-satunya keluarga yang Seo Na punya.

“aku akan kesana beberapa hari lagi, Seo Jin-ah jika aku tidak ada jaga Seo Min dengan baik. aku tau kau sangat menyayanginya, jaga dirimu disana”. terdengar suara meng-iya-kan dari ujung sana, sebelum Seo Na menutup ganggang telepon rumahnya.

Tak lama setelah gadis itu berbicara ditelepon dengan adiknya, Bel apartemennya berbunyi, ia enggan untuk menerima tamu hari ini, ia ingin sendiri, berkutat dengan pikirannya, tanpa diganggu siapapun, tapi akhirnya pertahan gadis itu kalah setelah berkali-kali bel rumahnya tetap berbunyi juga diseratai ketukan brutal pada pintu apartemennya. Gadis itu beranjak dari ranjangnya, berjalan kearah pintu dengan membuka kenop pintu secara perlahan.

“Kyu Hyun-ssi?”. Ucap gadis itu saat Kyu Hyun sudah berdiri didepan pintu apartemannya.

Kyu Hyun segera menarik tangan Seo Na masuk kedalam Apartemennya sebelum menuyuruh gadis itu mengunci rapat-rapat pintu Apartemennya. Seo Na masih tidak mengerti kenapa Kyu Hyun datang pagi-pagi ketempatnya dan terkesan tergesa-gesa. “Kyu-ya”. ucap Seo Na, tanpa sadar ia mengucapkan panggilan kesayangannya dimasa lalu pada pria itu, Kyu Hyun menatap Seo Na sejenak sebelum menarik gadis itu kedalam pelukannya dengan keadaan Seo Na yang masih memakai piama bermotif bunga-bunga kecil.

“kita harus pergi Seo Na-ya, kita harus pergi jauh”. Terdengar suara pria itu tertahan, pria itu juga memeluk Seo Na posesif seakan ingin melindungi gadis itu seutuhnya.

“hei, aku bisa-bisa kehabisan nafas Kyu Hyun-ssi, apa yang terjadi? kau bisa menjelaskannya padaku”. Seo Na melepaskan pelukannya dari Kyu Hyun menatap pria itu lekat. “jelaskan padaku, aku tidak mengerti apa yang baru saja kau katakan”.

Kyu Hyun menarik napasnya gusar, terlihat dari mata pria itu ia benar-benar sedang takut dan putus asa, kabar yang ia dapat tadi pagi dari orang kepercayaannya membuat pria itu secepat mungkin untuk bisa menemui Seo Na.

“Ayah sudah menyuruh orang lain untuk mencari dan membunuhmu Park Seo Na, kita harus pergi”. Seo Na membulatkan matanya, tepat seperti yang ia duga, tuan Cho tidak main-main dengan ancamannya, pria Tua itu pasti sudah mengetahui tentang hubungannya dengan Dong Hae.

“Kyu-ya, tidak usah takut. Aku tidak akan mati, Ayahmu tidak akan benar-benar membunuhku”. Seo Na berusaha terlihat tenang, lagi-lagi gadis itu berpura-pura meskipun Kyu Hyun selalu tau bagaiman keadaan sebenarnya Seo Na tapi tetap saja gadis itu berpura tegar didepan Kyu Hyun.

“Seo Na-ya, jangan berpura-pura tegar seperti ini lagi, keadaanya sudah tidak sama dengan sebelumnya. Kita akan ke Paris hari ini, Seo Jin dan Seo Min pasti sudah merindukanmu”. Kyu Hyun menatap mata Seo Na, gadis itu menundukkan wajahnya, menyembunyikan air matanya yang mendesak ingin keluar, ia tidak ingin Kyu Hyun melihatnya berkali-kali rapuh seperti ini. “Seo Na-ya… Jebbal”.
Seo Na mengangguk meskipun hatinya ingin mengatakan tidak, Pikiran gadis itu kini menerawang, ia merasa masih ada yang tertinggal disini, hatinya masih berat untuk meninggalkan Dong Hae, tapi bagaimana dengan pria itu, Tuan Cho pasti mencarinya, tapi bukankah Yu Ra sudah berjanji pada gadis itu untuk menjaganya, dan Dong Hae tidak pernah pantas untukknya lagi, siapa Seo Na? Seo Na bukanlah orang yang bisa membahagiakan Dong Hae nantinya, Seo Na adalah wanita pembunuh, jadi untuk orang setulus Dong Hae tidak pantas memiliki wanita jahat seperti dirinya.

“kita bisa pergi sekarang, sebelum orang-orang pesuruh Ayah datang kemari mencarimu, kita bisa pergi secepat mungkin dari sini, kemas barangmu sekarang”. Desak Kyu Hyun, Seo Na membuyarkan pikirannya yang sejak tadi berfokus ke Dong Hae, ia menuruti semua perkataan Kyu Hyun, gadis itu mengemas semua bajunya yang ia butuhkan saja, karena tidak mungkin semua barang ia bawa, semua ini bisa menyusul nantinya, gadis itu beringsut kekamar mandi, membersihkan tubuhnya sejenak lalu bersiap-siap seadanya, ia tidak ingin Kyu Hyun lama menunggunya, lagi pula pria itu sudah mengatakan jika pesuruh Tuan Cho sudah mencarinya.

Entah sejak kapan Seo Na berdiri dihadapan Kyu Hyun dengan satu koper merah besar ditangan kanannya. “sudah siap?”. Ucap Kyu Hyun sambil menatap wajah Seo Na yang begitu manis sekalipun tanpa menggunakan make-up yang berlebihan, seperti Seo Na-nya yang dulu. Seo Na mengangguk sebelum mereka memutuskan untuk meninggalkan apartemen, tapi saat Seo Na membuka Apartemennya kini seorang pria sudah berdiri disana dengan tatapan hancur, sepertinya.

