REVENGE BEFORE LOVE (2/?)

Standard

Gambar

 

 

REVENGE BEFORE LOVE (2/?)

Action, Romance. PG + 17

Cast :

Cho Kyu Hyun

Lee Dong Hae

Park Seo Na

 

 

 

Dong Hae meletakkan tangannya diatas meja, masih menatap gadis dihadapannya saat ini yang terlihat sedang tidak berminat balik menatapnya. Yang ditangkap Dong Hae saat ini adalah gadis itu memang sangat dingin, cuek, tidak peduli dengan orang disekitarnya dan sangat tidak berminat dengan dirinya. Pria itu hanya mengulum senyumnya, jarang sekali wanita seperti gadis ini, bisa dikatakan sangat langkah, oh jangan-jangan dia memang tidak berminat pada kaum lelaki? Pikir pria itu.

“aku kira urusan kita sudah selesai”. Akhirnya gadis itu bersuara, menyambar minuman bewarna merah pekat memiliki kadar alkohol yang tidak terlalu tinggi.

“sudah selesai”. Jawab Dong Hae singkat, mengikuti permainan dingin gadis itu yang sepertinya sangat menyenangkan.

Seo Na mengalihkan pandangannya pada Dong Hae menatap pria itu lekat-lekat. “lalu?”.

“hanya saja aku mulai tertarik mengenalmu lebih jauh”. Tandas pria itu akhirnya, Seo Na yang mendengar pengakuan menggelikan pria itu malah tertawa sekencang-kencangnya.

Dong Hae menaikkan alisnya, menatap gadis itu yang malah salah tingkah karena Dong Hae yang semakin memperhatikannya tanpa henti. “aku serius Nona Park”. Lanjut pria itu lagi. Seo Na menarik tangan pria itu yang sejak tadi berada disisi meja. Entah kekuatan apa yang membuat gadis itu melakukannya.

“aku juga serius”. Ucap gadis itu akhirnya, lalu menjatuhkan dengan lembut tangan pria itu, tanpa ia tau jika Dong Hae baru saja merasakan sengatan listrik di sekujur tubuhnya karena sentuhan lembut gadis itu. “lalu?”. lanjut gadis itu.

“hm?”.

“lalu kau mau apa setelah mengenalku lebih jauh?”. Tanya Seo Na dengan penuh keberanian, jujur saja gadis itu baru pertama kalinya seintim ini membicarakan soal status hubungan pada seorang pria dan ia yakin pria yang dihadapannya inilah yang untuk pertama kalinya berminat mengenal dirinya lebih jauh, biasanya gadis itu akan menolak mentah-mentah jika seorang pria ingin berkenalan dengannya apa lagi sampai menggodanya tapi kali ini ia cukup tertarik pada Dong Hae.

“menikah mungkin, karena aku tidak suka hubungan yang bertele-tele”. Seo Na berkedik, menikah? Yang benar saja, pikir gadis itu akhirnya. Ia baru saja sukses, baru saja bertemu dengan mangsanya, lalu untuk waktu yang singkat ini ia menikah, tentu saja gadis itu harus berpikir bermilyaran kali atau menyewa paranormal agar menemukan titik terang –tentang menikah itu.

Seo Na memegangi kepalanya yang terasa terhuyung-huyung, jika ia terus memancing pria yang dihadapannya ini bisa saja ia mati kehabisan napas mendengar ucapan Dong Hae yang terlalu – to the point-.

“tidak secepat itu, lagi pula kita baru saja saling kenal. Aku bukan tipe pria yang terburu-buru”. Dong Hae tersenyum, Seo Na memebalas seadanya senyuman pria itu, senyuman mematikan lebih tepatnya.

“Hmm, aku rasa begitu. Lagi pula aku baru berumur 23 tahun untuk memikirkan soal menikah yang terdengar, hmmm agak sedikit , tabuh”. Ucap gadis itu akhirnya, Dong Hae terkekeh mendengar kalimat Seo Na yang lebih terdengar sedang takut.

“kau sama saja dengan Kyu Hyun, hmm maksudku teman sekaligus adik bagiku”. Baru saja pria itu mengucapkan satu nama yang membuat Seo Na kini menatapnya lekat-lekat. Nama pria yang memenuhi isi kepalanya selama 8 tahun ini, nama pria yang bahkan membuatnya terjatuh sangat dalam, nama pria yang ingin sekali ia lenyapkan dari peradaban manusia.

“kenapa? Apa kau mengenal Cho Kyu Hyun?”. Timpal Dong Hae, kini gadis itu memperbaiki eskspresi wajahnya menormalkan kembali agar pria dihadapannya ini tidak bisa membaca pikiran gadis itu.

“hanya sedikit, aku baru saja akan menaruh saham pada perusahaannya”. Jelas Seo Na seadanya.

“ah, jadi Kyu Hyun sudah bertemu denganmu? Jadi kalian sedang menjalin hubungan bisnis”. Dong Hae mengangguk mengerti, menarik tubuhnya kesandaran kursi.

“apa kalian mempunyai hubungan?”. Tanya gadis itu tetap dengan nada bicara yang biasa saja, meski sebenarnya ia ingin sekali tau lebih jauh tentang Kyu Hyun dari Dong Hae, setidaknya pria dihadapannya saat ini akan banyak membantunya mendapatkan keterangan tentang Kyu Hyun, sepertinya ini keberuntungan.

“teman sejak kecil, aku sudah menganggap Kyu Hyun sebagai temanku ya meskipun ia 4 tahun jauh lebih muda dariku tapi aku lebih suka memperlakukannya seabagi teman”. Seo Na mengangguk mendengar penjelasan pria itu yang memang masih sangat kurang, ia ingin mengetahui bagaimana hidup pria itu setelah kakaknya meninggal, bagaimana pria itu sebenarnya.

“sepertinya kau berminat dengan ceritaku tentang pria dingin itu? apa kau menyukainya? Ah, aku cemburu”. Goda Dong Hae, Seo Na hanya tersenyum kecil lalu menggeleng.

“tidak, aku tidak menyukainya. Hanya ingin tau bagaimana kehidupan rekan bisnis ku itu, lagi pula ia cukup berani meminta saham pada perusahaanku, padahal ia baru saja mengenalku. Ya harus ku akui, dia pintar”. Puji Seo Na pada akhirnya, dan ia yakin setelah ini ia akan mencuci tujuh kali lidahnya yang sudah memuji pria itu.

“dia tidak terlalu pintar soal wanita”. Dong Hae mendengus, mengambil gelas kaca berisi Wine, lalu meneguknya dengan sekali teguk. “sesuatu terjadi dimasa lalunya dan membuat pria itu menutup dirinya dari wanita, jadi jangan heran jika ia tidak berminat sedikitpun dihadapanmu”.

“aku tidak mengerti, bisa kau jelaskan lebih detail?”. Pinta Seo Na santai, mencoba meredamkan detak jantungnya yang begitu memacu saat Dong Hae mulai membahas rahasia hidup pria itu.

