Monthly Archives: April 2014

REVENGE BEFORE LOVE (1/?)

Standard

REVENGE BEFORE LOVE (1/?)

 

RERE_副本

 

Action, Romance. PG + 17

Cast :

Cho Kyu Hyun

Lee Dong Hae

Park Seo Na

 

 

 

Prolog

 

“ini sudah terlalu membuat ku lelah Seo-ya! aku bahkan sudah mengatakan berkali-kali bahwa kita hanya sebatas sahabat, aku tau kau mencintaiku, tapi keadaannya tidak sama dengan apa yang aku rasakan. Seo-ya, maafkan aku dan ku mohon jangan melakukan hal gila lagi, mengerti? Hm?”. Pria itu menarik tubuh ringkih gadis itu, ia tau gadis keras kepala itu bersedia tidak makan selama berhari-hari hanya karena pria itu mengabaikannya, Park Seo Yeo jika tidak ada laki-laki yang sedang memeluknya saat ini, mungkin ia juga akan segera mati.

“tatap mataku gadis bodoh, aku hanya seorang pria biasa. Aku tidak bisa membahagiakanmu dengan keterpaksaan, kau mengertikan?”. Bukan untuk yang pertama kalinya pria itu mengatakan hal itu, sudah berkali-kali pria jakung itu mengatakan hal yang mampu membuat luka sobekan paling dalam dihati gadis itu, sakit bahkan saat ini ia tidak bisa lagi merasakan hangatnya pelukan satu-satunya pewaris Cho Company itu ditubuhnya. Terlalu sakit, Mungkin.

Seo Yeo menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria itu yang kini tengah memeluknya, ia rasa ini akan menjadi pelukan terakhir untuk pria itu, sudah cukup ia mempermalukan dirinya terus-terusan dan berusaha tetap kuat dan terus mengejar cinta dari pria yang sama sekali tidak mencintainya, mungkin hanya sayang, sayang terhadap sahabat yang sudah dikenalnya sejak mereka sekolah.

“aku akan pergi, aku ingin ke makam Ibu dan Ayahku”. Ucap gadis itu setelah ia melepas dengan berat pelukan pria itu, ia tersenyum hambar memaksakan bahwa ia bisa lebih kuat didepan pria itu, tapi nyatanya ia hanya cangkang kosong yang akan terus kosong tanpa adanya balasan cinta dari pria tampan itu.

“mau ku antar?”. Tawar pria itu, Seo Yeo menggeleng lemah melepaskan pengangan tangan pria itu yang sejak tadi tak terlepas dari tangannya. “tapi kau lemah Seo-ya, kau belum makan sejak 2 hari yang lalu dan sekarang keadaanmu sedang tidak baik dan kau malah ingin pergi sendiri?”. tandas pria itu yang hanya direspon senyum oleh Seo Yeo. Tidak ada yang cacat dari gadis itu, ia hampir terbilang sempurna, yang tidak membuatnya sempurna adalah kenapa ia terlalu begitu mencintai pria yang kini tengah berada dihadapannya itu.

“aku bisa sendiri Kyu, kau harus bekerja bukan. Cho Ajhussi pasti memarahimu jika kau tidak bekerja dengan baik, ini baru bulan ke 2 sejak kau menangani perusahaan sebesar ini”.

“aku hanya tidak ingin kau kenapa-kenapa Seo, kau tau kau sahabat terbaikku”. Lagi-lagi ucapan pria itu membuat kepala Seo Yeo berputar-putar tak terkendali, perih kembali terasa menusuk dihatinya.

“kau tau, kau pria terbaik yang ku inginkan Kyu”. Pria itu terdiam mendengar ucapan yang penuh getaran keluar dari mulut Seo Yeo.

“aku sudah menghancurkan hidupmu, kau tau? Aku juga merasa bersalah dan ingin sekali memaki perasaanku sendiri yang tidak bisa memberikan kesempatan untukku, untuk tertarik padamu, aku pria jahat”. Gadis itu tersenyum, mengecup singkat bibir pria itu lalu berlalu dengan langkah yang terseok-seok.

‘ini pertemuan kita yang terakhirkan Cho Kyu Hyun, kau harus hidup bahagia tanpa aku, sahabat sekaligus wanita yang terus saja mengejar cintamu, cih memalukan’. Gumam gadis itu ditengah isak tangisnya setelah ia meninggalkan ruangan kerja Cho Kyu Hyun.

~~~000~~~

Eonni, aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian. Hentikan mobilnya sekarang aku akan menyusulmu”. Terdengar suara agak sedikit melengking dari seberang sambungan telepon gadis itu, Park Seo Na adik kandung gadis itu yang tidak terlalu suka dengan sikap kakaknya yang terlihat lemah dan rapuh.

“tidak apa, aku baik-baik saja gadis kecil. Lagi pula taksi mana yang akan mengantar anak kecil umur 15 tahun sepertimu, mereka mengira kau anak yang mau kabur dari rumah”. Ucap gadis itu setengah tertawa, ia masih bisa mendengar celotehan adiknya yang semakin menjadi-jadi diseberang sana.

Ya! kau pikir aku sebocah itu sehingga taksi tidak mau mengantarku. Dengar ya, aku tau kau baru saja menangis gara-gara ajhussi tua dan menyebalkan itu, pria dingin yang sentimental yang terus kau puja-puja, cukup kemarin aku bertemu dengan pria menjengkelkan dan sok romantis itu, siapa namanya?”.

“Cho Kyu Hyun”. Ucap Seo Yeo singkat sambil tersenyum getir.

“ya, siapapun namanya yang jelas aku tidak suka kau dengannya, melihatnya saja aku ingin muntah”. Seo Yeo terkekeh mendengar celotehan tanpa henti adiknya itu, tidak sekali dua kali Seo Na mengatakan jika ia membenci Kyu Hyun, sering bahkan setiap kali Seo Yeo bercerita tentang kekagumannya pada sahabat laki-lakinya itu, Seo Na hanya akan merespon dengan hujatan-hujatan pedas untuk pria itu.

“sudah selesai memaki sahabatku itu?”. tanya gadis itu, ia bisa mendengar dengan jelas jika adik kecilnya itu mendengus kesal.

“ya, ya sudah. Aku sudah tidak berminat untuk membahasnya. Eonni kau sedang menyetirkan?”. Tanya Seo Na polos.

“iya, aku sedang menyetir. Aku baru saja dari kantor Kyu Hyun-“.

“dia menolakmu? Begitu? Untuk yang keberapa kali?”. Tandas gadis itu penuh amarah, lagi-lagi pria terlalu jenius itu membuat kakak kesayangannya terluka, lagi?!

“aku sudah terbiasa, kau tau bukan aku ini gadis kuat?”. Seo Yeo mencoba menguatkan dirinya sendiri, meskipun ia tau suaranya kini tengah bergetar hebat menahan tangis, dan ia tidak ingin menangis lagi, ia tau Seo Na akan menginjak hidup-hidup pria itu jika ia tau Seo Yeo menangis saat ini.

“kau menangis kan? KATAKAN JIKA KAU MENANGIS EONNI?! Aku tidak mengerti kenapa ku terlalu berambisi dengan pria gila itu! kau masih punya aku, kau masih punya teman-teman dikantormu!”. Gadis itu tidak tahan lagi saat ini, tanpa paksaan apapun isakkannya lolos begitu saja dari bibirnya, ia kalah ia sudah kalah dan ia tidak akan pernah menang, Kyu Hyun memang tidak akan pernah bisa mencintainya.

“aku mencintainya Seo Na, aku mencintainya lebih dari apapun. Ku mohon jangan salahkan dia karena aku yang sudah salah mencintainya selama ini, aku salah adikku, aku……”

BAM!!!!!!!!!!

tiiitt….-”.

Eonni?! Eonni kau tidak apa-apa?!! PARK SEO YEO!!!! KAU TIDAK APA-APAKAN?! YAK!!!!”. Tidak terdengar lagi suara disana, tidak terdengar lagi isakan tangis memilukan milik gadis cantik itu, kecelakaan baru saja terjadi merenggut nyawanya, semua rasa sakit yang ia rasakan tak akan pernah ia rasakan lagi dengan hilangnya nyawa dari raga gadis itu.

Seo Yeo tidak sempat lagi dilarikan kerumah sakit, sebagian tubuh gadis itu hancur seketika, tabrakan yang terjadi tiba-tiba itu seperti kilat yang menyambar cepat tanpa ada tanda-tanda yang diberikannya terlebih dahulu. Pemakaman gadis itu berjalan dengan hikmat, pria itu pria yang menjadi alasan Seo Yeo untuk bertahan sempat syok dan hadir ke pemakaman gadis itu, hanya sebentar karena ia harus kembali bekerja dengan melakukan banyak pertemuan penting dengan perusahaan lain yang menjalin kerja sama degannya.

Kyu Hyun ia bukan tidak bersedih, pria itu hampir hilang kendali ketika ia ngebut dijalanan kota Seoul yang padat dengan kendaraan, baru pagi tadi gadis itu bertemu dengannya, baru tadi pagi ia memeluk tubuh ringkih Seo Yeo, dan baru tadi pagi ia lagi – lagi menyakiti gadis itu, ia yang salah kan? Ia yang sudah menyebabkan semuanya? Masih sanggupkah ia mengatakan dirinya adalah seorang sahabat? Kyu Hyun berteriak sekencang-kencangnya, sahabat terbaiknya Park Seo Yeo sudah tiada.

“Seo-ya? ini salahku bukan? Aku sudah membunuh gadis baik sepertimu, aku tidak membalas cintamu, dan aku sudah mengancurkan kebahagiaanmu! Seo, aku ingin kau bahagia disana, tanpa ada aku pria yang menyakitimu”. Gumam pria itu ditengah proses pemakaman sahabatnya itu, sebelum berbalik dan meninggalkan area pemakaman yang sederhana itu, tanpa ia sadari seorang gadis kini tengah menatap punggungnya yang menghilang diantara keramaian yang ikut mengantar kepergian Seo Yeo, menatap pria itu penuh kebencian, kebencian yang bahkan harus dibayar dengan setimpal oleh pria itu, suatu saat nanti.

EONNI KAJJIMA!!!!”. Hanya teriakkan penuh keputus asaan yang lolos dari mulut Seo Na, kakak terbaiknya kakak satu-satunya yang ia punya, kakak yang menjadi satu-satunya keluarga yang ia punya, karena kedua orang tua mereka sudah lebih dulu meninggal akibat kecelakaan yang mengerikan yang terjadi 8 tahun silam, dan kali ini kecelakaan juga merenggut nyawa kakaknya, semua terasa tidak adil bukan? Semua terasa menyakitkan, dan semua harus dibayar sesuai dengan apa yang ia rasakan.

“Cho Kyu Hyun, matikau!”. Geram gadis itu disela tangisnya, membiarkan semua emosinya terluapkan, membiarkan sakitnya menerkamnya saat ini, meski pada kenyatannya ia tau Seo Yeo lah yang paling terluka.
~~~000~~~

“hai gadis cantik, jadi namamu Park Seo Na? Nama yang bagus, berapa umurmu?”. Ucap pria itu sambil tersenyum kearah Seo Na, Seo Na membalas senyuman pria itu dengan rela-takrela.

“15 tahun”. Jawab gadis itu singkat lalu kembali sibuk dengan kegiatannya.

“kau dingin sekali, tidak seperti Seo Yeo yang ramah dan tersenyum pada orang-orang, aku kira hanya aku manusia yang paling dingin sedunia”. Ucap Kyu Hyun tanpa memperdulikan tatapan mematikan milik gadis yang kini tengah duduk disampingnya itu.

“karena itu Seo Yeo mudah tersakiti, karena dia mudah tersenyum. Kau tau ajhussi, aku tidak suka dengan orang-orang yang menyakiti kakakku, aku akan menginjak lehernya sampai dia mati, dan kau tau aku bercita-cita menjadi penembak jitu dikemeliteran Korea”. Ucap gadis itu santai tanpa berminat melihat ekspresi Kyu Hyun yang kini tengah ternganga menatapnya.

“cita-citamu mengerikan sekali, kalau begitu aku akan menjadi orang pertama yang akan kau injak lehernya dan kau bunuh-”.

“Kyu, aku sudah siap. Ayo berangkat. Seo Na-ya jaga dirimu, aku ada urusan dengan Kyu Hyun, aku akan pulang sebelum makan malam”. Seo Na mengangguk, tidak terlalu berminat menatap kakaknya yang kini tengah mengamit lengan pria itu, ia memiliki ketidak sukaan besar terhadap pria itu, sangat!.

 

~~~000~~~

 

8 years laters

 

Tanpa sengaja gadis itu mengingatnya lagi, mengingat pertemuan pertama dan terakhir kalinya dengan pria itu, pria yang sudah membuatnya berubah drastis seperti sekarang. Gadis itu segera melangkah meninggalkan kediamannya, memacu mobil sport mewah Lamborghini Aventador keluaran terbaru yang membuatnya harus mengeluarkan beberapa milyar dolar uangnya yang terkubur didalam Bank, tidak sulit hanya mengeluarkan uang sebanyak itu karena perusahaan terbesar dikorea adalah kepunyaannya, terdengar menggelikan bukan seorang yatim piatu yang hanya hidup sendiri itu kini sudah menjelma sebagai pengusaha besar yang memiliki perusahaan terbesar di Korea itu, tidak mudah karena bertahun-tahun gadis itu harus terkatung-katung demi mendapatkan aset keluarganya yang masih tersisa yang jatuh ketangannya setelah kakak kandungnya meninggal 8 tahun yang lalu, perusahaan kecil yang kini berubah menjadi perusahaan besar yang menaruh saham disetiap Perusahaan yang bergerak dibawah kaki tangan perusahaan ini.

Park Telecomunication and Industry Corporation yang disikangkat PTI Corp itu adalah perusahaan yang kini tengah digadang-gadang sudah mengalahkan perusahaan sebesar dan sesukses Samsung Electronic dan Samsung Life Insurance yang kini tengah berada dibawah kepemilikan salah satu perusahaan bernama Cho Company. Tidak heran jika gadis itu dengan entengnya menghamburkan uang dan berjalan-jalan dari negara satu kenegara lainnya hanya untuk menghabiskan uangnya yang tidak akan pernah habis untuk berpuluh tahun kedepan.

Park Seo Na, gadis itu kini sudah menjadi wanita jelmaan yang yang sukses dan kaya raya, wanita yang tidak terlalu berminat dengan sekelilingnya, termasuk pasangan hidup yang hampir tidak pernah ia pikirkan sejak ia terlahir kedunia, terlalu rendah baginya jika kesuksesaannya hanya tidak terkendali oleh seorang laki-laki yang masuk dalam hidupnya, tidak ada kamus laki-laki dihidupnya kecuali sahabat dan teman-temannya yang ikut membantu gadis itu sukses hingga sekarang ini, itu saja tidak lebih.

Ia memasuki gedung megah berlantai 25 itu dengan santai, mengenakkan jas hitam dengan kemeja putih sebagai dalamannya, celana jeans hitam ketat dipadukan dengan bots kulit yang sengaja ia rancang di Italia beberapa hari lalu, sejujurnya gadis itu sudah berubah menjadi gadis yang terlihat Manly ketimbang Girly, ia sudah biasa dengan model guntingan rambut setengkuknya, poni yang ia biarkan tergerai menutupi keningnya, sejujurnya ia masih terkesan terlihat cantik dan imut namun tidak sedikit juga yang merasa jika gadis itu terlihat lebih tegas dan dingin.

“Seo Na!”. Gadis itu menoleh ketika suara yang bersumber dari arah kirinya itu menarik perhatiannya. Gadis itu tersenyum saat melihat siapa yang sudah berani memanggilnya tanpa embel-embel ‘ssi’, siapa lagi kalau bukan sahabat terbaik yang ia miliki, Han Yoo Ra.

“kau seperti kuda pacuan saat berajalan, aku hampir kehilangan napas saat mengejarmu gadis dingin”. Seo Na tekekeh mendengar celotehan Yoo Ra yang terdengar mengejeknya.

‘gadis dingin? Seseorang pernah mengatakan itu dimasa lalu, cih!’. Gumam gadis itu mengingat seseorang yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Bagaimana kabar laki-laki itu? Pikirnya.

“lusa kau akan bertemu dengan pemimpin Cho Company, aku merasa tidak enak mengatakan hal ini”. desis Yoo Ra yang hanya direspon tawa terbahak-bahak dari sahabat sekaligus Direktur utama diperusahaan besar ini.

“kenapa? Aku tidak akan melakukan hal itu dengan cepat, kau tau aku suka bermain-mainkan”. Tampak senyum puas kini terukir dibibir gadis itu, senyum kemenangan, karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan pria itu, pria yang membuatnya mati-matian selema bertahun-tahun, pria yang membuatnya memiliki dendam yang hampir ia pikirkan sepanjang malam.

“kau membuatku ngeri Seo Na-ya”. Yoo Ra berkedik menatap sahabatnya itu. “tapi bagaimana jika ia mengenalmu? Bukankah kalian pernah bertemu, kau pernah menceritakannya padaku bukan?”.

“hanya sekali, dan itu sudah terjadi 8 tahun silam, ia tidak akan mengenalku, lagi pula yang ia tau cita-citaku bukan menjadi Direktur diperusahaan sebesar ini karena dulu aku mengatakan padanya jika akau bercita-cita menjadi penembak jitu dan membunuhnya”.

“Ya! gadis setengah pria, kau menakutkanku!”. Yoo Ra melangkahkan kakinya keluar dari lift terlebih dahulu disusul Seo Na yang berjalan dibelakangnya.

“aku masih normal, kau kira aku ini jelmaan pria?”. Tandas gadis itu tak setuju jika ia dipanggil –gadis- setengah-pria, tentu saja Yoo Ra mengatakan hal demikian karena Seo Na memang terlihat dari sangat terlihat laki-laki sekali dengan penampilannya saat ini.

“setidaknya gadis normal masih memiliki ketertarikan terhadap pria, tidak sepertimu yang menganggap semua pria sama dengan pemilik Cho Company itu”. Seo Na tertawa renyah, melemparkan pandangan mematikannya kearah Yoo Ra.

“kalau begitu, bagaimana jika aku memacarimu saja?”.

“AAAA!!! DASAR GADIS GILA!!!”. Teriak Yoo Ra sebelum gadis itu lari terbirit-birit meninggalkan Seo Na yang kini tertawa puas melihat ekspresi menggelikan sahabatnya itu.

~~~000~~~

“bagaimana? Apa perusahaan kita sudah terlalu merosot? Kau yakin?”. Ucap Ahra pada adik laki-lakinya itu, pria itu setengah mendongak menatap Ahra yang kini sudah duduk dihadapannya.

“Ah Nuna, ada apa datang kemari?”. Ucap pria itu sekenannya karena terlalu sibuk dengan data-data penjualan perusahaannya yang bergerak di dua bidang, Elektronik dan Asuransi itu.

“seharusnya aku memang tidak kemari”. Keluh wanita yang sudah memilki satu orang putra itu. “aku mengantarkan beberapa makanan untukmu, aku tidak tau kenapa Eomma mengkhawatirkan mu akhir-akhir ini setelah ia tau jika perusahaan kita sedang mengalami kendala, ia khawatir anak perjaka-nya ini merasa lelah dengan pekerjaannya”. Sambung gadis itu tanpa mendapatkan respon apa-apa dari adiknya itu.

“baiklah Cho Kyu Hyun, aku tidak akan mengoceh lagi, berbicara denganmu sama saja berbicara dengan tembok”. Kyu Hyun menatap tubuh kakaknya itu yang sudah berbalik menuju pintu, sebelum ia mengucapkan sesuatu yang membuat pria itu kembali mengingat hal yang sudah hampir terlupakan.

“jika Seo Yeo masih hidup, gadis itu pasti akan membuatmu berbicara lebih banyak dibanding sekarang, kau tidak mencintainya, tapi kematiannya membuat hidupmu berubah menjadi kaku Kyu”. Ada satu titik yang terasa sakit dijantung pria itu mendengar ucapan Ahra sebelum ia menghilang dari balik pintu ruang kerjanya. Ya tepat sekali, jika Seo Yeo masih disini bersamanya, ia tidak akan sesulit ini, dan benar sekali tentang ucapan Ahra, ia sudah jauh berubah sejak gadis itu meninggalkannya, dan itu yang membuat ia hingga saat ini memilih tidak mencintai gadis manapun, mungkin tidak akan pernah.