“Aiden Lee?”.

~~~000~~~

“perjanjian mereka sudah tidak berlaku, sesuai dengan kesepakatan, jika gadis itu tidak membunuh anda dalam beberapa hari sesuai yang dijanjikkannya ia yang akan di bunuh, tapi kedengarannya ini menarik Sajangnim jadi anda tidak repot-repot membunuh gadis itu lagi”. Memang, Dong Hae tidak harus lagi bertegang urat memikirkan bagaimana caranya membunuh gadis itu jika gadis itu gagal membunuhnya, tapi masalahnya Dong Hae sudah mulai menyukai Seo Na, ia sudah berjanji akan melindungi gadis itu sampai kapanpun, dan jika masalahnya sudah seperti ini, apa ia akan membiarkan Seo Na mati ditangan saingan bisnisnya itu, dan masalah keselamatannya, ia tidak akan memenerima tawaran Yu Ra sore kemarin untuk melindunginya karena Dong Hae punya banyak orang bayaran untuk menjaganya, itu bukan hal yang rumit.

“dan lucunya lagi, putra Tuan Cho adalah mantan kekasih Park Seo Na-ssi dimasa lalu, karena pria itu meninggalkannya disaat kedua orang tuanya meninggal akhirnya ia cukup lama menderita dan hidup tidak jelas dengan kedua adik perempuannya, Cho Kyu Hyun, dia adalah anak dari Tuan Cho. Dan aku menemukan satu bukti lagi, jika Park Seo Na adalah anak dari Park Jae Kang, pemimpin perusahaan Jpark Company yang sudah lama bangkrut, bukankah perusahaan itu juga sempat bekerja sama dengan Cho Company tapi setelah Tuan Park meninggal dengan istrinya perusahaan itu diambil alih oleh Cho Company hingga mereka mampu naik kelevel tinggi meninggalkan perusahaan kita selama Ayah anda menjabat Sajangnim”. Dong Hae mencerna dengan baik penjelasan dari asisten pribadinya itu. Jadi Kyu Hyun adalah anak Tuan Cho? Gadis itu pasti sudah tau bukan?
Berkali-kali Dong Hae menghubungi gadis itu, tetap saja ponselnya dalam keadaan mati, tidak ada bunyi ‘dip’ diseberang sana, selain suara operator yang semakin membuatnya pusing, ia masih mengingat bagaimana asistennya tadi memberi tahu semua yang telah terjadi selama ini dengan keluarga Seo Na dan gadis itu, karena itu ia ingin segera memberi tahu Seo Na tentang hal ini, lagi pula ia harus jujur dengan gadis itu jika ia sudah tau siapa Seo Na sebenarnya.

Akhirnya Dong Hae memutuskan untuk menemui gadis itu secara langsung, ia tidak peduli lagi sekarang, yang ia tau gadis itu harus selamat, ia harus melindungi Seo Na-nya bukan?
Dong Hae sampai didepan pintu Apartemen gadis itu, ingin segera menekan bel di sisi kanan tembok Apartemen Seo Na tapi kini tangannya terhenti karena suara seorang pria yang ia yakini bersumber dari dalam ruang Apartemen gadis itu, Dong Hae sepertinya tau siapa pria yang berada didalam bersama Seo Na saat ini karena tanpa sengaja pria itu dengan jelas mendengar pembicaraan pribadi diantara keduanya, tak lama pria itu berdiri sambil mendengar dengan jelas pembicaraan kedua orang itu, kini pintu yang persis dihadapan Dong Hae terbuka lebar dihadapannya sudah berdiri Seo Na dan seorang pria jakung berambut sedikit pirang, ia yakin pria itu Cho Kyu Hyun, putra dari pemilik  Cho Company.

“Aiden Lee?”. Ucap Seo Na dengan nada sedikit terkejut dengan kehadiran Dong Hae didepan pintu Apartemennya.

“ikut dengan ku Seo Na-ssi”. Ucap Dong Hae sambil menarik pergelangan tangan gadis itu tapi sepertinya langkah Dong Hae tertahan karena Seo Na sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, Dong Hae menatap gadis itu nanar, lebih tepatnya menatap tangan lain yang kini menahan Seo Na ditempatnya.

“Maaf Tuan Lee, gadis ini sudah tidak ada urusan lagi denganmu”. Ucap pria itu datar, menunjukkan ekspresi ketidak sukaannya pada Dong Hae.

“dia masih ada urusan denganku, jadi lepaskan dia Dokter Cho”. Ucap Dong Hae tidak kalah tajam, Seo Na yang melihat perdebatan sengit diantara kedua pria itu malah melepaskan kedua genggaman kedua pria itu dari pergelangan tangannya yang semakin erat dan menimbulkan denyutan dipermukaan kulit putih gadis itu.

“Hei! Kalian mau membunuhku!”. Seo Na merintih kesakitan, keduanya kembali fokus pada Seo Na. Gadis itu menatap Kyu Hyun dan Dong Hae bergantian, sebelum kembali fokus pada Dong Hae pria yang kini tengah berada dihadapannya.

“Aiden-ssi, seperti yang dia bilang, kita tidak ada urusan lagi sekarang”. Ucap Seo Na dengan nada sedikit tertahan, gadis itu sungguh ia ingin menangis saat ini, sejujurnya ia ingin sekali menghambur kedalam pelukan Dong Hae yang beberap hari ini ia rindukan.

Dong Hae berdelik heran, kenapa Seo Na tiba-tiba mengucapkan hal itu padanya. “Park Seo Na-ssi, apa kau serius dengan yang baru saja kau katakan?”. Ucap Dong Hae tak percaya, tapi malah direspon anggukan oleh gadis itu.

“aku serius Aiden Lee, maafkan aku selama ini sudah banyak merepotkanmu, aku juga datang begitu saja dalam hidupmu yang begitu sibuk, kau tau pria ini bukan, dia Cho Kyu Hyun, kekasihku. Aku harap kau mengerti kenapa aku memilih untuk tidak ingin mengenalmu lagi, dan aku .. aku akan ke Paris siang ini bersamanya, sekali lagi terimakasih”. Dong Hae menatap gadis itu nanar, ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang sudah diucapkan Seo Na padanya, ini tidak seperti Seo Na yang ia kenal.

“aku tidak peduli, aku mecintaimu Park Seo Na!”. Seo Na menatap Dong Hae tajam, sebelum gadis itu menunduk menyembunyikan ekspresi wajahnya.

‘Mencintai?’, Seo Na ingin sekali menagatakn ia juga sangat mencintai Aiden-nya, ia juga tidak ingin semua ini terjadi, dan sungguh ia tidak ingin sebenarnya mengatakan jika ia ingin pergi dan tidak ingin mengenal Dong Hae lagi, tapi demi pria itu, demi perasaan pria itu ia tidak ingin Dong Hae terluka sedikitpun, sungguh!
Kyu Hyun yang mendengar ucapan cukup berani dari pria yang berada dihadapannya itu hanya mencibir, baginya tidak heran jika Dong Hae mengatakan hal itu karena kehilangan Seo Na memang sangat menyakitkan karena ia sudah lebih dulu merasakan hal itu.

“maafkan aku, aku harus pergi”. Ucap Seo Na tanpa beban, ia menatap kearah Kyu Hyun dari sorot matanya Kyu Hyun yakin apa yang diucapkan gadis itu semuanya adalah bohong, karena kenyataannya Seo Na-lah yang paling berat untuk pergi dari Dong Hae.

Dong Hae menatap Seo Na, gadis itu beringsut beranjak dari hadapannya sambil mengenggam pergelangan tangan Kyu Hyun dan bagian yang paling menyakitkan adalah hal itu melihat tangan Seo Na yang begitu erat menggenggam tangan Kyu Hyun dan menjauh darinya, Dong Hae terus memandangi Seo Na sampai punggung gadis itu sudah berbelok ke kanan di ujung lorong  gedung apartemen megah itu.

~~~000~~~

“aku tau kau berbohong Seo Na-ya”. Kyu Hyun balas menggenggam tangan Seo Na, menyelipkan jemari-jemarinya di jari-jari indah milik Seo Na. Seo Na tidak bergeming, ia berjanji tidak akan melihat kearah belakang dan mengejar pria itu, tidak akan. “aku juga mencintaimu, seperti dia mencintaimu”. Tambah Kyu Hyun lagi sebelum tubuh mereka berbelok ke kanan menuju lift.

“kau harus bahagia Park Seo Na”. Seo Na menatap Kyu Hyun, menghentikan langkahnya tepat didepan Lift.

“aku juga mencintainya, sama seperti mencintaimu dimasa lalu”. ucap gadis itu lalu tersenyum manis kearah Kyu Hyun, dan entah kenapa senyum gadis itu begitu berbeda dari sebelumnya, Kyu Hyun menarik Seo Na kedalam pelukaannya merasakan kehangatan yang disuguhkan dari pelukan itu, tidak butuh beberapa lama detik berikutnya, kini dua orang berkaca mata hitam dengan setelan jas rapi keluar dari balik pintu lift, mengacungkan benda hitam ditangannya kearah gadis itu.

