Tag Archives: HeeChul

TEARS ARE FALLING (6/6)

Standard

TEARS ARE FALLING (6/6)

Action, romance. PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast

 

Keduanya hanya bungkam, tanpa mengatakan apapun. Gadis itu lebih banyak menikmati rasa sakit yang kini tiba-tiba ia rasakan, sudah berkali-kali ia menahan air matanya tetap saja cairan bening itu terus mengalir beserta dengan isakkan tangis yang bahkan tak bisa diredam, entah kenapa semuanya terasa begitu sakit, padahal sudah jelas bukan pria yang dihadapannya ini tidak memiliki hubungan apapun dengannya, tapi kejadian yang baru ia lihat dengan mata kepalanya beberapa waktu lalu cukup membuatnya sakit, bahkan hatinya benar-benar linu saat ini.

“aku bisa menjelaskannya”. Pria itu meraih kedua bahu Seo Na, namun gadis itu menepisnya, ia memalingkan tubuhnya dari hadapan pria itu. tidak, ia tidak ingin mendengar apapun dari mulut pria itu, hatinya sedang benar-benar sakit.

“untuk apa? Untuk mengatakan jika dia itu kekasihmu? Banyak yang kau sembunyikan dariku Aiden-ssi, masa laluku, semuanya. Kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku? Katakan saja semua yang kau sembunyikan dariku, katakan dan aku bisa secepat mungkin lepas darimu. Kau tau, aku benar-benar tersiksa, bahkan ini tidak seperti yang ku inginkan. Aku ingin hidup dengan baik, aku ingin melakukan semuanya dengan baik. ku mohon, katakan padaku!”. Seo Na menarik napasnya, gadis itu berbicara dengan susah payah, bahkan Dong Hae tidak bisa membedakan gadis itu sedang berbicara atau terisak.

Pria itu menarik tangan Seo Na, meskipun gadis itu meronta tak ingin ikut dengan pria itu tapi tetap saja kekuatan pria itu lebih besar, Dong Hae mengiring gadis itu kedalam mobilnya, mungkin dengan menunjukkan suatu tempat gadis itu bisa mengingat semuanya, mungkin.

~~~000~~~

“aku tidak menyangka kau seperti ini Yu Ra-ya, persetan dengan ambisi mu memiliki pria itu, tapi tidak seharusnya kau menyakiti gadis itu!”. nada bicara Hee Chul meninggi, ia tetap fokus pada jalanan namun otaknya kini benar-benar berkecamuk.

Wae? Aku tidak melakukan apa-apa pada gadis itu, aku hanya-“.

“kau pikir aku tidak mendengar pembicaraan kalian tadi? Jadi gadis itu hilang ingatan karena ulahmu? Ya! kau itu gadis yang baik selama bersamaku, tapi kenapa kau malah berubah menjadi monster sejak aku meninggalkanmu, Eo?! Kau masih menganggapku Oppa-mu bukan, jadi berhentilah menyakiti orang lain Yu Ra-ya!”. Hee Chul menginjak pedal rem mobilnya mendadak, kepala gadis yang berada disampingnya itu hampir terbentur kedepan.

Aish! Ya! seharusnya kau mikirkan ku juga Oppa, aku juga sama terlukanya dengan dia”. Tandas gadis itu, Yu Ra tidak ingin kalah, ia tidak ingin mengakui semua yang telah ia lakukan, yang ia tau Dong Hae harus jadi miliknya.

“kau egois, karena itu Dong Hae tidak pernah bisa mencintaimu. Seharusnya kau bahagia melihat orang lain bahagia karenamu, bukan membuat orang lain menderita, jika kau tidak ingin mendengarkan kata-kataku lagi, kau boleh turun”.

Oppa”.

“aku tidak pernah merasa memiliki adik sepupu yang kejam sepertimu”. Lanjut Hee Chul lagi, ia tidak sedikitpun menatap kearah Yu Ra yang sejak tadi menatapnya tak percaya. Hee Chul yang selalu memanjakkannya selama ini , kali ini berani mengusirnya dari dalam mobil milik pria itu, hebat bukan?

~~~000~~~

Dong Hae menghentikan mobilnya, menepi pada trotoar di tepi sebuah pemakaman di atas bukit ditepi laut. Ia menatap Seo Na yang sejak tadi menunduk tanpa mengatakan apapun, gadis itu hanya diam meskipun ia tidak tau Dong Hae akan membawanya kemana.

“ikut denganku, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu”. Dong Hae keluar dari dalam mobilnya, berjalan memasuki area pemakaman yang banyak ditubuhi pohon bunga Cherry Blossom. Seo Na mengikuti pria itu dari belakang, tanpa mengatakan apapun.

Keduanya sampai pada salah satu makam seorang pria, masih begitu banyak bunga berjejer disana, ini sudah 3 bulan sejak ia meninggal aroma karangan bunga yang dibawa peziarah masih khas tercium disana. Dong Hae berdiri persis dihadapan makam itu, disana masih terpampampang jelas foto seorang pria memakai jas hitam dengan senyum yang menjadi ciri khasnya, ia sangat tampan di foto itu.

“lihatlah, pria ini masih tetap tersenyum setelah apa yang ia lakukan, Kyu Hyun-ssi, apa kau baik-baik saja disana?”. gumam Dong Hae, ia menatap gadis yang kini sudah berdiri disampingnya. Menatap sebuah foto berfigura cukup besar yang kini terpajang disana.

Seo Na mendekat kearah figura itu, memandanginya sambil berjongkok. Ia mengelus wajah yang berada disana, ia yakin pria ini pernah hidup dimasa lalunya. Tapi siapa? Seo Na tidak mengetahui siapa pria itu.

“siapa?”. Akhirnya gadis itu bersuara, meskipun suaranya terdengar begitu berat.

“kau tidak mengingatnya?”. Seo Na menggeleng lemah, ia benar-benar tidak mengingat pria itu, pria yang sudah mengorbankan nyawanya demi gadis itu.

“dia Cho Kyu Hyun. Pria yang mengganti nyawamu-“. Dong Hae menghentikan ucapannya, ia benar-benar belum siap melihat Seo Na harus menerima kenyataan hidupnya selama ini.

Wae?”.

“Kyu Hyun-ssi, yang mengganti nyawamu dengan nyawanya, dia meninggal 3 bulan yang lalu setelah menyelamatkanmu”. Dengan susah payah pria itu mengatakannya, Dong Hae benar, Seo Na kini menatapnya nanar, terlihat jelas bahwa gadis itu sama sekali tidak percaya, bahkan kini cairan bening itu sudah berkali-kali tumpah dipipinya.

“aku tau, ini menyakitkan. Kyu Hyun sangat mencintaimu dimasa lalu, sama seperti aku. Kami mencintaimu, kami melindungimu, tapi entah kenapa pria itu curang, ia malah berkorban banyak untukmu, pada akhirnya ia meninggal dan aku merasa aku harus menjagamu, aku harus berkorban untukmu juga Seo Na-ssi”. Seo Na tertunduk. Lebih banyak isakkan tangis yang kini didengar Dong Hae dari mulut gadis itu.

Jinjja Appo”. Rintih gadis itu, bahkan ia tidak bisa merasakan rintikkan hujan yang kini sudah membasahi tubuhnya, dihatinya ia hanya bisa merasakan sakit. Jadi seperti itu masa lalunya, seorang pria berkorban dan menggantikan nyawa Seo Na dan membiarkan nyawanya tidak terselamatkan. Meskipun Seo Na tidak mengingat apa-apa saat ini, tapi kenapa hatinya begitu nyeri. Gadis itu bangkit, berlari sekuat ia bisa tanpa menghiraukan panggilan Dong Hae.

~~~000~~~

CHAPTER 4

Apakah cinta itu? Apakah perpisahan itu?

Mengapa itu membuatku merasa sakit?

( Tears Are Falling – Wax )

Sejauh apa ia bisa berlari, sejauh apa ia harus bisa menerima kenyataan tentang hidupnya. Bagaimanapun ia harus menerima konsekuensinya bukan? Masa lalu yang ia harap adalah sebuah masa lalu yang bahagia tapi pada kenyataannya semua itu berbanding terbalik dengan yang ia harapkan, tidak ada kebahagiaan disana, yang ada hanya kepedihan dan penderitaan. Dan kini, haruskan ia mengetahui semuanya? Yang segelintir saja sudah membuatnya merasa hancur.

“Seo Na-ya! Park Seo Na!!!”. Seseorang baru saja meneriakki namanya ditengah hujan, langkah kaki gadis itu terhenti. Pria itu mendekat kearahnya, memperhatikan seluruh tubuh gadis itu yang kini sudah basah kuyup, air matanya yang terus mengalir bersama hujan, juga kondisinya yang bahkan tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

Odiga?! Waeguere?”. Pria itu menarik tangan Seo Na, menuntun gadis itu kedalam mobilnya.

Hee Chul masih bungkam, ia lebih memilih membiarkan gadis itu menangis terisak disampingnya. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah membawa gadis itu ke Apartemennya, mengganti pakaian gadis itu dengan pakaian yang kering. ‘ini sudah malam kenapa gadis ini malah berlarian ditengah hujan?’. Gumam pria itu.

~~~000~~~

“kita sudah sampai, ini gedung Apartemen tempat ku tinggal. Aku tinggal di lantai 21”. Seo Na menatap pria itu sebelum ia ikut turun dan berjalan disamping Hee Chul, meskipun kini banyak pasang mata yang tengah memperhatikan Hee Chul yang kini tengah menggandeng seorang gadis yang sudah basah kuyup dengan setelah dress putih selutut.

Oppa, Odiga?”. Ucap gadis itu pada akhirnya, Hee Chul menatap gadis itu yang seujujurnya memang benar-benar dalam kondisi yang sangat buruk.

“kita akan mengganti pakaianmu, tenang saja aku tidak akan melakukan apa-apa. Kau kedingingan, kau bisa sakit”. Hee Chul melanjutkan langkahnya, masuki lift menuju lantai 21.

Pintu lift terbuka, Seo Na menatap Hee Chul. pria itu juga balas menatapnya. “kita sampai”. Hee Chul menuntun gadis itu keluar dari lift namun beberap orang pria kini berjalan kearah mereka hampir menubruk tubuh lemah Seo Na tanpa sengaja Hee Chul memeluk gadis itu persis didepan lift, dan….

DEG!!!

Sesuatu dirasakan gadis itu, darahnya seperti mengalir dari ujung kaki hingga sampai kekepalanya, ia merasa pernah dalam keadaan seperti ini. bukankah ini persis sama dengan kejadian waktu itu bukan?

Satu tembakan….

Dua….

Tiga….

‘tembakan pertama tepat pada perutku, tembakan kedua dan ketiga… aku tidak tau mengarah pada siapa, yang jelas pria yang sedang memelukku saat ini tersungkur tepat dihadapanku’.

Seo Na menatap sekelilingnya, semua masih sama dalam keadaan yang sama, ia mengingat semua yang terlupakan selama ini. ia mengingat semua masa lalunya dengan jelas. Seo Na sipembunuh, Kyu Hyun kekasihnya dimasa lalu yang mengganti nyawa Seo Na dengan nyawanya, Aiden Lee pria yang akan ia bunuh, semuanya, teringat dengan jelas. Tiba-tiba tubuh gadis itu tidak dapat digerakkan sama sekali, isi kepalanya seperti benar-benar terputar, ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi, semua terasa gelap kembali.

“Park Seo Na!!! Seo Na-ya?!”

~~~000~~~

3 week later…

“aku akan kembali ke Amerika bersama Yu Ra-ssi, aku harus membina gadis itu disana”. Seo Na terkekeh, ia cukup sedih dengan keputusan Hee Chul untuk segera kembali ke Amerika, tapi bagaimanapun pria itu punya kehidupan yang layak disana bukan.

“terimakasih untuk semuanya Oppa, aku tidak tau harus membalasnya dengan apa. Ketika kau sampai di Amerika, aku juga harus segera ke Paris menemui kedua adikku”. Seo Na tersenyum, pria itu memeluk Seo Na. Ia beruntung bisa mengenal Seo Na, bukankah gadis ini sudah seperti adiknya.

“tidak perlu membalasnya dengan apapun, cukup membalasnya dengan menikah denganku”. Hee Chul terkekeh, menyadari ucapannya yang nyaris membuat Seo Na terbahak.

“Hahaha baiklah, aku akan menunggumu di Paris”. Goda gadis itu, dan itu hanya semakin membuat Hee Chuk terkekeh geli.

“tidak, aku tidak akan kesana untuk melamarmu. Aku bisa-bisa dihabisi oleh Aiden Lee, kau tau bukan dia begitu gila mencintaimu”. Keduanya sama-sama tertawa, sebelum kehadiran seorang pria membuat keduanya menyembunyikan tawanya.

Ya! apa kalian berdua menertawakanku? Eo? Seo Na-ya, kau berani berkencan dengan pria lain dibelakangku ya?”. Seo Na terkekeh mendengar tuduhan kacangan Dong Hae, ia mengibaskan tangannya, menarik tangan Dong Hae untuk duduk diantara ia dan Hee Chul.

Anio, kami hanya berjanji untuk menikah dikemudian hari. Ya kan oppa?”. Hee Chul mengangguk.

“tentu saja”.

Ya! Hyung, dia itu milikku”. Keduanya tertawa melihat celotehan Dong Hae yang semakin kesal dengan keduanya. Akhirnya mereka bertiga menghabiskan makan siang mereka dengan candaan dan tawa, untuk yang terakhir kalinya sebelum Hee Chul kembali ke Amerika untuk melanjutkan hidupnya.

~~~000~~~

“kita mau kemana?”. Ucap Dong Hae, Seo Na memutuskan mengajak Dong Hae kesuatu tempat setelah mereka selesai makan siang bersama Hee Chul, dan pria itu memutuskan untuk segera kembali ke Apartemennya.

“menemui kekasihku”. Seo Na sedikit terkekeh, tanpa memperdulikan wajah Dong Hae yang sudah berubah kesal.

“kekasih?”.

Ne, kekasihku”. Ucap gadis itu enteng.

Dong Hae menyipitkan matanya. “setelah Hee Chul Hyung, kau berhubungan dengan siapa lagi?”.

Seo Na menatap geli pria yang kini duduk disampingnya itu, lalu kembali fokus pada jalanan.“ aku hanya ingin berkunjung kemakam Kyu Hyun, aku merindukannya. Hei, kan aku yang jadi supirnya, Aiden-ssi tetaplah diam dan jadi penumpang yang baik.”

Keduanya sampai disana, Seo Na turun lebih awal melangkahkan kaki kecilnya menuju satu makam yang menjadi tujannya datang kemari. Dan kini Ia sudah berlutut dihadapan makam pria yang sungguh kini tengah ia rindukan, setelah ingatannya kembali pulih gadis itu benar-benar merasa bersalah kepada Kyu Hyun, bagaimana ia bisa membiarkan otaknya selama ini melupakan bagian tentang pria itu. Dong Hae berdiri dibelakang Seo Na membiarkan gadis itu meneluarkan semua perasaannya untuk yang terakhir kali sebelum ia memutuskan untuk tingal di Paris.

“Cho Kyu Hyun, Kyu-ya. aku merindukamu. Apa kau baik-baik saja disana? kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau meninggalkan aku? Kenapa kau tidak membiarkan aku yang pergi? Kyu-ya, saat aku tertidur, dan saat mataku terbuka, aku ingin kau tetap berada disampingku, aku ingin kau tetap menemaniku, tapi kenapa kau pergi? Terimakasih atas cinta yang sudah kau berikan padaku, aku juga mencintaimu. Aku merindukamu. Dimasa lalu, kita pernah bersama bukan, dimasa lalu kita pernah saling memiliki, dan akan terus seperti itu. Kyu-ya, aku ingin menangis, aku ingin membiarkan seluruh sakitku hilang, tapi aku tidak bisa, terlalu banyak rasa sakit yang aku rasakan hingga aku tidak bisa merasakan apapun. Kyu Hyun, aku mencintaimu, aku akan menjadi gadis selai kacangmu yang baik, aku berjanji”. Seo Na bangkit, ia menghapus air mata yang sejak tadi sudah membanjiri pipinya. Ia menatap figura seorang pria yang kini tengah tersenyum kearahnya. Biarkan hari ini ia tetap mengingat pria itu, biarkan hari ini hatinya tetap memilki pria itu, dimasa lalu ia akan melanjutkan kehidupannya tanpa Kyu Hyun lagi. Setelah Ayah-ibu-dan Kyu Hyun-nya ia tidak ingin kehilangn apapun lagi, cukup mereka yang sudah menghiasi masa lalu Seo Na.

“Aiden-ssi”. panggil gadis itu, Dong Hae menatap Seo Na, menarik gadis itu kedalam dekapannya. Membiarkan semua rasa sakit gadis itu tersalurkan kepadanya, ia juga merasakan sakit meskipun tidak sebanyak gadis itu, tapi ia akan melindungi Seo Na bukan? Berkorban demi gadis itu, seperti yang pernah dilakukan Kyu Hyun pada Seo Na.

“aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi Seo Na-ya, tidak akan”.

~~~000~~~

3 years laters…

Eonni, seharusnya kau menyuruhku lebih dulu untuk kembali ke Seoul”. Seo Jin melempar handuk kearah kakaknya itu, tidak memperdulikan Seo Na yang kesal dihadapannya.

Ya!”.

Seo Jin terkekeh, kini gadis itu duduk disamping kakaknya yang sejak tadi asik memilih gaun pengantin. “ini, bagus untukmu”. Seo Jin menunjuk satu gaun bermotif bunga Cherry Blossom kesukaan kakanya, Seo Na menatap adiknya itu mencoba meyakinkan dirinya.

Jinjja?”.

“tentu saja, aku jamin kau cantik memakai gaun itu”. Seo Jin menyenggol lengan kiri Seo Na menggoda gadis itu yang akan menikah seminggu lagi dengan seorang pria tampan.

“Aiden Oppa? Apa kau yakin akan menikahinya?”. Seorang gadis kini sudah hadir diantara mereka berdua. Seo Min yang sudah menuntaskan kuliahnya di Paris, dan memutuskan untuk kembali ke Seoul bersama Seo Jin. Seo Na memang tidak jadi menetap di Paris, ia mengurungkan niatnya untuk menyusul kedua adiknya, gadis itu sekarang bekerja sebagai seorang penulis, setelah tulisan tentang kehidupan pribadinya sukses terjual beberapa tahun lalu, akhirnya ia memutuskan untuk tetap menetap di Seoul dan menjadi seorang penulis.

Ya! kenapa kau bertanya hal itu pada Eonni?”. Protes Seo Jin, Seo Min hanya menggeleng.

“seharusnya Aiden Oppa menikah denganku”. Ucap gadis itu, yang direspon pukulan kecil dikepalnya.

ya! dasar gadis genit!”. Seo Min melesat dari hadapan kakaknya itu sebelum Seo Jin memberi pukulan lebih keras pada kepalanya.

“apa aku menganggu tiga orang gadis ini?”. kehadiran seorang pria tampan kini sukses menyita perhatian ketiganya, Seo Na menatap pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya.

“tidak, kemarilah”. Ucap gadis itu yang direspon cibiran oleh kedua adiknya.

“Ya, ya, ya. pasangan romantis ini sepertinya sedang dimabuk asmara, Seo Min ikut denganku! Biarkan pasangan serasi itu menghabiskan waktunya berdua”.

Eonni, tapi aku ingin melihat Aiden Oppa lebih lama”.

Ya!”.

Dong Hae dan Seo Na hanya terkekeh geli mendengar celotehan kedua perempuannya itu, mereka memilih mengasingkan diri kebalkon Apartemen Seo Na yang sengaja ia beli beberapa tahun lalu sejak ingatannya kembali pulih, Apartemen mewah yang tidak terlalu jauh dari Rumah Dong Hae.

“ketika melihat kota Seoul malam hari seperti ini, aku seperti melihat lautan permata yang berkilauan”. Racau Seo Na, Dong Hae memperhatikan gadis itu. menatap sekujur tubuh Seo Na yang terlihat cantik dan sederhana dengan balutan Dress merah jambu dan switter putih yang menambah kesan manis pada gadis itu.

“tapi aku punya lautan, yang cukup menangkan hatiku. Sejak pertama aku melihat kedua matanya”. Lanjut gadis itu lagi. Dong Hae tersenyum, ia tau apa yang dimaksud Seo Na adalah dirinya.

“aku juga punya seorang gadis yang terus menerangi lautanku”. Ucap pria itu, Seo Na tersenyum lalu menatap kearah Dong Hae yang sejak tadi sudah memperhatikannya.

“kau menggodaku lagi Aiden-ssi. Dong Hae terkekeh.

“memangnya tidak boleh menggoda calon istriku?”.

“calon istriku? Siapa bilang aku akan menikah denganmu, aku akan menikah dengan Kyu Hyun-ssi?”.

“kau akan menikah dengan orang yang sudah mati?”.

Seo Na tertawa menyaksikan ekspresi Dong Hae yang berlebihan, gadis itu mengangkat tangannya, menempelkan telapak tangan kanannya pada pipi Dong Hae, mengelus pipi pria itu pelan.

“karena Kyu Hyun-ssi sudah tidak ada, aku akan menikah denganmu”. Dong Hae mengenggam tangan Seo Na yang sejak tadi leluasa mengusap pipinya. “bukan karena Kyu Hyun tidak ada, jikapun ia ada aku akan tetap menikah denganmu”. Lanjut gadis itu lagi. Dong Hae tersenyum, ia menarik tengkuk Seo Na menuntun kepala gadis itu mendekat kewajahnya, semakin mendekat hingga daun bibir mereka bertemu.

~~~000~~~

Seo Na said, For Kyu Hyun

Aku menunggu datangnya hari itu, bertemu denganmu lagi setelah sekian lama kita tidak pernah bertemu, aku membencimu, aku sangat membencimu tapi pada kenyataannya kebencian itu hanya kata lain dari rasa rindu yang ku rasakan. Jika aku boleh menangis aku akan menangis, jika aku boleh bersedih aku akan bersedih, jika aku boleh tertawa aku akan tertawa, tapi setelah kau pergi pada kenyataannya aku hanya cangkang kosong yang harus tetap baik-baik saja meskipun kenyataanya hatiku ingin berteriak ngilu.

“Kyu Hyun-ah, Cho Kyu Hyun”. Aku memanggil namamu, tapi tidak kau tidak pernah berbalik dan kembali padaku. Kau tau aku merindukanmu, aku menunggumu selama bertahun-tahun, dan kini aku tidak akan menunggumu lagi.

Terimakasih atas cinta dan pengorbananmu selama ini, aku juga mencintaimu. Jika suatu saat aku dipertemukan dengan mu didunia lain aku ingin kita tetap bersama, tanpa ada satupun yang memisahkan kita.

Hari ini aku melanggar perjanjian kita dimasa lalu, aku akan menikah dengannya. Aiden Lee, aku akan menikah dengan pria itu. Dia, karena dia juga mencintaiku, sangat mencintaiku. Kyu Hyun-ah, Gumapseumnida, Jeongmal Gumapseumnida…. Saranghae….

 

THE END

 

 

 

TEARS ARE FALLING (5/?)

Standard

TEARS ARE FALLING (5/?)

 

Action, romance. PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast

 

 

 

Sudah satu jam gadis itu berada diranjang rumah sakit dengan mata yang masih tertutup tanpa ada tanda-tanda sekitpun gadis itu akan bangun, dengan leluasa Hee Chul bisa menikmati setiap lekukan wajah gadis itu, ia sama sekali tidak mengenal gadis itu, ia sudah menemukan gadis itu tiba-tiba tegeletak ditaman saat ia sedang berjalan-jalan. Gadis ini, cantik. Rambutnya yang ikal sebahu dengan poni yang tergerai menutupi keningnya. Hee Chul tersadar, bukankah gadis ini pernah ia lihat sebelumnya? Dimana? Bahkan dia belum bertemu dengan siapapun di Seoul kecuali Yu Ra dan teman-teman prianya, lalu bagaimana ia bisa beranggapan jika ia pernah bertemu dengan gadis ini.

Hee Chul memutar otaknya, ia yakin ia tidak salah dan pada akhirnya pria itu ingat, jika gadis yang sedang berbaring lemah ini adalah gadis yang sama yang ada didalam poto yang diberikan Yu Ra padanya.

“jadi, dia? Park Seo Na?”. Hee Chul membulatkan matanya, ia tidak menyangka sama sekali jika ia bisa bertemu dengan gadis ini dengan cara yang seperti ini, bahkan ia tidak terlalu memikirkan sama sekali tentang gadis ini bukan, tetapi kenapa Tuhan mempertemukan mereka dengan cara seperti ini, dan tadipun Hee Chul tidak terlalu peduli dengan wajah gadis ini, karena begitu khawatir dengan keadaannya.

“bagaimana aku bisa bertemu dia dengan cara seperti ini?”. Hee Chul terheran-heran, masih menatap wajah lemah itu yang sepertinya sedang pulas dialam bawah sadarnya. “lihatlah, betapa rapuhnya gadis ini, dan aku tidak meyangka Yu Ra bersaingan dengan gadis lemah seperti ini, tentu saja ia bisa didepak dengan sekali hentakkan oleh gadis menyeramkan itu. Tapi mungkin saja jika Yu Ra kalah darinya, tidak ada yang bisa lari dari pesona gadis ini, sekalipun Aiden Lee yang notabene adalah orang kaya yang tidak peduli dengan apa-apa, dia cantik”.

