Monthly Archives: November 2014

CRAZY IN LOVE (2/?)

Standard

j

I look and stare so deep in your eyes
I touch on you more and more everytime
call your name two, three times in a row

– Crazy In love , Beyonce

Seo Na tampak bingung, orang-orang tampak mondar mandir dihadapannya. Matanya juga sejak tadi mencari sosok Cho Kyu Hyun tapi ia tak menemukan pria itu. tiga hari lagi pesta pernikahan mereka, pesta yang terjadi mendadak baru direncanakan sejak pria itu mengajak Seo Na menikah. Seo Na masih tak mengerti dengan apa yang terjadi, bahkan saat itu ia sempat tertawa lalu memukul pipinya sendiri agar ia terbangun dari mimpinya tapi tidak, Kyu Hyun baru saja melamarnya, bukan melamar lebih tepatnya memintanya untuk menikah dengan pria itu. dengan tatapan bodohnya Seo Na hanya mengangguk lalu pria itu memeluknya.

Semua terjadi begitu cepat dan sekarang yang ia lihat adalah orang-orang yang tengah sibuk mempersiapkan pesta mereka. “Na-ya”. suara lembut itu menghalau pikiran Seo Na yang melayang-layang.

Gadis itu tertegun sebentar mengamati wajah wanita dihadapannya saat itu. “aku Ahra, Cho Ahra. Kakak Cho Kyu Hyun”. Jelas wanita itu pada Seo Na, menyadari siapa yang berada dihadapannya saat ini Seo Na segera membungkuk memberi hormat pada Ahra gadis itu jadi salah tingkah.

“kau sangat cantik jika dilihat secara langsung Seo Na, tidak heran jika Kyu Hyun menginginkamu”. Ahra terkekeh geli, ditambah ekspresi wajah Seo Na yang seketika berubah merona dan salah tingkah. “masuklah, Kyu Hyun ada didalam”. Tawar Ahra mengulurkan tangannya pada Seo Na, gadis itu meraihnya lalu tersenyum kearah calon kakak iparnya itu.

Ini pertama kalinya Seo Na menginjakan kaki di rumah keluarga Kyu Hyun, rumah yang sangat luas dengan cat dinding putih gading menambah kesan kokoh rumah megah itu. tapi kini tatapan Seo Na teralihkan pada pemandangan didepannya, seorang pria yang duduk begitu tampan dengan buku bacaan ditangannya. Cho Kyu Hyun, dengan pakaian rumahan yang begitu sederhana, rambutnya acak-acakan terlihat begitu sangat seksi dimata Seo Na.

“Kyu Hyun, Seo Na sudah lama menunggu diluar dan ia berdiri disana menunggumu. Kenapa kau mengabaikannya?”. Ahra berceloteh pada adik laki-lakinya itu memukul pelan lengan Kyu Hyun.
“Seo Na?”. Kyu Hyun kaget, ia segera melempar buku ditangannya ke meja, lalu terkekeh pada kakaknya. “aku benar-benar tak menyadarinya”.

“baiklah, aku akan mengurus tatanan dekorasi pesta kalian. Na-ya berhati-hatilah”. Ujar Ahra mengedipkan satu matanya kearah Seo Na, membuat Seo Na terkekeh lalu pandangannya mengarah pada wajah Kyu Hyun yang tampak bingung melihat keduanya.

Kyu Hyun kembali fokus pada gadis dihadapannya itu. “apa kau sudah lama menunggu Na-ya? maaf kan aku”. Pria itu berdiri tepat dihadapan Seo Na, membuat gadis yang berada dihadapannya saat itu harus mendongakkan kepalanya keatas.

Seo Na tersenyum lalu gadis itu menggelang. Jika harus menunggu selama berjam-jam diluar pun Seo Na tak akan marah pada Kyu Hyun. “aku harus mengatakkan sesuatu padamu Kyu Hyun-ssi”. ujar gadis itu ragu-ragu, mata Seo Na tampak beralih menatap taman hijau cantik dibelakang punggung Kyu Hyun, gadis itu sedikit menaikkan alisnya. Lalu kembali fokus pada Kyu Hyun.
“ada apa? sesuatu terjadi?”. Pria itu mengernyit, matanya masih menatap paras Seo Na yang tampak kebingungan.

“soal pernikahan ini, apa semua ini tidak terasa terlalu cepat. Bahkan kau belum mengenalku”. Gadis itu meremas jemarinya, kali ini ia menunduk membuat pria dihadapannya itu menghela napas panjang lalu menarik dagu Seo Na keatas untuk menatap matanya.

“seharusnya aku mengatakan hal yang sebenarnya Na-ya, mari ikut aku”. Kyu Hyun menarik tangan gadis itu lembut, menuntun Seo Na pergi ke suatu ruangan dirumahnya. Ruang pribadi pria itu.

~~~000~~~

Seo Na menatap sekeliling ruangan itu, ruangan yang dipenihu oleh buku-buku yang tersusun rapi didalam lemari dan beberapa buku yang tertumpuk dimeja baca besar dekat mereka. Seo Na takjub akan kepribadian Kyu Hyun, ia juga punya buku yang cukup banyak tapi tak sebanyak buku-buku yang berada diruangan ini. Seo Na hanya bisa terperangah.

“kau boleh meminjamnya juga kau ingin”. Suara itu membuat Seo Na bangun dari lamuannnya, gadis itu tersenyum salah tingkah. Lagi-lagi ia hanya membuat dirinya terlihat seperti gadis yang benar-benar norak, bisik batin gadis itu.

“jika aku mempunyai buku sebanyak ini aku akan menghabiskan waktu berada didalam ruangan ini, membaca setiap buku yang mungkin cocok dengan selera ku”. ujar gadis itu lalu kakinya beranjak dari tempat ia berdiri sebelumnya lalu ikut duduk dihadapan Kyu Hyun yang kini asik menatap gerak-gerik Seo Na.

“setelah kita menikah kau boleh menghabiskan waktu ditempat ini, bahkan jika kau ingin kita bisa bercinta disini”. Kalimat Kyu Hyun barusan berhasil membuat Seo Na menatap pria itu dengan mata melotot sebelum akhirnya pipi Seo Na kembali merona. Bisa-bisanya pria itu membicarakan tentang bercinta setelah mereka menikah.

“Hahaha aku bercanda, kita bisa melakukannya di ranjang”. Tambah pria itu akhirnya hanya membuat keadaan pikiran Seo Na semakin memburuk, ia malah membayangkan bagaimana jika ia bercinta dengan pria itu nantinya. “jangan pikirkan hal yang tidak-tidak Seo Na. Otakmu yang cantik itu tidak boleh berpikiran kotor”. Kyu Hyun terkekeh menatap Seo Na yang menundukkan kepalanya karena ucapan pria itu.

Sial!

“jadi kau akan menjelaskannya padaku kan?”. Seo Na mengalihkan pembicaraan mereka dari pembahasan tentang –bercinta- mungkin ia akan lebih fokus jika membicarakan tentang hal yang lainnya.

Kyu Hyun tersenyum lalu mengulurkan tangannya kedepan, meminta Seo Na menyambut tangan itu. Seo Na tampak bingung sebelum akhirnya menyambut tangan Kyu Hyun dan gadis itu duduk persis disamping Kyu Hyun dengan tangan pria itu yang melingkar dipinggangnya. “aku sudah memperhatikan mu sejak lama Na-ya”. ujar pria itu tulus, ia mengungkap kebenaran di atas sebuah kebenaran yang tersimpan.

Seo Na tetap berada didalam pelukan Kyu Hyun menyandarkan kepalanya didada pria itu. dan terasa sangat hangat.

“saat kau tersenyum padaku di dalam lift saat itu, pertemuan pertama kita”. Tambah Kyu Hyun, Seo Na mencerna kata-kata Kyu Hyun lalu gadis itu melepas pelukan Kyu Hyun dan menatap mata pria itu terkejut.

“jadi? Saat itu kau juga…”.

“ya, aku menyukaimu mulai detik itu dan perasaanku semakin bertambah saat aku memimpin perusahaan dan menikmati wajahmu yang selalu serius didepan layar komputer. Dari dalam ruangan ku, aku bisa melihat dengan jelas kegiatanmu saat kau bekerja. Bahkan waktu itu aku juga melihatmu melepaskan kancing kemejamu saat jam istirahat”. Penjelasan pria itu membuat Seo Na terperangah, jadi pria itu bisa melihat apa yang dilakukannya, sekaligus waktu itu? saat ia membuka kancing kemejanya karena merasa sangat panas.

Ya, saat itu semua orang beristirahat. Tidak ada yang berada didalam ruangan hanya dirinya sendiri, gadis itu juga berpikir atasannya yang ia gilai itu juga tak berada didalam ruangannya, dengan bebas Seo Na melepas semua kancing kemeja putihnya dan berkipas semau yang dia ingin saat itu, dan sialnya Kyu Hyun memorgokinya? Batin Seo Na mengerang.

“itu bonus, selain melihat wajah cantikmu yang serius menatap layar komputer”. Tambah Kyu Hyun, Seo Na menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Ia yakin Kyu Hyun juga tau berapa ukuran cup bra-nya. Atau jangan-jangan pria itu masih ingat warna Bra yang ia pakai?

“warna merah menyala”. Tambah Kyu Hyun, lalu pria itu tertawa keras tanpa peduli jika gadis dihadapannya ini wajahnya benar-benar berubah seperti kepiting rebus. Seharusnya Seo Na berpikir saat itu, dan kini gadis itu hanya bisa mendengar tawa Kyu Hyun. Sial!

~~~000~~~

Kyu Hyun asik memperhatikan gadis di hadapannya saat ini, sejak sejam yang lalu posisi mereka tetap sama, gadis itu membaca dengan serius didepannya dan Kyu Hyun yang tengah menyelesaikan laporan kantor dan arsip-arsip yang harus ia selesaikan menjelang hari pernikahannya. Sebenarnya Kyu Hyun tak fokus pada apa yang ia kerjakan, ia ingin lenih menikmati wajah gadis dihadapannya itu, wajah polos yang begitu serius dengan bacaannya. Buku tebal yang membahas tentang ideologi manusia dan perkembangan bisnis. Dan sekali lagi Kyu Hyun begitu tertarik dengan kepribadian Seo Na, didalam wajahnya yang polos dan tak banyak bicara gadis itu memiliki otak yang cerdas dan pintar terlihat seperti sekarang saat ia begitu tekun dengan bacaannya seperti gadis itu tak akan menemui hari esok, ia begitu serius.

“Park Seo Na..”. akhirnya Kyu Hyun mengeluarkan suara, menyapa gadis dihadapannya itu yang asik akan dunianya.

Seo Na menatap Kyu Hyun sekilas. “ Ya, apa?”. dan gadis itu kembali fokus pada buku ditangannya.
“jadi buku yang ada ditanganmu lebih menarik dari pada aku?”. Ujar pria itu, Kyu Hyun mendesah raut wajahnya tampak tak senang.

Seo Na mengernyit kini semua perhatian gadis itu tersita pada wajah Kyu Hyun yang menatapnya. Seo Na memiringkan kepalanya kekanan lalu bangkit dari tempatnya dan berdiri dihadapan Kyu Hyun dengan senyumnya yang terlihat kanak-kanak. “aku suka buku ini, ini edisi ke tiga dan aku tidak memilikinya, aku punya edisi kedua dan itu adalah pemberian Ayahku ketika ia masih bersama kami”.

Jelas Seo Na dengan raut wajah yang berseri-seri. Tapi untuk ukuran Kyu Hyun, pria itu kembali terenyuh. Ya, Ayah pria itu tak tau sedang berada dimana. Apa yang ia pikirkan hingga meninggalkan Seo Na didalam kesulitan sendiri. sejujurnya Kyu Hyun begitu kesal dengan semua penderitaan yang gadis itu tanggung di usianya yang masih sangat muda.

“Ayahmu… apa kau merindukannya?”. Entah kekuatan dari mana yang didapati oleh Kyu Hyun, akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh tentang Ayah gadis itu.

Terlihat jelas ekspresi Seo Na berubah datar, gadis itu membuat garis sedih di sudut bibirnya. “sejujurnya iya, aku merindukannya. Tapi…”. Seo Na menghentikan ucapannya, mengambil udara disekitarnya. “ia meninggalkan aku dan Ibu ku, rasanya begitu sakit jika mengingatnya”. Tambah Seo Na akhirnya, gadis itu berlalu kembali duduk ketempatnya meninggalkan Kyu Hyun yang masih menatap Seo Na di kursi kerjanya.

“Na-ya, aku minta maaf jika itu membuatmu bersedih”.

“tidak Kyu Hyun-ssi, aku tidak semenyedihkan itu”. Seo Na tampak tersenyum, walau didalam matanya masih terlihat jika gadis itu memang bersedih sebelumnya. “jika aku masih bersedih, aku tidak akan hidup dengan baik sampai saat ini, bekerja di perusahaanmu yang besar dan menjadi calon istrimu. Itu sangat baik”.

“kau bilang baik Park Seo Na, dengan ukuran tubuhmu yang begitu kurus dan dengan kantong mata yang terlihat jelas”. Pekik Kyu Hyun dalam hatinya. “kau harus makan lebih banyak dan teratur, jika kau menjadi istriku aku akan mengurus semua kebutuhanmu, membelikan apapun yang kau mau dan aku mau untuk kau memakainya, memakan makanan yang bisa membuatmu lebih terlihat sehat dan bugar, juga olahraga dan tidur yang cukup”. Jelas Kyu Hyun, Seo Na menyipitkan matanya, kini ia benar-benar fokus pada bibir Kyu Hyun. Astaga! Pekik Seo Na dalam hati.

“aku tidak suka olahraga, aku makan ketika aku mau, dan tentang apa yang akan kau belikan untukku, aku keberatan. Aku tidak suka jika kau membuang uang hanya untuk sesuatu yang tak berguna. Mungkin pegawai lebih membutuhkannya”. Seo Na membalas, gadis itu tampak enteng sekarang bola matanya tampak cerah menatap Kyu Hyun. Dan Kyu Hyun terkekeh mendengar jawaban gadis itu.

Ini menarik. Pikir Kyu Hyun. Pria itu beralih duduk persis dihadapan Seo Na, di sofa beludru warna hijau tua. “kau harus makan, jika kau bersamaku. Aku tidak ingin kau mati kelelahaan jika bercinta denganku.

Jika kau tak suka olahraga, kau akan menyukai olahraga denganku dan soal barang-barang yang aku belikan untukmu tak ada hubungannya dengan gaji karyawan dikantorku. Aku tau kau sering mendengar mereka mengeluh, itu karena saat mereka menerima gaji di awal bulan mereka menghabiskan untuk minum-minum dan bersenang-senang, akan lebih baik jika mereka tak melakuan hal yang seperti demikian, kau mengertikan kan gadis nakal?”. Kyu Hyun membentuk senyum menyeringai di sudut bibirnya, menatap wajah Seo Na yang tampak berubah tegang, pipi gadis itu tampak memerah dan lagi-lagi ia melihat wajah Seo Na yang salah tingkah.

“ya, aku mengerti”. Seo Na akhirnya mengalah, gadis itu tak seharusnya membuat statment yang demikian pada pria dihadapannya ini, lebih baik ia menuruti kata-kata Kyu Hyun. Dan bercinta? Olahraga? Maksudnya bercinta adalah olahraga? Gila! Seo Na memekik didalam hatinya, bisa-bisanya Kyu Hyun mengatakan demikian tentang olahraga. Tapi jika itu adalah olahraga yang dijanjikan Kyu Hyun untuknya, mungkin ia bisa terima. Dewi batin gadis itu menyeringai ditempatnya.

~~~000~~~

Keduanya sampai didepan gedung Apartemen milik Seo Na, Kyu Hyun terlebih dulu keluar membukakkan pintu untuk wanita yang akan menemani sisa umurnya. “selamat datang di istanamu Na-ya, sayang sekali kau harus meninggalkannya dalam waktu dua hari ini”. Kyu Hyun terkekeh, gadis dihadapannya itu juga ikut tersenyum.

“ya, aku akan menempati istanamu yang super megah itu dan aku harap aku terbiasa Kyu Hyun-ssi”. mereka saling berhadapan, mata mereka bertemu.”diruang bacamu, didapurmu dan dikamarmu tentunya”. Lanjut Seo Na, Dewi batinnya tertawa riang, Seo Na mengucapkan kata-kata yang terdengar sensual.

“ya, dikamarku kau akan banyak menghabiskan waktu Na-ya”. Kyu Hyun mengulurkan tangannya, membawanya kesisi pipi kiri Seo Na, mengelus pipi gadis itu. sangat halus seperti bayi. ”kau perlu berkemas, dan tinggalkan sesuatu yang tidak perlu. Ok? Kau akan punya banyak barang baru nantinya”. Tambah Kyu Hyun, Seo Na menyipitkan matanya lagi, gadis itu tak setuju.

“aku menyukai semua barangku dan mereka perlu Cho Kyu Hyun, jika kau tidak ingin menampungnya bagaimana jika kita tinggal di Apartemen ku saja setelah kita menikah?”. Seo Na tersenyum sinis.

“jangan bercanda sayang, aku mungkin akan suka berada di tempatmu tapi kau mungkin akan lebih suka berada ditempatku, ok? Dan soal barang-barangmu, aku akan membebaskannya gadis cerdik”. Kyu Hyun menyentil hidung Seo Na, gadis itu terkekeh lalu memberanikan diri memeluk Kyu Hyun, pria itu menegang sejenak ditempatnya lalu tubuhnya merespon dengan cepat, ia balas memeluk Seo Na.

“ya, tentu. Aku cerdik hanya pada dirimu Kyu Hyun-ssi. aku juga begitu heran, denganmu aku menjadi lebih ingin berbagi”. Ujar Seo Na tulus, tak ada kebohongan dari nada bicara gadis itu.

Kyu Hyun tersenyum, ia mengelus puncak kepala Seo Na menarik gadis itu kehadapannya lalu mengecup kening gadis-nya.”ya, Na-ya. hanya denganku, dan akan tetap denganku selamanya”. Ucapan Kyu Hyun terdengar seperti janji, Seo Na merinding namun kebahagiaan yang ia rasakan membuatnya melambung tinggi. Ia harap ini adalah awal kebahagiaan mereka.

“aku mencintaimu Park Seo Na”.

“ya, aku juga. Sangat mencintaimu Cho Kyu Hyun”.

~~~000~~~

Seo Na kembali ke Apartemen reot miliknya, tak layak disebut gedung megah seperti Apartemen karena mungkin usia gedung ini sudah mencapai batas tak wajar. Sudah banyak retak-retak dibagian dinding yang Seo Na beri cat warna-warni agar terlihat seperti sebuah gambar pada dinding. Gadis itu melihat sekeliling kamarnya, dan dua hari kedepan adalah waktunya bersenang-senang dan menjadi gadis penyendiri seperti biasanya.

Ia akan tinggal bersama dengan Kyu Hyun, pria yang selalu mengisi otaknya, pria yang selalu hadir dalam mimpi erotisnya dan pria yang ia sukai saat pertama kali mereka bertemu saat itu. tapi ada yang masih mengganjal dengan pernikahan ini, Seo Na sejujurnya tak puas dengan jawaban Kyu Hyun, entah apa namun gadis itu sesegera mungkin menghalau semua pikiran buruknya, ia ingin hidup bahagia dengan Cho Kyu Hyun.

Tapi dering telepon rumah gadis itu berbunyi, Seo Na beranjak dari tumpukkan barang yang ia kemas dan akan ia bawa kerumahnya yang baru dengan Kyu Hyun. Gadis itu mengangkat telefonnya, dan seseorang segera menyaut dari ujung sana. Suara yang khas yang begitu Seo Na ridukan, tapi kenapa pria itu baru muncul sekarang. Gadis itu bergetar ia tak tau harus berkata apa.

“Seo Na, ini ayah putriku”. Seketika semua terhenti dalam sekejap. Ayah, kau kembali?

~~~000~~~

Gadis itu sampai dengan segera di sebuah cafe kecil disekitar rumahnya, didalam tidak begitu ramai, hanya ada beberapa pelanggan dan juga pelayan yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Mata Seo Na melirik kekiri dan kekanan tampak bingung dan gusar, akhirnya mata gadis itu terhenti pada seorang pria berjeket tebal bewarna cream, Ayah-nya memakai topi bewarna senada dan kini mereka saling bertatapan. Bertahun-tahun lamanya dan ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.

Seo Na mendekat, ia kaku, entah apa yang ia rasakan saat ini, ia merindukkan Ayah nya namun disisi lain ia masih begitu marah kepada Ayah nya yang meninggalkannya begitu saja, dan ia baru sadar, Ayah nya begitu kurus saat ini.

“Ayah”. Suara Seo Na tercekat, pria itu tersenyum kearah Seo Na lalu mempersilahkan anak satu-satunya itu untuk segera duduk.

“aku tau kau sangat terkejut Na-ya, tapi Ayah datang untuk menjemputmu”. Suara Ayah nya terdengar begitu berat namun lembut, suara yang dulu sering membawanya kealam tidur saat mereka masih memiliki keluarga yang utuh dan bahagia.

Rahang Seo Na mengeras, gadis itu tampak memperlihatkan wajah kemarahannya. “menjemputku? Ayah bercanda?”. Seo Na tersenyum getir. Satu tetes air mata mengalir dipipinya.

“ya, menjemputmu Na-ya. kita bisa hidup bersama dan memulainya dari awal, dan kau bisa bebas dari mereka”. Ucapan Ayahnya berubah dingin, Seo Na menatap heran pada Ayahnya. Mereka? Apa maksudnya? “Seo Na mungkin kau tak tau kebenarannya, tapi Ayah tak ingin kau terluka karena mereka. Mereka menginginkanmu sebagai wanita yang melahirkan pewaris perusahaan mereka, setelah itu mereka akan mencampakkan mu seperti mereka mencampakkan Ayah, kau mengerti maksud Ayah kan?”.

Mereka? Kyu Hyun? Apa Kyu Hyun sejahat itu? tidak mungkin! Seo Na menarik napasnya dalam-dalam, mata gadis itu membulat penuh. “Ayah, apa yang Ayah bicarakan? Mereka? Keluarga Tuan Cho maksud Ayah? Apa Ayah sedang menjebakku? Cukup! Aku tidak ingin mendengar omong kosong ini! Ayah meninggalkan Aku dan Ibu selama bertahun-tahun, dan saat pemakaman Ibu Ayah tak datang, saat aku terlunta-lunta Ayah tak juga datang! Apa yang Ayah lakukan? Dan sekarang Ayah mengatakan keluarga Tuan Cho jahat? Jika mereka jahat, mereka tak akan menerimaku diperusahaan sebesar itu, ku mohon hentikan semua ini Ayah”. Seo Na melemah, namun mata gadis itu masih penuh emosi. Ia tak mengerti dengan niat Ayah kandungnya itu. ia masih tak mengerti kenapa Ayah-nya membawanya menjauh dari keluarag Kyu Hyun, padahal Kyu Hyun menginginkannya sebagai istrinya tapi apa maksud dari pewaris harta? Mata Seo Na terasa berkunang-kunang.

Wajah Ayah Seo Na tampak sedih, ia seharusnya membawa Seo Na lebih dulu tapi semua terasa begitu sulit sejak Seo Na bekerja diperusahaan keluarga Cho. “aku tak bisa hadir saat itu dan aku tak bisa menjemputmu dan Ibumu saat itu. aku benar-benar minta maaf. Jika kau tak ingin pergi bersama Ayah saat ini, ku mohon Seo Na dengarkan penjelasanku sekali saja. setelah itu aku harap kau bisa menimbang-nimbang langkah kehidupanmu kedepannya”. Tuan Park tampak meyakinkan anak gadisnya itu, ia akan menjelaskan semua yang sudah terjadi. Ia tak ingin Seo Na terluka oleh siapapun, termasuk menjadikan anaknya sebagai wanita untuk melahirkan pewaris keluarga Cho dan membuang anaknya seperti keluarga itu yang mencampakkannya dulu kedalam jurang kebangkrutan.

~~~000~~~

“dulu kami adalah sahabat baik, aku dan Cho Yeung Hwan memiliki hubungan pekerjaan yang sangat menguntungkan satu sama lain. Sampai akhirnya ia memiliki anak laki-laki dan Ibu mu juga melahirkan mu beberapa tahun berikutnya. Saat itu, kami berpikir untuk menjodohkan kalian berdua, kau dan Cho Kyu Hyun dan saat pertengahan kejayaan perusahaanku dan perusahaan Yeung Hwan, ia sembunyi-sembunyi mengamil separuh untung perusahaanku dan menanamkan saham di perusahaan lain sampai akhirnya aku marah besar pada pria itu, pahitnya lagi-lagi aku mendapat kabar dari orang kepercayaanku bahwa kau hanya digunakan untuk melahirkan pewaris hartanya. Kau tau Na-ya, aku sangat-sangat marah saat itu karena aku tidak terima dengan semua kecurangannya dan juga menjadikanmu sebagai barang yang sewaktu-waktu bisa mereka buang dan sejak saat itu aku memutuskan semua kontrak pekerjaan dalam bentuk apapun dengan perusahaannya, namun semua peruntungan tak pernah berpihak kepadaku karena sejak saat itu perusahaan kita mengalami kebangkrutan yang luar biasa karena disebabkan hutang kepada infestor yang sudah mempercayaiku. Aku yakin, Yeung Hwan –lah yang menyebabkan semua infestor berpindah ke pada perusahaannya, dan mereka semua menuntutku untuk dipenjara padahal bukan aku yang melakukan kecurangan tapi Cho Yeung Hwan. Itu kenapa alasan aku meninggalkan kalian berdua dan pergi sejauh mungkin, bukan karena aku tak mecintai kau dan Ibu-mu tapi saat itu semua benar-benar terjadi secara tiba-tiba. Dan aku juga sangat terpukul ketika mendengar Ibu-mu meninggal hingga aku berpikir untuk mati juga Na-ya, tapi karena kau, karena mengingatmu yang tinggal sendiri aku menunggu hingga waktunya tiba untuk menjemputmu kembali padaku”.

Semua kata-kata itu lolos dari mulut Ayah Seo Na, gadis itu seperti terasa tersedak ditenggorokannya, semua hal yang ia pikirkan akan ia jalani bersama Kyu Hyun lenyap begitu saja. Ayah-nya tak mungkin berbohong, ia kenal betul siapa Ayah-nya. Meskipun mereka sudah cukup lama berpisah tapi Seo Na sama sekali tak melihat raut kebohongan dari wajah pria dihadapannya saat ini. Seo Na meringis, ia merasakan sakit yang luar biasa menghantam otaknya. Kyu Hyun yang ia pikir adalah malaikat penolongnya ternyata keluarga pria itulah yang menginginkannya lenyap dari muka bumi ini, dan dia diinginkan hanya karena tujuan tertentu.

“Seo Na, Ayah sebenarnya tak ingin membuatmu menjadi seperti ini. Ayah sangat menyanyangi dan peduli padamu karena itu Ayah mengambil resiko dan datang ke Seoul tadi pagi. Ayah mendengar kabar kau akan menikah dengan anak pria brengsek itu, aku tidak akan terima dengan apa yang mereka lakukan padamu nantinya, karena itu Ayah ingin kau pergi bersama Ayah”. Tatapan Seo Na begitu kosong, mata gadis itu terus mengeluarkan cairan bening. Ada satu hal yang terlintas dibenak gadis itu.

“Ayah, apa kau ingin mereka menderita seperti kita?”. Mata Seo Na memerah, tangisnya terhenti dan suara gadis itu terdengar bergetar.

“Na-ya, apa yang sedang kau pikirkan Nak?”.

“aku memikirkan untuk membalas dendam Ayah, membalas semua yang sudah dilakukkan pria itu padamu, Ibu dan juga aku”. Gadis itu mengepal tangannya. Ia bertekat dalam hatinya, rasa sakit yang terkubur dalam hatinya akan bangkit dan membalas semuanya, Dewi batin gadis itu mati seketika dan lenyap.

To Be Continue

CRAZY IN LOVE (1/?)

Standard

j

Got me looking so crazy right now, your touch…

Got me hoping you’ll page me right now, your kiss…

Beyonce – Crazy in Love

Pria itu, pria yang selalu berada dalam fantasi liar ku. pria dengan gigi putih yang bertengger rapi. Pria dengan jari-jari yang panjang dan penuh. Mata bulat hitam miliknya yang selalu ku inginkan menatapku saat kami bercinta suatu saat nanti dan tubuhnya yang tinggi, putih, bersih itu yang selalu ku inginkan untuk ku peluk, aku menggilainya bahkan sampai ketitik syaraf terliar ku.

Setiap kali aku melihatnya, aku benar-benar dirasuki napsu yang luar biasa. Aku menginginkannya. Disetiap anganku, aku selalu memikirkan bagaimana nikmatnya berada dibawah tindihan pria itu. pasti sangat nikmat. Ya, sangat nikmat sampai-sampai aku bisa merasakannya lewat mimpi-mimpiku.

Pria itu dosaku, dosa yang akan aku tanggung karena terus memikirkan fantasi bercinta dengannya. Ia akan menjadi dosaku jika aku tetap mendesah hanya karena aku melihat ia bediri tak jauh dari hadapanku. Dan akan tetap menjadi dosa, jika saat aku mencium aroma tubuhnya aku ingin segera dimasuki oleh pria itu. aku tergila-gila padanya. Sangat. Hingga aku tidak peduli dengan dosa jika aku memikirkannya. Ya aku sangat menggilai Pria itu… Cho Kyu Hyun.

~~~000~~~

Seo Na menekan ujung rok ketat di atas lututnya, saat ini gadis itu tengah duduk didepan seorang pria. Pria jakung yang saat ini menjadi CEO tempat ia bekerja. Pria yang ia inginkan untuk berada dalam dirinya, hanya dengan menatap pria itu ia bisa memikirkan hal yang belum ia pernah lakukan sebelumnya. Hanya dengan pria itu ia bisa memikirkannya.
Tapi, Cho Kyu Hyun bahkan tidak pernah menatapnya sama sekali, tatapan pria itu tak pernah berhasrat padanya mereka hanya bertemu pandang sekali dua kali, itupun karena pekerjaan yang mengharuskan mereka bertemu atau saling berbicara.

“kau bisa melanjutkannya dirumah, besok pagi kau bisa memberikannya kembali padaku”. Ujar pria berusia 26 tahun itu.

Seo Na mengangguk, tersenyum singkat tanpa berani menatap pria itu. ia terlalu takut, bahkan saat ini ia sedang menenangkan syarafnya karena sejak tadi ia benar-benar terbuai oleh aroma maskulin yang muncul dari tubuh atasannya itu. ia tidak ingin memperlihatkan betapa inginnya ia bersama dengan Kyu Hyun, betapa ia ingin berada dibawah tindihan pria itu. ya, mungkin sebentar lagi ia akan gila. Pikir Seo Na.

“baiklah, akan aku selesaikan secepatnya. Aku permisi”. Ucap gadis itu kaku, otaknya tak bisa bekerja dengan baik. suasana didalam ruangan ini terlalu panas untuknya. Ia segera beranjak dari sana dengan tergesa, melangkah tanpa peduli jika pria itu tengah menatapnya aneh.

“tunggu…”. Seo Na berkedik. “Ada yang aneh dari dirimu Park Seo Na”. Gadis itu menghentikan langkahnya. Ia tidak ingin berbalik menatap pria yang menyadari keanehan dari dirinya. Tidak, ia tidak ingin pria itu tau jika ia sangat teramat menginginkan atasannya itu.

“kau sakit? Bibir mu pucat”. Suara Kyu Hyun berada teopat dibelakag gadis itu, Seo Na berbalik dengan hati-hati mengadahkan wajahnya, menatap wajah khawatir Cho Kyu Hyun dihadapannya. Dan lagi-lagi jantung gadis itu berdetak tidak normal, ia pasti akan benar-benar gila setelah ini.

“a.. akk..ku baik-baik saja”. ujar gadis itu terbata. Ia masih tidak percaya jika wajah Kyu Hyun berada tidak jauh dari hadapannya, pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan.

“kau yakin?”. Kyu Hyun mengulurkan tangannya kearah kening Seo Na, dan itu hanya membuat gadis itu kalang kabut. Ya dia harus menghentikan pria itu, sebelum ia benar-benar melecuti semua pakaian pria itu dan memaksanya menidurinya. Pikiran yang kotor.

“Ya, maaf aku benar-benar harus pergi”. Suara gadis itu meninggi dan bergetar, Seo Na menyingkirkan jemari-jemari Kyu Hyun dari keningnya. Sebelum akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan pria itu didalam ruang kerjanya.