Satu tembakan…. tak ia rasakan, hanya jeritan kesakitan yang keluar dari bibir gadis yang berada didalam pelukannya  saat ini, sebelum Kyu Hyun memutar badannya dan… tembakan kedua… ketiga…. ia rasakan jelas menembus tubuhnya, pertahan keduanya runtuh, tapi kali ini ia masih jelas mendengar suara gadis itu bergetar menyebutkan namanya, sebelum semuanya menjadi gelap dan tak terdengar apa-apa lagi.

To Be Continue

~~~000~~~

Posted from WordPress for Android

TEARS ARE FALLING (2/?)

Standard

TEARS ARE FALLING (2/?)

Action, romance.

PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast

Sinar matahari pagi itu menembus kaca jendela kamar Seo Na yang sengaja tidak diberinya tirai, sesekali mata gadis itu berkedip menghalau sinar mentari yang berani mengusik tidurnya tapi tetap saja gadis itu bertahan dalam selimut tebalnya dan menariknya hingga menutupi seluruh tubuhnya.

Tidak lama gadis itu nyaman dalam posisinya suara bel dari luar sana yang malah bergantian mengusik waktu istirahatnya, ia berdecak kesal, selema ini tidak ada yang berani menganggunya selain telepon dari adik-adiknya yang berada di Paris.
Seo Na bangun malas-malasan, menyeret kakinya berat mengucek matanya yang masih ingin terkatup untuk tetap tidur diatas ranjang empuknya. Tanpa melihat layar disamping pintunya gadis itu segera membuka pintu apartemennya.

“Ne, Nugu-“. Ucapan gadis itu terhenti ketika ia mendapati seorang pria tampan kini tengah menenteng plastik putih yang ia tidak tau apa isinya, wajah pria yang beberapa hari ini mengisi hari-harinya, pria yang akan menjadi korban berikutnya untuk ia bunuh.

“Selamat pagi Seo Na-ssi, maaf sudah mengganggu tidurmu”. Suara itu, ahh~ lagi-lagi Seo Na gugup tidak karuan mendengar pria itu.

“ahh, maaf aku baru saja bangun, silahkan masuk”. Ucap Seo Na sambil membuka sedikit lebih lebar pintu apartemennya, Dong Hae tertawa geli melihat ekspresi wajah gadis itu yang polos tanpa make up sama sekali, cantik bahkan gadis itu lebih kelhatan cantik dan sederhana ketika bangun tidur.

“aku membawa beberapa sarapan untukmu, seharian kemarin kau belum makan bukan? Aku tidak ingin orang yang menginginkanku untuk mencintainya sakit dan harus dirujuk kerumah sakit”. Seo Na tertawa geli mendengar rayuan gila dari pria tampan itu, biasanya ia tak seperti ini tapi entah apa yang beda dari pria itu sehingga membuat hatinya kelabakan.

“baiklah, aku harus segera mandi, kau bisa menunggu beberapa menit saja Aiden-ssi”. Ucap gadis itu tersenyum sambil berlalu dari hadapan Dong Hae. ‘aku benar-benar gila karena pria itu’. gumam Seo Na sambil memukul-mukul kepalanya pelan.

~~~000~~~

“gadis itu Park Seo Na, dia bekerja untuk Cho Company, aku harap anda berhati-hati dengannya Sajangnim, ia sudah membunuh banyak orang hanya dengan pesona kecantikannya”. Dong Hae tersenyum simpul, ‘pesona?’ ya pesona gadis itu bisa membuat siapa saja yang melihatnya mabuk seketika.

“tidak usah khawatir, gadis itu akan menghabiskan banyak waktunya bersamaku, aku tidak bisa memastikan aku yang mati olehnya, atau dia yang kubunuh”.

Lamunan pria itu buyar ketika seorang gadis sudah berdiri dihadapannya, rambutnya yang ia biarkan terurai setengah basah, jeans selutut serta baju kaos yang dengan jelas mengekspos bahu kirinya. Seksi, entahlah, entah apa tujuan gadis itu berpakaian begitu seksi namun terkesan sederhana didepan Dong Hae.

“maaf sudah membuatmu menunggu”. Ucapnya sambil tersenyum,Dong Hae menggeleng, menggerakkan tangannya mempersilahkan gadis itu untuk duduk dihadapannya. Dimeja sudah tersedia, sandwich dan beberapa roti panggang yang diisi selai kacang. Tunggu dulu, selai kacang? Bukankah itu selai favorit Seo Na, bagaimana pria itu bisa tau.

“ini? apa ini sengaja? Atau bagaimana kau bisa tau?”. Dong Hae mengalihkan pandangannya kearah Roti panggang yang sengaja dibuatnya sebelum berkunjung kerumah Seo Na.

“kau suka itu Seo Na-ssi?”.

“Tentu saja, ini selai kesukaanku, hanya Ibu yang tau jika aku suka roti panggang dengan selai kacang didalamnya“. Dan yang jelas seorang pria dimasa lalunya juga tau hal itu.

“aku benar-benar tidak tau, aku sengaja membuatkannya untukkmu. Ini hanya kebetulan Seo Na-ssi, aku tidak tau sama sekali tentang hal itu”. Seo Na mengulum senyumnya, ya mungkin saja ini hanya kebetulan, tidak mungkin pria didepannya ini tau tentang dirinya, kecuali pria dimasa lalunya, ahh pria itu dia tau tentang bagaimana Seo Na, lagi-lagi gadis itu memikirkannya.
“Park Seo Na, gweancana?”.

“ah, Ne. Gweancanayeo, terimakasih untuk sarapannya pagi ini aku benar-benar tersanjung Aiden-ssi. Maaf sudah membuatmu repot pagi ini”.

Dong Hae mengibaskan tangannya, tanda tak setuju dengan ucapan gadis itu.
‘tidak, bahkan ini adalah keinginanku. Lagi pula untukkmu, aku ingin merepotkan diri”. Dong Hae tersenyum, dan itu lagi-lagi membuat Seo Na seperti terbang kemana-mana.
‘pria ini, memanfaatkan rayuannya. Aiden Lee kau benar-benar memabukkan’. Gumam gadis itu dalam hatinya.