Hee Chul mengusap wajah Seo Na yang sesekali mengerutkan keningnya, gadis itu terlihat seperti kesakitan, entalah tapi Hee Chul tak berani membangunkannya, mungkin saja gadis itu sedang bermimpi, persetan dengan semua itu yang jelas ia bisa menatap wajah gadis ini dengan puas sekarang, dan entah kenapa secara tidak langsung sukses membuat pikirannya tenang, gadis dengan poni yang menutupi keningnya, bukankah wanita dengan poni seperti itu adalah wanita idaman Hee Chul?

Sejak tadi ponsel gadis itu bergetar di dalam tas tangannya diatas meja, Hee Chul tidak terlalu memperdulikan benda itu sejak tadi sampai ia mengingat sejak tadi ada panggilan masuk di ponsel gadis itu dan tidak sempat ia angkat karena sibuk mengangkat tubuh Seo Na dan membawanya kerumah sakit. Hee Chul mendekat kearah tas itu melihat isi didalamnya yang hanya berisi beberapa lembar uang dan ponsel bewarna silver yang ternyata masih setia begetar. Hee Chul mengerinyitkan keningnya, terpampang disana nomor tanpa ada nama yang tertera, mungkin seseorang atau gadis itu sengaja tidak menyimpan nama seseorang yang sejak tadi menghubunginya ini. Hee Chul memang tidak ada berhak untuk mengetahui siapa yang menelpon Seo Na tapi setidaknya ia bisa mengangkat panggilan itu dan mengatakan keadaan Seo Na, Hee Chul menekan warna hijau pada layar ponsel itu, mendekatkan benda itu ketelinganya sampai ia mendengar suara pria diujung sana sudah setengah berteriak panik, sebelum Hee Chul menjawab dan memberi tahu keadaan Seo Na yang sebenarnya.

~~~000~~~

Sejak tadi pria itu sudah sibuk dengan ponselnya, menghubungi nomor yang sama dan tetap sama tidak ada jawaban dari ujung sana, bukankah ia sudah berpesan pada Seo Na agar gadis itu mengangkat benda itu ketika benda itu berbunyi, tapi kenapa tidak ada jawaban sama sekali dari gadis itu, atau mungkin Seo Na tidak tau cara mengangkat telepon? Tidak mungkin, gadis itu hanya hilang ingatan, bukan menjadi bodoh. Dong Hae tetap mencoba menghubungi Seo Na sesekali pria itu mengacak rambutnya prustasi, ia tidak bisa mungkin pulang saat ini, sebentar lagi ia akan bertemu dengan client nya kan, tapi gadis itu bagaimana kabarnya? Apa yang terjadi?

Dong Hae mendekatkan benda putih itu ke telinganya, masih dengan perasaan yang gelisah, tapi kali ini sambungan teleponnya terhubung, akhirnya gadis itu mengangkatnya juga. “Seo Na-ya, kau kemana saja? Kenapa tidak mengangkat telfonku? Heum?”. Ucap pria itu dengan nada panik dan setengah teriak, tapi bukan suara Seo Na yang langsung menyaut di seberang sana, melainkan suara seorang pria yang memberitahukannya sesuatu yang benar-benar diluar dugaannya. Seo Na-nya sedang berada dirumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Dengan secepat mungkin Dong Hae menyambar kunci mobilnya, sebelum menghubungi asisten pribadinya untuk segera membatalkan pertemuan kerjanya setengah jam lagi, gadis-nya lebih penting dari itu. apa yang terjadi dengan Seo Na sebenarnya?

~~~000~~~

Sakit dikepalanya masih terasa, ia mulai sadar dengan suara seorang pria disampingnya yang kini tengah berbicara, tapi ia sendiri tidak tau dengan siapa pria itu berbicara. Seo Na mengerjapkan matanya, mengatur penglihatannya yang kabur agar kembali normal, menyentuh kepalanya yang terasa masih sakit, sampai pria itu menyadari jika gadis itu kini sudah terbangun, ia mendekat kearah Seo Na dengan wajah penuh cemas, Seo Na berdelik, memperhatikan wajah pria itu, ia masih hilang ingatan bukan? Tapi pria ini siapa? Ia tidak mengenalnya, dan dia bukan Dong Hae, ia yakin betul dengan pria yang sedang memperhatiakkannya saat ini dengan wajah cemas saat ini bukan Dong Hae Oppa-nya.

“Seo Na-ssi, Gweancana?”. Ucap pria itu, Seo Na masih menatapnya bungkam, ia masih memperhatikan wajah pria itu tanpa menjawab pertanyaan yang terdengar cemas dari Hee Chul. “apa kepalamu masih sakit?”. Seo Na hanya menggeleng lemah merespon pertanyaan pria itu. “Syukurlah”. Ucap pria itu sambil menghembuskan napasnya lega.

“aku dimana? Kau siapa? Apa yang terjadi?”. Seo Na masih penasaran dengan pria itu, mungkinkah orang yang penah hadir dikehidupannya dimasa lalu.

“aku-“.

“Maaf Tuan, apa anda keluarga pasien? Dokter ingin bertemu dengan anda diruangannya”. Ucap seorang wanita dengan baju serba putih yang baru saja masuk dalam ruang inap Seo Na, Hee Chul mengalihkan perhatiannya kearah wanita itu lalu menatap sejenak kearah Seo Na yang sejak tadi tidak melepaskan padangannya dari Hee Chul.

“tentu saja”. Ucap pria lalu keluar dari ruang inap Seo Na sebelum ia menyuruh gadis itu untuk tetap istirahat. Gadis itu kembali berbaring, menatap sekitar ruangan yang persis sama ketika ia siuman dari tidur panjangnya saat itu, persis sama seperti hari ini, tapi pria yang ia temukan ketika ia sadarkan diri adalah pria yang berbeda. Seo Na menarik napasnya, sebelum kejadian ini ia mengingat sesuatu bukan? Suara tembakkan, lift, pelukan, dan juga seorang pria yang tak ia kenali wajahnya, tiba-tiba saja semua itu berputar diotaknya, ia mengingat sesuatu yang terkubur jauh dalam ingatannya, dan mengingatnya saja membuat gadis itu melemah.

“Apa yang terjadi padaku?”. Gumam gadis itu, lalu perhatianya tersita pada ponselnya yang tegeletak dimeja tak jauh dari jangkauannya, gadis itu ingat ia membawa benda itu dan jika benda itu berdering ia harus menjawabnya karena Dong Hae pasti sedang mencarinya, gadis itu meraih benda silver itu memainkan jarinya di atas layar, menekan beberapa perintah disana.

“Park Seo Na-ssi!”. Seo Na berdelik kaget, ia hampir menjatuhkan ponsel yang berada digenggamannya, ia menatap pria yang kini mendekat kearahnya dengan wajah penuh cemas, terlihat sekali jika wajah pria itu berubah pucat, memeluk tubuh Seo Na yang masih berbaring lemah diatas ranjang. “apa yang terjadi? Kenapa kau pergi tanpa memberi tahuku? Kau tau aku khawatir”. Seo Na tersenyum mendengar ucapan pria itu, penuh perlindungan yang bahkan membuat Seo Na merasa nyaman hanya dengan pelukannya yang begitu menenangkan.

Oppa, Aku baik-baik saja. Tadi aku hanya bermain-main ke taman, dan sesuatu terjadi dengan kepalaku, rasanya sakit sekali, tapi untung saja seseorang menolongku dan membawaku kemari”. Dong Hae menatap gadis itu, memperhatikan wajah Seo Na yang tidak terlihat terlalu pucat lagi, gadis itu tersenyum, senyumnya yang membuat kekhawatiran Dong Hae sedikit demi sedikit mulai menghilang.

“berjanjilah untuk tidak membuatku khawatir Seo Na-ssi”. pria itu mengelus puncak kepala Seo Na, merapikan anak rambutnya yang menutupi kening gadis itu, Seo Na hanya menerima semua perlakuan Dong Hae terhadapnya, dan pria itu terlalu khawatir akan Seo Na.

ehem... Maaf sudah menganggu privasi kalian”. Ucap Seorang pria yang baru saja hadir di antara mereka, yang kini masih berdiri didekat pintu masuk ruangan itu, Dong Hae dan Seo Na serentak menatap pria itu, Dong Hae yang menyadari jaraknya dengan Seo Na terlihat intim, kini memberi jarak dengan gadis itu, pria itu sedikit membungkuk kearah Dong Hae dan dibalas bungkukkan sopan oleh Dong Hae, pria itu mendekat kearahnya mengacungkan tangan kanannya kearah Dong Hae.

Dong Hae membalas uluran tangan Hee Chul, menatap mata pria itu, tidak ada yang salah disana, tidak ada tatapan jahat dari pria itu dan semua terlihat baik-baik saja, sepertinya pria itu tulus membantu Seo Na.

“Aku, Kim Hee Chul. maaf sudah lancang membawa Seo Na-ssi kemari, aku menemukannya sudah tergeletak tidak sadarkan diri dibangku taman”. Jelas pria itu, tidak ada nada menekan disana, semuanya terlihat murni.

“tak apa, seharusnya aku yang berterimakasih padamu Hee Chul-ssi, kau sudah menolong Seo Na-ssi, aku tidak tau bagaimana nasibnya jika kau tidak menolongnya”. ucap Dong Hae, Hee Chul hanya tersenyum, menyentuh bagian tengkuknya, entah kenapa pria itu merasa canggung.

Oppa, aku baik-baik saja. Tuan itu baik padaku, aku akan berterimakasih padanya”. Suara Seo Na menyita perhatian dua orang pria tampan yang berdiri tidak jauh darinya, Seo Na mengangkat tangannya kearah Hee Chul. “Tuan, terimakasih, maaf sudah merepotkanmu”. Ucap Seo Na dengan senyum yang hampir membuat kedua lelaki itu linglung tak karuan, Hee Chul yang merasa senyum itu diperuntukkan untuknya malah menjadi semakin salah tingkah, pria itu mengibaskan tangannya tanda tak setuju.

“Seo Na-ssi kau terlalu berlebihan, tidak apa. Aku senang membantumu”. Seo Na mengangguk, suasana ruangan seketika hening, ketiganya tak saling berbicara, entalah ada rasa janggal yang mereka bertiga rasakan, terlebih lagi Hee Chul ia seperti merasa masuk begitu saja dalam kehidupan kedua orang yang berada dihadapannya saat ini, dan untuk Seo Na ia sudah menemukan gadis itu bukan? Seharusnya ia menjalankan permintaan sepupunya Yu Ra, tapi kenapa hanya dengan menatap wajah gadis itu yang sedang tersenyum membuatnya seketika bergetar, ada rasa canggung yang menyeruak kedalam dirinya, dan ini jarang terjadi, bahkan tak pernah. ‘Gila!’. Pekiknya dalam hati.

“Dong Hae-ssi, bisakah kita bicara sebentar, ada yang ingin ku beritahu, mungkin tidak disini”. Hee Chul beranjak dari tempatnya sebelum permisi dengan gadis yang kini masih berbaring lemah diranjangnya, mencari tempat yang tepat untuk berbicara dengan Dong Hae agar gadis itu tak mendengarkan perbincangannya dengan Dong Hae, ini tentang keadaan Seo Na yang baru saja ia bicarakan dengan Dokter yang menangani gadis itu.

“baiklah, aku akan menyusul. Seo Na-ssi istirahatlah, aku akan kembali”. Dong Hae mengecup kening gadis itu sekilas yang hanya direspon anggukan lemah gadis itu, lalu Dong Hae segera beranjak dari ruangan itu.

~~~000~~~

“aku tidak tau apa yang telah terjadi dengan dirinya, tapi aku ikut terkejut ketika tau jika ia sedang mengalami amnesia, maaf sudah lancang menemui Dokter dan mengetahui semua itu, tapi percayalah aku orang baik, aku tidak akan memanfaatkan keadaan ini untuk peruntunganku”. Hee Chul menepuk pundak pria itu, membiarkan pria itu menarik napas sepuas mungkin.

“tidak masalah Hee Chul-ssi, aku juga mengerti keadaanmu. Lalu apa Dokter mengatakan tentang perkembangan kesehatannya?”. Dong Hae menatap pria itu, tampak jelas dari wajah itu kekhawatiran yang luar biasa yang kini tengah ia rasakan, Hee Chul memahaminya, jika Yu Ra mengetahui semua ini ia pasti akan memanfaatkan kesempatan ini untuk merebut Dong Hae dari Seo Na bukan? Dan sama sekali Hee Chul tidak ingin hal itu terjadi, melihat keadaan gadis itu dan mengetahui penderitaan yang sedang dihadapinya, ia terlalu keji jika melukai gadis itu.

“Seo Na tidak apa-apa, ia hanya merasakan sedikit sakit dikepalanya, mungkin akibat ia terlalu banyak berpikir atau tiba-tiba mengingat masa lalunya, dan aku yakin ia belum mengingat apa-apa”. Dong Hae mengangguk mendengar penjelasan panjang lebar dari Hee Chul, tentu saja Seo Na belum mengingat apa-apa dan Dong Hae masih belum bisa membiarkan gadis itu mengingat apa-apa tentang masa lalunya.

“baiklah, aku juga sedang ada urusan. Aku harap kau bisa menjaga Seo Na dengan baik Dong Hae-ssi”. Hee Chul mengambil sesuatu dari Dompetnya, menyodorkan kertas putih itu pada Dong Hae. “ini kartu namaku, jika kau perlu bantuan, Dong Hae-ssi, aku permisi dulu, ghamshamnida”. Dong Hae mengambil kartu nama itu dari tangan Hee Chul sebelum pria itu permisi dan beranjak dari cofe Shop yang bersebelahan dengan Rumah sakit tempat Seo Na di rawat.

~~~000~~~

Kedua tangan itu mengamit di udara, cuaca yang berubah dari musim gugur ke musim salju tak tampak membuat keduanya merasa risih karena angin yang cukup dingin, pria itu menghentikan langkahnya, menatap pada seorang gadis yang kini berada disampingnya, membetulkan syal bewarna coklat tua itu dileher sang gadis, sembari tersenyum dan mengecup kening gadis itu. seperti pasangan yang lainnya, keduanya tampak sedang dimabuk candu asmara yang berlebihan, ditambah cuaca yang mendukung mereka untuk tetap saling bergenggaman.

Oppa, apa dimasa lalu kita sering melakukan hal ini?”. ucap Seo Na, mengehentikan langkah keduanya, Dong Hae menatap gadis itu memeluknya tiba-tiba.

Eo, kita sering berpelukan”. Seo Na tersenyum mendengar ucapan pria itu, ia membalas memeluk Dong Hae merasakan hangat tubuh pria itu menenangkan pikirannya. Memang setelah Seo Na keluar dari rumah sakit, Dong Hae tidak pernah lagi membiarkan gadis itu keluar rumah, itu hanya akan menambah kekhawatirannya, ya memang itu semua terdengar egois dan sedikit mengekang.

“sejak keluar dari Rumah sakit 2 hari yang lalu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu”. Dong Hae merenggangkan pelukan mereka, meletakkan kedua telapak tangannya di bahu Seo Na, Dong Hae mengangguk menunggu gadis itu berbicara. “ketika hari itu, saat aku pingsan, aku mengingat suara tembakkan yang hampir membuat kepalaku nyeri hanya karena mengingatnya, aku merasa sedang berada di dimensi duniaku yang lain, entahlah, yang aku ingat aku sedang berada didepan Lift dengan seorang pria yang memelukku, aku tidak tau semua itu teringat begitu saja setelah seorang anak kecil menodongkan pistol mainnya kearahku, aku benar-benar takut”. Dengan susah payah gadis itu menjelaskan apa yang ia alami pada Dong Hae, dan pria yang mendengarkan semua ceritanya itu, tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih kencang, bukan karena wajah gadis itu yang berubah sendu, tapi cerita gadis itu tentang apa yang ia ingat. Tidak salah lagi, kejadian menyakitkan itu sudah melintas dipikiran gadis itu, dan dugaan Ibu Dong Hae benar, cepat atau lambat Seo Na akan mengetahui semuanya.

“lalu, apa kau mengingat yang lainnya?”. Dong Hae menatap manik mata Seo Na yang dipenuhi tumpukan air mata, gadis itu menggeleng, ia hanya mengingat hal itu dan tidak yang lainnya. Dong Hae menghembuskan napasnya lega, ada sesuatu kelegaan yang ia rasakan saat Seo Na mengatakan jika ia hanya mengingat bagian itu saja tanpa tau alasan yang lainnya.

Oppa, apa yang sudah terjadi? Kenapa kau tidak memberi tahuku? Heum? apa kita sudah menikah? Kemana kedua orang tuaku? Apa aku punya saudara? Aku ingin pulang kerumahku, aku ingin mengetahui masa laluku, jika kau tidak mau membantuku, Ayah dan Ibu-ku pasti mau membantuku, jadi kenapa kau tidak mengantarku pulang saja!”. Nada suara Seo Na meninggi meskipun yang didominan adalah getaran hebat dari tubuhnya. Dong Hae melepas genggamannya dari bahu Seo Na, mengadahkan kepalanya ke atas, ia tidak bisa menjawab semua pertanyaan gadis itu untuk saat ini. Seo Na memukul lengan Dong Hae sebelum memilih beranjak dari hadapan pria itu, tapi langkah gadis itu seketika terhenti, akibat genggaman Dong Hae yang kuat sudah mencengkram pergelangan tangannya.

Wae? Kenapa kau menahanku? Aku akan mencari rumahku, aku akan mencari orang tuaku! Lagi pula kau tidak mengatakan kau itu siapa! Aku tidak percaya padamu lagi! Aku rasa kau itu seorang penculik yang sudah menculik ku!”. Dong Hae benar-benar tak tahan dengan ucapan gadis itu, Dong Hae menarik tengkuk Seo Na mencium bibir gadis itu tiba-tiba, entalah ia seperti dirasuki arwah meyeramkan, ia tidak tau lagi harus berbuat apa, satu-satunya cara membuat gadis itu menghentikan ucapannya adalah dengan cara menutup mulut gadis itu dengan bibirnya, terdengar gila bukan.

Dong Hae melepas tautan bibir mereka, menatap wajah Seo Na yang penuh dengan air mata, dan yang ia lihat sekarang adalah Seo Na yang benar-benar berubah menjadi gadis rapuh, tanpa tau harus berbuat apa.

“Seo Na-ssi, aku takut kau akan merasakan rasa sakit mendengar semua kenyataannya, tapi jika kau memaksaku aku akan mengatakannya”.

Deg!

~~~000~~~

Ini sudah hari ketiga semenjak ia tidak melihat gadis itu lagi, bagaimana keadaanya? Apa dia sudah pulih dan sudah kembali dari rumah sakit? Apa gadis itu akan dijaga dengan baik? pertanyaan itu terus menari-nari dibenak Hee Chul 3 hari belakangan ini, yang menjadi bahan pemikirannya beberapa hari ini hanya seorang Park Seo Na, meskipun ia tidak persis tau kenapa ia terlalu peduli dengan gadis itu. mata gadis itu yang tertlelap, keningnya yang sesekali berkerut karena merasakan sakit, dan suaranya yang hampir memabukkan, juga senyumnya yang mampu membuatnya kikuk.

“Pria tampan, seharusnya kau tidak terlalu serius dengan gadis itu, baiklah! Lupakan!”.

“melupakan siapa? Eo?”. Suara seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari belakang Hee Chul langsung membuat pria itu berkedik ngeri dan setengah berteriak, yang hanya direspon cengiran oleh gadis yang kini tengah berada dihadapnnya itu.

YA! Kau mau membuatku terkena serangan jantung?!”. Yu Ra hanya terkekeh, lalu berjalan kearah meja makan dan duduk manis disana menyaksikan emosi Hee Chul yang sedang meledak-ledak.

“lagi pula apa yang yang Oppa lakukan berbicara pada cermin? Memangnya di Amerika sedang trend berbicara dengan cermin?”. Goda gadis itu lalu terkekeh tak karuan, Hee Chul yang masih kesal mendekat kearah Yu Ra menarik pipi gadis itu hingga merah.

“Hee Chul Oppa!!! Appo!”. Kini Hee Chul yang balas tertawa girang, lalu menggendong kucing kesayangannya yang sengaja ia bawa dari Amerika.

Don’t Angry, Yu Ra-ya”. goda pria itu sambil menyapukan handuk kecil pada bulu-bulu kucingnya. Ia beranjak kedapur mengambil segelas air dingin dan menyodorkannya pada gadis itu. “minumlah, bagaimana kau bisa masuk keapartemenku? Bukankah aku sudah menutupnya?”.

“tidak, pintu mu masih sedikit terbuka, karena itu aku bisa masuk dengan leluasa. Bagaimana jika seorang wanita mesum yang masuk kemari kau bisa-bisa diperkosa bukan?”. Hee Chul hanya berdeham kesal menyikapi celotehan adik sepupunya itu, lagi pula bukan Yu Ra jika tidak membuatnya kesal.

“sudahlah, kau mau apa datang kemari? Menyuruhku yang tidak-tidak lagi? Tentang masalahmu yang kemarin aku membatalkannya, aku tidak bisa membantumu”. Yu Ra mengalihkan pandangannya kearah pria itu yang sejak tadi tersita pada layar ponselnya.

Ya! Oppa! Bagaimana kau bisa membatalkan secara sepihak? Bukankah kemarin kau setuju dan mau membantuku?”. Yu Ra hampir terdengar berteriak. Hee Chul menarik bahunya keatas, lalu beralih duduk persis didepan gadis itu.

Wae? Apa kau akan mengancamku? Ya! aku ini Oppa-mu, seharusnya aku melarangmu untuk berbuat jahat, dasar gadis nakal”. Yu Ra terkekeh mendengar ucapan pria itu, ia sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan bermaksud mendekatkan pandangannya pada Hee Chul.

Yu Ra menyipitkan matanya, menatap penuh curiga pada pria itu. “kau menyukainya bukan?”

“apa? Ya! kau pikir aku bisa dengan mudah menyukai wanita? Aku ini tidak-“.

Mwo? Kau mencoba mencoba menipuku? Kau tau, instingku sebagai wanita lebih kuat dibanding wanita manapun, jadi jangan pernah bohongi aku tentang perasaanmu pada gadis itu. Cih, bagaimana dia bisa membuat pria bertekuk lutut padanya, sampai-sampai pria yang tidak terlalu berminat memiliki kekasih sepertimu bisa menyukainya”. Yu Ra mencibir, ia meraih segelas Air yang sudah tersaji sejak tadi didepannya, lalu mendekatkan bibir gelas itu kemulutnya. Ia masih tidak bisa terima dengan pesona yang dimiliki Seo Na, bukankah dia tidak kalah cantik dari gadis itu?

“terserah kau saja, aku sedang tidak ingin beradu pendapat denganmu”. Hee Chul beranjak dari hadapan gadis itu, lalu pria itu masuk kekemarnya sebelum menyambar kucing kesayangannya yang sejak tadi bermain dilantai.

“Cih, jika Hee Chul Oppa tidak bisa membantuku, aku bisa membuat gadis itu sengsara lagi bukan? Persetan dengan ancaman Lee Dong Hae”. Ia meraih tas tangannya, meninggalkan Apartemen Hee Chul tanpa permisi pada pria itu.

~~~000~~~

Ne, aku bukan suamimu. Kita tidak memiliki hubungan apapun dimasa lalu, dan tentang keluargamu, kau tidak memiliki Ayah dan Ibu lagi, mereka sudah meninggal dunia. Dan satu-satunya yang kau miliki hanya kedua adik perempuan-mu yang sudah berada di Paris, Park Seo Jin dan Park Seo Min. Maaf aku sudah mengatakan hal ini padamu”. Dong Hae tertunduk, ia tidak berani sama sekali menatap gadis yang kini sedang berdiri dihadapannya, gadis yang mengenakkan dress putih polos, dengan rambutnya yang ia biarkan tergerai.

Gadis itu hanya bungkam, tidak merespon satupun penjelasan dari Dong Hae, ia seperti tuli tapi ia masih bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan pria itu. jadi selama ini dia hanya menyusahkan pria itu? tapi bukankah ia masih memiliki dua adik perempuan yang sedang menetap diParis?

“Ayah – Ibu –ku, bagaimana mereka bisa meninggal? Kedua adik-ku? kenapa mereka tidak menemuiku? Dan kau bukan suamiku Aiden-ssi, lalu kenapa aku harus tinggal bersamamu? Kenapa?”. Suara yang hampir tak bisa didengar Dong Hae, terlalu banyak getaran pada kalimat gadis itu, Dong Hae tau gadis itu sedang menahan tangisnya, ingin sekali ia mendekap tubuh lemah itu, tapi ini adalah konsekuasinya bukan? Konsekuensi jika ia mengatakan kenyataan tentang masa lalu gadis itu, tapi sungguh hatinya bahkan lebih sakit dari apapun melihat gadis itu hampir ambruk.

“Aiden-ssi! katakan padaku! Kenapa semua ini terjadi?! Kenapa aku harus hidup seperti ini?!-“.

“Hentikan Seo Na-ya!!!”. Dong Hae benar-benar tak tahan mendengar setiap uacapan demi ucapan yang sukses membuat hati Dong Hae seperti direjam, ia tidak tau harus mengatakan apa lagi dan pada akhirnya pria itu berteriak untuk menghentikan semua uacapan Seo Na. Seo Na menatap pria itu gusar, dunianya saat ini seperti diputar-putar, ia bahkan tidak bisa mengingat apapun tentang masa lalunya, menyakitkan bukan?