“Seo-ya, aku merindukanmu”. Ucap pria itu getir, menghentikan semua aktifitasnya sejenak, setidaknya hari ini biarkan ia mengingat gadis itu lagi sejak hampir bertahun-tahun tidak lagi memikirkannya.

~~~000~~~

what’s up Kyu!?”. Pria itu langsung menepuk bahu Kyu Hyun yang sejak tadi berjalan tergesa-gesa dengan wajah kusut persis seperti pakaian yang tidak disetrika sama sekali.

“ah Hyung, ada apa?”. Ucap pria itu tanpa berminat membalas senyuman termanis yang sudah diberikan Dong Hae terhadapnya.

Dong Hae berkedik ngeri saat melihat wajah pria itu yang hampir menakutkan dari wajah setan. “kau membuat ku takut Kyu Hyun-ah, apa begitu burukkah penjualan perusahaan mu bulan ini sampai-sampai kau memasang wajahmu yang paling mengerikan itu?”. ejek Dong Hae.

“Hyung, aku sedang tidak ingin bercanda”. Ucap pria itu tanpa minat sedikitpun.

“baiklah-baiklah, aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi, kalau begitu bagaimana jika aku menraktirmu? Aku tidak ingin melihatmu seperti laki-laki prustasi yang ditinggal istrinya”. Kyu Hyun terdiam sejenak sebelum ia menuruti ajakan pria yang berasal dari Mokpo itu.

~~~000~~~

“jadi karena itu? kau masih mengingatnya dengan baik setelah bertahun-tahun. Aku juga masih mengingat gadis itu, yang menolakku secara terang-terangan hanya karena cinta nya yang besar kepadamu”. Dong Hae menyantap Stick panggang yang harganya bisa membayar gaji satpamnya dikantor.

“aku tidak sengaja mengingatnya”. Ucap Kyu Hyun dingin, sambil menusuk-nusuk makanan didalam piringnya tanpa berniat memakannya sedikitpun.

“kau mencintainya Kyu, aku tau. Tapi rasa cintamu baru kau sadari setelah ia meninggalkanmu, kau tau aku juga begitu kesal setiap gadis itu menangis dihadapanku tanpa bisa membantunya sedikitpun, aku menyesal hanya bisa membiarkannya menangis”.

“dan aku menyesal karena sudah membuatnya menangis”. Tandas Kyu Hyun, yang hanya direspon senyuman simpul oleh Dong Hae, mereka sama-sama pria bukan, Dong Hae tau persis bagaimana perasaan Kyu Hyun saat ini. “aku pikir hanya perlu waktu beberapa tahun untuk melupakan gadis itu, ternyata aku salah”. lanjutnya lagi, tersirat jika sekarang Kyu Hyun benar-benar menyesal, lebih tepatnya sangat menyesal.

“kau belum terlambat, kau masih bisa memperbaiki kesalahanmu, dan dulu kau sempat mengatakan jika gadis itu masih memiliki adik bukan? Kenapa tidak menemuinya saja dan mengatakan permohonan maaf mu, lagi pula ini murni kasus tabrakan Kyu, dan bukan kau yang menabraknya, jadi aku rasa adiknya bisa mengerti keadaanmu setelah itu kau bisa mencoba mencintai gadis lain yang bisa membuatmu tenang, hanya itu caranya”. Jelas Dong Hae panjang lebar, pria itu memang benar ia memang seharusnya meminta maaf pada adik mendiang sahabatnya itu, tapi sayang adik gadis itu juga ikut menghilang dari kediamannya setelah proses pemakaman kakaknya usai.

“aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, sejak pertama kali aku bertemu dengannya saat itu, dipemakamanpun aku hanya bisa melihat punggungnya yang naik turun karena terus menangis, setelah itu tidak pernah lagi”.

“kau tidak mencoba mendatangi kediamannya?”.

“sudah, tapi gadis itu menghilang tidak ada kabar lagi hingga saat ini”. dengan susah payah Kyu Hyun menjelaskannya, tanpa ia sadari kini tangannya bergetar. Dong Hae menghela napasnya panjang, ia tau ini terlalu rumit untuk seorang Cho Kyu Hyun yang sibuk dengan perusahaannya.

“aku rasa dia sudah mengikhlaskan kematian kakaknya, dan sekarang sudah hidup bahagia”. Ucap Dong Hae mencoba menguatkan Kyu Hyun yang tampak semakin buruk karena pembicaraan mereka kali ini.

“aku hanya takut, jika ia balas dendam dan membunuhku. Seperti yang pernah ia ucapkan dimasa lalu, aku rasa ia sudah menjadi penembak jitu sekarang”.

“penembak jitu? Memangnya dia seorang pria?”. Kyu Hyun menggeleng. “lalu?”. lanjut Dong Hae tak sabaran.

“dia gadis cantik. Sangat berbeda dengan kepribadian kakaknya. Pandangannya tajam, gadis cuek dan dingin”. Jelas Kyu Hyun, lalu memasukkan potongan daging kedalam mulutnya dengan malas-malasan.

“bukan tentang itu, tapi tentang penembak jitu dan ucapannya”. Tanya Dong Hae lagi.

“ia pernah mengatakan jika seseorang menyakiti kakaknya, dia akan menginjak leher orang itu sampai mati dan seingatku dia bercita-cita menjadi penembak jitu dikemiliteran Korea”. Dong Hae yang mendengarkan hal itu segera meneguk air mineral yang sejak tadi belum disentuhnya melongo mendengarkan penjelasan Kyu Hyun yang terdengar lebih horor dari film vampire.

“kau harus berhati-hati, aku rasa gadis itu tidak main-main dengan ucapannya, ini benar-benar membuatku ngeri, aku rasa aku tidak akan dibunuh olehnya karena aku tidak pernah menyakiti kakaknya selama ini”. Dong Hae berkedik melanjutkan makan malamnya bersama Kyu Hyun tanpa membahas apa-apa lagi tentang gadis itu.

~~~000~~~

“apa kita harus membunuh gadis kaya raya itu?”. suara itu membuat perhatiannya tersita, mendongakkan kepalanya melihat kearah gadis yang kini berdiri disampingnya.

“Aku hanya menyuruhmu terus mengawasinya, masih banyak hal yang harus kita lakukan sebelum gadis itu mati ditanganku”. Pria itu mengacak rambutnya sendiri, terlihat dari keadaannya saat ini bahwa ia benar-benar dalam keadaan tidak baik-baik saja.

“berapa lama lagi? Sampai kau menemuinya dan jatuh cinta padanya? Kau belum bertemu dengannya. Kau hanya melihatnya sesekali di tayangan televisi”.

“aku tidak akan jatuh cinta pada gadis itu”. tandas pria itu. “dia sudah mengambil semua aset perusahaanku dan menenggelamkan aku dalm kebrangkutan, apa kau pikir aku akan mencintainya? Apa aku terlihat tidak waras? Aku mau kau membantuku Eun-ah?”. Jae Eun menoleh menatap mata kebencian yang terlihat jelas menyiratkan di wajah Eun Hyuk, ia kenal betul pria ini dan tidak ada yang bisa ia lakukan selain bersekutu dengan pria yang bahkan tidak pernah tau bagaimana perasaanya selama ini, terlalu sulit bagi Jae Eun berbasa-basi tentang perasaanya pada pria yang notabene suka bermain dengan gadis-gadis cantik diluar sana, bukan karena dia benar-benar bejat, hanya saja orang-orang sudah lebih dulu mengatakan pria itu sebagai PlayBoy yang patut di acungi jempol, dan akhirnya dengan terpaksa dan sedikit senang hati Eun Hyuk menikmati gelar itu untuknya.

“aku akan melakukan sesuai dengan apa yang sudah kau perintahkan, aku merasa aku adalah wanita bodoh yang terus saja mau kau suruh-suruh”. Ucap Jae Eun enteng lalu berniat meninggalkan pria itu diruang kerjanya, tidak sampai beberapa langkah karena tangan kekar milik Eun Hyuk kini sudah menahan pergelangan tangan gadis cantik bertubuh ramping itu.

“kau keberatan?”. Ucap Eun Hyuk, menatap manik mata gadis itu yang terlihat syok atas perlakuannya.

Jae Eun menggeleng tersenyum kearah Eun Hyuk. “kau tau? Aku juga bukan apa-apa dulunya jika kau tidak menyelamatkan gadis miskin sepertiku, jadi tidak apa jika aku membalas budi dengan cara seperti ini, istirahatlah, ini sudah sangat larut malam”. Tandas gadis itu sebelum ia benar-benar meninggalkan pria itu termangu mendengar deretan ucapan Jae Eun yang terdengar pasrah.

~~~000~~~

“kau membeli mobil sport? Lagi? Astaga Seo Na kau mau membuat kediamanmu penuh dengan barang yang berharaga Nol nya sampai tidak bisa aku hitung?”. Yoo Ra mengelilingi mobil Ferari bewarna putih keluaran terbaru tahun ini, ini ketiga kalinya gadis itu membeli mobil sport di tahun yang sama yang selalu direspon teriakkan histeris dari sahabatnya Yoo Ra, bukan bermaksud pamer gadis itu hanya terlalu bernapsu melihat deretan-deretan mobil keluaran terbaru yang sudah terpampang di internet, ia bisa mengakses perusahaan mobil itu dan mengirim uang ke pabriknya langsung lalu dengan segera mendapatkan mobil yang ia inginkan, semudah itu sampai-sampai ia lupa untuk apa barang-barang mahalnya ini.

“setidaknya jika aku memiliki mobil mewah seperti ini kau juga bisa menaikinya dengan Cuma-Cuma bukan?”. Goda Seo Na yang hanya direspon cibiran dari sahabatnya itu.

“lalu kau mau apa dengan mobil ini? kau akan membuatnya menjadi sarapanmu pagi ini? atau kau mau memesan coklat dari swiss lagi lalu mengirimkannya ke Seoul?”. Celoteh Yoo Ra tidak henti-hentinya melihat ekspresi Seo Na yang kini sedang tertawa terbahak-bahak dihadapannya itu. “aku harus cepat-cepat mencarikan suami untukmu sebelum kau membeli setengah eropa lalu membawanya kemari”. Yoo Ra berdelik lalu menyeret Seo Na masuk kedalam apartemen mewahnya dikawasan elite Gangnam.

Keduanya asik menyantap sarapan yang sudah terhidang diatas meja makan, Seo Na memang tidak menempati rumah mewahnya yang terlalu besar untuk dirinya sendiri, ia lebih memilih membeli sebuah apartemen luas dan mewah yang harganya lagi-lagi bisa membuat orang yang mendengarnya tercengang. Simpel saja, Seo Na tidak ingin terlalu diekspos oleh orang-orang dengan kekayaan yang dia miliki, cukup infestor dan beberapa pengusaha saja yang mengenalnya, ia tidak ingin dikenal sebagai Park Seo Na yang banyak dikenal orang, ia hanya ingin menjadi Park Seo Na yang dingin tertutup dan tidak memiliki minat untuk mengurus hal yang tidak bersangkutan dengannya, terlalu membosankan bagi gadis itu.

“apa kau sudah siap?”. Yoo Ra membuka percakapan diantara mereka lagi yang sejak tadi sibuk dengan makanan dan pikiran mereka masing-masing. “esok kau akan menemuinya Seo Na”. Lanjut Yoo Ra.

“menurutmu bagaimana?”. Jawab gadis itu enteng, mengunyah makan yang ada didalam mulutnya.

“tidak mudah, dia bukan pria yang kau kenal saat 8 tahun lalu lagi, dia sudah banyak berubah. Kau tau, aku mendengar dia bahkan tidak berniat memiliki hubungan dengan gadis manapun sejak ia kehilangan kakakmu”. Seo Na tertawa geli, kenapa pria itu yang malah prustasi dan sok lemah didepan semua orang? Bukankah pria itu tidak mencintai kakaknya? Seharusnya ia sudah menikah dengan wanita yang menjadi tipenya.

“aku pikir ia sudah menikah dan memiliki banyak anak, tapi ternyata ia masih berusaha sok lemah dan kehilangan Seo Yeo? Dia pikir Seo Yeo akan bahagia di surga sana melihat acting konyolnya yang membuatku ingin muntah. Cih! Kenapa kakak-ku terlalu menggagungkan pria bermuka tua itu”. umpat Seo Na tiap kali ia membicarakan pria yang ia maksud. Mungkin semua kebenciannya terhadap pria itu akan musnah ketika ia berhasil membunuh pria itu dengan kedua tangannya.

“saat aku melihat ia diperusahaanya waktu itu, ia terlihat tampan bahkan jauh dari kata –muka tua- yang selalu kau ceritakan padaku, mustahil jika tidak ada wanita yang menginginkannya, atau jangan-jangan pria itu sama saja denganmu? Menyukai sesama jenis”. Ucap Yoo Ra hati-hati sebelum Seo Na membuat piring terbang lagi pagi ini.

“Yak!!!-“.

Tangan gadis itu terhenti diudara ketika ponsel layar sentuhnya sudah begetar tidak jauh dari jangkauannya dan kali ini Yoo Ra terselamatkan dari amukan mengerikan Seo Na yang bisa membuat Uvo terbang pagi ini. gadis itu mengangkat telponnya setelah melihat nama seorang dilayar ponsel canggihnya itu.

“Yeoboseyeo”. Ucap gadis itu dengan nada dingin tanpa ada keramahan sedikitpun, tapi pria yang diseberang sana malah mengutuk-ngutuknya mendengar suara Seo Na yang selalu terdengar tidak bersahabat.

“Ya! tidak bisakah menjawab telponku dengan tidak menggunakan suara mematikanmu itu Park Seo Na!”. Seo Na mencibir lalu tertawa renyah mendengar dumelan pria jakung diseberang sana.

“ya ya, ada apa Oppa”. Jawab Seo Na kali ini dengan nada sedikit melunak dan menaruh embel-embel Oppa di ujung kalimatnya.

“kalau kau terus memanggilku Oppa dan berubah menjadi gadis manis aku akan memberikanmu amunisi yang bisa membunuh seseorang dengan sekali tembakan”. Terdengar tawa memecah dari ujung sana yang hanya direspon cengiran tak minat dari gadis itu.

“jadi bagaimana? Kau hanya menyuruhku untuk mendengar tawamu yang jelek itu pagi ini?”.

“jika kau bukan wanita cantik sudah ku habisi kau Seo Na”. Ancam pria itu yang sebenarnya tanpa maksud yang serius.

“apakah aku harus takut dan berlari kepengacaraku dan mengadukanmu bahwa kau mau membunuhku, Ohh Lee Teuk Oppa aku takut dengan ancamanmu”. Suara Seo Na yang dibuat-buat Aegyo membuat si penelepon dan Yoo Ra yang berada disampingnya hampir muntah melihat ekspresi gadis itu seperti orang yang sedang menahan kencingnya.

“astaga Seo Na, kau membuat Oppa-mu yang tampan ini bisa gila”. Pekik Lee Teuk lalu melanjutkan penjelasannya tentang permintaan gadis itu sejak seminggu yang lalu. “soal pistol yang kau katakan padaku kemarin, aku sudah mendapatkan salah satu pistol yang dijuluki senjata paling mematikan didunia, Pistol berjenis FN 57 aku sengaja memesan pistol ini langsung dari negara asalnya Beligia, jenis senjata tunggal blowback dengan peluru 5,7 x 2.8mm dan memiliki jangkauan efektif 50ms , pistol ini dapat kau stel dengan jarak pandang tertentu, aku rasa kau bisa membunuh siapa saja dengan sekali tembakan”. Jelas pria bermarga Park itu yang kini sedang bekerja disalah satu Agent resmi milik Korea Selatan yang menangani kasus perampokan, pencurian dan teror pembunuhan.

“baiklah, sampai kapanpun kau menjelaskan tentang senjata yang aku saja tidak ingat lagi namanya itu tetap saja aku tidak akan mengerti Oppa. Kau hanya perlu mengirim benda itu ke apartemenku sebelum besok pagi”. Ucap gadis itu yang lebih terdengar memerintah dan penuh intimidasi.

“aku hanya meminjamkannya padamu Bodoh! Aku tau kau sekarang sudah mendapat izin memiliki senjata api tetapi tetap saja kau tidak boleh memiliki benda ini seutuhnya, aku hanya meminjamkan barang mematikan ini selama kau membutuhkan setelah itu kembalikan padaku. Lagi pula aku bersyukur jika waktu itu kau tidak masuk dalam organisasi penembak jitu, aku takut kau bisa saja membunuh banyak orang karena ambisi liarmu”.

Seo Na tertawa mendengar celotehan pria itu yang sudah ia kenal sejak masih kecil, Lee Teuk adalah tetangganya yang dulu juga berteman dengan mendiang kakaknya, dari pria itu ia mengetahui berbagai jenis senjata juga organisasi yang bekerja untuk melindungi negara, awalnya gadis itu memang merengek untuk memaksa masuk dalam Organisasi penembak jitu, tapi pria itu melarangnya dengan alasan gaji seorang penembak jitu tidak lebih banyak dari seorang pengusaha kaya raya yang bisa memimpin perusahaan, dan itu terbukti gadis itu memilih melanjutkan perusahaan keluarganya yang kini memang sudah memiliki berbagai cabang dan saham-saham disetiap negara.

“Ya ya ya, aku mengerti Oppa”. Sanggahnya sebelum pria itu berceramah lagi dan Seo Na segera menutup sambungan telponnya.

Yoo Ra mengerutkan keningnya, menatap Seo Na yang kini tengah tersenyum-senyum sambil melenjutkan sarapannya. “kau mendapatkan benda itu?”. tebak Yoo Ra, Seo Na mengangguk semangat. “astaga! Apa Lee Teuk ajhussi itu sudah gila memberikan benda mematikan itu pada gadis yang berambisi mematikan orang ini”. ucap Yoo Ra stress, gadis itu memegang kepalanya yang hampir pecah.

“memangnya kenapa?”. Tanya Seo Na enteng lalu meninggalkan Yoo Ra dimeja makan dan tetap melayangkan ocehan-ocehan dan ceramahnya yang persis pernah Seo Na dengar digereja-gereja.

~~~000~~~

“mereka sudah menyetujui kita untuk bertemu besok, jadi kita bisa meminta bantuan pada perusahaan itu untuk menaruh saham di perusahaan kita”. Kyu Hyun mengangguk mendengar penjelasan dari Ye Sung sebagai Menager di bagian industri. “Kyu, aku dengar pemimpin perusahaan itu adalah seorang wanita, aku tidak menyangka perusahaan sebesar itu bergerak dibawah kepemiminan seorang wanita sebagai direktur utamanya”. Ucap Ye Sung penuh dengan kekaguman.

“tidak ada yang mustahil Hyung, mengingat wanita juga bisa memimpin suatu negara”. Ucap Kyu Hyun tidak terlalu berminat, karena kali ini ia akan berurusan dengan wanita yang bahkan ia hindari selama ini.

“aku rasa itu tidak buruk, mengingat direktur utama perusahan PTI Corp itu adalah gadis berumur 23 tahun yang belum menikah dan mempunyai wajah yang tidak kalah cantik dari artis-artis papan atas”. Ucap Ye Sung yang hanya tetap tidak mendapatkan respon ketidak-minat-an Kyu Hyun dengan ceritanya.

“baiklah Hyung, ini data-data yang akan kita ajukan pada PTI Corp esok hari, aku harap kita bisa menyelesaikan masalah ini”. Ye Sung mengambil berkas-berkas itu lalu meninggalkan ruang kerja Kyu Hyun sebelum permisi pada pria itu.

~~~000~~~

Dong Hae berjalan menelusuri trotoar yang tidak terlalu jauh dari apartemennya, pria itu memilih sedikit berolahraga di pagi hari sebelum ia berangkat ke ke kantornya. Ini sudah sangat lama sekali sejak pria itu terakhir lari-lari kecil disekitar kompleks apartemen ini, tanpa sengaja ia mengingat ucapan Ibu nya beberapa hari yang lalu ditelepon, untuk menyuruh pria itu segera menikah dan membawa seorang istri ke tanah kelahirannya Mokpo dan mengenalkan pada Ibunya, sebenarnya kata-kata menikah terdengar begitu asing ditelinga pria bertubuh seksi itu, mengingat ia lupa bagaimana jatuh cinta karena selama ini ia terlalu sibuk menangani perusahaan yang diwariskan Ayahnya setelah beliau meninggal, perusahaan yang bergerak dibidang perikanan itu, tidak terlalu besar hanya perusahaan yang cukup sukses dibidangnya.