“gadis itu sahabatnya, lebih tepatnya gadis yang sangat mencintainya, tapi tidak dengan Kyu Hyun, pria bodoh itu tidak sedikitpun mencintai sahabatnya itu, hanya rasa sayang lebih terhadap teman. Entah apa yang terjadi, kecelakaan merenggut nyawa gadis itu, aku juga terkejut mengingat gadis itu juga temanku, aku juga mengenalnya dengan baik. sejak saat itu, Kyu Hyun merasa menyesal seumur hidupnya karena sudah menyakiti sahabat terbaiknya itu, dan semenjak itu ia menjauhi semua gadis yang ingin dekat dengannya, siapapun dan secantik apapun karena ia takut jika nantinya ada gadis lagi yang bernasib sama dengan sahabatnya itu, dan kau tau itu cukup membuatnya menderita. Bukan hanya dia, Ibu dan kakak kandungnya juga merasa kasihan terhadap Kyu Hyun, ditambah lagi kematian ayahnya yang hanya berselang 1 tahun setelah kematian sahabatnya itu”. Jelas Dong Hae panjang lebar, pria itu menatap Seo Na yang sejak tadi hikmat mendengarkan ceritanya tentang Kyu Hyun.

“kisah yang rumit”. Ucap Seo Na sekenannya.

“sangat rumit. Karena itu aku cukup kaget ketika ia bertemu langsung denganmu tentang perusahaanya, padahal selama ini ia selalu menyuruh Ye Sung Hyung untuk memnemui rekan bisnis wanitanya”.

Seo Na mengangguk mengerti, akhirnya ia mendapatkan semua penjelasan tentang pria itu dari Dong Hae, ternyata pria itu juga ikut terguncang, pria itu juga ikut merasakan kepedihan, atau mungkin itu hanya rasa bersalah yang terus mengahantuinya? Pikir Seo Na.

“aku berharap ia bisa bangkit dari keterpurukannya”. Ucap gadis itu akhirnya dengan nada yang dibuat-buat peduli, meskipun kenyataannya ia sangat senang dengan penderitaan yang di alami pria itu selama ini.

“aku berharap juga begitu, bagaimana jika lusa nanti kita makan malam bertiga bersama Kyu Hyun, akan seru rasanya jika kita berbincang-cincang, mengingat kaulah wanita ketiga yang mendengar suara pria itu setelah ibu dan kakanya, bagaimana?”.

“Ne?”. Seo Na agak kaget dengan penawaran Dong Hae dan juga ucapannya tentang –wanita ketiga yang bicara dengannya setelah ibu dan kakaknya- itu yang cukup membuat Seo Na berkedik. “hm, baiklah aku rasa tidak buruk”. Dong Hae tersenyum mendengar persetujuan Seo Na.

~~~000~~~

“yak! Kenapa tidak memberi tahuku jika senjata itu kau buat untuk membunuh oran lain! EO!!”. Seo Na hampir menjatuhkan ponselnya ketika ia mendengar teriakkan Lee Teuk yang hampir membuat isi telinga tuli di pagi buta seperti ini.

“astaga Oppa! Kau mau membuat ku tuli ya?! Memangnya ada pengaduan jika aku sudah membunuh orang!”. Balas teriak gadis itu prustasi, bahkan di pagi buta seperti ini pria itu masih sempat meneriakkinya.

“aku tidak peduli sebelum kau mengembalikan senjata berbahaya itu. aku tau masalah hidupmu Na-ya, tapi ku mohon kau bisa menyelesaikannya tanpa melakukan hal yang keji!”.

“jika kau membunuhnya kau tidak kalah buruknya dari pria itu, seharusnya aku sudah mengatakan hal ini sejak lama padamu tapi aku akan terus menundanya sampai kau benar-benar berbuat yang tidak-tidak pada pria itu. kau tau? Jika Seo Yeo hidup ia tidak akan melakukan apa yang sudah terencana dalam otakmu, jadi berpikirlah sebelum kau melakukannya”.

Lee Teuk memutusakn sambungan telepon,gadis itu kini menatap layar ponselnya menyadari semua kata-kata Lee Teuk benar, pria itu juga sangat dekat dengan Seo Yeo kan? Kakaknya juga sering mengadu dan bercerita pada Lee Teuk, lagi pula keluarga Lee Teuk adalah teman baik mendiang orang taunya, jadi tidak salah jika pria itu menasehatinya.

“tapi tidak, aku tidak bisa meredakan rasa kebencian ini Oppa, aku terlalu membencinya”. Gadis itu membiarkan genangan air mata itu mengalir deras di pipinya menciptakan sebuah sungai kecil yang penuh kepedihan disana, sudah lama sejak saat itu ia tidak pernah menangis, ia terpaksa harus kuat, ia terpaksa harus bangkit dan mati-matian sukses seperti ini, harta maupun kekayaan yang ia punya saat ini bukan suatu kebahagiaan yang sempurnya yang ia miliki, karena sungguh dilubuk hatinya yang terdalam ia masih sangat membutuhkan seseorang yang mengerti bagaimana dirinya sekarang, memberikan perhatian yang sulit ia dapatkan selama hidupnya, dan ia tidak tau harus kemana mencari perhatian dan kasih sayang itu.

~~~000~~~

Pria itu memarkirkan mobil Jeep hitamnya, berjalan santai memasuki mini market di persimpangan jalan, pria yang baru saja mengganti warna rambutnya yang coklat menjadi kemerahan, memakai jas hitam dan baju kaos putih longgar dengan celana jeans hitam yang menambah kesan formal tapi masih tetap terlihat keren dimata orang yang melihatnya.

Eun Hyuk mencari deretan beberapa minuman kaleng yang bisa meredakan hausnya pagi ini, ia cukup sering mendatangi minimarket ini, ya meskipun tidak setiap hari tapi pria itu masih sempat untuk singgah hanya sekedar membeli minuman soda. Akhirnya pria itu mendapat beberapa kaleng minuman soda ditangannya membawa benda itu dengan susah payah, tapi tidak berselang lama karena saat ini tubuh pria itu sudah terjatuh kelantai dengan minuman kaleng ditangannya yang kini sudah berserakan dan yang membuatnya syok adalah tubuh seorang gadis kini sudah tepat menindih tubuh atasnya menyebabkan kedua wajah mereka beradu pandang dan terasa sekali jika bibir gadis yang menabraknya itu terasa menempel di bibirnya, tidak lama hanya beberapa detik sebelum keduanya kembali tersadar dan bangkit.

Gadis itu merapikan kembali pakaiannya yang kusut, begitu juga Eun Hyuk yang juga merapikan letak jasnya, menatap canggung pada gadis itu yang masih tidak berani menatapnya itu.

“Maaf atas kesalahnku aku benar-benar-“.

“tidak apa Nona, sebaiknya setelah ini kau berhati-hati”. Ucap pria itu sebelum gadis itu mengangkat wajahnya dan tanpa ia duga jika gadis yang berada dihadapannya ini adalah gadis yang ia benci, gadis yang bahkan sudah merusak kehidupan normalnya, gadis cantik, sangat cantik, dan bahkan terlalu cantik, pikir Eun Hyuk.

~~~000~~~

Keduanya saling berhadapan di luar minimarket itu, masih terasa kecanggungan diantara mereka, mengingat apa yang baru saja terjadi diantara keduanya, Eun Hyuk mengusap tengkuknya gugup gadis itu sejak tadi juga tidak berhenti menduk dan meminta maaf.

“aku akan melanjutkan perjalananku Tuan, sekali lagi aku minta maaf”. Ucap gadis itu akhirnya tetap menunduk tanpa melihat pria dihadapannya ini.

“aku juga, hmm berhati-hatilah”. Akhirnya gadis itu berlalu memacu mobil mewah sportnya yang lain, yang tidak sama saat Eun Hyuk membuntuti gadis itu hingga didepan gedung perusahaanya belum lama ini.

Pria itu menatap mobil itu berlalu, dan kini ia merasakan ada yang meledak-ledak didalam dadanya, masih terasa saat bibir merah itu menempel tanpa sengaja dibibirnya dan sejujurnya itu membuat Eun Hyuk merasakan tegangan listrik berkekuatan besar didalam tubuhnya. Hei bukankah seharusnya ia membenci gadis itu? Pekiknya dalam hati.