Keure, aku tidak akan meyusahkanmu lagi”. Ucap gadis itu sebelum beranjak dari hadapan Dong Hae menyeret kaki kecilnya keluar dari rumah mewah milik pria itu, ia tidak tau kemana tujuannya saat ini yang jelas ia ingin pergi sangat jauh dari hadapan pria itu.

Dong Hae tertegun ditempatnya, entah kenapa tidak ada kekuatan sedikitpun untuk menahan gadis itu, ia tidak menyangka sama sekali semua akan menjadi seperti ini, tidak ada pilihan lain bukan, membiarkan gadis itu mengingat masa lalunya.

~~~000~~~

Hee Chul keluar dari kamarnya, setelah mengganti pakaian rumahnya dengan baju santai. Hee Chul menatap meja makan, menarik alisnya keatas. “dasar gadis nakal, dia pergi tapi tak berpamitan denganku”. Ucap pria itu sebelum menyembar kunci mobilnya menuju suatu tempat.

Pria itu menginjak pedal gasnya, membetulkan letak kacamata hitamnya, segera melaju dijalanan Seoul. Laju mobil mewah milik pria itu terhenti pada lampu merah, pandangannya kini asik pada lalu lalang pejalanan kaki dihadapannya, dan pandangannya terhenti pada seorang gadis yang mengenakkan dress putih dengan wajah yang tidak asing lagi baginya, tapi tunggu dulu? Gadis itu sendirian bukan?

Setelah lampu hijau menyala, Hee Chul memutar arah mobilnya, mencari sosok gadis itu yang mengarah berlawanan darinya. Hee Chul menginjak pedal remnya, tergesa-gesa ingin segera menemui gadis itu yang sejak tadi berjalan sambil menunduk.

“Seo Na-ssi”. langkah gadis itu terhenti setelah ia mendengar seorang pria memanggil namanya dari arah belakang. Ia memutar tubuhnya, mendapati sosok Hee Chul yang kini berjalan mendekat kearahnya.

Ne? Eo, Tuan? Kau Tuan yang menolongku”. Ucap Seo Na mengingatkan memorinya tentang pria itu, pria yang menolongnya.

Hee Chul tersenyum, bagaimana gadis itu bisa memanggilnya Tuan? Mukanya tidak kalah tampan dan muda dengan Dong Hae bukan? “kau masih mengingatku Seo Na-ssi. Aku sedikit canggung jika kau memanggilku Tuan, bagaimana jika kau panggil aku Oppa saja?”. Tawar pria itu, yang direspon senyuman hangat dari gadis yang berada dihadapannya ini.

“baiklah, Oppa?”. Ucap Seo Na sambil tersenyum.

“kau sendiri? mau kemana?”. Hee Chul melirik sekelilingnya, mungkin saja ada seseorang yang menemani gadis itu, atau Dong Hae?

Seo Na mengangguk. “Hu’um, aku sendiri. aku juga tidak tau mau kemana. Aku sedang tidak ingin dirumah”. Aura wajah gadis itu berubah murung, terlihat ketika gadis itu menunduk, saat mengatakan kalimat terakhirnya.

“baiklah, aku tidak akan memintamu untuk bercerita kenapa kau sedang tak ingin dirumah. Heum, bagaimana kalau aku ajak jalan-jalan saja, kau mau?”. Tawar Hee Chul, Seo Na menatap pria itu bola matanya memutar, ia berpikir sejenak, sebelum mengangguk dan tersenyum kearah Hee Chul.

“baiklah, aku mau”. Ucap Seo Na yang direspon senyuman pria itu, Hee Chul menuntun Seo Na masuk kemobilnya, dan pergi kesuatu tempat yang mungkin bisa menenangkan gadis itu.

~~~000~~~

Keduanya kini menatap hamparan pasir pantai dan bentangan lautan biru dihadapannya, sejak tadi mata gadis itu tidak lepas dari pemandangan indah yang kini tengah disajikan dihadapannya, entah kenapa ia merasakan hatinya benar-benar begitu damai melihat bentangan laut yang kini tengah ia pandangi, ditambah suara ombak yang sejak tadi memacu mendekat kearah ujung kaki gadisnya.

“apa kau menyukai pantai?”. Tanya Hee Chul, yang direspon anggukan kecil penuh arti dari gadis itu, matanya sejak tadi tak lepas menatap lautan, ia benar-benar seperti berada dalam dunianya.

“aku yakin, dimasa lalu aku menyukai laut”. Seo Na tersenyum, ia tidak salah. ia memang menyukai laut dimasa lalu, tapi bukan laut yang seperti ini, ia suka menatap laut yang tersaji pada mata indah milik seorang pria, seorang pria yang kini entah sedang apa.

“aku menyukai gadis yang kini tengah menatap laut, aku rasa dia benar-benar tergila-gila pada lautan”. Ucap Hee Chul sambil terkekeh disamping Seo Na, ia merasa bahagia melihat gadis itu sejak tadi tidak henti-hentinya tersenyum menatap lautan dihadapannya.

Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, hanya suara ombak yang sejak tadi memecah keheningan dianatara keduannya. Gadis itu tiba-tiba mengingat ucapan Dong Hae tentang dirinya, pria itu sudah mengatakan tentang masa lalunya bukan? Tentang keluarganya, tapi entah kenapa ada yang kurang selama ini, Seo Na seperti kehilangan memori yang berharga tentang hidupnya, dan itu yang ia sesalkan dari pria itu, kenapa Dong Hae tak memberi tahunya semua tentang masa lalu gadis itu.

“Seo Na-ssi?”. Suara Hee Chul sukses menyita perhatian Seo Na yang sejak tadi menikmati pemandangan yang ada dihadapannya saat ini.

Ne? Waeyeo?”.

“apa kau tidak ingin pulang kerumah?”. Seo Na menarik napasnya dalam, menghebuskannya perlahan, kembali menatap lautan dihadapannya.

Molla, lagi pula itu bukan rumahku. Aku tidak mempunyai rumah, aku tidak punya Ayah-Ibu, aku hanya punya dua adik perempuan yang berada di Paris, dan disana aku tidak tau apa aku punya Rumah, aku ingin ke Paris menemui mereka, Oppa pasti tau bukan tentang masalahku?”. Hee Chul mengangguk. Ia menatap gadis itu khawatir. “karena itu, aku tidak tau apa-apa. Aku ingin sekali hidup normal, aku begitu tersiksa ketika aku tidak bisa mengingat apapun dimasa laluku”.

“lalu bagaimana kau tau tentang Ayah-Ibu- dan kedua adikmu?”.

“Aiden-ssi, dia memberi tahuku tentang hal itu, tapi aku yakin dia tidak mengatakan yang lainnya padaku. Entalah, Aiden-ssi seperti menyembunyikan banyak hal dariku”. Seo Na menunduk, menyembunyikan kesedihan yang tengah ia rasakan dari pria yang berada disampingnya saat ini.

“aku mengerti sekarang kenapa kau tidak ingin berada dirumah. Apa aku boleh mengatakan sesuatu padamu Seo Na-ssi?”. Hee Chul meletakkan kedua telapak tangannya di kedua bahu Seo Na, membiarkan gadis itu menghadap kearahnya. Seo Na mengangguk, menatap pria dihadapannya ini, matanya jelas terlihat berkaca-kaca, raut wajahnya memperlihatkan gadis itu benar-benar pada titik kehancurannya saat ini, ironis bukan?

“aku tidak tau dengan jelas bagaimana masalah yang kini tengah kau hadapi, maupun masa lalu yang pernah kau jalani dihari lalu, dan aku juga tidak tau apa yang sedang disembunyikan Aiden Lee darimu. Tapi aku yakin, hal itu demi kebahagiaanmu, pria itu benar-benar menjagamu dengan baik, sebagai laki-laki aku mengerti perasaannya, dia benar-benar mencintaimu”. Jelas pria itu penjang lebar, tanpa balas menatap Seo Na yang kini tengah memperhatikan pria itu berbicara.

“tapi Aiden-ssi tidak mengatakan jika kami memiliki hubungan apapun”. Bantah Seo Na, Hee Chul menatap gadis itu.

“benarkah?”. Seo Na mengangguk. Semua itu memang benar, mereka memang tidak memiliki hubungan, hanya saja dimasa lalu keduanya sempat saling mencintai bukan? “Eum, aku pikir kalian adalah sepasang kekasih. Kalau begitu bagaimana jika kau menikah denganku saja? Bukankah kita sudah pergi berkencan kepantai?”. Goda pria itu, Seo Na menatapnya, mata gadis itu tiba-tiba membulat lebar, lalu dengan cepat ia memukul lengan kiri Hee Chul.

Ya! oppa, bagaimana bisa begitu. Aku kan sedang bersedih”. Protes Seo Na, Hee Chul hanya terkekeh mendengar celotehan tak terima gadis itu, yang kini sedang membulatkan pipinya, persis seperti buntal, lucu bukan?

“baiklah, bagaimana jika kita pulang saja. Ini sudah hampir sore, Aiden pasti mengkhawatirkanmu”. Seo Na menggeleng, ia tidak ingin pulang kerumah Dong Hae, tentu saja, itu hanya akan membuatnya bertambah sedih bukan? “kau harus pulang Seo Na-ssi, kau tidak bisa tinggal dirumahku, aku hanya punya satu kamar dan satu ranjang, apa kau mau satu ranjang dengan ku, Eo?”.

Oppa! Kau ini!”. Hee Chul sukses membuat wajah gadis itu bersemu merah, Hee Chul berhasil membuat gadis itu terkekeh, setidaknya jika seperti ini ia bisa menghilangkan sedikit kesedihan gadis itu bukan, dengan senyuman Seo Na-pun, disekeliling gadis itu juga ikut merasa bahagia.

“bagaimana apa tetap mau bersamaku?”.

“baiklah, aku akan pulang kerumah Aiden-ssi, tapi kau harus mengantarkanku hingga kehadapan pria itu, Arratjhi?”. Hee Chul tersenyum, lalu pria itu mengangguk mengiyakan ucapan Seo Na yang terkesan seperti anak-anak.

~~~000~~~

“jadi gadis itu hilang ingatan?”. Yu Ra mengulang pertanyaan yang sama, dan kini pertanyaan itu hanya direspon anggukan oleh pria yang kini tengah duduk dihadapannya. “aku benar-benar tidak mengetahuinya”.

“apa kau senang, ini semua ulahmu bukan?”. Terdengar nada sinis keluar dari mulut pria itu, jika bukan karena Yu Ra, gadis-nya tidak akan seperti ini, gadis-nya tidak akan merasa tertekan seperti ini.

Yu Ra menggeleng, ada sedikit rasa bersalah yang kini tengah ia rasakan, namun rasa bersalah itu seketika tak ia rasakan karena rasa lega kini menyeruak dalam hatinya. Hilang ingatakan? Berarti itu kesempatanm bagus baginya bukan?

“jangan berharap kau bisa mendapatkan aku Yu Ra-ssi”. ucapan pria itu sukses menyita seluruh perhatian gadis itu, Yu Ra menarik napasnya dalam, mengeluarkannya hati-hati, takut jika pria yang berada dihadapannya saat ini bisa membaca pikirannya lebih banyak.

“aku tidak seburuk yang kau kira Dong Hae-ssi”. tekan gadis itu, Dong Hae hanya tersenyum renyah, bagaimana gadis itu masih bisa mengatakan jika ia tidak seburuk itu, setelah dulu pernah berani mengancam Seo Na, licik bukan?

“kau kira aku tidak tau, tentang ancaman mu yang konyol itu pada Seo Na? Heuh? Seharusnya kau bisa memilih teman yang baik Yu Ra-ssi”.

“Eun Min Soo?”. Gumam gadis itu pelan, namun ucapan gadis itu masih bisa didengar jelas oleh Dong Hae.

Ne, wanita itu yang mengatakan hal itu pada orang pesuruhku, apa kau tidak punya teman selain orang yang bekerja diperusahaanku? dan kenapa aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu, setelah semua yang kau lakukan”. Dong Hae tak menatap gadis itu sedikitpun, terlalu sakit baginya menatap gadis itu yang sudah menghancurkan Seo Na-nya. “bagaimana? Aku benar bukan?”.

Yu Ra bungkam, ia lebih memilih tidak mengatakan hal apapun. Hari ini ia sengaja datang kerumah pria itu, ia sudah mencoba menemui Dong Hae dikantornya, tapi nihil pria itu tidak ada disana dan pilihan satu-satunya tentu saja mendatangi rumah pria itu tanpa memberi tahu terlebih dahulu pada Dong Hae.

“Memuakkan”. Gumam pria itu kesal, sebelum ia beranjak dari hadapan Seo Na, namun gadis itu menahannya, menarik pergelangan tangan pria itu, entah apa yang membuat Yu Ra begitu berani menarik Dong Hae kedalam dekapannya, dan kini Dong Hae berada dalam pelukan gadis itu.

“Aiden Lee?”.

 

 

To Be Continue

~~~000~~~

 

TEARS ARE FALLING (3/?)

Standard

image

TEARS ARE FALLING (3/?)

Action, romance.

PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast

“Haruskah kau menangis ? itu akan melukaiku

Tanpamu aku akan mati

Hatiku menangis, hatiku menangis.. karena ingin mencintai satu orang”

( Love is Craying – K.Will )

Yu Ra mengapit tas tangannya, tas tangan bahan kulit yang mungkin harganya bisa terdengar ‘Wah’. Gadis itu membetulkan anak-anak rambutnya yang tergerai di dahinya yang indah, siapa yang tidak terpesona dengan sosok cantik dan seksi seperti Jung Yu Ra, semua pria pasti meliriknya, atau malah berpikiran kotor dengan gadis itu, mungkin keduanya.

Detik berikutnya gadis itu sudah berada dilantai tempat ruangan kerja pria yang kini tengah menjadi tujuannya untuk datang ke gedung perusahaan mewah JL company ini, sesekali tersenyum sinis pada karyawan yang menatapnya asing, seakaan mata gadis itu mengatakan ‘ini aku Jung Yu Ra, kekasih sebenarnya Aiden Lee, bukan Park Seo Na gadis tak jelas itu’. tapi pada kenyataannya Nol besar.

“apa aku bisa bertemu dengan Aiden-ssi? Katakan Jung Yu Ra temannya ingin bertemu”. Ucap gadis itu pada seorang resepsionis disamping ruang kerja Dong Hae, gadis itu mengangkat ganggang telepon sebentar, berbicara beberapa kata yang tidak terlalu dipedulikan Yu Ra, beberapa detik kemudian wanita itu segera menyuruh Yu Ra langsung saja masuk ke ruang kerja Dong Hae.
Yu Ra membuka pintu ruang kerja Dong Hae, ia menatap pria itu tengah sibuk dimeja kerjanya, banyak tumpukan kertas putih disana dan Yu Ra yakin itu adalah dokumen –dokumen penting yang akan menghasilkan uang. senyum gadis itu menyeringai ketika Dong Hae menangkap sosoknya yang kini sudah berada didalam ruangan kerja Pria itu.

“Jung Yu Ra-ssi, apa kabar? Duduklah”. Tawar pria itu, Yu Ra segera duduk tepat di sofa-sofa yang disusun cantik didepan meja kerja Dong Hae.

“kabarku baik Dong Hae-ssi, bagaimana denganmu?”. Tanya Yu Ra basa-basi, dan entah kenapa gadis itu malah terkesan sok kenal dan sok akrab dengan Dong Hae.

“tidak terlalu baik, banyak pekerjaan yang menumpuk dan itu sedikit membuatku lelah”. Jawab pria itu seadanya, Yu Ra hanya tersenyum-senyum tak karuan. “kalau boleh tau apa keperluan mu datang kemari Jung Yu Ra?”.

Yu Ra sedikit kelabakan dengan pertanyaan pria itu, sejujurnya gadis itu memang tidak punya keperluan apapun dengan Dong Hae selain ingin mengetahui tentang gadis-Dong Hae yang bernama Park Seo Na itu.  “aku hanya ingin mengajakmu makan siang, karena aku tidak mempunyai nomor ponselmu aku sengaja mampir, lagi pula ini sudah waktunya jam makan siang bukan?”. Tawar gadis itu, Dong Hae menimbang-nimbang.
Dong Hae memang pria tampan yang memiliki pesona yang bisa memikiat para wanita, tapi ia juga tidak suka jika wanita yang tak ia sukai malah terlalu menggoda atau semacamnya, dan ini tidak ia rasakan terhadap Park Seo Na, jika dengan gadis itu ia malah merasa sangat nyaman, jikapun Seo Na merayu atau menggodanya itu malah hanya akan membuatnya semakin mabuk karena pesona yang ada didiri gadis itu, ya kenyataannya memang Yu Ra tidak kalah cantik dari Seo Na tapi tetap saja, rasa suka tidak bisa dipaksakan bukan?

“baiklah, aku rasa tidak ada salahnya”. Ucap pria itu pada akhirnya, ia harap ini untuk yang terkhir kalinya ia meladeni Yu Ra, meskipun gadis itu adalah teman baik Ayahnya dan Yu Ra adalah teman masa kecilnya tetap saja ia tak merasakan apa-apa pada gadis itu, biasa saja.

Disisi lain Yu Ra berteriak girang dalam hatinya, akhirnya ia bisa makan siang bersama Presdir perusahaan terkenal, kapan lagi bisa berjalan bersama pria itu.

‘mana tau para wartawan mengumumkan di surat kabar jika aku adalah kekasih Lee Dong Hae’. pekik gadis itu dalam hatinya. Ingin Yu Ra seperti itu, namun sayang kenyataanya tak begitu.

~~~000~~~

“ini sudah hari keberapa?”. Ucap gadis itu, lalu mendekati kalender yang tergantung persis disamping lemari pendingin, meneguk segelas susu dingin yang baru saja ia ambil dari dalam lemari pendingin. “tinggal 5 hari lagi? Sial!”. Racau gadis itu, ia sama sekali belum menyentuh Dong Hae, menyentuh? Ia menyentuh, tapi tak menyakiti pria itu sama sekali bahkan ia malah melakukan hal-hal yang bisa menimbulkan perasaan aneh antara keduanya.

Tangannya menimang-nimang ponsel lipatnya, hari ini ia ingin bertemu sekali dengan Dong Hae. ‘apa aku yang harus menghubunginya duluan?’ fikir gadis itu, setelah beberapa detik berfikir ia menekan bebera nomor diponselnya, mendekatkan benda itu ketelinganya hingga ia mendengar bunyi ‘dip’ dari ujung sana, entah kenapa tiba-tiba jantung gadis itu berdebar tak karuan.

“yeobseyeo, Aiden-ssi?”. Ucap gadis itu sedikit gugup, terdengar suara berat yang entah mengapa menjadi candu baginya akhir-akhir ini. “Eum, apa kau ada waktu, aku ingin bertemu denganmu”. Ucap Seo Na, beberada detik berikutnya ia tersenyum lalu menutup flat ponsel lipatnya.

“tentu saja, aku akan menjemputmu”. Kata-kata itu sederhana, tapi sukses membuatku tersenyum-senyum seperti orang sinting.

~~~000~~~

Dong Hae memasukkan potongan stik daging sapi itu kedalam mulutnya, ia konsen dengan makan siangnya kali ini walaupun sesekali gadis yang didepannya ini berdeham tanda ingin diperhatikan. ‘cih, menjinjikan sekali’. Umpat Dong Hae.

“sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu Dong Hae-ssi”. Ucap Yu Ra membunuh keheningan diantara keduanya, sebenarnya direstoran bergaya minimalis ini tidak terlalu hening karena diujung ruangan ada pemain piano yang memainkan melodi-melodi indah yang cukup menengkan.

Dong Hae mengalihkan pandangannya kearah gadis itu, menunggu gadis itu mengucapkan pertanyaan yang mungkin tidak terlalu penting baginya.
“apa kau punya hubungan serius dengan Park Seo Na?”.

Pertanyaan yang baru saja di ucapkan Yu Ra sukses membuat Dong Hae berdelik kaget, bagaimana gadis itu tau tentang Seo Na-nya? Pikir pria itu.
Dong Hae kembali menormalkan mimik wajahnya, menatap tenang gadis yang berada dihadapannya ini. “tentu saja, dia teman wanita spesialku”. Alih-alih menjawab pertanyaan gadis itu, 2 manfaat sudah didapatkan Dong Hae dari jawaban yang menggelikan baginya itu, yang pertama Yu Ra tidak akan menganggunya lagi, dan yang kedua sebenarnya itu adalah keinginanya karena kenyataannya Seo Na hanya teman, teman spesial? Entalah .

“seberapa jauh? Eum.. maksudku apa kalian sudah lama memiliki hubungan ini?”. pertanyaan Yu Ra memang terkesan ingin tau, tapi Dong Hae maklum akan hal itu, ia tau Yu Ra menaruh hati padanya, bukan Dong Hae terlalu percaya diri tapi dari gerak gerik gadis itu ia yakin Yu Ra menyukainya, jadi wajar saja Yu Ra tak terima jika pria tampan itu menjalin hubungan dengan gadis lain.

“tidak terlalu jauh, aku baru mengenalnya seminggu lebih, tapi hebatnya dia membuatku nyaman, bagaimana hebat bukan gadis itu?”. Dong Hae tertawa terbahak-bahak dalam hatinya setelah mengatakan hal itu pada Yu Ra, karena ekspresi wajah gadis itu kini berubah berkerut dimana-mana.

“Eum , kurasa begitu”. Ucap Yu Ra tak minat, dan itu semakin membuatnya membenci sosok yang belum dikenalnya itu tapi demi Tuhan gadis itu tidak terima, ia akan melakukan hal gila sesuka yang ia mau, bukankah Dong Hae harus jadi miliknya, ya memang terdengar egois dan brengsek.

Keduanya sama-sama fokus lagi pada makan siang mereka, sebenarnya Yu Ra tidak berselera lagi apa lagi sejak pengakuan blak-blakan  Dong Hae tentang hubungannya dengan Seo Na.

Tak lama, ponsel Dong Hae berdering, pria itu meletakkan pisau dan garpunya di atas piring mengambil ponselnya yang disimpan didalam saku jasnya, yang aneh pria itu malah tersenyum ketika melihat layar telepon genggamnya itu, Yu Ra bertanya-tanya namun gadis itu sepertinya harus menahan rasa penasarannya karena Dong Hae tersenyum seperti orang gila pada benda mati yang berdering itu dan ia segera menjawabnya.
 

“Ne, ada yang bisa ku bantu Nona Park?”. Terdengar nada menggoda dari pria itu, Yu Ra menyipitkan matanya. ‘Nona Park? Park Seo Na?’. Gumam gadis itu semakin penasaran.

“tentu saja, aku akan menjemputmu”. Dong Hae menutup sambungan teleponnya, masih tersisa raut wajah bahagia setelah pria itu menerima telepon barusan.

