Monthly Archives: May 2014

REVENGE BEFORE LOVE (3/?)

Standard

Gambar

 

 

 

REVENGE BEFORE LOVE (3/?)

Action, Romance. PG + 17

Cast :

Cho Kyu Hyun

Lee Dong Hae

Park Seo Na

 

 

“apa yang terjadi?!”. Lee Teuk menahan teriakkannya.

“Na-ya tertembak, aku tidak tau bagaimana persisnya. Tadi Kyu Hyun yang mengantarnya kemari lalu pria itu mengejar orang yang sudah mencelakai Seo Na, aku tidak tau bagaimana ini bisa terjadi Oppa”. Yoo Ra terisak ia benar-benar terkejut setelah Kyu Hyun menghubungi gadis itu lalu memintanya untuk datang kerumah sakit.

Lee Teuk menarik tubuh Yoo Ra, membiarkan gadis itu menangis didalam dekapannya. “Seo Na akan baik-baik saja, aku tau gadis itu kuat”. Ujar Lee Teuk, menahan semua amarah yang bahkan sebenarnya tak bisa ia tahan lagi, bagaimana Seo Na –yang sudah dianggap adik oleh Lee Teuk – ditembak oleh orang yang tak dikenal, kenapa masih ada orang yang membenci gadis yang bahkan hidupnya saja sudah sedemikian sengsara.

“setelah ini aku akan menemui Dokter dan menanyakan keadaan gadis itu, setelah itu aku akan mencari pelakunya”.

~~~000~~~

Eun Hyuk menatap gadis itu, sejak tadi keduanya tidak bicara tentang apapun, dan gadis yang didepannya saat inipun hanya mematung tanpa mengeluarkan suara.

“kau gila?”. Ucap pria itu akhirnya, mengontrol semua emosi yang ia rasakan.

“aku hanya ingin membuatnya menderita-”.

“HAN JAE EUN!”. Gadis itu terlonjak kaget mendengar teriakkan Eun Hyuk yang memenuhi ruangan kerja pria itu. “kau bahkan tidak mengikuti apa yang aku katakan Eun-ah! Kau tau bukan, jika aku mulai menyukainya?”. Eun Hyuk bangkit dari tempatnya mendekat kearah Jae Eun yang kini sudah terpojok di sisi dinding ruang kerja Eun Hyuk.

“Wae? Kau membenciku?”. Ucap gadis itu bergetar.

“jika kau terus seperti ini aku akan membencimu Eun-ah, kau bukan Jae Eun yang ku kenal”. Geram pria itu, menatap wajah Jae Eun yang kini sudah tertunduk. Gadis itu bahkan melakukan apa yang tidak diperintahkan Eun Hyuk padanya.

Gadis itu terisak, ia tidak tau apa yang harus dilakukannya saat itu, mengikuti kedua orang itu dan menembak gadis itu hingga tersungkur kepasir pantai, hanya satu tembakan setelah itu ia pergi dari sana. Jae Eun sangat membenci gadis itu apa lagi setelah gadis kaya raya itu memikat Eun Hyuk dan dengan mudahnya pria itu masuk kedalam pesonanya, dan sekarang itu yang menjadi poin utama bagi Jae Eun untuk membenci gadis itu.

~~~000~~~

“bagaimana keadaan Seo Na-ssi, apa dia baik-baik saja?”. Dong Hae baru saja mendapat pesan dari Kyu Hyun jika gadis itu masuk rumah sakit, meskipun pria itu tidak menceritakan penyebab Seo Na dilarikan kerumah sakit.

Yoo Ra berkedik, menatap Dong Hae cukup lama sebelum pria itu memperkenalkan dirinya. “Dong Hae imnida”.

“Ah, Dong Hae-ssi. Hmm, Seo Na masih belum sadar, sejak tadi malam ia belum sadarkan diri, Dokter bilang tidak ada yang parah, Seo Na hanya butuh istirahat”. Jelas Yoo Ra, Dong Hae mengerang prustasi.

“apa aku boleh tau, apa yang sebenarnya terjadi?”. Ucap Dong Hae pada akhirnya, pria itu penasaran dengan apa yang sudah terjadi dengan Seo Na sebenarnya.

“Seo Na ditembak tadi malam”. Dong Hae mengerjap, matanya kini melebar tak percaya. Ditembak? Bagaimana bisa gadis itu dicelakai demikian? Seharusnya tadi malam ia yang berada disamping gadis itu, jika ia berada disamping Seo Na mungkin kejadian itu tidak akan terjadi. Pikir Dong Hae.

“apa luka tembakannya parah? Kyu Hyun tau hal ini?”. Dong Hae berubah semakin panik. Napas pria itu menderu hebat, ada sesak yang ia rasakan saat ini.

“sudah, karena gadis itu bersama Kyu Hyun tadi malam. Mereka kepantai, dan entah bagaimana Seo Na tertembak disana. tidak usah khawatir Dong Hae-ssi, Seo Na baik-baik saja”. Yoo Ra mencoba menenangkan pria itu, yang gadis itu lihat saat ini adalah Dong Hae yang begitu mengkhawatirkan Seo Na. Apa pria itu menyukai sahabatnya, pikir Yoo Ra.

‘seharusnya aku datang saat itu’. gumam pria itu lirih, ia menyesali ketidak hadirannya dimakan malam itu, jika ia datang Kyu Hyun tak akan membawa gadis itu kepantai lalu penembakan itu tidak akan terjadi. Seharusnya ia melindungi Seo Na, seharusnya ia yang menjaga gadis itu, bukannya malah membiarkan Kyu Hyun bersamanya.

Dong Hae baranjak meninggalkan Yoo Ra ditempatnya. “Dong Hae-ssi, kau mau kemana?”.

“melihat keadaan Seo Na”.

“Tapi-“. Pria itu berlalu begitu saja sebelum membiarkan Yoo Ra mencegahnya masuk kedalam ruang inap Seo Na.

~~~000~~~

“Apa Seo Na menyukai pantai?”. Tanya pria itu, sesekali memperhatikan gadis itu yang kini asik bermain dengan ombak dihadapannya. Senyum gadis itu begitu cerah ketika bertemu dengan lautan.

“hum”. Gumam Seo Yeo.”jika ingin melihat sifat asli gadis itu, maka ajak ia ke pantai, sikap dingin, keras kepala, dan wajah ketusnya semua berubah ketika ia berada dipantai, gadis itu akan terlihat lebih manusiawi, tertawa, bermain sama seperti gadis berumur 15 tahun lainnya”. Jelas Seo Yeo yang sejak tadi juga ikut memperhatikan adiknya itu bersama Kyu Hyun.

Kyu Hyun tak henti-hentinya menatap gadis yang umurnya lebih muda 5 tahun darinya itu, entah apa yang membuatnya begitu mengangumi sosok Seo Na, yang ia tau Seo Na berbeda dari gadis manapun yang pernah ia lihat, termasuk kakak dari gadis itu.

“pantas jika kau menyukai adikku Kyu, karena dia berbeda dariku”. Tandas Seo Yeo akhirnya, sedetik kemudian pria itu mengalihkan pandangannya pada Seo Yeo. “seharusnya aku merelakan perasaanmu yang lebih dulu menyukai Seo Na”.

“aku hanya bisa mengangguminya dari kejauhan seperti ini Seo-ya”. ujar Kyu Hyun, menatap sahabatnya itu intens. Ia tau Seo Yeo terluka, sama sepertinya yang hanya bisa menatap gadis yang ia sukai tanpa berani berbicara atau mengatakan rasa sukanya.

“kau hanya perlu menyimpan rahasia kita darinya, alasan kenapa aku tidak bisa menerimamu”. Seo Yeo mengangguk setuju.

~~~000~~~

Kyu Hyun tak henti-hentinya menatap wajah Seo Na yang sejak tadi malam terbaring diranjang rumah sakit, wajah gadis itu polos dengan mata tertutup Seo Na masih terlihat begitu cantik, tapi jika boleh jujur Kyu Hyun lebih suka menatap mata gadis itu jika ia sedang terjaga, karena pria itu bisa sepuasnya menatap manik mata Seo Na, hal yang disukainya bukan?

Sudah 8 tahun bukan Kyu Hyun kehilangan gadis itu, dan kini gadis itu sudah hadir dikehidupannya, gadis cantik berumur 15 tahun itu kini sudah menjelma menjadi gadis dewasa berumur 23 tahun dengan kadar kecantikannya yang terus bertambah, dan ini benar-benar anugrah bisa bertemu dengan gadis ini lagi.

Kyu Hyun mengelus pipi gadis itu, menahan tangannya agar tidak terlalu bernapsu menyentuh pipi Seo Na, ia tidak ingin gadis ini terluka lebih banyak karenanya ataupun karena siapapun diatas bumi ini, Seo Na adalah prioritas utamanya saat ini, sudah cukup kehilangan gadis ini selama bertahun-tahun dan membiarkan kebencian bersarang dihati gadis ini untuknya. Detik kemudian, mata Seo Na bergerak, Kyu Hyun berkedik.

“Na-ya”. panggil Kyu Hyun pelan, Seo Na berusaha menatapnya, mengatur pandangannya mengontrol cahaya yang menembus penglihatannya. “pelan-pelan saja, ada aku disini”. Ucap pria itu, sambil menggenggam tangan Seo Na pelan.

“Kyu?”. Ucap gadis itu lemah, Kyu Hyun tersenyum ingin sekali ia menghambur saat ini ketubuh gadis itu tapi tak mungkin gadis itu masih lemah, luka tembakan dibahu kanannya juga belum pulih.

“aku akan panggilkan Dokter untukmu”. Kyu Hyun segera memencet tombol diatas ranjang Seo Na, sebelum gadis itu menghentikan tangan Kyu Hyun.

“tidak usah Kyu, aku baik-baik saja”.

“Park Seo Na, ku mohon-“.

“tidak apa Kyu Hyun-ssi”. timpal gadis itu, ia memaksakan senyum nya pada Kyu Hyun dan lagi-lagi itu membuat Kyu Hyun menuruti kata-kata gadis itu.

“kau tau aku mengkhawatirkanmu? Hum? Aku tidak mendapatkannya, tapi setelah ini aku akan mengejar dan membunuhnya untukmu”. Ujar pria itu lirih, menatap tanpa bosan gadis cantik yang sedang berbaring dihadapannya ini. Seo Na mengingat kejadian yang ia alami tadi malam, bukan penembakan itu tapi kejadian sebelum itu, kejadian dimana Kyu Hyun mengatakan kenyataan yang terjadi sebenarnya tentang 8 tahun yang lalu, dan entah kenapa ia masih belum bisa mencerna dengan baik tentang -kenapa Kyu Hyun tidak bisa menerima Seo Yeo.

“Kyu Hyun-ssi, soal tadi malam, maksudku tentang sebelum penembakkan itu-“.

“kita akan bicarakan hal itu setelah kau keluar dari rumah sakit”. Kyu Hyun mencondongkan tubuhnya, mengecup kening Seo Na sekilas. Dan tanpa mereka sadar seseorang baru saja hendak masuk keruangan rawat Seo Na, namun pria itu mengurungkan niatnya setelah melihat keadaan yang terjadi didalam ruangan tersebut dan memutuskan menunda melihat kondisi gadis itu saat ini.

~~~000~~~

Seharusnya ia menerima semua kenyataan ini, kenyataan jika pria itu menyukainya. Tapi semua terlalu sulit, semua sudah terlanjur berjalan dijalan yang salah, gunung kebencian itu bahkan kini sudah meledak, ia membenci pria itu sangat membencinya, tapi saat ini ia harus menerima konsekuensinya jika ia harus membenci dirinya sendiri, bukankah alasan pria itu menolak kakaknya 8 tahun yang lalu adalah dirinya. Jadi haruskah ia tetap memelihara kebencian itu?

Seo Na mengerjapkan matanya, mendengar langkah dua orang memasuki ruang inapnya, Seo Na menatap bergantian ke arah mereka, tersenyum seperti biasanya, bukankah ia gadis yang kuat?

“sedang sakit masih bisa tersenyum?”. Ejek Lee Teuk yang mengambil posisi persisi disamping gadis itu.

Seo Na mencibir, mengalihkan pandangannya kearah Yoo Ra yang mengekori Lee Teuk dari belakang. “mana makanan untukku?”.

“makanan apa? Kau harus makan makanan rumah sakit! Dasar gadis keras kepala!”. Dumel sahabatnya itu, sejak sadar tadi pagi Seo Na tak henti-hentinya merengek meminta makanan diluar Rumah sakit, Gadis itu sangat menyukai makanan cepat saji.

“Na-ya, aku ingin bicara denganmu?”. Ucap pria itu, nadanya beruba serius. Seo Na memperhatikan Lee Teuk, ia tau pria itu banyak menyimpan rahasia tentang masa lalu kakaknya.

“aku sudah tau, Oppa. Dan seharusnya waktu itu kau memberi tahuku lebih dulu”. Timpal Seo Na.

Kening pria itu menyeringit, tidak mungkin Kyu Hyun mengatakan semuanya secepat ini pada Seo Na, pikirnya. “maksudmu tentang apa?”.

“tentang aku, Seo Yeo dan pria itu”.

“jadi pria itu sudah memberi tahumu?”

Seo Na mengangguk. “begitulah, tapi aku masih tidak bisa terima”.

“karena kau tak pernah mau mendengarkan aku selama ini”. sergah Lee Teuk, Seo Na mengalihkan pandangannya kelangit-langit. Lee Teuk benar, ia memang tak pernah ingin mendengarkan nasehat-nasehat pria itu dan lebih memilih menyimpan dendam dan kebencian dihatinya.

“waktu itu, aku jga terkejut jika Kyu Hyun menyukaimu. Memang, jika dibandingkan dengan Seo Yeo kau lebih menarik, kau lebih cantik, tapi aku yakin bukan itu alasan Kyu Hyun lebih mencintaimu dibanding Seo Yeo. Tiga hari sebelum Seo Yeo meninggal, ia memberi tahuku tentang hal itu, menitipkanmu padaku, dan juga membantumu meneruskan perusahaan. Karena itu aku tidak pernah mengizinkanmu mengikuti sekolah militer. Seo Yeo juga mengatakan padaku, jika kami harus merahasiakan semua ini darimu, dan memberi tahumu ketika kau cukup umur untuk menjalin hubungan dengan Kyu Hyun, dan lagi pula saat kau berumur lebih dewasa dari saat itu maka kau akan lebih jernih menerima semua kenyataannya, karena Seo Yeo tau kau akan terguncang dengan keadaan yang terjadi”. Jelas pria itu, Lee Teuk menghela napasnya berat, setidaknya ia sudah melakukan dengan bener semua permintaan Seo Yeo terhadapnya.

“aku lega, jika Kyu Hyun sudah memberi tahumu tentang hal itu. aku mengerti perasaanmu Na-ya, aku tau kau tidak bisa terima saat ini, tapi suatu hari kau akan mengerti kenapa semua ini terjadi, semata-mata karena Kyu Hyun dan Seo Yeo ingin kau bahagia”. Seo Na masih terdiam, ia lebih memilih tanpa melihat kearah Lee Teuk sedikitpun.

“baiklah, aku ingin kau istirahat, lusa kau diperbolehkan pulang. Tapi ingat, tidak untuk bekerja, kau hanya boleh istirahat sampai luka dibahumu mengering. Dan maaf, aku harus mengambil pistol itu darimu, Kyu Hyun sudah menyerahkan benda itu tadi malam padaku, jadi jangan keras kepala lagi!”. Ucap pria itu, Seo Na hanya mengangguk, lalu membiarkan pria itu berlalu dari kamar inapnya.

“Yoo Ra-ssi, jaga adikku ini, arraseo?”.

“Arraseo Oppa”. Jawab Yoo Ra sambil mengantar pria itu hingga pintu.

Seo Na menerawang dengan pikirannya sejenak, setiap kata yang keluar dari mulut pria itu membuatnya begitu sesak, tapi dibagian dirinya yang lain ia merasa lega, lega sudah mengetahui alasan kenapa Kyu Hyun menolak kakak-nya dimasa lalu, tapi yang belum bisa ia terima adalah dirinya yang menjadi alasan kenapa Kyu Hyun tak bisa menerima Seo Yeo saat itu.

“Yoo, batalkan semua kontrak perusahaan dengan Cho Company, aku rasa kerja sama kita sudah selesai”. Tukas Seo Na, Yoo Ra berdelik mencerna lebih jelas perkataan sahabatnya itu.

“maksudmu? Menarik saham sebesar 10% itu?”.

“tentu saja, aku ingin menghindar dari pria itu, aku tidak ingin menemuinya lagi, tidak akan”. Tandas gadis itu, Yoo Ra hanya mengangguk kecil menyetujui ide sahabatnya itu yang lebih terdengar gila.