~~~000~~~

Yoo Ra terengah-engah mengejar langkah besar sahabatnya itu, sejak tadi ia memanggil nama Seo Na dengan berbagai macam teriakkan tetap saja gadis itu tidak menoleh dan berjalan sambil menunduk, ia tidak tau apa yang sudah terjadi dengan gadis itu, apakah tadi malam pria yang menghubunginya itu sudah memperkosa gadis itu? atau ia baru saja diajak menikah oleh Kyu Hyun, gadis itu menggeleng mengahalau pikiran –Absurd- nya, tidak mungkin itu terjadi, pikir Yoo Ra.

Yoo Ra menahan pintu lift ketika ia baru saja mendapatkan Seo Na sudah terlebih dahulu masuk, menyusul gadis itu masuk dengan napas yang turun naik. “Ya! aku sudah memanggilmu dengan terus berteriak, kau tidak mendengarku?”. Tanya gadis itu kesal.

Seo Na menggeleng santai, tidak terlalu peduli dengan sahabatnya itu yang mungkin sebentar lagi akan murka.

“astaga Seo Na, dipagi buta seperti ini kau masih sempat membuat ku naik darah!”. Seo Na menahan tawanya mendengar sumpah serapah yang keluar dari mulut Yoo Ra yang lebih terdengar seperti nyanyian burung dikebun binatang.

“baiklah, aku sedang tidak ingin mengomentarimu. Eh kenapa parfummu seperti wangi pria? Sejak kapan kau mengganti parfum dengan parfum pria? Atau kau sedang berencana membeli pabrik parfum pria?”. Yoo Ra tidak henti-hentinya berceloteh ketika ia baru sadar wangi Seo Na pagi ini benar-benar berbeda, jauh dari wangi cherry blassom khas tubuh gadis itu. Seo Na tetap bungkam tidak ingin berkomentar banyak atau menanggapi pertanyaan konyol sahabatnya itu.

“ASTAGA SEO NA! KAU SUDAH NORMAL!”. Pekik gadis itu lalu menghambur memeluk sahabatnya itu dengan bahagia.

“Ya! apa maksudmu?”. Ucap Seo Na berkedik menjauhkan tubuhnya dari Yoo Ra sebelum tulang-tulang gadis itu rontak satu persatu.

“kau masih mau menghindariku ya? mengaku saja jika pagi ini kau mendapat pelukan atau kecupan dari seorang pria dan wangi parfumnya tertinggal ditubuhmu, ya kan?”. Demi yang kudus, ingin sekali gadis itu saat ini menyumpal mulut Yoo Ra dengan sepatunya sebelum gadis itu terus berceloteh dan mengatakan hal yang tidak-tidak, sekaligus membuatnya mengingat kejadian murahan dan lebih tepatnya sangat-sangat murahan tadi pagi, menabrak tubuh seorang pria berambut merah dan mencium bibir pria itu tanpa sengaja, ingat! Hanya tidak sengaja.

“jadi kau benar-benar baru saja berciuman?”.

“YAK!!!”.

~~~000~~~

“bagaimana dengan perusahaan? Apa sudah kembali normal?”. Ucap wanita paruh baya itu, sudah terlihat jelas dari garis wajahnya saat ini yang semakin hari semakin menua.

“semua akan baik-baik saja Eomma”. Jawab Kyu Hyun singkat, lalu kembali menyantap sarapannya. Hari ini pria itu sengaja menuruti ajakan Ibunya untuk sarapan dirumah mereka, dirumah yang sebesar ini hanya ada Ibu, Ahra- kakak kandung Kyu Hyun-, dan juga suami dan sepupu Kyu Hyun yang baru berumur 4 tahun. Mereka memang jarang dirumah, mengingat suami Ahra yang juga punya bisnis yang mengharuskannya keluar negeri beberapa hari.

“Apa nuna akan berlama-lama di Paris?”. Tanya pria itu sekenannya.

“hanya 5 hari setelah itu mereka akan kembali, tenanglah aku tidak akan memintamu untuk menginap dirumah kau sudah dewasa Kyu, apa lagi sekarang kau juga sudah punya rumah pribadi jadi tidak mungkin aku terus menuntutmu yang macam-macam, ya kecuali kehadiran cucu lagi”. Kyu Hyun hampir tersedak mendengar kata-kata –cucu lagi- dari mulut wanita itu, Ibu Kyu Hyun sedikit terkekeh lalu menyodorkan air meneral kearah anaknya itu.

“aku hanya mengkhawatirkanmu, tidak mungkin kau terus hidup didalam bayang-bayang masa lalumu, gadis itu pasti sudah tenang Kyu. Kau tidak bersalah, bahkan kau bukan penyebab kematiannya, aku hanya menasehatimu sebagai seorang Ibu, kau pasti membutuhkan pendamping hidup yang akan mengurusmu nantinya. Kau mengertikan maksudku?”. Tambah Ibu pria itu lagi, Kyu Hyun hanya mengangguk, secara tidak langsung pria itu sangat setuju dengan Ibunya, ia tidak seharusnya terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu, ia juga punya masa depan dan tentunya ia memang seharusnya mendapatkan wanita yang bisa ia cintai dan juga mencintainya. Sederhana bukan?

~~~000~~~

“kau mengatakan apa pada Lee Teuk Oppa?”. Suara Seo Na kini terdengar mengintimidasi sahabatnya itu, menekan setaip kata-kata yang tidak akan mampu disanggah Yoo Ra.

“hanya menjawab apa yang seharusnya ku jawab Na-ya”. sekuat tenaga gadis itu tidak menatap mata tajam milik Seo Na sebelum ia bisa mati mengigil melihat mata-fox- milik gadis itu.

“kau tau ajhussi itu meminta senjatanya padaku, lalu bagaimana aku bisa menghabisi nyawa pria itu, heung?”. Kali ini nada bicara gadis itu melunak lebih terkesan mengiba pada Yoo Ra akhirnya gadis itu berjalan mendekat kearahnya membantu Seo Na menyusun berkas-berkas diruang kerjanya.

“kau tidak perlu membunuhnya Na-ya, sama sekali tidak perlu”. Yoo Ra memeluk tubuh Seo Na sejenak lalu kembali melepasnya. “kau hanya perlu memperbaiki apa yang sudah terjadi, aku tau kau membencinya tapi apa kau mau hidup dalam kebencian selamanya, aku yakin Seo Yeo Eonni juga tidak suka jika adik kesayangannya terus membenci Kyu Hyun”.