“Yu Ra-ssi, aku harus segera bertemu dengan seseorang, sepertinya aku tidak bisa menemanimu hingga kau selesai makan. Maafkan aku”. Ucap Dong Hae memasang tampang sedikit kecewa, meskipun nyatanya hati pria itu kini tengah meloncat-loncat gembira. Setelah mendapat persetujuan dan anggukan dari Yu Ra Dong Hae melesat secepat mungkin menuju apartemen gadis yang kini tengah ia rindukan? Benar-benar seperti orang yang sedang dimabuk cinta.

~~~000~~~

Seo Na tersenyum ketika ia mendengar suara bel yang ia yakin bersumber dari pintu apartemennya, memang seperti yang ia duga, pria tampan itu tidak akan membiarkannya menunggu lama, hanya butuh beberapa menit untuknya dan kini ia sudah berada didepan pintu apartemen Seo Na, dengan senyum manisnya, astaga senyum itu hampir membuat Seo Na ingin mencium pria itu, lagi?
“apa kau mengendarai mobil mewahmu dengan sekali hentakkan gas?”. Goda Seo Na, setelah ia membuka sedikit lebar pintu apartemennya dan mempersilahkan pria itu duduk disofa beludru bewarna soft pink itu.

“menurutmu bagaimana?”. Seo Na memutar bola matanya, membuat pria yang bertanya padanya itu malah terkekeh geli. “aku sudah disini, bukankah kau ingin bertemu denganku?”.

Seo Na tersenyum simpul, ia segera kebelakang mengambil segelas Orange juice dan membawakannya kehadapan Dong Hae. “hanya untuk Orange Juice ini?”. ucap Dong Hae menggoda, dan itu berhasil membuat gadis yang didepannya ini menyiptkan matanya, sedikit menggembungkan pipinya, persis seperti anak kecil yang tidak mendapat hadiah dihari ulang tahunnya, dan gadis ini imut sekali.

“bukan itu, Aiden-ssi. Aku ingin berbicara banyak padamu, ini tentang.. eum.. aku sudah memikirkannya”. Seo Na terdiam ia tidak melanjutkan kata-katanya.

“hei, memikirkan apa? Memikirkan aku?”. Goda pria itu lagi, Dong Hae berjalan kearah Seo Na menarik gadis itu kedalam pelukkannya, entah apa yang membuat Dong Hae begitu ingin memeluk gadis itu, entahlah untuk kali ini ia mengaku kalah, sungguh ia tidak sanggup membunuh wanita ini, awalnya Seo Na memang begitu angkuh dan dingin tapi kali ini gadis itu tidak ubahnya seperti gadis yang akan rapuh dengan satu kali pukulan saja. Seo Na begini hanya karena pilihan hidup yang menyedihkan, Ironis memang.

“aku merindukanmu, lagi dan lagi. Kadang aku berpikir aku bisa gila jika sehari tidak melihatmu Park Seo Na, aku bersungguh-sungguh”. Dong Hae semakin mempererat pelukannya dengan Seo Na, dengan jarak yang sedekat ini ia bisa merasakan bau aroma khas dari tubuh gadis itu, ia yakin Seo Na memakai wewangian lavender, menenangkan sungguh.

“aku juga”. Dua kata yang keluar dari mulut Seo Na terdengar tulus dan tidak mengada-ngada, kata-kata sederhana yang bisa membalikkan semua ucapan Dong Hae, tergambar dari ucapan itu bahwa Seo Na benar-benar tulus. “Aiden-ssi, maafkan aku”.

“untuk apa?”. Pria itu balik bertanya, posisi mereka belum berubah, kini tangan Seo Na yang melingkar ditubuh Dong Hae.

“untuk semuanya, aku minta maaf sudah merepotkanmu”. Seo Na menghentikan ucapannya sejenak, Dong Hae terdiam, pria itu tidak ingin banyak bicara, pelukan ini terlalu nyaman baginya. “dan terimakasih untuk waktumu selama ini”. ucapan yang terkhir itu membuat Dong Hae merenggangkan pelukan mereka, menatap mata Seo Na yang ternyata sudah dipenuhi tumpukan air mata, jika gadis itu berkata lagi ia yakin pipi gadis itu akan dibanjiri air mata. Dan sialnya, wajah Seo Na yang seperti itu membuat Dong Hae merasa ingin mati saja, tidak sanggup melihat gadis itu sengsara, sungguh.

“hei, kenapa menangis? Apa ada yang sakit?”. Pria itu khawatir, tentu saja. Tiba-tiba gadis itu menangis tanpa alasan, tapi Dong Hae merasakan jika Seo Na memang sedang memikirkan satu hal. ‘tentang gadis itu yang akan membunuhnya?’ tidak mungkin, Seo Na tidak sebejat itu.
Seo Na menggeleng lemah, ia tidak merasakan sakit pada raganya, tapi jiwanya. Semua memori nya dimasa lalu berputar begitu saja, tiba-tiba ia merindukan kedua orang tuanya, kedua adiknya yang berada di Paris, dan juga pria yang pernah begitu berharga baginya, Cho Kyu Hyun. Mereka mencintai Seo Na bukan? Meskipun Kyu Hyun pernah meninggalkannya tapi masalah ia dengan Kyu Hyun bukankah sudah dijelaskan pria itu jika ia tidak sepenuhnya bersalah dan meminta Seo Na untuk menghentikan semua kejahatannya ini. dan itu yang menjadi beban pikirannya.

“Aiden-ssi, kau harus bahagia”. Ucapan yang keluar dari mulut Seo Na memang terdengar begitu aneh, Dong Hae tak tau pasti apakah gadis itu meracau atau tidak yang jelas ucapan gadis itu sukses membuatnya bingung setengah mati, ditambah lagi tangis tanpa isakannya yang membuat hati Dong Hae begitu teriris.

“hei, kau kenapa? Jangan mengatakan yang tidak-tidak. Aku akan bahagia bersamamu”.
‘hanya kau saja Aiden Lee, aku tidak. Seharusnya aku harus membayar semua kejahatan ku selama ini dengan nyawaku, aku hanya meminta untuk menjaga Seo Jin dan Seo Min bila perlu nikahi salah satu adik ku itu, aku yang akan mengorbanku jiwaku, aku sudah memikirkannya, Kyu Hyuh benar. Aku harus menghentikan semua ini’. Seo Na meracau tanpa mengeluarkan suara, ia terus mengutuk dalam hatinya, ia yakin ini yang terbaik, tapi bagaimana perasaannya ke Dong Hae, ia mencintai laki-laki itu bukan?

“apa pria masa lalu mu itu melukaimu lagi?”. Pertanyaan Dong Hae seperti tertahan, ia takut jika gadis itu menangis tak karuan mengingat tentang kekasihnya itu, pikir Dong Hae.
“aku sudah bertemu dengannya, beberapa hari yang lalu. saat aku menangis waktu itu, saat itu aku baru saja bertemu dengannya”.

‘”lalu?”. ucap Dong Hae tak sabar. ‘kau mencintainya lagi?’ pertanyaan itu yang ingin ia tanyakan, tapi tidak mungkin ia menanyakan hal itu, disaat gadis itu sedang rapuh seperti ini.

“ia hanya mengatakan jika semua ini bukan sepenuhnya kesalahannya, Ayahnya yang menyuruhnya untuk segera ke Jepang dihari yang sama saat Ayah dan Ibu meninggal”. Dong Hae melihat tangis tertahan ketika gadis itu mengucapkan kata-kata menyakitkan diakhir kalimatnya. Ia tau, pasti ini sangat berat bagi Seo Na.

“hanya itu?”. tanya Dong Hae lagi, tapi Seo Na bungkam. Gadis itu beranjak dari hadapan Dong Hae yang dari tadi menelungkupkan telapak tangannya diwajah gadis itu.
Dong Hae mengikutinya dari belakang, ternyata gadis itu kebalkon rumahnya. “Aiden-ssi, aku tidak tau sejak kapan aku merasakan perasaan tidak normal ini lagi, terkahir ketika aku begitu menggebu-gebu mencintai sosok Kyu Hyun, dan aku merasakannya lagi beberapa hari belakangan ini, aku pikir aku tidak akan terjerat dalam pesona pria itu, tapi aku salah aku malah mabuk dibuatnya, aku sampai berani menciumnya tanpa izin, aku seperti gadis murahan didepannya”. Seo Na tidak tau kapan tubuhnya kembali masuk kedalam dekapan Dong Hae, sepertinya setelah kata-kata terakhir tadi yang ia ucapkan, entalah Seo Na memang benar-benar hancur sekarang, ia mulai berpikir hidupnya berjalan tidak normal selama ini.

Seo Na tersenyum miris, tetap dengan air matanya yang terus mengalir. “Aiden-ssi, aku suka ketika aku melihat matamu, aku melihat lautan yang luas disana. dan yang paling kusuka adalah pelukan hangatmu, sudah lama sekali sejak Ayah tidak memelukku dan terkahir pelukan Kyu Hyun aku tidak pernah lagi merasakan hangatnya pelukan orang yang kucintai dan setelah mereka aku menyukai pelukanmu, aku benar-benar gila sekarang”. Erang Seo Na, gadis itu mengigit bibir bawahnya, ia ingin tersenyum tapi sungguh untuk berbicarapun ia susah payah melakukannya.

“aku akan memelukmu sampai kapanpun Seo Na-ssi, aku tidak kalah hancur jika melihatmu terus begini, aku tidak tau apa yang membuatmu begini tapi untukmu aku akan melakukan semua hal, termasuk nyawaku. Aku tau kau punya alasan untuk semua kesalahanmu yang tidak ku tau”. Bohong, Dong Hae berbohong. Ia tau jika Seo Na adalah pembunuh bayaran suruhan pesaing bisnisnya Tuan Cho, ia juga tau bagaimana gadis itu selama ini membunuh banyak orang dan kali ini ia menutup semua pikiran-pikiran negatif tentang gadis itu.

‘tidak, aku yang akan mengorbankan nyawaku untukmu Aiden Lee, dan untuk menebus semua dosaku selama ini’

~~~000~~~

Kyu Hyun menghembuskan napasnya kasar, menghempaskan tubuhnya di atas kursi putar di Ruang kerjanya, berkali-kali ia menatap ponselnya gusar pria itu beberapa hari ini menunggu gadis itu memberikannya keputusan yang tepat. Entalah, meskipun Seo Na tak berjanji apa-apa padanya tapi ia percaya gadis itu pasti sudah memikirkan ucapannya saat bertemu terkahir kali dengan gadis itu. ditambah lagi ancaman Ayahnya tentang rencana membunuh gadis itu, tentu saja itu hampir membuatnya gila.

Kyu Hyun menutup matanya, sejenak ingin melupakan masalah yang hampir membuat kepalanya meledak, tapi tetap saja gagal, didalam pikirannya saat ini hanya bagaimana tentang -gadis selai kacang- kesayangannya. Bagaimana jika gadis itu benar-benar terbunuh? Bagaimana dengan kesalahannya kepada Seo Na selama ini? Kyu Hyun sadar, dialah yang membuat Seo Na berubah menjadi gadis pembunuh, seharusnya waktu itu ia bisa menahan keinginan egois Ayahnya untuk mengirim ia ke Jepang, tapi kini bagaimana? Semua sudah terlanjur, tidak ada Seo Na-nya yang dulu, tapi bagaimanapun ia tetap akan membawa gadis itu menjauh dari semua ini, ia tidak ingin kehilangan Seo Na untuk yang kedua kalinya. Tak lama pria itu asik dengan pikirannya, lamunannya tersadar karena dering ponsel yang tidak begitu jauh dari jangkauannya, tertera jelas di layar ponselnya nama seseorang yang memang ia inginkan saat ini. ‘Park Seo Na’.

“Kyu Hyun-ssi, kau dimana? Bisakah kedanau sekarang, ku mohon, aku membutuhkanmu”. Hanya kata-kata itu yang terdengar dari ujung sana, sebelum gadis itu menutup sambungan telepon mereka, memang terkesan terburu-buru, suara gadis itu juga terdengar bergetar dan tertahan.

“Seo Na-ya, apa yang terjadi?”. Ucap pria itu sebelum ia melesat ketempat yang menjadi tujuan utamanya saat ini.

~~~000~~~

“terdengar licik sekali Nona Park”. Yu Ra menangkat dagunya, ia hampir ingin menjambak gadis yang kini tengah berdiri melipat tangannya di dada, dari air mukanya gadis itu benar-benar terlihat angkuh dan dingin.

Yu Ra sengaja bertemu dengan Seo Na di Cafe Shop yang tidak terlalu jauh dari apartemen Seo Na, entah dari mana gadis itu mendapatkan nomor ponsel Seo Na dan berani mengajak gadis itu untuk bertemu hanya untuk membicarakan ketidak sukaannya terhadap gadis itu. tentu saja ia tidak suka, bukankah Dong Hae adalah incarannya dan sekarang terang-terang pria itu mengakui mempunyai kedekatan khusus dengan gadis yang berada didepannya ini.

“licik? Menurutmu begitu?”. Akhirnya gadis itu bersuara, Seo Na tertawa angkuh ketika melihat ekspresi Yu Ra yang seperti ingin menelannya hidup-hidup. “aku benar-benar tidak ada urusan denganmu, masalah hubunganku dengan Aiden Lee tidak ada hubungannya denganmu, lagi pula keinginan berlebihanmu untuk memiliki pria itu terdengar menakutkan, aku rasa Aiden-ssi juga tidak suka dengan caramu yang berlebihan”. Lanjut gadis itu santai, ia tidak peduli sekarang jika Yu Ra sudah mengenggam ganggang gelasnya erat.

“Cih, sombong sekali kau Putri Park Jae Kang”. Wajah Seo Na yang tadinya terlihat dingin dan tidak peduli, kini malah menatap Yu Ra lekat. Bagaimana mungkin gadis itu bisa mengetahui nama Ayahnya. “lucu sekali ekspresi gadis angkuh ini ketika aku menyebutkan nama mendiang Ayahnya”. Tambah Yu Ra yang kini menunjukan ekspresi kemenangan.
Seo Na memalingkan lagi wajahnya, ia tidak boleh kelihatan bodoh didepan gadis itu, mungkin Yu Ra hanya tau tentang keluarganya, tapi tidak tentang jati dirinya selama ini.

“kenapa jika aku adalah putri Park Jae Kang? Kau akan mengumumkan pada dunia?”. Timpal Seo Na tak kalah meremehkan.

“huh, kau masih tetap berlagak sombong sekarang? Kau kira aku tidak tau wujud aslimu? Kau tidak ubahnya seperti ‘Gumiho’ yang suka memakan hati manusia, tapi bedanya kau lebih suka menembakkan pistol kearah orang yang menjadi korbanmu, lucu sekali bukan ada wanita yang berani melakukan hal itu, ya tapi untuk ukuran wanita rendah seperti mu aku percaya”. Kata demi kata yang keluar dari mulut Yu Ra hampir membuat Seo Na hilang keseimbangan, gadis itu kini meremas permukaan kemeja putihnya dibawah meja, ekspresinya yang tadi terlihat angkuh dan biasa-biasa saja kini malah terlihat begitu pucat, bibir Seo Na  bergetar, bagaimana Yu Ra bisa tau tentang dirinya?

“ahh, aku tau kau pasti bertanya-tanya kenapa aku mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya Park Seo Na, jawabannya sederhana sekali. Ayahmu adalah teman bisnis ayahku dimasa lalu, aku juga tidak menyangka Ayah mengenal keluargamu dengan baik, dan dari sumber lain yang ku dengar, Anak Park Jae Kang sekarang menjelma menjadi wanita cantik dan kaya raya dan memiliki hubungan khusus dengan Aiden Lee, menjijikkan. Aku hampir kaget ketika mengetahui orang yang sudah miskin dan bangkrut sepertimu tiba-tiba menjadi kaya Raya, ternyata kau menjadi seorang pembunuh. Kau ingat Jung Yeo In? Dia Ayahku, Ayahku yang pernah membayarmu untuk membunuh saingan  bisnisnya, tidak mudah mencari dokumen tentangmu yang ada di tangan Ayahku karena ia sendiri yang memberikannya, hahaha ini sungguh kebetualan bukan, Ayahku menyuruhmu untuk membunuh orang lain. Daebak! Ini seperti teka teki yang dengan mudah kupecahkan”.

Berkali-kali Seo Na menelan air ludahnya ketika mendengar kata demi kata yang keluar begitu lancar dari mulut Yu Ra, ada yang ia dengan dengan jelas dan ada juga yang ia dengan dengan hentakkan keras dikepalanya, Yu Ra benar, bagaimana semua ini terasa seperti kebetulan.

“lalu kau ingin apa dariku?”. Pertanyaan yang memang harus di ucapkan Seo Na saat ini. raut muka gadis itu sudah terlihat pucat pasi, ia hampir ingin memukul wajah gadis yang ada didepannya ini jika ia tetap saja berceloteh tentang kenyataan siapa dirinya.

“hahahaha akhirnya kau menyerah Seo Na-ssi? Ternyata tidak sulit mengalahkan gadis angkuh sepertimu”. Yu Ra tersenyum remeh, menatap Seo Na yang kini matanya hampir memerah. “aku hanya ingin kau meninggalkan Aiden Lee, pergi sejauh mungkin dan jangan bertemu lagi dengannya, karena dia milikku. Jika kau tidak mau, ya apa boleh buat, sepertinya aku harus mengatakan pada pria itu siapa kau sebenarnya, pasti Aiden Lee akan patah hati mendengar wanita yang sangat ia cintai ini adalah pembunuh bayaran yang ingin membunuhnya. Aku tidak akan memasukkan mu kepenjara, sama saja aku menjerumuskan Ayahku juga ke dalam neraka itu, lagi pula Ayahku pernah bekerja sama denganmu, ya kedengarannya sama-sama licik tapi apa boleh buat, sepertinya aku juga harus memikirkan adikmu yang berada di Paris, jadi kau boleh pergi dan tidak usah menampakkan diri lagi di hadapan Aiden-ssi, mudah bukan?”.

Seo Na menatap gadis itu nanar, ia hampir tidak habis pikir dengan ucapan menusuk yang keluar dari mulut Yu Ra, dadanya benar-benar sesak kali ini, meskipun disekitarnya begitu banyak udara tapi kali ini ia benar-benar sulit untuk bernapas. Meninggalkan Aiden Lee? Gila saja, bukankah baru kemarin ia mengatakan jika ia ingin terus memeluk pria itu, melindunginya dari Tuan Cho? Lalu jika ia meneruskan keegoisannya bagaimana dengan perasaan pria itu, ia tidak ingin Dong Hae mengetahui kebusukkannya selama ini, ia hanya ingin pria itu baik-baik saja, ia ingin pria itu selamat, setelah beberap hari ini ia sadar tidak ada hasrat lagi untuk membunuh siapapun, apa lagi Dong Hae, jika ia membunuh pria itu sama saja ia harus siap kehilangan berkali-kali orang yang ia sayangi, cukup kedua Orang tua-nya dan Kyu Hyun saja yang pernah pergi dari hidupnya dan meninggalkan luka, ia tidak ingin Dong Hae juga meninggalkan dan membencinya, sungguh itu hanya akan menambah deretan luka dihati Seo Na.

“aku akan meninggalkan Aiden-ssi, tapi ku minta satu hal padamu”. Yu Ra mengangguk, mengiyakan apa yang akan diminta Seo Na padanya. “jaga Aiden-ssi dari Tuan Cho, aku tidak ingin ia terluka sedikitpun”.

Yu Ra tersenyum simpul mendengar permintaan gadis itu, akhirnya ia menang dan ia akan menjadi satu-satunya gadis didalam hidup Dong Hae. Seo Na beranjak dari hadapan gadis itu, ia tidak ingin gadis itu melihat tangisnya yang kini hampir pecah, ia benar-benar hancur, semuanya sudah berkahir bukan, ia harus menjauhi Aiden Lee-nya, benar kata Kyu Hyun ia harus membatalkan semua ini dan kembali menjadi dirinya yang dulu, setidaknya di Paris nanti ia bisa hidup tenang berasama Seo Ra dan Seo Min kedua adiknya.

Seo Na menghempaskan pintu mobilnya, menginjak pedal gasnya tak beraturan , yang kini menjadi tujuannya hanya tempat itu, tempat yang bisa menenangkan hatinya, dan kali ini ia membutuhkan Kyu Hyun, ya pria itu. ia benar-benar hancur saat ini. Seo Na menekan beberapa tombol diponselnya  dan meletakkan benda mati itu ditelinga dengan tangan kiri, tangan kanannya kini tengah sibuk memegangngi stir mobilnya.

“Kyu Hyun-ssi, kau dimana? Bisakah kedanau sekarang, ku mohon, aku membutuhkanmu”.

~~~000~~~

Kyu Hyun membuka pintu mobilnya, dari tempatnya berdiri saat ini ia bisa melihat dengan jelas punggung gadis itu, ia bisa melihat bahu gadis itu tengah turun naik, dan ia juga bisa mendengar isakkan yang keluar dari mulut gadis itu. Kyu Hyun berjalan mendekat kearah Seo Na, dan kini berdiri tepat disamping Seo Na, memagang kedua bahu Seo Na meminta gadis itu menatapnya, dan yang kini terlihat diwajah cantik Seo Na hanya raut wajahnya yang tidak lagi tegar dan angkuh, disana sudah banyak air mata yang terus mengalir dari pipinya, dan sungguh pemandangan ini hampir membuat Kyu Hyun ingin membunuh siapa saja yang sudah membuat gadis-nya menangis.

“apa yang terjadi, hm?”. Ucap Kyu Hyun dengan nada lembut, nada meminta pada gadis itu untuk tenang dan jangan menangis, kini jari-jari pria itu mengusap dengan leluasa pipi Seo Na yang basah. Bukannya mereda, tapi tangis gadis itu kini malah semakin menjadi-jadi.

“tidak apa jika kau belum bisa menceritakkannya padaku, tapi berjanjilah untuk tidak menangis seperti ini, ku mohon Seo Na-ya”. Kyu Hyun menarik tubuh gadis itu kedalam pelukannya membiarkan gadis yang tengah rapuh itu menggunakan dadanya untuk bersandar sejenak, Kyu Hyun tak tau apa yang sudah membuat Seo Na terlihat menyedihkan seperti ini.

Beberapa menit kemudian, Seo Na menarik tubuhnya dari dekapan Kyu Hyun, karena pelukan pria itu kini sedihnya sedikit berkurang. Ia menatap wajah Kyu Hyun yang kini tengah menelungkupkan kedua telapak tangganya di wajah Seo Na, Seo Na memaksakan senyum melihat wajah Kyu Hyun yang begitu khawatir melihat keadaanya.

“jangan memaksakan senyum palsu itu Park Seo Na, apa kau tidak lelah terus berpura-pura kuat selama ini”. ucap pria itu, membuat hati Seo Na semakin teriris, Sakit, tentu saja ini benar-benar sakit. Kyu Hyun benar, ia harus berhenti berpura-pura angkuh dan kuat.

Seo Na melepaskan kedua telapak tangan pria itu dari pipinya, memandang kearah danau yang sejak dulu menjadi tujuannya ketika ia sedih atau pun merasa lelah berperan jahat didepan orang-orang selama ini.

“Kyu Hyun-ssi, apa kau ingat dulu kita sering menghabiskan waktu disini, aku merasa saat itu aku akan hidup bahagia hingga aku mati, aku ingat saat itu kau selalu memelukku, dan ketika kau tidak ada entah kenapa aku terus merindukan pelukan itu, aku berharap suatu hari aku bertemu denganmu lagi dan merasakan pelukkan yang sama. Tapi kau terlambat, beberapa hari yang lalu orang itu datang padaku, memberikanku pelukan yang kurasa sama hangatnya dengan pelukkanmu, aku menemukan banyak hal didirinya yang mampu membuatku tertawa dan tersenyum ketika kau tak ada. Tapi aku rasa, aku harus mengganti peluakkannya dengan pelukkan mu lagi, aku memutuskan untuk tidak menemuinya lagi, aku akan meninggalkannya dan tidak akan datang untukknya lagi”. Seo Na menghapus air matanya yang terus mengalir, dengan susah payah gadis itu mengeluarkan kata demi kata dari mulutnya, karena yang mendominan saat ini adalah isakkan tangis gadis itu.

Kyu Hyun menarik napasnya, menggenggam pergelangan tangan Seo Na, dan kini gadis itu beralih menatap Kyu Hyun. “maksudmu Aiden Lee?”. Kyu Hyun tau, Seo Na kini sudah mencintai pria itu, dan kini ia mulai tau kenapa Seo Na menangis seperti ini, karena pria itu.