~~~000~~~

“maksudmu? Aku masih tidak mengerti”.

“bagian yang mana?”.

“alasan kau menolak Seo Yeo saat itu adalah gadis itu? jadi maksudmu Seo Na yang kita kenal adalah adik Seo Yeo? Begitu?”.

“benar, apa yang ada dipikiranmu itu benar”. Ujar Kyu Hyun, sedangkan pria dihadapannya saat ini masih ternganga tidak percaya dengan kenyataan yang tengah ia alami, semuanya benar-benar sangat kebetulan.

“lalu? kau mencintainya?”. Tanya Dong Hae, Kyu Hyun mengangguk tanpa memperdulikan ekspresi kekecewaan Dong Hae saat ini.

“aku juga”. Tandas pria itu, Kyu Hyun menarik pandangannya kearah pria itu. “aku mencintainya juga, dan aku harap kau mengerti dengan keadaanku saat ini, aku tidak akan mengulang kejadian 8 tahun yang lalu, aku akan merebutnya darimu”.

“aku belum memiliki gadis itu”.

“maka aku akan memilikinya lebih dulu”.

“tidak semudah itu Hyung, karena aku sudah menunggunya selama 8 tahun, ini tidak mudah, kau tau? Aku larut dalam kesedihan selama 8 tahun, aku kehilangan kakaknya, dan aku juga kehilangan gadis yang ku cintai saat itu”. ujar Kyu Hyun dingin, tidak ada emosi dari nada bicaranya. Ia cukup tenang menanggapi semua perkataan Dong Hae.

“aku tidak peduli. Aku harap kita bisa bersaing, dia memilihmu atau aku nantinya”. Tawar Dong Hae, pria dihadapannya itu mengangguk setuju. Jika dimasa lalu Dong Hae membiarkan Seo Yeo larut dalam kepedihannya karena Kyu Hyun, maka kali ini ia tidak akan membiarkan Seo Na jatuh ketangan pria itu, tidak akan.

~~~000~~~

Seo Na melangkahkan kakinya terburu-buru keluar dari rumah sakit, masuk kedalam mobil Lamborghini Aventador-nya dengan tergesa-gesa, gadis itu sudah menyuruh salah satu karyawannya dikantor untuk mengantarkan mobil itu kerumah sakit, membayar semua administrasi Rumah sakit lewat rekeningnya, meskipun sebenarnya gadis itu masih punya waktu 2 hari lagi untuk tetap tinggal dirumah sakit.

Ia tidak mungkin meninggalakn perusahaan besar-nya lebih lama bukan? Meskipun ia masih punya sahabatnya Yoo Ra untuk menangani semua masalah perusahaan tapi ia bukan tipe yang akan tenang-tenang saja dengan perusahaan sebesar itu, lagi pula ia sudah bersusah payah membangun kesuksesaannya selama 8 tahun terakhir ini jadi tidak ada waktu untuk bermain-main lagi.

Gadis itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan 120km/jam, sebenarnya ini belum apa-apa jika bahunya sedang tidak sakit ia bisa mengendarai mobil sportnya itu seperti pesawat jet. Gadis itu sampai di gedung perusahaanya sekitar 15 menit mengingat jauh jarak antara rumah sakit internasional Seoul dengan gedung PTI Corp. Gadis itu sudah siap dengan setelan pakaian kerjanya yang memang selalu tersedia didalam yang biasa ia pakai dan menukar pakaian itu dirumah sakit sebelum ia berangkat dari sana. Seo Na masih memakai perban dibahu kirinya, jadi ia sengaja tidak memakai sempurna jas hitam yang kini hanya terselempang di bahu gadis itu.

“YAK!!! GADIS GILA?!”. Teriakkan Yoo Ra sukses membuat gadis itu menghentikan langkahnya didepan pintu ruang kerjanya. Seo Na mengalihkan pandangannya kearah sahabatnya itu, yang mungkin sebentar lagi akan menghadiahkannya dengan deretan-deretan ceramah agama.

“kau gila!!! Bagaimana kau bisa keluar dari rumah sakit?!”. Teriak gadis itu lagi.

“tentu saja dengan membayar administrasi rumah sakit”. Jawab Seo Na enteng.

“bukan itu maksudku! Astaga Na-ya! bahkan kau masih memakai perban, dan sekarang kau berniat bekerja?”.

“tentu saja? memangnya aku mau berlama-lama dirumah sakit? Tanpa ada orang yang menjagaku? Bagaimana kalau aku mati? Kau mau?”. Balas Seo Na.

“kau tidak akan mati, Tuhan belum ingin membunuh gadis keras kepala sepertimu”. Ejek Yoo Ra, keduanya memasuki ruangan kerja Seo Na. Gadis itu duduk dibangku kerjanya, dibantu Yoo Ra karena Seo Na masih susah bergerak karena tangan kirinya yang masih terluka.

“ngomong-ngomong, kau sudah memutuskan semua kontrak kerja sama dengan pria itu? bagaimana? Apa ia bisa terima?”. Tanya gadis itu tak sabaran, Yoo Ra memberikan tumpukan kertas yang sudah ia pegang sejak tadi ditangannya.

“ini apa?”.

“baca saja, mungkin setelah itu kau akan berubah pikiran”. Ujar Yoo Ra, Seo Na mengamati grafik keuntungan perusahaanya dari tumpukan kertas itu, keuntungan yang ia dapat selama bekerja sama setelah menaruh saham di perusahaan Cho Company. Kedengarannya memang terlalu cepat, tapi memang itu yang terjadi ternyata otak Kyu Hyun memang bekerja sangat baik.

“intinya, kita maraih banyak keuntungan dari perusahaan Kyu Hyun, dan jika kau menarik saham dari sana maka kita akan kehilangan keuntungan sebesar 30%, angka yang cukup tinggi mengingat persaingan perusahaan-perusahaan disekeliling kita, kau mengertikan maksudku Na-ya?”.

Seo Na menghela napasnya gusar, lagi-lagi kenapa ia harus terikat lagi dengan pria itu, seharusnya saat itu ia tidak menjalin kerja sama dengan perusahaan pria itu. “tidak usah berpikir mencari cara untuk memutuskan kerja sama dengan prusahannya Na-ya, pada kenyataanya hidupmu tidak akan pernah lepas darinya”.

“kerjasama dengan perusaan itu akan aku berikan tanggung jawab kepadamu seutuhnya, aku akan menangani kerja sama dengan perusahaan lain, lagi pula kau berperan penting disini”. Entah dari mana gadis itu mendapat ide, dan lagi-lagi Yoo Ra hanya bisa mengangguk lemah menyetujui sahabatnya itu.

“baiklah, gadis licik. Aku akau bekerja untuk calon suamimu”. Timpal Yoo Ra sebelum gadis itu dikunyah hidup-hidup oleh Seo Na.

“Yak!!!”.

~~~000~~~

“kau sudah keluar dari rumah sakit? Sebelum aku sempat melihat keadaanmu?”.

“tidak, bukan begitu maksudku. Aku hanya bosan berlama-lama diruma sakit, aku tidak suka sendiri”.

“bukankah Kyu Hyun menemanimu?”. Tanya Dong Hae akhirnya, dan sekarang ia bias mendengar jika gadis yang sedang berbicara ditelepon dengannya saat ini sedang terkekeh.

“tidak, ia orang yang sibuk, ia juga mempunyai perusaan besar yang harus ia tangani”. Jawab Seo Na seadanya, Dong Hae mengangguk mengerti.

“jika kau bosan, kau bisa menghubungiku Na-ya”. Tawar Dong Hae, lagi pula Seo Na bukan kepunyaan Kyu Hyun kan? Jadi gadis itu berhak dekat dengan siapapun.

“baiklah, aku akan menghubungimu jika aku butuh teman”. Ujar gadis itu akhirnya. “tapi soal makan malam-“.

“astaga, aku belum menyampaikan permohonan maafku sampai saat ini padamu, soal malam itu aku benar-benar minta maaf Na-ya, seharusnya malam itu aku datang, tapi sesuatu mendadak terjadi, Client ku diluar negeri memintaku untuk berangkat malam itu”. Ucap Dong Hae penuh penyesalan, Seo Na yang mendengar penjelasan pria itu hanya tersenyum diujung sambungan telepon mereka, sebenarnya ia tidak mempermasalahkan itu sama sekali.

“tidak apa-apa, aku mengerti pekerjaanmu. Jika aku punya pekerjaan mendadak malam itu aku juga harus menyelesaikannya”. Ujar Seo Na, Dong Hae menghembuskan napasnya lega, setidaknya gadis itu tidak marah dengannya soal makan malam saat itu.

“tapi?”. Dong Hae terdiam sejenak, ada sesuatu yang harus pria itu katakan.

“tapi apa?”.

“jika aku datang malam itu, aku pasti melindungimu”. Ujar pria itu akhirnya, Seo Na mengerjapkan matanya.’melindungi?’, bahkan Kyu Hyun tidak melindunginy saat itu, pikirnya.

“aku harus bayar berapa untuk perlindungan darimu?”. Ejek Seo Na.

“hanya dengan kau baik-baik saja Na-ya, itu sudah membuatku sangat bahagia, tidak terluka lagi, oleh siapapun. Jika perlu aku akan mencari orang yang sudah membuatmu terluka selama ini”. Ucap Dong Hae serius, tidak ada nada bercanda dari kalimat pria itu.

Seo Na berkedik, mencari orang yang membuatnya terluka selama ini? Bukankah Kyu Hyun orangnya?, gadis itu kembali memfokuskan pikirannya, menormalkan emosi yang kini tengah ia rasakan, lagi-lagi karena mengingat pria itu.

“tidak usah, Lee Teuk Oppa sudah menangani semua ini, aku sudah terbiasa dengan teror yang sering datang padaku, sejak aku memimpin perusahaan sebesar ini terlalu banyak orang yang tidak menyukai kesuksesan ku, aku maklum manusia memang tidak bisa melihat orang lain sukses darinya”. Ujar gadis itu, dan sekarang ia bisa mendengar dengan jelas jika Dong Hae tengah terkekeh.

“aku tau Nona Park, sepertinya kau harus mencari seorang pendamping hidup untuk menghadapi hujanan teror dari pesaing bisnismu”. Seo Na mengangkat bahunya, sepertinya begitu tapi untuk gadis itu sepertinya tidak.

“akan kupikirkan soal itu lain kali”. Ujar gadis itu sebelum keduanya memutuskan sambungan telepon mereka.

Seo Na meletakkan ponselnya diatas meja, kembali fokus pada tumpukan-tumpukan kertas yang kini sudah berserakan diatas meja kerjanya. Tadi pagi sekali gadis itu datang ke kantornya, mengingat kemarin ia hanya datang untuk memeriksa keadaan kantor dan laporan-laporang perusahaan yang selama 2 hari terakhir ditangani oleh sahabatnya Yoo Ra, tidak ada yang buruk bahkan keuangan perusahaan PTI Corp meningkat sejak gadis itu memutuskan menaruh saham pada perusahaan Cho Company. tapi bukan itu yang menjadi pokok masalah bagi gadis itu, yang menjadi masalah baginya adalah indeks pertemuannya dengan Cho Kyu Hyun akan lebih sering terjadi, dan bukankah ia harus lari dari pria itu.

Sejak kemarin Seo Na tidak menerima pertemuan dengan siapapun, termasuk Kyu Hyun yang mencoba menghubungi gadis itu tapi dengan enteng Seo Na menonaktifkan ponselnya. Tapi tetap saja pria pintar itu tidak habis akal, ia malah mencoba menghubungi Yoo Ra, dan Seo Na hampir gerah melihat usaha Kyu Hyun yang cukup serius akhirnya gadis itu hanya bisa mengancam Yoo Ra untuk mengatakan jika dirinya sedang berada diluar negeri pada pria itu. Tentu saja, ia tidak ingin membunuh jantungnya jika bertemu dengan Kyu Hyun terus-terusan, Tidak akan!

“ini sudah jam makan siang. Mau makan dimana Nona Park? Paris? Jerman? Atau Jepang?”. Goda Yoo Ra, Seo Na yang menyadari kehadiran sahabatnya itu hanya menghembuskan napasnya gusar.

“idemu cukup bagus. Atur saja jadwal penerbanganku untuk besok, sepertinya aku harus melarikan diri ke Paris”. Ujar gadis itu enteng, sambil menutup semua berkas-berkas yang baru saja ia kerjakan.

“melarikan diri dari pria itu? dia sudah menunggumu didepan pintu”.

“APA!!! KAU GILA?”. Teriak Seo Na, Yoo Ra terkekeh melihat ekspresi Seo Na yang terlihat seperti akan menemui malaikat maut.

“dia akan ke Paris bersamaku, Yoo Ra-ssi”. Seo Na mengalihkan pandangannya pada pria yang kini sudah berdiri dihadapannya, memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana hitam yang ia kenakkan.