“hm, boleh aku meminta sesuatu padamu?”. Ucap Dong Hae tiba-tiba setelah keduanya sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing, Seo Na mengangguk. “hari ini ada sesuatu yang harus aku kerjakan di kantor, tapi kepalaku benar-benar pusing karena aku sendiri hampir mati memikirkannya, karena kau seorang wanita aku tau kau pasti punya insting tentang keindahan jauh lebih baik dariku”. Seo Na mengerutkan keningnya, entah Dong Hae yang terdengar bertele-tele atau memang Seo Na yang masih belum mengerti ucapannya. Dong Hae hanya terkekeh kecil. “jangan memandangiku dengan wajah bingung seperti itu, nanti aku akan menunjukkannya setelah kita sampai dikantor”. Dong Hae tersenyum geli, gadis yang didepannya ini benar-benar membuat jantungnya maraton, tampang bingungnya sukses membuat Dong Hae kegelian.

~~~000~~~

Kedua manusia yang terlihat serasi itu berjalan bergandengan tangan didalam gedung perusahaan milik salah satu diantara mereka, tentu saja perusahaan sang pria. Seo Na mengenakkan Jeans dipadukan dengan atasan blazer merah yang membuat dirinya terlihat memposona, ditambah dengan sepatu boots beludru warna kream yang senada dengan pita yang ia kenakan dikepalanya, gadis itu terlihat cantik dan –err- tentu saja sangat seksi, bukankah itu preyoritas utamanya untuk menggait mangsanya lalu membunuh mangsanya itu dengan sekali hentakkan. Hebat.

“aku sedikit risih Aiden-ssi”. Ucap Seo Na setengah berbisik namun bisa didengar jelas oleh Dong Hae, tentu saja gadis itu mendenkatkan wajahnya ketelinga Dong Hae, jangankan suara Dong Hae juga bisa merasakan napas gadis itu di kulit lehernya.

“ehum”. Deham Dong Hae mengusap tengkuknya dengan telapak tangan kirinya yang bebas. “kenapa? Karena para karyawan dikantor ku melihatmu intens? Mungkin karena mereka jarang melihat Direktur-nya menggandengan wanita cantik sepertimu”. Goda Dong Hae dan itu sukses membuat wajah Seo Na merona dibelakang pandangan pria itu, jika ia bisa mengatakan sesuatu saat ini ia akan mengutuk pria yang dikenalnya dengan nama Aiden Lee itu. akhirnya tanpa embel-embel bertanya lagi yang akan berunjung gombalan maut Dong Hae , Seo Na memilih bungkam dan mengikuti pria itu dari samping.

Keduanya sampai diruang kerja Dong Hae yang cukup luas, dari dalam sini terlihat beranda yang langsung mengarah ke pusat kota Seoul, benar-benar mengagumkan pria yang bernama barat Aiden Lee ini, tidak ada yang kurang darinya.
“duduklah”. Ucap Dong Hae, Seo Na kembali fokus pada pria itu yang juga duduk disamping dirinya. “maksudku membawamu kesini karena, hmm aku ingin kau membantuku menyusun bunga-bunga yang baru saja ku beli kemarin siang, untuk ku letakkan di beranda luar. Aku bosan melihat beranda yang kosong melompong tanpa tumbuhan dan aku benci hal itu, jadi karena aku hanya meletakkannya pada satu titik jadi rasanya kurang pas, lagi pula aku tidak terlalu pandai berurusan dengan tata menata, jadi karena kau wanita aku rasa kau bisa membantuku-”.

Cups!

Satu kecupan singkat dibibir pria itu sukses membuatnya terdiam, menghentikan ucapannya yang benar-benar terdengar begitu polos dan sedikit manja ditelinga Seo Na, dan gadis itu entah dari mana ia mendapat keberanian mengecup singkat bibir pria itu yang kini masih menatap Seo Na tidak percaya, sejujurnya Seo Na juga tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan ini. ‘aku gila ya?’ fikir gadis itu.

“hm, baiklah aku akan mengerjakannya untukmu Aiden-ssi”. Seo Na berniat segera beranjak dari hadapan pria itu tapi yang ada tangan gadis itu kini tengah berada dalam genggaman Dong Hae.

“Wae..Waeyeo?”. ucap gadis itu gugup.

“eum, tidak apa, eum, yasudah mari kita kerjakan bersama-sama, aku yakin kau tidak akan kuat mengangkat pot-pot bunga itu Seo Na-ssi”. Ucap Dong Hae terdengar gugup, sejujurnya ia masih shock dengan perlakuan gadis itu terhadapnya, yang benar saja ucapannya tiba-tiba terhenti hanya karena kecupan singkat dari gadis itu. ‘ah sial, ini benar-benar membuatku mabuk’. Umpatnya dalam hati.

~~~000~~~

Seo Na memutar kenop pintu apartemennya, menutup pintu itu setelah pria itu menghilang dari balik Lift diujung lantai 21 itu. ia baru saja diantar pria itu, pria yang ia temani seharian ini dikantornya, dan pria yang baru saja ia kecup tiba-tiba tepat dibibirnya, pikirannya terlalu sinting saat melihat Dong Hae bercuap-cuap tanpa hanti didepannya, dan itu terlihat menggemaskan bagi Seo Na, tapi haruskah sampai mencium pria itu tak sopan, Bodoh!
Seo Na mematung dibelakang pintu, meletakkan telapak tangan kirinya didada, masih terdengar degup jantungnya yang sejak tadi memacu, ia hampir tidak karuan sejak tadi, sejak ia dikantor Dong Hae ia selalu menahan deru jantungnya sendiri, ya meskipun itu memang karena ulah gilanya.

Ah, tunggu dulu. Bukankah ia punya tujuan dengan pria itu, ia hampir lupa. Seo Na memukul kepalanya pelan. ‘aish! Aku tidak boleh seperti ini! kenapa aku mengecup bibir pria itu tiba-tiba! Dasar otak mesum! aku akan membunuhnya, bukankah aku akan segera ke Paris, Seo Na Come On! Pria itu hanya akan membuat hidupmu hancur nantinya!’. Umpat gadis itu pada dirinya, ini bukan yang pertama kali ia terjerat dalam pesona luar biasa seorang pria. Dulu, jauh sebelum ia mengenal pembunuhan ia sudah pernah jatuh dalam pesona seorang pria dan sayangnya pria itu seketika menghilang saat ia benar-benar butuh perlindungan pria itu.

Dering ponsel menghalau lamunan gadis itu, ia mendekat kearah meja makan tempat sumber bunyi ponselnya berada, ia membuka ponsel lipatnya, tertera nama disana. ‘Tuan Cho’. Gadis itu berdesis, lagi-lagi pria tua itu menghubunginya, pasti ingin menanyakan perkembangan yang ia lakukan pada Aiden Lee beberapa hari ini. tapi tunggu dulu, bukankah ini sudah seminggu? Bagaimana Seo Na belum juga menghabisi nyawa Pria itu, bukankah biasanya hanya butuh 3 hari baginya untuk membunuh?

“Yeoboseyeo”. Ucap gadis itu dingin, terdengar suara berat menyaut dari ujung sana. “aku belum bisa menentukan waktu yang tepat”. Seo Na menarik napasnya berat, mendengar suara berat yang mulai mengancam dari ujung sana.

“aku tidak akan jatuh cinta padanya, beri aku waktu 1 minggu lagi, aku akan menghabisi nyawanya. Untuk kali ini  biarkan aku bermain-main dulu dengan pria tampan itu, tidak usah khawatir”. Seo Na segera menutup sambungan teleponnya. ‘sial!’. Gumamnya lagi, ia tidak ingin mati dibunuh hanya karena ia gagal membunuh orang dalam misi terakhirnya ini.