Tidak lama pria itu berkutat dengan lamunannya karena kali ini tubuhnya sudah terhuyung dan terjatuh kesisi trotar menyebabkan sedikit luka disiku pria itu. Dong Hae bangkit dan mencoba menoleh pada gadis yang kini sudah tergesa-gesa menghampirinya, gadis yang bisa dengan jelas ia lihat parasnya mengendarai mobil sport merk Ferrari bewarna putih.

Gweanacana?”. Terdengar suara tidak begitu lembut namun sarat akan kekhawatiran di nada ucapannya, gadis itu membantu Dong Hae bangkit.

“tidak apa-apa Nona, aku baik-baik saja”. ucap Dong Hae masih menatap paras gadis itu yang kini tidak henti-hentinya menatap sekujur tubuh Dong Hae dan mendapatkan pemandangan luka yang memang tidak terlalu besar disiku pria itu namun cukup membuatnya merasa sangat bersalah.

“tapi sikumu, apa aku harus mengobatimu? Aku rasa aku mengetahui rumah sakit disekitar sini”. Ucapnya tetap dengan nada cemas.

“tidak perlu, aku bisa mengobatinya ini hanya luka ringan”.

“lalu kau membiarkanku tidak bertanggung jawab, Tuan? Sejujurnya aku merasa bersalah karena hampir menabrakmu”. Kali ini nada bicara gadis itu terdengar lebih dingin dan kaku, seluet wajahnya sudah tidak sekhawatir awal tadi, gadis ini memang pandai mengubah ekspresinya dalam sekejap mata, menarik sekali, pikir Dong Hae. Pria itu menimang-nimang sejenak sebelum mengucapkan sesuatu yang membuat gadis yang berada didepannya ini cukup syok.

“aku hanya ingin kartu namamu”.

~~~000~~~

“apa katanya?”. Yoo Ra menunggu didalam mobil membiarkan Seo Na meminta maaf pada pria yang baru saja hampir mereka tabrak. “sudah kukatakan untuk berhati-hati!”. Tekan Yoo Ra kali ini.

“hanya sikunya saja yang terkena luka ringan. Pria menggelikan, bukan uang tapi kartu namaku”. Jelas Seo Na yang masih tidak dimengerti sama sekali oleh sahabatnya itu.

“maksudmu?”. Tanya Yoo Ra intens, Seo Na tetap memusatkan perhatiannya pada jalanan kota Seoul yang cukup ramai.

“dia tidak meminta uang untuk mengobati lukanya, tapi kartu namaku. Sejak kapan rumah sakit bisa menerima pembayaran lewat kartu nama seseorang”. Yoo Ra tertawa mendengar ocehan Seo Na yang terdengar jengkel oleh pria itu, gadis itu entah apa yang membuatnya tidak pernah bisa berminat atau bersikap lembut pada seorang pria terkecuali rekan bisnisnya.

“hahaha kau terlalu kaku Na-ya, kau tau mungkin saja pria itu menyukaimu dan meminta kartu namamu jika sewaktu-waktu ia merindukanmu lalu menghubungimu meminta untuk bertemu denganmu, tapi aku kasihan pada pria itu apa dia tidak tau jika gadis yang ia sukai itu tidak menyukai jenis manusia manapun”. Ejek Yoo Ra yang hanya direspon jambakan dirambutnya, gadis itu mengeluh mengusap kepalanya sendiri.

“Ya! aku baru saja melakukan perawatan dengan rambutku!”. Dumel Yoo Ra. Seo Na mencibir menghentikan mobilnya persisi didepan gedung PTI Corp.

“hubungi Lee Teuk Oppa setelah ini, suruh dia menemuiku dikantor saja, aku tidak bisa menunggu hingga matahari terbenam, pria itu suka mengundur-undur waktuku”. Perintah gadis itu pada sahabatnya sebelum mereka memasuki halaman gedung besar itu dan kembali menjalani aktifitas perusahaan seperti biasa.

~~~000~~~

“bagaimana? Kau lihatkan? Setelah itu aku yakin ia akan membeli pabrik mobil sport itu”. ucap Jae Eun pada pria yang kini tengah mencengkam stir mobilnya. “santai saja, kau masih belum melihat paras gadis itu, sudah banyak pria yang menginginkannya, karena ia terlalu cantik, mungkin”. Lanjut Jae Eun.

“aku tidak peduli seberapa cantik gadis itu, yang aku inginkan ia terbunuh. Lakukan pertemuan pribadi dengan gadis itu, aku ingin ia meminjamkan sahamnya pada perusahaan kita-“.

“pertemuan? Oh my God Hyuk, kau pikir gadis itu punya banyak waktu hanya untuk bertemu dengan pengusaha yang hampir bangkrut sepertimu?”.

“aku belum bangkrut Eun-ah, apapun kendalanya aku ingin kau mengatur semuanya!”. Ucap pria itu dengan penuh penekanan.

“baiklah-baiklah, aku tidak ingin berdebat lagi dengan mu tuan Lee. Dan aku pastikan jika nantinya kau menyukai gadis itu”. Eun Hyuk menatap gadis itu tajam, lagi-lagi kata-kata itu yang hampir membuatnya pusing. “aku tidak akan mengatakan hal itu lagi. Bagaimana, bisa kita pergi sekarang? Sebelum beberapa pengamanan gedung ini mencurigai kita”. Tandas Jae Eun sebelum pria itu menekan pedal gas mobil Jeep nya meninggalkan area depan gedung PTI Corp itu.

~~~000~~~

“bagunlah gadis jadi-jadian! Kau tidak tau ini sudah jam berapa?! Haruskah aku setiap hari berlari dari apartemenku yang berada dilantai bawah lalu kemari hanya untuk membangunkanmu!”. Pekik Yoo Ra memenuhi semua ruangan kamar Seo Na, yang kini masih meringkuk didalam selimutnya tanpa sedikitpun berminat untuk bangkit dari sana.

“Hmmm”. Gumam gadis itu setengah sadar masih berkutat dengan mimpinya.

“Astaga Park Seo Na, kau lupa hari ini hari yang kau tunggu-tunggu selama 8 tahun ini, apa kau tidak ingin menyambutnya?”. Akhirnya pertahanan gadis itu runtuh setelah Yoo Ra mengucapkan kalimat -8 tahun- yang membuat Seo Na bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi masih dengan mata tertutup.

“jika sudah menyangkut Kyu Hyun semangat hidup gadis itu selalu pulih kembali, mau jadi apa gadis itu?”. oceh Yoo Ra sambil tersenyum lalu membersihkan tempat tidur sahabatnya itu.

~~~000~~~

Keduanya terdiam, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut satu sama lain. Kaku, itulah yang keduanya rasakan, dan apa yang dirasakan gadis itu saat ini adalah ia ingin sekali membunuh pria yang berada didepannya saat ini, tapi tidak mungkin ia tidak sebodoh itu, meskipun saat ini gadis itu tengah membawa senjata api didalam tasnya yang baru saja diberikan Lee Teuk siang kemarin setelah ia memaksa pria itu ke kantornya.

Seo Na masih punya rasa manusiawi saat ini, dia tidak akan sebodoh itu ini masih permulaan untuk permainannya yang panjang, setidaknya menyakiti pria itu terlebih dahulu adalah ide yang bagus setelah apa yang dilakukan pria itu selama ini terhadap kakaknya, dan ini sudah tahun ke 8 sejak Seo Yeo meninggal tapi rasa dendam itu tidak pernah hilang dari diri Seo Na.

“terimakasih sudah sempat kemari”. Ucap Kyu Hyun akhirnya, tersenyum kearah gadis itu yang dibalas anggukan oleh Seo Na, demi Tuhan ia ingin sekali meremas mulut pria itu jika ia tetap tersenyum kearah Seo Na. Seperti yang dikatakan Yoo Ra, Kyu Hyun memang sudah sangat jauh berubah, bahkan entah sejak kapan gadis itu sedikit merasa canggung ketika Kyu Hyun melemparkan senyuman kepadanya, setidaknya ia tau sekarang kenapa Seo Yeo kakak-nya begitu menggilai pria ini, karena Kyu Hyun tampan. Tapi apapun yang siguhkan oleh paras pria itu ia yakin ia tidak akan jauh merasakan apapun, tetap pada tujuannya membunuh pria ini.

“Cho Kyu Hyun”. Lanjut pria itu lagi mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri pada Seo Na dan entah kenapa ketika pria itu menyebut namanya ingin sekali ini mendorong pria itu sesegera mungkin kejurang.

Seo Na menyambut tangan pria itu setelah beberapa detik tergantung diudara.”Park Seo Na”. Ucap gadis itu dengan mantap menyebutkan namanya, Kyu Hyun mengerutkan namanya, nama yang hampir sama dengan seseorang tapi tidak mungkin gadis cantik yang berada dihadapannya saat ini mempunyai hubungan dengan gadis dimasa lalunya itu.

“lalu apa rencana yang akan kita lakukan untuk perusahaan mu Tuan Cho?”. Tanya gadis itu, tetap dengan nada bicara yang penuh ambisi dan dingin, tidak ada sedikitpun terdengar suara lembut dan mengayun-ayun merdu seperti gadis biasa lainnya.

“aku hanya ingin menawarkanmu untuk menaruh beberapa saham di perusahaanku, kau pasti tau jika produksi dan penjualan industri di Cho Comp jauh merosot, aku hanya ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan mu Nona Park dan perusahaan kita bergerak di bidang yang sama bukan, bidang industri”. Jelas Kyu Hyun dengan nada bicaranya yang tidak kalah tegas dan menuntut, pria jenius dengan IQ diatar rata-rata dan kadar ketampanan wajah yang mampu membuat semua wanita terpesona, mungkin kecuali gadis yang kini tengah duduk manis dihadapannya.

“berapa saham yang harus ku tanam pada perusahaanmu? 30 %? Atau 50%? Atau –“.

“hanya 10% Nona Park, dan itu mungkin sangat membantu. Aku sudah mengetahui banyaknya perusahaan yang bergerak dibawah naungan PTI Corp, dan aku cukup kagum dengan usaha dan kerja keras mu selama ini, perusahaan itu menjadi besar dan bahkan memiliki anak perusahaan disetiap negara, aku rasa kau bisa bekerja sama denganku, lagi pula aku juga bekerja sama dengan merk terkenal perusahaan Samsung, dan itu juga akan sangat membantu bukan?”. Jelas pria itu lagi yang direspon anggukan dari Seo Na, dan kali ini satu lagi kelebihan yang ia dapat dari pria itu, Cho Kyu Hyun yang dibencinya adalah pria pintar yang penuh akan ide-ide manarik.

“sepertinya penawaranmu menarik Kyu Hyun-ssi, kalau begitu kapan kita bisa mulai bekerjasama?”.

~~~000~~~

Kyu Hyun menekan-nekan tengkuknya dengan tangan kanannya, hari ini cukup melelahkan bagi pria itu, bernegosiasi dengan seorang pengusaha cantik seperti Park Seo Na adalah pertama kali baginya, tidak pernah lagi berhubungan dengan wanita membuatnya cukup merasakan adrenalin yang menantang, ditambah lagi jika dilihat-lihat gadis itu sempuran, cantik, berwibawa, tegas, dan juga kaya raya. Tapi bukan itu yang membuat pria itu sedikit merasakan keanehan setiap menatap mata gadis itu, tapi ada sesuatu hal yang begitu istimewa didiri Seo Na yang sampai saat ini belum diketahui pria itu, sesuatu yang berbeda, mungkin.

Pria itu meraih ponselnya, menyentuh beberapa nomor, meletakkan benda silver itu mendekat ketelinga kirinya. “Hyung, besok pagi kita akan menandatangai kontrak dengan perusahaan itu, pemilik perusahaan itu menyetujuinya”. Ucap Kyu Hyun yang direspon teriakkan kegirangan oleh Ye Sung dari seberang sana.

“aku rasa gadis itu terpikat karena pesonamu Kyu, dan bagaimana gadis itu? aku tidak salahkan? Dia cantikkan?”. Kyu Hyun mengangguk tanpa diketahui oleh teman bicaranya itu.

“sepertinya begitu, baiklah kita akan bicarakan hal ini dikantor, gadis itu akan datang sebelum makan siang”. Lanjut Kyu Hyun sebelum mematikan sambungan teleponnya.

~~~000~~~

Keduanya lama kembali larut dalam keheningan diantara makan siang mereka setelah membicarakan bisnis perusahaan keduanya. Seo Na merasakan ada sesuatu yang beda yang kini ia rasakan. ‘Gila!’, pekik gadis itu dalam hatinya ketika menyadari sejak tadi mata Kyu Hyun tidak terlepas memandanginya. Pria itu tidak akan menyadari bukan jika ia adalah adik Park Seo Yeo, lagi pula Seo Na dan Seo Yeo sama sekali tidak memiliki kemiripan yang siknifikan ditambah lagi watak keduanya sangat berbanding terbalik, jadi mustahil jika pria itu mengenalnya sebagai adik Seo Yeo.

“ada yang salah denganku Kyu Hyun-ssi?”. ucap Seo Na akhirnya sebelum ia benar-benar menyeret pria itu dan menendang bokongnya. Kyu Hyun tersenyum lalu menggeleng.

“tidak, aku hanya merasa ada yang aneh”. Ucap pria itu akhirnya.

“tentang?”.

“entahlah, aku rasa- hm, lupakan mungkin aku hanya sedang tidak fokus”. Ucap pria itu dengan nada tenang, Seo Na menahan napsunya kali ini, napsu untuk menggerogoti nyawa pria itu, tapi entah kenapa melihat Kyu Hyun yang tampak bingung seperti itu ia merasa ada sesuatu yang sepertinya memenuhi pikiran pria itu.

“ada sesutatu yang mengganjal Kyu Hyun-ssi? mungkin aku bisa menjadi temanmu mulai saat ini dan aku bisa bercerita banyak padaku, ya maksudku aku rasa kau hanya perlu melampiaskan semua apa yang kau rasakan dengan bercerita kepadaku misalnya”. Ucap Seo Na hati-hati, jujur ia sama sekali tidak berminat menjadi teman curahan hati pria itu atau apalah namanya, ia hanya ingin mencari titik lemah Kyu Hyun, menghancurkan hidup pria itu seperti apa yang sudah dilakukan Kyu Hyun pada Seo Yeo.

Kyu Hyun menatap gadis itu lekat-lekat ia tidak salah kan dengan ucapan gadis itu, yang dengan gamblangnya memberikan penawaran menjadi teman untuknya.“baiklah, aku tidak akan memaksamu bercerita lagi pula ini diluar kekuasaanku-“.

“kau seperti seseorang yang pernah terlupakan dimasa lalu Park Seo Na”.

Deg!

~~~000~~~

Seo Na melempar jasnya kesembarangan arah menghempaskan tubuh rampingnya itu keranjang ukuran big size yang –jangan ditanya harganya berapa. Gadis itu masih terngiang-ngiang dengan pertemuannya dengan pria itu tadi siang, dan itu hampir membuat kepalanya meledak, bukan seperti itu yang seharusnya terjadi, tapi kenapa pria itu terlalu pintar untuk cepat menyadari bahwa dirinya pernah hadir dimasa lalu pria itu, ya memang hanya pertemuan yang tidak berharga tapi bagaimana pria itu merasakan hal yang demikian.

“Ya! aku sudah menghubungimu berkali-kali, kenapa tidak mengangkat teleponnya?”. Teriak Yoo Ra yang baru saja masuk kedalam kamar gadis itu sambil mengoceh tak jelas.

“astaga Yoo, kau mengagetkanku! Lagi pula kau tau hari ini hari yang aku nanti-nantikan seumur hidupku!”. Balas teriak Seo Na membuat Yoo Ra menutup kedua telinganya dengan tangan.

“baiklah, aku mengerti”. Yoo Ra mengalah kali ini sebelum sahabatnya itu berteriak-teriak lagi. “lalu bagaimana? Apa pria itu mencurigaimu? Dan yang aku katakan benar bukan? Jika Kyu Hyun tidak bermuka tua seperti yang kau katakan itu, ya kan?”.

“kau banyak bicara Yoo, aku tidak tau harus menjawab pertanyaanmu yang mana”. Yoo Ra terkekeh mendengar gadis itu malah mengeluh menanggapi pertanyaannya yang memang terkesan brutal. “aku bertemu dengannya, dan menyetujui menaruh saham sebesar 10% sesuai permintaan pria itu dan masalah yang kau tanyakan itu kau benar dia sudah berubah dan memang sangat tampan, tapi masalahnya ketampanan pria itu tidak membuatku tertarik sedikitpun, bagaimana?”.

“astaga! Hatimu terbuat dari apa gadis jadi-jadian! Aku rasa kau memang penyuka sesama jenis!”. Teriakkan Yoo Ra membuat Seo Na tertawa puas, ia selalu suka menakut-nakuti sahabatnya itu yang selalu beranggapan jika dirinya itu penyuka sesama jenis, tanpa ada yang tau sesungguhnya gadis itu masih sangat normal yang seharusnya mendapat kasih sayang, mungkin.

Keduanya tiba-tiba terkejut dengan getaran ponsel Seo Na yang tergeletak di atas ranjang gadis itu, dengan malas-malasan ia meraih benda hitam itu, memandangi layarnya sejenak lalu memutuskan untuk menggeser warna hijau pada layar ponselnya.

Yeoboseyeo”.

“benar ini Park Seo Na-ssi? aku Lee Dong Hae, pria yang hampir kau tabrak kemarin”.

Ne?”.

 

To Be Continue

 

~~~000~~~

Advertisements

TEARS ARE FALLING (6/6)

Standard

TEARS ARE FALLING (6/6)

Action, romance. PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast

 

Keduanya hanya bungkam, tanpa mengatakan apapun. Gadis itu lebih banyak menikmati rasa sakit yang kini tiba-tiba ia rasakan, sudah berkali-kali ia menahan air matanya tetap saja cairan bening itu terus mengalir beserta dengan isakkan tangis yang bahkan tak bisa diredam, entah kenapa semuanya terasa begitu sakit, padahal sudah jelas bukan pria yang dihadapannya ini tidak memiliki hubungan apapun dengannya, tapi kejadian yang baru ia lihat dengan mata kepalanya beberapa waktu lalu cukup membuatnya sakit, bahkan hatinya benar-benar linu saat ini.

“aku bisa menjelaskannya”. Pria itu meraih kedua bahu Seo Na, namun gadis itu menepisnya, ia memalingkan tubuhnya dari hadapan pria itu. tidak, ia tidak ingin mendengar apapun dari mulut pria itu, hatinya sedang benar-benar sakit.

“untuk apa? Untuk mengatakan jika dia itu kekasihmu? Banyak yang kau sembunyikan dariku Aiden-ssi, masa laluku, semuanya. Kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku? Katakan saja semua yang kau sembunyikan dariku, katakan dan aku bisa secepat mungkin lepas darimu. Kau tau, aku benar-benar tersiksa, bahkan ini tidak seperti yang ku inginkan. Aku ingin hidup dengan baik, aku ingin melakukan semuanya dengan baik. ku mohon, katakan padaku!”. Seo Na menarik napasnya, gadis itu berbicara dengan susah payah, bahkan Dong Hae tidak bisa membedakan gadis itu sedang berbicara atau terisak.