“baiklah, aku akan mengatur keberangkatan kalian. Hmm, sepertinya aku harus pergi dari ruangan ini”. Yoo Ra beranjak dari ruangan kerja Seo Na tanpa memperdulikan Seo Na yang sejak tadi melotot kearahnya. Dan ia yakin ia bisa mati jika memandangi mata gadis itu yang bahkan bisa membunuhnya.

Kyu Hyun mendekat kearah Seo Na setelah Yoo Ra meninggalkan keduanya didalam ruang kerja gadis itu. Seo Na menatap Kyu Hyun dingin, meski ia tau jika saat ini kakinya sudah bergetar hebat, menatap pria itu saja sudah membuatnya ngeri, astaga pria itu setan ya? pikir Seo Na.

“keluar dari rumah sakit tanpa pertimbangan apa-apa, mematiakan ponsel, mengatakan jika sedang berada diluar negeri, menghindariku. Kau pikir akan berhasil?”. Ujar Kyu Hyun, rahang pria itu terlihat mengeras. Seo Na mengalihkan pandangannya, tidak fokus pada Kyu Hyun yang kini hanya berjarak beberapa Centi darinya saat ini, dan lagi-lagi itu membuat Seo Na hilang kendali.

“tidak ada urusannya denganmu”. Tandas gadis itu ketus.

“tentu saja ada. Cukup bermain-main seperti anak kecil Park Seo Na. Kau bukan gadis berumur 15 tahun lagi”. Timpal Kyu Hyun, Seo Na mengalihkan pandangannya pada pria itu, menatap mata Kyu Hyun, menyebalkan! Pria yang dihadapannya ini membuat ia kesal setengah mati.

“apa yang sedang kau bicarakan Tuan Cho? Kau mencoba mengintimidasiku? Astaga, kau tidak bercandakan? Ayolah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Jika kau hanya mengatakan hal-hal yang tidak bermutu, kau boleh keluar dari sini”. Kyu Hyun diam, ia tidak membalas sama sekali perkataan Seo Na, tapi malah semakin mendekatkan wajahnya pada gadis itu, menatap mata Seo Na intens, dan Seo Na yakin jika ia tidak kuat ia bisa tumbang karena tatapan tajam pria itu.

Kyu Hyun memiringkan kepalanya kekanan, mendekatkan wajahnya kearah gadis itu dan kini dengan jelas Kyu Hyun bisa merasakan hembusan napas Seo Na menerpa wajahnya. entah kenapa Seo Na hanya terdiam, lagi-lagi gadis itu hanya bisa menerima semua perlakuan Kyu Hyun yang lebih seperti memerintah dan membuatnya tak berdaya, Seo Na hanya bisa menutup matanya.

“jika kau lari dariku lagi, aku benar-benar akan melakukan adegan ranjang denganmu. Untuk kali ini kau bisa bebas”. Ancam pria itu dengan setengah berbisik, menggantung wajahnya tanpa menyentuh bibir gadis itu yang kini tengah mengatup ketakutan.

Seo Na membuka matanya, menatap Kyu Hyun yang kini sudah menjauhkan tubuhnya dari gadis itu, dan yang membuatnya malu saat ini adalah pria itu tengah terkekeh geli melihat ekspresi Seo Na yang terlihat lebih seperti pasrah, astaga ia tidak bisa membayangkan betapa bodohnya wajahnya saat ini didepan pria itu.

“kali ini kau bebas, aku akan menemuimu esok. Sepertinya paris bukan kota yang terlalu buruk untuk kita datangi berdua”. Ucap pria itu akhirnya, sebelum ia beranjak dan berlalu dari hadapan Seo Na.

Seo Na yang baru mencerna ucapan pria itu hanya bisa berteriak gusar. “ASTAGA!!! PRIA ITU GILA YA!!!”.

~~~000~~~

Eun Hyuk memarkirkan mobilnya ditepi jalan, turun dari Mobil Jeep hitam mengkilat miliknya, memasuki mini market kecil yang pernah membuat sejarah manis didalam kehidupannya. Sedetik kemudian, langkah pria itu terhenti ketika mendapati seorang gadis yang baru saja keluar dari mini market, menggunakan mantel bulu selutut yang menutupi tubuh seksinya, dengan gesit ia setengah berlari kearah gadis itu sebelum akhirnya dapat meraih pergelangan tangan gadis itu.

“Maaf-“. Ucap pria itu salah tingkah, gadis itu cukup kaget dan menoleh kearah Eun Hyuk.

“ada apa?”. tanya gadis itu seadanya, menarik pergelangan tangannya yang sebelumnya berada didalam genggaman tangan Eun Hyuk.

“kita pernah bertemu sebelumnyakan?”. Pria itu mencoba mengingatkan gadis yang berada dihadapannya saat ini tentang pertemuan dadakan mereka beberapa minggu yang lalu. “kau menabrakku lalu kita-“.

“ah, aku ingat. Aku sudah meminta maaf bukan? Apa masih kurang? Kau boleh meminta rugi padaku”. Seo Na sedikit mengerang. Bagaimana ia bisa bertemu dengan pria yang sejujurnya adalah pria yang merebut ciuman pertamanya, sebenarnya bukan ciuman hanya kecelakaan ringan yang membuat mereka harus menempelkan bibir satu sama lain.

“tidak, maksudku bukan begitu. Tapi-“.

“apa?”.

~~~000~~~

“aku benar-benar tidak tau jika keberhasilan perusahaanku bisa merugikan perusahaanmu”. Lirih Seo Na, ia sedikit menyesal karena memang sepertinya pesaing perusahaanya harus banyak yang gulung tikar setelah PTI Corp merajai bisnis industri di Korea Selatan.

“tidak apa-apa, aku masih punya beberapa modal untuk mulai merancang bisnis baru”. Eun Hyuk tersenyum, menyusup kopi hangat yang baru saja ia pesan. Setelah menawarkan Seo Na untuk minum kopi bersamanya akhirnya gadis itu setuju hanya untuk membayar kesalahan yang pernah ia lakukan pada pria itu.

“apa itu terluka?”. Tanya Eun Hyuk, Seo Na menatap bahunya sejenak lalu menggelang.

“tidak, ini hanya luka biasa. Aku sudah membayar mahal untuk menghentikan rasa nyerinya”. Jawab gadis itu seadanya. Eun Hyuk tersenyum, ia menemukan banyak keistimewaan dari diri Seo Na meskipun seujurnya gadis ini lebih terlihat cuek dan dingin. Dan soal luka itu, ia sudah jelas tau siapa orang dibalik penembakkan yang terjadi malam itu.

“ada apa? ada yang aneh denganku?”. Tanya Seo Na ketika menyadari tatap Eun Hyuk tidak lepas dari wajahnya, dan itu cukup membuat gadis itu sedikit risih.

“kau cantik”. Seo Na berdekedik. Apa-apan pria ini? pikirnya. ia membalas senyuman Eun Hyuk seadanya, kembali menyusup kopi hangat diatas meja, lalu tanpa sengaja ide cemerlang melintas diotak gadis itu. pria ini? bisa ia manfaatkan untuk kabur dari Kyu Hyun esok kan?

~~~000~~~

Kyu Hyun menatap kedua orang yang kini tengah makan makan siang disebuah restoran bergaya clasic, siwanita sejak tadi tak henti-hentinya tersenyum kearah pria yang berada dihadapannya. Yang membuat Kyu Hyun semakin panas adalah gadis yang kini tengah makan siang dengan seorang pria yang tidak dikenalinya itu berani membatalkan acara liburan dadakan mereka keparis siang ini, hanya karena alasan ingin makan siang dengan sahabatnya. Entahlah, sahabat atau siapapun pria itu ingin sekali Kyu Hyun menarik paksa gadis itu lalu melahapnya.

“jadi pria itu siapa?”. tanya Kyu Hyun akhirnya, pada Yoo Ra yang kini bersama dengan pria itu. Kyu Hyun memaksa Yoo Ra ikut dengannya agar ia bisa mendapatkan informasi lebih lengkap.

“Seo Na selama ini tidak memiliki teman laki-laki, kecuali Lee Teuk Oppa, Dong Hae-ssi dan juga anda. Tapi yang satu ini aku tidak mengenalnya, bahkan Seo Na tidak pernah menceritakan apapun”. Jelas Yoo Ra seadanya. Memang selama ini hanya Lee Teuk, Dong Hae dan Kyu Hyun-lah yang pernah masuk kedalam kehidupan gadis itu, selebihnya tidak ada setau Yoo Ra.

Yoo Ra menatap Kyu Hyun diam-diam, terlihat jelas jika pria itu tengah cemburu melihat kejadian yang ada dihadapan mereka, meja yang sedikit privasi tidak jauh dari tempat Yoo Ra dan Kyu Hyun berada. Gadis itu sekali lagi mencoba mengingat-ngingat pria yang bersama Seo Na tapi tetap saja ia tidak tau pria itu, tapi hari itu Seo Na pernah bertemu dengannya dengan parfum laki-laki yang melekat pada tubuhnya kan? Gadis itu juga tidak mengelak ketika Yoo Ra menunduhnya baru saja mendapatkan pelukan selamat pagi dari seorang lelaki, bisa saja pria itu.

“Kyu Hyun-ssi”. panggil Yoo Ra, Kyu Hyun menoleh kearah gadis itu yang sebelumnya tidak henti-hentinya menatap Seo Na.

“hari itu Seo Na sempat datang kekantor dengan wangi parfum pria yang melekat ditubuhnya. saat itu aku menggodanya dengan bertanya –apa ia waktu itu baru saja mendapat pelukan selamat pagi dari seorang lelaki?- tapi gadis itu tidak menjawab apa-apa, aku berpikir jika pria itu orangnya, ya mungkin saja”. tebak Yoo Ra. Kening Kyu Hyun mengerut, -pelukan selamat pagi?- pikir Kyu Hyun.

“tapi setau ku, Seo Na bukan orang yang gampang diperlakukan seperti itu”. timpal Yoo Ra akhirnya, ia menghembuskan napasnya gusar. Jika ia terus menebak-nebak seperti ini bisa saja ia memberikan info tidak benar kepada Kyu Hyun.

“aku rasa juga begitu”. Ucap Kyu Hyun menyetujui pendapat Yoo Ra, sebelum keduanya meninggalkan restoran itu sebelum Kyu Hyun benar-benar akan menyeret Seo Na keluar lalu menidurinya disalah satu hotel. Astaga!

~~~000~~~

“dia sudah pergi”. Ucap Eun Hyuk, Seo Na menghembuskan napasnya lega.

Keduanya terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing. “apa yang membuatmu tidak menyukai pria itu?”. akhirnya Eun Hyuk angkat bicara, menyita perhatian Seo Na yang sejak tadi mengunyah makanannya.

“sesuatu terjadi dimasa lalu sehingga aku harus menjauhinya”. Jawab Seo Na seadanya, tidak terlalu berkenan menjelaskan banyak hal tentang masa lalunya dengan pria yang ia minta untuk menemaninya makan malam setelah tadi malam membuat kesepakatan dengan Eun Hyuk.

“apa dia kekasihmu?”.

“UHUK!!!”. Seo Na tercekik ketika ia mendengar pertanyaan Eun Hyuk, pria itu segera menyodorkan air mineral yang tidak jauh dari jangkauannya. “terimakasih”. Ucap Seo Na, setelah menerima air mineral itu dari tangan Eun Hyuk.

Eun Hyuk melanjutkan makan malamnya, tanpa meminta Seo Na menjawab pertanyaannya yang membuat gadis itu tersedak, mungkin saja gadis itu benar-benar akan muntah jika ia terus bertanya.

~~~000~~~

“aku dengar kau makan dengan seorang pria malam kemarin?”. Tanya Dong Hae disela makan siangnya dengan gadis itu. Seo Na hanya mengangguk. “apa aku boleh tau dia siapa?”. tanya Dong Hae lagi.

“hanya teman bisnis yang mengajakku makan malam”. jawab Seo Na seadanya, Dong Hae tetap menatap gadis itu lekat-lekat. “baiklah, aku mengangku jika dia pria yang menjadi alasanku untuk menolak ajakan liburan Kyu Hyun yang mengerikan”.

Dong Hae berdelik. “maksudmu?”.

“aku membatalkan ajakan liburan Kyu Hyun ke Paris siang itu, dengan alasan makan malam dengan rekan bisnisku. Ya semata-mata itu hanya karena aku tidak ingin berurusan lagi dengan Kyu Hyun”. Ujar gadis itu, ia mengatakan yang sejujurnya pada Dong Hae. Ya gadis itu juga tidak ingin jika pria yang berada dihadapannya saat ini mengira yang tidak-tidak tentang Eun Hyuk.

Dong Hae terkekeh, jadi karena gadis itu tidak ingin diajak liburan oleh Kyu Hyun ia malah meminta seseorang untuk menemaninya makan malam. tapi ia memang berhasil, karena Kyu Hyun memang terlihat seperti pria prustasi.

“kau membuat kesalahpahaman pada dua pria sekaligus. Aku juga berpikir jika pria itu kekasihmu”.

“tapi sayangnya tidak”.

“itu berita bagus”. Tandas Dong Hae. “aku tidak perlu bersaing dengan banyak pria”. Lanjut pria itu lagi, Seo Na berkedik. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan pria itu padanya.

Keduanya kembali terdiam cukup lama, berkutat dengan pikiran masing-masing sambil menikmati makan siang mereka di restoran yang tidak terlalu jauh dari kantor Seo Na, awalnya gadis itu menolak ajakan Dong Hae tapi karena pria itu bersikukuh gadis itu menerima ajakan Dong Hae dan meninggalkan pekerjaanya yang tak pernah bisa ia tunda.

“akhir pekan apa kau punya waktu?”. tanya pria itu akhirnya setelah makan siang mereka selesai sebelum beranjak dari restoran menuju kantor masing-masing.

“hanya pekerjaan yang seperti biasanya harus ku selesaikan, tidak ada kegiatan lain selain bekerja dalam hidupku, memangnya ada apa?”.

“aku ingin mengajakmu ke tanah kelahiranku Mokpo, bagaimana?”. Tawar Dong Hae, gadis itu menatap Dong Hae sejenak, berpikir tentang tawaran tiba-tiba dari pria itu. “kita hanya sehari disana, aku merindukan ibuku. Setelah itu kita akan berjalan-jalan kepantai lalu pulang”.

Seo Na mengangguk, tidak ada salahnya jika ia menerima tawaran Dong Hae lagi pula tidak buruk bukan? Kepantai, bukankah itu sangat menyenangkan?

~~~000~~~

Yoo Ra sudah beberapa kali memencet bel apartemen sahabatnya itu, hari ini ia tidak bertemu dengan Seo Na, ditambah lagi ia harus ditugaskan untuk mengurus beberapa kerja sama dengan perusahaan lain salah satunya perusahaan yang dipimpin oleh Kyu Hyun, Seo Na tidak ingin sama sekali mengambil alih kerja sama dengan perusahaan itu, bertemu dengan Kyu Hyun sama saja dengan masuk dalam lubang buaya, mengerikan pikir gadis itu.

