Category Archives: KyuHyun

LEAVE BEHIND TO MEMORY (2/?)

Standard

cats

kita seharusnya tersenyum cerah bersama, tapi sekarang kita hanyalah dua orang asing. selamat tinggal untuk hari bahagiaku – At Gwanghwamun, Kyu Hyun Super Junior.

Seo Na menggeliat diatas ranjangnya, matahari memang sudah terbit sejak berjam-jam yang lalu tapi entah kenapa mata gadis itu masih saja terkatup dan enggan terbuka sesentipun, hanya cahaya matahari yang menembus korden bermotif bunga-bunga yang tergantung dijendela kamarnya, dan suara aneh dari lantai bawah seperti biasa saat para pelayan dirumahnya memasak atau sekedar membersihkan taman.

Gadis itu baru saja menyelesaikan gelar sarjana bahasa asing diusianya yang ke dua puluh tahun, ia memang pintar, otak gadis ini memang tidak bisa diragukan, selain periang, ceria, dan tidak bisa berhenti bicara Seo Na juga dikenal sebagai pemikir yang baik. kadang Dong Hae sering meminta pendapat kepada gadis itu tentang pemecahan masalah dikantor dan benar saja banyak masukan dari Seo Na yang bisa diambil oleh Dong Hae, sayang ia hanya bisa memikirkan masalah yang terjadi pada diri orang lain, tapi untuk dirinya sendiri sampai sekarang ia masih belum bisa bahkan ia tampak lebih hancur dari sebelumnya.

Detik kemudian Seo Na mengerjapkan matanya, mengumpulkan kesadarannya sejak tadi malam setelah ia memutuskan mengusir kakak angkatnya itu dari kamarnya, entah bagaimana ia bisa segera terpejam yang ia ingat ia sangat lelah karena begitu banyak menangis. Seo Na menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya gadis itu beranjak menuju kamar mandi tapi belum sampai kakinya mencapai tempat tujuan kini langkahnya terhenti pada figura yang terletak diatas meja riasnya, ia memperhatikan gambar dua orang didalam sana, dirinya dan Dong Hae, foto yang diambil ketika ia baru saja menyelesaikan gelar sarjanannya beberapa bulan yang lalu.

“Oppa!!! Aku sudah mendapatkan gelar sarjanaku, apa kau tidak senang?!”. Gadis itu berteriak kehadapan Dong Hae menghambur kedalam pelukan pria itu, Dong Hae tersenyum ia sangat bahagia melihat adik kesayangannya menyelesaikan pendidikannya.

 

“Ya! apa kau tidak malu memelukku didepan teman-temanmu? Kau kan sudah besar! Dasar anak kecil!”. Ujar pria itu, Seo Na mendesah gadis itu malah memajukan mulutnya beberapa senti lalu memukul lengan Dong Hae yang tampak kekar.

“aku bukan anak kecil lagi!”. Dong Hae tampak terkekeh mendengar ocehan Seo Na , pria itu kembali memeluk adiknya.

“selamat menjadi dewasa Park Seo Na, selamat atas kesuksesanmu, aku ingin kau hidup berbahagia. Dan jangan pernah menangis dihadapanku”. Ujar Dong Hae sebelum akhirnya mengecup puncak kepala Seo Na yang direspon cengiran gadis itu.

“aku akan hidup bahagia denganmu, Oppa”.

Entah sejak kapan gadis itu kembali terpuruk dalam kenangan masa lalunya bersama Dong Hae dan lagi-lagi ia mendapati dirinya sudah kembali terisak dalam tangisan. Tidak ada lagi baginya Seo Na yang begitu ceria didepan orang-orang dan didirinya sendiri yang ia kenal hanya dirinya yang terus hancur menerima semua kenyataan yang ada, Lee Dong Hae bukan kepunyaannya.

~~~000~~~

“Na-ya, apa kau masih merasa pusing. Eomma sengaja tidak membangunkanmu”. Seo Na melirik kearah Ibunya sejenak, mengangguk lalu mengambil posisi dikursi meja makan. Seo Na memandangi semua makanan yang sudah tersaji dihadapannya saat ini, dan lagi-lagi napsu makannya yang dulu begitu besar kini sedikitpun tak tersisa, ia benar-benar tidak memiliki semangat untuk melakukan apa-apa lagi.

“Na-ya? apa kau sakit”. Tanya Nyonya Park pada anak perempuan-nya itu, ia tidak pernah melihat Seo Na dengan keadaan seperti ini, ia sengaja tidak memarahi gadis itu karena sudah berani mabuk ditempat umum dan itu sangat tidak baik, kali ini wanita paruh baya itu mendapati anaknya terlihat tidak baik. muka Seo Na yang tampak memerah dan kantong mata gadis itu tampak membengkak.

“aku tidak apa-apa, mungkin hanya efek pusing kepalaku”. Ujar gadis itu seadannya, lalu menyendok beberapa suap nasi kedalam mangkuk makannya dengan tangan kirinya.

“hei, jangan gunakan tangan kirimu! Ayo gunakan tangan kanan!”. Dong Hae memukul pelan pergelangan tangan Seo Na, gadis itu meringis.

 

“baiklah, aku akan menggunakan tangan kananku! Menyebalkan!”. Gadis itu mengoceh sambil mengubah posisi sendok makannya ketangan kanan. Ia melirik Dong Hae, benar saja pria itu tengah memperhatikannya.

“apa?”.

“tidak ada”.

“jangan memandangiku seperti itu, Oppa menyeramkan”. Dong Hae mencibir, sedangkan Gadis itu malah tertawa, sebelum akhirnya kedua manusia itu melanjutkan makan malamnya seperti biasa.

Gadis itu lagi-lagi mengingat sosok yang dulu selalu menemaninya makan dimeja makan yang sama yang kini tengah ia duduki, Seo Na kembali meneteskan air matanya sebelum akhirnya berlalu meninggalkan meja makan.

Eomma, aku harus pergi. Mungkin aku akan pulang larut malam”. ujar gadis itu sambil menyambar remote mobil mewahnya, tanpa memperdulikan pertanyaan yang terlontar dari mulut Ibu gadis itu. entah apa yang bisa ia lakukan sekarang, semakin yang ingin menjauhi Lee Dong Hae akhirnya ia hanya akan mendapati dirinya terjebak dalam kenangan masa lalu selema lima belas tahun dengan pria itu. Apa ia tetap bersikeras mempertahankan perasannya pada pria itu? Atau ia mundur dan mendapati dirinya akan terus menderita sepanjang sisa hidupnya.

“kemanapun aku akan pergi, jika tempat itu tidak mengingatkanku padamu. Lee Dong Hae”.

~~~000~~~

Kyu Hyun mengoreksi beberapa berkas yang kini teronggok rapi diatas meja kerjanya. Sejak tadi pria itu berusaha untuk tetap fokus pada tumpukan kertas yang kini berada didepannya tapi tetap saja pikirannya masih melayang pada seorang wanita yang mungkin saat ini masih tertidur dirumahnya, atau ia sudah kembali melanglang buana mencari sesuatu yang mungkin bisa menghancurkan dirinya lagi seperti tadi malam.

Sejujurnya, Kyu Hyun bukan pria yang mau mengetahui urusan orang lain apa lagi jika itu tidak menyangkut dirinya sama sekali, tapi entah kenapa kali ini pria itu merasa harus ambil andil dalam masalah yang dihadapi wanita yang sama sekali tidak mengenalnya itu. Park Seo Na, gadis bodoh yang mencintai kakak angkatnya sendiri, tapi cinta tidak memandang status apapun bukan? Jadi jika tumbuh cinta pada diri gadis itu tidak ada yang bisa menghentikannya, kecuali waktu yang mampu merubahnya.

Kyu Hyun juga tidak bisa mengelak, jika suatu saat nanti ia bisa mencintai Seo Na, jika hari ini ia hanya merasa penasaran terhadap gadis itu dimasa depan mungkin saja ia mencintai Seo Na, kalaupun Kyu Hyun mencintai Seo Na ia tidak akan membuat gadis itu terluka seperti yang Dong Hae lakukan terhadapnya. Kyu Hyun menarik napasnya dalam, menghembuskannya pelan sembari menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi putar miliknya, Kyu Hyun memejamkan mata menetral semua pemikiran yang terus berputar diotaknya, tidak lama sampai akhirnya suara dering ponsel menghalau lamunannya.

Lee Dong Hae : Kyu, bisa kau mencari Seo Na? Ia pergi dari rumah, beberapa menit lagi aku akan melakukan pertemuan dengan rekan bisnisku. Aku percayakan ia padamu.

Kyu Hyun memutar bola matanya, berpikir sejenak tentang apa yang baru saja disampaikan Dong Hae melalui pesan singkat padanya. ‘Seo Na pergi dari rumah? Apa gadis itu minum-minum lagi?’. Pikir Kyu Hyun sebelum akhirnya pria itu memutuskan meninggalkan onggokan pekerjaannya diruang kerjanya, menuju tempat yang bisa dituju Kyu Hyun saat ini.

“Park Seo Na, kau gila ya?”.

~~~000~~

Dong Hae menautkan kedua telapak tangannya diatas meja kerjanya, ia tidak mungkin membatalkan pertemuan yang akan ia lakukan beberapa menit lagi. Baru saja ia mendapat panggilan telefon dari Ibu angkatnya, wanita itu mengatakan jika Seo Na pergi dari rumah dengan terburu-buru dan mengatakan jika ia akan pulang larut malam. wanita itu hanya memiliki seorang putri, ia tidak akan membiarkan Seo Na kembali pulang dalam keadaan mabuk, karena itu ia menghubi Dong Hae untuk segera menyuruh Seo Na kembali pulang kerumahnya. Lagi pula keadaan gadis itu tidak kelihatan baik-baik saja, itu yang membuat Ibu Seo Na tampak begitu cemas.

Dong hae memutuskan mengirim pesan singkat pada Kyu Hyun, pria itu mungkin bisa mencari Seo Na-nya. Bukankah pria itu sudah menawari untuk membantunya menhadapi masalah ini, lagi pula ia tidak bisa melakukan apa-apa saat ini untuk Seo Na, bantuan Kyu Hyun memang sangat diperlukan. Setelah menekan beberapa huruf diponselnya Dong Hae kembali menyandarkan tubuhnya, menghirup banyak-banyak udara disekitarnya.

Annyeong”. Terdengar suara dari depan pintu ruang kerja Dong Hae, wanita dengan paras cantik, dengan melihatnya saja, dunia pria itu tampak seketika tenang.

Pria itu tersenyum, berdiri mendekat kearah Yoo Ra yang kini sudah berdiri dihadapannya. “apa ada masalah?”. Tanya pria itu, Yoo Ra tampak menggeleng lalu wanita itu menyodorkan bekal makan siang pada suaminya itu. Dong Hae tampak sedikit terkekeh sebelum akhirnya memeluk Yoo Ra.

“aku tau kau tidak akan makan siang lagi, karena terlalu sibuk mengurus pekerjaanmu. Karena itu aku membuatkanmu makan siang dan aku pikir untuk mengantarkannya kemari”. Jelas Yoo Ra, gadis itu mengalungkan tangannya dileher Dong Hae.

“baiklah Nyonya Lee, sepertinya kau begitu menyayangkan makan siangku. Padahal aku hanya menundanya, jangan khawatir”.

“bagaimana aku tidak khawatir, kau terlalu serius dengan pekerjaanmu”.

“jadi aku harus bagaimana?”. Tanya pria itu, Yoo Ra tampak menyipitkan matanya, memukul dada Dong Hae pelan, lalu ia beranjak dari hadapan pria itu mengambil posisi duduk disofa yang tak jauh dari mereka berada.

“kau selalu pura-pura tidak tau, apa aku yang harus memintanya terlebih dahulu, eum?”. Dong Hae kembali terkekeh mendengar protes dari istrinya, melihat Yoo Ra yang terlihat menggemaskan Dong Hae mengambil posisi duduk tepat disamping istrinya itu.

“baiklah, apa kau mau kita bulan madu ke Verona? Aku akan mengajakmu kesana”. Tawar Dong Hae, Yoo Ra tampak tersenyum senang, tanpa aba-aba menghambur kedalam pelukan pria itu sebelum akhirnya Dong Hae mendaratkan ciuman hangat dibibir istrinya, tanpa keduanya sadar sepasang mata kini menangkap pemandangan keduanya, dengan mata memanas gadis itu berlari keluar dari gedung megah itu, ia tau sekarang, jika Dong Hae tidak akan pernah menjadi kepunyaannya.

~~~000~~~

Kyu Hyun menyandarkan tubuhnya disisi dinding lain, dari tempat ia berdiri saat ini ia bisa dengan jelas melihat tubuh Seo Na yang bergetar hebat didepan pintu ruang kerja Dong Hae. Setelah menerima pesan singkat dari kakak angkat gadis itu Kyu Hyun langsung meluncur menuju kantor Dong Hae, pria itu tau kemana Seo Na akan pergi, satu-satunya tempat untuk mengutarakan semua sesak perasaannya saat ini hanya seorang Lee Dong Hae, dan benar saja Seo Na kini hanya bisa mematung didepan ruang kerja kakak angkatnya itu. jika bukan melihat adegan mesra didalam sana, apa lagi yang membuat tubuh gadis itu kini bergetar hebat.

Sedetik kemudian, Seo Na kini sudah berlari menuju luar gedung, tidak ingin kehilangan jejek gadis itu lagi Kyu Hyun segera menyusul Seo Na, kemanapun gadis itu pergi saat ini ia akan mengikutinya. Tidak mungkin ia membiarkan gadis itu melakukan hal-hal sinting diluar sana, seperti buhuh diri misalnya?

Mobil Ford merah itu melaju kencang dijalan tol, ini sudah melewati perbatasan kota Seoul, dan Kyu Hyun masih tidak tau kemana tujuan Seo Na saat ini. Pria itu hanya mengekori kuda besi milik gadis itu sambil terus menyetarakan kecepatan mobilnya. Kemanapun gadis itu, Kyu Hyun hanya perlu mengikuti dan mengawasinya.

~~~000~~~

Seo Na berjalan menuju tepi pantai, merasakan terpaan angin pantai yang kini cukup menenangkan hatinya. Sudah sejak lama ia ingin datang kemari, menyaksikan deru ombak yang menenangkan, bau air laut yang khas, dan angin yang berhembus disekitarnya, kali ini semua itu ia rasakan. Seo Na menyeret kedua kakinya kebibir pantai, membiarkan air laut membasahi sepasang sepatunya, gadis itu tampak tersenyum meski ia masih tidak bisa mengerti untuk apa ia masih tersenyum saat ini. semua sudah berakhir bukan? Tidak ada masa depan seperti yang ia pikirkan selama ini.

Seo Na duduk diantara pasir basah, membiarkan bagian tubuh bawahnya terkena air laut, ia tidak akan pulang malam ini, atau tidak akan pulang selamanya. Apa yang baru saja ia lihat beberapa jam yang lalu, seperti pedang yang terus menikam hatinya semakin dalam. Seharusnya gadis yang berada disisi Dong Hae saat ini adalah dirinya, seharusnya ia bisa merasakan hangat kecupan pria itu, bukan Yoo Ra. Bukan gadis itu.

“Bisakah kau pergi dari pikiranku?!”. Gadis itu berteriak kencang, tidak peduli jika orang-orang melihatnya, yang ia pikirkan saat ini hanyalah bagaimana melupakan pria itu, melupakan kenangan selama lima belas tahun didalam hidupnya.

“Aku tidak ingin mengingatmu lagi Lee Dong Hae!!! Kau penipu!!! Aku tidak akan lagi mengingatmu!!!”. Suara gadis itu tercekat, air matanya terus mengalir begitu saja, isakan tangisnya bahkan terdengar semakin keras.

“Apa ada seseorang yang bisa membuatku melupakannya?!”.

“aku akan membuatmu melupakannya”. Suara berat seorang pria kini membuat Seo Na memutar badannya kearah sumber suara. Seorang pria jakung berambut coklat kini berdiri tidak jauh dibelakang gadis itu. berdiri sambil memasukkan kedua tangannya dikedua sisi saku celanya. Seo Na menatap pria itu, bukankah pria itu pria yang sama saat ia berada ditaman setelah pernikahan Dong Hae, pikirnya.

“aku akan membuatmu melupakannya, dan juga membuatmu tidak lagi mencintainya”. Lanjut pria itu lalu mendekat kearah Seo Na yang masih mematung ditempatnya. Beberapa detik berikutnya keduanya sudah saling berhadapan, pria itu mengangkat tangannya, menyapu air mata yang kini masih mengalir dimata Seo Na, lalu sedikit tersenyum kearah gadis itu dan bodohnya lagi Seo Na hanya bisa menerima semua perlakuan pria yang pernah membuat luka serius dilututnya itu.

“aku Cho Kyu Hyun”.

~~~000~~~

Kyu Hyun : ia baik-baik saja, ia bersamaku saat ini. maaf aku tidak bisa memaksanya untuk segera pulang kerumah tapi percayakan ia padaku ia akan baik-baik saja, Hyung.

Kyu Hyun memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jas hitamnya setelah mengirim pesan singkat pada Dong Hae. Detik kemudian pria itu berjalan mendekat kearah Seo Na yang kini sudah duduk diatas pasir pantai. Pria itu mengambil posisi persis disamping Seo Na sebelum akhirnya gadis itu melirik kearahnya.

“kenapa kau masih disini? Kau bisa pulang. Aku tidak membutuhkanmu”. Ujar Seo Na datar, gadis itu kembali mengalihkan pandangannya ke sisi pantai.

“bukankah kau meminta seseorang untuk melupakannya? Sepertinya aku diutus Tuhan untuk membuatmu melupakan orang itu”. ucap Kyu Hyun, pria itu ikut menatap matahari yang mulai tenggelam sore itu.

Keduanya terdiam, Seo Na juga tidak merespon ucapan pria itu ia lebih ingin menikmati sorenya kali ini, meski ia tau perasaannya masih tetap sama. Tidak banyak yang bisa gadis itu lakukan saat ini selain tidak menemui pria itu, tidak ketempat dimana ada kenangan dengan pria itu dan ia akan melupakan semua tentang Lee Dong Hae, meski ia tidak yakin apa ia bisa melakukan hal itu.

“kau, apa Oppa menyuruhmu kemari?”. Akhirnya Seo Na bersuara, ia masih menatap lurus kedepan tanpa memperhatikan mata Kyu Hyun yang kini tertarik kearahnya.

“tidak juga”. Ujar pria itu enteng, Seo Na menatap sinis kearahnya. “aku kemari karena Dong Hae Hyung dan juga karena kemauanku”. Lanjut Kyu Hyun.

Seo Na mengerjapkan matanya, mencerna kalimat yang baru saja diucapkan pria dihadapannya itu. “terserah dengan apa yang kau ucapkan, tapi lebih baik kau pergi dari sini. Aku sedang tidak ingin melihat siapapun yang berhubungan dengan pria itu”. ujar Seo Na sinis, gadis itu segera beranjak dari sana meninggalkan Kyu Hyun yang masih berada ditempatnya.

“Park Seo Na, apa aku boleh menicintaimu?!”. Teriakan Kyu Hyun berhasil membuat gadis itu menghentikan langkahnya sedangkan Kyu Hyun beranjak dari tempatnya mendekat kearah gadis itu dan kini ia persis berdiri dihadapan Seo Na.

Seo Na membulatkan matanya, menatap pria itu kaget. Kyu Hyun tersenyum sejenak kearah gadis itu dan entah dari mana pria itu mendapatkan keberanian, beberapa detik berikutnya pria itu akhirnya mengecup singkat bibir Seo Na.

~~~000~~~

Seo Na memperhatikan dirinya didalam kaca meja rias sebuah penginapan sederhana ditepi pantai, pantai Naksan yang terletak didaerah Yangyang Provinsi Gongwon-do dan pantai ini cukup jauh dari kota Seoul. gadis itu tetap bersikukuh untuk tetap memilih menginap dibanding harus kembali kerumahnya dan itu sama saja dengan membawa dirinya kembali kedalam kesedihan. Ia juga sudah menghubungi Ibu nya meskipun wanita paruh baya itu bertanya kenapa Seo Na pergi liburan tiba-tiba tanpa membawa baju ganti atau semacamnya.

Gadis itu sudah mengganti pakainnya dengan pakaian yang selalu tersedia didalam mobil pribadinya, memesan satu kamar untuknya dan pria tadi siang yang mengikutinya itu juga ikut memesan satu kamar yang persis berada disamping kamar gadis itu. Ya, mengenai pria itu Seo Na sempat memukul perut pria itu ketika tadi sore ia sudah berani mencium bibir Seo Na dan alhasil gadis itu mendaratkan pukulannya diperut Kyu Hyun.

Seo Na mengusap bibirnya, lalu berdecak kesal kearah pantulan dirinya dicermin. bagaimana pria itu bisa semudah itu menciumnya? Belum lama gadis itu mengoceh pada kaca didepannya, terdengar ketukan pintu kamarnya memecah keheningan didalam kamar gadis itu. Seo Na menuju pintu membukanya perlahan.

“kau lagi? Ada apa?”. ujar gadis itu sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

“aku tidak akan menciummu lagi, kau pikir perutku ini tahan dengan pukulanmu itu”. oceh pria itu sambil mengelus perutnya yang rata. Gadis didepannya itu menatapnya dingin. ”aku membawakanmu ini, aku tidak tau kau menyukainya atau tidak, setidaknya kau memakan salah satu diantara mereka. Aku tidak ingin melihat kau mati saat bersamaku”. Lanjut pria itu menyodorkan plastik putih polos berisi beberapa makanan cepat saji yang baru saja ia beli, Kyu Hyun sengaja membelikan gadis itu beberapa makanan, ia tau Seo Na pasti belum makan seharian.

“aku tidak butuh pemberianmu, aku juga tidak butuh makanan yang kau bawakkan untukku. Kau pikir setelah kita melakukan hal tadi siang kau bisa seenaknya mengatur hidupku? Dengar Cho Kyu Hyun, aku sudah memberimu kesempatan untuk menemaniku disini, jadi tugasmu hanya menemaniku bukan mengatur hidupku apa lagi mengkhawatirkanku”. Ketus gadis itu, tatapannya masih sama seperti tadi, Seo Na masih menatap pria itu dingin.

ck! Lucu sekali gadis ini. kau tau kenapa Dong Hae sangat mencintai istrinya dan menikahinya?”. Tanya pria itu tiba-tiba, membuat kedua bola mata Seo Na membesar, gadis itu seperti menahan sesuatu untuk diucapkannya. “karena gadis itu lembut, ia membiarkan Dong Hae mengkhawatirkannya, dan kau Park Seo Na jangan pernah lagi terus merasa kuat dihadapanku”. Lanjut Kyu Hyun, lalu meletakkan bungkusan plastik itu dihadapan Seo Na sebelum akhirnya pria itu beranjak pergi dari hadapan Seo Na, meninggalkan gadis itu yang masih mematung ditempatnya.

~~~000~~~

“Oppa, jangan mengkhawatirkanku, meskipun aku tersesat digurun pasir aku tidak akan mati, kau tau kenapa? Karena aku ini kuat”.

“baiklah, tapi berjanjilah untuk tetap kuat dan jangan pernah membuat orang-orang mengkhawatirkanmu, mengerti?”.

Seo Na memasukkan beberapa potongan ayam kedalam mulutnya, mengunyahnya pelan sambil menatap lurus kedepan. Pikiran gadis itu kosong saat ini, ia masih ingat dengan apa yang baru di ucapkan Kyu Hyun beberapa menit yang lalu kepadanya. Pria itu benar, Seo Na memang tidak pernah memperlihatkan kelemahannya selama ini, bahkan ia sadar jika selama ini ia merasa hidupnya hanya untuk membuat orang disekitarnya bahagia, termasuk Lee Dong Hae. Tapi Seo Na lupa satu hal, ia lupa untuk membuat hidupnya bahagia, selama ini ia juga tidak pernah memperlihatkan kesakitannya pada siapapun bahkan gadis itu mampu memendam bertahun-tahun persaannya kepada Dong Hae dan akhirnya semua itu kini menjadi bumerang untuknya, Lee Dong Hae tidak akan pernah memilihnya.

Seo Na tertunduk, kini setetes air mata jatuh dari matanya, gadis itu terisak untuk yang kesekian kalinya, selama ini ia selalu dianggap kuat, orang-orang tidak pernah tau bagaimana perasaannya, ia tidak punya tempat untuk bersandar, atau seseorang yang mendengar apa yang ia rasakan, seharusnya ia menyadari hal itu dari dulu.

Beberapa menit kemudian gadis itu meninggalkan makanannya, beringsut ke atas ranjang kamar penginapan yang tidak terlalu mewah itu. esok hari ia harus memulai kehidupannya yang baru bukan, tanpa tangis lagi. Mungkin.

~~~000~~~

Kyu Hyun sudah satu jam lebih berdiri didepan pintu kamar gadis itu, memakai baju santai dengan setelan baju kaos putih dan celana jeans hitam dan kacamata yang menggantung dihidung mancungnya, pria itu mendesah berat ia tidak habis pikir bagaimana gadis itu belum juga bangun padahal pagi akan segara berganti siang beberapa jam lagi.

Ya! Park Seo Na?! Kau pingsan? Atau kau bunuh diri? Kau tidur atau ma-“.

“aku sudah bangun dari pukul 7 tadi pagi”. Ujar gadis itu tiba-tiba setelah membuka pintu kamarnya dan melewati Kyu Hyun begitu saja. pria itu mengerjap, bagaimana gadis itu bereaksi spontan seperti itu.

Kyu Hyun mengekori Seo Na dari belakang, ia melihat punggung gadis itu yang terlihat sangat kurus, tulang bahunya terlihat dari balik baju kemeja putih yang tengah ia kenakan, kakinya yang terlihat kurus juga begitu jelas karena gadis itu hanya menggunakan jeans selutut.

“apa kau akan terus mengekoriku?”. Ucap gadis itu tiba-tiba, bahkan keduanya hampir bertabrakan karena Kyu Hyun tidak menyadari jika gadis itu berhenti mendadak didepannya. Seo Na memutar tubuhnya kearah Kyu Hyun, pria itu melepas kaca matanya lalu balik menatap Seo Na.

“apa kau akan terus seperti ini?”. balas pria itu, Seo Na memicingkan matanya menatap sinis kearah Kyu Hyun.

“baiklah, jadi apa maumu?”. Tanya Seo Na akhirnya, gadis itu melipat kedua tangannya didada.

“kembali ke Seoul, aku dan kau”. Jawab Kyu Hyun enteng.

“Apa? Ck! Ya, Cho Kyu Hyun berhenti memerintahku dan meminta hal yang tidak aku suka”. Ujar Seo Na ketus, bahkan tatapan Seo Na kini penuh dengan kebencian. Kyu Hyun menarik tangan Seo Na memajukkan beberapa senti tubuhnya kehadapan gadis itu. “kau bisa lepaskan sekarang atau aku-“.

“atau kau akan meneriakkiku sebagai pria cabul? Begitu?”. Kyu Hyun tersenyum, mata pria itu berkilat emosi, ia bahkan tidak menyangka jika gadis dihadapannya ini benar-benar orang yang keras kepala. “berhenti meneriakku dan mengucapkan namaku, atau aku akan menyeretmu kekamarku dan menidurimu”. Oceh pria itu dingin, menekan setiap kalimat yang ia ucapkan, terlebih jarak diantara mereka begitu intim, sehingga beberapa tamu penginapan melihat mereka heran.

“lepaskan!”. Geram gadis itu, tapi pria dihadapannya ini malah semakin mengenggam erat tangan Seo Na. “ku bilang lepaskan!”. Teriak gadis itu akhirnya.

Kyu Hyun melepaskan tangan Seo Na, membiarkan gadis itu kini memunggunginya dan meninggalkannya. “aku yang berlutut mencintaimu, atau kau yang akan berlutut mencintaiku?”. Ucap pria itu, lalu tersenyum kearah Seo Na yang kini sudah berada jauh didepannya.

~~~000~~~

Keduanya terdiam didalam mobil mewah milik Kyu Hyun, pria itu fokus pada jalanan tol menuju Seoul, entah apa yang membuat gadis disampingnya ini memintanya menyupirinya pulang dan menyuruh orang suruhan ayahnya membawa mobil miliknya kembali ke Seoul. Kyu Hyun benar-benar tidak bisa membaca jalan pikiran Seo Na yang selalu tiba-tiba. Kadang gadis itu terlihat begitu dingin dan angkuh, tapi terkadang ia juga bisa melihat Seo Na yang begitu rapuh dengan air mata yang terus mengalir dari matanya. Dan kali ini yang ia lihat adalah wajah polos gadis itu yang tertidur nyenyak disamping kursi kemudinya, tidak bisa ia pungkuri jika Seo Na memiliki wajah yang cantik, bahkan ia tidak bisa mengelak jika wajah itu akhir-akhir ini menjadi candu untuknya. Pria itu kini mengalihkan pandangannya kearah ponselnya yang berdering, pria itu segera menempelkan komunikator itu ketelinganya.

Hyung? Aku bersamanya, tentu saja dia baik-baik saja. Hm, hanya sedikit pucat mungkin karena ia belum makan seharian. Baiklah, aku akan langsung mengantarnya kerumah”. Kyu Hyun segera mematikan sambungan teleponnya, lalu kembali fokus pada jalanan.

“Dong Hae?”. Tiba-tiba gadis disampingnya itu bersuara, tatapan pria itu kini tertarik kearahnya. “aku tidak ingin pulang kerumah”. Lanjut gadis itu lagi.

“jadi? Kau mau tinggal bersamaku?”. Tambah Kyu Hyun, pria itu menyeringit namun kini pandangannya kembali fokus mengemudi.

“Apa kau gila? Aku akan mencari Apartemen, aku akan tinggal disana, kau bisa mencarikanku Apartemen setelah sampai di Seoul”. Ujar Seo Na, tidak ada nada dingin yang menekan dari ucapan gadis itu, kini ia lebih terdengar meminta dan memohon pada Kyu Hyun.

“hanya kau sendiri?”.

“aku tidak mungkin terus tinggal ditempat yang terus menceritakan kenanganku dengannya, dan satu lagi jika kau ingin membantuku lepas dari semua ini jangan beri tahu Dong Hae dimana keberadaanku, dan jangan beri tahu dia lagi tentang kabar ku dan apa yang aku lakukan”. Ucapan Seo Na kali ini terdengar begitu menyakitkan, memang benar jika ia tidak mungkin terus tinggal ditempat yang terus menceritakan kenangannya bersama Dong Hae selama ini, bagaimana gadis itu bisa melupakan Dong Hae jika ia terus bergelimang dengan kenangannya dimasa lalu bersama pria itu.

“baiklah, tapi aku minta satu hal padamu, jangan pernah melakukan hal yang bodoh yang merugikan dirimu, dan satu hal lagi jangan pernah sok kuat dihadapanku, jika kau ingin menangis, menangislah sesukamu dihadapanku, aku tidak akan menertawakanmu. satu hal yang harus kau tau, Setiap orang berhak mendapatkan kekhawatiran dihidupnya dari orang-orang disekelilingnya dan kau, kau tidak akan selamanya bisa bertahan jika kau terdampar digurun pasir tanpa air dan makanan”.

Seo Na menarik tatapannya kearah Kyu Hyun, menatap garis wajah pria itu. Kyu Hyun benar tentang dirinya, dia tidak akan bisa terus bertahan jika ia tidak memiliki seseorang yang bisa mendengarkannya, ia tidak akan bisa bertahan ditengah gurun pasir tanpa air dan makanan. Entah kenapa setiap ucapan yang mengalir dari bibir pria yang kini tengah mengemudikan kuda besinya itu begitu terdengar menenangkan ditelinga, bahkan saat ini ia benar-benar ingin menangis dan bersandar di bahu pria itu.

~~~000~~~

Dong Hae berkali-kali melirik jam ditangannya, sejak beberapa jam tadi pria itu tidak tenang dikursi empuk diruang meetingnya siang ini. ia tidak bisa mengelak jika saat ini ia ingin bertemu dengan adik kesayangannya, adik yang beberapa hari ini tidak ia temui dan ia ingin mengetahui kabar gadis itu, apa gadis itu baik-baik saja? setelah terakhir mereka bertemu malam itu, setelah Seo Na mengucapkan perasaanya pada Dong Hae.

Dong Hae menarik tatapanya pada pintu masuk, pria dengan setelan jas rapi dengan rambut coklat yang menutupi keningnya kini berjalan menuju kursi tempat biasa ia duduk seperti meeting sebelumnya, dengan tenang Kyu Hyun sedikit membungkuk kearah Dong Hae dan melewati pria itu.

Dong Hae menatap lekat pada pria itu, banyak sekali yang ingin ia tanyakan terutama bagaimana kabar Seo Na saat ini. tapi ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal pribadi kepada Kyu Hyun terlebih lagi saat ini mereka adalah rekan bisnis, dan juga beberapa menit lagi mereka juga harus mengadakan meeting dengan kolega bisnis lainnya yang berada didalam ruangan yang sama dengan keduanya.

“apa semuanya baik-baik saja?”. Dong Hae menghampiri pria jakung itu yang sejak tadi asik menyusun kertas-kertas diatas mejanya setelah mereka melakukan meeting selama dua jam hari ini.

Kyu Hyun mengalihkan pandangannya kearah Dong Hae, menatap pria itu sambil tersenyum lalu kembali memfokuskan tatapannya ke kegiatannya semula. “dia baik-baik saja”. jawab pria itu singkat.

Tampak jelas jika nafas Dong Hae terdengar menghembuskan nafasnya lega, Kyu Hyun tau jika pria itu sangat mengkhawatirkan adik tirinya itu, tapi sudah terlambat untuk mengkhawatirkan Seo Na, nyatanya sekarang gadis itu tidak ingin jika Dong Hae mengetahui keberadaannya. “apa kau mengantarnya pulang kerumah?”. Lanjut pria itu lagi.

“tentu, aku mengantarnya hingga pintu rumahnya. Tapi ia juga mengatakan padaku, ia juga tidak akan berlama-lama dirumahnya”. Jelas Kyu Hyun, kini pria itu sepenuhnya menatap Dong Hae.

Kening Dong Hae berkerut ia masih tidak paham dengan apa yang dikatakan pria didepannya itu.”maksudmu?”. tanya pria itu pensaran.

“aku tidak bisa menjawab, karena itu diluar kekuasaanku untuk menjawabnya”.

“Seo Na pergi? Kemana? Apa dia akan meninggalkan Korea?”. Pertanyaan Dong Hae bertubi-tubi menyerang Kyu Hyun, jika Seo Na pergi karenanya ia pasti sangat merasa bersalah. Selama ini gadis itu sangat kental dengan kehidupannya bersama keluarga, ia juga tidak pernah menginap dirumah temannya atau tinggal ditempat lain selain dengan keluarganya.

“ia hanya mengatakan satu hal padaku Hyung, ia tidak ingin berada ditempat dimana ia diharuskan mengingat kenangan tentang kalian. Aku harap kau mengerti dengan keputusannya”. Jelas pria itu, sebelum akhirnya menepuk pundak kiri Dong Hae dan meninggalkan pria itu sendirian ditempatnya.

Kyu Hyun hanya ingin Dong Hae mengerti bagaimana menderitanya Seo Na saat ini, ada kepuasan tersendiri bagi Kyu Hyun saat ini setelah mengatakan hal yang mungkin dapat membuat Dong Hae merasakan luka yang mungkin tak sebanding dengan apa yang dirasakan Seo Na saat ini.

~~~000~~~

“Eomma, aku harus belajar hidup sendiri. tenanglah, aku akan baik-baik saja. seorang pria menawarkan bantuannya kapanpun untukku, jadi jangan khawatir dan jangan coba-coba memberi tahu Dong Hae Oppa kemana aku akan pindah, aku akan mengatakan langsung padanya”. Jelas Seo Na sambil memasukkan semua pakaiannya kedalam koper bewarna merah maron itu.

“kau yakin? Apa pria itu baik? bagaimana jika ia berniat jahat padamu?”. Sanggah Nyonya Park, sambil memperhatikan Seo Na yang kini tengah mondar-mandir dihadapannya.

Mom, please… jika pria itu berniat jahat padaku saat di Gongwon-do dia pasti sudah menculikku dan tidak mengantarku kembali kerumah. Dan lagi, Kyu Hyun adalah sahabat Dong Hae Oppa, ia sudah sangat mengenal keluarga kita dengan baik”. jelas gadis itu menghentikan kekhawatiran ibunya, Nyonya Park yang masih begitu cantik di usianya yang tidak lagi muda.

“baiklah Na-ya, Eomma akan berkunjung ke Apartementmu jika Eomma ada waktu, dan ingat kau harus bisa menjaga dirimu, Arro?”.

Arraseo Eomma, tenanglah aku akan menjaga diriku dengan sangat baik lebih baik dari sebelumnya”. Ucap gadis itu berjanji, sebelum akhirnya memeluk tubuh Ibu kandungnya itu. ia akan hidup lebih baik setelah ini. melupakan pria yang selama bertahun-tahun mengisi hari-harinya.

~~~000~~~

Kyu Hyun memperhatikan gadis yang kini tengah menyeret dua buah koper besar dihadapannya, memperhatikan gadis itu dari atas hingga bawah dan satu hal yang ada dipikiran pria itu saat ini. Seo Na, apa gadis itu sakit jiwa?

Ya! kau akan terus berdiri disana tanpa menolongku mengangkat dua buah bencana ini!”. ujarnya sambil membanting dua buah koper itu kelantai.

Kyu Hyun terkekeh.”kau pikir kau akan melakukan liburan enam bulan di hawai?”. Ujar Kyu Hyun ketus sambil berlalu masuk kedalam apartemen yang akan dihuni oleh gadis itu.

“apa pria itu gila? Apa ada yang salah dengan gayaku? Apa dia tidak pernah melihat member Girlband? Bahkan aku jauh lebih cantik dari SNSD”. Oceh gadis itu, sebelum akhirnya dengan sekuat tenaga menyeret dua buah koper itu masuk keruang apartementnya, menyusul pria yang baru saja ia teriaki gila itu.

Kyu Hyun membuka tirai besar tepat di sebelah utara, memperlihatkan indahnya Kota Seoul yang menjadi kebanggakan negara Korea selatan. Sewa Apartemen ini juga setara dengan keindahan yang ia suguhkan kepada penghuni setiap lantainya, dan Kyu Hyun juga ingin membuat gadis itu betah berada ditempat ini, setidaknya tempat ini jauh dari kenangan Seo Na yang menyedihkan.

“kau berharap akan melakukan adegan erostis seperti yang di Drama-drama denganku ya?”. oceh Seo Na berlalu menuju balkon yang berada disisi kanan gadis itu.

“lebih baik aku terjun dari gedung ini dari pada harus melakukan adegan erotis dengan gadis kurus sepertimu”. Tandas pria itu.”jika kau memerlukan bantuan kau hanya perlu naik satu lantai lagi, apartement ku berada dilantai atas”. sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Seo Na.

“apa? Ya! memangnya aku mau melakukannya? Bahkan aku harus berpikir seribu kali jika harus melakukan adegan erotis dengan Hyun Bin! Tapi jika aku harus dipaksa melakukannya juga tidak apa-apa”. gadis itu terkekeh lalu kembali berlari kebalkon Apartementnya, dari sini ia bisa merasakan hembusan angin yang menerpa dirinya, ia berjanji untuk tetap berada ditempat ini, melupakan semua yang pernah membuat dirinya terpuruk begitu dalam, sekali lagi untuk yang terakhir kalinya gadis itu meneteskan air matanya, melepaskan semua rasa sakit yang selama ini merejam hatinya.

“Lee Dong Hae, kau bisa pergi sekarang!!!”. Teriak gadis itu, tanpa ia sadar seseorang tengah mendengarnya dari balkon persis diatasnya, pria itu tersenyum mendengar teriakkan gila gadis itu.

“Na-ya, kau memang harus membiarkannya pergi”.

~~~000~~~

“bagaimana dengan Seo Na?”. Suara lembut itu membuyarkan lamunan Dong Hae, wanita cantik dihadapannya itu ternyata sejak tadi menatapnya sendu. Wajah gadis itu keibuan, matanya yang coklat dan pipinya yang sedikit berisi menambah keindahan kecantikan yang ia miliki.

Dong Hae tersenyum, mengelus puncak kepala Yoo Ra lalu mencium kening gadis itu sekilas. ”tidak ada kabar, aku belum sempat menghubungi Eomma”. Jawab pria itu seadanya. ”kau belum ingin tidur?”. Lanjut pria itu.

Yoo Ra menggeleng, ia menarik tubuhnya kearah Dong Hae menyandarkan kepalanya di bahu tegap pria itu. “aku merindukanmu Oppa”. Ulas gadis itu singkat. Dong Hae mengerinyit, pria itu tersenyum lalu menghadap menatap Yoo Ra yang kini tengah memandangnya. “tidak percaya?”. Tanya gadis itu lagi

.
“aku percaya, maaf aku mengabaikanmu karena pekerjaanku dan melewatkan bulan madu kita”. Ucap pria itu tulus. “aku juga merindukanmu”. Balas Dong Hae. Akhir-akhir ini keduanya memang jarang menghabiskan waktu bersama, karena kesibukan Dong Hae dikantor yang semakin padat ditambah lagi masalah-masalah perusahaan yang harus ia tangani langsung. Alhasil, ia mengabaikan Yoo Ra-nya, mengabaikan bulan madu mereka.

Yoo Ra tersenyum, gadis itu menggeleng. “jangan menyalahkan dirimu sayang”. Yoo Ra mengecup singkat pipi pria itu. “aku hanya tidak ingin kau kelelahan”. Tambah gadis itu lagi. Sebelum akhirnya keduanya menautkan bibir mereka, sejujurnya ada rasa kegelisahan yang kini tengah menggelantung dihati pria itu, entah apa yang membuat Dong Hae tak fokus dengan pekerjaan dan istri kesayangannya. Dan semua ini terasa ketika Dong Hae mengetahui Jika Seo Na mencintainya lebih dari seorang kakak.

“Kau baik-baik saja?”. Yoo Ra tersadar sejak tadi Dong Hae hanya menempelkan bibirnya di bibir istrinya, dan sepertinya pria itu sedang tak fokus dengan istrinya saat ini.

Dong Hae tersenyum. “tidak, aku baik-baik saja. bagaimana jika kita melakukan sesuatu yang menyenangkan?”.

Yoo Ra mengerinyit. ”menyenangkan? seperti?”. Tanya Yoo Ra polos. Dong Hae terkekeh dihadapannya, sebelum akhirnya menggendong tubuh gadis itu dipangkuannya tanpa seizin Yoo Ra, menghabiskan malam indah mereka yang selalu tertunda.

Dong Hae hanya berpikir, dengan ini mungkin saja ia melupakan masalahnya dengan Seo Na. Terlalu kejam memang jika tubuh Yoo Ra menjadi pelarian masalahnya saat ini.

~~~000~~~

Sejak tadi tubuh gadis itu meliuk-liuk di atas ranjang Big size-nya, membalikkan tubuh kekiri dan kekanan sebelum akhirnya ia menyerah dan terbangun dari tidur nyenyaknya, mungkin. Seo Na menarik kedua kakinya menuju kamar mandi menopang kedua tepalak tangannya di westafle bewarna merah maron itu, lalu mengangkat wajahnya dengan mata yang masih setengah terbuka dan mulai membersihkan wajahnya.

Seo Na beranjak ke ruang makan, mengambil segelas susu segar dan meminumnya hingga tandas, gadis itu cukup lelah seharian kemarin ia hanya membersihkan Apartemen barunya menyusun beberap barang dikamarnya dan memindahkan beberapa barang yang menurutnya tidak begitu enak dilihat.

Suara ponsel diatas meja menghentikan kegiatan Seo Na yang tengah asik mengobrak-abrik isi lemari es-nya. Gadis itu mendekat kearah sumber bunyi, seketika jantungnya kembali berdegup kencang saat membaca nama yang tertera dilayar ponsel miliknya, seakan siap merasakan sakit lagi gadis itu dengan segera mengangkat sambungan telefonnya.

“Y.. a, Oppa?”. Jawab gadis itu gugup, dan masih sama hati gadis itu seperti kembali ditusuk setiap kali ia mendengar suara pria itu, sejujurnya ia merindukan suara Dong Hae, suara yang dulunya selalu mengisi hari-harinya, suara yang membangunkan tidurnya dan suara yang membuatnya terlelap kedalam alam bawah sadarnya dan sekaligus suara yang ingin ia lupakan seumur hidupnya.

“baiklah, aku akan ke sana saat jam makan siang”. Akhiri gadis itu sebelum akhirnya cepat-cepat menutup sambungan telefonnya. Ia tidak ingin mengucapkan banyak kalimat, dan ia tidak ingin lebih banyak mendengar suara Dong Hae. Lagi-lagi hatinya mencolos sakit, gadis itu menekan dadanya sendiri, merasakan sakit yang luar biasa didalam sana. Tapi kehadiran seseorang dihadapannya saat ini membuatnya terkejut, bagaimana pria itu bisa masuk ke apartemennya! pekik Seo Na dalam hati.

To be continue

Advertisements

LEAVE BEHIND TO MEMORY (1/?)

Standard

cats

Aku tak bisa mengatakan ‘aku mencintaimu’, apa kau pernah mengetahuinya? malam-malam indahku yang berlalu ketika kita masih kecil My Old Story, IU

Kenangan limabelas tahun yang lalu kini mulai mengitari otak gadis itu. ia masih ingat saat pria yang kini tengah berdiri didepan altar itu berjanji kepadanya. Ia masih ingat saat pertemuan pertama mereka, dan ia masih bisa merasakan bagaimana sentuhan lembut tangan pria itu ketika mengusap kepalanya, dan semua perlakuan dari pria itu akan sirna dalam beberapa detik lagi.

Park Seo Na, tubuh gadis itu kini tengah bergetar hebat. menahan tubuhnya yang terasa semakin berat dan kaku, tapi bagaimanapun ia tidak akan mungkin pergi dari tempat ini. sederhana saja, andai saja ia bisa menganggap pria yang didepan itu adalah kakak laki-lakinya yang akan segera menikah dan mempunyai kehidupan baru, tapi bagi Seo Na semuanya tidak sesederhana itu karena apa yang ia rasakan terhadap pria yang kini sedang menunggu pengantin wanitanya itu sangat jauh dari hubungan sebagai adik kakak. Seo Na hanya tau ia mencintai pria itu, ia menginginkannya, namun kenyataan memang tidak pernah sejalan dengan apa yang ia harapkan. Apa ia harus mengatakan perasaannya ini?

~~~000~~~

15 years ago…

Seorang anak laki-laki turun dari dalam mobil sedan bewarna hitam itu, sejak tadi genggamannya tidak pernah lepas dari Tuan Park. Matanya terlihat ketakutan ketika ia baru menginjakkan kaki di kediaman keluarga kaya itu, matanya menangkap beberapa orang yang kini tengah menyambutnya. Lee Dong Hae, pria itu adalah anak dari rekan kerja keluarga Park. Kedua orang tua Dong Hae baru saja meninggal dunia akibat kecelakaan yang merenggut nyawa keduanya, semua terjadi begitu cepat hingga yang tersisa dari keluarga Lee hanya seorang Lee Dong Hae saja. karena itu keluarga Park mengangkat Dong Hae menjadi anak mereka, itu semua juga karena balas budi yang Tuan Park lakukan kepada rekan kerjanya itu. Tuan Lee dan keluarganya bukan hanya sekedar rekan kerja, tapi mereka sudah berteman sejak mereka baru memulai membangun perusahaan besar itu bersama-sama.

Dong Hae tetap menyembunyikan tubuhnya dibekalang tubuh Park Jung In, tinggi Dong Hae hanya sebahu -kepala keluarga Park- tersebut, orang-orang yang melihat kelakuan anak laki-laki itu hanya tersenyum dan mencoba menarik perhatian anak itu. Dong Hae merasa asing ditempat ini, ia tidak akan menemukan Ibu dan Ayah nya disini, ia akan memulai kehidupan baru bersama keluarga Park, dan mungkin ia juga akan mengganti marganya menjadi Park Dong Hae. Ini adalah kehidupannya hingga ia mengakhiri hidupnya nanti.

“Dong Hae Oppa, maukah kau bermain denganku?”. Seorang anak perempuan mendekat kearah Dong Hae, memakai baju gaun berwarna biru dengan bando berbentuk telinga kucing diatas kepalanya, ia juga menyeret boneka beruang yang terlihat jauh lebih besar dari tubuh mungilnya. Gadis kecil itu tersenyum kearah Dong Hae, menarik tangan anak laki-laki itu ke ruangan bermainnya.

“Seo Na-ya, jangan ajak Dong Hae Oppa-mu bermain boneka, ia seorang pria”. Suara lembut Nyonya Park menghentikan langkah Seo Na dan juga Dong Hae yang mengekori gadis kecil itu. Seo Na memajukan bibirnya yang mungil, lalu sedikit mengadahkan kepalanya.