Pria itu menarik tangan Seo Na, meskipun gadis itu meronta tak ingin ikut dengan pria itu tapi tetap saja kekuatan pria itu lebih besar, Dong Hae mengiring gadis itu kedalam mobilnya, mungkin dengan menunjukkan suatu tempat gadis itu bisa mengingat semuanya, mungkin.

~~~000~~~

“aku tidak menyangka kau seperti ini Yu Ra-ya, persetan dengan ambisi mu memiliki pria itu, tapi tidak seharusnya kau menyakiti gadis itu!”. nada bicara Hee Chul meninggi, ia tetap fokus pada jalanan namun otaknya kini benar-benar berkecamuk.

Wae? Aku tidak melakukan apa-apa pada gadis itu, aku hanya-“.

“kau pikir aku tidak mendengar pembicaraan kalian tadi? Jadi gadis itu hilang ingatan karena ulahmu? Ya! kau itu gadis yang baik selama bersamaku, tapi kenapa kau malah berubah menjadi monster sejak aku meninggalkanmu, Eo?! Kau masih menganggapku Oppa-mu bukan, jadi berhentilah menyakiti orang lain Yu Ra-ya!”. Hee Chul menginjak pedal rem mobilnya mendadak, kepala gadis yang berada disampingnya itu hampir terbentur kedepan.

Aish! Ya! seharusnya kau mikirkan ku juga Oppa, aku juga sama terlukanya dengan dia”. Tandas gadis itu, Yu Ra tidak ingin kalah, ia tidak ingin mengakui semua yang telah ia lakukan, yang ia tau Dong Hae harus jadi miliknya.

“kau egois, karena itu Dong Hae tidak pernah bisa mencintaimu. Seharusnya kau bahagia melihat orang lain bahagia karenamu, bukan membuat orang lain menderita, jika kau tidak ingin mendengarkan kata-kataku lagi, kau boleh turun”.

Oppa”.

“aku tidak pernah merasa memiliki adik sepupu yang kejam sepertimu”. Lanjut Hee Chul lagi, ia tidak sedikitpun menatap kearah Yu Ra yang sejak tadi menatapnya tak percaya. Hee Chul yang selalu memanjakkannya selama ini , kali ini berani mengusirnya dari dalam mobil milik pria itu, hebat bukan?

~~~000~~~

Dong Hae menghentikan mobilnya, menepi pada trotoar di tepi sebuah pemakaman di atas bukit ditepi laut. Ia menatap Seo Na yang sejak tadi menunduk tanpa mengatakan apapun, gadis itu hanya diam meskipun ia tidak tau Dong Hae akan membawanya kemana.

“ikut denganku, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu”. Dong Hae keluar dari dalam mobilnya, berjalan memasuki area pemakaman yang banyak ditubuhi pohon bunga Cherry Blossom. Seo Na mengikuti pria itu dari belakang, tanpa mengatakan apapun.

Keduanya sampai pada salah satu makam seorang pria, masih begitu banyak bunga berjejer disana, ini sudah 3 bulan sejak ia meninggal aroma karangan bunga yang dibawa peziarah masih khas tercium disana. Dong Hae berdiri persis dihadapan makam itu, disana masih terpampampang jelas foto seorang pria memakai jas hitam dengan senyum yang menjadi ciri khasnya, ia sangat tampan di foto itu.

“lihatlah, pria ini masih tetap tersenyum setelah apa yang ia lakukan, Kyu Hyun-ssi, apa kau baik-baik saja disana?”. gumam Dong Hae, ia menatap gadis yang kini sudah berdiri disampingnya. Menatap sebuah foto berfigura cukup besar yang kini terpajang disana.

Seo Na mendekat kearah figura itu, memandanginya sambil berjongkok. Ia mengelus wajah yang berada disana, ia yakin pria ini pernah hidup dimasa lalunya. Tapi siapa? Seo Na tidak mengetahui siapa pria itu.

“siapa?”. Akhirnya gadis itu bersuara, meskipun suaranya terdengar begitu berat.

“kau tidak mengingatnya?”. Seo Na menggeleng lemah, ia benar-benar tidak mengingat pria itu, pria yang sudah mengorbankan nyawanya demi gadis itu.

“dia Cho Kyu Hyun. Pria yang mengganti nyawamu-“. Dong Hae menghentikan ucapannya, ia benar-benar belum siap melihat Seo Na harus menerima kenyataan hidupnya selama ini.

Wae?”.

“Kyu Hyun-ssi, yang mengganti nyawamu dengan nyawanya, dia meninggal 3 bulan yang lalu setelah menyelamatkanmu”. Dengan susah payah pria itu mengatakannya, Dong Hae benar, Seo Na kini menatapnya nanar, terlihat jelas bahwa gadis itu sama sekali tidak percaya, bahkan kini cairan bening itu sudah berkali-kali tumpah dipipinya.

“aku tau, ini menyakitkan. Kyu Hyun sangat mencintaimu dimasa lalu, sama seperti aku. Kami mencintaimu, kami melindungimu, tapi entah kenapa pria itu curang, ia malah berkorban banyak untukmu, pada akhirnya ia meninggal dan aku merasa aku harus menjagamu, aku harus berkorban untukmu juga Seo Na-ssi”. Seo Na tertunduk. Lebih banyak isakkan tangis yang kini didengar Dong Hae dari mulut gadis itu.

Jinjja Appo”. Rintih gadis itu, bahkan ia tidak bisa merasakan rintikkan hujan yang kini sudah membasahi tubuhnya, dihatinya ia hanya bisa merasakan sakit. Jadi seperti itu masa lalunya, seorang pria berkorban dan menggantikan nyawa Seo Na dan membiarkan nyawanya tidak terselamatkan. Meskipun Seo Na tidak mengingat apa-apa saat ini, tapi kenapa hatinya begitu nyeri. Gadis itu bangkit, berlari sekuat ia bisa tanpa menghiraukan panggilan Dong Hae.

~~~000~~~

CHAPTER 4

Apakah cinta itu? Apakah perpisahan itu?

Mengapa itu membuatku merasa sakit?

( Tears Are Falling – Wax )

Sejauh apa ia bisa berlari, sejauh apa ia harus bisa menerima kenyataan tentang hidupnya. Bagaimanapun ia harus menerima konsekuensinya bukan? Masa lalu yang ia harap adalah sebuah masa lalu yang bahagia tapi pada kenyataannya semua itu berbanding terbalik dengan yang ia harapkan, tidak ada kebahagiaan disana, yang ada hanya kepedihan dan penderitaan. Dan kini, haruskan ia mengetahui semuanya? Yang segelintir saja sudah membuatnya merasa hancur.

“Seo Na-ya! Park Seo Na!!!”. Seseorang baru saja meneriakki namanya ditengah hujan, langkah kaki gadis itu terhenti. Pria itu mendekat kearahnya, memperhatikan seluruh tubuh gadis itu yang kini sudah basah kuyup, air matanya yang terus mengalir bersama hujan, juga kondisinya yang bahkan tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

Odiga?! Waeguere?”. Pria itu menarik tangan Seo Na, menuntun gadis itu kedalam mobilnya.

Hee Chul masih bungkam, ia lebih memilih membiarkan gadis itu menangis terisak disampingnya. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah membawa gadis itu ke Apartemennya, mengganti pakaian gadis itu dengan pakaian yang kering. ‘ini sudah malam kenapa gadis ini malah berlarian ditengah hujan?’. Gumam pria itu.

~~~000~~~

“kita sudah sampai, ini gedung Apartemen tempat ku tinggal. Aku tinggal di lantai 21”. Seo Na menatap pria itu sebelum ia ikut turun dan berjalan disamping Hee Chul, meskipun kini banyak pasang mata yang tengah memperhatikan Hee Chul yang kini tengah menggandeng seorang gadis yang sudah basah kuyup dengan setelah dress putih selutut.

Oppa, Odiga?”. Ucap gadis itu pada akhirnya, Hee Chul menatap gadis itu yang seujujurnya memang benar-benar dalam kondisi yang sangat buruk.

“kita akan mengganti pakaianmu, tenang saja aku tidak akan melakukan apa-apa. Kau kedingingan, kau bisa sakit”. Hee Chul melanjutkan langkahnya, masuki lift menuju lantai 21.

Pintu lift terbuka, Seo Na menatap Hee Chul. pria itu juga balas menatapnya. “kita sampai”. Hee Chul menuntun gadis itu keluar dari lift namun beberap orang pria kini berjalan kearah mereka hampir menubruk tubuh lemah Seo Na tanpa sengaja Hee Chul memeluk gadis itu persis didepan lift, dan….

DEG!!!

Sesuatu dirasakan gadis itu, darahnya seperti mengalir dari ujung kaki hingga sampai kekepalanya, ia merasa pernah dalam keadaan seperti ini. bukankah ini persis sama dengan kejadian waktu itu bukan?

Satu tembakan….

Dua….

Tiga….

‘tembakan pertama tepat pada perutku, tembakan kedua dan ketiga… aku tidak tau mengarah pada siapa, yang jelas pria yang sedang memelukku saat ini tersungkur tepat dihadapanku’.

Seo Na menatap sekelilingnya, semua masih sama dalam keadaan yang sama, ia mengingat semua yang terlupakan selama ini. ia mengingat semua masa lalunya dengan jelas. Seo Na sipembunuh, Kyu Hyun kekasihnya dimasa lalu yang mengganti nyawa Seo Na dengan nyawanya, Aiden Lee pria yang akan ia bunuh, semuanya, teringat dengan jelas. Tiba-tiba tubuh gadis itu tidak dapat digerakkan sama sekali, isi kepalanya seperti benar-benar terputar, ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi, semua terasa gelap kembali.

“Park Seo Na!!! Seo Na-ya?!”

~~~000~~~

3 week later…

“aku akan kembali ke Amerika bersama Yu Ra-ssi, aku harus membina gadis itu disana”. Seo Na terkekeh, ia cukup sedih dengan keputusan Hee Chul untuk segera kembali ke Amerika, tapi bagaimanapun pria itu punya kehidupan yang layak disana bukan.

“terimakasih untuk semuanya Oppa, aku tidak tau harus membalasnya dengan apa. Ketika kau sampai di Amerika, aku juga harus segera ke Paris menemui kedua adikku”. Seo Na tersenyum, pria itu memeluk Seo Na. Ia beruntung bisa mengenal Seo Na, bukankah gadis ini sudah seperti adiknya.

“tidak perlu membalasnya dengan apapun, cukup membalasnya dengan menikah denganku”. Hee Chul terkekeh, menyadari ucapannya yang nyaris membuat Seo Na terbahak.

“Hahaha baiklah, aku akan menunggumu di Paris”. Goda gadis itu, dan itu hanya semakin membuat Hee Chuk terkekeh geli.

“tidak, aku tidak akan kesana untuk melamarmu. Aku bisa-bisa dihabisi oleh Aiden Lee, kau tau bukan dia begitu gila mencintaimu”. Keduanya sama-sama tertawa, sebelum kehadiran seorang pria membuat keduanya menyembunyikan tawanya.

Ya! apa kalian berdua menertawakanku? Eo? Seo Na-ya, kau berani berkencan dengan pria lain dibelakangku ya?”. Seo Na terkekeh mendengar tuduhan kacangan Dong Hae, ia mengibaskan tangannya, menarik tangan Dong Hae untuk duduk diantara ia dan Hee Chul.

Anio, kami hanya berjanji untuk menikah dikemudian hari. Ya kan oppa?”. Hee Chul mengangguk.

“tentu saja”.

Ya! Hyung, dia itu milikku”. Keduanya tertawa melihat celotehan Dong Hae yang semakin kesal dengan keduanya. Akhirnya mereka bertiga menghabiskan makan siang mereka dengan candaan dan tawa, untuk yang terakhir kalinya sebelum Hee Chul kembali ke Amerika untuk melanjutkan hidupnya.

~~~000~~~

“kita mau kemana?”. Ucap Dong Hae, Seo Na memutuskan mengajak Dong Hae kesuatu tempat setelah mereka selesai makan siang bersama Hee Chul, dan pria itu memutuskan untuk segera kembali ke Apartemennya.

“menemui kekasihku”. Seo Na sedikit terkekeh, tanpa memperdulikan wajah Dong Hae yang sudah berubah kesal.

“kekasih?”.

Ne, kekasihku”. Ucap gadis itu enteng.

Dong Hae menyipitkan matanya. “setelah Hee Chul Hyung, kau berhubungan dengan siapa lagi?”.

Seo Na menatap geli pria yang kini duduk disampingnya itu, lalu kembali fokus pada jalanan.“ aku hanya ingin berkunjung kemakam Kyu Hyun, aku merindukannya. Hei, kan aku yang jadi supirnya, Aiden-ssi tetaplah diam dan jadi penumpang yang baik.”

Keduanya sampai disana, Seo Na turun lebih awal melangkahkan kaki kecilnya menuju satu makam yang menjadi tujannya datang kemari. Dan kini Ia sudah berlutut dihadapan makam pria yang sungguh kini tengah ia rindukan, setelah ingatannya kembali pulih gadis itu benar-benar merasa bersalah kepada Kyu Hyun, bagaimana ia bisa membiarkan otaknya selama ini melupakan bagian tentang pria itu. Dong Hae berdiri dibelakang Seo Na membiarkan gadis itu meneluarkan semua perasaannya untuk yang terakhir kali sebelum ia memutuskan untuk tingal di Paris.

“Cho Kyu Hyun, Kyu-ya. aku merindukamu. Apa kau baik-baik saja disana? kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau meninggalkan aku? Kenapa kau tidak membiarkan aku yang pergi? Kyu-ya, saat aku tertidur, dan saat mataku terbuka, aku ingin kau tetap berada disampingku, aku ingin kau tetap menemaniku, tapi kenapa kau pergi? Terimakasih atas cinta yang sudah kau berikan padaku, aku juga mencintaimu. Aku merindukamu. Dimasa lalu, kita pernah bersama bukan, dimasa lalu kita pernah saling memiliki, dan akan terus seperti itu. Kyu-ya, aku ingin menangis, aku ingin membiarkan seluruh sakitku hilang, tapi aku tidak bisa, terlalu banyak rasa sakit yang aku rasakan hingga aku tidak bisa merasakan apapun. Kyu Hyun, aku mencintaimu, aku akan menjadi gadis selai kacangmu yang baik, aku berjanji”. Seo Na bangkit, ia menghapus air mata yang sejak tadi sudah membanjiri pipinya. Ia menatap figura seorang pria yang kini tengah tersenyum kearahnya. Biarkan hari ini ia tetap mengingat pria itu, biarkan hari ini hatinya tetap memilki pria itu, dimasa lalu ia akan melanjutkan kehidupannya tanpa Kyu Hyun lagi. Setelah Ayah-ibu-dan Kyu Hyun-nya ia tidak ingin kehilangn apapun lagi, cukup mereka yang sudah menghiasi masa lalu Seo Na.

“Aiden-ssi”. panggil gadis itu, Dong Hae menatap Seo Na, menarik gadis itu kedalam dekapannya. Membiarkan semua rasa sakit gadis itu tersalurkan kepadanya, ia juga merasakan sakit meskipun tidak sebanyak gadis itu, tapi ia akan melindungi Seo Na bukan? Berkorban demi gadis itu, seperti yang pernah dilakukan Kyu Hyun pada Seo Na.

“aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi Seo Na-ya, tidak akan”.

~~~000~~~

3 years laters…

Eonni, seharusnya kau menyuruhku lebih dulu untuk kembali ke Seoul”. Seo Jin melempar handuk kearah kakaknya itu, tidak memperdulikan Seo Na yang kesal dihadapannya.

Ya!”.

Seo Jin terkekeh, kini gadis itu duduk disamping kakaknya yang sejak tadi asik memilih gaun pengantin. “ini, bagus untukmu”. Seo Jin menunjuk satu gaun bermotif bunga Cherry Blossom kesukaan kakanya, Seo Na menatap adiknya itu mencoba meyakinkan dirinya.

Jinjja?”.

“tentu saja, aku jamin kau cantik memakai gaun itu”. Seo Jin menyenggol lengan kiri Seo Na menggoda gadis itu yang akan menikah seminggu lagi dengan seorang pria tampan.

“Aiden Oppa? Apa kau yakin akan menikahinya?”. Seorang gadis kini sudah hadir diantara mereka berdua. Seo Min yang sudah menuntaskan kuliahnya di Paris, dan memutuskan untuk kembali ke Seoul bersama Seo Jin. Seo Na memang tidak jadi menetap di Paris, ia mengurungkan niatnya untuk menyusul kedua adiknya, gadis itu sekarang bekerja sebagai seorang penulis, setelah tulisan tentang kehidupan pribadinya sukses terjual beberapa tahun lalu, akhirnya ia memutuskan untuk tetap menetap di Seoul dan menjadi seorang penulis.

Ya! kenapa kau bertanya hal itu pada Eonni?”. Protes Seo Jin, Seo Min hanya menggeleng.

“seharusnya Aiden Oppa menikah denganku”. Ucap gadis itu, yang direspon pukulan kecil dikepalnya.

ya! dasar gadis genit!”. Seo Min melesat dari hadapan kakaknya itu sebelum Seo Jin memberi pukulan lebih keras pada kepalanya.

“apa aku menganggu tiga orang gadis ini?”. kehadiran seorang pria tampan kini sukses menyita perhatian ketiganya, Seo Na menatap pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya.

“tidak, kemarilah”. Ucap gadis itu yang direspon cibiran oleh kedua adiknya.

“Ya, ya, ya. pasangan romantis ini sepertinya sedang dimabuk asmara, Seo Min ikut denganku! Biarkan pasangan serasi itu menghabiskan waktunya berdua”.

Eonni, tapi aku ingin melihat Aiden Oppa lebih lama”.

Ya!”.

Dong Hae dan Seo Na hanya terkekeh geli mendengar celotehan kedua perempuannya itu, mereka memilih mengasingkan diri kebalkon Apartemen Seo Na yang sengaja ia beli beberapa tahun lalu sejak ingatannya kembali pulih, Apartemen mewah yang tidak terlalu jauh dari Rumah Dong Hae.

“ketika melihat kota Seoul malam hari seperti ini, aku seperti melihat lautan permata yang berkilauan”. Racau Seo Na, Dong Hae memperhatikan gadis itu. menatap sekujur tubuh Seo Na yang terlihat cantik dan sederhana dengan balutan Dress merah jambu dan switter putih yang menambah kesan manis pada gadis itu.

“tapi aku punya lautan, yang cukup menangkan hatiku. Sejak pertama aku melihat kedua matanya”. Lanjut gadis itu lagi. Dong Hae tersenyum, ia tau apa yang dimaksud Seo Na adalah dirinya.

“aku juga punya seorang gadis yang terus menerangi lautanku”. Ucap pria itu, Seo Na tersenyum lalu menatap kearah Dong Hae yang sejak tadi sudah memperhatikannya.

“kau menggodaku lagi Aiden-ssi. Dong Hae terkekeh.

“memangnya tidak boleh menggoda calon istriku?”.

“calon istriku? Siapa bilang aku akan menikah denganmu, aku akan menikah dengan Kyu Hyun-ssi?”.

“kau akan menikah dengan orang yang sudah mati?”.

Seo Na tertawa menyaksikan ekspresi Dong Hae yang berlebihan, gadis itu mengangkat tangannya, menempelkan telapak tangan kanannya pada pipi Dong Hae, mengelus pipi pria itu pelan.

“karena Kyu Hyun-ssi sudah tidak ada, aku akan menikah denganmu”. Dong Hae mengenggam tangan Seo Na yang sejak tadi leluasa mengusap pipinya. “bukan karena Kyu Hyun tidak ada, jikapun ia ada aku akan tetap menikah denganmu”. Lanjut gadis itu lagi. Dong Hae tersenyum, ia menarik tengkuk Seo Na menuntun kepala gadis itu mendekat kewajahnya, semakin mendekat hingga daun bibir mereka bertemu.

~~~000~~~

Seo Na said, For Kyu Hyun

Aku menunggu datangnya hari itu, bertemu denganmu lagi setelah sekian lama kita tidak pernah bertemu, aku membencimu, aku sangat membencimu tapi pada kenyataannya kebencian itu hanya kata lain dari rasa rindu yang ku rasakan. Jika aku boleh menangis aku akan menangis, jika aku boleh bersedih aku akan bersedih, jika aku boleh tertawa aku akan tertawa, tapi setelah kau pergi pada kenyataannya aku hanya cangkang kosong yang harus tetap baik-baik saja meskipun kenyataanya hatiku ingin berteriak ngilu.

“Kyu Hyun-ah, Cho Kyu Hyun”. Aku memanggil namamu, tapi tidak kau tidak pernah berbalik dan kembali padaku. Kau tau aku merindukanmu, aku menunggumu selama bertahun-tahun, dan kini aku tidak akan menunggumu lagi.

Terimakasih atas cinta dan pengorbananmu selama ini, aku juga mencintaimu. Jika suatu saat aku dipertemukan dengan mu didunia lain aku ingin kita tetap bersama, tanpa ada satupun yang memisahkan kita.