‘Aiden Lee, aku membencimu! Aku tidak menyukaimu! Katakan juga bahwa kau membenciku, itu akan membuatku mudah untuk menembakkan satu peluru di kepalamu’.

~~~000~~~

Sudah 2 hari sejak ia bertemu dengan Aiden Lee pria itu tidak pernah lagi menghubunginya, banyak spekulasi yang bermunculan di otak gadis itu, ‘apa dia takut aku cium lagi? Atau ia takut aku perkosa?’ tidak mungkin, pikiran itu terlalu konyol, lagi pula saat kejadian memalukan itu Dong Hae tetap biasa saja, walaupun sesekali keduanya tampak canggung, ia tidak menyangka efek kecupan itu cukup lama.

Berkali-kali Seo Na menghubungi nomor ponsel pria itu tapi tetap saja ponsel pria itu dalam keadaan tidak aktif. Ia hampir frustasi, kini yang ada dibenaknya tentang bagaimana rencananya, ia sendiri sudah mabuk sendiri oleh perasaanya, bagaimana jika ia kehilangan jejak pria tampan itu? waktunya hanya seminggu lagi bukan untuk menghabisi nyawa pria itu, atau nyawanya yang akan dihabisi oleh pemilik Cho Company itu. sesekali Seo Na mondar mandir diapartemennya dengan ponsel yang terus ia genggam ditangannya.

“Aiden Lee, kau benar-benar keparat!”. Gumamnya lirih, ia merindukan Aiden Lee atau ingin segera membunuh pria itu? ia tidak tau bagaimana perasaan yang ia rasakan sekarang, keadiran pria itu cukup membuatnya sedikit pusing. Mungkin.

Tak lama gadis itu berkutat dengan pikirannya, ponselnya berdering ia segera membuka ponsel lipat itu, berharap jika yang tertera dilayar ponsel itu adalah nama ‘Aiden Lee’ tapi ia salah, hanya sebuah nomor tanpa nama yang tertera disana, Seo Na mengangkatnya malas.

“Yeoboseyeo”. Ucap gadis itu sedikit ketus. Terdengar suara pria dari ujung sana, bukan suara Aiden-nya, juga bukan suara si Tua Tuan Cho.

“aku sedang tidak ada urusan, baiklah. Tapi apa aku boleh tau siapa yang memintaku bertemu?”. Ucap Seo Na terdengar dingin dan ketus.

“Dokter Cho?”. Seo Na mencerna ucapan pria dari ujung sana. “ah, Algseumnida. Aku akan sampai disana beberapa menit lagi”. Seo Na mematikan sambungan telponnya, menghadap keluar jendela apartemennya yang memberikan pemandangan indah kota Seoul.

“begitu banyak pria bermarga Cho yang masuk kedalam hidupku, tapi hanya kau yang membuatku hancur berkeping-keping Cho Kyu Hyun”. Terdengar suara bergetar dari kalimat gadis itu, lagi-lagi ia mengingat pria yang meninggalkannya itu, sedih kembali menyeruak dihati gadis itu, untuk sejenak ia melupakan tentang Aiden Lee.

~~~000~~~

“Kyu-ya”. pria itu tetap berjalan tanpa memperdulikan gadis itu yang kini tengah memanggil namanya. “Kyu Hyun-ah! Cho Kyu Hyun!”. Kali ini gadis itu meneriakki namanya, Kyu Hyun berbalik menghadap kan tubuhnya pada gadis itu. “Wae? Waeguere?”.

“Mianhe”. Ucap Kyu Hyun tanpa melihat wajah gadis itu sedikitpun, jika ia melihat wajah itu ia tak akan berani mengatakan kata itu .

“Wae?”. Tanya gadis itu lagi, kini wajahnya hampir dipenuhi tetesan air mata, untuk sekedar melihat wajah laki-laki yang berada dihadapannya saat inipun ia tidak bisa, terlalu sakit.
Kyu Hyun membalikkan badannya, meninggalkan gadis itu yang kini sudah terhempas ketanah. Kyu Hyun ingin sekali berbalik dan memeluk gadis itu, tapi bagaimanapun ini sudah menjadi keputusan Ayah-nya.

“Seo Na-ya, Mianhe… Saranghae”.

~~~000~~~

Pria itu duduk persis ditepi jendela cafe shop tempat biasanya ia kunjungi, cafe shop tidak jauh dari rumah sakit tempat ia bekerja. Ia asik memandangi orang-orang yang berlalu lalang didepan cafe itu, sesekali milirik jam tangannya, sudah 1 jam ia menunggu gadis itu tapi sama sekali ia belum melihat batang hidungnya.

Penasaran, ya Kyu Hyun sangat penasaran dengan gadis yang namanya persis sama dengan gadis yang ia kenal beberapa tahun lalu, ia yakin betul gadis itu bukan Park Seo Na-nya, ia yakin Seo Na bukan gadis yang seperti itu, dan ia mengenal Seo Na dengan baik, gadis-selai kacang kesayangan-nya, yang ia tinggal begitu saja karena kehendak orang tuanya, tiba-tiba ia merindukan gadis itu.

“maaf sudah menunggu lama”. Terdengar suara seorang gadis dari hadapannya, Kyu Hyun segera menoleh kearah gadis itu yang kini tengah membuka kaca mata hitamnya.

DEG!

Jantung pria itu berdetak, ekspresi wajahnya berubah kaget tak karuan, tidak ada bedanya dengan ekspresi gadis yang sedang berdiri dihadapnnya saat ini. Ia tidak salah lihatkan? Ia benar-benar tidak sedang bermimpikan? Yang didepannya saat ini Park Seo Na, bukan Park Seo Na si Pembunuh bayaran, tapi Park Seo Na gadis yang ia cintai, tidak ini benar-benar nyata. Park Seo Na-nya kini tepat berdiri dihadapnnya.

“Cho Kyu Hyun”. Terdengar gadis itu menyebutkan namanya, suara itu masih sama. Suara itu persis seperti dulu, saat Seo Na menyebut namanya dengan lengkap.

“Seo Na-ya”. Ucap pria itu memastikan, Seo Na tetap mematung ditempatnya, sedangkan Kyu Hyun refleks berdiri ketika ia melihat wajah itu dihadapannya. “kau?”.

Seo Na tidak tau, maksud pertanyaan Kyu Hyun padanya. ‘kau?’. Ya, ini Seo Na yang sekarang, pembunuh bayaran yang sudah sering membunuh orang dengan tangannya. Dan ini Cho Kyu Hyun yang Seo Na rindukan, seorang pria dengan kaca mata dan itu cukup membuktikan jika ia benar-benar seorang dokter. Tidak salah lagi, yang salah hanya keadaan yang mempertemukan mereka kembali dalam keadaan yang seperti ini.

Seo Na kembali fokus, ia segera duduk tepat dihadapan Kyu Hyun dan pria itu juga segera duduk, yang kini sama-sama mereka rasakan adalah kecangguangan yang tercipta.

“Seo Na-ya, maaf”. Seo Na menatap pria itu nanar, kata-kata yang baru keluar dari mulut pria itu sukses membuat kepingan hatinya yang selama ini belum pulih malah semakin hancur.

“Seo Na-ya, aku bisa memberikan penjelasan padamu”.

“aku kemari bukan untuk itu Kyu Hyun-ssi, maaf jika kau masih membicarakan hal itu aku akan pergi, banyak urusan yan harus kuselesaikan”. Terdengar nada ketus dan penuh kebencian dari ucapan gadis itu. Kyu Hyun tidak mendapati lagi Seo Na yang begitu lembut dan peduli pada orang lain, yang ia temukan saat ini adalah Park Seo Na yang hidup dalam kebencian.

“Seo Na, bagaimana kau bisa seperti ini? apa yang terjadi?”. Seo Na menarik napasnya berat, ‘pertanyaan bodoh’. Gumam gadis itu.

“huh, aku masih tidak mengerti dengan jalan pikiran pria sepertimu Dokter Cho. Aku pikir kau orang yang jenius tapi ternyata tidak. Kau tidak ada ubahnya dengan pria lainnya. Dan sekarang kau malah bertanya, kenapa aku bisa seperti ini? apa aku harus membunuh pria yang membuatku seperti ini? lagi pula dengan mudahnya aku bisa menembakkan satu peluru kekepalanya saat ini, karena dia tepat dihadapan ku”. Seo Na tertawa renyah, bukan karena ia sedang bahagia, tapi luka itu seperti mengiris-iris hatinya, pria yang ia rindukan sekaligus pria yang membuatnya berubah jadi makhluk mengerikan seperti ini sekarang sedang duduk dihadapannya.

“Park Seo Na, aku benar-benar tidak tau ketika itu-“.

“kau tau Cho Kyu Hyun, kau tau! Tapi kau malah pergi dariku. Sungguh, membayangkannya saja aku ingin mati seketika. Aku heran, kenapa ayahmu tidak menyuruhku membunuh mu saja, kenapa harus pria mapan dan baik seperti Aiden Lee. Seharusnya ketika itu aku lebih dulu mengenal Aiden Lee dibanding pria busuk sepertimu”. Kata-kata bejat itu begitu lancar keluar dari bibir merah Seo Na, Kyu Hyun tak membalasnya, ia hanya diam, ia tau siapa Seo Na gadis itu hanya diluarnya yang berubah, ia tau Seo Na masih sama seperti yang dulu didalamnya, dan pria itu bisa menangkap, butiran-butiran air mata berkali-kali menumpuk dimata gadis itu.

“kita harus bicara ditempat lain”. Kyu Hyun menarik pergelangan tangan gadis itu, meskipun Seo Na memukul dan mengancam tanda tak setuju tetap saja Kyu Hyun Seorang pria ia lebih kuat dibanding Seo Na.