~~~000~~~

Udara disekitarnya tiba-tiba panas, Kyu Hyun melonggarkan dasinya lalu membuka satu kancing teratas kemeja kerjanya. Gadis itu, gadis yang selalu ia perhatikan dari kejauhan, gadis yang selalu pucat jika berhadapan dengannya. Dan ia selalu penasaran dengan gadis itu. Kyu Hyun menginginkannya, entah sejak kapan ia menyukai Park Seo Na. Tapi ia yakin, gadis itu juga memikirkan apa yang ia pikirkan, tidak terkecuali tentang fantasi seks dengan Seo Na.

Sebenarnya mereka pernah bertemu sebelum Kyu Hyun menggantikan posisi Ayah-nya untuk memimpin perusahaan. Dulu ketika pria itu berkunjung ke perusahaan milik Ayah-nya, gadis itu dengan ramah menyapanya, mata gadis itu coklat jernih, rambutnya hitam diikat keatas dengan anak rambut yang menggantung menghiasi tengkuknya, memang penampilan Seo Na tampak biasa, ia selalu mengenakkan pakaian formal kantor dengan rok span tanpa belahan dan ditambah kaca mata tebal yang bertengger di hidung mancung milik gadis itu.

Seo Na adalah tipe gadis yang tidak terlihat ber-make-up tebal, sederhana sekali hingga Seo Na mampu membuat Kyu Hyun mengalihkan pandangannya kearah gadis itu. sejak saat itu Kyu Hyun mencari tau tentang gadis itu dan satu yang ia pikirkan sejak saat itu, menikahi Park Seo Na dan bercinta dengan gadis itu.

“apa kau rasa ia menyukaiku?”. Pria disampingnya itu tampak tersenyum, pria yang sudah berusia lanjut dengan banyak rambut putih dikepalanya. Pria yang sudah bekerja untuk keluarga Kyu Hyun sejak Kyu Hyun belum ada diantara keluarga Cho.

Soo Hwan tersenyum, tampak kerutan disekitar mata pria tua itu. “tentu saja, ia sangat menginginkan anda tuan muda”. Ujarnya pada Kyu Hyun sambil meletakkan segelas Teh hangat kehadapan Tuan muda-nya itu.

Kyu Hyun tersenyum. “benarkah? bagaimana jika ia tau siapa aku sebenarnya?”. Sinar mata Kyu Hyun tampak melemah, gadis yang ia sukai itu pasti tak akan memaafkannya.

“anda tidak bersalah atas kasus itu, lagi pula Ayah anda pantas melakukan hal itu”. suara Soo Hwan terdengar tegas, ia tau persis apa yang sudah terjadi. Ia bersyukur gadis yang di sukai Kyu Hyun tumbuh menjadi gadis yang cantik dan luar biasa baik, tidak meniru sifat Ayah-nya yang seperti iblis. “Tuan Park pantas mendapatkan balasan”. Tambah pria itu lagi.

Kyu Hyun menggeram, mata pria itu menggelap.”jaga ucapanmu! Ia tidak sepenuhnya bersalah jika…”. Kyu Hyun menghentikan perkataannya. “sudahlah, aku lelah. Kau boleh keluar dari ruanganku”. Ucap Kyu Hyun akhirnya. Ia tidak ingin berdebat tentang hal ini. ia sudah sangat lelah.

Soo Hwan membungkuk lalu menuruti perintah Kyu Hyun untuk meninggalkannya, batin pria itu berbisik. “Tuan muda, seharusnya saat ini anda sudah menikah dengan gadis itu jika saja Ayah-nya tak berbuat curang pada Tuan Cho”. Batinnya.

~~~000~~~

Seo Na melangkah memasuki Apartemen mungil miliknya, Apartemen yang luasnya tidak lebih dari dua bagian ruangan kamar tidur dan dapur digabung menjadi tempat televisi reotnya dan beberapa tumpukkan buku kuliahnya beberapa tahun yang lalu. Ia harus beranjak meninggalkan rumah mewah milik keluarganya, hutang yang ditinggalkan mendiang Ayahnya sejak perusahaan Ayahnya bangkrut begitu besar ditambah biaya rumah sakit saat ibunya menjalani pengobatan membuat tabungan keluarga mereka terkuras habis.

Dulu Seo Na memiliki keluarga yang bahagia, ia kaya, Ayahnya memiliki sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri dan pada akhirnya bangkrut karena kerja sama yang buruk dengan perusahaan lain, sejak saat itu Ibu nya sakit-sakitan dan Ayahnya kabur begitu saja meninggalkan ia dan Ibu nya dengan banyaknya hutang dan akhirnya Ibu nya meninggal karena penyakit jantung yang ia derita. Sejak saat itu Seo Na hidup sendiri tanpa keluarga sebagai gantinya ia menjual rumah milik keluarganya dan memulai hidup di Apartemen yang kini ia tinggali selama lima tahun belakangan ini.

Sebenarnya gadis itu sangat penasaran pada kolega Ayahnya yang membuat perusahaannya bangkrut, ingin ia bertanya apa yang terjadi namun akses untuk bertanya pada kerabat Ayahnya terputus begitu saja, ia juga tak mengenal rekan bisnis Ayahnya saat itu Seo Na sedang menjalani kuliahnya dan tidak terlalu memperdulikan dengan siapa Ayah nya menjalin pekerjaan.

Dan setelah ia lulus gadis itu mulai mencari pekerjaan dan akhirnya ia bekerja di perusahaan yang sangat besar hingga saat ini. Awalnya ia ingin bertanya pada pemilik perusahaan itu, apakah atasannya mengenal Ayahnya tapi saat Seo Na berniat bertanya atasannya meninggal dunia dan posisi kepimimpinan perusahaan digantikan oleh anak laki-lakinya. Ya, pria itu adalah Cho Kyu Hyun, pria yang membuat Seo Na sesak napasnya hanya dengan menatap wajahnya.

Seo Na kembali teringat pada kejadian tadi siang, itu adalah pertama kalinya mereka bersentuhan secara langsung, kulit dengan kulit. Sebelumnya Seo Na hanya bisa menatap Kyu Hyun dari jarak yang tidak terlalu dekat. Dan lagi, Seo Na teringat pada kenangan tiga tahun yang lalu, saat pertama kali ia bertemu Cho Kyu Hyun di perusahaan milik pria itu, saat ia melempar senyuman pada Kyu Hyun didalam lift, saat itu hanya mereka berdua membuat atmosfer berbeda diantara mereka, sejak saat itu Seo Na selalu mengingat wajahnya dan tanpa disangka beberapa bulan berikutnya ia mendapati jika atasan barunya adalah Cho Kyu Hyun, anak dari Tuan Park pemilik perusahaan tempat ia bekerja.

Ponsel gadis itu tiba-tiba bergetar, Seo Na terjaga dari lamunannya lalu mengalihkan pandangannya pada layar ponselnya, kini bibir gadis itu membentuk ulasan senyum. Esok adalah peringatan kematian Ibu nya, ia akan berkunjung kepusara Ibunya esok hari. Gadis itu meneteskan air matanya, jika Ayahnya tidak kabur mungkin saat ini ia tidak akan merasa sendiri seperti ini.

~~~000~~~

“ada yang ingin Ibu bicarakan Kyu Hyun”. Suara khas milik Ibu nya mengusir keheningan sarapan pagi keluara Cho pagi ini. Kyu Hyun menatap Ibu nya, tidak terkecuali kakak dari pria itu, Ahra. “saat ini usiamu tidak lagi remaja, aku memikirkan banyak hal tentang masa depanmu”. Tambah Ibu-nya.

Kyu Hyun mengangguk, ia tau maksud dari wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu, ia tau jika Ibu-nya ingin ia segera menikah. Ahra juga tampak mengangguk paham.

“kau pasti tau maksud Ibu”. Wanita itu menghentikan kalimatnya, menghela napasnya panjang. “sebenarnya dulu Ayah mu sudah menyiapkan seorang gadis, tapi ada sesuatu hal yang menyebabkan perjanjian pernikahan diantara kalian di batalkan”. Kyu Hyun tertohok, matanya sedikit membelalak, namun kakak Kyu Hyun tampak paham, ia tau yang dimaksud Ibu mereka.

“seorang gadis?”. Tanya pria itu penasaran, ia meletakkan garpu dan pisau makannya dimeja. “bahkan Ayah tak pernah mengatakan apapun padaku”. Tambah Kyu Hyun, pria itu tampak kesal.

Ibu Kyu Hyun tampak tersenyum lemah. “karena waktu itu kau dan gadis itu masih sangat muda, gadis itu juga tak mengetahuinya.”. jelas wanita itu, tak berani menambahkan atau menjelaskan siapa gadis itu sebenarnya.
“siapa dia? apa aku mengenalnya? Kenapa kalian merahasiakan ini padaku?”. Paksa Kyu Hyun, otot leher pria itu tampak menegang.

“jika kau tau sekalipun aku yakin ia tak akan bersedia menikah denganmu, mungkin sekarang ia bertanya-tanya tentang kepahitan yang terjadi dalam keluarganya, dan jika ia tau yang sebenarnya ia akan pergi meninggalkan perusahaan kita, hanya dengan merahasiakan semua ini darinya kita bisa membantunya untuk tetap hidup tapi untuk lebih Ibu rasa tidak bisa lagi Kyu”. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Ibu-nya itu hanya membuat kepala Kyu Hyun terasa pusing, ia tau siapa yang dimaksud Ibu-nya, dan ia tau sekarang kenapa gadis itu dipekerjakan di perusahaan milik keluarganya. Park Seo Na, ya seharusnya jika Ayah gadis itu tidak berlaku curang pada perusahaanya mungkin saat ini ia sudah menikah dan hidup bahagia dengan gadis itu dan yang terjadi saat ini hanyalah Ia dan Park Seo Na hanyalah sebatas hubungan antara Atasan dan Bawahan.

Kyu Hyun menarik udara banyak-banyak disekitarnya, dan mengucapkan sesuatu yang membuat Ibu dan Ahra terkejut. “aku akan menikah dengannya, meskipun ia membenciku sekalipun”. Ujar pria itu tenang, lalu beranjak meninggalkan Ibu dan kakaknya yang kini saling menatap pilu. Ya, keduanya sudah tau jika Kyu Hyun sangat menginginkan Seo Na, Soo Hwan sudah menceritakan semuanya.

~~~000~~~

Ini sudah hampir jam makan siang tapi gadis yang di tunggunya belum juga muncul dihadapannya, gadis itu berjanji untuk mengantarkan dokumen yang sudah ia pesankan kemarin dan sampai detik ini Kyu Hyun masih menunggu seperti orang bodoh di dalam ruang kerjanya. Pria itu benar-benar gelisah, bahkan sekarang ia takut jika Seo Na mengetahui siapa dirinya, siapa keluarganya dan apa yang membuat gadis itu hidup dalam kesendirian seperti saat ini.

Suara kenop pintu memecah lamunan pria itu, dengan hati-hati seorang gadis masuk kedalam ruangannya, wajahnya tampak lesu dan matanya sedikit sembab, Seo Na terlihat dalam keadaan yang tidak baik.

“Maaf Tuan, aku terlambat”. Suara Seo Na terdengar lebih lemah, gadis itu juga mendunduk tak menatap Kyu Hyun sedikitpun membuat Kyu Hyun geram sekaligus penasaran apa yang terjadi pada gadis itu.

Kyu Hyun beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan kearah Seo Na berdiri persis disamping gadis itu dan tubuhnya menghadap ke arah Seo Na. “Apa yang terjadi? Apa kau tidak ingin bekerja lebih lama disini?”. Suara Kyu Hyun terdengar lebih rendah dari biasanya, membuat Seo Na berkedik, gadis itu semakin membenamkan kepalanya.

“sebelum ke kantor aku berkunjung ke makam Ibu-ku, maaf kan aku Kyu Hyun-ssi”. Akui gadis itu akhirnya, dan pengakuan gadis itu hanya membuat Kyu Hyun tertohok ditempatnya. Seharusnya ia tidak mengucapkan kalimat barusan, dan seharusnya ia simpati pada gadis itu tadi, mendengar pengakuan Seo Na membuat Kyu Hyun merasakan sakit didadanya. Ia bisa membanyangkan betapa beratnya hidup Seo Na saat ini dan itu hanya membuat Kyu Hyun ingin segera memiliki Seo Na membuat gadis itu bahagia.

~~~000~~~

Seo Na berusaha menatap mata Kyu Hyun dan itu hanya membuat nyeri pada pusat tubuhnya, dengan jarak seperti ini hanya membuat sesuatu dalam dirinya terjaga, ia merasa dewi hasratnya tengah menari-nari disekitarnya saat ini. seketika tubuh gadis itu kaku.

“maaf kan aku tentang itu”. suara Kyu Hyun terdengar melembut ditelinga Seo Na, ekspresi pria itu juga tak terbaca, Seo Na tau Kyu Hyun pasti kasihan padanya dan itu hanya membuat hatinya sakit, ia ingin Kyu Hyun menyukainya seperti ia menyukai pria itu bukan mengkasihaninya seperti saat ini.

“tidak, aku baik-baik saja. jangan kasihani aku karena hal itu Tuan”. Suara Seo Na sedikit meninggi dan bergetar. “aku permisi”. Tambah gadis itu lagi lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Kyu Hyun sebelum otak kotornya mulai bekerja lagi memikirkan bagaimana pria itu mencumbunya.

“aku ingin mengajakmu makan malam Park Seo Na”. Apa?! makan malam? . langkah Seo Na terhenti. “anggap saja aku berhutang padamu karena kau menyelesaikan laporan ini dalam satu malam, bagaimana?”. Tawaran yang dilontarkan Kyu Hyun padanya membuat gadis itu tergiur, makan malam dengan pria yang mengisi fantasi bercintanya. Benar-benar langkah, pikir Seo Na.

“jika kau bersedia, aku akan menjemputmu sekitar jam tujuh malam”. tambah Kyu Hyun akhirnya.

Seo Na tersenyum senang.”baiklah Tuan, aku permisi”. Ujar gadis itu akhirnya sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Kyu Hyun yang juga tersenyum ditempatnya. Malam ini adalah malam yang akan menjadi penentuan masa depan keduanya.

“Na-ya, kau akan jadi milikku. Apapun yang terjadi”. Ucapan Kyu Hyun menggema kesetiap penjuru ruangan kerjanya, seperti janji seorang kasatria.

~~~000~~~

Seo Na sudah siap, beberapa menit lagi mungkin Kyu Hyun akan sampai ditempatnya tapi apa pria itu tau Apartemennya yang usang ini? bagaimana pria itu tau? Pertanyaan yang mengitari otak gadis itu seketika lenyap ketika mobil mewah bewarna hitam mendekat kearahnya yang berdiri di depan gedung Apartemennya dan seseorang turun dari sana dengan tuxedo lengkap dengan dasi kupu-kupu, tatanan rambut yang begitu menawan, Kyu Hyun sangat tampan, lebih tepatnya benar-benar sangat tampan.

Kyu Hyun keluar dari mobilnya menatap pada gadis yang kini berdiri kaku di samping mobilnya. Seo Na mengenakkan Dress merah menyala diatas lutut, lekukan tubuhnya tercetak jelas dengan rambut yang ia sanggul keatas dan hiasan yang menempel pada rambut gadis itu. Seo Na tampak risih dengan pakaian yang ia kenakkan ditambah tatapan Kyu Hyun yang sejak tadi tak lepas memperhatikannya dari atas sampai bawah.

“kau siap?”. Suara Kyu Hyun mengalihkan tatapan gadis itu yang sejak tadi membungkuk dan pipinya memerah karena gugup. Kyu Hyun terkekeh geli didalam hatinya.

Seo Na mengangguk lalu berjalan menyusul Kyu Hyun dan masuk kedalam mobil ketika pria itu membukkan pintu mobil untuknya, dan lagi-lagi keinginannya untuk memiliki pria itu begitu besar.

“baiklah Nona Park, mari kita berangkat”. Suara Kyu Hyun yang begitu tenang sukses membuat wajah Seo Na merona, panggilan Nona Park untuknya terdengar begitu menggelikan ditelinga Seo Na saat ini.

~~~000~~~

Keduanya sampai didepan restoran mewah bergaya Eropa, Seo Na yakin harga satu piring makanan didalam sini sama dengan besar gajinya di perusahaan Kyu Hyun. Gadis itu menatap pilar-pilar kokoh yang bertengger rapi pada setiap tepi langit-langit restoran itu menambah kesan mewah dan megah, tempat ini memang sangat –Kyu Hyun- sekali, menggambarkan betapa mewahnya hidup pria dihadapannya ini.

Dulu saat ia masih menjadi anak pengusaha kaya Seo Na tak pernah menyempatkan diri untuk berjalan-jalan atau makan diluar dengan keluarga dan temannya, ia sibuk dengan sekolah dan kegiatan tambahannya. Seo Na termasuk gadis yang berprestasi di sekolah jadi ia akan lebih memilih menghabiskan waktu dikamar atau di sekolah untuk belajar.

“Park Seo Na, ini menu-nya”. Suara pria itu menghalau lamunan gadis itu dari pikirannya. Ternyata sejak tadi ia asik memperhatian hal-hal disekelilingnya tanpa sadar seorang pelayan kini tengah berdiri diantara mereka. Seo Na tersenyum kaku, dia menertawakan dirinya sendiri. benar-benar norak.

Seo Na mengambil daftar menu makanan dari tangan Kyu Hyun lalu menatap jajaran makanan yang tertera disana, gadis itu bingung disana hanya ada makanan Eropa dengan hurus alphabet tidak ada tulisan hangul sedikitpun bahkan ia tidak mengerti dengan gambarnya.

“aku mau ini”. tunjuk Seo Na asal, mukanya merah padam pasti Kyu Hyun berpikir jika dirinya benar-benar kampungan. Gadis itu mencoba menyembunyikan wajahnya dibalik poninya yang tergerai.

“tidak apa Seo Na, aku akan memilihkan yang enak untukmu”. Kyu Hyun tersenyum lalu bercakap-cakap pada pelayan yang menatap keduanya bingung, lalu pelayan itu berlalu meninggalkan keduanya.

Kyu Hyun menatap gadis yang berada dihadapannya itu, gadis lugu terlalu lugu hingga ia ingin sekali tersenyum melihat tingkah gadis dihadapannya ini. “apa kau tidak suka tempatnya?”. Kyu Hyun angkat bicara masih menatap kearah Seo Na yang membatu ditempat duduknya.

Seo Na menggeleng cepat. “tidak, aku sangat suka. Ini sangat mewah dan aku sangat suka”. Jawab gadis itu, senyumnya yang begitu cantik tergambar diwajahnya. Seo Na yang manis, ya sangat manis hingga Kyu Hyun ingin segera menyeret gadis itu ketempat gelap lalu menciumnya.

Seo Na memaksa matanya menatap Kyu Hyun walaupun ia tau efeknya sangat tidak bagus, ia tetap menatap mata pria itu. Kyu Hyun benar-benar tampan, pikir Seo Na.

“bernafas Seo Na, ekspresi wajahmu seperti senar biola yang akan putus”. Suara Kyu Hyun berhasil membuat muka gadis itu lagi-lagi memerah. Sial. Seharusnya ia tak balas menatap Kyu Hyun seharusnya ia menahan dirinya dan sekarang yang ia dapati adalah Kyu Hyun yang menertawakan kekonyolannya.

Makanan pesanan mereka tiba, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Kyu Hyun mengunyah makanannya sambil menikmati wajah Seo Na yang makan dengan lahapnya didepan matanya saat ini dan Seo Na kini sibuk dengan makanannya tanpa tau jika Kyu Hyun tengah memperhatikannya. Gadis itu sangat cantik, cara ia mengunyah pipinya yang gembul karena mengunyah makanan dan ekspresinya berubah-ubah ketika mencicipi makanan dihadapannya.

Malam ini Kyu Hyun berniat mengatakan apa sebenarnya yang menjadi tujuannya mengajaka gadis itu kemari. Ya sebelum terlambat ia akan mengatakan semuanya, tidak semua hanya beberapa. Tentang rahasia keluarga gadis itu akan tetap ia simpan dan akan ia katakan jika suatu saat nanti ia memiliki waktu yang tepat untuk mengatakan semua kebenaran tentang siapa dirinya.

Seo Na menyudahi makanannya, begitu juga dengan Kyu Hyun. Gadis itu menatap Kyu Hyun yang kini juga menatapnya. Seo Na mengalihkan pandangannya tidak ingin berkonsentrasi pada atasannya itu.

“kau suka?”. Suara Kyu Hyun menarik perhatian Seo Na. Gadis itu mengangguk. “bahkan umurmu sudah menginjak angka dua puluh tiga tahun dan cara makanmu masih seperti anak kecil”. Seo Na mengernyit, gadis itu menaikkan alisnya. Apa maksud pria ini?

Kyu Hyun mengulurkan tangannya kedepan, menghapus sisa makanan dari sudut bibir gadis itu dengan ibu jarinya membuat Seo Na terkesiap, gadis itu kaget bukan main dan hal itu sama dengan apa yang dirasakan pria dihadapannya itu mata mereka bertemu dengan jarak sedekat ini. Kyu Hyun menggeram mata pria itu menggelap ia tidak bisa lagi menahannya.

Setelah Kyu Hyun meletakkan beberapa lembar uang, ia menarik Seo Na dari dalam restoran itu tiba-tiba. Membuatgadis yang berada dalam genggamananya itu hanya terkejut dan mengikuti kemana langkah Kyu Hyun membawanya. Apa yang ia lakukan? Gadis itu mengerang dalam hatinya.

~~~000~~~

Keduanya sudah berada dalam mobil mewah milik Kyu Hyun, nafas Seo Na terengah-engah karena Kyu Hyun menariknya secara tiba-tiba. Ada ketakutan dari mata gadis itu ketika Kyu Hyun menyeretnya didepan orang-orang, apa pria itu marah? Pikir Seo Na. Tapi yang kini ia dapati hanyalah tatapan Kyu Hyun padanya, tatapan yang tak bisa gadis itu artikan dan Seo Na menuruti suara hatinya untuk membalas tatapan pria itu.

“Maaf, aku tak bermaksud menghancurkan suasana makan malam kita”. Ujar pria itu, memperdalam pegangannya pada stir mobilnya. Mobil mereka masih dihalaman parkir belum bergerak.

Maksud Kyu Hyun menarik gadis itu keluar agar ia tak memperburuk keadaan dengan mencium gadis itu didepan umum, tapi kenyataannya keadaannya semakin buruk ketika mereka hanya berdua didalam mobil yang sama, atmosfernya kian meledak-ledak.

“Kyu Hyun-ssi, apa terjadi sesuatu? aku pikir kau marah padaku”. Suara Seo Na terdengar serak, gadis itu menarik ujung Dress nya menahan rasa gugup. Apa yang dirasakan Seo Na saat ini hanyalah sesak didadanya yang terasa menghimpit, bukan karena sakit tapi karena ia sedang terperangkap dengan pria yang selalu mengisi fantasi bercintanya.

Mereka saling bertatapan.”Kyu Hyun-ssi, mungkin kau butuh istirahat tidak apa jika kita-“. Suara gadis itu tak terdengar lagi, matanya melotot, ada benda lembut yang menyentuh bibirnya mengatup bibir gadis itu hingga Seo Na tak bisa lagi berkata-kata.

Kyu Hyun menyambar bibir gadis itu, merasakan setiap sisi bibir Seo Na yang lembut. Ia benar-benar tak bisa menahan apa yang sudah terkubur dalam dirinya sejak ia mengenal gadis itu dan menginginkan Seo Na. Bibir mereka berpagut mesra, terdengar ecapan lidah dan bibir Kyu Hyun yang menghisap liar bibir Seo Na. Gadis itu memang sangat polos, Seo Na begitu pasif dan hanya menerima setiap perlakuan Kyu Hyun pada bibirnya, akhirnya pria itu melepas kontak diantara mereka tidak memberi jarak menempelkan keningnya pada kening gadis itu, merasakan napas Seo Na yang terengah-engah berhembus di wajahnya.

Kyu Hyun mengecap singkat bibir gadis itu sebelum ia mengatakan satu hal yang membuat gadis dihadapannya saat ini melotot.

“mari kita menikah, Park Seo Na”. Dan Seo Na hanya bisa menatap tak percaya pada ucapan yang dilontarkan Kyu Hyun padanya. Apa? ia tak salah dengarkan? Menikah?.

To Be Continue

REVENGE BEFORE LOVE (END)

Standard

hh

Loving you make me wait for years. and when I find you, I’ll never let you go again. if you say you hate me, I do not care because I still love you. – Cho Kyu Hyun

I just want to protect you, I don’t want you to get hurt. – Park Seo Na

Seo Na mengemasi barang-barangnya, membawa beberapa pakaian kedalam koper merah hati yang kini tergeletak dilantai kamarnya. Hari ini adalah hari terkahir yang penjahat itu berikan pada Seo Na, terhitung esok hari ia akan memimpin cabang perusahaannya di Jepang ia akan mengontrol semua aktifitas perusahaannya disana dan untuk waktu yang sangat lama ia tidak akan kembali ke Seoul.

Gadis itu menghentikan gerakannya, tersandar di pintu lemari pakainnya menutup mata dan merasakan tetesan air mata kini mengalir di pipinya. Ini adalah awal perpisahaannya lagi dengan pria yang ia cintai itu, pria yang dulu ia benci. Esok ia tidak akan pertemu sosok Cho Kyu Hyun lagi dan ia masih ingat pertengkaran hebatnya dengan Kyu Hyun dua hari lalu. setelah malamnya mereka bercinta dengan begitu panas, namun siangnya gadis itu membuat Kyu Hyun benar-benar tidak habis pikir. Ia berubah bahkan Seo Na berciuman dengan Lee Dong Hae di depan matanya.
Seo Na lagi-lagi menangis, ia masih ingat ketika Kyu Hyun melayangkan pukulannya kearah wajah Dong Hae, ia masih ingat saat pria itu menariknya keruang kerja Seo Na dan disana akhirnya mereka bertengkar hebat. Dan satu hal yang tidak akan bisa Seo Na lupakan. Ketika gadis itu mengatakan Ia sangat membenci Kyu Hyun.

~~~000~~~

2 Days Ago…

Seo Na terbangun lebih dulu, gadis itu menatap wajah Kyu Hyun yang masih terpulas di sampingnya. Wajah tenang pria itu, rambutnya yang acak-acakan dan bibirnya yang sedikit terbuka. Dada pria itu terekspos jelas dan tanda-tanda yang ia buat terlihat disekitar leher Kyu Hyun, Seo Na tak menyangka ia begitu liar pada Kyu Hyun tapi gadis itu teringat akan rencananya, dan beberapa hari lagi wajah itu tak akan lagi muncul dihadapan Seo Na.

Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya, merasakan sangat nyeri pada pangkal pahanya ditambah bercak darah yang masih menempel di paha bahkai Sprei dibawah tubuh gadis itu. ia menyerahkan semuanya pada Kyu Hyun, kenangan terkahir mereka hingga mereka bertemu suatu saat nanti.

Seo Na segera beranjak mengenakkan pakaiannya yang sudah berserakan dilantai lalu pergi dari Apartement milik Kyu Hyun tanpa membangunkan pria itu, tujuannya saat ini adalah Perusahaannya lalu ia akan bertemu Lee Dong Hae merencanakan kepergiannya bersama pria itu ke negeri sakura, Jepang.

Seo Na tiba di kantor seperti biasanya, sebelumnya gadis itu sudah kembali ke Apartemennya membersihkan diri dan berpakaian dari menuju kantor. Gadis itu langsung memeriksa dokumen-dokumen perusahaannya dan beberapa anak cabang perusahaannya yang berada di Jepang, gadis itu akan memulai pekerjaannya di Jepang nantinya, mengontrol semua kinerja perusahannya dari Jepang. Lagi pula sudah sejak lama gadis itu sudah tidak turun tangan ke anak perusahaannya itu selama ini hanya Yoo Ra-lah yang mondar-mandir mengurusi semua aktifitas perusahaan dan Seo Na selalu memimpin Induk perusahaannya yang berada di Seoul.

“apa kau yakin akan tinggal disana?”. suara Yoo Ra mengagetkan gadis itu, Seo Na mengalihkan pandangannya lalu menatap tajam pada sahabatnya itu. “aku merasa ini terlalu mendadak”. Tambah Yoo Ra kemudian.

Seo Na menghela napasnya, ia berusaha terlihat sedang dalam keadaan baik-baik saja.”aku juga sudah pernah bilang kalau aku ingin memimpin langsung anak perusahaan yang berada di Jepang, kau tidak ingat ya?”.

“memang, tapi saat itu kau mengatakan kau akan ke Jepang setelah membalaskan dendammu pada Kyu Hyun dan ternyata kalian sekarang akan menikah”. Jawab Yoo Ra enteng, gadis itu tidak habis pikir dengan jalan pikiran Seo Na. Ia akan menikah dengan Kyu Hyun dan sekarang Seo Na mengatakan ia ingin ke Jepang tanpa Kyu Hyun.”oh ya benar, apa Kyu Hyun sudah tau?”.

Seo Na menggeleng. “tidak, jangan beri tahu dia. jangan katakan apapun tentang ini ku mohon Yoo Ra”. Gadis itu memohon membuat Yoo Ra bingung. Jadi sebenarnya ada apa dengan Seo Na. Apa yang sudah terjadi di antara mereka. Bahkan Yoo Ra tau tadi malam Seo Na menginap di Apartemen Kyu Hyun dan mereka hanya berdua, Yoo Ra berpikir apa lagi yang dilakukan oleh pria dewasa dan wanita dewasa dalam satu kamar. Hatinya tersenyum geli.

“apa ada masalah?”. Tanya Yoo Ra penasaran, kali ini gadis itu duduk di sofa persis dihadapan Seo Na. Ia menunggu jawaban dari gadis itu. ini aneh, pikirnya.

“aku akan memberi tahumu saat aku tiba di Jepang nanti, dan katakan pada Lee Teuk Oppa untuk membantumu menjaga perusahaan”. Jawab Seo Na, nada gadis itu datar. Ya seperti tidak ada masalah tapi Yoo Ra sudah tau banyak gelagat gadis dihadapannya ini. ia sudah mengenal Seo Na sejak lama.

Yoo Ra mengangguk. “baiklah, tapi aku harap kau segera kembali. Kyu Hyun pasti akan mencemaskanmu saat kau tidak ada kabar”. Timpal Yoo Ra, Seo Na hanya diam tidak berkata – ia atau tidak- untuk menjawab kekhawatiran Yoo Ra.