Kedua sahabat itu saling berhadapan, dan dengan jelas Yoo Ra bisa membaca semua pikiran gadis itu dari matanya, mata yang tajam itu sebenarnya penuh dengan tumpukan air mata, mata yang kini tengah menahan berliter-liter kesedihan yang siap meledak kapan saja, mata yang seharusnya butuh menangis, bukan mata yang terus menatap tajam yang penuh intimidasi. Dan raut wajah dingin itu, sebenarnya raut wajah yang lesu dan lemah, raut wajah yang butuh kasih sayang, raut wajah yang butuh perlindungan, bukan raut wajah yang dingin dan terus tetap terlihat tegar didepan semua orang, jauh didalam sana Park Seo Na adalah gadis umur 23 tahun yang normal yang tidak mendapatkan cinta selama ini, hanya itu saja.

“kau hanya butuh seseorang yang mencintaimu Seo Na setelah itu kau akan tenang”.

~~~000~~~

Kyu Hyun berkali-kali mengetuk-ngetuk ujung jarinya ke meja, entah kenapa jiwa pria itu tiba-tiba gelisah menunggu siapa yang akan datang kekantornya. Hari ini ia punya janji bukan dengan gadis itu, gadis yang bahkan membuat darahnya berdesir tidak karuan hanya dengan menatapnya, wajah yang membuatnya berpikir aneh dan entah kenapa ia merindukan gadis itu.

“maaf sudah membuatmu lama menunggu”. Suara itu membuayarkan lamunannya, refleks pria itu berdiri dan berjalan kearah sofa di sisi lain ruang kerjanya mempersilahkan gadis itu dan seorang gadis lagi untuk duduk disana.

“tidak masalah Seo Na-ssi”. ucap Kyu Hyun santai, tatapannya masih tidak terlepas dari paras gadis itu, rambutnya yang diikat keatas memamerkan leher jenjang gadis itu, kali ini gadis itu terlihat lebih feminim, pikirnya.

“ini berkas yang harus kau tanda tangani Seo Na-ssi, semua sudah tertera disana, kau boleh membacanya terlebih dahulu sebelum menandatangani berkas itu”. Seo Na mengambil berkas itu dari tangan Kyu Hyun, membacanya sejenak lalu menyambar pulpen yang sejak tadi sudah tergeletak diatas meja.

“baiklah, aku berharap kita bisa bekerja sama Kyu Hyun-ssi”. ucap Seo Na menyodorkan berkas itu lagi kepada pemiliknya. Yoo Ra yang hadir diantara keduanya melihat dengan jelas jika sejak tadi pria tampan yang berada dihadapannya ini tidak henti-hentinya menatap sahabatnya. Gadis itu menyikut tangan Seo Na bermaksud memberi kode pada gadis itu.

Seo Na tersadar melirik kearah Yoo Ra sejenak. “Ohh perkenalkan ini Han Yoo Ra, ia menager sekaligus sahabatku lebih tepatnya asistenku”. Ucap gadis itu yang mendapat sikutan keras dari Yoo Ra, Seo Na terkekeh menyembunyikan tawanya dari Kyu Hyun, meskipun begitu pria itu masih bisa melihat tawa yang terlukis dari wajah Seo Na, bahkan dengan wajah dingin yang penuh ketidakpedulian itu ia sangat terlihat cantik, apa lagi saat ini saat gadis itu sedang tertawa kecil, bahkan dunia Kyu Hyun seperti diputar-putar.

“Oh ya, perkenalkan aku Cho Kyu Hyun, aku harap kita bisa saling bekerja sama”. Pria itu mengulurkan tangannya menjabat tangan sahabat gadis itu.

“tentu saja Sajangnim aku akan senang sekali bisa bekerja sama dengan anda, apa lagi atasanku yang cuek ini”. ucap gadis itu, bermaksud menggoda Seo Na yang langsung memasang tampang pembunuhnya dan ia yakin setelah keluar dari ruang kerja Kyu Hyun ini ia akan ditikam oleh Seo Na.

“kalau begitu kami permisi dulu Kyu Hyun-ssi, aku harus segara kembali kekantor”. Ucap Seo Na dingin, menatap Yoo Ra mengisyaratkan gadis itu agar segera beranjak dari tempat ini sebelum ia benar-benar salah tingkah didepan Kyu Hyun. Yoo Ra yang menyadari tatapan Seo Na terlebih dahulu bangkit dari sofa yang ia duduki, tapi ketika Seo Na hendak berdiri tangan gadis itu tertahan ditempatnya karena kini tangan Kyu Hyun sudah terlebih dahulu mengenggam pergelangan tangan gadis itu.

Seo Na berkedik sebelum menyadari jika tangan pria itu sudah mengenggam tangannya, lembut namun mampu menahannya ditempat. “Yoo Ra-ssi aku masih ingin berbicara dengan gadis ini, kau boleh pergi dahulu biar aku yang mengantar gadis ini nanti”. Ucap Kyu Hyun penuh permintaan disetiap nadanya, dan tanpa aba-aba apa-apa lagi gadis itu mengangguk semangat.

“baiklah, aku tidak keberatan-“.

“hei, apa-apaan kalian berdua? Kyu Hyun-ssi, apa kau kira aku setuju dengan permintaanmu??”. Ucap Seo Na dengan nada menakan, ia tidak suka hal ini terjadi, berduaan dengan pria itu lagi? Astaga haruskah ia membeli bom atom untuk membunuh pria itu?

“karena kau tidak setuju aku meminta izin pada rekanmu Nona Park”. Yoo Ra lebih dulu lenyap sebelum Seo Na membunuhnya dengan tatapan gadis itu, setidaknya dengan cara seperti ini ia bisa mendekatkan gadis itu dengan seseorang yang paling dibencinya diatas dunia ini.

~~~000~~~

“apa kau hanya terus diam? Dan tetap menahanku disini Kyu Hyun-ssi?”. Kyu Hyun tetap menatap gadis itu, ia tau sekarang kebiasaan terbaru yang menyenangkan untuknya adalah menatap mata gadis itu. Fox Eyes, begitulah kesimpulan yang ia dapat ketika melihat tatapan mata Seo Na, ia yakin gadis itu tidak sedingin diluarnya.

“ok, baiklah Cho Kyu Hyun, sepertinya aku bisa mati bosan didalam sini jika hanya menikmati tatapanmu yang bisa menerkamku kapan saja”. Seo Na beranjak dari hadapan Kyu Hyun berjalan beberapa langkah kearah pintu, tidak sampai meraih ganggang pintu karena sekarang tubuh Seo Na sudah ditarik oleh Kyu Hyun menghadap kearahnya dan tubuh gadis itu dipaksa bersandar ke sisi dinding.

Entah apa kekuatan yang membuat pria itu memajukan wajahnya lebih dekat kearah Seo Na membuat gadis itu melotot, refleks menutup matanya tanpa ada perlawanan sedikitpun. Kyu Hyun memiringkan wajahnya mendekatkan hidungnya kearah leher gadis itu terhenti ketika ia bisa dengan jelas mencium aroma cherry blassom disana, aroma tubuh seorang gadis dimasa lalunya.

Cherry blassom? Apa kau pernah menjadi seseorang dimasa laluku?”.

Cklek!