Gadis itu mengangguk, ia tetap menangis meskipun kini tidak ada isakkan lagi yang terdengar.
“aku akan berhenti berperan sebagai Park Seo Na si Pembunuh bayaran, aku akan kembali menjadi Park Seo Na, gadis selai kacang Cho Kyu Hyun”. Entah sejak kapan Seo Na kembali masuk dalam dekapan Kyu Hyun yang jelas saat ini ia sudah menyampaikan semua keganjalan hatinya, meskipun ia tidak yakin apa ia sudah menyampaikan semua keganjalan hatinya, meskipun ia tidak yakin apa ia bisa menghapus bayangan pria yang baru saja masuk kedalam hidupnya beberapa hari ini.

~~~000~~~

Ini sudah lewat sehari dari jatuh tempo perjanjian Seo Na dengan Tuan Cho, gadis itu membuang kalendernya sembarangan kelantai, ia menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya. Hari ini sudah berkali-kali Tuan Cho menghubunginya tapi tetap saja ia tidak ingin mengangkat telepon dari siapaun , termasuk Aiden Lee. Ia menggeser tubunya ke tepi ranjang, meraih gangang telepon rumahnya menekan beberapa digit nomor disana.

“Seo Jin-ah, bagaimana keadaanmu?”. Tanya gadis itu setelah mendengar sautan dari ujung sana, entah kenapa ia merindukan adiknya itu.

“aku baik-baik saja Eonni, aku belajar dengan baik”. Seo Na tersenyum mendengar ucapan adiknya itu. “Eonni, bagaimana denganmu? Apa kau jadi ke Paris, Seo Min sudah sering menanyakan hal itu padaku”.

“dimana si bungsu itu, apa dia masih sering merengek meminta coklat padamu?”. Ucap Seo Na, terdengar suara tawa dari ujung sana.

“tidak terlalu sering, ia tau aku bukan kau-Eonni, jadi dia tidak bisa bermanja-manja denganku, karena itu ia ingin kau cepat-cepat kemari”. Seo Na terkekeh, ia sangat merindukan kedua adik perempuannya itu, mereka-lah satu-satunya keluarga yang Seo Na punya.

“aku akan kesana beberapa hari lagi, Seo Jin-ah jika aku tidak ada jaga Seo Min dengan baik. aku tau kau sangat menyayanginya, jaga dirimu disana”. terdengar suara meng-iya-kan dari ujung sana, sebelum Seo Na menutup ganggang telepon rumahnya.

Tak lama setelah gadis itu berbicara ditelepon dengan adiknya, Bel apartemennya berbunyi, ia enggan untuk menerima tamu hari ini, ia ingin sendiri, berkutat dengan pikirannya, tanpa diganggu siapapun, tapi akhirnya pertahan gadis itu kalah setelah berkali-kali bel rumahnya tetap berbunyi juga diseratai ketukan brutal pada pintu apartemennya. Gadis itu beranjak dari ranjangnya, berjalan kearah pintu dengan membuka kenop pintu secara perlahan.

“Kyu Hyun-ssi?”. Ucap gadis itu saat Kyu Hyun sudah berdiri didepan pintu apartemannya.

Kyu Hyun segera menarik tangan Seo Na masuk kedalam Apartemennya sebelum menuyuruh gadis itu mengunci rapat-rapat pintu Apartemennya. Seo Na masih tidak mengerti kenapa Kyu Hyun datang pagi-pagi ketempatnya dan terkesan tergesa-gesa. “Kyu-ya”. ucap Seo Na, tanpa sadar ia mengucapkan panggilan kesayangannya dimasa lalu pada pria itu, Kyu Hyun menatap Seo Na sejenak sebelum menarik gadis itu kedalam pelukannya dengan keadaan Seo Na yang masih memakai piama bermotif bunga-bunga kecil.

“kita harus pergi Seo Na-ya, kita harus pergi jauh”. Terdengar suara pria itu tertahan, pria itu juga memeluk Seo Na posesif seakan ingin melindungi gadis itu seutuhnya.

“hei, aku bisa-bisa kehabisan nafas Kyu Hyun-ssi, apa yang terjadi? kau bisa menjelaskannya padaku”. Seo Na melepaskan pelukannya dari Kyu Hyun menatap pria itu lekat. “jelaskan padaku, aku tidak mengerti apa yang baru saja kau katakan”.

Kyu Hyun menarik napasnya gusar, terlihat dari mata pria itu ia benar-benar sedang takut dan putus asa, kabar yang ia dapat tadi pagi dari orang kepercayaannya membuat pria itu secepat mungkin untuk bisa menemui Seo Na.

“Ayah sudah menyuruh orang lain untuk mencari dan membunuhmu Park Seo Na, kita harus pergi”. Seo Na membulatkan matanya, tepat seperti yang ia duga, tuan Cho tidak main-main dengan ancamannya, pria Tua itu pasti sudah mengetahui tentang hubungannya dengan Dong Hae.

“Kyu-ya, tidak usah takut. Aku tidak akan mati, Ayahmu tidak akan benar-benar membunuhku”. Seo Na berusaha terlihat tenang, lagi-lagi gadis itu berpura-pura meskipun Kyu Hyun selalu tau bagaiman keadaan sebenarnya Seo Na tapi tetap saja gadis itu berpura tegar didepan Kyu Hyun.

“Seo Na-ya, jangan berpura-pura tegar seperti ini lagi, keadaanya sudah tidak sama dengan sebelumnya. Kita akan ke Paris hari ini, Seo Jin dan Seo Min pasti sudah merindukanmu”. Kyu Hyun menatap mata Seo Na, gadis itu menundukkan wajahnya, menyembunyikan air matanya yang mendesak ingin keluar, ia tidak ingin Kyu Hyun melihatnya berkali-kali rapuh seperti ini. “Seo Na-ya… Jebbal”.
Seo Na mengangguk meskipun hatinya ingin mengatakan tidak, Pikiran gadis itu kini menerawang, ia merasa masih ada yang tertinggal disini, hatinya masih berat untuk meninggalkan Dong Hae, tapi bagaimana dengan pria itu, Tuan Cho pasti mencarinya, tapi bukankah Yu Ra sudah berjanji pada gadis itu untuk menjaganya, dan Dong Hae tidak pernah pantas untukknya lagi, siapa Seo Na? Seo Na bukanlah orang yang bisa membahagiakan Dong Hae nantinya, Seo Na adalah wanita pembunuh, jadi untuk orang setulus Dong Hae tidak pantas memiliki wanita jahat seperti dirinya.

“kita bisa pergi sekarang, sebelum orang-orang pesuruh Ayah datang kemari mencarimu, kita bisa pergi secepat mungkin dari sini, kemas barangmu sekarang”. Desak Kyu Hyun, Seo Na membuyarkan pikirannya yang sejak tadi berfokus ke Dong Hae, ia menuruti semua perkataan Kyu Hyun, gadis itu mengemas semua bajunya yang ia butuhkan saja, karena tidak mungkin semua barang ia bawa, semua ini bisa menyusul nantinya, gadis itu beringsut kekamar mandi, membersihkan tubuhnya sejenak lalu bersiap-siap seadanya, ia tidak ingin Kyu Hyun lama menunggunya, lagi pula pria itu sudah mengatakan jika pesuruh Tuan Cho sudah mencarinya.

Entah sejak kapan Seo Na berdiri dihadapan Kyu Hyun dengan satu koper merah besar ditangan kanannya. “sudah siap?”. Ucap Kyu Hyun sambil menatap wajah Seo Na yang begitu manis sekalipun tanpa menggunakan make-up yang berlebihan, seperti Seo Na-nya yang dulu. Seo Na mengangguk sebelum mereka memutuskan untuk meninggalkan apartemen, tapi saat Seo Na membuka Apartemennya kini seorang pria sudah berdiri disana dengan tatapan hancur, sepertinya.

“Aiden Lee?”.

~~~000~~~

“perjanjian mereka sudah tidak berlaku, sesuai dengan kesepakatan, jika gadis itu tidak membunuh anda dalam beberapa hari sesuai yang dijanjikkannya ia yang akan di bunuh, tapi kedengarannya ini menarik Sajangnim jadi anda tidak repot-repot membunuh gadis itu lagi”. Memang, Dong Hae tidak harus lagi bertegang urat memikirkan bagaimana caranya membunuh gadis itu jika gadis itu gagal membunuhnya, tapi masalahnya Dong Hae sudah mulai menyukai Seo Na, ia sudah berjanji akan melindungi gadis itu sampai kapanpun, dan jika masalahnya sudah seperti ini, apa ia akan membiarkan Seo Na mati ditangan saingan bisnisnya itu, dan masalah keselamatannya, ia tidak akan memenerima tawaran Yu Ra sore kemarin untuk melindunginya karena Dong Hae punya banyak orang bayaran untuk menjaganya, itu bukan hal yang rumit.

“dan lucunya lagi, putra Tuan Cho adalah mantan kekasih Park Seo Na-ssi dimasa lalu, karena pria itu meninggalkannya disaat kedua orang tuanya meninggal akhirnya ia cukup lama menderita dan hidup tidak jelas dengan kedua adik perempuannya, Cho Kyu Hyun, dia adalah anak dari Tuan Cho. Dan aku menemukan satu bukti lagi, jika Park Seo Na adalah anak dari Park Jae Kang, pemimpin perusahaan Jpark Company yang sudah lama bangkrut, bukankah perusahaan itu juga sempat bekerja sama dengan Cho Company tapi setelah Tuan Park meninggal dengan istrinya perusahaan itu diambil alih oleh Cho Company hingga mereka mampu naik kelevel tinggi meninggalkan perusahaan kita selama Ayah anda menjabat Sajangnim”. Dong Hae mencerna dengan baik penjelasan dari asisten pribadinya itu. Jadi Kyu Hyun adalah anak Tuan Cho? Gadis itu pasti sudah tau bukan?
Berkali-kali Dong Hae menghubungi gadis itu, tetap saja ponselnya dalam keadaan mati, tidak ada bunyi ‘dip’ diseberang sana, selain suara operator yang semakin membuatnya pusing, ia masih mengingat bagaimana asistennya tadi memberi tahu semua yang telah terjadi selama ini dengan keluarga Seo Na dan gadis itu, karena itu ia ingin segera memberi tahu Seo Na tentang hal ini, lagi pula ia harus jujur dengan gadis itu jika ia sudah tau siapa Seo Na sebenarnya.

Akhirnya Dong Hae memutuskan untuk menemui gadis itu secara langsung, ia tidak peduli lagi sekarang, yang ia tau gadis itu harus selamat, ia harus melindungi Seo Na-nya bukan?
Dong Hae sampai didepan pintu Apartemen gadis itu, ingin segera menekan bel di sisi kanan tembok Apartemen Seo Na tapi kini tangannya terhenti karena suara seorang pria yang ia yakini bersumber dari dalam ruang Apartemen gadis itu, Dong Hae sepertinya tau siapa pria yang berada didalam bersama Seo Na saat ini karena tanpa sengaja pria itu dengan jelas mendengar pembicaraan pribadi diantara keduanya, tak lama pria itu berdiri sambil mendengar dengan jelas pembicaraan kedua orang itu, kini pintu yang persis dihadapan Dong Hae terbuka lebar dihadapannya sudah berdiri Seo Na dan seorang pria jakung berambut sedikit pirang, ia yakin pria itu Cho Kyu Hyun, putra dari pemilik  Cho Company.

“Aiden Lee?”. Ucap Seo Na dengan nada sedikit terkejut dengan kehadiran Dong Hae didepan pintu Apartemennya.

“ikut dengan ku Seo Na-ssi”. Ucap Dong Hae sambil menarik pergelangan tangan gadis itu tapi sepertinya langkah Dong Hae tertahan karena Seo Na sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, Dong Hae menatap gadis itu nanar, lebih tepatnya menatap tangan lain yang kini menahan Seo Na ditempatnya.

“Maaf Tuan Lee, gadis ini sudah tidak ada urusan lagi denganmu”. Ucap pria itu datar, menunjukkan ekspresi ketidak sukaannya pada Dong Hae.

“dia masih ada urusan denganku, jadi lepaskan dia Dokter Cho”. Ucap Dong Hae tidak kalah tajam, Seo Na yang melihat perdebatan sengit diantara kedua pria itu malah melepaskan kedua genggaman kedua pria itu dari pergelangan tangannya yang semakin erat dan menimbulkan denyutan dipermukaan kulit putih gadis itu.

“Hei! Kalian mau membunuhku!”. Seo Na merintih kesakitan, keduanya kembali fokus pada Seo Na. Gadis itu menatap Kyu Hyun dan Dong Hae bergantian, sebelum kembali fokus pada Dong Hae pria yang kini tengah berada dihadapannya.

“Aiden-ssi, seperti yang dia bilang, kita tidak ada urusan lagi sekarang”. Ucap Seo Na dengan nada sedikit tertahan, gadis itu sungguh ia ingin menangis saat ini, sejujurnya ia ingin sekali menghambur kedalam pelukan Dong Hae yang beberap hari ini ia rindukan.

Dong Hae berdelik heran, kenapa Seo Na tiba-tiba mengucapkan hal itu padanya. “Park Seo Na-ssi, apa kau serius dengan yang baru saja kau katakan?”. Ucap Dong Hae tak percaya, tapi malah direspon anggukan oleh gadis itu.

“aku serius Aiden Lee, maafkan aku selama ini sudah banyak merepotkanmu, aku juga datang begitu saja dalam hidupmu yang begitu sibuk, kau tau pria ini bukan, dia Cho Kyu Hyun, kekasihku. Aku harap kau mengerti kenapa aku memilih untuk tidak ingin mengenalmu lagi, dan aku .. aku akan ke Paris siang ini bersamanya, sekali lagi terimakasih”. Dong Hae menatap gadis itu nanar, ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang sudah diucapkan Seo Na padanya, ini tidak seperti Seo Na yang ia kenal.

“aku tidak peduli, aku mecintaimu Park Seo Na!”. Seo Na menatap Dong Hae tajam, sebelum gadis itu menunduk menyembunyikan ekspresi wajahnya.

‘Mencintai?’, Seo Na ingin sekali menagatakn ia juga sangat mencintai Aiden-nya, ia juga tidak ingin semua ini terjadi, dan sungguh ia tidak ingin sebenarnya mengatakan jika ia ingin pergi dan tidak ingin mengenal Dong Hae lagi, tapi demi pria itu, demi perasaan pria itu ia tidak ingin Dong Hae terluka sedikitpun, sungguh!
Kyu Hyun yang mendengar ucapan cukup berani dari pria yang berada dihadapannya itu hanya mencibir, baginya tidak heran jika Dong Hae mengatakan hal itu karena kehilangan Seo Na memang sangat menyakitkan karena ia sudah lebih dulu merasakan hal itu.

“maafkan aku, aku harus pergi”. Ucap Seo Na tanpa beban, ia menatap kearah Kyu Hyun dari sorot matanya Kyu Hyun yakin apa yang diucapkan gadis itu semuanya adalah bohong, karena kenyataannya Seo Na-lah yang paling berat untuk pergi dari Dong Hae.

Dong Hae menatap Seo Na, gadis itu beringsut beranjak dari hadapannya sambil mengenggam pergelangan tangan Kyu Hyun dan bagian yang paling menyakitkan adalah hal itu melihat tangan Seo Na yang begitu erat menggenggam tangan Kyu Hyun dan menjauh darinya, Dong Hae terus memandangi Seo Na sampai punggung gadis itu sudah berbelok ke kanan di ujung lorong  gedung apartemen megah itu.

~~~000~~~

“aku tau kau berbohong Seo Na-ya”. Kyu Hyun balas menggenggam tangan Seo Na, menyelipkan jemari-jemarinya di jari-jari indah milik Seo Na. Seo Na tidak bergeming, ia berjanji tidak akan melihat kearah belakang dan mengejar pria itu, tidak akan. “aku juga mencintaimu, seperti dia mencintaimu”. Tambah Kyu Hyun lagi sebelum tubuh mereka berbelok ke kanan menuju lift.

“kau harus bahagia Park Seo Na”. Seo Na menatap Kyu Hyun, menghentikan langkahnya tepat didepan Lift.

“aku juga mencintainya, sama seperti mencintaimu dimasa lalu”. ucap gadis itu lalu tersenyum manis kearah Kyu Hyun, dan entah kenapa senyum gadis itu begitu berbeda dari sebelumnya, Kyu Hyun menarik Seo Na kedalam pelukaannya merasakan kehangatan yang disuguhkan dari pelukan itu, tidak butuh beberapa lama detik berikutnya, kini dua orang berkaca mata hitam dengan setelan jas rapi keluar dari balik pintu lift, mengacungkan benda hitam ditangannya kearah gadis itu.

Satu tembakan…. tak ia rasakan, hanya jeritan kesakitan yang keluar dari bibir gadis yang berada didalam pelukannya  saat ini, sebelum Kyu Hyun memutar badannya dan… tembakan kedua… ketiga…. ia rasakan jelas menembus tubuhnya, pertahan keduanya runtuh, tapi kali ini ia masih jelas mendengar suara gadis itu bergetar menyebutkan namanya, sebelum semuanya menjadi gelap dan tak terdengar apa-apa lagi.

To Be Continue

~~~000~~~

Posted from WordPress for Android

TEARS ARE FALLING (2/?)

Standard

TEARS ARE FALLING (2/?)

Action, romance.

PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast

Sinar matahari pagi itu menembus kaca jendela kamar Seo Na yang sengaja tidak diberinya tirai, sesekali mata gadis itu berkedip menghalau sinar mentari yang berani mengusik tidurnya tapi tetap saja gadis itu bertahan dalam selimut tebalnya dan menariknya hingga menutupi seluruh tubuhnya.

Tidak lama gadis itu nyaman dalam posisinya suara bel dari luar sana yang malah bergantian mengusik waktu istirahatnya, ia berdecak kesal, selema ini tidak ada yang berani menganggunya selain telepon dari adik-adiknya yang berada di Paris.
Seo Na bangun malas-malasan, menyeret kakinya berat mengucek matanya yang masih ingin terkatup untuk tetap tidur diatas ranjang empuknya. Tanpa melihat layar disamping pintunya gadis itu segera membuka pintu apartemennya.

“Ne, Nugu-“. Ucapan gadis itu terhenti ketika ia mendapati seorang pria tampan kini tengah menenteng plastik putih yang ia tidak tau apa isinya, wajah pria yang beberapa hari ini mengisi hari-harinya, pria yang akan menjadi korban berikutnya untuk ia bunuh.

“Selamat pagi Seo Na-ssi, maaf sudah mengganggu tidurmu”. Suara itu, ahh~ lagi-lagi Seo Na gugup tidak karuan mendengar pria itu.

“ahh, maaf aku baru saja bangun, silahkan masuk”. Ucap Seo Na sambil membuka sedikit lebih lebar pintu apartemennya, Dong Hae tertawa geli melihat ekspresi wajah gadis itu yang polos tanpa make up sama sekali, cantik bahkan gadis itu lebih kelhatan cantik dan sederhana ketika bangun tidur.

“aku membawa beberapa sarapan untukmu, seharian kemarin kau belum makan bukan? Aku tidak ingin orang yang menginginkanku untuk mencintainya sakit dan harus dirujuk kerumah sakit”. Seo Na tertawa geli mendengar rayuan gila dari pria tampan itu, biasanya ia tak seperti ini tapi entah apa yang beda dari pria itu sehingga membuat hatinya kelabakan.

“baiklah, aku harus segera mandi, kau bisa menunggu beberapa menit saja Aiden-ssi”. Ucap gadis itu tersenyum sambil berlalu dari hadapan Dong Hae. ‘aku benar-benar gila karena pria itu’. gumam Seo Na sambil memukul-mukul kepalanya pelan.

~~~000~~~

“gadis itu Park Seo Na, dia bekerja untuk Cho Company, aku harap anda berhati-hati dengannya Sajangnim, ia sudah membunuh banyak orang hanya dengan pesona kecantikannya”. Dong Hae tersenyum simpul, ‘pesona?’ ya pesona gadis itu bisa membuat siapa saja yang melihatnya mabuk seketika.

“tidak usah khawatir, gadis itu akan menghabiskan banyak waktunya bersamaku, aku tidak bisa memastikan aku yang mati olehnya, atau dia yang kubunuh”.

Lamunan pria itu buyar ketika seorang gadis sudah berdiri dihadapannya, rambutnya yang ia biarkan terurai setengah basah, jeans selutut serta baju kaos yang dengan jelas mengekspos bahu kirinya. Seksi, entahlah, entah apa tujuan gadis itu berpakaian begitu seksi namun terkesan sederhana didepan Dong Hae.

“maaf sudah membuatmu menunggu”. Ucapnya sambil tersenyum,Dong Hae menggeleng, menggerakkan tangannya mempersilahkan gadis itu untuk duduk dihadapannya. Dimeja sudah tersedia, sandwich dan beberapa roti panggang yang diisi selai kacang. Tunggu dulu, selai kacang? Bukankah itu selai favorit Seo Na, bagaimana pria itu bisa tau.

“ini? apa ini sengaja? Atau bagaimana kau bisa tau?”. Dong Hae mengalihkan pandangannya kearah Roti panggang yang sengaja dibuatnya sebelum berkunjung kerumah Seo Na.

“kau suka itu Seo Na-ssi?”.

“Tentu saja, ini selai kesukaanku, hanya Ibu yang tau jika aku suka roti panggang dengan selai kacang didalamnya“. Dan yang jelas seorang pria dimasa lalunya juga tau hal itu.

“aku benar-benar tidak tau, aku sengaja membuatkannya untukkmu. Ini hanya kebetulan Seo Na-ssi, aku tidak tau sama sekali tentang hal itu”. Seo Na mengulum senyumnya, ya mungkin saja ini hanya kebetulan, tidak mungkin pria didepannya ini tau tentang dirinya, kecuali pria dimasa lalunya, ahh pria itu dia tau tentang bagaimana Seo Na, lagi-lagi gadis itu memikirkannya.
“Park Seo Na, gweancana?”.

“ah, Ne. Gweancanayeo, terimakasih untuk sarapannya pagi ini aku benar-benar tersanjung Aiden-ssi. Maaf sudah membuatmu repot pagi ini”.

Dong Hae mengibaskan tangannya, tanda tak setuju dengan ucapan gadis itu.
‘tidak, bahkan ini adalah keinginanku. Lagi pula untukkmu, aku ingin merepotkan diri”. Dong Hae tersenyum, dan itu lagi-lagi membuat Seo Na seperti terbang kemana-mana.
‘pria ini, memanfaatkan rayuannya. Aiden Lee kau benar-benar memabukkan’. Gumam gadis itu dalam hatinya.

“hm, boleh aku meminta sesuatu padamu?”. Ucap Dong Hae tiba-tiba setelah keduanya sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing, Seo Na mengangguk. “hari ini ada sesuatu yang harus aku kerjakan di kantor, tapi kepalaku benar-benar pusing karena aku sendiri hampir mati memikirkannya, karena kau seorang wanita aku tau kau pasti punya insting tentang keindahan jauh lebih baik dariku”. Seo Na mengerutkan keningnya, entah Dong Hae yang terdengar bertele-tele atau memang Seo Na yang masih belum mengerti ucapannya. Dong Hae hanya terkekeh kecil. “jangan memandangiku dengan wajah bingung seperti itu, nanti aku akan menunjukkannya setelah kita sampai dikantor”. Dong Hae tersenyum geli, gadis yang didepannya ini benar-benar membuat jantungnya maraton, tampang bingungnya sukses membuat Dong Hae kegelian.

~~~000~~~

Kedua manusia yang terlihat serasi itu berjalan bergandengan tangan didalam gedung perusahaan milik salah satu diantara mereka, tentu saja perusahaan sang pria. Seo Na mengenakkan Jeans dipadukan dengan atasan blazer merah yang membuat dirinya terlihat memposona, ditambah dengan sepatu boots beludru warna kream yang senada dengan pita yang ia kenakan dikepalanya, gadis itu terlihat cantik dan –err- tentu saja sangat seksi, bukankah itu preyoritas utamanya untuk menggait mangsanya lalu membunuh mangsanya itu dengan sekali hentakkan. Hebat.

“aku sedikit risih Aiden-ssi”. Ucap Seo Na setengah berbisik namun bisa didengar jelas oleh Dong Hae, tentu saja gadis itu mendenkatkan wajahnya ketelinga Dong Hae, jangankan suara Dong Hae juga bisa merasakan napas gadis itu di kulit lehernya.

“ehum”. Deham Dong Hae mengusap tengkuknya dengan telapak tangan kirinya yang bebas. “kenapa? Karena para karyawan dikantor ku melihatmu intens? Mungkin karena mereka jarang melihat Direktur-nya menggandengan wanita cantik sepertimu”. Goda Dong Hae dan itu sukses membuat wajah Seo Na merona dibelakang pandangan pria itu, jika ia bisa mengatakan sesuatu saat ini ia akan mengutuk pria yang dikenalnya dengan nama Aiden Lee itu. akhirnya tanpa embel-embel bertanya lagi yang akan berunjung gombalan maut Dong Hae , Seo Na memilih bungkam dan mengikuti pria itu dari samping.

Keduanya sampai diruang kerja Dong Hae yang cukup luas, dari dalam sini terlihat beranda yang langsung mengarah ke pusat kota Seoul, benar-benar mengagumkan pria yang bernama barat Aiden Lee ini, tidak ada yang kurang darinya.
“duduklah”. Ucap Dong Hae, Seo Na kembali fokus pada pria itu yang juga duduk disamping dirinya. “maksudku membawamu kesini karena, hmm aku ingin kau membantuku menyusun bunga-bunga yang baru saja ku beli kemarin siang, untuk ku letakkan di beranda luar. Aku bosan melihat beranda yang kosong melompong tanpa tumbuhan dan aku benci hal itu, jadi karena aku hanya meletakkannya pada satu titik jadi rasanya kurang pas, lagi pula aku tidak terlalu pandai berurusan dengan tata menata, jadi karena kau wanita aku rasa kau bisa membantuku-”.

Cups!

Satu kecupan singkat dibibir pria itu sukses membuatnya terdiam, menghentikan ucapannya yang benar-benar terdengar begitu polos dan sedikit manja ditelinga Seo Na, dan gadis itu entah dari mana ia mendapat keberanian mengecup singkat bibir pria itu yang kini masih menatap Seo Na tidak percaya, sejujurnya Seo Na juga tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan ini. ‘aku gila ya?’ fikir gadis itu.

“hm, baiklah aku akan mengerjakannya untukmu Aiden-ssi”. Seo Na berniat segera beranjak dari hadapan pria itu tapi yang ada tangan gadis itu kini tengah berada dalam genggaman Dong Hae.

“Wae..Waeyeo?”. ucap gadis itu gugup.

“eum, tidak apa, eum, yasudah mari kita kerjakan bersama-sama, aku yakin kau tidak akan kuat mengangkat pot-pot bunga itu Seo Na-ssi”. Ucap Dong Hae terdengar gugup, sejujurnya ia masih shock dengan perlakuan gadis itu terhadapnya, yang benar saja ucapannya tiba-tiba terhenti hanya karena kecupan singkat dari gadis itu. ‘ah sial, ini benar-benar membuatku mabuk’. Umpatnya dalam hati.

~~~000~~~

Seo Na memutar kenop pintu apartemennya, menutup pintu itu setelah pria itu menghilang dari balik Lift diujung lantai 21 itu. ia baru saja diantar pria itu, pria yang ia temani seharian ini dikantornya, dan pria yang baru saja ia kecup tiba-tiba tepat dibibirnya, pikirannya terlalu sinting saat melihat Dong Hae bercuap-cuap tanpa hanti didepannya, dan itu terlihat menggemaskan bagi Seo Na, tapi haruskah sampai mencium pria itu tak sopan, Bodoh!
Seo Na mematung dibelakang pintu, meletakkan telapak tangan kirinya didada, masih terdengar degup jantungnya yang sejak tadi memacu, ia hampir tidak karuan sejak tadi, sejak ia dikantor Dong Hae ia selalu menahan deru jantungnya sendiri, ya meskipun itu memang karena ulah gilanya.

Ah, tunggu dulu. Bukankah ia punya tujuan dengan pria itu, ia hampir lupa. Seo Na memukul kepalanya pelan. ‘aish! Aku tidak boleh seperti ini! kenapa aku mengecup bibir pria itu tiba-tiba! Dasar otak mesum! aku akan membunuhnya, bukankah aku akan segera ke Paris, Seo Na Come On! Pria itu hanya akan membuat hidupmu hancur nantinya!’. Umpat gadis itu pada dirinya, ini bukan yang pertama kali ia terjerat dalam pesona luar biasa seorang pria. Dulu, jauh sebelum ia mengenal pembunuhan ia sudah pernah jatuh dalam pesona seorang pria dan sayangnya pria itu seketika menghilang saat ia benar-benar butuh perlindungan pria itu.

Dering ponsel menghalau lamunan gadis itu, ia mendekat kearah meja makan tempat sumber bunyi ponselnya berada, ia membuka ponsel lipatnya, tertera nama disana. ‘Tuan Cho’. Gadis itu berdesis, lagi-lagi pria tua itu menghubunginya, pasti ingin menanyakan perkembangan yang ia lakukan pada Aiden Lee beberapa hari ini. tapi tunggu dulu, bukankah ini sudah seminggu? Bagaimana Seo Na belum juga menghabisi nyawa Pria itu, bukankah biasanya hanya butuh 3 hari baginya untuk membunuh?

“Yeoboseyeo”. Ucap gadis itu dingin, terdengar suara berat menyaut dari ujung sana. “aku belum bisa menentukan waktu yang tepat”. Seo Na menarik napasnya berat, mendengar suara berat yang mulai mengancam dari ujung sana.

“aku tidak akan jatuh cinta padanya, beri aku waktu 1 minggu lagi, aku akan menghabisi nyawanya. Untuk kali ini  biarkan aku bermain-main dulu dengan pria tampan itu, tidak usah khawatir”. Seo Na segera menutup sambungan teleponnya. ‘sial!’. Gumamnya lagi, ia tidak ingin mati dibunuh hanya karena ia gagal membunuh orang dalam misi terakhirnya ini.

‘Aiden Lee, aku membencimu! Aku tidak menyukaimu! Katakan juga bahwa kau membenciku, itu akan membuatku mudah untuk menembakkan satu peluru di kepalamu’.