Terdengar suara langkah kaki dari dalam yang tergesa-gesa sebelum sosok gadis itu membukakan pintu dengan handuk diatas kepalanya, Yoo Ra yakin Seo Na baru saja selesai mandi, pantas saja gadis itu harus menunggu lama diluar apartemen Seo Na.

“ehh kau datang, aku kira kau masih sibuk dikantor”. Ejek Seo Na mengambil posisi di sofa depan televisi. Yoo Ra mengekori gadis itu dari belakang dan mengambil tempat disamping Seo Na.

“Yak! Seharusnya kau yang menangani kerja sama dengan Kyu Hyun, kau tau pria itu seperti mayat hidup. Ditambah lagi ketika ia melihatmu makan malam dengan pria yang tak jelas itu”.

“dia Eun Hyuk, jangan sembarangan mengatakan orang tak jelas”. Protes Seo Na.

“Woho! Sejak kapan sahabatku begitu peduli dengan pria sehingga ia membelanya. Jadi pria itu benar pacarmu? Siapa namanya? tapi aku lihat-lihat wajahnya tidak lebih tampan dari Kyu Hyun ataupun Dong Hae, seleramu rendah sekali”. Seo Na melirik sahabatnya itu sejenak lalu kembali menatap tayangan ditelevisi.

“haruskah aku menjawab pertanyaanmu yang menjijikan itu Yoo?”. Yoo Ra terkekeh mendengar Seo Na yang terdengar kesal.

“baiklah, baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi tentang pria itu, ya aku percaya dia bukan kekasihmu lagi pula bagaimana bisa gadis dingin sepertimu menyukai laki-laki”.

“apa katamu saja”. ucap Seo Na lalu beranjak dari tempatnya menuju dapur mengambil beberapa minuman Soda didalam lemari es, mengambil dua kaleng minuman soda lalu kembali kesofa depan televisi, menyodorkan minuman itu ke arah sahabatnya.

“apa Kyu Hyun menanyakan hal yang aneh-aneh tentangku?”. Tanya Seo Na, Yoo Ra menggelang, sambil meneguk minuman soda ditangannya.

“tidak, dia hanya cemburu. Ya sangat cemburu lebih tepatnya. Aku tidak menyangka jika dia sangat menyukaimu, tapi wajar saja dia seperti itu, lagi pula pria itu sudah mencintaimu selama bertahun-tahun wajarkan dia sangat ingin memilikimu”. Jelas Yoo Ra, Seo Na hanya terkekeh lalu meneguk minuman ditangannya hingga tandas.

“hahaha aku tidak tau bagaimana ekspresi pria itu ketika melihatku dengan Eun Hyuk-ssi. seharusnya ia tidak percaya diri duluan denganku. Dia pikir dia siapa? dan dia kira aku Seo Yeo yang tergila-gila padanya, sampai kapanpun aku akan membuat tembok setinggi mungkin agar tidak bertemu pria itu, astaga membayangkannya saja membuatku ngeri”. Ujar gadis itu polos, sejujurnya ia lebih takut terperangkap dalam pesona Kyu Hyun. Tidak lucu, jika suatu saat nanti ia mencintai pria yang selama ini ia benci.

“apa kau yakin bisa membuat tembok itu? aku rasa sebentar lagi pria itu akan menikahimu”. Ejek Yoo Ra, lalu menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Seo Na, bisa saja gadis itu menjambak rambutnya lagi.

“astaga, jika aku menyetujui ajakannya untuk menikah kau harus membawaku kepisikiater setelah itu, mungkin saja ada sel sarap kepalaku yang putus”. Tandas gadis itu, membuat sahabatnya terkekeh geli.

“bagaimana dengan perusahaan, apa ada kendala? Sepertinya akhir-akhir ini kau tidak terlalu sibuk seperti biasanya, dan juga jarang membeli barang-barang dengan harga yang terserah aku tidak bisa membayangkan nolnya”.

Seo Na mengangguk. “ya seperti itulah, sejujurnya perusahaan kita sangat diuntungkan oleh perusahaan pria itu, ditambah lagi penjualan dan permintaan konsumen meningkat pada perusahaan kita”. Jelas gadis itu, Yoo Ra sedikit tersenyum, kini gadis itu kembali duduk disamping Seo Na menepuk lunak pundak sahabatnya itu.

“kau tau Na-ya, kau banyak berubah setelah bertemu dia. aku melihat, kau tidak pernah benar-benar membencinya”. Ucap Yoo Ra tulus, tidak peduli jika Seo Na tak setuju denga pendapatnya itu.

~~~000~~~

Seo Na menggeliat kekiri dan kekanan, ini adalah hari jumat dan lusa ia bisa beristirahat dengan tenang tanpa pekerjaan yang terus membuat kepalanya pusing. Ahh, ia baru ingat jika lusa ia harus menemani Dong Hae ketanah kelahirannya, ya setidaknya pria itu juga menawarinya ke pantai, itu bukan ide buruk.

Sudah berkali-kali gadis itu memaksakan matanya untuk terbuka tetapi tetap saja ia masih ingin bermalas-malasan diatas ranjangnya. Pekerjaan dikantor sudah menunggu, pikir gadis itu sebelum akhirnya ia memaksa tubuh rampingnya bangkit menuju kamar mandi. tidak berselang lama sebelum akhirnya Seo Na sudah rapi dengan setelan jas hitam yang biasa ia kenakkan untuk kekantor, tapi hari ini gadis itu memilih memakai rok diatas lutut, tidak seperti biasanya menggunakan jeans hitam dengan atas kemeja putih.

Seo Na beranjak menuju dapur, mengambil beberapa potongan roti dan segelas susu, sebelum memutuskan untuk segera berangkat ke kantor. Gadis itu melangkah meninggalkan apartemennya, sebelum akhirnya ia membuka pintu dan menemukan seorang pria dengan kemeja biru lembut dipadukan dengan dasi dongker ditambah tatanan rambutnya yang dibuat sedikit berantakkan dengan warna yang berbeda dari biasanya, pria itu mengecat coklat rambutnya dan itu yang membuat ia terkesan –err- dimata Seo Na pagi ini.

Seo Na berkedik, sebelum akhirnya gadis itu mengontrol mimik wajahnya, ia tidak ingin pria yang sedang berada dihadapannya saat ini melihat ekspresi penuh kekagumannya pada pria itu, ya kagum sepertinya begitu.

“ada apa? bagaimana kau bisa tau apartemenku?”. Ujar gadis itu ketus, melayangkan pertanyaan yang lebih terdengar mengintrogasi.

Kyu Hyun tetap menatap gadis itu, dan kini pandangannya teralih pada rok diatas lutut Seo Na yang lebih terlihat seperti rok mini tepatnya. “ini tidak bagus untukmu”. Ucap Kyu Hyun santai, sambil menunjuk rok Seo Na dengan belahan di bagian belakangnya. Sejujurnya, Seo Na ingin sekali menendang pria itu yang jelas-jelas tidak menjawab pertanyaannya malah mengomentari perubahan busanannya.

“jadi kau jauh-jauh kemari hanya untuk mengomentari rok yang ku kenakkan? Astaga, kau benar-benar seorang penguntit tuan Choi”. Ejek Seo Na, Kyu Hyun mengerutkan keningnya. “baiklah, jika ingin membahas tentang kerja sama kita kau bisa menemuiku dikantor, tidak usah sampai-sampai menguntitku hingga ke apartemen, kau tau kau berlebihan”. Timpal gadis itu, tanpa memperdulikan tatapan Kyu Hyun yang lebih terlihat seperti ingin memakannya. Seo Na salah tingkah, sebenarnya tatapan pria itu cukup membuatnya ngeri, bagaimana pria itu bisa menakutkan seperti itu, memang apa yang terjadi dengannya, apa tentang makan malamnya bersama Eun Hyuk? ASTAGA! Pekik gadis itu dalam hatinya.

Kyu Hyun menarik tangan gadis itu masuk kembali kedalam apartemennya, apartemen yang sangat luas untuk gadis dengan ukuran tubuh seramping Seo Na, pikir pria itu. Kyu Hyun menutup pintu apartemen gadis itu dengan kasar memojokkan Seo Na pada sofa yang tidak jauh dari pintu masuk apartemen gadis itu. Seo Na sedikit meronta mendorong tubuh jakung Kyu Hyun hingga pria itu sedikit tertolak kebelakang, sebelum akhirnya Kyu Hyun kembali menyudutkan Seo Na diatas sofa.

“YAK! CHO KYUHYUN KAU INGIN MEMPERKOSAKU YA!”. teriak gadis itu tidak terima dengan perlakuan Kyu Hyun yang memang sedikit kasar, jika ia tidak bisa mengontrol dirinya lebih baik lagi bisa-bisa pria itu mendapat tendangan gratis dari Seo Na.

Kyu Hyun duduk disamping gadis itu, memejukan tubuhnya kearah Seo Na hingga jarak mereka begitu dekat, Seo Na bisa melihat dengan jelas sirat kemarahan yang terlihat dari mata Kyu Hyun, ya pria itu memang sedang marah. “bukan aku sudah bilang, jangan bermain-main denganku Nona Park”. Kyu Hyun terdiam sejenak, Seo Na mengalihkan pandangannya pada dinding dibelakang tubuh pria itu. “Lee Eun Hyuk”. Lanjut Kyu Hyun akhirnya, menyebutkan nama seorang pria yang menjadi teman makan malam Seo Na malam itu.

“dia rekan bisnisku”. Ucap Seo Na mantap.

“apa dia pacarmu? Aku dengar kau pernah mendapatkan pelukan selamat pagi darinya”. Ucap Kyu Hyun datar, Seo Na membulatkan matanya tidak terima dengan apa yang dituduhkan pria itu padanya.

“Han Yoo Ra, gadis itu benar-benar!”. Gumam Seo Na, dan tentu masih bisa terdengar jelas oleh Kyu Hyun karena jarak mereka sangat dekat saat ini.

“jadi benar?”.

“tidak ada urusannya denganmu tuan Cho! Kita tidak punya hubungan apa-apa”. tandas gadis itu, Kyu Hyun menarik napasnya menjauhkan tubuhnya dari Seo Na lalu berdiri membelakangi gadis itu.

“apa pernyataanku hari itu tidak cukup?”. Kyu Hyun menghembuskan napasnya gusar, melonggarkan dasinya mengambil lebih banyak pasukkan udara disekelilingnya.

“tidak ada pernyataan apa-apa diantara kita Cho Kyu Hyun, kau dan aku hanya relasi bisnis tidak lebih. Kau hanya pernah menjadi masa lalu kakakku dan aku Seo Na bukan Seo Yeo”. Kyu Hyun membalikkan badannya, menatap gadis itu gusar. Bagaimana dengan enteng Seo Na mengatakan hal itu, bahkan gadis itulah yang mengisi masa lalunya, Seo Na-lah yang ia cintai bukan Seo Yeo. “tidak perlu menemuiku lagi, kau tau aku tidak ingin masuk kedalam jeratanmu seperti Seo Yeo, aku tidak ingin merasakan sakit sepertinya!”. Tandas gadis itu akhirnya, dan semua itu murni dari dalam hatinya. Ia tidak pernah lagi memiliki dendam pada Kyu Hyun gadis itu hanya takut, jika ia jatuh cinta pada Kyu Hyun dan mendapat luka yang sama seperti yang dialami Seo Yeo dimasa lalu.

Seo Na beranjak dari sofa yang ia duduki, meninggalkan Kyu Hyun yang kini tengah mematung mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut gadis itu. Seo Na melangkah meninggalkan pria itu masuk kedalam lift menuju lantai dasar, terus bermain-main dengan Kyu Hyun benar-benar akan membuatnya sinting, tidak bisa ia pungkuri jatuh cinta pada pria itu adala hal yang paling ditakutkannya.

Kyu Hyun menahan pintu lift, sebelum pintu lift tertutup sempurna menyusul gadis itu yang sudah lebih dulu berada didalam lift, sekarang hanya ada mereka berdua. Seo Na ingin sekali menyumpah serapahi dirinya yang membiarkan pria itu masuk kedalam lift, didalam lift sekecil ini dengan Cho Kyu Hyun, jujur udaranya terasa semakin panas.

“perasaanku pada mu berbeda dengan apa yang kurasakan pada Seo Yeo”. Ucap Kyu Hyun memecah keheningan diantara mereka, Seo Na berdelik menatap pria itu. Kyu Hyun membalas menatapnya.

“kau tidak akan pernah bisa merubah keadaan Cho Kyu Hyun”.

“tapi waktu bisa merubah keadaan Park Seo Na”. Tandas pria itu akhirnya, sebelum ia menarik tengkuk Seo Na mendaratkan ciumannya diatas bibir gadis itu, dan ini ciuman pertama dengan gadis itu, tidak tau dari mana ia bisa mendapatkan keberanian dan sekarang ia merasakan bibir yang terus mengintimidasinya itu menempel lembut diatas bibirnya.

“ASTAGA?!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN?”.

~~~000~~~

“hei Nona Park, kau belum menjawab pertanyaanku”.

“apa?”. saut Seo Na malas-malasan, sejak ia bertemu-dengan cara bodoh- bersama Yoo Ra saat keluar dari lift apartemennya ia tidak memperdulikan hujan pertanyaan dari sahabatnya itu, Seo Na lebih memilih sibuk fokus pada jalanan dan kegiatan dikantor yang akan ia kerjakan hari ini, ya meskipun sejujurnya kepala gadis itu ingin pecah rasanya karena memikirkan hal yang baru saja dilakukan Kyu Hyun kepadanya, astaga mengingat nama pria itu saja sudah membuatnya ingin kejang-kejang.

“aku yakin yang tadi bukan kebetulan, kalian melakukannya dengan baik. kau tau aku sangat bangga padamu”. Oceh Yoo Ra tak henti-hentinya, tanpa memperdulikan tatapan mematikan sahabatnya itu yang sudah duduk dimeja kerjanya. “ayolah, jangan sok tidak tau apa-apa. aku ini sahabatmu Na-ya, jadi coba ceritakan bagaimana pria itu bisa mencium gadis yang lebih terlihat seperti pria ini”. ejek Yoo Ra, Seo Na hanya bisa melengos sambil mengambil beberapa berkas yang sudah tertata dimeja kerjanya untuk segera ia tanda tangani.

“apa kau akan terus mewawancaraiku dengan pertanyaanmu yang terdengar seperti paparazi itu? bagaimana jika kau bekerja lalu meninggalkanku disini, atau kau bisa menonton acara gosip melihat skandal para artis”. Papar Seo Na masih sibuk dengan berkas dimejanya.