Hari ini aku melanggar perjanjian kita dimasa lalu, aku akan menikah dengannya. Aiden Lee, aku akan menikah dengan pria itu. Dia, karena dia juga mencintaiku, sangat mencintaiku. Kyu Hyun-ah, Gumapseumnida, Jeongmal Gumapseumnida…. Saranghae….

 

THE END

 

 

 

TEARS ARE FALLING (5/?)

Standard

TEARS ARE FALLING (5/?)

 

Action, romance. PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast

 

 

 

Sudah satu jam gadis itu berada diranjang rumah sakit dengan mata yang masih tertutup tanpa ada tanda-tanda sekitpun gadis itu akan bangun, dengan leluasa Hee Chul bisa menikmati setiap lekukan wajah gadis itu, ia sama sekali tidak mengenal gadis itu, ia sudah menemukan gadis itu tiba-tiba tegeletak ditaman saat ia sedang berjalan-jalan. Gadis ini, cantik. Rambutnya yang ikal sebahu dengan poni yang tergerai menutupi keningnya. Hee Chul tersadar, bukankah gadis ini pernah ia lihat sebelumnya? Dimana? Bahkan dia belum bertemu dengan siapapun di Seoul kecuali Yu Ra dan teman-teman prianya, lalu bagaimana ia bisa beranggapan jika ia pernah bertemu dengan gadis ini.

Hee Chul memutar otaknya, ia yakin ia tidak salah dan pada akhirnya pria itu ingat, jika gadis yang sedang berbaring lemah ini adalah gadis yang sama yang ada didalam poto yang diberikan Yu Ra padanya.

“jadi, dia? Park Seo Na?”. Hee Chul membulatkan matanya, ia tidak menyangka sama sekali jika ia bisa bertemu dengan gadis ini dengan cara yang seperti ini, bahkan ia tidak terlalu memikirkan sama sekali tentang gadis ini bukan, tetapi kenapa Tuhan mempertemukan mereka dengan cara seperti ini, dan tadipun Hee Chul tidak terlalu peduli dengan wajah gadis ini, karena begitu khawatir dengan keadaannya.

“bagaimana aku bisa bertemu dia dengan cara seperti ini?”. Hee Chul terheran-heran, masih menatap wajah lemah itu yang sepertinya sedang pulas dialam bawah sadarnya. “lihatlah, betapa rapuhnya gadis ini, dan aku tidak meyangka Yu Ra bersaingan dengan gadis lemah seperti ini, tentu saja ia bisa didepak dengan sekali hentakkan oleh gadis menyeramkan itu. Tapi mungkin saja jika Yu Ra kalah darinya, tidak ada yang bisa lari dari pesona gadis ini, sekalipun Aiden Lee yang notabene adalah orang kaya yang tidak peduli dengan apa-apa, dia cantik”.

Hee Chul mengusap wajah Seo Na yang sesekali mengerutkan keningnya, gadis itu terlihat seperti kesakitan, entalah tapi Hee Chul tak berani membangunkannya, mungkin saja gadis itu sedang bermimpi, persetan dengan semua itu yang jelas ia bisa menatap wajah gadis ini dengan puas sekarang, dan entah kenapa secara tidak langsung sukses membuat pikirannya tenang, gadis dengan poni yang menutupi keningnya, bukankah wanita dengan poni seperti itu adalah wanita idaman Hee Chul?

Sejak tadi ponsel gadis itu bergetar di dalam tas tangannya diatas meja, Hee Chul tidak terlalu memperdulikan benda itu sejak tadi sampai ia mengingat sejak tadi ada panggilan masuk di ponsel gadis itu dan tidak sempat ia angkat karena sibuk mengangkat tubuh Seo Na dan membawanya kerumah sakit. Hee Chul mendekat kearah tas itu melihat isi didalamnya yang hanya berisi beberapa lembar uang dan ponsel bewarna silver yang ternyata masih setia begetar. Hee Chul mengerinyitkan keningnya, terpampang disana nomor tanpa ada nama yang tertera, mungkin seseorang atau gadis itu sengaja tidak menyimpan nama seseorang yang sejak tadi menghubunginya ini. Hee Chul memang tidak ada berhak untuk mengetahui siapa yang menelpon Seo Na tapi setidaknya ia bisa mengangkat panggilan itu dan mengatakan keadaan Seo Na, Hee Chul menekan warna hijau pada layar ponsel itu, mendekatkan benda itu ketelinganya sampai ia mendengar suara pria diujung sana sudah setengah berteriak panik, sebelum Hee Chul menjawab dan memberi tahu keadaan Seo Na yang sebenarnya.

~~~000~~~

Sejak tadi pria itu sudah sibuk dengan ponselnya, menghubungi nomor yang sama dan tetap sama tidak ada jawaban dari ujung sana, bukankah ia sudah berpesan pada Seo Na agar gadis itu mengangkat benda itu ketika benda itu berbunyi, tapi kenapa tidak ada jawaban sama sekali dari gadis itu, atau mungkin Seo Na tidak tau cara mengangkat telepon? Tidak mungkin, gadis itu hanya hilang ingatan, bukan menjadi bodoh. Dong Hae tetap mencoba menghubungi Seo Na sesekali pria itu mengacak rambutnya prustasi, ia tidak bisa mungkin pulang saat ini, sebentar lagi ia akan bertemu dengan client nya kan, tapi gadis itu bagaimana kabarnya? Apa yang terjadi?

Dong Hae mendekatkan benda putih itu ke telinganya, masih dengan perasaan yang gelisah, tapi kali ini sambungan teleponnya terhubung, akhirnya gadis itu mengangkatnya juga. “Seo Na-ya, kau kemana saja? Kenapa tidak mengangkat telfonku? Heum?”. Ucap pria itu dengan nada panik dan setengah teriak, tapi bukan suara Seo Na yang langsung menyaut di seberang sana, melainkan suara seorang pria yang memberitahukannya sesuatu yang benar-benar diluar dugaannya. Seo Na-nya sedang berada dirumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Dengan secepat mungkin Dong Hae menyambar kunci mobilnya, sebelum menghubungi asisten pribadinya untuk segera membatalkan pertemuan kerjanya setengah jam lagi, gadis-nya lebih penting dari itu. apa yang terjadi dengan Seo Na sebenarnya?

~~~000~~~

Sakit dikepalanya masih terasa, ia mulai sadar dengan suara seorang pria disampingnya yang kini tengah berbicara, tapi ia sendiri tidak tau dengan siapa pria itu berbicara. Seo Na mengerjapkan matanya, mengatur penglihatannya yang kabur agar kembali normal, menyentuh kepalanya yang terasa masih sakit, sampai pria itu menyadari jika gadis itu kini sudah terbangun, ia mendekat kearah Seo Na dengan wajah penuh cemas, Seo Na berdelik, memperhatikan wajah pria itu, ia masih hilang ingatan bukan? Tapi pria ini siapa? Ia tidak mengenalnya, dan dia bukan Dong Hae, ia yakin betul dengan pria yang sedang memperhatiakkannya saat ini dengan wajah cemas saat ini bukan Dong Hae Oppa-nya.

“Seo Na-ssi, Gweancana?”. Ucap pria itu, Seo Na masih menatapnya bungkam, ia masih memperhatikan wajah pria itu tanpa menjawab pertanyaan yang terdengar cemas dari Hee Chul. “apa kepalamu masih sakit?”. Seo Na hanya menggeleng lemah merespon pertanyaan pria itu. “Syukurlah”. Ucap pria itu sambil menghembuskan napasnya lega.

“aku dimana? Kau siapa? Apa yang terjadi?”. Seo Na masih penasaran dengan pria itu, mungkinkah orang yang penah hadir dikehidupannya dimasa lalu.

“aku-“.

“Maaf Tuan, apa anda keluarga pasien? Dokter ingin bertemu dengan anda diruangannya”. Ucap seorang wanita dengan baju serba putih yang baru saja masuk dalam ruang inap Seo Na, Hee Chul mengalihkan perhatiannya kearah wanita itu lalu menatap sejenak kearah Seo Na yang sejak tadi tidak melepaskan padangannya dari Hee Chul.

“tentu saja”. Ucap pria lalu keluar dari ruang inap Seo Na sebelum ia menyuruh gadis itu untuk tetap istirahat. Gadis itu kembali berbaring, menatap sekitar ruangan yang persis sama ketika ia siuman dari tidur panjangnya saat itu, persis sama seperti hari ini, tapi pria yang ia temukan ketika ia sadarkan diri adalah pria yang berbeda. Seo Na menarik napasnya, sebelum kejadian ini ia mengingat sesuatu bukan? Suara tembakkan, lift, pelukan, dan juga seorang pria yang tak ia kenali wajahnya, tiba-tiba saja semua itu berputar diotaknya, ia mengingat sesuatu yang terkubur jauh dalam ingatannya, dan mengingatnya saja membuat gadis itu melemah.

“Apa yang terjadi padaku?”. Gumam gadis itu, lalu perhatianya tersita pada ponselnya yang tegeletak dimeja tak jauh dari jangkauannya, gadis itu ingat ia membawa benda itu dan jika benda itu berdering ia harus menjawabnya karena Dong Hae pasti sedang mencarinya, gadis itu meraih benda silver itu memainkan jarinya di atas layar, menekan beberapa perintah disana.

“Park Seo Na-ssi!”. Seo Na berdelik kaget, ia hampir menjatuhkan ponsel yang berada digenggamannya, ia menatap pria yang kini mendekat kearahnya dengan wajah penuh cemas, terlihat sekali jika wajah pria itu berubah pucat, memeluk tubuh Seo Na yang masih berbaring lemah diatas ranjang. “apa yang terjadi? Kenapa kau pergi tanpa memberi tahuku? Kau tau aku khawatir”. Seo Na tersenyum mendengar ucapan pria itu, penuh perlindungan yang bahkan membuat Seo Na merasa nyaman hanya dengan pelukannya yang begitu menenangkan.

Oppa, Aku baik-baik saja. Tadi aku hanya bermain-main ke taman, dan sesuatu terjadi dengan kepalaku, rasanya sakit sekali, tapi untung saja seseorang menolongku dan membawaku kemari”. Dong Hae menatap gadis itu, memperhatikan wajah Seo Na yang tidak terlihat terlalu pucat lagi, gadis itu tersenyum, senyumnya yang membuat kekhawatiran Dong Hae sedikit demi sedikit mulai menghilang.

“berjanjilah untuk tidak membuatku khawatir Seo Na-ssi”. pria itu mengelus puncak kepala Seo Na, merapikan anak rambutnya yang menutupi kening gadis itu, Seo Na hanya menerima semua perlakuan Dong Hae terhadapnya, dan pria itu terlalu khawatir akan Seo Na.

ehem... Maaf sudah menganggu privasi kalian”. Ucap Seorang pria yang baru saja hadir di antara mereka, yang kini masih berdiri didekat pintu masuk ruangan itu, Dong Hae dan Seo Na serentak menatap pria itu, Dong Hae yang menyadari jaraknya dengan Seo Na terlihat intim, kini memberi jarak dengan gadis itu, pria itu sedikit membungkuk kearah Dong Hae dan dibalas bungkukkan sopan oleh Dong Hae, pria itu mendekat kearahnya mengacungkan tangan kanannya kearah Dong Hae.

Dong Hae membalas uluran tangan Hee Chul, menatap mata pria itu, tidak ada yang salah disana, tidak ada tatapan jahat dari pria itu dan semua terlihat baik-baik saja, sepertinya pria itu tulus membantu Seo Na.

“Aku, Kim Hee Chul. maaf sudah lancang membawa Seo Na-ssi kemari, aku menemukannya sudah tergeletak tidak sadarkan diri dibangku taman”. Jelas pria itu, tidak ada nada menekan disana, semuanya terlihat murni.

“tak apa, seharusnya aku yang berterimakasih padamu Hee Chul-ssi, kau sudah menolong Seo Na-ssi, aku tidak tau bagaimana nasibnya jika kau tidak menolongnya”. ucap Dong Hae, Hee Chul hanya tersenyum, menyentuh bagian tengkuknya, entah kenapa pria itu merasa canggung.

Oppa, aku baik-baik saja. Tuan itu baik padaku, aku akan berterimakasih padanya”. Suara Seo Na menyita perhatian dua orang pria tampan yang berdiri tidak jauh darinya, Seo Na mengangkat tangannya kearah Hee Chul. “Tuan, terimakasih, maaf sudah merepotkanmu”. Ucap Seo Na dengan senyum yang hampir membuat kedua lelaki itu linglung tak karuan, Hee Chul yang merasa senyum itu diperuntukkan untuknya malah menjadi semakin salah tingkah, pria itu mengibaskan tangannya tanda tak setuju.

“Seo Na-ssi kau terlalu berlebihan, tidak apa. Aku senang membantumu”. Seo Na mengangguk, suasana ruangan seketika hening, ketiganya tak saling berbicara, entalah ada rasa janggal yang mereka bertiga rasakan, terlebih lagi Hee Chul ia seperti merasa masuk begitu saja dalam kehidupan kedua orang yang berada dihadapannya saat ini, dan untuk Seo Na ia sudah menemukan gadis itu bukan? Seharusnya ia menjalankan permintaan sepupunya Yu Ra, tapi kenapa hanya dengan menatap wajah gadis itu yang sedang tersenyum membuatnya seketika bergetar, ada rasa canggung yang menyeruak kedalam dirinya, dan ini jarang terjadi, bahkan tak pernah. ‘Gila!’. Pekiknya dalam hati.

“Dong Hae-ssi, bisakah kita bicara sebentar, ada yang ingin ku beritahu, mungkin tidak disini”. Hee Chul beranjak dari tempatnya sebelum permisi dengan gadis yang kini masih berbaring lemah diranjangnya, mencari tempat yang tepat untuk berbicara dengan Dong Hae agar gadis itu tak mendengarkan perbincangannya dengan Dong Hae, ini tentang keadaan Seo Na yang baru saja ia bicarakan dengan Dokter yang menangani gadis itu.

“baiklah, aku akan menyusul. Seo Na-ssi istirahatlah, aku akan kembali”. Dong Hae mengecup kening gadis itu sekilas yang hanya direspon anggukan lemah gadis itu, lalu Dong Hae segera beranjak dari ruangan itu.

~~~000~~~

“aku tidak tau apa yang telah terjadi dengan dirinya, tapi aku ikut terkejut ketika tau jika ia sedang mengalami amnesia, maaf sudah lancang menemui Dokter dan mengetahui semua itu, tapi percayalah aku orang baik, aku tidak akan memanfaatkan keadaan ini untuk peruntunganku”. Hee Chul menepuk pundak pria itu, membiarkan pria itu menarik napas sepuas mungkin.

“tidak masalah Hee Chul-ssi, aku juga mengerti keadaanmu. Lalu apa Dokter mengatakan tentang perkembangan kesehatannya?”. Dong Hae menatap pria itu, tampak jelas dari wajah itu kekhawatiran yang luar biasa yang kini tengah ia rasakan, Hee Chul memahaminya, jika Yu Ra mengetahui semua ini ia pasti akan memanfaatkan kesempatan ini untuk merebut Dong Hae dari Seo Na bukan? Dan sama sekali Hee Chul tidak ingin hal itu terjadi, melihat keadaan gadis itu dan mengetahui penderitaan yang sedang dihadapinya, ia terlalu keji jika melukai gadis itu.

“Seo Na tidak apa-apa, ia hanya merasakan sedikit sakit dikepalanya, mungkin akibat ia terlalu banyak berpikir atau tiba-tiba mengingat masa lalunya, dan aku yakin ia belum mengingat apa-apa”. Dong Hae mengangguk mendengar penjelasan panjang lebar dari Hee Chul, tentu saja Seo Na belum mengingat apa-apa dan Dong Hae masih belum bisa membiarkan gadis itu mengingat apa-apa tentang masa lalunya.

“baiklah, aku juga sedang ada urusan. Aku harap kau bisa menjaga Seo Na dengan baik Dong Hae-ssi”. Hee Chul mengambil sesuatu dari Dompetnya, menyodorkan kertas putih itu pada Dong Hae. “ini kartu namaku, jika kau perlu bantuan, Dong Hae-ssi, aku permisi dulu, ghamshamnida”. Dong Hae mengambil kartu nama itu dari tangan Hee Chul sebelum pria itu permisi dan beranjak dari cofe Shop yang bersebelahan dengan Rumah sakit tempat Seo Na di rawat.

~~~000~~~

Kedua tangan itu mengamit di udara, cuaca yang berubah dari musim gugur ke musim salju tak tampak membuat keduanya merasa risih karena angin yang cukup dingin, pria itu menghentikan langkahnya, menatap pada seorang gadis yang kini berada disampingnya, membetulkan syal bewarna coklat tua itu dileher sang gadis, sembari tersenyum dan mengecup kening gadis itu. seperti pasangan yang lainnya, keduanya tampak sedang dimabuk candu asmara yang berlebihan, ditambah cuaca yang mendukung mereka untuk tetap saling bergenggaman.

Oppa, apa dimasa lalu kita sering melakukan hal ini?”. ucap Seo Na, mengehentikan langkah keduanya, Dong Hae menatap gadis itu memeluknya tiba-tiba.

Eo, kita sering berpelukan”. Seo Na tersenyum mendengar ucapan pria itu, ia membalas memeluk Dong Hae merasakan hangat tubuh pria itu menenangkan pikirannya. Memang setelah Seo Na keluar dari rumah sakit, Dong Hae tidak pernah lagi membiarkan gadis itu keluar rumah, itu hanya akan menambah kekhawatirannya, ya memang itu semua terdengar egois dan sedikit mengekang.

“sejak keluar dari Rumah sakit 2 hari yang lalu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu”. Dong Hae merenggangkan pelukan mereka, meletakkan kedua telapak tangannya di bahu Seo Na, Dong Hae mengangguk menunggu gadis itu berbicara. “ketika hari itu, saat aku pingsan, aku mengingat suara tembakkan yang hampir membuat kepalaku nyeri hanya karena mengingatnya, aku merasa sedang berada di dimensi duniaku yang lain, entahlah, yang aku ingat aku sedang berada didepan Lift dengan seorang pria yang memelukku, aku tidak tau semua itu teringat begitu saja setelah seorang anak kecil menodongkan pistol mainnya kearahku, aku benar-benar takut”. Dengan susah payah gadis itu menjelaskan apa yang ia alami pada Dong Hae, dan pria yang mendengarkan semua ceritanya itu, tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih kencang, bukan karena wajah gadis itu yang berubah sendu, tapi cerita gadis itu tentang apa yang ia ingat. Tidak salah lagi, kejadian menyakitkan itu sudah melintas dipikiran gadis itu, dan dugaan Ibu Dong Hae benar, cepat atau lambat Seo Na akan mengetahui semuanya.

“lalu, apa kau mengingat yang lainnya?”. Dong Hae menatap manik mata Seo Na yang dipenuhi tumpukan air mata, gadis itu menggeleng, ia hanya mengingat hal itu dan tidak yang lainnya. Dong Hae menghembuskan napasnya lega, ada sesuatu kelegaan yang ia rasakan saat Seo Na mengatakan jika ia hanya mengingat bagian itu saja tanpa tau alasan yang lainnya.

Oppa, apa yang sudah terjadi? Kenapa kau tidak memberi tahuku? Heum? apa kita sudah menikah? Kemana kedua orang tuaku? Apa aku punya saudara? Aku ingin pulang kerumahku, aku ingin mengetahui masa laluku, jika kau tidak mau membantuku, Ayah dan Ibu-ku pasti mau membantuku, jadi kenapa kau tidak mengantarku pulang saja!”. Nada suara Seo Na meninggi meskipun yang didominan adalah getaran hebat dari tubuhnya. Dong Hae melepas genggamannya dari bahu Seo Na, mengadahkan kepalanya ke atas, ia tidak bisa menjawab semua pertanyaan gadis itu untuk saat ini. Seo Na memukul lengan Dong Hae sebelum memilih beranjak dari hadapan pria itu, tapi langkah gadis itu seketika terhenti, akibat genggaman Dong Hae yang kuat sudah mencengkram pergelangan tangannya.

Wae? Kenapa kau menahanku? Aku akan mencari rumahku, aku akan mencari orang tuaku! Lagi pula kau tidak mengatakan kau itu siapa! Aku tidak percaya padamu lagi! Aku rasa kau itu seorang penculik yang sudah menculik ku!”. Dong Hae benar-benar tak tahan dengan ucapan gadis itu, Dong Hae menarik tengkuk Seo Na mencium bibir gadis itu tiba-tiba, entalah ia seperti dirasuki arwah meyeramkan, ia tidak tau lagi harus berbuat apa, satu-satunya cara membuat gadis itu menghentikan ucapannya adalah dengan cara menutup mulut gadis itu dengan bibirnya, terdengar gila bukan.