“aku akan memperlakukan Dong Hae Oppa dengan baik, aku tidak akan membuatnya menangis dan aku akan memeluknya seperti aku memeluk beruang ini”.

~~~000~~~

Kenangan masa kecil gadis itu seketika buyar ketika riuh tepuk tangan para undangan didalam gereja begitu ramai tidak terkecuali Ibu Seo Na dan Ayahnya yang terlihat begitu bahagia dengan pernikahan anak angkatnya ini, Seo Na segera berdiri melihat kearah pintu utama gereja, dan benar saja kini seorang wanita cantik bertubuh langsing itu sudah memasuki gereja dengan gaun anggunnya. Seo Na akui, Yoo Ra begitu cantik dan penuh kelembutan jauh dari kesan dirinya yang begitu ribut dan tidak bisa berhenti bicara, dari segi manapun ia dan Yoo Ra begitu jauh berbeda, tidak salah jika kakak laki-laki gadis itu sangat mencintai Yoo Ra hanya saja keputusan ini terlalu cepat terjadi bahkan Seo Na belum mempersiapkan hatinya untuk menerima semua kenyataan ini, seharusnya waktu itu ia tidak menerima pria itu sebagai kakak angkatnya, seharusnya ia tidak jadi adik pria itu, dan semua penyesalan itu kini menari-nari dipikiran Seo Na.

Kedua pasangan itu kini sudah berdiri mantap didepan altar persis dihadapan Seo Na, dan sialnya tubuh Seo Na kini hampir ambruk ketika Dong Hae menyambut uluran tangan Yoo Ra padanya. Dong Hae, pria itu kenapa ia tidak pernah menyadari akan perasaan Seo Na selama ini, gadis itu hanya bisa memendamnya dan merasakan semua rasa sakit ini sendiri.

Pendeta didepan sana sudah mulai berbicara, sama sekali gadis itu tidak tertarik dengan apa yang diucapkan pria berbaju khas itu, matanya kini hanya sibuk memandangi tubuh Dong Hae, memperhatiakan wajah pria itu yang kini tampak tersenyum pada calon pengantinnya. Seketika tubuh Seo Na semakin berat, tumpukan air mata kini menumpuk dimatanya, ia tidak boleh menangis, bukankah ia ingin melihat Dong Hae Oppa-nya bahagia, bukankah ia tidak ingin melihat pria itu menangis lagi.

Seo Na kini kembali terperanjat ketika semua orang bertepuk tangan, ternyata cukup lama gadis itu berkutat dengan pikirannya yang semakin membuatnya gila, dan kali ini ia harus menyaksikan kedua orang dialtar itu tengah mencium satu sama lain, Seo Na hanya bisa menundukkan kepalanya, hari ini-Dong Hae pria yang ia cintai-sejak limabelas tahun yang lalu akan pergi meninggalkannya dan akan memulai hidup baru tanpa dirinya. Lee Dong Hae resmi menikah dengan Jung Yoo Ra.

kau sudah membohongiku, Lee Dong Hae!. Gumam gadis itu, dengan air mata yang seketika tumpah dipipinya, ia hanya bisa terus menunduk dalam menikmati setiap rasa sakit yang ada dihatinya saat ini, tanpa ia sadar kini sepasang mata tengah memperhatikan dirinya.

~~~000~~~

Seo Na meletakkan beruang besar itu dihadapan Dong Hae, sejak tadi anak laki-laki itu tidak memperdulikan sikecil Seo Na yang sudah heboh dengan dunia bermainnya. Seo Na berdecak pinggang lalu memandang sinis kearah Dong Hae. Anak laki-laki itu hanya memandanginya heran sambil berusaha memindahkan boneka beruang besar itu dari hadapannya.

 

“Yak! Kau tidak mau bermain bersamaku ya? kenapa dari tadi kau diam saja? Oppa tuli ya? atau Oppa bisu? Anak laki-laki memang tidak asik. Karena itu aku tidak mau bermain dengan anak laki-laki”. Oceh gadis kecil itu sambil melipat tangannya didada, Dong Hae yang umurnya berjarak 8 tahun dari Seo Na hanya mengusap rambut gadis itu pelan.

 

“aku tidak bisu, aku hanya merindukan kedua orang tuaku”. Ujar Dong Hae, pria itu kembali duduk lalu menundukkan kepalanya, tidak lama kemudian Seo Na hanya mendengar isakan tangis dari mulut Dong Hae, karena merasa bersalah gadis kecil itu duduk dihadapan Dong Hae.

 

“kau tidak boleh menangis, aku akan terus memelukmu, jadi berhentilah menangis”. Ucap Seo Na lalu memeluk tubuh anak laki-laki itu. Dong Hae menghentikan tangisnya lalu memandangi wajah Seo Na yang kini juga sudah penuh dengan air mata.

“Seo Na-ya, Oppa juga akan terus berada disampingmu”.

~~~000~~~

Seo Na melepas high heels yang ia kenakkan sejak acara pernikahan Dong Hae, ia kini sudah keluar dari dalam gereja beberapa menit setelah ia menyaksikan pria itu mencium Yoo Ra yang kini sudah resmi menjadi istrinya. Gadis itu berjalan ditepian sungai Han, mencoba memperbaiki suasanya hatinya yang begitu kacau, udara musim gugur begitu sesuai dengan apa yang ia rasakan saat ini. tidak seperti musim gugur sebelumnya, musim gugur kali ini adalah yang paling menyiksa batinnya. Sejak tadi air mata tidak pernah kering dari pipinya, gadis itu menangis ia hanya bisa terisak dan tidak bisa mengatakan apa-apa untuk menjelaskan isi hatinya saat ini. Seo Na merasa begitu hancur, harus ia kemanakan cinta yang ia miliki selama limabelas tahun didalam hidupnya, Dong Hae adalah pria pertama yang ia kenal sekaligus pria pertama yang mengisi hari-harinya.

Gadis itu terus berjalan, tanpa ia sadar kini ia sudah cukup jauh meninggalkan mobil mewahnya yang terparkir jauh dibelakangnya. Seo Na berhenti sejenak menghirup banyak-banyak udara disekitarnya, sebelum beberapa detik kemudian seseorang menubruk tubuhnya dari belakang membuat tubuh gadis itu terhuyung kedepan, kekuatan Seo Na yang sudah terkuras sejak seharian ini tidak bisa menyeimbangi tubuhnya, alhasil lutut gadis itu mendarat mulus di bebatuan dan benar saja darah mulai mengalir dari lutut mulus gadis itu.

“maaf Nona, aku benar-benar tidak melihatmu. Apa aku bisa melihat lukanya?”. Suara berat seorang pria kini terdengar dihadapan Seo Na, gadis itu masih menunduk memperhatikan lukanya yang tampak begitu menyedihkan.

“aku akan memberimu ganti rugi”. Ujar pria itu lagi.

Seo Na menahan amarahnya, hari ini kenapa ia begitu terlihat sangat menyedihkan. Luka didalam hatinya yang terluka begitu parah dan sekarang ia harus mendapatkan luka dilututnya.

“apa kau tidak tau caranya bersikap sopan? Aku tidak butuh uangmu”. Tandas gadis itu, menatap sinis kearah pria dihadapannya itu. Pria itu terkekeh lalu ia mengulurkan tangannya kehadapan Seo Na.
“maafkan aku Nona, sepertinya kau yang berlebihan menanggapi kata-kataku, aku hanya-“.

“bisakah kau pergi dari sini? Atau aku yang pergi saja? makhluk yang bernama pria itu memang menyebalkan! Terimakasih atas lukanya ajhussi!”. Teriak gadis itu lalu berusaha berdiri, menahan sakit dilututnya berjalan meninggalkan pria itu dibelakangnya. Setelah ini ia akan benar-benar gila oleh makhluk yang bernama pria. Seo Na meninggalkan tempat itu, dan tujuan selanjutnya ia tidak akan memilih kembali pulang kerumah.

“namaku Cho Kyu Hyun, dan aku masih sangat muda untuk kau panggil ajhussi”. Pria itu menatap punggung Seo Na, ia tersenyum mendengar gadis itu memanggilnya paman.

~~~000~~~

Pria bertubuh jakung itu berjalan sedikit tergesa, menyusul gadis yang baru saja meninggalkan gereja tempat acara pernikahan itu dilangsungkan , sejak tadi ia tidak berhenti menatap kearah gadis itu memperhatikan bahunya yang turun naik dan kepalanya yang terus tertunduk. Kyu Hyun bukan pria yang suka mencampuri urusan orang lain , tapi untuk kali ini ia merasa hatinya tergerak untuk mengikuti gadis itu, sejak awal ia berada didalam gereja inipun matanya tidak pernah lepas menangkap wajah gadis itu yang lebih terlihat menyedihkan.

Kyu Hyun tidak bisa mengontrol kakinya yang berjalan begitu cepat. Ia merasa khawatir. Ada rasa ingin tau yang kuat yang kini tengah ia rasakan, dan jangan tanya kenapa pria dingin itu mengkhawatirkan keadaan gadis yang kini mengendarai mobil jenis ford-nya secara urak-urakan, karena ia sendiri tidak tau alasannya apa. Jejak gadis itu menghilang, diantara banyaknya kendaraan yang berlalu lalang di Kota Seoul. Matanya terus mencari kemana mobil gadis itu melesat dan tepat saja mobil bewarna merah bata itu terparkir sembarangan di taman dekat tepian sungai Han. Kyu Hyun turun dari mobil mewahnya berjalan menelusuri taman yang tidak terlalu ramai, dedaunan pepohonan disekitar taman tampak gugur. Pria itu berjalan setengah berlari, menoleh kesekelilingnya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.

Bruk!

Suara hantaman keras tubuhnya membuat gadis yang dihadapannya ini kini sudah berlutut ditanah, Kyu Hyun cukup terkejut sebelum akhirnya ia melihat luka cukup serius di lutut gadis itu.

“maaf Nona, aku benar-benar tidak melihatmu. Apa aku bisa melihat lukanya?”. Ucap Kyu Hyun, sebelum gadis itu mengadah kearahnya, dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan. Mata pria itu membulat ketika ia sadar siapa gadis yang ada dihadapannya ini, gadis yang menjadi tujuannya berada ditaman siang ini.

~~~000~~~

Seo Na mengendarai kuda besinya dengan kecepatan diatas rata-rata, ia tidak memeliki tujuan saat ini, ia hanya ingin pergi sejauh yang ia bisa dan tidak pernah lagi melihat wajah pria itu. luka dilututnya masih terasa hingga sekarang, tapi semua itu tidak terlalu dirasakan gadis itu, sakit dihatinya lebih mendominan ditambah air mata yang terus mengalir dari matanya. Seo Na hanya ingin menyembuhkan hatinya, membuat semuanya menjadi lebih baik apapun caranya sekalipun jika ia harus angkat kaki dari rumah tempat tinggalnya selama ini, rumah yang menjadi saksi bisu antara ia dan Lee Dong Hae.

Gadis itu menginjak pedal rem mobilnya, menepikan mobil itu pada jalanan yang cukup sepi menghirup banyak-banyak oksigen disekelilingnya. Ditempat ia saat ini sangat sepi, jika ia berteriak orang-orang tidak akan mendengarnya, tidak akan ada yang mengatakan jika gadis ini tengah mengalami gangguan jiwa atau semamacamnya.

“kenapa kau menyukai boneka gemuk ini? kau tidak keberatan menyeretnya”. Dong Hae menunjuk perut besar boneka beruang disamping gadis kecil itu. Seo Na meraih boneka itu lalu memeluknya.

 

“karena ia mau ku peluk, ia tidak pernah menolak jika aku memeluknya”. jawab Seo Na, anak laki-laki dihadapannya itu hanya tertawa geli. Sudah hampir satu minggu Dong Hae tinggal bersama keluarga Park, disini ia memang tidak memiliki Ibu dan Ayah-nya lagi, tapi ia punya Seo Na, gadis kecil yang menjadi adiknya hingga kapanpun, gadis kecil yang selalu menemaninya ketika ia sudah kembali dari sekolah, gadis kecil yang akan memeluknya ketika ia merindukan kedua orang tuanya, gadis kecil yang sangat Dong Hae sayangi.

“Oppa, apa kau menyukaiku? Apa kau tidak risih bermain bersamaku?”. Tanya Seo Na, bibir mungilnya tampak sedikit menganga, menanti jawab dari Oppa-nya itu.

Dong Hae tersenyum, kembali mengusap puncak kepala Seo Na.”Oppa, sangat menyukai Seo Na. Karena itu Seo Na juga harus menyukai Oppa”. Ujar Dong Hae, dan Seo Na tampak girang dengan jawaban kakak laki-lakinya itu, Seo Na melompat dan menari bersama boneka beruangnya yang ukurannya lebih besar dari tubuh Seo Na.

 

“Oppa, berjanjilah besok kau harus menikah denganku”.

~~~000~~~

Lamunan masa kecil gadis itu seketika buyar, ketika ponsel yang berada disamping jok kemudi gadis itu bergetar. Ie melirik kearah benda bewarna silver itu lalu menyambar benda itu kedepan wajahnya, tertera disana nama ‘Lee Dong Hae’. tiba-tiba saja, mata gadis itu kembali memanas, bibirnya kembali bergetar, ia tidak mungkin mengangkat panggilan dari pria itu dalam keadaan seperti ini tapi ia juga tidak mungkin jika mengabaikan panggilan telepon dari kakak laki-lakinya itu, ia tidak ingin membuat Dong Hae khawatir tentang dirinya.

Yeoboseyeo?”. Jawab gadis itu dengan nada ceria yang lebih terkesan dipaksakan. Demi apapun, Seo Na masih belum siap mendengar suara Dong Hae yang selalu menenangkan hatinya.

“Na-ya, kau dimana? Kau menghilang ditengah acara, aku mencarimu kemana-mana”. Tanya pria itu dari seberang sana, Seo Na ingin sekali berteriak kencang mengatakan jika ia saat ini sedang tidak ingin bertemu pria itu, karena itu hanya akan membuat hatinya semakin hancur.

“aku sedang dengan teman-temanku Oppa, jangan khawatir, tadi aku langsung bertemu dengan teman-temanku setelah acara pernikahanmu. Kau tau, aku melihatmu berciuman dengan Yoo Ra Eonni dan-”. Suara gadis itu tercekat, ia ingin sekali tetap ceria saat berbicara dengan Dong Hae tapi hatinya berkata lain, ia sangat sakit ketika melihat pria yang dicintainya itu berciuman dihadapan orang banyak.

“Na-ya?”.

“kau sangat keren! Oppa ku benar-benar keren! Baiklah aku harus pergi kesuatu tempat dengan teman-temanku, katakan pada Eomma dan Appa aku akan pulang larut malam”. ucap gadis itu sebelum akhirnya ia memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak, ia tidak kuat lagi jika harus bersandiwara dengan suara yang dibuat-buat ceria dihadapan Dong Hae, ini adalah keadaanya sekarang, Seo Na yang masih tidak bisa menerima semua kenyataan yang terjadi dalam hidupnya. Gadis itu kembali melanjutkan perjalannya, ia tau tempat apa yang harus ia kunjungi saat ini, tempat dimana ia akan melupakan semua sakit yang ia rasakan saat ini.

~~~000~~~

Kyu Hyun menduduki salah satu kursi dikedai tepi jalanan yang biasa menyediakan Soju dan makanan hangat khas Korea, pria itu memesan sebotol Soju seporsi ttoppoki dan jajjangmyeon. Kyu Hyun memang lebih suka tempat seperti ini dibanding restoran yang harga makanannya selangit, bukan pria itu tidak memiliki cukup uang tapi pemimpin perusahan Cho Company itu lebih suka menghabiskan malamnya yang melelahkan ditempat seperti ini dimana baginya tidak ada yang membedakan status sosial seseorang ditempat ini.

Mata pria itu kini beralih pada jalanan kota Seoul yang tidak lagi seramai saat siang, musim gugur juga menambah udara malam semakin dingin dan itu menandakan jika sebentar lagi musim salju akan segera datang. Pria itu mempererat mantel tebalnya, mulut Kyu Hyun juga tampak berasap akibat udara dingin malam ini. ekor mata Kyu Hyun terhenti ketika menangkap mobil bewarna merah terparkir tidak jauh dari tempat ia berada saat ini, tak lama setelah itu seorang wanita keluar dari mobil mewah itu. gadis itu masih menggunakan gaun putih dan kali ini keadannya tampak lebih hancur dari siang tadi saat Kyu Hyun bertemu dengannya ditaman. Kyu Hyun mengalihkan pandangnnya pada lutut gadis itu, benar saja bekas darah masih berceceran dilutut gadis itu keadaannya saat ini benar-benar tampak menyedihkan.

Gadis itu berjalan melalui Kyu Hyun, memesan beberapa botol alkohol yang kini sudah teronggok didepannya. Pikiran Kyu Hyun benar, gadis ini pasti bermaksud untuk mabuk ditempat seperti ini, ia begitu yakin apalagi saat melihat keadan gadis itu yang terlihat sangat jauh dari kata baik-baik saja. Kyu Hyun menahan diri untuk tidak mendekat kearah gadis itu, ia sama saja menyerahkan dirinya pada maut jika berhadapan lagi dengan gadis itu lagi, bukankah tadi siang dia sudah membuat gadis itu kesal ditambah lagi ia sudah membuat luka yang cukup serius dilutut gadis itu.

Beberapa lama Kyu Hyun terus memperhatikan gadis itu dari tempat ia berada saat ini, jarak mereka tidak terlalu jauh, gadis itu juga tidak akan menyadari jika ia juga berada ditempat ini. cukup lama sampai akhirnya kepala gadis itu ambruk pada meja ditempatnya, dan saat ini waktu yang tepat bagi Kyu Hyun untuk mendekat kearah gadis itu.

Kyu Hyun duduk tepat dihadapan gadis itu, ia memperhatikan mata gadis itu yang kini sudah tertutup rapat tapi tunggu dulu Kyu Hyun kali ini malah menangkap keganjalan yang aneh dan benar saja gadis yang berada dihadapannya saat ini sedang menangis, bibirnya juga terlihat bergetar ia juga mengucapkan sesuatu yang tidak terlalu terdengar oleh Kyu Hyun.

“permisi Nona, apa kau sudah mabuk?”. Pertanyaan Kyu Hyun memang terdengar konyol, tapi pria itu hanya memastikan jika gadis yang dihadapannya saat ini sudah seratus persen dalam keadaan mabuk.

“Nona? Kau benar-benar sudah mabuk ya? aku hanya ingin mengatakan jika aku minta maaf soal tadi siang, aku benar-benar tidak sengaja menabrakmu dan membuat luka dilututmu”. Jelas pria itu tanpa peduli jika gadis yang dihadapannya saat ini mendengarnya atau tidak.

“baiklah, aku sudah minta maafkan? Aku pergi dulu”.

Oppa, bisakah kau tinggal sebentar disini bersamaku?”. Akhirnya gadis itu bersuara, dan kali ini Kyu Hyun bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan gadis itu saat ini.

Kyu Hyun berbalik, menahan langkahnya. “apa kau menggilku?”. Tanya pria itu penasaran.

Oppa? Bisakah kau tinggal bersamaku? Hanya sebantar saja”. suara gadis itu terdengar bergetar, kali ini hanya isakan yang keluar dari mulutnya, ya gadis itu menangis. Kyu Hyun beringsut kearah gadis itu, ia duduk tepat disampingnya. Ia tidak tau, apa yang harus ia lakukan kali ini dengan keadaan gadis yang sedang mabuk dan tengah menangis dihadapannya.

Kyu Hyun mengulur tangannya, mengusap lembut kepala gadis itu. “Dong Hae Oppa, Lee Dong Hae. Bisakah kau menganggapku sebagai wanita bukan adikmu?”. Kyu Hyun terhenyak seketika, ia menarik tangannya perlahan. Kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu cukup membuatnya terkejut. Bukankah gadis itu baru saja menyebutkan nama seorang pria yang ia kenal? Ya, Lee Dong Hae, pria yang baru saja melangsungkan pernikahannya tadi siang.

~~~000~~~

“apa dia baik-baik saja? bagaimana ia bisa berada ditempat itu”. suara Yoo Ra tampak terdengar khawatir, Dong Hae tersenyum lalu mengusap lembut lengan istrinya itu.

“dia baik-baik saja, Kyu Hyun yang memberi tahuku jika Seo Na berada disana ia juga yang mengantar Seo Na kembali kerumah. sekarang Eomma sedang menggantikan pakaiannya setelah itu kita akan melihatnya dikamar”. Ujar Dong Hae menenangkan wanitanya itu, Yoo Ra tampak bernapas lega.

“Dong Hae-ya, Seo Na sudah istirahat dikamarnya. Bagaimana kau bisa kemari? Bukankah kalian harus menghabiskan waktu berdua?”. Suara Nyonya Park mengalihkan pandangan keduanya, Ibu Seo Na tampak cantik seperti biasanya meskipun umur wanita itu sudah tidak lagi muda.

“Ah, Eomma. Aku hanya ingin memastikan keadaan Seo Na, Seo Na tidak pernah seperti ini sebelumnya, aku begitu khawatir”. Ujar pria itu, Ibu angkat pria itu tampak tersenyum.

“Seo Na mungkin terlalu banyak bergaul dengan teman-teman barunya, adikmu itu sudah mulai tumbuh dewasa mungkin ia hanya ingin tau bagaimana rasanya alkohol. Tidak usah khawatir, lebih baik kau kembali ke Apartemen bersama Yoo Ra”. Ucap wanita itu, Yoo Ra tampak tersenyum disamping suaminya itu.

“baiklah, tapi aku akan melihat keadaan Seo Na dulu setelah itu aku akan kembali”. Dong Hae berlalu menuju kamar adik kecilnya itu, sedangkan istrinya asik berbincang dengan Nyonya park diruangan lain.

Dong Hae membuka perlahan pintu kamar Seo Na, mendapati gadis itu kini tengah terbaring dengan mata yang tertutup rapat. Pria itu mendekat kearah Seo Na duduk dipinggiran ranjang gadis itu sambil memperhatikan wajah Seo Na yang tertidur. Sebelum ia menikah, pemandangan seperti ini sangat sering ia alami, menemani adik perempuannya ini hingga tertidur lelap dan mengusap lembut rambut Seo Na yang kecoklatan.

“Oppa, kau harus menemaniku hingga aku tertidur. Aku tidak suka kegelapan”. Ucap gadis kecil itu pada Dong Hae, Dong Hae mengangguk sambil menarik selimut adik perempuannya itu hingga perutnya.
“aku akan menemanimu hingga kau tertidur”. Jawab anak laki-laki itu.

 

“berjanjilah untuk terus menemaniku dan jangan pernah meninggalkanku sendiri”.

Dong Hae masih ingat percakapannya bersama Seo Na beberapa tahun silam, ia masih ingat dengan janjinya untuk menemani gadis kecil itu hingga ia tertidur, dan Dong Hae tau persis jika Seo Na tidak menyukai kegelapan. Yang berada dihadapannya saat ini memang bukan Seo Na adik kecilnya seperti 15 tahun lalu, Seo Na yang sekarang adalah Seo Na yang begitu cantik, Seo Na yang selalu ceria dihadapannya gadis yang tidak pernah memperlihatkan wajah sedihnya. Untuk kedepannya ia akan jarang melihat wajah gadis ini, wajah Yoo Ra akan menemani hari-harinya dimasa depan dan Seo Na akan tetap menjadi adik kecil yang pernah ia miliki selama ini.

“Na-ya, wajahmu terlihat pucat. Kyu Hyun juga mengatakan jika lututmu terluka, kau juga terlalu banyak minum. Na-ya, kau tidak boleh menjadi gadis nakal, kau adalah Park Seo Na adik kecilku”. Ujar pria itu dengan setengah berbisik, tetap mengelus puncak kepala Seo Na.

“Na-ya, Oppa harus kembali. Jaga dirimu, aku akan sering berkunjung untuk melihatmu”. Dong Hae mengecup kening Seo Na sebelum akhirnya berbalik untuk meninggalkan gadis itu, namun kini langkah Dong Hae terhenti ketika genggaman tangan seseorang terasa dipergelangan tangannya.

Oppa, bisakah kau tidak pergi dariku?”.

~~~000~~~

Dong Hae menyandarkan tubuhnya dikursi putar ruang kerjanya, pria itu memang sengaja tidak mengambil cuti untuk bulan madunya bersama Yoo Ra, lagi pula perusahaan keluarga Park memang saat ini berada ditangannya. Sejak Tuan Park menyerahkan perusahaan pada Dong Hae pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya dikantor mengurusi semua urusan perusahaan itu.

Pria itu menarik napasnya gusar, memandang kearah langit-langit ruang kerjanya. Pikirannya kini tertuju pada ucapan adik perempuannya tadi malam kepadanya, ucapan yang membuatnya lupa bagaimana cara mengambil napas dalam sekejap dan lagi bagaimana semua ini terjadi begitu saja tanpa ia rasakan, haruskah ia menyalahkan keadaan? Semua sudah terlanjur bukan?

“Oppa bisakah kau tidak pergi dariku?”. Dong Hae membalikkan badannya mendapati wajah Seo Na yang kini dipenuhi air mata, tatapannya begitu menyedihkan bahkan Dong Hae tidak pernah melihat adiknya semenyedihkan ini sebelumnya.

 

“Na-ya, Oppa harus kembali. Besok aku akan kemari untuk melihatmu”. Ujar pria itu lalu mengambil posisi duduk persis ditepi ranjang gadis itu. “apa ada yang salah? kenapa kau menangis? Seharusnya kau bahagia melihatku bahagia”. Lanjut Dong Hae tanpa menyadari air mata Seo Na yang kini semakin deras mengalir, kata-kata pria itu hanya semakin membuat Seo Na hancur.

“Dong Hae-ssi, bisakah kau menganggapku sebagai wanita? Bukan adikmu?”. Ucapan yang keluar dari mulut Seo Na memang terdengar tercekat tapi Dong Hae masih bisa dengan jelas mencerna apa yang baru saja gadis itu ucapkan padanya. Bagaimana Seo Na, adik kecilnya mengatakan hal itu padanya?

“Na-ya, apa maksudmu?”.

“aku mencintaimu Lee Dong Hae, bisakah kau menganggapku sebagai wanita? Selama 15 tahun aku memendam semua ini sendirian, apa kau tidak menyadarinya? Aku mencintaimu, aku-“.

“Cukup Park Seo Na! Kau sudah keterlaluan, bagaimana kau bisa berkata demikian? Apa yang kau pikirkan?!”. Teriakkan Dong Hae lolos begitu saja dari mulutnya, kali ini ia benar-benar tidak bisa mengontrol apa yang ia rasakan. Pengakuan Seo Na cukup membuatnya gila.

“jika kau tidak bisa menganggapku sebagai wanita, aku akan membuatmu menyadari semua ini Lee Dong Hae”.

Dong Hae kembali tersadar dari lamunannya, ketika pintu ruang kerjanya terbuka dan disana kini sudah berdiri seorang pria yang mengantar adiknya tadi malam. Cho Kyu Hyun, adalah rekan kerjanya, pria itu adalah pemimpin Cho Company perusahaan besar yang kini sudah setara dengan perusahaan Park Corp yang dipimpin Dong Hae.

Kyu Hyun sedikit tersenyum kearah pria itu, ia mengambil posisi disofa yang terletak rapi diruangan kerja Dong Hae, pria itu juga ikut duduk dihadapan Kyu Hyun ia juga tidak tau apa maksud kedatangan pria bertubuh jakung itu keperusahaannya terlebih tanpa menghubunginya.

“apa yang membawamu kemari Kyu?”. Tanya pria itu, Kyu Hyun hanya menggeleng pelan sambil mengusap tengkuknya.

“tidak ada, ya hanya sedikit”.
“soal Seo Na?”.

Kyu Hyun tersenyum lalu pria itu mengangguk. “ada yang ingin kusampaikan padamu Hyung”. Kali ini wajah Kyu Hyun tampak serius dari sebelumnya, maksud kedatangannya bukan karena Seo Na yang ia bawa pulang dalam keadaan mabuk, tapi ucapan yang gadis itu katakan pada Kyu Hyun sebelumnya.

“mungkin kau akan kaget mendengar ini, atau sebaliknya tapi-”. Kyu Hyun menghentikan kata-katanya, membuat pria dihadapannya ini tampak semakin penasaran, Dong Hae memajukan tubuhnya beberapa senti kedepan.

“ia memintamu untuk menganggapnya sebagai wanita, bukan adik perempuanmu”. Ujar pria itu, Dong Hae tertohok ditempatnya, kali ini pria itu memundurkan tubuhnya kesandaran Sofa, jadi Seo Na juga mengatakan hal itu ketika ia mabuk, jadi Dong Hae tidak salah dengan percakapan Seo Na tadi malam.

“aku sudah tau”.

“apa? sejak kapan?”. Kyu Hyun terkejut, ekspresinya tampak sangat berbeda dari sebelumnya.

“ia juga sudah mengatakan hal itu tadi malam padaku, aku juga baru tau”. Keduanya sama-sama terdiam, masih shok dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Kyu Hyun masih tidak percaya dengan perasaan Seo Na yang mencintai kakak angkatnya sendiri dan Dong Hae masih tidak bisa mencerna semua ini dengan baik, terlalu rumit, Mungkin.

“karena itu dia pergi dari acara pernikahanku diam-diam, karena itu ia mabuk untuk yang pertama kalinya, karena itu juga ia tampak menyedihkan, selama ini ia tidak pernah seperti ini”. lanjut Dong Hae, pria itu tampak tertunduk dalam, ia menyayangkan semua ini, menyayangkan kenyataan tentang adik yang ia sayangi itu tapi Dong Hae mengerti jika semua ini bisa terjadi, bukankah satu-satunya pria yang mengisi hari-hari Seo Na hanya dirinya, dan lagi ia hanya kakak angkat gadis itu jadi jikapun Seo Na menyukainya tidak ada yang salah akan hal itu.

“jadi setelah ini apa yang akan kau lakukan untuknya?”. Kyu Hyun tampak menyandarkan tubuhnya di sofa menunggu jawaban yang tepat keluar dari mulut pria didepannya ini yang kini tengah menompang kepalanya dengan kedua tangannya.

Dong Hae cukup lama terdiam, ia tidak bisa menjawab bagaimana sikap yang harus ia ambil setelah mengetahui perasaan Seo Na terhadapanya, ia sudah memiliki seorang istri disisi lain ia tidak akan membiarkan kedua orang tua angkatnya mengetahui hal ini sama saja ia menjebak Seo Na dalam lubang neraka bisa-bisa gadis itu diusir dari rumahnya. Tapi jika ia membiarkan ini terjadi apa ia sanggup melihat Seo Na menderita lebih lama lagi, melihat gadis itu mabuk-mabukkan, melihat adik kesayangannya hancur karena dirinya, ia tidak akan membiarkan itu terjadi.

“aku tau ini adalah situasi yang sulit Hyung, aku akan membantumu jika kau butuh bantuanku. Baiklah, aku akan kembali kekantor, aku harap kau baik-baik saja”. ujar Kyu Hyun akhirnya sebelum meninggalkan Dong Hae yang kini duduk terdiam disofa beludru bewarna hijau tua itu. kedua mata Dong Hae tampak menerawang memikirkan segela cara untuk masalah ini, jika ia memikirkannya sesederhana mungkin, mungkin saja ini tidak terlalu berat untuknya, tapi entah kenapa ada yang lain yang kini pria itu rasakan, menolak Seo Na dan perasaannya? Apa pria itu sanggup?

To be Continue

CRAZY IN LOVE (2/?)

Standard

j

I look and stare so deep in your eyes
I touch on you more and more everytime
call your name two, three times in a row

– Crazy In love , Beyonce

Seo Na tampak bingung, orang-orang tampak mondar mandir dihadapannya. Matanya juga sejak tadi mencari sosok Cho Kyu Hyun tapi ia tak menemukan pria itu. tiga hari lagi pesta pernikahan mereka, pesta yang terjadi mendadak baru direncanakan sejak pria itu mengajak Seo Na menikah. Seo Na masih tak mengerti dengan apa yang terjadi, bahkan saat itu ia sempat tertawa lalu memukul pipinya sendiri agar ia terbangun dari mimpinya tapi tidak, Kyu Hyun baru saja melamarnya, bukan melamar lebih tepatnya memintanya untuk menikah dengan pria itu. dengan tatapan bodohnya Seo Na hanya mengangguk lalu pria itu memeluknya.

Semua terjadi begitu cepat dan sekarang yang ia lihat adalah orang-orang yang tengah sibuk mempersiapkan pesta mereka. “Na-ya”. suara lembut itu menghalau pikiran Seo Na yang melayang-layang.

Gadis itu tertegun sebentar mengamati wajah wanita dihadapannya saat itu. “aku Ahra, Cho Ahra. Kakak Cho Kyu Hyun”. Jelas wanita itu pada Seo Na, menyadari siapa yang berada dihadapannya saat ini Seo Na segera membungkuk memberi hormat pada Ahra gadis itu jadi salah tingkah.

“kau sangat cantik jika dilihat secara langsung Seo Na, tidak heran jika Kyu Hyun menginginkamu”. Ahra terkekeh geli, ditambah ekspresi wajah Seo Na yang seketika berubah merona dan salah tingkah. “masuklah, Kyu Hyun ada didalam”. Tawar Ahra mengulurkan tangannya pada Seo Na, gadis itu meraihnya lalu tersenyum kearah calon kakak iparnya itu.

Ini pertama kalinya Seo Na menginjakan kaki di rumah keluarga Kyu Hyun, rumah yang sangat luas dengan cat dinding putih gading menambah kesan kokoh rumah megah itu. tapi kini tatapan Seo Na teralihkan pada pemandangan didepannya, seorang pria yang duduk begitu tampan dengan buku bacaan ditangannya. Cho Kyu Hyun, dengan pakaian rumahan yang begitu sederhana, rambutnya acak-acakan terlihat begitu sangat seksi dimata Seo Na.

“Kyu Hyun, Seo Na sudah lama menunggu diluar dan ia berdiri disana menunggumu. Kenapa kau mengabaikannya?”. Ahra berceloteh pada adik laki-lakinya itu memukul pelan lengan Kyu Hyun.
“Seo Na?”. Kyu Hyun kaget, ia segera melempar buku ditangannya ke meja, lalu terkekeh pada kakaknya. “aku benar-benar tak menyadarinya”.

“baiklah, aku akan mengurus tatanan dekorasi pesta kalian. Na-ya berhati-hatilah”. Ujar Ahra mengedipkan satu matanya kearah Seo Na, membuat Seo Na terkekeh lalu pandangannya mengarah pada wajah Kyu Hyun yang tampak bingung melihat keduanya.

Kyu Hyun kembali fokus pada gadis dihadapannya itu. “apa kau sudah lama menunggu Na-ya? maaf kan aku”. Pria itu berdiri tepat dihadapan Seo Na, membuat gadis yang berada dihadapannya saat itu harus mendongakkan kepalanya keatas.

Seo Na tersenyum lalu gadis itu menggelang. Jika harus menunggu selama berjam-jam diluar pun Seo Na tak akan marah pada Kyu Hyun. “aku harus mengatakkan sesuatu padamu Kyu Hyun-ssi”. ujar gadis itu ragu-ragu, mata Seo Na tampak beralih menatap taman hijau cantik dibelakang punggung Kyu Hyun, gadis itu sedikit menaikkan alisnya. Lalu kembali fokus pada Kyu Hyun.
“ada apa? sesuatu terjadi?”. Pria itu mengernyit, matanya masih menatap paras Seo Na yang tampak kebingungan.

“soal pernikahan ini, apa semua ini tidak terasa terlalu cepat. Bahkan kau belum mengenalku”. Gadis itu meremas jemarinya, kali ini ia menunduk membuat pria dihadapannya itu menghela napas panjang lalu menarik dagu Seo Na keatas untuk menatap matanya.

“seharusnya aku mengatakan hal yang sebenarnya Na-ya, mari ikut aku”. Kyu Hyun menarik tangan gadis itu lembut, menuntun Seo Na pergi ke suatu ruangan dirumahnya. Ruang pribadi pria itu.

~~~000~~~

Seo Na menatap sekeliling ruangan itu, ruangan yang dipenihu oleh buku-buku yang tersusun rapi didalam lemari dan beberapa buku yang tertumpuk dimeja baca besar dekat mereka. Seo Na takjub akan kepribadian Kyu Hyun, ia juga punya buku yang cukup banyak tapi tak sebanyak buku-buku yang berada diruangan ini. Seo Na hanya bisa terperangah.

“kau boleh meminjamnya juga kau ingin”. Suara itu membuat Seo Na bangun dari lamuannnya, gadis itu tersenyum salah tingkah. Lagi-lagi ia hanya membuat dirinya terlihat seperti gadis yang benar-benar norak, bisik batin gadis itu.

“jika aku mempunyai buku sebanyak ini aku akan menghabiskan waktu berada didalam ruangan ini, membaca setiap buku yang mungkin cocok dengan selera ku”. ujar gadis itu lalu kakinya beranjak dari tempat ia berdiri sebelumnya lalu ikut duduk dihadapan Kyu Hyun yang kini asik menatap gerak-gerik Seo Na.

“setelah kita menikah kau boleh menghabiskan waktu ditempat ini, bahkan jika kau ingin kita bisa bercinta disini”. Kalimat Kyu Hyun barusan berhasil membuat Seo Na menatap pria itu dengan mata melotot sebelum akhirnya pipi Seo Na kembali merona. Bisa-bisanya pria itu membicarakan tentang bercinta setelah mereka menikah.

“Hahaha aku bercanda, kita bisa melakukannya di ranjang”. Tambah pria itu akhirnya hanya membuat keadaan pikiran Seo Na semakin memburuk, ia malah membayangkan bagaimana jika ia bercinta dengan pria itu nantinya. “jangan pikirkan hal yang tidak-tidak Seo Na. Otakmu yang cantik itu tidak boleh berpikiran kotor”. Kyu Hyun terkekeh menatap Seo Na yang menundukkan kepalanya karena ucapan pria itu.

Sial!

“jadi kau akan menjelaskannya padaku kan?”. Seo Na mengalihkan pembicaraan mereka dari pembahasan tentang –bercinta- mungkin ia akan lebih fokus jika membicarakan tentang hal yang lainnya.

Kyu Hyun tersenyum lalu mengulurkan tangannya kedepan, meminta Seo Na menyambut tangan itu. Seo Na tampak bingung sebelum akhirnya menyambut tangan Kyu Hyun dan gadis itu duduk persis disamping Kyu Hyun dengan tangan pria itu yang melingkar dipinggangnya. “aku sudah memperhatikan mu sejak lama Na-ya”. ujar pria itu tulus, ia mengungkap kebenaran di atas sebuah kebenaran yang tersimpan.

Seo Na tetap berada didalam pelukan Kyu Hyun menyandarkan kepalanya didada pria itu. dan terasa sangat hangat.

“saat kau tersenyum padaku di dalam lift saat itu, pertemuan pertama kita”. Tambah Kyu Hyun, Seo Na mencerna kata-kata Kyu Hyun lalu gadis itu melepas pelukan Kyu Hyun dan menatap mata pria itu terkejut.

“jadi? Saat itu kau juga…”.

“ya, aku menyukaimu mulai detik itu dan perasaanku semakin bertambah saat aku memimpin perusahaan dan menikmati wajahmu yang selalu serius didepan layar komputer. Dari dalam ruangan ku, aku bisa melihat dengan jelas kegiatanmu saat kau bekerja. Bahkan waktu itu aku juga melihatmu melepaskan kancing kemejamu saat jam istirahat”. Penjelasan pria itu membuat Seo Na terperangah, jadi pria itu bisa melihat apa yang dilakukannya, sekaligus waktu itu? saat ia membuka kancing kemejanya karena merasa sangat panas.

Ya, saat itu semua orang beristirahat. Tidak ada yang berada didalam ruangan hanya dirinya sendiri, gadis itu juga berpikir atasannya yang ia gilai itu juga tak berada didalam ruangannya, dengan bebas Seo Na melepas semua kancing kemeja putihnya dan berkipas semau yang dia ingin saat itu, dan sialnya Kyu Hyun memorgokinya? Batin Seo Na mengerang.

“itu bonus, selain melihat wajah cantikmu yang serius menatap layar komputer”. Tambah Kyu Hyun, Seo Na menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Ia yakin Kyu Hyun juga tau berapa ukuran cup bra-nya. Atau jangan-jangan pria itu masih ingat warna Bra yang ia pakai?

“warna merah menyala”. Tambah Kyu Hyun, lalu pria itu tertawa keras tanpa peduli jika gadis dihadapannya ini wajahnya benar-benar berubah seperti kepiting rebus. Seharusnya Seo Na berpikir saat itu, dan kini gadis itu hanya bisa mendengar tawa Kyu Hyun. Sial!

~~~000~~~

Kyu Hyun asik memperhatikan gadis di hadapannya saat ini, sejak sejam yang lalu posisi mereka tetap sama, gadis itu membaca dengan serius didepannya dan Kyu Hyun yang tengah menyelesaikan laporan kantor dan arsip-arsip yang harus ia selesaikan menjelang hari pernikahannya. Sebenarnya Kyu Hyun tak fokus pada apa yang ia kerjakan, ia ingin lenih menikmati wajah gadis dihadapannya itu, wajah polos yang begitu serius dengan bacaannya. Buku tebal yang membahas tentang ideologi manusia dan perkembangan bisnis. Dan sekali lagi Kyu Hyun begitu tertarik dengan kepribadian Seo Na, didalam wajahnya yang polos dan tak banyak bicara gadis itu memiliki otak yang cerdas dan pintar terlihat seperti sekarang saat ia begitu tekun dengan bacaannya seperti gadis itu tak akan menemui hari esok, ia begitu serius.

“Park Seo Na..”. akhirnya Kyu Hyun mengeluarkan suara, menyapa gadis dihadapannya itu yang asik akan dunianya.

Seo Na menatap Kyu Hyun sekilas. “ Ya, apa?”. dan gadis itu kembali fokus pada buku ditangannya.
“jadi buku yang ada ditanganmu lebih menarik dari pada aku?”. Ujar pria itu, Kyu Hyun mendesah raut wajahnya tampak tak senang.

Seo Na mengernyit kini semua perhatian gadis itu tersita pada wajah Kyu Hyun yang menatapnya. Seo Na memiringkan kepalanya kekanan lalu bangkit dari tempatnya dan berdiri dihadapan Kyu Hyun dengan senyumnya yang terlihat kanak-kanak. “aku suka buku ini, ini edisi ke tiga dan aku tidak memilikinya, aku punya edisi kedua dan itu adalah pemberian Ayahku ketika ia masih bersama kami”.

Jelas Seo Na dengan raut wajah yang berseri-seri. Tapi untuk ukuran Kyu Hyun, pria itu kembali terenyuh. Ya, Ayah pria itu tak tau sedang berada dimana. Apa yang ia pikirkan hingga meninggalkan Seo Na didalam kesulitan sendiri. sejujurnya Kyu Hyun begitu kesal dengan semua penderitaan yang gadis itu tanggung di usianya yang masih sangat muda.

“Ayahmu… apa kau merindukannya?”. Entah kekuatan dari mana yang didapati oleh Kyu Hyun, akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh tentang Ayah gadis itu.

Terlihat jelas ekspresi Seo Na berubah datar, gadis itu membuat garis sedih di sudut bibirnya. “sejujurnya iya, aku merindukannya. Tapi…”. Seo Na menghentikan ucapannya, mengambil udara disekitarnya. “ia meninggalkan aku dan Ibu ku, rasanya begitu sakit jika mengingatnya”. Tambah Seo Na akhirnya, gadis itu berlalu kembali duduk ketempatnya meninggalkan Kyu Hyun yang masih menatap Seo Na di kursi kerjanya.

“Na-ya, aku minta maaf jika itu membuatmu bersedih”.

“tidak Kyu Hyun-ssi, aku tidak semenyedihkan itu”. Seo Na tampak tersenyum, walau didalam matanya masih terlihat jika gadis itu memang bersedih sebelumnya. “jika aku masih bersedih, aku tidak akan hidup dengan baik sampai saat ini, bekerja di perusahaanmu yang besar dan menjadi calon istrimu. Itu sangat baik”.

“kau bilang baik Park Seo Na, dengan ukuran tubuhmu yang begitu kurus dan dengan kantong mata yang terlihat jelas”. Pekik Kyu Hyun dalam hatinya. “kau harus makan lebih banyak dan teratur, jika kau menjadi istriku aku akan mengurus semua kebutuhanmu, membelikan apapun yang kau mau dan aku mau untuk kau memakainya, memakan makanan yang bisa membuatmu lebih terlihat sehat dan bugar, juga olahraga dan tidur yang cukup”. Jelas Kyu Hyun, Seo Na menyipitkan matanya, kini ia benar-benar fokus pada bibir Kyu Hyun. Astaga! Pekik Seo Na dalam hati.

“aku tidak suka olahraga, aku makan ketika aku mau, dan tentang apa yang akan kau belikan untukku, aku keberatan. Aku tidak suka jika kau membuang uang hanya untuk sesuatu yang tak berguna. Mungkin pegawai lebih membutuhkannya”. Seo Na membalas, gadis itu tampak enteng sekarang bola matanya tampak cerah menatap Kyu Hyun. Dan Kyu Hyun terkekeh mendengar jawaban gadis itu.

Ini menarik. Pikir Kyu Hyun. Pria itu beralih duduk persis dihadapan Seo Na, di sofa beludru warna hijau tua. “kau harus makan, jika kau bersamaku. Aku tidak ingin kau mati kelelahaan jika bercinta denganku.

Jika kau tak suka olahraga, kau akan menyukai olahraga denganku dan soal barang-barang yang aku belikan untukmu tak ada hubungannya dengan gaji karyawan dikantorku. Aku tau kau sering mendengar mereka mengeluh, itu karena saat mereka menerima gaji di awal bulan mereka menghabiskan untuk minum-minum dan bersenang-senang, akan lebih baik jika mereka tak melakuan hal yang seperti demikian, kau mengertikan kan gadis nakal?”. Kyu Hyun membentuk senyum menyeringai di sudut bibirnya, menatap wajah Seo Na yang tampak berubah tegang, pipi gadis itu tampak memerah dan lagi-lagi ia melihat wajah Seo Na yang salah tingkah.

“ya, aku mengerti”. Seo Na akhirnya mengalah, gadis itu tak seharusnya membuat statment yang demikian pada pria dihadapannya ini, lebih baik ia menuruti kata-kata Kyu Hyun. Dan bercinta? Olahraga? Maksudnya bercinta adalah olahraga? Gila! Seo Na memekik didalam hatinya, bisa-bisanya Kyu Hyun mengatakan demikian tentang olahraga. Tapi jika itu adalah olahraga yang dijanjikan Kyu Hyun untuknya, mungkin ia bisa terima. Dewi batin gadis itu menyeringai ditempatnya.

~~~000~~~

Keduanya sampai didepan gedung Apartemen milik Seo Na, Kyu Hyun terlebih dulu keluar membukakkan pintu untuk wanita yang akan menemani sisa umurnya. “selamat datang di istanamu Na-ya, sayang sekali kau harus meninggalkannya dalam waktu dua hari ini”. Kyu Hyun terkekeh, gadis dihadapannya itu juga ikut tersenyum.

“ya, aku akan menempati istanamu yang super megah itu dan aku harap aku terbiasa Kyu Hyun-ssi”. mereka saling berhadapan, mata mereka bertemu.”diruang bacamu, didapurmu dan dikamarmu tentunya”. Lanjut Seo Na, Dewi batinnya tertawa riang, Seo Na mengucapkan kata-kata yang terdengar sensual.

“ya, dikamarku kau akan banyak menghabiskan waktu Na-ya”. Kyu Hyun mengulurkan tangannya, membawanya kesisi pipi kiri Seo Na, mengelus pipi gadis itu. sangat halus seperti bayi. ”kau perlu berkemas, dan tinggalkan sesuatu yang tidak perlu. Ok? Kau akan punya banyak barang baru nantinya”. Tambah Kyu Hyun, Seo Na menyipitkan matanya lagi, gadis itu tak setuju.

“aku menyukai semua barangku dan mereka perlu Cho Kyu Hyun, jika kau tidak ingin menampungnya bagaimana jika kita tinggal di Apartemen ku saja setelah kita menikah?”. Seo Na tersenyum sinis.

“jangan bercanda sayang, aku mungkin akan suka berada di tempatmu tapi kau mungkin akan lebih suka berada ditempatku, ok? Dan soal barang-barangmu, aku akan membebaskannya gadis cerdik”. Kyu Hyun menyentil hidung Seo Na, gadis itu terkekeh lalu memberanikan diri memeluk Kyu Hyun, pria itu menegang sejenak ditempatnya lalu tubuhnya merespon dengan cepat, ia balas memeluk Seo Na.

“ya, tentu. Aku cerdik hanya pada dirimu Kyu Hyun-ssi. aku juga begitu heran, denganmu aku menjadi lebih ingin berbagi”. Ujar Seo Na tulus, tak ada kebohongan dari nada bicara gadis itu.

Kyu Hyun tersenyum, ia mengelus puncak kepala Seo Na menarik gadis itu kehadapannya lalu mengecup kening gadis-nya.”ya, Na-ya. hanya denganku, dan akan tetap denganku selamanya”. Ucapan Kyu Hyun terdengar seperti janji, Seo Na merinding namun kebahagiaan yang ia rasakan membuatnya melambung tinggi. Ia harap ini adalah awal kebahagiaan mereka.

“aku mencintaimu Park Seo Na”.

“ya, aku juga. Sangat mencintaimu Cho Kyu Hyun”.

~~~000~~~

Seo Na kembali ke Apartemen reot miliknya, tak layak disebut gedung megah seperti Apartemen karena mungkin usia gedung ini sudah mencapai batas tak wajar. Sudah banyak retak-retak dibagian dinding yang Seo Na beri cat warna-warni agar terlihat seperti sebuah gambar pada dinding. Gadis itu melihat sekeliling kamarnya, dan dua hari kedepan adalah waktunya bersenang-senang dan menjadi gadis penyendiri seperti biasanya.

Ia akan tinggal bersama dengan Kyu Hyun, pria yang selalu mengisi otaknya, pria yang selalu hadir dalam mimpi erotisnya dan pria yang ia sukai saat pertama kali mereka bertemu saat itu. tapi ada yang masih mengganjal dengan pernikahan ini, Seo Na sejujurnya tak puas dengan jawaban Kyu Hyun, entah apa namun gadis itu sesegera mungkin menghalau semua pikiran buruknya, ia ingin hidup bahagia dengan Cho Kyu Hyun.

Tapi dering telepon rumah gadis itu berbunyi, Seo Na beranjak dari tumpukkan barang yang ia kemas dan akan ia bawa kerumahnya yang baru dengan Kyu Hyun. Gadis itu mengangkat telefonnya, dan seseorang segera menyaut dari ujung sana. Suara yang khas yang begitu Seo Na ridukan, tapi kenapa pria itu baru muncul sekarang. Gadis itu bergetar ia tak tau harus berkata apa.

“Seo Na, ini ayah putriku”. Seketika semua terhenti dalam sekejap. Ayah, kau kembali?