Seo Na berjalan melewati meja kerjanya lalu duduk disamping Yoo Ra. “ini dokumen yang sudah ku persiapkan, aku harap kau menjaga dengan baik dan memimpin dengan baik perusahaan ini aku tau kau lebih pintar dari ku Yoo”. Yoo Ra tersenyum mendengar permintaan sahabatnya itu, ya sekarang ia tau Seo Na memang sedang menyembunyikan sesuatu, dan Yoo Ra akan mencari tahu sebelum gadis itu berangkat ke Jepang dua hari lagi.

~~~000~~~

Dong Hae masuk kedalam ruang kerja gadis itu, berbalut pakaian formal membuat pria itu terlihat sangat tampan, dua kancing atas kemejanya ia biarkan terbuka ditambah rambutnya yang hitam legam terlihat berantakan menambah kesan seksi seorang CEO, Lee Dong Hae. Pria itu tersenyum kearah Seo Na yang kini menyambutnya dengan senyum yang tidak bisa pria itu artikan.

“sudah lama menunggu, Na-ya?”. ujar pria itu. sambil mengambil posisi duduk persis dihadapan gadis itu. kantor Seo Na yang begitu luas dan dinding kaca yang besar menambah kesan seorang Park Seo Na yang mewah dan elegan di dalam ruangan itu.

Seo Na menggelang. “Tidak, aku juga baru saja selesai menyiapkan dokumen perusahaan. Apa kau ingin minum?”. Tawar Seo Na. Dong Hae menggeleng dan kali ini pria itu mengeluarkan kertas dari dalam sakunya.

“sebuah rumah yang tidak begitu mewah, dan lingkungan yang tenang. Jaraknya tidak jauh dari anak perusahaanmu yang berada di Osaka”. Jelas Dong Hae singkat, memperhatikan tangan Seo Na yang mengambil kertas ditangannya.

“terimakasih Dong Hae-ssi, kau mempersiapkan semua ini untukku. harus dengan apa aku mebalasnya?”. Mata Seo Na berkaca-kaca. Dong Hae tak tau alasan mengapa gadis itu kini bersedih, ya mungkin saja karena Seo Na akan meninggalkan pria yang ia cintai dan hidup di Jepang untuk waktu yang sangat lama.

Dong Hae mendekat kearah Seo Na duduk disamping gadis itu lalu menarik Seo Na kedalam pelukannya. “aku melakukannya untukmu Na-ya, bukan untuk pria itu. karena aku mencintaimu”. Tukas pria itu, tubuh Seo Na bergetar karena menahan tangis. Hanya Dong Hae yang bisa membantunya saat ini, hanya Dong Hae yang bisa membawanya menjauh dari Kyu Hyun. Semua ini demi keselamatan Kyu Hyun, Seo Na tidak ingin Kyu Hyun terluka sedikitpun.

“apa kau lapar? Kau semakin kurus Na-ya. kita perlu makan siang bersama”. Saran Dong Hae akhirnya membuat Seo Na melepas pelukan pria itu dan menatap Dong Hae penuh senyum meskipun air mata gadis itu masih mengalir dipipinya. “jangan menangis Nona Park, itu membuat usiamu bertambah sepuluh tahun”. Canda Dong Hae sukses membuat gadis itu merona, tangannya kini memukul lengan Dong Hae membuat pria itu ikut tertawa.

Seo Na mengangguk. “baiklah, aku juga sangat lapar”. Jawab Seo Na akhirnya.

Seo Na dan Dong Hae keluar dari ruangannya bersama. Seo Na berjalan cukup canggung disamping pria itu. Tubuh pria itu memang tak setinggi Kyu Hyun, Seo Na tidak perlu mengadah untuk menatap Dong Hae karena bantuan hightheels nya. Namun langkah kaki Seo Na terhenti ketika dari kejauhan matanya menangkap sosok Cho Kyu Hyun yang berjalan kearah mereka berdua, Seo Na terkejut begitu juga dengan Dong Hae mereka saling bertatapan sebelum akhirnya pikiran gadis itu memintanya untuk mencium bibir Dong Hae saat ini, tanpa aba-aba Seo Na menarik tengkuk Dong Hae dan mencium pria itu dihadapan Kyu Hyun yang jaraknya kini tidak terlalu jauh dari mereka berdua. Yang Seo Na dengar setelah itu hanya pukulan cukup keras membuat Dong Hae yang baru saja berciuman dengannya terhuyung ke lantai.

~~~000~~~

Kini diruangan itu hanya mereka berdua, setelah melayangkan pukulan pada Dong Hae, Kyu Hyun menarik gadis itu kedalam ruangannya membuat semua pegawai Seo Na menatap kejadian itu takjub, terheran-heran dan juga ngeri. Tatapan Kyu Hyun kini tidak lepas dari wajah Seo Na yang berdiri kaku dihadapannya, gadis itu menunduk tidak menatap Kyu Hyun sedikitpun.

“kenapa kau melakukan itu Park Seo Na-ssi?”. Tanya pria itu, suara Kyu Hyun begitu rendah dan sangat menuntut membuat Seo Na menatap mata pria itu. Rahang Kyu Hyun yang tegas terlihat mengeras ditambah tatapan Kyu Hyun yang membuat Seo Na takut tapi gadis itu tetap menantang dan menatapnya.

“karena aku ingin”. Jawab Seo Na sombong, membuat Kyu Hyun mengerang pria itu menarik rambutnya sendiri dan menjauhkan dirinya dari Seo Na.

Apa yang Seo Na lakukan adalah untuk membuat Kyu Hyun membencinya, ia ingin Kyu Hyun membenci dirinya sehingga saat ia pergi nanti Kyu Hyun tak merasa kehilangan dan ia bisa pergi dengan tenang meninggalkan pria itu.

“apa yang ada didalam kepala kecilmu itu? apa yang sedang kau pikirkankan?! Apa yang sedang kau rencanakan Park Seo Na?!”. Kyu Hyun berteriak, membuat sisi Seo Na yang angkuh itu berubah lemah didalam batinnya. Seo Na diam. Ia tidak menjawab kali ini masih menatap mata Kyu Hyun namun tatapannya lebih kepada kesedihan.

Seo Na ingin menjawab bahwa ia seperti ini untuk melindungi Kyu Hyun, bahwa ia seperti ini agar Kyu Hyun bahagia dan ia harus rela jika Kyu Hyun membencinya. “yang ada dipikiranku hanya kebencian, aku membencimu. Aku sangat membencimu. Aku ingin kau terluka, aku ingin kau menderita dan aku tidak ingin hidup denganmu!”. Suara gadis itu terdengar meninggi, ia menahan tangisnya. Saat ini ingin sekali ia menjelaskan semuanya pada Kyu Hyun. Dan…

PRANG!

Kyu Hyun melempar vas bunga dari kaca kelantai, membuat Seo Na terkejut gadis itu bergetar menahan ketakutannya. Ia melihat kaca berserakkan dimana-mana dan dengan hati-hati ia menatap Kyu Hyun, pria itu menangis namun tak bersuara sedikitpun ia menatap Seo Na dengan napas yang memburu dan mata yang memerah. Seo Na ingin sekali memeluk pria itu saat ini. bahkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh percintaannya dengan Kyu Hyun tadi malam belum hilang, disekujur tubuhnya masih ada bekas akibat percintaan mereka dan kini ia menatap Kyu Hyun seperti orang asing.

Seo Na memungut beling-beling kaca disekitarnya, mengambil satu persatu tanpa mendengarkan permintaan Kyu Hyun agar gadis itu tidak memungut kaca-kaca yang bserserakkan dilantai dan pada akhirnya gadis itu mengerang kesakitan ketika seperihan kaca menancap pada jarinya.

“Bodoh!”. Kyu Hyun menarik Seo Na menjauh dari serpihan kaca itu, melempar gadis itu kesofa dan duduk disana sambil memperhatikan luka Seo Na.

Seo Na hanya terdiam, memperhatikan Kyu Hyun yang kini sedang membersihkan lukanya. Ingin sekali ia menangis, ingin sekali ia mengatakan jika ia lebih sakit melihat keadaan Kyu Hyun yang seperti ini tapi gadis itu menahannya. Kyu Hyun berhasil menyingkirkan kaca ditangan Seo Na mengisap jari gadis itu dengan mulutnya lalu melepas dasinya dan ia ikatkan pada jari gadis itu.

“kau mengatakan kau tidak ingin hidup denganku, sedetik setelah kau mengatakkannya kau bahkan tidak bisa berhati-hati dan hidup dengan baik. bagaimana aku bisa memastikan kau baik-baik saja saat aku tidak ada?”. Nada suara Kyu Hyun begitu lembut, tidak lagi penuh emosi tatapannya juga tidak bisa diartikan oleh Seo Na gadis itu hanya menatapnya tanpa berkata apapun.

“Hiduplah dengan baik Park Seo Na, jangan lakukan apapun yang membuat dirimu terluka. Aku akan melepasmu. Maafkan aku atas semua kebencian yang sudah kutanamkan pada hatimu. Setelah ini kau bebas Na-ya”. rasanya hati Seo Na begitu hancur, ia ingin sekali menahan Kyu Hyun disisinya tapi yang bisa ia lakukan sekarang hanya melihat punggung pria itu berlalu setelah Kyu Hyun mengecup keningnya dalam. Ya, Seo Na akan pastikan Kyu Hyun bahagia. Mungkin.

~~~000~~~

Seo Na berjalan melewati Yoo Ra yang kini tengah memperhatikannya. Yoo Ra melihat kejadian itu dikantor dua hari yang lalu dan ia juga sempat menguping pertengkaran Kyu Hyun dan Seo Na saat itu. bahwa Seo Na sangat membenci Kyu Hyun dan ia tidak ingin hidup dengan pria itu. tapi yang Yoo Ra lihat saat ini hanyalah Seo Na yang begitu berbeda, Seo Na dengan raut wajah kesedihannya membuat Yoo ra bertanya apa yang sebenarnya terjadi? Jika memang Seo Na membenci Kyu Hyun kenapa gadis itu tidak terlihat bahagia ketika Kyu Hyun meninggalkannya dan kenapa Seo Na mendadak ingin tinggal di Jepang dan Sore ini adalah waktu keberangkatan gadis itu ke Jepang.

“Na-ya, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau tidak akan menceritakkannya padaku?”. Tanya Yoo Ra, gadis itu menatap Seo Na yang sejak tadi sibuk dengan kopernya.

Seo Na hanya menatap Yoo Ra sebentar. “aku menitipkan Apartemenku padamu, mungkin aku akan kembali tahun depan atau dua tahun lagi. Aku tau kau sangat peduli dengan Apartmenku ini”. Ujar Seo Na tidak sesuai dengan pertanyaan yang di ajukan Yoo Ra padanya.

Yoo Ra gemas. Gadis itu memukul kepala Seo Na. “jangan bohong dan pura-pura didepanku, memangnya aku ini orang lain? Aku sudah hidup denganmu sejak kita masih kecil dan sekarang kau menyembunyikan sesuatu padaku!”. Yoo Ra berteriak kesal tidak peduli tatapan heran Seo Na padanya. Gadis itu kini berdiri dihadapannya.

“kenapa kau selalu curiga padaku? Memangnya aku tidak boleh punya rahasia?”. Jawab Seo Na seadanya dan kembali melanjutkan kesibukknya, membuat Yoo Ra menghembuskan napasnya kasar lalu Seo Na berlalu menuju kamarnya namun gadis itu menjatuhkan kertas yang terselip di saku celanya dengan sigap Yoo Ra mengambil itu dilantai dan membacanya tanpa sepengetahuan Seo Na, betapa terkejutnya gadis itu membaca isi dari kertas yang berada ditangannya itu. jadi ini yang menjadi alasan kenapa Seo Na mencium Dong Hae, pertengkarannya dengan Kyu Hyun dan mendadak ingin meninggalkan Seoul. Dengan segera Yoo Ra beranjak dari tempat itu, ia tau siapa yang ia akan hubungi sekarang.

~~~000~~~

Keduanya saling bertatatapan, namun tatapan Kyu Hyun lebih kepada rasa kebencian sedangkan pria dihadapannya ini hanya tersenyum kaku penuh arti membuat Kyu Hyun semakin geram kepadanya. Bertahun-tahun mereka bersahabat dan sekarang persahabatan mereka hancur karena seorang wanita dan Dong Hae akan menyelesaikan semua ini hari ini.
“jadi untuk apa kau kemari?”. Tanya Kyu Hyun dingin, pria itu menatap tajam kearah Dong Hae.

Dong Hae melempar tiket pesawat kearah Kyu Hyun, pria itu mengambilnya. “itu tiket keberangkatan Seo Na ke Jepang sore ini”. jawab Dong Hae, membuat mata Kyu Hyun membesar menatap Dong Hae masih tak mengerti. Seo Na ke Jepang?. “ia memintaku untuk membantunya menghilang darimu. Karena ia tak ingin membuatmu terluka”. Tambah Dong Hae, dan itu hanya membuat Kyu Hyun semakin tidak mengerti.

“jelaskan dengan rinci Hyung, aku sedang tidak ingin bercanda”. Ujar pria itu dingin, matanya menyipit kearah Dong Hae.

Dong Hae tersenyum kaku. “orang yang menembaknya, orang yang menculiknya adalah orang yang menyuruh Seo Na untuk meninggalkanmu, dan meninggalkan Seoul sejauh mungkin. Jika tidak, orang itu akan membunuhmu dan kau tau Seo Na tidak ingin itu terjadi dan melakukan semuanya demi keselamatanmu. Dibanding kan kau Cho Kyu Hyun, Seo Na lebih takut kehilanganmu”. Jelas Dong Hae panjang lebar, membuat Kyu Hyun mendesah berat. Pria itu memutar otaknya, jadi karena itu Seo Na mencium Dong Hae dihadapan Kyuhyun? Dan karena itu juga Seo Na mengatakan jika ia membenci Kyu Hyun?

“jangan katakan apapun jika aku yang memberi tahumu, aku ingin kau segera menyusulnya sebelum terlambat”. Ujar Dong Hae sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Kyu Hyun tapi kini langkahnya terhenti ketika pertanyaan Kyu Hyun mengarah padanya.

“kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa tidak kau rebut saja dia dariku?”. Dan itu membuat Dong Hae tersenyum.
Ia membalikkan badannya dan menatap kearah Kyu Hyun. “karena aku mencintainya, karena aku tidak ingin melihat orang yang ku cintai terluka. Sedikitpun”. Ujar Dong Hae sebelum akhirnya benar-benar berlalu. Rasanya benar-benar tenang pada jiwa pria itu, ia merelakan orang yang ia cintai demi kebahagiaan orang itu. mencintai Seo Na adalah murni bukan obsesi ingin memiliki.

~~~000~~~

“ya, aku sudah tau Yoo Ra-ssi, aku akan ke Apartemen Seo Na sekarang”. Ujar Kyu Hyun pada Yoo Ra disambungan teleponnya. Tujuan Kyu Hyun saat ini hanya satu memeluk Seo Na didalam dekapannya dan tidak akan pernah lagi melepaskan Seo Na meskipun gadis itu mengatakan jika ia sangat membenci Kyu Hyun. Tidak akan lagi.
Kyu Hyun sampai didepan pintu Apartemen Seo Na, membukanya perlahan dan tentu saja gadis itu masih tidak mengganti password keamanan rumahnya. Kyu Hyun masuk dan mendapati Seo Na kini berdiri dengan koper ditangannya. Gadis itu sudah siap pergi ternyata, pikir Kyu Hyun. Kehadirannya membuat gadis dihadapannya itu terkejut, Seo Na dengan refleks melepas pegangannya pada koper lalu menatap kearah Kyu Hyun, tatapan gadis itu penuh kebingungan.

“pergi ke Jepang untuk melarikan diri dariku? Sehebat apa kau hingga berpikir kau bisa menyelamatkan nyawaku? Kau tau Park Seo Na, saat aku kecil aku hampir mati karena sebuah mobil menabrakku tapi aku selamat karena Tuhan sedang tidak menginginkanku dan sekarang betapa hebatnya gadis dihadapanku ini hingga ia rela mengorbankan perasaanya demi nyawaku”. Ujar Kyu Hyun dingin, masih menatap Seo Na dengan jarak yang tidak terlalu dekat namun ia masih bisa dengan jelas menatap mata hitam Seo Na yang menahan ketakutan.

“siapa yang memberi tahumu?”. Tanya gadis itu tergagap, Seo Na menatap dengan ketakutan diwajahnya, membuat Kyu Hyun ingin segera menarik gadis itu kedalam pelukannya, mencium bibir gadis itu yang kini tengah bergetar lalu menyeretnya ke ranjang dan menghabiskan waktu untuk bercinta dengan gadisnya.

“apa kau perlu tahu? Sayang sekali, ternyata Seo Na yang begitu keras kepala harus menerima jika rahasianya terbongkor. Jika kau memiliki rahasia jangan katakan pada siapapun karena itu hanya membuatmu harus menerima kenyataan yang seperti ini”. tambah Kyu Hyun, pria itu mendekat kearah Seo Na, namun Seo Na melangkah mundur gadis itu menggeleng.

“Kyu Hyun jangan mendekat! Aku membencimu!”. Seo Na berteriak histeris, ia ingin sekali memaki dirinya sendiri, ia gagal menyelamatkan orang yang ia sayangi bagaimana jika orang yang berniat mencelakai Kyu Hyun benar-benar membunuh pria yang dicintainya itu?

Kyu Hyun semakin mendekat kearah Seo Na tidak peduli jika gadis itu berteriak dan kini air mata memenuhi pipi Seo Na, lagi-lagi Seo Na menangis untuk kebodohannya, pikir Kyu Hyun. Seo Na tersudut di dinding kali ini ia tidak bisa kemana-mana lagi. “Kyu Hyun kau tak tau betapa kejamnya orang itu dan kau akan mati Kyu Hyun, aku tak ingin kehilanganmu kumohon”. Seo Na memohon dengan isakan tangisnya yang begitu memilukan.

Kyu Hyun menangkupkan tangannya diwajah Seo Na lalu menghapus air mata gadis itu dengan Ibu jarinya. “aku akan baik-baik saja Park Seo Na, jika kau berada disampingku. Aku tidak akan mati, justru ketidak adaanmu disampingku yang membuatku serasa seperti mayat hidup, kau tau betapa tersiksanya aku ketika aku melepaskanmu dua hari yang lalu itu sama seperti aku menyerahkan nyawaku padamu”. Ujar Kyu Hyun membuat Seo Na menghentikan tangisnya dan menatap dalam mata Kyu Hyun.

“aku mencintaimu, sangat. jika kau mengatakan kau membenciku aku tidak peduli karena aku tetap mencintaimu, dan jangan pernah berpikir untuk kabur dariku karena itu sama dengan kau membunuhku”. Tambah Kyu Hyun, membuat Seo Na kambali menangis.

“aku hanya ingin melindungimu, aku tidak ingin kau terluka karena orang-orang yang membenciku”. Suara gadis itu putus-putus, ia hanya ingin menjadi pelindung Kyu Hyun, ia hanya tidak ingin Kyu Hyun terluka sesederhana itu hingga ia berpikir untuk meninggalkan Kyu Hyun.

Kyu Hyun tersenyum, dengan lembut pria itu mencium bibir gadisnya merasakan air mata Seo Na disela ciuman mereka, asin dan manis. lembut dan sangat memabukkan. “kau tau Na-ya, dengan hanya merasakan bibirmu aku ingin segera bercinta dan menghabiskan hari hanya berdua denganmu sayang”. Ucapan itu sukses membuat gadis dihadapannya ini menegang, pipi Seo Na memerah ia merasakan tubunya meremang ketika Kyu Hyun mengangkatnya dan menjatuhkannya diranjang, dan ia tau kegiatan apa yang akan mereka lakukan setelah itu.

~~~000~~~

Eun Hyuk menatap nanar gadis dihadapannya ini, ia tidak habis pikir kenapa Jae Eun berubah menjadi gadis liar dan dingin seperti sekarang. Gadis dihadapannya itu tidak pernah lagi mendengar kata-katanya bahkan dengan lantangnya Jae Eun mengatakan rencana piciknya untuk Seo Na gadis itu menatap Eun Hyuk, menantang tatapan pria itu membuat pria dihadapannya itu mengerang prustasi.

“kau bukan Jae Eun-ku yang dulu!”. Teriak Eun Hyuk, gadis itu masih menatapnya tapi tatapannya kini berubah menjadi tatapan kesedihan. “kau mencelakai orang yang bahkan tidak tau apa-apa!”. tambah pria itu.

Gadis itu hanya tersenyum sinis, matanya menyipit. “tidak tau apa-apa katamu? Ia sudah melemparku dari perusahaannya dan ia sudahmembuat hidupku menderita dan ia juga sudah merebutmu dariku!”.

“ia tidak pernah merebutku dari siapapun!”. Nada bicara Eun Hyuk semakin meninggi mengalahkan teriakkan gadis dihadapannya ini. ya , Jae Eun memang sangat cemburu dengan kehidupan Seo Na sehingga akhirnya ia bertemu dengan Eun Hyuk yang juga berniat menghancurkan gadis itu tapi pada kenyataannya Eun Hyuk malah menyukai Seo Na dan meninggalkan Jae Eun dalam kebenciannya sendiri, itu yang membuat Jae Eun berubah saat ini. “kau, karena cemburumu yang tidak menentu itu kau malah membuat hidup orang lain terluka? Kau tau, jika kau seperti ini kau tidak lebih baik dari Seo Na”.

Jae Eun menangis, gadis itu rubuh ditempatnya kini ia terduduk dilantai dan menangis sejadi-jadinya, sejujurnya ia juga lelah tapi kebenciannya mengalahkan akal sehat gadis itu. “aku membencinya karena ia selalu bahagia diatas penderitaanku”. Ujar gadis itu akhirnya dengan isakkan yang tersedat-sedat.

Eun Hyuk berjongkok menarik tubuh Jae Eun kedalam pelukannya, ia juga mengakui jika dirinya juga bersalah seharusnya ia melihat kearah gadis didalam pelukannya saat ini, seharusnya ia menganggap lebih dan mencoba mencintai gadis ini maka Jae Eun tak akan berubah seperti sekarang. “kita akan menikah, aku dan kau akan menikah secepatnya Jae-ya, aku akan membuatmu bahagia”. Ucap Eun Hyuk akhirnya membuat gadis dihadapannya saat ini menatapnya terkejut, Jae Eun menatap bingung sebelum akhirnya sebuah kecupan ringan singgah di kening gadis itu.

“berjanjilah untuk tidak melakukan kejahatan apapun lagi Jae-ya, dan minta maaflah pada gadis itu”. tambah Eun Hyuk, dan kini ia meninggalkan ruang dihatinya untuk seseorang yang sempat ingin ia miliki, Park Seo Na gadis yang pernah ia cintai, hingga sekarang.

~~~000~~~

next five months…

Ini adalah bulan kelima kandungan Seo Na, gadis itu harus selalu berada dirumah dan tidak kemana-mana tanpa suaminya Cho Kyu Hyun. Sejak kejadian saat itu Kyu Hyun segera menikahi Seo Na dengan pesta luar biasa mengalahkan pernikahan pangeran inggris pada masanya. Keduanya bahagia menjalani hari-hari dengan normal tanpa gangguan apapun ditambah lagi masalah Seo Na yang terselesaikan karena gadis yang menganggu kehidupan Seo Na meminta maaf padanya dan juga berencana akan menikah dengan seorang pria yang tak sempat mengutarakan cintanya pada Seo Na, ya pria itu Eun Hyuk.

Seo Na bahagia, ditambah pria yang selalu menemani hari-harinya, wajah yang selalu ia tatap setiap pagi. Wajah tampan pria itu dengan bertelanjang dada, rambutnya yang berantakkan dan mulutnya yang sedikit terbuka, ia menemukan sisi lain dari CEO Cho Kyu Hyun, pria yang selalu melarangnya bekerja karena takut kandungan Seo Na yang lemah dan itu juga yang menjadi alasan kenapa Seo Na tak bekerja lagi diperusahaannya karena Kyu Hyun sudah memimpin dengan baik perusahaan itu.

Dan Seo Na tidak akan melupakan satu orang, pria yang sempat ia cintai juga, pria yang memutuskan untuk meninggalkan Seoul beberapa bulan yang lalu, Lee Dong Hae.

“Seo Na, jangan berlama-lama diluar jika itu hanya akan membuat anakku mati kedinginan”. Suara Kyu Hyun sukses membuat gadis itu tersadar dari lamunannya, lalu menatap Kyu Hyun dengan menyipitkan kedua matanya. “jangan menatapku garang Nyonya Cho, aku juga mengkhawatirkan kesehatanmu”. Kyu Hyun terkekeh, ia mengalungkan tangannya di leher Seo Na sebelum beralih mengelus perut buncit istrinya.

“kau sangat menyukai anakmu ya?”. ujar Seo Na cemburu, wanita itu menatap tajam kearah Kyu Hyun.
Kyu Hyun tersenyum. “tentu saja, aku sudah susah payah membuatnya”.

“aku juga ikut membuatnya!”. Bentak Seo Na, Kyu Hyun tertawa lebar membuat wajah istrinya memerah, seharusnya Seo Na tidak berkata seperti itu hanya membuat dirinya menjadi bahan tawaan Kyu Hyun.

“ya kau juga ikut membuatnya, sangat panas dan ketat”. Bisik Kyu Hyun tiba-tiba ditelinga wanita itu.membuat wajah Seo Na lagi-lagi memerah ditambah jilatan lidah pria itu ditelinganya, ya sejak menginjak usia kandungannya ke lima bulan, Seo Na sangat menyukai bercinta dengan Kyu Hyun beda ketika ia mengalami usia kandungan satu bulan ia sama sekali tidak ingin disentuh pria itu.

“Kyu Hyun kau…”

“aku suka menggoda wanita buncit yang liar diatas ranjang”. Dan selanjutnya Kyu Hyun merasakan bibirnya yang dilumat kasar oleh istrinya, ia tersenyum penuh kemenangan, jika efek wanita hamil sangat menyenangkan seperti ini ia akan membuat Seo Na hamil lagi setelah istrinya melahirkan.

THE END

Park Seo Na Diary’s (Liana Park)

Standard

“nothing something better without you… KyuHae” – Park Seo Na

 

large_2

 

 

 

Hallo...

 

 

kali ini saya mau mengupas kehidupan pribadi Park Seo Na, siapa Park Seo Na kenapa saya menjadikan Seo Na sebagai karakter wanita yang selalu menjadi barang rebutan Kyu Hyun dan Dong Hae. sebenarnya simpel saja,  Seo Na karakter yang saya maksud tidak jauh dari karakter dingin, angkuh, keras kepala, egois, dan sebenarnya sangat butuh perhatian dan manja.

 

 

Ya, dari beberapa karya saya yang udah saya Posting terlihat sekali bagaimana karakter Seo Na, cara gadis itu memperlakukan Kyu Hyun maupun Dong Hae atau Cast pendukung lainnya. Ya, Park Seo Na memang gadis imajinasi saya. kalau saya jadi laki-laki mungkin saya bakal cari perempuan yang karakter nya mirip dengan Park Seo Na ini. hehehe

 

 

So… Let’s Talk About Park Seo Na (Liana Park)

 

large_2

 

 

Ini dia, wajah dari Park Seo Na. Saya memakai karakter Ulzzang Park Hye Min (Pony) model majalah kecantikan asal Korea Selatan. kenapa saya memilih Park Hye Min, karena didalam imajinasi saya Park Seo Na wajahnya tidak jauh dari karakter Park Hye Min. wajahnya manis, cantik, tidak membosankan namun tetap terkesan sederhana. kesan Ulzzang-nya tidak berlebihan jadi saya rasa Park Hye Min pantas menjadi karakter Park Seo Na.

 

 

Name : Park Seo Na
English name : Liana Park
22 september 1991
Korean and Spain

 

 

Park Seo Na Fact’s (All About Liana Park) :

 

 

1. Lahir di Seoul, Korea selatan. memiliki darah Spain dari keluarga Ayahnya.

2. Seo Na menyukai Pantai, ia lebih suka ke Pantai dari pada kepegunungan.

3. Kota impiannya adalaha Verona, kota asal Juliete.

4. Film Favoritenya adalah Titanic.

5. Aktor favoritenya Tom cruise dan Leonardo d’caprio

6. ia menyukai warna putih.

7. Penulis Favorite , E L James.

 

 

and this Seo Na Picture…

 

 

 

237ed131012f3c5499039b04f53d9c68

superthumb_2

 

 

 

Author :

Annisadicthee

 

 

 

 

 

 

REVENGE BEFORE LOVE (6/?)

Standard

hh

 

REVENGE BEFORE LOVE (6/?)

 

Action, Romance. PG + 17
Cast :
Cho Kyu Hyun
Lee Dong Hae
Park Seo Na

 

 

 

Eun Hyuk melangkah maju masuk menuju rumah besar milik kleuarga Cho, ada yang terasa sesak didada pria itu saat ini mengingat Seo Na yang terbaring lemah didalam sana dan gadis itu yang akhirnya berakhir dirumah Kyu Hyun, pria yang mungkin saja akan memenangkan hati Seo Na. Bagaimana dengan dirinya? Bukankah ia menginginkan gadis itu? ini bukan lagi tentang obsesinya terhadapa perusahaan Seo Na dan kehancuran gadis itu tapi terlebih kepada ia menadambakan sosok misterus gadis itu, sosok yang selama ini ia benci dan gadis yang membuat pikirannya terisi penuh.
“Apa kau mencari Seo Na?”. Suara Ahra muncul dari arah belakangnya, Eun Hyuk sedikit kaget ia langsung sedikit menunduk kearah wanita itu. “ternyata benar, silahkan masuk”. Ucap Ahra ramah, sambil menuntut anaknya melewati Eun Hyuk dan diikuti pria itu dari belakang.
“Seo Na sudah membaik, ia hanya butuh istirahat dan ketika pulang dari rumah sakit Kyu Hyun adikku langsung membawanya kemari mengingat Seo Na hanya tinggal sendiri di Apartemennya tanpa ada yang mengurusnya disana”. jelas Ahra panjang lebar, Eun Hyuk mengangguk mengerti dibelakangnya.
“aku sangat khawatir saat ia mengatakan ia baru saja pulang dari rumah sakit, gadis itu tak bosan-bosannya mendapat teror. Aku benar-benar mengkhawatirkannya Nunna”. Ucap pria itu, dari setiap kata-kata yang keluar dari mulut Eun Hyuk tersirat betapa pria itu sangat mengkhawatirkan Seo Na dan Ahra tau itu.
Wanita itu berhenti, ia tersenyum lalu menatap Eun Hyuk disampingnya. “kau menyukai Seo Na, Eun Hyuk-ssi?”. tanya Ahra tanpa peduli pada wajah Eun Hyuk yang merah padam akibat pertanyaan wanita itu. Ahra tersenyum, begitu banyak pria yang menginginkan calon adik iparnya dan yang ia tau itu adalah kendala bagi Kyu Hyun namun Ahra tidak akan ikut campur dalam urusan ini, ia ingin adiknya berusaha dan memenangkan hati Seo Na.
“kau tidak perlu menjawabnya, kau hanya perlu berusaha dan mendapatkan apa yang kau inginkan, tentunya dengan cara yang baik tanpa melukai orang lain dan dirimu. Kau tau maksudku kan?”. Wanita itu begitu lembut, dari cara ia menasehati Eun Hyuk pria itu bahwa maksud Ahra adalah baik.
“aku akan berusaha dan memenangkan hatinya untukku”. ujar pria itu dengan senyum yang tak tertahan dibibirnya.
~~~000~~~
“Eun Hyuk-ssi?”. Seo Na menatap pria yang kini berdiri dibelakang Ahra. Pria itu tampak tersenyum kearahnya namun senyum itu tak bertahan lama karena ia melihat sosok jakung persis berdiri tak jauh dari ranjang Seo Na, sedang memegang gelas dan beberapa obat diatas nakas.
“aku akan meninggalkan kalian”. Ujar kakak kandung Kyu Hyun itu, sebelum akhirnya meninggalkan kamar Seo Na dengan dua orang pria didalam sana. Ahra terkekeh geli melihat ekspresi kedua pria yang menggilai Seo Na itu, itu benar-benar menyenangkan pikir wanita itu.
“apa aku mengganggu?”. Eun Hyuk menatao gadis yang tengah menatapnya itu dari ranjang dengan perban dikakinya. “kau baik-baik saja?”.
Seo Na sedikit melirik kearah Kyu Hyun yang tampak jengkel mendengar pertanyaan Eun Hyuk padanya, sebelum akhirnya ia memfokuskan diri pada pria yang kini tampak cemas menatapnya. “aku sudah tidak merasakan sakit lagi Eun Hyuk-ssi. kau tidak mengganggu sama sekali. Kyu Hyun akan segera keluar”. Jelas Seo Na sebelum matanya memberi isarat pada Kyu Hyun agar pria itu keluar dari kamarnya.
“kau harus minum obat lalu aku akan pergi”. Ucap Kyu Hyun ketus, Kyu Hyun tampak tak berminat pada situasi seperti ini.
“aku akan memberikan obat itu padanya Kyu Hyun-ssi”. tandas Eun Hyuk tanpa peduli pada ekspresi keras Kyu Hyun. Ya Kyu Hyun saat ini sedang di sulut api cemburu dan ditambah lagi pria yang berada di hadapannya itu menawarkan diri untuk memberikan obat yang berada ditangannya pada Seo Na.
“ya, aku ingin dia yang memberikannya. Jadi ku mohon beri aku waktu untuk berbicara dengan rekanku”. Seo Na memohon, gadis itu tampak mulai kesal dengan sikap protektif Kyu Hyun yang tak berasalan, lagi pula ia juga ingin berbicara banyak pada Eun Hyuk.
“terserah kau saja”. Kyu Hyun berlalu, sambil sedikit melempar nakas kearah meja yang tidak terlalu jauh dari jangkuannya. Pria itu pergi meninggalkan Seo Na dan Eun Hyuk dikamarnya. Sekali lagi, hanya berdua saja. itu membuat kepala Kyu Hyun memenas. Setelah ini ia benar-benar harus mempersiapkan acara pesta pernikahannya, memiliki gadis itu seutuhnya tanpa ada gangguan pria manapun.
~~~000~~~
“ia tampak sangat cemburu, aku bisa melihat dari sorot matanya padaku”. Eun Hyuk terkekeh, dan gadis dihadapannya saat ini juga ikut tertawa bersamanya.
“dia terlalu percaya diri”. Ujar Seo Na tak peduli, gadis itu kini berhenti tertawa dan menatap Eun Hyuk dengan heran. “apa tidak ada pekerjaan sehingga kau kemari?”. Tanya gadis itu, Eun Hyuk sedikit menaikkan alisnya. Ya, yang ia lihat saat ini Seo Na peduli dengan orang disekitarnya, tidak seperti pertama kali ia bertemu gadis ini. Seo Na yang angkuh, sombong dan tak mau peduli dengan orang lain. Termasuk dirinya.
“aku menyempatkan diri kemari, untuk melihat temanku. Lagi pula ini pertama kalinya kita bertemu semenjak makan malam saat itu”. Eun Hyuk terdiam sejenak, menatap mata tenang milik Seo Na. Gadis itu tampak normal saat seperti ini tapi Eun Hyuk tau bagaimana perasaan Seo Na menerima setiap ancaman diluar sana, hingga gadis itu terluka. Dan satu-satunya yang Eun Hyuk tau ancaman terbesar Seo Na adalah obsesi berlebihan Jae Eun, gadis kepercayaannya. “kau tidak apaa-apa? aku mencemaskanmu, Seo Na-ssi”.
Seo Na tersenyum. “aku membuat banyak orang mencemaskanku, dan termasuk kau. Padahal ini hanya luka biasa. Bahkan aku menerima luka tembakan di bagian lenganku”. Seo Na menjelaskan dengan enteng sambil menunjuk-nunjuk bekas luka tembakan yang tertutup oleh bajunya. Tapi lain dengan ekspresi pria dihadapannya ini. Eun Hyuk merasa menyesal. Ia ingin menyelamatkan gadis itu, melindunginya dan mengurungnya dalam penjagaan Eun Hyuk, tapi saat ini Seo Na dalam lingkar hidup Kyu Hyun kan, apa pria itu masih bisa merebutnya?
“aku ingin kau tetap berada dirumah Seo Na-ssi, aku takut jika orang-orang yang membencimu menyakitimu lagi”. Nada bicara pria itu terkesan begitu lembut namun menuntut, tatapannya begitu lekat pada Seo Na yang tengah berbaring, membuat gadis itu sedikit salah tingkah. Seharusnya ia menjaga jarak pada Eun Hyuk.
“itu bukan gaya ku Eun Hyuk-ssi. aku bukan tipe wanita pendiam dan suka berada dirumah, bahkan selama ini aku hidup sendiri dengan gayaku. Kau tau bukan, bagaimana aku bisa memimpin perusahaan seperti itu, karena aku bebas aku ingin sesuatu yang berbeda, bahkan orang-orang disekitar ku membenci sifatku yang seperti itu, tapi aku tak bisa mengubahnya”. Semua kalimat arogan milik Seo Na melucur begitu saja, membuat pria dihadapannya saat ini terkekeh geli. Ternyata Seo Na yang sentimental belum berubah, pikir Eun Hyuk.
“kenapa kau tertawa? Memangnya ada yang lucu?”. Gadis itu melongos kesal.
“tidak-tidak Nona Park. Aku hanya merasa kau begitu sentimental”. Eun Hyuk kembali tertawa, membuat gadis itu mau tak mau terkekeh mendengar pengakuan pria tampan itu. ya ia memang mengakui jika dirinya memang sangat sentimental.