“Kyu Hyun-ah! Aku membawakan-“. Mata Dong Hae melotot kearah dua orang yang kini bahkan posisi tubuh masing-masing keduanya tidak dapat dijabarkan dengan jelas, karena keduanya hampir bertaut dan wajah Kyu Hyun bahkan menyusup kearah leher gadis itu, dan Seo Na dengan bodohnya menutup kedua matanya terlihat pasrah. Astaga! Pekik Dong Hae dalam hatinya.

~~~000~~~

“aku akan mengantarmu-“

“tidak usah, Hmm Dong Hae-ssi bisa mengantarku kembali kekantor?”. Ucap Seo Na memotong tawaran Kyu Hyun yang jika ia setujui hanya akan membuatnya terjerumus dalam lubang buaya, lagi.

“tentu saja, tapi apa kau bisa menunggu di lobi? Aku ingin berbicara sebentar dengan Kyu Hyun”. Seo Na mengangguk menuruti kata-kata Dong Hae lalu secepat mungkin lenyap dari dalam ruangan kerja Kyu Hyun sebelum ia benar-benar mati karena ulah pria itu.

Dong Hae menghempaskan tubuhnya di sofa, disusul Kyu Hyun yang juga duduk disana. “ternyata kau normal? Yang tadi sejak kapan? Kenapa bisa dengan gadis itu?”.

“kau mengenalnya?”.

“Ya! jawab dulu pertanyaanku!”. Umpat Dong Hae, dan Kyu Hyun masih tetap memasang tampang –tak bersalah dan tak terjadi apa-apanya- didepan Dong Hae membuat pria itu ingin sekali menghajarnya.

“aku hanya menuruti instingku saja”. jawab pria itu enteng.

“jadi instingmu sudah mulai bekerja? Ternyata dugaanku tidak salah”.

“apa?”.

“bukan apa-apa. Jika memang kau menginginkannya aku tidak akan melanjutkan persaanku, ya sepertinya ini akan menjadi kisah tragis bagiku untuk yang kedua kalinya”. Kyu Hyun mengerutkan keningnya, merasa tidak mengerti sama sekali dengan ucapan Dong Hae.

“baiklah, aku akan mengantarnya. Aku harap ini bukan main-main Kyu”. Dong Hae berlalu meninggalkan Kyu Hyun yang masih terpaku ditempatnya, menopang keningnya dengan tangan yang sejak tadi tertumpu di pahanya. Ia masih merasakan aroma tubuh gadis itu, Cherry Blassom. Bukankah itu juga aroma tubuh yang sama dengan Seo Yeo bukan? Kenapa mereka memiliki aroma tubuh yang sama? Apa Park Seo Na itu ada hubungannya dengan Seo Yeo? Atau insting pria itu –sebagai penyandang IQ diatas rata-rata- itu salah?

~~~000~~~

“aku harap kau tidak berpikiran macam-macam tentang yang tadi”. Akhirnya gadis itu bersuara juga, sejak masuk kedalam mobil Dong Hae ia sama sekali tidak berminat bersuara atau hanya berdeham.

“jika terjadi sesuatupun tidak masalah, ini untuk pertama kalinya aku melihat Kyu Hyun sejauh itu dengan seorang wanita, sejujurnya aku cemburu, kau tau”. Tidak ada nada candaan dari sana, Seo Na tau pria itu sedang serius bahkan disana terselip getaran yang mungkin terdengar benar-benar mengeluh.

“aku tidak suka bersaing, tapi aku juga tidak suka menghentikan perasaanku begitu saja, aku sudah mulai menyukaimu, dan kejadian ini persis sama saat aku dan Kyu Hyun berada diantara satu wanita, hanya saja Kyu Hyun tidak menyukai gadis itu, tapi sekarang sepertinya aku harus menerima kenyataan jika pria itu sangat berminat terhadapmu, apa aku harus menerima kenyataan lagi jika aku harus di tolak oleh gadis yang ku cintai?”. Mata Seo Na meletot ketika ia baru mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Dong Hae, astaga pria ini sempat menyukai kakaknya? Pekik gadis itu dalam hati. Tangan Seo Na bergetar, bahkan ia sekarang dihadapkan dengan dua orang pria yang pernah jadi bagian hidup Seo Yeo, dan bahkan pria ini sekarang mengatakan ia sudah mulai menyukai dirinya. Kenapa ini semakin rumit? Pikir gadis itu dan sepertinya ia akan ketempat pijat refleksi setelah ini.

~~~000~~~

Jae Eun menatap pria dihadapannya ini tidak percaya, kalimat demi kalimat yang diucapkan pria itu tentang pertemuan dan kejadian yang ia alami beberapa hari lalu membuat sebuah godam yang mengantam batinnya keras. Pria dihadapannya ini apa masih tidak tau bagaimana perasaannya? Apa pria ini tidak tau bagaimana hatinya kini tersayat-sayat mendengarkan ceritanya. Astaga! Demi apapun ia ingin sekali membunuh gadis yang membuat pria dihadapannya ini seperti orang bodoh! Teriak Batin Jae Eun.

“lalu?”. pertanyaan konyol yang hanya akan membuat pria itu akan menceritakan lebih banyak dan membuatnya terluka lagi.

“dia meminta maaf dan berlalu dari hadapanku, mungkin itu memang tidak sengaja. Tapi jantungku seperti ingin melompat keluar ketika tiba-tiba bibir itu menyentuh bibirku. Kau benar Eun-ah tidak ada pria yang bisa lari dari pesonanya”.

“jadi kau membatalkan membunuh gadis itu?”.

“aku punya cara yang lain”.

“maksudmu?”.

~~~000~~~

“bagaimana jika aku menikah dengannya, sehingga aku tidak perlu repot-repot mencuri kekayaannya, lagi pula bukan itu yang menjadi tujuanku saat ini , tapi pesona gadis itu yang hampir membuat hatiku obrak-abrik”.

Berkali-kali Jae Eun menggeleng-gelengkan kepalanya menghilangkan kata-kata yang membuat tubuhnya tak mampu berdiri tegap dihadapan Eun Hyuk tadi siang. Pria itu bahkan merubah rencananya yang semula ingin membunuh gadis itu menjadi ingin menikahi gadis itu. ingin sekali saat ini Jae Eun berteriak sekencang-kencangnya tapi itu semua tidak akan mengubah keadaan.

Jae Eun masih mengingat dengan jelas saat gadis itu memecatnya dengan sangat tidak hormat, memang saat itu ia membuat kesalahan dengan menghilangkan dokument penting milik PTI Corp dan itu memang tidak disengaja tapi semua alasan yang diajukan Jae Eun tidak diterima sama sekali oleh gadis itu. dan satu-satunya orang yang membantunya saat itu adalah Eun Hyuk dengan mempekerjakan gadis itu diperusahaanya. Karena itu Jae Eun begitu membenci sosok Seo Na, baginya gadis itu hanya bisa menghancurkan orang lain dan membuat penderitaan dengan semua keegoisannya.