~~~000~~~

Gadis itu sampai dengan segera di sebuah cafe kecil disekitar rumahnya, didalam tidak begitu ramai, hanya ada beberapa pelanggan dan juga pelayan yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Mata Seo Na melirik kekiri dan kekanan tampak bingung dan gusar, akhirnya mata gadis itu terhenti pada seorang pria berjeket tebal bewarna cream, Ayah-nya memakai topi bewarna senada dan kini mereka saling bertatapan. Bertahun-tahun lamanya dan ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.

Seo Na mendekat, ia kaku, entah apa yang ia rasakan saat ini, ia merindukkan Ayah nya namun disisi lain ia masih begitu marah kepada Ayah nya yang meninggalkannya begitu saja, dan ia baru sadar, Ayah nya begitu kurus saat ini.

“Ayah”. Suara Seo Na tercekat, pria itu tersenyum kearah Seo Na lalu mempersilahkan anak satu-satunya itu untuk segera duduk.

“aku tau kau sangat terkejut Na-ya, tapi Ayah datang untuk menjemputmu”. Suara Ayah nya terdengar begitu berat namun lembut, suara yang dulu sering membawanya kealam tidur saat mereka masih memiliki keluarga yang utuh dan bahagia.

Rahang Seo Na mengeras, gadis itu tampak memperlihatkan wajah kemarahannya. “menjemputku? Ayah bercanda?”. Seo Na tersenyum getir. Satu tetes air mata mengalir dipipinya.

“ya, menjemputmu Na-ya. kita bisa hidup bersama dan memulainya dari awal, dan kau bisa bebas dari mereka”. Ucapan Ayahnya berubah dingin, Seo Na menatap heran pada Ayahnya. Mereka? Apa maksudnya? “Seo Na mungkin kau tak tau kebenarannya, tapi Ayah tak ingin kau terluka karena mereka. Mereka menginginkanmu sebagai wanita yang melahirkan pewaris perusahaan mereka, setelah itu mereka akan mencampakkan mu seperti mereka mencampakkan Ayah, kau mengerti maksud Ayah kan?”.

Mereka? Kyu Hyun? Apa Kyu Hyun sejahat itu? tidak mungkin! Seo Na menarik napasnya dalam-dalam, mata gadis itu membulat penuh. “Ayah, apa yang Ayah bicarakan? Mereka? Keluarga Tuan Cho maksud Ayah? Apa Ayah sedang menjebakku? Cukup! Aku tidak ingin mendengar omong kosong ini! Ayah meninggalkan Aku dan Ibu selama bertahun-tahun, dan saat pemakaman Ibu Ayah tak datang, saat aku terlunta-lunta Ayah tak juga datang! Apa yang Ayah lakukan? Dan sekarang Ayah mengatakan keluarga Tuan Cho jahat? Jika mereka jahat, mereka tak akan menerimaku diperusahaan sebesar itu, ku mohon hentikan semua ini Ayah”. Seo Na melemah, namun mata gadis itu masih penuh emosi. Ia tak mengerti dengan niat Ayah kandungnya itu. ia masih tak mengerti kenapa Ayah-nya membawanya menjauh dari keluarag Kyu Hyun, padahal Kyu Hyun menginginkannya sebagai istrinya tapi apa maksud dari pewaris harta? Mata Seo Na terasa berkunang-kunang.

Wajah Ayah Seo Na tampak sedih, ia seharusnya membawa Seo Na lebih dulu tapi semua terasa begitu sulit sejak Seo Na bekerja diperusahaan keluarga Cho. “aku tak bisa hadir saat itu dan aku tak bisa menjemputmu dan Ibumu saat itu. aku benar-benar minta maaf. Jika kau tak ingin pergi bersama Ayah saat ini, ku mohon Seo Na dengarkan penjelasanku sekali saja. setelah itu aku harap kau bisa menimbang-nimbang langkah kehidupanmu kedepannya”. Tuan Park tampak meyakinkan anak gadisnya itu, ia akan menjelaskan semua yang sudah terjadi. Ia tak ingin Seo Na terluka oleh siapapun, termasuk menjadikan anaknya sebagai wanita untuk melahirkan pewaris keluarga Cho dan membuang anaknya seperti keluarga itu yang mencampakkannya dulu kedalam jurang kebangkrutan.

~~~000~~~

“dulu kami adalah sahabat baik, aku dan Cho Yeung Hwan memiliki hubungan pekerjaan yang sangat menguntungkan satu sama lain. Sampai akhirnya ia memiliki anak laki-laki dan Ibu mu juga melahirkan mu beberapa tahun berikutnya. Saat itu, kami berpikir untuk menjodohkan kalian berdua, kau dan Cho Kyu Hyun dan saat pertengahan kejayaan perusahaanku dan perusahaan Yeung Hwan, ia sembunyi-sembunyi mengamil separuh untung perusahaanku dan menanamkan saham di perusahaan lain sampai akhirnya aku marah besar pada pria itu, pahitnya lagi-lagi aku mendapat kabar dari orang kepercayaanku bahwa kau hanya digunakan untuk melahirkan pewaris hartanya. Kau tau Na-ya, aku sangat-sangat marah saat itu karena aku tidak terima dengan semua kecurangannya dan juga menjadikanmu sebagai barang yang sewaktu-waktu bisa mereka buang dan sejak saat itu aku memutuskan semua kontrak pekerjaan dalam bentuk apapun dengan perusahaannya, namun semua peruntungan tak pernah berpihak kepadaku karena sejak saat itu perusahaan kita mengalami kebangkrutan yang luar biasa karena disebabkan hutang kepada infestor yang sudah mempercayaiku. Aku yakin, Yeung Hwan –lah yang menyebabkan semua infestor berpindah ke pada perusahaannya, dan mereka semua menuntutku untuk dipenjara padahal bukan aku yang melakukan kecurangan tapi Cho Yeung Hwan. Itu kenapa alasan aku meninggalkan kalian berdua dan pergi sejauh mungkin, bukan karena aku tak mecintai kau dan Ibu-mu tapi saat itu semua benar-benar terjadi secara tiba-tiba. Dan aku juga sangat terpukul ketika mendengar Ibu-mu meninggal hingga aku berpikir untuk mati juga Na-ya, tapi karena kau, karena mengingatmu yang tinggal sendiri aku menunggu hingga waktunya tiba untuk menjemputmu kembali padaku”.

Semua kata-kata itu lolos dari mulut Ayah Seo Na, gadis itu seperti terasa tersedak ditenggorokannya, semua hal yang ia pikirkan akan ia jalani bersama Kyu Hyun lenyap begitu saja. Ayah-nya tak mungkin berbohong, ia kenal betul siapa Ayah-nya. Meskipun mereka sudah cukup lama berpisah tapi Seo Na sama sekali tak melihat raut kebohongan dari wajah pria dihadapannya saat ini. Seo Na meringis, ia merasakan sakit yang luar biasa menghantam otaknya. Kyu Hyun yang ia pikir adalah malaikat penolongnya ternyata keluarga pria itulah yang menginginkannya lenyap dari muka bumi ini, dan dia diinginkan hanya karena tujuan tertentu.

“Seo Na, Ayah sebenarnya tak ingin membuatmu menjadi seperti ini. Ayah sangat menyanyangi dan peduli padamu karena itu Ayah mengambil resiko dan datang ke Seoul tadi pagi. Ayah mendengar kabar kau akan menikah dengan anak pria brengsek itu, aku tidak akan terima dengan apa yang mereka lakukan padamu nantinya, karena itu Ayah ingin kau pergi bersama Ayah”. Tatapan Seo Na begitu kosong, mata gadis itu terus mengeluarkan cairan bening. Ada satu hal yang terlintas dibenak gadis itu.

“Ayah, apa kau ingin mereka menderita seperti kita?”. Mata Seo Na memerah, tangisnya terhenti dan suara gadis itu terdengar bergetar.

“Na-ya, apa yang sedang kau pikirkan Nak?”.

“aku memikirkan untuk membalas dendam Ayah, membalas semua yang sudah dilakukkan pria itu padamu, Ibu dan juga aku”. Gadis itu mengepal tangannya. Ia bertekat dalam hatinya, rasa sakit yang terkubur dalam hatinya akan bangkit dan membalas semuanya, Dewi batin gadis itu mati seketika dan lenyap.

To Be Continue

CRAZY IN LOVE (1/?)

Standard

j

Got me looking so crazy right now, your touch…

Got me hoping you’ll page me right now, your kiss…

Beyonce – Crazy in Love

Pria itu, pria yang selalu berada dalam fantasi liar ku. pria dengan gigi putih yang bertengger rapi. Pria dengan jari-jari yang panjang dan penuh. Mata bulat hitam miliknya yang selalu ku inginkan menatapku saat kami bercinta suatu saat nanti dan tubuhnya yang tinggi, putih, bersih itu yang selalu ku inginkan untuk ku peluk, aku menggilainya bahkan sampai ketitik syaraf terliar ku.

Setiap kali aku melihatnya, aku benar-benar dirasuki napsu yang luar biasa. Aku menginginkannya. Disetiap anganku, aku selalu memikirkan bagaimana nikmatnya berada dibawah tindihan pria itu. pasti sangat nikmat. Ya, sangat nikmat sampai-sampai aku bisa merasakannya lewat mimpi-mimpiku.

Pria itu dosaku, dosa yang akan aku tanggung karena terus memikirkan fantasi bercinta dengannya. Ia akan menjadi dosaku jika aku tetap mendesah hanya karena aku melihat ia bediri tak jauh dari hadapanku. Dan akan tetap menjadi dosa, jika saat aku mencium aroma tubuhnya aku ingin segera dimasuki oleh pria itu. aku tergila-gila padanya. Sangat. Hingga aku tidak peduli dengan dosa jika aku memikirkannya. Ya aku sangat menggilai Pria itu… Cho Kyu Hyun.

~~~000~~~

Seo Na menekan ujung rok ketat di atas lututnya, saat ini gadis itu tengah duduk didepan seorang pria. Pria jakung yang saat ini menjadi CEO tempat ia bekerja. Pria yang ia inginkan untuk berada dalam dirinya, hanya dengan menatap pria itu ia bisa memikirkan hal yang belum ia pernah lakukan sebelumnya. Hanya dengan pria itu ia bisa memikirkannya.
Tapi, Cho Kyu Hyun bahkan tidak pernah menatapnya sama sekali, tatapan pria itu tak pernah berhasrat padanya mereka hanya bertemu pandang sekali dua kali, itupun karena pekerjaan yang mengharuskan mereka bertemu atau saling berbicara.

“kau bisa melanjutkannya dirumah, besok pagi kau bisa memberikannya kembali padaku”. Ujar pria berusia 26 tahun itu.

Seo Na mengangguk, tersenyum singkat tanpa berani menatap pria itu. ia terlalu takut, bahkan saat ini ia sedang menenangkan syarafnya karena sejak tadi ia benar-benar terbuai oleh aroma maskulin yang muncul dari tubuh atasannya itu. ia tidak ingin memperlihatkan betapa inginnya ia bersama dengan Kyu Hyun, betapa ia ingin berada dibawah tindihan pria itu. ya, mungkin sebentar lagi ia akan gila. Pikir Seo Na.

“baiklah, akan aku selesaikan secepatnya. Aku permisi”. Ucap gadis itu kaku, otaknya tak bisa bekerja dengan baik. suasana didalam ruangan ini terlalu panas untuknya. Ia segera beranjak dari sana dengan tergesa, melangkah tanpa peduli jika pria itu tengah menatapnya aneh.

“tunggu…”. Seo Na berkedik. “Ada yang aneh dari dirimu Park Seo Na”. Gadis itu menghentikan langkahnya. Ia tidak ingin berbalik menatap pria yang menyadari keanehan dari dirinya. Tidak, ia tidak ingin pria itu tau jika ia sangat teramat menginginkan atasannya itu.

“kau sakit? Bibir mu pucat”. Suara Kyu Hyun berada teopat dibelakag gadis itu, Seo Na berbalik dengan hati-hati mengadahkan wajahnya, menatap wajah khawatir Cho Kyu Hyun dihadapannya. Dan lagi-lagi jantung gadis itu berdetak tidak normal, ia pasti akan benar-benar gila setelah ini.

“a.. akk..ku baik-baik saja”. ujar gadis itu terbata. Ia masih tidak percaya jika wajah Kyu Hyun berada tidak jauh dari hadapannya, pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan.

“kau yakin?”. Kyu Hyun mengulurkan tangannya kearah kening Seo Na, dan itu hanya membuat gadis itu kalang kabut. Ya dia harus menghentikan pria itu, sebelum ia benar-benar melecuti semua pakaian pria itu dan memaksanya menidurinya. Pikiran yang kotor.

“Ya, maaf aku benar-benar harus pergi”. Suara gadis itu meninggi dan bergetar, Seo Na menyingkirkan jemari-jemari Kyu Hyun dari keningnya. Sebelum akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan pria itu didalam ruang kerjanya.

~~~000~~~

Udara disekitarnya tiba-tiba panas, Kyu Hyun melonggarkan dasinya lalu membuka satu kancing teratas kemeja kerjanya. Gadis itu, gadis yang selalu ia perhatikan dari kejauhan, gadis yang selalu pucat jika berhadapan dengannya. Dan ia selalu penasaran dengan gadis itu. Kyu Hyun menginginkannya, entah sejak kapan ia menyukai Park Seo Na. Tapi ia yakin, gadis itu juga memikirkan apa yang ia pikirkan, tidak terkecuali tentang fantasi seks dengan Seo Na.

Sebenarnya mereka pernah bertemu sebelum Kyu Hyun menggantikan posisi Ayah-nya untuk memimpin perusahaan. Dulu ketika pria itu berkunjung ke perusahaan milik Ayah-nya, gadis itu dengan ramah menyapanya, mata gadis itu coklat jernih, rambutnya hitam diikat keatas dengan anak rambut yang menggantung menghiasi tengkuknya, memang penampilan Seo Na tampak biasa, ia selalu mengenakkan pakaian formal kantor dengan rok span tanpa belahan dan ditambah kaca mata tebal yang bertengger di hidung mancung milik gadis itu.

Seo Na adalah tipe gadis yang tidak terlihat ber-make-up tebal, sederhana sekali hingga Seo Na mampu membuat Kyu Hyun mengalihkan pandangannya kearah gadis itu. sejak saat itu Kyu Hyun mencari tau tentang gadis itu dan satu yang ia pikirkan sejak saat itu, menikahi Park Seo Na dan bercinta dengan gadis itu.

“apa kau rasa ia menyukaiku?”. Pria disampingnya itu tampak tersenyum, pria yang sudah berusia lanjut dengan banyak rambut putih dikepalanya. Pria yang sudah bekerja untuk keluarga Kyu Hyun sejak Kyu Hyun belum ada diantara keluarga Cho.

Soo Hwan tersenyum, tampak kerutan disekitar mata pria tua itu. “tentu saja, ia sangat menginginkan anda tuan muda”. Ujarnya pada Kyu Hyun sambil meletakkan segelas Teh hangat kehadapan Tuan muda-nya itu.

Kyu Hyun tersenyum. “benarkah? bagaimana jika ia tau siapa aku sebenarnya?”. Sinar mata Kyu Hyun tampak melemah, gadis yang ia sukai itu pasti tak akan memaafkannya.

“anda tidak bersalah atas kasus itu, lagi pula Ayah anda pantas melakukan hal itu”. suara Soo Hwan terdengar tegas, ia tau persis apa yang sudah terjadi. Ia bersyukur gadis yang di sukai Kyu Hyun tumbuh menjadi gadis yang cantik dan luar biasa baik, tidak meniru sifat Ayah-nya yang seperti iblis. “Tuan Park pantas mendapatkan balasan”. Tambah pria itu lagi.

Kyu Hyun menggeram, mata pria itu menggelap.”jaga ucapanmu! Ia tidak sepenuhnya bersalah jika…”. Kyu Hyun menghentikan perkataannya. “sudahlah, aku lelah. Kau boleh keluar dari ruanganku”. Ucap Kyu Hyun akhirnya. Ia tidak ingin berdebat tentang hal ini. ia sudah sangat lelah.

Soo Hwan membungkuk lalu menuruti perintah Kyu Hyun untuk meninggalkannya, batin pria itu berbisik. “Tuan muda, seharusnya saat ini anda sudah menikah dengan gadis itu jika saja Ayah-nya tak berbuat curang pada Tuan Cho”. Batinnya.

~~~000~~~

Seo Na melangkah memasuki Apartemen mungil miliknya, Apartemen yang luasnya tidak lebih dari dua bagian ruangan kamar tidur dan dapur digabung menjadi tempat televisi reotnya dan beberapa tumpukkan buku kuliahnya beberapa tahun yang lalu. Ia harus beranjak meninggalkan rumah mewah milik keluarganya, hutang yang ditinggalkan mendiang Ayahnya sejak perusahaan Ayahnya bangkrut begitu besar ditambah biaya rumah sakit saat ibunya menjalani pengobatan membuat tabungan keluarga mereka terkuras habis.

Dulu Seo Na memiliki keluarga yang bahagia, ia kaya, Ayahnya memiliki sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri dan pada akhirnya bangkrut karena kerja sama yang buruk dengan perusahaan lain, sejak saat itu Ibu nya sakit-sakitan dan Ayahnya kabur begitu saja meninggalkan ia dan Ibu nya dengan banyaknya hutang dan akhirnya Ibu nya meninggal karena penyakit jantung yang ia derita. Sejak saat itu Seo Na hidup sendiri tanpa keluarga sebagai gantinya ia menjual rumah milik keluarganya dan memulai hidup di Apartemen yang kini ia tinggali selama lima tahun belakangan ini.

Sebenarnya gadis itu sangat penasaran pada kolega Ayahnya yang membuat perusahaannya bangkrut, ingin ia bertanya apa yang terjadi namun akses untuk bertanya pada kerabat Ayahnya terputus begitu saja, ia juga tak mengenal rekan bisnis Ayahnya saat itu Seo Na sedang menjalani kuliahnya dan tidak terlalu memperdulikan dengan siapa Ayah nya menjalin pekerjaan.

Dan setelah ia lulus gadis itu mulai mencari pekerjaan dan akhirnya ia bekerja di perusahaan yang sangat besar hingga saat ini. Awalnya ia ingin bertanya pada pemilik perusahaan itu, apakah atasannya mengenal Ayahnya tapi saat Seo Na berniat bertanya atasannya meninggal dunia dan posisi kepimimpinan perusahaan digantikan oleh anak laki-lakinya. Ya, pria itu adalah Cho Kyu Hyun, pria yang membuat Seo Na sesak napasnya hanya dengan menatap wajahnya.

Seo Na kembali teringat pada kejadian tadi siang, itu adalah pertama kalinya mereka bersentuhan secara langsung, kulit dengan kulit. Sebelumnya Seo Na hanya bisa menatap Kyu Hyun dari jarak yang tidak terlalu dekat. Dan lagi, Seo Na teringat pada kenangan tiga tahun yang lalu, saat pertama kali ia bertemu Cho Kyu Hyun di perusahaan milik pria itu, saat ia melempar senyuman pada Kyu Hyun didalam lift, saat itu hanya mereka berdua membuat atmosfer berbeda diantara mereka, sejak saat itu Seo Na selalu mengingat wajahnya dan tanpa disangka beberapa bulan berikutnya ia mendapati jika atasan barunya adalah Cho Kyu Hyun, anak dari Tuan Park pemilik perusahaan tempat ia bekerja.

Ponsel gadis itu tiba-tiba bergetar, Seo Na terjaga dari lamunannya lalu mengalihkan pandangannya pada layar ponselnya, kini bibir gadis itu membentuk ulasan senyum. Esok adalah peringatan kematian Ibu nya, ia akan berkunjung kepusara Ibunya esok hari. Gadis itu meneteskan air matanya, jika Ayahnya tidak kabur mungkin saat ini ia tidak akan merasa sendiri seperti ini.

~~~000~~~

“ada yang ingin Ibu bicarakan Kyu Hyun”. Suara khas milik Ibu nya mengusir keheningan sarapan pagi keluara Cho pagi ini. Kyu Hyun menatap Ibu nya, tidak terkecuali kakak dari pria itu, Ahra. “saat ini usiamu tidak lagi remaja, aku memikirkan banyak hal tentang masa depanmu”. Tambah Ibu-nya.

Kyu Hyun mengangguk, ia tau maksud dari wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu, ia tau jika Ibu-nya ingin ia segera menikah. Ahra juga tampak mengangguk paham.

“kau pasti tau maksud Ibu”. Wanita itu menghentikan kalimatnya, menghela napasnya panjang. “sebenarnya dulu Ayah mu sudah menyiapkan seorang gadis, tapi ada sesuatu hal yang menyebabkan perjanjian pernikahan diantara kalian di batalkan”. Kyu Hyun tertohok, matanya sedikit membelalak, namun kakak Kyu Hyun tampak paham, ia tau yang dimaksud Ibu mereka.

“seorang gadis?”. Tanya pria itu penasaran, ia meletakkan garpu dan pisau makannya dimeja. “bahkan Ayah tak pernah mengatakan apapun padaku”. Tambah Kyu Hyun, pria itu tampak kesal.

Ibu Kyu Hyun tampak tersenyum lemah. “karena waktu itu kau dan gadis itu masih sangat muda, gadis itu juga tak mengetahuinya.”. jelas wanita itu, tak berani menambahkan atau menjelaskan siapa gadis itu sebenarnya.
“siapa dia? apa aku mengenalnya? Kenapa kalian merahasiakan ini padaku?”. Paksa Kyu Hyun, otot leher pria itu tampak menegang.

“jika kau tau sekalipun aku yakin ia tak akan bersedia menikah denganmu, mungkin sekarang ia bertanya-tanya tentang kepahitan yang terjadi dalam keluarganya, dan jika ia tau yang sebenarnya ia akan pergi meninggalkan perusahaan kita, hanya dengan merahasiakan semua ini darinya kita bisa membantunya untuk tetap hidup tapi untuk lebih Ibu rasa tidak bisa lagi Kyu”. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Ibu-nya itu hanya membuat kepala Kyu Hyun terasa pusing, ia tau siapa yang dimaksud Ibu-nya, dan ia tau sekarang kenapa gadis itu dipekerjakan di perusahaan milik keluarganya. Park Seo Na, ya seharusnya jika Ayah gadis itu tidak berlaku curang pada perusahaanya mungkin saat ini ia sudah menikah dan hidup bahagia dengan gadis itu dan yang terjadi saat ini hanyalah Ia dan Park Seo Na hanyalah sebatas hubungan antara Atasan dan Bawahan.

Kyu Hyun menarik udara banyak-banyak disekitarnya, dan mengucapkan sesuatu yang membuat Ibu dan Ahra terkejut. “aku akan menikah dengannya, meskipun ia membenciku sekalipun”. Ujar pria itu tenang, lalu beranjak meninggalkan Ibu dan kakaknya yang kini saling menatap pilu. Ya, keduanya sudah tau jika Kyu Hyun sangat menginginkan Seo Na, Soo Hwan sudah menceritakan semuanya.

~~~000~~~

Ini sudah hampir jam makan siang tapi gadis yang di tunggunya belum juga muncul dihadapannya, gadis itu berjanji untuk mengantarkan dokumen yang sudah ia pesankan kemarin dan sampai detik ini Kyu Hyun masih menunggu seperti orang bodoh di dalam ruang kerjanya. Pria itu benar-benar gelisah, bahkan sekarang ia takut jika Seo Na mengetahui siapa dirinya, siapa keluarganya dan apa yang membuat gadis itu hidup dalam kesendirian seperti saat ini.

Suara kenop pintu memecah lamunan pria itu, dengan hati-hati seorang gadis masuk kedalam ruangannya, wajahnya tampak lesu dan matanya sedikit sembab, Seo Na terlihat dalam keadaan yang tidak baik.

“Maaf Tuan, aku terlambat”. Suara Seo Na terdengar lebih lemah, gadis itu juga mendunduk tak menatap Kyu Hyun sedikitpun membuat Kyu Hyun geram sekaligus penasaran apa yang terjadi pada gadis itu.

Kyu Hyun beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan kearah Seo Na berdiri persis disamping gadis itu dan tubuhnya menghadap ke arah Seo Na. “Apa yang terjadi? Apa kau tidak ingin bekerja lebih lama disini?”. Suara Kyu Hyun terdengar lebih rendah dari biasanya, membuat Seo Na berkedik, gadis itu semakin membenamkan kepalanya.

“sebelum ke kantor aku berkunjung ke makam Ibu-ku, maaf kan aku Kyu Hyun-ssi”. Akui gadis itu akhirnya, dan pengakuan gadis itu hanya membuat Kyu Hyun tertohok ditempatnya. Seharusnya ia tidak mengucapkan kalimat barusan, dan seharusnya ia simpati pada gadis itu tadi, mendengar pengakuan Seo Na membuat Kyu Hyun merasakan sakit didadanya. Ia bisa membanyangkan betapa beratnya hidup Seo Na saat ini dan itu hanya membuat Kyu Hyun ingin segera memiliki Seo Na membuat gadis itu bahagia.

~~~000~~~

Seo Na berusaha menatap mata Kyu Hyun dan itu hanya membuat nyeri pada pusat tubuhnya, dengan jarak seperti ini hanya membuat sesuatu dalam dirinya terjaga, ia merasa dewi hasratnya tengah menari-nari disekitarnya saat ini. seketika tubuh gadis itu kaku.

“maaf kan aku tentang itu”. suara Kyu Hyun terdengar melembut ditelinga Seo Na, ekspresi pria itu juga tak terbaca, Seo Na tau Kyu Hyun pasti kasihan padanya dan itu hanya membuat hatinya sakit, ia ingin Kyu Hyun menyukainya seperti ia menyukai pria itu bukan mengkasihaninya seperti saat ini.

“tidak, aku baik-baik saja. jangan kasihani aku karena hal itu Tuan”. Suara Seo Na sedikit meninggi dan bergetar. “aku permisi”. Tambah gadis itu lagi lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Kyu Hyun sebelum otak kotornya mulai bekerja lagi memikirkan bagaimana pria itu mencumbunya.

“aku ingin mengajakmu makan malam Park Seo Na”. Apa?! makan malam? . langkah Seo Na terhenti. “anggap saja aku berhutang padamu karena kau menyelesaikan laporan ini dalam satu malam, bagaimana?”. Tawaran yang dilontarkan Kyu Hyun padanya membuat gadis itu tergiur, makan malam dengan pria yang mengisi fantasi bercintanya. Benar-benar langkah, pikir Seo Na.

“jika kau bersedia, aku akan menjemputmu sekitar jam tujuh malam”. tambah Kyu Hyun akhirnya.

Seo Na tersenyum senang.”baiklah Tuan, aku permisi”. Ujar gadis itu akhirnya sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Kyu Hyun yang juga tersenyum ditempatnya. Malam ini adalah malam yang akan menjadi penentuan masa depan keduanya.

“Na-ya, kau akan jadi milikku. Apapun yang terjadi”. Ucapan Kyu Hyun menggema kesetiap penjuru ruangan kerjanya, seperti janji seorang kasatria.

~~~000~~~

Seo Na sudah siap, beberapa menit lagi mungkin Kyu Hyun akan sampai ditempatnya tapi apa pria itu tau Apartemennya yang usang ini? bagaimana pria itu tau? Pertanyaan yang mengitari otak gadis itu seketika lenyap ketika mobil mewah bewarna hitam mendekat kearahnya yang berdiri di depan gedung Apartemennya dan seseorang turun dari sana dengan tuxedo lengkap dengan dasi kupu-kupu, tatanan rambut yang begitu menawan, Kyu Hyun sangat tampan, lebih tepatnya benar-benar sangat tampan.

Kyu Hyun keluar dari mobilnya menatap pada gadis yang kini berdiri kaku di samping mobilnya. Seo Na mengenakkan Dress merah menyala diatas lutut, lekukan tubuhnya tercetak jelas dengan rambut yang ia sanggul keatas dan hiasan yang menempel pada rambut gadis itu. Seo Na tampak risih dengan pakaian yang ia kenakkan ditambah tatapan Kyu Hyun yang sejak tadi tak lepas memperhatikannya dari atas sampai bawah.

“kau siap?”. Suara Kyu Hyun mengalihkan tatapan gadis itu yang sejak tadi membungkuk dan pipinya memerah karena gugup. Kyu Hyun terkekeh geli didalam hatinya.

Seo Na mengangguk lalu berjalan menyusul Kyu Hyun dan masuk kedalam mobil ketika pria itu membukkan pintu mobil untuknya, dan lagi-lagi keinginannya untuk memiliki pria itu begitu besar.

“baiklah Nona Park, mari kita berangkat”. Suara Kyu Hyun yang begitu tenang sukses membuat wajah Seo Na merona, panggilan Nona Park untuknya terdengar begitu menggelikan ditelinga Seo Na saat ini.

~~~000~~~

Keduanya sampai didepan restoran mewah bergaya Eropa, Seo Na yakin harga satu piring makanan didalam sini sama dengan besar gajinya di perusahaan Kyu Hyun. Gadis itu menatap pilar-pilar kokoh yang bertengger rapi pada setiap tepi langit-langit restoran itu menambah kesan mewah dan megah, tempat ini memang sangat –Kyu Hyun- sekali, menggambarkan betapa mewahnya hidup pria dihadapannya ini.

Dulu saat ia masih menjadi anak pengusaha kaya Seo Na tak pernah menyempatkan diri untuk berjalan-jalan atau makan diluar dengan keluarga dan temannya, ia sibuk dengan sekolah dan kegiatan tambahannya. Seo Na termasuk gadis yang berprestasi di sekolah jadi ia akan lebih memilih menghabiskan waktu dikamar atau di sekolah untuk belajar.

“Park Seo Na, ini menu-nya”. Suara pria itu menghalau lamunan gadis itu dari pikirannya. Ternyata sejak tadi ia asik memperhatian hal-hal disekelilingnya tanpa sadar seorang pelayan kini tengah berdiri diantara mereka. Seo Na tersenyum kaku, dia menertawakan dirinya sendiri. benar-benar norak.

Seo Na mengambil daftar menu makanan dari tangan Kyu Hyun lalu menatap jajaran makanan yang tertera disana, gadis itu bingung disana hanya ada makanan Eropa dengan hurus alphabet tidak ada tulisan hangul sedikitpun bahkan ia tidak mengerti dengan gambarnya.

“aku mau ini”. tunjuk Seo Na asal, mukanya merah padam pasti Kyu Hyun berpikir jika dirinya benar-benar kampungan. Gadis itu mencoba menyembunyikan wajahnya dibalik poninya yang tergerai.

“tidak apa Seo Na, aku akan memilihkan yang enak untukmu”. Kyu Hyun tersenyum lalu bercakap-cakap pada pelayan yang menatap keduanya bingung, lalu pelayan itu berlalu meninggalkan keduanya.

Kyu Hyun menatap gadis yang berada dihadapannya itu, gadis lugu terlalu lugu hingga ia ingin sekali tersenyum melihat tingkah gadis dihadapannya ini. “apa kau tidak suka tempatnya?”. Kyu Hyun angkat bicara masih menatap kearah Seo Na yang membatu ditempat duduknya.

Seo Na menggeleng cepat. “tidak, aku sangat suka. Ini sangat mewah dan aku sangat suka”. Jawab gadis itu, senyumnya yang begitu cantik tergambar diwajahnya. Seo Na yang manis, ya sangat manis hingga Kyu Hyun ingin segera menyeret gadis itu ketempat gelap lalu menciumnya.

Seo Na memaksa matanya menatap Kyu Hyun walaupun ia tau efeknya sangat tidak bagus, ia tetap menatap mata pria itu. Kyu Hyun benar-benar tampan, pikir Seo Na.

“bernafas Seo Na, ekspresi wajahmu seperti senar biola yang akan putus”. Suara Kyu Hyun berhasil membuat muka gadis itu lagi-lagi memerah. Sial. Seharusnya ia tak balas menatap Kyu Hyun seharusnya ia menahan dirinya dan sekarang yang ia dapati adalah Kyu Hyun yang menertawakan kekonyolannya.

Makanan pesanan mereka tiba, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Kyu Hyun mengunyah makanannya sambil menikmati wajah Seo Na yang makan dengan lahapnya didepan matanya saat ini dan Seo Na kini sibuk dengan makanannya tanpa tau jika Kyu Hyun tengah memperhatikannya. Gadis itu sangat cantik, cara ia mengunyah pipinya yang gembul karena mengunyah makanan dan ekspresinya berubah-ubah ketika mencicipi makanan dihadapannya.

Malam ini Kyu Hyun berniat mengatakan apa sebenarnya yang menjadi tujuannya mengajaka gadis itu kemari. Ya sebelum terlambat ia akan mengatakan semuanya, tidak semua hanya beberapa. Tentang rahasia keluarga gadis itu akan tetap ia simpan dan akan ia katakan jika suatu saat nanti ia memiliki waktu yang tepat untuk mengatakan semua kebenaran tentang siapa dirinya.

Seo Na menyudahi makanannya, begitu juga dengan Kyu Hyun. Gadis itu menatap Kyu Hyun yang kini juga menatapnya. Seo Na mengalihkan pandangannya tidak ingin berkonsentrasi pada atasannya itu.

“kau suka?”. Suara Kyu Hyun menarik perhatian Seo Na. Gadis itu mengangguk. “bahkan umurmu sudah menginjak angka dua puluh tiga tahun dan cara makanmu masih seperti anak kecil”. Seo Na mengernyit, gadis itu menaikkan alisnya. Apa maksud pria ini?

Kyu Hyun mengulurkan tangannya kedepan, menghapus sisa makanan dari sudut bibir gadis itu dengan ibu jarinya membuat Seo Na terkesiap, gadis itu kaget bukan main dan hal itu sama dengan apa yang dirasakan pria dihadapannya itu mata mereka bertemu dengan jarak sedekat ini. Kyu Hyun menggeram mata pria itu menggelap ia tidak bisa lagi menahannya.

Setelah Kyu Hyun meletakkan beberapa lembar uang, ia menarik Seo Na dari dalam restoran itu tiba-tiba. Membuatgadis yang berada dalam genggamananya itu hanya terkejut dan mengikuti kemana langkah Kyu Hyun membawanya. Apa yang ia lakukan? Gadis itu mengerang dalam hatinya.

~~~000~~~

Keduanya sudah berada dalam mobil mewah milik Kyu Hyun, nafas Seo Na terengah-engah karena Kyu Hyun menariknya secara tiba-tiba. Ada ketakutan dari mata gadis itu ketika Kyu Hyun menyeretnya didepan orang-orang, apa pria itu marah? Pikir Seo Na. Tapi yang kini ia dapati hanyalah tatapan Kyu Hyun padanya, tatapan yang tak bisa gadis itu artikan dan Seo Na menuruti suara hatinya untuk membalas tatapan pria itu.

“Maaf, aku tak bermaksud menghancurkan suasana makan malam kita”. Ujar pria itu, memperdalam pegangannya pada stir mobilnya. Mobil mereka masih dihalaman parkir belum bergerak.

Maksud Kyu Hyun menarik gadis itu keluar agar ia tak memperburuk keadaan dengan mencium gadis itu didepan umum, tapi kenyataannya keadaannya semakin buruk ketika mereka hanya berdua didalam mobil yang sama, atmosfernya kian meledak-ledak.

“Kyu Hyun-ssi, apa terjadi sesuatu? aku pikir kau marah padaku”. Suara Seo Na terdengar serak, gadis itu menarik ujung Dress nya menahan rasa gugup. Apa yang dirasakan Seo Na saat ini hanyalah sesak didadanya yang terasa menghimpit, bukan karena sakit tapi karena ia sedang terperangkap dengan pria yang selalu mengisi fantasi bercintanya.

Mereka saling bertatapan.”Kyu Hyun-ssi, mungkin kau butuh istirahat tidak apa jika kita-“. Suara gadis itu tak terdengar lagi, matanya melotot, ada benda lembut yang menyentuh bibirnya mengatup bibir gadis itu hingga Seo Na tak bisa lagi berkata-kata.

Kyu Hyun menyambar bibir gadis itu, merasakan setiap sisi bibir Seo Na yang lembut. Ia benar-benar tak bisa menahan apa yang sudah terkubur dalam dirinya sejak ia mengenal gadis itu dan menginginkan Seo Na. Bibir mereka berpagut mesra, terdengar ecapan lidah dan bibir Kyu Hyun yang menghisap liar bibir Seo Na. Gadis itu memang sangat polos, Seo Na begitu pasif dan hanya menerima setiap perlakuan Kyu Hyun pada bibirnya, akhirnya pria itu melepas kontak diantara mereka tidak memberi jarak menempelkan keningnya pada kening gadis itu, merasakan napas Seo Na yang terengah-engah berhembus di wajahnya.

Kyu Hyun mengecap singkat bibir gadis itu sebelum ia mengatakan satu hal yang membuat gadis dihadapannya saat ini melotot.

“mari kita menikah, Park Seo Na”. Dan Seo Na hanya bisa menatap tak percaya pada ucapan yang dilontarkan Kyu Hyun padanya. Apa? ia tak salah dengarkan? Menikah?.

To Be Continue

REVENGE BEFORE LOVE (END)

Standard

hh

Loving you make me wait for years. and when I find you, I’ll never let you go again. if you say you hate me, I do not care because I still love you. – Cho Kyu Hyun

I just want to protect you, I don’t want you to get hurt. – Park Seo Na

Seo Na mengemasi barang-barangnya, membawa beberapa pakaian kedalam koper merah hati yang kini tergeletak dilantai kamarnya. Hari ini adalah hari terkahir yang penjahat itu berikan pada Seo Na, terhitung esok hari ia akan memimpin cabang perusahaannya di Jepang ia akan mengontrol semua aktifitas perusahaannya disana dan untuk waktu yang sangat lama ia tidak akan kembali ke Seoul.

Gadis itu menghentikan gerakannya, tersandar di pintu lemari pakainnya menutup mata dan merasakan tetesan air mata kini mengalir di pipinya. Ini adalah awal perpisahaannya lagi dengan pria yang ia cintai itu, pria yang dulu ia benci. Esok ia tidak akan pertemu sosok Cho Kyu Hyun lagi dan ia masih ingat pertengkaran hebatnya dengan Kyu Hyun dua hari lalu. setelah malamnya mereka bercinta dengan begitu panas, namun siangnya gadis itu membuat Kyu Hyun benar-benar tidak habis pikir. Ia berubah bahkan Seo Na berciuman dengan Lee Dong Hae di depan matanya.
Seo Na lagi-lagi menangis, ia masih ingat ketika Kyu Hyun melayangkan pukulannya kearah wajah Dong Hae, ia masih ingat saat pria itu menariknya keruang kerja Seo Na dan disana akhirnya mereka bertengkar hebat. Dan satu hal yang tidak akan bisa Seo Na lupakan. Ketika gadis itu mengatakan Ia sangat membenci Kyu Hyun.

~~~000~~~

2 Days Ago…

Seo Na terbangun lebih dulu, gadis itu menatap wajah Kyu Hyun yang masih terpulas di sampingnya. Wajah tenang pria itu, rambutnya yang acak-acakan dan bibirnya yang sedikit terbuka. Dada pria itu terekspos jelas dan tanda-tanda yang ia buat terlihat disekitar leher Kyu Hyun, Seo Na tak menyangka ia begitu liar pada Kyu Hyun tapi gadis itu teringat akan rencananya, dan beberapa hari lagi wajah itu tak akan lagi muncul dihadapan Seo Na.

Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya, merasakan sangat nyeri pada pangkal pahanya ditambah bercak darah yang masih menempel di paha bahkai Sprei dibawah tubuh gadis itu. ia menyerahkan semuanya pada Kyu Hyun, kenangan terkahir mereka hingga mereka bertemu suatu saat nanti.

Seo Na segera beranjak mengenakkan pakaiannya yang sudah berserakan dilantai lalu pergi dari Apartement milik Kyu Hyun tanpa membangunkan pria itu, tujuannya saat ini adalah Perusahaannya lalu ia akan bertemu Lee Dong Hae merencanakan kepergiannya bersama pria itu ke negeri sakura, Jepang.

Seo Na tiba di kantor seperti biasanya, sebelumnya gadis itu sudah kembali ke Apartemennya membersihkan diri dan berpakaian dari menuju kantor. Gadis itu langsung memeriksa dokumen-dokumen perusahaannya dan beberapa anak cabang perusahaannya yang berada di Jepang, gadis itu akan memulai pekerjaannya di Jepang nantinya, mengontrol semua kinerja perusahannya dari Jepang. Lagi pula sudah sejak lama gadis itu sudah tidak turun tangan ke anak perusahaannya itu selama ini hanya Yoo Ra-lah yang mondar-mandir mengurusi semua aktifitas perusahaan dan Seo Na selalu memimpin Induk perusahaannya yang berada di Seoul.

“apa kau yakin akan tinggal disana?”. suara Yoo Ra mengagetkan gadis itu, Seo Na mengalihkan pandangannya lalu menatap tajam pada sahabatnya itu. “aku merasa ini terlalu mendadak”. Tambah Yoo Ra kemudian.

Seo Na menghela napasnya, ia berusaha terlihat sedang dalam keadaan baik-baik saja.”aku juga sudah pernah bilang kalau aku ingin memimpin langsung anak perusahaan yang berada di Jepang, kau tidak ingat ya?”.

“memang, tapi saat itu kau mengatakan kau akan ke Jepang setelah membalaskan dendammu pada Kyu Hyun dan ternyata kalian sekarang akan menikah”. Jawab Yoo Ra enteng, gadis itu tidak habis pikir dengan jalan pikiran Seo Na. Ia akan menikah dengan Kyu Hyun dan sekarang Seo Na mengatakan ia ingin ke Jepang tanpa Kyu Hyun.”oh ya benar, apa Kyu Hyun sudah tau?”.

Seo Na menggeleng. “tidak, jangan beri tahu dia. jangan katakan apapun tentang ini ku mohon Yoo Ra”. Gadis itu memohon membuat Yoo Ra bingung. Jadi sebenarnya ada apa dengan Seo Na. Apa yang sudah terjadi di antara mereka. Bahkan Yoo Ra tau tadi malam Seo Na menginap di Apartemen Kyu Hyun dan mereka hanya berdua, Yoo Ra berpikir apa lagi yang dilakukan oleh pria dewasa dan wanita dewasa dalam satu kamar. Hatinya tersenyum geli.

“apa ada masalah?”. Tanya Yoo Ra penasaran, kali ini gadis itu duduk di sofa persis dihadapan Seo Na. Ia menunggu jawaban dari gadis itu. ini aneh, pikirnya.

“aku akan memberi tahumu saat aku tiba di Jepang nanti, dan katakan pada Lee Teuk Oppa untuk membantumu menjaga perusahaan”. Jawab Seo Na, nada gadis itu datar. Ya seperti tidak ada masalah tapi Yoo Ra sudah tau banyak gelagat gadis dihadapannya ini. ia sudah mengenal Seo Na sejak lama.

Yoo Ra mengangguk. “baiklah, tapi aku harap kau segera kembali. Kyu Hyun pasti akan mencemaskanmu saat kau tidak ada kabar”. Timpal Yoo Ra, Seo Na hanya diam tidak berkata – ia atau tidak- untuk menjawab kekhawatiran Yoo Ra.

Seo Na berjalan melewati meja kerjanya lalu duduk disamping Yoo Ra. “ini dokumen yang sudah ku persiapkan, aku harap kau menjaga dengan baik dan memimpin dengan baik perusahaan ini aku tau kau lebih pintar dari ku Yoo”. Yoo Ra tersenyum mendengar permintaan sahabatnya itu, ya sekarang ia tau Seo Na memang sedang menyembunyikan sesuatu, dan Yoo Ra akan mencari tahu sebelum gadis itu berangkat ke Jepang dua hari lagi.

~~~000~~~

Dong Hae masuk kedalam ruang kerja gadis itu, berbalut pakaian formal membuat pria itu terlihat sangat tampan, dua kancing atas kemejanya ia biarkan terbuka ditambah rambutnya yang hitam legam terlihat berantakan menambah kesan seksi seorang CEO, Lee Dong Hae. Pria itu tersenyum kearah Seo Na yang kini menyambutnya dengan senyum yang tidak bisa pria itu artikan.

“sudah lama menunggu, Na-ya?”. ujar pria itu. sambil mengambil posisi duduk persis dihadapan gadis itu. kantor Seo Na yang begitu luas dan dinding kaca yang besar menambah kesan seorang Park Seo Na yang mewah dan elegan di dalam ruangan itu.

Seo Na menggelang. “Tidak, aku juga baru saja selesai menyiapkan dokumen perusahaan. Apa kau ingin minum?”. Tawar Seo Na. Dong Hae menggeleng dan kali ini pria itu mengeluarkan kertas dari dalam sakunya.

“sebuah rumah yang tidak begitu mewah, dan lingkungan yang tenang. Jaraknya tidak jauh dari anak perusahaanmu yang berada di Osaka”. Jelas Dong Hae singkat, memperhatikan tangan Seo Na yang mengambil kertas ditangannya.

“terimakasih Dong Hae-ssi, kau mempersiapkan semua ini untukku. harus dengan apa aku mebalasnya?”. Mata Seo Na berkaca-kaca. Dong Hae tak tau alasan mengapa gadis itu kini bersedih, ya mungkin saja karena Seo Na akan meninggalkan pria yang ia cintai dan hidup di Jepang untuk waktu yang sangat lama.

Dong Hae mendekat kearah Seo Na duduk disamping gadis itu lalu menarik Seo Na kedalam pelukannya. “aku melakukannya untukmu Na-ya, bukan untuk pria itu. karena aku mencintaimu”. Tukas pria itu, tubuh Seo Na bergetar karena menahan tangis. Hanya Dong Hae yang bisa membantunya saat ini, hanya Dong Hae yang bisa membawanya menjauh dari Kyu Hyun. Semua ini demi keselamatan Kyu Hyun, Seo Na tidak ingin Kyu Hyun terluka sedikitpun.

“apa kau lapar? Kau semakin kurus Na-ya. kita perlu makan siang bersama”. Saran Dong Hae akhirnya membuat Seo Na melepas pelukan pria itu dan menatap Dong Hae penuh senyum meskipun air mata gadis itu masih mengalir dipipinya. “jangan menangis Nona Park, itu membuat usiamu bertambah sepuluh tahun”. Canda Dong Hae sukses membuat gadis itu merona, tangannya kini memukul lengan Dong Hae membuat pria itu ikut tertawa.

Seo Na mengangguk. “baiklah, aku juga sangat lapar”. Jawab Seo Na akhirnya.