 
~~~000~~~

 
Ahra menatap Kyu Hyun yang tampak gelisah di balkon belakang rumahnya yang langsung menghadap ke taman luas dengan bunga-bunga yang sengaja ditanam oleh keluarga itu. “kesal ya? karena sejak tadi pria itu tidak keluar dari kamar Seo Na”. Tebak Ahra, wanita itu tak akan salah. ia bisa melihat raut wajah Kyu Hyun yang kesal dan tampak gelisah sambil memandangi jam tangannya.
“tidak”. Jawab Kyu Hyun singkat, tak terlalu berminat pada godaan kakaknya itu.
“benarkah? Tapi aku mendengar mereka tertawa bersama”. Ucap Ahra enteng, tanpa memperdulikah wajah Kyu Hyun yang kini tengah menghadap kearahnya. Wanita itu bisa melihat dari ekor matanya.
“kau menguping? Bagaimana kau tau?”. Kyu Hyun tanpa sadar membuat pertanyaan konyol pada kakak kandungnya itu, membuat Seo Na terbahak secara spontan.” Nunna…”. geram Kyu Hyun, pria itu menghelas napasnya lalu menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi yang ia duduki.
“kau cemburu Kyu, dan aku tau kau sangat mencintai Seo Na. Dan kau tau, aku bisa melihat dari mata pria yang sedang berbincang dengan Seo Na saat ini, ia juga tak kalah mengkhawatirkan Seo Na. Dan aku rasa ia juga mencintai gadis itu, tapi mungkin tak sebanyak dirimu”. Jelas wanita itu, menatap Kyu Hyun yang kini tengah balas menatapnya. Mereka hanya berdua, Kyu Hyun dan Ahra. Sejak wanita itu menikah empat tahun yang lalu mereka masih sangat dekat meskipun Kyu Hyun terlihat dingin padanya, tapi Ahra tau persis jika Kyu Hyun sangat mencintai keluarganya.
“kau tidak bisa memeksa seseorang untuk mencintaimu, tapi kau bisa membuatnya jatuh cinta padamu. Yang aku lihat Seo Na mulai memperhatikanmu, dari cara ia menatapnya. Ya aku tau karena aku perempuan, dan dengan mudah aku bisa melihatnya”. Tambah Ahra, gadis itu tersenyum. Menepuk pundak Kyu Hyun.
“Nunna…”. Kyu Hyun berhenti sejenak, lalu menatap Ahra sepenuhnya. “bagaimana jika aku tidak menemui Seo Na dalam waktu beberapa hari, apa dia akan merindukanku?”. Pertanyaan itu membuat Ahra tersenyum lembut kearah Kyu Hyun.
“iya, ia akan sangat merindukanmu, merindukan saat matamu mengintimidasinya dan ia akan rindu saat matanya memakimu”. Ahra terkekeh, tentu saja Seo Na akan merindukan adiknya. Bahkan selama ini yang ada dipikiran Seo Na hanya Kyu Hyun bukan, meski awalnya gadis itu berniat membunuh Kyu Hyun tapi Ahra yakin kini gadis itu tidak lagi membenci adiknya.
“lakukan apa yang menurutmu benar, Kyu”. Ahra beranjak meninggalkan Kyu Hyun yang masih tertegun dengan lamunannya. Ya, ia harus melakukan sesuatu hingga gadis itu mencintainya. Sepenuhnya.

 
~~~000~~~

 
Kyu Hyun masuk kedalam kamar gadis itu setelah Eun Hyuk meninggalkan rumahnya beberapa waktu lalu dan kini waktunya Kyu Hyun menjalankan semua rencana yang sudah ia susun. Mungkin ini berhasil, atau mungkin sebaliknya.
Ia menemukan Seo Na tengah berusaha menyeret kakinya yang masih sedikit ngilu. “kau mau kemana?”. Kyu Hyun mendekat kearah gadis itu berniat membantu Seo Na namun gadis itu menepisnya.
“tidak Kyu, jangan. Aku bisa sendiri”. Seo Na berlalu menuju pintu dan keluar menuju baklon kamarnya.
“keras kepala”. Ujar Kyu Hyun, pria itu mengikuti Seo Na sambil memperhatikan langkah gadis itu jika sewaktu-waktu ia bisa terjatuh kapan saja. “diluar dingin kau bisa sakit, apa kau ingin merepotkan orang banyak? Berhenti menjadi gadis keras kepala Na-ya, setelah menikah kau harus menurutiku, kau mengerti?”.
“Kyu, aku ingin bicara”. Nada bicara Seo Na terdengar tegas. Gadis itu memaksa matanya menatap wajah Kyu Hyun. Meskipun ia tau efeknya sangat tidak baik, tapi ia harus menjelaskan pada pria itu jika semua ini bukan hal yang main-main, ditambah lagi ia kini terperangkap dirumah besar milik keluarga Cho.
“katakan”. Kyu Hyun balas menatap gadis itu, ia menunggu kalimat apa yang akan disampaikan Seo Na padanya.
“tentang rencanamu, dan tentang hubungan kita. Aku bukan bonekamu Cho Kyu Hyun, aku tidak bisa kau paksa seenaknya dan aku tidak ingin mengikuti semua rencana dan perintahmu, dan aku tau aku berhutang budi padamu karena kau menyelamatkan nyawaku tapi itu setimpal dengan apa yang kau lakukan terhadap kakakku dan aku ingin kita segera berpisah, aku tidak mengenalmu dan kau tidak mengenalku. Aku tidak akan mengganggu dan membalas dendamku lagi, kau mengertikan maksudku?”. Pria itu masih menatapnya, Kyu Hyun tak mengubah sedikitpun ekspresi mukanya. Seo Na tampak bingung tapi gadis itu masih tetap ingin meyakinkan Kyu Hyun bahwa ini tidak benar. “jadi aku akan kembali kerumahku esok hari, berhubung kaki ku sudah mulai sembuh, aku harus segera bekerja”.
Kyu Hyun masih terdiam, pria itu masih menatap Seo Na dengan wajah datarnya, tapi sejujurnya hati pria itu bergejolak. Ia tidak akan menyetujui apapun yang diucapkan Seo Na, berpisah dengan Seo Na sama saja dengan kehilangan gadis itu untuk yang kedua kalinya. Tidak akan.
“Kyu, kau mendengarkanku kan. Atau kau…”.
Seo Na terdiam, setelah Kyu Kyu Hyun menarik tenguk gadis itu dan menyatukan bibir mereka. Kyu Hyun melumat bibir gadis itu lembut, namun menuntut. Seo Na awalnya terkejut sebelum akhirnya gadis itu menerima semua perlakuan Kyu Hyun terhadapnya, entah apa yang membuat Seo Na menyerah begitu saja, atau karena bibir pria itu yang melumat bibirnya begitu memabukkan. Jarak mereka semakin dekat, bahkan ciuman yang tadinya begitu lembut kini terasa begitu panas, lidah Kyu Hyun menyusup begitu saja bermain dengan lidah gadis itu didalam mulut Seo Na, gadis itu tak sengaja mengerang merasakan tubuhnya meremang, ditambah tangan Kyu Hyun yang memeluk lembut tubuhnya.
Mereka sama-sama membutuhkan bahkan Seo Na tak dapat memungkiri bahwa Kyu Hyun begitu memabukkan untuknya. Kyu Hyun melepas ciuaman mereka dengan enggan, ia bisa merasakan nafas Seo Na yang terengah-engah dan juga nafasnya yang begitu berhasrat untuk segera mencumbu lebih tubuh gadis itu.
“Na-ya, kau menginginkanku. Aku tau itu”. wajah Seo Na memerah ia tidak berani menatap kilatan mata Kyu Hyun, gadis itu tetap keras kepala menyembunyikan semua kebutuhan dirinya akan Kyu Hyun, Seo Na masih bingung dengan perasaannya sendiri, sekali lagi ia menyadari ia tidak pernah membenci Kyu Hyun, ia hanya takut jatuh cinta pada pria itu.
Kyu Hyun tersenyum, pria itu sedikit geli melihat ekspresi Seo Na, bahkan gadis itu tak berani menatapnya. Kyu Hyun mengangkat dagu gadis itu memaksa Seo Na menatapnya, membuat gadis dihadapannya ini mau tak mau menatapnya.
“aku menunggu sekian lama sayang, sekian lama hingga aku ingin mati saja ketika aku tidak menemukanmu Na-ya”. pria itu mempertemukan kembali bibir mereka, melumat penuh kepemilikan. Kyu Hyun merasa ini adalah waktu yang tepat untuk merencanakan semua rencananya, ia akan membuat gadis itu mencintainya, tanpa memaksa sedikitpun.
Seo Na menikmati setiap cumbuan Kyu Hyun dibibirnya, tidak bisa lagi gadis itu pungkuri. Ia benar-benar pas dalam mencium Seo Na bahkan mereka kini sudah berpindah keatas ranjang sambil pria itu menindih gadisnya, Seo Na benar-benar panas. Ia tidak pernah merasakan sensasi bercinta sebelumnya. Gadis itu kehilangan akal, Kyu Hyun membuatnya benar-benar mabuk. Yang Seo Na inginkan hanya Kyu Hyun.
Kyu Hyun mengangkat kepalanya sedikit menjauh dari Seo Na menatap gadis yang tengah berada dibawah tindihannya. Kyu Hyun ingin sekali menyelesaikan permainannya dengan Seo Na diranjang ini tapi pria itu tidak boleh lebih jauh, ia belum memiliki gadis itu seutuhnya.
Keduanya terengah-engah, Kyu Hyun dapat melihat dada Seo Na yang turun naik dan mata gadis itu yang tampak bersinar di bawahnya. “maaf kan aku Na-ya, tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Aku berjanji”. Seo Na menatap redup pria itu, merasakan setiap kalimat itu menyengat pikirannya. Selamanya, apa ia akan terjebak didalam permainannya sendiri?
~~~000~~~
Sudah tiga hari sejak kejadian itu, ia dan Kyu Hyun tak pernah lagi bertemu. Ahra bilang Kyu Hyun sibuk dengan perusahaanya dan Seo Na mengerti akan hal itu lagi pula perusahaan mereka bergerak dibidang yang sama, dan keduanya memiliki hubungan kerja yang sangat berpengaruh jadi Seo Na tidak heran jika pria itu benar-benar sibuk hanya saja ada sesuatu yang kosong dihari-harinya ketika ia tak menemukan Kyu Hyun yang menatap dingin kepadanya atau sapaannya yang begitu menengkan, meski selama ini Seo Na selalu bersikap kasar pada pria itu.
“SEO NA!!!”. Seo Na berdenyit, matanya menangkap sosok Yoo Ra di ujung lorong kantornya, ya seminggu lebih tidak bertemu dengan sahabatnya itu membuatnya merindukan ocehan Yoo Ra yang selalu menyodorkan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan kepadanya.
Seo Na tersenyum, lalu menerima pelukan Yoo Ra gadis itu tambak cerah. “kau merindukanku ya?”. ujar Seo Na percaya diri, tidak peduli ekspresi Yoo Ra yang berubah terhadapnya.
“didalam mimpimu saja! huh!”. Yoo Ra menyikut Seo Na lalu menyeret gadis itu kedalam ruangannya. “jadi bagaimana hari-harimu dirumah keluarga Cho? Apa Kyu Hyun melakukan sesuatu padamu?”. Pertanyaan yang sama yang selalu membuat Seo Na jengkel.
“apa Kyu Hyun terlihat seperti melakukan sesuatu terhadapku? Kenapa kau selalu bertanya pertanyaan yang sama setelah aku bertemu pria menyebalkan itu?”. Seo Na melempar tas tangannya, lalu menjatuhkan diri ke kursi putar miliknya. Ia benar-benar merindukan meja kerja dan ruangannya ini.
“ya, Kyu Hyun memang selalu terlihat seperti melakukan sesuatu, di lift contohnya. Saat itu kalian benar-benar panas”. Yoo Ra tersenyum penuh kemenangan, sambil was-was jikalau Seo Na melempar sebuah benda kearahnya.
“bisakah kau singkirkan pikiran aku seperti sedang melakukan adegan porno dengan pria itu? kau pikir aku sudah gila!”. Seo Na menarik sebuah document dari tangan sahabatnya itu, lalu membaca isinya namun otaknya benar-benar tak fokus. Kejadian tiga malam yang lalu membuatnya mengingat bagaimana Kyu Hyun mencium mesra bibirnya.
“itu adalah grafik penghasilan dari perusahaan ini, sedikit mengalami kenaikan. Itu juga hasil kerja sama dengan perusahaan calon suamimu, dia banyak membantuku. bagaimana jika perusahaan kita menjalin kerjasama yang lebih intens dengan perusahaan Kyu Hyun mengingat ia akan jadi suamimu”.
“berhenti berbicara omong kosong Yoo, tidak ada calon suami”. Seo Na menghembuskan nafasnya, kembali fokus pada kertas-kertas yang berada ditangannya. Yoo Ra yang melihat ekspresi sahabatnya itu hanya terkikik geli. Seo Na memang sedang jatuh cinta, pikirnya.
“baiklah, aku akan kembali bekerja. Ah iya aku baru ingat. Kyu Hyun mengatakan padaku, kau jangan telat makan dan berbuat hal yang mencelakai dirimu. Jika tidak tanggal pernikahan kalian akan di percepat”. Yoo Ra segera melesat pergi sebelum ia mendengar teriakkan Seo Na yang membuat telinganya berisi. Gadis itu terkekeh geli melihat ekspresi wajah sahabatnya yang merah padam.
Seo Na menghela napasnya gusar. Jika memang Kyu Hyun peduli dan mencintainya kenapa hingga kini pria itu tidak menemuinya. Pikir Seo Na, sebelum akhirnya gadis itu memukul kepalanya dan mengatakan jika dirinya memang sudah gila.

 
~~~000~~~

 
Dong Hae menyusup teh hangat miliknya, merasakan aroma teh itu menjalar kesuluruh tubuhnya, sudah seminggu lebih ia tak bertemu gadis itu, tak menghubungi Seo Na. Dong Hae memilih menenangkan dirinya, merasakan semua perasaannya yang begitu sakit. Sakit karena begitu rindu terhadap sosok Park Seo Na, dan sakit menerima kenyataan jikalau nanti Seo Na lebih memilih Kyu Hyun dari pada dirinya.
Pria itu menatap kearah luar cafe, seseorang yang tengah ia rindukan itu tengah berjalan masuk kedalam cafe dengan setelan baju kantor khas Seo Na dan tubuhnya yang lebih sedikit berisi sejak terakhir mereka bertemu. Gadis itu masuk kedalam cafe, melihat kekiri dan kekanan sebelum akhirnya mata Seo Na membulat melihat sosok Dong Hae yang tengah melambai padanya. Dengan senyum yang begitu tampan Dong Hae menyambut kehadiran gadis itu di mejanya.
“Dong Hae-ssi? kau disini juga rupanya. Akhirnya aku punya teman bersantai siang ini”. Seo Na tersenyum, mendapati wajah Dong Hae dihadapannya, sejujurnya ia merindukan sifat lembut pria tampan ini.
“kau sudah sembuh? Bagaimana kabarmu Seo Na-ssi? maaf aku tidak bisa menjengukmu waktu itu karena…”.
“tidak masalah, aku mengerti. Kau pasti sangat sibuk dengan pekerjaanmu. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu disini”. Seo Na tersenyum lalu memesan minuman hangat untuk dirinya.
Keduanya kembali terdiam, Seo Na sibuk dengan pikirannya dan segelas vanilla coffe didepan mulutnya. Sedangkan Dong Hae sibuk dengan perasaannya sendiri.
“apa ada yang kau pikirkan?”. Seo Na membuka percakapan diantara keduanya. Gadis itu menatap penuh minat pada Dong Hae, ia merasa ada yang berbeda dari diri pria itu, ia merasa Dong Hae mulai menjauhinya. “aku merasa ada yang aneh, menurutku kau terlihat seperti sedang menjaga jarak denganku Dong Hae-ssi”. tebak Seo Na, Dong Hae menyipitkan matanya lalu tersenyum sambil menggeleng lembut.
“tidak, aku sibuk memikirkanmu Na-ya. aku merindukanmu”. Ujar pria itu apa adanya, ia berbicara formal pada gadis itu saat ini. ia merasa Seo Na begitu berharga untuknya.
“aku juga”. Seo Na tersenyum. “sangat”. Lanjut gadis itu lagi.
Dong Hae menatapnya, gadis itu melemparkan senyum yang tidak bisa diartikan Dong Hae. Seo Na tak berbohong, ia tulus. Sejak kejadian di mokpo waktu itu, Seo Na bisa menilai jika Dong Hae adalah pria yang lembut, tak menuntut keinginannya meskipun ia ingin, memperlakukan Seo Na seperti kapas putih yang ringan.
“apa Kyu Hyun merawatmu dengan baik?”. tanya pria itu akhirnya, Seo Na mengangguk. “baguslah, aku tidak ingin kau celaka lagi. Aku mengkhawatirkanmu”. Ucap pria itu tulus, meraih tangan Seo Na yang berada diatas meja.
“Na-ya, kau masih ingat dengan apa yang aku katakan saat itu bukan, tentang perasaanku padamu”. Seo Na mengangguk, ia masih ingat betul ketika pria itu mengatakan jika ia mencintai Seo Na dan tak memaksa gadis itu untuk menjawabnya. “dan sekarang masih sama Na-ya, aku masih sangat mencintaimu. Selama aku tak menemuimu, aku hanya ingin melupakan pikiran tentangmu, tapi aku hanya tersiska, bahkan aku selalu memikirkanmu dan berakhir dengan rasa sakit dihatiku. Aku benar-benar tersika”. Dong Hae menarik tangan gadis itu kearah bibirnya, mengecup satu-satu jari gadis itu dengan lembut.
“jadi, kapan aku bisa mendengar jawabanmu Seo Na? Aku benar-benar menginginkanmu saat ini”. Seo Na merasa pusing, ia merasa dunia diputar-putar. Menginginkannya? Kyu Hyun juga mengatakan hal yang sama. Mereka membuat hati Seo Na goyah, keduanya, dengan sikap yang jauh berbeda membuat Seo Na tak mampu memilih. Cho Kyu Hyun, pria yang mencintainya selama bertahun-tahun, yang memaksakan semua kehendaknya, atau Lee Dong Hae pria lembut yang mencintai Seo Na apa adanya, tak pernah memaksa gadis itu sedikitpun. Seo Na benar-benar dilema.
~~~000~~~
Seo Na terkulai diatas ranjangnya, gadis itu benar-benar merindukan apartemen mewahnya ini, merindukan masa-masa sendirinya dahulu, saat ia mengendarai mobil-mobil mewahnya, berkunjung sendiri ke berbagai negara dan sekarang semua terasa bertambah berat. Seo Na takut mengenal cinta tapi saat ini gadis itu dihadapkan dengan dua pria yang mencintainya. Ya sebelum Eun Hyuk mengatakan jika pria itu mencintainya juga mungkin Seo Na akan tambah bingung dengan apa yang ia rasakan.
Seo Na mengerang prustasi, sebelum akhirnya ia mendengar ketukan pintu dari luar kamarnya serta suara Yoo Ra yang begitu nyaring setelahnya. Seo Na segera bangkit menyusul sahabat terbaiknya itu.
“aku membawakan makanan, makanlah”. Yoo Ra menyodorkan beberapa bungkus makanan pada Seo Na, gadis itu menghambur mendekat lalu membuka isi sambil tersenyum lebar. “kau lupa untuk makan, lupa untuk dirimu sendiri. dan jika kau menikah nanti Kyu Hyun akan terus meceramahimu”. Seo Na mencibir, memasukkan sepotong kimbab kedalam mulutnya, lalu tersenyum senang.
“ini enak, semuanya enak”. Ujar Seo Na, gadis itu tidak memperdulikan ucapan Yoo Ra padanya.
“ya, makanlah. Habiskan semuanya. Kyu Hyun mengkhawatirkan mu”. Yoo Ra melempar tatapan tajamnya kearah Seo Na. Gadis itu merespon dengan heran.
“Kyu Hyun? Bahkan ia tidak menghubungiku, tidak menemuiku”. Seo Na teringat akan pria itu, ya sedikit banyak ia merindukan Kyu Hyun. Pria itu tiba-tiba menghilang, tapi Seo Na tau jika Kyu Hyun pasti sibuk dengan perusahaanya. Lagi pula yang menangai kerja sama perusahaanya dengan perusahaan keluarga Cho adalah Yoo Ra, ia tidak ingin terikat dengan Kyu Hyun dalam masalah apapun, meskipun kini ia terikat dalam perasaan pria itu.
“ya, tapi dia menanyakanmu padaku”. Ujar Yoo Ra enteng. Mata Seo Na menyipit.
“seharusnya ia menghubungiku, bukan menghubungimu. Ini aneh”. Seo Na kembali mengunyah makanannya, sejujurnya tanpa melihat pria itu beberapa hari ini membuat hari-harinya tidak begitu lengkap.
“kau merindukannya?”. Yoo Ra menyipitkan matanya, mencoba menguak isi hati sahabatnya itu.
“kau gila? Yang benar saja? pria arogan yang sok dan kaku itu. ck!”. Seo Na mengunyah makanannya kasar. Gadis itu tiba-tiba emosi, membuat Yoo Ra terbahak geli menatap ekspresi wajah Seo Na yang menggelkan. “Kenapa tertawa, memangnya ada ya lucu?”.
“kau memang lucu Na-ya, sangat lucu”. Seo Na menatap tajam kearah Yoo Ra membuat gadis itu pelan-pelan menghentikan tawanya, lalu ia tersenyum geli tidak peduli jika tatapan Seo Na bertambah ngeri. “besok kau akan tau jawaban dari perasaanmu”.
Yoo Ra masih tetap tersenyum geli, tanpa memperdulikan wajah Seo Na yang tampak penasaran. Ini bagian dari rencana Kyu Hyun. Menghilang sementara dari kehidupan gadis yang dicintainya itu.
~~~000~~~
Gadis itu menempekan pistol kearah cermin dihadapannya, matanya merah namun cairan bening itu memenuhi pipi indahnya. Jae Eun menatap nanar kearah dirinya. Ia tak mendapatkan Eun Hyuk, ia tak mendapatkan pria itu menjadi miliknya mencintainya dan menghargai keberadaannya didekat pria itu.
Jae Eun bukan tipe gadis penggoda, obsesi yang ia rasakan untuk mendapatkan Eun Hyuk merubahnya menjadi gadis jahat terlebih terhadap orang yang sudah menghancurkannya selama ini sekaligus merebut perhatian Eun Hyuk kepadanya. Ya, Jae Eun sangat membenci Park Seo Na gadis itu yang sudah menendangnya dari perusahaan secara tidak sopan serta membuat orang yang ia cintai menaruh hati pada Seo Na, baginya gadis itu harus lenyap. Harus mati bagaimanapun caranya.
“susun rencana untuk kedepannya, aku ingin gadis itu segera mati”. Ujar gadis itu pada pria diujung sambungan teleponnya.
“ya, matilah kau Park Seo Na”.
~~~000~~~

 

“pakai ini”. Yoo Ra melempar gaun bewarna biru kearah Seo Na. Gaun rancangan ternama yang langsung dipesan sahabatnya itu dari Paris. Gaun itu cukup mahal, sangat mahal lebih tepatnya. Gaun keluaran terbaru edisi majalah fashion kota paris. Seo Na menatap bingung lalu masuk kekamarnya dan memakai gaun itu sesuai perintah sahabatnya.
Seo Na keluar dari kamar dengan gaun biru mewah yang dikenakkannya. Memperlihatkan lekuk tubuh seksi gadis itu. potongannya begitu rendah hingga memperlihatkan belahan dadanya. Ditambah bagian belakangnya dengan kain transparan yang menampakkan seluruh punggungnya menambah kesan seksi, mewah dan tetap terlihat elegan.
“Seo Na! Kau benar-benar cantik. Aku tak menyangka kau bisa secantik ini”. Yoo Ra kagum, bahkan Seo Na belum bermake-up sama sekali.
“kemana saja kau selama ini”. ujar gadis itu bangga, lalu memutar-mutar badannya, membuat gaun selutut itu terkembang bebas. “ini bagus, kau membelinya untukku ya? selara yang bagus”.
“bukan aku”. Yoo Ra tersenyum, lalu tak menjelaskan siapa yang menghadiahkan gaun mewah itu kepada Seo Na. “mari ku dandani, aku cukup lihai untuk berdandan”.
“memangnya aku akan kemana? Kau bukannya hanya menyuruhku mencoba gaun ini?”. Seo Na berkedik heran, memangnya siapa yang akan makan malam dan mengadakan pesta? Tidak ada kan?
“nanti kau akan tau, seseorang akan menjemputmu nanti tepat jam delapan”. Jelas Yoo Ra sebelum akhirnya mendandani Seo Na, melancarkan rencana pria yang kini tengah mengunggu Seo Na disuatu tempat, siap memberikan kejutan bagi gadis itu.
~~~000~~~
Seo Na tampak melirik ke kiri dan kekanan, ia cukup bingung setelah di poles oleh sahabatnya, ia dijemput oleh supir suruhan dan menuju ke hotel mewah, supir yang mengantarnyapun hanya diam setiap kali Seo Na bertanya padanya, membuat gadis itu jengkel dan berhenti bertanya. Pria itu hanya menjawab Seo Na harus naik ke lantai sepuluh hotel itu dan seseorang sudah menunggunya disana, namun Seo Na tak menemukan apa-apa selain lampu temaram dan para staff hotel yang menyambutnya, gadis itu baru sadar ini adalah restoran mewah milik hotel ini, tapi tak ada pengunjung sama sekali semua bangku terlihat kosong.
Apa seseorang sedang mempermainkannya, pikir Seo Na. Gadis itu semakin kesal. Ia memilih duduk dimeja yang terdekat dengannya. Lalu menghela napas panjang. Tapi sedetik kemudian semua lampu dihidupkan dan alunan instrumen violin terdengar beserta alat musik lainnya. Seo Na terlonjak kaget melihat sekumpulan orang-orang yang bermain musik disana dan berdiri seorang pria tak jauh dari hadapannya. Cho Kyu Hyun, pria itu sangat terlihat tampan dengan setelan jas nya yang rapi, rambut coklatnya yang mengkilat dan senyum menawan yang kini tengah ia suguhkan kepada Seo Na.
Kyu Hyun mendekat kearah gadis itu, membuat Seo Na spontan berdiri menanti Kyu Hyun ditempatnya hingga kini keduanya saling bertatapan dengan jarak yang dekat. “Park Seo Na”. Ujar pria itu. menyodorkan seikat bunga mawar bewarna merah jambu kearah gadis itu. Seo Na mengambil bunga itu dari tangan Kyu Hyun, masih tidak mengerti dengan apa yang dilakukan pria itu.
“selamat ulang tahun Na-ya, selamat menjalani kehidupan diumur barumu”. Darah Seo Na berdesir hebat bahkan ia tidak ingat jika hari ini ia sedang berulang tahun. Benar kata Yoo Ra, Seo Na tak pernah peduli dengan dirinya sendiri.
“Kyu Hyun, bagaimana kau tau… aku?”. Seo Na tampak bingung, gadis itu salah tingkah dan ia merasakan matanya kini memanas menahan air mata.
“aku mengingatnya setiap tahun sejak aku mengenalmu Na-ya, selama ini aku selalu merayakan ulang tahunmu sendiri. bersama dengan kekesalanku ketika aku tidak bisa menemukanmu. Aku benar-benar menyesal sudah membuatmu membenciku luar biasa, aku akan menebusnya. Aku mencintaimu”. Pengakuan Kyu Hyun berhasil membuat gadis itu meneteskan air matanya. Membuat Seo Na terisak, ini adalah tangisan kebahagiaan. jadi selama Kyu Hyun menghilang ia mempersiapkan ini untuknya?
“dan…”. Kyu Hyun menghentikan ucapannya sejenak. “maukah kau menikah denganku? Menjadi istriku yang sah?”. Lamaran itu lolos begitu saja dari mulut pria itu dan sekali lagi Seo Na tercengang, ia tidak pernah menyadari jika cinta Kyu Hyun terhadapnya begitu besar.
Seo Na masih terisak, gadis itu menatap mata Kyu Hyun yang juga berkaca-kaca, tatapan pria itu mengisyaratkan bahwa ia sangat menginginkan Seo Na lebih dari apapun. “Kyu Hyun, aku… aku tak tau”. Seo Na semakin menangis. “aku akan mencobanya Kyu, aku akan mencintaimu. Aku terima”. Ujar gadis itu akhirnya. Ia tak tau apa jawabannya ini benar-benar akan membuatnya bahagia, tapi pengakuan Kyu Hyun malam ini membuat ia menemukan satu titik ketenangan dalam dirinya.
Kyu Hyun menarik gadis itu kedalam pelukannya, disambut riuh tepuk tangan para pemain musik dan pelayan yang berada dalam ruangan itu. Kyu Hyun sangat bahagia, ia telah mendapatkan Seo Na didalam hidupnya, setelah sekian lama. Akhirnya gadis itu menjadi milik Kyu Hyun seutuhnya.
Kyu Hyun menarik tubuh gadis itu lalu mencium bibir Seo Na dengan penuh kasih sayang, Ya Park Seo Na yang ia puja, gadis cantik, arogan, dan angkuh adalah yang diinginkan Kyu Hyun.
~~~000~~~
“ia akan menikah dengan Cho Kyu Hyun”. Kalimat itu membuat dada pria itu begitu sesak, ada yang begitu nyeri dihatinya. Rasanya matanya memanas dan otaknya sulit untuk berpikir jernih. Ya, ia baru mendengar dari orang kepercayaannya, bahwa Seo Na akan menikah dengan sahabat baiknya itu. entah bagaimana, rasanya terlalu cepat bagi Dong Hae. pria itu bahkan bertemu dengan Seo Na beberapa hari yang lalu mencium tangan gadis itu dan kini pikirannya tak dapat bekerja dengan baik. Park Seo Na gadis yang ia inginkan, akan menikah dengan sahabat sekaligus saigannya Cho Kyu Hyun.