Dong Hae melepas tautan bibir mereka, menatap wajah Seo Na yang penuh dengan air mata, dan yang ia lihat sekarang adalah Seo Na yang benar-benar berubah menjadi gadis rapuh, tanpa tau harus berbuat apa.

“Seo Na-ssi, aku takut kau akan merasakan rasa sakit mendengar semua kenyataannya, tapi jika kau memaksaku aku akan mengatakannya”.

Deg!

~~~000~~~

Ini sudah hari ketiga semenjak ia tidak melihat gadis itu lagi, bagaimana keadaanya? Apa dia sudah pulih dan sudah kembali dari rumah sakit? Apa gadis itu akan dijaga dengan baik? pertanyaan itu terus menari-nari dibenak Hee Chul 3 hari belakangan ini, yang menjadi bahan pemikirannya beberapa hari ini hanya seorang Park Seo Na, meskipun ia tidak persis tau kenapa ia terlalu peduli dengan gadis itu. mata gadis itu yang tertlelap, keningnya yang sesekali berkerut karena merasakan sakit, dan suaranya yang hampir memabukkan, juga senyumnya yang mampu membuatnya kikuk.

“Pria tampan, seharusnya kau tidak terlalu serius dengan gadis itu, baiklah! Lupakan!”.

“melupakan siapa? Eo?”. Suara seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari belakang Hee Chul langsung membuat pria itu berkedik ngeri dan setengah berteriak, yang hanya direspon cengiran oleh gadis yang kini tengah berada dihadapnnya itu.

YA! Kau mau membuatku terkena serangan jantung?!”. Yu Ra hanya terkekeh, lalu berjalan kearah meja makan dan duduk manis disana menyaksikan emosi Hee Chul yang sedang meledak-ledak.

“lagi pula apa yang yang Oppa lakukan berbicara pada cermin? Memangnya di Amerika sedang trend berbicara dengan cermin?”. Goda gadis itu lalu terkekeh tak karuan, Hee Chul yang masih kesal mendekat kearah Yu Ra menarik pipi gadis itu hingga merah.

“Hee Chul Oppa!!! Appo!”. Kini Hee Chul yang balas tertawa girang, lalu menggendong kucing kesayangannya yang sengaja ia bawa dari Amerika.

Don’t Angry, Yu Ra-ya”. goda pria itu sambil menyapukan handuk kecil pada bulu-bulu kucingnya. Ia beranjak kedapur mengambil segelas air dingin dan menyodorkannya pada gadis itu. “minumlah, bagaimana kau bisa masuk keapartemenku? Bukankah aku sudah menutupnya?”.

“tidak, pintu mu masih sedikit terbuka, karena itu aku bisa masuk dengan leluasa. Bagaimana jika seorang wanita mesum yang masuk kemari kau bisa-bisa diperkosa bukan?”. Hee Chul hanya berdeham kesal menyikapi celotehan adik sepupunya itu, lagi pula bukan Yu Ra jika tidak membuatnya kesal.

“sudahlah, kau mau apa datang kemari? Menyuruhku yang tidak-tidak lagi? Tentang masalahmu yang kemarin aku membatalkannya, aku tidak bisa membantumu”. Yu Ra mengalihkan pandangannya kearah pria itu yang sejak tadi tersita pada layar ponselnya.

Ya! Oppa! Bagaimana kau bisa membatalkan secara sepihak? Bukankah kemarin kau setuju dan mau membantuku?”. Yu Ra hampir terdengar berteriak. Hee Chul menarik bahunya keatas, lalu beralih duduk persis didepan gadis itu.

Wae? Apa kau akan mengancamku? Ya! aku ini Oppa-mu, seharusnya aku melarangmu untuk berbuat jahat, dasar gadis nakal”. Yu Ra terkekeh mendengar ucapan pria itu, ia sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan bermaksud mendekatkan pandangannya pada Hee Chul.

Yu Ra menyipitkan matanya, menatap penuh curiga pada pria itu. “kau menyukainya bukan?”

“apa? Ya! kau pikir aku bisa dengan mudah menyukai wanita? Aku ini tidak-“.

Mwo? Kau mencoba mencoba menipuku? Kau tau, instingku sebagai wanita lebih kuat dibanding wanita manapun, jadi jangan pernah bohongi aku tentang perasaanmu pada gadis itu. Cih, bagaimana dia bisa membuat pria bertekuk lutut padanya, sampai-sampai pria yang tidak terlalu berminat memiliki kekasih sepertimu bisa menyukainya”. Yu Ra mencibir, ia meraih segelas Air yang sudah tersaji sejak tadi didepannya, lalu mendekatkan bibir gelas itu kemulutnya. Ia masih tidak bisa terima dengan pesona yang dimiliki Seo Na, bukankah dia tidak kalah cantik dari gadis itu?

“terserah kau saja, aku sedang tidak ingin beradu pendapat denganmu”. Hee Chul beranjak dari hadapan gadis itu, lalu pria itu masuk kekemarnya sebelum menyambar kucing kesayangannya yang sejak tadi bermain dilantai.

“Cih, jika Hee Chul Oppa tidak bisa membantuku, aku bisa membuat gadis itu sengsara lagi bukan? Persetan dengan ancaman Lee Dong Hae”. Ia meraih tas tangannya, meninggalkan Apartemen Hee Chul tanpa permisi pada pria itu.

~~~000~~~

Ne, aku bukan suamimu. Kita tidak memiliki hubungan apapun dimasa lalu, dan tentang keluargamu, kau tidak memiliki Ayah dan Ibu lagi, mereka sudah meninggal dunia. Dan satu-satunya yang kau miliki hanya kedua adik perempuan-mu yang sudah berada di Paris, Park Seo Jin dan Park Seo Min. Maaf aku sudah mengatakan hal ini padamu”. Dong Hae tertunduk, ia tidak berani sama sekali menatap gadis yang kini sedang berdiri dihadapannya, gadis yang mengenakkan dress putih polos, dengan rambutnya yang ia biarkan tergerai.

Gadis itu hanya bungkam, tidak merespon satupun penjelasan dari Dong Hae, ia seperti tuli tapi ia masih bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan pria itu. jadi selama ini dia hanya menyusahkan pria itu? tapi bukankah ia masih memiliki dua adik perempuan yang sedang menetap diParis?

“Ayah – Ibu –ku, bagaimana mereka bisa meninggal? Kedua adik-ku? kenapa mereka tidak menemuiku? Dan kau bukan suamiku Aiden-ssi, lalu kenapa aku harus tinggal bersamamu? Kenapa?”. Suara yang hampir tak bisa didengar Dong Hae, terlalu banyak getaran pada kalimat gadis itu, Dong Hae tau gadis itu sedang menahan tangisnya, ingin sekali ia mendekap tubuh lemah itu, tapi ini adalah konsekuasinya bukan? Konsekuensi jika ia mengatakan kenyataan tentang masa lalu gadis itu, tapi sungguh hatinya bahkan lebih sakit dari apapun melihat gadis itu hampir ambruk.

“Aiden-ssi! katakan padaku! Kenapa semua ini terjadi?! Kenapa aku harus hidup seperti ini?!-“.

“Hentikan Seo Na-ya!!!”. Dong Hae benar-benar tak tahan mendengar setiap uacapan demi ucapan yang sukses membuat hati Dong Hae seperti direjam, ia tidak tau harus mengatakan apa lagi dan pada akhirnya pria itu berteriak untuk menghentikan semua uacapan Seo Na. Seo Na menatap pria itu gusar, dunianya saat ini seperti diputar-putar, ia bahkan tidak bisa mengingat apapun tentang masa lalunya, menyakitkan bukan?

Keure, aku tidak akan meyusahkanmu lagi”. Ucap gadis itu sebelum beranjak dari hadapan Dong Hae menyeret kaki kecilnya keluar dari rumah mewah milik pria itu, ia tidak tau kemana tujuannya saat ini yang jelas ia ingin pergi sangat jauh dari hadapan pria itu.

Dong Hae tertegun ditempatnya, entah kenapa tidak ada kekuatan sedikitpun untuk menahan gadis itu, ia tidak menyangka sama sekali semua akan menjadi seperti ini, tidak ada pilihan lain bukan, membiarkan gadis itu mengingat masa lalunya.

~~~000~~~

Hee Chul keluar dari kamarnya, setelah mengganti pakaian rumahnya dengan baju santai. Hee Chul menatap meja makan, menarik alisnya keatas. “dasar gadis nakal, dia pergi tapi tak berpamitan denganku”. Ucap pria itu sebelum menyembar kunci mobilnya menuju suatu tempat.

Pria itu menginjak pedal gasnya, membetulkan letak kacamata hitamnya, segera melaju dijalanan Seoul. Laju mobil mewah milik pria itu terhenti pada lampu merah, pandangannya kini asik pada lalu lalang pejalanan kaki dihadapannya, dan pandangannya terhenti pada seorang gadis yang mengenakkan dress putih dengan wajah yang tidak asing lagi baginya, tapi tunggu dulu? Gadis itu sendirian bukan?

Setelah lampu hijau menyala, Hee Chul memutar arah mobilnya, mencari sosok gadis itu yang mengarah berlawanan darinya. Hee Chul menginjak pedal remnya, tergesa-gesa ingin segera menemui gadis itu yang sejak tadi berjalan sambil menunduk.

“Seo Na-ssi”. langkah gadis itu terhenti setelah ia mendengar seorang pria memanggil namanya dari arah belakang. Ia memutar tubuhnya, mendapati sosok Hee Chul yang kini berjalan mendekat kearahnya.

Ne? Eo, Tuan? Kau Tuan yang menolongku”. Ucap Seo Na mengingatkan memorinya tentang pria itu, pria yang menolongnya.

Hee Chul tersenyum, bagaimana gadis itu bisa memanggilnya Tuan? Mukanya tidak kalah tampan dan muda dengan Dong Hae bukan? “kau masih mengingatku Seo Na-ssi. Aku sedikit canggung jika kau memanggilku Tuan, bagaimana jika kau panggil aku Oppa saja?”. Tawar pria itu, yang direspon senyuman hangat dari gadis yang berada dihadapannya ini.

“baiklah, Oppa?”. Ucap Seo Na sambil tersenyum.

“kau sendiri? mau kemana?”. Hee Chul melirik sekelilingnya, mungkin saja ada seseorang yang menemani gadis itu, atau Dong Hae?

Seo Na mengangguk. “Hu’um, aku sendiri. aku juga tidak tau mau kemana. Aku sedang tidak ingin dirumah”. Aura wajah gadis itu berubah murung, terlihat ketika gadis itu menunduk, saat mengatakan kalimat terakhirnya.

“baiklah, aku tidak akan memintamu untuk bercerita kenapa kau sedang tak ingin dirumah. Heum, bagaimana kalau aku ajak jalan-jalan saja, kau mau?”. Tawar Hee Chul, Seo Na menatap pria itu bola matanya memutar, ia berpikir sejenak, sebelum mengangguk dan tersenyum kearah Hee Chul.

“baiklah, aku mau”. Ucap Seo Na yang direspon senyuman pria itu, Hee Chul menuntun Seo Na masuk kemobilnya, dan pergi kesuatu tempat yang mungkin bisa menenangkan gadis itu.

~~~000~~~

Keduanya kini menatap hamparan pasir pantai dan bentangan lautan biru dihadapannya, sejak tadi mata gadis itu tidak lepas dari pemandangan indah yang kini tengah disajikan dihadapannya, entah kenapa ia merasakan hatinya benar-benar begitu damai melihat bentangan laut yang kini tengah ia pandangi, ditambah suara ombak yang sejak tadi memacu mendekat kearah ujung kaki gadisnya.

“apa kau menyukai pantai?”. Tanya Hee Chul, yang direspon anggukan kecil penuh arti dari gadis itu, matanya sejak tadi tak lepas menatap lautan, ia benar-benar seperti berada dalam dunianya.

“aku yakin, dimasa lalu aku menyukai laut”. Seo Na tersenyum, ia tidak salah. ia memang menyukai laut dimasa lalu, tapi bukan laut yang seperti ini, ia suka menatap laut yang tersaji pada mata indah milik seorang pria, seorang pria yang kini entah sedang apa.

“aku menyukai gadis yang kini tengah menatap laut, aku rasa dia benar-benar tergila-gila pada lautan”. Ucap Hee Chul sambil terkekeh disamping Seo Na, ia merasa bahagia melihat gadis itu sejak tadi tidak henti-hentinya tersenyum menatap lautan dihadapannya.

Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, hanya suara ombak yang sejak tadi memecah keheningan dianatara keduannya. Gadis itu tiba-tiba mengingat ucapan Dong Hae tentang dirinya, pria itu sudah mengatakan tentang masa lalunya bukan? Tentang keluarganya, tapi entah kenapa ada yang kurang selama ini, Seo Na seperti kehilangan memori yang berharga tentang hidupnya, dan itu yang ia sesalkan dari pria itu, kenapa Dong Hae tak memberi tahunya semua tentang masa lalu gadis itu.

“Seo Na-ssi?”. Suara Hee Chul sukses menyita perhatian Seo Na yang sejak tadi menikmati pemandangan yang ada dihadapannya saat ini.

Ne? Waeyeo?”.

“apa kau tidak ingin pulang kerumah?”. Seo Na menarik napasnya dalam, menghebuskannya perlahan, kembali menatap lautan dihadapannya.

Molla, lagi pula itu bukan rumahku. Aku tidak mempunyai rumah, aku tidak punya Ayah-Ibu, aku hanya punya dua adik perempuan yang berada di Paris, dan disana aku tidak tau apa aku punya Rumah, aku ingin ke Paris menemui mereka, Oppa pasti tau bukan tentang masalahku?”. Hee Chul mengangguk. Ia menatap gadis itu khawatir. “karena itu, aku tidak tau apa-apa. Aku ingin sekali hidup normal, aku begitu tersiksa ketika aku tidak bisa mengingat apapun dimasa laluku”.

“lalu bagaimana kau tau tentang Ayah-Ibu- dan kedua adikmu?”.

“Aiden-ssi, dia memberi tahuku tentang hal itu, tapi aku yakin dia tidak mengatakan yang lainnya padaku. Entalah, Aiden-ssi seperti menyembunyikan banyak hal dariku”. Seo Na menunduk, menyembunyikan kesedihan yang tengah ia rasakan dari pria yang berada disampingnya saat ini.

“aku mengerti sekarang kenapa kau tidak ingin berada dirumah. Apa aku boleh mengatakan sesuatu padamu Seo Na-ssi?”. Hee Chul meletakkan kedua telapak tangannya di kedua bahu Seo Na, membiarkan gadis itu menghadap kearahnya. Seo Na mengangguk, menatap pria dihadapannya ini, matanya jelas terlihat berkaca-kaca, raut wajahnya memperlihatkan gadis itu benar-benar pada titik kehancurannya saat ini, ironis bukan?

“aku tidak tau dengan jelas bagaimana masalah yang kini tengah kau hadapi, maupun masa lalu yang pernah kau jalani dihari lalu, dan aku juga tidak tau apa yang sedang disembunyikan Aiden Lee darimu. Tapi aku yakin, hal itu demi kebahagiaanmu, pria itu benar-benar menjagamu dengan baik, sebagai laki-laki aku mengerti perasaannya, dia benar-benar mencintaimu”. Jelas pria itu penjang lebar, tanpa balas menatap Seo Na yang kini tengah memperhatikan pria itu berbicara.

“tapi Aiden-ssi tidak mengatakan jika kami memiliki hubungan apapun”. Bantah Seo Na, Hee Chul menatap gadis itu.

“benarkah?”. Seo Na mengangguk. Semua itu memang benar, mereka memang tidak memiliki hubungan, hanya saja dimasa lalu keduanya sempat saling mencintai bukan? “Eum, aku pikir kalian adalah sepasang kekasih. Kalau begitu bagaimana jika kau menikah denganku saja? Bukankah kita sudah pergi berkencan kepantai?”. Goda pria itu, Seo Na menatapnya, mata gadis itu tiba-tiba membulat lebar, lalu dengan cepat ia memukul lengan kiri Hee Chul.

Ya! oppa, bagaimana bisa begitu. Aku kan sedang bersedih”. Protes Seo Na, Hee Chul hanya terkekeh mendengar celotehan tak terima gadis itu, yang kini sedang membulatkan pipinya, persis seperti buntal, lucu bukan?

“baiklah, bagaimana jika kita pulang saja. Ini sudah hampir sore, Aiden pasti mengkhawatirkanmu”. Seo Na menggeleng, ia tidak ingin pulang kerumah Dong Hae, tentu saja, itu hanya akan membuatnya bertambah sedih bukan? “kau harus pulang Seo Na-ssi, kau tidak bisa tinggal dirumahku, aku hanya punya satu kamar dan satu ranjang, apa kau mau satu ranjang dengan ku, Eo?”.

Oppa! Kau ini!”. Hee Chul sukses membuat wajah gadis itu bersemu merah, Hee Chul berhasil membuat gadis itu terkekeh, setidaknya jika seperti ini ia bisa menghilangkan sedikit kesedihan gadis itu bukan, dengan senyuman Seo Na-pun, disekeliling gadis itu juga ikut merasa bahagia.

“bagaimana apa tetap mau bersamaku?”.

“baiklah, aku akan pulang kerumah Aiden-ssi, tapi kau harus mengantarkanku hingga kehadapan pria itu, Arratjhi?”. Hee Chul tersenyum, lalu pria itu mengangguk mengiyakan ucapan Seo Na yang terkesan seperti anak-anak.

~~~000~~~

“jadi gadis itu hilang ingatan?”. Yu Ra mengulang pertanyaan yang sama, dan kini pertanyaan itu hanya direspon anggukan oleh pria yang kini tengah duduk dihadapannya. “aku benar-benar tidak mengetahuinya”.

“apa kau senang, ini semua ulahmu bukan?”. Terdengar nada sinis keluar dari mulut pria itu, jika bukan karena Yu Ra, gadis-nya tidak akan seperti ini, gadis-nya tidak akan merasa tertekan seperti ini.

Yu Ra menggeleng, ada sedikit rasa bersalah yang kini tengah ia rasakan, namun rasa bersalah itu seketika tak ia rasakan karena rasa lega kini menyeruak dalam hatinya. Hilang ingatakan? Berarti itu kesempatanm bagus baginya bukan?

“jangan berharap kau bisa mendapatkan aku Yu Ra-ssi”. ucapan pria itu sukses menyita seluruh perhatian gadis itu, Yu Ra menarik napasnya dalam, mengeluarkannya hati-hati, takut jika pria yang berada dihadapannya saat ini bisa membaca pikirannya lebih banyak.

“aku tidak seburuk yang kau kira Dong Hae-ssi”. tekan gadis itu, Dong Hae hanya tersenyum renyah, bagaimana gadis itu masih bisa mengatakan jika ia tidak seburuk itu, setelah dulu pernah berani mengancam Seo Na, licik bukan?

“kau kira aku tidak tau, tentang ancaman mu yang konyol itu pada Seo Na? Heuh? Seharusnya kau bisa memilih teman yang baik Yu Ra-ssi”.

“Eun Min Soo?”. Gumam gadis itu pelan, namun ucapan gadis itu masih bisa didengar jelas oleh Dong Hae.

Ne, wanita itu yang mengatakan hal itu pada orang pesuruhku, apa kau tidak punya teman selain orang yang bekerja diperusahaanku? dan kenapa aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu, setelah semua yang kau lakukan”. Dong Hae tak menatap gadis itu sedikitpun, terlalu sakit baginya menatap gadis itu yang sudah menghancurkan Seo Na-nya. “bagaimana? Aku benar bukan?”.

Yu Ra bungkam, ia lebih memilih tidak mengatakan hal apapun. Hari ini ia sengaja datang kerumah pria itu, ia sudah mencoba menemui Dong Hae dikantornya, tapi nihil pria itu tidak ada disana dan pilihan satu-satunya tentu saja mendatangi rumah pria itu tanpa memberi tahu terlebih dahulu pada Dong Hae.

“Memuakkan”. Gumam pria itu kesal, sebelum ia beranjak dari hadapan Seo Na, namun gadis itu menahannya, menarik pergelangan tangan pria itu, entah apa yang membuat Yu Ra begitu berani menarik Dong Hae kedalam dekapannya, dan kini Dong Hae berada dalam pelukan gadis itu.

“Aiden Lee?”.

 

 

To Be Continue

~~~000~~~

 

TEARS ARE FALLING (4/?)