~~~000~~~

Sudah 2 hari sejak ia bertemu dengan Aiden Lee pria itu tidak pernah lagi menghubunginya, banyak spekulasi yang bermunculan di otak gadis itu, ‘apa dia takut aku cium lagi? Atau ia takut aku perkosa?’ tidak mungkin, pikiran itu terlalu konyol, lagi pula saat kejadian memalukan itu Dong Hae tetap biasa saja, walaupun sesekali keduanya tampak canggung, ia tidak menyangka efek kecupan itu cukup lama.

Berkali-kali Seo Na menghubungi nomor ponsel pria itu tapi tetap saja ponsel pria itu dalam keadaan tidak aktif. Ia hampir frustasi, kini yang ada dibenaknya tentang bagaimana rencananya, ia sendiri sudah mabuk sendiri oleh perasaanya, bagaimana jika ia kehilangan jejak pria tampan itu? waktunya hanya seminggu lagi bukan untuk menghabisi nyawa pria itu, atau nyawanya yang akan dihabisi oleh pemilik Cho Company itu. sesekali Seo Na mondar mandir diapartemennya dengan ponsel yang terus ia genggam ditangannya.

“Aiden Lee, kau benar-benar keparat!”. Gumamnya lirih, ia merindukan Aiden Lee atau ingin segera membunuh pria itu? ia tidak tau bagaimana perasaan yang ia rasakan sekarang, keadiran pria itu cukup membuatnya sedikit pusing. Mungkin.

Tak lama gadis itu berkutat dengan pikirannya, ponselnya berdering ia segera membuka ponsel lipat itu, berharap jika yang tertera dilayar ponsel itu adalah nama ‘Aiden Lee’ tapi ia salah, hanya sebuah nomor tanpa nama yang tertera disana, Seo Na mengangkatnya malas.

“Yeoboseyeo”. Ucap gadis itu sedikit ketus. Terdengar suara pria dari ujung sana, bukan suara Aiden-nya, juga bukan suara si Tua Tuan Cho.

“aku sedang tidak ada urusan, baiklah. Tapi apa aku boleh tau siapa yang memintaku bertemu?”. Ucap Seo Na terdengar dingin dan ketus.

“Dokter Cho?”. Seo Na mencerna ucapan pria dari ujung sana. “ah, Algseumnida. Aku akan sampai disana beberapa menit lagi”. Seo Na mematikan sambungan telponnya, menghadap keluar jendela apartemennya yang memberikan pemandangan indah kota Seoul.

“begitu banyak pria bermarga Cho yang masuk kedalam hidupku, tapi hanya kau yang membuatku hancur berkeping-keping Cho Kyu Hyun”. Terdengar suara bergetar dari kalimat gadis itu, lagi-lagi ia mengingat pria yang meninggalkannya itu, sedih kembali menyeruak dihati gadis itu, untuk sejenak ia melupakan tentang Aiden Lee.

~~~000~~~

“Kyu-ya”. pria itu tetap berjalan tanpa memperdulikan gadis itu yang kini tengah memanggil namanya. “Kyu Hyun-ah! Cho Kyu Hyun!”. Kali ini gadis itu meneriakki namanya, Kyu Hyun berbalik menghadap kan tubuhnya pada gadis itu. “Wae? Waeguere?”.

“Mianhe”. Ucap Kyu Hyun tanpa melihat wajah gadis itu sedikitpun, jika ia melihat wajah itu ia tak akan berani mengatakan kata itu .

“Wae?”. Tanya gadis itu lagi, kini wajahnya hampir dipenuhi tetesan air mata, untuk sekedar melihat wajah laki-laki yang berada dihadapannya saat inipun ia tidak bisa, terlalu sakit.
Kyu Hyun membalikkan badannya, meninggalkan gadis itu yang kini sudah terhempas ketanah. Kyu Hyun ingin sekali berbalik dan memeluk gadis itu, tapi bagaimanapun ini sudah menjadi keputusan Ayah-nya.

“Seo Na-ya, Mianhe… Saranghae”.

~~~000~~~

Pria itu duduk persis ditepi jendela cafe shop tempat biasanya ia kunjungi, cafe shop tidak jauh dari rumah sakit tempat ia bekerja. Ia asik memandangi orang-orang yang berlalu lalang didepan cafe itu, sesekali milirik jam tangannya, sudah 1 jam ia menunggu gadis itu tapi sama sekali ia belum melihat batang hidungnya.

Penasaran, ya Kyu Hyun sangat penasaran dengan gadis yang namanya persis sama dengan gadis yang ia kenal beberapa tahun lalu, ia yakin betul gadis itu bukan Park Seo Na-nya, ia yakin Seo Na bukan gadis yang seperti itu, dan ia mengenal Seo Na dengan baik, gadis-selai kacang kesayangan-nya, yang ia tinggal begitu saja karena kehendak orang tuanya, tiba-tiba ia merindukan gadis itu.

“maaf sudah menunggu lama”. Terdengar suara seorang gadis dari hadapannya, Kyu Hyun segera menoleh kearah gadis itu yang kini tengah membuka kaca mata hitamnya.

DEG!

Jantung pria itu berdetak, ekspresi wajahnya berubah kaget tak karuan, tidak ada bedanya dengan ekspresi gadis yang sedang berdiri dihadapnnya saat ini. Ia tidak salah lihatkan? Ia benar-benar tidak sedang bermimpikan? Yang didepannya saat ini Park Seo Na, bukan Park Seo Na si Pembunuh bayaran, tapi Park Seo Na gadis yang ia cintai, tidak ini benar-benar nyata. Park Seo Na-nya kini tepat berdiri dihadapnnya.

“Cho Kyu Hyun”. Terdengar gadis itu menyebutkan namanya, suara itu masih sama. Suara itu persis seperti dulu, saat Seo Na menyebut namanya dengan lengkap.

“Seo Na-ya”. Ucap pria itu memastikan, Seo Na tetap mematung ditempatnya, sedangkan Kyu Hyun refleks berdiri ketika ia melihat wajah itu dihadapannya. “kau?”.

Seo Na tidak tau, maksud pertanyaan Kyu Hyun padanya. ‘kau?’. Ya, ini Seo Na yang sekarang, pembunuh bayaran yang sudah sering membunuh orang dengan tangannya. Dan ini Cho Kyu Hyun yang Seo Na rindukan, seorang pria dengan kaca mata dan itu cukup membuktikan jika ia benar-benar seorang dokter. Tidak salah lagi, yang salah hanya keadaan yang mempertemukan mereka kembali dalam keadaan yang seperti ini.

Seo Na kembali fokus, ia segera duduk tepat dihadapan Kyu Hyun dan pria itu juga segera duduk, yang kini sama-sama mereka rasakan adalah kecangguangan yang tercipta.

“Seo Na-ya, maaf”. Seo Na menatap pria itu nanar, kata-kata yang baru keluar dari mulut pria itu sukses membuat kepingan hatinya yang selama ini belum pulih malah semakin hancur.

“Seo Na-ya, aku bisa memberikan penjelasan padamu”.

“aku kemari bukan untuk itu Kyu Hyun-ssi, maaf jika kau masih membicarakan hal itu aku akan pergi, banyak urusan yan harus kuselesaikan”. Terdengar nada ketus dan penuh kebencian dari ucapan gadis itu. Kyu Hyun tidak mendapati lagi Seo Na yang begitu lembut dan peduli pada orang lain, yang ia temukan saat ini adalah Park Seo Na yang hidup dalam kebencian.

“Seo Na, bagaimana kau bisa seperti ini? apa yang terjadi?”. Seo Na menarik napasnya berat, ‘pertanyaan bodoh’. Gumam gadis itu.

“huh, aku masih tidak mengerti dengan jalan pikiran pria sepertimu Dokter Cho. Aku pikir kau orang yang jenius tapi ternyata tidak. Kau tidak ada ubahnya dengan pria lainnya. Dan sekarang kau malah bertanya, kenapa aku bisa seperti ini? apa aku harus membunuh pria yang membuatku seperti ini? lagi pula dengan mudahnya aku bisa menembakkan satu peluru kekepalanya saat ini, karena dia tepat dihadapan ku”. Seo Na tertawa renyah, bukan karena ia sedang bahagia, tapi luka itu seperti mengiris-iris hatinya, pria yang ia rindukan sekaligus pria yang membuatnya berubah jadi makhluk mengerikan seperti ini sekarang sedang duduk dihadapannya.

“Park Seo Na, aku benar-benar tidak tau ketika itu-“.

“kau tau Cho Kyu Hyun, kau tau! Tapi kau malah pergi dariku. Sungguh, membayangkannya saja aku ingin mati seketika. Aku heran, kenapa ayahmu tidak menyuruhku membunuh mu saja, kenapa harus pria mapan dan baik seperti Aiden Lee. Seharusnya ketika itu aku lebih dulu mengenal Aiden Lee dibanding pria busuk sepertimu”. Kata-kata bejat itu begitu lancar keluar dari bibir merah Seo Na, Kyu Hyun tak membalasnya, ia hanya diam, ia tau siapa Seo Na gadis itu hanya diluarnya yang berubah, ia tau Seo Na masih sama seperti yang dulu didalamnya, dan pria itu bisa menangkap, butiran-butiran air mata berkali-kali menumpuk dimata gadis itu.

“kita harus bicara ditempat lain”. Kyu Hyun menarik pergelangan tangan gadis itu, meskipun Seo Na memukul dan mengancam tanda tak setuju tetap saja Kyu Hyun Seorang pria ia lebih kuat dibanding Seo Na.

~~~000~~~

“Sajangnim, apa kau yakin akan membunuhnya dengan tanganmu sendiri?”. ucap pria berdasi yang kini duduk dihadapan Dong Hae, Dong Hae melirik pria itu singkat lalu kembali sibuk dengan tumpukan kertas yang harus ia tanda tangani.

“tentu saja, apa kau meragukanku?”. Tanyanya datar. Pria itu menggeleng.

“tidak, aku yakin anda bisa Sajangnim, tapi waktu itu aku melihat kalian benar-benar-“.

Dong Hae tertawa menyeringai, ya dia teringat lagi tentang kejadian 2 hari yang lalu. memamerkan gadis itu didepan semua karyawannya, mengajak gadis itu mengatur bunga untuk beranda kerjanya, dan satu lagi yang membuatnya 2 hari ini sering tersenyum sendiri, keberanian gadis itu mengecup bibirnya, benar-benar menyenangkan, fikirnya.

“jangan takut, aku bisa mengendalikan perasaanku, jika ia tidak terbunuh maka aku yang akan terbunuh. Tapi kemungkinan besar, dia yang akan terbunuh ditanganku nantinya”. Entahlah, Dong Hae yang mengucapkan kata itu saja masih tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa membunuh gadis itu. setidaknya gadis itu sudah berani menciumnya, bukankah hal hebat?

“baiklah kalau begitu aku akan kembali bekerja sajangnim”. Dong Hae hanya mengangguk, membiarkan asistennya itu keluar setelah memberi bungkukan hormat padanya.

Pria itu melirik layar ponselnya, sudah 2 hari ini ia mematikan ponsel pribadinya itu, dan sudah 2 hari pula ia tidak berhubungan atau sekedar berbicara ditelepon dengan Seo Na, sebenarnya pria itu sengaja ingin membiarkan Seo Na merasakan rindu terhadapnya, agar gadis itu masuk dalam perangkap yang telah ia rencanakan selama ini, tapi sepertinya bukan Seo Na yang terjebak dalam rindu yang Dong Hae maksud tapi melainkan dirinya, entah kenapa sejak 2 hari setelah pertemuan terkhirnya dengan gadis itu ia meraskan ada rasa kerinduan pada gadis itu, sekedar ingin mendengar suaranya atau melihat senyum manisnya, apa lagi setelah ciuman singkat yang terjadi diantara mereka. ‘lagi-lagi tentang ciuman itu yang terfikir, lama-lama aku bisa gila’. Umpat pria itu dalam hatinya, umpatan bahagia lebih tepatnya.

Dong Hae menekan tombol ’on’ pada ponselnya, 1… 2… 3… tiga pesan sekaligus tertera dilayar ponsel pria itu dan pengirimnya tetap orang yang sama ‘Park Seo Na’.

Message 1 : “hai, kenapa ponselmu tidak aktif?”.

Message  2 : “Aiden-ssi, kau benar-benar tidak akan menghubungiku lagi?”.

Message  3 : “baiklah, aku merindukanmu”.

Bibir pria itu tertarik kebelakang setelah ia membaca pesan ke-3 dari gadis itu, dan pesan itu sukses membuatnya salah tingkah dan tersenyum kearah layar ponselnya. ‘kau curang Seo Na-ssi, kau merayuku terlebih dahulu’. Gumam pria itu gemas. Ya, Seo Na berhasil membuat pria itu melayang-layang, bahkan Dong Hae tau Seo Na adalah wanita yang akan dibunuhnya, tapi rasanya….

‘ah, aku tidak yakin aku bisa membunuhmu Seo Na-ssi. Kau terlalu berharga…’

~~~000~~~

Keduanya sama-sama terdiam dipelataran apartemen lantai 19 itu, apartemen yang 3 tahun belakangan ini menjadi tempat tinggal Dokter tampan itu. bukan tidak ingin tinggal dirumahnya yang tidak kalah megah, tapi karena pertentangannya sejak lama dengan Ayahnya itu ia tidak ingin tinggal tetap disana, jikapun ia berkunjung mungkin hanya untuk melihat Ibu nya dan juga kakak perempuannya, itupun jika Ayahnya sedang tidak berada dirumah.

“aku bisa menjelaskannya pada mu Park Seo Na, dan aku minta kau untuk mendengarkan penjelasanku”. Terdengar nada menekan dari ucapan pria itu. Seo Na hanya meliriknya sebentar lalu pandangannya kini berubah lurus kedepan.

“tidak. Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu, semuanya sudah jelas Kyu Hyun-ssi”. Seo Na tetap pada pendiriannya, meskipun ia sadar Kyu Hyun tidak sedang main-main tapi tetap saja ia tetap akan membenci pria itu, membenci? Entahlah.

“baiklah, aku tau kau memang keras kepala Seo Na. Jika kau tidak ingin mendengar penjelasanku soal masalah kita, aku akan bertanya padamu tentang pembunuhan yang sudah kau rencanakan dengan Ayah-ku”. Seo Na tak melirik pria itu sedikitpun, Kyu Hyun menarik napasnya, menghembuskannya kasar. “aku harap kau tidak membunuh pria itu”.

“kenapa? Kenapa aku harus mendengarkanmu Kyu Hyun-ssi? Semua ini tidak ada hubungannya denganmu”. Seo Na menatap tajam pria itu, Kyu Hyun juga balas menatapanya, mengunci tatapan mata gadis yang benar-benar ia rindukan itu, sayang kini gadis itu sudah tumbuh sebagai seorang pembunuh yang berhati dingin.
Seo Na menunduk, mata itu, ia tidak tahan untuk menatapnya. Jika boleh, ia ingin berlari kedekapan pria itu dan

berkata,

‘Aku

merindukanmu Kyu Hyun-ssi, aku lelah hidup seperti ini. mari kita pergi jauh dan tinggal hidup damai dari keramainan’. Kyu Hyun bukan tidak mengerti kenapa gadis itu menunduk, ia tau Seo Na lelah berperan sebagai orang jahat selama ini, 2 tahun bersama bukan waktu yang singkat untuk bisa saling mengenal satu sama lain dan kini Kyu Hyun bisa membaca gerak gerik dari gadis itu.

“aku merindukanmu Park Seo Na, aku benar-benar merindukanmu”. Ucap Kyu Hyun lemah, mendengar ucapan pria itu Seo Na menatapnya nanar, terlihat jelas dipipi gadis itu satu persatu air matanya jatuh begitu saja, ia benar-benar tidak tahan ia lelah menjadi dirinya saat ini, lelah berpura-pura jika ia tidak rapuh, lelah jika hari-harinya dipenuhi rasa bersalah, ia benar-benar manusia yang tidak ada derajat lagi dimata Tuhan.

Kyu Hyun mendekap tubuh gadis itu, Seo Na terisak tubuhnya seketika bergetar, isak tangis gadis itu terdengar tersiksa. Kyu Hyun mempererat pelukannya, membiarkan gadis itu menangis didalam dekapannya, sudah lama sekali sejak mereka berpisah dan semuanya masih sama, pelukan hangat gadis itu, suara tangisnya yang begitu membuat Kyu Hyun putus asa, ia ingat terakhir kali melihat Seo Na dengan air mata yang tidak pernah kering dari matanya, hanya saja keadaan saat itu tidak bisa mempersatukan mereka itu sebabnya Kyu Hyun tak pernah suka dengan Ayahnya, karena pria Tua itulah yang memaksa Kyu Hyun untuk segera ke Jepang dan melanjutkanpendidikannya.

“maaf atas semua yang sudah kulakukan, waktu itu aku harus ke Jepang, Ayahku yang memaksaku untuk itu, hari itu aku melihatmu untuk yang terakhir kali, aku tau seharusnya aku berada didekatmu saat itu, tapi asal kau tau aku juga tersiksa menjalani hariku selama ini, tanpa kau Park Seo Na, aku benar-benar gila”. Kyu Hyun merenggangkan pelukan mereka, menatap mata Seo Na yang mulai sembab, isak tangisnya masih terdengar, wajah cantik itu kini berubah menyedihkan.

“semuanya sudah terlambat Kyu Hyun-ssi, aku bukan Park Seo Na yang pernah kau kenal dulu, Maafkan aku”. Kyu Hyun mengadahkan kepalanya, air mata pria itu seketika ingin keluar mendengar ucapan Seo Na, tidak ada lagi gadis selai kacang nya yang manis dan penurut, yang ada hanya gadis yang siap kapan saja membunuh orang lain.

“kau bisa kembali Seo Na-ya, ku mohon, hentikan semua kegilaan ini, aku akan menjagamu sampai aku mati, aku akan menebus semua kesalahanku, ku mohon hentikan semua ini”. Seo Na menggeleng, bagaimana ia bisa menghentikan semua yang sudah ia lakukan selama ini, ia sudah terlanjur jauh melangkah meninggalkan masa lalunya, jika ia berhenti maka hidupnya juga akan berakhir.

“Ayahmu tidak main-main Kyu Hyun-ssi, aku sudah dibayar mahal untuk melakukan hal itu, jika kau ingin menghentikanku kau bisa membunuhku dan selamatkan nyawa Aiden Lee, pria itu dia baik padaku”. Kyu Hyun mengerjapkan matanya, hatinya rasa direjam pedang, kalimat Seo Na membuat hatinya sesak, ini benar-benar menyakitkan menerima kenyataan tentang gadis kesayangannya.

“kau mencintainya?”.

DEG!

‘aku tidak tau Kyu Hyun-ssi, tapi aku begitu merindukannya saat ini’. itu yang ingin diucapkan Seo Na, tapi tidak. Ia tidak ingin pria dihadapannya ini semakin hancur, meskipun Kyu Hyun pernah meninggalkannya, tapi Seo Na masih sangat mencintai pria itu, tapi kini setelah adanya Aiden Lee dihidupnya bagaimana?

“aku tidak mencintainya, aku membencinya, aku akan membunuhnya”. Tatapan gadis itu berubah gusar, tidak ada lagi cahaya disana. ‘membenci?’. Ia tidak tau pasti,apakah ia benar-benar membenci Aiden Lee.

“Seo Na-ya, ku mohon”. Kyu Hyun mengecup singkat dahi gadis itu sebelum ia menyatukan dahinya dengan dahi Seo Na, kini mata keduanya saling bebas berpandangan.

“maaf, aku tidak bisa menghentikannya”. Seo Na memberi jarak, melepaskan genggaman tangan Kyu Hyun di lengannya, meninggalkan pria itu yang kini tengah mematung ditempatnya.

Maafkan aku, Cho Kyu Hyun…”

~~~000~~~

Seo Na berjalanan ditengah keramaian kota Seoul, tujuannya kali ini adalah cafe shop tempat ia meninggalkan mobilnya tadi sebelum diseret Kyu Hyun menuju apartemen pria itu. tatapan gadis itu benar-benar kosong, pikirannya kini entah melayang kemana-mana, wajah yang kini ingin sekali ia lihat adalah wajah Aiden Lee. Waktunya tinggal 4 hari lagi bukan, setelah itu jika ia tidak bisa membunuh pria itu maka ia akan terbunuh.
‘apa aku saja yang menyerahkan nyawaku? Lalu bagaimana dengan Seo Jin dan Seo Min? Mereka masih membutuhkanku, aku menyayangi mereka’. Ucap gadis itu putus asa, baru saja ia menyebutkan kedua nama adiknya, kedua adiknya yang kini berada di Paris menunggu kedatangan Seo Na untuk segera menetap disana selamanya.

“aku pikir kau tidak terbiasa berjalan kaki Nona park”.

Terdengar suara seorang pria dari arah belakangnya, suara itu? bukankah suara milik Aiden Lee. Gadis itu membalik tubuhnya, ia benar, disana sudah berdiri pria tampan dengan senyum manisnya. ‘Aiden Lee’. Gumamnya dalam hati.

“kenapa hanya menatapku saja? Hei, matamu kenapa? Kau menangis?”. Seo Na menghabur kedalam dekapan tubuh pria itu, ia tidak tahan jika tidak menangis, pria itu sungguh ia benar-benar merindukan sosok pria itu.

“Seo Na-ssi, hmm… aku tau kau sedang merindukanku tapi, ini tempat umum kau bisa memelukku ditempat yang sunyi saja, bagaimana?”. Dong Hae menggoda gadis itu, Seo Na langsung melepas pelukannya, memukul lengan kekar pria itu dan itu sukses mengundang tawa geli Dong Hae melihat tingkah manja Seo Na yang tiba-tiba.

“ikut denganku, aku tidak suka ada air mata diwajah cantikmu”. Dong Hae mengenggam tangan Seo Na, mempersilahkan gadis itu untuk masuk kedalam mobilnya.

~~~000~~~

“Park Seo Na? Kau yakin dia kekasihnya Dong Hae? maksudku Aiden Lee?”. Ucap gadis itu sinis, Yu Ra menyusup teh hangatnya lalu kembali fokus pada sahabatnya itu.

“tentu saja, gadis itu cantik, bahkan gaya berpakaianya saja benar-benar kelas tinggi, aku rasa dia benar-benar kaya raya”. Yu Ra tersenyum renyah, bagaimana incarannya bisa terjebak dalam pesona wanita lain, bukankah Dong Hae tertarik padanya? Buktinya saja pria itu mengantarnya pulang ketika mereka bertemu beberapa minggu yang lalu. tapi entahlah, bukankah Dong Hae memang baik pada semua orang?

“aku tidak percaya”. Ucap Yu Ra sinis, wanita didepannya itu mengangkat bahunya.

“terserah jika kau percaya atau tidak, tapi aku yang benar-benar sudah melihat gadis itu saat itu ia berkunjung keperusahaan bersama Sajangnim, kau tau bagaimana mereka benar-benar romantis Yu Ra-ya, aku yakin mereka pasti memiliki hubungan yang serius”. Yu Ra memicingkan matanya kearah gadis yang bernama Min Soo itu. Eun Min Soo juga bekerja diperusahaan JL Company sebagai resepsionis, jadi tidak heran jika ia tau tentang Park Seo Na, bukankah ia yang melihat langsung saat Dong Hae menggandeng wanita itu dengan wajah yang berseri-seri.

“apa kau punya identitas tentang gadis itu lagi?”. Tanya gadis itu penasaran, Yu Ra semakin ingin tau tentang Seo Na, siapa gadis yang sudah berani memikat teman dimasa kecilnya itu, sekaligus pria yang menjadi incarannya.