“sayangnya, scandalmu dengan pemilik Cho Company sangat menarik dibanding skandal para artis”. Goda Yoo Ra sambil menjulurkan lidahnya, membuat Seo Na benar-benar akan membuat Uvo terbang diruang kerjanya. “baiklah, aku akan bekerja. Tapi setelah ini aku akan menemuimu lagi. Aku ingin tau bagaimana sensasi berciuman dengan pria tampan itu, astaga aku rasa setelah ini Cho Kyu Hyun akan menikahimu, hahahahaha”. Terdengar tawa kemenangan dari Yoo Ra sebelum akhirnya gadis itu memilih meninggalkan Seo Na yang sepertinya akan menginjaknya hidup-hidup.

~~~000~~~

“kau tidak akan pernah bisa merubah keadaan Cho Kyu Hyun”.

“tapi waktu bisa merubah keadaan Park Seo Na”.

Seo Na menghembuskan napasnya gusar, menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi putarnya, memijat pelan pelipisnya yang sejak tadi berdenyut-denyut. Ia masih mengingat dengan jelas apa yang dikatakan Kyu Hyun tadi pagi didalam Lift padanya, sebelum pria itu menciumnya lalu Yoo Ra yang tidak sengaja memergoki mereka. Tapi bukan itu yang membuat Seo Na hampir stress, ucapan Kyu Hyun yang mengandung banyak isyarat yang pria itu lontarkan tadi pagi padanya, ya Kyu Hyun memang tidak akan pernah bisa merubah keadaan, tapi dengan berjalannya waktu semua akan berubah. Dan memang benar, kebencian yang dimiliki gadis itu, hasratnya ingin membunuh Kyu Hyun sebelumnya , kini semua hilang begitu saja dan ia tidak tau kapan persisinya. Yang Seo Na rasakan sekarang adalah ketakutannya bertemu dengan Kyu Hyun, bukan karena tatapan mata pria itu yang terus menatap tajam kearahnya, terlebih pada ketakutan jika ia benar-benar mencintai pria itu, ia tidak akan bersedia mendapatkan luka seperti apa yang dirasakan mendiang kakaknya dimasa lalu, Seo Na terlalu takut untuk jatuh cinta, lebih tepatnya ia tidak ingin cinta menyakitinya.

 

To Be Continue

 

~~~000~~~

Advertisements

REVENGE BEFORE LOVE (2/?)

Standard

Gambar

 

 

REVENGE BEFORE LOVE (2/?)

Action, Romance. PG + 17

Cast :

Cho Kyu Hyun

Lee Dong Hae

Park Seo Na

 

 

 

Dong Hae meletakkan tangannya diatas meja, masih menatap gadis dihadapannya saat ini yang terlihat sedang tidak berminat balik menatapnya. Yang ditangkap Dong Hae saat ini adalah gadis itu memang sangat dingin, cuek, tidak peduli dengan orang disekitarnya dan sangat tidak berminat dengan dirinya. Pria itu hanya mengulum senyumnya, jarang sekali wanita seperti gadis ini, bisa dikatakan sangat langkah, oh jangan-jangan dia memang tidak berminat pada kaum lelaki? Pikir pria itu.

“aku kira urusan kita sudah selesai”. Akhirnya gadis itu bersuara, menyambar minuman bewarna merah pekat memiliki kadar alkohol yang tidak terlalu tinggi.

“sudah selesai”. Jawab Dong Hae singkat, mengikuti permainan dingin gadis itu yang sepertinya sangat menyenangkan.

Seo Na mengalihkan pandangannya pada Dong Hae menatap pria itu lekat-lekat. “lalu?”.

“hanya saja aku mulai tertarik mengenalmu lebih jauh”. Tandas pria itu akhirnya, Seo Na yang mendengar pengakuan menggelikan pria itu malah tertawa sekencang-kencangnya.

Dong Hae menaikkan alisnya, menatap gadis itu yang malah salah tingkah karena Dong Hae yang semakin memperhatikannya tanpa henti. “aku serius Nona Park”. Lanjut pria itu lagi. Seo Na menarik tangan pria itu yang sejak tadi berada disisi meja. Entah kekuatan apa yang membuat gadis itu melakukannya.

“aku juga serius”. Ucap gadis itu akhirnya, lalu menjatuhkan dengan lembut tangan pria itu, tanpa ia tau jika Dong Hae baru saja merasakan sengatan listrik di sekujur tubuhnya karena sentuhan lembut gadis itu. “lalu?”. lanjut gadis itu.

“hm?”.

“lalu kau mau apa setelah mengenalku lebih jauh?”. Tanya Seo Na dengan penuh keberanian, jujur saja gadis itu baru pertama kalinya seintim ini membicarakan soal status hubungan pada seorang pria dan ia yakin pria yang dihadapannya inilah yang untuk pertama kalinya berminat mengenal dirinya lebih jauh, biasanya gadis itu akan menolak mentah-mentah jika seorang pria ingin berkenalan dengannya apa lagi sampai menggodanya tapi kali ini ia cukup tertarik pada Dong Hae.

“menikah mungkin, karena aku tidak suka hubungan yang bertele-tele”. Seo Na berkedik, menikah? Yang benar saja, pikir gadis itu akhirnya. Ia baru saja sukses, baru saja bertemu dengan mangsanya, lalu untuk waktu yang singkat ini ia menikah, tentu saja gadis itu harus berpikir bermilyaran kali atau menyewa paranormal agar menemukan titik terang –tentang menikah itu.

Seo Na memegangi kepalanya yang terasa terhuyung-huyung, jika ia terus memancing pria yang dihadapannya ini bisa saja ia mati kehabisan napas mendengar ucapan Dong Hae yang terlalu – to the point-.

“tidak secepat itu, lagi pula kita baru saja saling kenal. Aku bukan tipe pria yang terburu-buru”. Dong Hae tersenyum, Seo Na memebalas seadanya senyuman pria itu, senyuman mematikan lebih tepatnya.

“Hmm, aku rasa begitu. Lagi pula aku baru berumur 23 tahun untuk memikirkan soal menikah yang terdengar, hmmm agak sedikit , tabuh”. Ucap gadis itu akhirnya, Dong Hae terkekeh mendengar kalimat Seo Na yang lebih terdengar sedang takut.

“kau sama saja dengan Kyu Hyun, hmm maksudku teman sekaligus adik bagiku”. Baru saja pria itu mengucapkan satu nama yang membuat Seo Na kini menatapnya lekat-lekat. Nama pria yang memenuhi isi kepalanya selama 8 tahun ini, nama pria yang bahkan membuatnya terjatuh sangat dalam, nama pria yang ingin sekali ia lenyapkan dari peradaban manusia.

“kenapa? Apa kau mengenal Cho Kyu Hyun?”. Timpal Dong Hae, kini gadis itu memperbaiki eskspresi wajahnya menormalkan kembali agar pria dihadapannya ini tidak bisa membaca pikiran gadis itu.

“hanya sedikit, aku baru saja akan menaruh saham pada perusahaannya”. Jelas Seo Na seadanya.

“ah, jadi Kyu Hyun sudah bertemu denganmu? Jadi kalian sedang menjalin hubungan bisnis”. Dong Hae mengangguk mengerti, menarik tubuhnya kesandaran kursi.

“apa kalian mempunyai hubungan?”. Tanya gadis itu tetap dengan nada bicara yang biasa saja, meski sebenarnya ia ingin sekali tau lebih jauh tentang Kyu Hyun dari Dong Hae, setidaknya pria dihadapannya saat ini akan banyak membantunya mendapatkan keterangan tentang Kyu Hyun, sepertinya ini keberuntungan.

“teman sejak kecil, aku sudah menganggap Kyu Hyun sebagai temanku ya meskipun ia 4 tahun jauh lebih muda dariku tapi aku lebih suka memperlakukannya seabagi teman”. Seo Na mengangguk mendengar penjelasan pria itu yang memang masih sangat kurang, ia ingin mengetahui bagaimana hidup pria itu setelah kakaknya meninggal, bagaimana pria itu sebenarnya.

“sepertinya kau berminat dengan ceritaku tentang pria dingin itu? apa kau menyukainya? Ah, aku cemburu”. Goda Dong Hae, Seo Na hanya tersenyum kecil lalu menggeleng.

“tidak, aku tidak menyukainya. Hanya ingin tau bagaimana kehidupan rekan bisnis ku itu, lagi pula ia cukup berani meminta saham pada perusahaanku, padahal ia baru saja mengenalku. Ya harus ku akui, dia pintar”. Puji Seo Na pada akhirnya, dan ia yakin setelah ini ia akan mencuci tujuh kali lidahnya yang sudah memuji pria itu.

“dia tidak terlalu pintar soal wanita”. Dong Hae mendengus, mengambil gelas kaca berisi Wine, lalu meneguknya dengan sekali teguk. “sesuatu terjadi dimasa lalunya dan membuat pria itu menutup dirinya dari wanita, jadi jangan heran jika ia tidak berminat sedikitpun dihadapanmu”.

“aku tidak mengerti, bisa kau jelaskan lebih detail?”. Pinta Seo Na santai, mencoba meredamkan detak jantungnya yang begitu memacu saat Dong Hae mulai membahas rahasia hidup pria itu.

“gadis itu sahabatnya, lebih tepatnya gadis yang sangat mencintainya, tapi tidak dengan Kyu Hyun, pria bodoh itu tidak sedikitpun mencintai sahabatnya itu, hanya rasa sayang lebih terhadap teman. Entah apa yang terjadi, kecelakaan merenggut nyawa gadis itu, aku juga terkejut mengingat gadis itu juga temanku, aku juga mengenalnya dengan baik. sejak saat itu, Kyu Hyun merasa menyesal seumur hidupnya karena sudah menyakiti sahabat terbaiknya itu, dan semenjak itu ia menjauhi semua gadis yang ingin dekat dengannya, siapapun dan secantik apapun karena ia takut jika nantinya ada gadis lagi yang bernasib sama dengan sahabatnya itu, dan kau tau itu cukup membuatnya menderita. Bukan hanya dia, Ibu dan kakak kandungnya juga merasa kasihan terhadap Kyu Hyun, ditambah lagi kematian ayahnya yang hanya berselang 1 tahun setelah kematian sahabatnya itu”. Jelas Dong Hae panjang lebar, pria itu menatap Seo Na yang sejak tadi hikmat mendengarkan ceritanya tentang Kyu Hyun.

“kisah yang rumit”. Ucap Seo Na sekenannya.

“sangat rumit. Karena itu aku cukup kaget ketika ia bertemu langsung denganmu tentang perusahaanya, padahal selama ini ia selalu menyuruh Ye Sung Hyung untuk memnemui rekan bisnis wanitanya”.

Seo Na mengangguk mengerti, akhirnya ia mendapatkan semua penjelasan tentang pria itu dari Dong Hae, ternyata pria itu juga ikut terguncang, pria itu juga ikut merasakan kepedihan, atau mungkin itu hanya rasa bersalah yang terus mengahantuinya? Pikir Seo Na.

“aku berharap ia bisa bangkit dari keterpurukannya”. Ucap gadis itu akhirnya dengan nada yang dibuat-buat peduli, meskipun kenyataannya ia sangat senang dengan penderitaan yang di alami pria itu selama ini.

“aku berharap juga begitu, bagaimana jika lusa nanti kita makan malam bertiga bersama Kyu Hyun, akan seru rasanya jika kita berbincang-cincang, mengingat kaulah wanita ketiga yang mendengar suara pria itu setelah ibu dan kakanya, bagaimana?”.

“Ne?”. Seo Na agak kaget dengan penawaran Dong Hae dan juga ucapannya tentang –wanita ketiga yang bicara dengannya setelah ibu dan kakaknya- itu yang cukup membuat Seo Na berkedik. “hm, baiklah aku rasa tidak buruk”. Dong Hae tersenyum mendengar persetujuan Seo Na.

~~~000~~~

“yak! Kenapa tidak memberi tahuku jika senjata itu kau buat untuk membunuh oran lain! EO!!”. Seo Na hampir menjatuhkan ponselnya ketika ia mendengar teriakkan Lee Teuk yang hampir membuat isi telinga tuli di pagi buta seperti ini.

“astaga Oppa! Kau mau membuat ku tuli ya?! Memangnya ada pengaduan jika aku sudah membunuh orang!”. Balas teriak gadis itu prustasi, bahkan di pagi buta seperti ini pria itu masih sempat meneriakkinya.

“aku tidak peduli sebelum kau mengembalikan senjata berbahaya itu. aku tau masalah hidupmu Na-ya, tapi ku mohon kau bisa menyelesaikannya tanpa melakukan hal yang keji!”.

“jika kau membunuhnya kau tidak kalah buruknya dari pria itu, seharusnya aku sudah mengatakan hal ini sejak lama padamu tapi aku akan terus menundanya sampai kau benar-benar berbuat yang tidak-tidak pada pria itu. kau tau? Jika Seo Yeo hidup ia tidak akan melakukan apa yang sudah terencana dalam otakmu, jadi berpikirlah sebelum kau melakukannya”.

Lee Teuk memutusakn sambungan telepon,gadis itu kini menatap layar ponselnya menyadari semua kata-kata Lee Teuk benar, pria itu juga sangat dekat dengan Seo Yeo kan? Kakaknya juga sering mengadu dan bercerita pada Lee Teuk, lagi pula keluarga Lee Teuk adalah teman baik mendiang orang taunya, jadi tidak salah jika pria itu menasehatinya.

“tapi tidak, aku tidak bisa meredakan rasa kebencian ini Oppa, aku terlalu membencinya”. Gadis itu membiarkan genangan air mata itu mengalir deras di pipinya menciptakan sebuah sungai kecil yang penuh kepedihan disana, sudah lama sejak saat itu ia tidak pernah menangis, ia terpaksa harus kuat, ia terpaksa harus bangkit dan mati-matian sukses seperti ini, harta maupun kekayaan yang ia punya saat ini bukan suatu kebahagiaan yang sempurnya yang ia miliki, karena sungguh dilubuk hatinya yang terdalam ia masih sangat membutuhkan seseorang yang mengerti bagaimana dirinya sekarang, memberikan perhatian yang sulit ia dapatkan selama hidupnya, dan ia tidak tau harus kemana mencari perhatian dan kasih sayang itu.

~~~000~~~

Pria itu memarkirkan mobil Jeep hitamnya, berjalan santai memasuki mini market di persimpangan jalan, pria yang baru saja mengganti warna rambutnya yang coklat menjadi kemerahan, memakai jas hitam dan baju kaos putih longgar dengan celana jeans hitam yang menambah kesan formal tapi masih tetap terlihat keren dimata orang yang melihatnya.