Dong Hae mendengar ketukan di pintu ruang kerjanya, pria itu segera menyeka air matanya. Mencoba mentralkan pikirannya saat ini, meskipun sejujurnya pria itu benar-benar kalut. Ia menginginkan Seo Na, sangat menginginkannya.
“masuklah”. Ujar pria itu, suaranya terdengar sedikit melemah.
Gadis itu muncul dari balik pintu, membuat pria yang kini tengah menatapnya terperangah. Baru saja hatinya sakit karena gadis itu akan menikah dengan pria lain, tapi sekarang gadis itu sudah berada dihadapannya, tapi bukan dengan senyum. Melainkan air mata yang mengalir di pipinya. Ya, Seo Na menangis berdiri kaku dihadapan Dong Hae tanpa bisa pria itu artikan.
“Seo Na-ssi? kau menangis? Apa yang terjadi?”. Dong Hae panik, pria itu menghambur kehadapan Seo Na sebelum akhirnya gadis itu menarik jasnya lalu memeluk tubuh Dong Hae tidak peduli dengan ekspresi kaget pria itu, dan Dong Hae sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi. Seharusnya Seo Na bahagia, bukankah ia akan menikah dengan Kyu Hyun? Apa terjadi sesuatu?
Cukup lama Seo Na terisak dalam pelukan Dong Hae, menangis di dada bidang pria itu membuat sisi Jas pria itu basah. Dong Hae tak lanjut bertanya, ia membiarkan Seo Na menangis dan meluapkan kesedihannya. Setelah ini gadis itu pasti akan menceritakan semuanya.
“Dong Hae-ssi…”. suara gadis itu bergetar menyebutkan nama Dong Hae, ia sudah tak terisak lagi namun air matanya masih turun menambah kelembapan pipi gadis itu.
“hm.. ya Na-ya”. ujar Dong Hae lembut, pria itu mengelus punggung gadis itu memberikan ketenangan disana.
“tolong bawa aku lari”. Kalimat Seo Na itu membuat kepala Dong Hae terasa meremang. Maksud gadis itu membawa ia kabur? Lalu bagaimana dengan pernikahannya bersama Kyu Hyun?.
“Na-ya, apa yang terjadi? Ceritakan padaku”. Dong Hae sedikit mendesak, membuat gadis itu menatap matanya, dan itu membuat Dong Hae tak sanggup menatap pilu wajah gadis itu. dari sorot matanya Seo Na sangat ketakutan.
“Kyu Hyun akan dibunuh, Kyu Hyun akan dibunuh dan aku… aku tak bisa dengannya… aku”. Gadis itu kembali terisak, ia tak mampu menyelesaikan kalimatnya, terlalu sakit mungkin bagi gadis itu.
“katakan dengan pelan Park Seo Na, kau jangan takut aku disini bersamamu”. Dong Hae menyeka air mata gadis itu dengan ibu jarinya.
Seo Na menarik nafasnya dalam. “orang itu datang lagi, orang yang sama dengan orang yang menembakku, dan menculikku malam itu. ia mengatakan, ia akan merenggut kebahagiaanku, ia akan membunuh orang yang ku cintai dan menghancurkan kebahagiaanku, ia akan membunuh Kyu Hyun jika aku tidak pergi dari negara ini, ia akan membuat Kyu Hyun menderita jika aku tak melepaskan Kyu Hyun… aku takut, aku benar benar takut”. Gadis itu kembali menangis, isakkannya kali ini membuat hati Dong Hae terasa perih, jadi karena itu ia ingin lari, ia tidak ingin Kyu Hyun dicelakai karena dirinya dan ia ingin Dong Hae menyelamatkannya.
“Dong Hae-ssi, selamatkan aku. Selamatkan Kyu Hyun, bawa aku pergi jauh dari sini. Aku tak ingin Kyu Hyun terluka”. Setitik rasa sakit menyeruak didada Dong Hae, menyadari betapa gadis itu sangat mengkhawatirkan hidup Kyu Hyun saat ini, namun ada titik dimana ia begitu senang, karena gadis itu kembali padanya, meminta tolong untuk menjauh dari kehidupannya bersama Kyu Hyun, tentunya tanpa Kyu Hyun saingan terberatnya.
“Ya, Na-ya. Aku akan melakukannya demimu”. Pria itu memeluk Seo Na erat, ia berjanji ia tak akan menyakiti hati Seo Na. Ia akan melindungi gadis itu.
~~~000~~~
“tinggalkan Cho Kyu Hyun, tinggalkan kehidupanmu disini. Atau aku akan membunuh pria yang kau cintai itu. seperti saat itu, saat aku menembakmu dan saat aku menculikmu. Apa kau tega melihat ia tersiksa dengan luka tusukan dan tembakan, bahkan aku tak akan memberi ampun Park Seo Na yang terhormat. Ia akan mati ditanganku jika kau tak melaksanakan keinginanku. Waktumu hanya tinggal 5 hari terhitung dari hari ini, ingat itu”.
“Na-ya?”. Suara Kyu Hyun membuat gadis itu terlonjak kaget. Ia segera menghapus air matanya yang sejak tadi tak berhenti menetes. “kau baik-baik saja?”. tambah pria itu lagi.
Seo Na menggangguk lalu tersenyum kearah Kyu Hyun. “aku baik-baik saja Kyu”. Kyu Hyun membalas senyum gadis itu lalu duduk persis disamping Seo Na.
“aku merindukanmu Na-ya, sangat”. Ujar Kyu Hyun membuat Seo Na mengalihkan pandangannya pada pria itu, meskipun hatinya begitu perih melihat wajah pria yang ia cintai itu, wajah yang tak akan ia lihat lagi setelah ia meninggalkan Seoul nantinya.
Seo Na menatap mata pria itu, menahan air matanya yang sejak tadi mendesak keluar. “terlebih aku”. Kalimat sederhana, namun mengandung isyarat yang membuat Kyu Hyun ingin segera memeluk tubuh Seo Na, mencium gadis itu dan mencumbunya di ranjang. Ya, Seo Na adalah candunya yang tak tertahan ditambah sejak gadis itu membalas cintanya, Seo Na seperti kebutuhannya.
“tapi wajahmu Sedih Na-ya, aku bisa melihatnya. Apa aku berbuat salah padamu?”.
“tidak Kyu, tidak. Kau sangat baik. sangat”. Seo Na menggeleng, ia tak ingin membuat Kyu Hyun mengkhawatirkannya.
“benarkah?”. Suara Kyu Hyun terdengar lebih rendah dan lembut, sebelum akhirnya pria itu mendekatkan wajahnya kearah Seo Na membuat gadis itu segera menutup kelopak matanya, dan akhirnya bibir mereka menyatu.
Kyu Hyun mencumbu lembut bibir gadis-nya itu, merasakan setiap sensasi bibirnya yang bersentuhan langsung dengan bibir manis milik Seo Na, ia begitu sangat terlena dengan isapan yang ia lakukan terhadap bibir gadis itu, sangat manis membuat suasana berciuman keduanya berubah menjadi panas dan erotis, Kyu Hyun mendorong mengangkat tubuh Seo Na mengiring tubuh ringkih gadis itu kedalam kamarnya tanpa melepaskan ciuman mereka.
Kyu Hyun meletakkan gadis itu diatas ranjang dengan hati-hati, lalu berpindah pada rahang gadis itu dan berakhir ditelinga Seo Na. “kau sangat manis Na-ya”. ucapan sensual Kyu Hyun membuat gadis itu meremang, ia merasakan setiap sensasi bibir Kyu Hyun yang menempel di wajah dan cupingnya, gadis itu benar-benar merasa sangat panas.

Kyu Hyun melepas kontak bibirnya dengan gadis itu, menatap meminta izin pada gadis dibawahnya sebelum akhirnya mendapat respon setuju dari Seo Na, dan mereka melanjutkan malam pertama mereka bercinta yang panas dan begitu erotis.

TO BE CONTINUE

~~~000~~~

REVENGE BEFORE LOVE (5/?)

Standard

RERE_副本

REVENGE BEFORE LOVE (5/?)
Action, Romance. PG + 17
Cast :
Cho Kyu Hyun
Lee Dong Hae
Park Seo Na