“tidak ada, tapi para karyawan di kantor pasti banyak yang tau tentang informasi gadis itu”. Yu Ra tersenyum sinis, bagaimanapun ia harus mendapatkan Lee Dong Hae, pria itu harus berada dalam genggamannya.

~~~000~~~

Kyu Hyun menarik kenop pintu ruang kerja Ayahnya kasar, ia harus berbicara sesegera mungkin dengan pria itu, ia tidak tahan lagi jika Ayahnya masih memperbudak Seo Na untuk membunuh Aiden Lee, sudah cukup gadis-nya berbuat kejahatan, ia tidak bisa terima.
“Kyu Hyun-ah”. Terdengar nada kaget dari panggilan Tuan Cho, ia cukup terkejut dengan hempasan pintu yang baru saja dilakukan putranya itu.

“Aboji! Ku mohon hentikan semua ini!!! kau tau, gadis itu Park Seo Na, gadis yang ku cintai!!!”. Ucapan Kyu Hyun penuh amarah, ia tidak segan berteriak kearah pria yang dianggapnya Ayah itu.

“aku bisa menjelaskannya Kyu Hyun-ah, kau sudah keterlaluan terhadap Ayah!”. Ucap Tuan Cho tidak kalah membentak.

“apa yang baru saja ku dengar? Ayah bilang aku keterlaluan? Aku masih menganggapmu Ayah Tuah Cho, tapi anda sendiri yang membuat aku jadi seperti ini! lepaskan wanita itu! aku mencintainya!!!”.

“dia harus ku bunuh, sebelumnya ia harus membunuh Aiden Lee untukku. Gadis itu, adalah anak dari Park Jae Kang, kau tau dia siapa? Dia yang sudah menghancurkan perusahaan kita 5 tahun yang lalu, keluarga itu yang sudah membuat kita sengsara selama bertahun-tahun meskipun akhirnya aku berhasil merebut keberhasilan perusahaan ini lagi. Aku sudah tau dari awal jika Park Seo Na adalah putrinya, karena itu gadis itu harus mati. Aku yang menyebabkan kecelakaan kedua orang Tuanya, dan kau itulah tujuanku menyuruhmu untuk segera ke Jepang setelah kematian orang Tua gadis itu, aku membencinya, karena dia anak Park Jae Kang”.

Mendengar pengakuan dari Ayahnya, Kyu Hyun seperti tersengat listrik tepat dikepalanya, jadi ini semua sudah direncanakan jauh-jauh hari? Jadi semua penderitaan gadis itu berasal dari Ayahnya? Ia masih tidak mengerti, kenapa semua orang didunia ini berubah menjadi menyeramkan hanya karena Uang.

“aku tidak akan menganggap anda lagi sebagai ayah  ku Tuan Cho yang terhormat, aku akan melindungi gadis itu, jika tidak nyawanya akan kugantikan dengan nyawaku, permisi”. Rahang pria itu seketika mengeras, tangannya sudah menggepal, ia benar-benar tidak bisa menyangka dengan semua ini. berkali-kali Tuan Cho memanggil anaknya itu, tetap saja Kyu Hyun berlalu dan meninggalkan pria tua itu diruangan kerjanya. 

~~~000~~~

Angin laut semerbak bertiup kencang sore itu, diujung sana matahari sudah terbenam hampir sepenuhnya, kedua insan itumasih duduk sambil menatap kearah matahari yang terbenam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, sesekali keduanya saling berpandangan tapi tak lama kemudian asik kembali dengan pikiran masing-masing.

“jadi seperti ini jika wanita sedang merindukan seorang pria? Ia menunggu pria itu berbicara padanya, begitu?”. Seo Na tersenyum mendengar ucapan pria yang persis berada disampingnya itu.

“entahlah Aiden-ssi, sepertinya ini terakhir kalinya aku melihat senja yang indah”.

DEG!

Dong Hae menatap gadis itu, ucapan yang baru saja ia dengar dari Seo Na benar-benar terdengar aneh. ‘terkahir kali melihat senja yang indah?’. Maksudnya?

“aku tau, pasti kau sedang bertanya kenapa aku mengatakan hal itu? dulu, Ayah dan Ibuku juga mengatakan hal yang sama, dihari terakhir ku disekolah mereka mengatakan ‘Seo Na, ini seperti hari terkhir yang membahagiakan, setelah ini kau harus tumbuh menjadi gadis yang kuat’ mereka mengatakan itu padaku, aku tidak menyangka jika ucapan mereka benar, kecelakaan itu merenggut nyawa keduanya, aku dan kedua adikku selamat dari kecelakaan maut itu, entahlah kenapa harus mereka yang pergi, kenapa bukan aku”. Seo Na terdiam sejenak. Dong Hae menatap wajah Seo Na, ia melihat air mata sudah turun dipipi gadis itu.

“aku tau, kecelakaan itu disengaja, aku masih ingat ketika Ayah tidak bisa menginjak pedal rem nya, seseorang sudah mencelakai kami, aku tidak tau kenapa. Akhirnya, semua berakhir, Ayah dan Ibu mereka pergi dan juga semua harta kekayaan yang mereka tinggalkan beralih ketangan orang lain, entalah yang aku ingat mereka mengatakan perusahaan Ayah sudah tidak berfungsi lagi, andaikan waktu itu aku seperti sekarang aku akan menjalankan perusahaan itu dan berhasil seperti dirimu Aiden-ssi. Tapi tidak, yang ada aku hanya semakin terpuruk, satu-satunya kekasih yang ku miliki, juga harus pergi dariku, meninggalkanku disaat aku butuh sandaran, ia ke Jepang dan tak pernah mengunjungiku”. Dengan susah payah Seo Na menceritakan kepedihan hatinya pada Dong Hae, gadis itu benar-benar tidak tau lagi harus berbuat apa, yang ia rasakan saat ini adalah ia merasakan titik lelah hidupnya.
Dong Hae menarik tubuh gadis itu kedalam dekapannya, membiarkan Seo Na sejadi-jadinya menangis didalam dekapan pria itu, setidaknya hanya ini yang ia bisa lakukan sekarang untuk Seo Na.

‘aku tau, kau lelah bersandiwara Seo Na-ssi, aku tau kau gadis yang baik’.

To Be Continue

~~~000~~~

Posted from WordPress for Android

TEARS ARE FALLING (1/?)

Standard

image

TEARS ARE FALLING (1/?)

Action, romance.

PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast


Kebencian itu hanya kata lain dari rasa Rindu…

aku merasakan hari itu sepertinya semua benar-benar berakhir, suara tembakan itu tidak seperti suara tembakan yang pernah ku dengar sebelumnya. Aku mulai tau, bagaimana rasa sakitnya ketika aku menembakkan peluru itu ketubuh mereka, karena kali ini aku merasakannya, aku mendengar tiga tembakan, tapi hanya satu yang terasa menembus perutku, dan yang duanya lagi aku yakin itu mengarah kearah pria yang baru saja memelukku… bagaimana keadannya, kenapa ia melakukan ini padaku? Kenapa ia menggantikkan nyawanya dengan  nyawa wanita pembunuh sepertiku?

“Aku menangis karena mencintaimu,

Dan terus menangis karena rasa sakit didadaku….”

( Really – Song Joong Ki )

Park Seo Na memarkirkan mobilnya didepan Cafe Shop yang cukup ramai itu, ia membetulkan letak kaca mata hitamnya, melepaskan ikatan rambut ikal pirangnya itu hingga tergerai indah. Hari ini ia harus bertemu dengan client nya, ia berharap semoga misinya kali ini tidak begitu sulit, apa lagi pria yang meminta bantuannya kali ini adalah pengusaha kaya yang memiliki salah satu perusahaan yang cukup besar di Korea Selatan.

Gadis 23 tahun itu bekerja sebagai Pembunuh bayaran, tidak ada pilihan lain bagi gadis cantik bertubuh seksi itu selain bekerja seperti ini untuk menghidupi ke 2 adiknya yang kini hanya bergantung padanya, sejak satu tahun yang lalu kedua adiknya sudah dikirim gadis itu untuk melanjutkan pendidikannya di Paris, hanya untuk membiarkan keduanya mendapatkan pendidikan yang lebih baik sekaligus agar mereka tidak mencurigai pekerjaanya sebagai pembunuh bayaran. kedua orang tua mereka sudah meninggal sejak ia duduk dibangku sekolah, kecelakaan merenggut nyawa keduanya usai menghadiri Acara perpisahan di Sekolahnya saat itu.

Seo Na melangkah dengan mantap memasuki Cafe Shop itu, dari jendela luar sudah terlihat pria yang sesuai dengan ciri-ciri yang ia cari, pria dengan postur tubuh gemuk dengan beberapa anak buahnya yang memakai setelan jas hitam rapi berdiri dibelakang pria itu.

Seo Na mendekat kearah pria itu, duduk tanpa basa-basi lagi. “Apa kabar Tuan Cho? Maaf aku terlambat”. Pria itu hanya tersenyum simpul mendengar kalimat Seo Na yang lebih terdengar ketus dan dingin.
“Gweanacanyeo Park Seo Na-ssi”.

Ucap pria itu sebelum ia menyodorkan beberapa berkas kearah Seo Na, Seo Na langsung mengambil berkas-berkas yang dibungkus amplop bewarna coklat itu, membaliknya sebentar lalu meletakkan kembali kemeja. “semua yang aku perintahkan ada didalam amplop itu, aku mau kau bekerja bersih untukku Nona Park, dan satu lagi jika kau berhasil membunuh pria itu tawaran mengenai kepindahanmu ke Paris mungkin bisa kupertimbangkan”.

“pertimbangkan? Bukankah sudah jelas Tuan Cho aku menginginkan kepastian, jika kau masih mempertimbangkannya aku juga tidak akan sepenuhnya bekerja untukmu, lagi pula kau tau bagaimana aku bekerja selama ini bukan”. Ucap Seo Na dengan ekspresi yang angkuh dibalik kaca mata hitamnya.

Pria itu menaikan alisnya, menghembuskan nafasnya berat. “baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu itu, tapi aku harap kau bisa bekerja dengan baik, aku tidak mau kau seperti yang sudah-sudah berakhir karena cinta buta yang membuat setiap misi ku gagal, aku harap kau tidak seperti itu”.

Seo Na tertawa renyah, kata-kata cinta cukup menggelitiknya, sudah lama sekali gadis itu tidak mendengar kata-kata palsu itu karena selama ini yang ia tidak pernah bekerja karena berlandaskan cinta, yang ia tau bagaimana ia bisa membunuh orang lain dan mendapatkan kebahagiaan yang ia inginkan selama ini dan bukan cinta.

“kenapa kau tertawa Nona Park?”. Tanya pria itu heran, Seo Na hanya menggeleng mengibaskan tanganya.

“haha tidak, aku sungguh ingin muntah ketika orang lain mengatakan kata cinta. Tuan Cho, aku bukan seperti wanita kebanyakan, aku tidak pernah merasakan cinta seperti yang kau katakan, apa lagi pada orang yang akan ku habisi, tidak perlu waktu banyak bagiku hanya untuk membunuh satu nyawa”. Ucapan gadis itu penuh keangkuhan, apa lagi selama ini Seo Na sudah terbiasa hidup dalam kekerasan apa lagi sejak kedua orang tuanya meninggal dan semua kekayaan orang tuanya disita dan akhirnya Seo Na hidup dijalanan sampai ia memilih untuk bekerja seperti ini dan membunuh banyak orang selama ini, jadi untuk merasakan cinta mungkin tidak akan ada lagi baginya.

“Nona Park, kau belum tau siapa dia-”.

“Aiden Lee bukan?”. Sahutnya cepat.

“benar, tapi kau tidak tau bagaimana pesona pria itu, dia-“.

“sepesona apa pria itu, aku tetap akan membunuhnya untukmu, percayakan padaku Tuan Cho, aku sudah sering sekali menemukan pria dengan pesona selangit tapi tidak satupun dari mereka yang bisa mengagalkan misiku hanya karena wajahnya yang tampan, percayakan padaku”. Tuan Cho mengangguk, ia sangat berharap pada gadis ini untuk bisa membunuh pria  yang menjadi saingan bisnis nya itu.

“baiklah Tuan Cho, sepertinya aku harus bekerja lebih cepat, seperti yang kau katakan pesonanya harus kubunuh pelan-pelan”. Seo Na beranjak dari tempat duduknya, sambil membawa amplop yang berisi dokumen-dokumen tentang pria yang akan menjadi incarannya kali ini.

“membunuh? Huh, ini korban terakhirku, setelah itu aku harap aku bisa hidup tenang di Paris”. Gumamnya, lalu menginjak pedal gas Mobil mewahnya menuju suatu tempat.

~~~000~~~

Pria tampan dengan setelan jas hitam itu keluar dari gedung perusahaannya, menaiki kendaraan mewahnya mobil tipe Audi yang hanya dimiliki beberapa orang diatas dunia ini. Aiden Lee, pria yang baru saja kembali dari Amerika serikat setelah ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu dan kini ia yang memimpin perusahaan besar itu.

sebenarnya, ia hanya menjalankan tugasnya saja dan mempertahankan keberhasilan yang sudah diraih ayahnya selama ini, tapi karena pria itu cukup pintar dalam mengotak-atik perusahaannya kini perusahaan yang bergerak di bidang industri itu tengah menaiki level yang tinggi dan mengalahkan banyaknya persaingan dengan perusahaan lain, dan itu yang membuat orang berdecak kagum dengan kesuksesan yang tengah ia raih diusianya yang termasuk muda, 28 tahun.

Tidak ada yang kurang dari pria itu, ketampanannya memang luar biasa, ditambah lagi ia kini memimpin sebuah perusahaan besar dengan banyaknya keberhasilan yang ia capai, meskipun tanpa seorang ayah ia masih memiliki kakak laki-laki yang sudah menikah dan bekerja bersamanya diperusahaan itu dan juga seorang Ibu yang tinggal jauh disekitaran mokpo karena tidak terlalu suka dengan keramaian seoul yang membuatnya tidak nyaman karena itu Dong Hae tinggal sendiri disebuah apartemen mewah dikawasan Gangnam tempat para kaum elite korea selatan tinggal.

“Dong Hae-ssi”. Terdengar suara seorang wanita memanggil nama korea-nya. Ia membalikkan tubuhnya menatap seorang wanita yang kini berdiri tepat dibelakangnya. “kau masih mengingatku?”. Ucap gadis itu lagi, Dong Hae mengerutkan keningnya, berpikir sejenak.

“sungguh kau tidak mengingatku?”. Ucap gadis itu lagi, Dong Hae masih terus berpikir dan sampai akhirnya dia mengingat gadis yang tengah berdiri dengan muka yang sedikit kecewa.

“Ah, Jung Yu Ra? Kau Yu Ra bukan?”. Tebak Dong Hae benar, gadis itu girang karena pria tampan itu menyebutkan namanya dengan tepat ternyata teman masa kecilnya itu masih mengingatnya dengan baik. “apa kabar Yu Ra-ssi? Maaf tadi aku tidak begitu mengenalmu, karena sudah lama sekali sejak aku ke Amerika kita tidak pernah bertemu lagi”. Ucap pria itu berbasa-basi.

“Gweancanayeo Dong Hae-ssi, aku tau kau pasti mengingatku”. Gadis itu tetap memperlihatkan senyum termanisnya, dan itu membuat Dong Hae sedikit kaku, terlalu banyak gadis selama ini hadir dihidupnya ya meskipun tidak ada satupun diantara mereka yang bertahan lama dengan pria bermarga Lee itu karena kesibukannya diperusahaan.

“apa kau ingin kesuatu tempat?”. Tanya Dong Hae, gadis itu menggeleng.

“tidak, aku ingin pulang. Tapi sepertinya tidak ada taksi untukku”. Ucapan gadis itu dicerna Dong Hae cukup baik, tidak hanya sekali dua kali wanita memasang cara seperti itu supaya Dong Hae menawari mereka untuk segera diantar jadi ia sudah terbiasa dengan wanita yang seperti itu, meskipun dimasa lalu Yu Ra adalah teman kecilnya.

“oh kalau begitu aku akan mengantarmu, alamat rumah mu masih yang dulu bukan?”. Yu Ra mengangguk senang, kapan lagi ia bisa berduaan dengan pria setampan dan sekaya Dong Hae.

~~~000~~~

Mereka sampai didepan rumah megah bercat putih yang dipadukan dengan warna cream, ditambah lagi disekitaran pagar rumah mewah itu dihiasi dengan berbagai bunga yang menambah kesan elok saat dipandang mata.

“kau masih mengingatnya dengan jelas”. Ucap Yu Ra, Dong Hae yang mengangguk tersenyum simpul. “kau tidak masuk, Eomma pasti merindukanmu”. Tawar gadis itu, Dong Hae menggeleng.

“tidak, aku ada urusan sebentar yang harus kuselesaikan, sampaikan salamku pada Ajhuma maaf belum sempat berkunjung”.
Yu Ra mengibaskan tangannya.

“ah, tidak apa Dong Hae-ssi kapan-kapan kau bisa datang kemari, lagi pula sudah lama sejak kita tidak bermain bersama”. Dong Hae hanya tersenyum kaku mendengar ucapan dari teman masa kecilnya itu, Yu Ra memang berbeda dari terakhir dia bertemu, kini gadis itu begitu cantik bahkan jauh lebih cantik dari yang ia perkirakan selama ini. Akhirnya Dong Hae menginjak pedal gasnya setelah gadis itu menghilang dari balik pagar rumahnya.

~~~000~~~

Seo Na membuka amplop itu, mengeluarkan semua kertas dokumen yang kini sudah berserakan diranjang tidurnya, ia memilah-milah satu persatu dokumen yang baru diserahkan client barunya itu, membunuh  lagi? Sebenarnya Seo Na tidak ingin membunuh siapapun lagi, gadis itu bukan tidak pernah dihantui rasa bersalah, tapi demi menyambung hidupnya yang hancur bersama kedua adik perempuannya ia rela melakukan apa saja asal kedua adiknya tetap melanjutkan pendidikan yang baik tidak seperti dirinya yang bahkan tidak bisa melanjutkan pendidikannya sesuai dengan keinginannya selama ini.

Seo Na membaca beberapa dokumen yang kini tengah berada ditangannya, profil lengkap pria yang akan dibunuhnya, beserta foto yang tidak begitu jelas terpampang disana tertulis nama pria itu disana ‘Aiden Lee, pemilik perusahaan JL company’, Seo Na mengangguk-angguk melihat profil, prestasi dan latar belakang yang dimiliki pria itu, memang luar biasa dan tuan Cho benar, pria itu memang mempunyai pesona yang tinggi didunia kerjanya, nyata sekali dilihat dari semua prestasi dan penghargaan yang ia dapat, pantas saja Tuan  Cho tidak terima akan semua ini karena pria itu baru saja menggeser kedudukan perusahaan besar milik Tuan Cho jauh merosot di bawah perusahaan JL Company milik Aiden Lee.

Seperti yang sudah-sudah, cara membunuh yang selama ini Seo Na lakukan adalah mengenal pria itu dengan baik, mencari titik lemahnya, hingga orang yang menjadi target pembunuhannya terikat pada pesona dan kecantikan yang dimilikinya, setelah itu ia akan membunuh targetnya secara perlahan, dan baginya itu terlalu mudah, hanya membunuh orang seperti Aiden Lee, lagi pula pria itu masih muda akan mudah baginya memikat pria yang umurnya tidak terlalu jauh darinya.

“Aiden Lee… Your next”. Ucap Seo Na sambil tertawa lepas, melempar tumpukan kertas itu keatas membiarkan tubunya seharian ini beristirahat untuk misi yang cukup menantang adrenalinnya kali ini.

~~~000~~~

Tuan Cho mempercepat langkahnya menuju ruang kerjanya, seseorang baru saja menghubunginya dan sudah menunggu diruang kerjanya seharian ini, pria yang menunggunya itu bukan orang asing melainkan anak kandungnya yang beberapa Tahun ini tidak tinggal serumah dengannya kerena perbedaan pendapat diantara mereka yang masih belum terselesaikan hingga saat ini.

M
“apa kau sudah lama menungguku?”. Ucap pria paruh baya itu basa basi, pria yang mendengar ucapan ayahnya itu hanya tersenyum sinis.

“sampai kapan kau bersikap egois seperti ini ayah?”. Ucapan pria itu terdengar dingin dan ketus, tapi ini bukan yang pertama kalinya lagi bagi pemilik Cho Company itu mendengar putra satu-satunya itu berkata tidak sopan.

“apa maksudmu?”. Ucapnya masih tidak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan anaknya itu.

“aku masih menghormatimu selama ini  karena ku anggap Ayah adalah pekerja yang sangat gigih, tapi untuk kali ini aku menentang rencana busukmu!”.

Tuan Cho sedikit kaget dengan ucapan yang baru terlontar dari mulut anaknya itu, bagaimana anaknya bisa tau tentang rencana pembunuhan yang ia rencanakan, tapi tidak heran jika pria muda itu tau tentang gerak-geriknya selama ini, pria itu selalu tau bahkan ia tau jika perusahaan ayahnya tengah dilanda krisis. “sampai kapan kau membiarkanku seperti ini Ayah? Kau tidak pernah menganggapku ada! Dan satu lagi, hentikan gadis pesuruh mu itu untuk membunuh Aiden Lee! Karena pria kaya itu tidak salah sama sekali, yang salah hanya Ayah yang tidak pernah memberiku kesempatan untuk memimpin perusahaan ini!!!”. pria itu beranjak dari tempatnya sebelum membanting pintu ruang kerja Ayahnya itu.

“Kyu Hyun, maaf kan Ayahmu ini”. Ucap Tuan Cho lirih, ia tau seharusnya ia tidak mengirim Kyu Hyun ke Jepang untuk menjadi seorang Dokter yang sama sekali bukan keingingannya.

~~~000~~~

Seo Na menyanggul rambutnya yang panjang hampir hingga pinggang, membiarkan leher jenjangnya tereksplor oleh mata-mata yang akan melihatnya, ia menambahkan lipblam yang ia rasa kurang, menempelkan sedikit bedak pada pipi chubby nya. Ia melangkah masuk kedalam perusahaan besar itu, hari ini ia akan memulai pekerjaannya, rencana yang menggelikan akan ia lakukan siang ini, dengan sedikit benturan di lengan pria itu mungkin akan menjadi awal yang hebat untuk membunuh pria itu nanti.

Seo Na berjalan didalam perusahaan itu, bak seorang pengusaha wanita muda yang kaya ia mengetatkan blazer coklatnya yang dipadukan dengan celana jeans dan kemeja putih, ia tampak benar-benar cantik, tidak ada yang mencurigainya karena memang tidak ada yang mencurigakan dari gerak gerik gadis itu, sesekali ia menatap foto seorang pria yang berada dalam tasnya dan semoga hari ini ia mendapatkan mangsanya itu.

Gadis itu sejak tadi berputar-putar didalam gedung perusahaan, sudah semua lantai ia tapaki tapi tetap saja pria itu tidak ada, untuk bertanya keresepsionis pun ia merasa enggan takut jika kehadiran yang tidak diinginkan di perusahaan ini diketahui oleh orang lain. ‘sial’, gumamnya dalam hati, hampir seharian gadis itu mencari pria itu tapi tetap saja ia tidak menangkap sosoknya, padahal ia hapal betul incarannya kali ini meskipun wajah pria itu tidak terlalu jelas di foto yang ia dapat dari Tuan Cho.

Seo Na merasa gerah, ia tidak tahan untuk cepat-cepat beranjak dari dalam gedung megah itu, hari ini sepertinya ia tidak bisa menemui pemilik perusahaan itu, mungkin saja ia sedang keluar kota atau sedang menyelesaikan pekerjaannya disuatu tempat, hari sudah semakin sore, tidak mungkin lagi jika pria itu akan datang pada jam seperti ini, akhirnya Seo Na memutuskan untuk segera pergi dari sana.

“licik sekali, bahkan ini hari pertamaku pria itu sudah sangat sulit ditemukan”. Gumam Seo Na sambil mencari-cari kunci mobilnya yang berada didalam tas sambil berjalan, tidak sempat gadis itu meraih kunci mobilnya, dan kini tubuh gadis itu berbenturan hebat dengan tubuh seorang pria yang juga tidak menyadari kehadiran seseorang yang sedang berjalan didepannya.

“ahh~”. Rintih Seo Na tertahan ketika tubuh itu menabrak tubuh rampingnya, menyebabkan gadis itu terjautuh kelantai keramik gedung megah itu. “ash, Appo”. Ucapnya lagi.

“Aggasi, Gweancana?”. Terdengar suara merdu seorang pria sambil mengulurkan tangannya kearah Seo Na, terdengar nada bersalah dari pertanyaan pria itu, sedangkan gadis itu masih merintih kesakitan dan berusaha berdiri tanpa memperdulikan uluran tangan pria yang menabraknya barusan.

“aku tidak apa-apa, maaf-“. Ucapan gadis itu terhenti ketika ia sukses berdiri dan memandangi wajah pria yang berada persis dihadapannya itu. entah apa yang membuat gadis itu tiba-tiba bungkam, lidahnya terlalu kelu untuk melanjutkan ucapannya.

Sea…. aku melihat lautan dimata bening pria ini… dia tampan, sudah jelas…. aku hampir mabuk ketika tatapan khawatir itu menatapku lekat, kau…. kau Aiden Lee itu.

“Nona, maaf sudah membuatmu-“.

“ah, tidak apa. Aku baik-baik saja, eum..  Aiden-ssi?”. Ucap gadis itu gugup, tapi tunggu dulu. Bagaimana ia bisa gugup? Bukankah selama ini ia sudah banyak menemukan pria yang seperti ini, tapi tidak ada yang bisa membuatnya terhanyut dengan sekali tatap. Seo Na menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menyadarkan otaknya jika yang didepannya ini adalah mangsanya, tapi sungguh pria ini sangat tampan, bahkan jauh dari yang diperkirakan Seo Na.

“Maaf Nona, apa kau mengenalku?”. Pertanyaan pria itu membuyarkan pemikiran yang tengah melayang-layang diotak gadis itu.