“kau tidak akan pernah bahagia Park Seo Na, tidak akan”.

~~~000~~~

“Oppa, ku mohon aku tidak akan menggunakan benda ini. aku hanya ingin berjaga-jaga, pinjamkan aku lebih lama lagi, eung?”. Lee Teuk menghembuskan napasnya gusar, lagi-lagi gadis itu meminta dengan nada mengida dan itu bahkan tidak bisa membuat pria itu mengatakan –tidak- pada Seo Na.

“kau tetap menakutkan meskipun berlagak Aegyo”. Ejek Yoo Ra yang baru saja hadir diantara keduanya, sambil meletakkan 3 gelas teh hangat diatas meja.

“Ya!”. teriak Seo Na mengundang tawa puas sahabatnya itu.

“Oppa, kau tau tadi saat kami berkunjung keperusahaan Kyu Hyun pria itu tidak henti-hentinya menatap Seo Na, bahkan ia berbicara berdua dengan gadis ini. aku rasa Kyu Hyun menyukainya”. Lanjut Yoo Ra tidak terlalu peduli tatapan Seo Na kini mengarah padanya, setelah Lee Teuk pergi ia yakin Seo Na akan membuat piring terbang.

“aku juga sudah menduga, Kyu Hyun akan menyukainya”. Tandas Lee Teuk, Seo Na menatap pria itu mengerinyitkan keningnya.”entahlah, sebagai seorang pria aku memiliki insting yang demikian”. Lanjut pria itu lagi.

“jadi di tempatmu bekerja kau juga diajarkan membaca keadaan dan memakai instingmu ya?”. timpal Seo Na lalu menyusup teh hangat yang sudah tersedia dihadapannya.

“dan isntingku mengatakan kau juga akan menyukai pria itu”.

“UHUK!! Mwo?!”. Seo Na memuntahkan kembali teh yang baru saja ia teguk dari mulutnya, bagaimana bisa seorang Agent seperti Lee Teuk malah berasumsi mengerikan seperti itu, astaga apa kata dunia jika gadis yang berambisi membunuh Kyu Hyun malah terjerat dalam pesona pria itu.

“ya aku setuju dengan instingmu Oppa, tidak ada alasan bagi gadis manapun untuk tidak tertarik pada pria setampan Kyu Hyun”. Tambah Yoo Ra membetulkan ucapan Lee Teuk yang terdengar lebih seperti hukuman mematikan.

“ASTAGA! KALIAN BERDUA MEMBUATKU GILA!!!”.

~~~000~~~

“bagaimana dengan tawaran makan malam ku beberapa hari kemarin? Aku harap kau tidak mengubah keputusannya kan Seo Na-ssi?”. Seo Na terdiam sejenak, sebenarnya ia ingin teriak dan mengatakan ia tidak ingin makan malam apa lagi jika harus bertemu dengan makhluk yang bernama Cho Kyu Hyun itu.

“Seo Na-ssi? bagaimana?”. Lanjut pria itu. Seo Na menarik napasnya panjang membuangnya hati-hati takut jika pria yang sedang menelponnya ini mendengar hembusan napas prustasinya.

“Hmm, baiklah”. Ucap gadis itu akhirnya, sebelum pria diujung sana memutuskan sambungan telepon mereka.

“kenapa aku harus bertemu dengan pria itu dalam keadaan yang seperti ini! astaga! Seharusnya aku cepat-cepat membunuhnya sebelum aku mati terbunuh oleh perlakuan menyebalkan pria itu!”. teriak Seo Na gusar, menghempaskan tubuhnya keranjang, bahkan hari ini ia tidak berminat untuk pergi kekantor.

~~~000~~~

“nanti aku ingin mengajak mu makan diluar, dengan gadis itu”. Kyu Hyun baru saja membaca pesan singkat yang dikirim Dong Hae padanya, makan malam dengan gadis itu? tidak masalah, meskipun dengan kehadiran Dong Hae disana.

Kyu Hyun segera duduk di kursi putarnya, Dong Hae memang sepertinya cukup berniat mengajaknya bertemu dengan gadis itu mengingat sepagi ini pria itu mengirimnya pesan, dan sepertinya ini akan menjadi hal yang menarik bukan, bertemu dengan gadis itu lagi, menatap Fox Eyes kepunyaan gadis itu dan mencium aroma tubuhnya yang membuat candu tersendiri bagi Kyu Hyun.

Mata pria itu kini tertuju pada kertas putih yang dilipat diatas mejanya, kening Kyu Hyun mengerinyit, memperhatikan benda itu sejenak mengambilnya lalu membuka kertas itu, membaca deratan-deretan kalimat didalam sana dan refleks pria itu membulatkan matanya menyadari setiap kalimat disana menunjukkan suatu kenyataan baru dalam hidupnya.

~~~000~~~

“kau mau kemana?”. Tanya Yoo Ra menatap sahabatnya itu yang terlihat bersiap-siap setelah mereka baru saja sampai ke apartemen milik Seo Na.

“makan malam”. Jawab Seo Na singkat berjalan kedapur mengambil susu cair didalam lemari es.

“makan malam? Dengan siapa? Kyu Hyun? Atau pria yang menelfonmu malam itu? atau pria yang memelukmu pagi-pagi buta itu?”. Seo Na menghembuskan napasnya gusar tidak terlalu peduli dengan deretan pertanyaan Yoo Ra yang terdengar seperti paparazi.

“dan kau akan pergi makan malam dengan dandanan tahun 70-an itu? kau waraskan?”. Seo Na langsung menatap pakaian yang dipakainya yang memang terlihat seperti ingin pergi ke minimarket disamping gedung apartemen mereka.

“memangnya aku harus memakai gaun pengantin?”. Timpal gadis itu cuek tidak memperdulikan Yoo Ra yang sudah memegang kepalanya frustasi.