~~~000~~~

“Sajangnim, apa kau yakin akan membunuhnya dengan tanganmu sendiri?”. ucap pria berdasi yang kini duduk dihadapan Dong Hae, Dong Hae melirik pria itu singkat lalu kembali sibuk dengan tumpukan kertas yang harus ia tanda tangani.

“tentu saja, apa kau meragukanku?”. Tanyanya datar. Pria itu menggeleng.

“tidak, aku yakin anda bisa Sajangnim, tapi waktu itu aku melihat kalian benar-benar-“.

Dong Hae tertawa menyeringai, ya dia teringat lagi tentang kejadian 2 hari yang lalu. memamerkan gadis itu didepan semua karyawannya, mengajak gadis itu mengatur bunga untuk beranda kerjanya, dan satu lagi yang membuatnya 2 hari ini sering tersenyum sendiri, keberanian gadis itu mengecup bibirnya, benar-benar menyenangkan, fikirnya.

“jangan takut, aku bisa mengendalikan perasaanku, jika ia tidak terbunuh maka aku yang akan terbunuh. Tapi kemungkinan besar, dia yang akan terbunuh ditanganku nantinya”. Entahlah, Dong Hae yang mengucapkan kata itu saja masih tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa membunuh gadis itu. setidaknya gadis itu sudah berani menciumnya, bukankah hal hebat?

“baiklah kalau begitu aku akan kembali bekerja sajangnim”. Dong Hae hanya mengangguk, membiarkan asistennya itu keluar setelah memberi bungkukan hormat padanya.

Pria itu melirik layar ponselnya, sudah 2 hari ini ia mematikan ponsel pribadinya itu, dan sudah 2 hari pula ia tidak berhubungan atau sekedar berbicara ditelepon dengan Seo Na, sebenarnya pria itu sengaja ingin membiarkan Seo Na merasakan rindu terhadapnya, agar gadis itu masuk dalam perangkap yang telah ia rencanakan selama ini, tapi sepertinya bukan Seo Na yang terjebak dalam rindu yang Dong Hae maksud tapi melainkan dirinya, entah kenapa sejak 2 hari setelah pertemuan terkhirnya dengan gadis itu ia meraskan ada rasa kerinduan pada gadis itu, sekedar ingin mendengar suaranya atau melihat senyum manisnya, apa lagi setelah ciuman singkat yang terjadi diantara mereka. ‘lagi-lagi tentang ciuman itu yang terfikir, lama-lama aku bisa gila’. Umpat pria itu dalam hatinya, umpatan bahagia lebih tepatnya.

Dong Hae menekan tombol ’on’ pada ponselnya, 1… 2… 3… tiga pesan sekaligus tertera dilayar ponsel pria itu dan pengirimnya tetap orang yang sama ‘Park Seo Na’.

Message 1 : “hai, kenapa ponselmu tidak aktif?”.

Message  2 : “Aiden-ssi, kau benar-benar tidak akan menghubungiku lagi?”.

Message  3 : “baiklah, aku merindukanmu”.

Bibir pria itu tertarik kebelakang setelah ia membaca pesan ke-3 dari gadis itu, dan pesan itu sukses membuatnya salah tingkah dan tersenyum kearah layar ponselnya. ‘kau curang Seo Na-ssi, kau merayuku terlebih dahulu’. Gumam pria itu gemas. Ya, Seo Na berhasil membuat pria itu melayang-layang, bahkan Dong Hae tau Seo Na adalah wanita yang akan dibunuhnya, tapi rasanya….