Eun Hyuk mencari deretan beberapa minuman kaleng yang bisa meredakan hausnya pagi ini, ia cukup sering mendatangi minimarket ini, ya meskipun tidak setiap hari tapi pria itu masih sempat untuk singgah hanya sekedar membeli minuman soda. Akhirnya pria itu mendapat beberapa kaleng minuman soda ditangannya membawa benda itu dengan susah payah, tapi tidak berselang lama karena saat ini tubuh pria itu sudah terjatuh kelantai dengan minuman kaleng ditangannya yang kini sudah berserakan dan yang membuatnya syok adalah tubuh seorang gadis kini sudah tepat menindih tubuh atasnya menyebabkan kedua wajah mereka beradu pandang dan terasa sekali jika bibir gadis yang menabraknya itu terasa menempel di bibirnya, tidak lama hanya beberapa detik sebelum keduanya kembali tersadar dan bangkit.

Gadis itu merapikan kembali pakaiannya yang kusut, begitu juga Eun Hyuk yang juga merapikan letak jasnya, menatap canggung pada gadis itu yang masih tidak berani menatapnya itu.

“Maaf atas kesalahnku aku benar-benar-“.

“tidak apa Nona, sebaiknya setelah ini kau berhati-hati”. Ucap pria itu sebelum gadis itu mengangkat wajahnya dan tanpa ia duga jika gadis yang berada dihadapannya ini adalah gadis yang ia benci, gadis yang bahkan sudah merusak kehidupan normalnya, gadis cantik, sangat cantik, dan bahkan terlalu cantik, pikir Eun Hyuk.

~~~000~~~

Keduanya saling berhadapan di luar minimarket itu, masih terasa kecanggungan diantara mereka, mengingat apa yang baru saja terjadi diantara keduanya, Eun Hyuk mengusap tengkuknya gugup gadis itu sejak tadi juga tidak berhenti menduk dan meminta maaf.

“aku akan melanjutkan perjalananku Tuan, sekali lagi aku minta maaf”. Ucap gadis itu akhirnya tetap menunduk tanpa melihat pria dihadapannya ini.

“aku juga, hmm berhati-hatilah”. Akhirnya gadis itu berlalu memacu mobil mewah sportnya yang lain, yang tidak sama saat Eun Hyuk membuntuti gadis itu hingga didepan gedung perusahaanya belum lama ini.

Pria itu menatap mobil itu berlalu, dan kini ia merasakan ada yang meledak-ledak didalam dadanya, masih terasa saat bibir merah itu menempel tanpa sengaja dibibirnya dan sejujurnya itu membuat Eun Hyuk merasakan tegangan listrik berkekuatan besar didalam tubuhnya. Hei bukankah seharusnya ia membenci gadis itu? Pekiknya dalam hati.

~~~000~~~

Yoo Ra terengah-engah mengejar langkah besar sahabatnya itu, sejak tadi ia memanggil nama Seo Na dengan berbagai macam teriakkan tetap saja gadis itu tidak menoleh dan berjalan sambil menunduk, ia tidak tau apa yang sudah terjadi dengan gadis itu, apakah tadi malam pria yang menghubunginya itu sudah memperkosa gadis itu? atau ia baru saja diajak menikah oleh Kyu Hyun, gadis itu menggeleng mengahalau pikiran –Absurd- nya, tidak mungkin itu terjadi, pikir Yoo Ra.

Yoo Ra menahan pintu lift ketika ia baru saja mendapatkan Seo Na sudah terlebih dahulu masuk, menyusul gadis itu masuk dengan napas yang turun naik. “Ya! aku sudah memanggilmu dengan terus berteriak, kau tidak mendengarku?”. Tanya gadis itu kesal.

Seo Na menggeleng santai, tidak terlalu peduli dengan sahabatnya itu yang mungkin sebentar lagi akan murka.

“astaga Seo Na, dipagi buta seperti ini kau masih sempat membuat ku naik darah!”. Seo Na menahan tawanya mendengar sumpah serapah yang keluar dari mulut Yoo Ra yang lebih terdengar seperti nyanyian burung dikebun binatang.

“baiklah, aku sedang tidak ingin mengomentarimu. Eh kenapa parfummu seperti wangi pria? Sejak kapan kau mengganti parfum dengan parfum pria? Atau kau sedang berencana membeli pabrik parfum pria?”. Yoo Ra tidak henti-hentinya berceloteh ketika ia baru sadar wangi Seo Na pagi ini benar-benar berbeda, jauh dari wangi cherry blassom khas tubuh gadis itu. Seo Na tetap bungkam tidak ingin berkomentar banyak atau menanggapi pertanyaan konyol sahabatnya itu.

“ASTAGA SEO NA! KAU SUDAH NORMAL!”. Pekik gadis itu lalu menghambur memeluk sahabatnya itu dengan bahagia.

“Ya! apa maksudmu?”. Ucap Seo Na berkedik menjauhkan tubuhnya dari Yoo Ra sebelum tulang-tulang gadis itu rontak satu persatu.

“kau masih mau menghindariku ya? mengaku saja jika pagi ini kau mendapat pelukan atau kecupan dari seorang pria dan wangi parfumnya tertinggal ditubuhmu, ya kan?”. Demi yang kudus, ingin sekali gadis itu saat ini menyumpal mulut Yoo Ra dengan sepatunya sebelum gadis itu terus berceloteh dan mengatakan hal yang tidak-tidak, sekaligus membuatnya mengingat kejadian murahan dan lebih tepatnya sangat-sangat murahan tadi pagi, menabrak tubuh seorang pria berambut merah dan mencium bibir pria itu tanpa sengaja, ingat! Hanya tidak sengaja.

“jadi kau benar-benar baru saja berciuman?”.

“YAK!!!”.

~~~000~~~

“bagaimana dengan perusahaan? Apa sudah kembali normal?”. Ucap wanita paruh baya itu, sudah terlihat jelas dari garis wajahnya saat ini yang semakin hari semakin menua.

“semua akan baik-baik saja Eomma”. Jawab Kyu Hyun singkat, lalu kembali menyantap sarapannya. Hari ini pria itu sengaja menuruti ajakan Ibunya untuk sarapan dirumah mereka, dirumah yang sebesar ini hanya ada Ibu, Ahra- kakak kandung Kyu Hyun-, dan juga suami dan sepupu Kyu Hyun yang baru berumur 4 tahun. Mereka memang jarang dirumah, mengingat suami Ahra yang juga punya bisnis yang mengharuskannya keluar negeri beberapa hari.

“Apa nuna akan berlama-lama di Paris?”. Tanya pria itu sekenannya.

“hanya 5 hari setelah itu mereka akan kembali, tenanglah aku tidak akan memintamu untuk menginap dirumah kau sudah dewasa Kyu, apa lagi sekarang kau juga sudah punya rumah pribadi jadi tidak mungkin aku terus menuntutmu yang macam-macam, ya kecuali kehadiran cucu lagi”. Kyu Hyun hampir tersedak mendengar kata-kata –cucu lagi- dari mulut wanita itu, Ibu Kyu Hyun sedikit terkekeh lalu menyodorkan air meneral kearah anaknya itu.

“aku hanya mengkhawatirkanmu, tidak mungkin kau terus hidup didalam bayang-bayang masa lalumu, gadis itu pasti sudah tenang Kyu. Kau tidak bersalah, bahkan kau bukan penyebab kematiannya, aku hanya menasehatimu sebagai seorang Ibu, kau pasti membutuhkan pendamping hidup yang akan mengurusmu nantinya. Kau mengertikan maksudku?”. Tambah Ibu pria itu lagi, Kyu Hyun hanya mengangguk, secara tidak langsung pria itu sangat setuju dengan Ibunya, ia tidak seharusnya terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu, ia juga punya masa depan dan tentunya ia memang seharusnya mendapatkan wanita yang bisa ia cintai dan juga mencintainya. Sederhana bukan?

~~~000~~~

“kau mengatakan apa pada Lee Teuk Oppa?”. Suara Seo Na kini terdengar mengintimidasi sahabatnya itu, menekan setaip kata-kata yang tidak akan mampu disanggah Yoo Ra.

“hanya menjawab apa yang seharusnya ku jawab Na-ya”. sekuat tenaga gadis itu tidak menatap mata tajam milik Seo Na sebelum ia bisa mati mengigil melihat mata-fox- milik gadis itu.

“kau tau ajhussi itu meminta senjatanya padaku, lalu bagaimana aku bisa menghabisi nyawa pria itu, heung?”. Kali ini nada bicara gadis itu melunak lebih terkesan mengiba pada Yoo Ra akhirnya gadis itu berjalan mendekat kearahnya membantu Seo Na menyusun berkas-berkas diruang kerjanya.

“kau tidak perlu membunuhnya Na-ya, sama sekali tidak perlu”. Yoo Ra memeluk tubuh Seo Na sejenak lalu kembali melepasnya. “kau hanya perlu memperbaiki apa yang sudah terjadi, aku tau kau membencinya tapi apa kau mau hidup dalam kebencian selamanya, aku yakin Seo Yeo Eonni juga tidak suka jika adik kesayangannya terus membenci Kyu Hyun”.

Kedua sahabat itu saling berhadapan, dan dengan jelas Yoo Ra bisa membaca semua pikiran gadis itu dari matanya, mata yang tajam itu sebenarnya penuh dengan tumpukan air mata, mata yang kini tengah menahan berliter-liter kesedihan yang siap meledak kapan saja, mata yang seharusnya butuh menangis, bukan mata yang terus menatap tajam yang penuh intimidasi. Dan raut wajah dingin itu, sebenarnya raut wajah yang lesu dan lemah, raut wajah yang butuh kasih sayang, raut wajah yang butuh perlindungan, bukan raut wajah yang dingin dan terus tetap terlihat tegar didepan semua orang, jauh didalam sana Park Seo Na adalah gadis umur 23 tahun yang normal yang tidak mendapatkan cinta selama ini, hanya itu saja.

“kau hanya butuh seseorang yang mencintaimu Seo Na setelah itu kau akan tenang”.

~~~000~~~

Kyu Hyun berkali-kali mengetuk-ngetuk ujung jarinya ke meja, entah kenapa jiwa pria itu tiba-tiba gelisah menunggu siapa yang akan datang kekantornya. Hari ini ia punya janji bukan dengan gadis itu, gadis yang bahkan membuat darahnya berdesir tidak karuan hanya dengan menatapnya, wajah yang membuatnya berpikir aneh dan entah kenapa ia merindukan gadis itu.

“maaf sudah membuatmu lama menunggu”. Suara itu membuayarkan lamunannya, refleks pria itu berdiri dan berjalan kearah sofa di sisi lain ruang kerjanya mempersilahkan gadis itu dan seorang gadis lagi untuk duduk disana.

“tidak masalah Seo Na-ssi”. ucap Kyu Hyun santai, tatapannya masih tidak terlepas dari paras gadis itu, rambutnya yang diikat keatas memamerkan leher jenjang gadis itu, kali ini gadis itu terlihat lebih feminim, pikirnya.

“ini berkas yang harus kau tanda tangani Seo Na-ssi, semua sudah tertera disana, kau boleh membacanya terlebih dahulu sebelum menandatangani berkas itu”. Seo Na mengambil berkas itu dari tangan Kyu Hyun, membacanya sejenak lalu menyambar pulpen yang sejak tadi sudah tergeletak diatas meja.

“baiklah, aku berharap kita bisa bekerja sama Kyu Hyun-ssi”. ucap Seo Na menyodorkan berkas itu lagi kepada pemiliknya. Yoo Ra yang hadir diantara keduanya melihat dengan jelas jika sejak tadi pria tampan yang berada dihadapannya ini tidak henti-hentinya menatap sahabatnya. Gadis itu menyikut tangan Seo Na bermaksud memberi kode pada gadis itu.

Seo Na tersadar melirik kearah Yoo Ra sejenak. “Ohh perkenalkan ini Han Yoo Ra, ia menager sekaligus sahabatku lebih tepatnya asistenku”. Ucap gadis itu yang mendapat sikutan keras dari Yoo Ra, Seo Na terkekeh menyembunyikan tawanya dari Kyu Hyun, meskipun begitu pria itu masih bisa melihat tawa yang terlukis dari wajah Seo Na, bahkan dengan wajah dingin yang penuh ketidakpedulian itu ia sangat terlihat cantik, apa lagi saat ini saat gadis itu sedang tertawa kecil, bahkan dunia Kyu Hyun seperti diputar-putar.

“Oh ya, perkenalkan aku Cho Kyu Hyun, aku harap kita bisa saling bekerja sama”. Pria itu mengulurkan tangannya menjabat tangan sahabat gadis itu.

“tentu saja Sajangnim aku akan senang sekali bisa bekerja sama dengan anda, apa lagi atasanku yang cuek ini”. ucap gadis itu, bermaksud menggoda Seo Na yang langsung memasang tampang pembunuhnya dan ia yakin setelah keluar dari ruang kerja Kyu Hyun ini ia akan ditikam oleh Seo Na.

“kalau begitu kami permisi dulu Kyu Hyun-ssi, aku harus segara kembali kekantor”. Ucap Seo Na dingin, menatap Yoo Ra mengisyaratkan gadis itu agar segera beranjak dari tempat ini sebelum ia benar-benar salah tingkah didepan Kyu Hyun. Yoo Ra yang menyadari tatapan Seo Na terlebih dahulu bangkit dari sofa yang ia duduki, tapi ketika Seo Na hendak berdiri tangan gadis itu tertahan ditempatnya karena kini tangan Kyu Hyun sudah terlebih dahulu mengenggam pergelangan tangan gadis itu.

Seo Na berkedik sebelum menyadari jika tangan pria itu sudah mengenggam tangannya, lembut namun mampu menahannya ditempat. “Yoo Ra-ssi aku masih ingin berbicara dengan gadis ini, kau boleh pergi dahulu biar aku yang mengantar gadis ini nanti”. Ucap Kyu Hyun penuh permintaan disetiap nadanya, dan tanpa aba-aba apa-apa lagi gadis itu mengangguk semangat.

“baiklah, aku tidak keberatan-“.

“hei, apa-apaan kalian berdua? Kyu Hyun-ssi, apa kau kira aku setuju dengan permintaanmu??”. Ucap Seo Na dengan nada menakan, ia tidak suka hal ini terjadi, berduaan dengan pria itu lagi? Astaga haruskah ia membeli bom atom untuk membunuh pria itu?

“karena kau tidak setuju aku meminta izin pada rekanmu Nona Park”. Yoo Ra lebih dulu lenyap sebelum Seo Na membunuhnya dengan tatapan gadis itu, setidaknya dengan cara seperti ini ia bisa mendekatkan gadis itu dengan seseorang yang paling dibencinya diatas dunia ini.

~~~000~~~

“apa kau hanya terus diam? Dan tetap menahanku disini Kyu Hyun-ssi?”. Kyu Hyun tetap menatap gadis itu, ia tau sekarang kebiasaan terbaru yang menyenangkan untuknya adalah menatap mata gadis itu. Fox Eyes, begitulah kesimpulan yang ia dapat ketika melihat tatapan mata Seo Na, ia yakin gadis itu tidak sedingin diluarnya.