Yoo Ra menuang susu dingin kedalam dua gelas yang berada dihadapannya, lalu berjalan menuju ruang televisi mendapati Seo Na yang masih menatap kosong kearah layar televisi, gadis itu tersadar ketika Yoo Ra menyodorkan segelas susu kearahnya, gadis itu meraih gelas berisi cairan putih itu sejenak lalu meneguknya.
Yoo Ra mengerutkan dahinya, selama ia mengenal Seo Na gadis itu tidak pernah seperti ini, tatapan kosong yang terlihat konyol untuk seorang Seo Na, tapi wajar saja jika gadis itu sudah banyak berubah, toh pangeran berkuda putihnya juga sudah ia temukan, ya meskipun alih-alih Kyu Hyun adalah pangeran berkuda putih setidaknya pria itu sudah merubah sedikit banyak sifat Seo Na yang awalnya sangat dingin menjadi sedikit lebih peduli dengan orang-orang dan lingkungan sekitarnya.
“apa yang terjadi dengan hari-harimu akhir-akhir ini? kau belum bercerita tentang liburan singkatmu ke mokpo bersama Dong Hae dan kasus kaburmu dari kantor tadi siang dengan Kyu Hyun, sepertinya kedua pria itu membuatmu prustasi ya?”. Tebak Yoo Ra asal, dan ia yakin tebakannya memang tidak salah, siapa lagi pria yang ada didalam hidup gadis itu kalau bukan Kyu Hyun dan Dong Hae, ya kedua pria yang sangat jauh berbeda dan kadar ketampanan yang juga berbeda.
Seo Na menekan pelipisnya merasakan nyeri disekujur tubuhnya seketika, terlalu banyak problema yang ia hadapi akhir-akhir ini tapi entah kenapa semua itu membuat hidupnya lebih bewarna. “setelah ini aku harus mendapatkan cuti dan berlibur panjang, atau menyempatkan diri ketempat pijat refleksi untuk mengendorkan semua saraf-saraf ditubuhku yang menegang dan aku yakin bisa putus kapan saja”.
Yoo Ra terkekeh geli mendengar keluhan Seo Na yang lebih terdengar seperti protes keras pendemo dijalanan. Gadis itu memijit tangan Seo Na membiarkan sahabatnya itu merasakan pijatannya yang memang tidak seberapa enak tapi sukses membuat Seo Na tersenyum. “akhirnya kau mengerti juga jika aku membutuhkan yang semacam ini”. ujar gadis itu, Yoo Ra hanya mencibir.
“karena kau adalah sahabatku, dan kau disukai oleh dua orang pria yang tampan, ehmm maksudku tiga pria tampan-“.
“tiga?”.
“Eun Hyuk sepertinya masuk dalam peritungan”. Seo Na melongos, ia baru sadar setelah Yoo Ra mengucapkan nama pria itu, sudah beberapa hari ini Eun Hyuk menghubunginya, tapi gadis itu malah enggan mengangkat panggilan pria itu dan juga tidak membalas pesan singkat dari Eun Hyuk, sudah cukup dua pria yang membuatnya pusing jangan ditambah lagi dengan pria lain, ia benar-benar akan ke pisikiater setelah ini, pikir gadis itu.
“jadi ceritakan padaku, apa yang terjadi dan membuatmu seperti ini”. paksa Yoo Ra, Seo Na akhirnya menyerah dan menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dengan Dong Hae, dan juga antara dirinya dengan Kyu Hyun. Sejujurnya Seo Na ingin memakai sifat -tidak mau pedulinya- seperti biasa, tapi kedua pria itu membuatnya benar-benar perduli. Bagaimana bisa dua orang pria mengungkapkan perasaanya dalam jarak waktu 3 hari.
Yoo Ra membulatkan matanya, merasa begitu bangga dengan sahabatnya itu, jadi selama ini ia salah menganggap Seo Na seorang gadis jadi-jadian karena sekarang terbukti jika banyak pria yang tergila-gila dengan gadis itu apa lagi pria yang memiliki kadar ketampanan diambang batas, siapa yang tidak suka.
“jadi kau akan memilih siapa?”. tanya Yoo Ra tak sabaran, jika ia menjadi Seo Na, Yoo Ra akan menerima kedua-duanya tapi karena ia bukan Seo Na ia tidak bisa memilih siapapun.
Seo Na menggelang pasrah, otaknya sudah cukup buntu saat ini jadi ia tidak ingin otaknya semakin buntu lalu otak itu meloncat keluar dari kepalanya karena tidak tahan memikirkan hal yang rumit seperti yang gadis itu rasakan saat ini, tidak lucu jika otak gadis itu meloncat keluarkan?
“aku sedang tidak ingin memikirkan apapun, kenapa aku harus dihadapkan dengan hal yang seperti ini?”. gadis itu hanya melongos, membuat Yoo Ra juga ikut pusing.
“aku tidak menyangka Kyu Hyun-ssi akan mengajakmu menikah secepat itu, dan ancamannya juga cukup mengerikan. Tapi jika aku jadi kau aku juga akan bingung harus berbuat apa. kalau begitu bagaimana menerima keduanya saja?”. oceh Yoo Ra yang direspon tatapan sinis sahabatnya itu, Yoo Ra malah terkikik tidak ambil pusing dengan kemarahan Seo Na yang tidak mengerikan seperti dulu lagi.
“aku rasa aku benar-benar harus kepisikiater setelah ini, lalu berlibur ke Verona agar mendapat pencerahan dari Juliette disana”. ucap Seo Na sambil membayangkan kota Verona ketika ia pertama kali datang kesana dan menemukan begitu banyaknya wanita-wanita yang mengunjungi rumah Juliette untuk mengadu, jadi ia tau sekarang kenapa gadis –gadis itu tampak prustasi, ternyata cinta itu tidak hanya menyakitkan tetapi juga rumit.
~~~000~~~
“Eomma ingin membicarakan sesuatu denganmu Kyu Hyun-ah, mungkin ini waktu yang tepat untuk membicarakannya”. Kyu Hyun mengadah setelah mendengar rentetan kalimat Ibunya yang terdengar serius, malam ini pria itu menginap dirumah Ibunya.
“apa?”. tanya pria itu, sambil tetap melanjutkan makan malamnya bersama wanita itu. Ibu Kyu Hyun tampak tersenyum melihat Kyu Hyun yang begitu lahap mengunyah makanannya.
“aku dan kakakmu Ahra sudah membicarakan hal ini, karena kau adalah satu-satunya pewaris tunggal dikeluarga kita aku sangat berharap banyak padamu”. Wanita itu terdiam sejenak, mendapati Kyu Hyun yang kini sudah menghentikan acara kunyah mengunyahnya dan serius mendengarkan Ibunya itu. “karena usiamu sudah tidak muda lagi, aku rasa sudah sepantasnya kau menikah. Maksudku, kau harus punya keturunan untuk tetap memimpin perusahaan sebesar itu, karena jika tidak harta warisan tidak akan diserahkan kepadamu”.
Kyu Hyun tertohok mendengar rentetan kalimat dari Ibunya itu, menikah? Bagaimana ia bisa menikah, sedangkan pria itu saja belum sempat memikirkan hal yang demikian, ia baru saja menemukan gadis yang ia cintai seumur hidupnya dan tidak ada waktu untuk menyuruh gadis itu menyukainya, dan ia tidak akan menikah dengan siapapun selain dengan gadis itu.
“setidaknya kau harus mempunyai keturunan”. Lanjut wanita itu, Kyu Hyun berdelik menyambar gelas yang berisi air mineral lalu meneguknya banyak-banyak, ia benar-benar merasa sangat haus kali ini. “kau sudah menemukannya bukan?”. Tebak wanita itu, Kyu Hyun menatap ibunya tak percaya, bagaimana wanita itu tau tentang apa yang sedang terjadi?
“aku baru saja menemukannya, aku belum sempat membuatnya mencintaiku”.
“tidak perlu, kau hanya perlu menikahinya setelah menikah ia bisa jatuh cinta kepadamu. Kalau kau tak bersedia aku bisa mencarikan wanita lain”.
“tidak-tidak, bukan begitu”. Sergah pria itu cepat, bagaimana ia bisa menikah dengan wanita lain setelah ia menemukan gadis yang ia tunggu-tunggu selama bertahun-tahun lebih baik ia memaksa gadis itu mau menikah dengannya, bagaimanapun caranya.
“baiklah kalau itu yang kau mau, kapanpun kau membawa gadis itu kehadapanku aku akan berbicara dan menjelaskan semuanya, pantas saja kau tidak menerima kakaknya selama ini ternyata yang kau mau itu adiknya”. Goda wanita itu, Kyu Hyun salah tingkah ia berpikir pasti kakaknya Ahra yang memberi tahu ibunya, ya tentu saja Ahra tau karyawan dikantor yang tidak asing lagi dengan gosip tentang pemimpin perusahaanya itu.
“aku kira ini tidak akan menjadi berita heboh dikantor”. Ucap Kyu Hyun, Ibu Kyu Hyun terkekeh melihat perubahan sikap anaknya yang menggelikan dari biasanya itu, Kyu Hyun biasanya selalu kaku dan pendiam hanya berbicara seperlunya dan jarang sekali melihatkan ekspresinya.
“cinta memang bisa merubahmu menjadi lebih baik Kyu Hyun-ah”. Gumam wanita itu akhirnya.
~~~000~~~
Kyu Hyun mengingat lagi pembicaraanya dengan Ibunya beberapa hari yang lalu, Ibunya benar pria itu harus menikah dan mempunyai keturunan jika ingin tetap memimpin perusahaan dan mendapatkan warisan dari mendiang Ayahnya. Kyu Hyun adalah anak laki-laki satu-satunya jadi ia harus bertanggung jawab atas keluarganya dan menikah adalah salah satunya yang harus ia laksanakan dalam waktu dekat ini, lagi pula setelah menjalin kerja sama dengan PTI Corp perusahaan Kyu Hyun semakin mendapatkan kesuksesan yang begitu besar dari kesuksesan yang sebelumnya dan perusaan sebesar itu harus terus berada dibawah tanggung jawabnya seperti apa yang sudah dipesankan mendiang Ayahnya saat beliu meninggal dunia.
Tapi bukan itu masalah utama yang kini dipikirkan pria itu, tapi lebih pada masalah dirinya dan gadis yang bernama Park Seo Na. Bukan ia tidak bisa mencari wanita lain dan melahirkan keturunannya tapi yang ia mau dan satu-satunya yang ia inginkan menikah dan melahirkan anak untuknya hanyalah Seo Na jadi tidak akan ada kamus wanita lain didalam hidupnya, dan sekarang ia hanya harus lebih keras mendapatkan Seo Na bila perlu menculik gadis itu dan menikahinya. Ya meskipun Kyu Hyun tau ini sama saja dengan pekerjaan menangkap harimau liar.
Kyu Hyun tersentak ketika mendapati suara dentingan bel dari luar apartemennya, jika bukan Ye Sung pasti itu Dong Hae yang setidaknya hanya dua pria itu yang terus merecokinya tapi bukan masalah bagi pria itu. Kyu Hyun melangkah menuju pintu utama ia menekan ganggang pintu namun sedetik kemuan tak menemukan orang diluar apartemennya namun ketika Kyu Hyun mengalihkan pandangannya kebawah tatapan pria itu terhenti pada selembar kertas yang terlipat rapi dilantai, alis pria itu terangkat lalu menyambar kertas itu dan menuju dalam apartemennya.
Pria itu teringat dengan kejadian yang ia alami beberapa waktu lalu, kertas yang menjadi peringatan dan penunjuk baginya tentang siapa Park Seo Na dan sekarang ia juga menemukan kertas yang sama namun ia tidak tau persis apa isinya yang kali ini, dengan hati-hati pria itu membuka lipatan surat dan menemukan rentetan kalimat-kalimat didalam sana, seketika jantung pria itu berdesir hebat, dengan cepat ia meraih jaketnya lalu menyambar remote mobilnya menuju suatu tempat.
~~~000~~~
Seo Na melilitkan handuknya dikepala, gadis itu baru saja selesai mandi setelah Yoo Ra meninggalkannya diapartemen sendirian, sahabatnya itu kembali ke lantai bawah dimana apartemennya berada. Seo Na menghela napasnya panjang, jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam setelah ini ia bisa beristirahat dengan tenang dan berharap esok hari ia bisa mendapati didinya yang hanya bermimpi selama ini mengenal dua orang pria yang bernama Kyu Hyun dan Dong Hae yang membuatnya cukup pusing.
Belum sempat gadis itu melangkahkan kakinya menuju dapur dentingan bel apartemennya mengalihkan langkah gadis itu menuju pintu utama, meski dalam hati gadis itu mengutuk-ngutuk orang yang sudah memutuskan bertamu larut malam seperti ini. menit kemudian Seo Na membuka ganggang pintu dan sama sekali tidak mendapati seorangpun diluar apartemennya, kali ini ia hanya mendapati kertas putih yang tergeletak dilantai.
Seo Na mengerinyit, memutuskan membaca isi kertas itu, setelah tuntas membaca deretan kalimat dalam kertas itu Seo Na memutuskan berganti pakaian melesat menuju tempat yang disebutkan oleh orang itu didalam kertas yang ia tunjukkan pasa Seo Na.
“Jika kau ingin tau siapa yang sudah menembakmu, kau bisa datang ketempatku malam ini, Nona Park Seo Na”.
Setidaknya seperti itulah tulisan yang tertera disana, Seo Na bukan tipe orang yang takut dengan masalah yang dihadapinya terlebih lagi tentang orang-orang yang dendam dengannya, mungkin ini hanya sebuah kesalah pahaman, setelah ia menyelesaikannya ia tidak akan menerima teror apapun. Ia juga tidak butuh bantuan Lee Teuk dengan memperpanjang masalah kepengadilan, lebih baik dengan cara yang lebih privasi saja, pikir gadis itu.
~~~000~~~
“Hyung, kau dimana? Bisa ketempatku sekarang? Aku akan mengirimkan alamatnya melalui pesan”. Tanpa banyak berbasa-basi Kyu Hyun mematikan sambungan teleponnya dengan Dong Hae diujung sana, dengan cepat pria itu mengirimkan alamat yang ia dapatkan dari kertas misterius yang penuh ancaman itu, setidaknya Dong Hae harus tau, ia jika tidak ingin mati konyol menghadapi orang-orang jahat yang akan ia temui, Kyu Hyun akan lebih cerdik tentang hal itu.
“Park Seo Na bersamaku, apa yang harus aku lakukan padanya? Apa aku harus menembaknya lagi, kali ini aku akan menembaknya tepat pada sasaran. Jika kau mencintai gadis ini kau bisa datang menyaksikan gadis ini terbunuh dihadapanmu”
Setiap kalimat yang berada didalam kertas itu terus menari-nari didalam otaknya, bagaimana gadis itu dengan mudah bisa masuk kedalam jebakan orang-orang yang ingin mencelakainya itu, setelah ini ia bersumpah ia akan menikahi gadis itu tidak peduli jika Seo Na mau atau tidak, setelah itu ia akan membuat kurungan besi untuk Seo Na agar tidak ada orang yang menyakitinya, demi Tuhan Kyu Hyun benar-benar ingin membunuh orang-orang yang menyakiti gadisnya.
Kyu Hyun memarkirkan mobilnya disembarang tempat, sebuah gudang tua yang cukup jauh dari hiruk pikuk kota, dan penculik itu cukup cerdas membawa Seo Na dan membekap gadis itu didalam sana. Kyu Hyun membawa pistol pribadinya, pistol yang ia pergunakan jika sewaktu-waktu bahaya mengancam dirinya, lagi pula pria itu sudah memiliki surat izin menggunakan senjata api.
Kyu Hyun berjalan perlahan sebelum akhirnya Dong Hae datang dan juga memarkirkan mobilnya tergesa, keluar dengan tampang bingung setengah mati.
“apa yang terjadi? Ada apa dengan tempat ini?”. tanya Dong Hae panik, Kyu Hyun menjelaskan dengan singkat dan detail sebelum mereka memutuskan mencari Seo Na didalam bangunan tua itu, Dong hae terhenyak kaget bahkan pria itu kini lebih ambisius dari Kyu Hyun untuk segera mendapatkan Seo Na, sebelum akhirnya keduanya memencar mencari Seo Na, Kyu Hyun memelih gudang yang berada dibelakang sedangkan Dong Hae memutuskan menggeledah bangunan tua yang tepat pada depan gudang.
~~~000~~~
Seo Na mengerang kesakitan, setelah kedua pria bertubuh besar itu mengikat pergelangan tangannya dan membekab mulut Seo Na hingga gadis itu hanya bisa bergumam kesakitan. Setelah memutuskan mengikuti skenario seseorang yang memberikan kertas itu didepan pintu apartemennya, Seo Na memutuskan ketempat itu sebelum akhirnya ia melihat dua orang pria bertubuh tegap menarik tubuhnya dan menyeretnya kedalam gudang tua itu dengan paksa tepat saat ia baru saja melangkahkan kakinya dari dalam mobil miliknya.
Seo Na kembali mengeluarkan suaranya yang tertahan ketika salah seorang dari kedua pria itu menendang pergelangan kakinya lalu mereka sama-sama tergelak, sebenarnya tidak hanya dua orang pria disana, tapi juga ada satu orang wanita yang menggunakan topi , kaca mata hitam, dan masker bewarna coklat tua yang menutupi bagian hidung dan mulutnya, wajahnya sama sekali tidak bisa dikenali Seo Na.
“aku suka ketika mendengarmu merasakan rasa sakit itu, aku begitu bahagia”. Ucap wanita itu akhirnya, suaranya tidak terlalu jelas namun kalimat yang ia ucapkan masih bisa dimengerti Seo Na. Seo Na menatap gadis itu bengis, ia tidak merasa kalah diraut wajahnya ia masih berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja dan kuat.
“tatapanmu itu membuatku jijik Park Seo Na, kau gadis sombong yang memuakkan! Gadis serakah! Setelah pria itu datang kemari, aku akan menghabisimu tepat dihadapannya, aku ingin ia menangis melihat orang yang ia sukai menderita!!! Dan pastinya kau sangat menyesal bukan saat itu tidak jadi membunuhnya, aku ikut perihatin dengan dendammu yang berlebihan itu”. lanjut gadis itu, Seo Na tetap menatapnya tajam, memicingkan matanya kearah gadis itu.
“buka penutup mulut gadis itu, aku ingin dengar ia berbicara apa, lagi pula sepertinya ia harus mengucapkan kata-kata selamat tinggal sebelum kematian menjemputnya”. Ujar gadis itu, sebelum akhirnya salah satu pesuruhnya membuka sapu tangan yang menutupi mulut Seo Na.
Seo Na mengambil udara banyak-banyak, tersenyum masam kearah gadis yang berada dihadapannya saat ini, gadis itu tidak akan terpancing emosi, ia tidak ingin wanita itu tertawa penuh rasa kemenangan melihatnya saat ini.
“kau kira aku takut? Cih! Sejengkalpun kematian menjemputku, aku tidak akan takut! Wanita pengecut!”. Geram Seo Na, tetap menatap tajam pada gadis yang kini sudah siap melayangkan pukulannya kepipi Seo Na.
Sebuah tamparan keras tepat mengenai pipi mulus gadis itu, tamparan yang belum ada apa-apanya dengan semua penderitaan yang selama ini ia rasakan, ia tidak akan merintih kesakitan selama ini ia lebih banyak menemui rasa sakit dari pada semua ini.
“kau kira aku merasa sakit? Terlalu banyak rasa sakit yang lebih sakit yang aku rasakan dari tamparan itu, jadi jangan beranggapan aku akan memohon padamu”. Ucap gadis itu, meski kini disudut bibirnya darah mulai mencuat dan terasa nyeri ia tetap pada penderiannya ia tak akan merintih kesakitan, terlalu bodoh baginya.
Gadis dihadapannya itu kini tertawa renyah, ia bahkan tak segan-segan menyuruh kedua pesuruhnya untuk memukuli tubuh Seo Na tapi tetap saja Seo Na hanya diam dan menerima semua perlakuan yang orang itu berikan padanya, Seo Na merasa ini mungkin hukuman baginya karena selama ini menaruh dendam pada orang yang salah, selama ini ia tidak terlalu peduli dengan orang-orang disekitarnya, dan mungkin banyak kesalahan yang tak ia sadari jadi mungkin ini adalah balasannya, pikir gadis itu.
“PARK SEO NA!!!”. Teriakan seorang pria menghentikan pukulan-pukulan keras pada tubuh gadis itu, Seo Na tersenyum, disaat seperti ini bagaimana ia bisa mendengar suara pria itu, apa karena ia terlalu banyak membenci Kyu Hyun sehingga sekarang gadis itu bisa-bisanya mendengar suara Kyu Hyun diujung napasnya.
“PARK SEO NA!!!”. Kali ini suara makin jelas terdengar, Seo Na mendongak dan benar saja gadis itu kini menemukan sosok Kyu Hyun tengah berdiri tegap tepat didepan pintu gudang tempat Seo Na disekap, pria itu datang dan menemukan Seo Na disini, bagaimana bisa? pikir gadis itu.
“Wah! Akhirnya kau datang Tuan Cho? Hanya sendiri? kau cukup berani”. Terdengar suara tawa kemenangan dari wanita yang kini sudah bertepuk tangan menyambut kedatangan Kyu Hyun diantara mereka, dengan begitu ia akan lebih mudah membuat Seo Na menderita.
“lepaskan gadis itu atau kau yang akan ku bunuh disini”. Ancam pria itu, terlihat jika ia kini tengah memusatkan pandangannya pada tubuh Seo Na yang tengah terikat disebuah kursi kayu dengan kondisi yang sangat jauh dari kata baik. pria itu dengan jelas melihat banyak darah dan luka ditubuh Seo Na, ia bersumpah akan membunuh orang-orang yang membuat gadis-nya menderita sebanyak ini.
Kedua pesuruh wanita itu sudah menghadapkan satu pistolnya tepat kekepala Seo Na, dan satunya lagi mengarah kearah Kyu Hyun, sedangkan wanita itu hanya berdiri sambil melipat kedua tangannya didada, merasa menang ia hanya tersenyum hambar menyaksikan kedua manusia yang ia benci itu terbunuh sekaligus.
“bagaimana permainan ku Tuan Cho? Apa kau suka dengan permainan ku ini? aku sangat menikmati wajahmu yang begitu mengkhawatirkan gadis ini, bagaimana kau sangat begitu mencintainya sedangkan gadis ini sempat ingin membunuhmu”. Ejek gadis itu, menatap wajah Kyu Hyun bengis sedangkan pria itu sudah tidak tahan untuk mengeluarkan pistol didalam saku celananya. Melihat Seo Na begitu, sama saja dengan membuat beberapa urat saraf diotaknya menegang, itu Seo Na-nya gadis yang ia cintai setengah mati.
“Cho Kyu Hyun, kau boleh pergi cukup bermain dengan iblis ini, aku bisa menyelesaikan urusanku”. Akhirnya Seo Na angkat bicara setelah sebelumnya diam, menikmati semua nyeri ditubuhnya yang bahkan membuatnya tak mampu mengurai satu kalimatpun, kedatangan Kyu Hyun sama saja dengan membawa pria itu kedalam penderitaannya.
Kyu Hyun menarik pandangannya kearah Seo Na, pria itu ingin sekali memeluk Seo Na saat ini membersihkan semua luka ditubuh gadis itu sampai tak tersisa sepertinya rencananya mengurung Seo Na disangkar besi benar-benar akan dilakukannya.
“Tuan Cho kau tidak dengar gadis itu ingin kau meninggalkannya? Sepertinya gadis itu benar-benar tak menyukaimu ya? sayang sekali jika ia harus mati disini-“.
‘DORRR!!!’
Suara tembakan itu menjatuhkan seorang pria yang tadinya mengacungkan monconng pistolnya kearah Seo Na, pria itu kini tersungkur ketanah dan beberapa detik kemudian dengan cepat Kyu Hyun mengarahkan pistolnya kearah pria yang tadinya mengacungkan moncong pistolnya kearah Kyu Hyun, Kyu Hyun mengeluarkan beberapa tembakan sehingga pria itu kini sudah terjatuh bersimbah darah ditanah. Semua terjadi dengan cepat, Kyu Hyun menarik pandangannya kesisi lain ternyata yang baru saja membunuh salah seorang pria itu adalah Lee Dong Hae yang datang dari pintu lain digudang tua itu.
Kyu Hyun tersenyum kearah Dong Hae, sedetik kemudian ketika pria itu hendak mengarahkan moncong pistolnya kearah wanita itu, ia sudah melesat meninggalkan mereka didalam gudang ternyata gadis itu sudah merencanakan kemungkinan terburuknya dan memilih kabur dari mereka bertiga, Kyu Hyun mengerang kesal sedangkan Dong Hae memilih mengejar wanita itu hingga ia menemukannya, pria itu tak kalah muak dengan semua ini melihat kondisi Seo Na saat ini membuatnya sama sakitnya seperti Kyu Hyun.
“kau bisa menjaganya kan? Aku akan mengejar wanita itu untuk Seo Na”. Ujar Dong Hae sebelum akhirnya meninggalkan Kyu Hyun dan Seo Na didalam gudang tua itu.
Kyu Hyun setengah berlari kearah Seo Na, hal pertama yang akan dilakukannya adalah melepaskan ikatan pada pergelangan tangan dan kaki gadis itu. “Na-ya, kau baik-baik saja? apa kau masih sadar?”. Ucap pria itu ketika melepas tali pengikat tangan Seo Na.
Seo Na bergumam namun lebih tepatnya mengerang kesakitan, sudah cukup baginya bersandiwara sok kuat sejak tadi sekarang tidak ada lagi wanita yang mencelakainya itu. “sakit”. Ucap gadis itu bergetar.
“aku akan membawamu kerumah sakit, tenanglah”. Kyu Hyun segera menarik tubuh Seo Na kedalam pelukannya lalu menggendong tubuh gadis itu menuju mobil, dan tujuan pertama untuk menyelamatkan gadis itu adalah rumah sakit, ia tidak akan membiarkan Seo Na merasakan pediahnya goresan luka dan lebam akibat pukulan ditubuhnya, bagiamanapun Seo Na-nya gadis itu harus bebas dari rasa sakit apapun, Kyu Hyun bersumpah.
~~~000~~~
Yoo Ra mengangguk paham setelah menerima telepon dari Lee Teuk dan mendengarkan semua instruksi dari pria itu, kini Lee Teuk dan Dong Hae sedang mengejar wanita yang mencelakai Seo Na sampai keperbatasan kota Seoul. LeeTeuk tak kalah panik, setelah Dong Hae menghubunginya pria itu langsung ikut mengejar pelaku penculikan Seo Na. Dan Yoo Ra mendapat telepon dari Kyu Hyun dan menyuruh gadis itu segara menyusul mereka kerumah sakit.
Awalnya Yoo Ra tak habis pikir bagaimana gadis itu bisa-bisanya menerima permainan yang seharusnya ia tau akan mencelakai dirinya itu dan kini gadis itu sudah berbaring diranjang rumah sakit dengan luka dan lebam disekujur tubuhnya, belum lama luka tembakan dibahu gadis itu mengering kini sudah banyak luka-luka baru ditubuh gadis itu, Yoo Ra mengerang kesal.
“Yoo Ra-ssi, kau bisa menjaga Seo Na? Aku harus keruangan Dokter untuk menanyakan kabar gadis itu”. Kyu Hyun baru saja keluar dari kamar Seo Na, gadis itu masih istrahat setelah beberapa perawat membersihkan luka-lukanya dan gadis itu segera tertidur.
Yoo Ra mengangguk. “baiklah, aku akan menjaga Seo Na”. Ucap gadis itu, sebelum akhirnya Kyu Hyun meninggalkannya.
~~~000~~~
Yoo Ra menyibakkan tirai yang menghadap langsung kepemandangan kota Seoul, jam sudah menunjukkan pukul dini hari suasana kota tampak mulai tenang meskipun dari atas gedung rumah sakit ini masih terlihat beberapa kendaraan yang berlalu lalang, kota Seoul tempat mereka tinggal dan dilahirkan memang tak pernah sepi. Ditambah dengan lampu-lampu jalanan dan lampu-lampu gedung pencakar langit yang menambah ramainya kota dimalam hari. Tapi bukan itu yang ada dipikitan Yoo Ra saat ini, namun gadis yang kini tertidur pulas diranjang inapnya dengan beberapa plaster yang menutupi luka-lukanya, yang tak tertupi hanya beberapa lebam diwajah dan tangannya yang jelas terlihat saat ini.
Yoo Ra tau betul bagaimana Seo Na, bagaimana gadis itu menjalani hari-harinya selama ini dan sekarang ada-ada saja orang-orang yang begitu membenci Seo Na hingga membuat gadis ini dua kali masuk rumah sakit dalam waktu singkat. Gadis itu menarik napasnya gusar, harusnya malam itu ia tidak kembali ke apartemennya dan menjaga Seo Na bisa saja gadis itu berpikir dua kali untuk datang ke tempat ia disiksa beberapa jam yang lalu, akhirnya Yoo Ra hanya bisa berpikir untuk segera menyerahkan Seo Na pada pria yang mencintai dan bisa melindunginya, entah itu Dong Hae atau Kyu Hyun siapapun diantara mereka Seo Na tidak harus mendapatkan penderitaan seperti ini lagi, sudah cukup.
“Yoo, kau sedang menangis ya?”. suara serak gadis itu menghalau lamunan Yoo Ra, gadis itu mendongak mendapati wajah Seo Na yang kini tengah menatap kearahnya.
“kau sudah bangun? Kenapa tidak tidur saja? ini masih malam, kau pasti lelah kan?”. Ujar gadis itu, ia tidak ingin Seo Na tau jika kini ia sedang menangis meratapi nasib sahabatnya itu, ia tidak ingin setelah kegilaan gadis itu kembali kepada titik normalnya ia akan menertawai Yoo Ra karena sudah mau menangis karenanya.
“aku sudah tidur tadi, kau kenapa tidak tidur? Ini sudah sangat larut malam kan? Sepertinya beberapa jam lagi matahari akan muncul”. Ucap Seo Na masih dengan ekspresi datar dan terlihat berusaha baik-baik saja.
Yoo Ra menggelang, mengusap punggung tangan sahabatnya itu. “aku akan menjagamu, kau tidur saja Na-ya”. Yoo Ra berusaha tersenyum, meskipun gadis itu ingin sekali menangis mendapati wajah Seo Na yang sudah penuh dengan luka dan memar, meskipun kadar kecantikan gadis itu tak akan berkurang sedikitpun.