Seo Na dan Dong Hae keluar dari ruangannya bersama. Seo Na berjalan cukup canggung disamping pria itu. Tubuh pria itu memang tak setinggi Kyu Hyun, Seo Na tidak perlu mengadah untuk menatap Dong Hae karena bantuan hightheels nya. Namun langkah kaki Seo Na terhenti ketika dari kejauhan matanya menangkap sosok Cho Kyu Hyun yang berjalan kearah mereka berdua, Seo Na terkejut begitu juga dengan Dong Hae mereka saling bertatapan sebelum akhirnya pikiran gadis itu memintanya untuk mencium bibir Dong Hae saat ini, tanpa aba-aba Seo Na menarik tengkuk Dong Hae dan mencium pria itu dihadapan Kyu Hyun yang jaraknya kini tidak terlalu jauh dari mereka berdua. Yang Seo Na dengar setelah itu hanya pukulan cukup keras membuat Dong Hae yang baru saja berciuman dengannya terhuyung ke lantai.

~~~000~~~

Kini diruangan itu hanya mereka berdua, setelah melayangkan pukulan pada Dong Hae, Kyu Hyun menarik gadis itu kedalam ruangannya membuat semua pegawai Seo Na menatap kejadian itu takjub, terheran-heran dan juga ngeri. Tatapan Kyu Hyun kini tidak lepas dari wajah Seo Na yang berdiri kaku dihadapannya, gadis itu menunduk tidak menatap Kyu Hyun sedikitpun.

“kenapa kau melakukan itu Park Seo Na-ssi?”. Tanya pria itu, suara Kyu Hyun begitu rendah dan sangat menuntut membuat Seo Na menatap mata pria itu. Rahang Kyu Hyun yang tegas terlihat mengeras ditambah tatapan Kyu Hyun yang membuat Seo Na takut tapi gadis itu tetap menantang dan menatapnya.

“karena aku ingin”. Jawab Seo Na sombong, membuat Kyu Hyun mengerang pria itu menarik rambutnya sendiri dan menjauhkan dirinya dari Seo Na.

Apa yang Seo Na lakukan adalah untuk membuat Kyu Hyun membencinya, ia ingin Kyu Hyun membenci dirinya sehingga saat ia pergi nanti Kyu Hyun tak merasa kehilangan dan ia bisa pergi dengan tenang meninggalkan pria itu.

“apa yang ada didalam kepala kecilmu itu? apa yang sedang kau pikirkankan?! Apa yang sedang kau rencanakan Park Seo Na?!”. Kyu Hyun berteriak, membuat sisi Seo Na yang angkuh itu berubah lemah didalam batinnya. Seo Na diam. Ia tidak menjawab kali ini masih menatap mata Kyu Hyun namun tatapannya lebih kepada kesedihan.

Seo Na ingin menjawab bahwa ia seperti ini untuk melindungi Kyu Hyun, bahwa ia seperti ini agar Kyu Hyun bahagia dan ia harus rela jika Kyu Hyun membencinya. “yang ada dipikiranku hanya kebencian, aku membencimu. Aku sangat membencimu. Aku ingin kau terluka, aku ingin kau menderita dan aku tidak ingin hidup denganmu!”. Suara gadis itu terdengar meninggi, ia menahan tangisnya. Saat ini ingin sekali ia menjelaskan semuanya pada Kyu Hyun. Dan…

PRANG!

Kyu Hyun melempar vas bunga dari kaca kelantai, membuat Seo Na terkejut gadis itu bergetar menahan ketakutannya. Ia melihat kaca berserakkan dimana-mana dan dengan hati-hati ia menatap Kyu Hyun, pria itu menangis namun tak bersuara sedikitpun ia menatap Seo Na dengan napas yang memburu dan mata yang memerah. Seo Na ingin sekali memeluk pria itu saat ini. bahkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh percintaannya dengan Kyu Hyun tadi malam belum hilang, disekujur tubuhnya masih ada bekas akibat percintaan mereka dan kini ia menatap Kyu Hyun seperti orang asing.

Seo Na memungut beling-beling kaca disekitarnya, mengambil satu persatu tanpa mendengarkan permintaan Kyu Hyun agar gadis itu tidak memungut kaca-kaca yang bserserakkan dilantai dan pada akhirnya gadis itu mengerang kesakitan ketika seperihan kaca menancap pada jarinya.

“Bodoh!”. Kyu Hyun menarik Seo Na menjauh dari serpihan kaca itu, melempar gadis itu kesofa dan duduk disana sambil memperhatikan luka Seo Na.

Seo Na hanya terdiam, memperhatikan Kyu Hyun yang kini sedang membersihkan lukanya. Ingin sekali ia menangis, ingin sekali ia mengatakan jika ia lebih sakit melihat keadaan Kyu Hyun yang seperti ini tapi gadis itu menahannya. Kyu Hyun berhasil menyingkirkan kaca ditangan Seo Na mengisap jari gadis itu dengan mulutnya lalu melepas dasinya dan ia ikatkan pada jari gadis itu.

“kau mengatakan kau tidak ingin hidup denganku, sedetik setelah kau mengatakkannya kau bahkan tidak bisa berhati-hati dan hidup dengan baik. bagaimana aku bisa memastikan kau baik-baik saja saat aku tidak ada?”. Nada suara Kyu Hyun begitu lembut, tidak lagi penuh emosi tatapannya juga tidak bisa diartikan oleh Seo Na gadis itu hanya menatapnya tanpa berkata apapun.

“Hiduplah dengan baik Park Seo Na, jangan lakukan apapun yang membuat dirimu terluka. Aku akan melepasmu. Maafkan aku atas semua kebencian yang sudah kutanamkan pada hatimu. Setelah ini kau bebas Na-ya”. rasanya hati Seo Na begitu hancur, ia ingin sekali menahan Kyu Hyun disisinya tapi yang bisa ia lakukan sekarang hanya melihat punggung pria itu berlalu setelah Kyu Hyun mengecup keningnya dalam. Ya, Seo Na akan pastikan Kyu Hyun bahagia. Mungkin.

~~~000~~~

Seo Na berjalan melewati Yoo Ra yang kini tengah memperhatikannya. Yoo Ra melihat kejadian itu dikantor dua hari yang lalu dan ia juga sempat menguping pertengkaran Kyu Hyun dan Seo Na saat itu. bahwa Seo Na sangat membenci Kyu Hyun dan ia tidak ingin hidup dengan pria itu. tapi yang Yoo Ra lihat saat ini hanyalah Seo Na yang begitu berbeda, Seo Na dengan raut wajah kesedihannya membuat Yoo ra bertanya apa yang sebenarnya terjadi? Jika memang Seo Na membenci Kyu Hyun kenapa gadis itu tidak terlihat bahagia ketika Kyu Hyun meninggalkannya dan kenapa Seo Na mendadak ingin tinggal di Jepang dan Sore ini adalah waktu keberangkatan gadis itu ke Jepang.

“Na-ya, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau tidak akan menceritakkannya padaku?”. Tanya Yoo Ra, gadis itu menatap Seo Na yang sejak tadi sibuk dengan kopernya.

Seo Na hanya menatap Yoo Ra sebentar. “aku menitipkan Apartemenku padamu, mungkin aku akan kembali tahun depan atau dua tahun lagi. Aku tau kau sangat peduli dengan Apartmenku ini”. Ujar Seo Na tidak sesuai dengan pertanyaan yang di ajukan Yoo Ra padanya.

Yoo Ra gemas. Gadis itu memukul kepala Seo Na. “jangan bohong dan pura-pura didepanku, memangnya aku ini orang lain? Aku sudah hidup denganmu sejak kita masih kecil dan sekarang kau menyembunyikan sesuatu padaku!”. Yoo Ra berteriak kesal tidak peduli tatapan heran Seo Na padanya. Gadis itu kini berdiri dihadapannya.

“kenapa kau selalu curiga padaku? Memangnya aku tidak boleh punya rahasia?”. Jawab Seo Na seadanya dan kembali melanjutkan kesibukknya, membuat Yoo Ra menghembuskan napasnya kasar lalu Seo Na berlalu menuju kamarnya namun gadis itu menjatuhkan kertas yang terselip di saku celanya dengan sigap Yoo Ra mengambil itu dilantai dan membacanya tanpa sepengetahuan Seo Na, betapa terkejutnya gadis itu membaca isi dari kertas yang berada ditangannya itu. jadi ini yang menjadi alasan kenapa Seo Na mencium Dong Hae, pertengkarannya dengan Kyu Hyun dan mendadak ingin meninggalkan Seoul. Dengan segera Yoo Ra beranjak dari tempat itu, ia tau siapa yang ia akan hubungi sekarang.

~~~000~~~

Keduanya saling bertatatapan, namun tatapan Kyu Hyun lebih kepada rasa kebencian sedangkan pria dihadapannya ini hanya tersenyum kaku penuh arti membuat Kyu Hyun semakin geram kepadanya. Bertahun-tahun mereka bersahabat dan sekarang persahabatan mereka hancur karena seorang wanita dan Dong Hae akan menyelesaikan semua ini hari ini.
“jadi untuk apa kau kemari?”. Tanya Kyu Hyun dingin, pria itu menatap tajam kearah Dong Hae.

Dong Hae melempar tiket pesawat kearah Kyu Hyun, pria itu mengambilnya. “itu tiket keberangkatan Seo Na ke Jepang sore ini”. jawab Dong Hae, membuat mata Kyu Hyun membesar menatap Dong Hae masih tak mengerti. Seo Na ke Jepang?. “ia memintaku untuk membantunya menghilang darimu. Karena ia tak ingin membuatmu terluka”. Tambah Dong Hae, dan itu hanya membuat Kyu Hyun semakin tidak mengerti.

“jelaskan dengan rinci Hyung, aku sedang tidak ingin bercanda”. Ujar pria itu dingin, matanya menyipit kearah Dong Hae.

Dong Hae tersenyum kaku. “orang yang menembaknya, orang yang menculiknya adalah orang yang menyuruh Seo Na untuk meninggalkanmu, dan meninggalkan Seoul sejauh mungkin. Jika tidak, orang itu akan membunuhmu dan kau tau Seo Na tidak ingin itu terjadi dan melakukan semuanya demi keselamatanmu. Dibanding kan kau Cho Kyu Hyun, Seo Na lebih takut kehilanganmu”. Jelas Dong Hae panjang lebar, membuat Kyu Hyun mendesah berat. Pria itu memutar otaknya, jadi karena itu Seo Na mencium Dong Hae dihadapan Kyuhyun? Dan karena itu juga Seo Na mengatakan jika ia membenci Kyu Hyun?

“jangan katakan apapun jika aku yang memberi tahumu, aku ingin kau segera menyusulnya sebelum terlambat”. Ujar Dong Hae sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Kyu Hyun tapi kini langkahnya terhenti ketika pertanyaan Kyu Hyun mengarah padanya.

“kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa tidak kau rebut saja dia dariku?”. Dan itu membuat Dong Hae tersenyum.
Ia membalikkan badannya dan menatap kearah Kyu Hyun. “karena aku mencintainya, karena aku tidak ingin melihat orang yang ku cintai terluka. Sedikitpun”. Ujar Dong Hae sebelum akhirnya benar-benar berlalu. Rasanya benar-benar tenang pada jiwa pria itu, ia merelakan orang yang ia cintai demi kebahagiaan orang itu. mencintai Seo Na adalah murni bukan obsesi ingin memiliki.

~~~000~~~

“ya, aku sudah tau Yoo Ra-ssi, aku akan ke Apartemen Seo Na sekarang”. Ujar Kyu Hyun pada Yoo Ra disambungan teleponnya. Tujuan Kyu Hyun saat ini hanya satu memeluk Seo Na didalam dekapannya dan tidak akan pernah lagi melepaskan Seo Na meskipun gadis itu mengatakan jika ia sangat membenci Kyu Hyun. Tidak akan lagi.
Kyu Hyun sampai didepan pintu Apartemen Seo Na, membukanya perlahan dan tentu saja gadis itu masih tidak mengganti password keamanan rumahnya. Kyu Hyun masuk dan mendapati Seo Na kini berdiri dengan koper ditangannya. Gadis itu sudah siap pergi ternyata, pikir Kyu Hyun. Kehadirannya membuat gadis dihadapannya itu terkejut, Seo Na dengan refleks melepas pegangannya pada koper lalu menatap kearah Kyu Hyun, tatapan gadis itu penuh kebingungan.

“pergi ke Jepang untuk melarikan diri dariku? Sehebat apa kau hingga berpikir kau bisa menyelamatkan nyawaku? Kau tau Park Seo Na, saat aku kecil aku hampir mati karena sebuah mobil menabrakku tapi aku selamat karena Tuhan sedang tidak menginginkanku dan sekarang betapa hebatnya gadis dihadapanku ini hingga ia rela mengorbankan perasaanya demi nyawaku”. Ujar Kyu Hyun dingin, masih menatap Seo Na dengan jarak yang tidak terlalu dekat namun ia masih bisa dengan jelas menatap mata hitam Seo Na yang menahan ketakutan.

“siapa yang memberi tahumu?”. Tanya gadis itu tergagap, Seo Na menatap dengan ketakutan diwajahnya, membuat Kyu Hyun ingin segera menarik gadis itu kedalam pelukannya, mencium bibir gadis itu yang kini tengah bergetar lalu menyeretnya ke ranjang dan menghabiskan waktu untuk bercinta dengan gadisnya.

“apa kau perlu tahu? Sayang sekali, ternyata Seo Na yang begitu keras kepala harus menerima jika rahasianya terbongkor. Jika kau memiliki rahasia jangan katakan pada siapapun karena itu hanya membuatmu harus menerima kenyataan yang seperti ini”. tambah Kyu Hyun, pria itu mendekat kearah Seo Na, namun Seo Na melangkah mundur gadis itu menggeleng.

“Kyu Hyun jangan mendekat! Aku membencimu!”. Seo Na berteriak histeris, ia ingin sekali memaki dirinya sendiri, ia gagal menyelamatkan orang yang ia sayangi bagaimana jika orang yang berniat mencelakai Kyu Hyun benar-benar membunuh pria yang dicintainya itu?

Kyu Hyun semakin mendekat kearah Seo Na tidak peduli jika gadis itu berteriak dan kini air mata memenuhi pipi Seo Na, lagi-lagi Seo Na menangis untuk kebodohannya, pikir Kyu Hyun. Seo Na tersudut di dinding kali ini ia tidak bisa kemana-mana lagi. “Kyu Hyun kau tak tau betapa kejamnya orang itu dan kau akan mati Kyu Hyun, aku tak ingin kehilanganmu kumohon”. Seo Na memohon dengan isakan tangisnya yang begitu memilukan.

Kyu Hyun menangkupkan tangannya diwajah Seo Na lalu menghapus air mata gadis itu dengan Ibu jarinya. “aku akan baik-baik saja Park Seo Na, jika kau berada disampingku. Aku tidak akan mati, justru ketidak adaanmu disampingku yang membuatku serasa seperti mayat hidup, kau tau betapa tersiksanya aku ketika aku melepaskanmu dua hari yang lalu itu sama seperti aku menyerahkan nyawaku padamu”. Ujar Kyu Hyun membuat Seo Na menghentikan tangisnya dan menatap dalam mata Kyu Hyun.

“aku mencintaimu, sangat. jika kau mengatakan kau membenciku aku tidak peduli karena aku tetap mencintaimu, dan jangan pernah berpikir untuk kabur dariku karena itu sama dengan kau membunuhku”. Tambah Kyu Hyun, membuat Seo Na kambali menangis.

“aku hanya ingin melindungimu, aku tidak ingin kau terluka karena orang-orang yang membenciku”. Suara gadis itu putus-putus, ia hanya ingin menjadi pelindung Kyu Hyun, ia hanya tidak ingin Kyu Hyun terluka sesederhana itu hingga ia berpikir untuk meninggalkan Kyu Hyun.

Kyu Hyun tersenyum, dengan lembut pria itu mencium bibir gadisnya merasakan air mata Seo Na disela ciuman mereka, asin dan manis. lembut dan sangat memabukkan. “kau tau Na-ya, dengan hanya merasakan bibirmu aku ingin segera bercinta dan menghabiskan hari hanya berdua denganmu sayang”. Ucapan itu sukses membuat gadis dihadapannya ini menegang, pipi Seo Na memerah ia merasakan tubunya meremang ketika Kyu Hyun mengangkatnya dan menjatuhkannya diranjang, dan ia tau kegiatan apa yang akan mereka lakukan setelah itu.

~~~000~~~

Eun Hyuk menatap nanar gadis dihadapannya ini, ia tidak habis pikir kenapa Jae Eun berubah menjadi gadis liar dan dingin seperti sekarang. Gadis dihadapannya itu tidak pernah lagi mendengar kata-katanya bahkan dengan lantangnya Jae Eun mengatakan rencana piciknya untuk Seo Na gadis itu menatap Eun Hyuk, menantang tatapan pria itu membuat pria dihadapannya itu mengerang prustasi.

“kau bukan Jae Eun-ku yang dulu!”. Teriak Eun Hyuk, gadis itu masih menatapnya tapi tatapannya kini berubah menjadi tatapan kesedihan. “kau mencelakai orang yang bahkan tidak tau apa-apa!”. tambah pria itu.

Gadis itu hanya tersenyum sinis, matanya menyipit. “tidak tau apa-apa katamu? Ia sudah melemparku dari perusahaannya dan ia sudahmembuat hidupku menderita dan ia juga sudah merebutmu dariku!”.

“ia tidak pernah merebutku dari siapapun!”. Nada bicara Eun Hyuk semakin meninggi mengalahkan teriakkan gadis dihadapannya ini. ya , Jae Eun memang sangat cemburu dengan kehidupan Seo Na sehingga akhirnya ia bertemu dengan Eun Hyuk yang juga berniat menghancurkan gadis itu tapi pada kenyataannya Eun Hyuk malah menyukai Seo Na dan meninggalkan Jae Eun dalam kebenciannya sendiri, itu yang membuat Jae Eun berubah saat ini. “kau, karena cemburumu yang tidak menentu itu kau malah membuat hidup orang lain terluka? Kau tau, jika kau seperti ini kau tidak lebih baik dari Seo Na”.

Jae Eun menangis, gadis itu rubuh ditempatnya kini ia terduduk dilantai dan menangis sejadi-jadinya, sejujurnya ia juga lelah tapi kebenciannya mengalahkan akal sehat gadis itu. “aku membencinya karena ia selalu bahagia diatas penderitaanku”. Ujar gadis itu akhirnya dengan isakkan yang tersedat-sedat.

Eun Hyuk berjongkok menarik tubuh Jae Eun kedalam pelukannya, ia juga mengakui jika dirinya juga bersalah seharusnya ia melihat kearah gadis didalam pelukannya saat ini, seharusnya ia menganggap lebih dan mencoba mencintai gadis ini maka Jae Eun tak akan berubah seperti sekarang. “kita akan menikah, aku dan kau akan menikah secepatnya Jae-ya, aku akan membuatmu bahagia”. Ucap Eun Hyuk akhirnya membuat gadis dihadapannya saat ini menatapnya terkejut, Jae Eun menatap bingung sebelum akhirnya sebuah kecupan ringan singgah di kening gadis itu.

“berjanjilah untuk tidak melakukan kejahatan apapun lagi Jae-ya, dan minta maaflah pada gadis itu”. tambah Eun Hyuk, dan kini ia meninggalkan ruang dihatinya untuk seseorang yang sempat ingin ia miliki, Park Seo Na gadis yang pernah ia cintai, hingga sekarang.

~~~000~~~

next five months…

Ini adalah bulan kelima kandungan Seo Na, gadis itu harus selalu berada dirumah dan tidak kemana-mana tanpa suaminya Cho Kyu Hyun. Sejak kejadian saat itu Kyu Hyun segera menikahi Seo Na dengan pesta luar biasa mengalahkan pernikahan pangeran inggris pada masanya. Keduanya bahagia menjalani hari-hari dengan normal tanpa gangguan apapun ditambah lagi masalah Seo Na yang terselesaikan karena gadis yang menganggu kehidupan Seo Na meminta maaf padanya dan juga berencana akan menikah dengan seorang pria yang tak sempat mengutarakan cintanya pada Seo Na, ya pria itu Eun Hyuk.

Seo Na bahagia, ditambah pria yang selalu menemani hari-harinya, wajah yang selalu ia tatap setiap pagi. Wajah tampan pria itu dengan bertelanjang dada, rambutnya yang berantakkan dan mulutnya yang sedikit terbuka, ia menemukan sisi lain dari CEO Cho Kyu Hyun, pria yang selalu melarangnya bekerja karena takut kandungan Seo Na yang lemah dan itu juga yang menjadi alasan kenapa Seo Na tak bekerja lagi diperusahaannya karena Kyu Hyun sudah memimpin dengan baik perusahaan itu.

Dan Seo Na tidak akan melupakan satu orang, pria yang sempat ia cintai juga, pria yang memutuskan untuk meninggalkan Seoul beberapa bulan yang lalu, Lee Dong Hae.

“Seo Na, jangan berlama-lama diluar jika itu hanya akan membuat anakku mati kedinginan”. Suara Kyu Hyun sukses membuat gadis itu tersadar dari lamunannya, lalu menatap Kyu Hyun dengan menyipitkan kedua matanya. “jangan menatapku garang Nyonya Cho, aku juga mengkhawatirkan kesehatanmu”. Kyu Hyun terkekeh, ia mengalungkan tangannya di leher Seo Na sebelum beralih mengelus perut buncit istrinya.

“kau sangat menyukai anakmu ya?”. ujar Seo Na cemburu, wanita itu menatap tajam kearah Kyu Hyun.
Kyu Hyun tersenyum. “tentu saja, aku sudah susah payah membuatnya”.

“aku juga ikut membuatnya!”. Bentak Seo Na, Kyu Hyun tertawa lebar membuat wajah istrinya memerah, seharusnya Seo Na tidak berkata seperti itu hanya membuat dirinya menjadi bahan tawaan Kyu Hyun.

“ya kau juga ikut membuatnya, sangat panas dan ketat”. Bisik Kyu Hyun tiba-tiba ditelinga wanita itu.membuat wajah Seo Na lagi-lagi memerah ditambah jilatan lidah pria itu ditelinganya, ya sejak menginjak usia kandungannya ke lima bulan, Seo Na sangat menyukai bercinta dengan Kyu Hyun beda ketika ia mengalami usia kandungan satu bulan ia sama sekali tidak ingin disentuh pria itu.

“Kyu Hyun kau…”

“aku suka menggoda wanita buncit yang liar diatas ranjang”. Dan selanjutnya Kyu Hyun merasakan bibirnya yang dilumat kasar oleh istrinya, ia tersenyum penuh kemenangan, jika efek wanita hamil sangat menyenangkan seperti ini ia akan membuat Seo Na hamil lagi setelah istrinya melahirkan.

THE END

REVENGE BEFORE LOVE (6/?)

Standard

hh

 

REVENGE BEFORE LOVE (6/?)

 

Action, Romance. PG + 17
Cast :
Cho Kyu Hyun
Lee Dong Hae
Park Seo Na

 

 

 

Eun Hyuk melangkah maju masuk menuju rumah besar milik kleuarga Cho, ada yang terasa sesak didada pria itu saat ini mengingat Seo Na yang terbaring lemah didalam sana dan gadis itu yang akhirnya berakhir dirumah Kyu Hyun, pria yang mungkin saja akan memenangkan hati Seo Na. Bagaimana dengan dirinya? Bukankah ia menginginkan gadis itu? ini bukan lagi tentang obsesinya terhadapa perusahaan Seo Na dan kehancuran gadis itu tapi terlebih kepada ia menadambakan sosok misterus gadis itu, sosok yang selama ini ia benci dan gadis yang membuat pikirannya terisi penuh.
“Apa kau mencari Seo Na?”. Suara Ahra muncul dari arah belakangnya, Eun Hyuk sedikit kaget ia langsung sedikit menunduk kearah wanita itu. “ternyata benar, silahkan masuk”. Ucap Ahra ramah, sambil menuntut anaknya melewati Eun Hyuk dan diikuti pria itu dari belakang.
“Seo Na sudah membaik, ia hanya butuh istirahat dan ketika pulang dari rumah sakit Kyu Hyun adikku langsung membawanya kemari mengingat Seo Na hanya tinggal sendiri di Apartemennya tanpa ada yang mengurusnya disana”. jelas Ahra panjang lebar, Eun Hyuk mengangguk mengerti dibelakangnya.
“aku sangat khawatir saat ia mengatakan ia baru saja pulang dari rumah sakit, gadis itu tak bosan-bosannya mendapat teror. Aku benar-benar mengkhawatirkannya Nunna”. Ucap pria itu, dari setiap kata-kata yang keluar dari mulut Eun Hyuk tersirat betapa pria itu sangat mengkhawatirkan Seo Na dan Ahra tau itu.
Wanita itu berhenti, ia tersenyum lalu menatap Eun Hyuk disampingnya. “kau menyukai Seo Na, Eun Hyuk-ssi?”. tanya Ahra tanpa peduli pada wajah Eun Hyuk yang merah padam akibat pertanyaan wanita itu. Ahra tersenyum, begitu banyak pria yang menginginkan calon adik iparnya dan yang ia tau itu adalah kendala bagi Kyu Hyun namun Ahra tidak akan ikut campur dalam urusan ini, ia ingin adiknya berusaha dan memenangkan hati Seo Na.
“kau tidak perlu menjawabnya, kau hanya perlu berusaha dan mendapatkan apa yang kau inginkan, tentunya dengan cara yang baik tanpa melukai orang lain dan dirimu. Kau tau maksudku kan?”. Wanita itu begitu lembut, dari cara ia menasehati Eun Hyuk pria itu bahwa maksud Ahra adalah baik.
“aku akan berusaha dan memenangkan hatinya untukku”. ujar pria itu dengan senyum yang tak tertahan dibibirnya.
~~~000~~~
“Eun Hyuk-ssi?”. Seo Na menatap pria yang kini berdiri dibelakang Ahra. Pria itu tampak tersenyum kearahnya namun senyum itu tak bertahan lama karena ia melihat sosok jakung persis berdiri tak jauh dari ranjang Seo Na, sedang memegang gelas dan beberapa obat diatas nakas.
“aku akan meninggalkan kalian”. Ujar kakak kandung Kyu Hyun itu, sebelum akhirnya meninggalkan kamar Seo Na dengan dua orang pria didalam sana. Ahra terkekeh geli melihat ekspresi kedua pria yang menggilai Seo Na itu, itu benar-benar menyenangkan pikir wanita itu.
“apa aku mengganggu?”. Eun Hyuk menatao gadis yang tengah menatapnya itu dari ranjang dengan perban dikakinya. “kau baik-baik saja?”.
Seo Na sedikit melirik kearah Kyu Hyun yang tampak jengkel mendengar pertanyaan Eun Hyuk padanya, sebelum akhirnya ia memfokuskan diri pada pria yang kini tampak cemas menatapnya. “aku sudah tidak merasakan sakit lagi Eun Hyuk-ssi. kau tidak mengganggu sama sekali. Kyu Hyun akan segera keluar”. Jelas Seo Na sebelum matanya memberi isarat pada Kyu Hyun agar pria itu keluar dari kamarnya.
“kau harus minum obat lalu aku akan pergi”. Ucap Kyu Hyun ketus, Kyu Hyun tampak tak berminat pada situasi seperti ini.
“aku akan memberikan obat itu padanya Kyu Hyun-ssi”. tandas Eun Hyuk tanpa peduli pada ekspresi keras Kyu Hyun. Ya Kyu Hyun saat ini sedang di sulut api cemburu dan ditambah lagi pria yang berada di hadapannya itu menawarkan diri untuk memberikan obat yang berada ditangannya pada Seo Na.
“ya, aku ingin dia yang memberikannya. Jadi ku mohon beri aku waktu untuk berbicara dengan rekanku”. Seo Na memohon, gadis itu tampak mulai kesal dengan sikap protektif Kyu Hyun yang tak berasalan, lagi pula ia juga ingin berbicara banyak pada Eun Hyuk.
“terserah kau saja”. Kyu Hyun berlalu, sambil sedikit melempar nakas kearah meja yang tidak terlalu jauh dari jangkuannya. Pria itu pergi meninggalkan Seo Na dan Eun Hyuk dikamarnya. Sekali lagi, hanya berdua saja. itu membuat kepala Kyu Hyun memenas. Setelah ini ia benar-benar harus mempersiapkan acara pesta pernikahannya, memiliki gadis itu seutuhnya tanpa ada gangguan pria manapun.
~~~000~~~
“ia tampak sangat cemburu, aku bisa melihat dari sorot matanya padaku”. Eun Hyuk terkekeh, dan gadis dihadapannya saat ini juga ikut tertawa bersamanya.
“dia terlalu percaya diri”. Ujar Seo Na tak peduli, gadis itu kini berhenti tertawa dan menatap Eun Hyuk dengan heran. “apa tidak ada pekerjaan sehingga kau kemari?”. Tanya gadis itu, Eun Hyuk sedikit menaikkan alisnya. Ya, yang ia lihat saat ini Seo Na peduli dengan orang disekitarnya, tidak seperti pertama kali ia bertemu gadis ini. Seo Na yang angkuh, sombong dan tak mau peduli dengan orang lain. Termasuk dirinya.
“aku menyempatkan diri kemari, untuk melihat temanku. Lagi pula ini pertama kalinya kita bertemu semenjak makan malam saat itu”. Eun Hyuk terdiam sejenak, menatap mata tenang milik Seo Na. Gadis itu tampak normal saat seperti ini tapi Eun Hyuk tau bagaimana perasaan Seo Na menerima setiap ancaman diluar sana, hingga gadis itu terluka. Dan satu-satunya yang Eun Hyuk tau ancaman terbesar Seo Na adalah obsesi berlebihan Jae Eun, gadis kepercayaannya. “kau tidak apaa-apa? aku mencemaskanmu, Seo Na-ssi”.
Seo Na tersenyum. “aku membuat banyak orang mencemaskanku, dan termasuk kau. Padahal ini hanya luka biasa. Bahkan aku menerima luka tembakan di bagian lenganku”. Seo Na menjelaskan dengan enteng sambil menunjuk-nunjuk bekas luka tembakan yang tertutup oleh bajunya. Tapi lain dengan ekspresi pria dihadapannya ini. Eun Hyuk merasa menyesal. Ia ingin menyelamatkan gadis itu, melindunginya dan mengurungnya dalam penjagaan Eun Hyuk, tapi saat ini Seo Na dalam lingkar hidup Kyu Hyun kan, apa pria itu masih bisa merebutnya?
“aku ingin kau tetap berada dirumah Seo Na-ssi, aku takut jika orang-orang yang membencimu menyakitimu lagi”. Nada bicara pria itu terkesan begitu lembut namun menuntut, tatapannya begitu lekat pada Seo Na yang tengah berbaring, membuat gadis itu sedikit salah tingkah. Seharusnya ia menjaga jarak pada Eun Hyuk.
“itu bukan gaya ku Eun Hyuk-ssi. aku bukan tipe wanita pendiam dan suka berada dirumah, bahkan selama ini aku hidup sendiri dengan gayaku. Kau tau bukan, bagaimana aku bisa memimpin perusahaan seperti itu, karena aku bebas aku ingin sesuatu yang berbeda, bahkan orang-orang disekitar ku membenci sifatku yang seperti itu, tapi aku tak bisa mengubahnya”. Semua kalimat arogan milik Seo Na melucur begitu saja, membuat pria dihadapannya saat ini terkekeh geli. Ternyata Seo Na yang sentimental belum berubah, pikir Eun Hyuk.
“kenapa kau tertawa? Memangnya ada yang lucu?”. Gadis itu melongos kesal.
“tidak-tidak Nona Park. Aku hanya merasa kau begitu sentimental”. Eun Hyuk kembali tertawa, membuat gadis itu mau tak mau terkekeh mendengar pengakuan pria tampan itu. ya ia memang mengakui jika dirinya memang sangat sentimental.

 
~~~000~~~

 
Ahra menatap Kyu Hyun yang tampak gelisah di balkon belakang rumahnya yang langsung menghadap ke taman luas dengan bunga-bunga yang sengaja ditanam oleh keluarga itu. “kesal ya? karena sejak tadi pria itu tidak keluar dari kamar Seo Na”. Tebak Ahra, wanita itu tak akan salah. ia bisa melihat raut wajah Kyu Hyun yang kesal dan tampak gelisah sambil memandangi jam tangannya.
“tidak”. Jawab Kyu Hyun singkat, tak terlalu berminat pada godaan kakaknya itu.
“benarkah? Tapi aku mendengar mereka tertawa bersama”. Ucap Ahra enteng, tanpa memperdulikah wajah Kyu Hyun yang kini tengah menghadap kearahnya. Wanita itu bisa melihat dari ekor matanya.
“kau menguping? Bagaimana kau tau?”. Kyu Hyun tanpa sadar membuat pertanyaan konyol pada kakak kandungnya itu, membuat Seo Na terbahak secara spontan.” Nunna…”. geram Kyu Hyun, pria itu menghelas napasnya lalu menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi yang ia duduki.
“kau cemburu Kyu, dan aku tau kau sangat mencintai Seo Na. Dan kau tau, aku bisa melihat dari mata pria yang sedang berbincang dengan Seo Na saat ini, ia juga tak kalah mengkhawatirkan Seo Na. Dan aku rasa ia juga mencintai gadis itu, tapi mungkin tak sebanyak dirimu”. Jelas wanita itu, menatap Kyu Hyun yang kini tengah balas menatapnya. Mereka hanya berdua, Kyu Hyun dan Ahra. Sejak wanita itu menikah empat tahun yang lalu mereka masih sangat dekat meskipun Kyu Hyun terlihat dingin padanya, tapi Ahra tau persis jika Kyu Hyun sangat mencintai keluarganya.
“kau tidak bisa memeksa seseorang untuk mencintaimu, tapi kau bisa membuatnya jatuh cinta padamu. Yang aku lihat Seo Na mulai memperhatikanmu, dari cara ia menatapnya. Ya aku tau karena aku perempuan, dan dengan mudah aku bisa melihatnya”. Tambah Ahra, gadis itu tersenyum. Menepuk pundak Kyu Hyun.
“Nunna…”. Kyu Hyun berhenti sejenak, lalu menatap Ahra sepenuhnya. “bagaimana jika aku tidak menemui Seo Na dalam waktu beberapa hari, apa dia akan merindukanku?”. Pertanyaan itu membuat Ahra tersenyum lembut kearah Kyu Hyun.
“iya, ia akan sangat merindukanmu, merindukan saat matamu mengintimidasinya dan ia akan rindu saat matanya memakimu”. Ahra terkekeh, tentu saja Seo Na akan merindukan adiknya. Bahkan selama ini yang ada dipikiran Seo Na hanya Kyu Hyun bukan, meski awalnya gadis itu berniat membunuh Kyu Hyun tapi Ahra yakin kini gadis itu tidak lagi membenci adiknya.
“lakukan apa yang menurutmu benar, Kyu”. Ahra beranjak meninggalkan Kyu Hyun yang masih tertegun dengan lamunannya. Ya, ia harus melakukan sesuatu hingga gadis itu mencintainya. Sepenuhnya.

 
~~~000~~~

 
Kyu Hyun masuk kedalam kamar gadis itu setelah Eun Hyuk meninggalkan rumahnya beberapa waktu lalu dan kini waktunya Kyu Hyun menjalankan semua rencana yang sudah ia susun. Mungkin ini berhasil, atau mungkin sebaliknya.
Ia menemukan Seo Na tengah berusaha menyeret kakinya yang masih sedikit ngilu. “kau mau kemana?”. Kyu Hyun mendekat kearah gadis itu berniat membantu Seo Na namun gadis itu menepisnya.
“tidak Kyu, jangan. Aku bisa sendiri”. Seo Na berlalu menuju pintu dan keluar menuju baklon kamarnya.
“keras kepala”. Ujar Kyu Hyun, pria itu mengikuti Seo Na sambil memperhatikan langkah gadis itu jika sewaktu-waktu ia bisa terjatuh kapan saja. “diluar dingin kau bisa sakit, apa kau ingin merepotkan orang banyak? Berhenti menjadi gadis keras kepala Na-ya, setelah menikah kau harus menurutiku, kau mengerti?”.
“Kyu, aku ingin bicara”. Nada bicara Seo Na terdengar tegas. Gadis itu memaksa matanya menatap wajah Kyu Hyun. Meskipun ia tau efeknya sangat tidak baik, tapi ia harus menjelaskan pada pria itu jika semua ini bukan hal yang main-main, ditambah lagi ia kini terperangkap dirumah besar milik keluarga Cho.
“katakan”. Kyu Hyun balas menatap gadis itu, ia menunggu kalimat apa yang akan disampaikan Seo Na padanya.
“tentang rencanamu, dan tentang hubungan kita. Aku bukan bonekamu Cho Kyu Hyun, aku tidak bisa kau paksa seenaknya dan aku tidak ingin mengikuti semua rencana dan perintahmu, dan aku tau aku berhutang budi padamu karena kau menyelamatkan nyawaku tapi itu setimpal dengan apa yang kau lakukan terhadap kakakku dan aku ingin kita segera berpisah, aku tidak mengenalmu dan kau tidak mengenalku. Aku tidak akan mengganggu dan membalas dendamku lagi, kau mengertikan maksudku?”. Pria itu masih menatapnya, Kyu Hyun tak mengubah sedikitpun ekspresi mukanya. Seo Na tampak bingung tapi gadis itu masih tetap ingin meyakinkan Kyu Hyun bahwa ini tidak benar. “jadi aku akan kembali kerumahku esok hari, berhubung kaki ku sudah mulai sembuh, aku harus segera bekerja”.
Kyu Hyun masih terdiam, pria itu masih menatap Seo Na dengan wajah datarnya, tapi sejujurnya hati pria itu bergejolak. Ia tidak akan menyetujui apapun yang diucapkan Seo Na, berpisah dengan Seo Na sama saja dengan kehilangan gadis itu untuk yang kedua kalinya. Tidak akan.
“Kyu, kau mendengarkanku kan. Atau kau…”.
Seo Na terdiam, setelah Kyu Kyu Hyun menarik tenguk gadis itu dan menyatukan bibir mereka. Kyu Hyun melumat bibir gadis itu lembut, namun menuntut. Seo Na awalnya terkejut sebelum akhirnya gadis itu menerima semua perlakuan Kyu Hyun terhadapnya, entah apa yang membuat Seo Na menyerah begitu saja, atau karena bibir pria itu yang melumat bibirnya begitu memabukkan. Jarak mereka semakin dekat, bahkan ciuman yang tadinya begitu lembut kini terasa begitu panas, lidah Kyu Hyun menyusup begitu saja bermain dengan lidah gadis itu didalam mulut Seo Na, gadis itu tak sengaja mengerang merasakan tubuhnya meremang, ditambah tangan Kyu Hyun yang memeluk lembut tubuhnya.
Mereka sama-sama membutuhkan bahkan Seo Na tak dapat memungkiri bahwa Kyu Hyun begitu memabukkan untuknya. Kyu Hyun melepas ciuaman mereka dengan enggan, ia bisa merasakan nafas Seo Na yang terengah-engah dan juga nafasnya yang begitu berhasrat untuk segera mencumbu lebih tubuh gadis itu.
“Na-ya, kau menginginkanku. Aku tau itu”. wajah Seo Na memerah ia tidak berani menatap kilatan mata Kyu Hyun, gadis itu tetap keras kepala menyembunyikan semua kebutuhan dirinya akan Kyu Hyun, Seo Na masih bingung dengan perasaannya sendiri, sekali lagi ia menyadari ia tidak pernah membenci Kyu Hyun, ia hanya takut jatuh cinta pada pria itu.
Kyu Hyun tersenyum, pria itu sedikit geli melihat ekspresi Seo Na, bahkan gadis itu tak berani menatapnya. Kyu Hyun mengangkat dagu gadis itu memaksa Seo Na menatapnya, membuat gadis dihadapannya ini mau tak mau menatapnya.
“aku menunggu sekian lama sayang, sekian lama hingga aku ingin mati saja ketika aku tidak menemukanmu Na-ya”. pria itu mempertemukan kembali bibir mereka, melumat penuh kepemilikan. Kyu Hyun merasa ini adalah waktu yang tepat untuk merencanakan semua rencananya, ia akan membuat gadis itu mencintainya, tanpa memaksa sedikitpun.
Seo Na menikmati setiap cumbuan Kyu Hyun dibibirnya, tidak bisa lagi gadis itu pungkuri. Ia benar-benar pas dalam mencium Seo Na bahkan mereka kini sudah berpindah keatas ranjang sambil pria itu menindih gadisnya, Seo Na benar-benar panas. Ia tidak pernah merasakan sensasi bercinta sebelumnya. Gadis itu kehilangan akal, Kyu Hyun membuatnya benar-benar mabuk. Yang Seo Na inginkan hanya Kyu Hyun.
Kyu Hyun mengangkat kepalanya sedikit menjauh dari Seo Na menatap gadis yang tengah berada dibawah tindihannya. Kyu Hyun ingin sekali menyelesaikan permainannya dengan Seo Na diranjang ini tapi pria itu tidak boleh lebih jauh, ia belum memiliki gadis itu seutuhnya.
Keduanya terengah-engah, Kyu Hyun dapat melihat dada Seo Na yang turun naik dan mata gadis itu yang tampak bersinar di bawahnya. “maaf kan aku Na-ya, tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Aku berjanji”. Seo Na menatap redup pria itu, merasakan setiap kalimat itu menyengat pikirannya. Selamanya, apa ia akan terjebak didalam permainannya sendiri?
~~~000~~~
Sudah tiga hari sejak kejadian itu, ia dan Kyu Hyun tak pernah lagi bertemu. Ahra bilang Kyu Hyun sibuk dengan perusahaanya dan Seo Na mengerti akan hal itu lagi pula perusahaan mereka bergerak dibidang yang sama, dan keduanya memiliki hubungan kerja yang sangat berpengaruh jadi Seo Na tidak heran jika pria itu benar-benar sibuk hanya saja ada sesuatu yang kosong dihari-harinya ketika ia tak menemukan Kyu Hyun yang menatap dingin kepadanya atau sapaannya yang begitu menengkan, meski selama ini Seo Na selalu bersikap kasar pada pria itu.
“SEO NA!!!”. Seo Na berdenyit, matanya menangkap sosok Yoo Ra di ujung lorong kantornya, ya seminggu lebih tidak bertemu dengan sahabatnya itu membuatnya merindukan ocehan Yoo Ra yang selalu menyodorkan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan kepadanya.
Seo Na tersenyum, lalu menerima pelukan Yoo Ra gadis itu tambak cerah. “kau merindukanku ya?”. ujar Seo Na percaya diri, tidak peduli ekspresi Yoo Ra yang berubah terhadapnya.
“didalam mimpimu saja! huh!”. Yoo Ra menyikut Seo Na lalu menyeret gadis itu kedalam ruangannya. “jadi bagaimana hari-harimu dirumah keluarga Cho? Apa Kyu Hyun melakukan sesuatu padamu?”. Pertanyaan yang sama yang selalu membuat Seo Na jengkel.
“apa Kyu Hyun terlihat seperti melakukan sesuatu terhadapku? Kenapa kau selalu bertanya pertanyaan yang sama setelah aku bertemu pria menyebalkan itu?”. Seo Na melempar tas tangannya, lalu menjatuhkan diri ke kursi putar miliknya. Ia benar-benar merindukan meja kerja dan ruangannya ini.
“ya, Kyu Hyun memang selalu terlihat seperti melakukan sesuatu, di lift contohnya. Saat itu kalian benar-benar panas”. Yoo Ra tersenyum penuh kemenangan, sambil was-was jikalau Seo Na melempar sebuah benda kearahnya.
“bisakah kau singkirkan pikiran aku seperti sedang melakukan adegan porno dengan pria itu? kau pikir aku sudah gila!”. Seo Na menarik sebuah document dari tangan sahabatnya itu, lalu membaca isinya namun otaknya benar-benar tak fokus. Kejadian tiga malam yang lalu membuatnya mengingat bagaimana Kyu Hyun mencium mesra bibirnya.
“itu adalah grafik penghasilan dari perusahaan ini, sedikit mengalami kenaikan. Itu juga hasil kerja sama dengan perusahaan calon suamimu, dia banyak membantuku. bagaimana jika perusahaan kita menjalin kerjasama yang lebih intens dengan perusahaan Kyu Hyun mengingat ia akan jadi suamimu”.
“berhenti berbicara omong kosong Yoo, tidak ada calon suami”. Seo Na menghembuskan nafasnya, kembali fokus pada kertas-kertas yang berada ditangannya. Yoo Ra yang melihat ekspresi sahabatnya itu hanya terkikik geli. Seo Na memang sedang jatuh cinta, pikirnya.
“baiklah, aku akan kembali bekerja. Ah iya aku baru ingat. Kyu Hyun mengatakan padaku, kau jangan telat makan dan berbuat hal yang mencelakai dirimu. Jika tidak tanggal pernikahan kalian akan di percepat”. Yoo Ra segera melesat pergi sebelum ia mendengar teriakkan Seo Na yang membuat telinganya berisi. Gadis itu terkekeh geli melihat ekspresi wajah sahabatnya yang merah padam.
Seo Na menghela napasnya gusar. Jika memang Kyu Hyun peduli dan mencintainya kenapa hingga kini pria itu tidak menemuinya. Pikir Seo Na, sebelum akhirnya gadis itu memukul kepalanya dan mengatakan jika dirinya memang sudah gila.