“ok, baiklah Cho Kyu Hyun, sepertinya aku bisa mati bosan didalam sini jika hanya menikmati tatapanmu yang bisa menerkamku kapan saja”. Seo Na beranjak dari hadapan Kyu Hyun berjalan beberapa langkah kearah pintu, tidak sampai meraih ganggang pintu karena sekarang tubuh Seo Na sudah ditarik oleh Kyu Hyun menghadap kearahnya dan tubuh gadis itu dipaksa bersandar ke sisi dinding.

Entah apa kekuatan yang membuat pria itu memajukan wajahnya lebih dekat kearah Seo Na membuat gadis itu melotot, refleks menutup matanya tanpa ada perlawanan sedikitpun. Kyu Hyun memiringkan wajahnya mendekatkan hidungnya kearah leher gadis itu terhenti ketika ia bisa dengan jelas mencium aroma cherry blassom disana, aroma tubuh seorang gadis dimasa lalunya.

Cherry blassom? Apa kau pernah menjadi seseorang dimasa laluku?”.

Cklek!

“Kyu Hyun-ah! Aku membawakan-“. Mata Dong Hae melotot kearah dua orang yang kini bahkan posisi tubuh masing-masing keduanya tidak dapat dijabarkan dengan jelas, karena keduanya hampir bertaut dan wajah Kyu Hyun bahkan menyusup kearah leher gadis itu, dan Seo Na dengan bodohnya menutup kedua matanya terlihat pasrah. Astaga! Pekik Dong Hae dalam hatinya.

~~~000~~~

“aku akan mengantarmu-“

“tidak usah, Hmm Dong Hae-ssi bisa mengantarku kembali kekantor?”. Ucap Seo Na memotong tawaran Kyu Hyun yang jika ia setujui hanya akan membuatnya terjerumus dalam lubang buaya, lagi.

“tentu saja, tapi apa kau bisa menunggu di lobi? Aku ingin berbicara sebentar dengan Kyu Hyun”. Seo Na mengangguk menuruti kata-kata Dong Hae lalu secepat mungkin lenyap dari dalam ruangan kerja Kyu Hyun sebelum ia benar-benar mati karena ulah pria itu.

Dong Hae menghempaskan tubuhnya di sofa, disusul Kyu Hyun yang juga duduk disana. “ternyata kau normal? Yang tadi sejak kapan? Kenapa bisa dengan gadis itu?”.

“kau mengenalnya?”.

“Ya! jawab dulu pertanyaanku!”. Umpat Dong Hae, dan Kyu Hyun masih tetap memasang tampang –tak bersalah dan tak terjadi apa-apanya- didepan Dong Hae membuat pria itu ingin sekali menghajarnya.

“aku hanya menuruti instingku saja”. jawab pria itu enteng.

“jadi instingmu sudah mulai bekerja? Ternyata dugaanku tidak salah”.

“apa?”.

“bukan apa-apa. Jika memang kau menginginkannya aku tidak akan melanjutkan persaanku, ya sepertinya ini akan menjadi kisah tragis bagiku untuk yang kedua kalinya”. Kyu Hyun mengerutkan keningnya, merasa tidak mengerti sama sekali dengan ucapan Dong Hae.

“baiklah, aku akan mengantarnya. Aku harap ini bukan main-main Kyu”. Dong Hae berlalu meninggalkan Kyu Hyun yang masih terpaku ditempatnya, menopang keningnya dengan tangan yang sejak tadi tertumpu di pahanya. Ia masih merasakan aroma tubuh gadis itu, Cherry Blassom. Bukankah itu juga aroma tubuh yang sama dengan Seo Yeo bukan? Kenapa mereka memiliki aroma tubuh yang sama? Apa Park Seo Na itu ada hubungannya dengan Seo Yeo? Atau insting pria itu –sebagai penyandang IQ diatas rata-rata- itu salah?

~~~000~~~

“aku harap kau tidak berpikiran macam-macam tentang yang tadi”. Akhirnya gadis itu bersuara juga, sejak masuk kedalam mobil Dong Hae ia sama sekali tidak berminat bersuara atau hanya berdeham.

“jika terjadi sesuatupun tidak masalah, ini untuk pertama kalinya aku melihat Kyu Hyun sejauh itu dengan seorang wanita, sejujurnya aku cemburu, kau tau”. Tidak ada nada candaan dari sana, Seo Na tau pria itu sedang serius bahkan disana terselip getaran yang mungkin terdengar benar-benar mengeluh.

“aku tidak suka bersaing, tapi aku juga tidak suka menghentikan perasaanku begitu saja, aku sudah mulai menyukaimu, dan kejadian ini persis sama saat aku dan Kyu Hyun berada diantara satu wanita, hanya saja Kyu Hyun tidak menyukai gadis itu, tapi sekarang sepertinya aku harus menerima kenyataan jika pria itu sangat berminat terhadapmu, apa aku harus menerima kenyataan lagi jika aku harus di tolak oleh gadis yang ku cintai?”. Mata Seo Na meletot ketika ia baru mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Dong Hae, astaga pria ini sempat menyukai kakaknya? Pekik gadis itu dalam hati. Tangan Seo Na bergetar, bahkan ia sekarang dihadapkan dengan dua orang pria yang pernah jadi bagian hidup Seo Yeo, dan bahkan pria ini sekarang mengatakan ia sudah mulai menyukai dirinya. Kenapa ini semakin rumit? Pikir gadis itu dan sepertinya ia akan ketempat pijat refleksi setelah ini.

~~~000~~~

Jae Eun menatap pria dihadapannya ini tidak percaya, kalimat demi kalimat yang diucapkan pria itu tentang pertemuan dan kejadian yang ia alami beberapa hari lalu membuat sebuah godam yang mengantam batinnya keras. Pria dihadapannya ini apa masih tidak tau bagaimana perasaannya? Apa pria ini tidak tau bagaimana hatinya kini tersayat-sayat mendengarkan ceritanya. Astaga! Demi apapun ia ingin sekali membunuh gadis yang membuat pria dihadapannya ini seperti orang bodoh! Teriak Batin Jae Eun.

“lalu?”. pertanyaan konyol yang hanya akan membuat pria itu akan menceritakan lebih banyak dan membuatnya terluka lagi.

“dia meminta maaf dan berlalu dari hadapanku, mungkin itu memang tidak sengaja. Tapi jantungku seperti ingin melompat keluar ketika tiba-tiba bibir itu menyentuh bibirku. Kau benar Eun-ah tidak ada pria yang bisa lari dari pesonanya”.

“jadi kau membatalkan membunuh gadis itu?”.

“aku punya cara yang lain”.

“maksudmu?”.

~~~000~~~

“bagaimana jika aku menikah dengannya, sehingga aku tidak perlu repot-repot mencuri kekayaannya, lagi pula bukan itu yang menjadi tujuanku saat ini , tapi pesona gadis itu yang hampir membuat hatiku obrak-abrik”.

Berkali-kali Jae Eun menggeleng-gelengkan kepalanya menghilangkan kata-kata yang membuat tubuhnya tak mampu berdiri tegap dihadapan Eun Hyuk tadi siang. Pria itu bahkan merubah rencananya yang semula ingin membunuh gadis itu menjadi ingin menikahi gadis itu. ingin sekali saat ini Jae Eun berteriak sekencang-kencangnya tapi itu semua tidak akan mengubah keadaan.

Jae Eun masih mengingat dengan jelas saat gadis itu memecatnya dengan sangat tidak hormat, memang saat itu ia membuat kesalahan dengan menghilangkan dokument penting milik PTI Corp dan itu memang tidak disengaja tapi semua alasan yang diajukan Jae Eun tidak diterima sama sekali oleh gadis itu. dan satu-satunya orang yang membantunya saat itu adalah Eun Hyuk dengan mempekerjakan gadis itu diperusahaanya. Karena itu Jae Eun begitu membenci sosok Seo Na, baginya gadis itu hanya bisa menghancurkan orang lain dan membuat penderitaan dengan semua keegoisannya.

“kau tidak akan pernah bahagia Park Seo Na, tidak akan”.

~~~000~~~

“Oppa, ku mohon aku tidak akan menggunakan benda ini. aku hanya ingin berjaga-jaga, pinjamkan aku lebih lama lagi, eung?”. Lee Teuk menghembuskan napasnya gusar, lagi-lagi gadis itu meminta dengan nada mengida dan itu bahkan tidak bisa membuat pria itu mengatakan –tidak- pada Seo Na.

“kau tetap menakutkan meskipun berlagak Aegyo”. Ejek Yoo Ra yang baru saja hadir diantara keduanya, sambil meletakkan 3 gelas teh hangat diatas meja.

“Ya!”. teriak Seo Na mengundang tawa puas sahabatnya itu.

“Oppa, kau tau tadi saat kami berkunjung keperusahaan Kyu Hyun pria itu tidak henti-hentinya menatap Seo Na, bahkan ia berbicara berdua dengan gadis ini. aku rasa Kyu Hyun menyukainya”. Lanjut Yoo Ra tidak terlalu peduli tatapan Seo Na kini mengarah padanya, setelah Lee Teuk pergi ia yakin Seo Na akan membuat piring terbang.

“aku juga sudah menduga, Kyu Hyun akan menyukainya”. Tandas Lee Teuk, Seo Na menatap pria itu mengerinyitkan keningnya.”entahlah, sebagai seorang pria aku memiliki insting yang demikian”. Lanjut pria itu lagi.

“jadi di tempatmu bekerja kau juga diajarkan membaca keadaan dan memakai instingmu ya?”. timpal Seo Na lalu menyusup teh hangat yang sudah tersedia dihadapannya.

“dan isntingku mengatakan kau juga akan menyukai pria itu”.

“UHUK!! Mwo?!”. Seo Na memuntahkan kembali teh yang baru saja ia teguk dari mulutnya, bagaimana bisa seorang Agent seperti Lee Teuk malah berasumsi mengerikan seperti itu, astaga apa kata dunia jika gadis yang berambisi membunuh Kyu Hyun malah terjerat dalam pesona pria itu.

“ya aku setuju dengan instingmu Oppa, tidak ada alasan bagi gadis manapun untuk tidak tertarik pada pria setampan Kyu Hyun”. Tambah Yoo Ra membetulkan ucapan Lee Teuk yang terdengar lebih seperti hukuman mematikan.

“ASTAGA! KALIAN BERDUA MEMBUATKU GILA!!!”.

~~~000~~~

“bagaimana dengan tawaran makan malam ku beberapa hari kemarin? Aku harap kau tidak mengubah keputusannya kan Seo Na-ssi?”. Seo Na terdiam sejenak, sebenarnya ia ingin teriak dan mengatakan ia tidak ingin makan malam apa lagi jika harus bertemu dengan makhluk yang bernama Cho Kyu Hyun itu.

“Seo Na-ssi? bagaimana?”. Lanjut pria itu. Seo Na menarik napasnya panjang membuangnya hati-hati takut jika pria yang sedang menelponnya ini mendengar hembusan napas prustasinya.

“Hmm, baiklah”. Ucap gadis itu akhirnya, sebelum pria diujung sana memutuskan sambungan telepon mereka.

“kenapa aku harus bertemu dengan pria itu dalam keadaan yang seperti ini! astaga! Seharusnya aku cepat-cepat membunuhnya sebelum aku mati terbunuh oleh perlakuan menyebalkan pria itu!”. teriak Seo Na gusar, menghempaskan tubuhnya keranjang, bahkan hari ini ia tidak berminat untuk pergi kekantor.

~~~000~~~

“nanti aku ingin mengajak mu makan diluar, dengan gadis itu”. Kyu Hyun baru saja membaca pesan singkat yang dikirim Dong Hae padanya, makan malam dengan gadis itu? tidak masalah, meskipun dengan kehadiran Dong Hae disana.

Kyu Hyun segera duduk di kursi putarnya, Dong Hae memang sepertinya cukup berniat mengajaknya bertemu dengan gadis itu mengingat sepagi ini pria itu mengirimnya pesan, dan sepertinya ini akan menjadi hal yang menarik bukan, bertemu dengan gadis itu lagi, menatap Fox Eyes kepunyaan gadis itu dan mencium aroma tubuhnya yang membuat candu tersendiri bagi Kyu Hyun.

Mata pria itu kini tertuju pada kertas putih yang dilipat diatas mejanya, kening Kyu Hyun mengerinyit, memperhatikan benda itu sejenak mengambilnya lalu membuka kertas itu, membaca deratan-deretan kalimat didalam sana dan refleks pria itu membulatkan matanya menyadari setiap kalimat disana menunjukkan suatu kenyataan baru dalam hidupnya.

~~~000~~~

“kau mau kemana?”. Tanya Yoo Ra menatap sahabatnya itu yang terlihat bersiap-siap setelah mereka baru saja sampai ke apartemen milik Seo Na.

“makan malam”. Jawab Seo Na singkat berjalan kedapur mengambil susu cair didalam lemari es.

“makan malam? Dengan siapa? Kyu Hyun? Atau pria yang menelfonmu malam itu? atau pria yang memelukmu pagi-pagi buta itu?”. Seo Na menghembuskan napasnya gusar tidak terlalu peduli dengan deretan pertanyaan Yoo Ra yang terdengar seperti paparazi.

“dan kau akan pergi makan malam dengan dandanan tahun 70-an itu? kau waraskan?”. Seo Na langsung menatap pakaian yang dipakainya yang memang terlihat seperti ingin pergi ke minimarket disamping gedung apartemen mereka.

“memangnya aku harus memakai gaun pengantin?”. Timpal gadis itu cuek tidak memperdulikan Yoo Ra yang sudah memegang kepalanya frustasi.