“aku baik-baik saja Yoo. Hmm Kyu Hyun dimana?”. Akhirnya gadis itu menanyakan Kyu Hyun, setidaknya ia tau jika pria itu dengan susah payah menggendong tubuhnya kerumah sakit meskipun ia yakin bobot tubuhnya tergolong tidak ringan.
“dia sedang menemui Dokter, setelah ini ia akan menemuimu. Kau merindukannya ya?”. goda Yoo Ra, Seo Na menyipitkan matanya yang terlihat lebam dipelipis disebah kirinya, gadis itu menggeleng.
“tidak, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya”. Ucap gadis itu lalu mengalihkan pandagannya kearah luar jendela yang langsung menyuguhkan pemandangam lampu-lampu gedung pencakar langit. “Yoo, apa gadis itu sangat membenciku? Apa selama ini aku pernah berbuat jahat? Kenapa ia sangat membenciku?”. Ujar gadis itu getir, ekspresinya tetap datar namun Yoo Ra bisa membaca dari mata gadis itu jika Seo Na sangat terluka.
“tidak, kau baik sangat baik. bahkan kau adalah sahabat terbaik didunia. Setelah ini aku akan melaporkanmu ke Guiness Book of Record, sebagai pemecah rekor sahabat terbaik sepanjang masa”. Racau Yoo Ra mengeluarkan candaan-candaan yang sering Seo Na lakukan padanya.
Seo Na terkekeh geli, lalu menatap Yoo Ra dengan tawa tertahan gadis itu tidak bisa terlalu lebar membuka mulutnya, sudut bibir gadis itu masih terluka. “haha oke, kau juga akan ku laporkan ke Guiness Book Of Record sebagai pemecah rekor sahabat yang membuatku jengkel sekaligus sahabat yang mau menerima ku apa adanya”. Celetuk Seo Na, keduanya kini sama-sama tertawa tanpa menyadari jika Kyu Hyun kini sudah berdiri diambang pintu menatap gadisnya yang sudah tertawa diatas ranjang rawatnya, sudut bibir Kyu Hyun tertarik keatas mendengar tawa Seo Na yang begitu terdengar bahagia.
Kyu Hyun berdeham, Seo Na dan Yoo Ra serentak menatap pria itu. kini Kyu Hyun menatap kedua gadis itu bergantian. “sudah baikkan?”. Ucap pria itu, lalu melangkahkan kakinya kesamping ranjang Seo Na dan menatap wajah gadis itu yang kini juga tengah menatapnya.
“sangat baik, jauh lebih baik dari sebelumnya”.
“sok kuat”. Ejek Kyu Hyun, pria itu kini beralih menatap Yoo Ra tanpa memperdulikan wajah Seo Na yang jengkel.
“Dokter bilang kalau besok pagi gadis ini sudah bisa pulang”. Ujar Kyu Hyun, Yoo Ra mengangguk paham lalu terkekeh kecil menatap Seo Na yang sudah memajukan bibirnya beberapa senti. “dan kau Nona Park, mulai besok kau akan tinggal dirumah ibu-ku sebelum kondisimu benar-benar baik. Ahra Noona akan mengurus semuanya, lagi pula pelayan dirumah ibuku banyak yang kurang bekerja jadi mereka bisa mengawasimu, mengerti?”.
“APA?! Bagaimana kau bisa memutuskan hal yang semacam itu secara sepihak, kau bahkan tidak menanyakan persetujuanku, memangnya aku mau?”. Protes Seo Na menaikkan nada suaranya tidak terlalu peduli lagi dengan sakit disudut bibirnya.
“sampai kiamatpun kau juga tidak akan mau menerima perintahku”. Tandas Kyu Hyun lalu memilih duduk dikursi yang tidak jauh dari ranjang Seo Na. “aku akan memberi tau Lee Teuk Hyung, dan Yoo Ra sudah menyetujuinya”.
“Dong Hae-ssi?”.
“memangnya kenapa dengan dia? kau pikir dia akan rela-rela menjagamu? Sedangkan mengurus dirinya saja dia tidak becus, apa lagi mengurus gadis merepotkan dan keras kepala sepertimu, jikapun ia mengirimmu ke ibunya kau mau tinggal dimokpo lalu perusahaanmu jatuh ketanganku dan aku akan mengambil semua hartamu, kau mau?”. Ancam pria itu yang sebenarnya tidak benar sungguh-sungguh, Seo Na menatap Kyu Hyun tajam membuang pandangannya pada pria itu lalu memilih memejamkan matanya, sedangkan Yoo Ra memilih kabur dari dalam kamar inap Seo Na sebelum lebih banyak mendengar percecokan diantara kedua manusia yang kadar gilanya tidak jauh beda ini.
“terserah kau saja”. ucap Seo Na akhirnya, gadis itu menyerah lagi pula tidak ada pilihan lain.
“bagus! Kalau begitu setelah luka-lukamu pulih kita akan menikah”.
“APA???!!!”.
~~~000~~~
Dong Hae memutar kenop pintu ruang inap itu, mendapati Seo Na yang kini tengah duduk diatas ranjangnya dengan beberapa sarapan dihadapannya dan juga Kyu Hyun yang kini tengah berusaha memasukkan beberapa suap bubur kedalam mulut gadis itu.
“apa aku mengganggu?”. Suara Dong Hae menyita perhatian keduanya, Seo Na tampak tersenyum lalu menggelangkan kepalanya pelan.
“sama sekali tidak, masuklah Dong Hae-ssi. akhirnya aku bisa bebas dari bubur menjijikan ini”. ucap gadis itu sambil melototkan matanya kearah Kyu Hyun yang sejak tadi memaksanya memakan makanan rumah sakit yang sama sekali tidak mengurangi rasa laparnya. “apa ada sesuatu?”.
“aku hanya ingin melihat kondisimu”. Ujar pria itu, menatap sejenak kearah Kyu Hyun yang kini memeilih menyingkirkan makanan dihadapan Seo Na . “apa sudah baikkan?”. Lanjut Dong Hae yang kini sudah berada disamping Seo Na menatap gadis itu penuh kekhawatiran.
Seo Na tersenyum lalu gadis itu menggelang lemah. “aku sudah sangat baik, setelah ini aku akan kembali ke Apartemen, hmm maksudku rumah Nyonya Cho”. Jelas gadis itu ragu untuk mengatakannya pada Dong Hae saat ini, meski ia tau Dong Hae tak ada hubungan dengannya tapi beberapa waktu lalu pria itu sudah mengatakan rasa sukanya terhadap Seo Na, jadi gadis itu merasa tak enak hati mengatakan hal yang demikian pada Dong Hae.
Dahi pria itu mengerinyit, ia menatap Seo Na penuh tanda tanya. “Nyonya Cho? Maksudmu?”.
“Seo Na akan dirawat ibu dan kakak-ku, Hyung. Ia akan tinggal disana sampai gadis itu sembuh total, jika ia tetap dibiarkan tinggal sendirian pasti wanita gila itu benar-benar akan membunuh Seo Na, lagi pula kalian tidak berhasil menangkapnya kan?”. Ucapan Kyu Hyun terdengar begitu menyakitkan ditelinga Dong Hae, bagian dimana gadis itu harus dirawat oleh ibu Kyu Hyun, dan mungkin saja kesempatan Kyu Hyun untuk mendapatkan Seo Na dan memiliki gadis itu begitu besar. Tapi bagaimanapun Seo Na memang harus mendapat perlindungan dan dirinya bukan orang yang tepat, Dong Hae tidak mungkin menjaga gadis itu sedangkan ia masih harus bekerja.
Dong Hae mengangguk paham, setelah pria itu memutar otaknya untuk berpikir demi keselamatan Seo Na mungkin hanya ini yang bisa ia lakukan, lagi pula keselamatan gadis itu menjadi tujuan utamanya saat ini, setelah kehilangan jejak saat mengejar wanita yang menculik Seo Na tadi malam pria itu memutuskan untuk kembali dan datang pagi-pagi sekali kerumah sakit.
“baiklah, aku hanya tidak ingin Seo Na dicelakai lagi”. Papar pria itu, lalu menatap lurus kearah Seo Na. “kau harus istirahat yang banyak gadis bodoh, bagaimana bisa kau datang ketempat itu menyerahkan dirimu? Apa yang terjadi jika aku dan Kyu Hyun tidak datang”.
Seo Na mengerucutkan bibirnya lalu menatap bergantian kearah Kyu Hyun dan Dong Hae. “apa kau mau aku bisikkan sesuatu?”. Ucap Seo Na dengan suara yang dikecilkan. Dong Hae mengangguk bingung sambil memajukan kepalanya kearah gadis itu. “kau tau, Kyu Hyun itu pria yang menyebalkan”. Ucap Seo Na dengan berbisik kearah telinga kiri Dong Hae, pria itu terkekeh lalu menjauhkan lagi telinganya dari mulut Seo Na menatap Kyu Hyun yang kini sudah memasang tampang terbuasnya kearah kedua makhluk dihadapannya itu.
“aku akan mengantar beberapa barangmu ke mobil, setelah ini aku harus mengurus administrasi rumah sakit”. Ucap Kyu Hyun datar, lalu meninggalkan kedua manusia itu yang sejak tadi menahan tawanya. Kyu Hyun saat ini benar-benar dibakar api cemburu.
“sepertinya Kyu Hyun cemburu denganku”. Ujar Dong Hae sebelum akhirnya menghentikan tawanya dengan Seo Na, gadis itu juga segera mengulum senyumnya dan menatap Dong Hae.
“aku rasa begitu”. Ucap gadis itu datar, memperbaiki duduknya dan kini kaki gadis itu terjuntai ke lantai.
“jadi kau akan tinggal dirumah Ibu Kyu Hyun?”. Tanya Dong Hae, Seo Na menatapnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Gadis itu mengangguk tanpa bersuara. “aku percaya pada bibi Cho, dia pasti akan merawatmu dengan baik. Ahra juga pasti akan bersedia merawatmu Na-ya, aku mengerti bagaimana perasaan Kyu Hyun, pria itu dan aku sama-sama tidak ingin kau terluka”. Lanjut Dong Hae lalu mengusap puncak kepala Seo Na.
Gadis itu menatap Dong Hae lurus, tersenyum kearah pria itu. “aku juga tidak ingin merepotkan orang lain Dong Hae-ssi. setelah aku sembuh aku benar-benar akan kembali ke apartemenku”. Tambah Seo Na.
Dong Hae menatap mata gadis itu, ada kegelisahan yang tiba-tiba ia rasakan sekarang. Ia sepertinya memang bukan pria yang tepat yang bisa menjaga Seo Na, Kyu Hyun mempunyai semua apa yang dibutuhkan gadis itu meskipun Seo Na tidak menginginkan apa-apa dari Kyu Hyun, tapi dari cara Kyu Hyun yang memperlakukan Seo Na sekarang pria itu menaruh banyak kekhawatiran pada diri Seo Na, seperti itu juga yang Dong Hae rasakan sekarang tapi Seo Na tidak memerlukan apa-apa darinya, disaat seperti ini haruskah pria itu masih berharap banyak pada Seo Na? Bagaimana jika ia merelakan gadis itu menikah dan hidup aman ditangan Kyu Hyun? Tapi bagaimana dengan cintanya terhadap Seo Na? Seribu pertanyaan menjalar diotak pria berwajah tampan itu, yang ia harapakan hanya kebahagiaan Seo Na, tak lebih.
~~~000~~~
Seo Na berjalan pelan sambil di gopoh oleh Kyu Hyun dan juga Yoo Ra, gadis itu akhirnya tiba dirumah mewah milik keluarga Cho, meskipun ia yakin rumah ini bisa ia beli dengan kekayaan yang ia miliki mungkin jauh lebih banyak dari aset keluarga Cho Company. Rumah bergaya eropa dengan dinding cat yang terkesan lembut, di sisi kiri tempat gadis itu berpijak saat ini disuguhkan dengan pemandangan luar ruangan yang langsung menghadap pada taman dengan bunga-bunga yang tengah bermekaran. Seo Na yakin, saat ia menatap dirumah ini nantinya ia akan menghabiskan waktunya ditaman itu.
Seo Na menatap wajah Kyu Hyun yang sejak tadi asik menuntunnya dari jarak sedekat ini , kali ini fokus Seo Na berpindah pada wajah Kyu Hyun, gadis itu tidak bisa berbohong tentang bagaimana tampannya pria itu dan bagaimana nyamannya tubuh gadis itu ketika didalam perlindungan Kyu Hyun, tubuh gadis itu seperti ingin terus merasakan setiap perlakuan yang diberikan Kyu Hyun. Dan itu membuat Seo Na ingin memekik seketika, ia tidak yakin jika ia bisa menolak semua pesona pria itu, ia tertarik tapi sebisa mungkin ia membohongi semua fakta yang ada.
“Kyu Hyun-ah”. Terdengar suara wanita cantik yang kini sedang menggandeng anak kecil berumur 4 tahun , lalu wanita itu mendekat kearah mereka yang baru saja masuk kedalam rumah mewah bergaya eropa itu. Seo Na yakin itu adalah kakak Cho Kyu Hyun.
Kyu Hyun mendongak mendapati wajah Ahra yang tiba-tiba berseri tanpa aba-aba ia yakin wanita itu senang dengan keputusan Kyu Hyun untuk membawa Seo Na kerumah mereka, lebih tepatnya menjadikan Seo Na umpan agar Kyu Hyun segera menikah seperti yang direncanakan Ibunya.
“jadi ini gadis-mu itu? eh maksudku Park Seo Na?”. Yoo Ra yang sedang menyaksikan pertemuan kakak Kyu Hyun dengan sahabatnya hanya terkekeh geli, ia persis seperti menonton drama-drama di televisi.
Seo Na mengangguk, lalu menjauhkan tubuhnya dari Kyu Hyun memilih bergantung pada sahabatnya Yoo Ra, gadis itu tersenyum sedikit menunduk kearah Ahra. “Ne Eonni, aku Park Seo Na”. Ucap gadis itu gugup, ia yakin wajahnya tampak bodoh saat ini.
“aku Han Yoo Ra, sahabat Seo Na”. Kali ini Yoo Ra yang bergantian memperkenalkan dirinya pada kakak Kyu Hyun, Ahra tersenyum lebar melepaskan pegangannya pada anak laki-lakinya itu lalu beringsut ke tempat Seo Na, lalu segera menuntun gadis itu ke ruangan lain, Seo Na yakin itu adalah ruang keluarga. Seo Na duduk persis disamping Ahra gadis itu tersenyum kaku, sedangkan Yoo Ra dan Kyu Hyun sibuk memindahkan barang-barang Seo Na dari dalam mobil.
“apa aku boleh bertanya?”. Suara lembut Ahra terdengar begitu hangat, Seo Na mengangguk. “hmm, maaf kan aku sebelumnya Na-ya, kau adik Seo Yeo bukan?”. Tanya Ahra akhirnya.
Gadis itu tersenyum, mendengar nada bicara Ahra yang terdengar ragu. “Gweancana Eonni, ya kau benar aku adik kandung Park Seo Yeo”. Ucap gadis itu mantap, diselingi senyum dibibirnya. Ia tidak ingin Ahra merasa bersalah dengan pertanyaannya yang memang sangat wajar.
“aku minta maaf atas semua yang terjadi dimasa lalu, aku sudah mendengar semua ceritanya dari Dong Hae, tentang kakakmu dan juga Kyu Hyun”. Terdengar jika Ahra begitu menyesal atas semua kejadian yang menimpa Seo Na dimasa lalu, kematian Seo Yeo memang tidak ada hubungannya dengan Kyu Hyun.
“aku tidak menyalahkan siapapun lagi Eonni, aku yang merasa sangat bersalah pada Kyu Hyun-ssi. selama bertahun-tahun aku menyalahkannya, tapi ternyata apa yang aku duga selama ini ternyata salah”. papar gadis itu, Ahra mengusap punggung tangan Seo Na mengantarkan kehangatan pada gadis itu, tiba-tiba saja Seo Na teringat kakanya yang sering menguatkannya dengan cara seperti itu.
“Kyu Hyun sangat mencintaimu, setelah kematian Seo Yeo ia sangat merasa bersalah. Bahkan ia sempat mencarimu kemana-mana, tapi ia tidak menemukanmu”. Ujar Ahra, Seo Na menatap wajah kakak Kyu Hyun itu, entah kenapa setiap pengakuan yang keluar dari mulut Ahra membuat kepala Seo Na tiba-tiba dihantam benda keras. Kenyataan yang harus ia terima sekarang ialah, Cho Kyu Hyun memang sangat mencintainya.
“aku sudah memindahkan semua barang-barangmu kedalam kamar yang akan kau tempati, jika kau ingin melihat kamarmu akan aku antarkan Nona Park”. Tiba-tiba Suara Kyu Hyun menghentikan pembicaraan antara Ahra dan Seo Na, gadis itu menatap Kyu Hyun yang kini berdiri tak jauh dari hadapannya, baju pria itu basah dibagian dadanya. Seo Na memang hampir membawa semua barang-barang didalam kamarnya, untung saja gadis itu tidak memutuskan membawa tempat tidurnya kemari setelah Yoo Ra mencoba melarang gadis itu.
“baiklah, aku akan melihat kamar untukku”. Jawab Seo Na, lalu menatap Yoo Ra sejenak. “tapi aku ingin Yoo Ra ikut denganku”.
“tidak-tidak, aku lelah setelah membantu Kyu Hyun-ssi mengangkat barang-barangmu, kau bisa pergi dengan Kyu Hyun-ssi dan aku akan berbincang dengan Ahra Eonni disini”. Tolak sahabatnya itu mentah-mentah, memang bukan itu yang menjadi alasan kenapa Yoo Ra menolak ikut dengan dua manusia keras kepala itu, tapi ia ingin memberi waktu bagi Seo Na dan Kyu Hyun untuk bersama.
Seo Na mendengus, menatap kearah Kyu Hyun yang sudah melipat kedua tangannya didada. “baiklah”. Ucap gadis itu pasrah, Kyu Hyun mengangkat sudut bibirnya lalu menuntun Seo Na ke lantai dua tempat kamar gadis itu berada.
~~~000~~~
Kyu Hyun membuka pintu kamar yang akan segera ditempati Seo Na, kamar dengan super luas dan super megah itu di rancang khusus untuk Kyu Hyun dimasa lalu, sebelum pria itu memutuskan untuk tinggal sendiri dan membeli sebuah apartemen mewah dikawasan distrik Gangnam.
Seo Na melepas tangan Kyu Hyun yang sejak tadi menjaga jarak begitu dekat dengan Seo Na sambil menuntun gadis itu, jika ia berlama-lama dalam keadaan seperti ini ia yakin ia bisa mabuk dengan aroma parfum yang tercium dari tubuh Kyu Hyun, Seo Na menatap Kyu Hyun sejenak sebelum akhirnya melihat seluruh isi kamar yang akan ia tempati beberapa hari kedepan. Di depan kamar hanya berdinding kaca langsung menghadap pada beranda luar kamar menyuguhkan pemandangan pepohonan hijau didepannya dan kolam cukup luas dibawah sana. Jika ini bukan kepunyaan keluarga Cho ia yakin sudah membeli semua fasilitas dan rumah ini untuknya.
“kau suka?”. Suara pria itu tepat terdengar disamping wajah Seo Na, gadis itu berdelik menatap wajah Kyu Hyun yang tak jauh dari wajahnya. “bagaimana?”. Lanjut pria itu lagi.
“aku suka”. Ujar Seo Na, lalu berusaha menjauh dari pria itu menyeret kakinya yang masih diperban dan dipenuhi memar-memar. Belum sempat gadis itu menjauh Kyu Hyun sudah menyambar pergelangan tangan gadis itu, Seo Na mengalihkan pandangannya kearah Kyu Hyun.
“apa?”. ucap gadis itu kaget, jika ia tidak sedang sakit dan tubuhnya tidak dipenuhi memar dan luka ia yakin ia sudah menghantam pria itu sejak tadi, bagaimana pria itu tidak tau jika jantungnya kini ingin melompat keluar karena tatapan intensnya yang mematikan itu.
“terima kenyataannya jika aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku Nona Park”. Ujar Kyu Hyun datar, tetap dengan gaya sok Cool nya yang membuat Seo Na ingin menjambak rambut coklat pria itu seketika.
“apa?! aku tidak salah dengarkan?”. Seo Na setengah berteriak, setelah ini ia akan kerumah sakit jiwa bersama Kyu Hyun, memeriksa kadar kegilaan pria itu. “kau Cho Kyu Hyun, berhenti berbuat seenaknya. Setelah kau menyeretku kerumah mu sekarang kau mau aku mengakui aku mencintaimu? Begitu? Baiklah asal kau tau Tuan Cho, aku hanya berhutang budi padamu karena kau yang menyelamatkan tadi malam”.
“Dong Hae juga berhutang budi padamu, tapi kenapa kau memilihku dari pada pria itu? hum?”. Seo Na tersedut, kali ini pria itu benar, Dong Hae juga menolongnya tadi malam kan? Lagi pula pria itu yang menembak orang-orang yang menculiknya, tapi bagaimana ia begitu merasa berterimakasih pada Kyu Hyun. Seo Na mengerjapkan matanya, ia yakin ia tidak sedang jatuh cinta pada Kyu Hyun kan? Pikir gadis itu panik.
“jadi aku benarkan? Kau mencintaiku?”.
“terserah kau saja”. Seo Na melotot kearah Kyu Hyun menarik pergelangan tangannya dari pria itu tapi saat Seo Na berbalik kaki kirinya terasa sakit gadis itu terhuyung kebelakang dan kali ini tubuhnya mendarat persis didalam dekapan Kyu Hyun, Seo Na meringis kesakitan tapi saat gadis itu membuka matanya kini wajah Kyu Hyun sudah berada beberapa senti dari wajahnya.
“sudah ku bilang, jangan banyak bergerak kakimu itu masih sakit”. Ucap Kyu Hyun dengan suara rendah bahkan terdengar berbisik. Seo Na masih menatap wajah pria itu, ia begitu menikmati wajah Kyu Hyun yang begitu dekat dengan dengannya, entah sejak kapan gadis itu berpikir jika bibir Kyu Hyun terlihat begitu menarik.
‘APA YANG AKU PIKIRKAN!!!’. Teriak Seo Na dalam hatinya, sebelum gadis itu bangkit dari dalam dekapan Kyu Hyun namun sedetik kemudian tubuhnya tiba-tiba ambruk kembali karena kakinya memang tidak terlalu kuat untuk berjalan.
Kyu Hyun menggendong tubuh Seo Na kedalam kamarnya kembali setelah keduanya melakukan adu argument diberanda luar, pria itu merebahkan tubuh Seo Na diranjangnya, lalu membetulkan selimut gadis itu sehingga menutupi bagian kaki hingga pinggang Seo Na.
“berhentilah jadi gadis keras kepala dan turuti semua kata-kataku, mengerti?”. Ujar pria itu, yang hanya direspon cibiran dari Seo Na. “aku akan kembali ke kantor, aku harap kau hanya istirahat dan jangan lakukan apapun yang membuat tubuhmu terluka, aku tidak ingin ketika malam pertama denganmu tubuhmu masih dipenuhi memar yang sama sekali tidak seksi itu”. lanjut pria itu lalu terkekeh, membuat Seo Na hanya melonga tak percaya dengan ocehan Kyu Hyun yang terdengar seperti –minta ditendang- dari hadapan Seo Na.
‘astaga, sepertinya aku memang butuh rumah sakit jiwa untuk pria itu’. gumam Seo Na setelah melihat punggung Kyu Hyun menghilang dari balik pintu kamarnya.
~~~000~~~
Jae Eun memalingkan pandangannya dari Eun Hyuk yang sejak tadi menatapnya curiga, sejak tadi malam gadis itu tiba-tiba menghilang dari apartemennya ketika Eun Hyuk meminta beberapa berkas laporan untuk perusahaan mereka. Akhir-akhir ini Eun Hyuk begitu sibuk dengan perusahaannya yang kembali mulai beroperasi ditambah beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan diluar kota bersama beberapa rekan bisnisnya dan setelah tidak bertemu Jae Eun di apartemennya tadi malam akhirnya pria itu harus menemui gadis itu dikantor pagi ini.
“aku sudah menyelesaikan semua berkas laporan yang kau minta”. Ujar gadis itu sambil memberikan setumpuk kertas yang sejak tadi berada ditangannya.
“Eun-ah, tidak ada yang salah denganmu kan? Tadi malam kau kemana saja? aku mencarimu ke apartemen dan kau tidak ada disana, aku juga menghubungi ponselmu tapi tidak aktif”. Eun Hyuk menatap gadis itu, tidak terlalu memperdulikan soal laporan pekerjaan yang diberikan Jae Eun padanya.
“hmm, aku.. aku hanya pergi dengan teman-temanku, dan soal ponsel aku sengaja mematikannya”. Ucap gadis itu gugup, ia menekan ujung jempolnya sendiri, ia tau Eun Hyuk bukan pria yang gampang ia bohongi pria itu tau luar dalam gadis itu, ia dan Eun Hyuk sudah lama bersama sebagai teman jadi tidak mungkin pria itu tidak mencium gelagat aneh dari Jae Eun.
“baiklah, aku tidak akan menuduhmu yang tidak-tidak lagi pula itu adalah urusan pribadimu, aku hanya ingin kau bisa menjaga kepercayaanku Eun-ah, walaupun aku tidak akan mencurigaimu lagi tapi aku tau rencana apa yang kau simpan untuk gadis itu”. Jae Eun tertegun ditempatnya menunduk menyembunyikan kegelisahan raut wajahnya, gadis itu segera beranjak dari hadapan Eun Hyuk diruang kerjanya sebelum ia permisi pada berambut pirang itu.
Eun Hyuk mengadahkan kepalanya kelangit-langit ruang kerjanya, menyandarkan tubuhnya dikursi empuk yang tengah ia duduki anak rambutnya menuti sebagian dahi pria itu, sudah beberapa minggu sejak makan malam itu, Eun Hyuk tidak pernah lagi bertemu dengan Seo Na pria itu sudah sangat sibuk belakangan ini ditambah lagi beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan diluar kota jadi tidak akan ada waktu hanya untuk sekedar bertemu atau berkunjung keperusahaan gadis itu.
Pria itu menekan beberapa menu di ponselnya memilih salah satu nama disana hingga akhirnya panggilan pria itu terhubung pada gadis di ujung sana, Eun Hyuk tersenyum mendengar suara gadis itu yang tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu gadis itu mengangkat panggilan telefonnya.
“apa kabarmu?”. Ucap pria itu, sambil tersenyum menunggu jawaban gadis itu. Tapi sedetik kemudian raut wajah Eun Hyuk berubah mendengar bahwa gadis itu baru saja keluar dari rumah sakit.
“rumah sakit? Apa yang terjadi? Kyu Hyun? Kau berada dirumah ibunya? Baiklah, setelah aku pulang dari kantor aku akan menjengukmu, kirimkan alamatnya melalui pesan. Hmmm, Seo Na-ssi beristirahatlah”. Ucap Eun Hyuk penuh kekhawatiran, ada apa sebenarnya dengan gadis yang tengah ia rindukan itu? apa ada hubungannya dengan menghilangnya Jae Eun tadi malam?
~~~000~~~
Kyu Hyun mengetuk pintu kamar Seo Na pelan, namun tidak ada jawaban dari sana akhirnya pria itu memutusakn masuk kedalam kamar Seo Na dan menemukan gadis itu tengah tertidur diatas ranjangnya dengan balutan baju tidur yang kelihatan terlalu besar di tubuh ramping gadis itu.
Hari ini pria itu memutuskan untuk pulang lebih awal dari kantornya, tidak seperti biasanya Kyu Hyun pasti akan kembali ke apartemennya setelah ia pulang bekerja namun hari ini pria itu memutuskan kerumah ibunya untuk melihat keadaan Seo Na, gadis yang selama seharian ini menyita perhatiannya dikantor, kosentrasi pria itu buyar ketika memikirkan gadis itu, Seo Na menjelma dalam versi apapun dalam otaknya dan itu tidak akan pernah bisa dihentikan oleh seorang Cho Kyu Hyun yang dingin.
Kyu Hyun beringsut mendekat kearah Seo Na, tersenyum ketika mendapati wajah cantik gadis itu tengah tertidur dengan mimpi didalamnya, persetan dengan apa yang dimimpikan gadis itu yang Kyu Hyun inginkan saat ini adalah mimpinya yang terwujud untuk segera menikahi gadis keras kepala yang tengah terbaring ini, ia menggilai gadis ini.
“Na-ya”. panggil Kyu Hyun, mendekatkan wajahnya ketelinga Seo Na. Kyu Hyun mengelus wajah gadis itu, menyentuh anak rambut Seo Na yang tergerai didahi mulusnya, rambut yang kini sudah mulai memanjang tidak seperti saat pertama kali Kyu Hyun bertemu dengan gadis ini beberapa waktu yang lalu, dengan potongan rambut sebahunya yang kini sudah jauh melewati bahunya.
“Eomma~”. Tiba-tiba Seo Na bersuara, mengalihkan perhatian Kyu Hyun yang sejak tadi menjamah rambut gadis itu, Kyu Hyun terkesip memandangi bibir Seo Na yang terus memanggil ibunya, namun tetap dengan mata yang tertutup rapat, bisa dilihat dengan jelas jika air mata kini turun dari mata gadis itu keningnya pun berkerut.
“Na-ya? kau baik-baik saja?!”. Ujar pria itu khawatir, sambil mengenggam tangan kanan Seo Na erat.
“Eomma!”. Seo Na menghentak keras, napasnya tersengal dan kini gadis itu terbangun sambil mengatur napasnya yang tak beraturan, ia menatap wajah Kyu Hyun yang kini menatapnya.
“Na-ya? kau baik-baik saja? apa yang terjadi, kau bermimpi buruk?”. ujar pria itu lagi, Kyu Hyun tampak panik ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi dengan gadis ini lagi.
“Hyun-ah, aku bermimpi bertemu ibuku, Kyu Hyun-ah ia meninggalkanku lagi!”. Teriak gadis itu, ada kepedihan dari kata-katanya, kini air mata mengalir deras dari mata gadis itu. Kyu Hyun merengkuh tubuh gadis itu menariknya kedalam pelukannya membiarkan Seo Na tenang didalam dekapan pria itu.
“tidak apa-apa, aku disini. Aku tidak akan meninggalkanmu, kau hanya bermimpi. Tenanglah”. Kyu Hyun mengelus punggung Seo Na yang turun naik, gadis itu terisak bahkan kali ini ia tidak peduli dengan siapa yang dipeluknya saat ini, Seo Na takut akan semua mimpi buruk yang sering menghantuinya selama ini.
Kyu Hyun tetap memeluk tubuh gadis itu membiarkan Seo Na tenang didalam pelukannya cukup lama sampai tanpa pria itu sadar jika gadis itu kini sudah kembali tertidur didalam pelukannya. Kyu Hyun kembali merebahkan tubuh Seo Na di atas ranjangnya, membiarkan tubuh gadis itu beristirahat lebih banyak. Bekas luka ditubuh Seo Na masih terlihat jelas, mungkin akan memakan waktu yang cukup lama untuk menghilangkan bekas lebam dan luka ditubuh gadis itu, termasuk wajahnya.
Pria itu mengecup dahi Seo Na, sebelum akhirnya mengambil tempat untuk berbaring persis disamping gadis itu, ia takut jika Seo Na bermimpi buruk dan terbangun lagi dengan air mata di pipinya, lagi pula ia hanya berniat baik ia bukan maniak seks yang akan meniduri gadis yang tubuhnya sedang dipenuhi luka ini, meski sejujurnya Kyu Hyun memuja Seo Na dan tidak bisa memungkuri jika tubuh gadis itu menarik tapi kali ini ia akan menyingkirkan semua itu demi keselamatan gadis yang tengah tertidur didekatnya ini, apapun yang terjadi Seo Na adalah miliknya.