“apa kau punya gaun atau dress yang lebih sedikit wanita?”. Tanya Yoo Ra, gadis itu mengangguk masih tidak mengerti dengan pertanyaan sahabatnya itu.

~~~000~~~

For Cho Kyu Hyun

Ini mungkin tidak terlalu mengejutkan untukmu Sajangnim yang terhormat, dengan IQ mu yang diatas rata-rata itu kau pasti sudah mencium gelagat gadis itu bukan? Pemilik Park Telecomunication and Industry Corporation, Park Seo Na. Ini sepertinya sangat menarik karena kenyataanya kau harus mengetahui semua rencana gadis itu. Park Seo Yeo dan Park Seo Na, nama yang hampir sama bukan? Seharusnya kau sadar dengan semua itu, karena aku rasa kau bukan orang bodoh Cho Kyu Hyun. Gadis itu datang kepadamu hanya untuk menghancurkanmu, membawamu pada kematian seperti apa yang sudah kau lakukan pada kakak kandungnya, Park Seo Yeo. Ini menarik bukan?.

Kyu Hyun menarik napasnya menghembuskannya perlahan mengatur emosinya yang sejak tadi tidak stabil setelah menerima surat dari orang yang tidak dikenalnya, ia sudah yakin sejak awal jika Seo Na memiliki hubungan dengan Seo Yeo tapi pria itu tidak memilki alasan yang kuat untuk mengatakan jika mereka memang adik-kakak, tapi itu semakin kuat ketika Kyu Hyun dengan beraninya mencium aroma tubuh gadis itu.

Sejujurnya, pria itu merasa lega karena akhirnya mengetahui siapa Seo Na sebenarnya, dan tidak sedikitpun ia merasa kecewa dengan kenyataan yang ia dapati dari gadis itu, bahwa nyatanya Seo Na menaruh dendam yang luar biasa kepadanya. Kyu Hyun merasa semua bebannya sedikit demi sedikit berkurang, karena akhirnya ia menemukan gadis yang ia cari, adik Seo Yeo satu-satunya tempat ia bisa meminta maaf atas semua yang sudah pria itu lakukan. Yang hanya akan ia selesaikan sekarang hanya masalah antara dirinya dan Seo Na-lah, bagaimana nantinya ia menjelaskan semua apa yang keliru selama 8 tahun terakhir ini.

“Dong Hae-ssi belum datang?”. Suara itu tiba-tiba terdengar dihadapan pria itu, Kyu Hyun menoleh, mendapati gadis itu yang sudah berdiri dihadapnnya dengan Dress diatas lutut bewarna pink lembut ditambah tali kecil yang menggantung di bahunya yang putih, rambut yang ia ikat keatas membiarkan beberapa anak rambutnya menggantung indah di tengkuk gadis itu. dan untuk pertama kalinya Kyu Hyun mendapati gadis itu dengan tampilan yang ia yakini mengalahkan gadis manapun. Seo Na persis boneka mahakarya Tuhan yang sengaja didatangkan untuk Kyu Hyun malam ini, meski ia bisa mendapati jika gadis itu terlalu canggung dengan pakaiannya yang memang terlihat –errr- cukup seksi.

“dimana Dong Hae-ssi, apa kau tidak mendengarku?”. Tanya gadis itu sekali lagi, membuyarkan lamunannya, Kyu Hyun tersadar kembali fokus pada sekitarnya setelah cukup mabuk melihat penampilan Seo Na yang membuat dunianya seketika jungkir balik.

“dia tidak jadi datang, sesuatu terjadi dikantornya, ia juga mengatakan tidak bisa menghubungimu karena terburu-buru”. Jelas Pria itu, terlihat dari wajahnya Seo Na kecewa, gadis itu malah berasumsi jika dirinya dijebak untuk berudaan dengan makhluk menyebalkan dihadapannya saat ini.

“kalau begitu sepertinya kita bisa menunda makan malamnya, lagi pula Dong Hae tidak ada disini. Aku permisi Kyu Hyun-ssi”. tandas gadis itu tidak terima jika keadaan membuat mereka harus terjebak berdua disini, bahkan hal yang paling dihindari Seo Na saat ini adalah pria itu, mengerikan baginya.

Kyu Hyun setengah berlari mengejar punggung gadis itu sampai akhirnya ia bisa menggenggam pergelangan tangan Seo Na menarik tubuh gadis itu lebih cepat, menuntunya masuk kedalam mobil Ford mewah milik pria itu, awalnya gadis itu terkejut dan bersikeras tidak ingin ikut dan mencoba melepaskan diri, tapi percuma karena sekarang ia sudah berada disamping kendali Kyu Hyun.

“kau mau menculikku? Aku bisa menanam saham diperusahaanmu lebih banyak lagi, tapi kumohon pulangkan aku!”. Kyu Hyun tetap tidak peduli dengan ocehan bringas gadis itu, ia lebih fokus pada jalanan Seoul dan akhirnya Seo Na hanya diam menuruti semua keinginan pria itu dan ia yakin setelah ini ia akan benar-benar membunuh pria itu.

~~~000~~~

Kyu Hyun menepikan mobilnya, menatap wajah polos Seo Na yang saat ini sedang tertidur pulas disampingnya, ia bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu, raut wajah kelelahan, wajah yang seharusnya tersenyum, dan ia yakin selama 8 tahun ini gadis itu tidak mendapatkan kasih sayang yang layak lagi, semua karena dirinya, karena ia sudah menciptakan gunung kebencian didalam hati gadis itu, seujurnya Kyu Hyun sangat teramat menyesal.

Pria itu turun perlahan dari dalam mobilnya, dua jam perjalanan dan hanya diam didalam mobil membuat gadis itu tertidur dan ia tidak ingin mengganggu tidur nyenyak Seo Na, Kyu Hyun melangkahkan kakinya mendekat ketepi pantai, ya pria itu memilih pantai karena dulu Seo Yeo sempat mengatakan kepadanya jika Seo Na sangat menyukai pantai, gadis itu tergila-gila dengan suara deburan ombak baginya laut dan pantai adalah lambang kehidupan yang damai.

“kenapa membawaku kemari? Aku ingin pulang”. Suara itu sukses memalingkah wajah Kyu Hyun yang sejak tadi memperhatikan ombak, pria itu tersenyum mendapati gadis itu sudah berjalan terseok-seok diatas pasir. “ini sudah malam dan kau membawaku ketampat ini? kau gila?”. Tandas gadis itu lagi, masih tidak puas terus memojokkan Kyu Hyun.

Pria itu membuka jas hitamnya, meletakkan di sisi bahu Seo Na dan gadis itu lagi-lagi dengan pasrahnya menerima sikap tiba-tiba Kyu Hyun yang membuatnya linglung.

“kau menyukai pantai?”. Tanya pria itu akhirnya. Seo Na mengangguk kecil, meski ia tidak tau apakah pria itu melihat anggukannya. “aku juga menyukai pantai sejak mengenal seseorang”. Gadis itu mengalihkan pandangannya kearah Kyu Hyun menatap pria itu lekat-lekat. ‘seseorang? Siapa?’. tanya gadis itu dalam hatinya.

“aku menunggunya selama bertahun-tahun”. Lanjut pria itu lagi, Seo Na masih menatapnya, tidak mengalihkan padangannya dari wajah Kyu Hyun yang asik menatap deburan ombak di hadapan mereka.

Seo Na mencoba mengontrol emosinya, menyembunyikan semua keingin tahuannya terhadap seseorang yang dimaksud pria itu. “aku rasa dia sangat berharga bagi mu”. Ujar gadis itu, tidak terdengar sedikitpun emosi dari ucapannya.

“tentu saja, aku melakukan banyak kesalahan demi dia”. ucap pria itu lirih, Seo Na bisa mendengar dari nada bicara Kyu Hyun jika pria itu memang sangat teramat mencintai seseorang yang disebutnya itu, pantas Seo Yeo tak pernah bisa mendapat tempat di hati Kyu Hyun.

Kyu Hyun menatap gadis itu, lagi-lagi pandangannya terfokus pada mata Seo Na, mata itu bahkan ia merindukannya, gila bukan?. “kau cantik malam ini”. ucap pria itu datar. Seo Na mengerjapkan matanya, benarkah apa yang baru saja diucapkan pria itu padanya? Kenapa tubuhnya seperti baru saja disengat listrik.

Secepat mungkin gadis itu mengalihkan padangannya dari Kyu Hyun, mengatur napasnya yang tiba-tiba tersengal-sengal, menyembunyikan mimik mukanya yang ia tau saat ini pasti sangat terlihat bodoh, astaga didepan pria yang ia benci kenapa ia harus terlihat sebodoh ini, pikirnya.

Kyu Hyun meraih tangan Seo Na yang sejak tadi mengudara disamping tubuhnya, tiba-tiba saja pria itu mempunyai kekuatan untuk memberanikan diri mengenggam tangan gadis itu. “ada apa?”. Ucap Seo Na tak nyaman.