“Ne? Ah, itu.. ya aku mengenalmu, bagaimana seorang pengusaha muda seperti anda tidak terkenal, bahkan kesuksesan anda sering sekali menjadi topik pembicaraan di surat kabar”. Ucap Seo Na, mencoba mencairkan keadaan dan mengalihkan kegugupannya yang tiba-tiba melanda gadis itu.

“Ah, Nona kau bisa saja, aku tidak sesukses yang mereka beritakan”. Terlihat senyum manis terlukis jelas dibibir seksi pria itu. ‘err’ bahkan itu membuat mata Seo Na tidak dapat mengedip sedikitpun, senyumannya bak candu yang dapat memabukkan siapapun.
‘gila! Jangan terjerat kedalam pesona pria ini Seo Na, dia adalah orang yang akan kau bunuh’. Pekik gadis itu dalam hati, tak tahan dengan dera perasaan yang sangat tidak karuan yang tengah ia rasakan.
“Nona, kenapa diam? Apa ada yang sakit?”. Ucap pria itu lagi, Seo Na menggeleng cepat.

“Eopso Aiden-ssi. Kalau begitu aku permisi aku ada urusan yang mendadak”. Cepat-cepat Seo Na mencari alasan agar pria itu tidak lanjut bertanya untuk apa dia datang keperusahaannya itu, karena itu hanya akan membuat pria itu curiga padanya. “aku permisi”. Ucap gadis itu sebelum beranjak dari hadapan Aiden, tapi belum sempat gadis itu melangkah jemari tegap pria itu sudah menggengam pergelangan tangannya, membuat langkah gadis itu tiba-tiba terhenti.

“Maaf, aku belum mengetahui namamu Nona”. Ucap Aiden tiba-tiba, Seo Na memutar bola matanya, apakah dengan cara ini dia mulai memikat pria itu, ‘kartu nama’ ya terlintas benda itu dipikiran Seo Na saat ini.

“Ah, Ne Aiden-ssi, aku hampir lupa mengenalkan diriku. Aku Park Seo Na, panggil saja aku Seo Na. Tunggu sebentar, mungkin kau membutuhkan ini”. ucap gadis itu sambil mengambil kartu nama dari dalam tasnya dan memberikan kartu nama itu pada Aiden, pria itu segera mengambil kartu nama itu lalu kembali tersenyum.
‘sial! Pria ini tidak seharusnya tersenyum seperti itu’. pekik gadis itu dalam hatinya.

“hm, baiklah Seo Na-ssi, aku senang berkenalan denganmu”. Lagi-lagi pria itu tersenyum, dan hampir membuat Seo Na mabuk melihatnya, Seo Na segera beranjak dari tempat itu sebelum ia benar-benar jatuh dalam pesona luar biasa Aiden Lee.

“gadis itu buat apa kemari?”. Gumam pria itu setelah ia melihat gadis bertubuh ramping itu menghilang dari pandangannya.

~~~000~~~

Berkali-kali pria itu mondar-mandir diruang kerjanya, ia sengaja tidak menerima pasien hari ini karena masalah yang tengah ia pikirkan juga suasana hatinya yang memang tidak bersahabat dengan orang lain saat itu, berkali-kali pula pria itu menghebuskan napasnya berat, sejak 2 hari kemarin setelah pertemuannya dengan Ayah kandungnya itu ia masih terus memikirkan rencana jahat Ayahnya yang sampai sekarang masih tidak ia terima.

‘ayah macam apa kau tuan Cho! Seharusnya kau membiarkanku memimpin perusahaan dan meninggalkan rumah sakit ini!’. Pekiknya dalam hati. Tidak lama pria itu sibuk dengan pikirannya yang kalut, suara ponselnya membuyarkan pikirannya. Ia beranjak dari tempatnya berdiri saat ini kearah meja kerjanya tempat sumber bunyi ponselnya.

“Yeoboseyeo”.

“…….”

“kau yakin itu namanya?”.

“……”

“baiklah”.

Kyu Hyun menarik nafasnya berat, ada kelegaan di hatinya saat ini setelah menerima berita dari orang yang ia suruh mencari tau tentang gadis pesuruh ayahnya untuk membunuh saingan bisnisnya Aiden Lee, pria yang bernama Korea Lee Dong Hae itu. Kyu Hyun tidak asing dengan nama pesuruh Ayah-nya itu, nama yang pernah singgah dihidupnya dimasa lalu, tapi ia yakin mereka hanya mempunyai nama yang sama, tidak mungkin gadis yang dikenalnya itu melakukan hal semacam itu.

“Park Seo Na, bagaimana kabarmu sekarang?”. Gumamnya pelan, entah kenapa wajah gadis itu teringat lagi setelah sekian lama ia memilih untuk meninggalkan gadis itu dalam keterpurukan.

~~~000~~~

“bagaimana?”. Pertanyaan pria paruh baya itu terkesan tergesa-gesa padahal gadis itu baru duduk dihadapannya.

“tenanglah Tuan Cho, aku sudah menemuinya, aku rasa dia mudah masuk dalam jeratku”. Ucap Seo Na enteng, masih dengan nada dingin dan datarnya.

“semudah itu kah Nona Park?”. Tanya pria itu ragu, Seo Na malah tertawa renyah.

“tentu saja, apa kau meragukan kerjaku Tuan Cho?”. Tanya gadis itu dengan senyum yang sedikit meremehkan. Mendengar pertanyaan gadis itu Tuan Cho menggeleng cepat.

“tidak, aku yakin kau bisa Nona Park. Dan satu lagi, ada pihak yang kini tengah menyelidiki tentangmu, aku harap kau hati-hati tapi kau tidak perlu khawatir, sepenuhnya orang itu tanggung jawabku”. Seo Na berdelik, siapa yang dimaksud pria itu, seharusnya tidak ada campur tangan orang lain tentang bisnis kejinya ini.

“aku berharap kau bisa menjaga privasiku Tuan Cho, kau tau bukan aku sudah banyak membunuh orang selama ini, aku tidak ingin hanya karena masalah ini aku harus dijerat hukuman, aku tidak ingin”. Ucapan Seo Na terdengar sinis, ia tidak ingin masuk kedalam buih hanya karena masalah seperti ini.

“jangan takut Nona Park, kau juga dalam perlindungan dan pengawasan para pesuruh”. Terdengar ada yang ganjil dari kalimat yang baru saja dilontarkan pengusaha kaya itu.

“maksudmu?”.

“ya, aku akan melindungi privasimu selama kau bekerja untukku, tapi jika kau gagal aku bisa membunuhmu”. Seo Na tersenyum miring, ucapan pria itu membuat bulu kuduknya berdiri.

“anda mengancam rupanya Tuan Cho”. Ucap Seo Na sinis, pria itu malah terkekeh tak jelas.

“tidak perlu takut seperti ini Park Seo Na-ssi, bukankah kau akan berhasil, jadi kau bisa bebas dariku dan segera terbang ke Paris secepatnya”. Seo Na mengangguk, meskipun ucapan pria paruh baya itu terdengar sedikit menakutkan ia berusaha tenang dan baik-baik saja, bukankah Park Seo Na sudah berubah jadi wanita yang mengerikan, pembunuh bayaran yang bisa membunuh siapa saja, termasuk Aiden Lee?

“ahh, soal pertemuanmu dengan Aiden Lee, bagaimana pendapatmu tentang dia? Aku tidak salah bukan? Pesonanya bisa membuat wanita bertekuk lutut, aku harap kau tidak termasuk kedalam pesona pria muda brengsek itu”. ucapan pria itu sukses membuat jantung Seo Na berdegup lebih kencang, tanpa ia sadar ia mengingat  senyum manis pria itu yang entah mengapa ingin sekali dilihatnya lagi dan lagi.
‘ah, ini sinting! Aku tidak perlu gugup begini mengingat pria itu’.

“Nona Park?”.

“Ne?”.

“oh, ternyata kau membayangkan pria itu rupanya. Semoga kau membayangkan bagaimana cara membunuh pria itu, bukan bagaimana cara mendapatkan pria itu lalu kau tergila-gila padanya”. Seo Na hanya terdiam, tidak terlalu mempedulikan tuduhan kacangan dari pria tua itu, ia hanya mengibaskan tangannya tanda tak setuju dengan ucapan Tuan Cho.

“aku rasa aku harus cepat-cepat membunuhnya Tuan Cho, sebelum kau menuduhku yang tidak-tidak”. Seo Na beranjak dari Cafe Shop tempat biasa ia bertemu dengan pengusaha kaya yang hampir bangkrut itu, jika ia berlama-lama terus berbicara dengan pria tua itu bisa-bisa ia gila.

“bukankah aku akan membunuh pria itu, kenapa malah bertele-tele!”. Geram gadis itu, sebelum ia mengemudikan sedan BMW hitamnya dijalan kota Seoul.

~~~000~~~

Dong Hae  menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, hari ini ia benar-benar lelah ditambah lagi beberap masalah yang sering timbul di perusahaannya belakangan ini yang disebabkan beberapa perusahaan yang menentang tentang kinerja perusahaanya, ya meskipun begitu keuangan dan kesuksesaanya masih tetap yang teratas dibanding perusahaan industri lain di Korea selatan. Ia mengingat pembicaraan ibunya beberapa hari yang lalu, pria itu tersenyum sendiri mendengar ucapan ibunya itu, apakah ia harus mulai berpikir untuk mencari pendamping hidup.

“Dong Hae-ya, jika kau lelah seharian kau pasti butuh seorang wanita untuk memijatmu maka carilah seorang istri, bagaimana?”. Dong Hae hanya karena obsesi mu untuk mendapatkan uang, Ayahmu hanya menuyuruhmu melanjutkan perusahaan, tidak meninggalkan urusan pribadi apa lagi menyangkut tentang wanita”.

“Ibu, akan ku pikirkan nanti setelah aku menemukan gadis yang cocok untukku”.

Lamunan pria itu seketika buyar ketika tatapannya terhenti pada kartu nama bewarna putih yang kini berjejer manis diantara kartu nama lainnya dimeja kerjanya, bukankah ia bertemu dengan seorang wanita kemarin, ia juga tidak sempat menanyakan kenapa wanita itu datang keperusahaanya, mungkin saja ada suatu keperluan yang tidak sempat ia katakan.

‘apa perlu aku yang menghubungi gadis itu?’. pikir Dong Hae, akhirnya ia memencet beberapa nomor dilayar ponsel canggihnya, tidak perlu waktu lama akhirnya suara Dip berbunyi dari ujung sana.

“Park Seo Na-ssi, ini aku Aiden Lee. Apa kita bisa bertemu sejenak?”.

~~~000~~~

Angin musim gugur kali berhembus cukup dingin, membuat gadis yang sedang duduk ditepi danau itu merasakan angin menyeruak diselip pakaian yang tengah ia kenakan. Sudah lama sejak beberapa tahun yang lalu ia tidak pernah datang ketempat ini lagi, dulu saat ia masih memiliki pria itu ia masih sempat menghabiskan hari-harinya disini, sampai pada akhirnya kematian menjemput kedua orang tuanya dan sekaligus menjadi awal perpisahannya bersama pria itu. pria itu memilih pergi, tidak jauh hanya negara jepang yang menjadi tujuannya, tapi yang tidak diterimanya sampai sekarang adalah kenapa pria itu meninggalkannya disaat ia benar-benar butuh seseorang tempat bersandar.
Benci, dendam, rindu semuanya menjadi satu saat ia mengingat pria itu, tidak banyak yang ia lakukan selain menitikkan air mata, dan baginya pekerjaan inilah yang mampu menghidupkannya kembali dan merubahnya menjadi wanita yang angkuh, dingin, dan tidak berperasaan. Ia tidak sepenuhnya salah, karena keadaan yang benar-benar memaksanya menjadi gadis yang bisa melenyapkan nyawa orang lain hanya dengan satu gerakan.
‘Cho Kyu Hyun, aku merindukanmu’. Ucap gadis itu getir, terdengar rasa putus asa tiap kali ia menyebutkan nama pria itu.

Suara ponsel gadis itu sukses membuat lamunannya buyar, ia menatap layar ponselnya melihat beberapa digit nomor disana tanpa keterangan nama, kening gadis itu mengerut, siapa yang menelfonnya dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin Tuan Cho pikirnya.

“Yeobosaeyeo”. Jawab Seo Na acuh tak acuh, tak lama terdengar suara seorang pria dari ujung sana, memanggil nama gadis itu lalu menyebutkan namanya.

‘Aiden Lee?’. Secepat mungkin Seo Na menginjak pedal gas mobil mewahnya, memutar Stir berlawan arah, entah kenapa gadis itu tidak sabar ingin segera sampai ketempat yang baru saja disebutkan pria yang barusan menelponya itu.

~~~000~~~

Dong Hae menyusup teh hangatnya, ia memesan minuman terlebih dahulu sambil menunggu gadis itu sampai ditempatnya, tidak butuh waktu lama, hanya setengah jam ia menunggu disana dan sosok wanita bertubuh ramping dan errr… sedikit seksi itu datang dan mendekat kemejanya dengan senyum yang sedikit menggoda, ya memang sangat menggoda.

“maaf, menunggu lama Aiden-ssi, aku tidak tau jika banyaknya lampu merah yang harus ku singgahi”. Ucap gadis itu basa basi, namun itu cukup mengundang cengiran renyah Dong Hae.

“aku harap rambu lalu lintas itu tidak membuatmu hilang kesabaran Nona Park”. Balasnya tidak kalah garing.

“hm, aku rasa kau ingin membicarakan hal penting denganku? Benarkah?”. Dong Hae menggeleng kecil.

“Lalu?”.

“hanya soal kedatanganmu keperusahaanku kemarin lusa, aku pikir kau ada urusan denganku atau…?”. ucap pria itu menggantungka kalimatnya, Seo Na tersenyum, ucapan pria itu terdengar begitu nyaman ditelinganya. Penasaran, ya Seo Na semakin tertarik untuk mengetahui pria ini.

“tentu saja, aku mencarimu”. Jawab Seo Na enteng, tanpa beban sedikitpun.

“untuk?”.

“untuk mengatakan aku mengagumimu Aiden-ssi”. Dong Hae malah tertawa tak jelas mendengar ocehan gadis cantik itu, ia masih tidak mengerti dengan ucapan Seo Na, ‘ia bercanda atau selera humornya memang tinggi’ pikir Dong Hae.

“hahaha Seo Na-ssi, selera humormu cukup bagus, sudah lama aku tidak tertawa karena seorang gadis”. Seo Na menyipitkan matanya, sama sekali rayuannya tak termakan sama sekali oleh pria itu, ‘sial’ kutuknya dalam hati.

“aku serius”. Wajah Seo Na berubah serius, tidak terlihat dimatanya jika ia sedang bercanda, memang ini adalah triknya untuk menjebak Dong Hae masuk kedalam perangkapnya tapi, secara tidak langsung gadis itu merasakan sesuatu yang berkecamuk didadanya ketika mengatakan kalimat meracaunya itu, lagi-lagi Seo Na dibuat nyeri oleh senyum pria tampan didepannya ini.

“baiklah, aku mengerti Seo Na-ssi. Hm, lalu hanya itu?”. tanya Dong Hae lagi, raut wajahnya tak kalah serius.

“aku ingin kau mencintaiku”. Racau gadis itu. ‘gila!’. Kutuknya pada diri sendiri, bagaimana ia bisa mengucapkan kata itu pada Dong Hae, memang seperti itu yang sudah-sudah ia selalu meminta mangsanya untuk mencintainya, dan hanya dengan satu kali rayuan mangsanya itu masuk dalam perangkapnya, tapi tunggu dulu gadis itu tiba-tiba rencanannya kali ini begitu cepat, ia takut Dong Hae malah tidak simpati terhadapnya.

“ah maksudku-“.

“kau benar-benar menantang Seo Na-ssi”. Ucap pria itu memotong ucapan yang baru saja ingin dikeluarkan Seo Na. Pria itu menatap mata Seo Na seduktif, mengunci tatapan itu, gila bahkan bukan hanya Seo Na saja yang merasakan jantungnya berdetak kencang, begitu juga dengan pria tampan itu ia merasakan ada yang lain ketika menatap wajah cantik Seo Na, semuanya serba menggemaskan baginya.

Seo Na gugup, ia tau tatapan itu mengarah padanya sekarang. ‘sial, kenapa ia menatapku begitu!’. Pekik gadis itu. tidak, ia tidak boleh kalah dengan pesona luar biasa yang diberikan oleh pria itu, jikapun nantinya pria itu termakan rayuannya ia harus sesegera mungkin membunuh Dong Hae, Aiden Lee. Tapi, bisakah? Bisakah ia menembakkan satu peluru dikepala pria itu, ahh~ rasanya sulit. Seharusnya ia percaya dari awal ucapan Tuan Cho, jika pesona pria dihadapannya ini benar-benar membuat gila.

“Park Seo Na? Seo Na-ssi?”. Berkali-kali Dong Hae memanggil gadis itu tetap saja ia sibuk dengan pikirannya yang sudah melayang kemana-mana, tidak ada pilihan bagi pria itu selain mengenggam tangan Seo Na yang kini berada diatas meja. “Park Seo Na-ssi, kau sakit?”.

“Ne?”. Gadis itu baru sadar, jika kini tangannya tengah dijamah pria tampan dihadapannya itu, Seo Na hanya menatap genggaman hangat itu, tidak menolak maupun memberontak.

“apa kau sakit?”. Tanya Dong Hae lagi, Seo Na menggeleng.

“hahaha, tidak aku hanya sedikit lelah”. Ucapnya sambil menarik tangannya dari genggaman pria itu menaruhnya diatas pahanya dibawah meja.

“ah Maaf, aku rasa kau harus istirahat, mukamu juga terlihat sedikit pucat”. Pria itu mengkhawatirkannya lagi, sudah lama sejak seorang pria mengkhawatirkan dirinya seperti itu, rasanya benar-benar nyaman. Tapi tunggu dulu, Seo Na baru ingat sejak tadi malam ia tidak makan sepiring nasipun, hanya bebera potongan roti dan segelas susu yang ia makan tadi pagi sebelum ia berangkat menemui Tuan Cho.

“aku tidak apa, mungkin aku hanya sedikit pusing”. Ucap Seo Na memperbaiki mimik wajahnya yang sedikit menahan sakit diperutnya yang tiba-tiba saja datang disaat seperti ini.

“apa kau mau pulang sekarang, aku bisa mengantarmu. Mobilmu biar supirku saja yang mengantarkannya”. Seo Na berpikir sejanak, ia ragu tapi bukankah ini kesempatan yang bagus, bisa meluncurkan semua rencana gilanya, tapi tidak mungkin untuk membunuh pria itu dalam waktu yang singkat, tidak mungkin jika hatinya kini seperti mencandu wajah tampan pria itu.

“baiklah”. Ucap Seo Na, Dong Hae tersenyum lalu segera mengenggam tangan Seo Na beranjak dari tempat itu.

Suasana hening kini menyelimuti keduanya didalam mobil pribadi milik Aiden Lee, sesekali kedua mata mereka bertemu pandang, gugup entahlah itu yang dirasakan masing-masing, Seo Na yang biasanya begitu terlihat santai didepan pria tapi kali ini ia merasakan keanehan yang menjalar ditubuhnya.

“apa aku boleh bertanya Seo Na-ssi?”. Ucap Dong Hae memecah keheningan yang tercipta sebelumnya.

“hm, tentu saja”. Ucap gadis itu santai, Sebisa mungkin Seo Na berlagak seperti biasanya meredam gemuruh degup jantungnya yang terus memacu.

“bagaimana kau bisa mengatakan hal itu padaku? Bahkan kita baru saja kenal, apa mungkin-“.

“Iya, aku sudah lama mengincarmu, bahkan sebelum kejadian pertama kali kita bertemu, aku rasa Tuhan sangat baik padaku, ia mempertemukanku dengan cara seperti itu”. Ucap Seo Na lancar, meskipun sesekali ia berusaha menarik nafas sebanyak mungkin karena deru jantungnyan yang semakin memacu.

Dong Hae hanya tertawa geli, sungguh gadis yang bersamanya ini benar-benar berani. Ia belum pernah bertemu gadis yang blak-blakan seperti ini.

“aku tidak bercanda Tuan Lee”. Ucap gadis itu lagi. Dong Hae menatapnya, menginjak pedal remnya dan membawa mobilnya berhenti ditepian jalan.

“kau yakin? Banyak wanita mengeluh karena aku begitu sibuk dengan pekerjaanku, kau yakin dengan ucapanmu?”. Dong Hae balik bertanya, gadis itu malah tersenyum simpul mendengar ucapan pria itu.

“aku akan buat kau sibuk karena aku, dan aku bukan tipe wanita yang suka mengincar waktu kekasihnya aku lebih suka menghabiskan waktu yang sebentar namun meninggalkan kesan yang dalam”.

Aku akan menghabiskan waktu kebersamaan kita sebaik mungkin, lalu aku akan membunuhmu untuk meninggalakan kesan yang dalam diantara kita, seperti itu yang selama ini aku artikan, tapi tidak, aku tidak sanggup menghabisi nyawamu Aiden Lee.

“aku menyukai caramu berbicara Seo Na-ssi, kau pintar dan berani, aku lebih suka wanita yang terus terang sepertimu”. Ucap pria itu kembali menatap manik mata Seo Na yang indah, dengan begitu gadis itu bisa mengeksplor mata indah milik Dong Hae.

Sea… aku menemukan lautan dimatamu Aiden Lee…

“tapi tidak untuk sekarang, aku yakin kau bisa menungguku sedikit lagi Nona Park”. Ucap pria itu sebelum ia mengecup punggung tangan Seo Na, dan membuat gadis itu kaget setengah mati, bibirnya terasa jelas dipunggung tangan Seo Na, setelah ini mungkin Seo Na akan berpikir untuk mencari cara agar ia bisa menunda untuk membunuh pria tampan ini.

~~~000~~~

Dong Hae menghempaskan tubuhnya keranjang, membiarkan urat-urat sarafnya yang tadinya menengang untuk segera bristirahat, hari ini adalah hari yang cukup panjang baginya, kejadian yang tidak terduga begitu saja terjadi hari ini, dan yang tidak terlupakan mata gadis itu, ia benar-benar mempesona, apa gadis itu yang disebut-sebut asisten pribadinya itu selama ini?

“Park Seo Na-ssi? Apa kau gadis yang ditugaskan untuk membunuhku?”.

“Sajangnim, aku menemukan informasinya, Cho Company sudah merencanakan hal yang tidak kita duga, aku harap anda bisa menjaga diri anda sajangnim”. Ucap pria itu dengan sedikit terangah-engah.

“apa maksudmu?”. Ucap Dong Hae masih tidak mengerti.

“ia membayar seorang gadis untuk membunuhmu, karena kau sudah menggeser kedudukan perusahaan mereka dan aku dengar banyak yang menarik saham dari perusahaan itu”.

Dong Hae tersenyum tipis, ia baru sadar ternyata banyak orang-orang yang begitu iri atas keberhasilannya selama ini.

“terus selidiki gadis itu”.

Lamunan pria itu seketika buyar ketika satu pesan masuk ke Ponselnya, Dong Hae memencet beberapa tombol, membuka isi pesan itu, ia tersenyum membaca pesan itu, sudah larut malam seperti ini gadis itu masih sempat mengiriminya pesan.

From : Park Seo Na

“aku harap aku bisa tidur lebih awal malam ini, tapi ternyata tidak. Seseorang mencium punggung tanganku hari ini dan itu sukses membuatku memikirkannya seharian”.

Replay :

“kau harus tidur, pagi sekali pria itu akan berdiri didepan pintumu, Jaljja ? ”.

Dong Hae manarik napasnya dalam, setelah membaca pesan dari gadis itu senyumnya tidak memudar sama sekali, bahagia sekaligus rasa penasaran kini menyelimuti pikirannya. ‘jikapun itu kau orangnya, aku akan membuatmu masuk kedalam pesonaku Seo Na’. Gumam pria itu, sebelum ia menutup kedua matanya.

To Be Continue

~~~000~~~

Sinopsis ‘Tears Are Falling’

Standard

TEARS ARE FALLING

Action, romance.

PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast





Kebencian itu hanya kata lain dari rasa Rindu…

aku merasakan hari itu sepertinya semua benar-benar berakhir, suara tembakan itu tidak seperti suara tembakan yang pernah ku dengar sebelumnya. Aku mulai tau, bagaimana rasa sakitnya ketika aku menembakkan peluru itu ketubuh mereka, karena kali ini aku merasakannya, aku mendengar tiga tembakan, tapi hanya satu yang terasa menembus perutku, dan yang duanya lagi aku yakin itu mengarah kearah pria yang baru saja memelukku… bagaimana keadannya, kenapa ia melakukan ini padaku? Kenapa ia menggantikkan nyawanya dengan  nyawa wanita pembunuh sepertiku?

image

Park Seo Na, seorang gadis yang bekerja sebagai pembunuh bayaran. Target yang diincarnya adalah seorang pengusaha kaya yang bernama, Aiden Lee. Merupkan sosok pria tampan yang bisa memikat wanita manapun tanpa terkecuali seorang Park Seo Na yang dingin dan ketus.

Dibalik semua kekejaman yang Seo Na lakukan selama ini ternyata tidak lepas dari kenangan dengan masa lalunya, seorang pria yang meninggalkannya ketika gadis itu membutuhkan dirinya. Cho Kyu Hyun, pria yang menghilang selama beberapa tahun dari hidup Seo Na hingga pria itu kembali hadir ketika Seo Na mulai menata kembali hidupnya.

Bagaimana kelanjutannya?

Cooming read… Tears Are Falling!

Author
Annisa