To Be Continue
~~~000~~~

REVENGE BEFORE LOVE (4/?)

Standard

RERE_副本

 

REVENGE BEFORE LOVE (4/?)
Action, Romance. PG + 17
Cast :
Cho Kyu Hyun
Lee Dong Hae
Park Seo Na

“bagaimana dengan rancangan perusahaan yang akan kita jalani, apa semua sudah selesai?”. ucap pria itu sambil mengechek beberapa data perusahaannya yang terbengkalai selama sebulan ini. Eun Hyuk menghentikan perusahaannya sudah 3 hari lebih untuk merancang kembali kinerja yang akan ia jalani selanjutnya sebagai pemimpin perusahaan dibidang tekstil itu.
“aku sudah menyusun beberapa rancangan yang sepertinya sangat akurat, ditambah dengan keluhan konsumen selama ini dengan produksi dari perusahaan kita, dan lagi beberapa mode-mode yang sedang banyak diminati oleh para konsumen, mungkin ini sangat membantu”. Jelas Jae Eun sambil memperlihatkan data-data yang ia dapat dilayar besar dihadapan beberapa pemimpin perusahaan.
“baiklah Eun Hyuk-ssi, aku setuju dengan proyek baru yang akan kita jalani, tidak ada salahnya juga jika kita meminta penanaman saham dari perusahaan lain, aku dengan-dengar Cho Company mendapat saham 10% dari PTI Corp dan yang aku dengar lagi kedua perusahaan itu saling menguntungkan dan membuat keduanya berada sejajar, setelah kemarin Cho Company ikut merosot jauh kebawah”. Tambah pria yang marganya sama dengan Eun Hyuk itu, Lee Sung Min.
“tentang hal itu akan aku pikirkan lagi, tapi kita masih punya beberapa modal yang akan kita gunakan sebaik mungkin, pengeluaran perusahaan bisa kita perkecil sehingga keuntungan yang kita dapat selama ini bisa kita gunakan dengan baik, bagaimana?”. Papar Eun Hyuk, yang akhirnya mendapat anggukan dari Sung Min, Jae Eun, dan beberapa rekan bisnis mereka lainnya yang hadir pada meeting siang itu.
“baiklah, kita bisa cukupkan sampai disini, lusa kita akan membuat perubahan besar dan aku yakin kita bisa mendulang kesuksesan seperti sebelumnya”. Tambah pria itu lagi, sebelum akhirnya meeting selesai dan semua kembali bekerja seperti biasanya.
Jae Eun membereskan beberapa berkas yang baru saja ia presentasikan didepan, gadis itu sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Eun Hyuk. ia sibuk mempersiapkan rencana baru perusahaan ditambah gadis itu memilih menenagkan dirinya ketimbang bertemu dengan pria itu, yang ia rasakan hanya rasa sakit dan cemburu yang terus membabi buta dihatinya, apa lagi ia baru mendengar jika Eun Hyuk melakukan makan malam berdua dengan wanita yang digilai Eun Hyuk saat ini, Park Seo Na.
“Jae Eun-ssi”. Jae Eun menoleh pada sumber suara, ia dapati kini Eun Hyuk sudah berdiri tepat di depan pintu keluar ruang meeting mereka.
“Ne?”. jawab gadis itu singkat, lebih fokus pada berkas-berkas yang tengah ia rapikan.
“soal hari itu aku ingin-“.
“gweancana, aku sudah melupakkannya”. Potong Jae Eun, tanpa membiarkan Eun Hyuk menjelaskan perkara detail yang tengah mereka alami.
Eun Hyuk mendekat kearah gadis itu, berdiri tepat disamping Jae Eun. “aku tidak ingin kau salah paham, sudah kukatakan kita akan sukses tanpa melukainya kan? Dan aku sudah bertemu dengannya, ia tidak terluka terlalu parah”. Jelas Eun Hyuk, gadis itu hanya menatap Eun Hyuk sejenak lalu mengangguk mengerti.
“apa kau khawatir aku melukainya?”.
“tentu saja, dan aku juga tidak ingin kau terluka”. Papar pria itu akhirnya, Jae Eun menatap pria itu membiarkan bola matanya kini basah, air matanya mengalir begitu saja menciptakan sungai kecil di pipi mulus gadis itu.
“sayangnya aku jauh lebih terluka darinya”. Tandas Jae Eun, lalu mengambil berkas yang sudah tersusun diatas meja sebelum akhirnya memutuskan beranjak dari hadapan Eun Hyuk.
“Han Jae Eun!!!”. Langkah gadis itu terhenti, ia bisa mendengar dengan jelas teriakkan Eun Hyuk memanggil namanya, terdengar seisi ruangan bergema oleh suara pria itu.
Jae Eun tetap ditempatnya, tidak berbalik menatap Eun Hyuk yang kini berjalan mendekat kearah gadis itu. “apa kau akan terus membiarkan aku begini? Memikirkan apa sebenarnya yang kau inginkan, kau tau kau semakin berubah Eun-ah. Apa yang terjadi denganmu? Ha?!”.
“kau bertanya apa yang terjadi denganku Eun Hyuk-ssi? kau mau tau? Dengarkan aku baik-baik, aku tidak akan pernah menyukai Park Seo Na, gadis itu aku tidak akan pernah menyukainya!”. Geram gadis itu, melepaskan cengkraman tangan Eun Hyuk meninggalkan pria itu ditempatnya membiarkan semua air matanya meluap begitu saja.
“aku membencinya, karena dia mengambil semua yang kumiliki”.
~~~000~~~
“besok pagi aku akan membawanya ke Mokpo”. Dong Hae menyusup teh yang sejak tadi berada digenggamannya. Kyu Hyun menatap sahabatnya itu sejenak lalu melemparkan pandangannya keluar jendela cafe.
“aku harap kau tidak melakukan apa-apa padanya”. Ucap Kyu Hyun dingin, Dong Hae sedikit terkekeh mendengar nada bicara Kyu Hyun yang terdengar sangat cemburu.
“aku tidak jamin jika aku tidak melakukan apa-apa padanya, tapi tenanglah aku akan menidurinya seteleh aku menikah dengannya nanti”.
Kyu Hyun mencibir mendengar ucapan Dong Hae. “dia masih tidak menginginkan siapa-siapa jadi suaminya, Hyung”. Timpal Kyu Hyun menyambar teh hangat dihadapannya lalu meneguk cairan itu brutal.
“tenanglah Kyu Hyun-ah, aku tidak akan berbuat curang sebelum kau berbuat curang. Aku ingin tau seberapa besar cinta yang kau miliki pada gadis itu, sehingga ia bisa merubahmu menjadi seperti ini, jika ia memilihmu, aku siap merelakannya, dan aku hanya ingin kau menjaganya dengan baik”.
“aku tidak akan membiarkannya terluka lagi, tidak akan”.
~~~000~~~
“kau mau kemana?”. Kening Yoo Ra mengerinyit, memperhatikan Seo Na yang sejak tadi memasukkan beberapa barang pribadinya kedalam tas tangan yang tidak terlalu besar. Seo Na melirik Yoo Ra sejenak lalu kembali pada kesibukkannya semula.
“ke Mokpo”. Jawab gadis itu singkat.
“Mokpo? Apa ada pertemuan dengan rekan bisnismu? Dengan siapa? kau sendirian? Sejak kapan kau mau berkunjung ke kota kecil? Bukankah selama ini kau lebih suka Eropa dan segala tetek bengeknya”.
“dengan Lee Dong Hae, ia mengajakku berkunjung ke rumah Ibunya”. Tidak perlu menjawab semua pertanyaan rumit Yoo Ra yang lebih terdengar seperti wartawan berita, toh dengan hanya menjawab seperti itu Yoo Ra sudah berdelik kaget mendengar jawaban sahabatnya itu.
“Apa?! Lee Dong Hae? Kerumah Ibunya? Pria itu akan menikahimu disana ya? sepertinya serius sekali? Bagaimana dengan Kyu Hyun?”. Dumel gadis itu tak henti-hentinya. Seo Na melempar pandangan mematikan kearah Yoo Ra, gadis itu akhirnya melongos pasrah.
“aku hanya menemaninya, lagi pula ia berjanji mengajakku kepantai”. Ujar gadis itu, Yoo Ra akhirnya mengerti kenapa Seo Na mau menerima ajakan Dong Hae, sesungguhnya itu karena pria itu mengajaknya ke pantai, bukankah Seo Na sangat menyukai pantai? Ya tentu saja gadis itu akan setuju dengan ajakan Dong Hae, pria itu sukses menyogok Seo Na dengan embel-embel pantainya.
“pantas saja kau menerima ajakan pria itu, ternyata dia menyogokmu dengan berjanji mengajak ke pantai ya? tapi bagaimana dia tau kau suka pantai?”.
Seo Na berlalu meninggalkan sahabatnya itu, keluar kamar menuju dapur mengambil segelas susu dingin dan beberapa potonngan roti. Yoo Ra mengekori gadis itu dari belakang, memilih duduk di sofa depan televisi.
“aku akan pulang nanti malam”.
“itupun kalau pria itu tidak betah berlama-lama dirumah Ibunya”. Timpal Yoo Ra, Seo Na mendekat kearah sahabatnya itu, menyodorkan sepotong roti berselai kacang .
“jika ia tidak memulangkan ku nanti malam aku akan menelepon pengacaraku dan melaporkan ke kantor polisi dengan tuduhan membawa kabur seorang gadis cantik yang langkah”. Ujar gadis itu sambil mengunyah roti ditangannya, sedikit terkekeh dengan pernyataannya sendiri.
“dan aku rasa polisi tidak akan menangani kasusmu karena mereka tidak perlu melindungi anjing pelacak sepertimu”. Ejek Yoo Ra, yang direspon teriakkan brutal dari sahabatnya itu, gadis itu terkekeh menyumpal mulut Seo Na dengan potongan kecil roti ditangannya.
Suara dentingan bel apartemen Seo Na meredam suara tawa keduanya, Seo Na beranjak dari tempatnya sebelum meneguk habis susu vanila didalam gelas yang ia genggam, sebelum akhirnya membukakan pintu apartemennya untuk seseorang diluar sana.
“Dong Hae-ssi?”. ucap gadis itu ketika mendapati seorang pria tengah berdiri dengan balutan kemeja biru cerah serta jeans hitam, yang membuat pria itu terlihat lebih menarik adalah 2 kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka mengekspos bagian dadanya yang lebih terlihat –err-.
“bagaimana kau bisa sampai kesini tanpa menguhubungiku dulu?”. Ujar gadis itu menekan ujung kemeja putih sedikit transparan yang kini ia kenakkan.
“bukankah aku sudah bilang jika hari ini aku akan menjemputmu”. Ucap pria itu membuka kaca mata hitam yang sejak tadi menggantung di hidung mancungnya.
“baiklah, aku akan mengambil tasku lalu kita bisa berangkat, kau bisa tunggu disini”. Papar Seo Na akhirnya sebelum gadis itu beranjak kedalam apartemennya mengambil tas yang sejak tadi sudah ia persiapkan berpamitan pada sahabtnya Yoo Ra. “aku akan berangkat, Dong Hae sudah datang. Aku menitipkan apartemen ini padamu. Aku pergi”. Gadis itu menyambar tasnya lalu berlalu dari hadapan Yoo Ra , gadis itu mengekorinya hingga depan pintu.
“jaga sahabatku ini Dong Hae-ssi, maaf jika ia nantinya banyak merepotkanmu”. Yoo Ra melambaikan tangannya pada Dong Hae, pria itu sedikit tersenyum lalu mengangguk paham.
“hei, apa yang kau katakan!”. Protes Seo Na melototkan matanya kearah sahabtnya itu.
“apa? sudah sana pergi, kalian seperti pasangan yang akan pergi bulan madu”. Yoo Ra terkekeh, sebelum gadis itu menutup rapat pintu apartemen Seo Na.
“YAK!”.
“kita bisa berangkat kan?”.
“apa? ah, tentu saja”. pria itu tersenyum sebelum akhirnya megenggam tangan Seo Na, lalu keduanya berjalan menuju lift, disamping tubuh Dong Hae, gadis itu memperhatikan genggaman tangan Dong Hae ditangannya, yang ia lihat Dong Hae seperti sangat melindunginya. Bagaimana dengan pria lain yang kini tengah memperhatikan mereka?
~~~000~~~
Keduanya larut dalam suasana perjalanan mereka menuju Mokpo, alunan instrument seksofon dari Kenny G , menambah kesan damai dalam perjalanan keduanya. Seo Na sibuk dengan pikirannya, melempar pandangannya pada luar jendela mobil, sedangkan Dong Hae fokus pada jalanan di depannya, tidak ada pembicaraan yang menarik diantara mereka, karena itu Seo Na maupun Dong Hae lebih banyak diam.
“apa kau begitu menyukai pantai?”. Dong Hae akhirnya angkat bicara, setidaknya menanyakan beberapa hal pada gadis itu bisa mencairkan suasana diantara mereka.
Seo Na mengangguk, ia tidak terlalu peduli jika Dong Hae tidak melihat anggukannya, ia lebih excited melihat pemandangan diluar sana.
Pria itu masih bisa melihat anggukan Seo Na yang terlihat sangat bersemangat, dari jalanan mereka kini bisa melihat hamparan kebun teh yang luas, daerah Mokpo sangat terkenal dengan penghasil teh-nya dan juga penghasil ikan terbaik di Korea Selatan, dataran tinggi dan pantai yang asri membuat daya tarik tempat ini begitu mempesona, jadi beruntung seorang Lee Dong Hae bisa lahir dan pernah dibesarkan ditempat ini, tempat yang nyaman dan damai, jauh dari kata hiruk pikuk, ya meskipun Mokpo sekarang termasuk sebagai salah satu kota besar di Korea Selatan.
“dulu, ayah dan ibuku selalu mengajakku pergi kepantai, sudah lama sekali saat aku masih sekolah dasar, mereka selalu menyogokku liburan kepantai ketika musim semi. Ya ternyata pantai tidak terlalu berdampak baik bagi keluargaku, setelah pulang dari pantai keluargaku mengalami kecelakaan, hanya aku dan Seo Yeo yang tersisa, kedua orang tuaku meninggal saat kejadian, tidak banyak yang ku ingat karena saat itu aku masih sangat kecil, setelah itu aku hanya punya Seo Yeo, karena itu aku takut jika Seo Yeo jika meninggalkanku, tapi bagaimanapun ia memang benar-benar sudah meninggalkanku”. Papar gadis itu, menceritakan detail kejadian saat kedua orang tuanya meninggal, Dong Hae sangat tau bagaimana kehilangan orang yang dikasihi karena ayah pria itu juga sudah meninggal tepat saat Dong Hae mendapatkan kesuksesan diperusahaannya.
Dong Hae menatap gadis itu, kini pandangannya Seo Na lurus menerawang kedepan, ekspresi muka gadis itu datar, tapi Dong Hae tau jika jauh didalam hatinya ia kini menangis, Seo Na bahkan lebih rapuh dari yang ia kira. “aku minta maaf”. Ujar Dong Hae menyesal, seharusnya ia tidak menanyakan hal yang membuat Seo Na mengingat masa lalunya.
“ah, Gweancana. Aku baik-baik saja, lagi pula itu sudah sangat lama sekali, dan aku sudah bisa membiasakan diri dengan kenangan itu. kau tau, kau harus banyak terluka dahulu jika ingin banyak bahagia”. Ucap Seo Na gamblang, tidak ada beban dari setiap kata-kata yang diucapkannya, gadis itu lebih terdengar seperti sedang menguatkan orang disekiarnya.
“berapa lama lagi kita akan sampai? Apa rumah orang tuamu jauh kepelosok?”. Pertanyaan Seo Na yang lebih terdengar sedikit mengejek membuat air muka Dong Hae yang tadinya simpati malah melongos.
“sekitar setengah jam lagi Nona Park”. Jawab Dong Hae seadanya, Seo Na terkekeh gadis itu mengibaskan tangannya.
“aku bercanda, lagi pula kau terlalu serius”. Ujar Seo Na akhirnya lalu keduanya kembali sibuk dengan pikiran masing-masing.
~~~000~~~
Kyu Hyun menyandarkan tubuhnya pada sofa beludru di dalam apartemen gadis itu, pria itu sejak tadi susah payah menghirup udara yang tidak terkontrol baik disaluran pernapasannya. Dihadapannya saat ini sudah duduk dua orang yang tentu saja sangat ia kenal, gadis itu adalah sahabat Seo Na yang kini tengah menatapnya ngeri, dan satu lagi pria yang sudah dianggap seperti –kakanya sendiri- oleh Seo Na.
Lee Teuk meneguk minuman soda yang sudah tersedia dimeja, awalnya pria itu datang ke apartemen Seo Na ingin bertemu gadis itu, karena sudah beberapa minggu setelah keluar dari rumah sakit ia tidak bertemu gadis itu, ditambah lagi ia ingin memberi kuliah gratis untuk Seo Na karena saat itu sudah seenaknya keluar rumah sakit tanpa persetujuan dirinya dan Yoo Ra, dan lagi maksud pria berlesung pipih itu adalah ingin membahas tentang kasus penembakkan yang terjadi malam itu, ya sebenarnya Seo Na sudah mengatakan padanya untuk tidak mengusut kasus itu, ia tidak terlalu peduli dengan hal itu, lagi pula ia sekarang baik-baik saja, pikir Seo Na.
“jadi bagaimana dengan kasus penembakkan itu?”. suara berat Kyu Hyun menyita perhatian Lee Teuk, Yoo Ra juga ikut menatap pria itu.
“dia seorang wanita, motifnya dendam dan sampai sekarang aku dan tim ku masih melacak keberadaan wanita itu. Dan lagi sepertinya ia masih muda, aku rasa dia belum menikah”. Papar Lee Teuk, Kyu Hyun mengangguk memahami.
“Oppa? Tadi kau bilang dendam?”. Yoo Ra angkat bicara, gadis itu cukup tertarik dengan kata ‘dendam’.
Lee Teuk mengangguk. “ya, karena dia seorang wanita, dan ia tidak terlalu menfokuskan pada titik penembakannya, ia menembak asal karena motifnya dendam jadi ia hanya ingin sikorban menderita atau kemungkinan terburuknya adalah mati”. Lanjut pria itu, Yoo Ra berkedik, kata-kata mati terlalu mengerikan baginya.
“selama ini Seo Na banyak menjalin kerja sama dengan beberapa pengusaha wanita, namun kebanyakan mereka adalah ibu-ibu yang sudah menikah, selama aku mendampingi Seo Na ia tidak punya rekan bisnis yang muda sama sepertinya, kebanyakan ya hanya pria salah satunya Kyu Hyun-ssi”. gadis itu mengangkat dagunya, mengarahkan kearah Kyu Hyun yang sejak tadi fokus mendengarkan Yoo Ra dan Lee Teuk.
“lalu?”. tanya Lee Teuk penasaran.
“ya, seingatku dia tidak punya musuh seorang gadis. Ah atau?!”.
“apa?”. Kyu Hyun kali ini bersuara, Yoo Ra menatap pria itu.
“apa kau punya teman wanita? Mungkin saja, gadis itu cemburu pada Seo Na karena ia dekat dengan Kyu Hyun-ssi”.
“Seo Na tidak hanya denganku, tapi juga dengan Dong Hae Hyung dan juga pria yang makan malam bersamanya saat itu, lagi pula aku tidak mempunyai teman wanita yang seperti kau katakan”. Tandas Kyu Hyun, Yoo Ra mengangguk, pria itu benar Seo Na tidak hanya dekat dengan Kyu Hyun tapi tiga pria sekaligus, ya gadis itu memang cantik wajar saja jika banyak yang menginginkannya, pikir Yoo Ra.
“pria yang makan malam dengannya? siapa?”. Lee Teuk meluncurkan pertanyaan seletah mendengar embel-embel ‘pria yang makan malam dengannya’. Ia cukup heran, sejak kapan adiknya yang dingin itu bisa-bisanya makan malam dengan pria yang tidak ia kenal.
“Lee Eun Hyuk, seorang pemimpin salah satu perusahaan yang mengalami kebangkrutan sejak perusahaan Seo Na masuk dalam lima perusahaan terbesar”. Kali ini Yoo Ra yang menjawab, ia tidak ingin Kyu Hyun berapi-api lagi jika membahas tentang laki-laki itu, sudah cukup pria itu melihat punggung Seo Na yang menghilang bersama Dong Hae tadi pagi.
“lalu Kyu Hyun? Bukankah kalian berpacaran? Bukankah kau dan Seo Na sudah berci-“.
“yak!”. Yoo Ra menyukut tangan Lee Teuk, membuat pria itu mengentikan kata-katanya, salahnya juga jika mengatakan jika ia memergoki Kyu Hyun dan Seo Na berciuman didalam lift pada Lee Teuk, pria itu jadi salah bicarakan.
“Seo Na tidak mengatakan apa-apa tentang perasannya padaku”. Ujar Kyu Hyun seadanya, ya memang seperti itu yang terjadi diantara keduanya, Seo Na malah mengatakan jika ia sangat menghindari Kyu Hyun.
“maaf, aku mengira kalian sudah berpacaran, jadi tidak heran jika gadis itu menerima tawaran Lee Dong Hae”. Kali ini Yoo Ra menginjak kaki Lee Teuk, pria itu menahan jeritannya, melotot kearah Yoo Ra, tapi tatapan Yoo Ra membuat pria itu tidak jadi berteriak protes.
Ruangan apartemen Seo Na kembali hening, ketiganya terdiam. Hanya suara ocehan televisi yang membuat ruangan itu sedikit berisik. Yoo Ra beranjak dari tempatnya, setelah Lee Teuk memberinya kode untuk meninggalkan dirinya dan Kyu Hyun berdua, Yoo Ra memilih dapur dan tetap saja gadis itu menguping dari sana.
“Kyu Hyun-ssi”. suara berat pria itu menyita perhatian Kyu Hyun yang sejak tadi sibuk dengan ponsel layar sentuhnya.
Kyu Hyun mengalihkan pandangannya pada pria itu. “apa kau akan terus membiarkan Seo Na pergi dengan pria lain?”. Tambah Lee Teuk, Kyu Hyun menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan, mengontrol emosi yang entah sejak kapan akhir-akhir ini bisa ia tahan dengan baik.
“aku hanya tidak ingin membuat Seo Na menderita”. Tandas Kyu Hyun, pria yang berjarak umur lima tahun darinya itu mengangguk paham. Ia mengerti sekali apa yang dirasakan Kyu Hyun, ia tau Kyu Hyun sangat menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya terhadap Seo Na selama ini, jadi tidak mungkin pria itu menambah kesan buruk lagi terhadap Seo Na.
“waktu memang akan mengubah semuanya Kyu Hyun-ah, tapi jika kau tidak berusaha waktu juga akan sulit untuk mengubah segalanya, aku rasa kau harus jauh bertindak, Seo Na bukan tipe wanita yang peka, gadis itu lebih sering memikirkan kemungkinan terburuk dari pada kemungkinan terbaik”. Ujar pria itu.
Kyu Hyun terdiam, kali ini ia lebih ingin mencerna kata-kata pria itu. “aku tau kau dan Dong Hae sangat dekat, tapi jika kau terus membiarkan mereka bersama Dong Hae akan bisa lebih dulu menempati hati Seo Na, terlebih lagi jika pria itu tidak pernah menoreh luka dimasa lalunya, jadi akan dengan sangat mudah oleh Seo Na menerima sosok Dong Hae dihidupnya, beda denganmu yang harus mengubah persepsi gadis itu dahulu tentang masa lalunya, barulah kau bisa mendekatinya. Kyu Hyun-ah, aku akan sangat mendukungmu jika kau bisa menikahi gadis itu, aku yakin kau akan lebih bertanggung jawab atas hidup Seo Na”. Tambah Lee Teuk akhirnya, ya tentu saja Kyu Hyun akan sangat bertanggung jawab atas hidup Seo Na, bukankah ia yang membuat hidup gadis itu menjadi seperti ini, karenanya juga Seo Na tumbuh sebagai gadis yang semakin dingin dan ketus.
~~~000~~~
“Seo Na-ssi, kita sudah sampai-“. Ucapan pria itu terhenti seketika, kali ini ada yang lebih menarik ketimbang mengatakan jika mereka sudah berada didepan halaman kediaman ibu Dong Hae, wajah Seo Na yang tertidur pulas bahkan lebih menarik ketimbang apapun saat ini. bibir kecil namun berisi, bewarna merah muda, pipi gembulnya yang suka sekali memerah ketika gadis itu salah tingkah, bulu matanya yang terlihat lentik dan hidungnya yang kecil ya meskipun tidak terlalu mancung, dan keindahan itu kini tersaji dihadapan Dong Hae.
Seo Na menggeliat, menarik wajahnya ke arah berlawanan sadar jika mobil yang tengah ia naiki berhenti gadis itu mengerjapkan matanya berusaha menormalkan pandangannya, dan tentu saja hal pertama yang dilihat gadis itu adalah wajah Dong Hae yang kini tengah memperhatikannya dengan senyum yang mengembang.
“sudah bangun? Kita sudah sampai Na-ya”. ujar Dong Hae, gadis itu merubah ekspresinya dalam sejenak, ia tidak ingin Dong Hae melihat wajahnya yang salah tingkah, lagi pula bagaimana ia bisa tertidur begitu pulas alhasil pria itu bisa melihat wajahnya sedang tertidurkan? Pikir gadis itu.
“ah, baiklah”. Ucap gadis itu gugup. Keduanya turun dari mobil merah bermerk Ferarri itu, berjalan menuju depan pintu masuk rumah Ibu Dong Hae. Dong Hae memencet bel rumah orang tuanya itu, tidak perlu waktu lama karena saat ini pintu masuk sudah terbuka dan terlihat seorang gadis cantik kira-kira berumur 17 tahun tengah menyambut mereka.
“AH! DONG HAE OPPA!”. Teriak gadis itu, langsung menghambur dalam pelukan Dong Hae, pria itu juga terlihat sangat senang sekali dengan sambutan agak berlebihan dari gadis itu, Seo Na yang menyaksikan keduanya hanya bisa berdeham singkat sambil menekan-nekan tali tas tangannya yang kini tengah digenggamannya.
Dong Hae melepas pelukannya dengan gadis itu, melirik kearah Seo Na sejenak lalu tersenyum. “Seo Na-ya, kenalkan ini sepupuku Min Ah, Lee Min Ah”. Tambah pria itu lagi. Gadis itu menatap Seo Na sejenak lalu tersenyum mengulurkan tangannya kearah Seo Na dan langsung disambut baik oleh gadis itu.
“Park Seo Na”. Ucap gadis itu, sambil tersenyum kaku, sembari melepas jabat tangannya dengan sepupu Dong Hae itu.
“Oppa, apa dia pacarmu?”. Tanya gadis itu, Seo Na mendongak kearah Dong Hae, gadis itu membulatkan matanya, dan itu membuat Dong Hae terkekeh geli.
“tidak, dia temanku”. Jawab pria itu seadanya, jika ia mengatakan Seo Na sebagai kekasihnya mungkin bisa saja, tapi ia masih ingat tentang Kyu Hyun, ia tidak mungkin berlaku curang pada pria itu.
Min Ah mengangguk, ia menarik tangan Oppa-nya menuju dalam rumah, Seo Na hanya mengekor dibelakang kedua kakak beradik itu meski kini ia kikuk tapi Seo Na berusaha untuk tetap rileks dan seramah mungkin, ia tidak ingin membuat keluarga Dong Hae menganggapnya dingin dan sombong. Setidaknya ada kesan baik yang ia tinggalkan dikeluarga itu.
Kali ini Seo Na duduk di sofa bewarna hijau tua, ruang keluarganya sangat tertata rapi, ada beberapa hiasan dari kerang memenuhi salah satu lemari kaca disudut ruangan, ditambah warna dinding ruangan yang sangat lembut dipadu dengan berbagai hiasan dinding, tapi kali ini mata Seo Na terhenti pada figura yang memperlihatkan empat orang tengah tersenyum didalamnya, dua orang putra, dan ia yakin salah satu diantara mereka adalah Dong Hae, dan satu lagi mungkin kakak atau adiknya, ya apapun itu tapi kini Seo Na cukup tertarik dengan photo itu.
“Dong Hae-ya, Omo! Bagaimana kau tidak memberi kabar untuk datang? Seharusnya kau bisa meneleponku dulu”. Terdengar suara wanita paruh baya kini turun dari jenjang ditengah ruangan, disambut oleh Dong Hae yang langsung memeluk wanita itu, ia yakin itu Ibu Dong Hae.
Dong Hae memeluk ibunya, sudah lima bulan pria itu tidak kembali ke Mokpo ya tentu saja karena pekerjaan yang begitu membuatnya sibuk. “aku hanya ingin memberi kejutan Eomma”. Ucap pria itu penuh cinta, ia menuntun wanita itu ke sofa, kini gadis yang duduk disana berdiri membungkuk sopan kearah Ibu Dong Hae.
Kedua Ibu-anak itu kini saling berpandangan, Dong Hae tau pasti ibunya bertanya-tanya tentang-siapa gadis itu-. “Eomma, dia Park Seo Na, temanku. Aku sengaja mengajaknya kemari”. Papar Dong Hae, Ibu Dong Hae sedikit mendesah kecewa, ia mengira jika Seo Na adalah kekasih anaknya.
“aku kira dia kekasihmu”. Ujar wanita itu, lalu menyambut baik Seo Na menyuruh gadis itu untuk duduk. “jadi namamu Park Seo Na?”.
Seo Na mengangguk. “Ne Ajhumonim”. Ucap gadis itu sopan, masih sedikit kikuk, seharusnya ia juga memikirkan tentang hal ini sebelum mengiyakan ajakan Dong Hae, tapi ia malah lebih memikirkan tentang jalan-jalan kepantai yang menggiurkan bagi Seo Na.
Terlihat jika Seo Na sedang kikuk, hanya suara ocehan Min Ah yang mengisi ruangan, Min Ah terus menanyakan pada Dong Hae tentang gadis yang ia bawa itu, tentang pekerjaannya, dan tentunya tentang Seoul. Min Ah adalah sepupu Dong Hae, anak dari adik Ayahnya, gadis itu memang tinggal dirumah ibu Dong Hae, untuk menemani wanita itu, lagi pula kakaknya Lee Dong Hwa kini menatap dibusan untuk mengelolah Hotel bintang enam miliknya yang cukup mewah.
“jadi kau hanya sehari disini? Kenapa tidak menginap saja? akan lebih baik jika kalian menginap terlebih dahulu”. Kali ini Nyonya Lee yang bersuara.
“tidak-tidak,hmm maksudku. Aku harus masuk kerja esok hari, jadi aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku”. Tandas Seo Na, sebisa mungkin tidak menerima tawaran dari Ibu Dong Hae, tidak mungkin ia menginap dan meninggalkan kantornya, pekerjaannya lebih penting dari apapun. Lagi pula ia bisa kemari kapanpun, dan menginap sepuasnya jika ia sedang cuti berlibur.
“Eomma, Seo Na punya pekerjaan yang tidak bisa ia tinggal. Aku juga akan kembali bekerja esok hari”. Tambah Dong Hae, Seo Na menarik napasnya lega, setidaknya pernyataan pria itu bisa membantunya sedikit banyak.
Wanita itu mendesah kecewa, tapi kali ini ia tersenyum dan mengangguk paham. “baiklah, aku mengerti, sebelum berangkat kemakam ayahmu, kalian bisa makan siang dulu dirumah”. Tawar Ibu Dong Hae, yang akhirnya direspon setuju oleh keduanya.
~~~000~~~
Dong Hae berjalan mendahului Seo Na, gadis itu mengekori Dong Hae dari belakang sambil mengenggam karangan bunga mawar putih ditangannya. Kali ini untuk yang pertama kalinya bagi Dong Hae membawa seorang wanita ke makam Ayah-nya, sebelumnya pria itu selalu berkunjung sendiri, terlebih ia ingin menceritakan semua kesedihan yang ia rasakan setelah sosok Ayah meninggalkannya, bagi pria itu sosok Ayahnya sangat berjasa. Hingga saat ini Dong Hae masih bisa menangis ketika mengingat Ayahnya.
Langkah Dong Hae terhenti tepat didepan gundukkan tanah tepat dimana Ayah pria itu dimakamkan. Sementara dibelakang pria itu, Seo Na hampir menabrak punggung Dong Hae yang berhenti tiba-tiba.
“kita sudah sampai”. Ucap Dong Hae, Seo Na mendongakkan kepalanya kearah Dong Hae setelah sebelumnya mengambil posisi tepat disamping kanan pria itu. Seo Na menatap Dong Hae sejenak sebelum akhirnya menatap batu berbentuk salib dihadapannya saat ini.
“aku akan berdoa sejenak, setelah itu aku akan meninggalkanmu sendiri, kau pasti butuh privasi untuk ini”. Seo Na meletakkan karangan bunga itu tepat dibawah batu nisan makan Ayah Dong Hae.
“kita akan berdoa bersama”. Ujar Dong Hae akhirnya, Seo Na menatap pria itu sejenak, ia bisa melihat jika mata pria itu kini tengah berkaca-kaca ia tau persis apa yang dirasakan pria itu, setidaknya ia juga pernah merasakan kehilangan orang yang ia cintai meskipun kedua orang tuanya meninggal saat ia belum paham betul arti sebuah kematian, namun ketika kakaknya meninggal Seo Na sangat tau dan paham bagaimana rasanya ditinggal orang-orang yang mereka cintai.
Keduanya sama-sama berdoa, khusuk dalam harapan masing-masing, ditambah lagi keheningan disekitar area pemakaman yang begitu sejuk dan asri, angin laut yang terasa hingga ketempat mereka karena pemakaman ini terletak diatas bukit yang tidak jauh dari sekitar laut.
“aku sering merindukannya”. Seo Na mengalihkan pandangannya kearah Dong Hae, suara pria itu bergetar, meskipun selama ini Seo Na tumbuh sebagai gadis dingin dan tak perduli disekitarnya tapi untuk saat ini ia sangat mengerti apa yang dirasakan Dong Hae, pria itu butuh tempat sandaran.
“kau boleh menangis”. Papar gadis itu. “ketika kau menangis, semua akan lebih ringan. Ketika kau menangis bukan berarti kau adalah orang yang lemah, hanya saja kau butuh untuk menangis. aku hanya terlalu jarang menangis, jika aku bisa aku akan menangis jika aku ingin, tapi aku tak bisa”. Lanjut gadis itu akhirnya, menatap Dong Hae yang kini menatap lekat kearahnya.
Pria itu mengalihkan tatapannya kearah batu nisan dihadapannya. Banyak kenangan yang ia lalui dengan orang yang kini sudah beristirahat tenang dialamnya itu, terlalu banyak yang ia rencanakan untuk Ayahnya kelak tapi pria itu lebih dulu meninggalkannya sebelum semua terwujud. Dong Hae menangis, tanpa sadar ia terisak sesekali ia bergumam memanggil Ayahnya, hanya untuk melepas semua kerinduan yang pria itu rasakan. Sampai pada akhirnya, sebuah pelukan menenggelamkannya pada ketenangan yang ia impikan selama ini, Seo Na memeluk pria itu membiarkan pria tampan itu menangis didalam peluakannya, setidaknya hanya ini yang bisa ia berikan untuk Dong Hae saat ini, pikirnya.
~~~000~~~
“selera mu bagus dalam mencari pantai, ternyata pantai dimokpo tidak kalah bagus dari pantai yang ku kunjungi di thailand”. Oceh Seo Na, sambil mengejar ombak yang menyurut lalu gadis itu berlari ketika ombak mulai kedaratan.
“terlalu sering menikmati negara lain lalu kau lupa dengan negara mu sendiri Na-ya”. ejek Dong Hae, gadis itu menatapnya mengerucutkan bibirnya yang tipis kedepan membuat pria itu terkekeh geli.
“yayaya terserah kau saja”. ujar gadis itu akhirnya, tidak terlalu berminat berdebat kali ini dengan pria itu lebih asik bermain dengan air laut yang biru dan jernih. Dong Hae sukses menyogok Seo Na dengan embel-embel pantainya, toh sekarang gadis itu asik dengan –pantai-nya tanpa memperdulikan Dong Hae yang kini berjalan mengikuti gadis itu sambil sesekali terkekeh melihat tingkah Seo Na yang sangat jauh dari kata dingin dan ketus yang ia sandang selama ini, gadis itu tampak lebih manusiawi.
“kenapa? Aku cantik ya?”. akhirnya gadis itu bicara, setelah menyadari tatapan Dong Hae tak beralih darinya. Gadis itu mengentinkan langkahnya. “banyak orang yang mengatakan aku jauh berbeda ketika bermain dipantai, mereka mengatakan aku lebih manusiawi. Terlebih Lee Teuk Oppa dan Yoo Ra, mereka selalu mengajakku kepantai ketika aku mengambil cuti pekerjaan, seperti terakhir kali mereka menyarankan thailand untuk ku kunjungi”. Dong Hae tersenyum, apa yang dikatakan gadis itu benar. Pantai sangat berpengaruh besar bagi perubahan sifat gadis itu, bagaimana bisa Seo Na yang ia kenal tadi siang dengan sifat dingin dan ketusnya kini berubah seperti gadis normal biasanya, gadis ini berbeda mungkin itu yang membuat Kyu Hyun mati-matian mencintai Seo Na.
“apa aku boleh bertanya satu hal?”. Ujar pria itu, Dong Hae menatap Seo Na membiarkan gadis itu balas menatapnya. Pria itu mendekatkan tubuhnya kearah gadis itu, meskipun sejujurnya pelukan yang Seo Na berikan tadi siang padanya dimakam Ayah Dong Hae memberikan efek tidak jerah bagi tubuh Dong Hae, yaitu menginginkan pelukan lagi dan lagi dari Seo Na.
Seo Na mengerinyit, menatap Dong Hae sesaat lalu mengangguk. “apa?”.
“apa yang membuatmu lari dari Kyu Hyun? Apa yang kau takutkan darinya?”. Seo Na terhenyak mendengar pertanyaan Dong Hae yang mengejutkan, seperti mendapat zonk , ekspresi wajah gadis itu berubah dalam sekejap.
“bukan sesuatu yang patut kita bahas”. Papar Seo Na, gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah pantai yang beberapa menit lagi mungkin akan menyuguhkan Sunset yang indah. Seo Na mengambil posisi duduk diantara pasir pantai yang kering, diikuti Dong Hae kemudian.
“aku tidak akan bertanya lebih tentang hal itu”. ujar Dong Hae, pria itu tersenyum manis. Dan setiap Seo Na mendapati senyuman pria itu, itu malah membuatnya refleks membalas senyuman Dong Hae. “aku terkejut ketika mengetahui semuanya dari Kyu Hyun”. Lanjut pria itu akhirnya.
“jadi dia menceritakan semuanya?”.
“karena aku juga menceritakan semuanya pada Kyu Hyun, aku dan Kyu Hyun tidak pernah saling tertutup sekalipun tentang perasaan kami masing-masing”. Tandas pria itu, Seo Na mengerjap jadi selama ini ia tidak salah Kyu Hyun dan Dong Hae memang saling mengetahui satu sama lain.
“dari awal aku juga sudah mengira tentang hal itu”. timpal Seo Na, sambil gadis itu membuat gundukan pasir dihadapannya tanpa berminat menatap mata Dong Hae yang tak pernah lepas sejak tadi memandanginya. “Kyu Hyun, entahlah aku tidak tau apa yang aku rasakan pada pria itu. aku tidak tau apa arti kebencian, aku juga tidak tau bagaimana menyukai seseorang itu. selama ini aku hanya merasakan sesuatau yang datar dan ambisi yang terus meledak-ledak dalam diriku sejak kematian Seo Yeo”. Jelas gadis itu.
“Na-ya”. panggil Dong Hae dengan suara rendah, gadis itu mengalihkan tatapannya, sambil memeluk lututnya sendiri. keduanya saling terdiam dan berpandangan, ada sesuatu yang lain yang ia rasakan ketika menatap mata Dong Hae, pria itu memiliki samudra yang luas dimatanya, setiap kali menatap mata Dong Hae ada sesuatu yang nyaman yang ia dapati. Meskipun, mata tajam milik Kyu Hyun tidak kalah menarik, tapi mata pria itu lebih seperti menuntut dan mematikan. Tatapan kedua pria itu berbeda tapi selalu berhasil menghanyutkan Seo Na.
“aku mencintaimu”. Dua kata yang sukses keluar dari mulut pria itu, dua kata yang kini membuat gadis dihadapannya tertohok kaget, dua kalimat yang sejujurnya datang dari hati pria bermarga Lee itu.
Seo Na tetap menatap Dong Hae, kini matanya membulat lebar, sebisa mungkin gadis itu menyembunyikan keterkejutannya dengan pernyataan pria itu. tidak, ini bukan pertama kalinya Dong Hae mengatakan perasaannya secara terang-terangan, ketika mereka pertama kali bertemu pria itu juga mengatakan hal yang sama, tidak ia tidak boleh hanyut dalam emosinya sendiri suasana pantai yang ia rasakan saat ini hanya suasana yang mendukung ungkapan perasaan pria itu, jadi ia yakin itu bukan sesuatu yang spesial.
Seo Na menyemburkan tawanya, gadis itu tertawa lebar. Sesekali ia menepuk pundak Dong Hae sebelum akhirnya kembali melanjutkan membuat gundukan pasir yang abstrak tak berbentuk dihadapannya.
“setelah melihat sunset kita akan pulang kan? Esok aku harus melanjutkan pekerjaanku, ada meeting dan beberapa presentase tentang pekerjaan yang masih terbengkalai dengan perusahaan lain beberapa hari lagi. Ahh astaga pria itu pasti datang”. Keluh gadis itu, mengganti topik pembicaraan –cinta-cinta-nya dengan beralih membahas tentang pekerjaannya.
“aku serius Na-ya”. lagi-lagi pria itu berusaha meyakinkan Seo Na, ia balas tidak merespon pembahasan Seo Na dengan perusahaan super suksesnya itu dan pekerjaan super sibuk yang akan ia jalani esok hari, yang diinginkan Dong Hae saat ini ialah gadis itu mengetahui semua apa yang ia rasakan. “kau tidak perlu menjawab apa-apa tentang perasaanku, kau hanya perlu tau”. Tandas Dong Hae akhirnya. Seo Na menatap mata pria itu tajam, gadis itu belum terlalu yakin dengan embel-embel cinta, bisa saja ia bernasib sama dengan kakaknya dimasa lalu, Seo Na tidak ingin itu terjadi.
“aku bukan Kyu Hyun yang pernah membuat kebencian dihatimu Park Seo Na, aku Lee Dong Hae aku harap kau mengerti maksudku”. Lanjut pria itu Seperti bisa membaca apa yangSeo Na pikirkan, ia tersenyum sejenak kearah Seo Na mengelus pipi gadis itu dan jika ia tidak bisa mengontrol dirinya ia bisa saja mendaratkan ciuman singkat dipipi penuh milik Seo Na, tapi tidak pria itu tidak akan berlaku lebih selama ia bisa menahan dirinya.
Seo Na spontan menutup matanya, menerima sentuhan lembut pria itu. ia paham betul dengan apa yang dikatakan Dong Hae sebelumnya, tentang siapa dia dan dia bukan seseorang yang harus ia takuti. Dong Hae benar, pria ini bukan Kyu Hyun yang pernah membuatnya merasakan rasa benci setengah mati, tapi pria yang dihadapannya ini adalah Lee Dong Hae, pria yang mengalah dimasa lalu untuk seorang Kyu Hyun.
‘aku seseorang yang dingin Lee Dong Hae, kau harus tau itu’. ujar gadis itu dalam hatinya, kembali menatap lautan dan sunset yang kini tersuguh indah dihadapan mereka, jauh pikiran gadis itu melayang, akankah ia bisa merasakan cinta nantinya?
~~~000~~~
Kyu Hyun mengehentikan mobil Ford hitamnya diparkiran gedung megah itu, mengenakkan jas hitam dan kemeja biru tua, lalu kaca mata yang menggantung dihidung mancungnya. Pria itu berjalan dengan tergesa-gesa kedalam gedung hari ini ia harus melakukan meeting dengan salah satu pemegang saham diperusahaannya, siapa lagi kalau bukan gadis yang memimpin perusahan PTI Corp, Park Seo Na.
Sesekali karyawan didalam gedung perusahaan itu membungkuk hormat kearahnya tidak terkecuali Yoo Ra yang sejak tadi gelisah menunggu Kyu Hyun dilobi gedung itu, gadis itu adalah penanggung jawab kerja sama dengan perusahaan Cho Company jadi jika tidak ada Kyu Hyun maka ia yang harus bertanggung jawab untuk menjelaskan keuntungan dengan perusahaan itu nantinya.
“kita sudah terlambat 10 menit Sajangnim, Seo Na-ssi tidak suka keterlambatan”. Ujar Yoo Ra dibelakang punggung Kyu Hyun, menyeimbangi langkah pria itu dengan sedikit berlari.
“gadis itu tidak akan berani memarahiku”. Jawab Kyu Hyun mantap. Pria itu melepas kacamatnya ketika mereka sudah berada didepan pintu ruangan meeting yang memang sudah berlangsung 10 menit sebelumnya. Kyu Hyun menghela napas mempersiapkan emosinya untuk menatap wajah gadis yang ia rindukan setengah mati selama 3 hari belakangan ini.
Didalam ruangan kini sudah berlangsung presentase, beberapa orang menatap sinis kearah Kyu Hyun yang diikuti Yoo Ra dibelakangnya, mengambil kursi tepat disamping Seo Na untung saja gadis itu kini tengah berdiri didekat layar besar menjelaskan poin-poin tentang kinerja perusahaan mereka.
Cukup lama gadis itu berkutat dengan layar besar, dan beberapa file yang harus dijelaskannya, kali ini ia kembali duduk perisis disamping Kyu Hyun, menatap pria itu tajam tanpa berbicara sedikitpun, dan Kyu Hyun tau jika Seo Na kini tengah meremehkannya.
“aku harus menemukan fileku yang tiba-tiba menghilang, karena itu aku terlambat”. Ujar pria itu, Seo Na menatapnya sejenak lalu tersenyum masam.
“bagus jika kau merasa”. Ejek gadis itu, kini Seo Na menarik berkas yang tadi berada di sisi meja Kyu Hyun melihat semua berkas-berkas laporan keuntungan dan perkembangan saham yang gadis itu minta pada Kyu Hyun, semua laporan itu sangat penting bagi Seo Na untuk meninjau semua perkembangan perusahaannya.
Kyu Hyun menatap gadis itu, memperhatikan wajah Seo Na yang kini sibuk membolak-balik kertas-kertas yang kini sudah berada digenggamannya. Wajah itu begitu serius, bahkan jauh terlihat lebih dingin, Kyu Hyun berdeham menyita perhatian Seo Na kearahnya, jujur saja gadis itu ingin sekali cepat-cepat angkat kaki dari dalam ruangan ini, dan yang membuatnya merutuk adalah kenapa pria itu bisa duduk persis disampingnya, semuanya seperti sudah tersusun dengan rapi gadis itu hanya bisa pasrah.
“apa? aku belum selesai mengoreksi semua laporannya Kyu Hyun-ssi”. jawab gadis itu datar, memicingkan matanya kearah Kyu Hyun lalu memilih memeriksa kembali laporan perusahaan ditanganya itu, ia tidak ingin berlama-lama menatap Kyu Hyun pria itu benar-benar seperti ingin memakannya hidup-hidup.
“setelah ini aku ingin bicara”. Kyu Hyun akhirnya bersuara, tidak tahan untuk tidak mengatakan keinginan yang sebenarnya untuk datang ke acara meeting yang sebenarnya bisa ia wakilkan pada Ye Sung asistennya.
“aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku, kita bisa bicara kapan saja”. jawab Seo Na tanpa melirik kearah Kyu Hyun, ia yakin jika sekarang ia sedang menonton acara kartun di televisi pasti latar belakang Kyu Hyun penuh dengan api-api yang menyala mendengar penolakkannya yang terdengar tidak beralasan.
“aku tidak akan menciummu lagi, jangan takut”.
“ne?”. Seo Na menarik kepalanya kearah Kyu Hyun, ia tidak salah dengarkan? Ciuman? Jadi pria itu masih mengingatnya ya? ya jelas saja, Seo Na tidak heran jika pria itu mengingatnya, toh bukankah waktu itu Kyu Hyun yang melakukannya, astaga membayangkan kejadian itu saja membuat perut Seo Na mual. “tidak usah berpikir yang seperti itu, lagi pula aku sudah melupakan yang baru saja kau ucapkan”.
“ciuman?”. Nada bicara pria itu sedikit meninggi, membuat beberapa orang didalam ruangan meeting melihat kearah mereka curiga, Yoo Ra yang tak jauh dari mereka hanya bisa menggeleng-geleng pasrah melihat sahabat dan – calon suami sahabatnya- itu tengah beradu argument yang tidak-tidak.
Seo Na yang mendengar hal itu langsung melotot tak percaya, ingin sekali ia menyumpal mulut pria itu dengan kertas-kertas dihadapannya agar tidak mengulangi kata-kata yang sakral baginya itu ditambah lagi tatapan-tatapan mematikan orang-orang didalam ruangan meeting ini.
Kyu Hyun menaikkan bahunya, tidak terlalu peduli dengan tatapan orang-orang disekitarnya, lebih peduli pada wajah Seo Na yang merah padam, dan sangat tertarik bermain dengan gadis ini. melihat Seo Na yang begitu Kyu Hyun merasa menang, gadis itu harus bertekuk lutut padanya, pikir Kyu Hyun bengis.
“baiklah, setelah ini kita akan bicara. Berapa lama terserah kau saja asal jangan katakan hal-hal yang membuat kepalaku meledak lagi”. Ujar gadis itu pasrah, akhirnya menyetujui ajakan Kyu Hyun atau lebih tepatnya ancaman Kyu Hyun dan lagi-lagi Kyu Hyun tersenyum penuh kemenangan ditempatnya.
~~~000~~~
Seo Na melirik kearah pria yang kini tengah berdiri didepannya saat ini, punggung pria itu tampak lebih kurus dari biasanya dan entah sejak kapan Seo Na memperhatikan tubuh Kyu Hyun yang memang sangat berbeda dari tubuh Dong Hae yang atletis dan memiliki beberapa otot ditubuhnya. kali ini Seo Na menepis jauh-jauh dahulu dengan kekagumannya terhadap tubuh Dong Hae, kali ini ia bersama Kyu Hyun ia harus fokus pada pria itu ia tidak ingin Kyu Hyun mengatakan hal yang tidak-tidak tentang ‘ciuman’ atau semacamnya yang membuat perut gadis itu mulas. Seo Na menghembuskan napasnya panjang menatap tubuh jakung pria itu dari belakang, pria yang sempat dibencinya atau masih dibencinya?
Kyu Hyun membalikkan badannya, menangkap tatapan Seo Na yang sejak tadi mengarah pada pria itu, Seo Na salah tingkah gadis itu melempar pandangannya kesembarang arah agar pria itu tidak mengetahuinya jika ia sedang menguntit diam-diam tubuh Kyu Hyun, apa menguntit? Terdengar menjijikkan, pikir gadis itu.
Kyu Hyun berjalan mendekat kearah Seo Na lalu duduk persis disamping gadis itu. “bagaimana liburan akhir pekanmu bersama Dong Hae Hyung?”. Akhirnya pria itu menyinggung tentang jalan-jalan singkatnya bersama Dong Hae, ia sudah menebak bagaimana pikiran Kyu Hyun saat ini.
“apa aku harus menceritakan semuanya padamu?”. Tanya gadis itu datar, sejujurnya ia ingin sekali kabur dari sini dan tidak menjawab satupun pertanyaan Kyu Hyun, lama-lama pria itu bisa membuatnya anemia.
Kyu Hyun menatap Seo Na, lagi-lagi tatapan –ya entah apa namanya- yang membuat Seo Na kalang kabut, tidak tau persisinya kapan tatapan pria itu seperti moncong pistol yang siap menembak, sama seperti pistol yang pernah ia pinjamkan dari Lee Teuk untuk membunuh Kyu Hyun waktu itu.
“aku bertemu dengan ibunya, lalu kemakam ayahnya, lalu kepantai dan Dong Hae-ssi mengantarku pulang”. Jelas Seo Na akhirnya, sebelum ia benar-benar mati terbunuh oleh tatapan Kyu Hyun.
Kyu Hyun mengangguk, sebenarnya pria itu masih ingin tau lebih banyak tapi ia tidak ingin Seo Na merasa jauh lebih risih dengan pertanyaannya yang terdengar sedang mengintograsi lebih baik pria itu membahas tentang yang lain, tentang dia dan Seo Na tentang rencana Ibu nya tadi malam pria itu harus mengatakannya.
“Na-ya”. panggil pria itu akhirnya, seketika darah Seo Na berdesir, bagaimana bisa pria itu membuatnya merasakan tegangan listrik hanya dengan menyebut ujung namanya, suara berat Kyu Hyun memang sangat memabukkan. “tentang Ibuku”.
Dahi Seo Na mengerinyit, ia tidak kenal sama sekali Ibu Kyu Hyun ya kecuali kakanya Seo Yeo yang memang sangat terkenal dikeluarga Kyu Hyun, terkenal? Ya apalah namanya. “Ibumu? Maksudmu?”. Tanya gadis itu pensaran.
“ia menyuruhku segera menikah untuk melanjutkan perusahaan”. Jelas Kyu Hyun singkat, belum sampai pada pembahasan yang sesungguhnya.
“bagus jika kau menikah, aku akan sangat senang melihat mu akhirnya bisa bebas dari masa lalumu”. respon gadis itu ketus, meskipun sebenarnya ia ingin sekali bertanya dengan siapa Kyu Hyun akan menikah lebih baik tidak, ia tidak ingin tau menahu lagi tentang hidup pria itu, jika Kyu Hyun menikah maka semakin kecil kemungkinan gadis itu jatuh cinta padanya, Seo Na lega tapi sejujurnya gadis itu merasakan ada yang aneh saat ini, tapi apa?
Kyu Hyun menatap Seo Na lebih dalam, meminimalisir jarak mereka. Kini pria itu dengan leluasa bisa menatap mata Seo Na yang terbelakak menatapnya, ia tau setelah ini Seo Na akan protes atau meneriakinnya seorang maniak seks. “a..apa?”. ucap gadis itu terbata.
“aku akan menikah denganmu”. Ucap Kyu Hyun enteng, tanpa memperdulikan wajah Seo Na yang kini berubah 180 derajat dihadapannya, meskipun Seoul sedang berada pada musim gugur tapi gadis itu kini malah kepanasan dengan pipi memerah dan mulut ternganga lebar, ia yakin ini adalah pose terjeleknya.
Semenit kemudian gadis itu tertawa lebar, menepuk pundak Kyu Hyun lalu menekan-nekan perutnya yang terasa perih karena terlalu banyak tertawa, ucapan Kyu Hyun terdengar seperti lelucon yang sukses mengocok perut Seo Na, gadis itu malah tertawa .
Kyu Hyun meraih tangan kanan Seo Na membuat gadis itu menghentikan tawanya seketika, mengerjapkan matanya kearah Kyu Hyun dan sedikit mendorong tubuhnya kebelakang memberi lebih banyak jarak dengan Kyu Hyun yang kini memang sedang memasang tampang seriusnya.
“aku serius Nona Park, aku rasa kau mengerti maksudku”. Tandas pria itu, Seo Na berusaha menarik tangannya dari genggaman Kyu Hyun tapi gagal karena pria itu menahan tangan Seo Na digenggamannya.
“aku juga serius”. Balas gadis itu, meskipun sekarang ia tidak tau apa yang sedang ia rasakan, karena sejak tadi wajahnya memenas, dan perutnya seperti diputar-putar, setelah ini ia akan membuat rekor pada Kyu Hyun dengan rekor -pembuat –sakit- perut -tersukses- mengalahkan cabai.
“tapi kau tau bagaimana aku Kyu Hyun-ssi, apa waktu itu belum cukup?”. Lanjut gadis itu, berusaha mengontrol emosinya sendiri, ia tidak ingin Kyu Hyun mendapati wajahnya yang menganga terkejut seperti yang berada di film-film lagi.
“waktu bisa mengubah semuanya Na-ya”. Kyu Hyun terdiam, menarik napasnya dalam-dalam, efek mengenggam tangan Seo Na cukup buruk karena kini keringat pria itu tiba-tiba mengucur deras. “seperti waktu yang mengubah kebencianmu kepadaku”.
“aku masih membencimu”.
“tapi aku tidak menemukan kebencian dimatamu lagi padaku, matamu tak pernah berbohong”.
“jangan sok tau”. Timpal Seo Na, merasa gerah dengan perdebatannya dengan Kyu Hyun, bagaimanapun pria itu selalu benar dan selalu menang, Seo Na sendiripun juga tidak merasakan kebencian lagi didirinya untuk Kyu Hyun, sekarang ia malah merasa bingung dengan apa yang sebenarnya yang ia rasakan terhadap pria itu.
“aku benar bukan?”. Kyu Hyun menebak, merasa tidak puas pria itu tak ingin mengalihkan pembicaraan mereka, ia hanya ingin Seo Na sadar dengan apa yang dirasakannya, ia tidak ingin gadis itu salah mengartikan perasaanya terhadap Kyu Hyun pria itu ingin Seo Na tau jika ia serius, ia bahkan berjanji untuk tidak menyakiti dan memberi penderitaan pada gadis itu lagi.
Seo Na menatap Kyu Hyun nanar, jika bukan karena harga diri gadis itu akan berteriak dan mengakuinya tapi karena ia tidak ingin Kyu Hyun merasa menang ia hanya menghembuskan napasnya kasar lalu menarik tangannya dari genggaman pria itu. gadis itu beranjak dari tempatnya berniat meninggalkan Kyu Hyun dan mengakhiri pembahasan yang membuat kepala gadis itu ingin meledak, ia butuh waktu untuk memahami semua ini.
Belum sempat gadis itu memasukki mobil sport-nya kini sepasang tangan sudah membuat tubuh gadis itu berbalik kebelakang memaksanya menatap dengan jarak yang begitu sangat dekat. Kyu Hyun menyandarkan tubuh gadis itu kemobilnya, Seo Na terperanjat dan kembali tersadar dengan perlakuan Kyu Hyun yang tiba-tiba.
“jika kau tidak bisa memahami perasaanmu sendiri, jangan panggil aku Cho Kyu Hyun jika aku tidak bisa menculikmu diam-diam dan membawamu kealtar dalam waktu dekat ini”. ancam pria itu dengan rahang yang mengeras dan tatapan yang begitu tajam, dengan jarak sedakat ini Seo Na bisa menghirup wangi tubuh Kyu Hyun yang cukup memabukkannya.
Pria itu melepaskan cengkaramannya pada pergelangan tangan Seo Na sebelum akhirnya beranjak dari hadapan gadis itu dan melesat dengan mobilnya meninggalkan Seo Na yang masih berjibaku dengan –apa yang baru saja-di alaminya.
“ASTAGA!!! KENAPA AKU HARUS BERTEMU PRIA GILA ITU!! AAARRRRRGH!”. Teriak Seo Na prustasi, tanpa memperdulikan beberapa orang-orang yang berlalu lalang yang kini tengah menatapnya ngeri.
Lagi-lagi seorang Park Seo Na harus mendapat ancaman yang tidak main-main dari seorang Cho Kyu Hyun, menyenangkan.

To Be Continue
~~~000~~~