 
~~~000~~~

 
Dong Hae menyusup teh hangat miliknya, merasakan aroma teh itu menjalar kesuluruh tubuhnya, sudah seminggu lebih ia tak bertemu gadis itu, tak menghubungi Seo Na. Dong Hae memilih menenangkan dirinya, merasakan semua perasaannya yang begitu sakit. Sakit karena begitu rindu terhadap sosok Park Seo Na, dan sakit menerima kenyataan jikalau nanti Seo Na lebih memilih Kyu Hyun dari pada dirinya.
Pria itu menatap kearah luar cafe, seseorang yang tengah ia rindukan itu tengah berjalan masuk kedalam cafe dengan setelan baju kantor khas Seo Na dan tubuhnya yang lebih sedikit berisi sejak terakhir mereka bertemu. Gadis itu masuk kedalam cafe, melihat kekiri dan kekanan sebelum akhirnya mata Seo Na membulat melihat sosok Dong Hae yang tengah melambai padanya. Dengan senyum yang begitu tampan Dong Hae menyambut kehadiran gadis itu di mejanya.
“Dong Hae-ssi? kau disini juga rupanya. Akhirnya aku punya teman bersantai siang ini”. Seo Na tersenyum, mendapati wajah Dong Hae dihadapannya, sejujurnya ia merindukan sifat lembut pria tampan ini.
“kau sudah sembuh? Bagaimana kabarmu Seo Na-ssi? maaf aku tidak bisa menjengukmu waktu itu karena…”.
“tidak masalah, aku mengerti. Kau pasti sangat sibuk dengan pekerjaanmu. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu disini”. Seo Na tersenyum lalu memesan minuman hangat untuk dirinya.
Keduanya kembali terdiam, Seo Na sibuk dengan pikirannya dan segelas vanilla coffe didepan mulutnya. Sedangkan Dong Hae sibuk dengan perasaannya sendiri.
“apa ada yang kau pikirkan?”. Seo Na membuka percakapan diantara keduanya. Gadis itu menatap penuh minat pada Dong Hae, ia merasa ada yang berbeda dari diri pria itu, ia merasa Dong Hae mulai menjauhinya. “aku merasa ada yang aneh, menurutku kau terlihat seperti sedang menjaga jarak denganku Dong Hae-ssi”. tebak Seo Na, Dong Hae menyipitkan matanya lalu tersenyum sambil menggeleng lembut.
“tidak, aku sibuk memikirkanmu Na-ya. aku merindukanmu”. Ujar pria itu apa adanya, ia berbicara formal pada gadis itu saat ini. ia merasa Seo Na begitu berharga untuknya.
“aku juga”. Seo Na tersenyum. “sangat”. Lanjut gadis itu lagi.
Dong Hae menatapnya, gadis itu melemparkan senyum yang tidak bisa diartikan Dong Hae. Seo Na tak berbohong, ia tulus. Sejak kejadian di mokpo waktu itu, Seo Na bisa menilai jika Dong Hae adalah pria yang lembut, tak menuntut keinginannya meskipun ia ingin, memperlakukan Seo Na seperti kapas putih yang ringan.
“apa Kyu Hyun merawatmu dengan baik?”. tanya pria itu akhirnya, Seo Na mengangguk. “baguslah, aku tidak ingin kau celaka lagi. Aku mengkhawatirkanmu”. Ucap pria itu tulus, meraih tangan Seo Na yang berada diatas meja.
“Na-ya, kau masih ingat dengan apa yang aku katakan saat itu bukan, tentang perasaanku padamu”. Seo Na mengangguk, ia masih ingat betul ketika pria itu mengatakan jika ia mencintai Seo Na dan tak memaksa gadis itu untuk menjawabnya. “dan sekarang masih sama Na-ya, aku masih sangat mencintaimu. Selama aku tak menemuimu, aku hanya ingin melupakan pikiran tentangmu, tapi aku hanya tersiska, bahkan aku selalu memikirkanmu dan berakhir dengan rasa sakit dihatiku. Aku benar-benar tersika”. Dong Hae menarik tangan gadis itu kearah bibirnya, mengecup satu-satu jari gadis itu dengan lembut.
“jadi, kapan aku bisa mendengar jawabanmu Seo Na? Aku benar-benar menginginkanmu saat ini”. Seo Na merasa pusing, ia merasa dunia diputar-putar. Menginginkannya? Kyu Hyun juga mengatakan hal yang sama. Mereka membuat hati Seo Na goyah, keduanya, dengan sikap yang jauh berbeda membuat Seo Na tak mampu memilih. Cho Kyu Hyun, pria yang mencintainya selama bertahun-tahun, yang memaksakan semua kehendaknya, atau Lee Dong Hae pria lembut yang mencintai Seo Na apa adanya, tak pernah memaksa gadis itu sedikitpun. Seo Na benar-benar dilema.
~~~000~~~
Seo Na terkulai diatas ranjangnya, gadis itu benar-benar merindukan apartemen mewahnya ini, merindukan masa-masa sendirinya dahulu, saat ia mengendarai mobil-mobil mewahnya, berkunjung sendiri ke berbagai negara dan sekarang semua terasa bertambah berat. Seo Na takut mengenal cinta tapi saat ini gadis itu dihadapkan dengan dua pria yang mencintainya. Ya sebelum Eun Hyuk mengatakan jika pria itu mencintainya juga mungkin Seo Na akan tambah bingung dengan apa yang ia rasakan.
Seo Na mengerang prustasi, sebelum akhirnya ia mendengar ketukan pintu dari luar kamarnya serta suara Yoo Ra yang begitu nyaring setelahnya. Seo Na segera bangkit menyusul sahabat terbaiknya itu.
“aku membawakan makanan, makanlah”. Yoo Ra menyodorkan beberapa bungkus makanan pada Seo Na, gadis itu menghambur mendekat lalu membuka isi sambil tersenyum lebar. “kau lupa untuk makan, lupa untuk dirimu sendiri. dan jika kau menikah nanti Kyu Hyun akan terus meceramahimu”. Seo Na mencibir, memasukkan sepotong kimbab kedalam mulutnya, lalu tersenyum senang.
“ini enak, semuanya enak”. Ujar Seo Na, gadis itu tidak memperdulikan ucapan Yoo Ra padanya.
“ya, makanlah. Habiskan semuanya. Kyu Hyun mengkhawatirkan mu”. Yoo Ra melempar tatapan tajamnya kearah Seo Na. Gadis itu merespon dengan heran.
“Kyu Hyun? Bahkan ia tidak menghubungiku, tidak menemuiku”. Seo Na teringat akan pria itu, ya sedikit banyak ia merindukan Kyu Hyun. Pria itu tiba-tiba menghilang, tapi Seo Na tau jika Kyu Hyun pasti sibuk dengan perusahaanya. Lagi pula yang menangai kerja sama perusahaanya dengan perusahaan keluarga Cho adalah Yoo Ra, ia tidak ingin terikat dengan Kyu Hyun dalam masalah apapun, meskipun kini ia terikat dalam perasaan pria itu.
“ya, tapi dia menanyakanmu padaku”. Ujar Yoo Ra enteng. Mata Seo Na menyipit.
“seharusnya ia menghubungiku, bukan menghubungimu. Ini aneh”. Seo Na kembali mengunyah makanannya, sejujurnya tanpa melihat pria itu beberapa hari ini membuat hari-harinya tidak begitu lengkap.
“kau merindukannya?”. Yoo Ra menyipitkan matanya, mencoba menguak isi hati sahabatnya itu.
“kau gila? Yang benar saja? pria arogan yang sok dan kaku itu. ck!”. Seo Na mengunyah makanannya kasar. Gadis itu tiba-tiba emosi, membuat Yoo Ra terbahak geli menatap ekspresi wajah Seo Na yang menggelkan. “Kenapa tertawa, memangnya ada ya lucu?”.
“kau memang lucu Na-ya, sangat lucu”. Seo Na menatap tajam kearah Yoo Ra membuat gadis itu pelan-pelan menghentikan tawanya, lalu ia tersenyum geli tidak peduli jika tatapan Seo Na bertambah ngeri. “besok kau akan tau jawaban dari perasaanmu”.
Yoo Ra masih tetap tersenyum geli, tanpa memperdulikan wajah Seo Na yang tampak penasaran. Ini bagian dari rencana Kyu Hyun. Menghilang sementara dari kehidupan gadis yang dicintainya itu.
~~~000~~~
Gadis itu menempekan pistol kearah cermin dihadapannya, matanya merah namun cairan bening itu memenuhi pipi indahnya. Jae Eun menatap nanar kearah dirinya. Ia tak mendapatkan Eun Hyuk, ia tak mendapatkan pria itu menjadi miliknya mencintainya dan menghargai keberadaannya didekat pria itu.
Jae Eun bukan tipe gadis penggoda, obsesi yang ia rasakan untuk mendapatkan Eun Hyuk merubahnya menjadi gadis jahat terlebih terhadap orang yang sudah menghancurkannya selama ini sekaligus merebut perhatian Eun Hyuk kepadanya. Ya, Jae Eun sangat membenci Park Seo Na gadis itu yang sudah menendangnya dari perusahaan secara tidak sopan serta membuat orang yang ia cintai menaruh hati pada Seo Na, baginya gadis itu harus lenyap. Harus mati bagaimanapun caranya.
“susun rencana untuk kedepannya, aku ingin gadis itu segera mati”. Ujar gadis itu pada pria diujung sambungan teleponnya.
“ya, matilah kau Park Seo Na”.
~~~000~~~

 

“pakai ini”. Yoo Ra melempar gaun bewarna biru kearah Seo Na. Gaun rancangan ternama yang langsung dipesan sahabatnya itu dari Paris. Gaun itu cukup mahal, sangat mahal lebih tepatnya. Gaun keluaran terbaru edisi majalah fashion kota paris. Seo Na menatap bingung lalu masuk kekamarnya dan memakai gaun itu sesuai perintah sahabatnya.
Seo Na keluar dari kamar dengan gaun biru mewah yang dikenakkannya. Memperlihatkan lekuk tubuh seksi gadis itu. potongannya begitu rendah hingga memperlihatkan belahan dadanya. Ditambah bagian belakangnya dengan kain transparan yang menampakkan seluruh punggungnya menambah kesan seksi, mewah dan tetap terlihat elegan.
“Seo Na! Kau benar-benar cantik. Aku tak menyangka kau bisa secantik ini”. Yoo Ra kagum, bahkan Seo Na belum bermake-up sama sekali.
“kemana saja kau selama ini”. ujar gadis itu bangga, lalu memutar-mutar badannya, membuat gaun selutut itu terkembang bebas. “ini bagus, kau membelinya untukku ya? selara yang bagus”.
“bukan aku”. Yoo Ra tersenyum, lalu tak menjelaskan siapa yang menghadiahkan gaun mewah itu kepada Seo Na. “mari ku dandani, aku cukup lihai untuk berdandan”.
“memangnya aku akan kemana? Kau bukannya hanya menyuruhku mencoba gaun ini?”. Seo Na berkedik heran, memangnya siapa yang akan makan malam dan mengadakan pesta? Tidak ada kan?
“nanti kau akan tau, seseorang akan menjemputmu nanti tepat jam delapan”. Jelas Yoo Ra sebelum akhirnya mendandani Seo Na, melancarkan rencana pria yang kini tengah mengunggu Seo Na disuatu tempat, siap memberikan kejutan bagi gadis itu.
~~~000~~~
Seo Na tampak melirik ke kiri dan kekanan, ia cukup bingung setelah di poles oleh sahabatnya, ia dijemput oleh supir suruhan dan menuju ke hotel mewah, supir yang mengantarnyapun hanya diam setiap kali Seo Na bertanya padanya, membuat gadis itu jengkel dan berhenti bertanya. Pria itu hanya menjawab Seo Na harus naik ke lantai sepuluh hotel itu dan seseorang sudah menunggunya disana, namun Seo Na tak menemukan apa-apa selain lampu temaram dan para staff hotel yang menyambutnya, gadis itu baru sadar ini adalah restoran mewah milik hotel ini, tapi tak ada pengunjung sama sekali semua bangku terlihat kosong.
Apa seseorang sedang mempermainkannya, pikir Seo Na. Gadis itu semakin kesal. Ia memilih duduk dimeja yang terdekat dengannya. Lalu menghela napas panjang. Tapi sedetik kemudian semua lampu dihidupkan dan alunan instrumen violin terdengar beserta alat musik lainnya. Seo Na terlonjak kaget melihat sekumpulan orang-orang yang bermain musik disana dan berdiri seorang pria tak jauh dari hadapannya. Cho Kyu Hyun, pria itu sangat terlihat tampan dengan setelan jas nya yang rapi, rambut coklatnya yang mengkilat dan senyum menawan yang kini tengah ia suguhkan kepada Seo Na.
Kyu Hyun mendekat kearah gadis itu, membuat Seo Na spontan berdiri menanti Kyu Hyun ditempatnya hingga kini keduanya saling bertatapan dengan jarak yang dekat. “Park Seo Na”. Ujar pria itu. menyodorkan seikat bunga mawar bewarna merah jambu kearah gadis itu. Seo Na mengambil bunga itu dari tangan Kyu Hyun, masih tidak mengerti dengan apa yang dilakukan pria itu.
“selamat ulang tahun Na-ya, selamat menjalani kehidupan diumur barumu”. Darah Seo Na berdesir hebat bahkan ia tidak ingat jika hari ini ia sedang berulang tahun. Benar kata Yoo Ra, Seo Na tak pernah peduli dengan dirinya sendiri.
“Kyu Hyun, bagaimana kau tau… aku?”. Seo Na tampak bingung, gadis itu salah tingkah dan ia merasakan matanya kini memanas menahan air mata.
“aku mengingatnya setiap tahun sejak aku mengenalmu Na-ya, selama ini aku selalu merayakan ulang tahunmu sendiri. bersama dengan kekesalanku ketika aku tidak bisa menemukanmu. Aku benar-benar menyesal sudah membuatmu membenciku luar biasa, aku akan menebusnya. Aku mencintaimu”. Pengakuan Kyu Hyun berhasil membuat gadis itu meneteskan air matanya. Membuat Seo Na terisak, ini adalah tangisan kebahagiaan. jadi selama Kyu Hyun menghilang ia mempersiapkan ini untuknya?
“dan…”. Kyu Hyun menghentikan ucapannya sejenak. “maukah kau menikah denganku? Menjadi istriku yang sah?”. Lamaran itu lolos begitu saja dari mulut pria itu dan sekali lagi Seo Na tercengang, ia tidak pernah menyadari jika cinta Kyu Hyun terhadapnya begitu besar.
Seo Na masih terisak, gadis itu menatap mata Kyu Hyun yang juga berkaca-kaca, tatapan pria itu mengisyaratkan bahwa ia sangat menginginkan Seo Na lebih dari apapun. “Kyu Hyun, aku… aku tak tau”. Seo Na semakin menangis. “aku akan mencobanya Kyu, aku akan mencintaimu. Aku terima”. Ujar gadis itu akhirnya. Ia tak tau apa jawabannya ini benar-benar akan membuatnya bahagia, tapi pengakuan Kyu Hyun malam ini membuat ia menemukan satu titik ketenangan dalam dirinya.
Kyu Hyun menarik gadis itu kedalam pelukannya, disambut riuh tepuk tangan para pemain musik dan pelayan yang berada dalam ruangan itu. Kyu Hyun sangat bahagia, ia telah mendapatkan Seo Na didalam hidupnya, setelah sekian lama. Akhirnya gadis itu menjadi milik Kyu Hyun seutuhnya.
Kyu Hyun menarik tubuh gadis itu lalu mencium bibir Seo Na dengan penuh kasih sayang, Ya Park Seo Na yang ia puja, gadis cantik, arogan, dan angkuh adalah yang diinginkan Kyu Hyun.
~~~000~~~
“ia akan menikah dengan Cho Kyu Hyun”. Kalimat itu membuat dada pria itu begitu sesak, ada yang begitu nyeri dihatinya. Rasanya matanya memanas dan otaknya sulit untuk berpikir jernih. Ya, ia baru mendengar dari orang kepercayaannya, bahwa Seo Na akan menikah dengan sahabat baiknya itu. entah bagaimana, rasanya terlalu cepat bagi Dong Hae. pria itu bahkan bertemu dengan Seo Na beberapa hari yang lalu mencium tangan gadis itu dan kini pikirannya tak dapat bekerja dengan baik. Park Seo Na gadis yang ia inginkan, akan menikah dengan sahabat sekaligus saigannya Cho Kyu Hyun.

Dong Hae mendengar ketukan di pintu ruang kerjanya, pria itu segera menyeka air matanya. Mencoba mentralkan pikirannya saat ini, meskipun sejujurnya pria itu benar-benar kalut. Ia menginginkan Seo Na, sangat menginginkannya.
“masuklah”. Ujar pria itu, suaranya terdengar sedikit melemah.
Gadis itu muncul dari balik pintu, membuat pria yang kini tengah menatapnya terperangah. Baru saja hatinya sakit karena gadis itu akan menikah dengan pria lain, tapi sekarang gadis itu sudah berada dihadapannya, tapi bukan dengan senyum. Melainkan air mata yang mengalir di pipinya. Ya, Seo Na menangis berdiri kaku dihadapan Dong Hae tanpa bisa pria itu artikan.
“Seo Na-ssi? kau menangis? Apa yang terjadi?”. Dong Hae panik, pria itu menghambur kehadapan Seo Na sebelum akhirnya gadis itu menarik jasnya lalu memeluk tubuh Dong Hae tidak peduli dengan ekspresi kaget pria itu, dan Dong Hae sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi. Seharusnya Seo Na bahagia, bukankah ia akan menikah dengan Kyu Hyun? Apa terjadi sesuatu?
Cukup lama Seo Na terisak dalam pelukan Dong Hae, menangis di dada bidang pria itu membuat sisi Jas pria itu basah. Dong Hae tak lanjut bertanya, ia membiarkan Seo Na menangis dan meluapkan kesedihannya. Setelah ini gadis itu pasti akan menceritakan semuanya.
“Dong Hae-ssi…”. suara gadis itu bergetar menyebutkan nama Dong Hae, ia sudah tak terisak lagi namun air matanya masih turun menambah kelembapan pipi gadis itu.
“hm.. ya Na-ya”. ujar Dong Hae lembut, pria itu mengelus punggung gadis itu memberikan ketenangan disana.
“tolong bawa aku lari”. Kalimat Seo Na itu membuat kepala Dong Hae terasa meremang. Maksud gadis itu membawa ia kabur? Lalu bagaimana dengan pernikahannya bersama Kyu Hyun?.
“Na-ya, apa yang terjadi? Ceritakan padaku”. Dong Hae sedikit mendesak, membuat gadis itu menatap matanya, dan itu membuat Dong Hae tak sanggup menatap pilu wajah gadis itu. dari sorot matanya Seo Na sangat ketakutan.
“Kyu Hyun akan dibunuh, Kyu Hyun akan dibunuh dan aku… aku tak bisa dengannya… aku”. Gadis itu kembali terisak, ia tak mampu menyelesaikan kalimatnya, terlalu sakit mungkin bagi gadis itu.
“katakan dengan pelan Park Seo Na, kau jangan takut aku disini bersamamu”. Dong Hae menyeka air mata gadis itu dengan ibu jarinya.
Seo Na menarik nafasnya dalam. “orang itu datang lagi, orang yang sama dengan orang yang menembakku, dan menculikku malam itu. ia mengatakan, ia akan merenggut kebahagiaanku, ia akan membunuh orang yang ku cintai dan menghancurkan kebahagiaanku, ia akan membunuh Kyu Hyun jika aku tidak pergi dari negara ini, ia akan membuat Kyu Hyun menderita jika aku tak melepaskan Kyu Hyun… aku takut, aku benar benar takut”. Gadis itu kembali menangis, isakkannya kali ini membuat hati Dong Hae terasa perih, jadi karena itu ia ingin lari, ia tidak ingin Kyu Hyun dicelakai karena dirinya dan ia ingin Dong Hae menyelamatkannya.
“Dong Hae-ssi, selamatkan aku. Selamatkan Kyu Hyun, bawa aku pergi jauh dari sini. Aku tak ingin Kyu Hyun terluka”. Setitik rasa sakit menyeruak didada Dong Hae, menyadari betapa gadis itu sangat mengkhawatirkan hidup Kyu Hyun saat ini, namun ada titik dimana ia begitu senang, karena gadis itu kembali padanya, meminta tolong untuk menjauh dari kehidupannya bersama Kyu Hyun, tentunya tanpa Kyu Hyun saingan terberatnya.
“Ya, Na-ya. Aku akan melakukannya demimu”. Pria itu memeluk Seo Na erat, ia berjanji ia tak akan menyakiti hati Seo Na. Ia akan melindungi gadis itu.
~~~000~~~
“tinggalkan Cho Kyu Hyun, tinggalkan kehidupanmu disini. Atau aku akan membunuh pria yang kau cintai itu. seperti saat itu, saat aku menembakmu dan saat aku menculikmu. Apa kau tega melihat ia tersiksa dengan luka tusukan dan tembakan, bahkan aku tak akan memberi ampun Park Seo Na yang terhormat. Ia akan mati ditanganku jika kau tak melaksanakan keinginanku. Waktumu hanya tinggal 5 hari terhitung dari hari ini, ingat itu”.
“Na-ya?”. Suara Kyu Hyun membuat gadis itu terlonjak kaget. Ia segera menghapus air matanya yang sejak tadi tak berhenti menetes. “kau baik-baik saja?”. tambah pria itu lagi.
Seo Na menggangguk lalu tersenyum kearah Kyu Hyun. “aku baik-baik saja Kyu”. Kyu Hyun membalas senyum gadis itu lalu duduk persis disamping Seo Na.
“aku merindukanmu Na-ya, sangat”. Ujar Kyu Hyun membuat Seo Na mengalihkan pandangannya pada pria itu, meskipun hatinya begitu perih melihat wajah pria yang ia cintai itu, wajah yang tak akan ia lihat lagi setelah ia meninggalkan Seoul nantinya.
Seo Na menatap mata pria itu, menahan air matanya yang sejak tadi mendesak keluar. “terlebih aku”. Kalimat sederhana, namun mengandung isyarat yang membuat Kyu Hyun ingin segera memeluk tubuh Seo Na, mencium gadis itu dan mencumbunya di ranjang. Ya, Seo Na adalah candunya yang tak tertahan ditambah sejak gadis itu membalas cintanya, Seo Na seperti kebutuhannya.
“tapi wajahmu Sedih Na-ya, aku bisa melihatnya. Apa aku berbuat salah padamu?”.
“tidak Kyu, tidak. Kau sangat baik. sangat”. Seo Na menggeleng, ia tak ingin membuat Kyu Hyun mengkhawatirkannya.
“benarkah?”. Suara Kyu Hyun terdengar lebih rendah dan lembut, sebelum akhirnya pria itu mendekatkan wajahnya kearah Seo Na membuat gadis itu segera menutup kelopak matanya, dan akhirnya bibir mereka menyatu.
Kyu Hyun mencumbu lembut bibir gadis-nya itu, merasakan setiap sensasi bibirnya yang bersentuhan langsung dengan bibir manis milik Seo Na, ia begitu sangat terlena dengan isapan yang ia lakukan terhadap bibir gadis itu, sangat manis membuat suasana berciuman keduanya berubah menjadi panas dan erotis, Kyu Hyun mendorong mengangkat tubuh Seo Na mengiring tubuh ringkih gadis itu kedalam kamarnya tanpa melepaskan ciuman mereka.
Kyu Hyun meletakkan gadis itu diatas ranjang dengan hati-hati, lalu berpindah pada rahang gadis itu dan berakhir ditelinga Seo Na. “kau sangat manis Na-ya”. ucapan sensual Kyu Hyun membuat gadis itu meremang, ia merasakan setiap sensasi bibir Kyu Hyun yang menempel di wajah dan cupingnya, gadis itu benar-benar merasa sangat panas.

Kyu Hyun melepas kontak bibirnya dengan gadis itu, menatap meminta izin pada gadis dibawahnya sebelum akhirnya mendapat respon setuju dari Seo Na, dan mereka melanjutkan malam pertama mereka bercinta yang panas dan begitu erotis.

TO BE CONTINUE

~~~000~~~

REVENGE BEFORE LOVE (5/?)

Standard

RERE_副本

REVENGE BEFORE LOVE (5/?)
Action, Romance. PG + 17
Cast :
Cho Kyu Hyun
Lee Dong Hae
Park Seo Na

Yoo Ra menuang susu dingin kedalam dua gelas yang berada dihadapannya, lalu berjalan menuju ruang televisi mendapati Seo Na yang masih menatap kosong kearah layar televisi, gadis itu tersadar ketika Yoo Ra menyodorkan segelas susu kearahnya, gadis itu meraih gelas berisi cairan putih itu sejenak lalu meneguknya.
Yoo Ra mengerutkan dahinya, selama ia mengenal Seo Na gadis itu tidak pernah seperti ini, tatapan kosong yang terlihat konyol untuk seorang Seo Na, tapi wajar saja jika gadis itu sudah banyak berubah, toh pangeran berkuda putihnya juga sudah ia temukan, ya meskipun alih-alih Kyu Hyun adalah pangeran berkuda putih setidaknya pria itu sudah merubah sedikit banyak sifat Seo Na yang awalnya sangat dingin menjadi sedikit lebih peduli dengan orang-orang dan lingkungan sekitarnya.
“apa yang terjadi dengan hari-harimu akhir-akhir ini? kau belum bercerita tentang liburan singkatmu ke mokpo bersama Dong Hae dan kasus kaburmu dari kantor tadi siang dengan Kyu Hyun, sepertinya kedua pria itu membuatmu prustasi ya?”. Tebak Yoo Ra asal, dan ia yakin tebakannya memang tidak salah, siapa lagi pria yang ada didalam hidup gadis itu kalau bukan Kyu Hyun dan Dong Hae, ya kedua pria yang sangat jauh berbeda dan kadar ketampanan yang juga berbeda.
Seo Na menekan pelipisnya merasakan nyeri disekujur tubuhnya seketika, terlalu banyak problema yang ia hadapi akhir-akhir ini tapi entah kenapa semua itu membuat hidupnya lebih bewarna. “setelah ini aku harus mendapatkan cuti dan berlibur panjang, atau menyempatkan diri ketempat pijat refleksi untuk mengendorkan semua saraf-saraf ditubuhku yang menegang dan aku yakin bisa putus kapan saja”.
Yoo Ra terkekeh geli mendengar keluhan Seo Na yang lebih terdengar seperti protes keras pendemo dijalanan. Gadis itu memijit tangan Seo Na membiarkan sahabatnya itu merasakan pijatannya yang memang tidak seberapa enak tapi sukses membuat Seo Na tersenyum. “akhirnya kau mengerti juga jika aku membutuhkan yang semacam ini”. ujar gadis itu, Yoo Ra hanya mencibir.
“karena kau adalah sahabatku, dan kau disukai oleh dua orang pria yang tampan, ehmm maksudku tiga pria tampan-“.
“tiga?”.
“Eun Hyuk sepertinya masuk dalam peritungan”. Seo Na melongos, ia baru sadar setelah Yoo Ra mengucapkan nama pria itu, sudah beberapa hari ini Eun Hyuk menghubunginya, tapi gadis itu malah enggan mengangkat panggilan pria itu dan juga tidak membalas pesan singkat dari Eun Hyuk, sudah cukup dua pria yang membuatnya pusing jangan ditambah lagi dengan pria lain, ia benar-benar akan ke pisikiater setelah ini, pikir gadis itu.
“jadi ceritakan padaku, apa yang terjadi dan membuatmu seperti ini”. paksa Yoo Ra, Seo Na akhirnya menyerah dan menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dengan Dong Hae, dan juga antara dirinya dengan Kyu Hyun. Sejujurnya Seo Na ingin memakai sifat -tidak mau pedulinya- seperti biasa, tapi kedua pria itu membuatnya benar-benar perduli. Bagaimana bisa dua orang pria mengungkapkan perasaanya dalam jarak waktu 3 hari.
Yoo Ra membulatkan matanya, merasa begitu bangga dengan sahabatnya itu, jadi selama ini ia salah menganggap Seo Na seorang gadis jadi-jadian karena sekarang terbukti jika banyak pria yang tergila-gila dengan gadis itu apa lagi pria yang memiliki kadar ketampanan diambang batas, siapa yang tidak suka.
“jadi kau akan memilih siapa?”. tanya Yoo Ra tak sabaran, jika ia menjadi Seo Na, Yoo Ra akan menerima kedua-duanya tapi karena ia bukan Seo Na ia tidak bisa memilih siapapun.
Seo Na menggelang pasrah, otaknya sudah cukup buntu saat ini jadi ia tidak ingin otaknya semakin buntu lalu otak itu meloncat keluar dari kepalanya karena tidak tahan memikirkan hal yang rumit seperti yang gadis itu rasakan saat ini, tidak lucu jika otak gadis itu meloncat keluarkan?
“aku sedang tidak ingin memikirkan apapun, kenapa aku harus dihadapkan dengan hal yang seperti ini?”. gadis itu hanya melongos, membuat Yoo Ra juga ikut pusing.
“aku tidak menyangka Kyu Hyun-ssi akan mengajakmu menikah secepat itu, dan ancamannya juga cukup mengerikan. Tapi jika aku jadi kau aku juga akan bingung harus berbuat apa. kalau begitu bagaimana menerima keduanya saja?”. oceh Yoo Ra yang direspon tatapan sinis sahabatnya itu, Yoo Ra malah terkikik tidak ambil pusing dengan kemarahan Seo Na yang tidak mengerikan seperti dulu lagi.
“aku rasa aku benar-benar harus kepisikiater setelah ini, lalu berlibur ke Verona agar mendapat pencerahan dari Juliette disana”. ucap Seo Na sambil membayangkan kota Verona ketika ia pertama kali datang kesana dan menemukan begitu banyaknya wanita-wanita yang mengunjungi rumah Juliette untuk mengadu, jadi ia tau sekarang kenapa gadis –gadis itu tampak prustasi, ternyata cinta itu tidak hanya menyakitkan tetapi juga rumit.
~~~000~~~
“Eomma ingin membicarakan sesuatu denganmu Kyu Hyun-ah, mungkin ini waktu yang tepat untuk membicarakannya”. Kyu Hyun mengadah setelah mendengar rentetan kalimat Ibunya yang terdengar serius, malam ini pria itu menginap dirumah Ibunya.
“apa?”. tanya pria itu, sambil tetap melanjutkan makan malamnya bersama wanita itu. Ibu Kyu Hyun tampak tersenyum melihat Kyu Hyun yang begitu lahap mengunyah makanannya.
“aku dan kakakmu Ahra sudah membicarakan hal ini, karena kau adalah satu-satunya pewaris tunggal dikeluarga kita aku sangat berharap banyak padamu”. Wanita itu terdiam sejenak, mendapati Kyu Hyun yang kini sudah menghentikan acara kunyah mengunyahnya dan serius mendengarkan Ibunya itu. “karena usiamu sudah tidak muda lagi, aku rasa sudah sepantasnya kau menikah. Maksudku, kau harus punya keturunan untuk tetap memimpin perusahaan sebesar itu, karena jika tidak harta warisan tidak akan diserahkan kepadamu”.
Kyu Hyun tertohok mendengar rentetan kalimat dari Ibunya itu, menikah? Bagaimana ia bisa menikah, sedangkan pria itu saja belum sempat memikirkan hal yang demikian, ia baru saja menemukan gadis yang ia cintai seumur hidupnya dan tidak ada waktu untuk menyuruh gadis itu menyukainya, dan ia tidak akan menikah dengan siapapun selain dengan gadis itu.
“setidaknya kau harus mempunyai keturunan”. Lanjut wanita itu, Kyu Hyun berdelik menyambar gelas yang berisi air mineral lalu meneguknya banyak-banyak, ia benar-benar merasa sangat haus kali ini. “kau sudah menemukannya bukan?”. Tebak wanita itu, Kyu Hyun menatap ibunya tak percaya, bagaimana wanita itu tau tentang apa yang sedang terjadi?
“aku baru saja menemukannya, aku belum sempat membuatnya mencintaiku”.
“tidak perlu, kau hanya perlu menikahinya setelah menikah ia bisa jatuh cinta kepadamu. Kalau kau tak bersedia aku bisa mencarikan wanita lain”.
“tidak-tidak, bukan begitu”. Sergah pria itu cepat, bagaimana ia bisa menikah dengan wanita lain setelah ia menemukan gadis yang ia tunggu-tunggu selama bertahun-tahun lebih baik ia memaksa gadis itu mau menikah dengannya, bagaimanapun caranya.
“baiklah kalau itu yang kau mau, kapanpun kau membawa gadis itu kehadapanku aku akan berbicara dan menjelaskan semuanya, pantas saja kau tidak menerima kakaknya selama ini ternyata yang kau mau itu adiknya”. Goda wanita itu, Kyu Hyun salah tingkah ia berpikir pasti kakaknya Ahra yang memberi tahu ibunya, ya tentu saja Ahra tau karyawan dikantor yang tidak asing lagi dengan gosip tentang pemimpin perusahaanya itu.
“aku kira ini tidak akan menjadi berita heboh dikantor”. Ucap Kyu Hyun, Ibu Kyu Hyun terkekeh melihat perubahan sikap anaknya yang menggelikan dari biasanya itu, Kyu Hyun biasanya selalu kaku dan pendiam hanya berbicara seperlunya dan jarang sekali melihatkan ekspresinya.
“cinta memang bisa merubahmu menjadi lebih baik Kyu Hyun-ah”. Gumam wanita itu akhirnya.
~~~000~~~
Kyu Hyun mengingat lagi pembicaraanya dengan Ibunya beberapa hari yang lalu, Ibunya benar pria itu harus menikah dan mempunyai keturunan jika ingin tetap memimpin perusahaan dan mendapatkan warisan dari mendiang Ayahnya. Kyu Hyun adalah anak laki-laki satu-satunya jadi ia harus bertanggung jawab atas keluarganya dan menikah adalah salah satunya yang harus ia laksanakan dalam waktu dekat ini, lagi pula setelah menjalin kerja sama dengan PTI Corp perusahaan Kyu Hyun semakin mendapatkan kesuksesan yang begitu besar dari kesuksesan yang sebelumnya dan perusaan sebesar itu harus terus berada dibawah tanggung jawabnya seperti apa yang sudah dipesankan mendiang Ayahnya saat beliu meninggal dunia.
Tapi bukan itu masalah utama yang kini dipikirkan pria itu, tapi lebih pada masalah dirinya dan gadis yang bernama Park Seo Na. Bukan ia tidak bisa mencari wanita lain dan melahirkan keturunannya tapi yang ia mau dan satu-satunya yang ia inginkan menikah dan melahirkan anak untuknya hanyalah Seo Na jadi tidak akan ada kamus wanita lain didalam hidupnya, dan sekarang ia hanya harus lebih keras mendapatkan Seo Na bila perlu menculik gadis itu dan menikahinya. Ya meskipun Kyu Hyun tau ini sama saja dengan pekerjaan menangkap harimau liar.
Kyu Hyun tersentak ketika mendapati suara dentingan bel dari luar apartemennya, jika bukan Ye Sung pasti itu Dong Hae yang setidaknya hanya dua pria itu yang terus merecokinya tapi bukan masalah bagi pria itu. Kyu Hyun melangkah menuju pintu utama ia menekan ganggang pintu namun sedetik kemuan tak menemukan orang diluar apartemennya namun ketika Kyu Hyun mengalihkan pandangannya kebawah tatapan pria itu terhenti pada selembar kertas yang terlipat rapi dilantai, alis pria itu terangkat lalu menyambar kertas itu dan menuju dalam apartemennya.
Pria itu teringat dengan kejadian yang ia alami beberapa waktu lalu, kertas yang menjadi peringatan dan penunjuk baginya tentang siapa Park Seo Na dan sekarang ia juga menemukan kertas yang sama namun ia tidak tau persis apa isinya yang kali ini, dengan hati-hati pria itu membuka lipatan surat dan menemukan rentetan kalimat-kalimat didalam sana, seketika jantung pria itu berdesir hebat, dengan cepat ia meraih jaketnya lalu menyambar remote mobilnya menuju suatu tempat.
~~~000~~~
Seo Na melilitkan handuknya dikepala, gadis itu baru saja selesai mandi setelah Yoo Ra meninggalkannya diapartemen sendirian, sahabatnya itu kembali ke lantai bawah dimana apartemennya berada. Seo Na menghela napasnya panjang, jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam setelah ini ia bisa beristirahat dengan tenang dan berharap esok hari ia bisa mendapati didinya yang hanya bermimpi selama ini mengenal dua orang pria yang bernama Kyu Hyun dan Dong Hae yang membuatnya cukup pusing.
Belum sempat gadis itu melangkahkan kakinya menuju dapur dentingan bel apartemennya mengalihkan langkah gadis itu menuju pintu utama, meski dalam hati gadis itu mengutuk-ngutuk orang yang sudah memutuskan bertamu larut malam seperti ini. menit kemudian Seo Na membuka ganggang pintu dan sama sekali tidak mendapati seorangpun diluar apartemennya, kali ini ia hanya mendapati kertas putih yang tergeletak dilantai.
Seo Na mengerinyit, memutuskan membaca isi kertas itu, setelah tuntas membaca deretan kalimat dalam kertas itu Seo Na memutuskan berganti pakaian melesat menuju tempat yang disebutkan oleh orang itu didalam kertas yang ia tunjukkan pasa Seo Na.
“Jika kau ingin tau siapa yang sudah menembakmu, kau bisa datang ketempatku malam ini, Nona Park Seo Na”.
Setidaknya seperti itulah tulisan yang tertera disana, Seo Na bukan tipe orang yang takut dengan masalah yang dihadapinya terlebih lagi tentang orang-orang yang dendam dengannya, mungkin ini hanya sebuah kesalah pahaman, setelah ia menyelesaikannya ia tidak akan menerima teror apapun. Ia juga tidak butuh bantuan Lee Teuk dengan memperpanjang masalah kepengadilan, lebih baik dengan cara yang lebih privasi saja, pikir gadis itu.
~~~000~~~
“Hyung, kau dimana? Bisa ketempatku sekarang? Aku akan mengirimkan alamatnya melalui pesan”. Tanpa banyak berbasa-basi Kyu Hyun mematikan sambungan teleponnya dengan Dong Hae diujung sana, dengan cepat pria itu mengirimkan alamat yang ia dapatkan dari kertas misterius yang penuh ancaman itu, setidaknya Dong Hae harus tau, ia jika tidak ingin mati konyol menghadapi orang-orang jahat yang akan ia temui, Kyu Hyun akan lebih cerdik tentang hal itu.
“Park Seo Na bersamaku, apa yang harus aku lakukan padanya? Apa aku harus menembaknya lagi, kali ini aku akan menembaknya tepat pada sasaran. Jika kau mencintai gadis ini kau bisa datang menyaksikan gadis ini terbunuh dihadapanmu”
Setiap kalimat yang berada didalam kertas itu terus menari-nari didalam otaknya, bagaimana gadis itu dengan mudah bisa masuk kedalam jebakan orang-orang yang ingin mencelakainya itu, setelah ini ia bersumpah ia akan menikahi gadis itu tidak peduli jika Seo Na mau atau tidak, setelah itu ia akan membuat kurungan besi untuk Seo Na agar tidak ada orang yang menyakitinya, demi Tuhan Kyu Hyun benar-benar ingin membunuh orang-orang yang menyakiti gadisnya.
Kyu Hyun memarkirkan mobilnya disembarang tempat, sebuah gudang tua yang cukup jauh dari hiruk pikuk kota, dan penculik itu cukup cerdas membawa Seo Na dan membekap gadis itu didalam sana. Kyu Hyun membawa pistol pribadinya, pistol yang ia pergunakan jika sewaktu-waktu bahaya mengancam dirinya, lagi pula pria itu sudah memiliki surat izin menggunakan senjata api.
Kyu Hyun berjalan perlahan sebelum akhirnya Dong Hae datang dan juga memarkirkan mobilnya tergesa, keluar dengan tampang bingung setengah mati.
“apa yang terjadi? Ada apa dengan tempat ini?”. tanya Dong Hae panik, Kyu Hyun menjelaskan dengan singkat dan detail sebelum mereka memutuskan mencari Seo Na didalam bangunan tua itu, Dong hae terhenyak kaget bahkan pria itu kini lebih ambisius dari Kyu Hyun untuk segera mendapatkan Seo Na, sebelum akhirnya keduanya memencar mencari Seo Na, Kyu Hyun memelih gudang yang berada dibelakang sedangkan Dong Hae memutuskan menggeledah bangunan tua yang tepat pada depan gudang.
~~~000~~~
Seo Na mengerang kesakitan, setelah kedua pria bertubuh besar itu mengikat pergelangan tangannya dan membekab mulut Seo Na hingga gadis itu hanya bisa bergumam kesakitan. Setelah memutuskan mengikuti skenario seseorang yang memberikan kertas itu didepan pintu apartemennya, Seo Na memutuskan ketempat itu sebelum akhirnya ia melihat dua orang pria bertubuh tegap menarik tubuhnya dan menyeretnya kedalam gudang tua itu dengan paksa tepat saat ia baru saja melangkahkan kakinya dari dalam mobil miliknya.
Seo Na kembali mengeluarkan suaranya yang tertahan ketika salah seorang dari kedua pria itu menendang pergelangan kakinya lalu mereka sama-sama tergelak, sebenarnya tidak hanya dua orang pria disana, tapi juga ada satu orang wanita yang menggunakan topi , kaca mata hitam, dan masker bewarna coklat tua yang menutupi bagian hidung dan mulutnya, wajahnya sama sekali tidak bisa dikenali Seo Na.
“aku suka ketika mendengarmu merasakan rasa sakit itu, aku begitu bahagia”. Ucap wanita itu akhirnya, suaranya tidak terlalu jelas namun kalimat yang ia ucapkan masih bisa dimengerti Seo Na. Seo Na menatap gadis itu bengis, ia tidak merasa kalah diraut wajahnya ia masih berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja dan kuat.
“tatapanmu itu membuatku jijik Park Seo Na, kau gadis sombong yang memuakkan! Gadis serakah! Setelah pria itu datang kemari, aku akan menghabisimu tepat dihadapannya, aku ingin ia menangis melihat orang yang ia sukai menderita!!! Dan pastinya kau sangat menyesal bukan saat itu tidak jadi membunuhnya, aku ikut perihatin dengan dendammu yang berlebihan itu”. lanjut gadis itu, Seo Na tetap menatapnya tajam, memicingkan matanya kearah gadis itu.
“buka penutup mulut gadis itu, aku ingin dengar ia berbicara apa, lagi pula sepertinya ia harus mengucapkan kata-kata selamat tinggal sebelum kematian menjemputnya”. Ujar gadis itu, sebelum akhirnya salah satu pesuruhnya membuka sapu tangan yang menutupi mulut Seo Na.
Seo Na mengambil udara banyak-banyak, tersenyum masam kearah gadis yang berada dihadapannya saat ini, gadis itu tidak akan terpancing emosi, ia tidak ingin wanita itu tertawa penuh rasa kemenangan melihatnya saat ini.