“apa kau punya gaun atau dress yang lebih sedikit wanita?”. Tanya Yoo Ra, gadis itu mengangguk masih tidak mengerti dengan pertanyaan sahabatnya itu.

~~~000~~~

For Cho Kyu Hyun

Ini mungkin tidak terlalu mengejutkan untukmu Sajangnim yang terhormat, dengan IQ mu yang diatas rata-rata itu kau pasti sudah mencium gelagat gadis itu bukan? Pemilik Park Telecomunication and Industry Corporation, Park Seo Na. Ini sepertinya sangat menarik karena kenyataanya kau harus mengetahui semua rencana gadis itu. Park Seo Yeo dan Park Seo Na, nama yang hampir sama bukan? Seharusnya kau sadar dengan semua itu, karena aku rasa kau bukan orang bodoh Cho Kyu Hyun. Gadis itu datang kepadamu hanya untuk menghancurkanmu, membawamu pada kematian seperti apa yang sudah kau lakukan pada kakak kandungnya, Park Seo Yeo. Ini menarik bukan?.

Kyu Hyun menarik napasnya menghembuskannya perlahan mengatur emosinya yang sejak tadi tidak stabil setelah menerima surat dari orang yang tidak dikenalnya, ia sudah yakin sejak awal jika Seo Na memiliki hubungan dengan Seo Yeo tapi pria itu tidak memilki alasan yang kuat untuk mengatakan jika mereka memang adik-kakak, tapi itu semakin kuat ketika Kyu Hyun dengan beraninya mencium aroma tubuh gadis itu.

Sejujurnya, pria itu merasa lega karena akhirnya mengetahui siapa Seo Na sebenarnya, dan tidak sedikitpun ia merasa kecewa dengan kenyataan yang ia dapati dari gadis itu, bahwa nyatanya Seo Na menaruh dendam yang luar biasa kepadanya. Kyu Hyun merasa semua bebannya sedikit demi sedikit berkurang, karena akhirnya ia menemukan gadis yang ia cari, adik Seo Yeo satu-satunya tempat ia bisa meminta maaf atas semua yang sudah pria itu lakukan. Yang hanya akan ia selesaikan sekarang hanya masalah antara dirinya dan Seo Na-lah, bagaimana nantinya ia menjelaskan semua apa yang keliru selama 8 tahun terakhir ini.

“Dong Hae-ssi belum datang?”. Suara itu tiba-tiba terdengar dihadapan pria itu, Kyu Hyun menoleh, mendapati gadis itu yang sudah berdiri dihadapnnya dengan Dress diatas lutut bewarna pink lembut ditambah tali kecil yang menggantung di bahunya yang putih, rambut yang ia ikat keatas membiarkan beberapa anak rambutnya menggantung indah di tengkuk gadis itu. dan untuk pertama kalinya Kyu Hyun mendapati gadis itu dengan tampilan yang ia yakini mengalahkan gadis manapun. Seo Na persis boneka mahakarya Tuhan yang sengaja didatangkan untuk Kyu Hyun malam ini, meski ia bisa mendapati jika gadis itu terlalu canggung dengan pakaiannya yang memang terlihat –errr- cukup seksi.

“dimana Dong Hae-ssi, apa kau tidak mendengarku?”. Tanya gadis itu sekali lagi, membuyarkan lamunannya, Kyu Hyun tersadar kembali fokus pada sekitarnya setelah cukup mabuk melihat penampilan Seo Na yang membuat dunianya seketika jungkir balik.

“dia tidak jadi datang, sesuatu terjadi dikantornya, ia juga mengatakan tidak bisa menghubungimu karena terburu-buru”. Jelas Pria itu, terlihat dari wajahnya Seo Na kecewa, gadis itu malah berasumsi jika dirinya dijebak untuk berudaan dengan makhluk menyebalkan dihadapannya saat ini.

“kalau begitu sepertinya kita bisa menunda makan malamnya, lagi pula Dong Hae tidak ada disini. Aku permisi Kyu Hyun-ssi”. tandas gadis itu tidak terima jika keadaan membuat mereka harus terjebak berdua disini, bahkan hal yang paling dihindari Seo Na saat ini adalah pria itu, mengerikan baginya.

Kyu Hyun setengah berlari mengejar punggung gadis itu sampai akhirnya ia bisa menggenggam pergelangan tangan Seo Na menarik tubuh gadis itu lebih cepat, menuntunya masuk kedalam mobil Ford mewah milik pria itu, awalnya gadis itu terkejut dan bersikeras tidak ingin ikut dan mencoba melepaskan diri, tapi percuma karena sekarang ia sudah berada disamping kendali Kyu Hyun.

“kau mau menculikku? Aku bisa menanam saham diperusahaanmu lebih banyak lagi, tapi kumohon pulangkan aku!”. Kyu Hyun tetap tidak peduli dengan ocehan bringas gadis itu, ia lebih fokus pada jalanan Seoul dan akhirnya Seo Na hanya diam menuruti semua keinginan pria itu dan ia yakin setelah ini ia akan benar-benar membunuh pria itu.

~~~000~~~

Kyu Hyun menepikan mobilnya, menatap wajah polos Seo Na yang saat ini sedang tertidur pulas disampingnya, ia bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu, raut wajah kelelahan, wajah yang seharusnya tersenyum, dan ia yakin selama 8 tahun ini gadis itu tidak mendapatkan kasih sayang yang layak lagi, semua karena dirinya, karena ia sudah menciptakan gunung kebencian didalam hati gadis itu, seujurnya Kyu Hyun sangat teramat menyesal.

Pria itu turun perlahan dari dalam mobilnya, dua jam perjalanan dan hanya diam didalam mobil membuat gadis itu tertidur dan ia tidak ingin mengganggu tidur nyenyak Seo Na, Kyu Hyun melangkahkan kakinya mendekat ketepi pantai, ya pria itu memilih pantai karena dulu Seo Yeo sempat mengatakan kepadanya jika Seo Na sangat menyukai pantai, gadis itu tergila-gila dengan suara deburan ombak baginya laut dan pantai adalah lambang kehidupan yang damai.

“kenapa membawaku kemari? Aku ingin pulang”. Suara itu sukses memalingkah wajah Kyu Hyun yang sejak tadi memperhatikan ombak, pria itu tersenyum mendapati gadis itu sudah berjalan terseok-seok diatas pasir. “ini sudah malam dan kau membawaku ketampat ini? kau gila?”. Tandas gadis itu lagi, masih tidak puas terus memojokkan Kyu Hyun.

Pria itu membuka jas hitamnya, meletakkan di sisi bahu Seo Na dan gadis itu lagi-lagi dengan pasrahnya menerima sikap tiba-tiba Kyu Hyun yang membuatnya linglung.

“kau menyukai pantai?”. Tanya pria itu akhirnya. Seo Na mengangguk kecil, meski ia tidak tau apakah pria itu melihat anggukannya. “aku juga menyukai pantai sejak mengenal seseorang”. Gadis itu mengalihkan pandangannya kearah Kyu Hyun menatap pria itu lekat-lekat. ‘seseorang? Siapa?’. tanya gadis itu dalam hatinya.

“aku menunggunya selama bertahun-tahun”. Lanjut pria itu lagi, Seo Na masih menatapnya, tidak mengalihkan padangannya dari wajah Kyu Hyun yang asik menatap deburan ombak di hadapan mereka.

Seo Na mencoba mengontrol emosinya, menyembunyikan semua keingin tahuannya terhadap seseorang yang dimaksud pria itu. “aku rasa dia sangat berharga bagi mu”. Ujar gadis itu, tidak terdengar sedikitpun emosi dari ucapannya.

“tentu saja, aku melakukan banyak kesalahan demi dia”. ucap pria itu lirih, Seo Na bisa mendengar dari nada bicara Kyu Hyun jika pria itu memang sangat teramat mencintai seseorang yang disebutnya itu, pantas Seo Yeo tak pernah bisa mendapat tempat di hati Kyu Hyun.

Kyu Hyun menatap gadis itu, lagi-lagi pandangannya terfokus pada mata Seo Na, mata itu bahkan ia merindukannya, gila bukan?. “kau cantik malam ini”. ucap pria itu datar. Seo Na mengerjapkan matanya, benarkah apa yang baru saja diucapkan pria itu padanya? Kenapa tubuhnya seperti baru saja disengat listrik.

Secepat mungkin gadis itu mengalihkan padangannya dari Kyu Hyun, mengatur napasnya yang tiba-tiba tersengal-sengal, menyembunyikan mimik mukanya yang ia tau saat ini pasti sangat terlihat bodoh, astaga didepan pria yang ia benci kenapa ia harus terlihat sebodoh ini, pikirnya.

Kyu Hyun meraih tangan Seo Na yang sejak tadi mengudara disamping tubuhnya, tiba-tiba saja pria itu mempunyai kekuatan untuk memberanikan diri mengenggam tangan gadis itu. “ada apa?”. Ucap Seo Na tak nyaman.

“jika kau berpakaian seperti ini, jangan salahkan jika seseorang menyukai dan mengejarmu”. Tandas pria itu, Seo Na berkedik namun gadis itu masih membiarkan Kyu Hyun mengenggam tangannya. Entalah, ada rasa nyaman saat pria itu menyentuh tangannya, ada perlindungan dari setiap sentuhan pria itu.

“tidak masalah, jikapun aku tidak memakai pakaian seperti ini, pria-pria selama ini juga menyukaiku, memberikanku hadiah, mengatakan aku cantik-“.

“benarkah? Kau menerima mereka?”.

“tidak, memangnya kenapa? Tidak ada salahnya juga mereka menyukaiku, lagi pula sejak aku lahir aku tidak mengenal cinta, semua itu menjijikan dan membuatku pusing”. Ujar gadis itu seenaknya, ia tidak peduli jika saat ini Kyu Hyun sudah tersenyum mendengar ucapannya yang ketus, dingin dan terdengar tidak berperasaan.

“Na-ya?”. panggil pria itu lembut, berhasil membuat mata Seo Na tertarik ke arah pria itu. Seo Na mematung ditempatnya, entah kenapa setiap pria itu mengucapkan namanya rasanya ia ingin mati kerena kehabisan napas.

Kyu Hyun mendorong tubuhnya kedepan, mendekap tubuh gadis itu, untuk yang pertama kalinya setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengan gadis itu kini ia bisa memeluknya, membiarkan semua sakit gadis itu tersalurkan padanya, meski ia tau sekarang tubuh gadis itu menegang karena terkejut atas perlakuannya yang tiba-tiba.

“Hei Tuan Cho?! Kau gila?!”. Bentak Seo Na, berusaha melepas pelukan Kyu Hyun tapi percuma saja, toh pria itu sedang nyaman memeluk tubuh Seo Na sekarang.

“baiklah-baiklah, apa yang kau inginkan? Kau mau paparazi memergoki ku lalu kita akan jadi trending topic utama? Hei kau tidak sadarkan sedang memeluk siapa?”. Kyu Hyun tidak peduli dengan ocehan gadis itu tetap saja memeluknya dengan sesukanya.

“maaf sudah membuatmu menderita selama bertahun-tahun, aku menyesal”. Ujar Kyu Hyun lirih sambil melepas pelukannya daru tubuh gadis itu, Seo Na menatap pria itu, ia tidak salah dengar kan? Apa yang sebenarnya pria itu bicarakan? Apa Kyu Hyun sudah mengetahui siapa dirinya? “terlalu banyak luka yang ku ciptakan, aku mencarimu kemana-mana, dan sekarang aku sudah menemukanmu Na-ya”. Kyu Hyun menatap gadis itu lekat-lekat, Seo Na masih diam ditempat membalas tatapan pria itu padanya.

“kau terluka? Aku juga, kau kehilangan? Aku juga, kau kehilangan satu orang waktu itu? dan aku kehilangan tiga orang sekaligus, dan sekarang aku sudah menemukan yang satunya”. Seo Na mundur selangkah setelah pria itu mengatakan kalimat terakhirnya.

“maaf atas semua kesalahan dimasa lalu-“.

“MUNDUR KAU CHO KYU HYUN!!!”. Teriak gadis itu setelah ia berhasil mengeluarkan pistol dari tas tangannya yang sejak tadi sengaja gadis itu bawa, mengarahkan moncong pistol itu kearah Kyu Hyun membuat pria itu kaget.

“kenapa? Kau takut? Bagaimana dengan ketakutan yang ku alami selama ini? KARENA KAU CHO KYU HYUN! Karena kau sudah mengancurkan hidupku! HIDUP SEO YEO! Dan kau bilang kau meminta maaf? Tidak semudah itu”. teriakan Seo Na tidak sama sekali membuat Kyu Hyun gentar, pria itu masih ditempatnya menyaksikan semua isak pilu yang pasti sudah tertanam selama 8 tahun ini didiri gadis itu.

Kali ini Seo Na terisak, banyak air mata yang turun dari mata gadis itu, mata yang biasanya menatap orang dingin, mata yang biasanya mengintimidasi orang lain, mata yang biasanya tetap terlihat tegar meski Kyu Hyun yakin Seo Na sangat rapuh, gadis itu sangat rapuh.

“aku kehilangan semuanya, aku kehilangan kakak-ku, aku kehilangan kasih sayang darinya, dan karena kau aku bahkan tidak pernah bisa menerima makhluk laki-laki yang berusaha masuk kedalam hidupku, kau tau! Aku menderita bahkan lebih dari apa yang kau lihat sekarang!”. Dengan susah payah gadis itu menahan isak tangisnya, dengan susah payah ia mengucapkan satu persatu kepedihan dihatinya yang selama ini tertanam jauh dilubuk hatinya.

“Na-ya”. panggil pria itu mencoba mendekat kearah Seo Na tapi gadis itu mundur menjauh dari jangkauan Kyu Hyun.

“jangan mendekat! Aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu Cho Kyu Hyun!”.

“bunuh aku jika itu yang kau inginkan, sekarang! Jika membunuhku bisa mengubah keadaan dan mengembalikan nyawa Seo Yeo aku rela! Kau pikir hanya kau yang mendapati kesengsaraan setelah gadis itu mati? Kau pikir hanya kau yang kehilangan kasih sayang setelah ia meninggalkan kita?! Jawab aku Park Seo Na!!!”. Seo Na berkedik, ia tetap menahan tangannya diudara mengacungkan benda mematikan itu kearah Kyu Hyun.

“dengarkan aku gadis bodoh! Kau tau alasan kenapa aku tidak mencintai gadis itu? kau tau alasan kenapa aku tidak menerimanya? KARENA YANG KU INGINKAN SAAT ITU ADALAH KAU PARK SEO NA! Gadis berumur 15 tahun yang terang-terangan ingin membunuhku saat itu! kau tau!”. Ucapan yang keluar dari bibir pria itu bahkan membuat Seo Na kini sudah terjatuh diantara pasir pantai, sungguh gadis itu tidak bisa lagi menopang tubuhnya yang sudah bergetar hebat, gadis itu masih menggenggam pistol ditangannya meski saat ini ia tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengangkat benda itu dan mengacungkannya kearah Kyu Hyun.

Pengakuan pria itu bahkan membuat kepalanya nyeri, air mata itu tumpah bahkan kini Seo Na mengerang kesakitan, jadi bukan dirinya sendiri yang membuat kakaknya terluka, bukan pria itu dan kenapa ia baru sadar setelah Seo Yeo meninggalkannya, kenapa dari dulu ia tidak menanyakan pada kakaknya alasan Kyu Hyun menolaknya, dan semua penyesalan itu menari-nari diotaknya.

Kyu Hyun mencoba mendekat kearah Seo Na, yang ia inginkan saat ini hanyalah memeluk tubuh rapuh gadis itu, membiarkan tubuh nringkih itu masuk dalam dekapannya, namun tiba-tiba saja suara letusan berbunyi sangat hebat, entah dari mana asalnya yang jelas suara letusan itu mampu membuat Kyu Hyun terlonjak kaget, tanpa ia sadar jika jiwa yang didepannya saat ini sudah tersungkur ke pasir dengan darah yang sudah mengalir deras menggantikan warna pasir sikitarnya menjadi merah padam.

“PARK SEO NA!!!”.

~~~000~~~