Standard

TEARS ARE FALLING (4/?)

 

Action, romance. PG +17

Cast :

Aiden Lee / Lee Dong Hae

Cho Kyu Hyun

Park Seo Na

Kim Hee Chul

Other’s Cast

 

 

 

“aku harus melindunginya, harus… aku akan menolongnya. Tetapi aku tidak bisa lari dari musuh, akhirnya untuk dapat melindunginya, hanya ada satu cara… yaitu dengan mengganti nyawanya dengan nyawaku… itulah cara untuk melindungi orang yang ku cintai”. – (Kyu Hyun – VCR Day Dream – SS5)

Aku merasakan hari itu sepertinya semua benar-benar berakhir, suara tembakan itu tidak seperti suara tembakan yang pernah ku dengar sebelumnya. Aku mulai tau, bagaimana rasa sakitnya ketika aku menembakkan peluru itu ketubuh mereka, karena kali ini aku merasakannya, aku mendengar tiga tembakan, tapi hanya satu yang terasa menembus perutku, dan yang duanya lagi aku yakin itu mengarah kearah pria yang baru saja memelukku… bagaimana keadannya, kenapa ia melakukan ini padaku? Kenapa ia menggantikkan nyawanya dengan nyawa wanita pembunuh sepertiku?.

“KYU-YA!!! Ahk… Kyu…!!!”. Seo Na menjerit menahan sesak didadanya yang begitu hebat, bukan karena darah yang kini terus mengalir di sisi perut bagian kirinya, tapi pria yang kini sudah jatuh kelantai dalam dekapannya, pria yang terkena tembakan di dadanya, ia yakin dua tembakan terakhir mengarah ke arah dada Kyu Hyun, bagaimana pria itu dalam seketika merubah keadaan diantara mereka.

“Seo Na! Park Seo Na!”. Seorang pria berlari kearah Seo Na, menatap Seo Na dengan wajah yang berubah pucat, tak kalah pucat dari gadis itu yang kini menahan sakit diperutnya dan juga sakit dihatinya melihat kondisi seorang pria yang kini berada dalam dekapannya, tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi dari wajah pria itu, semuanya seakan ikut pergi dari pria yang ia cintai dimasa lalu itu. “Aiden-ssi… Kyu-ku sudah tidak ada”. Ucapnya lemah, sampai akhirnya gadis itu tidak bisa merasakan apa-apa lagi selain rasa sakit yang terus dirasakannya.

~~~000~~~

2 mont later…

Dong Hae memutar ganggang pintu rumah sakit itu, ini sudah seperti kebiasaanya beberapa minggu ini, berkunjung ke kamar 205 tempat gadis-nya di rawat. ini sudah minggu ke tiga sejak gadis itu tidak sadarkan diri, tidak ada tanda-tanda yang diharapkannya pada gadis itu untuk segera sadar, karena peluru yang tertembak didalam perutnya cukup membuat kesadaran gadis itu terenggut. Operasi pengangkatan benda membunuh yang bersarang dalam tubuhnya itu berjalan baik, tapi ada kemungkinan lain yang kini tengah diderita gadis yang tengah berbaring diranjang rumah sakit itu, trauma dimasa sulitnya saat itu menyebabkan kemungkinan kembalinya kesadaran gadis itu hanya beberapa persen, akibat trauma yang cukup mengguncang jiwanya saat kejadian yang ia alami saat itu.

Pria itu membuka jasnya, melonggarkan dasinya meletakkan jas hitam itu di sofa empuk di bawah jendela ruang inap Seo Na, Dong Hae mendekat kearah gadis itu, duduk persis disamping kanan Seo Na menatap wajah gadis itu polos dengan mata tertutup, pemandangan ini yang selalu terpaksa dinikmati Dong Hae, berharap gadis itu kembali seperti sedia kala, yang ia rindukan saat ini adalah suara Seo Na dan senyum gadis itu yang sudah membuatnya terjerat jauh dalam kehidupan Seo Na.

“Park Seo Na-ssi, bangunlah, Kau tau aku sangat merindukanmu”. Dong Hae memejam matanya, mengenggam telapak tangan gadis itu, tidak ada balasan dari genggaman tangan itu. Dong Hae menarik napasnyanya dalam, ingin sekali ia menghilangkan rasa sakit yang terus menusuk dihatinya ketika melihat Seo Na terkulai lemah di ranjangnya.

Dong Hae melepas genggamannya dari gadis itu, kini tubuhnya beringsut berbaring persis di samping gadis itu, kini dengan leluasa Dong Hae bisa melihat wajahnya, wajah gadis yang menjadi candunya selama ini, suaranya, tingkah lakunya, sentuhannya. Tapi begitu hebatkah sakit yang dirasakan Seo Na sehingga ia lebih memilih tetap dialam bawah sadarnya, begitu parahkah trauna yang dialami Seo Na selama ini?

“kami tidak bisa banyak melakukan apa-apa terhadap Park Seo Na-ssi, karena trauma yang selama ini ia alami, ia memilih untuk tetap bertahan dialam bawah sadarnya, kita hanya butuh waktu untuk menunggu kembali kesadarannya, mungkin ini akan memakan waktu yang lama. Dan mengenai luka karena tembakan itu, saya rasa tidak terlalu membahayakan lagi, Aiden-ssi”.

Dong Hae memutar bola matanya, menghembus napasnya kasar, masih teringat ucapan Dokter itu beberapa minggu lalu tentang gadis-nya. “Seo Na-ya , aku mencintaimu, bangunlah”. Pria itu menutup matanya, merasakan sesak hebat didadanya, mungkinkah Park Seo Na akan kembali?

~~~000~~~

Entah apa yang membuat gadis itu masih ingin terus larut dalam ketidak sadarannya, kekuatannya untuk segera membuka mata pupus begitu saja ketika kejadian menyakitkan itu terus saja menari-nari dialam bawah sadarnya, ia ingin tetap seperti ini, ia tidak ingin menerima kenyataan yang pahit tentang hidupnya, tapi haruskah ia terus seperti ini, terus bersembunyi dialam bawah sadarnya, ia masih punya kedua adik perempuannyakan? ia masih punya kehidupan yang harus diselesaikan, ia harus menyelesaikan semua yang ia tinggal, dan bagaimana dengan pria itu? apa dia masih menunggu kesadarannya? Apa pria itu masih setia menunggunya? Seo Na, ia ingin sekali kembali dari ketidak sadarannya, tapi bagaimanapun trauma yang baru saja ia alami hampir membuatnya tidak ingin kembali lagi, tetap seperti ini, setengah mati? Mungkin.

Entah kenapa hari ini, ketidaksadaran gadis itu terusik, tangis seorang pria begitu saja terdengar, ia ingin bangun, melihat siapa yang tengah menangis didekatnya, ditambah lagi sinar matahari yang kali ini benar-benar memaksanya untuk bangun, menyelesaikan semua permasalahannya, ini sudah lama bukan? Sudah cukup untuk berlari.

Gadis itu membuka matanya pelan, merasakan keadaan didekatnya seketika putih normal, hanya beberapa yang berbeda warna, dan ia yakin itu adalah lukisan bunga mawar yang tergantung tepat didinding dihadapannya, tidak hanya itu kini disampingnya sudah tersaji begitu saja wajah polos seorang pria dengan air mata yang terus mengalir dari matanya, dan ia yakin pria itu tengah terpejam, dan mungkin saja sedang bermimpi buruk. Seo Na menarik ujung bibirnya kebelakang, menikmati wajah pria yang tak ia kenali itu, tapi ia yakin pria itu pria baik-baik, entah bagaimana ia bisa berpikiran sedemikian, tapi sejak tadi, sejak ia menatap wajah pria itu ia merasakan hatinya terguyur ombak lautan yang begitu tenang, wajahnya, benar-benar menyenangkan, meskipun Seo Na kecewa, kenapa ada air mata disana.

“kau menangis? Apa kau bermimpi buruk Wajangnim?”. Gumamnya pelan, takut jika suaranya bisa membangunkan pria itu, dengan pelan kini ujung ibu jarinya menyentuh pipi pria itu, menghapus pelan air mata yang terus mengalir disana, detik kemudian pria itu bergerak pelan, Seo Na menarik tangannya, menatap wajah pria itu yang kini tengah berusaha membuka matanya. ‘astaga, aku membuatnya terbangun’. Gumam gadis itu lalu segera duduk diatas ranjang putih itu, sedikit mundur takut jika laki-laki itu bisa marah padanya, atau mengatakan ‘kenapa menyentuhku, dan membuatku terbangun?’. Bukankah ia tidak mengenal pria tampan itu, tidak mengenal?

~~~000~~~

Pria itu masih bergelut dengan tidurnya, didalam mimpipun ia masih bisa merasakan sakit seperti ini, ia tidak tau persis bagaimana caranya menangis, tapi jika mengingat gadis-nya yang masih terkulai lemah dihadapannya ia merasakan tiba-tiba sesak didadanya dan membuat air matanya keluar begitu saja, dan kali ini ia bermimpi tak enak lagi, bermimpi tentang gadis itu. detik kemudian ia bisa dengan jelas mendengar suara gadis itu, sudah lama sekali rasanya dan kali ini benar-benar seperti nyata, ditambah kini ia merasakan sentuhan penuh kasih sayang di pipinya, dan ia yakin sentuhan itu sama dengan sentuhan Seo Na, sentuhan yang tak pernah lagi ia rasakan, tapi bagaimana bisa ini benar-benar seperti nyata, apa Park Seo Na sudah bangun? Apa gadis itu kini tengah memperhatikan wajahnya?

Detik kemudian, Dong Hae berusaha membuka matanya susah payah karena terlalu berat akibat kurang istirahat beberapa minggu ini, karena pekerjaan di kantor yang mengharuskan pria itu bekerja ekstra, ditambah ia harus menjaga Seo Na dirumah sakit, meskipun itu bukanlah hal yang menjadi masalah buatnya. Dong Hae mengerjapkan matanya, dan kini ia yakin wajah yang kini tengah ada dititik fokus pandangannya adalah wajah Seo Na, gadis itu? ia sudah sadar? Ini bukan mimpi bukan? Benarkah?

Dong Hae menarik badannya untuk segera bangun, menatap gadis itu yang kini tersenyum kepadanya, senyum yang paling dirindukan Dong Hae dan kini gadis itu tengah tersenyum padanya. Ia yakin, ia tidak sedang bermimpi, ia yakin Park Seo Na-nya sudah kembali, Dong Hae memeluk gadis itu erat, tidak peduli ekspresi terkejut dari gadis itu, tidak peduli jika gadis itu marah dan meronta-ronta karena pelukan-terlalu erat-nya, yang ia tau Seo Na sudah kembali, gadis itu sudah berada didalam pelukannya.

“yang aku lakukan adalah, hanya berada disampingnya…. jika terjadi keajaiban… jika kejadian dimasa lalu dapat mengubah… kalau bisa, mengembalikan semuanya…

Terjadi keajaiban…. dia telah terbangun, senyumnya yang indah, dia tersenyum didepanku saat ini…. aku sangat berterimakasih….”

(Dong Hae – VCR Day Dream – SS5)

Gadis itu heran, tapi entah kenapa ia merasa nyaman didalam pelukan pria yang tak ia kenali sama sekali ini, entah kenapa tubuhnya begitu rindu pada pelukan itu, tapi bagaimanapun ia tidak mengenal pria itu bukan? Ia tidak mengenal siapapun, dan siapa dia. Seo Na merenggangkan pelukan itu, menatap manik mata pria yang kini tengah menatapnya dengan mata yang berlinang air mata, terdengar menggelikan, tapi itulah yang kini tengah tersaji dihadapan Seo Na. Pria itu menelungkupkan kedua telapak tangannya diwajah Seo Na, mendaratakan ciuman hangat di dahi gadis itu, Seo Na tak bergeming, ia tak menolak lebih menikmati perlakuan pria yang tak ia kenali itu, entahlah, semua yang pria itu lakukan terhadapnya seperti hal biasa yang pernah ia lakukan dimasa lalu, tapi bukankah ia tak menganal pria itu.

“kau kembali, kau tau aku merindukanmu. Kenapa kau membiarkanku begitu lama menunggumu? Heum?”. Gadis itu tersenyum mendengar ucapan yang terdengar manja dari pria itu, ia hampir terkekeh geli, bagaimana pria tampan itu begitu mengkhawatirkannya, seperti kekasihnya saja.

“aku? Memangnya aku dimana?”. Dong Hae berkedik, pertanyaan gadis itu benar-benar terdengar aneh, bagaimana ia bisa tidak tau dimana ia sekarang. “anda siapa? Apakah anda pangeran?”. Dong Hae menjatuhkan tangannya yang sejak tadi berada dipipi Seo Na, menatap gadis itu tak percaya, bagaimana gadis itu bertanya siapa dirinya? Dia Aiden Lee, dia pria yang mencintai Seo Na, dengan cepat pria itu menekan tombol putih di atas ranjang, yang menghubungkan keluar ruangan.

~~~000~~~

“saya rasa, ini menyangkut traumanya dimasa lalunya Aiden-ssi, Seo Na-ssi tidak bisa lagi mengingat penderitaan dan masalahnya dimasa lalu sehingga ia melupakan sebagian besar ingatannya tentang penderitaan itu termasuk orang-orang yang ada didalam masalah itu, Anterograde Amnesia itu adalah penyakit yang tengah di derita Seo Na-ssi. Satu-satunya cara agar ingatannya kembali yaitu dengan memaksanya mengingat kejadian yang membuatnya trauma, mungkin akan membuat jiwanya kembali terguncang, tapi demi ingatannya saya rasa anda bisa melakukannya Aiden-ssi”. Dong Hae menganggukan kepalanya, menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya tak beraturan, ia tidak bisa mencerna dengan jelas ketika pria berjubah serba putih itu menyebutkan tentang keadaan Seo Na saat ini, lalu apa yang harus Dong Hae lalukan? Mengatakan pada gadis itu, jika Kyu Hyun nya sudah terbunuh karena melindunginya, mengatakan pada gadis itu jika ia seorang pembunuh? Atau mengatakan jika dirinya adalah salah satu calon korban kekejiannya? ‘Gila! Aku tidak mungkin menyakiti gadis itu lebih dalam lagi!’. Pekik Dong Hae dalam hatinya.

 

~~~000~~~

 

Meskipun aku sakit, meskipun aku terluka, aku dapat hidup jika ada dirimu….

Hidup tanpamu seperti sebuah kematian bagiku….

(Day Dream – Super Junior)

Dong Hae menatap gadis itu yang kini tengah berdiri menghadap keluar didepan jendela kamarnya, tatapannya kosong tidak ada raut kecewa, bahagia, sedih maupun semacamnya, yang ditemukan Dong Hae wajah tanpa eskpresi yang kini tengah menikmati pemandangan yang tersaji dari balik jendela kaca yang cukup luas itu, Dong Hae beranjak dari tempatnya berdiri mengamati Seo Na, ia beralih ke samping gadis itu, sebelum Seo Na menyadari kehadirannya

Eo, Wajangnim. Kau lagi”. Ucap gadis itu dengan senyum manis ciri khasnya, tanpa aba-aba Dong Hae membalas senyuman manis itu, meskipun kini hatinya seperti terasa ditikam. Bagaimana gadis itu bisa memanggilnya Pangeran? Seo Na saat ini tak lebih terlihat seperti anak-anak yang sedang menggemari tokoh pangeran difim-film kartun.

“Park Seo Na, kau lapar?”. Tanya Dong Hae, Seo Na memutar tubuhnya kearah Dong Hae menatap wajah itu lekat.

“namaku Park Seo Na?”. Gadis itu balik bertanya, Dong Hae menangguk menatap manik mata Seo Na yang benar-benar terlihat sangat polos, tidak ada Seo Na yang dulu yang terlihat angkuh dan dingin, Seo Na yang didepannya saat ini adalah Seo Na yang mungkin pernah menjadi milik pria dimasa lalu gadis ini, Cho Kyu Hyun. Ah, Cho Kyu Hyun, Dong Hae teringat tentang pria itu. ia sudah meninggal tepat ditempat kejadian saat hari itu, ia memang tak mengatakan apa-apa pada Dong Hae tapi pria itu berharap Seo Na tak mengetahui tentang hal itu, itu hanya akan menambah sakit pada gadis itu bukan? Sudah cukup.

“hei, kau melamun. Apa kau sedang bersedih, sejak tadi kau menangis dan sekarang malah melamun, kau memikirkan seseorang?”. Suara Seo Na membuyarkan lamunan Dong Hae, pria itu tersenyum, menarik tubuh ramping gadis itu kedalam pelukannya, entah kenapa ia yakin satu-satunya yang bisa menenangkan pikirannya saat ini adalah dengan terus mendekap tubuh gadis itu.

“tidak, aku tidak bersedih”. Detik kemudan Dong Hae melepaskan pelukan mereka, mengenggam kedua tangan Seo Na menatap gadis itu lekat. “apa kau tidak mengingatku?”.

Seo Na memutar kedua matanya, lalu tersenyum kearah Dong Hae sambil menggelangkan kepalanya. ”tapi aku rasa kau adalah pangeran yang diutus untukku bukan?”. Ucapan gadis itu malah semakin menikam batinnya, bagaimana bisa semua ini terjadi pada Seo Na, haruskah ia mengembalikan ingatan gadis itu?

~~~000~~~

Yu Ra menyeruput teh hangatnya, mengalihkan pandangannya keluar jendela restoran itu, pikiran gadis itu kini entah melayang kemana, sudah 2 bulan ia tidak bertemu dengan Dong Hae, semenjak ia menemui pria itu dirumah sakit saat Dong Hae menjaga Seo Na disana. akhirnya pikiran gadis itu tertuju kembali pada Park Seo Na, gadis yang benar-benar dibencinya, gadis yang benar-benar hebat merubah nasib tiga orang pria dalam satu hentakkan. Tentu saja, gadis itu bisa membuat mantan kekasihnya Cho Kyu Hyun meninggal karena menyelamatkan dirinya, dan Ayah pria itu Tuan Cho yang dikabarkan sudah menyerahkan diri ke pihak berwajib karena merasa bersalah dan khasus tentang pembunuhan kedua orang tua Seo Na terungkap setelah Dong Hae kembali membuka khasus itu pada Pihak yang lebih berhak menanganinya, dan lagi tidak ada jalan lain bagi Pria tua itu untuk segera masuk dalam jeruji besi, tentu saja, bukankah orang-orang pesuruhnya itu salah sasaran, seharusnya Seo Na yang mati bukan? tapi yang menjadi korban saat itu adalah anak laki-laki satu-satunya itu, ditambah lagi nasib pria tampan Aiden Lee yang sudah memberikan semua waktunya untuk menjaga gadis itu, hingga ia berani memaki Yu Ra dan mengancam gadis itu jika ia berani melukai Seo Na-nya lagi, ‘Cih menjijikan!’. Umpat gadis itu dalam hati, ironis memang.

“sudah lama menunggu?”. Ucap seorang pria jakung kira-kira berumur 30 tahun, tapi jika dilihat dengan mata kepala pria itu benar-benar seperti anak remaja imut yang memang tidak pantas menyandang umurnya yang sekarang. Pria itu duduk dihadapan Yu Ra tanpa aba-aba terlebih dahulu dari gadis itu menaggalkan kaca matanya dan meletakkan di atas meja.

“akhirnya kau datang juga, aku kira aku harus menunggumu lebih lama lagi disini Kim Hee Chul-ssi”. Ucap gadis itu dingin, pria yang didepannya itu hanya terkekeh tak jelas melihat ekspresi gadis yang berada dihadapnnya itu.

“sudahlah Yu Ra-ya, berhenti berbicara formal pada Oppa-mu, kau mau kubuang ke gurun pasir ya, bukannya menyambut Oppa-mu yang tampan ini malah memakinya”. Yu Ra mencibir, kata-kata tampan itu tidak cocok untuk sepupunya tapi ia lebih cocok dikatakan cantik, karena wajahnya yang memang begitu mempesona dibanding lelaki kebanyakan.