“kau kira aku takut? Cih! Sejengkalpun kematian menjemputku, aku tidak akan takut! Wanita pengecut!”. Geram Seo Na, tetap menatap tajam pada gadis yang kini sudah siap melayangkan pukulannya kepipi Seo Na.
Sebuah tamparan keras tepat mengenai pipi mulus gadis itu, tamparan yang belum ada apa-apanya dengan semua penderitaan yang selama ini ia rasakan, ia tidak akan merintih kesakitan selama ini ia lebih banyak menemui rasa sakit dari pada semua ini.
“kau kira aku merasa sakit? Terlalu banyak rasa sakit yang lebih sakit yang aku rasakan dari tamparan itu, jadi jangan beranggapan aku akan memohon padamu”. Ucap gadis itu, meski kini disudut bibirnya darah mulai mencuat dan terasa nyeri ia tetap pada penderiannya ia tak akan merintih kesakitan, terlalu bodoh baginya.
Gadis dihadapannya itu kini tertawa renyah, ia bahkan tak segan-segan menyuruh kedua pesuruhnya untuk memukuli tubuh Seo Na tapi tetap saja Seo Na hanya diam dan menerima semua perlakuan yang orang itu berikan padanya, Seo Na merasa ini mungkin hukuman baginya karena selama ini menaruh dendam pada orang yang salah, selama ini ia tidak terlalu peduli dengan orang-orang disekitarnya, dan mungkin banyak kesalahan yang tak ia sadari jadi mungkin ini adalah balasannya, pikir gadis itu.
“PARK SEO NA!!!”. Teriakan seorang pria menghentikan pukulan-pukulan keras pada tubuh gadis itu, Seo Na tersenyum, disaat seperti ini bagaimana ia bisa mendengar suara pria itu, apa karena ia terlalu banyak membenci Kyu Hyun sehingga sekarang gadis itu bisa-bisanya mendengar suara Kyu Hyun diujung napasnya.
“PARK SEO NA!!!”. Kali ini suara makin jelas terdengar, Seo Na mendongak dan benar saja gadis itu kini menemukan sosok Kyu Hyun tengah berdiri tegap tepat didepan pintu gudang tempat Seo Na disekap, pria itu datang dan menemukan Seo Na disini, bagaimana bisa? pikir gadis itu.
“Wah! Akhirnya kau datang Tuan Cho? Hanya sendiri? kau cukup berani”. Terdengar suara tawa kemenangan dari wanita yang kini sudah bertepuk tangan menyambut kedatangan Kyu Hyun diantara mereka, dengan begitu ia akan lebih mudah membuat Seo Na menderita.
“lepaskan gadis itu atau kau yang akan ku bunuh disini”. Ancam pria itu, terlihat jika ia kini tengah memusatkan pandangannya pada tubuh Seo Na yang tengah terikat disebuah kursi kayu dengan kondisi yang sangat jauh dari kata baik. pria itu dengan jelas melihat banyak darah dan luka ditubuh Seo Na, ia bersumpah akan membunuh orang-orang yang membuat gadis-nya menderita sebanyak ini.
Kedua pesuruh wanita itu sudah menghadapkan satu pistolnya tepat kekepala Seo Na, dan satunya lagi mengarah kearah Kyu Hyun, sedangkan wanita itu hanya berdiri sambil melipat kedua tangannya didada, merasa menang ia hanya tersenyum hambar menyaksikan kedua manusia yang ia benci itu terbunuh sekaligus.
“bagaimana permainan ku Tuan Cho? Apa kau suka dengan permainan ku ini? aku sangat menikmati wajahmu yang begitu mengkhawatirkan gadis ini, bagaimana kau sangat begitu mencintainya sedangkan gadis ini sempat ingin membunuhmu”. Ejek gadis itu, menatap wajah Kyu Hyun bengis sedangkan pria itu sudah tidak tahan untuk mengeluarkan pistol didalam saku celananya. Melihat Seo Na begitu, sama saja dengan membuat beberapa urat saraf diotaknya menegang, itu Seo Na-nya gadis yang ia cintai setengah mati.
“Cho Kyu Hyun, kau boleh pergi cukup bermain dengan iblis ini, aku bisa menyelesaikan urusanku”. Akhirnya Seo Na angkat bicara setelah sebelumnya diam, menikmati semua nyeri ditubuhnya yang bahkan membuatnya tak mampu mengurai satu kalimatpun, kedatangan Kyu Hyun sama saja dengan membawa pria itu kedalam penderitaannya.
Kyu Hyun menarik pandangannya kearah Seo Na, pria itu ingin sekali memeluk Seo Na saat ini membersihkan semua luka ditubuh gadis itu sampai tak tersisa sepertinya rencananya mengurung Seo Na disangkar besi benar-benar akan dilakukannya.
“Tuan Cho kau tidak dengar gadis itu ingin kau meninggalkannya? Sepertinya gadis itu benar-benar tak menyukaimu ya? sayang sekali jika ia harus mati disini-“.
‘DORRR!!!’
Suara tembakan itu menjatuhkan seorang pria yang tadinya mengacungkan monconng pistolnya kearah Seo Na, pria itu kini tersungkur ketanah dan beberapa detik kemudian dengan cepat Kyu Hyun mengarahkan pistolnya kearah pria yang tadinya mengacungkan moncong pistolnya kearah Kyu Hyun, Kyu Hyun mengeluarkan beberapa tembakan sehingga pria itu kini sudah terjatuh bersimbah darah ditanah. Semua terjadi dengan cepat, Kyu Hyun menarik pandangannya kesisi lain ternyata yang baru saja membunuh salah seorang pria itu adalah Lee Dong Hae yang datang dari pintu lain digudang tua itu.
Kyu Hyun tersenyum kearah Dong Hae, sedetik kemudian ketika pria itu hendak mengarahkan moncong pistolnya kearah wanita itu, ia sudah melesat meninggalkan mereka didalam gudang ternyata gadis itu sudah merencanakan kemungkinan terburuknya dan memilih kabur dari mereka bertiga, Kyu Hyun mengerang kesal sedangkan Dong Hae memilih mengejar wanita itu hingga ia menemukannya, pria itu tak kalah muak dengan semua ini melihat kondisi Seo Na saat ini membuatnya sama sakitnya seperti Kyu Hyun.
“kau bisa menjaganya kan? Aku akan mengejar wanita itu untuk Seo Na”. Ujar Dong Hae sebelum akhirnya meninggalkan Kyu Hyun dan Seo Na didalam gudang tua itu.
Kyu Hyun setengah berlari kearah Seo Na, hal pertama yang akan dilakukannya adalah melepaskan ikatan pada pergelangan tangan dan kaki gadis itu. “Na-ya, kau baik-baik saja? apa kau masih sadar?”. Ucap pria itu ketika melepas tali pengikat tangan Seo Na.
Seo Na bergumam namun lebih tepatnya mengerang kesakitan, sudah cukup baginya bersandiwara sok kuat sejak tadi sekarang tidak ada lagi wanita yang mencelakainya itu. “sakit”. Ucap gadis itu bergetar.
“aku akan membawamu kerumah sakit, tenanglah”. Kyu Hyun segera menarik tubuh Seo Na kedalam pelukannya lalu menggendong tubuh gadis itu menuju mobil, dan tujuan pertama untuk menyelamatkan gadis itu adalah rumah sakit, ia tidak akan membiarkan Seo Na merasakan pediahnya goresan luka dan lebam akibat pukulan ditubuhnya, bagiamanapun Seo Na-nya gadis itu harus bebas dari rasa sakit apapun, Kyu Hyun bersumpah.
~~~000~~~
Yoo Ra mengangguk paham setelah menerima telepon dari Lee Teuk dan mendengarkan semua instruksi dari pria itu, kini Lee Teuk dan Dong Hae sedang mengejar wanita yang mencelakai Seo Na sampai keperbatasan kota Seoul. LeeTeuk tak kalah panik, setelah Dong Hae menghubunginya pria itu langsung ikut mengejar pelaku penculikan Seo Na. Dan Yoo Ra mendapat telepon dari Kyu Hyun dan menyuruh gadis itu segara menyusul mereka kerumah sakit.
Awalnya Yoo Ra tak habis pikir bagaimana gadis itu bisa-bisanya menerima permainan yang seharusnya ia tau akan mencelakai dirinya itu dan kini gadis itu sudah berbaring diranjang rumah sakit dengan luka dan lebam disekujur tubuhnya, belum lama luka tembakan dibahu gadis itu mengering kini sudah banyak luka-luka baru ditubuh gadis itu, Yoo Ra mengerang kesal.
“Yoo Ra-ssi, kau bisa menjaga Seo Na? Aku harus keruangan Dokter untuk menanyakan kabar gadis itu”. Kyu Hyun baru saja keluar dari kamar Seo Na, gadis itu masih istrahat setelah beberapa perawat membersihkan luka-lukanya dan gadis itu segera tertidur.
Yoo Ra mengangguk. “baiklah, aku akan menjaga Seo Na”. Ucap gadis itu, sebelum akhirnya Kyu Hyun meninggalkannya.
~~~000~~~
Yoo Ra menyibakkan tirai yang menghadap langsung kepemandangan kota Seoul, jam sudah menunjukkan pukul dini hari suasana kota tampak mulai tenang meskipun dari atas gedung rumah sakit ini masih terlihat beberapa kendaraan yang berlalu lalang, kota Seoul tempat mereka tinggal dan dilahirkan memang tak pernah sepi. Ditambah dengan lampu-lampu jalanan dan lampu-lampu gedung pencakar langit yang menambah ramainya kota dimalam hari. Tapi bukan itu yang ada dipikitan Yoo Ra saat ini, namun gadis yang kini tertidur pulas diranjang inapnya dengan beberapa plaster yang menutupi luka-lukanya, yang tak tertupi hanya beberapa lebam diwajah dan tangannya yang jelas terlihat saat ini.
Yoo Ra tau betul bagaimana Seo Na, bagaimana gadis itu menjalani hari-harinya selama ini dan sekarang ada-ada saja orang-orang yang begitu membenci Seo Na hingga membuat gadis ini dua kali masuk rumah sakit dalam waktu singkat. Gadis itu menarik napasnya gusar, harusnya malam itu ia tidak kembali ke apartemennya dan menjaga Seo Na bisa saja gadis itu berpikir dua kali untuk datang ke tempat ia disiksa beberapa jam yang lalu, akhirnya Yoo Ra hanya bisa berpikir untuk segera menyerahkan Seo Na pada pria yang mencintai dan bisa melindunginya, entah itu Dong Hae atau Kyu Hyun siapapun diantara mereka Seo Na tidak harus mendapatkan penderitaan seperti ini lagi, sudah cukup.
“Yoo, kau sedang menangis ya?”. suara serak gadis itu menghalau lamunan Yoo Ra, gadis itu mendongak mendapati wajah Seo Na yang kini tengah menatap kearahnya.
“kau sudah bangun? Kenapa tidak tidur saja? ini masih malam, kau pasti lelah kan?”. Ujar gadis itu, ia tidak ingin Seo Na tau jika kini ia sedang menangis meratapi nasib sahabatnya itu, ia tidak ingin setelah kegilaan gadis itu kembali kepada titik normalnya ia akan menertawai Yoo Ra karena sudah mau menangis karenanya.
“aku sudah tidur tadi, kau kenapa tidak tidur? Ini sudah sangat larut malam kan? Sepertinya beberapa jam lagi matahari akan muncul”. Ucap Seo Na masih dengan ekspresi datar dan terlihat berusaha baik-baik saja.
Yoo Ra menggelang, mengusap punggung tangan sahabatnya itu. “aku akan menjagamu, kau tidur saja Na-ya”. Yoo Ra berusaha tersenyum, meskipun gadis itu ingin sekali menangis mendapati wajah Seo Na yang sudah penuh dengan luka dan memar, meskipun kadar kecantikan gadis itu tak akan berkurang sedikitpun.
“aku baik-baik saja Yoo. Hmm Kyu Hyun dimana?”. Akhirnya gadis itu menanyakan Kyu Hyun, setidaknya ia tau jika pria itu dengan susah payah menggendong tubuhnya kerumah sakit meskipun ia yakin bobot tubuhnya tergolong tidak ringan.
“dia sedang menemui Dokter, setelah ini ia akan menemuimu. Kau merindukannya ya?”. goda Yoo Ra, Seo Na menyipitkan matanya yang terlihat lebam dipelipis disebah kirinya, gadis itu menggeleng.
“tidak, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya”. Ucap gadis itu lalu mengalihkan pandagannya kearah luar jendela yang langsung menyuguhkan pemandangam lampu-lampu gedung pencakar langit. “Yoo, apa gadis itu sangat membenciku? Apa selama ini aku pernah berbuat jahat? Kenapa ia sangat membenciku?”. Ujar gadis itu getir, ekspresinya tetap datar namun Yoo Ra bisa membaca dari mata gadis itu jika Seo Na sangat terluka.
“tidak, kau baik sangat baik. bahkan kau adalah sahabat terbaik didunia. Setelah ini aku akan melaporkanmu ke Guiness Book of Record, sebagai pemecah rekor sahabat terbaik sepanjang masa”. Racau Yoo Ra mengeluarkan candaan-candaan yang sering Seo Na lakukan padanya.
Seo Na terkekeh geli, lalu menatap Yoo Ra dengan tawa tertahan gadis itu tidak bisa terlalu lebar membuka mulutnya, sudut bibir gadis itu masih terluka. “haha oke, kau juga akan ku laporkan ke Guiness Book Of Record sebagai pemecah rekor sahabat yang membuatku jengkel sekaligus sahabat yang mau menerima ku apa adanya”. Celetuk Seo Na, keduanya kini sama-sama tertawa tanpa menyadari jika Kyu Hyun kini sudah berdiri diambang pintu menatap gadisnya yang sudah tertawa diatas ranjang rawatnya, sudut bibir Kyu Hyun tertarik keatas mendengar tawa Seo Na yang begitu terdengar bahagia.
Kyu Hyun berdeham, Seo Na dan Yoo Ra serentak menatap pria itu. kini Kyu Hyun menatap kedua gadis itu bergantian. “sudah baikkan?”. Ucap pria itu, lalu melangkahkan kakinya kesamping ranjang Seo Na dan menatap wajah gadis itu yang kini juga tengah menatapnya.
“sangat baik, jauh lebih baik dari sebelumnya”.
“sok kuat”. Ejek Kyu Hyun, pria itu kini beralih menatap Yoo Ra tanpa memperdulikan wajah Seo Na yang jengkel.
“Dokter bilang kalau besok pagi gadis ini sudah bisa pulang”. Ujar Kyu Hyun, Yoo Ra mengangguk paham lalu terkekeh kecil menatap Seo Na yang sudah memajukan bibirnya beberapa senti. “dan kau Nona Park, mulai besok kau akan tinggal dirumah ibu-ku sebelum kondisimu benar-benar baik. Ahra Noona akan mengurus semuanya, lagi pula pelayan dirumah ibuku banyak yang kurang bekerja jadi mereka bisa mengawasimu, mengerti?”.
“APA?! Bagaimana kau bisa memutuskan hal yang semacam itu secara sepihak, kau bahkan tidak menanyakan persetujuanku, memangnya aku mau?”. Protes Seo Na menaikkan nada suaranya tidak terlalu peduli lagi dengan sakit disudut bibirnya.
“sampai kiamatpun kau juga tidak akan mau menerima perintahku”. Tandas Kyu Hyun lalu memilih duduk dikursi yang tidak jauh dari ranjang Seo Na. “aku akan memberi tau Lee Teuk Hyung, dan Yoo Ra sudah menyetujuinya”.
“Dong Hae-ssi?”.
“memangnya kenapa dengan dia? kau pikir dia akan rela-rela menjagamu? Sedangkan mengurus dirinya saja dia tidak becus, apa lagi mengurus gadis merepotkan dan keras kepala sepertimu, jikapun ia mengirimmu ke ibunya kau mau tinggal dimokpo lalu perusahaanmu jatuh ketanganku dan aku akan mengambil semua hartamu, kau mau?”. Ancam pria itu yang sebenarnya tidak benar sungguh-sungguh, Seo Na menatap Kyu Hyun tajam membuang pandangannya pada pria itu lalu memilih memejamkan matanya, sedangkan Yoo Ra memilih kabur dari dalam kamar inap Seo Na sebelum lebih banyak mendengar percecokan diantara kedua manusia yang kadar gilanya tidak jauh beda ini.
“terserah kau saja”. ucap Seo Na akhirnya, gadis itu menyerah lagi pula tidak ada pilihan lain.
“bagus! Kalau begitu setelah luka-lukamu pulih kita akan menikah”.
“APA???!!!”.
~~~000~~~
Dong Hae memutar kenop pintu ruang inap itu, mendapati Seo Na yang kini tengah duduk diatas ranjangnya dengan beberapa sarapan dihadapannya dan juga Kyu Hyun yang kini tengah berusaha memasukkan beberapa suap bubur kedalam mulut gadis itu.
“apa aku mengganggu?”. Suara Dong Hae menyita perhatian keduanya, Seo Na tampak tersenyum lalu menggelangkan kepalanya pelan.
“sama sekali tidak, masuklah Dong Hae-ssi. akhirnya aku bisa bebas dari bubur menjijikan ini”. ucap gadis itu sambil melototkan matanya kearah Kyu Hyun yang sejak tadi memaksanya memakan makanan rumah sakit yang sama sekali tidak mengurangi rasa laparnya. “apa ada sesuatu?”.
“aku hanya ingin melihat kondisimu”. Ujar pria itu, menatap sejenak kearah Kyu Hyun yang kini memeilih menyingkirkan makanan dihadapan Seo Na . “apa sudah baikkan?”. Lanjut Dong Hae yang kini sudah berada disamping Seo Na menatap gadis itu penuh kekhawatiran.
Seo Na tersenyum lalu gadis itu menggelang lemah. “aku sudah sangat baik, setelah ini aku akan kembali ke Apartemen, hmm maksudku rumah Nyonya Cho”. Jelas gadis itu ragu untuk mengatakannya pada Dong Hae saat ini, meski ia tau Dong Hae tak ada hubungan dengannya tapi beberapa waktu lalu pria itu sudah mengatakan rasa sukanya terhadap Seo Na, jadi gadis itu merasa tak enak hati mengatakan hal yang demikian pada Dong Hae.
Dahi pria itu mengerinyit, ia menatap Seo Na penuh tanda tanya. “Nyonya Cho? Maksudmu?”.
“Seo Na akan dirawat ibu dan kakak-ku, Hyung. Ia akan tinggal disana sampai gadis itu sembuh total, jika ia tetap dibiarkan tinggal sendirian pasti wanita gila itu benar-benar akan membunuh Seo Na, lagi pula kalian tidak berhasil menangkapnya kan?”. Ucapan Kyu Hyun terdengar begitu menyakitkan ditelinga Dong Hae, bagian dimana gadis itu harus dirawat oleh ibu Kyu Hyun, dan mungkin saja kesempatan Kyu Hyun untuk mendapatkan Seo Na dan memiliki gadis itu begitu besar. Tapi bagaimanapun Seo Na memang harus mendapat perlindungan dan dirinya bukan orang yang tepat, Dong Hae tidak mungkin menjaga gadis itu sedangkan ia masih harus bekerja.
Dong Hae mengangguk paham, setelah pria itu memutar otaknya untuk berpikir demi keselamatan Seo Na mungkin hanya ini yang bisa ia lakukan, lagi pula keselamatan gadis itu menjadi tujuan utamanya saat ini, setelah kehilangan jejak saat mengejar wanita yang menculik Seo Na tadi malam pria itu memutuskan untuk kembali dan datang pagi-pagi sekali kerumah sakit.
“baiklah, aku hanya tidak ingin Seo Na dicelakai lagi”. Papar pria itu, lalu menatap lurus kearah Seo Na. “kau harus istirahat yang banyak gadis bodoh, bagaimana bisa kau datang ketempat itu menyerahkan dirimu? Apa yang terjadi jika aku dan Kyu Hyun tidak datang”.
Seo Na mengerucutkan bibirnya lalu menatap bergantian kearah Kyu Hyun dan Dong Hae. “apa kau mau aku bisikkan sesuatu?”. Ucap Seo Na dengan suara yang dikecilkan. Dong Hae mengangguk bingung sambil memajukan kepalanya kearah gadis itu. “kau tau, Kyu Hyun itu pria yang menyebalkan”. Ucap Seo Na dengan berbisik kearah telinga kiri Dong Hae, pria itu terkekeh lalu menjauhkan lagi telinganya dari mulut Seo Na menatap Kyu Hyun yang kini sudah memasang tampang terbuasnya kearah kedua makhluk dihadapannya itu.
“aku akan mengantar beberapa barangmu ke mobil, setelah ini aku harus mengurus administrasi rumah sakit”. Ucap Kyu Hyun datar, lalu meninggalkan kedua manusia itu yang sejak tadi menahan tawanya. Kyu Hyun saat ini benar-benar dibakar api cemburu.
“sepertinya Kyu Hyun cemburu denganku”. Ujar Dong Hae sebelum akhirnya menghentikan tawanya dengan Seo Na, gadis itu juga segera mengulum senyumnya dan menatap Dong Hae.
“aku rasa begitu”. Ucap gadis itu datar, memperbaiki duduknya dan kini kaki gadis itu terjuntai ke lantai.
“jadi kau akan tinggal dirumah Ibu Kyu Hyun?”. Tanya Dong Hae, Seo Na menatapnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Gadis itu mengangguk tanpa bersuara. “aku percaya pada bibi Cho, dia pasti akan merawatmu dengan baik. Ahra juga pasti akan bersedia merawatmu Na-ya, aku mengerti bagaimana perasaan Kyu Hyun, pria itu dan aku sama-sama tidak ingin kau terluka”. Lanjut Dong Hae lalu mengusap puncak kepala Seo Na.
Gadis itu menatap Dong Hae lurus, tersenyum kearah pria itu. “aku juga tidak ingin merepotkan orang lain Dong Hae-ssi. setelah aku sembuh aku benar-benar akan kembali ke apartemenku”. Tambah Seo Na.
Dong Hae menatap mata gadis itu, ada kegelisahan yang tiba-tiba ia rasakan sekarang. Ia sepertinya memang bukan pria yang tepat yang bisa menjaga Seo Na, Kyu Hyun mempunyai semua apa yang dibutuhkan gadis itu meskipun Seo Na tidak menginginkan apa-apa dari Kyu Hyun, tapi dari cara Kyu Hyun yang memperlakukan Seo Na sekarang pria itu menaruh banyak kekhawatiran pada diri Seo Na, seperti itu juga yang Dong Hae rasakan sekarang tapi Seo Na tidak memerlukan apa-apa darinya, disaat seperti ini haruskah pria itu masih berharap banyak pada Seo Na? Bagaimana jika ia merelakan gadis itu menikah dan hidup aman ditangan Kyu Hyun? Tapi bagaimana dengan cintanya terhadap Seo Na? Seribu pertanyaan menjalar diotak pria berwajah tampan itu, yang ia harapakan hanya kebahagiaan Seo Na, tak lebih.
~~~000~~~
Seo Na berjalan pelan sambil di gopoh oleh Kyu Hyun dan juga Yoo Ra, gadis itu akhirnya tiba dirumah mewah milik keluarga Cho, meskipun ia yakin rumah ini bisa ia beli dengan kekayaan yang ia miliki mungkin jauh lebih banyak dari aset keluarga Cho Company. Rumah bergaya eropa dengan dinding cat yang terkesan lembut, di sisi kiri tempat gadis itu berpijak saat ini disuguhkan dengan pemandangan luar ruangan yang langsung menghadap pada taman dengan bunga-bunga yang tengah bermekaran. Seo Na yakin, saat ia menatap dirumah ini nantinya ia akan menghabiskan waktunya ditaman itu.
Seo Na menatap wajah Kyu Hyun yang sejak tadi asik menuntunnya dari jarak sedekat ini , kali ini fokus Seo Na berpindah pada wajah Kyu Hyun, gadis itu tidak bisa berbohong tentang bagaimana tampannya pria itu dan bagaimana nyamannya tubuh gadis itu ketika didalam perlindungan Kyu Hyun, tubuh gadis itu seperti ingin terus merasakan setiap perlakuan yang diberikan Kyu Hyun. Dan itu membuat Seo Na ingin memekik seketika, ia tidak yakin jika ia bisa menolak semua pesona pria itu, ia tertarik tapi sebisa mungkin ia membohongi semua fakta yang ada.
“Kyu Hyun-ah”. Terdengar suara wanita cantik yang kini sedang menggandeng anak kecil berumur 4 tahun , lalu wanita itu mendekat kearah mereka yang baru saja masuk kedalam rumah mewah bergaya eropa itu. Seo Na yakin itu adalah kakak Cho Kyu Hyun.
Kyu Hyun mendongak mendapati wajah Ahra yang tiba-tiba berseri tanpa aba-aba ia yakin wanita itu senang dengan keputusan Kyu Hyun untuk membawa Seo Na kerumah mereka, lebih tepatnya menjadikan Seo Na umpan agar Kyu Hyun segera menikah seperti yang direncanakan Ibunya.
“jadi ini gadis-mu itu? eh maksudku Park Seo Na?”. Yoo Ra yang sedang menyaksikan pertemuan kakak Kyu Hyun dengan sahabatnya hanya terkekeh geli, ia persis seperti menonton drama-drama di televisi.
Seo Na mengangguk, lalu menjauhkan tubuhnya dari Kyu Hyun memilih bergantung pada sahabatnya Yoo Ra, gadis itu tersenyum sedikit menunduk kearah Ahra. “Ne Eonni, aku Park Seo Na”. Ucap gadis itu gugup, ia yakin wajahnya tampak bodoh saat ini.
“aku Han Yoo Ra, sahabat Seo Na”. Kali ini Yoo Ra yang bergantian memperkenalkan dirinya pada kakak Kyu Hyun, Ahra tersenyum lebar melepaskan pegangannya pada anak laki-lakinya itu lalu beringsut ke tempat Seo Na, lalu segera menuntun gadis itu ke ruangan lain, Seo Na yakin itu adalah ruang keluarga. Seo Na duduk persis disamping Ahra gadis itu tersenyum kaku, sedangkan Yoo Ra dan Kyu Hyun sibuk memindahkan barang-barang Seo Na dari dalam mobil.
“apa aku boleh bertanya?”. Suara lembut Ahra terdengar begitu hangat, Seo Na mengangguk. “hmm, maaf kan aku sebelumnya Na-ya, kau adik Seo Yeo bukan?”. Tanya Ahra akhirnya.
Gadis itu tersenyum, mendengar nada bicara Ahra yang terdengar ragu. “Gweancana Eonni, ya kau benar aku adik kandung Park Seo Yeo”. Ucap gadis itu mantap, diselingi senyum dibibirnya. Ia tidak ingin Ahra merasa bersalah dengan pertanyaannya yang memang sangat wajar.
“aku minta maaf atas semua yang terjadi dimasa lalu, aku sudah mendengar semua ceritanya dari Dong Hae, tentang kakakmu dan juga Kyu Hyun”. Terdengar jika Ahra begitu menyesal atas semua kejadian yang menimpa Seo Na dimasa lalu, kematian Seo Yeo memang tidak ada hubungannya dengan Kyu Hyun.
“aku tidak menyalahkan siapapun lagi Eonni, aku yang merasa sangat bersalah pada Kyu Hyun-ssi. selama bertahun-tahun aku menyalahkannya, tapi ternyata apa yang aku duga selama ini ternyata salah”. papar gadis itu, Ahra mengusap punggung tangan Seo Na mengantarkan kehangatan pada gadis itu, tiba-tiba saja Seo Na teringat kakanya yang sering menguatkannya dengan cara seperti itu.
“Kyu Hyun sangat mencintaimu, setelah kematian Seo Yeo ia sangat merasa bersalah. Bahkan ia sempat mencarimu kemana-mana, tapi ia tidak menemukanmu”. Ujar Ahra, Seo Na menatap wajah kakak Kyu Hyun itu, entah kenapa setiap pengakuan yang keluar dari mulut Ahra membuat kepala Seo Na tiba-tiba dihantam benda keras. Kenyataan yang harus ia terima sekarang ialah, Cho Kyu Hyun memang sangat mencintainya.
“aku sudah memindahkan semua barang-barangmu kedalam kamar yang akan kau tempati, jika kau ingin melihat kamarmu akan aku antarkan Nona Park”. Tiba-tiba Suara Kyu Hyun menghentikan pembicaraan antara Ahra dan Seo Na, gadis itu menatap Kyu Hyun yang kini berdiri tak jauh dari hadapannya, baju pria itu basah dibagian dadanya. Seo Na memang hampir membawa semua barang-barang didalam kamarnya, untung saja gadis itu tidak memutuskan membawa tempat tidurnya kemari setelah Yoo Ra mencoba melarang gadis itu.
“baiklah, aku akan melihat kamar untukku”. Jawab Seo Na, lalu menatap Yoo Ra sejenak. “tapi aku ingin Yoo Ra ikut denganku”.
“tidak-tidak, aku lelah setelah membantu Kyu Hyun-ssi mengangkat barang-barangmu, kau bisa pergi dengan Kyu Hyun-ssi dan aku akan berbincang dengan Ahra Eonni disini”. Tolak sahabatnya itu mentah-mentah, memang bukan itu yang menjadi alasan kenapa Yoo Ra menolak ikut dengan dua manusia keras kepala itu, tapi ia ingin memberi waktu bagi Seo Na dan Kyu Hyun untuk bersama.
Seo Na mendengus, menatap kearah Kyu Hyun yang sudah melipat kedua tangannya didada. “baiklah”. Ucap gadis itu pasrah, Kyu Hyun mengangkat sudut bibirnya lalu menuntun Seo Na ke lantai dua tempat kamar gadis itu berada.
~~~000~~~
Kyu Hyun membuka pintu kamar yang akan segera ditempati Seo Na, kamar dengan super luas dan super megah itu di rancang khusus untuk Kyu Hyun dimasa lalu, sebelum pria itu memutuskan untuk tinggal sendiri dan membeli sebuah apartemen mewah dikawasan distrik Gangnam.
Seo Na melepas tangan Kyu Hyun yang sejak tadi menjaga jarak begitu dekat dengan Seo Na sambil menuntun gadis itu, jika ia berlama-lama dalam keadaan seperti ini ia yakin ia bisa mabuk dengan aroma parfum yang tercium dari tubuh Kyu Hyun, Seo Na menatap Kyu Hyun sejenak sebelum akhirnya melihat seluruh isi kamar yang akan ia tempati beberapa hari kedepan. Di depan kamar hanya berdinding kaca langsung menghadap pada beranda luar kamar menyuguhkan pemandangan pepohonan hijau didepannya dan kolam cukup luas dibawah sana. Jika ini bukan kepunyaan keluarga Cho ia yakin sudah membeli semua fasilitas dan rumah ini untuknya.
“kau suka?”. Suara pria itu tepat terdengar disamping wajah Seo Na, gadis itu berdelik menatap wajah Kyu Hyun yang tak jauh dari wajahnya. “bagaimana?”. Lanjut pria itu lagi.
“aku suka”. Ujar Seo Na, lalu berusaha menjauh dari pria itu menyeret kakinya yang masih diperban dan dipenuhi memar-memar. Belum sempat gadis itu menjauh Kyu Hyun sudah menyambar pergelangan tangan gadis itu, Seo Na mengalihkan pandangannya kearah Kyu Hyun.
“apa?”. ucap gadis itu kaget, jika ia tidak sedang sakit dan tubuhnya tidak dipenuhi memar dan luka ia yakin ia sudah menghantam pria itu sejak tadi, bagaimana pria itu tidak tau jika jantungnya kini ingin melompat keluar karena tatapan intensnya yang mematikan itu.
“terima kenyataannya jika aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku Nona Park”. Ujar Kyu Hyun datar, tetap dengan gaya sok Cool nya yang membuat Seo Na ingin menjambak rambut coklat pria itu seketika.
“apa?! aku tidak salah dengarkan?”. Seo Na setengah berteriak, setelah ini ia akan kerumah sakit jiwa bersama Kyu Hyun, memeriksa kadar kegilaan pria itu. “kau Cho Kyu Hyun, berhenti berbuat seenaknya. Setelah kau menyeretku kerumah mu sekarang kau mau aku mengakui aku mencintaimu? Begitu? Baiklah asal kau tau Tuan Cho, aku hanya berhutang budi padamu karena kau yang menyelamatkan tadi malam”.
“Dong Hae juga berhutang budi padamu, tapi kenapa kau memilihku dari pada pria itu? hum?”. Seo Na tersedut, kali ini pria itu benar, Dong Hae juga menolongnya tadi malam kan? Lagi pula pria itu yang menembak orang-orang yang menculiknya, tapi bagaimana ia begitu merasa berterimakasih pada Kyu Hyun. Seo Na mengerjapkan matanya, ia yakin ia tidak sedang jatuh cinta pada Kyu Hyun kan? Pikir gadis itu panik.
“jadi aku benarkan? Kau mencintaiku?”.
“terserah kau saja”. Seo Na melotot kearah Kyu Hyun menarik pergelangan tangannya dari pria itu tapi saat Seo Na berbalik kaki kirinya terasa sakit gadis itu terhuyung kebelakang dan kali ini tubuhnya mendarat persis didalam dekapan Kyu Hyun, Seo Na meringis kesakitan tapi saat gadis itu membuka matanya kini wajah Kyu Hyun sudah berada beberapa senti dari wajahnya.
“sudah ku bilang, jangan banyak bergerak kakimu itu masih sakit”. Ucap Kyu Hyun dengan suara rendah bahkan terdengar berbisik. Seo Na masih menatap wajah pria itu, ia begitu menikmati wajah Kyu Hyun yang begitu dekat dengan dengannya, entah sejak kapan gadis itu berpikir jika bibir Kyu Hyun terlihat begitu menarik.
‘APA YANG AKU PIKIRKAN!!!’. Teriak Seo Na dalam hatinya, sebelum gadis itu bangkit dari dalam dekapan Kyu Hyun namun sedetik kemudian tubuhnya tiba-tiba ambruk kembali karena kakinya memang tidak terlalu kuat untuk berjalan.
Kyu Hyun menggendong tubuh Seo Na kedalam kamarnya kembali setelah keduanya melakukan adu argument diberanda luar, pria itu merebahkan tubuh Seo Na diranjangnya, lalu membetulkan selimut gadis itu sehingga menutupi bagian kaki hingga pinggang Seo Na.
“berhentilah jadi gadis keras kepala dan turuti semua kata-kataku, mengerti?”. Ujar pria itu, yang hanya direspon cibiran dari Seo Na. “aku akan kembali ke kantor, aku harap kau hanya istirahat dan jangan lakukan apapun yang membuat tubuhmu terluka, aku tidak ingin ketika malam pertama denganmu tubuhmu masih dipenuhi memar yang sama sekali tidak seksi itu”. lanjut pria itu lalu terkekeh, membuat Seo Na hanya melonga tak percaya dengan ocehan Kyu Hyun yang terdengar seperti –minta ditendang- dari hadapan Seo Na.
‘astaga, sepertinya aku memang butuh rumah sakit jiwa untuk pria itu’. gumam Seo Na setelah melihat punggung Kyu Hyun menghilang dari balik pintu kamarnya.
~~~000~~~
Jae Eun memalingkan pandangannya dari Eun Hyuk yang sejak tadi menatapnya curiga, sejak tadi malam gadis itu tiba-tiba menghilang dari apartemennya ketika Eun Hyuk meminta beberapa berkas laporan untuk perusahaan mereka. Akhir-akhir ini Eun Hyuk begitu sibuk dengan perusahaannya yang kembali mulai beroperasi ditambah beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan diluar kota bersama beberapa rekan bisnisnya dan setelah tidak bertemu Jae Eun di apartemennya tadi malam akhirnya pria itu harus menemui gadis itu dikantor pagi ini.
“aku sudah menyelesaikan semua berkas laporan yang kau minta”. Ujar gadis itu sambil memberikan setumpuk kertas yang sejak tadi berada ditangannya.
“Eun-ah, tidak ada yang salah denganmu kan? Tadi malam kau kemana saja? aku mencarimu ke apartemen dan kau tidak ada disana, aku juga menghubungi ponselmu tapi tidak aktif”. Eun Hyuk menatap gadis itu, tidak terlalu memperdulikan soal laporan pekerjaan yang diberikan Jae Eun padanya.
“hmm, aku.. aku hanya pergi dengan teman-temanku, dan soal ponsel aku sengaja mematikannya”. Ucap gadis itu gugup, ia menekan ujung jempolnya sendiri, ia tau Eun Hyuk bukan pria yang gampang ia bohongi pria itu tau luar dalam gadis itu, ia dan Eun Hyuk sudah lama bersama sebagai teman jadi tidak mungkin pria itu tidak mencium gelagat aneh dari Jae Eun.
“baiklah, aku tidak akan menuduhmu yang tidak-tidak lagi pula itu adalah urusan pribadimu, aku hanya ingin kau bisa menjaga kepercayaanku Eun-ah, walaupun aku tidak akan mencurigaimu lagi tapi aku tau rencana apa yang kau simpan untuk gadis itu”. Jae Eun tertegun ditempatnya menunduk menyembunyikan kegelisahan raut wajahnya, gadis itu segera beranjak dari hadapan Eun Hyuk diruang kerjanya sebelum ia permisi pada berambut pirang itu.
Eun Hyuk mengadahkan kepalanya kelangit-langit ruang kerjanya, menyandarkan tubuhnya dikursi empuk yang tengah ia duduki anak rambutnya menuti sebagian dahi pria itu, sudah beberapa minggu sejak makan malam itu, Eun Hyuk tidak pernah lagi bertemu dengan Seo Na pria itu sudah sangat sibuk belakangan ini ditambah lagi beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan diluar kota jadi tidak akan ada waktu hanya untuk sekedar bertemu atau berkunjung keperusahaan gadis itu.
Pria itu menekan beberapa menu di ponselnya memilih salah satu nama disana hingga akhirnya panggilan pria itu terhubung pada gadis di ujung sana, Eun Hyuk tersenyum mendengar suara gadis itu yang tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu gadis itu mengangkat panggilan telefonnya.
“apa kabarmu?”. Ucap pria itu, sambil tersenyum menunggu jawaban gadis itu. Tapi sedetik kemudian raut wajah Eun Hyuk berubah mendengar bahwa gadis itu baru saja keluar dari rumah sakit.
“rumah sakit? Apa yang terjadi? Kyu Hyun? Kau berada dirumah ibunya? Baiklah, setelah aku pulang dari kantor aku akan menjengukmu, kirimkan alamatnya melalui pesan. Hmmm, Seo Na-ssi beristirahatlah”. Ucap Eun Hyuk penuh kekhawatiran, ada apa sebenarnya dengan gadis yang tengah ia rindukan itu? apa ada hubungannya dengan menghilangnya Jae Eun tadi malam?
~~~000~~~
Kyu Hyun mengetuk pintu kamar Seo Na pelan, namun tidak ada jawaban dari sana akhirnya pria itu memutusakn masuk kedalam kamar Seo Na dan menemukan gadis itu tengah tertidur diatas ranjangnya dengan balutan baju tidur yang kelihatan terlalu besar di tubuh ramping gadis itu.
Hari ini pria itu memutuskan untuk pulang lebih awal dari kantornya, tidak seperti biasanya Kyu Hyun pasti akan kembali ke apartemennya setelah ia pulang bekerja namun hari ini pria itu memutuskan kerumah ibunya untuk melihat keadaan Seo Na, gadis yang selama seharian ini menyita perhatiannya dikantor, kosentrasi pria itu buyar ketika memikirkan gadis itu, Seo Na menjelma dalam versi apapun dalam otaknya dan itu tidak akan pernah bisa dihentikan oleh seorang Cho Kyu Hyun yang dingin.
Kyu Hyun beringsut mendekat kearah Seo Na, tersenyum ketika mendapati wajah cantik gadis itu tengah tertidur dengan mimpi didalamnya, persetan dengan apa yang dimimpikan gadis itu yang Kyu Hyun inginkan saat ini adalah mimpinya yang terwujud untuk segera menikahi gadis keras kepala yang tengah terbaring ini, ia menggilai gadis ini.
“Na-ya”. panggil Kyu Hyun, mendekatkan wajahnya ketelinga Seo Na. Kyu Hyun mengelus wajah gadis itu, menyentuh anak rambut Seo Na yang tergerai didahi mulusnya, rambut yang kini sudah mulai memanjang tidak seperti saat pertama kali Kyu Hyun bertemu dengan gadis ini beberapa waktu yang lalu, dengan potongan rambut sebahunya yang kini sudah jauh melewati bahunya.
“Eomma~”. Tiba-tiba Seo Na bersuara, mengalihkan perhatian Kyu Hyun yang sejak tadi menjamah rambut gadis itu, Kyu Hyun terkesip memandangi bibir Seo Na yang terus memanggil ibunya, namun tetap dengan mata yang tertutup rapat, bisa dilihat dengan jelas jika air mata kini turun dari mata gadis itu keningnya pun berkerut.
“Na-ya? kau baik-baik saja?!”. Ujar pria itu khawatir, sambil mengenggam tangan kanan Seo Na erat.
“Eomma!”. Seo Na menghentak keras, napasnya tersengal dan kini gadis itu terbangun sambil mengatur napasnya yang tak beraturan, ia menatap wajah Kyu Hyun yang kini menatapnya.
“Na-ya? kau baik-baik saja? apa yang terjadi, kau bermimpi buruk?”. ujar pria itu lagi, Kyu Hyun tampak panik ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi dengan gadis ini lagi.
“Hyun-ah, aku bermimpi bertemu ibuku, Kyu Hyun-ah ia meninggalkanku lagi!”. Teriak gadis itu, ada kepedihan dari kata-katanya, kini air mata mengalir deras dari mata gadis itu. Kyu Hyun merengkuh tubuh gadis itu menariknya kedalam pelukannya membiarkan Seo Na tenang didalam dekapan pria itu.
“tidak apa-apa, aku disini. Aku tidak akan meninggalkanmu, kau hanya bermimpi. Tenanglah”. Kyu Hyun mengelus punggung Seo Na yang turun naik, gadis itu terisak bahkan kali ini ia tidak peduli dengan siapa yang dipeluknya saat ini, Seo Na takut akan semua mimpi buruk yang sering menghantuinya selama ini.
Kyu Hyun tetap memeluk tubuh gadis itu membiarkan Seo Na tenang didalam pelukannya cukup lama sampai tanpa pria itu sadar jika gadis itu kini sudah kembali tertidur didalam pelukannya. Kyu Hyun kembali merebahkan tubuh Seo Na di atas ranjangnya, membiarkan tubuh gadis itu beristirahat lebih banyak. Bekas luka ditubuh Seo Na masih terlihat jelas, mungkin akan memakan waktu yang cukup lama untuk menghilangkan bekas lebam dan luka ditubuh gadis itu, termasuk wajahnya.
Pria itu mengecup dahi Seo Na, sebelum akhirnya mengambil tempat untuk berbaring persis disamping gadis itu, ia takut jika Seo Na bermimpi buruk dan terbangun lagi dengan air mata di pipinya, lagi pula ia hanya berniat baik ia bukan maniak seks yang akan meniduri gadis yang tubuhnya sedang dipenuhi luka ini, meski sejujurnya Kyu Hyun memuja Seo Na dan tidak bisa memungkuri jika tubuh gadis itu menarik tapi kali ini ia akan menyingkirkan semua itu demi keselamatan gadis yang tengah tertidur didekatnya ini, apapun yang terjadi Seo Na adalah miliknya.

To Be Continue
~~~000~~~