‘ah, aku tidak yakin aku bisa membunuhmu Seo Na-ssi. Kau terlalu berharga…’

~~~000~~~

Keduanya sama-sama terdiam dipelataran apartemen lantai 19 itu, apartemen yang 3 tahun belakangan ini menjadi tempat tinggal Dokter tampan itu. bukan tidak ingin tinggal dirumahnya yang tidak kalah megah, tapi karena pertentangannya sejak lama dengan Ayahnya itu ia tidak ingin tinggal tetap disana, jikapun ia berkunjung mungkin hanya untuk melihat Ibu nya dan juga kakak perempuannya, itupun jika Ayahnya sedang tidak berada dirumah.

“aku bisa menjelaskannya pada mu Park Seo Na, dan aku minta kau untuk mendengarkan penjelasanku”. Terdengar nada menekan dari ucapan pria itu. Seo Na hanya meliriknya sebentar lalu pandangannya kini berubah lurus kedepan.

“tidak. Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu, semuanya sudah jelas Kyu Hyun-ssi”. Seo Na tetap pada pendiriannya, meskipun ia sadar Kyu Hyun tidak sedang main-main tapi tetap saja ia tetap akan membenci pria itu, membenci? Entahlah.

“baiklah, aku tau kau memang keras kepala Seo Na. Jika kau tidak ingin mendengar penjelasanku soal masalah kita, aku akan bertanya padamu tentang pembunuhan yang sudah kau rencanakan dengan Ayah-ku”. Seo Na tak melirik pria itu sedikitpun, Kyu Hyun menarik napasnya, menghembuskannya kasar. “aku harap kau tidak membunuh pria itu”.

“kenapa? Kenapa aku harus mendengarkanmu Kyu Hyun-ssi? Semua ini tidak ada hubungannya denganmu”. Seo Na menatap tajam pria itu, Kyu Hyun juga balas menatapanya, mengunci tatapan mata gadis yang benar-benar ia rindukan itu, sayang kini gadis itu sudah tumbuh sebagai seorang pembunuh yang berhati dingin.
Seo Na menunduk, mata itu, ia tidak tahan untuk menatapnya. Jika boleh, ia ingin berlari kedekapan pria itu dan

berkata,

‘Aku

merindukanmu Kyu Hyun-ssi, aku lelah hidup seperti ini. mari kita pergi jauh dan tinggal hidup damai dari keramainan’. Kyu Hyun bukan tidak mengerti kenapa gadis itu menunduk, ia tau Seo Na lelah berperan sebagai orang jahat selama ini, 2 tahun bersama bukan waktu yang singkat untuk bisa saling mengenal satu sama lain dan kini Kyu Hyun bisa membaca gerak gerik dari gadis itu.

“aku merindukanmu Park Seo Na, aku benar-benar merindukanmu”. Ucap Kyu Hyun lemah, mendengar ucapan pria itu Seo Na menatapnya nanar, terlihat jelas dipipi gadis itu satu persatu air matanya jatuh begitu saja, ia benar-benar tidak tahan ia lelah menjadi dirinya saat ini, lelah berpura-pura jika ia tidak rapuh, lelah jika hari-harinya dipenuhi rasa bersalah, ia benar-benar manusia yang tidak ada derajat lagi dimata Tuhan.

Kyu Hyun mendekap tubuh gadis itu, Seo Na terisak tubuhnya seketika bergetar, isak tangis gadis itu terdengar tersiksa. Kyu Hyun mempererat pelukannya, membiarkan gadis itu menangis didalam dekapannya, sudah lama sekali sejak mereka berpisah dan semuanya masih sama, pelukan hangat gadis itu, suara tangisnya yang begitu membuat Kyu Hyun putus asa, ia ingat terakhir kali melihat Seo Na dengan air mata yang tidak pernah kering dari matanya, hanya saja keadaan saat itu tidak bisa mempersatukan mereka itu sebabnya Kyu Hyun tak pernah suka dengan Ayahnya, karena pria Tua itulah yang memaksa Kyu Hyun untuk segera ke Jepang dan melanjutkanpendidikannya.

“maaf atas semua yang sudah kulakukan, waktu itu aku harus ke Jepang, Ayahku yang memaksaku untuk itu, hari itu aku melihatmu untuk yang terakhir kali, aku tau seharusnya aku berada didekatmu saat itu, tapi asal kau tau aku juga tersiksa menjalani hariku selama ini, tanpa kau Park Seo Na, aku benar-benar gila”. Kyu Hyun merenggangkan pelukan mereka, menatap mata Seo Na yang mulai sembab, isak tangisnya masih terdengar, wajah cantik itu kini berubah menyedihkan.

“semuanya sudah terlambat Kyu Hyun-ssi, aku bukan Park Seo Na yang pernah kau kenal dulu, Maafkan aku”. Kyu Hyun mengadahkan kepalanya, air mata pria itu seketika ingin keluar mendengar ucapan Seo Na, tidak ada lagi gadis selai kacang nya yang manis dan penurut, yang ada hanya gadis yang siap kapan saja membunuh orang lain.

“kau bisa kembali Seo Na-ya, ku mohon, hentikan semua kegilaan ini, aku akan menjagamu sampai aku mati, aku akan menebus semua kesalahanku, ku mohon hentikan semua ini”. Seo Na menggeleng, bagaimana ia bisa menghentikan semua yang sudah ia lakukan selama ini, ia sudah terlanjur jauh melangkah meninggalkan masa lalunya, jika ia berhenti maka hidupnya juga akan berakhir.

“Ayahmu tidak main-main Kyu Hyun-ssi, aku sudah dibayar mahal untuk melakukan hal itu, jika kau ingin menghentikanku kau bisa membunuhku dan selamatkan nyawa Aiden Lee, pria itu dia baik padaku”. Kyu Hyun mengerjapkan matanya, hatinya rasa direjam pedang, kalimat Seo Na membuat hatinya sesak, ini benar-benar menyakitkan menerima kenyataan tentang gadis kesayangannya.

“kau mencintainya?”.

DEG!

‘aku tidak tau Kyu Hyun-ssi, tapi aku begitu merindukannya saat ini’. itu yang ingin diucapkan Seo Na, tapi tidak. Ia tidak ingin pria dihadapannya ini semakin hancur, meskipun Kyu Hyun pernah meninggalkannya, tapi Seo Na masih sangat mencintai pria itu, tapi kini setelah adanya Aiden Lee dihidupnya bagaimana?

“aku tidak mencintainya, aku membencinya, aku akan membunuhnya”. Tatapan gadis itu berubah gusar, tidak ada lagi cahaya disana. ‘membenci?’. Ia tidak tau pasti,apakah ia benar-benar membenci Aiden Lee.

“Seo Na-ya, ku mohon”. Kyu Hyun mengecup singkat dahi gadis itu sebelum ia menyatukan dahinya dengan dahi Seo Na, kini mata keduanya saling bebas berpandangan.

“maaf, aku tidak bisa menghentikannya”. Seo Na memberi jarak, melepaskan genggaman tangan Kyu Hyun di lengannya, meninggalkan pria itu yang kini tengah mematung ditempatnya.

Maafkan aku, Cho Kyu Hyun…”

~~~000~~~

Seo Na berjalanan ditengah keramaian kota Seoul, tujuannya kali ini adalah cafe shop tempat ia meninggalkan mobilnya tadi sebelum diseret Kyu Hyun menuju apartemen pria itu. tatapan gadis itu benar-benar kosong, pikirannya kini entah melayang kemana-mana, wajah yang kini ingin sekali ia lihat adalah wajah Aiden Lee. Waktunya tinggal 4 hari lagi bukan, setelah itu jika ia tidak bisa membunuh pria itu maka ia akan terbunuh.
‘apa aku saja yang menyerahkan nyawaku? Lalu bagaimana dengan Seo Jin dan Seo Min? Mereka masih membutuhkanku, aku menyayangi mereka’. Ucap gadis itu putus asa, baru saja ia menyebutkan kedua nama adiknya, kedua adiknya yang kini berada di Paris menunggu kedatangan Seo Na untuk segera menetap disana selamanya.

“aku pikir kau tidak terbiasa berjalan kaki Nona park”.

Terdengar suara seorang pria dari arah belakangnya, suara itu? bukankah suara milik Aiden Lee. Gadis itu membalik tubuhnya, ia benar, disana sudah berdiri pria tampan dengan senyum manisnya. ‘Aiden Lee’. Gumamnya dalam hati.

“kenapa hanya menatapku saja? Hei, matamu kenapa? Kau menangis?”. Seo Na menghabur kedalam dekapan tubuh pria itu, ia tidak tahan jika tidak menangis, pria itu sungguh ia benar-benar merindukan sosok pria itu.

“Seo Na-ssi, hmm… aku tau kau sedang merindukanku tapi, ini tempat umum kau bisa memelukku ditempat yang sunyi saja, bagaimana?”. Dong Hae menggoda gadis itu, Seo Na langsung melepas pelukannya, memukul lengan kekar pria itu dan itu sukses mengundang tawa geli Dong Hae melihat tingkah manja Seo Na yang tiba-tiba.