“jadi di Amerika kau banyak menghabiskan waktu digurun pasir?”. Ejek gadis itu, yang hanya mengundang tawa lebih besar dari sepupunya itu. “Oppa, tidak bisa jika tidak tertawa seperti itu?”.

“baiklah, aku tau Mood mu sedang tidak bagus. Jadi apa yang membuatmu mengajakku bertemu disini, aku baru saja pulang dari Amerika aku belum istirahat sama sekali”. Yu Ra menyipitkan matanya, menendang pergelangan kaki pria itu dibawah meja, Hee Chul meringis kesakitan meskipun ia yakin tendangan gadis itu belum maksimal, biasanya Yu Ra akan meluncurkan serangan lebih ganas pada dirinya. “Ya! kau benar-benar mau ku kirim ke gurun pasir?”.

Yu Ra terkekeh, melihat eskpresi Hee Chul yang meringis sambil terus memakinya. “baiklah, berhenti bercanda. Maksudku menemuimu karena aku ingin meminta bantuan padamu Oppa”. Hee Chul menyipitkan matanya, sembelum mendengar penjelasan dari sepupunya itu.

~~~000~~~

“aku yakin kau bisa menyingkirkan dirinya dari Dong Hae-ssi, aku tidak mungkin membunuhnya, aku tidak sekeji dia. Dan kemarin aku mendapat berita jika gadis itu sudah sadar dan akan tinggal bersama Dong Hae. Aku hanya ingin Oppa memisahakan dia dari Dong Hae, hanya dengan membuatnya mencintaimu, lalu jika kau bosan kau boleh mendepaknya dari hidupmu, dan Dong Hae bisa jatuh ketanganku. Oppa, kau tidak mau bukan melihatku sengsara hanya karena gadis rendahan itu?”.

Pria itu memfokuskan dirinya kembali pada layar komputernya, baru saja ia mengingat kembali ucapan adik sepupunya tentang gadis yang dimaksud Yu Ra. Jika bukan karena melihat Yu Ra bahagia, dia tidak akan melakukan hal gila seamacam ini. Hee Chul paling enggan untuk bermain-main hal yang semacam ini, apa lagi soal wanita dan menyangkut hati, tapi bagaimanapun ia harus membantu adik sepupunya itu bukan? Lagi pula ini hanya sederhana, membuat gadis itu jatuh cinta padanya, dan suatu saat menyuruh gadis itu untuk melupakannya dan ia bisa kembali ke Amerika lagi.

“Park Seo Na, nama yang bagus dan juga cantik”. Gumam pria itu sambil memandangi selembar poto dengan seorang wanita yang tersenyum manis disana.

~~~000~~~

Dong Hae meletakkan beberapa makanan dimeja makan, ia tidak terlalu hebat dalam memasak tapi untuk yang kedua kalinya ia ingin membuat sarapan yang nikmat untuk penghuni baru dirumah mewahnya ini, sesekali ia melirik kearah gadis yang tengah duduk manis di meja makan sambil memegang sebuah benda berbentuk kotak bewarna putih yang menjadi kesukaannya akhir ini.

“tidak lelah bermain Game diponsel ku itu?”. ucap Dong Hae, tatapan gadis itu beralih ke Dong Hae ia hanya terkekeh sebantar lalu kembali asik dengan benda yang berada digenggamannya. ‘melihatmu seperti itu membuatku enggan untuk mengembalikan ingatanmu Seo Na-ssi’. Gumam Dong Hae, lalu pria itu membawa makanan didalam tampan menuju meja makan.

Eo, kau memasaknya untukku?”. Tanya gadis itu, lalu meletakkan asal ponsel Dong Hae yang sejak tadi ditangannya.

“tentu saja, makanlah yang banyak, bukankah kau lapar?”. Dong Hae tersenyum, Seo Na menarik sendok dari piringnya itu, ia tau cara makan yang baik, pengetahuannya tak terlalu terganggu, hanya beberapa yang terlupakan, namun kebiasaan sehari-hari, seperti makan, mandi, dan yang lainnya masih diingatnya dengan jelas.

“ini enak, aku menyukainya”. Racau gadis itu, yang hanya direspon senyum simpul dari Dong Hae. “hei, kau harus makan juga. Tubuhmu itu kurus, apa karena tidak makan?”. Tambah gadis itu lagi, tentu saja ia menjadi kurus, bukankah untuk sekedar makan saja rasanya Dong Hae tak sanggup mengingat gadis-nya saat itu masih tergolek lemah dirumah sakit.

“hum, aku juga akan makan banyak mulai sekarang”. Seo Na tersenyum mendangar ucapan gadis itu, meskipun ia tidak mengenal banyak tentang Dong Hae tapi ia yakin pria itu orang baik.

“aku akan menemanimu makan setiap hari, agar kau tidak menangis lagi Oppa”. Panggilan terakhir yang keluar dari bibir gadis itu sukses membuat semua perhatian Dong Hae tertuju padanya, Oppa? Selama ini ia bahkan tidak pernah mendengar Park Seo Na mengatakan hal itu padanya.

Keduanya cukup lama bungkam, Dong Hae sibuk dengan sarapannya dan tentu saja pikirannya yang terus menerawang kemana-mana, melihat Seo Na melahap makanannya hingga habis ia hanya tersenyum. Entalah, Seo Na-nya yang cantik dan seksi itu kini berubah menjadi Seo Na yang manis dan polos, dan panggilan yang baru saja diucapkan gadis itu untuknya kenapa terasa begitu menyakitkan, ia rindu dengan sapaan lembut gadis itu sebelum ia seperti ini.

Keduanya kini duduk diberanda belakang Rumah mewah milik Dong Hae, disini memang tidak ada siapapun, kecuali dirinya. Dong Hae memang sengaja membawa Seo Na tinggal bersamanya, agar ia bisa menjaga gadis itu dan lagi jika Seo Na dibiarkan tinggal di Apartemen yang sebelumnya ia yakin gadis itu bisa mengingat dengan jelas kejadian waktu itu, untuk saat ini ia tidak ingin melihat Seo Na menderita lagi.

Oppa, kenapa kau baik padaku? Kenapa kau mengajak ku kerumahmu? Apa aku tidak punya keluarga? Eum, apa kita, eum.. apa kita sudah menikah?”. Deretan pertanyaan itu terus saja keluar dari mulut Seo Na, berhasil mengalihkan perhatian Dong Hae yang sejak tadi memandangi kolam ikan dihadapannya.

Dong Hae bungkam, keduanya kini sama-sama berhadapan. “Oppa, kau belum menjawab pertanyaanku, apa kita sudah menikah?”.

Dong Hae menarik gadis itu kedalam pelukkannya, membiarkan semua rasa sakitnya tersalurkan begitu saja. Entahlah, untuk saat ini ia tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang keluar dari mulut gadis itu, bukan ia tidak tau jawaban atas semua pertanyaan itu tapi yang terlebih rasa sakit yang ditimbulkan oleh pertanyaan Seo Na. ‘kau tidak memiliki orang tua lagi Seo Na-ya, aku mencintaimu, aku menginginkanmu terus bersamaku, karena itu kau berada disini, dan apa kita sudah menikah? Tidak, kita belum menikah, tapi aku akan segera menikahimu setelah ingatanmu kembali pulih, Seo Na kenapa lidahku begitu kelu untuk mengatakan hal itu, aku takut kau mengingat semuanya, aku takut kau membenciku’. Gumam pria itu dalam hatinya, dengan terus memeluk Seo Na seperti ini rasanya dunianya lebih nyaman dari sebelumnya.

“Oppa… kau siapa? Kenapa tubuhku seperti merindukan pelukanmu? Siapa aku sebenarnya?”.

~~~000~~~

Seo Na meringkuk dibawah selimutnya, membiarkan seluruh tubuhnya terbungkus oleh selimut tebal bewarna putih, entah kenapa sinar mentari tidak terlalu mengganggu tidurnya. Sesekali gadis itu berbalik kekiri dan kekanan mencari tempat yang nyaman, tapi tetap saja sinar mentari yang menembus jendela kamarnya sukses membuatnya terjaga, meski pada awalnya itu tidak jadi masalah.

“baiklah, Park Seo Na. Ayo bangun, ini sudah pagi”. Ucap gadis itu pada dirinya sendiri, ia keluar dari dalam persembunyiannya didalam selimut, beringsut keluar dari kamar mengenakkan baju tidur dengan sendal rumah berbentuk panda.

Seo Na memperhatikan sekitarnya, tidak ada seorangpun, tidak ada Dong Hae disana, tidak ada siapapun. Mungkin saja pria itu sudah berangkat bekerja, bukankah sepertinya di pria yang sangat sibuk, pikir gadis itu lalu ia berjalan menuju meja makan, duduk disana sambil menatap sarapan yang sudah disiapkan pria itu diatas meja, Seo Na tersenyum, menopang dagunya dengan kedua tangan, terus menatap sarapan itu tanpa menyentuhnya. Entah apa yang ia rasakan saat ini, Dong Hae seperti malaikat yang terus menjaganya, tapi sampai sekarang ia belum tau kenapa pria itu begitu baik padanya, ia juga tidak pernah memberikan jawaban atas pertanyaan gadis itu, Seo Na yakin, Dong Hae adalah kekasihnya, bahkan gadis itu merasakan Dong Hae memperlakukannya dengan sangat istimewa, tapi bagaimana dengan keluarganya, bukankah Seo Na tidak ingat apa-apa? Apa yang terjadi dimasa lalu? kenapa ia bisa terbangun dirumah sakit waktu itu?

Gadis itu melahap semua sarapan yang berada diatas meja makan, bukankah Dong Hae sudah menyiapkan semua ini untuknya, ia tidak mungkin membiarkan sarapan yang disiapkan lelaki tampan itu terbuang sia-sia, lagi pula Seo Na juga sedang merasakan lapar yang sangat hebat. Gadis itu beringsut kekamar mandi, membersihkan dirinya, mungkin ia bisa melakukan suatu aktifitas diluar, berjalan-jalan misalnya, tidak mungkin ia terus seperti ini, terus hidup dalam keadaan amnesia, tanpa mengingat dengan jelas masa lalunya, menyedihkan bukan?

~~~000~~~

Hee Chul meletakkan beberapa dokumen kerjanya diatas meja, meskipun pria itu sedang berlibur ke Seoul tetap saja ia membawa beberapa berkas kerjanya, setidaknya ia bisa menyelesaikan beberapa masalah dikantornya di Amerika. Pria itu sengaja menyewa apartemen di sekitar Gangnam, ia tau tempat ini adalah tempat yang cukup elitte, terlihat dari apartemen yang ia sewa untuk beberapa bulan kedepan. Hee Chul memang tidak memiliki hunian lagi di Seoul, keluarga besarnya memang sudah lama menetap di Amerika, karena itu ia memilih menyewa Apartemen, apartemen yang ia sewa ini juga tidak jelas lagi statusnya, karena beberapa bulan yang lalu ada seorang wanita yang menyewa apartemen ini, tapi sebelum pemutusan kontrak, gadis itu menghilang tanpa ada kabar sama sekali, sehingga kepemilikannya dicabut secara sepihak oleh pemilik gedung apartemen mewah ini, lagi pula ada kejadian yang cukup menjadi kontrofersi dengan gadis itu digedung apartemen ini, dan itu membuat pemilik apartemen tidak akan menerima apapun lagi jika gadis itu kembali keapartemen yang disewanya.

Hee Chul memang tidak terlalu peduli dengan gadis itu, siapapun dia yang penting ia bisa berlibur dengan damai di Seoul, lagi pula ia juga harus membantu Yu Ra bukan, adik sepupunya yang egois dan cerewet itu bisa saja menghabisinya jika ia tidak mengabulkan permintaannya, lagi pula Hee Chul tidak memiliki adik, jadi memiliki sepupu satu-satunya seperti Yu Ra sangat menyenangkan baginya.

“astaga, gadis itu benar-benar! Bagaimana aku bisa bertemu dengan gadis itu jika ia tidak memberi tahu alamat atau sesuatu yang bisa ku hubungi, percuma saja dia hanya memberiku foto seperti ini, memangnya Seoul ini kecil, seenaknya saja dia menyuruhku mencari gadis seperti ini, Yu Ra gila”. Dengus Hee Chul, sambil melempar selembar poto yang sejak tadi berada ditangannya. Yu Ra tidak memberi tau apapun tentang alamat atau nomor ponsel yang bisa dihubungi, ya sekedar mencari tahu dimana gadis itu sekarang atau sedang dengan siapa.

“Ya Sudalah, aku bisa gila memikirkan hal-hal semacam ini”. Hee Chul meyambar kunci mobilnya di atas meja, setidaknya tempat-tempat yang menyenangkan bisa ia kunjungi disini sekedar menenangkan pikirannya yang sudah berbelit karena pekerjaan selama ini.

~~~000~~~

Pria itu sibuk dengan beberapa berkas dimejanya, tampak beberapa berkas sudah menggunung disana, akibat beberapa minggu ini ia tidak terlalu peduli dengan semua aktifitasnya dikantor, tentu saja pria itu sibuk mengurus Seo Na, merawat gadis itu hingga ia sadar, meskipun pada akhirnya gadis itu tidak mengingatnya, siapapun yang ada didalam hidupnya. Suara ponsel pria itu seketika berdering, menghentikkan sejenak pekerjaannya.

Hum, Eomma”. Ucap pria itu setelah menyentuh warna hijau pada layar ponsel sentuhnya, suara seorang wanita menyambut disana, dan ia sangat merindukan pemilik suara itu.

“bagaimana kabarmu? Apa semua baik-baik saja?”. Tanya wanita itu, Dong Hae tersenyum, disaat seperti ini seharusnya ia yang bertanya pada ibunya, dan mengunjung wanita itu sesegera mungkin ke Mokpo tempat kelahiranya.

Ne Eomma, aku baik-baik saja. Seharusnya aku yang mengkhawatirkan Eomma”. Tandas pria itu, terdengar suara keke-han dari seberang sana.

Ya! anak nakal, aku tau kau sedang banyak masalah, aku dengar kantormu tidak mempunyai bos beberapa minggu ini, Waeyeo? Apakah keadaan gadis-mu itu masih memprihatinkan?”. Dong Hae tersenyum mendengar ocehan wanita yang berjasa bagi hidupnya itu, sejak Ayahnya meninggal satu-satunya yang berharga bagi Dong Hae adalah ibunya.

“dia sudah sehat, tapi keadaanya tidak terlalu baik”. terdengar nada melemah diakhir kalimat pria itu.

Wae? Apa dia masih membencimu?”. Tanya wanita paruh baya itu khawatir, selama ini Dong Hae sudah menceritakan apa yang sudah terjadi dengan dirinya bersama Seo Na, ia juga mengatakan tentang masalah dan semua yang terjadi dengan gadis itu, dan tentang perasaannya terhadap Seo Na.

“Seo Na hilang ingatan, dia tidak mengingatku, tidak mengingat siapapun, keluarganya, masa lalunya, dan juga pria yang telah memberikannya nyawanya demi menlindungi Seo Na, aku tidak tau aku harus bagaimana Eomma, tapi aku takut jika Seo Na mengingat semua itu, aku takut ia pergi dariku, dan membenciku, seperti apa yang ia ucapkan terakhir kali saat aku bertemu dengannya sebelum ia tidak sadarkan diri”. Terdengar suara mengehela napas diseberang sana, Ibu Dong Hae sangat mengerti posisi anaknya itu saat ini.

“jadi, kau tidak ingin mengembalikan ingatannya lagi? Apa itu terdengar sedikit egois Dong Hae-ya?”. Dong Hae menarik napasnya, mengehembuskannya kasar. Tentu saja ia egois, tapi bagaimana jika gadis itu tau semuanya, bagaimana jika ia harus kehilangan Seo Na untuk yang kedua kalinya, lalu gadis itu akan tersiksa lagi bukan jika ia harus mengingat deretan penderitaannya.

“aku mengerti apa yang kau rasakan Hae-ya, tapi jika kau membiarkan gadis itu terus hidup dalam keadaan seperti ini, maka kau akan menjadi satu-satunya orang yang akan disalahkan. Jika ia benar-benar mencintaimu dimasa lalu, ia tidak akan membencimu, kau tidak bisa memaksakan orang lain mencintaimu, akhirnya ia yang akan terluka karenamu”. Deretan-deretan kalimat yang keluar dari mulut Ibunya itu memang benar, ia semestinya tidak harus seperti ini, lambat laun Seo Na pasti mengetahui siapa dirinya, dan ia harus siap kehilangan gadis itu.

“baiklah, aku hanya tidak ingin urusan pribadimu kau bawa-bawa kekantor, Eomma hanya ingin kau bahagia Hae-ya, pikirkan baik-baik ucapan Eomma”. Dong Hae menutup sambungan teleponnya, setelah keduanya saling mengucapkan salam. Dong Hae menghempaskan tubuhnya disandaran kursi kerjanya, seketika otak pria itu dipaksa bekerja untuk memikirka kelanjutan kisah cintanya bersama Seo Na, dan ini benar-benar membuatnya merasakan rasa sakit, kehilang Seo Na? Lagi?

~~~000~~~

Angin sedikit menganggu juntaian dressnya, gadis itu sedikit memperbaiki letak dress-nya itu. Gadis dengan dress putih selitut bewarna cream Soft kini tengah berjalan-jalan ditengah hiruk pikuk kota Seoul, ia tidak tau harus pergi kemana tapi jika ia terus tinggal dirumah mewah milik Dong Hae ia akan lebih merasakan bosan yang luar biasa, lagi pula Dong Hae juga tidak ada dirumah. Gadis itu membetulakan letak tas tangan mungilnya bewarna pink, meletakkan benda kecil itu didepan tubuhnya sambil terus berjalan memandangi sekitaran kota Seoul, ia yakin dulu ia sering berjalan-jalan seperti ini, atau sekedar bersenda gurau bersama Dong Hae, ia yakin ia dulu sering menghabiskan waktunya dengan pria itu, ya meskipun pada kenyataannya perkiraannya tak semanis itu tentang masa lalunya.

Seo Na mengenggam tali tas nya dengan kedua tangan, ia tidak tau harus kemana, tapi yang jelas hari ini ia ingin menghabiskan waktu berjalan-jalan, ia tidak lupa jalan pulang.

”hanya lurus, lalu belok, atau belok lalu lurus?”. Seo Na mengacak poninya, gadis itu lupa, lupa jalan pulang dan ia yakin kali ini ai tersesat. Tapi ia bisa bertanya pada orang-orang bukan? Tapi tidak mungkin orang tau dimana tempat tinggalnya.

“ah, Oppa memberikanku ini, ini akan berdering jika ia mencariku”. Ucap gadis itu sambil mengeluarkan ponsel ditasnya, lalu ia kembali melanjutkan perjalannya lagi.

Ia sampai disebuah taman bermain, disana dipenuhi oleh beberapa keluarga dan anak-anak kecil yang ia yakini sedang menikmati kebersamannya bersama orang tua mereka. “kenapa Appa dan Eomma tak mengunjungiku? Ah, mungkin mereka mempercayaiku untuk tinggal bersama Aiden Oppa”. Ucap gadis itu meyakinkan dirinya. Seo Na duduk dideretan kursi kayu yang langsung mengarah kedanau, gadis itu menikmati pemandangan danau yang airnya tidak terlalu jernih, ditengah danau ditumbuhi beberapa bunga teratai yang terlihat indah dipandang matanya.

“itu warna merah muda bukan? Dan itu warna merah”. Ucapnya sambil menunjuk bunga-bunga teratai yang tubuh ditengah danau dengan berbagai macam warna, ia sesekali terkekeh melihat anak-anak kecil yang bermain disekitarnya, sampai ada seorang anak laki-laki yang datang padanya, menodongnyakan pistol mainan kearah Seo Na.

DEG!

Seo Na mendelik kaget, ketika anak laki-laki itu tiba-tiba mengacungkan pistol air kearahnya, seperti ada darah yang tiba-tiba naik keatas kepalanya, memutar memori otaknya tentang sesuatu, dan semua berputar seakan ia merasakan suara tembakkan begitu keras ditelinganya, gadis itu melemah, sesuatu berhasil ia ingat, sampai tubuhnya oleh kekiri, sampai seorang pria jakung menggoyang tubuhnya, dan semua terasa gelap.

 

To Be Continue

 

~~~000~~~