REVENGE BEFORE LOVE (4/?)

Standard

RERE_副本

 

REVENGE BEFORE LOVE (4/?)
Action, Romance. PG + 17
Cast :
Cho Kyu Hyun
Lee Dong Hae
Park Seo Na

“bagaimana dengan rancangan perusahaan yang akan kita jalani, apa semua sudah selesai?”. ucap pria itu sambil mengechek beberapa data perusahaannya yang terbengkalai selama sebulan ini. Eun Hyuk menghentikan perusahaannya sudah 3 hari lebih untuk merancang kembali kinerja yang akan ia jalani selanjutnya sebagai pemimpin perusahaan dibidang tekstil itu.
“aku sudah menyusun beberapa rancangan yang sepertinya sangat akurat, ditambah dengan keluhan konsumen selama ini dengan produksi dari perusahaan kita, dan lagi beberapa mode-mode yang sedang banyak diminati oleh para konsumen, mungkin ini sangat membantu”. Jelas Jae Eun sambil memperlihatkan data-data yang ia dapat dilayar besar dihadapan beberapa pemimpin perusahaan.
“baiklah Eun Hyuk-ssi, aku setuju dengan proyek baru yang akan kita jalani, tidak ada salahnya juga jika kita meminta penanaman saham dari perusahaan lain, aku dengan-dengar Cho Company mendapat saham 10% dari PTI Corp dan yang aku dengar lagi kedua perusahaan itu saling menguntungkan dan membuat keduanya berada sejajar, setelah kemarin Cho Company ikut merosot jauh kebawah”. Tambah pria yang marganya sama dengan Eun Hyuk itu, Lee Sung Min.
“tentang hal itu akan aku pikirkan lagi, tapi kita masih punya beberapa modal yang akan kita gunakan sebaik mungkin, pengeluaran perusahaan bisa kita perkecil sehingga keuntungan yang kita dapat selama ini bisa kita gunakan dengan baik, bagaimana?”. Papar Eun Hyuk, yang akhirnya mendapat anggukan dari Sung Min, Jae Eun, dan beberapa rekan bisnis mereka lainnya yang hadir pada meeting siang itu.
“baiklah, kita bisa cukupkan sampai disini, lusa kita akan membuat perubahan besar dan aku yakin kita bisa mendulang kesuksesan seperti sebelumnya”. Tambah pria itu lagi, sebelum akhirnya meeting selesai dan semua kembali bekerja seperti biasanya.
Jae Eun membereskan beberapa berkas yang baru saja ia presentasikan didepan, gadis itu sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Eun Hyuk. ia sibuk mempersiapkan rencana baru perusahaan ditambah gadis itu memilih menenagkan dirinya ketimbang bertemu dengan pria itu, yang ia rasakan hanya rasa sakit dan cemburu yang terus membabi buta dihatinya, apa lagi ia baru mendengar jika Eun Hyuk melakukan makan malam berdua dengan wanita yang digilai Eun Hyuk saat ini, Park Seo Na.
“Jae Eun-ssi”. Jae Eun menoleh pada sumber suara, ia dapati kini Eun Hyuk sudah berdiri tepat di depan pintu keluar ruang meeting mereka.
“Ne?”. jawab gadis itu singkat, lebih fokus pada berkas-berkas yang tengah ia rapikan.
“soal hari itu aku ingin-“.
“gweancana, aku sudah melupakkannya”. Potong Jae Eun, tanpa membiarkan Eun Hyuk menjelaskan perkara detail yang tengah mereka alami.
Eun Hyuk mendekat kearah gadis itu, berdiri tepat disamping Jae Eun. “aku tidak ingin kau salah paham, sudah kukatakan kita akan sukses tanpa melukainya kan? Dan aku sudah bertemu dengannya, ia tidak terluka terlalu parah”. Jelas Eun Hyuk, gadis itu hanya menatap Eun Hyuk sejenak lalu mengangguk mengerti.
“apa kau khawatir aku melukainya?”.
“tentu saja, dan aku juga tidak ingin kau terluka”. Papar pria itu akhirnya, Jae Eun menatap pria itu membiarkan bola matanya kini basah, air matanya mengalir begitu saja menciptakan sungai kecil di pipi mulus gadis itu.
“sayangnya aku jauh lebih terluka darinya”. Tandas Jae Eun, lalu mengambil berkas yang sudah tersusun diatas meja sebelum akhirnya memutuskan beranjak dari hadapan Eun Hyuk.
“Han Jae Eun!!!”. Langkah gadis itu terhenti, ia bisa mendengar dengan jelas teriakkan Eun Hyuk memanggil namanya, terdengar seisi ruangan bergema oleh suara pria itu.
Jae Eun tetap ditempatnya, tidak berbalik menatap Eun Hyuk yang kini berjalan mendekat kearah gadis itu. “apa kau akan terus membiarkan aku begini? Memikirkan apa sebenarnya yang kau inginkan, kau tau kau semakin berubah Eun-ah. Apa yang terjadi denganmu? Ha?!”.
“kau bertanya apa yang terjadi denganku Eun Hyuk-ssi? kau mau tau? Dengarkan aku baik-baik, aku tidak akan pernah menyukai Park Seo Na, gadis itu aku tidak akan pernah menyukainya!”. Geram gadis itu, melepaskan cengkraman tangan Eun Hyuk meninggalkan pria itu ditempatnya membiarkan semua air matanya meluap begitu saja.
“aku membencinya, karena dia mengambil semua yang kumiliki”.
~~~000~~~
“besok pagi aku akan membawanya ke Mokpo”. Dong Hae menyusup teh yang sejak tadi berada digenggamannya. Kyu Hyun menatap sahabatnya itu sejenak lalu melemparkan pandangannya keluar jendela cafe.
“aku harap kau tidak melakukan apa-apa padanya”. Ucap Kyu Hyun dingin, Dong Hae sedikit terkekeh mendengar nada bicara Kyu Hyun yang terdengar sangat cemburu.
“aku tidak jamin jika aku tidak melakukan apa-apa padanya, tapi tenanglah aku akan menidurinya seteleh aku menikah dengannya nanti”.
Kyu Hyun mencibir mendengar ucapan Dong Hae. “dia masih tidak menginginkan siapa-siapa jadi suaminya, Hyung”. Timpal Kyu Hyun menyambar teh hangat dihadapannya lalu meneguk cairan itu brutal.
“tenanglah Kyu Hyun-ah, aku tidak akan berbuat curang sebelum kau berbuat curang. Aku ingin tau seberapa besar cinta yang kau miliki pada gadis itu, sehingga ia bisa merubahmu menjadi seperti ini, jika ia memilihmu, aku siap merelakannya, dan aku hanya ingin kau menjaganya dengan baik”.
“aku tidak akan membiarkannya terluka lagi, tidak akan”.
~~~000~~~
“kau mau kemana?”. Kening Yoo Ra mengerinyit, memperhatikan Seo Na yang sejak tadi memasukkan beberapa barang pribadinya kedalam tas tangan yang tidak terlalu besar. Seo Na melirik Yoo Ra sejenak lalu kembali pada kesibukkannya semula.
“ke Mokpo”. Jawab gadis itu singkat.
“Mokpo? Apa ada pertemuan dengan rekan bisnismu? Dengan siapa? kau sendirian? Sejak kapan kau mau berkunjung ke kota kecil? Bukankah selama ini kau lebih suka Eropa dan segala tetek bengeknya”.
“dengan Lee Dong Hae, ia mengajakku berkunjung ke rumah Ibunya”. Tidak perlu menjawab semua pertanyaan rumit Yoo Ra yang lebih terdengar seperti wartawan berita, toh dengan hanya menjawab seperti itu Yoo Ra sudah berdelik kaget mendengar jawaban sahabatnya itu.
“Apa?! Lee Dong Hae? Kerumah Ibunya? Pria itu akan menikahimu disana ya? sepertinya serius sekali? Bagaimana dengan Kyu Hyun?”. Dumel gadis itu tak henti-hentinya. Seo Na melempar pandangan mematikan kearah Yoo Ra, gadis itu akhirnya melongos pasrah.
“aku hanya menemaninya, lagi pula ia berjanji mengajakku kepantai”. Ujar gadis itu, Yoo Ra akhirnya mengerti kenapa Seo Na mau menerima ajakan Dong Hae, sesungguhnya itu karena pria itu mengajaknya ke pantai, bukankah Seo Na sangat menyukai pantai? Ya tentu saja gadis itu akan setuju dengan ajakan Dong Hae, pria itu sukses menyogok Seo Na dengan embel-embel pantainya.
“pantas saja kau menerima ajakan pria itu, ternyata dia menyogokmu dengan berjanji mengajak ke pantai ya? tapi bagaimana dia tau kau suka pantai?”.
Seo Na berlalu meninggalkan sahabatnya itu, keluar kamar menuju dapur mengambil segelas susu dingin dan beberapa potonngan roti. Yoo Ra mengekori gadis itu dari belakang, memilih duduk di sofa depan televisi.
“aku akan pulang nanti malam”.
“itupun kalau pria itu tidak betah berlama-lama dirumah Ibunya”. Timpal Yoo Ra, Seo Na mendekat kearah sahabatnya itu, menyodorkan sepotong roti berselai kacang .
“jika ia tidak memulangkan ku nanti malam aku akan menelepon pengacaraku dan melaporkan ke kantor polisi dengan tuduhan membawa kabur seorang gadis cantik yang langkah”. Ujar gadis itu sambil mengunyah roti ditangannya, sedikit terkekeh dengan pernyataannya sendiri.
“dan aku rasa polisi tidak akan menangani kasusmu karena mereka tidak perlu melindungi anjing pelacak sepertimu”. Ejek Yoo Ra, yang direspon teriakkan brutal dari sahabatnya itu, gadis itu terkekeh menyumpal mulut Seo Na dengan potongan kecil roti ditangannya.
Suara dentingan bel apartemen Seo Na meredam suara tawa keduanya, Seo Na beranjak dari tempatnya sebelum meneguk habis susu vanila didalam gelas yang ia genggam, sebelum akhirnya membukakan pintu apartemennya untuk seseorang diluar sana.
“Dong Hae-ssi?”. ucap gadis itu ketika mendapati seorang pria tengah berdiri dengan balutan kemeja biru cerah serta jeans hitam, yang membuat pria itu terlihat lebih menarik adalah 2 kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka mengekspos bagian dadanya yang lebih terlihat –err-.
“bagaimana kau bisa sampai kesini tanpa menguhubungiku dulu?”. Ujar gadis itu menekan ujung kemeja putih sedikit transparan yang kini ia kenakkan.
“bukankah aku sudah bilang jika hari ini aku akan menjemputmu”. Ucap pria itu membuka kaca mata hitam yang sejak tadi menggantung di hidung mancungnya.
“baiklah, aku akan mengambil tasku lalu kita bisa berangkat, kau bisa tunggu disini”. Papar Seo Na akhirnya sebelum gadis itu beranjak kedalam apartemennya mengambil tas yang sejak tadi sudah ia persiapkan berpamitan pada sahabtnya Yoo Ra. “aku akan berangkat, Dong Hae sudah datang. Aku menitipkan apartemen ini padamu. Aku pergi”. Gadis itu menyambar tasnya lalu berlalu dari hadapan Yoo Ra , gadis itu mengekorinya hingga depan pintu.
“jaga sahabatku ini Dong Hae-ssi, maaf jika ia nantinya banyak merepotkanmu”. Yoo Ra melambaikan tangannya pada Dong Hae, pria itu sedikit tersenyum lalu mengangguk paham.
“hei, apa yang kau katakan!”. Protes Seo Na melototkan matanya kearah sahabtnya itu.
“apa? sudah sana pergi, kalian seperti pasangan yang akan pergi bulan madu”. Yoo Ra terkekeh, sebelum gadis itu menutup rapat pintu apartemen Seo Na.
“YAK!”.
“kita bisa berangkat kan?”.
“apa? ah, tentu saja”. pria itu tersenyum sebelum akhirnya megenggam tangan Seo Na, lalu keduanya berjalan menuju lift, disamping tubuh Dong Hae, gadis itu memperhatikan genggaman tangan Dong Hae ditangannya, yang ia lihat Dong Hae seperti sangat melindunginya. Bagaimana dengan pria lain yang kini tengah memperhatikan mereka?
~~~000~~~
Keduanya larut dalam suasana perjalanan mereka menuju Mokpo, alunan instrument seksofon dari Kenny G , menambah kesan damai dalam perjalanan keduanya. Seo Na sibuk dengan pikirannya, melempar pandangannya pada luar jendela mobil, sedangkan Dong Hae fokus pada jalanan di depannya, tidak ada pembicaraan yang menarik diantara mereka, karena itu Seo Na maupun Dong Hae lebih banyak diam.
“apa kau begitu menyukai pantai?”. Dong Hae akhirnya angkat bicara, setidaknya menanyakan beberapa hal pada gadis itu bisa mencairkan suasana diantara mereka.
Seo Na mengangguk, ia tidak terlalu peduli jika Dong Hae tidak melihat anggukannya, ia lebih excited melihat pemandangan diluar sana.
Pria itu masih bisa melihat anggukan Seo Na yang terlihat sangat bersemangat, dari jalanan mereka kini bisa melihat hamparan kebun teh yang luas, daerah Mokpo sangat terkenal dengan penghasil teh-nya dan juga penghasil ikan terbaik di Korea Selatan, dataran tinggi dan pantai yang asri membuat daya tarik tempat ini begitu mempesona, jadi beruntung seorang Lee Dong Hae bisa lahir dan pernah dibesarkan ditempat ini, tempat yang nyaman dan damai, jauh dari kata hiruk pikuk, ya meskipun Mokpo sekarang termasuk sebagai salah satu kota besar di Korea Selatan.
“dulu, ayah dan ibuku selalu mengajakku pergi kepantai, sudah lama sekali saat aku masih sekolah dasar, mereka selalu menyogokku liburan kepantai ketika musim semi. Ya ternyata pantai tidak terlalu berdampak baik bagi keluargaku, setelah pulang dari pantai keluargaku mengalami kecelakaan, hanya aku dan Seo Yeo yang tersisa, kedua orang tuaku meninggal saat kejadian, tidak banyak yang ku ingat karena saat itu aku masih sangat kecil, setelah itu aku hanya punya Seo Yeo, karena itu aku takut jika Seo Yeo jika meninggalkanku, tapi bagaimanapun ia memang benar-benar sudah meninggalkanku”. Papar gadis itu, menceritakan detail kejadian saat kedua orang tuanya meninggal, Dong Hae sangat tau bagaimana kehilangan orang yang dikasihi karena ayah pria itu juga sudah meninggal tepat saat Dong Hae mendapatkan kesuksesan diperusahaannya.
Dong Hae menatap gadis itu, kini pandangannya Seo Na lurus menerawang kedepan, ekspresi muka gadis itu datar, tapi Dong Hae tau jika jauh didalam hatinya ia kini menangis, Seo Na bahkan lebih rapuh dari yang ia kira. “aku minta maaf”. Ujar Dong Hae menyesal, seharusnya ia tidak menanyakan hal yang membuat Seo Na mengingat masa lalunya.
“ah, Gweancana. Aku baik-baik saja, lagi pula itu sudah sangat lama sekali, dan aku sudah bisa membiasakan diri dengan kenangan itu. kau tau, kau harus banyak terluka dahulu jika ingin banyak bahagia”. Ucap Seo Na gamblang, tidak ada beban dari setiap kata-kata yang diucapkannya, gadis itu lebih terdengar seperti sedang menguatkan orang disekiarnya.
“berapa lama lagi kita akan sampai? Apa rumah orang tuamu jauh kepelosok?”. Pertanyaan Seo Na yang lebih terdengar sedikit mengejek membuat air muka Dong Hae yang tadinya simpati malah melongos.
“sekitar setengah jam lagi Nona Park”. Jawab Dong Hae seadanya, Seo Na terkekeh gadis itu mengibaskan tangannya.
“aku bercanda, lagi pula kau terlalu serius”. Ujar Seo Na akhirnya lalu keduanya kembali sibuk dengan pikiran masing-masing.
~~~000~~~
Kyu Hyun menyandarkan tubuhnya pada sofa beludru di dalam apartemen gadis itu, pria itu sejak tadi susah payah menghirup udara yang tidak terkontrol baik disaluran pernapasannya. Dihadapannya saat ini sudah duduk dua orang yang tentu saja sangat ia kenal, gadis itu adalah sahabat Seo Na yang kini tengah menatapnya ngeri, dan satu lagi pria yang sudah dianggap seperti –kakanya sendiri- oleh Seo Na.
Lee Teuk meneguk minuman soda yang sudah tersedia dimeja, awalnya pria itu datang ke apartemen Seo Na ingin bertemu gadis itu, karena sudah beberapa minggu setelah keluar dari rumah sakit ia tidak bertemu gadis itu, ditambah lagi ia ingin memberi kuliah gratis untuk Seo Na karena saat itu sudah seenaknya keluar rumah sakit tanpa persetujuan dirinya dan Yoo Ra, dan lagi maksud pria berlesung pipih itu adalah ingin membahas tentang kasus penembakkan yang terjadi malam itu, ya sebenarnya Seo Na sudah mengatakan padanya untuk tidak mengusut kasus itu, ia tidak terlalu peduli dengan hal itu, lagi pula ia sekarang baik-baik saja, pikir Seo Na.
“jadi bagaimana dengan kasus penembakkan itu?”. suara berat Kyu Hyun menyita perhatian Lee Teuk, Yoo Ra juga ikut menatap pria itu.
“dia seorang wanita, motifnya dendam dan sampai sekarang aku dan tim ku masih melacak keberadaan wanita itu. Dan lagi sepertinya ia masih muda, aku rasa dia belum menikah”. Papar Lee Teuk, Kyu Hyun mengangguk memahami.
“Oppa? Tadi kau bilang dendam?”. Yoo Ra angkat bicara, gadis itu cukup tertarik dengan kata ‘dendam’.
Lee Teuk mengangguk. “ya, karena dia seorang wanita, dan ia tidak terlalu menfokuskan pada titik penembakannya, ia menembak asal karena motifnya dendam jadi ia hanya ingin sikorban menderita atau kemungkinan terburuknya adalah mati”. Lanjut pria itu, Yoo Ra berkedik, kata-kata mati terlalu mengerikan baginya.
“selama ini Seo Na banyak menjalin kerja sama dengan beberapa pengusaha wanita, namun kebanyakan mereka adalah ibu-ibu yang sudah menikah, selama aku mendampingi Seo Na ia tidak punya rekan bisnis yang muda sama sepertinya, kebanyakan ya hanya pria salah satunya Kyu Hyun-ssi”. gadis itu mengangkat dagunya, mengarahkan kearah Kyu Hyun yang sejak tadi fokus mendengarkan Yoo Ra dan Lee Teuk.
“lalu?”. tanya Lee Teuk penasaran.
“ya, seingatku dia tidak punya musuh seorang gadis. Ah atau?!”.
“apa?”. Kyu Hyun kali ini bersuara, Yoo Ra menatap pria itu.
“apa kau punya teman wanita? Mungkin saja, gadis itu cemburu pada Seo Na karena ia dekat dengan Kyu Hyun-ssi”.
“Seo Na tidak hanya denganku, tapi juga dengan Dong Hae Hyung dan juga pria yang makan malam bersamanya saat itu, lagi pula aku tidak mempunyai teman wanita yang seperti kau katakan”. Tandas Kyu Hyun, Yoo Ra mengangguk, pria itu benar Seo Na tidak hanya dekat dengan Kyu Hyun tapi tiga pria sekaligus, ya gadis itu memang cantik wajar saja jika banyak yang menginginkannya, pikir Yoo Ra.
“pria yang makan malam dengannya? siapa?”. Lee Teuk meluncurkan pertanyaan seletah mendengar embel-embel ‘pria yang makan malam dengannya’. Ia cukup heran, sejak kapan adiknya yang dingin itu bisa-bisanya makan malam dengan pria yang tidak ia kenal.
“Lee Eun Hyuk, seorang pemimpin salah satu perusahaan yang mengalami kebangkrutan sejak perusahaan Seo Na masuk dalam lima perusahaan terbesar”. Kali ini Yoo Ra yang menjawab, ia tidak ingin Kyu Hyun berapi-api lagi jika membahas tentang laki-laki itu, sudah cukup pria itu melihat punggung Seo Na yang menghilang bersama Dong Hae tadi pagi.
“lalu Kyu Hyun? Bukankah kalian berpacaran? Bukankah kau dan Seo Na sudah berci-“.
“yak!”. Yoo Ra menyukut tangan Lee Teuk, membuat pria itu mengentikan kata-katanya, salahnya juga jika mengatakan jika ia memergoki Kyu Hyun dan Seo Na berciuman didalam lift pada Lee Teuk, pria itu jadi salah bicarakan.
“Seo Na tidak mengatakan apa-apa tentang perasannya padaku”. Ujar Kyu Hyun seadanya, ya memang seperti itu yang terjadi diantara keduanya, Seo Na malah mengatakan jika ia sangat menghindari Kyu Hyun.
“maaf, aku mengira kalian sudah berpacaran, jadi tidak heran jika gadis itu menerima tawaran Lee Dong Hae”. Kali ini Yoo Ra menginjak kaki Lee Teuk, pria itu menahan jeritannya, melotot kearah Yoo Ra, tapi tatapan Yoo Ra membuat pria itu tidak jadi berteriak protes.
Ruangan apartemen Seo Na kembali hening, ketiganya terdiam. Hanya suara ocehan televisi yang membuat ruangan itu sedikit berisik. Yoo Ra beranjak dari tempatnya, setelah Lee Teuk memberinya kode untuk meninggalkan dirinya dan Kyu Hyun berdua, Yoo Ra memilih dapur dan tetap saja gadis itu menguping dari sana.
“Kyu Hyun-ssi”. suara berat pria itu menyita perhatian Kyu Hyun yang sejak tadi sibuk dengan ponsel layar sentuhnya.
Kyu Hyun mengalihkan pandangannya pada pria itu. “apa kau akan terus membiarkan Seo Na pergi dengan pria lain?”. Tambah Lee Teuk, Kyu Hyun menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan, mengontrol emosi yang entah sejak kapan akhir-akhir ini bisa ia tahan dengan baik.
“aku hanya tidak ingin membuat Seo Na menderita”. Tandas Kyu Hyun, pria yang berjarak umur lima tahun darinya itu mengangguk paham. Ia mengerti sekali apa yang dirasakan Kyu Hyun, ia tau Kyu Hyun sangat menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya terhadap Seo Na selama ini, jadi tidak mungkin pria itu menambah kesan buruk lagi terhadap Seo Na.
“waktu memang akan mengubah semuanya Kyu Hyun-ah, tapi jika kau tidak berusaha waktu juga akan sulit untuk mengubah segalanya, aku rasa kau harus jauh bertindak, Seo Na bukan tipe wanita yang peka, gadis itu lebih sering memikirkan kemungkinan terburuk dari pada kemungkinan terbaik”. Ujar pria itu.
Kyu Hyun terdiam, kali ini ia lebih ingin mencerna kata-kata pria itu. “aku tau kau dan Dong Hae sangat dekat, tapi jika kau terus membiarkan mereka bersama Dong Hae akan bisa lebih dulu menempati hati Seo Na, terlebih lagi jika pria itu tidak pernah menoreh luka dimasa lalunya, jadi akan dengan sangat mudah oleh Seo Na menerima sosok Dong Hae dihidupnya, beda denganmu yang harus mengubah persepsi gadis itu dahulu tentang masa lalunya, barulah kau bisa mendekatinya. Kyu Hyun-ah, aku akan sangat mendukungmu jika kau bisa menikahi gadis itu, aku yakin kau akan lebih bertanggung jawab atas hidup Seo Na”. Tambah Lee Teuk akhirnya, ya tentu saja Kyu Hyun akan sangat bertanggung jawab atas hidup Seo Na, bukankah ia yang membuat hidup gadis itu menjadi seperti ini, karenanya juga Seo Na tumbuh sebagai gadis yang semakin dingin dan ketus.
~~~000~~~
“Seo Na-ssi, kita sudah sampai-“. Ucapan pria itu terhenti seketika, kali ini ada yang lebih menarik ketimbang mengatakan jika mereka sudah berada didepan halaman kediaman ibu Dong Hae, wajah Seo Na yang tertidur pulas bahkan lebih menarik ketimbang apapun saat ini. bibir kecil namun berisi, bewarna merah muda, pipi gembulnya yang suka sekali memerah ketika gadis itu salah tingkah, bulu matanya yang terlihat lentik dan hidungnya yang kecil ya meskipun tidak terlalu mancung, dan keindahan itu kini tersaji dihadapan Dong Hae.
Seo Na menggeliat, menarik wajahnya ke arah berlawanan sadar jika mobil yang tengah ia naiki berhenti gadis itu mengerjapkan matanya berusaha menormalkan pandangannya, dan tentu saja hal pertama yang dilihat gadis itu adalah wajah Dong Hae yang kini tengah memperhatikannya dengan senyum yang mengembang.
“sudah bangun? Kita sudah sampai Na-ya”. ujar Dong Hae, gadis itu merubah ekspresinya dalam sejenak, ia tidak ingin Dong Hae melihat wajahnya yang salah tingkah, lagi pula bagaimana ia bisa tertidur begitu pulas alhasil pria itu bisa melihat wajahnya sedang tertidurkan? Pikir gadis itu.
“ah, baiklah”. Ucap gadis itu gugup. Keduanya turun dari mobil merah bermerk Ferarri itu, berjalan menuju depan pintu masuk rumah Ibu Dong Hae. Dong Hae memencet bel rumah orang tuanya itu, tidak perlu waktu lama karena saat ini pintu masuk sudah terbuka dan terlihat seorang gadis cantik kira-kira berumur 17 tahun tengah menyambut mereka.
“AH! DONG HAE OPPA!”. Teriak gadis itu, langsung menghambur dalam pelukan Dong Hae, pria itu juga terlihat sangat senang sekali dengan sambutan agak berlebihan dari gadis itu, Seo Na yang menyaksikan keduanya hanya bisa berdeham singkat sambil menekan-nekan tali tas tangannya yang kini tengah digenggamannya.
Dong Hae melepas pelukannya dengan gadis itu, melirik kearah Seo Na sejenak lalu tersenyum. “Seo Na-ya, kenalkan ini sepupuku Min Ah, Lee Min Ah”. Tambah pria itu lagi. Gadis itu menatap Seo Na sejenak lalu tersenyum mengulurkan tangannya kearah Seo Na dan langsung disambut baik oleh gadis itu.
“Park Seo Na”. Ucap gadis itu, sambil tersenyum kaku, sembari melepas jabat tangannya dengan sepupu Dong Hae itu.
“Oppa, apa dia pacarmu?”. Tanya gadis itu, Seo Na mendongak kearah Dong Hae, gadis itu membulatkan matanya, dan itu membuat Dong Hae terkekeh geli.
“tidak, dia temanku”. Jawab pria itu seadanya, jika ia mengatakan Seo Na sebagai kekasihnya mungkin bisa saja, tapi ia masih ingat tentang Kyu Hyun, ia tidak mungkin berlaku curang pada pria itu.
Min Ah mengangguk, ia menarik tangan Oppa-nya menuju dalam rumah, Seo Na hanya mengekor dibelakang kedua kakak beradik itu meski kini ia kikuk tapi Seo Na berusaha untuk tetap rileks dan seramah mungkin, ia tidak ingin membuat keluarga Dong Hae menganggapnya dingin dan sombong. Setidaknya ada kesan baik yang ia tinggalkan dikeluarga itu.
Kali ini Seo Na duduk di sofa bewarna hijau tua, ruang keluarganya sangat tertata rapi, ada beberapa hiasan dari kerang memenuhi salah satu lemari kaca disudut ruangan, ditambah warna dinding ruangan yang sangat lembut dipadu dengan berbagai hiasan dinding, tapi kali ini mata Seo Na terhenti pada figura yang memperlihatkan empat orang tengah tersenyum didalamnya, dua orang putra, dan ia yakin salah satu diantara mereka adalah Dong Hae, dan satu lagi mungkin kakak atau adiknya, ya apapun itu tapi kini Seo Na cukup tertarik dengan photo itu.
“Dong Hae-ya, Omo! Bagaimana kau tidak memberi kabar untuk datang? Seharusnya kau bisa meneleponku dulu”. Terdengar suara wanita paruh baya kini turun dari jenjang ditengah ruangan, disambut oleh Dong Hae yang langsung memeluk wanita itu, ia yakin itu Ibu Dong Hae.
Dong Hae memeluk ibunya, sudah lima bulan pria itu tidak kembali ke Mokpo ya tentu saja karena pekerjaan yang begitu membuatnya sibuk. “aku hanya ingin memberi kejutan Eomma”. Ucap pria itu penuh cinta, ia menuntun wanita itu ke sofa, kini gadis yang duduk disana berdiri membungkuk sopan kearah Ibu Dong Hae.
Kedua Ibu-anak itu kini saling berpandangan, Dong Hae tau pasti ibunya bertanya-tanya tentang-siapa gadis itu-. “Eomma, dia Park Seo Na, temanku. Aku sengaja mengajaknya kemari”. Papar Dong Hae, Ibu Dong Hae sedikit mendesah kecewa, ia mengira jika Seo Na adalah kekasih anaknya.
“aku kira dia kekasihmu”. Ujar wanita itu, lalu menyambut baik Seo Na menyuruh gadis itu untuk duduk. “jadi namamu Park Seo Na?”.
Seo Na mengangguk. “Ne Ajhumonim”. Ucap gadis itu sopan, masih sedikit kikuk, seharusnya ia juga memikirkan tentang hal ini sebelum mengiyakan ajakan Dong Hae, tapi ia malah lebih memikirkan tentang jalan-jalan kepantai yang menggiurkan bagi Seo Na.
Terlihat jika Seo Na sedang kikuk, hanya suara ocehan Min Ah yang mengisi ruangan, Min Ah terus menanyakan pada Dong Hae tentang gadis yang ia bawa itu, tentang pekerjaannya, dan tentunya tentang Seoul. Min Ah adalah sepupu Dong Hae, anak dari adik Ayahnya, gadis itu memang tinggal dirumah ibu Dong Hae, untuk menemani wanita itu, lagi pula kakaknya Lee Dong Hwa kini menatap dibusan untuk mengelolah Hotel bintang enam miliknya yang cukup mewah.
“jadi kau hanya sehari disini? Kenapa tidak menginap saja? akan lebih baik jika kalian menginap terlebih dahulu”. Kali ini Nyonya Lee yang bersuara.
“tidak-tidak,hmm maksudku. Aku harus masuk kerja esok hari, jadi aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku”. Tandas Seo Na, sebisa mungkin tidak menerima tawaran dari Ibu Dong Hae, tidak mungkin ia menginap dan meninggalkan kantornya, pekerjaannya lebih penting dari apapun. Lagi pula ia bisa kemari kapanpun, dan menginap sepuasnya jika ia sedang cuti berlibur.
“Eomma, Seo Na punya pekerjaan yang tidak bisa ia tinggal. Aku juga akan kembali bekerja esok hari”. Tambah Dong Hae, Seo Na menarik napasnya lega, setidaknya pernyataan pria itu bisa membantunya sedikit banyak.
Wanita itu mendesah kecewa, tapi kali ini ia tersenyum dan mengangguk paham. “baiklah, aku mengerti, sebelum berangkat kemakam ayahmu, kalian bisa makan siang dulu dirumah”. Tawar Ibu Dong Hae, yang akhirnya direspon setuju oleh keduanya.
~~~000~~~
Dong Hae berjalan mendahului Seo Na, gadis itu mengekori Dong Hae dari belakang sambil mengenggam karangan bunga mawar putih ditangannya. Kali ini untuk yang pertama kalinya bagi Dong Hae membawa seorang wanita ke makam Ayah-nya, sebelumnya pria itu selalu berkunjung sendiri, terlebih ia ingin menceritakan semua kesedihan yang ia rasakan setelah sosok Ayah meninggalkannya, bagi pria itu sosok Ayahnya sangat berjasa. Hingga saat ini Dong Hae masih bisa menangis ketika mengingat Ayahnya.
Langkah Dong Hae terhenti tepat didepan gundukkan tanah tepat dimana Ayah pria itu dimakamkan. Sementara dibelakang pria itu, Seo Na hampir menabrak punggung Dong Hae yang berhenti tiba-tiba.
“kita sudah sampai”. Ucap Dong Hae, Seo Na mendongakkan kepalanya kearah Dong Hae setelah sebelumnya mengambil posisi tepat disamping kanan pria itu. Seo Na menatap Dong Hae sejenak sebelum akhirnya menatap batu berbentuk salib dihadapannya saat ini.
“aku akan berdoa sejenak, setelah itu aku akan meninggalkanmu sendiri, kau pasti butuh privasi untuk ini”. Seo Na meletakkan karangan bunga itu tepat dibawah batu nisan makan Ayah Dong Hae.
“kita akan berdoa bersama”. Ujar Dong Hae akhirnya, Seo Na menatap pria itu sejenak, ia bisa melihat jika mata pria itu kini tengah berkaca-kaca ia tau persis apa yang dirasakan pria itu, setidaknya ia juga pernah merasakan kehilangan orang yang ia cintai meskipun kedua orang tuanya meninggal saat ia belum paham betul arti sebuah kematian, namun ketika kakaknya meninggal Seo Na sangat tau dan paham bagaimana rasanya ditinggal orang-orang yang mereka cintai.
Keduanya sama-sama berdoa, khusuk dalam harapan masing-masing, ditambah lagi keheningan disekitar area pemakaman yang begitu sejuk dan asri, angin laut yang terasa hingga ketempat mereka karena pemakaman ini terletak diatas bukit yang tidak jauh dari sekitar laut.
“aku sering merindukannya”. Seo Na mengalihkan pandangannya kearah Dong Hae, suara pria itu bergetar, meskipun selama ini Seo Na tumbuh sebagai gadis dingin dan tak perduli disekitarnya tapi untuk saat ini ia sangat mengerti apa yang dirasakan Dong Hae, pria itu butuh tempat sandaran.
“kau boleh menangis”. Papar gadis itu. “ketika kau menangis, semua akan lebih ringan. Ketika kau menangis bukan berarti kau adalah orang yang lemah, hanya saja kau butuh untuk menangis. aku hanya terlalu jarang menangis, jika aku bisa aku akan menangis jika aku ingin, tapi aku tak bisa”. Lanjut gadis itu akhirnya, menatap Dong Hae yang kini menatap lekat kearahnya.
Pria itu mengalihkan tatapannya kearah batu nisan dihadapannya. Banyak kenangan yang ia lalui dengan orang yang kini sudah beristirahat tenang dialamnya itu, terlalu banyak yang ia rencanakan untuk Ayahnya kelak tapi pria itu lebih dulu meninggalkannya sebelum semua terwujud. Dong Hae menangis, tanpa sadar ia terisak sesekali ia bergumam memanggil Ayahnya, hanya untuk melepas semua kerinduan yang pria itu rasakan. Sampai pada akhirnya, sebuah pelukan menenggelamkannya pada ketenangan yang ia impikan selama ini, Seo Na memeluk pria itu membiarkan pria tampan itu menangis didalam peluakannya, setidaknya hanya ini yang bisa ia berikan untuk Dong Hae saat ini, pikirnya.
~~~000~~~
“selera mu bagus dalam mencari pantai, ternyata pantai dimokpo tidak kalah bagus dari pantai yang ku kunjungi di thailand”. Oceh Seo Na, sambil mengejar ombak yang menyurut lalu gadis itu berlari ketika ombak mulai kedaratan.
“terlalu sering menikmati negara lain lalu kau lupa dengan negara mu sendiri Na-ya”. ejek Dong Hae, gadis itu menatapnya mengerucutkan bibirnya yang tipis kedepan membuat pria itu terkekeh geli.
“yayaya terserah kau saja”. ujar gadis itu akhirnya, tidak terlalu berminat berdebat kali ini dengan pria itu lebih asik bermain dengan air laut yang biru dan jernih. Dong Hae sukses menyogok Seo Na dengan embel-embel pantainya, toh sekarang gadis itu asik dengan –pantai-nya tanpa memperdulikan Dong Hae yang kini berjalan mengikuti gadis itu sambil sesekali terkekeh melihat tingkah Seo Na yang sangat jauh dari kata dingin dan ketus yang ia sandang selama ini, gadis itu tampak lebih manusiawi.
“kenapa? Aku cantik ya?”. akhirnya gadis itu bicara, setelah menyadari tatapan Dong Hae tak beralih darinya. Gadis itu mengentinkan langkahnya. “banyak orang yang mengatakan aku jauh berbeda ketika bermain dipantai, mereka mengatakan aku lebih manusiawi. Terlebih Lee Teuk Oppa dan Yoo Ra, mereka selalu mengajakku kepantai ketika aku mengambil cuti pekerjaan, seperti terakhir kali mereka menyarankan thailand untuk ku kunjungi”. Dong Hae tersenyum, apa yang dikatakan gadis itu benar. Pantai sangat berpengaruh besar bagi perubahan sifat gadis itu, bagaimana bisa Seo Na yang ia kenal tadi siang dengan sifat dingin dan ketusnya kini berubah seperti gadis normal biasanya, gadis ini berbeda mungkin itu yang membuat Kyu Hyun mati-matian mencintai Seo Na.
“apa aku boleh bertanya satu hal?”. Ujar pria itu, Dong Hae menatap Seo Na membiarkan gadis itu balas menatapnya. Pria itu mendekatkan tubuhnya kearah gadis itu, meskipun sejujurnya pelukan yang Seo Na berikan tadi siang padanya dimakam Ayah Dong Hae memberikan efek tidak jerah bagi tubuh Dong Hae, yaitu menginginkan pelukan lagi dan lagi dari Seo Na.
Seo Na mengerinyit, menatap Dong Hae sesaat lalu mengangguk. “apa?”.
“apa yang membuatmu lari dari Kyu Hyun? Apa yang kau takutkan darinya?”. Seo Na terhenyak mendengar pertanyaan Dong Hae yang mengejutkan, seperti mendapat zonk , ekspresi wajah gadis itu berubah dalam sekejap.
“bukan sesuatu yang patut kita bahas”. Papar Seo Na, gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah pantai yang beberapa menit lagi mungkin akan menyuguhkan Sunset yang indah. Seo Na mengambil posisi duduk diantara pasir pantai yang kering, diikuti Dong Hae kemudian.
“aku tidak akan bertanya lebih tentang hal itu”. ujar Dong Hae, pria itu tersenyum manis. Dan setiap Seo Na mendapati senyuman pria itu, itu malah membuatnya refleks membalas senyuman Dong Hae. “aku terkejut ketika mengetahui semuanya dari Kyu Hyun”. Lanjut pria itu akhirnya.
“jadi dia menceritakan semuanya?”.
“karena aku juga menceritakan semuanya pada Kyu Hyun, aku dan Kyu Hyun tidak pernah saling tertutup sekalipun tentang perasaan kami masing-masing”. Tandas pria itu, Seo Na mengerjap jadi selama ini ia tidak salah Kyu Hyun dan Dong Hae memang saling mengetahui satu sama lain.
“dari awal aku juga sudah mengira tentang hal itu”. timpal Seo Na, sambil gadis itu membuat gundukan pasir dihadapannya tanpa berminat menatap mata Dong Hae yang tak pernah lepas sejak tadi memandanginya. “Kyu Hyun, entahlah aku tidak tau apa yang aku rasakan pada pria itu. aku tidak tau apa arti kebencian, aku juga tidak tau bagaimana menyukai seseorang itu. selama ini aku hanya merasakan sesuatau yang datar dan ambisi yang terus meledak-ledak dalam diriku sejak kematian Seo Yeo”. Jelas gadis itu.
“Na-ya”. panggil Dong Hae dengan suara rendah, gadis itu mengalihkan tatapannya, sambil memeluk lututnya sendiri. keduanya saling terdiam dan berpandangan, ada sesuatu yang lain yang ia rasakan ketika menatap mata Dong Hae, pria itu memiliki samudra yang luas dimatanya, setiap kali menatap mata Dong Hae ada sesuatu yang nyaman yang ia dapati. Meskipun, mata tajam milik Kyu Hyun tidak kalah menarik, tapi mata pria itu lebih seperti menuntut dan mematikan. Tatapan kedua pria itu berbeda tapi selalu berhasil menghanyutkan Seo Na.
“aku mencintaimu”. Dua kata yang sukses keluar dari mulut pria itu, dua kata yang kini membuat gadis dihadapannya tertohok kaget, dua kalimat yang sejujurnya datang dari hati pria bermarga Lee itu.
Seo Na tetap menatap Dong Hae, kini matanya membulat lebar, sebisa mungkin gadis itu menyembunyikan keterkejutannya dengan pernyataan pria itu. tidak, ini bukan pertama kalinya Dong Hae mengatakan perasaannya secara terang-terangan, ketika mereka pertama kali bertemu pria itu juga mengatakan hal yang sama, tidak ia tidak boleh hanyut dalam emosinya sendiri suasana pantai yang ia rasakan saat ini hanya suasana yang mendukung ungkapan perasaan pria itu, jadi ia yakin itu bukan sesuatu yang spesial.
Seo Na menyemburkan tawanya, gadis itu tertawa lebar. Sesekali ia menepuk pundak Dong Hae sebelum akhirnya kembali melanjutkan membuat gundukan pasir yang abstrak tak berbentuk dihadapannya.
“setelah melihat sunset kita akan pulang kan? Esok aku harus melanjutkan pekerjaanku, ada meeting dan beberapa presentase tentang pekerjaan yang masih terbengkalai dengan perusahaan lain beberapa hari lagi. Ahh astaga pria itu pasti datang”. Keluh gadis itu, mengganti topik pembicaraan –cinta-cinta-nya dengan beralih membahas tentang pekerjaannya.
“aku serius Na-ya”. lagi-lagi pria itu berusaha meyakinkan Seo Na, ia balas tidak merespon pembahasan Seo Na dengan perusahaan super suksesnya itu dan pekerjaan super sibuk yang akan ia jalani esok hari, yang diinginkan Dong Hae saat ini ialah gadis itu mengetahui semua apa yang ia rasakan. “kau tidak perlu menjawab apa-apa tentang perasaanku, kau hanya perlu tau”. Tandas Dong Hae akhirnya. Seo Na menatap mata pria itu tajam, gadis itu belum terlalu yakin dengan embel-embel cinta, bisa saja ia bernasib sama dengan kakaknya dimasa lalu, Seo Na tidak ingin itu terjadi.
“aku bukan Kyu Hyun yang pernah membuat kebencian dihatimu Park Seo Na, aku Lee Dong Hae aku harap kau mengerti maksudku”. Lanjut pria itu Seperti bisa membaca apa yangSeo Na pikirkan, ia tersenyum sejenak kearah Seo Na mengelus pipi gadis itu dan jika ia tidak bisa mengontrol dirinya ia bisa saja mendaratkan ciuman singkat dipipi penuh milik Seo Na, tapi tidak pria itu tidak akan berlaku lebih selama ia bisa menahan dirinya.
Seo Na spontan menutup matanya, menerima sentuhan lembut pria itu. ia paham betul dengan apa yang dikatakan Dong Hae sebelumnya, tentang siapa dia dan dia bukan seseorang yang harus ia takuti. Dong Hae benar, pria ini bukan Kyu Hyun yang pernah membuatnya merasakan rasa benci setengah mati, tapi pria yang dihadapannya ini adalah Lee Dong Hae, pria yang mengalah dimasa lalu untuk seorang Kyu Hyun.
‘aku seseorang yang dingin Lee Dong Hae, kau harus tau itu’. ujar gadis itu dalam hatinya, kembali menatap lautan dan sunset yang kini tersuguh indah dihadapan mereka, jauh pikiran gadis itu melayang, akankah ia bisa merasakan cinta nantinya?
~~~000~~~
Kyu Hyun mengehentikan mobil Ford hitamnya diparkiran gedung megah itu, mengenakkan jas hitam dan kemeja biru tua, lalu kaca mata yang menggantung dihidung mancungnya. Pria itu berjalan dengan tergesa-gesa kedalam gedung hari ini ia harus melakukan meeting dengan salah satu pemegang saham diperusahaannya, siapa lagi kalau bukan gadis yang memimpin perusahan PTI Corp, Park Seo Na.
Sesekali karyawan didalam gedung perusahaan itu membungkuk hormat kearahnya tidak terkecuali Yoo Ra yang sejak tadi gelisah menunggu Kyu Hyun dilobi gedung itu, gadis itu adalah penanggung jawab kerja sama dengan perusahaan Cho Company jadi jika tidak ada Kyu Hyun maka ia yang harus bertanggung jawab untuk menjelaskan keuntungan dengan perusahaan itu nantinya.
“kita sudah terlambat 10 menit Sajangnim, Seo Na-ssi tidak suka keterlambatan”. Ujar Yoo Ra dibelakang punggung Kyu Hyun, menyeimbangi langkah pria itu dengan sedikit berlari.
“gadis itu tidak akan berani memarahiku”. Jawab Kyu Hyun mantap. Pria itu melepas kacamatnya ketika mereka sudah berada didepan pintu ruangan meeting yang memang sudah berlangsung 10 menit sebelumnya. Kyu Hyun menghela napas mempersiapkan emosinya untuk menatap wajah gadis yang ia rindukan setengah mati selama 3 hari belakangan ini.
Didalam ruangan kini sudah berlangsung presentase, beberapa orang menatap sinis kearah Kyu Hyun yang diikuti Yoo Ra dibelakangnya, mengambil kursi tepat disamping Seo Na untung saja gadis itu kini tengah berdiri didekat layar besar menjelaskan poin-poin tentang kinerja perusahaan mereka.
Cukup lama gadis itu berkutat dengan layar besar, dan beberapa file yang harus dijelaskannya, kali ini ia kembali duduk perisis disamping Kyu Hyun, menatap pria itu tajam tanpa berbicara sedikitpun, dan Kyu Hyun tau jika Seo Na kini tengah meremehkannya.
“aku harus menemukan fileku yang tiba-tiba menghilang, karena itu aku terlambat”. Ujar pria itu, Seo Na menatapnya sejenak lalu tersenyum masam.
“bagus jika kau merasa”. Ejek gadis itu, kini Seo Na menarik berkas yang tadi berada di sisi meja Kyu Hyun melihat semua berkas-berkas laporan keuntungan dan perkembangan saham yang gadis itu minta pada Kyu Hyun, semua laporan itu sangat penting bagi Seo Na untuk meninjau semua perkembangan perusahaannya.
Kyu Hyun menatap gadis itu, memperhatikan wajah Seo Na yang kini sibuk membolak-balik kertas-kertas yang kini sudah berada digenggamannya. Wajah itu begitu serius, bahkan jauh terlihat lebih dingin, Kyu Hyun berdeham menyita perhatian Seo Na kearahnya, jujur saja gadis itu ingin sekali cepat-cepat angkat kaki dari dalam ruangan ini, dan yang membuatnya merutuk adalah kenapa pria itu bisa duduk persis disampingnya, semuanya seperti sudah tersusun dengan rapi gadis itu hanya bisa pasrah.
“apa? aku belum selesai mengoreksi semua laporannya Kyu Hyun-ssi”. jawab gadis itu datar, memicingkan matanya kearah Kyu Hyun lalu memilih memeriksa kembali laporan perusahaan ditanganya itu, ia tidak ingin berlama-lama menatap Kyu Hyun pria itu benar-benar seperti ingin memakannya hidup-hidup.
“setelah ini aku ingin bicara”. Kyu Hyun akhirnya bersuara, tidak tahan untuk tidak mengatakan keinginan yang sebenarnya untuk datang ke acara meeting yang sebenarnya bisa ia wakilkan pada Ye Sung asistennya.
“aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku, kita bisa bicara kapan saja”. jawab Seo Na tanpa melirik kearah Kyu Hyun, ia yakin jika sekarang ia sedang menonton acara kartun di televisi pasti latar belakang Kyu Hyun penuh dengan api-api yang menyala mendengar penolakkannya yang terdengar tidak beralasan.
“aku tidak akan menciummu lagi, jangan takut”.
“ne?”. Seo Na menarik kepalanya kearah Kyu Hyun, ia tidak salah dengarkan? Ciuman? Jadi pria itu masih mengingatnya ya? ya jelas saja, Seo Na tidak heran jika pria itu mengingatnya, toh bukankah waktu itu Kyu Hyun yang melakukannya, astaga membayangkan kejadian itu saja membuat perut Seo Na mual. “tidak usah berpikir yang seperti itu, lagi pula aku sudah melupakan yang baru saja kau ucapkan”.
“ciuman?”. Nada bicara pria itu sedikit meninggi, membuat beberapa orang didalam ruangan meeting melihat kearah mereka curiga, Yoo Ra yang tak jauh dari mereka hanya bisa menggeleng-geleng pasrah melihat sahabat dan – calon suami sahabatnya- itu tengah beradu argument yang tidak-tidak.
Seo Na yang mendengar hal itu langsung melotot tak percaya, ingin sekali ia menyumpal mulut pria itu dengan kertas-kertas dihadapannya agar tidak mengulangi kata-kata yang sakral baginya itu ditambah lagi tatapan-tatapan mematikan orang-orang didalam ruangan meeting ini.
Kyu Hyun menaikkan bahunya, tidak terlalu peduli dengan tatapan orang-orang disekitarnya, lebih peduli pada wajah Seo Na yang merah padam, dan sangat tertarik bermain dengan gadis ini. melihat Seo Na yang begitu Kyu Hyun merasa menang, gadis itu harus bertekuk lutut padanya, pikir Kyu Hyun bengis.
“baiklah, setelah ini kita akan bicara. Berapa lama terserah kau saja asal jangan katakan hal-hal yang membuat kepalaku meledak lagi”. Ujar gadis itu pasrah, akhirnya menyetujui ajakan Kyu Hyun atau lebih tepatnya ancaman Kyu Hyun dan lagi-lagi Kyu Hyun tersenyum penuh kemenangan ditempatnya.
~~~000~~~
Seo Na melirik kearah pria yang kini tengah berdiri didepannya saat ini, punggung pria itu tampak lebih kurus dari biasanya dan entah sejak kapan Seo Na memperhatikan tubuh Kyu Hyun yang memang sangat berbeda dari tubuh Dong Hae yang atletis dan memiliki beberapa otot ditubuhnya. kali ini Seo Na menepis jauh-jauh dahulu dengan kekagumannya terhadap tubuh Dong Hae, kali ini ia bersama Kyu Hyun ia harus fokus pada pria itu ia tidak ingin Kyu Hyun mengatakan hal yang tidak-tidak tentang ‘ciuman’ atau semacamnya yang membuat perut gadis itu mulas. Seo Na menghembuskan napasnya panjang menatap tubuh jakung pria itu dari belakang, pria yang sempat dibencinya atau masih dibencinya?
Kyu Hyun membalikkan badannya, menangkap tatapan Seo Na yang sejak tadi mengarah pada pria itu, Seo Na salah tingkah gadis itu melempar pandangannya kesembarang arah agar pria itu tidak mengetahuinya jika ia sedang menguntit diam-diam tubuh Kyu Hyun, apa menguntit? Terdengar menjijikkan, pikir gadis itu.
Kyu Hyun berjalan mendekat kearah Seo Na lalu duduk persis disamping gadis itu. “bagaimana liburan akhir pekanmu bersama Dong Hae Hyung?”. Akhirnya pria itu menyinggung tentang jalan-jalan singkatnya bersama Dong Hae, ia sudah menebak bagaimana pikiran Kyu Hyun saat ini.
“apa aku harus menceritakan semuanya padamu?”. Tanya gadis itu datar, sejujurnya ia ingin sekali kabur dari sini dan tidak menjawab satupun pertanyaan Kyu Hyun, lama-lama pria itu bisa membuatnya anemia.
Kyu Hyun menatap Seo Na, lagi-lagi tatapan –ya entah apa namanya- yang membuat Seo Na kalang kabut, tidak tau persisinya kapan tatapan pria itu seperti moncong pistol yang siap menembak, sama seperti pistol yang pernah ia pinjamkan dari Lee Teuk untuk membunuh Kyu Hyun waktu itu.
“aku bertemu dengan ibunya, lalu kemakam ayahnya, lalu kepantai dan Dong Hae-ssi mengantarku pulang”. Jelas Seo Na akhirnya, sebelum ia benar-benar mati terbunuh oleh tatapan Kyu Hyun.
Kyu Hyun mengangguk, sebenarnya pria itu masih ingin tau lebih banyak tapi ia tidak ingin Seo Na merasa jauh lebih risih dengan pertanyaannya yang terdengar sedang mengintograsi lebih baik pria itu membahas tentang yang lain, tentang dia dan Seo Na tentang rencana Ibu nya tadi malam pria itu harus mengatakannya.
“Na-ya”. panggil pria itu akhirnya, seketika darah Seo Na berdesir, bagaimana bisa pria itu membuatnya merasakan tegangan listrik hanya dengan menyebut ujung namanya, suara berat Kyu Hyun memang sangat memabukkan. “tentang Ibuku”.
Dahi Seo Na mengerinyit, ia tidak kenal sama sekali Ibu Kyu Hyun ya kecuali kakanya Seo Yeo yang memang sangat terkenal dikeluarga Kyu Hyun, terkenal? Ya apalah namanya. “Ibumu? Maksudmu?”. Tanya gadis itu pensaran.
“ia menyuruhku segera menikah untuk melanjutkan perusahaan”. Jelas Kyu Hyun singkat, belum sampai pada pembahasan yang sesungguhnya.
“bagus jika kau menikah, aku akan sangat senang melihat mu akhirnya bisa bebas dari masa lalumu”. respon gadis itu ketus, meskipun sebenarnya ia ingin sekali bertanya dengan siapa Kyu Hyun akan menikah lebih baik tidak, ia tidak ingin tau menahu lagi tentang hidup pria itu, jika Kyu Hyun menikah maka semakin kecil kemungkinan gadis itu jatuh cinta padanya, Seo Na lega tapi sejujurnya gadis itu merasakan ada yang aneh saat ini, tapi apa?
Kyu Hyun menatap Seo Na lebih dalam, meminimalisir jarak mereka. Kini pria itu dengan leluasa bisa menatap mata Seo Na yang terbelakak menatapnya, ia tau setelah ini Seo Na akan protes atau meneriakinnya seorang maniak seks. “a..apa?”. ucap gadis itu terbata.
“aku akan menikah denganmu”. Ucap Kyu Hyun enteng, tanpa memperdulikan wajah Seo Na yang kini berubah 180 derajat dihadapannya, meskipun Seoul sedang berada pada musim gugur tapi gadis itu kini malah kepanasan dengan pipi memerah dan mulut ternganga lebar, ia yakin ini adalah pose terjeleknya.
Semenit kemudian gadis itu tertawa lebar, menepuk pundak Kyu Hyun lalu menekan-nekan perutnya yang terasa perih karena terlalu banyak tertawa, ucapan Kyu Hyun terdengar seperti lelucon yang sukses mengocok perut Seo Na, gadis itu malah tertawa .
Kyu Hyun meraih tangan kanan Seo Na membuat gadis itu menghentikan tawanya seketika, mengerjapkan matanya kearah Kyu Hyun dan sedikit mendorong tubuhnya kebelakang memberi lebih banyak jarak dengan Kyu Hyun yang kini memang sedang memasang tampang seriusnya.
“aku serius Nona Park, aku rasa kau mengerti maksudku”. Tandas pria itu, Seo Na berusaha menarik tangannya dari genggaman Kyu Hyun tapi gagal karena pria itu menahan tangan Seo Na digenggamannya.
“aku juga serius”. Balas gadis itu, meskipun sekarang ia tidak tau apa yang sedang ia rasakan, karena sejak tadi wajahnya memenas, dan perutnya seperti diputar-putar, setelah ini ia akan membuat rekor pada Kyu Hyun dengan rekor -pembuat –sakit- perut -tersukses- mengalahkan cabai.
“tapi kau tau bagaimana aku Kyu Hyun-ssi, apa waktu itu belum cukup?”. Lanjut gadis itu, berusaha mengontrol emosinya sendiri, ia tidak ingin Kyu Hyun mendapati wajahnya yang menganga terkejut seperti yang berada di film-film lagi.
“waktu bisa mengubah semuanya Na-ya”. Kyu Hyun terdiam, menarik napasnya dalam-dalam, efek mengenggam tangan Seo Na cukup buruk karena kini keringat pria itu tiba-tiba mengucur deras. “seperti waktu yang mengubah kebencianmu kepadaku”.
“aku masih membencimu”.
“tapi aku tidak menemukan kebencian dimatamu lagi padaku, matamu tak pernah berbohong”.
“jangan sok tau”. Timpal Seo Na, merasa gerah dengan perdebatannya dengan Kyu Hyun, bagaimanapun pria itu selalu benar dan selalu menang, Seo Na sendiripun juga tidak merasakan kebencian lagi didirinya untuk Kyu Hyun, sekarang ia malah merasa bingung dengan apa yang sebenarnya yang ia rasakan terhadap pria itu.
“aku benar bukan?”. Kyu Hyun menebak, merasa tidak puas pria itu tak ingin mengalihkan pembicaraan mereka, ia hanya ingin Seo Na sadar dengan apa yang dirasakannya, ia tidak ingin gadis itu salah mengartikan perasaanya terhadap Kyu Hyun pria itu ingin Seo Na tau jika ia serius, ia bahkan berjanji untuk tidak menyakiti dan memberi penderitaan pada gadis itu lagi.
Seo Na menatap Kyu Hyun nanar, jika bukan karena harga diri gadis itu akan berteriak dan mengakuinya tapi karena ia tidak ingin Kyu Hyun merasa menang ia hanya menghembuskan napasnya kasar lalu menarik tangannya dari genggaman pria itu. gadis itu beranjak dari tempatnya berniat meninggalkan Kyu Hyun dan mengakhiri pembahasan yang membuat kepala gadis itu ingin meledak, ia butuh waktu untuk memahami semua ini.
Belum sempat gadis itu memasukki mobil sport-nya kini sepasang tangan sudah membuat tubuh gadis itu berbalik kebelakang memaksanya menatap dengan jarak yang begitu sangat dekat. Kyu Hyun menyandarkan tubuh gadis itu kemobilnya, Seo Na terperanjat dan kembali tersadar dengan perlakuan Kyu Hyun yang tiba-tiba.
“jika kau tidak bisa memahami perasaanmu sendiri, jangan panggil aku Cho Kyu Hyun jika aku tidak bisa menculikmu diam-diam dan membawamu kealtar dalam waktu dekat ini”. ancam pria itu dengan rahang yang mengeras dan tatapan yang begitu tajam, dengan jarak sedakat ini Seo Na bisa menghirup wangi tubuh Kyu Hyun yang cukup memabukkannya.
Pria itu melepaskan cengkaramannya pada pergelangan tangan Seo Na sebelum akhirnya beranjak dari hadapan gadis itu dan melesat dengan mobilnya meninggalkan Seo Na yang masih berjibaku dengan –apa yang baru saja-di alaminya.
“ASTAGA!!! KENAPA AKU HARUS BERTEMU PRIA GILA ITU!! AAARRRRRGH!”. Teriak Seo Na prustasi, tanpa memperdulikan beberapa orang-orang yang berlalu lalang yang kini tengah menatapnya ngeri.
Lagi-lagi seorang Park Seo Na harus mendapat ancaman yang tidak main-main dari seorang Cho Kyu Hyun, menyenangkan.

To Be Continue
~~~000~~~

REVENGE BEFORE LOVE (3/?)

Standard

Gambar

 

 

 

REVENGE BEFORE LOVE (3/?)

Action, Romance. PG + 17

Cast :

Cho Kyu Hyun

Lee Dong Hae

Park Seo Na

 

 

“apa yang terjadi?!”. Lee Teuk menahan teriakkannya.

“Na-ya tertembak, aku tidak tau bagaimana persisnya. Tadi Kyu Hyun yang mengantarnya kemari lalu pria itu mengejar orang yang sudah mencelakai Seo Na, aku tidak tau bagaimana ini bisa terjadi Oppa”. Yoo Ra terisak ia benar-benar terkejut setelah Kyu Hyun menghubungi gadis itu lalu memintanya untuk datang kerumah sakit.

Lee Teuk menarik tubuh Yoo Ra, membiarkan gadis itu menangis didalam dekapannya. “Seo Na akan baik-baik saja, aku tau gadis itu kuat”. Ujar Lee Teuk, menahan semua amarah yang bahkan sebenarnya tak bisa ia tahan lagi, bagaimana Seo Na –yang sudah dianggap adik oleh Lee Teuk – ditembak oleh orang yang tak dikenal, kenapa masih ada orang yang membenci gadis yang bahkan hidupnya saja sudah sedemikian sengsara.

“setelah ini aku akan menemui Dokter dan menanyakan keadaan gadis itu, setelah itu aku akan mencari pelakunya”.

~~~000~~~

Eun Hyuk menatap gadis itu, sejak tadi keduanya tidak bicara tentang apapun, dan gadis yang didepannya saat inipun hanya mematung tanpa mengeluarkan suara.

“kau gila?”. Ucap pria itu akhirnya, mengontrol semua emosi yang ia rasakan.

“aku hanya ingin membuatnya menderita-”.

“HAN JAE EUN!”. Gadis itu terlonjak kaget mendengar teriakkan Eun Hyuk yang memenuhi ruangan kerja pria itu. “kau bahkan tidak mengikuti apa yang aku katakan Eun-ah! Kau tau bukan, jika aku mulai menyukainya?”. Eun Hyuk bangkit dari tempatnya mendekat kearah Jae Eun yang kini sudah terpojok di sisi dinding ruang kerja Eun Hyuk.

“Wae? Kau membenciku?”. Ucap gadis itu bergetar.

“jika kau terus seperti ini aku akan membencimu Eun-ah, kau bukan Jae Eun yang ku kenal”. Geram pria itu, menatap wajah Jae Eun yang kini sudah tertunduk. Gadis itu bahkan melakukan apa yang tidak diperintahkan Eun Hyuk padanya.

Gadis itu terisak, ia tidak tau apa yang harus dilakukannya saat itu, mengikuti kedua orang itu dan menembak gadis itu hingga tersungkur kepasir pantai, hanya satu tembakan setelah itu ia pergi dari sana. Jae Eun sangat membenci gadis itu apa lagi setelah gadis kaya raya itu memikat Eun Hyuk dan dengan mudahnya pria itu masuk kedalam pesonanya, dan sekarang itu yang menjadi poin utama bagi Jae Eun untuk membenci gadis itu.

~~~000~~~

“bagaimana keadaan Seo Na-ssi, apa dia baik-baik saja?”. Dong Hae baru saja mendapat pesan dari Kyu Hyun jika gadis itu masuk rumah sakit, meskipun pria itu tidak menceritakan penyebab Seo Na dilarikan kerumah sakit.

Yoo Ra berkedik, menatap Dong Hae cukup lama sebelum pria itu memperkenalkan dirinya. “Dong Hae imnida”.

“Ah, Dong Hae-ssi. Hmm, Seo Na masih belum sadar, sejak tadi malam ia belum sadarkan diri, Dokter bilang tidak ada yang parah, Seo Na hanya butuh istirahat”. Jelas Yoo Ra, Dong Hae mengerang prustasi.

“apa aku boleh tau, apa yang sebenarnya terjadi?”. Ucap Dong Hae pada akhirnya, pria itu penasaran dengan apa yang sudah terjadi dengan Seo Na sebenarnya.

“Seo Na ditembak tadi malam”. Dong Hae mengerjap, matanya kini melebar tak percaya. Ditembak? Bagaimana bisa gadis itu dicelakai demikian? Seharusnya tadi malam ia yang berada disamping gadis itu, jika ia berada disamping Seo Na mungkin kejadian itu tidak akan terjadi. Pikir Dong Hae.

“apa luka tembakannya parah? Kyu Hyun tau hal ini?”. Dong Hae berubah semakin panik. Napas pria itu menderu hebat, ada sesak yang ia rasakan saat ini.

“sudah, karena gadis itu bersama Kyu Hyun tadi malam. Mereka kepantai, dan entah bagaimana Seo Na tertembak disana. tidak usah khawatir Dong Hae-ssi, Seo Na baik-baik saja”. Yoo Ra mencoba menenangkan pria itu, yang gadis itu lihat saat ini adalah Dong Hae yang begitu mengkhawatirkan Seo Na. Apa pria itu menyukai sahabatnya, pikir Yoo Ra.

‘seharusnya aku datang saat itu’. gumam pria itu lirih, ia menyesali ketidak hadirannya dimakan malam itu, jika ia datang Kyu Hyun tak akan membawa gadis itu kepantai lalu penembakan itu tidak akan terjadi. Seharusnya ia melindungi Seo Na, seharusnya ia yang menjaga gadis itu, bukannya malah membiarkan Kyu Hyun bersamanya.

Dong Hae baranjak meninggalkan Yoo Ra ditempatnya. “Dong Hae-ssi, kau mau kemana?”.

“melihat keadaan Seo Na”.

“Tapi-“. Pria itu berlalu begitu saja sebelum membiarkan Yoo Ra mencegahnya masuk kedalam ruang inap Seo Na.

~~~000~~~

“Apa Seo Na menyukai pantai?”. Tanya pria itu, sesekali memperhatikan gadis itu yang kini asik bermain dengan ombak dihadapannya. Senyum gadis itu begitu cerah ketika bertemu dengan lautan.

“hum”. Gumam Seo Yeo.”jika ingin melihat sifat asli gadis itu, maka ajak ia ke pantai, sikap dingin, keras kepala, dan wajah ketusnya semua berubah ketika ia berada dipantai, gadis itu akan terlihat lebih manusiawi, tertawa, bermain sama seperti gadis berumur 15 tahun lainnya”. Jelas Seo Yeo yang sejak tadi juga ikut memperhatikan adiknya itu bersama Kyu Hyun.

Kyu Hyun tak henti-hentinya menatap gadis yang umurnya lebih muda 5 tahun darinya itu, entah apa yang membuatnya begitu mengangumi sosok Seo Na, yang ia tau Seo Na berbeda dari gadis manapun yang pernah ia lihat, termasuk kakak dari gadis itu.

“pantas jika kau menyukai adikku Kyu, karena dia berbeda dariku”. Tandas Seo Yeo akhirnya, sedetik kemudian pria itu mengalihkan pandangannya pada Seo Yeo. “seharusnya aku merelakan perasaanmu yang lebih dulu menyukai Seo Na”.

“aku hanya bisa mengangguminya dari kejauhan seperti ini Seo-ya”. ujar Kyu Hyun, menatap sahabatnya itu intens. Ia tau Seo Yeo terluka, sama sepertinya yang hanya bisa menatap gadis yang ia sukai tanpa berani berbicara atau mengatakan rasa sukanya.

“kau hanya perlu menyimpan rahasia kita darinya, alasan kenapa aku tidak bisa menerimamu”. Seo Yeo mengangguk setuju.

~~~000~~~

Kyu Hyun tak henti-hentinya menatap wajah Seo Na yang sejak tadi malam terbaring diranjang rumah sakit, wajah gadis itu polos dengan mata tertutup Seo Na masih terlihat begitu cantik, tapi jika boleh jujur Kyu Hyun lebih suka menatap mata gadis itu jika ia sedang terjaga, karena pria itu bisa sepuasnya menatap manik mata Seo Na, hal yang disukainya bukan?

Sudah 8 tahun bukan Kyu Hyun kehilangan gadis itu, dan kini gadis itu sudah hadir dikehidupannya, gadis cantik berumur 15 tahun itu kini sudah menjelma menjadi gadis dewasa berumur 23 tahun dengan kadar kecantikannya yang terus bertambah, dan ini benar-benar anugrah bisa bertemu dengan gadis ini lagi.

Kyu Hyun mengelus pipi gadis itu, menahan tangannya agar tidak terlalu bernapsu menyentuh pipi Seo Na, ia tidak ingin gadis ini terluka lebih banyak karenanya ataupun karena siapapun diatas bumi ini, Seo Na adalah prioritas utamanya saat ini, sudah cukup kehilangan gadis ini selama bertahun-tahun dan membiarkan kebencian bersarang dihati gadis ini untuknya. Detik kemudian, mata Seo Na bergerak, Kyu Hyun berkedik.

“Na-ya”. panggil Kyu Hyun pelan, Seo Na berusaha menatapnya, mengatur pandangannya mengontrol cahaya yang menembus penglihatannya. “pelan-pelan saja, ada aku disini”. Ucap pria itu, sambil menggenggam tangan Seo Na pelan.

“Kyu?”. Ucap gadis itu lemah, Kyu Hyun tersenyum ingin sekali ia menghambur saat ini ketubuh gadis itu tapi tak mungkin gadis itu masih lemah, luka tembakan dibahu kanannya juga belum pulih.

“aku akan panggilkan Dokter untukmu”. Kyu Hyun segera memencet tombol diatas ranjang Seo Na, sebelum gadis itu menghentikan tangan Kyu Hyun.

“tidak usah Kyu, aku baik-baik saja”.

“Park Seo Na, ku mohon-“.

“tidak apa Kyu Hyun-ssi”. timpal gadis itu, ia memaksakan senyum nya pada Kyu Hyun dan lagi-lagi itu membuat Kyu Hyun menuruti kata-kata gadis itu.

“kau tau aku mengkhawatirkanmu? Hum? Aku tidak mendapatkannya, tapi setelah ini aku akan mengejar dan membunuhnya untukmu”. Ujar pria itu lirih, menatap tanpa bosan gadis cantik yang sedang berbaring dihadapannya ini. Seo Na mengingat kejadian yang ia alami tadi malam, bukan penembakan itu tapi kejadian sebelum itu, kejadian dimana Kyu Hyun mengatakan kenyataan yang terjadi sebenarnya tentang 8 tahun yang lalu, dan entah kenapa ia masih belum bisa mencerna dengan baik tentang -kenapa Kyu Hyun tidak bisa menerima Seo Yeo.

“Kyu Hyun-ssi, soal tadi malam, maksudku tentang sebelum penembakkan itu-“.