“ikut denganku, aku tidak suka ada air mata diwajah cantikmu”. Dong Hae mengenggam tangan Seo Na, mempersilahkan gadis itu untuk masuk kedalam mobilnya.

~~~000~~~

“Park Seo Na? Kau yakin dia kekasihnya Dong Hae? maksudku Aiden Lee?”. Ucap gadis itu sinis, Yu Ra menyusup teh hangatnya lalu kembali fokus pada sahabatnya itu.

“tentu saja, gadis itu cantik, bahkan gaya berpakaianya saja benar-benar kelas tinggi, aku rasa dia benar-benar kaya raya”. Yu Ra tersenyum renyah, bagaimana incarannya bisa terjebak dalam pesona wanita lain, bukankah Dong Hae tertarik padanya? Buktinya saja pria itu mengantarnya pulang ketika mereka bertemu beberapa minggu yang lalu. tapi entahlah, bukankah Dong Hae memang baik pada semua orang?

“aku tidak percaya”. Ucap Yu Ra sinis, wanita didepannya itu mengangkat bahunya.

“terserah jika kau percaya atau tidak, tapi aku yang benar-benar sudah melihat gadis itu saat itu ia berkunjung keperusahaan bersama Sajangnim, kau tau bagaimana mereka benar-benar romantis Yu Ra-ya, aku yakin mereka pasti memiliki hubungan yang serius”. Yu Ra memicingkan matanya kearah gadis yang bernama Min Soo itu. Eun Min Soo juga bekerja diperusahaan JL Company sebagai resepsionis, jadi tidak heran jika ia tau tentang Park Seo Na, bukankah ia yang melihat langsung saat Dong Hae menggandeng wanita itu dengan wajah yang berseri-seri.

“apa kau punya identitas tentang gadis itu lagi?”. Tanya gadis itu penasaran, Yu Ra semakin ingin tau tentang Seo Na, siapa gadis yang sudah berani memikat teman dimasa kecilnya itu, sekaligus pria yang menjadi incarannya.

“tidak ada, tapi para karyawan di kantor pasti banyak yang tau tentang informasi gadis itu”. Yu Ra tersenyum sinis, bagaimanapun ia harus mendapatkan Lee Dong Hae, pria itu harus berada dalam genggamannya.

~~~000~~~

Kyu Hyun menarik kenop pintu ruang kerja Ayahnya kasar, ia harus berbicara sesegera mungkin dengan pria itu, ia tidak tahan lagi jika Ayahnya masih memperbudak Seo Na untuk membunuh Aiden Lee, sudah cukup gadis-nya berbuat kejahatan, ia tidak bisa terima.
“Kyu Hyun-ah”. Terdengar nada kaget dari panggilan Tuan Cho, ia cukup terkejut dengan hempasan pintu yang baru saja dilakukan putranya itu.

“Aboji! Ku mohon hentikan semua ini!!! kau tau, gadis itu Park Seo Na, gadis yang ku cintai!!!”. Ucapan Kyu Hyun penuh amarah, ia tidak segan berteriak kearah pria yang dianggapnya Ayah itu.

“aku bisa menjelaskannya Kyu Hyun-ah, kau sudah keterlaluan terhadap Ayah!”. Ucap Tuan Cho tidak kalah membentak.

“apa yang baru saja ku dengar? Ayah bilang aku keterlaluan? Aku masih menganggapmu Ayah Tuah Cho, tapi anda sendiri yang membuat aku jadi seperti ini! lepaskan wanita itu! aku mencintainya!!!”.

“dia harus ku bunuh, sebelumnya ia harus membunuh Aiden Lee untukku. Gadis itu, adalah anak dari Park Jae Kang, kau tau dia siapa? Dia yang sudah menghancurkan perusahaan kita 5 tahun yang lalu, keluarga itu yang sudah membuat kita sengsara selama bertahun-tahun meskipun akhirnya aku berhasil merebut keberhasilan perusahaan ini lagi. Aku sudah tau dari awal jika Park Seo Na adalah putrinya, karena itu gadis itu harus mati. Aku yang menyebabkan kecelakaan kedua orang Tuanya, dan kau itulah tujuanku menyuruhmu untuk segera ke Jepang setelah kematian orang Tua gadis itu, aku membencinya, karena dia anak Park Jae Kang”.

Mendengar pengakuan dari Ayahnya, Kyu Hyun seperti tersengat listrik tepat dikepalanya, jadi ini semua sudah direncanakan jauh-jauh hari? Jadi semua penderitaan gadis itu berasal dari Ayahnya? Ia masih tidak mengerti, kenapa semua orang didunia ini berubah menjadi menyeramkan hanya karena Uang.

“aku tidak akan menganggap anda lagi sebagai ayah  ku Tuan Cho yang terhormat, aku akan melindungi gadis itu, jika tidak nyawanya akan kugantikan dengan nyawaku, permisi”. Rahang pria itu seketika mengeras, tangannya sudah menggepal, ia benar-benar tidak bisa menyangka dengan semua ini. berkali-kali Tuan Cho memanggil anaknya itu, tetap saja Kyu Hyun berlalu dan meninggalkan pria tua itu diruangan kerjanya. 

~~~000~~~

Angin laut semerbak bertiup kencang sore itu, diujung sana matahari sudah terbenam hampir sepenuhnya, kedua insan itumasih duduk sambil menatap kearah matahari yang terbenam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, sesekali keduanya saling berpandangan tapi tak lama kemudian asik kembali dengan pikiran masing-masing.

“jadi seperti ini jika wanita sedang merindukan seorang pria? Ia menunggu pria itu berbicara padanya, begitu?”. Seo Na tersenyum mendengar ucapan pria yang persis berada disampingnya itu.

“entahlah Aiden-ssi, sepertinya ini terakhir kalinya aku melihat senja yang indah”.

DEG!

Dong Hae menatap gadis itu, ucapan yang baru saja ia dengar dari Seo Na benar-benar terdengar aneh. ‘terkahir kali melihat senja yang indah?’. Maksudnya?

“aku tau, pasti kau sedang bertanya kenapa aku mengatakan hal itu? dulu, Ayah dan Ibuku juga mengatakan hal yang sama, dihari terakhir ku disekolah mereka mengatakan ‘Seo Na, ini seperti hari terkhir yang membahagiakan, setelah ini kau harus tumbuh menjadi gadis yang kuat’ mereka mengatakan itu padaku, aku tidak menyangka jika ucapan mereka benar, kecelakaan itu merenggut nyawa keduanya, aku dan kedua adikku selamat dari kecelakaan maut itu, entahlah kenapa harus mereka yang pergi, kenapa bukan aku”. Seo Na terdiam sejenak. Dong Hae menatap wajah Seo Na, ia melihat air mata sudah turun dipipi gadis itu.

“aku tau, kecelakaan itu disengaja, aku masih ingat ketika Ayah tidak bisa menginjak pedal rem nya, seseorang sudah mencelakai kami, aku tidak tau kenapa. Akhirnya, semua berakhir, Ayah dan Ibu mereka pergi dan juga semua harta kekayaan yang mereka tinggalkan beralih ketangan orang lain, entalah yang aku ingat mereka mengatakan perusahaan Ayah sudah tidak berfungsi lagi, andaikan waktu itu aku seperti sekarang aku akan menjalankan perusahaan itu dan berhasil seperti dirimu Aiden-ssi. Tapi tidak, yang ada aku hanya semakin terpuruk, satu-satunya kekasih yang ku miliki, juga harus pergi dariku, meninggalkanku disaat aku butuh sandaran, ia ke Jepang dan tak pernah mengunjungiku”. Dengan susah payah Seo Na menceritakan kepedihan hatinya pada Dong Hae, gadis itu benar-benar tidak tau lagi harus berbuat apa, yang ia rasakan saat ini adalah ia merasakan titik lelah hidupnya.
Dong Hae menarik tubuh gadis itu kedalam dekapannya, membiarkan Seo Na sejadi-jadinya menangis didalam dekapan pria itu, setidaknya hanya ini yang ia bisa lakukan sekarang untuk Seo Na.

‘aku tau, kau lelah bersandiwara Seo Na-ssi, aku tau kau gadis yang baik’.

To Be Continue

~~~000~~~

Posted from WordPress for Android