“jika kau berpakaian seperti ini, jangan salahkan jika seseorang menyukai dan mengejarmu”. Tandas pria itu, Seo Na berkedik namun gadis itu masih membiarkan Kyu Hyun mengenggam tangannya. Entalah, ada rasa nyaman saat pria itu menyentuh tangannya, ada perlindungan dari setiap sentuhan pria itu.

“tidak masalah, jikapun aku tidak memakai pakaian seperti ini, pria-pria selama ini juga menyukaiku, memberikanku hadiah, mengatakan aku cantik-“.

“benarkah? Kau menerima mereka?”.

“tidak, memangnya kenapa? Tidak ada salahnya juga mereka menyukaiku, lagi pula sejak aku lahir aku tidak mengenal cinta, semua itu menjijikan dan membuatku pusing”. Ujar gadis itu seenaknya, ia tidak peduli jika saat ini Kyu Hyun sudah tersenyum mendengar ucapannya yang ketus, dingin dan terdengar tidak berperasaan.

“Na-ya?”. panggil pria itu lembut, berhasil membuat mata Seo Na tertarik ke arah pria itu. Seo Na mematung ditempatnya, entah kenapa setiap pria itu mengucapkan namanya rasanya ia ingin mati kerena kehabisan napas.

Kyu Hyun mendorong tubuhnya kedepan, mendekap tubuh gadis itu, untuk yang pertama kalinya setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengan gadis itu kini ia bisa memeluknya, membiarkan semua sakit gadis itu tersalurkan padanya, meski ia tau sekarang tubuh gadis itu menegang karena terkejut atas perlakuannya yang tiba-tiba.

“Hei Tuan Cho?! Kau gila?!”. Bentak Seo Na, berusaha melepas pelukan Kyu Hyun tapi percuma saja, toh pria itu sedang nyaman memeluk tubuh Seo Na sekarang.

“baiklah-baiklah, apa yang kau inginkan? Kau mau paparazi memergoki ku lalu kita akan jadi trending topic utama? Hei kau tidak sadarkan sedang memeluk siapa?”. Kyu Hyun tidak peduli dengan ocehan gadis itu tetap saja memeluknya dengan sesukanya.

“maaf sudah membuatmu menderita selama bertahun-tahun, aku menyesal”. Ujar Kyu Hyun lirih sambil melepas pelukannya daru tubuh gadis itu, Seo Na menatap pria itu, ia tidak salah dengar kan? Apa yang sebenarnya pria itu bicarakan? Apa Kyu Hyun sudah mengetahui siapa dirinya? “terlalu banyak luka yang ku ciptakan, aku mencarimu kemana-mana, dan sekarang aku sudah menemukanmu Na-ya”. Kyu Hyun menatap gadis itu lekat-lekat, Seo Na masih diam ditempat membalas tatapan pria itu padanya.

“kau terluka? Aku juga, kau kehilangan? Aku juga, kau kehilangan satu orang waktu itu? dan aku kehilangan tiga orang sekaligus, dan sekarang aku sudah menemukan yang satunya”. Seo Na mundur selangkah setelah pria itu mengatakan kalimat terakhirnya.

“maaf atas semua kesalahan dimasa lalu-“.

“MUNDUR KAU CHO KYU HYUN!!!”. Teriak gadis itu setelah ia berhasil mengeluarkan pistol dari tas tangannya yang sejak tadi sengaja gadis itu bawa, mengarahkan moncong pistol itu kearah Kyu Hyun membuat pria itu kaget.

“kenapa? Kau takut? Bagaimana dengan ketakutan yang ku alami selama ini? KARENA KAU CHO KYU HYUN! Karena kau sudah mengancurkan hidupku! HIDUP SEO YEO! Dan kau bilang kau meminta maaf? Tidak semudah itu”. teriakan Seo Na tidak sama sekali membuat Kyu Hyun gentar, pria itu masih ditempatnya menyaksikan semua isak pilu yang pasti sudah tertanam selama 8 tahun ini didiri gadis itu.

Kali ini Seo Na terisak, banyak air mata yang turun dari mata gadis itu, mata yang biasanya menatap orang dingin, mata yang biasanya mengintimidasi orang lain, mata yang biasanya tetap terlihat tegar meski Kyu Hyun yakin Seo Na sangat rapuh, gadis itu sangat rapuh.

“aku kehilangan semuanya, aku kehilangan kakak-ku, aku kehilangan kasih sayang darinya, dan karena kau aku bahkan tidak pernah bisa menerima makhluk laki-laki yang berusaha masuk kedalam hidupku, kau tau! Aku menderita bahkan lebih dari apa yang kau lihat sekarang!”. Dengan susah payah gadis itu menahan isak tangisnya, dengan susah payah ia mengucapkan satu persatu kepedihan dihatinya yang selama ini tertanam jauh dilubuk hatinya.

“Na-ya”. panggil pria itu mencoba mendekat kearah Seo Na tapi gadis itu mundur menjauh dari jangkauan Kyu Hyun.

“jangan mendekat! Aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu Cho Kyu Hyun!”.

“bunuh aku jika itu yang kau inginkan, sekarang! Jika membunuhku bisa mengubah keadaan dan mengembalikan nyawa Seo Yeo aku rela! Kau pikir hanya kau yang mendapati kesengsaraan setelah gadis itu mati? Kau pikir hanya kau yang kehilangan kasih sayang setelah ia meninggalkan kita?! Jawab aku Park Seo Na!!!”. Seo Na berkedik, ia tetap menahan tangannya diudara mengacungkan benda mematikan itu kearah Kyu Hyun.

“dengarkan aku gadis bodoh! Kau tau alasan kenapa aku tidak mencintai gadis itu? kau tau alasan kenapa aku tidak menerimanya? KARENA YANG KU INGINKAN SAAT ITU ADALAH KAU PARK SEO NA! Gadis berumur 15 tahun yang terang-terangan ingin membunuhku saat itu! kau tau!”. Ucapan yang keluar dari bibir pria itu bahkan membuat Seo Na kini sudah terjatuh diantara pasir pantai, sungguh gadis itu tidak bisa lagi menopang tubuhnya yang sudah bergetar hebat, gadis itu masih menggenggam pistol ditangannya meski saat ini ia tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengangkat benda itu dan mengacungkannya kearah Kyu Hyun.

Pengakuan pria itu bahkan membuat kepalanya nyeri, air mata itu tumpah bahkan kini Seo Na mengerang kesakitan, jadi bukan dirinya sendiri yang membuat kakaknya terluka, bukan pria itu dan kenapa ia baru sadar setelah Seo Yeo meninggalkannya, kenapa dari dulu ia tidak menanyakan pada kakaknya alasan Kyu Hyun menolaknya, dan semua penyesalan itu menari-nari diotaknya.

Kyu Hyun mencoba mendekat kearah Seo Na, yang ia inginkan saat ini hanyalah memeluk tubuh rapuh gadis itu, membiarkan tubuh nringkih itu masuk dalam dekapannya, namun tiba-tiba saja suara letusan berbunyi sangat hebat, entah dari mana asalnya yang jelas suara letusan itu mampu membuat Kyu Hyun terlonjak kaget, tanpa ia sadar jika jiwa yang didepannya saat ini sudah tersungkur ke pasir dengan darah yang sudah mengalir deras menggantikan warna pasir sikitarnya menjadi merah padam.

“PARK SEO NA!!!”.

~~~000~~~

 

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s