“kita akan bicarakan hal itu setelah kau keluar dari rumah sakit”. Kyu Hyun mencondongkan tubuhnya, mengecup kening Seo Na sekilas. Dan tanpa mereka sadar seseorang baru saja hendak masuk keruangan rawat Seo Na, namun pria itu mengurungkan niatnya setelah melihat keadaan yang terjadi didalam ruangan tersebut dan memutuskan menunda melihat kondisi gadis itu saat ini.

~~~000~~~

Seharusnya ia menerima semua kenyataan ini, kenyataan jika pria itu menyukainya. Tapi semua terlalu sulit, semua sudah terlanjur berjalan dijalan yang salah, gunung kebencian itu bahkan kini sudah meledak, ia membenci pria itu sangat membencinya, tapi saat ini ia harus menerima konsekuensinya jika ia harus membenci dirinya sendiri, bukankah alasan pria itu menolak kakaknya 8 tahun yang lalu adalah dirinya. Jadi haruskah ia tetap memelihara kebencian itu?

Seo Na mengerjapkan matanya, mendengar langkah dua orang memasuki ruang inapnya, Seo Na menatap bergantian ke arah mereka, tersenyum seperti biasanya, bukankah ia gadis yang kuat?

“sedang sakit masih bisa tersenyum?”. Ejek Lee Teuk yang mengambil posisi persisi disamping gadis itu.

Seo Na mencibir, mengalihkan pandangannya kearah Yoo Ra yang mengekori Lee Teuk dari belakang. “mana makanan untukku?”.

“makanan apa? Kau harus makan makanan rumah sakit! Dasar gadis keras kepala!”. Dumel sahabatnya itu, sejak sadar tadi pagi Seo Na tak henti-hentinya merengek meminta makanan diluar Rumah sakit, Gadis itu sangat menyukai makanan cepat saji.

“Na-ya, aku ingin bicara denganmu?”. Ucap pria itu, nadanya beruba serius. Seo Na memperhatikan Lee Teuk, ia tau pria itu banyak menyimpan rahasia tentang masa lalu kakaknya.

“aku sudah tau, Oppa. Dan seharusnya waktu itu kau memberi tahuku lebih dulu”. Timpal Seo Na.

Kening pria itu menyeringit, tidak mungkin Kyu Hyun mengatakan semuanya secepat ini pada Seo Na, pikirnya. “maksudmu tentang apa?”.

“tentang aku, Seo Yeo dan pria itu”.

“jadi pria itu sudah memberi tahumu?”

Seo Na mengangguk. “begitulah, tapi aku masih tidak bisa terima”.

“karena kau tak pernah mau mendengarkan aku selama ini”. sergah Lee Teuk, Seo Na mengalihkan pandangannya kelangit-langit. Lee Teuk benar, ia memang tak pernah ingin mendengarkan nasehat-nasehat pria itu dan lebih memilih menyimpan dendam dan kebencian dihatinya.

“waktu itu, aku jga terkejut jika Kyu Hyun menyukaimu. Memang, jika dibandingkan dengan Seo Yeo kau lebih menarik, kau lebih cantik, tapi aku yakin bukan itu alasan Kyu Hyun lebih mencintaimu dibanding Seo Yeo. Tiga hari sebelum Seo Yeo meninggal, ia memberi tahuku tentang hal itu, menitipkanmu padaku, dan juga membantumu meneruskan perusahaan. Karena itu aku tidak pernah mengizinkanmu mengikuti sekolah militer. Seo Yeo juga mengatakan padaku, jika kami harus merahasiakan semua ini darimu, dan memberi tahumu ketika kau cukup umur untuk menjalin hubungan dengan Kyu Hyun, dan lagi pula saat kau berumur lebih dewasa dari saat itu maka kau akan lebih jernih menerima semua kenyataannya, karena Seo Yeo tau kau akan terguncang dengan keadaan yang terjadi”. Jelas pria itu, Lee Teuk menghela napasnya berat, setidaknya ia sudah melakukan dengan bener semua permintaan Seo Yeo terhadapnya.

“aku lega, jika Kyu Hyun sudah memberi tahumu tentang hal itu. aku mengerti perasaanmu Na-ya, aku tau kau tidak bisa terima saat ini, tapi suatu hari kau akan mengerti kenapa semua ini terjadi, semata-mata karena Kyu Hyun dan Seo Yeo ingin kau bahagia”. Seo Na masih terdiam, ia lebih memilih tanpa melihat kearah Lee Teuk sedikitpun.

“baiklah, aku ingin kau istirahat, lusa kau diperbolehkan pulang. Tapi ingat, tidak untuk bekerja, kau hanya boleh istirahat sampai luka dibahumu mengering. Dan maaf, aku harus mengambil pistol itu darimu, Kyu Hyun sudah menyerahkan benda itu tadi malam padaku, jadi jangan keras kepala lagi!”. Ucap pria itu, Seo Na hanya mengangguk, lalu membiarkan pria itu berlalu dari kamar inapnya.

“Yoo Ra-ssi, jaga adikku ini, arraseo?”.

“Arraseo Oppa”. Jawab Yoo Ra sambil mengantar pria itu hingga pintu.

Seo Na menerawang dengan pikirannya sejenak, setiap kata yang keluar dari mulut pria itu membuatnya begitu sesak, tapi dibagian dirinya yang lain ia merasa lega, lega sudah mengetahui alasan kenapa Kyu Hyun menolak kakak-nya dimasa lalu, tapi yang belum bisa ia terima adalah dirinya yang menjadi alasan kenapa Kyu Hyun tak bisa menerima Seo Yeo saat itu.

“Yoo, batalkan semua kontrak perusahaan dengan Cho Company, aku rasa kerja sama kita sudah selesai”. Tukas Seo Na, Yoo Ra berdelik mencerna lebih jelas perkataan sahabatnya itu.

“maksudmu? Menarik saham sebesar 10% itu?”.

“tentu saja, aku ingin menghindar dari pria itu, aku tidak ingin menemuinya lagi, tidak akan”. Tandas gadis itu, Yoo Ra hanya mengangguk kecil menyetujui ide sahabatnya itu yang lebih terdengar gila.

~~~000~~~

“maksudmu? Aku masih tidak mengerti”.

“bagian yang mana?”.

“alasan kau menolak Seo Yeo saat itu adalah gadis itu? jadi maksudmu Seo Na yang kita kenal adalah adik Seo Yeo? Begitu?”.

“benar, apa yang ada dipikiranmu itu benar”. Ujar Kyu Hyun, sedangkan pria dihadapannya saat ini masih ternganga tidak percaya dengan kenyataan yang tengah ia alami, semuanya benar-benar sangat kebetulan.

“lalu? kau mencintainya?”. Tanya Dong Hae, Kyu Hyun mengangguk tanpa memperdulikan ekspresi kekecewaan Dong Hae saat ini.

“aku juga”. Tandas pria itu, Kyu Hyun menarik pandangannya kearah pria itu. “aku mencintainya juga, dan aku harap kau mengerti dengan keadaanku saat ini, aku tidak akan mengulang kejadian 8 tahun yang lalu, aku akan merebutnya darimu”.

“aku belum memiliki gadis itu”.

“maka aku akan memilikinya lebih dulu”.

“tidak semudah itu Hyung, karena aku sudah menunggunya selama 8 tahun, ini tidak mudah, kau tau? Aku larut dalam kesedihan selama 8 tahun, aku kehilangan kakaknya, dan aku juga kehilangan gadis yang ku cintai saat itu”. ujar Kyu Hyun dingin, tidak ada emosi dari nada bicaranya. Ia cukup tenang menanggapi semua perkataan Dong Hae.

“aku tidak peduli. Aku harap kita bisa bersaing, dia memilihmu atau aku nantinya”. Tawar Dong Hae, pria dihadapannya itu mengangguk setuju. Jika dimasa lalu Dong Hae membiarkan Seo Yeo larut dalam kepedihannya karena Kyu Hyun, maka kali ini ia tidak akan membiarkan Seo Na jatuh ketangan pria itu, tidak akan.

~~~000~~~

Seo Na melangkahkan kakinya terburu-buru keluar dari rumah sakit, masuk kedalam mobil Lamborghini Aventador-nya dengan tergesa-gesa, gadis itu sudah menyuruh salah satu karyawannya dikantor untuk mengantarkan mobil itu kerumah sakit, membayar semua administrasi Rumah sakit lewat rekeningnya, meskipun sebenarnya gadis itu masih punya waktu 2 hari lagi untuk tetap tinggal dirumah sakit.

Ia tidak mungkin meninggalakn perusahaan besar-nya lebih lama bukan? Meskipun ia masih punya sahabatnya Yoo Ra untuk menangani semua masalah perusahaan tapi ia bukan tipe yang akan tenang-tenang saja dengan perusahaan sebesar itu, lagi pula ia sudah bersusah payah membangun kesuksesaannya selama 8 tahun terakhir ini jadi tidak ada waktu untuk bermain-main lagi.

Gadis itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan 120km/jam, sebenarnya ini belum apa-apa jika bahunya sedang tidak sakit ia bisa mengendarai mobil sportnya itu seperti pesawat jet. Gadis itu sampai di gedung perusahaanya sekitar 15 menit mengingat jauh jarak antara rumah sakit internasional Seoul dengan gedung PTI Corp. Gadis itu sudah siap dengan setelan pakaian kerjanya yang memang selalu tersedia didalam yang biasa ia pakai dan menukar pakaian itu dirumah sakit sebelum ia berangkat dari sana. Seo Na masih memakai perban dibahu kirinya, jadi ia sengaja tidak memakai sempurna jas hitam yang kini hanya terselempang di bahu gadis itu.

“YAK!!! GADIS GILA?!”. Teriakkan Yoo Ra sukses membuat gadis itu menghentikan langkahnya didepan pintu ruang kerjanya. Seo Na mengalihkan pandangannya kearah sahabatnya itu, yang mungkin sebentar lagi akan menghadiahkannya dengan deretan-deretan ceramah agama.

“kau gila!!! Bagaimana kau bisa keluar dari rumah sakit?!”. Teriak gadis itu lagi.

“tentu saja dengan membayar administrasi rumah sakit”. Jawab Seo Na enteng.

“bukan itu maksudku! Astaga Na-ya! bahkan kau masih memakai perban, dan sekarang kau berniat bekerja?”.

“tentu saja? memangnya aku mau berlama-lama dirumah sakit? Tanpa ada orang yang menjagaku? Bagaimana kalau aku mati? Kau mau?”. Balas Seo Na.

“kau tidak akan mati, Tuhan belum ingin membunuh gadis keras kepala sepertimu”. Ejek Yoo Ra, keduanya memasuki ruangan kerja Seo Na. Gadis itu duduk dibangku kerjanya, dibantu Yoo Ra karena Seo Na masih susah bergerak karena tangan kirinya yang masih terluka.

“ngomong-ngomong, kau sudah memutuskan semua kontrak kerja sama dengan pria itu? bagaimana? Apa ia bisa terima?”. Tanya gadis itu tak sabaran, Yoo Ra memberikan tumpukan kertas yang sudah ia pegang sejak tadi ditangannya.

“ini apa?”.

“baca saja, mungkin setelah itu kau akan berubah pikiran”. Ujar Yoo Ra, Seo Na mengamati grafik keuntungan perusahaanya dari tumpukan kertas itu, keuntungan yang ia dapat selama bekerja sama setelah menaruh saham di perusahaan Cho Company. Kedengarannya memang terlalu cepat, tapi memang itu yang terjadi ternyata otak Kyu Hyun memang bekerja sangat baik.

“intinya, kita maraih banyak keuntungan dari perusahaan Kyu Hyun, dan jika kau menarik saham dari sana maka kita akan kehilangan keuntungan sebesar 30%, angka yang cukup tinggi mengingat persaingan perusahaan-perusahaan disekeliling kita, kau mengertikan maksudku Na-ya?”.

Seo Na menghela napasnya gusar, lagi-lagi kenapa ia harus terikat lagi dengan pria itu, seharusnya saat itu ia tidak menjalin kerja sama dengan perusahaan pria itu. “tidak usah berpikir mencari cara untuk memutuskan kerja sama dengan prusahannya Na-ya, pada kenyataanya hidupmu tidak akan pernah lepas darinya”.

“kerjasama dengan perusaan itu akan aku berikan tanggung jawab kepadamu seutuhnya, aku akan menangani kerja sama dengan perusahaan lain, lagi pula kau berperan penting disini”. Entah dari mana gadis itu mendapat ide, dan lagi-lagi Yoo Ra hanya bisa mengangguk lemah menyetujui sahabatnya itu.

“baiklah, gadis licik. Aku akau bekerja untuk calon suamimu”. Timpal Yoo Ra sebelum gadis itu dikunyah hidup-hidup oleh Seo Na.

“Yak!!!”.

~~~000~~~

“kau sudah keluar dari rumah sakit? Sebelum aku sempat melihat keadaanmu?”.

“tidak, bukan begitu maksudku. Aku hanya bosan berlama-lama diruma sakit, aku tidak suka sendiri”.

“bukankah Kyu Hyun menemanimu?”. Tanya Dong Hae akhirnya, dan sekarang ia bias mendengar jika gadis yang sedang berbicara ditelepon dengannya saat ini sedang terkekeh.

“tidak, ia orang yang sibuk, ia juga mempunyai perusaan besar yang harus ia tangani”. Jawab Seo Na seadanya, Dong Hae mengangguk mengerti.

“jika kau bosan, kau bisa menghubungiku Na-ya”. Tawar Dong Hae, lagi pula Seo Na bukan kepunyaan Kyu Hyun kan? Jadi gadis itu berhak dekat dengan siapapun.

“baiklah, aku akan menghubungimu jika aku butuh teman”. Ujar gadis itu akhirnya. “tapi soal makan malam-“.

“astaga, aku belum menyampaikan permohonan maafku sampai saat ini padamu, soal malam itu aku benar-benar minta maaf Na-ya, seharusnya malam itu aku datang, tapi sesuatu mendadak terjadi, Client ku diluar negeri memintaku untuk berangkat malam itu”. Ucap Dong Hae penuh penyesalan, Seo Na yang mendengar penjelasan pria itu hanya tersenyum diujung sambungan telepon mereka, sebenarnya ia tidak mempermasalahkan itu sama sekali.

“tidak apa-apa, aku mengerti pekerjaanmu. Jika aku punya pekerjaan mendadak malam itu aku juga harus menyelesaikannya”. Ujar Seo Na, Dong Hae menghembuskan napasnya lega, setidaknya gadis itu tidak marah dengannya soal makan malam saat itu.

“tapi?”. Dong Hae terdiam sejenak, ada sesuatu yang harus pria itu katakan.

“tapi apa?”.

“jika aku datang malam itu, aku pasti melindungimu”. Ujar pria itu akhirnya, Seo Na mengerjapkan matanya.’melindungi?’, bahkan Kyu Hyun tidak melindunginy saat itu, pikirnya.

“aku harus bayar berapa untuk perlindungan darimu?”. Ejek Seo Na.

“hanya dengan kau baik-baik saja Na-ya, itu sudah membuatku sangat bahagia, tidak terluka lagi, oleh siapapun. Jika perlu aku akan mencari orang yang sudah membuatmu terluka selama ini”. Ucap Dong Hae serius, tidak ada nada bercanda dari kalimat pria itu.

Seo Na berkedik, mencari orang yang membuatnya terluka selama ini? Bukankah Kyu Hyun orangnya?, gadis itu kembali memfokuskan pikirannya, menormalkan emosi yang kini tengah ia rasakan, lagi-lagi karena mengingat pria itu.

“tidak usah, Lee Teuk Oppa sudah menangani semua ini, aku sudah terbiasa dengan teror yang sering datang padaku, sejak aku memimpin perusahaan sebesar ini terlalu banyak orang yang tidak menyukai kesuksesan ku, aku maklum manusia memang tidak bisa melihat orang lain sukses darinya”. Ujar gadis itu, dan sekarang ia bisa mendengar dengan jelas jika Dong Hae tengah terkekeh.

“aku tau Nona Park, sepertinya kau harus mencari seorang pendamping hidup untuk menghadapi hujanan teror dari pesaing bisnismu”. Seo Na mengangkat bahunya, sepertinya begitu tapi untuk gadis itu sepertinya tidak.

“akan kupikirkan soal itu lain kali”. Ujar gadis itu sebelum keduanya memutuskan sambungan telepon mereka.

Seo Na meletakkan ponselnya diatas meja, kembali fokus pada tumpukan-tumpukan kertas yang kini sudah berserakan diatas meja kerjanya. Tadi pagi sekali gadis itu datang ke kantornya, mengingat kemarin ia hanya datang untuk memeriksa keadaan kantor dan laporan-laporang perusahaan yang selama 2 hari terakhir ditangani oleh sahabatnya Yoo Ra, tidak ada yang buruk bahkan keuangan perusahaan PTI Corp meningkat sejak gadis itu memutuskan menaruh saham pada perusahaan Cho Company. tapi bukan itu yang menjadi pokok masalah bagi gadis itu, yang menjadi masalah baginya adalah indeks pertemuannya dengan Cho Kyu Hyun akan lebih sering terjadi, dan bukankah ia harus lari dari pria itu.

Sejak kemarin Seo Na tidak menerima pertemuan dengan siapapun, termasuk Kyu Hyun yang mencoba menghubungi gadis itu tapi dengan enteng Seo Na menonaktifkan ponselnya. Tapi tetap saja pria pintar itu tidak habis akal, ia malah mencoba menghubungi Yoo Ra, dan Seo Na hampir gerah melihat usaha Kyu Hyun yang cukup serius akhirnya gadis itu hanya bisa mengancam Yoo Ra untuk mengatakan jika dirinya sedang berada diluar negeri pada pria itu. Tentu saja, ia tidak ingin membunuh jantungnya jika bertemu dengan Kyu Hyun terus-terusan, Tidak akan!

“ini sudah jam makan siang. Mau makan dimana Nona Park? Paris? Jerman? Atau Jepang?”. Goda Yoo Ra, Seo Na yang menyadari kehadiran sahabatnya itu hanya menghembuskan napasnya gusar.

“idemu cukup bagus. Atur saja jadwal penerbanganku untuk besok, sepertinya aku harus melarikan diri ke Paris”. Ujar gadis itu enteng, sambil menutup semua berkas-berkas yang baru saja ia kerjakan.

“melarikan diri dari pria itu? dia sudah menunggumu didepan pintu”.

“APA!!! KAU GILA?”. Teriak Seo Na, Yoo Ra terkekeh melihat ekspresi Seo Na yang terlihat seperti akan menemui malaikat maut.

“dia akan ke Paris bersamaku, Yoo Ra-ssi”. Seo Na mengalihkan pandangannya pada pria yang kini sudah berdiri dihadapannya, memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana hitam yang ia kenakkan.

“baiklah, aku akan mengatur keberangkatan kalian. Hmm, sepertinya aku harus pergi dari ruangan ini”. Yoo Ra beranjak dari ruangan kerja Seo Na tanpa memperdulikan Seo Na yang sejak tadi melotot kearahnya. Dan ia yakin ia bisa mati jika memandangi mata gadis itu yang bahkan bisa membunuhnya.

Kyu Hyun mendekat kearah Seo Na setelah Yoo Ra meninggalkan keduanya didalam ruang kerja gadis itu. Seo Na menatap Kyu Hyun dingin, meski ia tau jika saat ini kakinya sudah bergetar hebat, menatap pria itu saja sudah membuatnya ngeri, astaga pria itu setan ya? pikir Seo Na.

“keluar dari rumah sakit tanpa pertimbangan apa-apa, mematiakan ponsel, mengatakan jika sedang berada diluar negeri, menghindariku. Kau pikir akan berhasil?”. Ujar Kyu Hyun, rahang pria itu terlihat mengeras. Seo Na mengalihkan pandangannya, tidak fokus pada Kyu Hyun yang kini hanya berjarak beberapa Centi darinya saat ini, dan lagi-lagi itu membuat Seo Na hilang kendali.

“tidak ada urusannya denganmu”. Tandas gadis itu ketus.

“tentu saja ada. Cukup bermain-main seperti anak kecil Park Seo Na. Kau bukan gadis berumur 15 tahun lagi”. Timpal Kyu Hyun, Seo Na mengalihkan pandangannya pada pria itu, menatap mata Kyu Hyun, menyebalkan! Pria yang dihadapannya ini membuat ia kesal setengah mati.

“apa yang sedang kau bicarakan Tuan Cho? Kau mencoba mengintimidasiku? Astaga, kau tidak bercandakan? Ayolah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Jika kau hanya mengatakan hal-hal yang tidak bermutu, kau boleh keluar dari sini”. Kyu Hyun diam, ia tidak membalas sama sekali perkataan Seo Na, tapi malah semakin mendekatkan wajahnya pada gadis itu, menatap mata Seo Na intens, dan Seo Na yakin jika ia tidak kuat ia bisa tumbang karena tatapan tajam pria itu.

Kyu Hyun memiringkan kepalanya kekanan, mendekatkan wajahnya kearah gadis itu dan kini dengan jelas Kyu Hyun bisa merasakan hembusan napas Seo Na menerpa wajahnya. entah kenapa Seo Na hanya terdiam, lagi-lagi gadis itu hanya bisa menerima semua perlakuan Kyu Hyun yang lebih seperti memerintah dan membuatnya tak berdaya, Seo Na hanya bisa menutup matanya.

“jika kau lari dariku lagi, aku benar-benar akan melakukan adegan ranjang denganmu. Untuk kali ini kau bisa bebas”. Ancam pria itu dengan setengah berbisik, menggantung wajahnya tanpa menyentuh bibir gadis itu yang kini tengah mengatup ketakutan.

Seo Na membuka matanya, menatap Kyu Hyun yang kini sudah menjauhkan tubuhnya dari gadis itu, dan yang membuatnya malu saat ini adalah pria itu tengah terkekeh geli melihat ekspresi Seo Na yang terlihat lebih seperti pasrah, astaga ia tidak bisa membayangkan betapa bodohnya wajahnya saat ini didepan pria itu.

“kali ini kau bebas, aku akan menemuimu esok. Sepertinya paris bukan kota yang terlalu buruk untuk kita datangi berdua”. Ucap pria itu akhirnya, sebelum ia beranjak dan berlalu dari hadapan Seo Na.

Seo Na yang baru mencerna ucapan pria itu hanya bisa berteriak gusar. “ASTAGA!!! PRIA ITU GILA YA!!!”.

~~~000~~~

Eun Hyuk memarkirkan mobilnya ditepi jalan, turun dari Mobil Jeep hitam mengkilat miliknya, memasuki mini market kecil yang pernah membuat sejarah manis didalam kehidupannya. Sedetik kemudian, langkah pria itu terhenti ketika mendapati seorang gadis yang baru saja keluar dari mini market, menggunakan mantel bulu selutut yang menutupi tubuh seksinya, dengan gesit ia setengah berlari kearah gadis itu sebelum akhirnya dapat meraih pergelangan tangan gadis itu.

“Maaf-“. Ucap pria itu salah tingkah, gadis itu cukup kaget dan menoleh kearah Eun Hyuk.

“ada apa?”. tanya gadis itu seadanya, menarik pergelangan tangannya yang sebelumnya berada didalam genggaman tangan Eun Hyuk.

“kita pernah bertemu sebelumnyakan?”. Pria itu mencoba mengingatkan gadis yang berada dihadapannya saat ini tentang pertemuan dadakan mereka beberapa minggu yang lalu. “kau menabrakku lalu kita-“.

“ah, aku ingat. Aku sudah meminta maaf bukan? Apa masih kurang? Kau boleh meminta rugi padaku”. Seo Na sedikit mengerang. Bagaimana ia bisa bertemu dengan pria yang sejujurnya adalah pria yang merebut ciuman pertamanya, sebenarnya bukan ciuman hanya kecelakaan ringan yang membuat mereka harus menempelkan bibir satu sama lain.

“tidak, maksudku bukan begitu. Tapi-“.

“apa?”.

~~~000~~~

“aku benar-benar tidak tau jika keberhasilan perusahaanku bisa merugikan perusahaanmu”. Lirih Seo Na, ia sedikit menyesal karena memang sepertinya pesaing perusahaanya harus banyak yang gulung tikar setelah PTI Corp merajai bisnis industri di Korea Selatan.

“tidak apa-apa, aku masih punya beberapa modal untuk mulai merancang bisnis baru”. Eun Hyuk tersenyum, menyusup kopi hangat yang baru saja ia pesan. Setelah menawarkan Seo Na untuk minum kopi bersamanya akhirnya gadis itu setuju hanya untuk membayar kesalahan yang pernah ia lakukan pada pria itu.

“apa itu terluka?”. Tanya Eun Hyuk, Seo Na menatap bahunya sejenak lalu menggelang.

“tidak, ini hanya luka biasa. Aku sudah membayar mahal untuk menghentikan rasa nyerinya”. Jawab gadis itu seadanya. Eun Hyuk tersenyum, ia menemukan banyak keistimewaan dari diri Seo Na meskipun seujurnya gadis ini lebih terlihat cuek dan dingin. Dan soal luka itu, ia sudah jelas tau siapa orang dibalik penembakkan yang terjadi malam itu.

“ada apa? ada yang aneh denganku?”. Tanya Seo Na ketika menyadari tatap Eun Hyuk tidak lepas dari wajahnya, dan itu cukup membuat gadis itu sedikit risih.

“kau cantik”. Seo Na berdekedik. Apa-apan pria ini? pikirnya. ia membalas senyuman Eun Hyuk seadanya, kembali menyusup kopi hangat diatas meja, lalu tanpa sengaja ide cemerlang melintas diotak gadis itu. pria ini? bisa ia manfaatkan untuk kabur dari Kyu Hyun esok kan?

~~~000~~~

Kyu Hyun menatap kedua orang yang kini tengah makan makan siang disebuah restoran bergaya clasic, siwanita sejak tadi tak henti-hentinya tersenyum kearah pria yang berada dihadapannya. Yang membuat Kyu Hyun semakin panas adalah gadis yang kini tengah makan siang dengan seorang pria yang tidak dikenalinya itu berani membatalkan acara liburan dadakan mereka keparis siang ini, hanya karena alasan ingin makan siang dengan sahabatnya. Entahlah, sahabat atau siapapun pria itu ingin sekali Kyu Hyun menarik paksa gadis itu lalu melahapnya.

“jadi pria itu siapa?”. tanya Kyu Hyun akhirnya, pada Yoo Ra yang kini bersama dengan pria itu. Kyu Hyun memaksa Yoo Ra ikut dengannya agar ia bisa mendapatkan informasi lebih lengkap.

“Seo Na selama ini tidak memiliki teman laki-laki, kecuali Lee Teuk Oppa, Dong Hae-ssi dan juga anda. Tapi yang satu ini aku tidak mengenalnya, bahkan Seo Na tidak pernah menceritakan apapun”. Jelas Yoo Ra seadanya. Memang selama ini hanya Lee Teuk, Dong Hae dan Kyu Hyun-lah yang pernah masuk kedalam kehidupan gadis itu, selebihnya tidak ada setau Yoo Ra.

Yoo Ra menatap Kyu Hyun diam-diam, terlihat jelas jika pria itu tengah cemburu melihat kejadian yang ada dihadapan mereka, meja yang sedikit privasi tidak jauh dari tempat Yoo Ra dan Kyu Hyun berada. Gadis itu sekali lagi mencoba mengingat-ngingat pria yang bersama Seo Na tapi tetap saja ia tidak tau pria itu, tapi hari itu Seo Na pernah bertemu dengannya dengan parfum laki-laki yang melekat pada tubuhnya kan? Gadis itu juga tidak mengelak ketika Yoo Ra menunduhnya baru saja mendapatkan pelukan selamat pagi dari seorang lelaki, bisa saja pria itu.

“Kyu Hyun-ssi”. panggil Yoo Ra, Kyu Hyun menoleh kearah gadis itu yang sebelumnya tidak henti-hentinya menatap Seo Na.

“hari itu Seo Na sempat datang kekantor dengan wangi parfum pria yang melekat ditubuhnya. saat itu aku menggodanya dengan bertanya –apa ia waktu itu baru saja mendapat pelukan selamat pagi dari seorang lelaki?- tapi gadis itu tidak menjawab apa-apa, aku berpikir jika pria itu orangnya, ya mungkin saja”. tebak Yoo Ra. Kening Kyu Hyun mengerut, -pelukan selamat pagi?- pikir Kyu Hyun.

“tapi setau ku, Seo Na bukan orang yang gampang diperlakukan seperti itu”. timpal Yoo Ra akhirnya, ia menghembuskan napasnya gusar. Jika ia terus menebak-nebak seperti ini bisa saja ia memberikan info tidak benar kepada Kyu Hyun.

“aku rasa juga begitu”. Ucap Kyu Hyun menyetujui pendapat Yoo Ra, sebelum keduanya meninggalkan restoran itu sebelum Kyu Hyun benar-benar akan menyeret Seo Na keluar lalu menidurinya disalah satu hotel. Astaga!

~~~000~~~

“dia sudah pergi”. Ucap Eun Hyuk, Seo Na menghembuskan napasnya lega.

Keduanya terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing. “apa yang membuatmu tidak menyukai pria itu?”. akhirnya Eun Hyuk angkat bicara, menyita perhatian Seo Na yang sejak tadi mengunyah makanannya.

“sesuatu terjadi dimasa lalu sehingga aku harus menjauhinya”. Jawab Seo Na seadanya, tidak terlalu berkenan menjelaskan banyak hal tentang masa lalunya dengan pria yang ia minta untuk menemaninya makan malam setelah tadi malam membuat kesepakatan dengan Eun Hyuk.

“apa dia kekasihmu?”.

“UHUK!!!”. Seo Na tercekik ketika ia mendengar pertanyaan Eun Hyuk, pria itu segera menyodorkan air mineral yang tidak jauh dari jangkauannya. “terimakasih”. Ucap Seo Na, setelah menerima air mineral itu dari tangan Eun Hyuk.

Eun Hyuk melanjutkan makan malamnya, tanpa meminta Seo Na menjawab pertanyaannya yang membuat gadis itu tersedak, mungkin saja gadis itu benar-benar akan muntah jika ia terus bertanya.

~~~000~~~

“aku dengar kau makan dengan seorang pria malam kemarin?”. Tanya Dong Hae disela makan siangnya dengan gadis itu. Seo Na hanya mengangguk. “apa aku boleh tau dia siapa?”. tanya Dong Hae lagi.

“hanya teman bisnis yang mengajakku makan malam”. jawab Seo Na seadanya, Dong Hae tetap menatap gadis itu lekat-lekat. “baiklah, aku mengangku jika dia pria yang menjadi alasanku untuk menolak ajakan liburan Kyu Hyun yang mengerikan”.

Dong Hae berdelik. “maksudmu?”.

“aku membatalkan ajakan liburan Kyu Hyun ke Paris siang itu, dengan alasan makan malam dengan rekan bisnisku. Ya semata-mata itu hanya karena aku tidak ingin berurusan lagi dengan Kyu Hyun”. Ujar gadis itu, ia mengatakan yang sejujurnya pada Dong Hae. Ya gadis itu juga tidak ingin jika pria yang berada dihadapannya saat ini mengira yang tidak-tidak tentang Eun Hyuk.

Dong Hae terkekeh, jadi karena gadis itu tidak ingin diajak liburan oleh Kyu Hyun ia malah meminta seseorang untuk menemaninya makan malam. tapi ia memang berhasil, karena Kyu Hyun memang terlihat seperti pria prustasi.

“kau membuat kesalahpahaman pada dua pria sekaligus. Aku juga berpikir jika pria itu kekasihmu”.

“tapi sayangnya tidak”.

“itu berita bagus”. Tandas Dong Hae. “aku tidak perlu bersaing dengan banyak pria”. Lanjut pria itu lagi, Seo Na berkedik. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan pria itu padanya.

Keduanya kembali terdiam cukup lama, berkutat dengan pikiran masing-masing sambil menikmati makan siang mereka di restoran yang tidak terlalu jauh dari kantor Seo Na, awalnya gadis itu menolak ajakan Dong Hae tapi karena pria itu bersikukuh gadis itu menerima ajakan Dong Hae dan meninggalkan pekerjaanya yang tak pernah bisa ia tunda.

“akhir pekan apa kau punya waktu?”. tanya pria itu akhirnya setelah makan siang mereka selesai sebelum beranjak dari restoran menuju kantor masing-masing.

“hanya pekerjaan yang seperti biasanya harus ku selesaikan, tidak ada kegiatan lain selain bekerja dalam hidupku, memangnya ada apa?”.

“aku ingin mengajakmu ke tanah kelahiranku Mokpo, bagaimana?”. Tawar Dong Hae, gadis itu menatap Dong Hae sejenak, berpikir tentang tawaran tiba-tiba dari pria itu. “kita hanya sehari disana, aku merindukan ibuku. Setelah itu kita akan berjalan-jalan kepantai lalu pulang”.

Seo Na mengangguk, tidak ada salahnya jika ia menerima tawaran Dong Hae lagi pula tidak buruk bukan? Kepantai, bukankah itu sangat menyenangkan?

~~~000~~~

Yoo Ra sudah beberapa kali memencet bel apartemen sahabatnya itu, hari ini ia tidak bertemu dengan Seo Na, ditambah lagi ia harus ditugaskan untuk mengurus beberapa kerja sama dengan perusahaan lain salah satunya perusahaan yang dipimpin oleh Kyu Hyun, Seo Na tidak ingin sama sekali mengambil alih kerja sama dengan perusahaan itu, bertemu dengan Kyu Hyun sama saja dengan masuk dalam lubang buaya, mengerikan pikir gadis itu.

Terdengar suara langkah kaki dari dalam yang tergesa-gesa sebelum sosok gadis itu membukakan pintu dengan handuk diatas kepalanya, Yoo Ra yakin Seo Na baru saja selesai mandi, pantas saja gadis itu harus menunggu lama diluar apartemen Seo Na.

“ehh kau datang, aku kira kau masih sibuk dikantor”. Ejek Seo Na mengambil posisi di sofa depan televisi. Yoo Ra mengekori gadis itu dari belakang dan mengambil tempat disamping Seo Na.

“Yak! Seharusnya kau yang menangani kerja sama dengan Kyu Hyun, kau tau pria itu seperti mayat hidup. Ditambah lagi ketika ia melihatmu makan malam dengan pria yang tak jelas itu”.

“dia Eun Hyuk, jangan sembarangan mengatakan orang tak jelas”. Protes Seo Na.

“Woho! Sejak kapan sahabatku begitu peduli dengan pria sehingga ia membelanya. Jadi pria itu benar pacarmu? Siapa namanya? tapi aku lihat-lihat wajahnya tidak lebih tampan dari Kyu Hyun ataupun Dong Hae, seleramu rendah sekali”. Seo Na melirik sahabatnya itu sejenak lalu kembali menatap tayangan ditelevisi.

“haruskah aku menjawab pertanyaanmu yang menjijikan itu Yoo?”. Yoo Ra terkekeh mendengar Seo Na yang terdengar kesal.

“baiklah, baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi tentang pria itu, ya aku percaya dia bukan kekasihmu lagi pula bagaimana bisa gadis dingin sepertimu menyukai laki-laki”.

“apa katamu saja”. ucap Seo Na lalu beranjak dari tempatnya menuju dapur mengambil beberapa minuman Soda didalam lemari es, mengambil dua kaleng minuman soda lalu kembali kesofa depan televisi, menyodorkan minuman itu ke arah sahabatnya.

“apa Kyu Hyun menanyakan hal yang aneh-aneh tentangku?”. Tanya Seo Na, Yoo Ra menggelang, sambil meneguk minuman soda ditangannya.

“tidak, dia hanya cemburu. Ya sangat cemburu lebih tepatnya. Aku tidak menyangka jika dia sangat menyukaimu, tapi wajar saja dia seperti itu, lagi pula pria itu sudah mencintaimu selama bertahun-tahun wajarkan dia sangat ingin memilikimu”. Jelas Yoo Ra, Seo Na hanya terkekeh lalu meneguk minuman ditangannya hingga tandas.

“hahaha aku tidak tau bagaimana ekspresi pria itu ketika melihatku dengan Eun Hyuk-ssi. seharusnya ia tidak percaya diri duluan denganku. Dia pikir dia siapa? dan dia kira aku Seo Yeo yang tergila-gila padanya, sampai kapanpun aku akan membuat tembok setinggi mungkin agar tidak bertemu pria itu, astaga membayangkannya saja membuatku ngeri”. Ujar gadis itu polos, sejujurnya ia lebih takut terperangkap dalam pesona Kyu Hyun. Tidak lucu, jika suatu saat nanti ia mencintai pria yang selama ini ia benci.

“apa kau yakin bisa membuat tembok itu? aku rasa sebentar lagi pria itu akan menikahimu”. Ejek Yoo Ra, lalu menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Seo Na, bisa saja gadis itu menjambak rambutnya lagi.

“astaga, jika aku menyetujui ajakannya untuk menikah kau harus membawaku kepisikiater setelah itu, mungkin saja ada sel sarap kepalaku yang putus”. Tandas gadis itu, membuat sahabatnya terkekeh geli.

“bagaimana dengan perusahaan, apa ada kendala? Sepertinya akhir-akhir ini kau tidak terlalu sibuk seperti biasanya, dan juga jarang membeli barang-barang dengan harga yang terserah aku tidak bisa membayangkan nolnya”.

Seo Na mengangguk. “ya seperti itulah, sejujurnya perusahaan kita sangat diuntungkan oleh perusahaan pria itu, ditambah lagi penjualan dan permintaan konsumen meningkat pada perusahaan kita”. Jelas gadis itu, Yoo Ra sedikit tersenyum, kini gadis itu kembali duduk disamping Seo Na menepuk lunak pundak sahabatnya itu.

“kau tau Na-ya, kau banyak berubah setelah bertemu dia. aku melihat, kau tidak pernah benar-benar membencinya”. Ucap Yoo Ra tulus, tidak peduli jika Seo Na tak setuju denga pendapatnya itu.

~~~000~~~

Seo Na menggeliat kekiri dan kekanan, ini adalah hari jumat dan lusa ia bisa beristirahat dengan tenang tanpa pekerjaan yang terus membuat kepalanya pusing. Ahh, ia baru ingat jika lusa ia harus menemani Dong Hae ketanah kelahirannya, ya setidaknya pria itu juga menawarinya ke pantai, itu bukan ide buruk.

Sudah berkali-kali gadis itu memaksakan matanya untuk terbuka tetapi tetap saja ia masih ingin bermalas-malasan diatas ranjangnya. Pekerjaan dikantor sudah menunggu, pikir gadis itu sebelum akhirnya ia memaksa tubuh rampingnya bangkit menuju kamar mandi. tidak berselang lama sebelum akhirnya Seo Na sudah rapi dengan setelan jas hitam yang biasa ia kenakkan untuk kekantor, tapi hari ini gadis itu memilih memakai rok diatas lutut, tidak seperti biasanya menggunakan jeans hitam dengan atas kemeja putih.

Seo Na beranjak menuju dapur, mengambil beberapa potongan roti dan segelas susu, sebelum memutuskan untuk segera berangkat ke kantor. Gadis itu melangkah meninggalkan apartemennya, sebelum akhirnya ia membuka pintu dan menemukan seorang pria dengan kemeja biru lembut dipadukan dengan dasi dongker ditambah tatanan rambutnya yang dibuat sedikit berantakkan dengan warna yang berbeda dari biasanya, pria itu mengecat coklat rambutnya dan itu yang membuat ia terkesan –err- dimata Seo Na pagi ini.

Seo Na berkedik, sebelum akhirnya gadis itu mengontrol mimik wajahnya, ia tidak ingin pria yang sedang berada dihadapannya saat ini melihat ekspresi penuh kekagumannya pada pria itu, ya kagum sepertinya begitu.

“ada apa? bagaimana kau bisa tau apartemenku?”. Ujar gadis itu ketus, melayangkan pertanyaan yang lebih terdengar mengintrogasi.

Kyu Hyun tetap menatap gadis itu, dan kini pandangannya teralih pada rok diatas lutut Seo Na yang lebih terlihat seperti rok mini tepatnya. “ini tidak bagus untukmu”. Ucap Kyu Hyun santai, sambil menunjuk rok Seo Na dengan belahan di bagian belakangnya. Sejujurnya, Seo Na ingin sekali menendang pria itu yang jelas-jelas tidak menjawab pertanyaannya malah mengomentari perubahan busanannya.

“jadi kau jauh-jauh kemari hanya untuk mengomentari rok yang ku kenakkan? Astaga, kau benar-benar seorang penguntit tuan Choi”. Ejek Seo Na, Kyu Hyun mengerutkan keningnya. “baiklah, jika ingin membahas tentang kerja sama kita kau bisa menemuiku dikantor, tidak usah sampai-sampai menguntitku hingga ke apartemen, kau tau kau berlebihan”. Timpal gadis itu, tanpa memperdulikan tatapan Kyu Hyun yang lebih terlihat seperti ingin memakannya. Seo Na salah tingkah, sebenarnya tatapan pria itu cukup membuatnya ngeri, bagaimana pria itu bisa menakutkan seperti itu, memang apa yang terjadi dengannya, apa tentang makan malamnya bersama Eun Hyuk? ASTAGA! Pekik gadis itu dalam hatinya.

Kyu Hyun menarik tangan gadis itu masuk kembali kedalam apartemennya, apartemen yang sangat luas untuk gadis dengan ukuran tubuh seramping Seo Na, pikir pria itu. Kyu Hyun menutup pintu apartemen gadis itu dengan kasar memojokkan Seo Na pada sofa yang tidak jauh dari pintu masuk apartemen gadis itu. Seo Na sedikit meronta mendorong tubuh jakung Kyu Hyun hingga pria itu sedikit tertolak kebelakang, sebelum akhirnya Kyu Hyun kembali menyudutkan Seo Na diatas sofa.

“YAK! CHO KYUHYUN KAU INGIN MEMPERKOSAKU YA!”. teriak gadis itu tidak terima dengan perlakuan Kyu Hyun yang memang sedikit kasar, jika ia tidak bisa mengontrol dirinya lebih baik lagi bisa-bisa pria itu mendapat tendangan gratis dari Seo Na.

Kyu Hyun duduk disamping gadis itu, memejukan tubuhnya kearah Seo Na hingga jarak mereka begitu dekat, Seo Na bisa melihat dengan jelas sirat kemarahan yang terlihat dari mata Kyu Hyun, ya pria itu memang sedang marah. “bukan aku sudah bilang, jangan bermain-main denganku Nona Park”. Kyu Hyun terdiam sejenak, Seo Na mengalihkan pandangannya pada dinding dibelakang tubuh pria itu. “Lee Eun Hyuk”. Lanjut Kyu Hyun akhirnya, menyebutkan nama seorang pria yang menjadi teman makan malam Seo Na malam itu.

“dia rekan bisnisku”. Ucap Seo Na mantap.

“apa dia pacarmu? Aku dengar kau pernah mendapatkan pelukan selamat pagi darinya”. Ucap Kyu Hyun datar, Seo Na membulatkan matanya tidak terima dengan apa yang dituduhkan pria itu padanya.

“Han Yoo Ra, gadis itu benar-benar!”. Gumam Seo Na, dan tentu masih bisa terdengar jelas oleh Kyu Hyun karena jarak mereka sangat dekat saat ini.

“jadi benar?”.

“tidak ada urusannya denganmu tuan Cho! Kita tidak punya hubungan apa-apa”. tandas gadis itu, Kyu Hyun menarik napasnya menjauhkan tubuhnya dari Seo Na lalu berdiri membelakangi gadis itu.

“apa pernyataanku hari itu tidak cukup?”. Kyu Hyun menghembuskan napasnya gusar, melonggarkan dasinya mengambil lebih banyak pasukkan udara disekelilingnya.

“tidak ada pernyataan apa-apa diantara kita Cho Kyu Hyun, kau dan aku hanya relasi bisnis tidak lebih. Kau hanya pernah menjadi masa lalu kakakku dan aku Seo Na bukan Seo Yeo”. Kyu Hyun membalikkan badannya, menatap gadis itu gusar. Bagaimana dengan enteng Seo Na mengatakan hal itu, bahkan gadis itulah yang mengisi masa lalunya, Seo Na-lah yang ia cintai bukan Seo Yeo. “tidak perlu menemuiku lagi, kau tau aku tidak ingin masuk kedalam jeratanmu seperti Seo Yeo, aku tidak ingin merasakan sakit sepertinya!”. Tandas gadis itu akhirnya, dan semua itu murni dari dalam hatinya. Ia tidak pernah lagi memiliki dendam pada Kyu Hyun gadis itu hanya takut, jika ia jatuh cinta pada Kyu Hyun dan mendapat luka yang sama seperti yang dialami Seo Yeo dimasa lalu.

Seo Na beranjak dari sofa yang ia duduki, meninggalkan Kyu Hyun yang kini tengah mematung mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut gadis itu. Seo Na melangkah meninggalkan pria itu masuk kedalam lift menuju lantai dasar, terus bermain-main dengan Kyu Hyun benar-benar akan membuatnya sinting, tidak bisa ia pungkuri jatuh cinta pada pria itu adala hal yang paling ditakutkannya.

Kyu Hyun menahan pintu lift, sebelum pintu lift tertutup sempurna menyusul gadis itu yang sudah lebih dulu berada didalam lift, sekarang hanya ada mereka berdua. Seo Na ingin sekali menyumpah serapahi dirinya yang membiarkan pria itu masuk kedalam lift, didalam lift sekecil ini dengan Cho Kyu Hyun, jujur udaranya terasa semakin panas.

“perasaanku pada mu berbeda dengan apa yang kurasakan pada Seo Yeo”. Ucap Kyu Hyun memecah keheningan diantara mereka, Seo Na berdelik menatap pria itu. Kyu Hyun membalas menatapnya.

“kau tidak akan pernah bisa merubah keadaan Cho Kyu Hyun”.

“tapi waktu bisa merubah keadaan Park Seo Na”. Tandas pria itu akhirnya, sebelum ia menarik tengkuk Seo Na mendaratkan ciumannya diatas bibir gadis itu, dan ini ciuman pertama dengan gadis itu, tidak tau dari mana ia bisa mendapatkan keberanian dan sekarang ia merasakan bibir yang terus mengintimidasinya itu menempel lembut diatas bibirnya.

“ASTAGA?!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN?”.

~~~000~~~

“hei Nona Park, kau belum menjawab pertanyaanku”.

“apa?”. saut Seo Na malas-malasan, sejak ia bertemu-dengan cara bodoh- bersama Yoo Ra saat keluar dari lift apartemennya ia tidak memperdulikan hujan pertanyaan dari sahabatnya itu, Seo Na lebih memilih sibuk fokus pada jalanan dan kegiatan dikantor yang akan ia kerjakan hari ini, ya meskipun sejujurnya kepala gadis itu ingin pecah rasanya karena memikirkan hal yang baru saja dilakukan Kyu Hyun kepadanya, astaga mengingat nama pria itu saja sudah membuatnya ingin kejang-kejang.

“aku yakin yang tadi bukan kebetulan, kalian melakukannya dengan baik. kau tau aku sangat bangga padamu”. Oceh Yoo Ra tak henti-hentinya, tanpa memperdulikan tatapan mematikan sahabatnya itu yang sudah duduk dimeja kerjanya. “ayolah, jangan sok tidak tau apa-apa. aku ini sahabatmu Na-ya, jadi coba ceritakan bagaimana pria itu bisa mencium gadis yang lebih terlihat seperti pria ini”. ejek Yoo Ra, Seo Na hanya bisa melengos sambil mengambil beberapa berkas yang sudah tertata dimeja kerjanya untuk segera ia tanda tangani.

“apa kau akan terus mewawancaraiku dengan pertanyaanmu yang terdengar seperti paparazi itu? bagaimana jika kau bekerja lalu meninggalkanku disini, atau kau bisa menonton acara gosip melihat skandal para artis”. Papar Seo Na masih sibuk dengan berkas dimejanya.

“sayangnya, scandalmu dengan pemilik Cho Company sangat menarik dibanding skandal para artis”. Goda Yoo Ra sambil menjulurkan lidahnya, membuat Seo Na benar-benar akan membuat Uvo terbang diruang kerjanya. “baiklah, aku akan bekerja. Tapi setelah ini aku akan menemuimu lagi. Aku ingin tau bagaimana sensasi berciuman dengan pria tampan itu, astaga aku rasa setelah ini Cho Kyu Hyun akan menikahimu, hahahahaha”. Terdengar tawa kemenangan dari Yoo Ra sebelum akhirnya gadis itu memilih meninggalkan Seo Na yang sepertinya akan menginjaknya hidup-hidup.

~~~000~~~

“kau tidak akan pernah bisa merubah keadaan Cho Kyu Hyun”.

“tapi waktu bisa merubah keadaan Park Seo Na”.

Seo Na menghembuskan napasnya gusar, menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi putarnya, memijat pelan pelipisnya yang sejak tadi berdenyut-denyut. Ia masih mengingat dengan jelas apa yang dikatakan Kyu Hyun tadi pagi didalam Lift padanya, sebelum pria itu menciumnya lalu Yoo Ra yang tidak sengaja memergoki mereka. Tapi bukan itu yang membuat Seo Na hampir stress, ucapan Kyu Hyun yang mengandung banyak isyarat yang pria itu lontarkan tadi pagi padanya, ya Kyu Hyun memang tidak akan pernah bisa merubah keadaan, tapi dengan berjalannya waktu semua akan berubah. Dan memang benar, kebencian yang dimiliki gadis itu, hasratnya ingin membunuh Kyu Hyun sebelumnya , kini semua hilang begitu saja dan ia tidak tau kapan persisinya. Yang Seo Na rasakan sekarang adalah ketakutannya bertemu dengan Kyu Hyun, bukan karena tatapan mata pria itu yang terus menatap tajam kearahnya, terlebih pada ketakutan jika ia benar-benar mencintai pria itu, ia tidak akan bersedia mendapatkan luka seperti apa yang dirasakan mendiang kakaknya dimasa lalu, Seo Na terlalu takut untuk jatuh cinta, lebih tepatnya ia tidak ingin cinta menyakitinya.

 

To Be Continue

 

~~~000~~~